Kamis, 24 Desember 2015

In Time With You Chapter 23



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8






Chapter 23

Met The In Law

"Mwo ragoyo? Cangkok sumsum tulang belakang?" Seohyun membelalakan matanya usai Shim Changmin memberikan penjelasan tentang tindakan yang harus Seohyun jalani untuk penyakitnya. Gadis itu terguncang. Andwe! Cangkok tulang sumsum adalah treatment yang pernah diterima Eomma-nya. Dan gagal, hingga 2 tahun kemudian, Eomma-nya pergi untuk selamanya.

"Seo Joohyun Ssi, tolong dimengerti keseluruhan penjelasanku tadi. Dalam kasusmu, pencangkokan sumsum tulang adalah cara terbaik untuk bisa menyelamatkanmu dari kanker. Bukan berarti bahwa saat ini kau sudah terkena kanker. Sekali lagi aku tegaskan padamu, Joohyun Ssi, kau tidak terkena Leukimia seperti dugaanmu. Dan bila penyakit itu teramat menakutkan untukmu, maka tolong, lakukan prosedur ini." Sekali lagi, Changmin mencoba membujuknya. Gadis itu menangis lagi, membuat batin Kyuhyun semakin remuk.

"Lalu, apa dengan cara ini aku benar-benar bisa selamat, Euisan-Nim?" Lirih, gadis itu bertanya.

"90% pasien kami, yang terdeteksi dini dan segera menemukan donor sumsum tulang yang cocok, mereka bisa melewatinya dan sembuh total dengan pola hidup yang baik. Dan kasusmu, kau beruntung, Nona.. karena kami segera menemukannya sebelum kerusakan sumsum tulangmu terlalu parah." Changmin kembali menjelaskan. Tapi Seohyun masih belum tampak tenang. Wajah murungnya masih belum juga hilang.

"Berapa lama aku bisa menemukan donor yang tepat, Euisan-Nim? Berapa banyak uang yang harus aku keluarkan untuk semua pengobatan ini? Berapa lama aku bekerja keras mencari uang untuk semua itu?" Tatapnya sendu menusuk hati, membuat Changmin nyaris kehilangan kata-kata untuk dia ucapkan.

"Seo Joohyun Ssi, dalam hal ini.. kau hanya perlu untuk mengikuti saran kami saja. Jangan memikirkan masalah biaya dan lain-lain. Lalu tentang donormu, kami sudah menemukan satu donor yang paling tepat untukmu. Geok cheongmaseo.." Kali ini Changmin berbicara dengan intonasi lebih lembut. Tapi lagi-lagi, dokter muda itu menemukan sorot mata sendu itu.

"Mungkin mudah bagimu mengatakan itu, Euisan-Nim. Tapi untukku, mendengarmu mengatakan tentang penyakit ini, aku merasa seperti segalanya telah berakhir. Aku menyaksikan dengan kedua mataku bagaimana penyakit ini perlahan merenggut hidup Eomma-ku. Lalu, bagaimana bisa aku tidak perlu memikirkan biaya yang harus aku keluarkan? Bila bukan aku, maka siapa yang akan memikirkannya untukku? Aku tidak memiliki siapapun yang akan memperjuangkanku, Euisan-Nim. Jeongmal opsoyo! Jadi tentang prosedur pencangkokan ini, tolong beri aku waktu untuk memikirkannya." Baik Changmin, maupun Kyuhyun, keduanya hanya terdiam menundukan wajah mereka.

"Joohyun ah, untuk urusan itu, kau tenang saja. Aku akan membantumu. Ani.. maksudku.. perusahaan akan membantumu. Sebentar lagi, bukumu terbit dan kau akan mendapat royalti penuh dari penjualannya.

Jadi kumohon, turuti saran dokter, Joohyun ah. Lakukan saja hal yang akan membantu proses penyembuhanmu. Geok cheongma, kau tidak benar-benar sendiri, Seo Joohyun." Lembut, Kyuhyun menggenggam tangan kecil adiknya, berharap lelaki itu mampu menyalurkan kekuatan untuknya.

"Berapa banyak yang akan aku peroleh dari penjualan bukuku, Oppa? Aku ini hanya penulis pemula dan aku tahu... tidak akan semudah itu proses ini untukku. Neomu gomawoseo, untuk perhatianmu, dan semua yang Oppa lakukan untukku. Oppa benar-benar seperti seorang Oppa untukku. Tapi.... aku benar-benar butuh waktu untuk memikirkan lagi semua ini." Seohyun menatap Kyuhyun lebih dalam hingga membuat lelaki itu tidak berdaya. Lalu tiba-tiba Taeyeon datang memasuki ruangan tempat Seohyun dirawat. Dokter cantik itu berjalan mendekati tempat tidur Seohyun.

"Berapa banyak waktu yang kau butuhkan untuk berfikir, Joohyun ah? Satu minggu? Satu bulan? Satu tahun??" Taeyeon menatapnya tajam, namun penuh kelembutan.

"Honey, aku ingin bertanya sesuatu padamu."

"Nde, Eonnie.." Lirih, Seohyun menjawabnya.

"Uri Yonghwa... apakah kau mencintainya?" Taeyeon masih menatapnya lembut. Seohyun terdiam sejenak, mencerna maksud pertanyaan itu.

"Nde? Apa.. maksudnya, Eonnie?" Seohyun membalas tatapan Taeyeon dengan tatap bingungnya. Lalu dokter cantik itu meraih tangan Seohyun dan mengusapnya lembut.

"Aku bertanya, apa kau mencintai Yonghwa? Aku ingin tahu, apa arti dirinya dalam hidupmu?" Kedua gadis itu saling bertatapan untuk beberapa waktu, sebelum akhirnya Seohyun tertunduk dan menjawab lirih.

"Aku mencintainya, Eonnie. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa bahwa dalam dunia ini ada sesuatu yang baik yang pantas untuk aku syukuri, aku perjuangkan dan aku pertahankan. Dan Yonghwa Oppa, adalah satu kebaikan itu." Seohyun kembali menatap Taeyeon yang kini tersenyum teduh padanya.

"Daengida. Kalau begitu, lakukanlah demi Yonghwa, Joohyun ah. Jadilah gadis yang sehat dan kuat demi dia. Karena meski kau merasa bahwa hidupmu tidak berarti, dan bisa lenyap kapan saja... tapi untuk Yonghwa, kau adalah sumber kekuatannya! Tak peduli bagaimana kau merasa hidupmu tidak berarti... kau tidak tahu kan, bahwa kau kini menjadi alasan bagi seseorang untuk bernafas?
Setidaknya, hiduplah untuk membuat lelaki itu tetap hidup."

Lagi-lagi keduanya terdiam dan saling menatap.

"Aku tahu, Eonnie. Bagiku, Yonghwa Oppa juga satu-satunya yang berharga yang aku miliki. Tapi... " Seohyun kembali tertunduk.

"Aku takut, Eonnie. Aku benar-benar takut." Taeyeon mengusap pundak Seohyun dengan lembut.

"Ara. Semua itu manusiawi, Joohyun ah. Bayangkan, apa yang akan terjadi pada Yonghwa seandainya dia harus kehilanganmu karena penyakit ini. Lelaki itu harus mengalami tragedi untuk kedua kalinya dan aku yakin.... dia tidak akan mampu bertahan kali ini.

Jadi kumohon, Joohyun ah, beri dirimu kesempatan untuk bisa sembuh. Buka hati dan fikiranmu dan jangan menolak orang-orang disekitarmu yang dengan tulus ingin menolongmu. Karena dengan begitu, kau juga menolong Yonghwa. Hhm?" Tatapnya sedikit mengiba. Apa yang Taeyeon katakan adalah benar adanya. Setidaknya, jika Seohyun bersikeras menolak prosedur itu dengan segala alasan yang dimilikinya, maka Yonghwa harusnya bisa menjadi satu alasan yang mengalahkan puluhan alasan-alasan itu.

Dan akhirnya, Seohyun setuju. 3 minggu lagi, dia akan menerima pencangkokan sumsum tulang belakang yang didonorkan oleh kakak kandungnya sendiri. Cho Kyuhyun. Dan rasa bahagia tak terhingga memenuhi hati lelaki yang penuh penyesalan itu. Kali ini, dia akan melakukan segalanya. Memberi segalanya demi bisa menyelamatkannya.

Satu hal yang seharusnya dia lalukan tetapi tidak dia lakukan pada Eomma-nya dulu.

*****

Salju turun lagi malam itu. Butiran-butiran halus seputih kapas bertaburan dibalik kaca jendela rumah sakit. Tubuhnya terasa jauh membaik. Perawatan beberapa hari di rumah sakit ini benar-benar membantunya. Besok Seohyun sudah diperbolehkan pulang dan kembali menjalani aktifitasnya sebelum operasinya 2 minggu lagi. Tentu saja, dia tetap tidak boleh kelelahan.

Tiba-tiba, wajah Yonghwa tergambar dalam ingatannya. Sudah seminggu berlalu, dan dia sangat merindukannya.

"Apa yang sedang kau lakukan malam ini, Oppa? Apa urusanmu sudah selesai? Apa kau makan dan tidur dengan baik? Apa kau lelah?" Gadis itu bergumam sendiri sambil menatap butiran salju yang turun dibalik jendela.

"Salju malam ini turun lagi, Oppa. Apa kau melihatnya? Hhh... mungkin akan lebih baik rasanya bila malam ini tubuhku terkunci dalam pelukanmu sambil melihat salju-salju ini jatuh menyentuh tanah. Seperti malam itu....

Hhh... aku merindukanmu, Oppa. Aku rindu ganggaman tanganmu yang dengan ajaib selalu mampu mengusir rasa takutku.

Jung Yonghwa, jeongmal bogoshiposeo."

Untaian kata itu syahdu mengalun dari bibirnya. Kenangan terakhir liburan mereka malam itu kembali berputar dalam ingatannya, yang membuat rindu itu terasa semakin pekat.

Lalu tiba-tiba, Seohyun merasakan sepasang tangan melingkar ditubuhnya. Kehangatan itu, aroma parfum itu, dan kedua tangan itu, dia mengenalnya. Ya, Seohyun sangat mengenalnya.

Dia bisa merasakan hembusan nafas menyapu pundak dan lehernya. He kissed her there. Stuck on her body and lost in her presence beauty. He missed her like dying too.

Dengan kedua tangannya, Seohyun merengkuh tangan pria itu didadanya. Erat, dia menggenggamnya, seolah dengan begitu dia sedang mengatakan rentetan kata-kata rindu padanya. Teramat merindukannya, hingga pelukan itu terasa seperti mimpi.

"Na do, bogoshiposeo.. Seo Joohyun.." Lelaki itu lembut berbisik.

Tak ada yang lebih indah dan lebih merdu dibandingkan dengan lembut suara bisikan itu ditelinganya. Alih-alih membalikan tubuhnya, Seohyun memilih untuk memejamkan kedua matanya dan menikmati hangatnya dekapan itu ditubuhnya. Yonghwa-nya. He's back.

Keduanya terbaring diatas tempat tidur rumah sakit. Berbagi tempat sempit itu hanya untuk bisa merasakan keberadaan satu sama lain. Keduanya saling berhadapan dan terhubung dengan satu garis tak terputus. Tatapan.

Yonghwa menyisir lembut rambut Seohyun lalu menyelipkannya dibalik telinganya. Perlahan, dengan lembut jemarinya mengusap wajah malaikat itu.

"Kau tampak kurus, Angel. Wajahmu juga begitu pucat." Akhirnya, setelah puas menatapnya selama beberapa waktu, Yonghwa membuka mulutnya.

"Oppa do. Kau tampak kurus dan lebih hitam. Kau pasti sangat lelah, Mr. Gold!" Tak mau kalah, Seohyun pun mengusap lembut wajah lelah Yonghwa dihadapannya.

"Maja. Aku tidak pernah tahu bahwa merindukanmu bisa selelah ini. Terlebih saat aku tahu kau sakit seperti ini. Rasanya setiap menit berjalan begitu lambat dan aku benar-benar tak sabar menunggu waktu untuk bisa terbang ketempatmu." Suara seraknya, hanya Tuhan yang tahu bahwa Seohyun sangat merindukan semua itu.

"Mianhae, Oppa. Aku selalu saja membuatmu khawatir. Geok cheongma, dokter bilang, tidak ada yang serius dengan penyakitku. Aku janji, aku akan menjaga diriku lebih baik lagi. Untukmu, Oppa. Demi agar aku bisa hidup bersamamu lebih lama, aku berjanji, aku akan sembuh." Bening matanya meredup.

"Mwo? Apa maksudmu, Seo Joohyun? Apa yang sebenarnya terjadi dengan penyakitmu?" Lelaki itu mulai panik dan matanya menatap tajam.

"Opso, Oppa. Jeongmal opso. Nan jinjja gwaenchanna. Aku mengatakan itu, karena aku ingin agar Oppa tidak lagi mengkhawatirkanku." Seohyun menyisir lembut rambut Yonghwa-nya, hingga lelaki itu kembali tampak tenang.

"Just keep your promise, Love. Saat ini aku benar-benar membutuhkanmu, Joohyun ah. I need you to be strong so i can get my power too. Karena seperti nya pertarungan keluargaku masih panjang." Kini, tatap matanya yang meredup.

"Oh iya, bagaimana dengan masalah Appa-mu? Naega jeongmal mianhaeseo, Oppa. Disaat seperti ini, aku seharusnya berada disampingmu."

"Ijae gwaenchanna. Appa-ku sudah dibebaskan dan hanya menjadi tahanan kota. Tapi kasus cassino gelap itu masih terus bergulir dan diselidiki lebih lanjut. Masalahnya sekarang adalah.... dukungan untuk Appa di perusahaan melemah drastis. Kami masih harus melakukan lobi dengan beberapa pemegang saham lainnya agar tetap berada dipihak Appa." Seohyun bisa melihatnya. Beban yang kini menggantung di pundaknya, tidak akan sesederhana yang mereka fikirkan.

"Disaat seperti ini, aku baru bisa memahami bagaimana kerasnya perjuangan Appa, Joohyun ah. Andai kau tahu, betapa mengerikannya kursi yang setiap hari dia duduki itu. Appa harus menjadi orang yang sangat kuat agar dirinya bisa duduk disana dengan selamat, karena ternyata... orang-orang yang setiap hari tersenyum dan membungkukan tubuh dihadapannya bisa menjadi musuh bersenjata yang akan mencelakainya kapan saja.

Aku menyesal, Joohyun ah... andai sejak dulu aku menjadi anak yang penurut, maka saat ini Appa tidak akan selelah ini berjuang sendiri. Hyung mungkin masih hidup dan akan membantunya. Dan aku.. tidak akan menjadi anak yang tidak berguna seperti saat ini."

Suaranya lirih mengiris hati. Air mata lelaki itu kembali mengalir dari sudut matanya. Bergegas, Seohyun mengusapnya.

"Kau telah melakukan yang terbaik, Oppa. Aku mendengar dari Taeyeon Eonni dan semua itu membuatku bangga." Sekali lagi, Seohyun mengusap kepalanya dengan lembut.

"Oppa, dalam dunia ini tidak ada seorangpun yang tidak pernah berbuat salah. Melihat bagaimana kerasnya usahamu untuk memperbaiki semua kesalahan yang pernah kau lakukan dimasa lalu, bagiku, kau adalah lelaki tangguh yang pemberani. Aku sangat mengerti, Oppa. Memaafkan diri sendiri itu adalah hal yang teramat sulit. Dan kau membuktikan padaku bahwa kau bukan seorang pengecut. Yongdo Oppa, dan kedua orang tuamu pun, aku yakin.. mereka akan merasakan hal yang sama.

Dan tentang kepergian Hyung-mu....

Sayang, kita ini hanya mahluk ciptaan dan selamanya hanya bisa mengikuti keinginan Sang Pencipta. Tangan-tangan kecilmu tidak akan mampu melawan kehendak Tuhan. Saat Tuhan menginginkan Hyung-mu kembali padanya, itu artinya.. Tuhan lebih menyayanginya melebihi kasih sayangmu pada Hyung-mu."

Siapa yang tidak akan jatuh tersentuh oleh kalimat indah yang baru saja mengalun dari mulut malaikat hatinya? Bukan hanya menenangkan, tapi semua itu juga menyembuhkan. Bagaimana Joohyun-nya menjadi penawar untuk perihnya luka beberapa tahun ini.

Yonghwa menarik tubuh gadis dihadapannya lalu mendekapnya erat. Lembut, dia mengecup keningnya.

"Ketika aku hampir marah pada Tuhan, Dia lalu mengirimmu kedalam hidupku. Kau menyelamatkan aku, Hyun..." Yonghwa mendekapnya semakin erat. Dan Seohyun tak mau kalah. Gadis itupun melingkarkan tangannya di pinggang Yonghwa.

"Oppa do. Meski kau tidak tahu, tapi kau adalah alasanku untuk hidup. Kau juga menyelamatkan aku, Oppa...." Bisiknya.

*****

Esoknya....

"Mwo? Busan?" Taeyeon berusaha mencerna nya sekali lagi.

"Iya, Busan. Eomma dan Appa ingin sekali bertemu dengannya. Apalagi setelah mereka mendengar Joohyun sakit. Mereka sangat khawatir." Yonghwa mengatakan pada Taeyeon bahwa dia akan mengajak Seohyun ke Busan menemui keluarganya.

"Tapi kan.. Joohyun itu masih belum sepenuhnya pulih. Dan Busan.." Taeyeon jadi bingung sendiri menjelaskan semua itu pada Yonghwa. Karena seperti janji nya pada Seohyun, Taeyeon tidak boleh mengatakan penyakit Seohyun pada Yonghwa sampai operasi pencangkokan tulang sumsum itu dinyatakan berhasil.

"Wae? Bukankah kemarin Noona bilang bahwa Joohyun sudah sehat? Lagipula, kami akan memakai pesawat ke sana. Dia tidak akan kelelahan kok."

"Araso.. araso! Hanya berjanji satu hal padaku, Jashik ah! Jangan sampai dia kelelahan. Jangan terlalu banyak menghabiskan waktu diluar ruangan, terlebih saat salju turun dengan lebat. Aku tidak ingin Joohyun terserang flu dan semua jadi berantakan." Taeyeon tidak main-main. Dia bahkan menunjukkan jari telunjuknya tepat ke hidung Yonghwa.

"Ara! Aish... singkirkan tanganmu ini, Noona! Aigoo... kenapa dalam hidupku aku dikelilingi perempuan-perempuan yang agresif?" Yonghwa mengusap-usap hidungnya, dan Taeyeon terkekeh melihatnya.

"Geurae, jaga dia baik-baik. Sampaikan salamku pada Samchoon dan Gumo. Aku mungkin baru bisa pulang saat tahun baru. Saat itu, aku akan menemui mereka." Dokter cantik itu menepuk lengan sepupunya.

"Okay, noisy!" Yonghwa mengacak rambut Taeyeon, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan ruangannya.

*****

Busan

Seohyun dibuat terpana saat dia melihat sebuah gerbang besi yang tinggi itu terbuka secara otomatis. Yonghwa kemudian melajukan mobilnya melewati gerbang tadi, dan membuat Seohyun semakin terpukau.

Seandainya istana dalam kisah cinderella itu memang ada di jaman modern ini, maka mension keluarga Jung akan menjadi salah satunya. Dari pintu gerbang ke pintu utama saja harus melewati sebuah taman yang luar biasa luasnya.

Lalu Yonghwa menghentikan Porsche hitamnya tepat didepan pintu utama. Tampak seorang pria sudah berdiri tegak di depan pintu dan siap untuk menyimpan mobilnya ketempat yang seharusnya. Yonghwa melepas seat beltnya kemudian membantu Seohyun melepaskan miliknya. Pria yang berdiri tadi lalu membantu Seohyun membukakan pintu mobil Yonghwa. Semua terasa canggung dan tak biasa baginya.

Yonghwa menggenggam tangan Seohyun yang kala itu terasa dingin. She was so nervous.

"Kajja, Hyun. Mereka sudah menunggumu didalam." Yonghwa tahu, gadisnya sedang benar-benar gugup. Dia memeperkuat genggamannya, sambil memapahnya masuk.

Lagi-lagi Seohyun terpana. Tempat ini terlalu megah untuk mereka sebut rumah. Mulai dari lantai marmer, lampu kristal yang menjuntai dari atap rumah ini hingga nyaris menyentuh lantai, hiasan-hiasan kramik, lukisan-lukisan, semuanya hanya Seohyun dapati dalam novel dan beberapa drama korea.

"Gwaenchanna, Baby. Bersikaplah senyaman mungkin. Bila rumah ini membuatmu kurang nyaman karena barang-barang dan furniture mewahnya, aku beri tahu, Eomma dan Appaku bukanlah representasi dari tempat ini. Mereka adalah orang-orang yang sederhana dan berfikiran terbuka. Apalagi saat ini. Keluarga kecilku benar-benar akan bahagia hanya dengan sesuatu yang sederhana." Yonghwa menghadap kearah Seohyun di sampingnya, lalu membuat gadis itupun menghadapnya. Lembut, dia mengusap rambut Seohyun dan menyisirnya.

"Percayalah, mereka menginginkanmu untuk menjadi bagian dari kebahagiaan kami itu. Kajja... aku rasa mereka sudah menunggu kita di ruang makan."  Yonghwa tersenyum menenangkan. Dan akhirnya, senyum Seohyun-nya pun mengembang.

Setelah melewati beberapa ruangan yang menakjubkan, mereka akhirnya menemukan dimana Tn. Jung dan Ny. Jung berada. Kedua orang tua itu segera bangkit dari posisi duduk mereka dan menyambut anak-anak itu dengan wajah sumbringah. Ny. Jung bahkan berjalan cepat menghampiri mereka dan merentangkan tangannya untuk memeluk Seohyun.

"Aigoo.. akhirnya kita bertemu, Nak." Ny. Jung memeluk Seohyun dengan hangat. Usapan demi usapan yang dia berikan dipunggungnya, yang entah bagaimana, tapi semua itu terasa seperti aliran listrik yang mengalir hingga ke hati Seohyun. Dia bahkan lupa, kapan terakhir kali dia merasakan sentuhan dan pelukan seperti itu. Air matanya nyaris meleleh lagi. Ny. Jung melepas peluknya, lalu menatap lekat wajah calon menantunya.

"Kau benar-benar cantik, Aga. Tidak heran, putraku jatuh cinta padamu." Lembut, tangan halusnya mengusap wajah Seohyun. Lagi-lagi semua itu membuat Seohyun ingin menangis.

"Anyeong haseo, Eomonim, Abonim, maaf.. saya baru sempat berkunjung saat ini." Seohyun membungkukkan badannya dan mencoba merekahkan senyum terbaiknya, dibalik rasa haru yang menyelimuti hatinya.

"Gwaenchanna, Aga. Kami mengerti kesibukan anak-anak muda sekarang. Gomawo, karena kau mau datang jauh-jauh ketempat ini." Kali ini, Tn. Jung yang bicara. Lelaki paruh baya itu berjalan mendekati Seohyun dan memberinya senyum hangat.

"Jo do, neomu kamsahamnida, Abonim, Eomonim. Maaf, saya datang tanpa membawa dan mempersiapkan apapun. Yonghwa Oppa memberi tahu saya begitu mendadak tadi malam jadi..."

"Gwaenchanna. Kau tidak perlu repot-repot, Nak. Melihatmu ada disini pun sudah membuat kami bahagia. Kajja.. kita duduk." Ny. Jung menggandeng tangan Seohyun dan membimbingnya ke meja makan. Sepertinya wanita paruh baya ini melupakan sesuatu.

Putranya.

"Aigoo... tidak ada yang mengharapkan kehadiranku, sepertinya!" Merasa diabaikan, Yonghwa menggerutu nyinyir, membuat Eomma-nya tersadar. Wanita cantik itu memutar tubuhnya lalu kembali menatap putranya yang sedang memasang wajah muram.

"Omo.. Uri Adeul waseo? Aigoo... bagaimana mungkin aku bisa sampai melupakanmu? Mianhae, Adeul.. Nawa.. kemarilah..." Ny. Jung melambaikan tangannya. Yonghwa berjalan lemas mendekati Seohyun dan ibunya di meja makan. Masih dengan wajah kusutnya. Seohyun tidak bisa menahannya dan dia pun terkekeh.

"Apa aku bilang? Benarkan? Begitu Eomma melihatmu, maka dia akan segera melupakanku!" Setengah berbisik, Yonghwa kembali menggerutu.

"Geumanhae, Yonghwa ah! Eomma mianhae. Aku hanya terlalu senang melihat gadismu datang. Ngomong-ngomong, kalian begitu terlambat. Eomma dan Appa sudah menyiapkan hidangan ini sejak pagi. Untung aku menatanya diatas tray pemanas. Ayo, Joohyun ah, cobalah masakan Appa-mu ini. Kau pasti tidak percaya, bahwa suamiku yang memasak semua ini. Eomma hanya membantu sedikit saja."

"Oh.. jeongmalyo?" Baik Seohyun maupun Yonghwa, kedua nya terkejut mendengar semua itu.

"Aboji, sejak kapan Aboji suka memasak? Selama menjadi putramu, aku bahkan belum pernah melihatmu berada didapur. Bagaimana mungkin Appa menyiapkan semua ini?" Pria itu tersenyum mendengar komplain anaknya.

"Aku memang tidak pernah menunjukkan sisi ini dihadapan siapapun selain didepan ibumu. Sebagai presdir, aku harus menjaga wibawaku. Aku fikir, dengan menunjukkan sisi yang lembut, relasi dan kompetitor ku bisa saja merendahkanku dan menganggapku mudah. Termasuk dihadapan putra-putraku. Dulu, aku ingin menjadi ayah yang disegani dan dibanggakan." Sejenak Tn. Jung tersenyum sambil menatap hidangan dihadapannya. Lalu, pria itu meneruskan kalimatnya dengan suara lirih.

"Tapi kini... aku hanya ingin menjadi Appa yang baik. Aku sadari, tidak ada yang lebih penting dan lebih membuatku bahagia selain melihat keluargaku bahagia." Pria itu tersenyum menatap kedua mata putranya. Kedua lelaki penuh penyesalan itu, akhirnya bisa saling mendengar jerit batin masing-masing. Meski sedikit terlambat.

Dan mereka melewati makan siang yang hangat, meski salju turun cukup lebat. Usai makan siang, keempat orang itu menuju ruang keluarga. Disana suhu udaranya lebih hangat dan lebih nyaman untuk mengobrol dan berbagi cerita.

Sebuah sofa berwarna maroon menyudut disatu ruangan besar. Disudut ruang, ada sebuah Grand Piano putih dan dua buah Acoustic Guitar yang tersimpan dengan cantik. Semua itu menarik perhatian Seohyun. Piano, benda yang dulu begitu akrab dengannya. Saat Eomma-nya masih hidup.

"Bagaimana kesehatanmu sekarang, Nak?" Tn. Jung membuka perbincangan sambil menikmati chese cake buatan istrinya.

"Jauh lebih baik, Abonim. Hanya saja, saya masih belum dijinkan untuk bekerja. Taeyeon Eonnie mengancam saya, bila saya sampai kelelahan." Tn. Jung tertawa kecil. Pria itu terlihat bahagia siang itu. Ny. Jung juga tak kalah berbinar.

"Syukurlah. Eomma tadinya ingin menjengukmu kemarin. Tapi Taeyeon bilang, kau sudah membaik. Kau harus lebih menjaga kesehatanmu, Aga. Hatiku sakit saat Yonghwa bilang bahwa kau hidup seorang diri di kota besar itu. Tapi Yonghwa bilang, bahwa kau tinggal bersamanya. Dan aku memukul kepala anak ini saat dia bilang bahwa kau menyewa kamar padanya." Dug!! Seketika hati Seohyun terasa meloncat dari dadanya.

"Nde? Ah.. Jeoseohamnida, Eomonim. Saya sedang mencari tempat tinggal baru yang lebih dekat ke tempat kerja saya. Mungkin bulan depan, saya akan segera pindah dari sana." Gadis itu merasa amat malu dan tidak enak dimata kedua orang tua Yonghwa. Apa yang akan mereka fikirkan tentangnya, saat mereka mengetahui bahwa dia tinggal satu atap dengan putranya? Batinnya kalut.

"Mwo? Ani ah.. Joohyun ah. Bukan begitu maksud Eomma. Aku hanya terkejut, kenapa anak ini malah meminta uang sewa padamu? Bukankah dia menyukaimu? Kenapa harus sewa segala? Yonghwa bilang, kau yang memaksanya untuk menerima uang sewa itu, tapi tetap saja.. itu membuatku marah. Mana boleh seorang pria memperlakukan gadis yang dicintainya seperti itu?

Karenanya, Joohyun ah.. tinggalah disana dengan nyaman. Aku hanya titip satu hal. Kalian harus bisa bertanggung jawab dengan hidup kalian sendiri. Kalian mengerti kan maksudku? Dan aku rasa kalian sudah cukup dewasa untuk menjalani hidup kalian sendiri. Aku percaya, kalian tahu apa yang harus dan tidak harus kalian lakukan."

Seohyun tertunduk sambil menganggukan kepalanya. Ada rasa lega, sekaligus malu.

"Mwo ya, Eomma? Memangnya aku terlihat seperti akan mencelakainya? Aigoo... jinjja...." Rupanya, Yonghwa juga merasa gugup dengan ucapan Eomma barusan.

"Bukan begitu.... bagaimana pun Joohyun itu anak orang. Dan kau harus menjaganya! Bukan hanya dari orang lain, tapi juga dari dirimu sendiri!" Ny. Jung menatap tajam putranya hingga membuat Yonghwa meringis. Syukurlah, Appanya segera menjelma menjadi superman untuknya.

"Geumanhae, Yeobo! Mereka sudah dewasa. Kau tidak perlu mencampuri urusan mereka sampai kesitu."

"Aku tahu, Yeobo.. aku hanya tidak ingin anak kita merugikan orang lain. Sebagai sesama perempuan, aku pasti akan memihak Joohyun dalam hal ini. Karena bagaimana pun, kaum kamilah yang akan dirugikan."

"Iya, tapi kau tidak harus sampai seperti itu. Biar saja mereka menjalani hidup mereka dengan nyaman. Yonghwa juga bukan lelaki yang kubesarkan tanpa tanggung jawab. Sebagai lelaki, aku mengerti, Yonghwa tidak akan bertindak bodoh apalagi sampai menyakiti gadisnya. Kau tenang saja, kaum-ku tidak selalu akan selalu menyakiti kaum-mu. Lagipula, aku malah senang bila mereka bisa segera memberiku cucu."

"MWO?!!!!"

"NDE?!!!!"

Yonghwa dan Seohyun serentak terhenyak. Cucu? Orang tuanya pasti sudah gila! Mereka sebenarnya sedang berbicara apa sih? Kaum-ku? Kaum-mu? Huffh.. Yonghwa benar-benar sakit kepala. Memangnya mereka fikir anak nya hidup di era 70-an?

"Wae? Apa yang salah, bila diusiaku kini aku menginginkan seorang cucu? Bila bukan meminta padamu, lalu aku harus meminta pada siapa? Hyung-mu tidak ada, dan kau satu-satunya yang aku miliki. Aku tidak minta banyak. Aku hanya ingin seorang menantu dan beberapa orang cucu. Permintaanku ini sederhana kan?" Tn. Jung menatap putranya serius. Yonghwa menggantung mulutnya usai perkataan Appa-nya barusan dan menatap tidak percaya. Begitupun Seohyun. Dan Ny. Jung... wanita cantik itu tertunduk, tak kuasa menahan tawanya.

"Mitjindeul. My God... he never change at all. Aigoo.." Yonghwa menggerutu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tn. Jung menahan tawanya melihat bagaimana putranya dan gadis yang dicintai Yonghwa bereaksi.

"Geumanhae, Yeobo. Kita sudah keterlaluan menggoda mereka. Lihat, wajah menantumu merah padam. Aigoo... Joohyunie mianhae. Kami hanya bercanda, Aga. Sudah lama dalam keluarga ini tak lagi terdengar suara tawa. Kau tidak akan tahu bagaimana bahagianya kami melihat Uri Yonghwa menemukan kembali hidupnya. Dan melihatmu, kami semakin bahagia karena Yonghwa akan bersama perempuan yang tepat menjalani sisa hidupnya saat kami tiada nanti." Ny. Jung menggengam tangan Seohyun dan mengusapnya lembut.

"Eii.. kau ini bicara apa, Miss Kim? Kau pernah berjanji padaku bahwa kau akan hidup sangat lama dan melihat cucu-cucuku nanti." Kini, giliran Yonghwa menggoda Eomma-nya.

"Aigoo.. geun saeki ah! Sebelum kami melihat cucumu, kami ingin melihat anakmu lebih dulu." Sekali lagi Tn. Jung menyerang putranya.

"Appa... geumanhaeyo! Apa kau ingin Joohyun kapok dan enggan berkunjung lagi ke sini?" Yonghwa mulai merengek.

"Mwo? A.. anieyo, Abonim. Mana mungkin saya kapok?" Seohyun tersenyum aneh, lalu melempar tantrum ke arah Yonghwa. Sebuah isyarat agar lelaki itu menutup mulutnya.

"Tuh.. dengar! Menantuku lebih pengertian dari putraku sendiri!" Tn. Jung masih tak mau kalah.

"Geumanhae, neol duri! Yonghwa ah, lebih baik kau mainkan sebuah lagu untuk kami. Aku rasa itu akan lebih baik dari pada melihat kalian berdua bertengkar. Aku bosan melihatnya. Palli!! Mainkan gitarmu!" Ny. Jung menuangkan lagi teh hangat ke masing-masing cangkir diatas meja.

"Okay, Miss Kim! Anything for you!" Yonghwa mengedip nakal kearah Eomma-nya, kemudian sebuah pukulan mendarat dikepalanya.

"Awww!!!" Spontan, Yonghwa mengusap kepalanya sambil meringis.

"Miss Kim adalah yeoja-ku! Jadi berhenti menggodanya karena kau punya yeoja-mu sendiri, Phabo ah!" Tn. Jung hari ini benar-benar membuat Yonghwa tercengang. Sejak kapan ayahnya punya sisi gila seperti itu? Tapi dia abaikan saja. Beginilah seharusnya sebuah keluarga menjalani hidupnya. Yonghwa kemudian bangkit, dan mengambil gitarnya.

"Okay... i'll sing this song especially for the best women in my life. Mrs. Jung and you.. Soon to be Mrs. Jung. Untuk segala yang sudah kalian berikan dalam hidupku, neomu gomawoseo. Gomwoyo, Eomma... sudah memberiku sebuah kehidupan. Dan untukmu, Baby... Gomawo! Sudah memberiku alasan untuk tetap hidup. Saranghae....." Kedua wanita cantik itu langsung sibuk menahan haru mereka. Air mata tiba-tiba saja menggenang dikedua kelopak mata mereka. Lalu tiba-tiba pria disamping mereka mengangkat satu tangannya.

"Bagaimana denganku? Apa kau tidak menyayangiku?" Tn. Jung kembali bertingkah konyol hingga semua orang tidak mampu menahan tawa mereka.

"Araso.. araso. Aigoo.. hari ini Appa benar-benar menggelikan. Geurae, Tuan Jung. Tentu saja aku berterima kasih padamu. Untuk semua yang aku miliki saat ini. Untuk membuatku berdiri sebagai diriku kini. Dan untuk menikahi Miss Kim sehingga aku punya Eomma yang cantik, neomo gomawoyo. Geurigo, neomu mianhaeyo, Aboji. Untuk semua yang aku lakukan di masa lalu. Saranghaeyo, Appa..." Kini, giliran kedua lelaki itu yang saling menatap haru. Tapi tidak berlangsung lama. Dengan senyum malaikatnya, Yonghwa mulai memetik senar-senar gitarnya.

Whenever I'm weary
From the battles that raged in my head
You made sense of madness
When my sanity hangs by a thread

I lose my way,
But still you seem to understand
Now & Forever,
I will be your man

Sometimes I just hold you
Too caught up in me to see
I'm holding a fortune
That Heaven has given to me

I'll try to show you
Each and every way I can
Now & Forever,
I will be your man

Now I can rest my worries
And always be sure
That I won't be alone, anymore
If I'd only known you were there
All the time,
All this time...

Until the day the ocean
Doesn't touch the sand
Now & Forever
I will be your man
Now & Forever,
I will be your man

"Now And Forever"
Richard Marx

Baik Eomma-nya ataupun Seohyun, kedua wanita itu menatap Yonghwa dengan mata haru dan berkaca-kaca. Mereka lalu bertepuk tangan usai mendengar lagu ter-merdu yang pernah mereka dengar. Lalu tanpa diduga, Seohyun tiba-tiba berdiri dan menghampiri Yonghwa. Gadis itu duduk di depan Grand Piano putih itu, dan dalam beberapa saat mulai memainkan denting-denting piano dengan jemari lentiknya. Yonghwa sekali lagi menggantung mulutnya dan menatap gadisnya tidak pecaya. Dia tidak menyangka Joohyun-nya bisa memainkan piano se-mahir itu. Dengan sendirinya, Yonghwa mengiringi melodi piano Seohyun dengan petikan gitarnya.

He knew that song. He loved it. His Brother loved it too.....

Dan Yonghwa kembali bernyanyi. Lembut, sambil menatap bidadari dengan rambut panjang  terurai yang sedang memainkan melody begitu indah. Semua itu semakin mengikat erat hatinya.

I don't know you
But I want you
All the more for that

Lalu Seohyun mengiringi suara lembut Yonghwa dengan harmoni dari suara indahnya yang lagi-lagi membuat Yonghwa terpana dalam takjub. Dia tidak tahu bahwa Seohyun punya suara seindah itu.

Words fall through me
And always fool me
And I can't react

Melodi musik mereka, harmoni suara mereka, dan cara keduanya saling menatap satu sama lain, memberi Tn. Jung dan Ny. Jung kebahagiaan tak tertandingi oleh apapun. Melihat betapa Yonghwa jatuh mencintai Seohyun, begitupun sebaliknya, kedua orang tua ini hanya bisa menatap haru sambil mengucap syukur dalam hati mereka.

And games that never amount
To more than they're meant
Will play themselves out

Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice, you have a choice
You'll make it now

Falling slowly, eyes that know me
And I can't go back
Moods that take me and erase me
And I'm painted black

You have suffered enough
And warred with yourself
It's time that you won

Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice, you have a choice
You've made it now
Falling slowly sing your melody
I'll sing it loud

"Falling Slowly"
Glen Hansard feat. Markéta Irglová

"Whooa.. My Baby. How could you? Omo... kau... Seo Joohyun, bagaimana mungkin aku sampai tidak tahu bahwa kau bisa memainkan piano dan bernyanyi seindah itu? Kau..." Yonghwa terpaku sambil berdiri usai menyimpan gitarnya.

*(Ingat.. ekspresi terkejut, terharu, tersentuh Yonghwa selesai dengar Banmal Song Seohyun's version di last episode WGM).

Seohyun tersenyum antara gugup, malu sekaligus bangga. Akhirnya, setelah bertahun-tahun berlalu, dirinya masih bisa memainkan melodi itu. Lagu itu, adalah lagu yang selalu dia nyanyikan dengan Eomma-nya dulu. Keduanya lalu duduk kembali disamping Tn. dan Ny. Jung. Yonghwa tak henti-hentinya menatap Seohyun-nya terkagum-kagum.

"Ooh... menantuku benar-benar luar biasa. Joohyun ah, bulan depan, aku akan mengajakmu ke acara amal perusahaan kami. Aku tidak sabar ingin memamerkan menantuku yang bukan hanya cantik, tapi ternyata sangat mahir bermain piano. Lihat saja, Ny. Lee kali ini akan menutup mulutnya dan berhenti memamerkan Yoona di hadapan teman-temanku." Seohyun menahan tawanya.

"Geumanhae, Eomma. Jangan membuatku malu. Biar aku saja yang menghajar putra nya saat dia memamerkan kisah cintanya dihadapanku. Lagipula, aku yakin, Jonghyun sudah mengatakan pada Eomma-nya tentang Joohyun. Lelaki itu juga mengakui bahwa Joohyun-ku tidak kalah cantik dengan Yoona. Setidaknya, Joohyun tidak akan pernah memukul kepalaku atau menendang kakiku saat dia kesal padaku seperti yang selalu Yoona lakukan padanya. Tsk... Pria yang malang..." Yonghwa terkekeh sendiri membayangkan nasib sahabatnya.

Lalu malampun tiba. Usai makan malam, semua orang bersiap memasuki kamar masing-masing.

"Joonhyun ah... hmm.. apa kau keberatan bila aku ingin tidur bersamamu?" Tiba-tiba Ny. Jung mengajukan pertanyaan yang membuat kedua lelaki diruang makan itu tercengang.

"Nde?" Seohyun berusaha memperjelas. Dia khawatir bila dia telah salah mendengarnya.

"Girls time, you know?! Otthae? Karena aku tidak punya anak perempuan, maka aku tidak pernah melakukannya. Boleh kan??" Matanya mengiba. Seohyun terpaku untuk beberapa saat. Ada perasaan lucu, sekaligus bahagia dalam batinnya. Dia tidak lagi merasa heran tentang dari mana Yonghwa mendapatkan sifat konyolnya. Karena kedua orang tuanya pun ternyata merupakan orang-orang yang hangat.

"Yeobo, geumanhae! Joohyun pasti sangat lelah setelah seharian ini menemani kita. Sudahlah, biarkan dia istirahat." Tn. Jung mencoba menghentikan kekonyolan istrinya.

"Aniyo, Abonim. Gwaenchanseumnida. Saya sama sekali tidak terganggu. Sudah lama, sejak Eomma meninggal, saya tidak pernah lagi diperlakukan seperti ini."

"Kau dengar kan? Joohyun tidak keberatan, kok. Kau tidur sendiri malam ini, Yeobo! Biarkan aku dan putriku menghabiskan malam ini bersama. Dan kau Yonghwa! Kau tidak sedang berencana untuk menyelinap masuk kedalam kamar Joohyun tengah malam nanti kan? Setidaknya jangan malam ini, karena aku akan bersamanya!" Ny. Jung menujuk putranya dengan telunjuknya diiringi tatapan mengancam.

"Eomma!!!" Yonghwa menatap Eomma-nya kesal. Tapi Ny. Jung bergegas menggandeng tangan Seohyun dan mengajaknya masuk ke kamarnya.

*****

Tak terasa, sudah lewat tengah malam. Kedua 'gadis' itu mulai merasa kantuk setelah berbagi banyal cerita dan tawa. Ny. Jung sengaja melakukan ini. Yonghwa banyak bercerita tentang betapa kesepiannya hidup Seohyun setelah Eomma-nya pergi. Dan Eomma-nya adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki. Ny. Jung hanya ingin membuat Seohyun merasa memiliki sebuah keluarga yang menyayangi dan mendukungnya.

"Gomawo, Joohyun ah. Kehadiranmu mengembalikan warna didalam rumah ini. Senyum diwajah Yonghwa, yang kini juga menjadi senyumanku dan suamiku." Lembut, Ny. Jung mengusap kepala gadis yang sudah terlelap tidur dihadapannya.


Author Note : Otthaeyo, Chingu-deul? Are you happy now? Hehehe... masih ada beberapa roller coaster sebelum chapter ending. so.. keep waiting yah. Gomawoyo, buat support dan banyak masukannya. ^^

Rabu, 16 Desember 2015

In Time With You Chapter 22



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8




Chapter 22

A Morning Story

Seohyun membuka matanya dan untuk kesekian kalinya gadis itu mendapati dirinya terbangun disebuah kamar yang asing. Aroma rumah sakit langsung bisa dia kenali dalam beberapa kali helaan nafasnya. Kali ini, Seohyun melihat bukan hanya satu selang saja yang terhubung ke pembuluh darah ditangannya. Tapi ada 3 dengan warna cairan yang berbeda. Kepalanya terasa sakit. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi Seohyun ingat, kemarin hidungnya sempat mengeluarkan darah, lalu kepalanya terasa pusing. Setelah itu, dia tidak mengingat apapun lagi.

Pandangannya lalu melayang pada dua orang yang masih terlelap disofa ruangannya. Hyo dan Suho. Mereka berdua pasti kelelahan setelah menjaganya semalaman. Beberapa saat kemudian, dirinya mendengar suara seseorang membukakan pintu.

"Good Morning, Beautiful!" Kyuhyun muncul dari balik pintu dengan menggenggam sebuah bouquet white lily dan baby breath ditangannya.

"Oppa... " Seohyun berusaha tersenyum, meski tubuhnya masih marasakan rasa sakit itu.

"Otthae? Bagian mana yang masih terasa sakit?" Kyuhyun menatapnya cemas.

"Geok cheongmaseo. Hanya kepalaku saja. Mungkin karena aku tidur telalu lama." Seohyun merekahkan senyumnya lebih lebar.

"Jeongmal? Syukurlah. Kau selalu membuatku cemas, Agassi. Jebbal.. lain kali, jaga dirimu dengan baik." Kyuhyun duduk dikursi samping tempat tidurnya.

"Jeoseonghaeyo, Oppa. Aku merepotkanmu lagi." Seohyun mulai merasa bersalah.

"Gwaenchanna. Fokus saja pada kesehatanmu. Ini... aku membawakanmu bunga." Kyuhyun menyerahkan bouquet itu ketangan Seohyun. Senyum diwajahnya kembali mengembang saat dia menerima bunga itu. Lembut, Seohyun mencium aromanya. White lily. Bunga favoritnya.

"Neomu gomawoyo, Oppa. Bagaimana kau tahu bahwa aku suka Lily?"

"Geurae? Hhm.. mungkin hanya intuisiku saja. Aku teringat seseorang yang sangat menyukai bunga ini. Tsk... Tapi aku tidak sempat memberikannya padanya. Baguslah, bila kau menyukainya juga." Kyuhyun tersenyum lega.

"Whoooo... biar kutebak! Han yeoja gayo? Hhm... cinta pertamamu?" Seohyun menatap dengan tatapan menggoda. Kyuhyun hanya tersenyum, lalu sejenak menundukan kepalanya.

"Bisa dibilang seperti itu. Meski cinta itu terlambat kusadari, hingga aku harus kehilangannya sebelum sempat mengatakan padanya bahwa aku sangat mencintainya.

Dan juga merindukannya."

Senyum pahit tergambar disudut bibirnya. Seohyun bisa melihatnya. Kesedihan itu, terlalu jelas terpancar dari kedua mata itu.

"Omo... mianhaeyo, Oppa. Aku tidak bermaksud untuk mengungkit kenangan pahitmu. Jeongmal mianhaeyo." Seohyun menatap sayu. Tapi segera, senyum manis Kyuhyun kembali merekah. Dengan lembut, lelaki itu mengusap kepala Seohyun.

"Gwaenchanna! Sudah lama semua itu berlalu. Dan kau lihat sendiri, bahwa kini aku tumbuh menjadi lelaki tampan, bukan?" Kyuhyun mengedipkan sebelah matanya yang membuat Seohyun menatapnya nyinyir. Tapi ajaibnya, Seohyun sama sekali tidak merasa 'tidak nyaman' dengan sikap dan perlakuan Kyuhyun padanya, padahal seharusnya, semua itu membuatnya risih karena Kyuhyun adalah seorang pria yang baru dikenalnya.

Tentu saja. Bagaimanapun darah itu lebih kental daripada air.

"Geumanhaeyo, Oppa! Aough... jinjja!!" Seohyun memutar kedua bola matanya hingga membuat Oppa-nya tertawa.

"Arasso!! Oh iya, Joohyun ah, sebentar lagi Kim Taeyeon dan Sim Changmin Euisan-Nim akan datang memeriksamu lebih lanjut." Kyuhyun berfikir semalaman, tentang bagaimana metode terbaik untuk memberitahunya agar Seohyun tidak merasa down dan terpukul.

"Kim Taeyeon? Sepupu Yonghwa Oppa?" Seohyun kemudian teringat pada wajah lelaki itu. Baru dia sadari, betapa dia merindukannya dan sejak kemarin dirinya sama sekali belum mendengar suaranya.

"Oh, maja. Dan satu lagi Sim Changmin Euisan-Nim. Dia spesialis hematologi di rumah sakit ini. Dan kebetulan, dia adalah teman SMA ku dulu." Kyuhyun segera bisa melihat raut wajah itu berubah ketika dia mendengar kata hematologi. Seohyun sudah sangat faham, tentang bidang penyakit apa yang akan ditangani dokter spesialis ini.

"Hematologi? Apa maksudmu, Oppa? Aku sakit apa?" Tiba-tiba rasa takut itu muncul.

"Geok cheongma, Joohyun ah. Kau hanya anemia. Karenanya kau diberi transfusi sejak tadi malam. HB darahmu benar-benar drop karena kau terlalu kelelahan. Dan tentang hematologi ini, Kim Taeyeon Euisan-Nim yang menyarankannya, karena saat kau demam tempo hari, dia pernah mendengar dari Jung Yonghwa bahwa keluargamu ada riwayat Leukimia. Hanya untuk berjaga-jaga, Joohyun ah. Karena anemia pun tidak bisa kau abaikan begitu saja. Setidaknya bila masih dini, kau bisa melakukan pengobatan optimal, bukan?"

Hanya Tuhan yang tahu, betapa jantung Cho Kyuhyuh berdebar begitu kencang hingga keringat dingin mencair dari telapak tangannya saat dia mencoba menjelaskan semua itu pada adiknya. Kyuhyun harus menguatkan adiknya, meski batinnya sendiri cukup gentar. Andwe!! Dia tak akan bisa menerimanya, bila satu-satunya keluarga yang dia miliki dan baru saja dia temukan harus terenggut juga darinya karena penyakit yang sama seperti yang sudah merenggut Eommanya.

"Jeongmalyo? Kau tidak sedang menyembunyikan apapun dariku, Oppa?"

Kyuhyun mulai bisa merasakan hawa panas menjalar diwajahnya. Demi Tuhan, lelaki itu ingin berlari meraih tubuh lemah itu dan memeluknya erat. Demi Tuhan, Kyuhyun begitu merindukannya dan ingin berbagi banyak  hal dengan gadis dihadapannya. Demi Tuhan, dia ingin mengganti waktu-waktu yang sempat terenggut darinya selama ini, hingga dia harus berpisah dengan Eomma yang sudah melahirkannya, dan tidak pernah mengenal satu-satunya adik yang dia miliki. Demi Tuhan, penderitaan itu tidak main-main sakitnya dan kini diapun merasakan ketakutan yang Seohyun rasakan.

Kyuhyun tertunduk demi menyembunyikan kesedihannya. Andwe! Taeyeon bilang, kesempatan dan peluang hidup Joohyun masih cukup tinggi, karena nya... mereka tidak boleh menyerah.

"Opso, Joohyun ah! Jinjja opso." Tapi Seohyun tidak begitu saja percaya. Kesedihan di mata Kyuhyun tampak begitu jelas.

"Kojimal, Oppa! Jebbal... katakan yang sebenarnya..." Genangan air mata dikelopak matanya seakan siap meluncur sebentar lagi.

"Jinjja, Joohyun ah. Kau hanya anemia. Meski dalam kasusmu, animea bisa saja memiliki resiko tinggi. Karena itu, Taeyeon Euisan-Nim menyarankan untuk pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Hanya itu saja. Geok cheongma." Sekali lagi Kyuhyun mencoba membuat adiknya tenang. Tapi air mata gadis itu tetap saja mengalir hingga membuat hatinya terasa semakin teriris. Dengan lembut, Kyuhyun kembali mengusap wajah sendu itu.

"Aish.. uljima, Joohyun ah. Nae maami neomu appeuni. Jebbal, himnae Joohyun ah! Jadilah Joohyun yang kuat seperti yang selama ini aku kenal. Gwaenchanna. Aku akan selalu ada kapanpun kau membutuhkanku. Hhm...?" Seohyun mungkin tidak tahu, bahwa lelaki itu juga sedang menahan tangisnya.

Tanpa keduanya sadari, 2 pasang mata sedang menatap mereka sambil bertanya-tanya. Siapa sebenarnya lelaki yang mereka lihat begitu dekat dan perhatian pada Seohyun dan mengapa Seohyun terlihat begitu nyaman bersamanya. Bukankah terakhir kali Seohyun masih bersama Yonghwa?

"Noona, benarkan kataku?  Itu adalah laki-laki yang sama yang aku lihat waktu itu. Dia tampan bukan? Tidak kalah dengan musisi itu." Suho berbisik ditelinga Hyo yang masih terpaku menatap dua orang itu.

"Maldo andwe!! Kenapa anak ingusan itu begitu beruntung? Hidupnya selalu saja dikelilingi pria-pria tampan. Tapi aku? Haigooo... aku pasti sudah mengkhianati negara ini dikehidupanku sebelumnya, hingga aku harus rela berakhir dengan menikahi satu-satunya pria yang pernah ada dalam hidupku." Wajah cemberutnya benar-benar khas seorang Hyoyeon.

"Memang sudah sepantasnya, Noona! Kau harusnya bersyukur, suamimu masih mau menikahimu dengan sifat galakmu itu." Hyo spontan mengepalkan tangannya dan nyaris melayangkan sebuah pukulan ke arah Suho. Tapi segera terhenti begitu dia sadari bahwa Seohyun dan pria itu tengah menatap mereka.

"Ooh... Uri Joohyun ah! Kau sudah bangun rupanya..." Hyo menyeringai hingga menampakan semua tekstur giginya. Dia berusaha bersikap normal, berharap Seohyun tidak tahu bahwa baru saja mereka bergosip tentangnya.

"Iya, Eonnie. Aku sudah bangun jauh sebelum kalian berdua bangun. Aku bahkan mendengar semua gosip hangat kalian." Serentak, Hyo dan Suho menutup kedua mulut mereka sambil bertukar pandang.

"Aa.. aani ah... Barbie. Siapa yang bergosip tentangmu? Eii.. mana mungkin aku berani. Kami hanya... hanya..."

"Hanya mengagumimu, Joohyun ah! Karena kau memang beruntung hingga banyak pria tampan yang jatuh cinta padamu. Geuroom.. uri Joohyun neomu yippo jana..." Hyo dan Suho menyeringai  lagi dengan sikap inosen mereka.

"Ckckck... neol duri jinjja!! Yakk!! Siapa bilang kalian boleh bergosip tentangku seperti itu?! Jatuh cinta?? Siapa yang jatuh cinta? Dan kau Phabo ah!! Palli nawa.. biar aku menjahit mulutmu!" Seohyun menampakan mata galak nya kearah Suho hingga membuat lelaki itu berlindung dibalik tubuh Hyo.

"A.. ani ah.. Barbie. Aku tidak bergosip, sumpah!! Jangan marah, Barbie. Dokter bilang, bila kau sering marah pada temanmu, maka sel-sel tubuhmu akan menua 100 kali lebih cepat."

"Yak.. Kim Suho!! Kau benar-benar ingin mati yah?!!"

"Whoaa... siapa yang sepagi ini ingin mati?" Tiba-tiba, semua terdiam saat sebuah suara datang dari balik pintu. Kim Taeyeon dan Sim Changmin.

"Ooh.. anyeonghaseo, Euisan-Nim. Dan kau juga Chang! Aigoo.. kau terlihat keren dengan jas putih ini." Kyuhyun yang pertama berdiri dan menyapa dua orang dokter muda itu.

"Anyeong haseo, Kim Taeyeon Euisan-Nim. Shim Changmin Euisan-Nim." Seohyun menyapa dengan suara lemasnya. Sungguh berbanding terbalik dengan cara dia membentak Suho sebelumnya. Bukan karena sakit ditubuhnya. Melainkan rasa takut dihatinya.

"Anyeong, Yonghwa-i yeoja! Aigoo... tsk.. kenapa tubuhmu begitu lemah, huh? Kau hampir membuat Namja-mu memakai jet pribadi ayahnya hanya untuk datang melihat keadaanmu saat ini. Tapi aku bilang padanya, bahwa gadisnya hanya sedang dijewer Tuhan karena pola hidupnya yang sembarangan. Dan sekarang, suka atau tidak kau harus istirahat di rumah sakit ini, Joohyun ah. Ah.. kau tidak keberatan kan, bila aku memanggilmu begitu?"

Sebagai dokter, Taeyeon sangat menyadari psikologi Seohyun kala itu. Karenanya, akan lebih baik bila penyakitnya dianggap bukan apa-apa sambil terus melakukan treatment.

"Jeoseohamnida, Euisan-Nim. Aku sama sekali tidak bermaksud membuat semua orang khawatir. Omo.. choding itu pasti hampir gila mencemaskan aku." Wajah Yonghwa tergambar jelas dalam ingatannya dan Seohyun semakin merindukannya.

"Tentu saja dia cemas. Anak itu seperti orang gila meneleponku hampir setiap jam sejak tadi malam hanya untuk menanyakan kabarmu. Aku rasa, meski miliaran kali aku katakan padanya kalau kau baik-baik saja, dia tidak akan puas dengan jawabanku. So.. apa kau sudah menghubunginya?"

"Belum, Euisan-Nim. Aku belum sempat."

"Just call him right now, Sweet heart. He need to hear your voice before he face his rivals this afternoon, Miss! Ah... dan panggil saja aku Eonnie, karena aku lebih tua darimu." Taeyeon memberinya senyuman hangat.

Seohyun terdiam sejenak. Lalu dia melihat Kyuhyun mengambilkan ponselnya di laci meja, dan memberinya isyarat untuk menelepon Yonghwa. Dan Seohyun mengambilnya. Dia menekan angka 1 yang dalam sekali nada dering saja, lelaki itu langsung menerima panggilannya.

"Yak... Seo Joohyun! Teganya kau lakukan ini padaku! Aku hampir gila mengkhawatirkanmu semalaman. Aku bahkan tidak bisa tidur sedetikpun karena aku belum mendengar suaramu! Bagaimana kau bisa sampai pingsan? Baru beberapa hari kutinggalkan saja kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri! Kau ingin aku mati ketakutan yah?!"

Seohyun tampak menjauhkan ponselnya dari telinganya. Suara Yonghwa bahkan bisa didengar orang disekitar situ, meski tanpa load speaker sekalipun. Benar kan? Lelaki itu menggila. Kyuhyun, Taeyeon dan orang-orang diruangan Seohyun tak mampu menahan tawa mereka. Meski tanpa suara.

"Yeoboseo? Hello.. Seo Joohyun! Kau mendengarku?" Yonghwa masih berteriak diujung sana.

"Ya, aku mendengarmu, Oppa. Teruskan. Aku hanya akan mendengarnya." Seohyun membalasnya dengan sarkastik.

"Mwo? Geumanhae, Seo Joohyun Ssi. Setidaknya kau katakan padaku kalau saat ini kau baik-baik saja, sehingga aku tidak perlu mencemaskanmu. Bukannya..."

"Bagaimana aku mau bicara, Jung Yonghwa Ssi? Kata-kata yang meluncur dari mulutmu itu melebihi kecepatan senapan mesin. Aku kan sedang sakit, mana boleh kau marah-marah padaku seperti itu? Bahkan tanganku saja masih terhubung dengan 3 buah selang yang mengerikan dan menyakitkan. Kepalaku masih pusing, dan kau.. kau malah meneriaki aku!" Sepertinya, penyakit itu tidak cukup kuat untuk menghentikan kegalakan gadis itu. Seohyun mengerutkan bibirnya.

"Mwo?? 3 selang? Apa maksudmu? Kenapa tanganmu dimasukan 3 selang segala? Seo Joohyun, kau membuatku benar-benar gila!"

Dan telepon pun terputus. Seohyun terpaku dalam kebingungan. Kenapa Yonghwa memutuskan telepon nya. Marahkah dia?

Tapi beberapa saat kemudian, ponselnya berdering lagi. Kali ini, video call masuk...

"Wae, Oppa?" Dengan nada malas, Seohyun menerima panggilan itu dan langsung bisa melihat wajah Yonghwa-nya dilayar ponsel.

"Omo.. kenapa wajahmu begitu pucat? Nae Hyun ottokhae? Maanhi appha ga? Hhm?" Rasanya Yonghwa seperti ingin menangis melihat betapa pucatnya wajah malaikat itu. Andai saja dia mampu menghapus jarak antara mereka, maka dia hanya ingin memeluk erat tubuh cintanya.

"Wae? Kau mau meneriaki aku lagi, huh?!" Seohyun masih memasang wajah galaknya.

"Ani.. ani ah, Angel. Aku tidak bermaskud meneriaki. Aku hanya ketakutan dan terlalu mencemaskamu. Mianhae, Hyun. Otthae? Mana yang sakit?" Yonghwa menatapnya sendu.

"Hatiku yang sakit. Aku meneleponmu untuk memberitahu mu bahwa aku baik-baik saja. Tapi kau malah marah-marah." Okay, that was the real Seo Joohyun when she was with her lover.

"Aigoo... jeongmal mianhae, Baby.. aku tidak marah, kok. Aku hanya khawatir. Dan selang tadi... mana??? Aku ingin melihatnya!" Nada suaranya kembali tegas saat dia membahas tentang selang di tubuh Seohyun.

"Niih... lihatlah! Dokter bilang, aku tidak boleh stress, apalagi dimarahi dan diteriaki! Kau tidak kasihan padaku yah?"

"Omo... uri baby ottokhae? Hyun... haruskah aku terbang ke Seoul saat ini juga? Kau pasti kesakitan sendiri disana." Lagi-lagi, Yonghwa merasa ingin menangis.

"Gwaenchanna, Oppa. Ini hanya transfusi karena HB darah ku turun drastis. Mianhae, aku akui, beberapa hari ini aku kurang memperhatikan kesehatanku. Aku janji, aku akan lebih hati-hati lagi. Kau tenang saja menyelesaikan urusanmu disana. Jangan khawatirkan aku, karena aku disini bersama orang-orang yang akan menjagaku dengan baik." Untuk pertama kalinya, Seohyun merekahkan senyum malaikatnya. Haah... Yonghwa semakin merindukannya.

"Geurae? Ddaengida. Aku harap juga begitu. Melihat kau sudah punya tenaga untuk bertengkar denganku, aku merasa lega. Please, Angel.. be healthy! Kekuatanku benar-benar bergantung padamu. I need your energy to make me strong and brave. Jebbal..." Suaranya lembut terdengar. Tatapnya teduh, menyejukan.

"Arasso, Oppa. Aku akan menjaga diriku. Kau tenang saja. Aku percaya, Jung Yonghwa yang kukenal adalah lelaki yang kuat dan pemberani. Kau pasti bisa melewati semua ini, Oppa." Seohyun membalas tatapan teduh itu dengan tatapan serupa.

"Gomawo, Baby. Hhhh... jeongmal bogoshiposeo, Hyun..." Lelaki itu merajuk.

"Na do. Tapi kau fokus saja pada pekerjaanmu disana. Jaga Eomma-mu dengan baik. Dan sampaikan salamku padanya."

"I will, Honey. Eomma juga sangat mengkhawatirkamu semalam. Tapi Taeyeon Noona bilang bahwa kau baik-baik saja, makanya Eomma sedikit tenang. Geurigo.. get well very soon, Angel. I hate to see those damn IV hurts your precious hand."

"Arasso, Oppa. Kau juga jaga dirimu."

"Hhm! Saranghae, Seo Joohyun..." Lembut, suara itu mengalun, membuat semua orang diruangan itu merasa cemburu. Meski Yonghwa tidak tahu, bahwa sejak tadi, banyak orang yang mendengar pembicaraan mereka. Kedua insan mencinta itu seolah lupa, bahwa bukan hanya mereka saja yang punya mata dan telinga.

"Na do saranghae, Jung Yonghwa..." Tak kalah lembut, Seohyun membalasnya.

"Aah.. matta... Hyun...!"

"Wae?"

"Cho Kyuhyun Ssi... aku harap kau menjaga jarak dengannya." Seohyun tertegun sejenak. Lalu pandangannya melayang pada Kyuhyun yang sedang duduk dihadapannya. Kyuhyun memberi isyarat dengan meletakan telunjuknya dibibirnya, agar Seohyun tidak memberi tahu Yonghwa dulu, bahwa dia mendengar percakapan mereka. Dan Seohyun mengikutinya.

"Kyuhyun Oppa, wae? Memangnya kenapa?"

"Ani ah.. aku percaya padamu, Hyun. Tapi aku tidak percaya padanya. Aku merasa, dia punya maksud lain padamu."

Sekali lagi, Kyuhyun berusaha keras menahan tawanya. Taeyeon pun tampak menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan anak choding itu.

"Apa maksudmu? Maksud lain apanya?" Seohyun tidak mengerti tentang apa yang Yonghwa fikirkan.

"Bukan apa-apa. Hanya saja, aku merasa bahwa dia sedang mendekatimu dan berusaha mendapatkan hatimu."

Dan tawa Cho Kyuhyun pecah membelah keheningan. Dia tidak mampu lagi menahan tawanya. Yonghwa kali ini benar-benar membuatnya terpingkal. Dan Taeyeon pun mengikutinya tertawa. Sementara yang lain menatap dua orang itu dengan tatapan bingung.

Tentu saja, hanya mereka berdua yang tahu kebenarannya.

"Yak, Seo Joohyun... siapa yang bersamamu? Aku mendengar ada suara laki-laki tertawa disana?" Yonghwa tampak panik dilayar ponsel itu.

"Jaega yeogieyo, Jung Yonghwa Ssi. Aku mendengar semuanya dan... " Kyuhyun meneruskan sisa tawanya. "Dan aku benar-benar geli mendengarnya. Aigoo..."

Yonghwa benar-benar kaget. Seohyun pun akhirnya ikut tertawa melihat ekspresi Yonghwa dilayar ponselnya.

"Mwo? Yakk.. Hyun.. kenapa kau tidak bilang kalau kau bersamanya? Kau... sejak tadi berduaan dengan lelaki itu di ruanganmu?!" Yonghwa bersiap untuk marah lagi.

"Ani. Aku tidak sedang berduaan. Lebih tepatnya, selain aku, diruangan ini ada 5 orang lagi, Oppa."

"MWO?!!! Omo... dan... dan mereka mendengar semua percakapan kita?" Wajahnya benar-benar tak terdeskripsikan.

"Geurom... tentu saja mereka mendengarnya."

"Aku juga mendengarmu, Jashik ah!" Taeyeon setengah berteriak disana.

"Igeon nugu ah? Taeyeon Noona?" Yonghwa semakin panik.

"Oh! Taeyeon Eonnie do waeso, Oppa. Nih... sapalah mereka satu persatu dan bilang terima kasih karena mereka telah merawatku selama kau tidak ada." Seohyun menyorotkan satu-satu wajah Kyuhyun, Taeyeon, Changmin, Hyo dan Suho. Semuanya melambaikan tangan dengan senyum setengah mengejek mereka yang membuat Yonghwa semakin merasa malu.

"Aigoo.. eomma... naega ottokhae?" Yonghwa menutup wajahnya dengan satu tangannya. Seohyun tertawa semakin puas.

"Eii.. makanya, jangan sembarangan, Oppa! Kecemburuanmu itu tidak masuk akal! Aigoo... dasar choding!"

"Arasso, mian!! Yeorobun, neomu kamsahamnida, karena telah menjaga Joohyun-ku. Aku minta maaf, telah merepotkan. Hanbon do, kamsahamnida..." Semua orang bisa mendengar suara Yonghwa dari ponsel ditangan Seohyun.

"Kau masih saja merasa terancam olehku, Jung Yonghwa Ssi? Bukankah semalam kau sangat yakin kalau Joohyun sangat mencintaimu? Lalu kenapa kau harus memberinya peringatan? Eii.. siapa yang curang dalam hal ini?" Yonghwa sekali lagi mendengar suara Kyuhyun.

"Hyun, berikan ponselmu padanya!" Seohyun terdiam sejenak sambil terus menatap Yonghwa dilayar ponselnya dengan tatapan bingung.

"Sini, Joohyun ah. Biar aku bicara dengannya." Kyuhyun dengan sisa tawanya, meminta Seohyun untuk memberikan ponselnya. Dengan ragu, Seohyun akhirnya memberikannya.

"Waeyo, Jung Yonghwa Ssi? Apa masih ada yang bisa kubantu?" Kyuhyun bertanya dengan sarkastik, dan itu membuat Yonghwa lebih kesal.

"Cho Kyuhyun Ssi, begini... Sebelumnya aku minta maaf, karena perkataanku sebelumnya. Tapi memang benar, bila aku sedikit terganggu saat kau dekat dengan kekasihku. Tapi bukan begitu maksudku. Aku sangat berterima kasih padamu, karena kau begitu baik dan memperhatikan Joohyun. Dan aku harap, semua itu memang tulus adanya, tanpa ada maksud yang lainnya.

Mungkin kata-kataku memang terdengar seperti pria yang sedang cemburu. Tapi bukan begitu. Aku..."

"Ya... kau sedang cemburu, Phabo ah! Masih berani menyangkal?!" Taeyeon tiba-tiba muncul disamping Kyuhyun hingga wajahnya tampak dilayar ponsel Yonghwa.

"Yakk.. Kim Taeyeon! Shut up!!"

"You shut up, Mama Boy! Dengar! Buang jauh-jauh fikiran bodohmu tentang Cho Kyuhyun Ssi secepatnya, atau kau akan menyesal nantinya!!" Taeyeon memelototi sepupunya dengan tatap serius.

"Mwo?!" Yonghwa bingung karenanya.

"Cho Kyuhyun Ssi tidak mungkin jatuh cinta pada kekasihmu. Karena...." Taeyeon mulai bingung dengan kalimat lanjutannya. "Karena...."

"Apa kalian pacaran?" Yonghwa bertanya dengan wajah polosnya hingga membuat Kyuhyun dan Taeyeon terhenyak.

"Hyyee???" Keduanya serentak.

"Kau berkencan dengan Cho Kyuhyun Ssi, kan?" Sekali lagi Yonghwa bertanya. Dan sekali lagi pula, Taeyeon dan Kyuhyun menunjukkan wajah bodoh mereka?

"Mwo?! Yak... jashik ah! Kau minta kuhajar yah?! Mulutmu selalu saja sembarangan bicara! Pokoknya dengarkan aku!! Jangan pernah berfikir macam-macam tentang Kyuhyun Ssi, atau kau akan berakhir dengan rasa malu!"

*****

Busan

"Na waseo, yeobo..." Lelaki paruh baya itu berdiri didepan pintu, dengan suara lirih dan wajah sendu, diantar anak lelaki satu-satunya yang baru saja menjemputnya pulang. Wajah itu manatap lekat perempuan cantik yang kini berdiri dihadapannya dengan berlinang air mata. Perempuan yang dia ingat sebagai cinta pertama dan satu-satu nya cinta dalam hidupnya, yang sudah memberinya sebuah rumah untuk berlabuh. Keluarga.

Wanita itu berjalan cepat kearah suaminya yang sudah merentangkan kedua tangannya, menunggu tubuh mungil itu mendekapnya.

"Terima kasih, Tuhan... Gomawo yeobo, telah kembali padaku.." Ny. Jung terisak lagi dipelukan suaminya.

Ya, setelah dakwaan tentang penggelapan pajak itu tidak terbukti, akhirnya hakim memberi putusan untuk membebaskan Tuan Jung dalam kasus ini. Tapi tentang Cassino ilegal itu, bagaimana pun, nama Tuan Jung sudah tertera didalam kepemilikan sahamnya, sehingga kasus itu tetap berlanjut prosesnya. Syukurnya, karena rekam jejak dan sikap baik yang keluarga Jung tunjukan sejak puluhan tahun lalu, Tuan Jung tidak perlu ditahan.

Ketiga anggota keluarga Jung melakukan makan malam mereka dimeja makan. Ny. Jung memasak aneka olahan tofu yang dalam kepercayaan budaya Korea, tofu itu bisa menghilangkan nasib sial setelah keluar dari penjara. Tak lupa, ayam panggang kesukaan suaminya juga dia hidangkan disana. Tn. Jung tampak makan dengan lahap, meski Yonghwa tahu, ayahnya belum sepenuhnya merasa tenang. Statusnya sebagai tahanan kota, dan juga kasus yang sedang dia hadapi, tidak akan mampu membendung niat licik para pemegang saham untuk mengganti kepemimpinannya. Meski Yonghwa berhasil menangani lebih dari separuh pekerjaan Appa-nya dalam mengamankan posisi komisaris, tetap saja, perjalanan Venus Hotel masih akan sangat terjal.

"Gomawo, Yonghwa ah. Jika bukan karena kerja kerasmu, aku mungkin sudah kehilangan perusahaan yang sudah dirintis kakekmu dengan jerih payahnya. Gomawo..." Tn. Jung menatap teduh wajah anak bungsunya yang kini menjadi putra satu-satunya yang dia miliki.

"Gwaenchannayo, Aboji. Sebetulnya tidak banyak yang aku lakukan selain melakukan negosiasi dan lobi ke beberapa orang. Sisanya, Lee Ahjussi dan Im Ahjussi yang membantuku. Jonghyun juga terlibat banyak dalam hal ini."

"Geurae? Arraso. Setelah ini, aku akan segera menghubungi mereka untuk mengucapkan rasa terima kasihku. Tapi bagaimanapun, kaulah yang paling bekerja keras, Adeul. Appa gomawo, geurigo.. mianhata, Yonghwa ah. Kau pasti sangat lelah."

"Aniyo, Aboji. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai putramu. Bila saja Hyung masih ada, mungkin hasilnya akan lebih baik, Appa. Jeoseonghaeo.. aku hanya mampu melakukan ini."

"Ani ah, Yonghwa ah! Kau sudah melakukan yang terbaik, dan aku sangat bangga padamu. Aku yakin, Yongdo juga akan sangat bangga melihat adiknya yang manja, berhasil menyelamatkan Appa-nya dan juga perusahaan."

Ny. Jung tampak mengusap air mata harunya. Dulu, saat putra sulung nya masih hidup, pemandangan seperti itu teramat langka untuk bisa dilihat. Yonghwa dan Appa nya tidak akan pernah duduk dan berbicara dengan tenang seperti itu tanpa berakhir dengan pertengkaran. Tapi kini putra bungsunya sudah banyak berubah. Anak itu tampak lebih kuat, lebih dewasa dan bertanggung jawab.

"Ah.. bagaimana dengan rencana peluncuran album mu, Yonghwa?" Tn. Jung tahu, harusnya minggu ini adalah minggu yang sibuk untuk Yonghwa karena album pertamanya.

"Gwaenchannayo, Aboji. Kami memgundurnya hingga bulan depan. Geok cheongmaseyo."

"Aigoo.. aku semakin merasa bersalah padamu, Adeul. Dan juga teman-temanmu." Raut penyesalan tampak jelas di wajah Appa-nya.

"Aniyo, gwaenchannayo.. Appa. Jeongmalyo. Teman-temanku juga masih butuh waktu untuk mematangkan proses album ini."

"Geurae? Ddaengida...! Setelah ini, kembalilah ke Seoul. Geok cheongma, Appa akan ditemani tim pengacara terbaik dan beberapa ahli dalam masalah ini. Kau kerjakan saja pekerjaanmu."

"Nde, Appa. Minggu depan aku akan pulang dulu ke Seoul untuk mengurus pekerjaanku, lalu aku akan kembali lagi kesini dan membantumu."

"Ani ah. Gwaenchanna. Appa akan baik-baik saja. Dan lagi... kau pasti sangat merindukannya, bukan?" Yonghwa tertegun. Sejenak, dia menatap ayahnya yang sedang tersenyum melihatnya.

"Nde?" Yonghwa hanya ingin memastikan, kemana arah pembicaraan Ayahnya akan berlanjut.

"Gadis itu.. loh.. Yang membuat putraku rela melepaskan pertunangannya dengan putri pengusaha kaya dan memilih menjalani hidupnya dengan kemampuannya sendiri." Tn. Jung tersenyum merajuk putra bungsunya.

"Ah.. tentang itu." Yonghwa tertunduk malu. "Nde, Aboji. Aku minta maaf seharusnya aku membicarakan dulu masalah ini dengan kalian. Tapi Hyunna tiba-tiba kembali ke Korea dan aku belum sempat melakukan apa-apa. Jeoseohamnida, Aboji, Eommoni, sekali lagi aku membuat keputusan yang membuat kalian malu."

"Ani ah, Adeul! Eomma.. dan Appa mu tidak akan pernah mencampuri lagi urusan pribadimu. Kau sudah dewasa, Yonghwa ah, dan kau berhak menentukan masa depanmu sendiri. Sejak awal, kau memang tidak harus melakukan itu. Hyunna, tidak seharusnya menjadi tanggung jawabmu hanya karena Yongdo tidak lagi bersama kita. Eomma senang, karena pada akhirnya kau mulai memikirkan kembali kebahagiaanmu. Sudah waktunya kau untuk memulai hidupmu lagi, Adeul." Wanita cantik itu menggenggam lembut tangan putranya yang kini sudah lebih besar dari tangannya.

"Gomawoyo, Eomma. Appa. Aku berjanji, aku akan menyelesaikan masalahku sebaik mungkin, sehingga kalian tidak perlu mengkhawatirkanku lagi."

"Aku percaya padamu, Yonghwa. Kapan-kapan, ajaklah gadis-mu kemari. Aku ingin tahu, apa yang membuatmu begitu jatuh hati padanya." Tn. Jung menggoda anaknya yang kini tampak tersipu.

"Nde, Appa. Nanti, saat Joohyun sudah sehat, aku akan mengajaknya kesini dan memperkenalkannya pada kalian. Aku yakin, kalian pasti akan menyukainya. Meski dia dan Hyunna tampak berbanding jauh dari segi pendidikan, kelas dan penampilan...

Tapi Joohyun-ku sangat cantik meski dengan kesederhanaannya. Dia gadis yang sopan, cerdas dan pekerja keras. Tapi Eomma, jangan sekali-kali memintanya untuk memasak." Yonghwa melayangkan pandangan setengah mengancam kearah Eommanya, hingga membuat sang Eomma mengerutkan keningnya.

"Wae?" Tanya perempuan itu.

"Trust me... rasa masakannya... hhhh... aigooo..." Yonghwa menggeleng-gelengkan kepalanya, dan membuat orang tuanya tertawa.

"Gwaenchanna, Yonghwa ah! Karena itulah, sebagai namja kau harus bekerja keras agar istrimu bisa hidup enak tanpa harus mengotori tubuhnya dengan asap dapur." Appa-nya menepuk pundak Yonghwa. Lelaki itu teramat bangga melihat Yonghwa tumbuh menejadi lelaki yang mengagumkan. Meski mungkin terlambat baginya, Tn. Jung kini hanya ingin menjadi Appa yang baik bagi Yonghwa. Sesuatu yang dulu tidak dia lakukan pada Yongdo.

*****

Seoul

"Kopi?" Sebuah suara datang dari arah belakang, saat Kyuhyun sedang duduk sendiri diatap rumah sakit. Lelaki itu termenung, memikirkan apa yang akan dia lakukan pada hubungannya dengan Seohyun setelah ini.

Kyuhyun menoleh kebelakang, dan mendapati Taeyeon sedang datang mendekat dengan membawa dua cup kopi ditangannya. Kyuhyun tersenyum dan menerimanya.

"Gomawoyo, Euisan-Nim."

"Taeyeon. Panggil saja aku Taeyeon. Kau adalah kakaknya Joohyun dan aku adalah sepupu Jung Yonghwa. Aku rasa hubungan yang complicated ini sudah cukup untuk membuat kita bisa berbicara lebih nyaman mulai saat ini." Mereka berduapun tersenyum. Taeyeon lalu duduk tepat disamping Kyuhyun.

"Kau pasti sangat lelah, Kyuhyun Ssi."

"Nde, majayo. Sebenarnya, kata khawatir mungkin lebih tepat untuk mendeskripsikannya. Akhir-akhir ini, aku semakin mencemaskan Joohyun. Tentang penyakitnya, tentang hubungan kami, dan tentang apa yang akan terjadi pada kami saat aku memberitahu semua kebenaran ini padanya." Kyuhyun menundukan kepalanya dalam sisa senyum pahit itu.

"Aku mengerti. Bukan hal yang mudah saat suatu hari seseorang tiba-tiba datang kedalam hidupmu dan mengatakan bahwa kau punya seorang kakak. Joohyun pasti akan sangat shock.

Tapi... aku yakin, seiring waktu, dia akan mulai menerimanya. Bahkan seharusnya dia senang, karena dia tidak lagi hidup seorang diri, melainkan ada seorang Oppa yang sangat menyayangi dan akan melindunginya." Taeyeon tersenyum tulus. Kyuhyun masih menundukkan wajahnya dengan senyum pahit yang sama. Lalu pria itu mulai menatap kedepan sambil menghela nafasnya yang terasa berat.

"Aku harap semua akan semudah itu, Taeyeon Ssi. Aku benar-benar berharap, reaksi yang dia keluarkan hanya keterkejutan saja. Hhh..." Kyuhyun menghembuskan nafasnya.

"Tapi aku tahu, masalahku tidak akan usai sampai disitu." Kyuhyun kembali menunduk.

"Waeyo?" Taeyeon menatapnya semakin dalam.

"Joohyun mungkin akan sangat membenciku andai dia tahu apa yang sudah aku lakukan pada Eomma-ku. Uri Eomma." Lelaki itu kembali menghela nafas berat.

"Sebelumnya aku minta maaf, bila aku terkesan terlalu jauh masuk kedalam cerita pribadimu, Kyuhyun Ssi. Tapi sungguh, aku tidak punya maksud lain. Aku hanya bersikap sebegai seseorang yang mengenal Joohyun. Jadi, bila kau membutuhkan sesuatu, kau bisa mengatakannya padaku. Atau... bila kau membutuhkan teman untuk minum kopi dan bercerita sesuatu, kau bisa menghubungiku kapanpun itu." Taeyeon mengusap pundak Kyuhyun disampingnya dengan senyum tulus.

"Gomawoyo, Taeyeon Ssi. It means a lot for me." Kyuhyun membalas senyumnya dengan senyum teduh.

"Saat ini, kau fokus saja dalam menjaga kesehatanmu. Karena bila semua memungkinkan, bulan depan kita bisa menjalani prosedur pencangkokan sumsum tulang belakang untuk adikmu. Sejauh ini, sumsum tulang milikmu dan juga Tn. Seo lah yang paling cocok. Dan kami akan mengandalkanmu, mengingat usia Tn. Seo yang sudah tidak muda lagi."

"Nde. Arasoyo."

"Apa Tn. Seo masih tidak ingin menemui putrinya?" Sekali lagi Taeyeon bertanya.

"Aku sudah membujuknya, Taeyeon Ssi. Tapi sepertinya.. Ahjussi punya pemikiran lain. Mungkin nanti, saat Joohyun berhasil melewati penyakitnya dan proses pencangkokan itu berjalan dengan baik."

Author Note :
Thank you for keep waiting and reading this story. Hhh... rasanya... pengen bilang ke Kyuhyun.. "Come to mama, Sweetie!"
So.. jangan benci Kyuhyun yaaah...