In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 24
Cinderella And Her Prince
Laut. Aku selalu suka aromanya.
Juga warna pantulan langit yang sesekali memudar tergulung ombak. Suara deru,
debur, membaur bersama angin. Hhhmm... aku benar-benar suka tempat ini. Kota
tempatnya tumbuh menjadi lelaki paling
menakjubkan. Bahkan musim dingin ini tidak sedikitpun mengekang asaku untuk
berjalan menapaki pasir-pasir membeku ini. Mengukir jejak-jejak baru dalam
sejarah hidupku.
"Hyun....! Seo
Joohyun!!"
Lelaki itu. Ada apa dengan
suaranya? Haruskah dia memanggilku sekeras itu? Aku menolehkan tubuhku dan
mendapatinya sedang berlari terengah-engah. Igae mwo yah? Apa yang sebenarnya
terjadi?
Deru nafasnya tersengal-sengal.
Bagaimana bisa dia berkeringat di musim dingin seperti ini? Wajahnya merah dan
kalut.
"Oppa... moseumniri ah?
Kenapa kau berlari tergesa-gesa seperti itu?" Sejujurnya, dia membuatku
panik. Yonghwa tidak langsung menjawabnya. Dia benar-benar kelelahan hingga
kesulitan mengatur ritme nafasnya. Kedua tangannya bahkan sibuk menopang
lututnya.
"Seo Joohyun... hhh...
neol... hhh.. jinjja!!" Masih terengah-engah, Yonghwa menunjukan tangannya
kearahku, dengan wajah kusut.
"Wae? Naega wae?" Demi
Tuhan, aku masih belum mengerti. Lelaki itu masih sibuk mengatur nafasnya.
Setelah lelahnya mereda dan dia mulai terlihat tenang, Yonghwa baru mengluarkan
suaranya kembali.
"Yak!! Seo Joohyun, aku
mencarimu hampir gila, kau tahu? Kenapa kau pergi sendiri? Dan ini... Oh God...
Taeyeon Noona akan benar-benar membunuhku." Aku semakin tidak mengerti. Kini lelaki itu melepas mantelnya,
lalu dia gunakan untuk membalut tubuhku yang sebenarnya sudah memakai coat
cukup tebal.
"Mwo ya? Oppa.. kau bisa
kedinginan. Aku kan sudah pakai mantelku sendiri. Kau pakai saja ini..."
Aku bermaksud untuk memberikan lagi mantelnya, tapi tangannya menghentikanku.
"Pakai itu, atau kau dalam
masalah! Aisshh!! Kau benar-benar harus dihukum, Agassi.. karena membuatku
gila! Haissh... Phabo Agassi!" Yonghwa malah membuat mantelnya membalut
tubuhku lebih rapat.
"Mwo rago? Phabo agassi?
Nugu ah? Naega?" Aku benar-benar ingin meremas mulutnya. Phabo? Enak saja
dia bilang! Tapi Yonghwa malah merangkulku erat lalu menyeret langkahku yang
entah akan dibawa kemana.
"Yak!! Jung Yonghwa Ssi...
sebenarnya kau kenapa sih? Kau mau membawaku kemana?" Jangan salahkan aku,
tingkahnya lah yang membuatku sedikit sengit.
"Kau fikir, kemana lagi aku
akan membawamu? Tentu saja kita akan mencari sebuah hotel yang nyaman hingga
kita punya ruang private yang hanya ada kita berdua saja tanpa terganggu oleh
siapapun!"
"MWO?!!!"
Gila!! Jung Yonghwa sudah gila!
"Wae?? Kau tidak dengar apa
yang semalam diminta Appa-ku? Jjagie ah, mereka ingin kita segera memberi
mereka cucu!"
"MWO???!!! Neol Mitjoseo?!!
Kau ingin nasibmu sama seperti Lee Jonghyun sahabatmu, huh?!" Entah
seperti apa ekspresi wajahku, yang pasti, aku merasa seperti bola mataku akan
keluar dari kelopaknya.
"Whoaa... Seo Joohyun Ssi!
Siapa yang sudah mengajarimu semua itu? Aigoo!!" Kami berdua menghentikan
langkah kami. Lebih tepatnya, aku yang menghentikannya hingga Yonghwa tak punya
pilihan lain selain ikut berhenti.
"Oppa.. geumanhae. Jawab aku
dengan serius! Sebenarnya kau akan mengajakku kemana? Kenapa kita harus tergesa
seperti ini?" Kulihat Yonghwa menghembuskan nafas dan diakhiri dengan
senyum yang teduh.
"Aigoo... jinjja Seo
Joohyun!" Yonghwa menggeleng-gelengkan kepala diringi tawa kecilnya. Kedua
tangannya merengkuh bahuku dan dia menatapku teduh sekali lagi.
"We're gonna go to Venus
Hotel, Angel. Eomma dan Appa sudah menunggu kita untuk makan malam."
Jawabnya tenang.
"Mwo? Makan malam? Hanya
itu?" Aku bertanya sambil kutatap matanya.
Untuk sebuah ajakan makan malam,
aku rasa reaksi Jung Yonghwa agak berlebihan. Berteriak memanggil namaku,
berlari hingga terengah dan berkeringat, lalu menyeretku seperti seorang Tim SAR
yang sedang melakukan misi penyelamatan.
"Oh. Geunyang. Wae? Apa kau
berharap sesuatu yang lebih dari hanya makan malam? Kalau tentang itu, don't
worry, Baby... dengan senang hati aku akan memesan penthouse terbaik kami untuk
kita nanti malam." Jawabnya, dengan senyum nakal yang menjengkelkan.
"Yakkk!! Kau benar-benar
tidak sayang pada kakimu yah?!!!"
Aku benar-benar gila dibuatnya,
hingga aku tidak sadar sudah menunjukkan sisi seperti itu dalam diriku. Tapi
Yonghwa benar-benar keterlaluan. Dia membuatku sangat gugup. Dan kini lelaki
itu justru semakin terbahak.
"Mian.. mian..! Aigoo...
jangan salahkan aku, Agassi. Wajah
gugupmu itu benar-benar lucu, dan aku tidak tahan untuk tidak menggodamu. Mian,
Nae Hyun..." Yonghwa mencubit hidungku.
"Heol... chamm!! Jung
Yonghwa Ssi, apa kau memang terlatih untuk menjadi seperti ini?" Yonghwa
mengerutkan keningnya sambil menatapku.
"Mwo ya? Orang seperti ini
bagaimana?" Sekali lagi dia memasang wajah polos. Aku menghembuskan
nafasku, lalu kutatap lekat kedua matanya.
"Orang yang selalu membuat
jantungku berdebar kencang, nafasku tertahan dan aliran darahku memacu setiap
kali kau datang kepadaku?" Lembut, kujawab setengah berbisik.
Sesaat, lelaki itu terdiam. Dia
hanya menatapku lebih dalam dengan tatapan yang tak mampu kuartikan. Hanya satu
yang dapat kutangkap darinya. Cinta. Mata itu, mengatakan segalanya. Tentang
cinta yang sering kali aku dengar dari mulutnya. Hhh... apakah dia melihat dan
merasakan hal serupa saat dia menatap mataku?
Lalu aku merasakan tangannya yang
dingin merengkuh pipiku. Lembut, dia mengusapnya.
"Ani ah! Aku tidak pernah
seperti ini sebelumnya. Aku tidak pernah melihat seseorang seperti aku
melihatmu. Aku tidak pernah segila ini mencari keberadaan seseorang seperti
setiap kali aku mencarimu. Aku tidak pernah merasa tersiksa seperti ini seperti
saat aku merindukanmu. Aku tidak pernah sejatuh ini sebelumnya, sebelum aku
bertemu denganmu lalu jatuh cinta padamu." Dan jantungku berdebar semakin
kencang, seiring tatapnya yang kian dalam menusuk hatiku.
"Kau... satu-satunya yang
membuatku menjadi 'seorang yang seperti ini', Seo Joohyun."
Debur ombak, gemuruh angin,
kicauan burung camar... Aku tidak mendengarnya lagi. Dunia seketika terasa
senyap. Lagi-lagi aku tersesat. Terperangkap dalam tatap matanya dan aku tak
ingin terlepas.
Lalu jarak antara kami perlahan
hilang inci demi inci. Aku tak peduli apapun lagi, yang aku inginkan saat ini
hanyalah memejamkan kedua mataku, kemudian membiarkan jiwa dan rasaku menikmati
sentuhan bibirnya yang tanpa dia ketahui, sentuhan itu mulai menjadi candu
untukku.
I loved it. I loved how it tasted
and the way he pressed his lips so gently and seizes mine. I loved how it felt,
when he tried to open my lips and showed me how he wanted me that bad. Consuming
me. Devoting me. I loved him for makes me feel these pleasures like i was in
the closest place to heaven. I never expected that finally i could kiss a man i
can't breathe without and found that breath was of little consequence.
"Saranghae, Hyun..." Bisiknya
lembut.
"Saranghae, Oppa..."
Lalu bibirnya kembali menguasaiku.
*****
Dia mengantarku ketempat ini,
lalu pergi dan mengatakan padaku bahwa dia akan menjemputku satu jam lagi saat
aku selesai dengan make up ku. Yes, dia membawaku ke sebuah beauty house yang
akan memperbaiki penampilanku dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Benarkan, kataku? Jung Yonghwa
terlalu berlebihan dalam hal ini.
Dua orang Eonnie selesai dengan
make up ku. Whooaaa... who's that girl in the mirror? Aku bahkan terkejut melihat
perubahan diwajahku. Aku tak menyangka, sentuhan tipis eye shadow berwarna
hazzle grey, dan eye liner sedikit tebal menyudut di bagian atas kelopak
mataku, benar-benar membuat kedua mataku terlihat lebih tegas, dan... hhh...
aku malu mengatakannya, tapi... Tsk.. harus aku akui, aku terlihat cantik. Soft
pink blush on, dan lipstick berwarna senada, seolah memberi effect sihir yang
lainnya. Benarkah gadis yang sedang kulihat itu adalah Seo Joohyun yang
kukenal?
"Nona, kami akan menata
rambut anda." Dua orang Eonnie yang berbeda memasuki ruangan tempat aku
duduk.
"Ohh.. nde.
Algaeseoyo." Aku tersenyum, dan mempersilahkan mereka menyentuh rambutku.
"Ah.. Eonnie,
jeoseohamnida..."
"Nde, Agassi.
Moseumniriseyo?"
"Hmm... apa.. kau bisa
membuatnya tetap tergerai?"
"Maksud Nona, rambut
anda?"
"Nde. Seseorang sangat suka
melihat rambutku tergerai."
Ya, Yonghwa-ku menyukainya.
Kemudian, Eonnie itu tersenyum dan mengganggukan kepalanya.
Beberapa menit kemudian...
tadaa.... aku benar-benar terpukau dengan apa yang aku lihat dicermin.
Shoulderless black gown menjuntai menutupi kaki panjangku. Ornamen sutra
berwarna soft dusty dengan aksen kristal dan balck pearl melingkar dari pinggul
hingga ke bagian dadaku. Dan oughh... ottokhae? Haruskah aku memakainya? Tsk..
Jung Yonghwa! Kenapa lelaki itu memilihkan gaun yang seperti ini untukku hingga
dadaku begitu terbuka? Ough... jinjja!!! Untung saja aku meminta hair stylist
tadi untuk menggeraikan rambutku, hingga pundak dan punggungku sedikit
tertutupi olehnya.
But over all... dengan
mengesampingkan rasa rendah diriku, aku akui, aku puas dengan penampilanku.
"Nona, Tas anda dan juga
sepatu anda..." Seseorang masuk memberiku sebuah purse cantik berwarna
soft dusty, dan sepasang high heels hitam beraksen black swarovski yang memukau
mataku. Tuhan, sebenarnya makan malam seperti apa yang akan aku hadiri nanti
hingga Yonghwa menyiapkan semua hal
yang gemerlap ini untukku?
"Supir anda juga sudah
menunggu di lobi, Nona. Bila anda sudah siap, silahkan menghubungi kami. Oh
iya, jangan lupa dengan coat anda, Nona. Tuan Yonghwa baru saja menelepon kami
untuk mengingatkan anda lagi." Aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum,
kemudian Eonnie tadi pun berlalu.
Aku menatap wajahku di cermin
sekali lagi. Hhhh.... mungkin ini yang terjadi pada Cinderella. Betapa ajaibnya
uang merubah kehidupan seseorang dalam sekejap. Gadis dalam cermin itu... tetap
saja seorang Seo Joohyun. Tidak akan pernah berubah meski bagaimana pun kain
pembungkus dan topeng ini membuatku tampak berbeda. Setidaknya, malam ini aku
akan membuat laki-laki itu merasa bangga dan bahagia, meski usai tengah malam
nanti, semua kemilau ini akan kembali lenyap dari hidupku.
*****
Seorang sopir yang Yonghwa
tugaskan untuk menjemputku, membawaku
dengan sebuah Mercedess Benz yang aku tidak tahu jenis dan seri apa, mengingat
dalam duniaku benda seperti ini tidak pernah akan nyata. Tidak butuh waktu
lama, kami tiba di lobi hotel bintang lima dengan kemewahan yang baru pertama
kali aku lihat sepanjang hidupku. Venus Hotel.
Sopir tadi turun terlebih dahulu,
kemudian berjalan memutar dan bermaksud untuk membukakan pintu mobil itu
untukku. Tapi kemudian seseorang menahannya. Orang yang sangat aku kenal. Jung
Yonghwa, dengan suit hitam dan rambut yang tertata rapi, aku nyaris tak
mengenalinya. Dan lelaki itupun membukakan pintu mobilnya untukku. Phabo!
Kenapa dia tidak berdiri saja dan membiarkan sopirnya yang melakukan semua itu?
"Hi, Angel..." Yonghwa
membungkukan tubuhnya dan tersenyum hangat menyapaku.
"Daengidaa... Oppa
menungguku di luar. Huuhffh... aku benar-benar gugup karena khawatir kalau aku
akan bersikap kampungan saat mencarimu. Gomawo... you saved me, Handsome!"
Aku pun memberi senyum serupa. Yonghwa lalu menjulurkan tangannya, memintaku
untuk meraihnya seperti adegan dalam dongeng saat seorang pangeran membantu
sang putri menuruni kereta kudanya. Dan aku melakukannya. Malam ini, akan aku
beri judul dalam ceritaku.. 'Cinderella and her handsome Prince.'
Dengan hati-hati, aku keluar dari
mobilnya. Kemudian aku menemukan tatapan itu. Tatapan seperti laser pemindai
yang menelusuri tubuhku dari atas hingga bawah. Tubuhnya mematung, dan
mulutnya... Ya Tuhan.. tak sadarkah dia? Beruntung di lingkungan hotel mewah
ini tidak ada serangga beterbangan. Karena kalau ada, salah satu dari mereka
bisa saja masuk kedalam mulutnya.
"Mwo ya, Oppa? Wae geurae?
Apa yang salah denganku? Apa... aku terlihat buruk dengan gaun ini?" Aku
masih mengenakan coat bulu berwarna hitam sebenarnya, hingga aku fikir,
penampilanku masih terlihat aman tanpa memperlihatkan pundak dan bagian dadaku.
Tapi caranya menatapku, membuat percaya diriku semakin menghilang.
"A.. ani ah, Hyun.. kau...
kau benar-benar luar biasa. You're so dazzlingly beautiful and i... i can't
describe it with words." Sebuah senyum teduh merekah diwajahnya. Yonghwa
masih menatapku dan perlahan mendekat kearahku. Tangan kanannya meraih
pinggangku secara tiba-tiba dan menarik tubuhku hingga merapat ketubuhnya.
Tentu saja aku terhenyak dan seketika merasa sulit bernafas. Dengan lembut,
lelaki itu berbisik ditelingaku.
"I think i'm the luckiest
man in the world tonight, Baby!" Yonghwa kembali melepaskanku sambil terus
menatapku dalam senyumnya. Lalu dia meletakan satu tangannya dipinggangnya dan
berisyarat padaku untuk mengaitkan tanganku disana.
"Kajja, My Angel. Eomma dan
Appa sudah tak sabar ingin bertemu calon menantunya." Sekali lagi lelaki
itu tersenyum membuai jiwaku. Mwo? Apa dia bilang? Calon menantu? Jebbal...
bukankah semua ini terlalu pagi menyebutku seperti itu?
"Oppa... jamkaman..."
Entah kenapa, tiba-tiba sekelebat ragu menahan langkahku.
"Yes, Baby?" Yonghwa
kembali menatapku lembut.
"Aku... sejujurnya aku belum
pernah menghadiri jamuan formil seperti ini. Didalam hotel mewah, dengan gaun
dan make up seperti ini, terlebih lagi... ada orang tuamu disana. Aku takut,
Oppa." Yonghwa tampak menghela nafas panjang sebelum akhirnya senyum itu
merekah lagi diwajahnya.
"Don't worry, Angel. Aku
tidak akan meninggalkanmu sendiri. Dan bersikaplah sebagai dirimu sendiri tanpa
harus merasa tertekan oleh siapapun. Kita akan makan di ruang tertutup, Sayang.
Hanya ada aku dan orang tuaku disana. Geok cheongma. You're so amazing and you don't have to be
another person since i and my parents are already falling for you as who you
are." Tatap itu benar-benar menyejukan. Dan seketika, resahku hilang.
Lalu kami pun berjalan melewati
lobi dan langsung manuju elevator. Yonghwa menekan tombol bernomor 76 disamping
pintu elevator itu. Eomma... jantungku nyaris melompat, saat kurasakan
kecepatan elevator ini membawa kami. Aku benci naik elevator seperti ini.
Seperti aku terkunci dalam kotak misteri yang bisa membawaku kedunia berbeda
saat pintunya terbuka nanti.
Ding!! Benda itu berhenti tepat
disaat lampu tombol bernomor 76 itu padam. Dan beberapa detik kemudian, pintu
itu terbuka.
Benarkan, apa yang kufikirkan?
Kotak misterius tadi benar-benar membawaku ke dunia lain yang belum pernah aku
datangi. Begitu pintunya terbuka, aku langsung melihat indahnya kerlip lampu
Busan dimalam hari, melalui jendela koridor. Permadani dihadapanku berwarna
maroon dengan aksen bintang-bintang berwarna emas. Di dindingnya tergantung
banyak lukisan aneka rupa yang aku yakin, semua itu berharga ratusan juta.
"This way, Angel.."
Kami berhenti dihadapan sebuah pintu dengan seorang pelayan berdiri
dihadapannya.
"Silakan, Tn. Jung. Ayah dan
Ibu anda sudah menunggu didalam." Sambut sang pelayan dengan ramah.
Kemudian, pria itu membukakan pintunya untuk kami.
"Omo... igae nugunji??
Aigoo, uri ddal... neomu yippoda..." Aku langsung menerima sambutan
sehangat itu dari seorang wanita cantik yang kala itu tampil begitu elegan
dengan simple gown berwarna wine. Yonghwa-ku, pasti memiliki mata yang indah
dari Eomma-nya.
"Jeoseohmnida, Emmonim, kami
datang terlambat. Oppa membawaku ke sebuah tempat yang aneh dan membuatku harus
mengenakan semua ini. Maaf, sudah membuat kalian menunggu."
"Gwaenchanna. Kami juga
belum lama tiba disini. Aigoo... kau benar-benar cantik, Joohyunie. Harus aku
akui, Uri Yonghwa memang punya standar yang tinggi dalam memilih gadisnya. Aku
benar-benar merasa puas." Eomma menggenggam tanganku dan mengusapnya
lembut.
Bila aku ditanya tentang apa
bagian terbaik dari pertemuanku dengan seorang Jung Yonghwa? Maka jawabanku
adalah... selain aku memiliki lelaki yang hebat seperti dirinya, aku juga
tiba-tiba memiliki seorang Ibu dan juga Ayah yang sudah lama aku rindukan.
"Kamsahamnida, Eommonim.
Eommonim do, jinjja neomu yipposeumnida." Aku benar-benar mengagumi
kecantikannya.
"Aigoo... geumanhae neol...
dul yeoja! Jangan lupa, bahwa disini ada dua orang namja dengan beban teramat
berat karena harus menjaga wanita-nya dari pandangan pria lain. Kecantikan
kalian, membuat kami harus terus bekerja lebih keras untuk bisa terus menjaga
kalian."
Appa membuka suaranya dari
tempatnya duduk. Senyuman pun merekah diwajahku dan Eomma. Yonghwa membantu
Eomma-nya duduk, lalu melakukan manner yang sama padaku. Sebelum itu, My shining
Prince membantuku melepaskan coat yang sejak tadi melindungiku dari cuaca musim
dingin. Dan sekali lagi, lelaki itu menatapku dengan laser dikedua matanya.
Entah apa yang dia fikirkan. Itu adalah pertama kalinya Yonghwa-ku melihatku
dengan pakaian seterbuka ini.
"Nah.. nah.. nah! Benar kan,
apa yang aku katakan? Kecantikanmu membuat putraku terlihat bodoh!" Eomma
berceloteh dari tempatnya duduk.
"Mwo? Siapa yang bodoh. Nan
geunyang.... geunyang...." Yonghwa tiba-tiba seperti kehilangan dirinya sambil
menatapku.
"Geunyang phabo ah!"
Appa menambahi, hingga membuat aku dan Eomma tak kuasa menahan tawa.
"Geumanhae, Yonghwa ah! Aku
tahu, bagaimana rasanya saat kau melihat gadismu tampil secantik ini. Karena
itu, jangan tunda lagi! Segera tentukan tanggal pernikahan kalian, atau kau
akan menderita setiap waktu karena rasa cemas kalau-kalau gadismu direbut pria
lain." Mendengar ucapan Appa, aku dan Yonghwa serempak nyaris berteriak.
"Ndea?!!!!"
"Appa.. geumanhaeyo! Aku
tidak akan menikah hanya karena aku harus menikah. Kami akan memutuskan semua
itu nanti. Ketika kami berdua sama-sama siap dan menginginkannya." Meski
aku tahu Yonghwa-ku sedang menyembunyikan rasa gugupnya, tapi Namja-ku
benar-benar keren saat mengatakannya.
"Ya... berfikirlah seperti
itu sambil terus menasihati dirimu sendiri untuk tetap sabar, saat pria lain
satu persatu mengagumi gadis-mu. Kita lihat, sejauh mana kau sanggup
menahannya." Sekali lagi Appa membuat Yonghwa tersudut.
"Appa... geumanhaeyo! Bila
kau terus membicarakan ini, aku khawatir.. aku akan kehilangan Joohyun sebelum
aku menikahinya."
Melihat putranya berhasil mereka
ganggu, Appa dan Eomma tertawa kecil. Kemudian kamipun memiliki makan malam
yang luar biasa. Sesuatu yang baru kali ini aku alami. Aku benar-benar merasa
hidupku begitu lengkap. Begitu hangat. Andai Eomma-ku bisa melihatnya, mungkin
Eomma akan memberiku senyuman penuh kebanggaan. Menikah. Topik pembicaraan itu
sedikit menakutkan untukku. Tapi sejujurnya, semua itu membuatku bahagia karena
aku merasa keluarga ini bisa menerimaku dengan pelukan terbuka.
Ditengah obrolan dan gelak tawa
kami, tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Pelayan yang tadi
berdiri didepan pintu, masuk lalu menghampiri Appa. Pria itu berbisik ditelinga
Appa hingga seketika raut wajah Appa berubah. Semua mata tertuju pada mereka,
terutama Yonghwa.
"Arasso. Aku akan menemui
mereka." Hanya kata-kata itu yang akhirnya keluar dari mulut Appa. Namun
semua itu masih belum menjawab rasa penasaran kami tentang apa yang sebenarnya
terjadi.
"Yeobo, bisa kau temani
anak-anak sebentar? Aku harus bertemu dengan seseorang di ruangan
sebelah." Appa tersenyum pada istrinya yang kala itu mulai tampak
khawatir.
"Nde, arasso. Jangan
lama-lama, ya!" Meski Eomma berusaha untuk tenang, tapi sinar dimatanya
tidak mampu menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya sedang merasa cemas.
Lalu Appa pun bangkit dari
duduknya, dan mulai melangkah pergi.
"Gidariyo, Appa. Aku
ikut." Pandanganku dan Eomma kini berpaling pada Yonghwa. Ada apa
sebenarnya? Dari wajahnya, entahlah... aku bisa merasakan bahwa Yonghwa
mengetahui sesuatu yang penting yang membuat Appa-nya harus meninggalkan makan
malam keluarganya seperti itu.
"Gwaenchanna, Yonghwa ah!
Hanya seorang teman bisnis. Aku hanya akan menyapanya sebentar." Appa
sekali lagi tersenyum pada kami sebelum akhirnya dia benar-benar berlalu.
Sudah hampir setengah jam, tapi
Appa masih belum kembali. Eomma dan Yonghwa sudah tampak sedikit gelisah, meski
mereka terus berusaha untuk bersikap tenang.
"Jeoseohamnida, Eomonim,
saya harus kebelakang sebentar." Aku hanya merasa, mungkin Eomma dan
Yonghwa perlu membicarakan sesuatu yang akan lebih nyaman bila aku tidak berada
disana. Karenanya, aku permisi untuk menggunakan rest room beberapa saat. Meski
aku tahu dalam ruangan itu ada toilet yang lebih private, aku memilih untuk
memakai toilet yang berada diujung koridor.
Dari dalam bilik toilet,
tiba-tiba aku mendengar suara dua orang wanita masuk. Keduanya sedang
membicarakan sesuatu ketika mereka masuk. Atau lebih tepatnya, mereka terdengar
seperti sedang berdebat dan salah satu diantara mereka seperti sedang menangis.
"Geumanhae, Aga! Uljima!
Eomma dan Appa tidak akan tinggal diam dengan semua ini. Bagaimanapun, bukan
hanya kau yang merasa ditipu dan di khianati. Lebih dari itu, mereka sudah
menghina dan merendahkan kita dengan bersikap seenaknya seperti itu. Geuronika,
jebbal... himnae ah, Uri Ddal!" Dari suaranya, perempuan itu mungkin
berada di usia Eomma-nya Yonghwa. Dan perempuan yang terisak itu...
"Geugae, Eomma... semua ini
tidak akan bisa diselesaikan dengan uang dan kekuasaan yang Appa miliki.
Kenyataanya adalah... dia tidak penah mencintaiku dan selama ini dia hanya
merasa bersalah padaku. Ottokhaeyo, Eomma? Aku benar-benar mencintainya."
Gadis itu semakin terisak, dan suara pilu itu benar-benar mengiris hatiku.
"Aigoo.. uri sojungan aga.
Napeun namja! Mana boleh dia menghancurkan hati putriku yang berharga? Aku
bersumpah akan membuatnya membayar semua yang sudah dia lakukan padamu!
Dengarkan aku, Aga.. serahkan masalah ini pada Appa-mu. Kita lihat, mereka bisa
melakukan apa tanpa bantuan Appa-mu? Kesombongan mereka, hanya akan membuat
mereka kehilangan segalanya dan jatuh kedasar jurang!"
Entah mengapa, jantungku berdebar
kencang mendengar kata-kata yang dilontarkan Nyonya itu, seolah ancaman itu
tertuju untukku. Konyol, memang! Hanya saja, kata-kata itu terdengar sangat
menakutkan. Ani! Uang dan kekuasaan lah yang sebenarnya sangat menakutkan.
Beberapa menit kemudian, aku
mendengar langkah kaki mereka keluar dari toilet. Aku merasa leluasa untuk
keluar dari bilik itu. Lagi pula, aku sendiri tidak tahu untuk apa aku menahan
diriku tetap berada disana? Hhh... setidaknya, pembicaraan mereka terdengar
sangat pribadi hingga bila aku menampakan diriku disana, mereka mungkin akan
merasa malu.
Usai mencuci tanganku dan
merapihkan sedikit riasanku, aku berjalan menuju ruangan kami sebelumnya. Namun
langkahku kembali terhenti saat aku mendapati Yonghwa Appa sedang berdiri di
hadapan sebuah pintu bersama seorang lelaki diusianya, juga dua orang perempuan
yang bila kuduga, yang satu adalah istrinya dan satu lagi.. gadis yang
tertunduk itu sepertinya adalah putrinya. Tapi yang membuatku terdiam adalah,
saat aku mendengar kata-kata pedas yang pria itu katakan pada Appa. Aku
menyembunyikan tubuhku dibalik dinding koridor.
"Aku masih tidak percaya
bahwa kau lebih memilih untuk menyerahkan singgasanamu, Jung Sajangnim!
Aigoo... aku benar-benar tidak percaya semua ini!" Lelaki itu tertawa
sinis.
"Joseohamnida, Kim
Sajangnim. Dalam hal ini, saya tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak ada yang
lebih penting dalam hidup saya selain kebahagiaan Yonghwa. Anak itu sudah
terlalu banyak kehilangan. Dan saya tidak akan pernah merenggut apapun lagi
dari hidupnya."
Dug!!! Jantungku kembali
melompat. Yonghwa? Ada apa dengannya?
"Geurae! Itu semua karena
kau terlalu memanjakannya seperti ini. Setelah ulah anak itu yang telah
membunuh kakak kandungnya sendiri, sekarang kau membiarkannya menghancurakan
perusahaanmu, juga?!"
Hatiku sakit mendengarnya.
Bagaimana bisa dia dengan lantang mengatakan kata-kata mengerikan seperti itu?
Yonghwa-ku bukan seorang pembunuh, dan mwo?! Apa maksudnya dengan menghancurkan
perusahaan Appa?
"Saya mengerti apa yang anda
rasakan, Kim Sajangnim. Tapi dalam hal ini, Yonghwa tidak bersalah. Putraku
bukan seorang pembunuh! Bagi saya, dia hanyalah anak yang telah saya besarkan
dengan tangan saya sendiri. Kesalahan yang dia lakukan dimasa lalu, harusnya
menjadi kesalahan saya sebagai Appa-nya. Dan untuk perusahaan ini, saya sudah
merasa cukup dengan apa yang anak itu lakukan. Saya tidak bisa menuntut lebih
banyak darinya. Apalagi memintanya untuk mengorbankan kebahagiaannya."
Appa, seorang Presiden Direktur hotel mewah ini, kenapa harus menunduk seperti
itu dihadapan lelaki sombong itu?
"Mwo ragoyo? Jadi maksudmu,
kau lebih rela kehilangan kontrak kerja sama kita dibandingkan dengan
memintanya meninggalkan gadis yang tak jelas asal usul nya itu?!"
Kali ini, bukan hanya debar
jantungku yang menggila, tapi juga seluruh tulang kakiku mulai terasa lemas dan
bergetar. Gadis yang tak jelas asal usulnya? Aku? Apakah itu aku? Dan kontrak
kerjasama itu...
"Joseohamnida, Kim Sajang.
Saat ini, tidak ada yang lebih penting dalam hidup saya selain kebahagian keluarga
saya. Bila karena ini anda menarik kembali semua investasi anda di perusahaan
kami, maka saya tidak bisa berbuat apa-apa." Appa masih tetap menunduk
dengan kerendahan hatinya.
"Heol!! Bagaimana mungkin
kau bisa berfikir begitu naif, Jung Sajang?! Huh? Kau sadar, apa saja yang akan
hilang darimu? Selain uang, kau bisa kehilangan jabatanmu! Jangan lupa, bahwa
aku memegang kunci penentu untuk itu. Kau bisa kehilangan posisimu dalam rapat
pemegang saham selanjutnya. Jatuh bangun leluhurmu membangun perusahaan ini,
lalu kau hanya merelakannya begitu saja? Bila putramu memutuskan pertunangannya
dengan putriku, maka aku tidak punya alasan apapun lagi untuk terus
mendukungmu!"
Dugg!! Sekali lagi jantungku
melompat hebat. Mwo? Pertunangan? Yeokshi.... pria tua itu adalah.... ayahnya
Kim Hyunna?
Tuhanku.... Jigeum ottokhae? Bila
Yonghwa tetap memilihku, maka itu artinya... Appa akan kehilangan Hotel yang
sudah dimiliki keluarga nya sejak dulu?
Tubuhku seketika terasa lemas dan
terhempas ke dinding koridor. Demi Tuhan, aku menahan diri untuk tidak ambruk
disana.
"Saya menghormati apapun
keputusan anda, Kim Sajang. Atas nama keluarga Jung, saya benar-benar minta
maaf karena hubungan kita harus berakhir seperti ini. Tapi kebahagiaan anak
kita tidak akan pernah bisa dinilai dengan segala yang kita miliki di atas muka
bumi ini. Saya harap, keluarga anda menghormati keputusan anak kami Yonghwa.
Begitupun kami. Kami berharap Hyunna akan mendapatkan pria yang lebih baik dari
anak kami."
"Geurom! Aku tidak akan pernah
mengemis padamu ataupun anak bodoh itu. Putriku juga sangat berharga untukku!
Kau fikir, dengan bersikap seperti ini, kau akan hidup lebih tenang? Kita lihat
saja, sampai mana kesombonganmu bisa kau pertahankan! Aku juga tidak sudi
membiarkan putri tunggalku menikah dengan anak sampah seperti putramu!"
"Andweyo... Appa! Jebbal,
geumanhaeyo. Tolong jangan putuskan hubungan kami, Appa. Jebbalyo! Aku tidak
akan bisa hidup tanpanya. Appa... aku benar-benar mencintai Yonghwa...."
Kali ini, aku melihat wajahnya
dengan jelas. Perempuan itu tersedu sambil bersimpuh memegang tangan ayahnya.
Tangisnya, suaranya, bukankah perempuan itu sama dengan perempuan tadi yang aku
dengar di restroom. Melihat putrinya mengiba dengan tangisannya dilantai, Ny.
Kim segera merengkuh tubuh putrinya.
"Jangan begini, Aga! Aku
mohon bangunlah! Kau tidak pantas mengiba seperti ini hanya demi lelaki tidak
berguna itu." Sang Eomma tampak sibuk mengangkat tubuh anaknya yang
berjelaga dilantai koridor.
"Maldo andwe! Meski nanti
Jung Yonghwa datang padaku sambil menangis darah, aku tidak akan pernah
membiarkan dia memilikimu! Palli irona!! Jangan merendahkan dirimu seperti itu!
Kau pantas mendapat yang lebih baik darinya!" Tuan Kim tampak semakin
murka. Begitu juga istrinya. Dan Kim Hyunna, gadis itu semakin tersedu
dilantai. Lalu kudengar suara seseorang membuka pintu.
"Yonghwa ah, kenapa kau
tidak menunggu bersama ibumu didalam?" Appa terlihat kaget melihat
kemunculan putranya yang tiba-tiba. Tapi kemudian, pemandangan yang lebih menyayat
hati harus kembali kulihat. Lelaki itu... Yonghwa-ku.... dia bersimpuh diatas
kedua lututnya sambil menundukan wajahnya.
"Joseohamnida. Jaega
jjalmothaeseupnida. Saya pantas mendapatkan hukuman apapun untuk kesalahan yang
saya lakukan, tapi... saya minta maaf... saya tidak bisa melanjutkan
pertunangan ini dengan Hyunna."
Dan tanpa diduga, tiba-tiba istri
Tn. Kim meradang. Dengan membabi buta, perempuan paruh baya itu menyerang
Yonghwa dengan pukulan-pukulannya diiringi dengan umpatan kasar. Hyunna semakin
histeris sambil mencoba menghentikan Eommanya. Kemudian Yonghwa Eomma berlari
dari dalam ruangan dan segera menjadikan tubuhnya sebagai perisai yang
menghalangi tubuh putranya dari pukulan-pukulan itu. Keributan itu segera
terhenti setelah kedatangan 2 orang keamanan hotel yang menahan Ny. Kim dari
amukannya.
Dari jauh, aku hanya bisa tersedu
sambil menutup mulutku rapat-rapat agar isakanku tak terdengar oleh mereka.
Tuhan.... kumohon tolong aku! Kenapa semua jadi seperti ini? Tapi tubuh ini
sepertinya tidak mau bekerja sama dengan usahaku. Kakiku tidak cukup kuat untuk
menahan guncangan yang baru saja aku terima hingga akhirnya aku ambruk dan
tubuhku terhempas kelantai. Sesaat, aku tidak mendengar apapun dan
penglihatanku seluruhnya menjadi gelap. Aku hanya merasakan seseorang
mengangkat tubuhku lalu mendekapku.
Ya, untuk beberapa saat.. aku
tidak merasakan apapun. Namun akhirnya, aku mulai mendengar sebuah suara.
"Joohyun ah! Seo Joohyun,
buka matamu... jebbal..." Suaranya terdengar bergetar. Perlahan, aku
membuka kedua mataku. Samar-samar aku melihat wajahnya. Panik, takut, lelah.
"Oppa...." Aku berusaha
mengatakan sesuatu, tapi lidahku rasanya amat kelu.
"Ooh... thank God! Joohyun
ah, kau bisa mendengarku?" Sekali lagi aku mendengar Yonghwa memanggil
namaku dengan suara gemetar. Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan anggukkan.
"God... you scared me like
hell, Baby! God...." Kurasakan tubuhku semakin erat mendekapku. Suaranya
lirih menahan tangis. Appa dan Eomma juga ada disampingnya menatapku dengan
tatapan cemas. Eomma bahkan tampak menyeka air matanya. Baru aku sadari, bahwa
aku masih berada diatas lantai koridor tempat aku terjatuh tadi. Dari yang aku
perkirakan, aku hanya kehilangan kesadaran hanya untuk beberapa waktu saja.
"Gwaenchana, Joohyun ah? Apa
perlu kita ke rumah sakit?" Appa bertanya dengan suara cemas.
"Gwaenchannayo, Abonim. Saya
hanya tiba-tiba merasa pusing dan hilang keseimbangan. Jeoseonghaeyo, kalian
semua pasti cemas." Eomma tampak menghembuskan nafas lega usai mendengar
jawabanku.
"Ooh.. ddaengida, Uri Ddal!
Eomma benar-benar takut. Aigoo..." Eomma memijat-mijat kakiku sambil terus
mengucap syukur. Lalu tiba-tiba...
"Hooo... rupanya kalian
sedang mengadakan makan malam dengan perempuan tidak tahu malu ini, ya? Heuh..
aku fikir perempuan seperti apa yang sudah membuat Jung Yonghwa mencampakan
putriku hingga ayahnya rela kehilangan perusahaan tercintanya. Ternyata....
bukan hanya seorang yang sangat biasa, tapi juga jauh di bawah standar putriku.
Bahkan tubuhnya begitu lemah seperti ini. Ckckck..." Ny. Kim berdiri
diujung kakiku dengan kedua tangan yang dia lingkarkan didadanya. Dia menatapku
dengan wajah angkuhnya. Tanpa kuduga, Eomma tiba-tiba berdiri dan menghadapkan
tubuhnya pada Ny. Kim.
"Waeyo? Memang benar, Seo
Joohyun hanyalah seorang gadis biasa yang sangat jauh ketinggalan bila
dibandingkan dengan putri anda. Kim Hyunna memang gadis yang cantik, cerdas,
terpelajar, dan dari keluarga terpandang. Anak ini hanya anak yang tinggal
sebatang kara dan berjuang sendiri untuk hidupnya. Jadi saya harap, anda tidak
perlu merendahkan keluarga anda dengan membanding-bandingkan putri anda yang
sempurna itu dengan gadis sederhana ini. Saya harap, Hyunna akan mendapatkan
lelaki yang lebih pantas baginya. Karena putra kami, ottokhaeyo.. dia hanya
bisa bahagia dengan gadis sederhana ini." Raut wajah sinis sekaligus kesal
semakin tampak diwajah Ny. Kim dan juga suaminya. Sementara Hyunna, dia hanya
sibuk menyeka air matanya.
"Araso! Kebahagiaan kau
bilang? Kita lihat saja, apa kalian masih bisa berbicara tentang kebahagiaan
setelah hotel ini terampas dari keluarga kalian?" Sekali lagi Ny. Kim
menunjukan cakarnya.
"Kita lihat saja nanti. Saya
percaya, didunia ini masih ada orang-orang yang hidup demi loyalitas dan nama
baik dan tidak tergiur dengan jabatan atau uang. Terlebih bila semua itu
diupayakan dengan kecurangan dan menjebak suamiku yang tidak bersalah. Tapi
bila kami tetap harus kehilangan segalanya, kami akan tetap menjadi orang-orang
yang bahagia. Karena kami sudah pernah mengalami yang jauh lebih buruk dari ini
dan membuat kami mengerti arti kebahagiaan yang sebenarnya."
Satu hal yang akhirnya aku
ketahui. Ternyata, kemelut yang menimpa Appa tidak lain adalah jebakan yang
dilakukan Tn. Kim. Setelah putrinya mengadu padanya perihal Yonghwa yang
tiba-tiba memutuskan pernikahan mereka, Tn. Kim sengaja memasang perangkap
tentang saham dan cassino gelap itu. Tujuannya adalah, untuk menempatkan Appa
didalam posisi ini, sehingga Appa dan Yonghwa tidak memiliki pilihan lain selain
meneruskan pertuangan itu demi memulihkan citra keluarga dan perusahaannya.
Tanpa diduga, Appa justru menolaknya dan menempatkan kebahagiaan Yonghwa diatas
segalanya.
*****
Suasana kembali mereda, usai Tn.
Kim dan keluarganya mengangkat kaki dari hadapan kami. Kami segera pulang ke
kediaman keluarga Jung, dan aku dipaksa untuk istirahat sesampainya disana,
setelah seorang dokter memeriksa keadaanku. Kini, hanya aku sendiri didalam
kamar yang luas ini.
Betapapun aku mencoba untuk
memejamkan mataku, aku tidak bisa. Kejadian di hotel tadi terus berputar-putar
didalam kepalaku. Tentang apa yang dikatakan Tn. Kim, tentang Hyunna yang
begitu menderita karena harus kehilangan pria yang dicintainya, tentang
bagaimana Yonghwa-ku diperlakukan dan dikata-katai dengan begitu buruk, juga
tentang Venus Hotel yang terancam terenggut dari tangan Appa. Semua bencana
itu.... terjadi karena aku!
Berdiam diri dikamar dalam
keadaan seperti ini tampaknya bukan ide yang bagus. Selain hanya akan menambah
sakit kepalaku, semua itu menyiksa batinku. Karenanya, kuputuskan untuk keluar
dan berjalan disekitar taman. Aku hanya ingin menenangkan diriku.
Malam ini tidak turun salju,
meski cuaca tetap saja dingin. Aku berdiri di dalam sebuah gazebo kecil yang
terletak di taman belakang. Tidak banyak yang bisa aku lihat, sebetulnya. Hanya
temaram lampu taman, dan sinar bulan membulat dilangit Busan. Sejuta fikir
tetap tak mau enyah.
"Eomma... Eomma bisa
melihatku?" Sambil memandang cahaya bulan, aku bergumam sendiri, berharap
Eomma-ku jauh disana bisa mendengar dan melihatku.
"Jigeum ottokhae, Eomma? Uri
Yonghwa ottokhae? Bagaimana bisa kehadiranku dalam hidupnya hanya menyebabkan
bencana ini?" Huffhh... rasanya sesak didadaku sudah hampir menarik air
mataku kembali.
"Aku... aku sangat
mencintainya, Eomma. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku baru merasakan
kebahagiaan seperti ini. Dialah yang menjadi alasanku sekarang, Eomma. Demi
dia, demi agar dia tidak pernah merasa sedih, demi untuk bisa terus melihatnya
dan hidup bersamanya lebih lama, aku akan melakukan apapun. Aku akan sembuh dan
hidup lebih lama.
Tapi, Eomma... hari ini aku tahu
bahwa bersamaku pun Yonghwa-ku akan banyak mendapatkan rasa sakit. Bukan hanya
dia, tapi juga orang-orang yang dia cintai.
Ottokhae, Eomma? Aku harus
bagaimana? Bila saja aku bisa lenyap dan menghilang dari hidupnya begitu saja,
maka aku akan melakukannya. Aku hanya berharap semua ini akan kembali seperti
semula. Yonghwa tidak perlu lagi menanggung beban berat itu dan memilih antara
aku atau perusahaan keluarganya. Aku harap aku bisa hilang dari hidupnya.
Tapi... apakah Yonghwa-ku akan
baik-baik saja? Atau malah... aku akan membuatnya menangis lagi? Akankah waktu
menyembuhkannya dengan cepat?"
"Jangan pernah berfikir
untuk pergi atau menghilang dari hidupku, Seo Joohyun!"
Aku terhenyak luar biasa.
Tiba-tiba kulihat Yonghwa sudah berdiri di belakangku dengan kedua tangan yang
dia masukan kedalam saku mantelnya. Lelaki itu menatapku tajam. Tanpa
sedikitpun senyuman. Perlahan, langkah demi langkah, Yonghwa berjalan
mendekatiku hingga dia berdiri tepat dihadapanku.
"Semua tidak akan pernah
kembali ke posisi semula. Aku, kau, tidak ada satupun diantara kita yang akan
bahagia. Aku akan menangis, sakit hingga menjadi gila. Bahkan mungkin aku bisa
mati." Kudapati kedua bening matanya mulai berkaca-kaca. Dan dia masih
menatapku begitu tajam.
"Bila kau benar-benar pergi
dari hidupku, aku..." Lelaki itu tertunduk dan menelan ludahnya lalu
beberapa untuk saat memalingkan wajah merahnya dariku. Tuhan... wajah ini
adalah wajah yang kulihat saat dia pertama kali dia bercerita tentang
Hyung-nya.
"Oppa..."
"Jangan pernah mengatakan
omong kosong seperti itu lagi, Joohyun ah!" Yonghwa kembali menatapku
tajam dan kali ini intonasi suaranya terdengar lebih tegas. Seperti sebuah
ancaman.
"Jangan pernah mengatakan
atau bahkah berfikir untuk pergi dariku. Meski sakit, meski sulit, bertahanlah!
Setidaknya bila kau tidak bisa menolongku maka pegang saja tanganku dan
percayalah padaku. Karena lelaki dihadapanmu ini, meski mungkin terlihat lemah
dan tidak berguna, setidaknya aku tidak akan menyerah. Karena selain untuk bisa
bersamamu, aku juga ingin bisa sekali saja melakukan sesuatu untuk orang tuaku.
Aku hanya membutuhkanmu untuk selalu berdiri disampingku. Kumohon, Joohyun
ah... percayalah padaku saat ini. Semangati aku. Doakan aku.
Dan tetaplah disisiku..."
Kalimat terakhirnya terdengar
samar ditengah usahanya menahan kepedihan. Aku tahu, Namja-ku sangat ketakutan
saat ini. Apa yang terjadi pada keluarganya, dan kata-kata yang aku katakan
tadi.... Tuhan, dia pasti sangat ketakutan. Bergegas, aku memeluk tubuhnya
dihadapanku. Aku mendekapnya erat dengan rasa penyesalanku.
"Mianhae, Oppa. Jeongmal
mianhae. Naega jjalmothaeseo. Aku pasti sudah gila hingga aku mengatakan hal
yang tidak-tidak. Mianhae.. " Aku masih mendekapnya erat. Hingga kurasakan
tangannya mulai melingkar ditubuhku dan membalas pelukku. Semakin erat dan
semakin erat hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya di leherku.
"Nan jinjja busowo, Hyun.
Kau membuatku takut. Saat aku tidak menemukanmu dikamarmu, aku benar-benar
takut. Demi Tuhan, aku takut jika kau benar-benar pergi meninggalkanku."
Suaranya terdengar parau.
"Mianhae, Oppa. Aku tidak
bermaksud membuatmu sedih." Aku melepaskan pelukanku dan kudapati kedua
mata merahnya menatap sendu. Dengan lembut, aku meraih kedua tangannya lalu
kukunci dalam genggamanku.
"Aku percaya padamu, Jung
Yonghwa! Meski sakit, meski sulit, aku berjanji.. bahwa aku akan selalu
memegang tanganmu seperti ini. Geurigo... Himnae ah!"
Kedua mata kami terikat seolah
tak ingin saling melepaskan.
"Saranghae, Joohyun ah!
Neomu saranghae!" Lirih, kalimat itu mengalun membuai jiwaku.
"Saranghae, Jung Yonghwa!
Neomu saranghae!"
Kurasakan tangannya dengan lembut
merengkuh sisi telingaku dan satu tangan lagi mengangkat daguku. Sepertinya aku
tahu, bagaimana adegan ini akan berakhir. Against all reason, we were kissing.
I closed my eyes, and the world around me faded.
Another kiss. Another shape of
love. Another language to show how deep this feeling for him. Another way to
let him now that i wanted him, the way he wanted me. Another message about how
important he is in my life. And we were kissing like drowning people breathe.
Like suddenly we’d discovered something that has never been so sweet before
that moment. By that kiss, i vow an endless bliss.
And damn! I was forgot how to
stop!
*****
"Tn. Muda... anda harus
segera ke rumah sakit sekarang." Kapala pelayan dirumah itu tiba-tiba
memecah heningnya malam.
"Mwo? Moseumniriseyo?"
Aku dan Yonghwa benar-benar dibuatnya terkejut.
"Kim Hyunna Agassi, beliau
melakukan percobaan bunuh diri dan saat ini sedang menjalani operasi."
"My Baby You"
Marc Anthony
As i look into your eyes
I see all the reasons why
My life's worth a thousand skies
You're the simplest love i've known
And the purest one i'll own
Know you'll never be alone
I see all the reasons why
My life's worth a thousand skies
You're the simplest love i've known
And the purest one i'll own
Know you'll never be alone
My baby you
Are the reason i could fly
And 'cause of you
I don't have to wonder why
Baby you
There's no more just getting by
You're the reason i feel so alive
Are the reason i could fly
And 'cause of you
I don't have to wonder why
Baby you
There's no more just getting by
You're the reason i feel so alive
Though these words i say are true
They still fail to capture you
As mere words can only do
How do i explain that smile
And how it turns my world around
Keeping my feet on the ground
I will soothe you if you fall
I'll be right there if you call
You're my greatest love of all
Author Note :
Sorry for the very late update... ( kebiasaan... :P )
I hope you enjoy the chapter. Ah... ga brasa.. tinggal beberapa chapter lagi menuju ending...
Thank
you for always support me and reading my lame stories. Sangat2 terbuka
buat saran, kritik dan apapun yang bikin saya bisa memperbaiki kualitas
dan konten tulisan saya. ^_^
