Selasa, 16 Februari 2016

In Time With You Chapter 26



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8



Chapter 26

Choise

Seohyun kembali menginjakan  kakinya dilantai rumah sakit, tempat yang dia berjanji akan langsung mendatanginya setibanya dia di Seoul. Cho Kyuhyun dan Kim Taeyeon tentu saja sudah menunggunya disana. Dan serangkaian proses persiapan transplantasi, sudah didepan matanya untuk dia jalani satu persatu.

Kyuhyun menyiapkan kamar yang super nyaman untuk Seohyun tinggali selama beberapa waktu kedepan. Taeyeon bilang, bila proses trabsplantasinya berjalan lancar, Seohyun tidak harus berlama-lama berada di rumah sakit ini. Hanya sesekali melakukan check up secara berkala, untuk memastikan bahwa sumsum tulangnya kembali bisa memproduksi darah dengan normal dan tubuh Seohyun tidak menunjukan penolakan terhadap sel darah pendonor.

“Eonni... apakah donorku sudah tiba di rumah sakit ini?” Sebetulnya, sejak awal Seohyun sudah merasa penasaran tentang siapa orang baik yang rela mendonorkan sumsum tulang untuk menolongnya. Hanya saja, Taeyeon selalu bilang bahwa orang itu memintanya untuk merahasiakan identitasnya.

“Ah.. kemarin dia datang untuk menjalani beberapa tes pra operasi. Mungkin besok, dia juga sudah harus menjalani rawat inap disini untuk menjaga dan menghindarkannya dari hal-hal yang tidak diinginkan sebelum transplantasi dilakukan. Tapi Joohyun ah, tolong jangan paksa aku untuk mengingkari janjiku padanya dengan menanyakan identitas orang itu. Aku hanya bisa mengatakan satu hal tentangnya padamu. Orang yang akan mendonorkan sumsum tulangnya padamu, adalah orang yang sangat baik. Orang itu, ingin melakukan hal yang seharusnya dia lakukan sejak lama pada orang yang dia cintai, tapi dia terlambat melakukannya. Dan kini, dia merasa bahagia karena memiliki kesempatan untuk bisa melakukannya padamu. Jadi menurutku, kalian sedang menolong satu sama lain lewat operasi ini. Dia menolongmu untuk sembuh, dan kau... menolongnya untuk sedikitnya mengurangi penderitaannya karena rasa bersalahnya.”

Seohyun mengangguk kecil. Penjelasan Taeyeon barusan, meski tidak menjawab seluruh rasa ingin tahunya, setidaknya itu saja sudah cukup untuknya. Meski bagaimana, Seohyun tetap akan berterima kasih pada orang itu dan mendoakan semua yang terbaik untuknya.

Tiba-tiba... seseorang datang mengetuk pintu.

“Oh.. Oppa... waseo?” Kyuhyun datang dengan dua bouquet bunga ditangannya. Tangan kanannya, memegang rangkaian white lily dan baby breath, yang kemudian dia berikan pada Seohyun. Lalu, tangan kirinya memegang serangkaian white roses, kemudian dia serahkan pada Taeyeon. Tentu saja, Seohyun sempat terpaku melihatnya.

“Whoa... igae mwoeyo? Oppa.. kenapa kau memberi Kim Euisan-nim mawar putih ini?” Dengan wajah polosnya, Seohyun bertanya pada Kyuhyun yang kala itu hanya bisa tersipu malu. Tapi bukannya Kyuhyun yang menjawab, justru malah Kim Taeyeon yang membuka mulutnya.

"Wae? Memangnya kenapa kalau dia memberiku bunga? Memangnya cuma anak ingusan sepertimu saja yang boleh mendapatkan bouquet bunga seperti ini?" Mata dokter cantik itu setengah memelototinya, membuat Seohyun meringis kecil.

"A.. aniyo. Geunyang... aku hanya...." Seohyun seperti kehilangan nyalinya karena reaksi Taeyeon barusan. Dan itu membuat Kyuhyun tertawa kecil. Lelaki itu mengacak rambut adiknya.

"Aigoo... uri Joohyunie neomu gyowo...! Ckckck...! Ottae? Apa kau menikmati liburanmu?"

Dug! Tiba-tiba, pertanyaan itu merubah suasana hati Seohyun seketika. Dia bahkan tengah berusaha untuk melupakan apa yang terjadi selama di Busan, dan hanya fokus pada kesehatannya saja. Tapi Kyuhyun membuat usahanya menjadi sia-sia.

"Geuromyo! Tentu saja aku menikmatinya. Yonghwa Oppa, Eommonim, Abonim, mereka semua memperlakukanku dengan istimewa. Aku benar-benar merasa dicintai." Senyum kecil merekah diwajah cantiknya kala memori tentang ketiga orang itu terbayang dibenaknya.

"Geurae? Tidak heran, imo segera memamerkan calon menantunya pada Eomma-ku yang pada akhirnya membuatku menjadi sasaran uring-uringan Eomma. Ckckck... semua ini gara-gara kau, Seo Joohyun! Eomma-ku jadi ikut-ikutan membanding-bandingkan diriku denganmu. Dan yang terparah adalah.... Eomma dan Appa-ku tiba-tiba menjadi sangat cerewet dan memintaku untuk membawa pulang seorang menantu untuk mereka saat tahun baru nanti. Bila aku tidak bisa membawanya, maka mereka bilang, lebih baik aku tidak usah pulang sekalian. Gila, bukan?" Taeyeon memutar kedua bola matanya, yang membuatnya tampak lebih lucu. Kyuhyun seperti tak bisa berhenti tertawa.

"Jinjayo? Omo.. Eonni, mianhaeyo. Aku tidak bermaksud membuatmu dalam masalah. Tapi... apa orang tuamu tidak keterlaluan? Masa... hanya karena Eonni belum menemukan seseorang yang tepat, lalu mereka tidak mengijinkanmu pulang?" Sekali lagi, Seohyun menunjukan wajah polosnya.

"Karena itu, kau harus cepat menemukannya, Taeyeon Ssi! Atau tahun baru kali ini akan menjadi tahun baru yang mengenaskan untukmu." Kyuhyun menggodanya, membuat Taeyeon memicingkan mata kearahnya.

"Yak... kau fikir menemukan calon suami itu semudah membeli kucing piaraan? Aigoo... memikirkannya saja sudah membuat kepalaku sakit. Andwe! Lebih baik aku lewati malam tahun baru kali ini sendirian di apartemenku, daripada harus sembarangan mengikuti keinginan gila meraka."

"Eii... yakin.. kau hanya akan melewatkan tahun barumu sendirian? Hhm... sayang sekali.. bila dokter cantik sepertimu harus melewati malam itu dengan begitu tragis. Come on, girl! Open your eyes and look at around you. You'll find someone, when you're really looking for him. Kau bahkan tidak tahu bahwa dia bisa begitu dekat, karena kau tidak memasang radarmu dengan baik." Kyuhyun menatap Taeyeon dengan kedua mata bersinarnya. Dia lupa, ada seseorang yang dengan jelas bisa melihat arti dari tatapan itu. Seohyun tersenyum lebar melihat pemandangan dihadapannya.

"Aigoo... kenapa aku tiba-tiba merasa menjadi pihak ketiga?" Seohyun berceloteh. Membuat Taeyeon dan Kyuhyun serentak melihatnya. Secara berurutan, Seohyun menatap Kyuhyun, kemudian melihat Taeyeon disampingnya.

"Oppa, Eonni... mungkin untuk ukuran usia, aku memang lebih muda dari kalian. Tapi tentang cinta dan relationship.. hhm.. kalian bisa bertanya padaku." Seohyun menepuk dadanya dengan angkuh, membuat Kyuhyun menatapnya dengan kerutan dikeningnya, dan Taeyeon melihatnya dengan nyinyir.

"Yak.. apa maksudmu?" Taeyeon mulai gusar.

"I could clearly see that, Eonni! Bagaimana pria tampan disampingmu ini menatapmu dengan tatapan itu. Dan aku tahu, apa arti tatapan itu." Seohyun mengedipkan sebelah matanya, membuat Taeyeon semakin nyinyir dan Kyuhyun tiba-tiba merasa gugup.

"Yaa.. yak! Seo Joohyun? Apa maksudmu? Kau ini bicara apa sih?" Kyuhyun menepuk lengan adiknya, tapi Seohyun malah tertawa kecil.

"Araso.. araso! Aku akan menutup mulutku dan membiarkan kalian untuk saling menemukan. Aigoo... aku benar-benar merindukan Yong Oppa-ku! Andai dia ada disini, aku bisa menunjukannya pada kalian. Apa yang harus kau lakukan saat kau jatuh cinta pada seseorang." Kyuhyun dan Taeyeon merasa kali ini Seohyun dan cara bicaranya benar-benar menyebalkan.

"Haish... anak ini minta kuberi obat lebih banyak, sepertinya! Istirahatlah! Semakin banyak kau bicara, semakin tidak baik untuk kepalamu, karena imajinasimu bisa menggangu fungsi kognitifmu, lalu berakibat buruk untuk syaraf dan jantungmu. Kajja.. Kyuhyun Ssi! Kunci dia diruangan ini, hingga gadis ini menyadari apa kesalahannya!" Taeyeon tanpa sadar menarik lengan jaket yang dikenakan Kyuhyun, hingga membuat Seohyun semakin menggila.

"Whoooo... lihat.. bagaimana caramu membawanya keluar, Eonni. Ough... kalian benar-benar lucu!" Seohyun kembali tertawa.

"Geumanhae, Phabo ah! Atau aku benar-benar akan menguncimu disini!" Giliran Kyuhyun yang mengancam adiknya.

"Arasoyo, Ahjussi!! Geuman kkayo!! Sebelum kau ketahuan lebih banyak!"

Akhirnya, kedua orang yang nyaris Seohyun telanjangi perasaannya itu pun keluar meninggalkan ruangan Seohyun. Gadis itu masih duduk diatas tempat tidurnya, dengan sisa senyum diwajahnya. Namun tak lama kemudian, senyum itu memudar, saat wajah Yonghwa tiba-tiba tergambar dalam fikirannya.

Dia menghela  nafas yang terasa berat. Seohyun meraih ponselnya. Dengan ragu, dia melihat layarnya ponselnya untuk memastikan apakah Yonghwa-nya membalas pesannya atau tidak. Dan betapa terkejutnya dia, saat dia mendapati 76 panggilan tak terjawab, 15 pesan, dan 1 voice mail masuk tanpa dia ketahui. Lalu dia teringat kebodohannya. Saat dia di pesawat, dia mematikan ponselnya, kemudian menyalakannya lagi saat tiba di RS, dalam keadaan silent mode. Tentu saja... dia tidak akan mendengar panggilan Yonghwa.

Seohyun lalu mendengarkan voice mail yang Yonghwa kirim padanya.

'Joohyun ah.. saat ini kau pasti sudah dalam pesawatmu. Ya Tuhan.. bodohnya aku!

Mianhae, Hyun..! Jeongmal mianhae. Aku tidak sempat melihat ponselku, hingga aku terlambat membaca pesanmu. Aku benar-benar.....

Hhh... apapun yang akan aku katakan padamu, pasti hanya terdengar sebagai sebuah excuse untuk semua kesalahanku. Jebbal mianhae, Joohyun ah...

God... rasanya aku benar-benar ingin menangis...

Joohyun ah, jebbal.. begitu kau mendengar pesanku ini, hubungin aku segera. Hhm?'

Hatinya kembali berdebar kencang. Yonghwa-nya, suaranya terdengar sangat lelah dan putus asa. Entah hari-hari semacam apa yang sudah dilaluinya kemarin, hingga dia tidak sempat membaca pesannya.

Akhirnya, Seohyun memutuskan untuk menghubunginya kali ini. Yonghwa memintanya, bukan? Selain itu, Seohyun ingin mendengar suaranya sekali lagi, sebelum operasi transplantasi itu dilakukan.

Seohyun men-dial nomor Yonghwa di ponselnya. Lalu...

"......................"

"Yeoboseo? Oppa? Oppa... mianhae, ponselku dalam keadaan silent mode hingga aku tidak mendengar panggilanmu. Oppa pasti sangat khawatir. Geunyang geok cheongma. Saat ini aku sudah di Seoul dan sudah kembali menjalani pekerjaan menulisku. Oppa, kau baik-baik saja kan?" Rentetan kalimat itu secara otomatis meluncur dari mulutnya. Tapi Seohyun masih belum mendengar suara Yonghwa-nya.

"Oppa? Kau mendengarku?" Seohyun memastikannya sekali lagi.

"Op...."

"Anyeonghaseo, Seo Joohyun Ssi. Jaegaeyo. Kim Hyunna-eyo."

Dug!!! Rasanya seperti tertimpa batu besar. Geun yeoja, wae? Kenapa dia yang menerima ponsel Yonghwa? Batinnya.

"A.. anyeong haseo. Jeogieyo... Yonghwa Oppa neun, eodieyo?" Seohyun berusaha mengendalikan kegugupannya.

"Oh.. Yonghwa sedang menemui dokterku. Mungkin akan kembali beberapa waktu lagi. Moseumniriseo, Joohyun Ssi? Apa ada yang ingin kau katakan padanya? Biar nanti aku sampaikan pada Yonghwa saat dia kembali." Suaranya masih terdengar sangat lemah. Tapi entah kenapa, Seohyun merasa semua itu menakutkan.

"Oh? A.. aniyo. Gwaenchannayo, nanti aku akan menghubunginya lagi. Geurom..."

"Seo Joohyun Ssi...." Seohyun nyaris menutup percakapan itu, namun panggilan Hyunna menghentikannya.

"Nde..." Gadis itu semakin gugup.

"Seo Joohyun Ssi... bisakah kau menyerah tentangnya?"

Pertanyaan itu. Seohyun sudah pernah mendengarnya, dan dia ingat... dia juga sudah pernah menjawabnya. Tapi.. kenapa wanita itu lagi-lagi menanyakan hal yang sama?

"Hhh... Kim Hyunna Ssi, bukankah dulu aku pernah mengatakannya padamu? Aku akan selalu bersamanya selama dia masih menginginkanku disisinya. Apapun yang terjadi. Aku tidak akan pernah meninggalkannya, kecuali dia sendiri yang memintaku untuk pergi. Jadi...."

"Yonghwa benar-benar hancur saat ini, Joohyun Ssi! Tidakkah kau melihatnya? Dia berusaha untuk terlihat kuat dan tegar dihadapanmu dan juga orang tuanya. Kau tidak tahu, apa yang dia lalui dan dia lakukan selama dia disini, bukan? Jung Yonghwa, meski dia terus menemaniku dan tidak meninggalkanku sekejap pun, tapi dia tidak berhenti untuk melakukan lobi-lobi bisnis pada para pemegang saham melalui ponselnya. Yonghwa.. sepanjang aku mengenalnya, aku tidak pernah melihat dia begitu terdera seperti saat ini.

Joohyun Ssi, lawan yang paling berat baginya adalah Appa-ku. Appa tidak akan merubah keputusannya, walau bagaimanapun aku memohon padanya. Meski begitu, Yonghwa tidak menyerah. Meski dia tahu, siapa yang sedang dia hadapi, dia tetap melakukan negosiasi dengan para pemegang saham, sambil terus menjagaku disini.

Ya. Aku. Aku adalah putri dari laki-laki yang mungkin akan menghancurkan masa depan perusahaan Appa-nya." Suara Kim Hyunna terdengar lirih.

Di atas tempat tidurnya, Seohyun mulai gemetar, mendengarkan setiap kata yang Hyunna ucapkan.

"Geurigo, Seo Joohyun Ssi. Kumohon, biarkan aku menolongnya. Bila Yonghwa kembali pada janjinya untuk menikah denganku, maka dia dan keluarganya tidak perlu lagi menjalani kejadian yang mengerikan seperti ini lagi. Kumohon lepaskan dia. Setidaknya dengan begitu, kau baru mencintainya dengan cara yang benar.

Joohyun Ssi, aku mengerti, semua itu tidak akan mudah untukmu. Geunyang jebbalyo, fikirkan Yonghwa dan keluarganya. Hanya karena cinta kalian yang egois, apakah mereka pantas kehilangan semua yang mereka miliki dan mereka perjuangkan seumur hidup mereka?

Kumohon, Joohyun Ssi..."

Hyunna sepertinya mulai terisak. Dan Seohyun... jangan tanya bagaimana gadis itu tersungkur ditempat tidurnya sambil meremas baju didadanya, menahan sedu sedan yang terasa akan segera meledak seiring sesak yang kian menekan tenggorokannya.

"Joohyun Ssi, kumohon fikirkanlah. Lusa, adalah hari yang paling menentukan untuk Keluarga Jung. Semua itu mungkin hanya akan berubah dengan sebuah keputusan tepat yang kau ambil, Seo Joohyun Ssi. Kau dan aku bisa menolong Yonghwa dengan cara yang berbeda. Kumohon... "

Dan pembicaraan merekapun berakhir disana. Lalu.. dalam hitungan detik, perlahan Seohyun mulai meledakkan tangisnya. Dia tak mampu menguncinya lagi dan membiarkan tubuhnya diguncang sedu sedan menyakitkan itu. Tubuh kecil itu, mengerut diatas tempat tidur rumah sakit. Disaksikan dinding-dinding bisu dan sepi.

"Ottokhae, Oppa? Naega ottokhae jigeum?" Seohyun tersidak sendu. Lalu seseorang datang mengetuk dan membuka pintu.

"Omo... Joohyun ah! Wae geurea? Huh? Kau kenapa? Apa yang sakit?" Kyuhyun segera berlari menghampiri Seohyun begitu dia melihat dan mendengarnya menangis saat dia membuka pintu. Seohyun masih tersedu, membuat Kyuhyun semakin panik. Perlahan, Kyuhyun  membantu Seohyun untuk kembali duduk.

"Joohyun ah! Jebbal... malhae!! Katakan padaku ada apa, sehingga aku bisa menolongmu. Jangan membuatku takut!" Kyuhyun duduk tepat dihadapan Seohyun, hingga dia bisa melihat wajah adiknya dengan lebih jelas. Tangannya yang gemetar mulai mengusap wajah dan kepala Seohyun demi membuat adiknya kembali tenang.

"Oppa... aku harus bagaimana? Yonghwa Oppa.... cintaku padanya sudah mencelakainya. Oppa ottokhaeyo? Aku mencelakainya, Oppa... tapi aku tidak bisa meninggalkannya."

Tangisnya semakin pilu. Dan itu menyakitkan bagi Kyuhyun saat dia melihatnya. Kyuhyun segera menarik tubuh malang itu kedalam peluknya, lalu mendekapnya.

"Oppa.. aku takut! Aku benar-benar takut. Membayangkan hidup tanpanya, semua itu menakutkan. Hajiman.. Oppa... bila aku memilih untuk bersamanya, dan dia harus kehilangan segalanya demi untuk bersamaku, semua itu lebih menakutkan. Oppa... aku harus bagaimana?"

Gadis itu masih menangis dalam pelukan Kyuhyun. Beberapa waktu, Kyuhyun hanya mampu memeluknya dan memberinya usapan-usapan lembut dipunggung dan kepalanya sehingga Seohyun bisa kembali tenang. Dan ketika dirasa adiknya sudah mulai tenang, Kyuhyun perlahan melepas pelukannya. Lembut, Kyuhyun mengusap wajah Seohyun dan menyeka air matanya.

"Hhh... sudah lebih tenang, sekarang?" Sambil merapihkan rambut Seohyun. Seohyun hanya mengangguk pelan.

"Aigoo... kau membuatku takut, Seo Joohyun. Aku fikir kau kesakitan karena penyakitmu. Hhhh...." Kyuhyun terlihat sedikit lega.

"Dan tentang Yonghwa... maukah kau menceritakannya padaku? Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian? Aku mendengar beberapa hal dari Taeyeon Ssi, tapi.. rasanya aku ingin mendengarnya sendiri darimu. Ceritakan padaku, Joohyun ah.. agar aku bisa menolongmu."

Akhirnya, Seohyun menceritakan segalanya. Ya.. segalanya. Mulai dari awal pertemuan mereka, siapa itu Kim Hyunna, tentang Jung Yongdo, hingga kini.. masalah yang sedang mereka hadapi karena keputusan Yonghwa untuk meninggalkan Hyunna dan memilih untuk bersamanya. Seohyun menceritakan segalanya pada Kyuhyun, tentang arti keberadaan seorang Jung Yonghwa dalam dunia kecilnya. Saat dia merasa tidak memiliki seorangpun untuk dia rindukan, untuk dia jadikan alasan untuk tetap hidup, Jung Yonghwa datang dan memberinya semua rasa itu. Dan kini, sesuatu memaksanya untuk melepaskannya begitu saja? Bagaimana bisa? Haruskah Jung Yonghwa juga direnggut dari hidupnya? Kehilangan lagi? Menderita lagi? Kesepian lagi? Bagaimana bisa? Fikirnya.

Mendengar semua yang adiknya katakan, Kyuhyun kembali menarik tubuh Seohyun dan memeluknya.

"Hhhh.. Seo Joohyun! Uri Joohyuni jinjja!" Kyuhyun melepaskan pelukan itu lagi, lalu kembali menatap Seohyun dengan lembut.

"Geok cheongma! Semua pasti akan terlalui, Joohyun ah! Kau tidak sendiri. Aku akan selalu mendukungmu dan semampuku membantumu apapun itu. Dan tentang Jung Yonghwa.. aku harap kau fikirkan semua itu dengan fikiran yang tenang. Jangan tergesa dan terintimidasi dengan apa yang perempuan itu katakan. Kau tunggu saja dia. Yonghwa mungkin saat ini sedang berada dalam keadaan dimana ketangguhannya sebagai seorang lelaki sedang benar-benar diuji. Doakan saja dia. Aku yakin, keputusannya untuk tetap bersamamu adalah keputusan yang bisa dia pertanggung jawabkan. Jadi apapun yang kini dihadapinya, Yonghwa pasti akan berjuang sungguh-sungguh. Kau tenang saja. Tidak akan ada siapapun yang menyesali keputusannya. Baik itu dirimu, orang tuanya dan Yonghwa sendiri.

He chose you, Seo Joohyun! Dia memilihmu karena dia yakin bahwa kau adalah bagian terpenting yang harus ada dalam hidupnya. Geurigo.. geunyang gidari ah! Tunggu hingga dia menghubungimu."

Kata-kata Kyuhyun itu, sedikitnya berhasil membuat Seohyun merasa lebih tenang. Ya, Seohyun mungkin hanya terguncang dengan tekanan yang Kim Hyunna katakan padanya. Atau memang dia tertekan oleh fikirannya sendiri. Saat ini, Seohyun hanya akan menunggu Yonghwa.

*****

Hari transplantasi pun tiba...

"Semua sudah siap? Baiklah... Joohyun ah.. percayalah, semua akan baik-baik saja. Untuk memutuskan menerima pencangkokan sumsum tulang ini, aku benar-benar berterima kasih padamu. Kau memang gadis yang luar biasa. Aku tahu, Yonghwa tak akan jatuh cinta pada gadis yang salah. Kau tenang saja. Shim Changmin Euisan-Nim dan dokter-dokter yang akan melakukan prosedur transplantasi padamu hari ini, mereka akan melakukan yang terbaik." Kim Taeyeon memberi pelukan hangatnya pada Seohyun. Shim Changmin, dan beberapa dokter bedah juga anastesi juga sudah berbaris di ruang operasi dengan pakaian khusus mereka.

"Aku dan Kyuhyun Ssi akan menunggumu diluar. Suho Ssi dan Hyeyeon Ssi juga. Kau tenang saja, okay?" Sekali lagi, Taeyeon mengusap kepala Seohyun.

"Nde, Eonnie. Gomawoyo. Untuk semua yang sudah kalian lakukan untukku, neomu neomu kamsahaeyo."

"Sokay, Baby..! Tapi.. apa kau yakin tidak ingin menghubungi Yonghwa dulu?" Seohyun menundukkan wajahnya usai mendengar pertanyaan itu. Entahlah, dia sendiri tak tahu harus bagaimana.

"Najunghae, Eonnie. Setelah operasinya berjalan lancar, aku akan menghubunginya. Saat ini, aku takut justru hanya akan membuatnya khawatir."

"Arraso. Come, give me another hug!" Taeyeon memeluknya sekali lagi.

"Seo Joohyun, Fighting!!"

"Gomawoyo, Eonnie. Ah... bila Kyuhyun Oppa datang, tolong katakan padanya, bahwa aku sangat berterima kasih. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya untuk membalas semua kebaikan yang sudah dia lakukan untukku. He's like an angel for me. Eonni do!"

Mata kedua gadis itu berkaca-kaca. Seohyun tidak melihat Kyuhyun sejak pagi, hingga kini dia sudah memasuki ruang operasi. Taeyeon bilang, Kyuhyun harus menghadiri meeting penting pagi ini dan akan datang siang nanti. Andai Seohyun tahu, lelaki itu kini sudah terbaring diruang sebelahnya dan bersiap untuk mendonorkan sumsum tulangnya untuk Seohyun. Kyuhyun mendengar kata-kata adiknya tadi hingga membuat air matanya menitik ditengah senyum harunya.

"Geurae. Akan aku sampaikan. Aku yakin, Kyuhyun Ssi pasti tahu bahwa kau sangat berterima kasih padanya. Tapi sebaiknya, kau katakan sendiri padanya usai operasimu nanti. Okay?"

Lalu, Taeyeon pun meninggalkan ruang bedah dan mempercayakan semuanya pada dr. Shim dan tim nya. Sebelum meninggalkan departemen bedah, Taeyeon masuk ke ruang sebelah terlebih dahulu. Dan dia menemukan Kyuhyun terbaring sendiri, menunggu para dokter bedah untuk membawanya ke ruang yang sama dengan Seohyun. Saat ini, Seohyun mungkin sudah mulai terpengaruh oleh anastesinya. Beberapa menit kemudian, giliran Kyuhyun.

"Hai... kau gugup?" Sapa Taeyeon dari pintu masuk.

"Sedikit. Lebih dari itu, aku sangat bahagia." Kyuhyun tersenyum teduh. Taeyeon berjalan mendekati tempat tidur dimana Kyuhyun berbaring, kemudian berdiri disampingnya.

"Kau mendengar apa yang adikmu katakan tadi?"

"Hhm.."

"Aku harap, setelah transplantasi ini berjalan lancar, kau bisa mengatakan kebenarannya pada Seohyun tentang siapa dirimu sebenarnya." Kyuhyun tersenyum tipis.

"Semoga. Butuh keberanian besar untuk melakukan itu, kau tahu?"

"Ara! Dan aku yakin.. kau adalah lelaki pemberani."

Lalu tanpa diduga, Kim Taeyeon mendekatkan wajahnya kearah Kyuhyun dan memberinya sebuah kecupan dibibir. Semua itu terjadi amat cepat, hingga Kyuhyun tidak sempat mempersiapkan diri ataupun membalasnya. Matanya terbelalak setelah apa yang baru saja dia terima.

"Good luck, Kyuhyun Oppa! Bila kau ingin penjelasan untuk ciuman tadi, lakukan operasinya dengan baik. Aku menunggu kalian diluar." Taeyeon merekahkan senyum terakhirnya sebelum dia memutar tubuhnya untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Tapi tangannya tertahan. Kyuhyun menggenggam pergelangam tangannya lalu memberinya satu senyuman teduh lagi.

"Gomawo...Taeyeon ah! Geurigo... gidari ah!"

*****

1 jam berlalu sejak kakak beradik itu keluar dari ruang operasi. Keduanya terbaring bersebelahan  di ruang NICU untuk proses pemulihan anastesi dan hanya dibatasi sebuah tirai putih. Kyuhyun terbangun lebih dulu, sementara Seohyun masih tak sadarkan diri usai terapi radiasi yang diberikan padanya.

Saat Kyuhyun membuka kedua matanya, dia langsung mendapati Kim Taeyeon dan juga Tn. Seo sudah berada disampingnya. Ya, Tn. Seo memang sudah berada di ruang tunggu sejak awal Seohyun memasukinya, hingga kini. Namun lelaki itu masih tidak berani menunjukkan dirinya dihadapan Seohyun secara langsung.

"Kyuhyun ah, kau sudah bangung?" Tn. Seo langsung menyapanya dengan wajah cemas.

"Joohyunie.. otthaeyo, Ahjussi?" Suaranya masih terdengar lemah karena pengaruh anastesi.

"Semuanya berjalan lancar. Adikmu masih belum bangun usai radiasi yang dia terima. Tapi dokter bilang, semua akan baik-baik saja. Semoga tubuhnya cukup kuat untuk bisa menerima donor darimu sehingga dia bisa menerima segala prosedur pengobatan pencegah kanker." Tn. Seo meraih tangan Kyuhyun, lalu menggengamnya erat dengan kedua tangannya yang gemetar.

"Gomapta, Kyuhyun ah! Aku tidak tahu, bagaimana cara untuk berterima kasih padamu untuk semua ini. Neomu gomapta!" Lelaki paruh baya itu tampak menahan air matanya.

"Tidak perlu berterima kasih, Ahjussi. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Juseohapnida, karena aku datang sangat terlambat. Juseohapnida, karena aku sudah membuat kebahagiaan keluargamu terenggut, Ahjussi.

Ahjussi telah banyak kehilangan dan juga menderita karena kesalah fahaman yang disebabkan oleh Haelmoni. Bila saja aku mendengarmu malam itu dan memberikan sumsum tulangku untuk Eomma... mungkin saat ini kita masih bisa melihatnya. Jeongmal mianhaeyo, Ahjussi... karena kebodohanku mempercayai kata-kata Haelmoni begitu saja, aku sudah membiarkan Eomma-ku pergi dengan begitu menyedihkan dan sangat kesepian. Lalu Joohyun... gadis malang itu harus hidup begitu keras, sementara aku tidak pernah sedikitpun merasa kekurangan.

Juseohapnida, Ahjussi..."

Kyuhyun tersedu lagi. Lelaki itu menangis pilu dalam pelukan Tn. Seo. Lelaki yang dulu sangat dibencinya karena kesalah fahaman yang terlambat dia mengerti.

"Gwaenchanna! Gwaenchanna! Semua sudah berlalu dan sekarang kau tahu semua kebenarannya. Aku yakin, Ibumu.. dia akan mengerti semua ini. Kau hanyalah anak yang tak berdosa dan tak berdaya. Kau pun sama menderitanya seperti Young ah. Selama aku hidup bersamanya, Young ah lebih banyak menghabiskan waktunya di Galeri miliknya. Dia hampir tidak pernah menatap mataku. Pada awalnya, aku tidak mengerti, kenapa istriku sendiri bersikap seperti orang asing padaku. Young ah seperti menjaga jaraknya dariku. Dia tidak pernah membiarkanku masuk kedalam hidupnya sepenuhnya.

Hingga malam itu, saat Young ah jatuh pingsan karena Leukimia yang kami kira sudah sembuh, ternyata kambuh lagi. Aku menemukan sebuah kotak yang menarik perhatianku dilemari ruang kerjanya. Saat aku membukanya, aku menemukan sebuah pakaian bayi dan sepasang kaos kaki bayi. Aku juga menemukan sebuah foto dimana Young ah sedang dirangkul oleh seorang laki-laki. Dibalik foto itu, aku menemukan nama Cho Jangsil yang Young ah tulis dengan tulisan tangannya. Aku juga menemukan sepucuk surat yang membuatku merasa seperti terserap kedalam lorong waktu yang gelap dan mengerikan.

Itu adalah surat dari Appa-mu. Dia mengatakan, putra mereka bernama Cho Kyuhyun. Dan dia hidup dengan baik. Haelmoni-nya sangat menyayangi dia dan dia akan tumbuh menjadi lelaki yang tidak akan pernah kekurangan apapun.

Saat itu... aku benar-benar terpukul. Young ah divonis mengidap leukimia stadium lanjut dan membutuhkan donor yang tepat secepatnya. Belum lagi, biaya transplantasi yang tidak sedikit, aku benar-benar nyaris putus asa. Belum lagi dengan kenyataan tentang keberadaanmu yang tiba-tiba kutemukan. Aku benar-benar kacau saat itu. Aku marah, takut, kecewa, dan tidak tahu harus berbuat apa.

Tapi kemudian, saat aku berfikir lagi, keberadaanmu sedikitnya memberiku titik terang. Young ah membutuhkan donor secepatnya dan aku hanya teringat padamu. Karenanya, malam itu aku datang menemuimu, Kyuhyun ah. Aku hanya ingin menyelamatkan Young ah tak peduli bagaimana pun caranya. Aku akan bekerja lebih keras untuk biaya pengobatannya, aku bahkan rela menggadaikan saham perusahaanku untuk bisa memperoleh uang dengan cepat.

Tapi saat Young ah mengetahui bahwa aku menemuimu, Young ah marah besar. Dia melempar semua barang yang ada diruangan rumah sakit malam itu dan mengusirku pergi. Sejak saat itu, Young ah tidak ingin menemuiku lagi. Satu minggu kemudian, pengacaranya datang padaku, dan memintaku untuk menandatangani surat perceraian kami. Hh.. aku tidak mengerti. Aku benar-benar tidak mengerti.

Terus terang, akupun sangat marah padanya. Aku merasa telah ditipu lalu diperlakukan tidak adil. Aku masih sangat mencintainya bahkan setelah aku ketahui semua masa lalu yang dia sembunyikan dariku. Tapi ternyata, untuk Young ah semua itu terlalu berat dan memalukan. Young ah merasa harga dirinya terluka hingga dia tidak bisa menghadapiku lagi. Karenanya dia memintaku pergi." Tn. Seo menundukkan kepalanya.

"Ahjussi, Joohyun berhak tahu kebenaran ini. Selama ini dia terus menyalahkanmu karena dia fikir kau telah melarikan diri dari mereka. Dia fikir, kaulah yang telah menelantarkan mereka begitu saja."

"Aku tidak sanggup mengatakannya, Kyuhyun ah. Aku tidak sanggup melihat bagaimana wajah anak itu saat dia tahu semua kebenaran ini. Ani ah! Uri Joohyun sudah cukup menderita. Dia sangat mencintai Eomma-nya dan aku tidak ingin kenyataan ini menghancurkan kenangannya tentang Young ah.

Aku rela, gadisku membenciku. Aku memang pantas mendapatkannya. Aku telah gagal menjadi suami yang baik untuk Young ah, dan juga Appa yang baik baginya."

"Ahjussi.. jaega jalmothaeseoyo. Seharusnya aku mencari tahu sendiri dan bukan hanya mendengarkan kata-kata Haelmoni. Aku benar-benar tidak percaya bahwa Haelmoni yang selama ini sangat aku hormati dan aku mencintainya melebihi siapapun, ternyata bisa melakukan hal sekejam itu. Mianhaeyo, Ahjussi..."

"Gwaenchanna, Kyuhyun ah. Kau dan Joohyun sama-sama hanya anak yang tidak berdosa. Semua yang terjadi pada kalian semata karena kami gagal menjadi orang tua yang baik. Sudahlah, saat ini.. yang harus kau lakukan adalah terus menjaga adikmu. Dia satu-satunya keluarga yang kau miliki. Begitupun dirimu untuk Joohyun. Aku bahagia, anak itu tidak harus menjalani hidupnya seorang diri lagi. Dia punya Oppa yang akan melindunginya."

"Animida. Joohyun juga masih punya Ahjussi. Ahjussi, kita sama-sama hadapi ini. Aku yakin, Joohyun akan mengerti. Dan dia juga sangat merindukanmu, Ahjussi. Aku bisa melihatnya."

"Najunghae, Kyuhyun ah. Najunghae. Bukan sekarang. Aku ingin putriku benar-benar sembuh sepenuhnya. Karenanya, aku serahkan dia padamu. Untuk semua biaya transplantasi dan perawatan putriku, geok cheongma.. aku sudah menyelesaikannya dengan rumah sakit ini. Neomu gomapta, Kyuhyun ah!"

"Mwoeyo? Ahjussi.. kenapa kau harus melakuakannya? Biaya rumah sakit ini biar aku saja yang mengurusnya. Ya Tuhan.. perusahaanmu bahkan baru mulai bangkit lagi. Kenapa kau tidak menyerahkan segalanya padaku saja?"

"Aku ini Appa-nya, Kyuhyun ah. Apa yang aku lakukan, hanyalah sebagian kecil yang memang seharusnya dilakukan oleh seorang Appa."

Lalu ditengah percakapan itu, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara seorang suster.

"Omo... Seo Joohyun Ssi.. nona sudah sadar?"

*****

Sementara itu, yang terjadi di Busan pada hari kepulangan Seohyun ke Seoul adalah....

"Hyunna ah, apa kau melihat ponselku?" Yonghwa mondar mandir dari ujung kamar ke ujung yang lainnya sambil mencari ponselnya dengan teliti disemua tempat. Hyunna tidak segera menjawabnya, hingga Yonghwa mulai kelelahan dan nyaris putus asa. Dia sekali lagi bertanya.

"Hyunna ah, apa kau melihat ponselku?" Kali ini Yonghwa menatap perempuan yang masih terbaring setengah duduk di tempat tidurnya. Lagi-lagi Hyunna tidak segera menjawabnya. Untuk beberapa saat, mereka hanya saling menatap.

"Hyunna ah.. jebbal.. apa kau melihat..."

"Aku melihatnya. Bukan hanya itu. Aku juga melihat isinya." Jawab Hyunna dengan expresi datar.

"Kim Hyunna.. apa yang kau..."

"Aku juga membaca pesan darinya." Sekali lagi, perempuan itu menjawab dengan tatapan dingin. Namun kali ini, suaranya terdengar bergetar.

"Mwo? Pesan dari siapa maksudmu?" Yonghwa mulai merasa terganggu.

"Geun yeoja! Perempuan yang sudah merampas segalanya dariku." Suaranya semakin bergetar. Meski expresinya tetap sama, namun matanya mulai berkaca-kaca.

"Kembalikan padaku! Kumohon, Hyunna ah.. kembalilan ponselku!" Intonasi bicara Yonghwa mulai terdengar  tegas.

"Shiro!! Aku tidak akan membiarkanmu membacanya!" Hyunna memalingkan pandangnnya seakan dia mencoba menghindari tatapan Yonghwa yang mulai terasa menyakitkan dan menakutkan untuknya.

"Hyunna ah.. jebbal. Kumohon jangan bersikap seperti ini." Yonghwa kembali melunak. Bagaimanapun, saat itu Hyunna masih sangat lemah baik secara fisik maupun psikis.

"Shiro! Sekali kau membacanya, maka kau akan segera pergi mengejarnya. Kau akan meninggalkanku lagi dan bila itu terjadi maka aku bersumpah padamu bahwa aku tidak ingin hidup lagi!!!!!" Kali ini Hyunna kembali histeris. Perempuan itu meledakkan tangisnya lagi, membuat Yonghwa tak berdaya.

"Aigoo.. Hyunna ah.. jebbal. Aku mohon padamu. Dia pasti menungguku dan mengkhawatirkanku. Setidaknya ijinkan aku untuk menghubunginya dan memberi kabar padanya bahwa aku baik-baik saja. Jebbal... jangan lakukan itu. Kumohon.. sebentar saja..." Yonghwa benar-benar mengiba. Wajah Seohyun-nya tergambar semakin jelas dalam fikirannya. Rindu? Jangan ditanya lagi. Jika saja hatinya cukup kuat untuk membawa kakinya berlari, dia sudah melakukannya sejak awal.

Hyunna menggeleng-gelengkan kepalanya dalam sisa tangisnya. Seolah apapun yang terjadi, dia tidak akan pernah mengembalikan ponsel milik Yonghwa.

"Kim Hyunna..."

"SHIRO!! NA RAGO SHIROOOOO!!!" Hyunna menjerit lebih histeris membuat Yonghwa semakin panik hingga para suster pun berdatangan ke ruangan itu. Yonghwa tertegun mematung dengan mata terbelalak ditempatnya berdiri. Bukan main terkejutnya dia.

"Omona.. Hyunna ah!! Uri ddal.. moseumniri ah?? Apa yang terjadi, Aga ah? YAK.. JUNG YONGHWA!! APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA PUTRIKU???!!!" Ny. Kim juga datang dengan pakaian rumah sakit yang masih dia kenakan. Perempuan paruh baya itu langsung memeluk putrinya yang masih menangis histeris. Lalu Tn. Kim yang kala itu kebetulan baru datang untuk menjenguk istri dan putrinya pun tak luput dari kepanikan itu.

"Moseumniri ah?!" Nada suaranya terdengar amat tegas menggema.

"A.. abonim.. jaega..." Yonghwa tiba-tiba merasa terhimpit. Terjebak. Tertekan oleh situasi yang Hyunna ciptakan. Perempuan itu berhasil membuat Yonghwa menjadi tokoh antagonis nya siang itu.

"Neoneun..!!!" Tn. Kim mengarahkan telunjuknya kearah Yonghwa dengan tatapan menyala.

"Kali ini.. apa yang sudah kau lakukan pada putriku?!"

"Animida, Abonim.. jaega geunyang... Hyunna..." Situasi itu benar-benar membuatnya gila. Bahkan kejadian sesederhana itupun, Yonghwa kesulitan untuk menjelaskannya.

Tapi.. bukankah Tuhan selalu berpihak pada orang yang baik? Bukan! Tuhan selalu menolong orang yang benar. Begitupun saat itu, ketika ponsel Yonghwa tiba-tiba berdering dibawah bantal Hyunna. Semua mata langsung tertuju pada gadis itu. Hyunna mulai panik. Tubuhnya gusar menghadapi tatapan-tatapan penuh tanya itu.

"Ponselku..." Lirih, kata itu keluar dalam sisa tenaganya. Jiwanya benar-benar dipenghujung rasa lelah. Ingin sekali Yonghwa menjerit sekerasnya mengalahkan jeritan Hyunna tadi agar seisi dunia tahu dialah yang  sesungguhnya sedang terdera. Tn. Kim langsung menanyai putrinya tentang apa yang sebenarnya terjadi.

"Katakan padaku, Hyunna ah... mengapa ponsel miliknya ada padamu?" Tn. Kim menatap putrinya dengan tajam, membuat Hyunna sedikit tersentak.

"A.. Appa! Igae... igae..." Perempuan itu pasti sangat kebingungan menjelaskan apa yang terjadi pada ayahnya. Itulah yang beberapa saat yang lalu Yonghwa rasakan. Ponsel itu terus berbunyi hingga membuat Hyunna dan juga Tn. Kim semakin panik.

"Anak ini.. benar-benar!!! Kembalikan ponselnya!" Tn. Kim seolah lupa, bila putri tunggalnya baru saja sadarkan diri dan melewati masa kritisnya.

"Ap..pa..."

"KEMBALIKAN SEKARANG JUGA!!!" Semua yang berada disana benar-benar tersentak dengan teriakan Tn. Kim. Karena Hyunna tidak kunjung memberikannya, maka Tn. Kim dengan paksa mengambilnya dari bawah bantal Hyunna. Tentu saja Hyunna kembali histeris karena perlakuan ayahnya itu. Ny. Kim tidak kalah histeris membela putrinya dari sikap Tn. Kim.

"Geumanhae, Kim Sukjin!! Apa kau tidak melihat?! Putrimu ini baru saja kembali dari kematian! Kenapa kau tega melakukan ini?!!"

"Ini.. sikapmu ini yang membuat anak ini menjadi anak yang manja. Kim Hyunna, apa kau tidak punya harga diri, huh? Untuk apa kau melakukan hal murahan seperti ini? Kau ini putriku! Semua milikku akan menjadi milikmu! Untuk apa kau terus merendahkan dirimu demi dia?! Memalukan!!"

"Kim Sukjin!!!"

"Diam kau!! Kau hanya bisa merengek dan berteriak membelanya. Saat anak ini membuat masalah, akulah yang harus menyelesaikan semua kekacauan yang dia sebabkan. Dan apa? Bunuh diri? Hah!! Lebih baik sekalian saja kau bunuh aku, Hyunna ah!"

Kali ini, baik Ny. Kim maupun Hyunna, tak satupun dari mereka yang membantah kata-kata Tn. Kim. Keduanya hanya menangis dipelukan masing-masing. Tn. Kim lalu berbalik menatap Yonghwa yang kala itu masih mematung ditempatnya berdiri. Perlahan, dia berjalan mendekati Yonghwa.

"Putriku menjerit karena benda ini, bukan?" Tn. Kim menyodorkan ponsel itu pada Yonghwa.

"Ambilah! Dan pergilah dari sini! Aku tidak ingin melihatmu muncul dihadapan putriku lagi!"

"Appa...!"

"Diam kau, Hyunna!"

"Abonim..."

"Berhenti memanggilku seperti itu! Karena kau bukan lagi siapa-siapa untukku. Kau.. hanya putra dari seseorang yang akan segera bangkrut dan harus menyelesaikan kasus hukumnya. Tsk.. beruntungnya ayahmu memiliki putra sepertimu, Jung Yonghwa." Tn. Kim menatapnya sinis.

"Appa.... bila kau membiarkannya pergi, maka aku benar-benar akan mati!!!"

"Maka mati saja kau!! Mati saja sesukamu bila kau memang menginginkannya!!"

"Yeobo!!!"

"Jung Yonghwa, dengarkan aku baik-baik. Ini adalah terakhir kalinya aku akan mengatakan ini padamu. Lusa, adalah hari dimana aku akan mengumumkan keputusanku di hadapan rapat pemegang saham. Kau tahu kan, apa artinya itu?"

"Abo.. A.. Ahjussi.. saya mohon, tolong fikirkan lagi..."

"Dengarkan aku dulu! Aku belum selesai berbicara! Jung Yonghwa, aku katakan terakhir kali padamu. Kau.. masih punya kesempatan untuk menolong Appa-mu. Kau.. masih bisa merubah keputusanku. Kau.. pasti tahu apa yang harus kau lakukan untuk itu, bukan?" Tn. Kim menatapnya semakin tajam. Yonghwa semakin tersudut. Lagi-lagi dia dipaksa berdiri diantara dua sisi jurang. Kemanapun dia melompat, dia tetap akan mati.

"Sekarang pergilah! Dan kau bisa kembali lagi kesini dengan keputusanmu!"

*****

Yonghwa meninggalkan ruangan itu seperti yang dikatakan Tn. Kim. Beberapa saat, dia menggunakan waktunya untuk menenangkan diri. Dia segera mecari pesan terakhir dari Seohyun yang tadi sempat Hyunna katakan.

From : My Sunset
'Aku pergi, Oppa. Jaga dirimu baik-baik. Maaf, aku tidak menemuimu lebih dulu, karena aku tahu, aku tidak mungkin bisa melakukannya. Geok cheongma, aku akan baik-baik saja.'

Seketika, kedua kakinya terasa lemas. Bagaimana mungkin dia sampai melupakannya? Kedua tangannya dia gunakan untuk mengusap wajahnya dengan frustasi. Bila saja dia tidak sedang berada diruang publik, maka dia sudah menangis meraung-raung. Dunia ini sudah mempermainkannya begitu jauh.

Dengan sisa kekuatan hatinya, Yonghwa men-dial nomor Seohyun. Tapi dia hanya mendapati voice mailnya saja. Gadisnya saat itu pasti sudah berada dalam pesawat. Dia terlambat. Sangat terlambat.

"Shit!!!" Yonghwa menghantam sebuah pilar dikoridor rumah sakit dengan kepalan tangannya, hingga tangannya ruam dan nyaris berdarah. Beberapa orang disana sempat melirik kearahnya untuk perbuatan yang baru saja dia lakukan.

Sekali lagi, Yonghwa mencoba menghubunginya. Dan lagi-lagi voice mail yang menjawabnya.

"Joohyun ah.. saat ini kau pasti sudah dalam pesawatmu. Ya Tuhan.. bodohnya aku!" Yonghwa menengadahkan kepalanya sambil menjambak separuh rambutnya. Lelaki itu benar-benar putus asa.

"Mianhae, Hyun..! Jeongmal mianhae. Aku tidak sempat melihat ponselku, hingga aku terlambat membaca pesanmu. Aku benar-benar....." Suaranya nyaris tercekat.

"Hhh... apapun yang akan aku katakan padamu, pasti hanya terdengar sebagai sebuah excuse untuk semua kesalahanku. Jebbal mianhae, Joohyun ah...
God... rasanya aku benar-benar ingin menangis..." Air mata sudah menggumpal disudut matanya, yang kemudian segera dia usap dengan cepat.

"Joohyun ah, jebbal.. begitu kau mendengar pesanku ini, hubungin aku segera. Hhm?" Yonghwa segera menutupnya. Bila dia teruskan lagi, dia takut mungkin dia tak akan sanggup membendung tangisnya.

Lelaki itu menyandarkan keningnya kesalah satu pilar koridor. Dia berusaha untuk menetralisir emosi dalam dadanya dan kembali menenangkan diri. Dia harus berfikir jernih. Dia harus berfikir jernih!! Saat ini, bukan waktunya untuk menjadi lemah atau menyerah. Terlebih setelah dia mendengar kabar dari Jonghyun bahwa sudah dipastikan jabatan Komisaris akan berpindah ketangan Hong Sajang atas dukungan Tn. Kim. Appa-nya tampaknya sudah menyerah. Dia tidak lagi melakukan lobi pada siapun lagi dan lebih memilih untuk menghabiskan hari-harinya bersama Eomma-nya.

"Andwe! Semua tidak bisa seperti ini! Semua tidak boleh seperti ini! Aku tidak rela..." Gumamnya.

Yonghwa merapihkan dirinya. Hatinya sedikit lebih tenang kali ini. Entah keputusan ini benar atau tidak, yang pasti... dia tidak akan menyerah. Dengan sisa keberaniannya, Yonghwa kembali ke ruangan Hyunna.

Semua mata langsung tertuju padanya saat dia memasuki ruangan itu. Terlebih Tn. Kim. Perlahan, Yonghwa menghampiri mereka.

"Ahjussi... saya sudah memikirkannya. Entah keputusan ini benar atau tidak... entah semua itu sesuai dengan keinginanmu atau tidak tapi....." Yonghwa menundukkan kepalanya sejenak.

"Saya akan memikirkan kembali tentang rencana pernikahan itu. Tapi saat ini.. saya tidak bisa memutuskan apapun. Saat ini, dalam fikiran saya terlalu banyak masalah yang berkecamuk. Saya tidak bisa berfikir jernih. Apa yang terjadi pada Hyunna adalah pukulan besar bagi saya dan saya merasa bahwa saya harus menyelesaikan masalah ini antara saya dan Hyunna dulu.

Tolong beri kami waktu, Ahjussi. Saya mohon, tolong jangan libatkan Appa dalam masalah ini. Sebagai laki-laki, saya akan bertanggung jawab untuk masalah ini dengan kekuatan saya sendiri. Saya mohon.. beri saya waktu...."

Tn. Kim dan istrinya hanya terdiam mendengar ungkapan Yonghwa. Namun Hyunna, senyum diwajahnya seketika kembali usai mendengar semua itu. Harapan hidupnya seolah telah kembali. Meski Yonghwa tidak berjanji untuk kembali padanya, tapi setidaknya dia bilang bahwa dia ingin mencoba memperbaiki segalanya. Setidaknya, saat ini kesempatan yang dia miliki sama besarnya dengan apa yang Seohyun miliki.

Melihat senyuman merekah diwajah putrinya, Tn. Kim akhirnya berbicara.

"Geurae. Kita lihat.. apa yang bisa kau lakukan untuk merubah keputusanku. Untuk saat ini, aku akan menunda perang ini. Tapi ingat, Jung Yonghwa! Sekali saja kau membuat kesalahan, maka kupastikan.. bukan hanya perusahaan ayahmu yang akan hilang dari kalian. Tapi juga martabat dan kehormatan keluarga kalian bisa kuhancurkan. Ingat itu baik-baik!" Pria setengah baya itu menyorotkan tatapan tajam. Yonghwa menanggapinya dengan rasa lega. Dengan serta merta, dia menundukan badannya dan mengucapkan terima kasih berulang kali. Hingga akhirnya Tn. Kim dan istrinya pergi meninggalkan nya dan Hyunna sendiri.

"Gomawo, Yonghwa ah. Gomawo..." Lirih.. Hyunna mengatakan itu dengan wajah harunya.

"Hhh... istirahatlah. Hari ini kau baru saja sadarkan diri, tapi kau langsung melakukan banyak hal yang menguras tenaga dan fikiranmu. Saat ini, yang harus kau lakukan adalah kembali sehat seperti dulu. Baru kita bicara tentang kita." Hyunna masih merasakan tatapan Yonghwa begitu dingin padanya. Tapi dia tidak peduli. Yang terpenting baginya, Yonghwa bersamanya saat ini.

"Aku akan mandi dulu. Setelah itu, aku akan menemui dr. Han untuk menanyakan tentang perkembanganmu."

Dengan begitu, Yonghwa pun meninggalkan Hyunna ditempat tidurnya. Lagi-lagi lelaki itu melakukan kebodohan yang sama dengan meninggalkan jaketnya di sofa. Dan ponselnya berada disaku jaket itu.


Kim Jaejeong 
"I'll Protect You"


I can’t look at you even when I have my eyes open
I can’t find your heart which has become cloudy amongst the worn out memories
I can’t do more because I’m tied and cried too much
No matter how much I think, I think I’ll be okay when if I see you

I want to protect you…
even your bad habits make me smile when I’m tired
Although it may be difficult,
I’m going to say that I love you until the day you first come into my arms

I can’t smile, I can’t remember even when I smile
today also feels like it may disappear like a dream when I open my eyes
Even when I see you, I feel like you aren’t with me
I guess I’m still awkward at expressing my feelings… to love you

I want to protect you… even your bad habits make me smile when I’m tired
Although it may be difficult, I’m going to say that I love you until the day you first come into my arms
Will you become happy when you leave me to find a different warmth?
Even so I can’t let you go baby
It’s going to hurt even more than dying

I love you.. more than anyone… no, I’m next to you
I’m holding your hand
I can’t give you to anyone else’s arms
my heart cannot let you go…why




Author Note :
Tadinya... ga akan update dulu, karena nunggu chapter 27 dan 28 nya kelar. Tapi beberapa Goguma dah pada maen teror aja deh! Ya udin... aku update dulu 2 chapters ini dengan resiko yang kalian tanggung sendiri yah...

Thank you for keep reading my story.. ^^

Happy 6th Anniversary for Us... Goguma-deul...
YongSeo Fighting!!!

















 

In Time With You Chapter 25



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8




Chapter 25

Confusing

"Tn. Muda... anda harus segera ke rumah sakit sekarang." Suara kepala pelayan dirumah itu tiba-tiba memecah heningnya malam. Seohyun dan Yonghwa keduanya terhenyak bukan main. Tentu saja, hanya beberapa detik berselang setelah Yonghwa melepaskan bibir kekasihnya, tiba-tiba orang itu datang tanpa aba-aba.

"Mwoeyo? Moseumniriseyo?" Yonghwa menatap panik kearah pelayannya.

"Kim Hyunna Agassi, beliau sedang kritis saat ini. Baru saja paman anda dr. Kim menelepon Tuan Besar dan mengabarkan bahwa Kim Hyunna Agassi melakukan percobaan bunuh diri dan saat ini sedang menjalani operasi." Wajah keduanya seketika kehilangan rona. Tak satupun yang berbicara ataupun  bereaksi. Baik Yonghwa, maupun Seohyun, keduanya terpaku tak percaya.

"Tuan Muda, sepertinya anda harus segera ke rumah sakit sekarang juga. Tuan dan Nyonya Jung pun sepertinya sedang bersiap-siap." Kata-kata pelayannya seolah menarik kembali kesadaran mereka. Yonghwa menoleh kearah Seohyun disampingnya, lalu melihat gadisnya menganggukkan kepalanya, sebagai isyarat bahwa dia mengijinkan Yonghwa untuk pergi dan dia akan baik-baik saja.

"Aku akan segera kembali, Sayang. Kau tunggu dirumah yah." Yonghwa mengusap lembut wajah pucat Seohyun.

"Araso, Oppa. Hati-hati dijalan. Kabari aku jika ada apa-apa." Yonghwa mengaggukkan kepalanya.

"Masuklah! Jangan sampah Joohyun-ku juga sakit lagi. Aku tidak ingin Taeyeon Noona mencerewetiku karena itu." Lalu Yonghwa bergegas mengikuti langkah pelayannya usai mengecup singkat kening gadisnya.

Seohyun menatap punggung Yonghwa yang kian menjauh, lalu menghilang dibalik pintu. 'Tuhan... apalagi yang harus aku hadapi sekarang?' Batinnya.

*****

Rumah sakit

Begitu memasuki koridor ruang tunggu operasi, Yonghwa langsung menemukan Tn. Kim yang sedang menenangkan istrinya yang kala itu masih menangis setengah histeris. Lalu tangis Ny. Kim terhenti seketika saat dia melihat Yonghwa dan orang tuanya datang malam itu. Wanita itu menatap tajam kearah keluarga Jung seperti induk singa yang siap menerkam orang-orang yang sudah menyakiti putrinya. Benar saja. Tidak menunggu lama, wanita itu kembali menggila dengan berlari menghampiri Yonghwa lalu dengan keras menampar wajahnya. Ny. Jung hanya bisa melihatnya dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Bahkan satu jaripun tidak pernah dia layangkan ketubuh putranya, tapi kali ini dia harus rela melihatnya ditampar orang lain. Tentu saja, sebagai seorang ibu, dia ingin membelanya, melindunginya dari semua itu. Tapi dia sadar, putranya memang bersalah dalam hal ini. Yonghwa-nya, harus siap menerima yang lebih buruk dari itu sekalipun.

"Apa yang kau lakukan disini, Napeun Saekie ah?!! PERGI KAU DARI SINI DAN JANGAN PERNAH MENDEKATI PUTRIKU LAGI!!!!" Ny. Kim berteriak histeris hingga harus ditenangkan oleh suami dan beberapa asisten kepercayaan keluarga mereka. Yonghwa dan kedua orang tuanya tidak mampu melakukan apa-apa selain menundukan kepala mereka penuh penyesalan.

"Juseohamnida, Eommonim. Jaega jalmothaeseumnida." Lirih, kalimat itu mengalun dari mulutnya yang kelu.

"Maja!! Semua yang tragedi terjadi pada putriku adalah kesalahanmu, bajingan! Kau yang menghancurkan hidupnya! Kau yang telah merenggut senyuman dari wajahnya!! Kaulah sumber penderitaan itu!!!!" Ny. Kim masih histeris sambil menunjuk-nunjukan telunjuknya ke wajah Yonghwa.

"Apa salah putriku padamu, huh? Saat kau membunuh calon suaminya, dia nyaris kehilangan hidupnya juga! Dan kini? Lihat....! Lihat apa yang sudah kau lakukan padanya!!! KAU MENCOBA MEMBUNUHNYA SEKALI LAGI, HUH????!!!"

"Yeobo, tenagkan dirimu!" Tn. Kim sekuat tenaga menahan tubuh istrinya yang sedang murka.

"Bila sampai terjadi apa-apa pada putriku, AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHMU, SAEKI AH!!!"

Beban itu terasa menghimpit dadanya. Yonghwa bahkan tak mampu menengadahkan kepalanya. Lelaki itu tertunduk pilu. Luka-luka masa lalu yang dia fikir telah sembuh sepenuhnya, nyatanya masih bersarang dalam hatinya.

Sekali lagi, Yonghwa menghakimi dirinya lagi. Dia merasa, semua yang dikatakan Ny. Kim memang benar adanya. Kim Hyunna, gadis yang manis, polos, cantik dan cerdas itu harus menderita karena semua kebodohan yang dia lakukan. Hyunna sama sekali tidak bersalah. Tapi gadis itu harus menjadi satu-satunya yang paling tidak bahagia ditengah tragedi itu. Dan semua itu karena kesalahannya.

"Kim Sajang-nim, saya benar-benar menyesal dengan apa yang terjadi. Saya tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Hyunna, benar-benar sudah seperti anak saya sendiri. Saya benar-benar minta maaf. Jeongmal juseohamnida, Kim Sajangnim." Tn. Jung menundukan kepalanya dengan penuh kerendahan hati. Tapi lagi-lagi, Ny. Kim lah yang bereaksi.

"Mwo? Menyesal katamu? Anakku kau anggap seperti putrimu sendiri? Hahahah!!! Kau bercanda denganku, huh? Lihat...!! Lihat lampu ruang operasi itu!! Disana.. di dalam sana... putriku satu-satunya sedang meregang nyawa untuk yang kedua kalinya. Dan kau tahu semua itu karena siapa? 

SEMUA ITU KARENA ANAK BUSUKMU YANG SUDAH MERENGGUT SEGALANYA DARI HIDUPNYA!"

"Yeobo, jebbal..." Tn. Kim sekali lagi berusaha menahan luapan amarah istrinya.

"Jung Sajang, kita sebaiknya membicarakan ini nanti. Aku tidak ingin kehadiran kalian membuat istriku semakin tertekan. Pergilah! Kita akan bertemu pada rapat direksi nanti." Lelaki setengah baya itu tampak sangat lelah dan terpukul dengan apa yang terjadi pada putrinya. Meski dia ingin meledakkan emosinya, tapi dia sudah cukup kehilangan energi dengan tragedi yang terulang dalam keluarganya.

"Nde, algaeseupnida. Hhh.. sekali lagi, kami minta maaf, Kim Sajang-nim. Saya benar-benar berdoa, semoga Hyunna bisa melewati semua ini dan Tuhan menyelamatkannya."

"Geurea. Semoga saja doamu didengar. Karena bila sampai putriku tidak selamat, aku bersumpah, akupun tidak akan pernah hidup tenang sebelum aku melihat keluargamu hancur sehancur-hancurnya!!" Suara Tn. Kim terdengar lemah dan lirih, namun penuh penekanan dalam mengucapkannya.

"Algaeseupnida. Geuromyo, kami pamit, Kim Sajangnim." Tn. Jung membungkukan tubuhnya, diikuti oleh istrinya.

"Aku akan menunggu disini, Aboji." Yonghwa menatap ayahnya. Dan Ny. Kim kembali meradang.

"Andwe!! Siapa yang memberimu ijin? Jangan pernah berani menampakan wajahmu dihadapanku lagi, kecuali kau benar-benar ingin aku membunuhmu!!!"

"Jaega jalmothaeseumnida, Eommonim. Saya sadar, kesalahan saya tidak bisa terbayar oleh apapun. Tapi.. saya benar-benar minta maaf. Tolong ijinkan saya untuk tetap disini. Bila sesuatu terjadi pada Hyunna, sayapun tidak akan mampu mengampuni diri saya seumur hidup. Jebbalyo, Eommonim..." Suaranya bergetar. Nyaris tercekat. Dirinya seperti berdiri didepan pintu penghakiman yang sama seperti yang dia alami 6 tahun lalu. Kejadian demi kejadian berputar dalam kepalanya seperti penggalan film. Masa lalu kembali terasa sangat menakutkan.

"Lalu.. apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Huh? Apa gunanya kau menunggu disini bila saat putriku terbangun nanti, kau akan pergi mencampakkannya lagi? Pada akhirnya, kau akan membuatnya semakin menderita, Jung Yonghwa! Geuronika, jebbal... tinggalkan putriku dan jangan pernah kembali dalam hidupnya! Apa salahnya padamu hingga dia harus menerima perlakuan seperti ini darimu? Apa kesalahan Hyunna-ku sebenarnya?" Tubuh Ny. Kim ambruk diatas lantai dengan ratapan sendu yang mengiris hati. Wanita itu tidak lagi meledakkan emosinya, melainkan kali ini dia menangis pilu. Tn. Kim hanya mampu berdiri menahan kesedihannya.

Yonghwa semakin tertunduk. Ny. Kim benar. Setelah semua ini berlalu, apa yang akan dia lakukan? Apa yang harus dia lakukan untuk menyelesaikan semua kemelut itu? Apa yang harus dia lakukan pada Hyunna? Pada Seohyun-nya? Semua itu terasa menghimpit dadanya.

2 jam berlalu, akhirnya lampu ruang operasi pun padam. Beberapa menit kemudian, 3 orang dokter keluar dari sana untuk menemui keluarga Hyunna. Dan semua orang yang berada disana akhirnya bisa bernafas lega setelah dokter mengatakan bahwa Hyunna saat ini baik-baik saja dan akan segera dibawa keruang perawatan.

Yonghwa menyandarkan tubuh lemahnya kedinding koridor, hingga tanpa dia sadari, kedua kakinya yang terasa lemas itu benar-benar kehilangan tenaganya dan tergeletak dilantai. Nafasnya masih tersengal dan jantungnya pun masih berpacu kencang.

"Terima kasih, Tuhan.. Kau menyelamatkannya. Terima kasih, telah menyelamatkanku juga." Bisiknya, lirih.

*****

Pagi harinya, Hyunna kemudian dipindahkan ke ruang rawat inap. Eomma-nya selalu berada disampingnya tanpa sedikitpun beranjak dari sana. Tn. Kim sepertinya pulang terlebih dulu untuk mengurus beberapa persiapan meeting hari ini. Pertemuan yang seharusnya Yonghwa pun berada disana menemani Appa-nya.

Yonghwa meninggalkan ruangan Hyunna beberapa saat untuk mencari udara segar dan segelas kopi hangat. Lalu fikirannya teringat pada gadis yang semalam dia tinggalkan dirumahnya. Seohyun-nya. Yonghwa duduk disalah satu kursi kantin kemudian dia mengambil ponselnya dari saku mantel yang dia kenakan. Sesaat, batinnya meragu. Haruskah dia menghubunginya? Lalu mendengar suaranya dengan resiko rasa rindu dalam dadanya bisa meledak seketika, saat dia mendengar suaranya. Yonghwa sadar, begitu dia mendengar suara Seohyun, maka akal sehatnya akan kembali kehilangan fungsi. Dia bisa saja mengabaikan kenyataan yang kini ada didepan matanya, hanya untuk berada disamping gadisnya. Meski itu artinya, dia harus membawanya lari dari planet ini dan meninggalkan segalanya.

Setelah berfikir beberapa waktu, akhirnya.... Yonghwa tak mampu mengalahkan rindunya.

"Hyun... kau sudah bangun?" Yonghwa langsung menyapanya begitu Seohyun menjawab teleponnya.

"Hmm, Oppa. Aku sudah bangun. Bagaimana? Bagaimana keadaan Hyunna Ssi?" Sebetulnya, Seohyun sama sekali tidak bisa memejamkan matanya ditengah kegelisahannya menunggu kabar dari Yonghwa. Semalaman, gadis itu terjaga.

"Ddaengida. Hyunna ijae gwaenchanna. Saat ini dia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dan kami sedang menunggunya untuk sadarkan diri." Yonghwa benar-benar terdengar lelah dan tertekan.

"Ddaengida. Aku benar-benar khawatir, Oppa. Syukurlah."

Beberpa waktu, hening mengisi percakapan mereka.

"Hyun..."

"Hhmm...."

"Mianhae, aku meninggalkanmu seperti itu. Jinjja mianhae, Hyun." Lirih, Seohyun mendengarnya. Kata maaf yang baru saja dia dengar rasanya teramat asing. Meski isi hatinya ingin tahu, apa maksud ungakapan maaf itu, tapi Seohyun mengabaikannya dan memilih untuk tetap tidak tahu. Seketika, ketakutan yang tak beralasan itu berkecamuk dalam dadanya.

"Ani ah. Gwaenchanna, Oppa. Kau tidak perlu mencemaskan aku. Aku disini bersama Eommonim dan juga Abonim. Kau tenang saja disana dan temani dia. Saat ini, dia lebih membutuhkanmu."

Ada rasa sakit didadanya, saat Seohyun harus mengatakan itu. Bagaimanapun dia belajar tentang kebaikan, ketulusan dan budi pekerti, ada kalanya dia hanya ingin menjadi Joohyun yang egois kala itu. Siapa yang rela membagi Yonghwa-nya dengan perempuan lain? Tapi kali ini, Hyunna berbuat curang dengan melakukan kebodohan itu yang membuat dirinya tidak memiliki pilihan lain.

"Geurae. Jaga kesehatanmu sementara aku tak ada, Hyun! Jangan lupa sarapanmu. Dan...." Seohyun bisa mendengar suara Yonghwa yang mulai serak. Sekali lagi, hening tercipta.

"Hyun... doakan aku!" Kalimat itu terdengar begitu rapuh. Begitu tak berdaya dan putus asa hingga membuat batin Seohyun teriris.

"Tentu saja, Oppa. Tanpa harus kau minta, aku akan selalu mendoakanmu. Kau juga jaga dirimu baik-baik."

"Hhm. Jalga.. Joohyun ah." Sebelum Yonghwa memutuskan line telepon nya tapi... satu hal lagi yang dia rasa, dia harus menegaskannya sekali lagi.

"Hyun...."

"Hhm?" Sesaat,  Seohyun hanya bisa mendengar desah nafas Yonghwa malalui speaker ponselnya. Kemudian....

"Saranghae!"

Lirih, kata itu mengalun dari mulutnya. Lelaki yang nyaris frustasi karena tragedi yang seakan tiada henti. Dosa-dosa dan kesalahannya dimasa lalu kembali memburunya. Dan sepertinya tidak akan terhenti selama jantung dalam dadanya masih berdegup dan memberinya kehidupan.

Disebrang sana, Seohyun mengusap air mata yang jatuh tanpa sempat tertahan. Lagi-lagi, kata itu terasa begitu asing baginya. Mianhae, Saranghae, kenapa hari ini kedua kata itu terdengar amat menyakitkan baginya?

"Saranghae, Seo Joohyun. Kau percaya padaku, kan?" Sekali lagi, Yonghwa mengatakannya. Bukan hanya untuk Seohyun,  kata itu juga terasa perih baginya.

"Ara, Oppa. Geok cheongma, kau selesaikan saja urusanmu dulu. Setidaknya, aku tidak ingin hidup dengan rasa bersalahku jika sesuatu yang buruk terjadi padanya. Kau tenang saja. Aku akan menunggumu disini."

Menunggumu. Kalimat itu. Ahh... Yonghwa benar-benar ingin lenyap dan menghilang saja, rasanya.

*****

Di kediaman keluarga Jung, Seohyun masih duduk menyendiri didepan jendela kamarnya usai menutup pembicaraan dengan Yonghwa. Lalu seseorang datang mengetuk pintu.

"Nona, Nyonya memanggil anda untuk sarapan." Salah satu pelayan perempuan muncul dari balik pintu.

"Nde. Algaeseupnida." Seohyun menjawab dengan senyumnya, lalu pelayan itu pun berlalu dari hadapannya.

Seohyun berdiri dan menatap bayang dirinya didepan cermin. Lalu tiba-tiba, kepalanya kembali terasa pusing dan berputar. Dengan mata terpejam, Seohyun berusaha meraih kursi didekatnya dan berpegangan disana. Dan gadis itu mulai merasa ada yang menetes dari hidungnya. Darah segar, mengalir tak terkendali menodai tangan dan bajunya.

"Igae... igae ottokhae? Apalagi ini?" Tangannya yang berlumuran darah tampak gemetar. Rasa takutnya kembali hadir. Tapi Seohyun menguatkan dirinya dan berusaha untuk tidak panik. Dengan sisa tenaganya, Seohyun berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah, tangan, dan mengganti pakaiannya. Syukurlah, beberapa waktu kemudian, pendarahan itu mereda. 

Seohyun menjalani sarapan paginya hanya dengan Ny. Jung. Tn. Jung berangkat lebih pagi untuk meeting hari ini. Ya, mulai hari ini hingga beberapa hari kedepan, akan menjadi saat-saat yang berat baginya. Masa depan Venus Hotel, akan ditentukan oleh bagaimana sikap yang akan diambil Tn. Kim. Dan dengan  apa yang terjadi pada Kim Hyunna, Seohyun sepertinya sudah bisa memprediksi bagaimana perang ini akan berakhir. Dia tidak bisa menghindar dari rasa bersalahnya. Bagaimanapun Yonghwa meyakinkannya, bahwa semua itu bukan karenanya, tetap saja.... andai Yonghwa tak  pernah bertemu dengannya, situasi ini tidak akan pernah terjadi.

*****

Sudah 3 hari berlalu sejak kejadian itu, dan Yonghwa masih belum kembali ke rumahnya. Sepertinya, 'metode' Hyunna benar-benar bekerja, kali ini. Yonghwa hanya mampu sesekali mengabari Seohyun melalui pesan singkat. Dia bahkan tidak meneleponnya sejak yang terakhir kali itu. Dari yang Seohyun dengar, Hyunna hingga kini masih belum sadarkan diri. Dan Yonghwa terpaksa harus selalu berada disisinya karena kesahatan Ny. Kim menurun, hingga membuatnya harus menjalani rawat inap di rumah sakit yang sama.

She miss him. She really miss him. Bisa dia bayangkan, beban yang kini sedang dipikul Yonghwa. Karenanya, meski rasa rindunya terasa seakan nyaris membunuhnya, Seohyun sekuat hati menahan dirinya untuk tidak menghubungi Yonghwa dan menambah berat bebannya.

Bip.. Bip....

Satu pesan masuk di ponselnya.

From : Kyuhyun Oppa
'Waktumu hampir habis, Nona! Segera pulang, atau kukirim satu pasukan khusus ke Busan untuk menjemputmu!'

Seohyun tersenyum membacanya. Hhm... Kyuhyun benar. Tak terasa, satu minggu sudah dirinya berada di Busan.

Bip... Bip...

Satu pesan lagi.

From : Kyuhyun Oppa
'Wae? Apa karena Jung Yonghwa merantaimu, maka kau benar-benar akan tinggal disana dan melupakan janjimu padaku dan Taeyeon Euisan-Nim? Ckckck.... kau memang gadis kecil yang licik, Seo Joohyun!'

Sekali lagi Seohyun tersenyum. Tapi kali ini, senyumnya terasa pahit. Hhh... andai Kyuhyun tahu apa yang dialaminya selama di Busan. Satu minggu ini berlalu begitu saja. Hanya 3 hari, dimana Seohyun bisa bersama Yonghwa dan menikmati kebersamaan mereka sebelum tragedi itu terjadi, dan Yonghwa seperti direnggut darinya hingga hari ini.

To : Kyuhyun Oppa
"Aniyo, Oppa! Aku tahu, aku harus segera kembali ke Seoul. Geok cheongmaseo! Aku sedang mengemasi barang-barangku. Besok aku akan berada di rumah sakit tepat waktu ;)"

From : Kyuhyun Oppa
'Jeongmal? Baguslah kalau begitu. Aku tidak perlu menghabiskan tenaga dan uangku hanya untuk menyeretmu kembali. Ah... dan tentang Novelmu.... aku punya kabar bagus untukmu. Tapi akan aku katakan setibanya kau di Seoul nanti. So... i'll be waiting for you, Princess!'

From : Kyuhyun Oppa
'Tapi... kau baik-baik saja kan, Joohyun ah?'

Seohyun menghembuskan nafas panjang. Entah harus menjawab pertanyaan itu bagaimana. Mana mungkin dia baik-baik saja, sementara hingga saat ini dia masih tidak bisa bertemu dengan Yonghwa? Besok, dia harus kembali ke Seoul dan bersiap-siap untuk transplantasi sumsum tulangnya.

Mana mungkin dia baik-baik saja?!

To : Kyuhyun Oppa
"Geok cheongmaseo, Oppa. Selama disini, aku benar-benar menjaga diriku dengan baik. See you in Seoul, Ahjussi! ^^ "

Waktu berjalan terasa amat lambat. Semua itu menyiksanya. Entah itu kabar dari Tn. Jung maupun dari Yonghwa, hingga kini,  Seohyun masih belum mendengar satupun dengan pasti. Ny. Jung juga sepertinya merasakan kegelisahan yang sama. Diantar supir pribadinya, dia akhirnya pergi menuju Venus Hotel untuk menemui suaminya. Beberapa hari lagi, keputusan final tentang pemilihan komisaris baru akan dilaksanakan. Hingga kini, semua masih abu-abu. Tn. Kim sepertinya sudah bulat untuk merapat ke kubu Tn. Hong. Dan tentu saja, posisi Tn. Jung benar-benar sudah berada ditepi jurang. Hanya berharap sebuah keajaiban kecil terjadi, dan semua akan kembali ketempatnya semula.

Seohyun tidak sanggup duduk diam lagi. Setidaknya, dia harus mendengar sesuatu. Gadis itu setengah berlari meraih mantelnya, lalu bergegas meninggalkan kediaman keluarga Jung dengan menggunakan taxi menuju rumah sakit tempat Kim Hyunna dirawat. Ya, ini adalah hari terakhirnya di Busan sebelum dia kembali lagi ke Seoul besok. Seohyun harus bertemu dengannya. Atau paling tidak, dia ingin melihat bagaimana keadaannya.

Hanya butuh waktu kurang dari 15 menit, taxi yang membawanya pun tiba didepan pintu masuk utama Busan Hospital. Seohyun tahu,  bahwa dia tidak mungkin menanyakan ruangan Hyunna pada recepsionist, karena keluarga Kim pasti merahasiakan apa yang terjadi pada putri mereka dari publik. Karenanya, dia mencoba mencari sendiri.

Lorong demi lorong bagian VVIP, dia telusuri satu persatu. Lalu dia melihat Ny. Kim keluar dari sebuah ruangan ditemani seorang perempuan dengan suit formil. Wanita paruh baya itu tampak lebih tua dari yang terakhir kali Seohyun lihat malam itu. Selang infus masih terhubung ketangannya. Perempuan disampingnya tampak memapah Ny. Kim berjalan sambil memegang tiang infus disampingnya.

Seohyun segera menyembunyikan dirinya dibalik dinding koridor, hingga kedua orang itu melewatinya dan berlalu menjauh. Kemudian perlahan, Seohyun berjalan mendekati kamar tempat Ny. Kim keluar tadi. Kedua wanita itu sepertinya meninggalkan ruangan itu dengan tergesa, hingga pintu ruangan itu tidak tertutup dengan sempurna. Ragu, Seohyun memberanikan dirinya untuk melihat kedalam jendela kecil dipintu ruangan itu.

Dan dia melihatnya. Yonghwa-nya, sedang duduk menundukkan kepalanya disamping sebuah tempat tidur dimana gadis itu terbaring dengan selang infus dan oksigen terhubung ketubuhnya. Seohyun nyaris tidak mengenalinya. Lelaki itu benar-benar tampak berantakan. Lelah, takut dan putus asa tergambar jelas diwajahnya. Kumis dan janggut tipis yang tak sempat dibersihkan diwajah tirusnya, semakin menambah jelas beban hidup yang kini dia pikul. Rasanya ingin sekali Seohyun berlari menerobos pintu itu lalu memeluk punggungnya. Tapi kekuatan tak kasat mata itu seperti belenggu yang merantai tubuhnya untuk tetap menjauh dari lelaki itu.

Dalam rasa tak berdaya, akhirnya Seohyun memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu, usai dia puas menatap Yonghwa dari balik pintu. Setidaknya, dia lebih tenang setelah melihat dengan matanya sendiri, daripada menunggu tanpa kabar dan kepastian dibalik dinding kamarnya. Namun langkahnya terhenti, saat matanya tak sengaja melirik sebuah pergerakan dibalik pintu itu.

Yonghwa bangkit dari tempat duduknya. Seohyun menghentikan langkahnya, lalu kembali ketempatnya berdiri tadi, dan melihat kedalam ruangan itu melalui jendela kecil dipintu.

*****

Yonghwa terperanjat, ketika dia mendapati Hyunna membuka kedua matanya. Hal yang selama berhari-hari dia nantikan, akhirnya... Hyunna terbangun dan sadarkan diri.

"Hyunna ah..! Kim Hyunna? Gwaenchanna? Maanhi appa ah? Huh? Gidari ah, aku akan memanggil dokter." Lelaki itu hendak meraih tombol bel disamping tempat tidur Hyunna, tapi cengkeraman tangan Hyunna menghentikannya.

"Yonghwa ah..." Suara gadis itu terdengar sangat lemah.

"Hhm... naega yeogie.." Yonghwa menatap lembut wajah pucat gadis itu, lalu dia kembali duduk disamping tempat tidur Hyunna sambil tetap menggenggam tangannya.

"Kau... benarkah... kau Jung Yonghwa?" Gadis itu menatap sendu.

"Hhm. Ini aku, Hyunna." Lembut, tangan Yonghwa mengusap kepalanya.

"Jinjja? Apakah aku sudah mati? Atau... aku hanya sedang bermimpi dan melihatmu dalam mimpiku?" Suara lemahnya terdengar semakin pilu.

"Ani ah! Kau masih hidup. Dan kau tidak sedang bermimpi. Ini benar-benar aku, Hyunna. Aku disini. Menunggumu kembali membuka matamu." Lirih, Hyunna mendengar suara lelaki yang dirindukannya itu begitu dekat dengan telinganya. Meski semua masih terasa tak nyata.

"Jinjja? Bukankah... seharusnya aku sudah mati?" Suaranya nyaris berbisik.

"Ani ah! Jebbal.. jangan mengatakan itu. Kau.. kau membuatku takut, Hyunna." Suaranya tercekat. Yonghwa kembali tertunduk pilu.

"Mianhae, Hyunna ah...! Mianhae... naega jalmothaeseo!" Air matanya, satu persatu jatuh tanpa sanggup ditahannya. Rasa lega, juga bahagia bercampur dengan rasa bersalahnya. Tak terbayang, bagaimana dia harus menjalani sisa hidupnya bila Hyunna tidak membuka matanya kembali.

Dari luar, Seohyun bisa melihat dan mendengar semua percakapan mereka dengan jelas. Bahkan kini, gadis itu melihat bahu Yonghwa-nya berguncang disamping perempuan itu.

"Wae, Yonghwa ah? Kenapa kau disini? Kenapa kau menungguku bangun? Kenapa kau harus menangis seperti ini?

Bukankah lebih baik bila aku tak ada lagi dalam hidupmu?"

Kata-kata Hyunna itu semakin mengiris hatinya. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin Yonghwa berharap kematian Hyunna? Dia bukan manusia tanpa hati yang akan mengharapkan sesuatu yang kejam seperti itu.

"Ani ah, Hyunna ah! Bagaimana mungkin aku berfikir seperti itu? Hyunna.. nan jeongmal mianhae! Aku tahu, kesalahanku padamu tidak akan cukup hanya dengan ucapan maaf saja. Aku tidak tahu, bagaimana cara untuk menebus semua kesalahanku padamu. Tapi....

Kim Hyunna, haruskah kau melakukan hal bodoh seperti ini? Wae? Aku ini bahkan hanya sampah tidak berharga. Untuk apa kau menyakiti dirimu sendiri seperti ini? Bila rasa sakit yang kusebabkan padamu begitu banyak, bukankah seharusnya kau coba untuk membunuhku? Bukan membunuh dirimu sendiri!!" Dalam sisa tangisnya, Yonghwa kembali menatap Hyunna.

"Ottokhae, Yonghwa ah? Karena meski seberapa besarnya kebencianku padamu, aku tetap tidak mampu menyakitimu. Ottokhae? Meski aku mencoba mengerti, bahwa saat ini yang bisa membuatmu bahagia bukanlah aku, melainkan gadis itu, tapi aku tidak cukup kuat untuk bisa hidup dengan kenyataan itu." Hyunna pun kini mulai terisak.

"Karenanya... untukku, kematian akan jauh lebih baik. Aku tidak perlu terluka karena kehilanganmu, dan kau.. bisa hidup bahagia dengannya." Mendengar itu, Yonghwa berdiri dari duduknya, lalu menatap Hyunna dengan tajam.

"Neol phabo ah?! Huh?! Kau fikir apa yang kau lakukan ini benar? Kau fikir, dengan kematianmu maka hidupku akan lebih baik? Kim Hyunna... kenapa kau tidak sekalian saja membunuhku, maka semua penderitaan kita akan selesai sampai disitu?!"

Keduanya terdiam, dan hanya saling menatap. Beberapa saat kemudian, Yonghwa menyadari apa yang telah dia lakukan pada gadis yang baru saja kembali sadarkan diri setelah hampir kehilangan nyawanya. Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

"Hyunna ah... jebbal! Apa kau ingin menghukumku dengan satu tragedi lagi dan membuatku gila? Neol..." Yonghwa mengatur ritme nafasnya yang semakin terasa berat. Dia kembali keposisi duduknya, lalu dengan lembut dia mengusap kepala Hyunna sekali lagi.

"Berjanjilah padaku, Hyunna... bahwa kau tidak akan melakukan kebodohan seperti ini lagi!" Yonghwa menatapnya lembut.

"Bila aku berjanji padamu.... bisakah kau juga berjanji padaku, Yonghwa?" Hyunna menatap kedua mata lelaki disampingnya, begitu dalam.

"Hyunna ah..."

"Bila aku berjanji padamu, bahwa aku tidak akan mencoba mengakhiri hidupku lagi, akankah kau berjanji padaku untuk tetap berada disampingku dan tidak akan pernah meninggalkanku lagi?" Isaknya terdengar semakin pilu.

"Kim Hyunna... aku..."

"Berjanjilah, Yonghwa ah! Berjanjilah untuk tetap bersamaku! Karena jika tidak.... aku benar-benar tidak ingin hidup lagi! Lebih baik aku mati daripada aku harus hidup tanpamu!" Tangisan gadis itu pecah, mengisi keheningan ruangan itu. Yonghwa tak mampu menjawabnya. Meski dia tahu apa yang harus dia katakan... Meski dia tahu apa yang dia inginkan... Tapi tidak saat ini! Saat ini, yang terpenting baginya adalah untuk mengembalikan lagi semangat hidup Hyunna dan membuatnya kembali sehat.

Yonghwa meraih tubuh Hyunna, dan memeluknya erat. Gadis itu menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Yonghwa. Dan seseorang... yang menyaksikan semua itu dibalik pintu, juga tak kalah sibuk menyeka air matanya. Pertarungan itu terasa semakin berat baginya. Mampukah dia? Haruskah dia bertahan?

Akhirnya, Seohyun benar-benar melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.

*****

Seohyun tiba dikediaman keluarga Jung tepat saat waktu makan malam akan segera dimulai. Tn. Jung juga sudah duduk ditempatnya ditemani istrinya. Sejak kejadian yang menimpa Hyunna, baru malam ini Tn. Jung bisa kembali menikmati makan malam dikediamannya, karena beberapa hari lalu, dia sibuk melakukan lobi dengan seluruh pemegang saham hingga harus melakukan makan malam diluar.

"Aigoo... uri ddal... waseo?" Ny. Jung menyapa Seohyun yang baru tiba didepan pintu ruang tengah.

"Nde. Anyeong haseo, Abonim. Abonim.. gwaenchanseupnida?"

"Nan gwaenchanna, Joohyun ah! Duduklah! Kami menunggumu untuk makan malam ini. Hhh... meski Yonghwa sepertinya tidak bisa hadir bersama kita, setidaknya... ada kau yang bisa menggantikan tempatnya, sehingga kami tidak terlalu merasa kesepian." Lelaki paruh baya itu tersenyum hangat. Meski wajahnya terlihat sangat lelah dan lebih tirus dari sebelumnya, tapi Tn. Jung sepertinya ingin membuat makan malamnya kali ini berjalan senormal mungkin.

"Nde, Abonim. Juseohapnida, saya tidak tahu bila Abonim dan Eommonim akan menunggu saya." Seohyun pun duduk ditempatnya. Ny. Jung, dengan senyum keibuannya, dia mulai menuangkan nasi ke mangkuk suaminya. Lalu menuangkan satu lagi untuk Seohyun.

"Makanlah...! Hari ini, aku sengaja memasak makanan tradisional, karena sepertinya suamiku sudah terlalu banyak makan makanan aneh beberapa hari ini. Geurokhae... mogo ah, Joohyun ah."

Makan malam mereka berjalan seperti biasa. Tidak ada obrolan yang serius, baik itu tentang perusahaan, maupun tentang Hyunna.

"Abonim... Eommonim..." Suara Seohyun memecah keheningan. Tn. Jung dan Ny. Jung serentak menatap Seohyun.

"Besok... saya sudah harus kembali ke Seoul. Banyak pekerjaan saya yang tertunda selama saya sakit dan berlibur disini. Saya sudah harus kembali untuk menyelesaikan semua itu."

Baik Tn. Jung maupun istrinya, untuk sesaat keduanya hanya terdiam.

"Joohyun ah, apa kau sudah menemui Yonghwa?" Ny. Jung menatap Seohyun dengan lembut.

“Tadi saya pergi ke rumah sakit untuk menemuinya. Tapi sepertinya, Oppa masih sibuk menunggu Hyunna Ssi karena Ny. Kim pun jatuh sakit. Saya hanya bisa melihatnya melalui jendela dipintu ruangan. Syukurlah, sekilas.. tadi saya melihat Hyunna Ssi sudah sadarkan diri. Setidaknya Oppa tidak perlu terlalu khawatir dan merasa terbebani lagi.” Kejadian sore tadi masih terbayang dalam benaknya. Bagaimana rapuh dan lemahnya Hyunna. Dan juga Yonghwa-nya. Seohyun benar-benar tidak sanggup melihatnya lebih lama.

“Jeongmal? Aigoo... ddaengida! Geundae, kenapa kau pergi sendiri? Kau bisa memintaku untuk mengantarmu kan? Saesanghae, bagaimana bila keluarga Kim melihatmu dan melakukan sesuatu yang buruk padamu?” Raut wajah Ny. Jung berubah khawatir.

“Gwaenchannayo, Eommonim. Saya sangat berhati-hati. Saya hanya ingin melihat Yonghwa Oppa dan sebentar saja berbicara padanya, hanya untuk sekedar menanyakan kabarnya. Tapi keadaannya tidak memungkinkan. Geurigo ajik gwaenchannayo. Setidaknya, melihatnya dari jauhpun sudah cukup.” Seohyun tersenyum pahit. Tn. Jung dan Ny. Jung hanya bisa menatapnya pilu.

“Apa Yonghwa tahu, bahwa besok kau akan kembali ke Seoul?” Tn. Jung kali ini menatap Seohyun penuh perhatian.

“Sejak pertama Oppa mengajak saya kesini, Oppa sudah berjanji pada Taeyeon Eonni bahwa dia akan membawa saya kembali ke Seoul satu minggu lagi. Karenanya, Taeyeon Eonni mengijinkan saya untuk keluar rumah sakit lebih cepat. Dan besok, saya masih harus melakukan beberapa tes untuk cek ulang apakah saya sudah benar-benar sehat dan boleh bekerja lagi, atau masih harus menjalani beberapa perawatan.

Hari ini, sebetulnya saya ingin pamit secara langsung pada Oppa sebelum saya kembali besok. Tapi melihat Hyunna Ssi baru saja sadarkan diri, saya rasa waktunya tidak tepat. Gwaenchannayo, saya bisa pamit melalui telepon. Lagipula, saya hanya akan pulang ke Seoul. Bila semua urusan Oppa disini sudah selesai, Oppa bisa langsung menyusul saya ke sana.” Seohyun berusaha menampilkan senyum terbaiknya, demi agar kedua orang tua Yonghwa ini tidak menghkawatirkannya. Meski jauh dari dalam hatinya, Seohyun tak mampu memungkiri rasa sakit atas apa yang dia lihat tadi. Saat Yonghwa-nya menangis, dan memeluk perempuan itu.

“Abonim.. Juseohapnida. Karena kehadiran saya, keluarga ini harus menghadapi semua masalah ini. Andai saya bisa melakukan sesuatu untuk membantu kalian...”

“Aigoo.. jangan berfikir seperti itu, Joohyun ah. Apa yang terjadi, memang sesuatu yang seharusnya terjadi. Dalam bisnis, hal seperti ini sangat wajar terjadi. Dengan atau tanpa keberadaanmu, hanya soal waktu, aku pasti akan menghadapi musuh-musuhku. Mungkin seharusnya aku berterima kasih padamu, karena aku bisa menghadapi mereka lebih awal, ketika aku masih cukup kuat untuk melawan mereka. Geok cheongma, kita semua pasti bisa melewati semua ini.” Tn. Jung mengusap lembut tangan Seohyun diatas meja makan, disampingnya.

“Lalu, bagaimana hasil akhir pertemuan tadi? Apa... Abonim benar-benar akan kehilangan semuanya?” Seohyun tidak bisa menyembunyikan kecemasan itu. Tn. Jung hanya tersenyum usai mendengar pertanyaan Seohyun.

“Tidak semuanya, Nak. Mungkin benar, aku kehilangan posisiku di perusahaan yang sudah dibangun oleh kakekku sejak awal. Hanya itu saja, Joohyun ah. Hanya sesuatu yang sifatnya bisa hilang, dan bisa kubuat lagi. Tapi tidak dengan Yonghwa. Putraku.. jauh lebih berharga dari semua itu. Aku rela kehilangan kekayaanku demi untuk tetap bisa menjaga putraku satu-satunya. Kehilangan Yongdo, memberiku keberanian baru. Bahwa yang seharusnya tetap kujaga sampai aku mati bukanlah perusahaan dan juga kekayaanku. Melainkan orang-orang ini. Keluargaku.

Jadi... aku tidak kehilangan segalanya, Nak. Karena aku masih memiliki kalian. Dan akan selalu memiliki kalian.”

Ny. Jung tampak mengusap air matanya. Seohyun hanya bisa menundukan wajahnya dan tak tahu harus berkata apa.

“Jangan bersedih, Joohyun ah. Kami akan baik-baik saja. Aku percaya, Yonghwa juga pasti bisa melewati semua ini sekali lagi. Kumohon, bertahanlah. Dan beri dia semangat.”

Seohyun baru saja selesai mengemasi pakaian dan barang-barang miliknya. Besok, dia akan terbang dengan penerbangan pukul 10 pagi. Gadis itu meraih ponselnya.

To : Mr. Gold
"Oppa......."

Seohyun tak mampu lagi menahannya. Dia benar-benar ingin mendengar suaranya. Tapi..... satu menit berlalu. Satu jam... hingga akhirnya Seohyun tertidur diatas tempat tidurnya sambil menggenggam ponselnya, Yonghwa masih belum membalas pesannya.

*****

Busan Airport

Seohyun menatap layar ponselnya sekali lagi, dan dia masih belum mendapat balasan dari pesan yang dia kirimkan pada Yonghwa semalam. Hhh.. meski ingin sekali Seohyun mengerti keadaan Yonghwa, tapi hati kecilnya tak mampu menyangkal rasa kecewanya. Setidaknya... Yonghwa bisa membalas sekali saja pesannya, bukan?

To : Mr. Gold
“Aku pergi, Oppa. Jaga dirimu baik-baik. Maaf, aku tidak menemuimu lebih dulu, karena aku tahu, aku tidak mungkin bisa melakukannya. Geok cheongma, aku akan baik-baik saja.”

Dan beberapa waktu kemudian, Seohyun sudah duduk diatas kursi pesawat yang akan membawanya terbang meninggalkan kota itu. Meninggalkan Yonghwa-nya yang entah sedang apa.

"This I Promise You"
Nsync

When the visions around you,
Bring tears to your eyes
And all that surround you,
Are secrets and lies
I'll be your strength,
I'll give you hope,
Keeping your faith when it's gone
The one you should call,
Was standing here all along..

And I will take
You in my arms
And hold you right where you belong
Till the day my life is through
This I promise you
This I promise you

I've loved you forever,
In lifetimes before
And I promise you never...
Will you hurt anymore
I give you my word
I give you my heart This is a battle we've won
And with this vow,
Forever has now begun...

Just close your eyes
Each loving day
I know this feeling won't go away
Till the day my life is through
This I promise you..
This I promise you..

Over and over I fall 
When I hear you call
Without you in my life baby
I just wouldn't be living at all...