In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Let's Falling In Love
Again
Seohyun kehilangan dirinya untuk
beberapa waktu. Tersihir oleh kehadirannya yang tiba-tiba itu. Jiwanya seperti
tersekat diantara ilusi dan kenyataan yang tidak siap dia hadapi. Tidak secepat
itu!
Kedua matanya masih lekat menatap
wajah indah sempurna disampingnya. Bening mata yang dulu begitu nyaman untuk
diselami. Bening mata yang sama, yang pernah memancarkan cinta yang lembut dan
menyejukkan. Tatap teduh itu masih belum berubah. Tidak sedikitpun. Caranya menatapnya,
dan cinta itu, semua masih terasa sama.
"I'm so glad to see you
here, Joohyun ah. Aku senang, karena Laut Busan, Sunset, dan kehadiranmu bukan
hanya sebuah ilusi semata. Ddaengida... Kau benar-benar nyata dan kini berdiri
di hadapanku." Sebentuk senyum hangat merekah di bibir lelaki itu. Seohyun
masih terpaku menatapnya. Suara lelaki itu membuai jiwanya selembut kabut pagi.
Seperti mimpi yang enggan dia sadari.
Ya, lelaki itu tersenyum teduh
menatap luasnya laut dihadapan mereka, seolah dia lupa pada rasa sakit dan
pahit yang selama ini sudah merubah dunia indahnya menjadi sebuah neraka.
Bahkan dia lupa bahwa perempuan disampingnya itu adalah perempuan yang sama
yang telah melukiskan luka itu dalam hidupnya.
Yonghwa membiarkan dirinya lupa.
Karena yang kini dia rasa dan dengan sekuat hatinya dia tahan meski dadanya
terasa akan segera meledak, adalah rasa yang berbeda. Rasa yang lebih penting
dan lebih besar yang lahir dari deretan peristiwa pahit itu.
Rindu.
Rindu di jiwanya teramat kuat
meraja, hingga luka-luka itu terasa tak penting lagi.
Beberapa waktu berlalu, lelaki
itu menyadari keheningan yang masih tercipta diantara mereka. Dia menolehkan
kepalanya dan mendapati Seohyun masih menatapanya penuh tanya. Bukan! Lebih
tepatnya, Seohyun masih tersesat di ruang ilusinya.
"Mwo ya? Kenapa kau
menatapku seperti itu?" Yonghwa mendekatkan wajahnya ke wajah Seohyun
hingga keduanya bisa saling merasakan hangatnya hempasan nafas dari hidung
mereka. Tentu saja Seohyun seketika terhenyak dan kembali pada kesadarannya.
Gadis itu berpaling. Dengan debar jantung yang menggila dalam dadanya, Seo
Joohyun berusaha untuk tetap tenang. Wajahnya memerah, dan tangannya dingin
gemetar.
Menyadari apa yang dirasakan
gadisnya, Yonghwa tersenyum lebih lebar. She didn't change at all. Still so
cute with all those innocent charms.
"Ah.. kau pasti terkejut
melihatku ya? Mianhae, Hyun... aku tidak bermaksud mengagetkanmu seperti
itu." Yonghwa menghela nafas panjang, kemudian kembali menatap laut yang
terlihat seperti sedang menelan sang mentari secara perlahan.
"Aku hanya tiba-tiba melihat
sosok tubuh yang aku rasa aku sangat mengenalnya. Dari jauh, aku melihat
punggungmu dan geraian rambutmu yang sesekali terhempas angin. Semula aku ragu.
Aku ragu untuk melangkahkan kakiku dan berjalan mendekatimu, meski aku yakin
mata dan hatiku tidak akan pernah salah mengenalimu. Entahlah... Untuk sesaat,
aku hanya merasa bahwa Laut, Sunset dan kehadiranmu adalah pemandangan yang
terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan. Aku takut, bila aku terlalu tamak,
keindahan ini bisa saja lenyap dalam sekejap. Dan aku.. harus kembali menapaki
ruang sepi yang mengerikan itu." Sekali lagi, sekeping senyum teduh
merekah di wajah lelaki yang kini tampak lebih dewasa dan matang. Sisa
kepahitan itu sekelebat masih tergambar disana.
Seohyun mendundukkan wajahnya,
namun beberapa saat kemudian, dia berhasil mengumpulkan keberaniannya untuk
kembali menatap wajah lelaki disampingnya.
'Igae mwo ya? Apa yang sebenarnya sedang Yonghwa lakukan?' Batinnya,
sambil menatap lekat wajah Yonghwa.
"I missed you like hell, Seo
Joohyun. I missed you for every single days and kept on waiting untill the time
would eventually heal our wounds or... untill the day you decieded to come back
here again." Masih dengan tatapan teduhnya dan setitik senyum itu, Yonghwa
seakan tahu apa yang baru saja terlintas dalam fikiran gadis itu. Seohyun
kembali menatapnya dengan bening mata rapuh yang dia coba untuk tetap terlihat
tegar. Mulutnya masih terkunci didalam benteng pertahanan diri tadi.
"Welcome home, Seo
Joohyun..." Lembut, lirih, kalimat itu mampu menerobos dinding hati gadis
itu. Benteng itu tak sekokoh yang dia kira, rupanya. Bulir hangat yang dia
tahan sejak tadi, akhirnya mencair diluar kuasanya. Membasahi pipi merahnya.
Meremas perasaan lelaki yang sedang berdiri di sampingnya, menatapnya penuh
rindu.
"Na... waseo, Oppa."
Lirih, nyaris tak terdengar, Seohyun berhasil membuat mulutnya berbicara.
Yonghwa mengangguk pelan. Sesak itupun sama kuatnya mendesak dadanya hingga
membuat tenggorokannya terasa sakit. Genangan air pun seketika menggumpal di
kedua kelopak mata lelaki itu. Lembut, jemarinya yang gemetar perlahan meraih
pipi gadis-nya. Diusapnya air mata itu.
"Ara. I know, Baby...
Gomapta...." Suaranya tak kalah lirih. Dia tak mampu meneruskan kalimatnya
karena sesuatu terasa semakin mendesak hingga terasa nyaris akan meledak di
dalam dadanya. Dia tak bisa menunggu lagi. Yonghwa menarik tubuh itu kedalam
peluknya. Mendekapnya erat berharap rasa rindu itu akan segera terbayar. Dia
tak peduli lagi dengan segala penghakiman yang selama ini telah dia siapkan
andaikan dia bertemu lagi dengan gadis ini. Semua itu tak berarti lagi. Demi
untuk bisa mendekapnya seperti ini, Yonghwa rela menyerahkan segala yang dia miliki.
Untuk bisa terus bersamanya dan tak akan kehilangannya lagi, Yonghwa akan
melakukan segalanya. Ya, dia rela melupakan hari-hari menyakitkan itu, asalkan
Seohyun tak pernah menghilang lagi.
"Mianhae, karena membutuhkan
waktu cukup lama untukku bisa kembali kesini,
Oppa. Aku tidak punya cukup percaya diri dan berfikir bahwa orang-orang
sedang menungguku." Ditengah isaknya dalam dekapan Yonghwa, Seohyun meneruskan kata-katanya. Semakin dia
sadari, betapa bodohnya dia, membuat waktu menjadi sia-sia dan pergi
meninggalkan pelukan sehangat ini. Membuat dirinya dan juga lelaki yang paling
dia cintai di dunia ini harus mengecap rasa sakit itu.
"Ijae gwaenchanna, Hyun!
Thank you for coming back to me. Neomu gomawo..." Yonghwa mendekapnya
lebih erat. Mengecup lembut bahu gadisnya hingga dia bisa mencium aroma rambut
yang pernah menjadi favoritnya. Wangi yang sama, yang membuat rasa rindunya
menggila. Rasanya, dia tak ingin melepaskannya untuk alasan apapun.
*****
Keduanya berjalan bergandengan
tangan, menyusuri pantai yang langitnya mulai meredup.
"Kau tampak sehat, Oppa.
And..... as cool as always. Kulit wajahmu tampak lebih bersinar dan terawat. I
wonder if those fangirls of yours had totally changed you to be this awesome.
Aku sempat berfikir, ah.. tanpaku, ternyata Uri Yonghwa hidup dengan
baik."
Yonghwa kembali melebarkan
senyumnya hingga menampakkan tekstur giginya yang unik. Segalanya terasa ironis
saat dia melayangkan ingatannya ke masa-masa itu.
"Really? Ah.. my fangirls..
hhhh.. aku juga tidak pernah tahu bahwa memiliki ribuan fans seperti mereka
bisa membuatku sangat bersemangat sekaligus merasa lelah diwaktu yang sama.
But.. maybe you were right, Hyun. Profesiku menuntutku untuk keluar dari zona
nyamanku. Uri Sajang-nim tidak akan berhenti mencerewetiku sampai aku menuruti
perintahnya untuk melakukan perawatan di salon kecantikan and you know that i
hate it. Aigoo...." Keduanya tersenyum semakin lebar sambil menatap satu
sama lain sebelum akhirnya mereka berdua menghentikan langkah. Keduanya kembali
berdiri menatap sunset yang nyaris tenggelam. Langit pun mulai gelap.
"Aku senang melihatmu
disini, Joohyun ah." Lagi, kalimat itu mengalun dari mulut Yonghwa.
Keduanya masih melihat keujung lautan dihadapan mereka.
"Gomawo, Oppa. Aku tahu,
seharusnya aku pulang lebih cepat. Terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia
karena kebodohanku." Mata malaikat itu masih lekat menatap sunset.
"Hhh... Kau tahu, Hyun? Hari
dimana aku menemukan suratmu dikamarku.. Saat itu aku menggila mencarimu.
Seperti pesakitan aku mendatangi setiap tempat yang memungkinkan untukku bisa
menemukanmu. Meski semua orang mengatakan padaku bahwa kau tidak lagi berada di
negara ini, aku seperti orang dungu yang tidak mau mempercayainya. Aku menolak untuk
menyerah.
Saat itu, aku bingung memisahkan
mana di dalam duniaku yang benar-benar nyata terjadi dan mana yang menjadi
ilusiku saja. Setiap pagi aku terbangun dan mendapati tubuhku tertidur di
kamarmu. Kemudian aku bangkit dan mulai mencarimu diseluruh ruangan rumahku.
Aku menangis menggila karena aku tidak menemukanmu. Dan esoknya aku terus
melakukan hal yang sama."
Mendengarnya, tiba-tiba kedua
kaki Seohyun terasa begitu lemas hingga tubuh kecilnya ambruk diatas hamparan
pasir pantai tempatnya berdiri. Yonghwa terhenyak, dan dengan sigap meraih
tubuhnya.
"Hyun.. Gwaenchanna?"
Keduanya kini bersimpuh diatas pasir pantai. Sedikit panik, Yonghwa memeriksa
keadaan Seohyun. Gadis itu semakin tertunduk dengan isakan tanpa suara. Kedua
bahunya berguncang hebat menahan ledakan tangis dengan sekuat tenaganya.
"Hyun...." Lirih.
Yonghwa menyadari, bahwa semua itu pun tidak mudah untuk Seohyun. Membayangkan
bagaimana cinta abadinya berjuang melawan penyakit dalam tubuhnya seorang diri,
ditambah dengan sakit dalam hatinya karena harus meninggalkannya, Yonghwa tahu,
gadis itu pun menderita. Lelaki itu pun kembali menarik tubuh Seohyun dan
menguncinya dalam dekapnya.
"Mianhae, Oppa. Jinjja
mianhae! Mianhae..!!" Akhirnya, tangis itu pun pecah. Gadis itu tersedu dalam
pelukan Yonghwa membuat lelaki itu pun gagal menahan tangisnya.
"Ssst... Uljima! Geumanhae,
Baby! Mianhae, aku tidak bermaksud menghakimimu dengan kata-kataku tadi."
Suaranya tercekat. Yonghwa menguatkan dirinya.
"Hyun... Dengar... "
Yonghwa melepas peluknya. Lembut, dia mengusap air mata di wajah Seohyun.
"Kita sudah melewati banyak
hal. I mean, those were enough. Kehilangan dan perpisahan harusnya membuat kita
sadar, betapa kita harus membayar mahal untuk bisa kembali bersama seperti ini.
Yang ingin kukatakan padamu....
Sayang, aku tahu kita terlalu
muda saat itu. Dan yang terjadi adalah takdir Tuhan yang bagaimana pun tak akan
pernah mampu kita hindari. Aku harap, mulai saat ini.. Mulai sekarang, jangan
pernah pergi lagi dengan rahasia yang kau sembunyikan dariku. Huh?! Jangan
memilih untuk menanggung rasa sakit sendiri, tanpa membiarkanku tahu. Jangan
memustuskan sendiri sesuatu yang kau bahkan tidak bertanya pendapatku. Semua
itu sudah cukup, Hyun! Terlalu kejam rasanya, bila kau melukaiku seperti itu
hanya untuk membuktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu dan aku tak sanggup
kehilanganmu.
Arratji?"
Kedua mata mereka saling menatap.
Berharap segala perih itu akan tersudahi dengan semua itu. Berharap tak akan
ada lagi hari-hari dimana mereka akan menjalani hidup tanpa satu sama lain.
Seohyun mengangguk pelan.
Perlahan, gadis itu meraih tangan Yonghwa dan menguncinya diantara
genggamannya. Lekat, dia menatap jemari tangan Yonghwa lalu dengan lembut
Seohyun mengecup punggung tangannya. Gadis itu kembali menatap Yonghwa.
"Araso, Oppa. Aku tidak akan
pernah melakukannya lagi. Aku juga tidak ingin lagi merasakan hari-hari
mengerikan itu lagi. Ani ah! Aku benar-benar tidak ingin mengalaminya
lagi." Tatapannya semakin dalam menyelusup ruang hati Yonghwa. Dengan
jemari kecilnya, lembut... Seohyun mengusap dan merapihkan rambut laki-laki
dihadapannya.
"Lebih baik aku mati
daripada aku harus merindukanmu seperti itu lagi.. "
Tiba-tiba Seohyun merasa mulutnya
terkunci oleh sesuatu yang terasa begitu lembut dan hangat. Dia tak mampu
meneruskan kata-katanya dan hanya mampu memejamkan kedua matanya, membiarkan
kehangatan itu mengunci bibirnya lebih lama. She didn't want to stop. No! If
she have to beg, she'd beg him for never stop it forever!!
"Jangan pernah mati tanpa
seijinku, Seo Joohyun!" Yonghwa menatapnya tajam, hingga tatapan itu
terasa menusuk kedalam jantung Seohyun. He loves her so much! He missed her!
And he wanted her as he felt his heart was burning with the flame of desires.
Andwe! Dia tidak boleh kehilangannya lagi. Dia tidak bisa!
Yonghwa kembali menarik tubuh
Seohyun kedalam rangkulannya. Tapi kali ini, gerakannya terasa lebih tergesa.
Dan bibirnya kembali menguasai bibir Seohyun seolah dia tidak ingin
mempedulikan apapun lagi. He just wanted her to pay for all the tears she made.
He wanted her to pay for all the times she wasted. And for those scary nights
he got when he didn't know where the hell she hid.
He bites her lips with the
remnant of his anger. But then he kissed her tenderly with all the loves he had
and the promise that he'd never let any tears come back to their life.
"Saranghae, Seo
Joohyun..." She could see how painful that lust in his eyes.
"Na do, Saranghae, Jung
Yonghwa..." But she gave him the same gaze. The way she wanted him like he
did.
*****
Author
Note :
Fuiih.....
Rasanyooohhhh... Berabad-abad gini nyelesein satu judul ajah. Maaaf... Bgt
karena kalian harus nunggu lama ampe kalian pasti lupa lagi sama cerita di
chapter sebelom nya, hihihi.....
But
well... You can count this chapter as a happy ending. Kepikiran buat bikin
epiloge, tapi ga bisa janjiin juga mengingat kesibukan yang ga terprediksi. I
hope this chapter is enough to pay all your times of waiting dengan segala
roller coaster alur cerita ff ini. Sebagai author amatiran, saya sadari banyak
banget kekurangan, kesalahan, atau ketidak seimbangan plot dalam tulisan saya.
Makasih, udah mau baca meski cuma roman picisan ala shipper doang. Hehehe....
So...
Enjoy it, yah...
Eh...
Kl ada yg hobby nulis juga, bisa looh... Isi blog saya yg garing ini dengan ff
kalian juga. Kalian bisa email ke petualanganjingga@gmail.com ntar sama saya di
post di sini plusssss nama author nya juga. (DARI PADA NIH WARUNG SEPI..
Kekekek...)
Skali
lagi,
Neomu
kamsahapnida, Goguma-deul.... #DeepBow
