Jumat, 23 September 2016

In Time With You Chapter 31



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8




Chapter  31

The Way Back Home

Seohyun POV

‘Kali ini aku tidak ingin mendengar alasanmu yang lainnya, Joohyun ah! Aku tidak mau tahu, bagaimanapun kali ini kau harus datang! Apa kau tega, dihari pernikahanku dan Oppa-mu satu-satunya kau malah memilih bekerja?! Pokoknya aku tidak akan memaafkanmu bila kali ini kau tidak datang seperti pada acara pertunangan kami tahun lalu!! Kalau kau masih adikku, maka kau harus pulang!! Arratji?!!!’

Suara Taeyeon Eonni saat mencerewetiku masih menggema ditelingaku. Tepat satu minggu lagi, Oppa-ku akan menikah dengannya. Akhirnya, kisah cinta mereka yang justru berlabuh lebih dulu. Oppa-ku sangat beruntung menemukan perempuan cantik dan cerdas dengan kelembutan hati seperti Taeyeon Eonni. Aku benar-benar bahagia untuknya.

Tapi..... Ottokhae? Apalagi alasan yang harus aku gunakan sekarang? Menghadiri pernikahan mereka, berarti aku harus pulang ke Seoul. Dari sana, aku akan terbang ke Busan untuk pesta pernikahan mereka. Dan itu artinya.... aku akan bertemu dengannya. Bukan hanya dengannya, tapi mingkin juga dengan Eomma dan Appanya. Tsk.. tentu saja! Bagaimana mungkin pertemuan itu bisa aku hindari sementara pengantin pria nya adalah kakak kandungku, dan pengantin wanitanya adalah kakak sepupu yang sangat dekat dengannya seperti kakak kandungnya sendiri. Jadi bila aku berharap bahwa kami tidak akan bertemu diacara itu, sama saja dengan berharap salju turun di musim semi. Pertemuanku dengan Jung Yonghwa tidak dapat aku hindari lagi. Tidak kali ini.

Bunyi ponselku menarik lamunanku. Aku menatap layarnya, dan kutemukan nama ‘Cho Ahjussi’ tertera disana. Huuffhh... apalagi ini? Apa lelaki ini juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan calon istrinya? Dengan gontai, kuraih ponselku kemudian mengangkatnya.

“Hmm.. wae, Oppa?” Nada suaraku mungkin terdengar malas.

‘Mwo ya? Ada apa dengan suaramu? Kenapa kau menerima teleponku seperti malas-malasan begitu?’ BINGO!! You’re right, Mr. Cho!

“Daebakk... kau langsung menyadarinya, Oppa..!” Jawabku setengah sarkastik. Tsk.. adik macam apa aku ini? Selalu saja suka mengerjainya seperti itu.

Mwo rago? Yak.. kau mulai lagi, Agassi..’ Kudengar Oppa-ku berlaga sengit diujung telepon sana, dan itu membuatku tersenyum.

“Just kidding, Cho Ahjussi. Wae geurae? Jamkanman!!! Kuingatkan kau!! Bila kali ini kau meneleponku hanya untuk mencerewetiku seperti yang dilakukan calon istrimu, maka aku benar-benar tidak akan datang pada acara pernikahanmu!!” Tak mau kalah, aku membalasnya.

‘Mwo? Wait, Baby.. Apa itu artinya... kau akan datang, Seo Ahjumma?’ Nada suaranya terdengar setengah excited dan setengah tidak percaya. Aku semakin ingin tertawa dibuatnya.

“Hmm... semua itu tergantung bagaimana caranya kau membuatku senang, Cho Ahjussi. Mungkin dengan sedikit usaha, kau bisa membuat hatiku luluh.” Godaku, sekali lagi.

‘Aigoo... hhh... didunia ini mana ada Calon Pengantin yang membujuk tamunya untuk datang sampai seperti ini? Mana ada Calon Pengantin yang memberi hadiah untuk tamunya hanya agar tamunya mau datang?’

“Shiro? Arasso, maka akan kubatalkan tiket pesawatku dan aku akan terbang ke Barcelona untuk seminar literasi-ku.”

‘Yak!!! Geumanhae!! Arasso... arasso!! Aku hanya ingin kau sudah harus berada di Seoul lusa nanti. Aku ingin kau menemani Taeyeon untuk persiapan terakhirnya sebelum dia berangkat ke Busan. Setelah itu,  apapun yang kau inginkan, aku berjanji aku akan melakukannya untukmu. Bila perlu, aku akan memberikan 100% keuntungan dari penjualan bukumu. Plus... royalti naskah drama-mu, tanpa perusahanku menguranginya sedikitpun. Kkoul?!’ sambil menahan tawaku, aku segera menjawabnya.

“Kkoul!! Yeeaayyyy!!!!! Gomawo, Cho Ahjussi!! Uri Oppa jinjja jjang!!! Bila tahu begini, seharusnya kau menikah dari dulu, Oppa. Bila perlu, kau bisa menikah setiap bulan dan melakukan semua ini untukku.”

‘Mwo rago?!! Kenapa kau tidak sekalian saja membunuhku, Ahjumma?! Aigoo.. dulu aku fikir punya adik perempuan itu akan sangat menyenangkan. Aku terlalu naif. Siapa yang menyangka bila adikku satu-satunya sangat menyukai uang dan selalu saja membuatku dalam keadaan yang sulit?’ Akhirnya aku tak mampu menahannya lagi. Kuledakkan tawaku dan tak lama, kedengar Kyuhyun Oppa pun ikut tertawa.

‘Okay, Sweetie.  Take care! I’ll be waiting for you here.’

“Okay, Oppa. Kau juga jaga kesehatanmu! Jangan sampai dokter cantikmu melubangi tubuhmu dengan suntikannya dihari bahagia kalian!”

‘Arasso.. arasso!’

Beberapa waktu, kami berdua terdiam. Aku fikir dia akan menutup line teleponnya, tapi...

‘Joohyunie...’

“Hmm.. wae, Oppa?”

‘Hhhh... aku tahu, mungkin tidak akan mudah untukmu. Tapi.. kau akan baik-baik saja, kan?’ Huffh... pertanyaan itu. Kenapa dia baru menanyakan itu sekarang, setelah dia memaksaku begitu keras untuk hadir di pesta pernikahannya? Tapi.. bila kufikirkan lagi, sangat tidak adil untuk Oppa-ku satu-satunya bila aku masih mempertahankan egoku begitu kerasnya hingga kuabaikan dia dihari paling bahagia dalam hidupnya. Setidaknya, bila kisah cintaku telah hancur berkeping-keping, tapi hubunganku dengan Oppa-ku tidak akan pernah terhapus oleh apapun. Dan aku tidak ingin membuatnya bersedih dihari istimewa itu. Aku sadar, selama ini Kyuhyun Oppa lah yang banyak melakukan segala hal untukku. Untuk kebaikan dan kebahagiaanku. Sementara aku belum pernah melakukakan apapun untuknya.

“I’ll be fine, Oppa. Don’t worry. Lagipula kami sudah pernah bertemu sebelumnya. Aku rasa saat ini aku sudah lebih kuat. Dan lagi, mana mungkin aku sampai hati tidak menghadiri hari bahagiamu, Oppa. Meski aku tidak cukup banyak membantu, setidaknya kau ini punya seorang adik, kan? Dan aku tidak ingin Eomma mencerewetiku saat nanti aku bertemu lagi dengannya hanya karena aku membuatmu kecewa, Oppa. Geok cheongma, aku akan ada disisimu Minggu nanti. I promise.” Kudengar Oppa-ku menghembuskan nafas lega.

‘Gomapta, Sweetie. Aku sangat mengerti luka yang kau alami. Aku ingin hidupmu secepatnya kembali berjalan di track-nya, Joohyun ah. Rasa sakit itu harus kau hentikan, bukan kau tahan. 2 tahun berlalu, dan aku bersyukur pada Tuhan karena kau sangat sehat saat ini. Apalagi yang menahan langkahmu? Terlebih karena aku tahu Yonghwa tidak pernah membencimu. Laki-laki itu sedang menunggumu dan selama ini selalu menunggumu untuk kembali padanya. Kumohon, Joohyun ah.. mulailah untuk membuka hatimu lagi.’ Suara lembutnya, aku semakin menyukainya. Setelah Eomma pergi, saat ini suara Kyuhyun Oppa lah yang selalu menjadi penyembuh rasa sesak-ku saat hidupku tak lagi mampu kuhadapi sendiri.

“Nan ajik do molla, Oppa. Kita lihat saja nanti. Saat ini aku hanya ingin fokus dalam membantu persiapan pernihakanmu dan Taeyeon Unni. Aku ingin setidaknya sekali saja melakukan sesuatu sebagai adik yang baik untukmu.” Jawabku, lirih.

Arasso. Take your time, but... don’t let him wait too long, Honey. It’s not fair for him, you know? I’ll always be by your side no matter what. And i want you to be happy for the rest of your life, Seo Joohyun. Aku yakin, Eomma kita pun menginginkan hal itu.’

Dan percakapan kamipun terhenti beberapa waktu kemudian. Masih dengan langkah gontai, aku meraih koporku dan mulai mengemasi satu persatu pakaian yang akan aku bawa ke Seoul. Fikirku masih tak lekang darinya. Lelaki yang kutemukan berdiri dibalik pintu rumahku dua minggu yang lalu. Yang datang secepat mimpi kemudian berlalu pergi lagi. Tuhan tahu, betapa inginnya tubuhku berlari meraihnya dan menahannya untuk tidak pergi. Betapa gilanya keinginanku mengiba padanya untuk tidak meninggalkanku saat itu. Tsk.. penyesalan demi penyesalan terasa seperti penjara. Terlebih saat kutemukan cinta abadiku menitikan air matanya dihadapanku. Tuhan, betapa besarnya luka yang kusebabkan padanya.

Kuhentikan aktifitas mengemasku. Perlahan, aku berjalan menuju meja kerjaku, lalu kukeluarkan diary-ku dari dalam laci. Kutemukan foto kami berdua disana, saat terakhir kami bersama dan melihat salju pertama turun. Kuusap lembut gambar wajahnya.

“Bila kini aku berlari lagi kearahmu, akankah kau membuka pelukmu lagi, Mr. Gold? Akankah semua itu kita miliki lagi?” Gumam-ku sendiri.

Dua hari kemudian, Incheon International Ariport.

“Seo Joohyuuuuunnnn!!!!!”

“Barbieeeeeee!!!!!!”

Aku segera mendapati dua orang itu sedang berlari kearahku yang baru saja keluar dari terminal kedatangan dengan teriakan yang amat aku kenal. Dan amat kurindukan. Suho, dan Hyo Eonni.

“Eonniiiiiiiiii.....!!!!” Tak mau kalah, akupun berlari kearahnya. Kami berpelukan teramat erat di iringi isak tangis dua orang perempuan cengeng yang selama lebih dari dua tahun ini tidak saling bertemu. Hyo Eonni menghujaniku dengan ciumannya. Kedua tangannya seolah tak mau berhenti mengusap wajahku, kepalaku, juga tubuhku seolah dia tidak percaya dengan keberadaanku dihadapannya.

“Aigoo.. uri Joohyun ah. Nan jinjja bogoshipposeo! Yakk!!! Nappeun saekie ah! Teganya kau pergi tanpa sepatah katapun padaku. Kau tidak tahu bagaimana gilanya aku saat itu. Ditambah lagi saat aku tahu tentang Leukimia-mu. Jinjja nappeunom ah! Kau membuatku takut, Phabo ah!!” Dan tangisnya semakin menggila sambil kembali memelukku. Orang-orang mulai melihat kami dengan tatapan aneh dan penasaran karena suara tangisan Hyo Eonni yang mungkin terdengar seperti tangisan anak kecil yang sedang merengek pada ibunya.

“Mianhaeyo, Eonni.. naega jalmothaeseo. Aku tahu aku bersalah pada kalian. Jigeumeun naega waseo, Eonni. Aku pulang. Kalian boleh melakukan apapun padaku dan menghukumku sesuka kalian hingga hati kalian merasa lebih baik. Aku tidak akan menghindar dan menangkalnya.” Kuusap lembut punggungnya. Hyo Eonni kemudian melepas peluknya dan sibuk menyeka air matanya seperti seorang gadis kecil.

“Phabo!! Seo Joohyun  neol jinjja phabo ah!! Mana mungkin aku tega menghukummu setelah penderitaan yang kau jalani selama ini. Melihatmu kembali berdiri dihadapanku, semua ini terasa seperti keajaiban. Aku bahagia melihatmu sehat dan tetap hidup. Gomapta, Joohyun ah. Gomapta.” Sekali lagi Hyo Eonni mendekapku. Tapi kali ini tidak berlangsung lama. Pandangku lalu melayang pada lelaki yang sedari tadi berdiri dibelakang Hyo Eonni sambil menundukkan wajah merahnya. Nae sojungan chingu, Suho.

Aku berjalan mendekatinya dan berdiri tepat dihadapannya. Lelaki itu masih tertunduk dan enggan menatapku.

“Oraenmanida, Suho ah....” Sapaku tampaknya tak langsung membuatnya bergeming. Butuh beberapa waktu hingga akhirnya Suho mengangkat wajahnya dan menatapku. Wajah pucat itu tampak merah padam. Tatapnya gamang dengan bola mata berkaca-kaca. Tapi akhirnya, Suho menampakkan senyumnya. Meski hanya diujung bibirnya dan lelaki itu masih tidak mengucapkan apapun. Hhh... jika saja dia seorang perempuan, aku yakin lelaki ini pun akan sama tersedunya dengan Hyo Eonni. Tapi karena dia seorang lelaki, Suho tampak berusaha keras menahannya. Hingga akhirnya, tubuhku lah yang seperti tertarik magnet ditubuhnya. Aku memeluknya. Mengusap punggungnya, dan merebahkan kepalaku didadanya. Tempat yang dulu menjadi yang tenyaman saat hidupku tak sanggup kutaklukan sendiri.

“Neomu Bogoshipposeo, Chingu ah!” Suaraku tercekat lagi. Beberapa waktu, Suho masih tak bergeming. Tapi aku mulai merasakan kedua tangannya melingkar ditubuhku dan mengusap kepalaku lembut.

“Jarieso, Barbie ah! Kau melakukan yang terbaik. Jarieso!” Lirih, suaranya terdengar berbisik. “Gomawo, untuk tetap hidup, Barbie! Huufh...” Kudengar isak kecilnya. Perlahan, kulepaskan pelukanku dan kembali kutatap wajahnya. Kali ini, sengaja aku memasang tatapan nakalku.

“Omo... igae mwo yah? Noel uro? Suho-nim menangis karena merindukanku? Aigoo.. akhirnya kau mengakuinya, bukan? Bahwa hidupmu tanpaku itu membosankan? Aku tahu, kau pasti akan merindukanku sampai merasa frustasi. Karena itu, baik-baiklah padaku saat aku bersamamu, Chingu-ah!” Meski tenggorokanku pun masih terasa tertekan menahan isakanku yang lain, aku berusaha terlihat normal dengan menepuk pundaknya seperti yang biasa aku lakukan padanya dulu. Akhirnya, Suho-ku tersenyum lebih lebar sambil mengusap sisa air matanya. Dia mengusap rambutku lembut dengan tatapan tulus yang aku sangat mengerti artinya.

“I promise, i’ll treat you better, Barbie. Bagaimanapun kau sudah bangkit dari kematian. Aku tidak ingin kualat hanya karena aku memperlakukanmu dengan buruk. Aku tidak akan berani lagi, Barbie ah!” Suho menampakkan wajah innocent-nya dan aku sangat mengerti bahwa lelaki ini sedang memulai lagi peperangan ini denganku.

“Mwo rago? Yak!!! Kau mulai lagi, Phabo ah! Bangkit dari kematian? Kau fikir aku ini hantu, huh? Nawa!! Kau merindukan kepalan tanganku, bukan?!!” Suho tampak meringis, dan hanya dalam waktu beberapa menit saja, adegan itu berubah menjadi aksi kejar-kejaran antara aku dengannya, seolah kami lupa bahwa kini kami adalah manusia-manusia dewasa yang sudah berusia lebih dari ¼ abad. I don’t care at all. I just wanna feels like home. And with them, i’m home.

Dua hari kemudian.....

Tak terasa, tibalah saat yang mendebarkan itu. Kegugupan tampak jelas di wajah Oppa-ku yang sejak di pesawat tadi tubuhnya tidak bisa diam. Berkali-kali dia pergi ke toilet, padahal penerbangan dari Seoul ke Busan hanya memakan waktu kurang dari 2 jam saja. Lagipula, acaranya baru akan dimulai esok hari, tapi lelaki ini benar-benar tidak bisa menguasai dirinya. Sampai kami tiba di Hotelpun, Oppa melupakan tas nya hingga kami sibuk mencarinya dan kembali ke Bandara. Belum lagi si perfectionist ini masih saja sibuk dengan detail-detail kecil yang harus dilakukan fandom wedding organizer. Dan itu membuatku sakit kepala. Haisshhh!!! Jinjja!!

Apakah menikah itu harus se-memusingkan ini?!!

Hhh.. molla!! Berada disamping calon pengantin seperti itu, justru membuatku lebih stress dibandingkan si pengantin itu sendiri. Kuputuskan untuk keluar dari Hotel untuk mencari udara segar.

Siang itu, kami tiba di Busan pukul 3 sore. Cuaca musim panas di Busan lebih bersahabat dibandingkan dengan New York. Dari pintu Hotel, aroma laut sudah bisa kuhirup. Hotel tempatku menginap memang hanya berjarak kurang lebih 200 meter saja menuju pantai. Hanya butuh menyebrangi sebuah jalan raya, maka aku sudah bisa memijakkan kaki diatas pasir pantai.

“Here i am....” Gumamku, saat kupijakkan kedua kakiku diatas hamparan pasir yang hangat. Ombak sore itu menyapu pantai dengan lembut. Angin bertiup hangat dan mentari senja sebentar lagi akan membenamkan dirinya.

"I love it..." Bisikku, sambil tak lekat menikmati lukisan Tuhan dihadapanku.

Waktu berlalu tanpa kusadari. Pesona Sunset di langit Busan seperti sihir dimataku. Semakin kularut menikmatinya, semakin pekat rasa rindu itu. Padanya. Pada seseorang, yang pernah menggenggam tanganku dan menapaki pasir berserak ini. Yang bibirnya terasa begitu hangat mengunci bibirku ditengah dinginnya musim salju. Dia... yang kutinggalkan dengan tidak adil dan harus menanggung luka karena sikap pengecutku dua tahun lalu. Wajahnya jelas terbayang dalam ingatanku.

"Hhh.... i miss you so much, Mr. Gold. Aku merindukanmu hingga setiap detik terasa menyiksa. Jeongmal geuriwoseo...." Lagi-lagi aku bergumam sendiri. Lalu......

"I miss you too, Sunset! I missed you more than you can immagine it."

Suara itu tiba-tiba mengalun ditelingaku selembut angin menyapu wajahku. Suara yang teramat kukenal karena setiap detik kenangannya berputar dalam ingatanku seiring udara disetiap helaan nafasku. Bagaimana mungkin? Bagaimana ini?

Aroma parfumnya, lalu keberadaannya tepat disampingku. Kutatap wajah itu setengah tidak percaya. Pesona Sunset Busan sudah cukup menyilaukan mataku dan kini.... wajah indahnya menggenapi rasa takjubku. Ani ah! Ini bukan mimpi. Semua itu terlalu nyata untuk hanya sekedar mimpi.

*****

Yonghwa POV

Hari itu. Ya, aku menghitung setiap detiknya untuk sampai ke hari kepulangannya kembali ke negara ini. Debar jantungku menggema tak berirama. Menanti kemunculannya dari balik pintu terminal departure bandara. Meski kuyakini tubuhku terlindungi oleh pilar besar dihadapanku, lengkap dengan seperangkat perisai keamanan, topi, kaca mata hitam dan masker yang mampu menutupi identitasku, tetap saja.... kegugupan ini melebihi ketika aku pertama kali tampil dengan CNBLUE.

Lebih dari satu jam aku berdiri disana hingga menghabiskan 2 cup besar ice americano sebelum akhirnya aku melihatnya. She's back. My angel, with her shiny black hair, that simple blue jeans and white t-shirt, yeah... she's the girl who made me falling so deep. 3 tahun lalu pun aku jatuh cinta padanya saat dia mengenakan setelan seperti itu di konserku. Sejak saat itu, aku tak peduli lagi pada jutaan gadis di dunia ini dengan segala pesona mereka dan juga high style yang mereka gunakan. Tidak ada yang bisa menyamainya. Apalagi mengalahkannya. Seo Joohyun adalah bintang paling terang yang pernah kutemukan.

Kulihat Hyoyeon dan Suho berlari mendekati Joohyun dengan teriakan histeris mereka. Beberapa saat, aku hanyut menyaksikan adegan mengaharukan yang terjadi antara 3 sahabat yang beberapa waktu berpisah itu. Mereka adalah orang-orang terbaik yang Tuhan kirim kesisi Joohyun.

Lalu aku melihat gadisku memeluk Suho dan menepuk punggung laki-laki itu dengan lembut. Beberapa waktu kemudian, Suho membalas pelukan itu dan mendekap erat yeoja-ku. Igae mwo yah? Kenapa aku harus melihat adegan itu dan merasa terganggu karenanya? Tsk... bahkan aku saja tidak mendapatkan pelukan itu saat kutemui dia di apartemennya di New York.

"Kau benar-benar keterlaluan, Seo Joohyun.." Gumamku, lirih.

Lalu kulihat mereka berlari saling berkejaran. Tangis haru mereka seketika hilang berganti tawa bahagia. Tanpa kusadari, bibirku ikut tersenyum melihatnya.

"Geurae! Seperti itulah seharusnya, Joohyun ah. Kau memiliki kebahagiaan itu disekelilingmu, jadi kau tak perlu membuangnya. Tertawalah. Tersenyumlah seperti itu dan hentikan lukamu!" Bisikku...

Aku mengikutinya tanpa dia sadari dan dia ketahui. Mulai dari Bandara, hingga dia memasuki rumah Kyuhyun Hyung. Esok harinya, aku melakukan hal yang sama. Aku mengikutinya mulai dari saat dia keluar rumah itu bersama Taeyeon Noona, hingga mengikutinya berkeliling banyak tempat dimana dua orang gadis cantik itu membeli bermacam-macam barang. Huufhh.. kuakui, perempuan itu jauh lebih kuat dari kami para lelaki. Bagaimana bisa mereka masih bisa tertawa ceria selepas itu, usai berjalan mengintara banyak tempat seharian? Eomma... kakiku.... fuiiih.....

Jika bukan karena aku merindukannya, maka aku sudah pasti akan menyerah dan mengaku kalah.

Malam harinya, aku masih memarkirkan mobilku didepan rumah Kyuhyun Hyung. Kulihat satu kamar di lantai atas masih belum mematikan lampunya. Dalam benak-ku bertanya-tanya, mungkinkah itu adalah kamar miliknya? Apa yang sedang Joohyun-ku lakukan hingga selarut ini pun dia masih belum tidur? Apakah dia merindukanku juga? Ani ah. Apakah pernah sekali saja namaku terbersit dalam fikirannya?

Dan beberapa waktu kemudian pertanyaan pertamaku mulai terjawab. Seseroang membuka jendela kamar itu lalu aku melihatnya. Benar saja. Itu kamarnya. Apa yang sedang dia lakukan dimalam selarut itu? Ah.. molla. Anggap saja Tuhan yang membimbingnya membuka jendela itu dan menampakkan wajahnya, karena Tuhan iba padaku. Tuhan tahu, lelaki menyedihkan ini sangat merindukannya dan Dia memberiku kesempatan untuk menatap wajahnya tanpa Joohyun tahu keberadaanku disana.

Busan....

Aku tiba di kotaku sehari sebelum Joohyun dan keluarganya tiba. Seperti saat kedatangannya di Incheon, kali ini aku pun melakukan hal yang sama. Aku menunggunya di Bandara, lalu mengikutinya hingga ke Hotel tempatnya menginap nanti. Sesekali aku tak kuasa menahan tawaku saat kulihat Joohyun mencereweti Oppa-nya. Wajahnya saat sedang sewot benar-benar lucu. Aku baru melihat sisi seperti itu darinya. Saat bersamaku dulu, Joohyun yang kukenal adalah Joohyun yang mandiri, tegar dan cerdas. Mungkin karena saat itu dia merasa hidup seorang diri tanpa keluarga yang bisa menjadi tempatnya bersandar. Tapi kali ini aku melihat sisi lain darinya. Gadis kesayanganku ternyata seorang yang sangat manja. Beberapa kali kulihat Kyuhyun Oppa kewalahan dengan rajukan adiknya hingga membuatnya terpasksa mengalah padanya. Tsk... Joohyun-ku.

Pantai ini. Pantai yang sama yang Joohyun datangi dulu dan membuatku panik setengah mati mencarinya. Apa yang sedang dilakukan malaikatku disana? Ditempat segala kenangan yang dia hempas itu tercipta. Apakah fikirannya sedang menjelajahi ruang masa lalunya? Kehari dimusim salju itu? Saat kuresapi manis bibirnya dengan segenap rasa memilikiku. Saat kukira tak akan pernah akan ada lara usai ciuman hangat itu menyatukan kami. Hari itu yang kutahu hanyalah 'aku mencintainya dan akan melakukan apapun untuknya.' Tak kusangka, kecupan manis itu mempertegas rasa sakitku saat kusadari semua itu adalah yang terakhir dan cintaku pergi meninggalkanku.

Kutatap punggung kecil yang setengahnya tertutup gerai rambut hitamnya. Sesekali rambut indah itu terkibas lembutnya angin musim panas. Dan sunset dihadapannya seolah menggenapi keindahan itu. Rasanya seperti sedang menatap lukisan Maha Sempurna yang membuat tubuhku rela terpaku menatapnya disana.

Kuhapus jarak antara aku dan tempatnya berdiri hingga tubuhku berdiri tepat beberapa langkah di belakangnya. Cukup dekat untuk bisa mencium aroma lembut parfumnya dan mendengar desah lelahnya.

"I love it.. " Gumamnya. Dan itu berhasil merekahkan senyumku.

Gadis itu benar-benar tersihir oleh pesona Sunset dihadapannya hingga dia tidak menyadari bahwa waktu berlalu dan dirinya menjadi objek pemuas rinduku.

"Hhh.... i miss you so much, Mr. Gold. Aku merindukanmu hingga setiap detik terasa menyiksa. Jeongmal geuriwoseo...." Aku mendengarnya. Jelas, aku mendengarnya. Bisikan rindu itu... Untukku.... Ya, aku mendengarnya. Seketika hatiku bergetar dengan rasa yang tak mampu kudeskripsikan. Rasanya seperti baru saja menemukan Oasis ditengah gurun tandus setelah hampir mati kehausan. Seperti menemukan cahaya setelah sekian lama terjebak dalam kegelapan. Seperti kembali menemukan daratan setelah berlayar dalam perjalanan panjang tanpa arah. Kalimat itu seketika menyembuhkan luka-luka itu.

"I miss you too, Sunset! I missed you more than you can immagine it." Lirih, aku menjawabnya. Joohyun-ku terpaku. Bahkan hingga akhirnya kutampakkan diriku dengan berjalan lalu berdiri disampingnya, cintaku masih menatapku dengan tatapan tak terdefinisikan. Kutatap wajah malaikat itu dengan segenap rindu yang ingin kutuntaskan. Kali ini, tidak dengan air mataku. Untuknya yang sudah kembali, kupersembahkan senyum terbaikku.

'Terima kasih, Seo Joohyun. Meski entah kau akan pergi lagi selepas ini, aku tak peduli. Gwaenchanna. Aku akan mengikutimu kemanapun sayapmu mengepak.'

Author Note :
Anyeong haseo, nae saranghaneul goguma chingu!! ^^ Akhirnya.... kisah ini kembali ke jalan yang seharusnya. Gomapseupnida, karena selalu mengikuti pahit manis dan jungkir balik alurnya.

Kamis, 15 September 2016

In Time With You Chapter 30



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8



Chapter 30

I Missed You

Gelak tawa dan riuh obrolan orang-orang menggema di setiap sudut Hall tempat CNBLUE mengadakan pesta untuk kesuksesan konser perdana kami di Amerika. 2 hari ini terasa seperti mimpi. Benar-benar menakjubkan. Satu lagi pencapaian besar dalam perjalanan karier bermusik kami. Meski usia kami tidak lagi muda, setidaknya semua itu belum terlambat.

Kutatap setiap wajah yang hadir malam itu. Tidak begitu banyak, memang. Hanya keluarga kami, dan rekan satu managemen. Semua tampak memancarkan binar bahagia mereka. Terutama calon pengantin Lee Jonghyun dan Im Yoona. Bukan main-main, keluarga Lee segera mempersiapkan segala keperluan untuk pesta pernikahan mereka begitu mereka mendengar kabar tentang lamaran Jonghyun di konser dua hari lalu. Begitupun keluarga Im. Tentu saja. Pernikahan ini bukan hanya sekedar pernikahan Jonghyun dan Yoona saja. Lebih dari itu, pernikahan ini akan menjadi pernikahan akuisisi dari 2 perusahaan raksasa di Korea. Ratusan media dalam dan luar negeri langsung menjadikan pertunangan ini sebagai komoditi berita mereka. Dalam waktu kurang dari 24 jam, video lamaran Jonghyun untuk Yoona sudah di tonton ratusan ribu viewers sedunia. Berita mereka menjadi #1 trending topic di berbagai jejaring sosial. Bulan ini dipastikan akan menjadi bulannya Lee Jonghyun dan Im Yoona.

Daengida. Untuk sebuah alasan, aku bisa sejenak bernafas lega. Ya... Karena Jonghyun dan Yoona, lebih mudah bagiku untuk menjadi tidak terlihat. Menghilang beberapa saat dari tatap-tatap ribuan arti dan ribuan tujuan yang mengarah padaku. Selama pemberitaan Jonghyun - Yoona masih diminati publik, aku memiliki waktu untuk bersembuyi. Hhh... Tubuh dan jiwaku benar-benar lelah. Bahkan hanya tersenyum pun terasa sangat melelahkan untukku.

Dua hari berlalu sejak malam itu. Sejak terakhir kali tubuhku membeku melihat Joohyun berlalu dari pandanganku. Menghilang dalam kegelapan tanpa aku sanggup menahannya. Sekali lagi, aku kehilangannya.

Kucoba untuk memejamkan kedua mataku sambil merebahkan tubuhku ke sandaran sofa. Menghembuskan nafas pun rasanya berat sekali saat kenangan malam itu kembali terlintas dalam kepalaku. Hhuufffhh.....

Aku fikir aku sanggup melewatinya sekali lagi sehingga dengan mudahnya aku meneriakan kata-kata itu malam itu. Aku fikir dengan begitu Joohyun setidaknnya akan berbalik dan menghentikan langkahnya. Aku fikir dengan begitu rasa sakitku akan sedikit berkurang karena akhirnya.. akulah yang melepaskannya. Namun entah mengapa rasa nyeri yang nyaris tak terasa itu kini kembali menganga. Dadaku terasa sesak menahan sesuatu yang terasa seperti akan segera meledak.

I miss her, God. So much!

"Here. Minumlah." Jungshin tiba-tiba sudah berdiri disamping kananku sambil menyodorkan segelas minuman padaku. Tak lama setelah aku menerima gelas itu, Maknae pun duduk tepat disampingku. Beberapa saat, kami berdua hanya saling terdiam sambil menikmati minuman ditangan kami.

"Hyung gwaenchanna?" Akhirnya Jungshin mulai bersuara. Dari sudut mataku aku bisa melihat bahwa lelaki itu sedang menatapku lembut. Aku tidak bisa pura-pura bodoh untuk tidak mengerti maksud dan arah pertanyaan itu. Sekali lagi, aku menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya kuberanikan diri untuk mengangkat wajahku dan menatap lurus kedepan. Menatap puluhan tawa yang membuatku semakin merasa terasing.

"Nan jeongmal an gwaenchanna. Bagaimana bisa aku baik-baik saja usai apa yang aku lakukan malam itu? Hhhh... aku fikir semuanya akan lebih mudah dan lebih ringan untukku. Nyatanya, aku semakin tersesat, Jungshin ah. Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Rasanya semua pintu sudah sepenuhnya tertutup untukku. Sekarang aku tidak tahu jalan yang mana yang bisa aku tempuh untuk sampai ketempatnya. Nan jinjja molla..." Lagi-lagi aku mendesah berat. Frustasiku mungkin bisa Jungshin lihat dengan jelas diwajahku, dan juga dari beratnya suara saat aku bicara. Aku tak bisa menutupinya.

"Aku mengerti, Hyung. Bila aku berada di posisimu, aku mungkin akan melakukan hal yang sama. Terlepas dari seberapa gilanya aku merindukannya, setidaknya aku tetap akan berdiri untuk membela diriku sendiri." Jungshin masih menatapku penuh empati. Tangannya menepuk pundakku pelan.

"Kau sudah melakukan yang terbaik, Hyung. Sebagai kekasihnya dulu, dan juga sebagai seorang laki-laki, kau sudah berusaha melakukan segalanya. Bila akhirnya dia memutuskan untuk pergi, itu adalah pilihannya sendiri. Bukan karena kau melakukan kesalahan atau karena kau tidak pantas untuknya. Semua ini semata karena dia tidak mau menunggu dan lebih sabar lagi. Sekeras apapun kau mencoba menghentikannya, dia akan tetap pergi. Karena bila dia memilihmu, harusnya sejak awal dia tidak pergi."

Mendengar apa yang Jungshin katakan, membuatku kembali tertunduk, masih dengan nafas yang berat.

"Tapi aku tetap bersalah padanya, Jungshin ah. Aku tidak tahu kalau dia sakit parah hingga nyaris kehilangan nyawanya. Aku malah bersama Hyunna terakhir kali saat Joohyun berjuang dimeja operasi. Aku bersalah padanya karena kebimbanganku saat itu. Aku sibuk mengkasihani Hyunna sementara perempuan yang kucintai menangis sendiri menahan sakit ditubuhnya dan juga dihatinya karena pemberitaan tentang hubunganku dan Hyunna. Aku bersalah padanya karena aku lengah, Jungshin ah. Terlalu bodohnya aku hingga aku dengan mudah masuk kedalam permainan Hyunna. Dan saat itu, Joohyun lah yang paling menderita." Aku mulai merasakan wajahku memanas dan kedua mataku berkabut.

"Ara. Tapi tetap saja, bukan berarti kau pantas diperlakukan seperti ini, Hyung. Mungkin sudut pandangku terdengar egois dan bias. Tapi bagaimanapun aku tidak akan bisa membenarkan, bila seseorang lebih memilih pergi dengan alasan cinta. Menurutku itu salah! Cinta seharusnya bisa membuat setiap jiwa menjadi lebih lembut dan bijaksana. Bukan pergi tergesa lalu memberi luka untukmu yang ditinggalkan.

Aku menyukai Seohyun, Hyung. Dimataku dia perempuan yang baik dan tulus. Tapi meninggalkanmu, membuatmu dihukum rasa bersalah seperti ini dan bertarung melawan rasa rindu setiap waktu berlalu, semua itu salah! Dan malam itu, apa yang kau lakukan sudah benar, Hyung. Setidaknya setelah sekian lama, akhirnya kau bertindak untuk dirimu sendiri. Dia harus tahu itu. Dia harus merasakan pahitnya di abaikan dan dilepaskan. Ya, Seohyun harus merasakannya. Paling tidak hingga kau benar-benar siap untuk membuka kembali jalan yang menurutmu sudah tertutup itu. Hingga saat itu tiba, biarkan Seohyun tahu dan merasakan sedikit saja rasa sakit yang kau rasakan selama 2 tahun ini."

Perlahan, aku menoleh kearah Jungsin. Aku cukup tercengang dengan apa yang baru saja kudengar. Sejak kapan dia bisa berbicara seperti itu? Selama ini maknae-ku lebih banyak diam dan menjadi pendengar yang baik. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya dia menyuarakan pemikirannya. Dan itu cukup membuatku terkejut sekaligus tersentuh diwaktu yang bersamaan.

"Don't get me wrong, Hyung. Aku tidak membencinya. Aku hanya ingin kau bisa berfikir jernih tentang apa yang harus kau lakukan setelah ini. Jika memang menurutmu cintamu ini masih pantas untuk kau perjuangkan, belum terlambat Hyung. Kita masih berdiri diatas bumi yang sama dengannya. Kau tahu dimana harus menemuinya. Masalahnya saat ini adalah sampai mana kau bisa mengekang rasa rindumu. Bila kau masih bisa menahannya, maka hukum dia sedikit lebih lama. Tapi aku tidak ingin melihatmu mati dengan rasa sesak yang mendesak di dadamu." Sekali lagi aku dibuatnya ternganga.

"Yakk!! Lee Jungshin.. kau fikir aku akan mati semudah itu?!" Kulayangkan pukulanku ke kepalanya. Ani ah! Aku tidak bermaksud melukainya atau marah padanya. Hanya saja, jika aku tidak menghentikannya saat itu juga, aku takut aku tak mampu mengontrol ledakan dalam hatiku. Beberapa waktu kemudian, kami berdua akhirnya tertawa. Menertawakan pilu tak berkesudahan ini.

"Hhhh.. gomawo, Jungshin ah. Sudah berpihak padaku. Gomawo, sudah mengatakan itu. Kau tahu, selama ini langkahku tertahan setiap kali aku akan berlari mengejarnya. Semua itu semata karena rasa malu dan rasa bersalahku padanya. Aku bersikap seolah aku lah orang yang tersakiti dengan kepergiannya, padahal semua itu hanya karena aku takut. Aku takut menghadapi diriku sendiri. Menyadari bahwa gadis itu menderita karenaku membuatku ingin mati, Jungshin ah. Geurigo gomawo. Untuk semua yang kau katakan." Ku tatap teduh wajahnya, dan Jungshin tersenyum tulus padaku.

"Very welcome, Bro! No matter how, i'm your brother and i'll always take your side. Cheer up, man! This is your party. Our party." Jungshin meninju lenganku pelan. Tak lama kemudian, dia kembali meninggalkanku dan bergabung dengan keramaian pesta.

Bip.. Bip...

Ponsel dari saku suitku terasa bergetar. Satu pesan masuk.

From : Cho Kyuhyun

'Tidakkah kau merindukannya, Yonghwa ah?'

Cukup lama aku memandangi layar ponselku dan membaca pesan itu berulang kali, hingga kalimat dalam pesan itu terus berputar dalam kepalaku serupa suara teror yang mengusik ketenangan.

Igae mwo ya? Lalu aku harus bagaimana? Bila aku bilang bahwa aku sangat merindukannya hingga seperti sekarat rasanya, lalu apa? Hhhh.... Ya Tuhan... sampai kapan semua ini?

Sekali lagi kurebahkan tubuhku kesandaran sofa. Teramat lelah untuk terus kupaksakan.

Esoknya....

"Barang-barang kalian sudah aku kirim lebih awal ke Seoul. Penerbangan kalian sekitar jam 2 siang nanti. Jadi kalau kalian ingin mengunjungi satu tempat, atau ingin membeli sesuatu, kalian bisa melakukannya sekarang dengan catatan jam 1 tepat kalian sudah harus menemuiku di airport. Aratji?" Manager Hyung memberitahu semua member.

Hari itu adalah hari terakhir kami berada di New York.  Hanya tinggal beberapa jam tersisa sebelum aku duduk diatas pesawat yang akan membawaku terbang meninggalkan negara ini. Pulang ketempat dimana aku seharusnya berada. Melintasi jarak yang memisahkanku dengan cinta satir yang tak pernah usai. Darinya, yang masih tetap kucintai dengan segenap jiwaku tak peduli betapapun getirnya luka yang dia sebabkan.

Sekelebat bimbang singgah mengusik batinku. Antara desakan untuk menuntaskan rinduku, atau bertahan demi ego dan kebanggaanku sebagai lelaki seperti yang Jungshin katakan kemarin. Namun lebih dari itu, jauh disudut hatiku merasa gentar. Takut bila dia benar-benar tidak ingin kutemukan. Takut bila sekali lagi dia menghilang dan membentangkan jarak lebih jauh lagi. Takut akan kenyataan bila dia tidak lagi mencintaiku.

Hhhh... mitjindeut....

"Cobalah, Yonghwa. Coba temui dia sekali ini. Mungkin terlalu jauh untuk mencoba mengulang lagi apa yang dulu pernah kalian miliki. Setidaknya tanyakan kabarnya. Aku yakin kau ingin mendengar ceritanya, bukan?" Jonghyun tiba-tiba duduk disampingku. Kedua maknae kami menyusul, lalu masing-masing duduk di hadapanku. Entah apa maksud mereka kali ini, tapi mereka menyorotkan tatapan dan raut wajah yang sama.

"Apa maksudmu?" Aku tidak sedang berpura-pura bodoh. Aku hanya ingin Jonghyun mengatakan dengan lebih jelas, apa yang harus aku lakukan saat itu.

"Temui dia, Hyung. Aku yakin dia menunggumu." Minhyuk menimpali dengan tatapan teduh. Jungshin yang semalam terdengar tegas mendukungku, hari itu diapun menganggukkan kepalanya seolah dia setuju dengan apa yang dikatakan Jonghyun dan Minhyuk.

"Geurae, kalau begitu tolong katakan satu alasan saja kenapa aku harus menemuinya. Aku benar-benar butuh alasan itu saat ini, Minhyuk ah." Jawabku lirih.

"Aku melihatnya berjalan hingga tubuhnya menghilang dikegelapan malam itu, Hyung. Bahkan hanya melihat punggungnya saja aku tahu betapa berat beban itu. Belum lagi kedua kaki kecilnya harus dia seret untuk segera berlalu dari pandanganmu padahal dia pasti masih ingin berada disana. Menatapmu, tanpa kau tahu keberadaannya. Mungkin itu alasan dia datang ke konser kita dan bediri di tengah desakan penonton kelas festival. Dia juga merindukanmu tapi dia juga sama pengecutnya denganmu." Kegelisahanku semakin menyeruak usai mendengar apa yang Minhyuk katakan.

"Dan kau juga tidak akan sanggup bertahan lebih lama lagi, Hyung." Jungshin menambahi. "Melihatmu seperti ini, aku lebih khawatir dari saat pertama kau kehilangannya. Saat itu kau sangat berantakan. Mabuk setiap kali kau mulai tersadar, tiba-tiba menghilang dan kami harus menjemputmu kalau tidak di rumah sakit, kau pasti berada dikantor polisi. Tak terhitung lagi berapa banyak kau menangis, menggila hingga lelah dan kau baru bisa tertidur setelahnya. Nerakamu menjadi neraka untuk kami juga saat itu, Hyung." Jungshin menatapku lebih dalam dengan kedua mata memerah dan mulai berkaca-kaca.

"Tapi kali ini kau lebih menakutkan. Melihatmu begitu tenang dan nyaris tak bergeming, semua itu membuatku lebih khawatir. Aku takut kau akan berakhir menjadi pria paling tidak bahagia, Hyung. Andwe! Apa kesalahanmu hingga kau pantas menjalani hidup seperti itu? Minhyuk benar, Seohyun juga merindukanmu hanya saja dia terlalu rapuh untuk menggapaimu lagi. Geuronika jebbal... geumanhae, Hyung. Salah satu dari kalian harus menghentikan penderitaan ini."

Beberapa waktu, aku hanya termenung mencerna setiap kata yang mereka katakan tentangku. Tentangnya. Tentang kami. Haruskah? Mungkinkah Tuhan akan mengkasihaniku bila kali ini aku mengalahkan diriku sendiri dan mencobanya sekali lagi?

Akhirnya, setengah berlari aku pergi meninggalkan memberku dan segera menghentikan taxi. Geurae. Mungkin ini saatnya.

"St. Nicholas Ave, Please." Kataku, pada sopir taxi. Jantungku berdegup kencang tak beraturan. Ribuan kata 'semoga' berulang kali terucap lewat doaku dalam hati.

'Gidari ah, Seo Joohyun. Bila tubuh terlalu lelah untuk berjalan kearahku, maka aku yang akan berlari menggapaimu. Tunggu aku.'

Dan hanya dalam beberapa menit, taxiku berhenti dihadapan gerbang sebuah appartement kecil. Aku memberikan beberapa lembar Dollar pada supir taxi itu lalu keluar dari dalam taxinya. Sesaat, tubuhku mematung dihadapan sebuah pintu cukup tinggi dengan beberapa anak tangga untuk memasukinya.

'Is she there? Joohyun-ku.. apa selama ini dia menghabiskan hari-harinya di dalam bangunan ini?' Bisik hatiku.

Usai kukumpulkan nyali dan kekuatan hatiku, akhirnya aku meneruskan langkahku. Satu persatu dari 6 anak tangga aku naiki hingga aku berdiri tepat dihadapan pintunya. Perlahan, aku membukanya. Kutemukan sebuah meja kayu tua di sudut kiri. Tampak seseorang tengah tertidur di kursi kerjanya dengan tubuh bersandar ke sandaran kursi dengan mulut menganga. Kutebak dia adalah seorang resepsionis merangkap security.

Aku sadar, membangunkannya saat itu bukanlah ide yang baik. Maka kuputuskan untuk langsung menaiki tangga dihadapanku dan kutemukan sendiri tempat tinggalnya. Lantai 3, nomor 6. Seperti yang pernah diberikan Kyuhyun Hyung.

Tsk, gadis ini benar-benar aneh. Dengan profesinya sebagai penulis ternama dan tentu saja dia pasti memiliki income yang cukup untuk memilih tempat tinggal yang berfasilitaskan elevator, Seo Joohyun malah memilih tempat sedehana ini. Aku hanya bisa menggunakan tangga itu untuk sampai ke kamarnya. Suasana apartemen ini cukup nyaman, dan sangat bersih meski bangunannya terlihat cukup tua. Tapi tetap saja... memilih untuk bersusah payah memanjat tangga seperti ini tak akan pernah masuk dalam daftar rencanaku. Joohyun memang perempuan dengan perspektif yang unik dan tidak biasa.

And.. huuffftt.. terima kasih untuk 80 buah anak tangga yang baru saja usai kunaiki. Entah kapan terakhir kali aku berolah raga hingga berkeringat seperti ini. Dan juga, karena sibuk mengatur nafas sambil menghitung jumlah anak tangga itu satu persatu, aku berhasil melupakan kegugupan yang kurasakan sebelum aku membuka pintu.

Dan akhirnya, aku berdiri tepat dihadapan pintu kayu coklat tua dengan No. 6 tertera disana. 'Disinilah. Antara aku dan perempuan yang kucintai saat ini hanya terhalang oleh selembar pintu ini.' Bisik batinku.

Kuatur ritme nafasku sambil kuhimpun kekuatan dan keberanianku. Kemudian dengan tangan kananku, aku menekan tombol bel di monitor sebelah kiri pintu. Lalu...

"Please wait a minute. I'm comming.."

Her voice. It was her. Seo Joohyun.

Debar jantungku berpacu lebih kencang seiring detik berlalu dan....

Klik....

Pintu dihadapanku perlahan terbuka.

Aku melihatnya, sebagaimana dia juga melihatku. Wajah itu. Wajah itu berada tepat dihadapanku lagi. Begitu dekat. Tanpa jarak dan satu siluet pun.

Kedua bola matanya terbelalak seolah dia tidak siap dengan ketiba-tibaan ini. Atau barangkali diapun tak percaya bahwa dia bisa menemukanku berdiri di depan pintunya seperti itu. Dan waktu berlalu tanpa sepatah katapun terucap dari mulut kami. Hanya suara debar jantungku yang menggila, dan perasaan teremas dalam dadaku yang semakin terasa mencekik.

Akhirnya....

"Oraenmanida.... Seo Joohyun..." Lirih, kalimat itu mengalun.

"Op.. Oppa...." Tak kalah lirih, suaranya membelai jiwaku. 30 bulan yang menyiksa ini, akhirnya aku mendengar suara itu lagi. Andai saja tidak kurantai erat egoku saat itu, maka aku hanya akan menarik tubuhnya untuk kudekap erat. Teramat erat bahkan hingga dia kesulitan bernafas. Lalu kucium bibirnya menggila, hingga dia bisa merasakan amarahku, laraku, dan rinduku lewat ciuman itu.

Syukurlah. Monster dalam diriku terkunci rapat oleh rasionalitas fikiranku. Tentu saja. Aku bukan remaja lagi.

Joohyun mempersilahkanku masuk. Namun suasana canggung diantara kami masih belum menghilang, bahkan setelah dia mempersilahkanku duduk.

Aku duduk disalah satu sofa ruang tengahnya. Kutatap sekeliling ruang apartemennya yang nyaris tanpa sekat. Aku bisa melihat dapur kecilnya, ruang kerjanya dengan beberapa rak berisi deretan buku, dan hanya ada 2 ruang berpintu disana. Aku tebak, mungkin yang satu adalah kamar tidurnya dan satunya lagi adalah kamar mandi.

Tak lama, Joohyun kembali menghampiriku dengan 2 cangkir cappuccino ditangannya. Dia menaruhnya di atas meja. Satu dia simpan didekatku, dan satunya lagi didekatnya. Lalu Joohyun duduk dihadapanku. Suasana diantara kami masih terasa aneh. Tapi aku terus menatapnya meski gadis itu lebih banyak tertunduk menghindari tatapanku.

"Oppa...."

"Neol...."

Tsk... layaknya sebuah adegan drama, kami mengucapkan itu diwaktu yang bersamaan. Tapi aku tidak akan memberinya kesempatan untuk lebih dulu meneruskan kalimatnya, seperti yang dilakukan kebanyakan laki-laki dalam film.

"Apa kabarmu, Joohyun ah?" Satu kalimat clicé yang sepantasnya diucapkan setelah sekian lama berpisah, bukan?

"Aku baik-baik saja, Oppa. Dan kau... apa kabarmu?" Suara itu terdengar sendu. Wajahnya memerah dan kedua matanya berkaca-kaca. Nyaris saja pertahananku runtuh.

"Aku? Hhh.... Seperti yang kau lihat. Aku bertahan hidup hingga kini." Jawabku sarkastik, masih dengan tatapan yang kulayangkan padanya. "Lalu kesehatanmu? Apa penyakitmu sudah sembuh sepenuhnya?" Tenggorokanku terasa tercekat. Damn!!! Aku tak tahan lagi! Aku ingin memeluknya.

"Nde, Oppa. Aku bersyukur, aku bisa melewatinya. Dokter menyatakan bahwa aku sudah sembuh total. Transplantasi itu berhasil dan tubuhku menerimanya dengan baik." Kali ini, untuk pertama kalinya aku kembali melihat senyumannya. Bola matanya berbinar menunjukan betapa bahagia dan bersyukurnya dia.

"Ddaengida..." Suaraku terdengar parau. Huuffh.. aku tak sanggup lagi. Kutundukkan wajahku sambil berusaha menetralisir segala rasa yang berkecamuk di dada. Diatas segala yang aku ingin dengar darinya, mendengarnya sudah sembuh sepenuhnya adalah hal yang paling penting.

"Mianhae, Oppa...." Lirih, kudengar gadis itu kembali berbicara. Aku kembali mengangkat wajahku dan menatapnya. Namun kali ini kudapati Joohyun lah yang tengah menundukan wajahnya.

"Kau benar-benar kejam, Seo Joohyun." Ucapku setengah berbisik. Mungkin tenggorokanku sedikit kehilangan tenaganya. "Bagaimana bisa kau memperlakukanku seperti itu? Seberapa kerasnya pun aku mencoba berfikir, apa yang membuatku pantas mendapatkan semua ini, aku tidak bisa menemukan jawabannya. Begitu besarkah salahku padamu, Joohyun ah.. hingga membuatmu dengan mudah menghempas segalanya? Hhhh... mendengar tentang Leukimia-mu rasanya aku ingin mati saat itu juga. Aku mencoba mengerti alasanmu pergi karena penyakit itu tapi....." Suaraku tercekat. Aku gagal menahan bulir air yang meluncur dari kedua mataku.

"Kau membuatku merasa tidak berarti, Joohyun ah.." Suaraku semakin tak terdengar. Beberapa saat, kami berdua sibuk mengusap air mata kami masing-masing. Joohyun semakin tertunduk tanpa sanggup menatapku. Akhirnya, setelah aku mampu menenangkan diriku, aku mencoba untuk kembali bersuara. Banyak hal yang ingin aku ucapkan dan juga kutanyakan padanya.

"Aku tidak akan bertanya 'kenapa' padamu, Joohyun ah. Karena bagiku, alasan kepergianmu tidak lagi penting. Hari ini... aku datang menemuimu hanya untuk melihatmu terakhir kali sebelum aku kembali ke Seoul siang ini. Aku hanya ingin memastikan, bahwa kau benar-benar sehat dan hidupmu baik-baik saja. Melihatmu sehat dan tetap hidup, untukku semua itu sudah cukup." Ucapku lirih.

"Gomapta, Hyun... Terima kasih untuk tetap hidup." Suaraku kembali tercekat. Lalu kulihat belahan jiwaku memecahkan tangisnya. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menunduk pilu. Bahu kecilnya berguncang diiringi isakan yang memilukan. Demi Tuhan, aku teramat ingin menarik tubuh itu dan menguncinya dalam pelukku. Tapi aku tidak ingin pelukanku seolah memaksanya untuk kembali.

Nanti... Nanti jika dia sudah siap dan memutuskan untuk berlari kearahku lagi, maka aku akan merentangkan kedua tanganku dan membuka peluk ini untuknya. Saat itu, tak akan kubiarkan dia pergi lagi. Jika harus, aku akan mematahkan kedua sayap malaikatnya agar Joohyun tetap menjadi manusia biasa yang akan berjalan disampingku seumur hidupnya.

Nanti. Jika.

"Jaga dirimu  Joohyun. Meski tidak ada jalan untuk kita memperbaiki segalanya lagi, aku hanya berharap segala yang terlewati itu tidak akan sia-sia. Setidaknya, cobalah untuk bahagia dan berhenti memamerkan kekuatan bahu kecilmu itu. Kau bisa menipu dirimu sendiri seolah hidupmu baik-baik saja. Tapi tidak dengan mataku."

Dengan begitu, aku beranjak dan berlalu pergi. Aku meninggalkannya kali ini, seperti yang dia lakukan 2 tahun lalu. Setidaknya caraku lebih baik. Aku membiarkannya melihat wajahku dulu sebelum aku pergi. Bukan menghilang tanpa memberiku kesempatan merekam gambar wajahnya di memoriku untuk terakhir kali.

Dan lagi, bagiku ini bukan perpisahan!! Bukan!! Ini hanya sebuah jalan untuk membimbing hatinya kembali ketempat yang seharusnya. Kembali kesisiku.

Beberapa jam kemudian, tubuhku sudah terikat diatas kursi pesawat yang membawaku terbang menjauh darinya. Kupejamkan kedua mataku dan kurebahkan kepalaku kesisi jendela. Kurasakan sebuah tangan lembut meremas jemariku. Im Yoona..

"Jarieso, Jung Yonghwa! Everything will be alright." Bisiknya. Hufffh..... dan air mataku mencair lewat celah sudut mataku, meski aku pura-pura terlelap.


Author Note :
I promise, Goguma-deul.... setelah chapter ini, Author stupid dan sadis ini akan memperbaiki segala yang sudah dicak-acak dari kehidupan YongSeo. It’s time to heal their wounds and fix everything. ^^ Neomu Gomawoseo, untuk apresiasi kalian sama ff ini. Terima kasih untuk semangat yang selalu kalian suntikan ke sisi ‘pemalas’ saya lewat WA, FB, IG, dan komen di Blog ini biar saya semangat lagi nulisnya. \^_^/ Deep Bow......