Senin, 11 Januari 2016

In Time With You Chapter 24



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8





Chapter 24

Cinderella And Her Prince

Laut. Aku selalu suka aromanya. Juga warna pantulan langit yang sesekali memudar tergulung ombak. Suara deru, debur, membaur bersama angin. Hhhmm... aku benar-benar suka tempat ini. Kota tempatnya tumbuh menjadi lelaki  paling menakjubkan. Bahkan musim dingin ini tidak sedikitpun mengekang asaku untuk berjalan menapaki pasir-pasir membeku ini. Mengukir jejak-jejak baru dalam sejarah hidupku.

"Hyun....! Seo Joohyun!!"

Lelaki itu. Ada apa dengan suaranya? Haruskah dia memanggilku sekeras itu? Aku menolehkan tubuhku dan mendapatinya sedang berlari terengah-engah. Igae mwo yah? Apa yang sebenarnya terjadi?

Deru nafasnya tersengal-sengal. Bagaimana bisa dia berkeringat di musim dingin seperti ini? Wajahnya merah dan kalut.

"Oppa... moseumniri ah? Kenapa kau berlari tergesa-gesa seperti itu?" Sejujurnya, dia membuatku panik. Yonghwa tidak langsung menjawabnya. Dia benar-benar kelelahan hingga kesulitan mengatur ritme nafasnya. Kedua tangannya bahkan sibuk menopang lututnya.

"Seo Joohyun... hhh... neol... hhh.. jinjja!!" Masih terengah-engah, Yonghwa menunjukan tangannya kearahku, dengan wajah kusut.

"Wae? Naega wae?" Demi Tuhan, aku masih belum mengerti. Lelaki itu masih sibuk mengatur nafasnya. Setelah lelahnya mereda dan dia mulai terlihat tenang, Yonghwa baru mengluarkan suaranya kembali.

"Yak!! Seo Joohyun, aku mencarimu hampir gila, kau tahu? Kenapa kau pergi sendiri? Dan ini... Oh God... Taeyeon Noona akan benar-benar membunuhku." Aku semakin tidak  mengerti. Kini lelaki itu melepas mantelnya, lalu dia gunakan untuk membalut tubuhku yang sebenarnya sudah memakai coat cukup tebal.

"Mwo ya? Oppa.. kau bisa kedinginan. Aku kan sudah pakai mantelku sendiri. Kau pakai saja ini..." Aku bermaksud untuk memberikan lagi mantelnya, tapi tangannya menghentikanku.

"Pakai itu, atau kau dalam masalah! Aisshh!! Kau benar-benar harus dihukum, Agassi.. karena membuatku gila! Haissh... Phabo Agassi!" Yonghwa malah membuat mantelnya membalut tubuhku lebih rapat.

"Mwo rago? Phabo agassi? Nugu ah? Naega?" Aku benar-benar ingin meremas mulutnya. Phabo? Enak saja dia bilang! Tapi Yonghwa malah merangkulku erat lalu menyeret langkahku yang entah akan dibawa kemana.

"Yak!! Jung Yonghwa Ssi... sebenarnya kau kenapa sih? Kau mau membawaku kemana?" Jangan salahkan aku, tingkahnya lah yang membuatku sedikit sengit.

"Kau fikir, kemana lagi aku akan membawamu? Tentu saja kita akan mencari sebuah hotel yang nyaman hingga kita punya ruang private yang hanya ada kita berdua saja tanpa terganggu oleh siapapun!"

"MWO?!!!"

Gila!! Jung Yonghwa sudah gila!

"Wae?? Kau tidak dengar apa yang semalam diminta Appa-ku? Jjagie ah, mereka ingin kita segera memberi mereka cucu!"

"MWO???!!! Neol Mitjoseo?!! Kau ingin nasibmu sama seperti Lee Jonghyun sahabatmu, huh?!" Entah seperti apa ekspresi wajahku, yang pasti, aku merasa seperti bola mataku akan keluar dari kelopaknya.

"Whoaa... Seo Joohyun Ssi! Siapa yang sudah mengajarimu semua itu? Aigoo!!" Kami berdua menghentikan langkah kami. Lebih tepatnya, aku yang menghentikannya hingga Yonghwa tak punya pilihan lain selain ikut berhenti.

"Oppa.. geumanhae. Jawab aku dengan serius! Sebenarnya kau akan mengajakku kemana? Kenapa kita harus tergesa seperti ini?" Kulihat Yonghwa menghembuskan nafas dan diakhiri dengan senyum yang teduh.

"Aigoo... jinjja Seo Joohyun!" Yonghwa menggeleng-gelengkan kepala diringi tawa kecilnya. Kedua tangannya merengkuh bahuku dan dia menatapku teduh sekali lagi.

"We're gonna go to Venus Hotel, Angel. Eomma dan Appa sudah menunggu kita untuk makan malam." Jawabnya tenang.

"Mwo? Makan malam? Hanya itu?" Aku bertanya sambil kutatap matanya.

Untuk sebuah ajakan makan malam, aku rasa reaksi Jung Yonghwa agak berlebihan. Berteriak memanggil namaku, berlari hingga terengah dan berkeringat, lalu menyeretku seperti seorang Tim SAR yang sedang melakukan misi penyelamatan.

"Oh. Geunyang. Wae? Apa kau berharap sesuatu yang lebih dari hanya makan malam? Kalau tentang itu, don't worry, Baby... dengan senang hati aku akan memesan penthouse terbaik kami untuk kita nanti malam." Jawabnya, dengan senyum nakal yang menjengkelkan.

"Yakkk!! Kau benar-benar tidak sayang pada kakimu yah?!!!"

Aku benar-benar gila dibuatnya, hingga aku tidak sadar sudah menunjukkan sisi seperti itu dalam diriku. Tapi Yonghwa benar-benar keterlaluan. Dia membuatku sangat gugup. Dan kini lelaki itu justru semakin terbahak.

"Mian.. mian..! Aigoo... jangan salahkan aku,  Agassi. Wajah gugupmu itu benar-benar lucu, dan aku tidak tahan untuk tidak menggodamu. Mian, Nae Hyun..." Yonghwa mencubit hidungku.

"Heol... chamm!! Jung Yonghwa Ssi, apa kau memang terlatih untuk menjadi seperti ini?" Yonghwa mengerutkan keningnya sambil menatapku.

"Mwo ya? Orang seperti ini bagaimana?" Sekali lagi dia memasang wajah polos. Aku menghembuskan nafasku, lalu kutatap lekat kedua matanya.

"Orang yang selalu membuat jantungku berdebar kencang, nafasku tertahan dan aliran darahku memacu setiap kali kau datang kepadaku?" Lembut, kujawab setengah berbisik.

Sesaat, lelaki itu terdiam. Dia hanya menatapku lebih dalam dengan tatapan yang tak mampu kuartikan. Hanya satu yang dapat kutangkap darinya. Cinta. Mata itu, mengatakan segalanya. Tentang cinta yang sering kali aku dengar dari mulutnya. Hhh... apakah dia melihat dan merasakan hal serupa saat dia menatap mataku?

Lalu aku merasakan tangannya yang dingin merengkuh pipiku. Lembut, dia mengusapnya.

"Ani ah! Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku tidak pernah melihat seseorang seperti aku melihatmu. Aku tidak pernah segila ini mencari keberadaan seseorang seperti setiap kali aku mencarimu. Aku tidak pernah merasa tersiksa seperti ini seperti saat aku merindukanmu. Aku tidak pernah sejatuh ini sebelumnya, sebelum aku bertemu denganmu lalu jatuh cinta padamu." Dan jantungku berdebar semakin kencang, seiring tatapnya yang kian dalam menusuk hatiku.

"Kau... satu-satunya yang membuatku menjadi 'seorang yang seperti ini', Seo Joohyun."

Debur ombak, gemuruh angin, kicauan burung camar... Aku tidak mendengarnya lagi. Dunia seketika terasa senyap. Lagi-lagi aku tersesat. Terperangkap dalam tatap matanya dan aku tak ingin terlepas.

Lalu jarak antara kami perlahan hilang inci demi inci. Aku tak peduli apapun lagi, yang aku inginkan saat ini hanyalah memejamkan kedua mataku, kemudian membiarkan jiwa dan rasaku menikmati sentuhan bibirnya yang tanpa dia ketahui, sentuhan itu mulai menjadi candu untukku.

I loved it. I loved how it tasted and the way he pressed his lips so gently and seizes mine. I loved how it felt, when he tried to open my lips and showed me how he wanted me that bad. Consuming me. Devoting me. I loved him for makes me feel these pleasures like i was in the closest place to heaven. I never expected that finally i could kiss a man i can't breathe without and found that breath was of little consequence.

"Saranghae, Hyun..." Bisiknya lembut.

"Saranghae, Oppa..." Lalu bibirnya kembali menguasaiku.

*****

Dia mengantarku ketempat ini, lalu pergi dan mengatakan padaku bahwa dia akan menjemputku satu jam lagi saat aku selesai dengan make up ku. Yes, dia membawaku ke sebuah beauty house yang akan memperbaiki penampilanku dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Benarkan, kataku? Jung Yonghwa terlalu berlebihan dalam hal ini.

Dua orang Eonnie selesai dengan make up ku. Whooaaa... who's that girl in the mirror? Aku bahkan terkejut melihat perubahan diwajahku. Aku tak menyangka, sentuhan tipis eye shadow berwarna hazzle grey, dan eye liner sedikit tebal menyudut di bagian atas kelopak mataku, benar-benar membuat kedua mataku terlihat lebih tegas, dan... hhh... aku malu mengatakannya, tapi... Tsk.. harus aku akui, aku terlihat cantik. Soft pink blush on, dan lipstick berwarna senada, seolah memberi effect sihir yang lainnya. Benarkah gadis yang sedang kulihat itu adalah Seo Joohyun yang kukenal?

"Nona, kami akan menata rambut anda." Dua orang Eonnie yang berbeda memasuki ruangan tempat aku duduk.

"Ohh.. nde. Algaeseoyo." Aku tersenyum, dan mempersilahkan mereka menyentuh rambutku.

"Ah.. Eonnie, jeoseohamnida..."

"Nde, Agassi. Moseumniriseyo?"

"Hmm... apa.. kau bisa membuatnya tetap tergerai?"

"Maksud Nona, rambut anda?"

"Nde. Seseorang sangat suka melihat rambutku tergerai."

Ya, Yonghwa-ku menyukainya. Kemudian, Eonnie itu tersenyum dan mengganggukan kepalanya.

Beberapa menit kemudian... tadaa.... aku benar-benar terpukau dengan apa yang aku lihat dicermin. Shoulderless black gown menjuntai menutupi kaki panjangku. Ornamen sutra berwarna soft dusty dengan aksen kristal dan balck pearl melingkar dari pinggul hingga ke bagian dadaku. Dan oughh... ottokhae? Haruskah aku memakainya? Tsk.. Jung Yonghwa! Kenapa lelaki itu memilihkan gaun yang seperti ini untukku hingga dadaku begitu terbuka? Ough... jinjja!!! Untung saja aku meminta hair stylist tadi untuk menggeraikan rambutku, hingga pundak dan punggungku sedikit tertutupi olehnya.

But over all... dengan mengesampingkan rasa rendah diriku, aku akui, aku puas dengan penampilanku.

"Nona, Tas anda dan juga sepatu anda..." Seseorang masuk memberiku sebuah purse cantik berwarna soft dusty, dan sepasang high heels hitam beraksen black swarovski yang memukau mataku. Tuhan, sebenarnya makan malam seperti apa yang akan aku hadiri nanti hingga Yonghwa menyiapkan  semua hal yang  gemerlap ini untukku?

"Supir anda juga sudah menunggu di lobi, Nona. Bila anda sudah siap, silahkan menghubungi kami. Oh iya, jangan lupa dengan coat anda, Nona. Tuan Yonghwa baru saja menelepon kami untuk mengingatkan anda lagi." Aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum, kemudian Eonnie tadi pun berlalu.

Aku menatap wajahku di cermin sekali lagi. Hhhh.... mungkin ini yang terjadi pada Cinderella. Betapa ajaibnya uang merubah kehidupan seseorang dalam sekejap. Gadis dalam cermin itu... tetap saja seorang Seo Joohyun. Tidak akan pernah berubah meski bagaimana pun kain pembungkus dan topeng ini membuatku tampak berbeda. Setidaknya, malam ini aku akan membuat laki-laki itu merasa bangga dan bahagia, meski usai tengah malam nanti, semua kemilau ini akan kembali lenyap dari hidupku.



*****

Seorang sopir yang Yonghwa tugaskan  untuk menjemputku, membawaku dengan sebuah Mercedess Benz yang aku tidak tahu jenis dan seri apa, mengingat dalam duniaku benda seperti ini tidak pernah akan nyata. Tidak butuh waktu lama, kami tiba di lobi hotel bintang lima dengan kemewahan yang baru pertama kali aku lihat sepanjang hidupku. Venus Hotel.

Sopir tadi turun terlebih dahulu, kemudian berjalan memutar dan bermaksud untuk membukakan pintu mobil itu untukku. Tapi kemudian seseorang menahannya. Orang yang sangat aku kenal. Jung Yonghwa, dengan suit hitam dan rambut yang tertata rapi, aku nyaris tak mengenalinya. Dan lelaki itupun membukakan pintu mobilnya untukku. Phabo! Kenapa dia tidak berdiri saja dan membiarkan sopirnya yang melakukan semua itu?

"Hi, Angel..." Yonghwa membungkukan tubuhnya dan tersenyum hangat menyapaku.

"Daengidaa... Oppa menungguku di luar. Huuhffh... aku benar-benar gugup karena khawatir kalau aku akan bersikap kampungan saat mencarimu. Gomawo... you saved me, Handsome!" Aku pun memberi senyum serupa. Yonghwa lalu menjulurkan tangannya, memintaku untuk meraihnya seperti adegan dalam dongeng saat seorang pangeran membantu sang putri menuruni kereta kudanya. Dan aku melakukannya. Malam ini, akan aku beri judul dalam ceritaku.. 'Cinderella and her handsome Prince.'

Dengan hati-hati, aku keluar dari mobilnya. Kemudian aku menemukan tatapan itu. Tatapan seperti laser pemindai yang menelusuri tubuhku dari atas hingga bawah. Tubuhnya mematung, dan mulutnya... Ya Tuhan.. tak sadarkah dia? Beruntung di lingkungan hotel mewah ini tidak ada serangga beterbangan. Karena kalau ada, salah satu dari mereka bisa saja masuk kedalam mulutnya.

"Mwo ya, Oppa? Wae geurae? Apa yang salah denganku? Apa... aku terlihat buruk dengan gaun ini?" Aku masih mengenakan coat bulu berwarna hitam sebenarnya, hingga aku fikir, penampilanku masih terlihat aman tanpa memperlihatkan pundak dan bagian dadaku. Tapi caranya menatapku, membuat percaya diriku semakin menghilang.

"A.. ani ah, Hyun.. kau... kau benar-benar luar biasa. You're so dazzlingly beautiful and i... i can't describe it with words." Sebuah senyum teduh merekah diwajahnya. Yonghwa masih menatapku dan perlahan mendekat kearahku. Tangan kanannya meraih pinggangku secara tiba-tiba dan menarik tubuhku hingga merapat ketubuhnya. Tentu saja aku terhenyak dan seketika merasa sulit bernafas. Dengan lembut, lelaki itu berbisik ditelingaku.

"I think i'm the luckiest man in the world tonight, Baby!" Yonghwa kembali melepaskanku sambil terus menatapku dalam senyumnya. Lalu dia meletakan satu tangannya dipinggangnya dan berisyarat padaku untuk mengaitkan tanganku disana.

"Kajja, My Angel. Eomma dan Appa sudah tak sabar ingin bertemu calon menantunya." Sekali lagi lelaki itu tersenyum membuai jiwaku. Mwo? Apa dia bilang? Calon menantu? Jebbal... bukankah semua ini terlalu pagi menyebutku seperti itu?

"Oppa... jamkaman..." Entah kenapa, tiba-tiba sekelebat ragu menahan langkahku.

"Yes, Baby?" Yonghwa kembali menatapku lembut.

"Aku... sejujurnya aku belum pernah menghadiri jamuan formil seperti ini. Didalam hotel mewah, dengan gaun dan make up seperti ini, terlebih lagi... ada orang tuamu disana. Aku takut, Oppa." Yonghwa tampak menghela nafas panjang sebelum akhirnya senyum itu merekah lagi diwajahnya.

"Don't worry, Angel. Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri. Dan bersikaplah sebagai dirimu sendiri tanpa harus merasa tertekan oleh siapapun. Kita akan makan di ruang tertutup, Sayang. Hanya ada aku dan orang tuaku disana. Geok cheongma.  You're so amazing and you don't have to be another person since i and my parents are already falling for you as who you are." Tatap itu benar-benar menyejukan. Dan seketika, resahku hilang.

Lalu kami pun berjalan melewati lobi dan langsung manuju elevator. Yonghwa menekan tombol bernomor 76 disamping pintu elevator itu. Eomma... jantungku nyaris melompat, saat kurasakan kecepatan elevator ini membawa kami. Aku benci naik elevator seperti ini. Seperti aku terkunci dalam kotak misteri yang bisa membawaku kedunia berbeda saat pintunya terbuka nanti.

Ding!! Benda itu berhenti tepat disaat lampu tombol bernomor 76 itu padam. Dan beberapa detik kemudian, pintu itu terbuka.

Benarkan, apa yang kufikirkan? Kotak misterius tadi benar-benar membawaku ke dunia lain yang belum pernah aku datangi. Begitu pintunya terbuka, aku langsung melihat indahnya kerlip lampu Busan dimalam hari, melalui jendela koridor. Permadani dihadapanku berwarna maroon dengan aksen bintang-bintang berwarna emas. Di dindingnya tergantung banyak lukisan aneka rupa yang aku yakin, semua itu berharga ratusan juta. 

"This way, Angel.." Kami berhenti dihadapan sebuah pintu dengan seorang pelayan berdiri dihadapannya.

"Silakan, Tn. Jung. Ayah dan Ibu anda sudah menunggu didalam." Sambut sang pelayan dengan ramah. Kemudian, pria itu membukakan pintunya untuk kami.

"Omo... igae nugunji?? Aigoo, uri ddal... neomu yippoda..." Aku langsung menerima sambutan sehangat itu dari seorang wanita cantik yang kala itu tampil begitu elegan dengan simple gown berwarna wine. Yonghwa-ku, pasti memiliki mata yang indah dari Eomma-nya.

"Jeoseohmnida, Emmonim, kami datang terlambat. Oppa membawaku ke sebuah tempat yang aneh dan membuatku harus mengenakan semua ini. Maaf, sudah membuat kalian menunggu."

"Gwaenchanna. Kami juga belum lama tiba disini. Aigoo... kau benar-benar cantik, Joohyunie. Harus aku akui, Uri Yonghwa memang punya standar yang tinggi dalam memilih gadisnya. Aku benar-benar merasa puas." Eomma menggenggam tanganku dan mengusapnya lembut.

Bila aku ditanya tentang apa bagian terbaik dari pertemuanku dengan seorang Jung Yonghwa? Maka jawabanku adalah... selain aku memiliki lelaki yang hebat seperti dirinya, aku juga tiba-tiba memiliki seorang Ibu dan juga Ayah yang sudah lama aku rindukan.

"Kamsahamnida, Eommonim. Eommonim do, jinjja neomu yipposeumnida." Aku benar-benar mengagumi kecantikannya.

"Aigoo... geumanhae neol... dul yeoja! Jangan lupa, bahwa disini ada dua orang namja dengan beban teramat berat karena harus menjaga wanita-nya dari pandangan pria lain. Kecantikan kalian, membuat kami harus terus bekerja lebih keras untuk bisa terus menjaga kalian."

Appa membuka suaranya dari tempatnya duduk. Senyuman pun merekah diwajahku dan Eomma. Yonghwa membantu Eomma-nya duduk, lalu melakukan manner yang sama padaku. Sebelum itu, My shining Prince membantuku melepaskan coat yang sejak tadi melindungiku dari cuaca musim dingin. Dan sekali lagi, lelaki itu menatapku dengan laser dikedua matanya. Entah apa yang dia fikirkan. Itu adalah pertama kalinya Yonghwa-ku melihatku dengan pakaian seterbuka ini.

"Nah.. nah.. nah! Benar kan, apa yang aku katakan? Kecantikanmu membuat putraku terlihat bodoh!" Eomma berceloteh dari tempatnya duduk.

"Mwo? Siapa yang bodoh. Nan geunyang.... geunyang...." Yonghwa tiba-tiba seperti kehilangan dirinya sambil menatapku.

"Geunyang phabo ah!" Appa menambahi, hingga membuat aku dan Eomma tak kuasa menahan tawa.

"Geumanhae, Yonghwa ah! Aku tahu, bagaimana rasanya saat kau melihat gadismu tampil secantik ini. Karena itu, jangan tunda lagi! Segera tentukan tanggal pernikahan kalian, atau kau akan menderita setiap waktu karena rasa cemas kalau-kalau gadismu direbut pria lain." Mendengar ucapan Appa, aku dan Yonghwa serempak nyaris berteriak.

"Ndea?!!!!"

"Appa.. geumanhaeyo! Aku tidak akan menikah hanya karena aku harus menikah. Kami akan memutuskan semua itu nanti. Ketika kami berdua sama-sama siap dan menginginkannya." Meski aku tahu Yonghwa-ku sedang menyembunyikan rasa gugupnya, tapi Namja-ku benar-benar keren saat mengatakannya.

"Ya... berfikirlah seperti itu sambil terus menasihati dirimu sendiri untuk tetap sabar, saat pria lain satu persatu mengagumi gadis-mu. Kita lihat, sejauh mana kau sanggup menahannya." Sekali lagi Appa membuat Yonghwa tersudut.

"Appa... geumanhaeyo! Bila kau terus membicarakan ini, aku khawatir.. aku akan kehilangan Joohyun sebelum aku menikahinya."

Melihat putranya berhasil mereka ganggu, Appa dan Eomma tertawa kecil. Kemudian kamipun memiliki makan malam yang luar biasa. Sesuatu yang baru kali ini aku alami. Aku benar-benar merasa hidupku begitu lengkap. Begitu hangat. Andai Eomma-ku bisa melihatnya, mungkin Eomma akan memberiku senyuman penuh kebanggaan. Menikah. Topik pembicaraan itu sedikit menakutkan untukku. Tapi sejujurnya, semua itu membuatku bahagia karena aku merasa keluarga ini bisa menerimaku dengan pelukan terbuka.

Ditengah obrolan dan gelak tawa kami, tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Pelayan yang tadi berdiri didepan pintu, masuk lalu menghampiri Appa. Pria itu berbisik ditelinga Appa hingga seketika raut wajah Appa berubah. Semua mata tertuju pada mereka, terutama Yonghwa.

"Arasso. Aku akan menemui mereka." Hanya kata-kata itu yang akhirnya keluar dari mulut Appa. Namun semua itu masih belum menjawab rasa penasaran kami tentang apa yang sebenarnya terjadi.

"Yeobo, bisa kau temani anak-anak sebentar? Aku harus bertemu dengan seseorang di ruangan sebelah." Appa tersenyum pada istrinya yang kala itu mulai tampak khawatir.

"Nde, arasso. Jangan lama-lama, ya!" Meski Eomma berusaha untuk tenang, tapi sinar dimatanya tidak mampu menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya sedang merasa cemas.

Lalu Appa pun bangkit dari duduknya, dan mulai melangkah pergi.

"Gidariyo, Appa. Aku ikut." Pandanganku dan Eomma kini berpaling pada Yonghwa. Ada apa sebenarnya? Dari wajahnya, entahlah... aku bisa merasakan bahwa Yonghwa mengetahui sesuatu yang penting yang membuat Appa-nya harus meninggalkan makan malam keluarganya seperti itu.

"Gwaenchanna, Yonghwa ah! Hanya seorang teman bisnis. Aku hanya akan menyapanya sebentar." Appa sekali lagi tersenyum pada kami sebelum akhirnya dia benar-benar berlalu.

Sudah hampir setengah jam, tapi Appa masih belum kembali. Eomma dan Yonghwa sudah tampak sedikit gelisah, meski mereka terus berusaha untuk bersikap tenang.

"Jeoseohamnida, Eomonim, saya harus kebelakang sebentar." Aku hanya merasa, mungkin Eomma dan Yonghwa perlu membicarakan sesuatu yang akan lebih nyaman bila aku tidak berada disana. Karenanya, aku permisi untuk menggunakan rest room beberapa saat. Meski aku tahu dalam ruangan itu ada toilet yang lebih private, aku memilih untuk memakai toilet yang berada diujung koridor.

Dari dalam bilik toilet, tiba-tiba aku mendengar suara dua orang wanita masuk. Keduanya sedang membicarakan sesuatu ketika mereka masuk. Atau lebih tepatnya, mereka terdengar seperti sedang berdebat dan salah satu diantara mereka seperti sedang menangis.

"Geumanhae, Aga! Uljima! Eomma dan Appa tidak akan tinggal diam dengan semua ini. Bagaimanapun, bukan hanya kau yang merasa ditipu dan di khianati. Lebih dari itu, mereka sudah menghina dan merendahkan kita dengan bersikap seenaknya seperti itu. Geuronika, jebbal... himnae ah, Uri Ddal!" Dari suaranya, perempuan itu mungkin berada di usia Eomma-nya Yonghwa. Dan perempuan yang terisak itu...

"Geugae, Eomma... semua ini tidak akan bisa diselesaikan dengan uang dan kekuasaan yang Appa miliki. Kenyataanya adalah... dia tidak penah mencintaiku dan selama ini dia hanya merasa bersalah padaku. Ottokhaeyo, Eomma? Aku benar-benar mencintainya." Gadis itu semakin terisak, dan suara pilu itu benar-benar mengiris hatiku.

"Aigoo.. uri sojungan aga. Napeun namja! Mana boleh dia menghancurkan hati putriku yang berharga? Aku bersumpah akan membuatnya membayar semua yang sudah dia lakukan padamu! Dengarkan aku, Aga.. serahkan masalah ini pada Appa-mu. Kita lihat, mereka bisa melakukan apa tanpa bantuan Appa-mu? Kesombongan mereka, hanya akan membuat mereka kehilangan segalanya dan jatuh kedasar jurang!"

Entah mengapa, jantungku berdebar kencang mendengar kata-kata yang dilontarkan Nyonya itu, seolah ancaman itu tertuju untukku. Konyol, memang! Hanya saja, kata-kata itu terdengar sangat menakutkan. Ani! Uang dan kekuasaan lah yang sebenarnya sangat menakutkan.

Beberapa menit kemudian, aku mendengar langkah kaki mereka keluar dari toilet. Aku merasa leluasa untuk keluar dari bilik itu. Lagi pula, aku sendiri tidak tahu untuk apa aku menahan diriku tetap berada disana? Hhh... setidaknya, pembicaraan mereka terdengar sangat pribadi hingga bila aku menampakan diriku disana, mereka mungkin akan merasa malu.

Usai mencuci tanganku dan merapihkan sedikit riasanku, aku berjalan menuju ruangan kami sebelumnya. Namun langkahku kembali terhenti saat aku mendapati Yonghwa Appa sedang berdiri di hadapan sebuah pintu bersama seorang lelaki diusianya, juga dua orang perempuan yang bila kuduga, yang satu adalah istrinya dan satu lagi.. gadis yang tertunduk itu sepertinya adalah putrinya. Tapi yang membuatku terdiam adalah, saat aku mendengar kata-kata pedas yang pria itu katakan pada Appa. Aku menyembunyikan tubuhku dibalik dinding koridor.

"Aku masih tidak percaya bahwa kau lebih memilih untuk menyerahkan singgasanamu, Jung Sajangnim! Aigoo... aku benar-benar tidak percaya semua ini!" Lelaki itu tertawa sinis.

"Joseohamnida, Kim Sajangnim. Dalam hal ini, saya tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak ada yang lebih penting dalam hidup saya selain kebahagiaan Yonghwa. Anak itu sudah terlalu banyak kehilangan. Dan saya tidak akan pernah merenggut apapun lagi dari hidupnya."

Dug!!! Jantungku kembali melompat. Yonghwa? Ada apa dengannya?

"Geurae! Itu semua karena kau terlalu memanjakannya seperti ini. Setelah ulah anak itu yang telah membunuh kakak kandungnya sendiri, sekarang kau membiarkannya menghancurakan perusahaanmu, juga?!"

Hatiku sakit mendengarnya. Bagaimana bisa dia dengan lantang mengatakan kata-kata mengerikan seperti itu? Yonghwa-ku bukan seorang pembunuh, dan mwo?! Apa maksudnya dengan menghancurkan perusahaan Appa?

"Saya mengerti apa yang anda rasakan, Kim Sajangnim. Tapi dalam hal ini, Yonghwa tidak bersalah. Putraku bukan seorang pembunuh! Bagi saya, dia hanyalah anak yang telah saya besarkan dengan tangan saya sendiri. Kesalahan yang dia lakukan dimasa lalu, harusnya menjadi kesalahan saya sebagai Appa-nya. Dan untuk perusahaan ini, saya sudah merasa cukup dengan apa yang anak itu lakukan. Saya tidak bisa menuntut lebih banyak darinya. Apalagi memintanya untuk mengorbankan kebahagiaannya." Appa, seorang Presiden Direktur hotel mewah ini, kenapa harus menunduk seperti itu dihadapan lelaki sombong itu?

"Mwo ragoyo? Jadi maksudmu, kau lebih rela kehilangan kontrak kerja sama kita dibandingkan dengan memintanya meninggalkan gadis yang tak jelas asal usul nya itu?!"

Kali ini, bukan hanya debar jantungku yang menggila, tapi juga seluruh tulang kakiku mulai terasa lemas dan bergetar. Gadis yang tak jelas asal usulnya? Aku? Apakah itu aku? Dan kontrak kerjasama itu...

"Joseohamnida, Kim Sajang. Saat ini, tidak ada yang lebih penting dalam hidup saya selain kebahagian keluarga saya. Bila karena ini anda menarik kembali semua investasi anda di perusahaan kami, maka saya tidak bisa berbuat apa-apa." Appa masih tetap menunduk dengan kerendahan hatinya.

"Heol!! Bagaimana mungkin kau bisa berfikir begitu naif, Jung Sajang?! Huh? Kau sadar, apa saja yang akan hilang darimu? Selain uang, kau bisa kehilangan jabatanmu! Jangan lupa, bahwa aku memegang kunci penentu untuk itu. Kau bisa kehilangan posisimu dalam rapat pemegang saham selanjutnya. Jatuh bangun leluhurmu membangun perusahaan ini, lalu kau hanya merelakannya begitu saja? Bila putramu memutuskan pertunangannya dengan putriku, maka aku tidak punya alasan apapun lagi untuk terus mendukungmu!"

Dugg!! Sekali lagi jantungku melompat hebat. Mwo? Pertunangan? Yeokshi.... pria tua itu adalah.... ayahnya Kim Hyunna?

Tuhanku.... Jigeum ottokhae? Bila Yonghwa tetap memilihku, maka itu artinya... Appa akan kehilangan Hotel yang sudah dimiliki keluarga nya sejak dulu?

Tubuhku seketika terasa lemas dan terhempas ke dinding koridor. Demi Tuhan, aku menahan diri untuk tidak ambruk disana.

"Saya menghormati apapun keputusan anda, Kim Sajang. Atas nama keluarga Jung, saya benar-benar minta maaf karena hubungan kita harus berakhir seperti ini. Tapi kebahagiaan anak kita tidak akan pernah bisa dinilai dengan segala yang kita miliki di atas muka bumi ini. Saya harap, keluarga anda menghormati keputusan anak kami Yonghwa. Begitupun kami. Kami berharap Hyunna akan mendapatkan pria yang lebih baik dari anak kami."

"Geurom! Aku tidak akan pernah mengemis padamu ataupun anak bodoh itu. Putriku juga sangat berharga untukku! Kau fikir, dengan bersikap seperti ini, kau akan hidup lebih tenang? Kita lihat saja, sampai mana kesombonganmu bisa kau pertahankan! Aku juga tidak sudi membiarkan putri tunggalku menikah dengan anak sampah seperti putramu!"

"Andweyo... Appa! Jebbal, geumanhaeyo. Tolong jangan putuskan hubungan kami, Appa. Jebbalyo! Aku tidak akan bisa hidup tanpanya. Appa... aku benar-benar mencintai Yonghwa...."

Kali ini, aku melihat wajahnya dengan jelas. Perempuan itu tersedu sambil bersimpuh memegang tangan ayahnya. Tangisnya, suaranya, bukankah perempuan itu sama dengan perempuan tadi yang aku dengar di restroom. Melihat putrinya mengiba dengan tangisannya dilantai, Ny. Kim segera merengkuh tubuh putrinya.

"Jangan begini, Aga! Aku mohon bangunlah! Kau tidak pantas mengiba seperti ini hanya demi lelaki tidak berguna itu." Sang Eomma tampak sibuk mengangkat tubuh anaknya yang berjelaga dilantai koridor.

"Maldo andwe! Meski nanti Jung Yonghwa datang padaku sambil menangis darah, aku tidak akan pernah membiarkan dia memilikimu! Palli irona!! Jangan merendahkan dirimu seperti itu! Kau pantas mendapat yang lebih baik darinya!" Tuan Kim tampak semakin murka. Begitu juga istrinya. Dan Kim Hyunna, gadis itu semakin tersedu dilantai. Lalu kudengar suara seseorang membuka pintu.

"Yonghwa ah, kenapa kau tidak menunggu bersama ibumu didalam?" Appa terlihat kaget melihat kemunculan putranya yang tiba-tiba. Tapi kemudian, pemandangan yang lebih menyayat hati harus kembali kulihat. Lelaki itu... Yonghwa-ku.... dia bersimpuh diatas kedua lututnya sambil menundukan wajahnya.

"Joseohamnida. Jaega jjalmothaeseupnida. Saya pantas mendapatkan hukuman apapun untuk kesalahan yang saya lakukan, tapi... saya minta maaf... saya tidak bisa melanjutkan pertunangan ini dengan Hyunna."

Dan tanpa diduga, tiba-tiba istri Tn. Kim meradang. Dengan membabi buta, perempuan paruh baya itu menyerang Yonghwa dengan pukulan-pukulannya diiringi dengan umpatan kasar. Hyunna semakin histeris sambil mencoba menghentikan Eommanya. Kemudian Yonghwa Eomma berlari dari dalam ruangan dan segera menjadikan tubuhnya sebagai perisai yang menghalangi tubuh putranya dari pukulan-pukulan itu. Keributan itu segera terhenti setelah kedatangan 2 orang keamanan hotel yang menahan Ny. Kim dari amukannya.

Dari jauh, aku hanya bisa tersedu sambil menutup mulutku rapat-rapat agar isakanku tak terdengar oleh mereka. Tuhan.... kumohon tolong aku! Kenapa semua jadi seperti ini? Tapi tubuh ini sepertinya tidak mau bekerja sama dengan usahaku. Kakiku tidak cukup kuat untuk menahan guncangan yang baru saja aku terima hingga akhirnya aku ambruk dan tubuhku terhempas kelantai. Sesaat, aku tidak mendengar apapun dan penglihatanku seluruhnya menjadi gelap. Aku hanya merasakan seseorang mengangkat tubuhku lalu mendekapku.

Ya, untuk beberapa saat.. aku tidak merasakan apapun. Namun akhirnya, aku mulai mendengar sebuah suara.

"Joohyun ah! Seo Joohyun, buka matamu... jebbal..." Suaranya terdengar bergetar. Perlahan, aku membuka kedua mataku. Samar-samar aku melihat wajahnya. Panik, takut, lelah.

"Oppa...." Aku berusaha mengatakan sesuatu, tapi lidahku rasanya amat kelu.

"Ooh... thank God! Joohyun ah, kau bisa mendengarku?" Sekali lagi aku mendengar Yonghwa memanggil namaku dengan suara gemetar. Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan anggukkan.

"God... you scared me like hell, Baby! God...." Kurasakan tubuhku semakin erat mendekapku. Suaranya lirih menahan tangis. Appa dan Eomma juga ada disampingnya menatapku dengan tatapan cemas. Eomma bahkan tampak menyeka air matanya. Baru aku sadari, bahwa aku masih berada diatas lantai koridor tempat aku terjatuh tadi. Dari yang aku perkirakan, aku hanya kehilangan kesadaran hanya untuk beberapa waktu saja.

"Gwaenchana, Joohyun ah? Apa perlu kita ke rumah sakit?" Appa bertanya dengan suara cemas.

"Gwaenchannayo, Abonim. Saya hanya tiba-tiba merasa pusing dan hilang keseimbangan. Jeoseonghaeyo, kalian semua pasti cemas." Eomma tampak menghembuskan nafas lega usai mendengar jawabanku.

"Ooh.. ddaengida, Uri Ddal! Eomma benar-benar takut. Aigoo..." Eomma memijat-mijat kakiku sambil terus mengucap syukur. Lalu tiba-tiba...

"Hooo... rupanya kalian sedang mengadakan makan malam dengan perempuan tidak tahu malu ini, ya? Heuh.. aku fikir perempuan seperti apa yang sudah membuat Jung Yonghwa mencampakan putriku hingga ayahnya rela kehilangan perusahaan tercintanya. Ternyata.... bukan hanya seorang yang sangat biasa, tapi juga jauh di bawah standar putriku. Bahkan tubuhnya begitu lemah seperti ini. Ckckck..." Ny. Kim berdiri diujung kakiku dengan kedua tangan yang dia lingkarkan didadanya. Dia menatapku dengan wajah angkuhnya. Tanpa kuduga, Eomma tiba-tiba berdiri dan menghadapkan tubuhnya pada Ny. Kim.

"Waeyo? Memang benar, Seo Joohyun hanyalah seorang gadis biasa yang sangat jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan putri anda. Kim Hyunna memang gadis yang cantik, cerdas, terpelajar, dan dari keluarga terpandang. Anak ini hanya anak yang tinggal sebatang kara dan berjuang sendiri untuk hidupnya. Jadi saya harap, anda tidak perlu merendahkan keluarga anda dengan membanding-bandingkan putri anda yang sempurna itu dengan gadis sederhana ini. Saya harap, Hyunna akan mendapatkan lelaki yang lebih pantas baginya. Karena putra kami, ottokhaeyo.. dia hanya bisa bahagia dengan gadis sederhana ini." Raut wajah sinis sekaligus kesal semakin tampak diwajah Ny. Kim dan juga suaminya. Sementara Hyunna, dia hanya sibuk menyeka air matanya.

"Araso! Kebahagiaan kau bilang? Kita lihat saja, apa kalian masih bisa berbicara tentang kebahagiaan setelah hotel ini terampas dari keluarga kalian?" Sekali lagi Ny. Kim menunjukan cakarnya.

"Kita lihat saja nanti. Saya percaya, didunia ini masih ada orang-orang yang hidup demi loyalitas dan nama baik dan tidak tergiur dengan jabatan atau uang. Terlebih bila semua itu diupayakan dengan kecurangan dan menjebak suamiku yang tidak bersalah. Tapi bila kami tetap harus kehilangan segalanya, kami akan tetap menjadi orang-orang yang bahagia. Karena kami sudah pernah mengalami yang jauh lebih buruk dari ini dan membuat kami mengerti arti kebahagiaan yang sebenarnya."

Satu hal yang akhirnya aku ketahui. Ternyata, kemelut yang menimpa Appa tidak lain adalah jebakan yang dilakukan Tn. Kim. Setelah putrinya mengadu padanya perihal Yonghwa yang tiba-tiba memutuskan pernikahan mereka, Tn. Kim sengaja memasang perangkap tentang saham dan cassino gelap itu. Tujuannya adalah, untuk menempatkan Appa didalam posisi ini, sehingga Appa dan Yonghwa tidak memiliki pilihan lain selain meneruskan pertuangan itu demi memulihkan citra keluarga dan perusahaannya. Tanpa diduga, Appa justru menolaknya dan menempatkan kebahagiaan Yonghwa diatas segalanya.

*****

Suasana kembali mereda, usai Tn. Kim dan keluarganya mengangkat kaki dari hadapan kami. Kami segera pulang ke kediaman keluarga Jung, dan aku dipaksa untuk istirahat sesampainya disana, setelah seorang dokter memeriksa keadaanku. Kini, hanya aku sendiri didalam kamar yang luas ini.

Betapapun aku mencoba untuk memejamkan mataku, aku tidak bisa. Kejadian di hotel tadi terus berputar-putar didalam kepalaku. Tentang apa yang dikatakan Tn. Kim, tentang Hyunna yang begitu menderita karena harus kehilangan pria yang dicintainya, tentang bagaimana Yonghwa-ku diperlakukan dan dikata-katai dengan begitu buruk, juga tentang Venus Hotel yang terancam terenggut dari tangan Appa. Semua bencana itu.... terjadi karena aku!

Berdiam diri dikamar dalam keadaan seperti ini tampaknya bukan ide yang bagus. Selain hanya akan menambah sakit kepalaku, semua itu menyiksa batinku. Karenanya, kuputuskan untuk keluar dan berjalan disekitar taman. Aku hanya ingin menenangkan diriku.

Malam ini tidak turun salju, meski cuaca tetap saja dingin. Aku berdiri di dalam sebuah gazebo kecil yang terletak di taman belakang. Tidak banyak yang bisa aku lihat, sebetulnya. Hanya temaram lampu taman, dan sinar bulan membulat dilangit Busan. Sejuta fikir tetap tak mau enyah.

"Eomma... Eomma bisa melihatku?" Sambil memandang cahaya bulan, aku bergumam sendiri, berharap Eomma-ku jauh disana bisa mendengar dan melihatku.

"Jigeum ottokhae, Eomma? Uri Yonghwa ottokhae? Bagaimana bisa kehadiranku dalam hidupnya hanya menyebabkan bencana ini?" Huffhh... rasanya sesak didadaku sudah hampir menarik air mataku kembali.

"Aku... aku sangat mencintainya, Eomma. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku baru merasakan kebahagiaan seperti ini. Dialah yang menjadi alasanku sekarang, Eomma. Demi dia, demi agar dia tidak pernah merasa sedih, demi untuk bisa terus melihatnya dan hidup bersamanya lebih lama, aku akan melakukan apapun. Aku akan sembuh dan hidup lebih lama.

Tapi, Eomma... hari ini aku tahu bahwa bersamaku pun Yonghwa-ku akan banyak mendapatkan rasa sakit. Bukan hanya dia, tapi juga orang-orang yang dia cintai.

Ottokhae, Eomma? Aku harus bagaimana? Bila saja aku bisa lenyap dan menghilang dari hidupnya begitu saja, maka aku akan melakukannya. Aku hanya berharap semua ini akan kembali seperti semula. Yonghwa tidak perlu lagi menanggung beban berat itu dan memilih antara aku atau perusahaan keluarganya. Aku harap aku bisa hilang dari hidupnya.

Tapi... apakah Yonghwa-ku akan baik-baik saja? Atau malah... aku akan membuatnya menangis lagi? Akankah waktu menyembuhkannya dengan cepat?"

"Jangan pernah berfikir untuk pergi atau menghilang dari hidupku, Seo Joohyun!"

Aku terhenyak luar biasa. Tiba-tiba kulihat Yonghwa sudah berdiri di belakangku dengan kedua tangan yang dia masukan kedalam saku mantelnya. Lelaki itu menatapku tajam. Tanpa sedikitpun senyuman. Perlahan, langkah demi langkah, Yonghwa berjalan mendekatiku hingga dia berdiri tepat dihadapanku.

"Semua tidak akan pernah kembali ke posisi semula. Aku, kau, tidak ada satupun diantara kita yang akan bahagia. Aku akan menangis, sakit hingga menjadi gila. Bahkan mungkin aku bisa mati." Kudapati kedua bening matanya mulai berkaca-kaca. Dan dia masih menatapku begitu tajam.

"Bila kau benar-benar pergi dari hidupku, aku..." Lelaki itu tertunduk dan menelan ludahnya lalu beberapa untuk saat memalingkan wajah merahnya dariku. Tuhan... wajah ini adalah wajah yang kulihat saat dia pertama kali dia bercerita tentang Hyung-nya.

"Oppa..."

"Jangan pernah mengatakan omong kosong seperti itu lagi, Joohyun ah!" Yonghwa kembali menatapku tajam dan kali ini intonasi suaranya terdengar lebih tegas. Seperti sebuah ancaman.

"Jangan pernah mengatakan atau bahkah berfikir untuk pergi dariku. Meski sakit, meski sulit, bertahanlah! Setidaknya bila kau tidak bisa menolongku maka pegang saja tanganku dan percayalah padaku. Karena lelaki dihadapanmu ini, meski mungkin terlihat lemah dan tidak berguna, setidaknya aku tidak akan menyerah. Karena selain untuk bisa bersamamu, aku juga ingin bisa sekali saja melakukan sesuatu untuk orang tuaku. Aku hanya membutuhkanmu untuk selalu berdiri disampingku. Kumohon, Joohyun ah... percayalah padaku saat ini. Semangati aku. Doakan aku.

Dan tetaplah disisiku..."

Kalimat terakhirnya terdengar samar ditengah usahanya menahan kepedihan. Aku tahu, Namja-ku sangat ketakutan saat ini. Apa yang terjadi pada keluarganya, dan kata-kata yang aku katakan tadi.... Tuhan, dia pasti sangat ketakutan. Bergegas, aku memeluk tubuhnya dihadapanku. Aku mendekapnya erat dengan rasa penyesalanku.

"Mianhae, Oppa. Jeongmal mianhae. Naega jjalmothaeseo. Aku pasti sudah gila hingga aku mengatakan hal yang tidak-tidak. Mianhae.. " Aku masih mendekapnya erat. Hingga kurasakan tangannya mulai melingkar ditubuhku dan membalas pelukku. Semakin erat dan semakin erat hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya di leherku.

"Nan jinjja busowo, Hyun. Kau membuatku takut. Saat aku tidak menemukanmu dikamarmu, aku benar-benar takut. Demi Tuhan, aku takut jika kau benar-benar pergi meninggalkanku." Suaranya terdengar parau.

"Mianhae, Oppa. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih." Aku melepaskan pelukanku dan kudapati kedua mata merahnya menatap sendu. Dengan lembut, aku meraih kedua tangannya lalu kukunci dalam genggamanku.

"Aku percaya padamu, Jung Yonghwa! Meski sakit, meski sulit, aku berjanji.. bahwa aku akan selalu memegang tanganmu seperti ini. Geurigo... Himnae ah!"

Kedua mata kami terikat seolah tak ingin saling melepaskan.

"Saranghae, Joohyun ah! Neomu saranghae!" Lirih, kalimat itu mengalun membuai jiwaku.

"Saranghae, Jung Yonghwa! Neomu saranghae!"

Kurasakan tangannya dengan lembut merengkuh sisi telingaku dan satu tangan lagi mengangkat daguku. Sepertinya aku tahu, bagaimana adegan ini akan berakhir. Against all reason, we were kissing. I closed my eyes, and the world around me faded.

Another kiss. Another shape of love. Another language to show how deep this feeling for him. Another way to let him now that i wanted him, the way he wanted me. Another message about how important he is in my life. And we were kissing like drowning people breathe. Like suddenly we’d discovered something that has never been so sweet before that moment. By that kiss, i vow an endless bliss.

And damn! I was forgot how to stop!

*****

"Tn. Muda... anda harus segera ke rumah sakit sekarang." Kapala pelayan dirumah itu tiba-tiba memecah heningnya malam.

"Mwo? Moseumniriseyo?" Aku dan Yonghwa benar-benar dibuatnya terkejut.

"Kim Hyunna Agassi, beliau melakukan percobaan bunuh diri dan saat ini sedang menjalani operasi."

"My Baby You"
Marc Anthony

As i look into your eyes
I see all the reasons why
My life's worth a thousand skies
You're the simplest love i've known
And the purest one i'll own
Know you'll never be alone


My baby you
Are the reason i could fly
And 'cause of you
I don't have to wonder why
Baby you
There's no more just getting by
You're the reason i feel so alive

 
Though these words i say are true
They still fail to capture you
As mere words can only do
How do i explain that smile
And how it turns my world around
Keeping my feet on the ground

I will soothe you if you fall
I'll be right there if you call
You're my greatest love of all


 Author Note :
Sorry for the very late update... ( kebiasaan... :P )
I hope you enjoy the chapter. Ah... ga brasa.. tinggal beberapa chapter lagi menuju ending...
Thank you for always support me and reading my lame stories. Sangat2 terbuka buat saran, kritik dan apapun yang bikin saya bisa memperbaiki kualitas dan konten tulisan saya. ^_^