Selasa, 02 Juni 2015

The World Within Chapter 16


The World Within

Author               : Jingga8
Genre                 : Romance
Rating                : M ( 18+ )
Cast                    : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Poster By            : Ismi Nuraulia







I WARN YOU, yang masih under 18, this story is not suit on you! kalo masih maksa baca, i had already warned you yah!!!
                                        

Punish Me, Baby....

Chapter 16

”Oppa... i’m ready, now!” Yonghwa mendengar Seohyun berteriak dari ruang tengah. Ya, dia mendengarnya, tapi dia tidak sempat menjawabnya karena sampai saat ini mata dan tangannya masih sibuk mencari cincin kawinnya disemua tempat. Yes... their precious wedding ring! Mr.forgetful lupa dimana terakhir kali dia menyimpannya.

“Oppaaa....!!!” Kali ini Seohyun berteriak lebih kencang.

“Yes, baby... wait the minutes...!” Yonghwa menjawabnya tanpa sedikitpun menghentikan aktifitas pencariannya.

“Sedang apa sih? Satu jam lagi kita take off loh...!” Seohyun tiba-tiba muncul dari balik pintu dan mendapati suaminya sedang nungging dilantai.

“Omo.. Oppa... apa yang kau lakukan?”

O..Owww... ketahuan!

Tidak ada pilihan lain selain mengatakan sejujurnya pada Seohyun. Setidaknya, meski perempuan cantik itu akan menghujaninya dengan cerewetan dan juga ocehannya, itu lebih baik dari pada terus mencarinya sendirian dan tetap tidak menemukannya. Yup, 2 orang yang mencarinya lebih baik, bukan?

Yonghwa duduk bersimpuh dilantai menghadap Seohyun. Sebisa mungkin, dia menunjukan wajah termanis dan senyum terindah yang akan dia tunjukkan pada istrinya.

“Baby... eeuh... apa... kamu melihat cincinku?” Ragu, akhirnya Yonghwa mengatakannya diiringi senyum dan mata puppy ala Kang Minhyuk.

“Cincin? Cincin yang mana?” Seohyun melangkah mendekati Yonghwa.  Dia masih bereaksi normal dan tenang.

“Cincin.... cincin kawin-ku...” Yonghwa menunjukkan jari manis kirinya yang tampak kosong. Seketika mata Seohyun melotot hingga membuat Yonghwa meringis. Saat hidung Seohyun mendengus disertai tatapan tajam seperti itu, maka Yonghwa harus bersiap untuk menerima ledakannya sebentar lagi.

“MWO?!!!! Apa kau bilang?!! Cincin kawinmu? Oppa... bagaimana bisa kau melepas cincin-mu dan khilangannya begitu saja?” Benar saja perkiraan Yonghwa. That was the scary reaction yang dia khawatirkan akan terjadi. Dan memang terjadi.

“Kapan terakhir Oppa melepaskannya? Dimana?” Seohyun bertanya dengan nada tegas.

“Molla, Hyun! Jika saja aku ingat, mana mungkin aku mencarinya sampai sekarang?” Yonghwa menundukan pandangannya dengan maksud menghindari tatapan Seohyun yang tampak mengerikan saat itu.

“MWO?!!! KAU LUPA KAPAN TERAKHIR KAU MEMAKAINYA? YAKKKK... JUNG YONGHWA SSI!!! BAGAIMANA BISA KAU MELUPAKAN HAL SEMACAM ITU?”

Boom!!! Meledaklah! Yonghwa hanya bisa pasrah menerima telinganya di bombardir dengan segala ocehan dan cerewetan Seohyun yang kala itu melepaskan lagi sepatunya lalu membantu suaminya yang ‘super pelupa’ itu untuk mendapatkan kembali cincin kawinnya.

“Aishh... chamm!! Di dunia ini mungkin hanya ada satu orang lelaki yang membiarkan benda-benda penting menghilang dengan ceroboh. Dan itu adalah suamiku!!!! Aigoo... aku bahkan sudah cukup toleran padamu karena kau kehilangan scraft buatan tanganku sendiri dan juga jam tangan limited edition seharga 50jt Won yang kubeli untuk ulang tahunmu! Tapi cincin kawin... Oh My God... kenapa aku punya suami yang super ceroboh seperti ini?” Yonghwa hanya bisa membisu sambil terus mencari kesetiap sudut ruangan. Begitupun Seohyun, meski mulutnya terus uring-uringan, tapi tangannya tetap bergerak mencari cincin suaminya hingga keruang laundry.

10 menit kemudian...

“Jung Yonghwa Ssi....”

Yonghwa berhenti dari aktifitasnya dan menoleh kearah datangnya suara.

“Niih!!!”

Seohyun berdiri diambang pintu sambil menukikkan tangan kirinya dipinggangnya sementara tangan kanannya menunjukkan cincin yang sejak tadi dicari Yonghwa. Namun tatapannya masih ‘segalak’ sebelum cincin itu ditemukan. Raut lega dan sumbringah langsung tergambar jelas diwajah Yonghwa. Bergegas dia berjalan ke arah Seohyun dan hendak memeluk istri sekaligus malaikat penolongnya. Tapi tangan Seohyun lebih sigap dan menahan dada Yonghwa.

"No Hug, No Kiss, No Making Love, and No Sleep With Me selama 3 hari kedepan! Those are your punishment, Mr. Forgetful! Reflect yourself and make sure you won't make another mistake in the future!"

Seohyun membuat Yonghwa terpaku ditempatnya berdiri. Sementara itu, thanks to Mr. Forgetful, Seohyun harus berganti pakaiannya karena kini T-Shirt nya basah dengan keringat. Seohyun membuka bajunya tanpa ragu. Dia tidak sadar (atau mungkin sangat sadar), bahwa lelaki malang yang sedang menerima hukumannya tengah melihat keindahan tubuhnya sambil menelan ludahnya.

Punggungnya dengan kulit putih mulus seperti susu... laki-laki mana yang sanggup mengabaikannya? Tidak cukup hanya dengan melepas T-shirt nya, Seohyun bahkan kini melepas bra nya juga hingga kini punggungnya tampak begitu terbuka dan hanya tertutup oleh gerai rambut panjangnya. Dan perempuan itu tanpa ragu dan malu berjalan melewati suaminya yang malang hanya dengan hipless jeans yang menampakan tulang pinggul dan juga pusarnya. Sementara bagian atasnya dia biarkan terbuka tanpa satu helai benangpun menutupinya. Seohyun meraih tisu basah diatas meja riasnya lalu 'sekali lagi' tanpa ragu dan malu, Seohyun berdiri didepan cermin meja riasnya kemudian mengusap leher, dada dan kedua payudaranya dengan tisu itu.

Bagi Seohyun, mungkin dia melakukan gerakan itu hanya untuk menyeka keringat ditubuhnya. Tapi bagi Yonghwa, istrinya melakukan itu untuk menyiksanya. Lengkap sudah penderitaan Yonghwa.

Waktu beberapa menit itu terasa seperti neraka untuk Jung Yonghwa yang hanya bisa melihat istrinya mengusap-usap bagian-bagian terfavoritnya. Sesuatu yang seharusnya menjadi ‘pekerjanya’. Rasanya ingin sekali Yonghwa berkata... 'Let me help you, Darling... i'm willing to wipe all of your body with my own hand...' Tapi...

Yonghwa memejamkan matanya. Jantungnya berdegup kencang ditengah usaha kerasnya mengontrol tekanan dalam otaknya yang mulai menjalar kearea yang paling krusial dan sulit untuk dikendalikan. Yonghwa mengatur nafasnya tapi.....

Who cares with those freakin punishment?!

Hanya butuh beberapa detik saja untuk Yonghwa mengunci Mrs. Perfect itu dalam cengkramannya. Dia meraih her S line dan secepat kilat membuat tubuh ramping Seohyun berputar menghadapnya. Kini, wajah mereka hanya berjarak beberapa inci saja, sedang tubuh mereka... tak berjarak sedikitpun.

Seohyun terbelalak kaget mendapati dirinya sudah berada dalam pelukan Yonghwa. Begitu dekat, hingga dia bisa merasakan deru nafas suaminya menyapu wajahnya. Tatapan itu.... Tatapan yang selalu Seohyun lihat dimata Yonghwa saat setiap kali suaminya terjatuh dalam pesonanya. Tatapan yang menunjukan betapa Yonghwa menginginkannya. His lust, His desire, His strength, His love, everything shown through the way he stared at her.

"Op...Oppaa..." Tidak seharusnya Seohyun merasa gugup. It wasn't her first time!

"Oppa... kau sedang dihukum, ingat?!" Sekuatnya, Seohyun berusaha mengendalikan diri demi prestisenya. Meski sejujurnya, kini jantungnya pun berdegup tak kalah kencangnya.

"I know, baby! I'll take the punishment after i done with my business! But now, aku tidak akan membiarkanmu menjadi pemenang dalam mildang ini!" Suaranya bergetar dan terdengar serak. Tatapnya kian tajam dan mengunci Seohyun dalam perangkap yang dia buat sendiri.

Tanpa peringatan, Yonghwa tak ingin menyia-nyiakan lagi surga yang kini sudah ada dalam dekapannya. Desahan lembut mulai terdengar dari bibir Seohyun seiring inci demi inci dia rasakan saat bibir Yonghwa menghujani lehernya dengan ciuman. Tidak sampai disitu, Yonghwa bahkan menginvasi hingga tulang selangkanya. Tangan kanannya menopang tengkuk Seohyun sedang tangan kirinya dia biarkan menari menikmati lembutnya kulit punggung bidadarinya. Untuk beberapa saat Yonghwa membiarkan bibirnya bermain ditengkuk dan telinga Seohyun. Dan serangan itu sudah cukup membuat Seohyun lupa dengan hukuman yang sebelumnya dia berikan dan hanya membiarkan dirinya menjadi yang terhukum dengan serangan itu. Seohyun menyerah, dan hanya membiarkan Yonghwa memiliki apa yang diinginkannya.

Seperti Seohyun pun menginginkan Yonghwa.

Semakin sering Yonghwa mendengar malaikatnya mengerang, semakin tak ingin dia hentikan. Tidak satu incipun Yonghwa sisakan. Seohyun adalah miliknya. Seutuhnya hanya miliknya. Dari ujung rambutnya hingga ujung kakinya, semua miliknya. Yonghwa menginginkan semuanya.

Yonghwa menyeret tubuh Seohyun dalam dekapannya merapat kedinding terdekat dan itu memberinya akses lebih mudah. Tanpa melepaskan ciumannya, tangan Yonghwa mencoba melepaskan kancing dan resleting jeans yang Seohyun kenakan. Seohyun pun melakukan hal yang sama. Satu persatu, dia melepas kancing kemeja yang Yonghwa kenakan. Untill there were no one left except their naked bodies.

"Oppaaa... what.. about the flight?" Dalam terengah, Seohyun tiba-tiba teringat bahwa mereka harus tiba di airport kurang dari 1 jam lagi.

"Who cares with the flight, bila saat ini didepanku maknae SNSD tampak begitu cantik tanpa satu helai benangpun di tubuhnya? Aku mau yang ini!!" Tak kalah terengah, Yonghwa menjawab. Sementara bibirnya terkunci dibibir Seohyun, tangannya dengan leluasa bermain ditempat favoritnya. Dan itu membuat Seohyun tanpa sadar mengeluarkan desahan lainnya.

"Opp..paa.. kita harus ke Busan. Eomma.. Eomma.. sudah menunggu kita..." Disela desahannya, Seohyun sekali lagi mencoba mengingatkan.

"I don't care! Semua ini salahmu, karena kau tidak mengerti batas pertahananku! Blame it to your seductive body! Damn.. i only want you right know, Seo Joohyun!! I want you and i don't want the others! So just shut up and punish me!!!" Yonghwa mengangkat pinggang Seohyun dan membuat tubuh Seohyun menggantung ditubuhnya. Seohyun melingkarkan kedua kakinya ditubuh Yonghwa dan menopang sepenuhnya pada Yonghwa. Dengan leluasa, Yonghwa membawa tubuh Seohyun keatas sofa disudut kamar.

Dan akhirnya.... mereka benar-benar ketinggalan pesawat, hingga terpaksa menggunakan kereta untuk bisa sampai di Busan. Bukan hanya satu jam, Yonghwa membuatnya terlambat 3 jam. Dia benar-benar enggan untuk pergi bila saja dia tidak terlanjur berjanji pada orang tuanya. Hari itu, tidak cukup hanya di sofa. Mereka mengulangnya lagi di dapur, dan bahkan di kamar mandi sesaat sebelum mereka pergi. He really addicted to her!

'Who cares... i married her for this thing, right? I love her and she love me in return. I want her like the way she want me too!' Batin Yonghwa.

~To Be Continue~

Plissss.... don't scold me for writing this kind of story! And don't force me to write more than this! This is my very limit! Kalo aja setingnya bukan 'after married life' i'm not sure that i'm able to make this line. Hhhh.... YongSeo gue ternodaaaaa!!! Gara2 Sulis, Suzan, Fitria, dan goguma2 yg otaknya penuh yadong. Okay... enough for this time. Next.... aku fikirin lagi mesti gimana....

Semoga kalian baca ini ngga disertai dengan dirty thought tentang Yongseo yah... aku beneran nyoba banget buat bikin plot, alur dan bahasa yang bikin kalian ngerti tentang betapa besar dan ga main2-nya cinta Yonghwa buat Seohyun. Dalam pernikahan, (menurut pengalaman...) Skinship, dan beberapa intimate things itu adalah cara untuk ungkapin cinta. The more he wanted her, the more she knew how much he loves her. Nah... tujuan aku nulis plot dan genre ini adalah untuk itu. Maapiin yaah, kalo ada bahasa ato deskripsi yang ga sesuai. Ini pertama kalinya aku nulis genre ini. Kritik dan saran sangat welcome.... ^_^

Time to sleep eperibodih.... ^_~

The World Within Chapter 15






The World Within

Author               : Jingga8
Genre                 : Romance
Rating                : M ( 18+ )
Cast                    : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Poster By           : Ismi Nuraulia






Heal  The Wound

Chapter 15

Bunga sakura putih sedang bermekaran. Yonghwa berjalan disepanjang jalan yang dulu sering dia lewati bersama Seohyun. Udara musim semi begitu menyegarkan. Yonghwa merentangkan tangannya sambil menutup kedua matanya. Perlahan, dia menghirup udara senja itu. Hingga dia merasakan sepasang tangan tiba-tiba melingkar dipinggangnya dan memeluknya dari belakang.

“Hyun....” Yonghwa memanggil nama perempuan yang sangat dikenalnya dan tidak akan ada orang lain lagi yang memeluk tubuhnya seperti ini selain Seo Joohyun, istrinya. Seohyun tidak menjawabnya. Yonghwa bermaksud memutar tubuhnya dan menatap wajah Joohyun-nya. Tapi kedua tangan itu seperti enggan terlepas dari tubuhnya.

“Eiii.. weire, Yeobo? Apa kau begitu mencintaiku... hingga tak ingin melepaskanku?”

Tanya Yonghwa penuh percaya diri. Tapi lagi-lagi Seohyun tidak bergeming. Yonghwa merasa bingung dan aneh dengan sikap istrinya itu. Hingga sekali lagi dia berusaha untuk berbalik badan dan akhirnya, dia berhasil menatap wajah malaikat itu. Seo Joohyun... mungkin dia bukan perempuan paling cantik di belahan bumi ini. Tapi untuknya, Seo Joohyun adalah satu-satunya perempuan yang membuatnya ingin menetap dan mengakhiri pencariannya.

Yonghwa menatap wajah Seohyun penuh cinta. Begitupun Seohyun. Dengan senyum diwajahnya, Seohyun terlihat begitu bersinar dengan bening matanya yang membuat Yonghwa jatuh berkali-kali dalam tatapan itu.

“Joohyun ah... neol.. neomo yeppoda....! Jinjja yeppoda...!” Setengah berbisik, Yonghwa mengucapkannya. Mulutnya bisa berubah menjadi mesin otomatis yang akan mengucapakan  kalimat itu setiap kali matanya tenggelam dalam tatapan teduh Seohyun.

Namun Seohyun masih tetap diam. Selain senyum diwajahnya, Yonghwa tidak mendapatkan apapun lagi disana. Yonghwa tidak peduli. Dia benar-benar dalam pengaruh sihir kecantikan Seohyun yang perlahan membimbing wajahnya untuk semakin mendekati wajah malaikat dihadapannya. Hanya butuh beberapa detik untuk bibirnya bersatu dengan bibir Seohyun. Lagi! Untuk ribuan kalinya Yonghwa merasakan bibir itu, namun baru kali ini dia merasakan sesuatu yang berbeda. Ciuman itu, begitu manis, hangat, tapi juga terasa begitu sepi. Belum pernah dia merasakan perasaan seperti itu saat mencium Seohyun. Ciuman itu, terasa seperti akan merenggut sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Hingga meski betapapun nikmatnya bibir itu dibibirnya, Yonghwa masih tetap bisa merasakan rasa sakit yang begitu nyata dihatinya.

Perlahan, Yonghwa melepaskan kecupannya. Mata sayunya berusaha menangkap binar wajah itu dan mencari apa gerangan yang membuat ciuman tadi terasa begitu menyakitkan. Namun saat dia membuka mata, dihadapannya kini, tidak ada siapapun lagi. Seohyun tak lagi ada disana.

“Hyun....”

“Joohyun...”

“Seo Joohyun....”

Yonghwa mulai panik.  Matanya berusaha mencari kesekelilingnya namun Seohyun tak ada disana. Yonghwa berlari kencang. Dia mencari Seohyun ke semua tempat tapi tak ditemukannya. Yonghwa terus memanggil-manggil nama Seohyun seperti hampir gila. Disela isak tangis dan peluhnya, Yonghwa terus mencari. Hingga...

“Appa.....!”

Sebuah suara kecil menghentikannya. Yonghwa terdiam sesaat.

“Appa....” Sekali lagi suara itu tertangkap telinganya dan kali ini membuatnya yakin bahwa dia tidak sedang berhalusinasi. Yonghwa memberanikan dirinya untuk berbalik badan untuk melihat siapa yang baru saja berbicara.

Seorang gadis kecil dengan babydoll berwarna pink sedang berdiri ditengah sebuah taman sambil tersenyum menatapnya. Yonghwa memastikan kesekelilingnya, barangkali ada orang lain disana yang anak itu memanggilnya Appa. Tapi tak ada seorangpun. Hanya ada dia dan gadis kecil itu. Dengan ragu, Yonghwa perlahan mendekati gadis kecil itu. Saat tiba tepat dihadapannya, Yonghwa bersimpuh dengan satu lututnya untuk membuat tubuhnya nyaris sejajar dengan gadis kecil itu.

“Appa....” Sekali lagi gadis itu memanggilnya.

“Appa?”

Yonghwa bertanya disela kebingungannya. Gadis itu kembali menampakan senyum indahnya sambil menganggukkan kepalanya. Senyum itu..! Yonghwa ingat, dia pernah jatuh cinta pada senyum seperti itu sebelumnya. Dan mata itu.... kenapa semakin Yonghwa menatap mata gadis itu, semakin Yonghwa merasa sangat mengenalnya? Kedua mata gadis kecil itu sama persis seperti kedua mata miliknya.

Tak lama kemudian, gadis itu memeluk Yonghwa. Yonghwa terpaku. Membeku. Dia merasakan sepasang tangan kecil melingkar di pundaknya. Dan lagi-lagi Yonghwa merasa bahwa seseorang juga pernah memeluknya seperti itu dan menciptakan perasaan yang sama dalam hatinya. Perlahan, Yonghwapun memeluk gadis kecil dalam dekapannya. Tangannya mengusap lembut punggung kecil itu. Dan air matanya kembali mengalir.

“Appa mianhae, Aga...! Appa jongmal mianhae! Appa bersalah padamu, sayang!”

Lirih, kalimat itu mengalun dari bibirnya. Kemudian Yonghwa mulai merasakan tangan kecil itu menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut seolah gadis itu ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Lalu Yonghwa melepas pelukannya. Sekali lagi, Yonghwa menatap wajah gadis kecil itu. Gadis itu masih tersenyum padanya. Lalu kedua tangan kecilnya menyeka air mata dari pipi Yonghwa. Gadis kecil itu lalu mengambil sekuntum bunga sakura yang berjatuhan ditanah. Kali ini, tangan kecil milikya meraih tangan kanan Yonghwa. Perlahan, dia letakan sakura tadi ditangan Yonghwa dan kembali melemparkan senyum untuk Yonghwa.

“Saranghaeyo.... Appa....” Suara kecil itu menggetarkan hatinya.

Dan....

“Agaaaa!!!” Seketika Yonghwa mendapati dirinya duduk dan terbangun dari tidurnya. Jantungnya berdegub kencang. Peluh terasa bercucuran membasahi T-shirt yang dia kenakan.  Begitupun dengan air mata yang tanpa dia sadari sudah membasahi wajahnya. Yonghwa berusaha mengatur ritme nafasnya, karena rasa sakit itu masih terasa nyata dalam hatinya. Mimpi tadi... Gadis itu... gadis kecil dengan sepasang mata yang mirip dengan mata miliknya.... 

Yonghwa menyeka air mata di wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sejenak, dia metatap Seohyun yang kini tertidur lelap disampingnya. Hhh... meski dalam tidurnyapun, malaikatnya masih tampak begitu terluka. Wajahnya tampak lebih tirus. Dan kantung matanya terlihat lebih besar. Dengan lembut, Yonghwa mengusap kepala Seohyun-nya. Membayangkan betapa rapuhnya Seohyun saat itu. Bahkan kehilangan ini terasa amat berat untuknya, apalagi untuk Seohyun? Seohyun pasti ratusan kali lebih terluka.  Meski Seohyun terus berusaha untuk terlihat kuat dihadapannya, tapi berkali-kali Yonghwa menemukannya sedang menangis sendiri dikamarnya. Bagaimanapun, bayi itu adalah buah cinta pertama mereka.

Yonghwa perlahan meninggalkan kamarnya. Dia berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air minum. Dia membuka lemari es untuk mengambil botol air mineral tapi tangannya tiba-tiba tertahan.

“Saranghae Appa...”

Kalimat merdu itu kembali terngiang ditelinganya. Putri kecilnya...

Hhh... bahkan Yonghwa tidak tahu apakah calon bayinya itu akan menjadi seorang putri atau putra karena dia harus kehilangannya sebelum Yonghwa menyadari kehadirannya. Yonghwa benar-benar tidak tahu, bahwa malaikat kecil itu sudah hadir ditengah hidupnya. Jika saja dia tahu, mungkin seharusnya Yonghwa tidak mengajak Seohyun untuk menerima tawaran iklan itu. Jika saja Yonghwa tahu, bahwa dalam perut Seohyun saat itu sudah ada kehidupan kecil, maka dia akan melarang Seohyun untuk melakukan Bunjee Jumping dalam iklan itu.

Tangannya kembali bergetar. Tanpa dia sadari, sepasang mata sedang menatapnya dari belakang. Seohyun terbangun dan menyadari suaminya tidak ada lagi disampingnya. Lalu dia turun dari tempat tidurnya dan bermaksud untuk mencari Yonghwa. Dan Seohyun menemukan Yonghwa sedang berdiri dihadapan lemari es yang salah satu pintunya terbuka dengan tatapan kosong. Saat kakinya akan melangkah mendekati suaminya, Seohyun terhenti. Dia melihat pundak Yonghwa terguncang, lalu beberapa saat kemudian Yonghwa bersimpuh dilantai. Seohyun mendengarnya terisak. Yonghwa-nya menangis.

Dan luka dalam hatinya yang selama 2 minggu ini berusaha Seohyun sembuhkan, malam itu berdarah lagi. Yonghwa-nya selama ini menguatkan dirinya dihadapan Seohyun dan selalu menjadi suami yang mengagumkan untuk Seohyun. Tapi malam itu Yonghwa-nya menangis. Seohyun selama ini hanya disibukan oleh lukanya sendiri tanpa menyadari bahwa Yonghwa pun sama terluka karena kehilangan ini. Seohyun akhirnya berlari dan bersimpuh memeluk suaminya dari belakang. Air matanya kembali tumpah disana.

Dalam isakannya Seohyun memeluk erat punggung Yonghwa. Pada mulanya, Yonghwa kaget karena Seohyun tiba-tiba hadir dan melihatnya rapuh. Padahal selama ini Yonghwa selalu berusaha menyembunyikan kesedihannya demi agar Seohyun berehenti merasa bersalah pada dirinya.

Yonghwa menarik nafas panjang. Dia segera menyeka air matanya agar Seohyun tidak melihatnya dan kembali merasa khawatir. Tapi pelukan Seohyun justru membuat luka itu semakin jelas terasa. Belum lagi, mimpi tadi masih terasa nyata dalam ingatannya. Akhirnya Yonghwa gagal menyembunyikan kerapuhannya. Malam itu, dia benar-benar gagal.  Dia hanya membiarkan istrinya kembali menumpahkan tangis dan sedihnya dipunggungnya. Begitupun dirinya. Biar saja. Hanya sampai malam ini saja. Biar tangis malam ini menjadi cara mereka menyembuhkan luka mereka.

~To Be Continue~


Somehow, let your tears falling could be the right and the best way to heal your wounds. When nobody can help you, then you have to help yourself. And crying out all your pains is the only choice….
Mungkin selama ini yang kita tahu, keguguran itu hanya meninggalkan bekas luka untuk sang ibu. Karena biasanya, sang ayah akan kelihatan lebih kuat dan tegar dihadapan semua orang. Tapi kadang kita lupa, bahwa anak yang sebelumnya ada dirahim sang ibu, adalah anak sang ayah juga. So… dalam hal ini saya pengen reader juga tahu  bahwa Yonghwa juga terluka karena kehilangan ini. Yonghwa loved his baby too! Of course… he’s a good Appa to be… But… Yonghwa and Seohyun will pass this hurtful circumstance soon…. Don’t worry…