Rabu, 16 Desember 2015

In Time With You Chapter 21



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8




Chapter 21

Problems

From : Phabo Jong
'Yonghwa ah, neol eodie ah? Apa kau sudah melihat berita?'

To : Phabo Jong
'Somewhere. Berita apa?'

From : Phabo Jong
'Appa-mu. Cepat buka internetmu, dan segera hubungi aku. Aku hampir gila karena semalaman tidak menemukanmu.'

Yonghwa bergegas membuka koneksi internetnya begitu dia membaca pesan dari Jonghyun. Hanya butuh waktu beberapa menit hingga akhirnya tubuh lelaki itu terkulai lemas kesandaran kusrinya dengan jantung yang berdebar kencang.

"Aboji...." Lirih, dia memanggilnya. Yonghwa segera meraih ponselnya dan menghubungi Jonghyun.

'Oh.. Yonghwa ah! Neol jeongmal eodie ah, Jassik? Aku mencarimu kemana-mana!' Jonghyun terdengar sengit diwaktu sepagi itu hingga membuat Yonghwa semakin kalut.

"Aku di Villa, Jong. Mian. Apa yang sebenarnya terjadi?" Yonghwa berusaha mengatur nafasnya dan tetap bersikap tenang.

'Aku dan Appa ku masih mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, Yonghwa. Tiba-tiba saja, siang kemarin kantor Appa mu di datangi sekelompok orang dari kejaksaan dan menyita banyak file dari sana. Dan akhirnya ayahmu ditahan karena tuduhan money laundring dan penggelapan pajak. Ayahmu dituduh diam-diam membuka sebuah cassino gelap dan menyediakan fasilitas pencucian uang untuk para bandar judi. Apa kau tahu tentang semua ini?'

Betapa kerasnya pun usaha Yonghwa untuk menenangkan dirinya, tapi dia gagal setelah mendengar penjelasan Jonghyun.

"Na do molla, Jonghyun ah! Aku tidak pernah tahu apalagi terlibat dalam bisnis Appa ku. Apalagi masalah Cassino gelap itu. Aku benar-benar tidak tahu semua itu." Yonghwa mondar mandir sambil mengurut-ngurut kepalanya.

'Arasso. Sekarang kau cepatlah pulang, Yonghwa. Aku yakin, sebentar lagi rapat pemegang saham akan segera dilaksanakan. Bila kau tidak ada, aku khawatir banyak orang akan memanfaatkan kemelut ini untuk kepentingan mereka.'

"Arasso. Aku akan pulang sekarang. Kau dimana sekarang, Jong?"

'Aku sedang dalam perjalanan ke Busan.'

"Geurae? Ddaengida. Tolong jaga Eomma ku sementara aku belom datang, Jong!"

'Geok cheongma. Yoona sedang bersamanya saat ini. Kau juga hati-hati di jalan, Yonghwa! Jangan kalut dan tetap tenang. Ayahmu saat ini sudah didampingi oleh pengacara-pengacara terbaiknya. Ayahku dan ayah Yoona juga ikut membantunya. Geok cheongma!'

"Gomawo, chingu ah! Neomu gomawo!"

Lelaki itu kembali menjatuhkan tubuh lemasnya ke sofa ditaman belakang sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Masalah sepertinya belum akan usai. Disaat seperti ini, dia berharap Hyung nya masih ada, maka beban itu tidak akan menjadi miliknya sepenuhnya. Seohyun datang dari dalam dengan membawa segelas susu dan dua potong roti berselai. Dia melihat Yonghwa termenung dengan wajah kusam, penuh kekhawatiran.

"Oppa... sarapan dulu..." Gadis itu menyimpan makanan ditangannya diatas meja taman. Yonghwa tidak menjawabnya. Lelaki itu lalu meneguk susu coklat yang Seohyun bawakan, masih dengan wajah muram nya.

"Oppa.... wae geurae? Moseumniri ah?" Seohyun menatapnya penuh kekhawatiran.

"Hyun, kita harus segera ke Seoul saat ini juga. Karena aku harus segera terbang ke Busan." Yonghwa menatap Seohyun-nya sendu.

"Busan? Apa sesuatu terjadi pada orang tuamu?" Seohyun tampak lebih khawatir.

"Sesuatu terjadi di perusahaan ayahku hingga membuatnya harus ditahan oleh kejaksaan." Seketika, Seohyun membelalakan kedua matanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Saesanghae, Oppa! Otteokhae?" Gadis itu kini tampak lebih khawatir dari Yonghwa sendiri.

"Geok cheongma, dia akan baik-baik saja. Aku masih belum tahu apa-apa saat ini, Joohyun ah. Karenanya aku harus segera berada di Busan untuk melihat dan memeriksanya sendiri. Mianhae, Hyun... liburan kita harus terganggu karena masalah ini." Matanya menatap gadis itu dengan sendu. Dia masih merindukannya dan ingin lebih lama menghabiskan waktu bersamanya. Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan keluarganya begitu saja.

"Gwaenchanna, Oppa. Jangan khawatirkan aku. Saat ini tidak ada yang lebih penting selain urusan keluargamu. Geok cheongma, kau selesaikan saja semua urusanmu." Seohyun menggenggam satu tangan Yonghwa. Dan beberapa saat kemudian, Yonghwa mengunci tangan itu dengan tangannya satu lagi.

"Aku janji, akan segera menyelesaikannya. Doakan aku, ya..." Tatapnya teduh.

"Pasti. Tanpa harus kau minta." Seohyun memberi senyum tulusnya.

Dan mereka pun segera meninggalkan Villa itu usai menjalani liburan pendek mereka. Meski hanya semalam, tapi mereka cukup puas karena bisa berbagi waktu yang hanya untuk mereka berdua saja.

*****

Busan

"Oh... Yonghwa ah...." Perempuan paruh baya yang masih tampak cantik itu segera berdiri dan setengah berlari menghampiri anak lelakinya yang baru saja muncul dari balik pintu. Yonghwa merentangkan kedua tangannya dan membiarkan wanita itu berlabuh dalam pelukannya. Wajah cantik itu tampak muram menahan kesedihan dan kekhawatiran.

"Gwanchanna, Eomma. Semua akan baik-baik saja." Yonghwa mengusap punggung Eomma nya dengan lembut. Eomma terdengar terisak. Perlahan, Yonghwa melepas peluknya, lalu mengusap air mata di wajah wanita nomor 1 dalam hidupnya.

"Uljima, Jung Samonim. Hatiku sakit melihatmu begini. Geok cheongma, Eomma. Lee Ahjussi dan juga Im Ahjussi sedang membantu Appa. Semua ini pasti jebakan seseorang yang ingin menghancurkan bisnis Appa. Eomma tenang saja, kebenaran pasti terungkap."

Yonghwa mendengarnya dari asisten pribadi ayahnya, bahwa beberapa bulan lalu, ayahnya menandatangani sebuah kerja sama dengan sebuah bank. Semua sistem finasial perusahaannya sejak saat itu dipindah bukukan ke bank tersebut, termasuk kas perusahaan hingga sistem penggajian karyawan pun kini disalurkan oleh bank tersebut. Dan konpensasi untuk perusahaannya adalah 13% saham yang dimiliki bank tersebut. Tentu saja, semua itu menggiurkan. Terlebih bank tersebut adalah bank yang memiliki kredibilitas selama puluhan tahun di dunia perbankan Korea Selatan. Venus Hotel sudah memeriksa segalanya dengan cermat, dan tidak menemukan satupun indikasi buruk. Karenanya, kerja sama itu tercipta.

Siapa sangka bila pada akhirnya 10% dari saham yang dipindah tangankan pada ayahnya ternyata saham dengan identitas ganda? Ayahnya bahkan tidak tahu menahu tentang Cassino gelap itu. Juga tentang penggelapan pajak, Venus Hotel dari sejak awal berdiri hingga kini tidak pernah sekalipun melakukan pelanggaran itu. Karenanya, saat ini tim kuasa hukum perusahaan sedang berjuang keras menuntut keadilan dan membuktikan bahwa semua itu adalah jebakan.

3 hari kemudian, Yonghwa, Jonghyun dan beberapa koalisi Tuan Jung sudah berada diruang meeting Venus Hotel. Benar saja, seperti yang Jonghyun katakan, para pemegang saham segera menuntut untuk diadakan rapat besar dengan agenda pemindahan kepemimpinan Venus Hotel.

Banyak pihak yang berlomba ingin mengambil posisi ayahnya. Hanya selang beberapa hari saja, sudah tampak kubu-kubu yang mencoba menggabungkan saham mereka untuk menunjuk komisaris yang mereka inginkan. Yonghwa masih dalam posisi yang beruntung, karena saham ayahnya, ditambah ayah Jonghyun dan Yoona, juga beberapa orang-orang yang loyal pada ayahnya saat ini sudah menggenggam 36%. Tapi bila kubu lawan bersatu, maka dia tetap akan kalah. Dia butuh setidaknya 15% lagi untuk berdiri diposisi yang aman.

Lelaki itu tertunduk dan berfikir keras disofa koridor hotel dengan segelas kopi instant ditangannya. Dia harus berhasil melobi beberapa pemegang saham untuk mau membantunya. Tapi dia tahu, semua itu tidak akan mudah. Dia sama sekali tidak berpengalaman dalam bisnis ini. Lalu dia mendengar suara langkah kaki yang sedang datang mendekat. Dia menengadahkan wajahnya, dan mendapati Hyunna sudah berdiri tepat dihadapannya.

"Hyunna..." Sedikit kaget, Yonghwa mencoba menyapa.

"Ya, Yonghwa. Ini aku. Maaf, Appaku sedang dalam perjalan bisnis ke Austria, sehingga dia tidak bisa hadir ke rapat pegang saham barusan. Appa menyuruhku menggantikannya, tapi Sekertaris Moon lupa mengatakannya padaku. Karenanya aku terlambat datang. Mianhae, Yonghwa ah." Hyunna duduk disamping Yonghwa. Yonghwa mencoba untuk rilex dengan menyandarkan tubuhnya ke sofa.

"Gwaenchanna, Hyunna ah. Jonghyun banyak membantuku. Tapi mungkin aku harus lebih banyak belajar lagi, karena semua ini benar-benar baru untukku."

"Geurae? Ddaengida. Aku sangat khawatir saat aku mendengar kabar tentang Abonim. Aku langsung teringat padamu, karena aku tahu kau pun akan segera meluncurkan album CNBLUE minggu depan." Hyunna menatap tulus.

"Yaah... tsk.. aku juga benar-benar bingung. Kami terpaksa harus mengundur tanggal show case kami karena urusan ini. Syukurlah, manajemenku membantuku menyelsaikan urusan CNBLUE, sehingga aku bisa fokus dulu dalam masalah ini." Yonghwa membalas senyum Hyunna, juga dengan senyum yang tulus.

"Syukurlah. Lalu.. bagaimana hasil rapat pemegang saham tadi?"

"Hhh.... sejauh ini, posisiku masih menguntungkan. Tapi bila kubu Tuan Joo dan Tuan Hong bergabung, maka sudah pasti aku akan kalah. Aku harus mencari setidaknya 15% lagi. Semoga masih ada waktu." Senyum diwajahnya tampak nanar. Beban itu begitu jelas tergambar disana.

"Geok cheongma Yonghwa ah. Sahamku dan saham Appaku bila digabungkan bisa mencapai 18%. Kau akan berada diposisi yang aman, karena aku sudah pasti akan selalu berada dipihak calon suamiku. Kau bisa tenang sekarang." Hyunna mengusap pundak Yonghwa.

Ya, seharusnya Yonghwa bisa bernafas lega saat itu. Tapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Bebannya semakin terasa berat karena kata 'calon suami' seolah menjadi sebuah taruhan didalam tawaran Hyunna itu. Yonghwa menatap Hyunna dengan tatapan lembut. Dia benar-benar hati-hati dalam memilah kata yang akan dia ucapkan demi untuk tidak menyakiti Hyunna lebih banyak.

"Hyunna.. jebbal.. dengaran aku. Aku sangat berterima kasih untuk dukungan dan ketulusanmu juga keluargamu. Kau tahu pasti bahwa saat ini aku tidak bisa bersikap munafik dengan berpura-pura bahwa aku tidak membutuhkan dukunganmu. Aku benar-benar membutuhkannya, Hyunna ah." Yonghwa menatap lebih dalam. Wajah gadis itu masih belum menampakkan reaksi yang jelas. Dia hanya membalas tatapan Yonghwa dihadapannya.

"Tapi, Hyunna... kau juga lebih tahu dari siapapun bila aku tidak bisa menjanjikan apapun untukmu selain perjanjian profesional dalam bisnis ini. Mianhae, Hyunna. Aku tidak ingin membohongimu. Dan tentang pernikahan... Hyunna, kau berhak mendapatkan lebih dari ini. Pernikahan karena cinta yang tulus. Bukan karena saham dan bisnis." Yonghwa masih menatap perempuan yang kini wajahnya mulai memerah dan kedua matanya berkaca-kaca.

"Sejak kapan kau peduli pada cinta? Ani... sejak kapan kau peduli padaku? Pada apa yang baik untukku dan perasaanku? Jung Yonghwa, sejak awal aku akui semua ini hanya demi bisnis orang tua kita. Atau mungkin hanya karena rasa bersalahmu atas kematian Yongdo Oppa. Tapi Yonghwa.... seiring waktu, semua itu bisa berubah. Hatimu. Hatiku. Kita bisa belajar saling mencintai satu sama lain." Tatapnya mengiba. Hanya Tuhan yang tahu betapa rapuhnya hati itu. Hati yang tanpa sengaja jatuh mencintai lelaki dihadapannya.

"Ani ah, Hyunna. Sejak awal kita tahu bahwa diantara kita tidak pernah bisa ada rasa itu. Jadi aku mohon, sebelum kita saling melukai satu sama lain lebih jauh, lebih baik kita berhenti saat ini." Suaranya masih terdengar lembut. Yonghwa khawatir akan melukainya lebih dalam. Meski tanpa diketahuinya, Hyunna sudah sangat terluka.

"Ani ah, Yonghwa. Kita pasti bisa. Bukankah kau pun dulu menyukaiku sebelum akhirnya kau menyerah karena  Hyung-mu? Yonghwa.. aku yakin, perasaan itu masih ada dalam lubuk hatimu yang terdalam. Kau hanya tidak ingin mengakuinya karena rasa bersalahmu pada Yongdo Oppa. Dan perasaanmu pada perempuan itu, aku yakin kau hanya sedang goyah. Suatu hari kau akan menyadarinya, dan kau akan tahu bahwa yang kau cintai hanya aku." Suaranya mulai bergetar, seiring tatapnya yang semakin mengiba. Bahkan kini kedua tangannya ikut bekerja dengan menggenggam kedua tangan Yonghwa erat.

"Hyunna, jebbal... dengarkan aku. Aku akui, aku pernah menyukaimu dulu. Tapi semua itu sudah lama berlalu dan saat itu usiaku masih remaja. Aku tidak bisa mengatakan bahwa semua itu adalah cinta.

Kumohon, Hyunna. Kita tidak perlu menyia-nyiakan usia kita untuk mencoba. Kita sudah tahu jawabannya. Aku akui, mungkin aku melukai harga dirimu dan aku minta maaf untuk itu. Tapi fikirkanlah, bahwa setelah kau terlepas dariku, kau bebas menikahi lelaki yang kau cintai dan hidup bahagia bersamanya." Gadis itu akhirnya gagal menahan air matanya.

"Ottokhae? Ottokhae, Yonghwa ah? Karena lelaki yang aku cintai itu baru saja mengatakan padaku bahwa dia tidak ingin menikah denganku?" Suaranya lirih. Yonghwa membelalakan kedua matanya usai mendengar kalimat itu. Dia harap, dia salah mendengarnya.

"Mo.. mwo rago?" Gugup, Yonghwa ingin mendengarnya sekali lagi.

"Saranghae, Yonghwa ah. Naega neol saranghae! Aku tidak tahu sejak kapan dan bagaimana tapi... aku benar-benar jatuh cinta padamu."  Sekali lagi, tubuh lelaki itu terkulai lemas kesandaran sofa. Dia memejamkan matanya sambil mengatur irama nafas yang mulai menyesakkan dadanya.

*****

Seoul, Kantin Gangnam Soul

"Wow... daebak!! Aku yakin bukumu kali ini akan menjadi awal yang sukses untuk debutmu sebagai penulis. Jinjja, Joohyun ah. Aku berkata jujur. Tuhan memang menganugrahkan bakat ini padamu."

Akhirnya, Seohyun berhasil merampungkan satu bukunya. Dan bila semua prosesnya berjalan lancar, dua minggu lagi buku itu siap terbit dipasaran. Beberapa broad cast berupa brain storming, quote dan cover buku itu sudah mulai di publish di internet dengan pack cage yang menarik perhatian. Dan sejauh ini, respon orang-orang yang melihat BC itu cukup baik. Gangnam Soul memang cukup diperhitungkan untuk setiap buku juga novel yang diterbitkannya.

"Gomawoyo, Oppa. Bila bukan karenamu, aku yakin.. tulisan-tulusanku hanya akan menjadi residu yang memenuhi memory laptopku. Jeongmal gomawoyo." Kyuhyun tersenyum puas melihat senyum bahagia merekah lebar di wajah perempuan dihadapannya.

'Geurae, seperti itulah, Joohyun ah. Tersenyumlah seperti itu mulai saat ini dan selamanya. Jangan pernah menangis lagi. Jangan menderita sendiri lagi. Aku akan melakukan segalanya untuk menebus semua kesalahanku padamu...' Bisiknya dalam hati.

"Oppa, jebbal gidaryo juseo. Aku harus ke toilet sebentar." Seohyun bangkit dari duduknya. Kyuhyun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Lelaki itu menghembuskan nafas lega.

30 menit berlalu, dan Seohyun belum juga kembali. Kyuhyun mulai bertanya-tanya. Dia segera berdiri, lalu berniat menyusulnya. Namun langkah nya terhenti saat asisten nya tiba-tiba muncul dengan wajah panik dan nafas terengah.

"Taeri-Nim... igeon... igeon... Seo Joohyun Ssi.." Gadis itu hanya menunjuk-nunjuk dengan telunjuknya ke arah toilet, namun kepanikan itu sepertinya mengunci deretan kata yang ingin dia ucapkan. Kyuhyun tidak menunggunya menyelesaikan kata-kata itu, secepat kilat lelaki itu berlari menghampiri toilet. Dan jantungnya nyaris terhenti saat dia melihat tubuh Seohyun sedang di angkat oleh 2 orang petugas security dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kyuhyun berlari mendekatinya, lalu dengan jelas bisa dia lihat wajahnya berlumur darah.

Tangannya gemetar hebat. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai mengucur dari keningnya.

"Igae mwo ya? Moseumniri ah?" Dengan suara yang tak kalah bergetar, Kyuhyun mencoba menanyakan pada orang-orang yang saat itu sedang berada disana.

"Mollayo, Taeri-Nim. Saat aku memasuki toilet, aku sudah mendapati tubuh Nona ini tergeletak di lantai. Aku mencoba membangunkannya, tapi aku menjadi sangat ketakutan ketika aku melihat kepalanya berdarah. Sehingga aku spontan berteriak memanggil security." Salah satu karyawati disana tampak masih ketakutan. Begitupun Kyuhyun. Rasanya seperti sebuah mimpi buruk. Andwe!! Jinjja, dia tidak ingin kehilangan lagi!

"Anda tengang saja, Taeri-Nim. Kami sudah menelepon 119. Mereka sedang dalam perjalanan menuju kemari." Salah seorang security mencoba menenangkan kepanikan yang teramat nampak di wajah salah satu pimpinan mereka.

Beberapa menit kemudian, tim medis datang dengan membawa berbagai peralatan pertolongan. Seohyun segera dilarikan ke rumah sakit dengan menggunakan ambulance. Dan Kyuhyun menemani disampingnya. Menggenggam erat tangannya, dengan doa yang tiada henti mengalun dalam hatinya.

'Kumohon, Tuhan... bila kali ini aku harus kehilangannya juga, aku tidak tahu lagi bagaimana aku harus hidup.' Batinnya.

*****

3 jam kemudian....

"Keluarga Seo Joohyun Ssi..." Seorang suster memanggil dari balik pintu kaca. Kyuhyun segera berdiri dan menghampirinya. Suster itu mempersilahkannya masuk kemudian bertemu dengan seorang dokter cantik yang sedang duduk dibalik mejanya. Kim Taeyeon.

"Silahkan duduk." Dengan senyum ramah, Taeyeon mempersilahkan Kyuhyun untuk duduk di sofa ruangan itu. Tanpa banyak bicara, Kyuhyun mengikutinya. Meski banyak tanya dalam benaknya yang teramat ingin dia tanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Seohyun.

"Anda...?" Taeyeon mencoba bertanya tentang siapa Kyuhyun untuk Seohyun. Karena Taeyeon tahu, bahwa Seohyun adalah kekasih sepupunya yang kala itu pernah dia obati karena demam.

"Cho Kyuhyun imnida. Saya editor ditempat Seo Joohyun Ssi bekerja. Bagaimana keadaannya?" Kyuhyun masih tidak mampu menyembunyikan rasa cemasnya.

"Seo Joohyun Ssi sudah mendapat perawatan saat ini. Luka di keningnya pun sudah dijahit. Kemungkinan besar, Seo Joohyun Ssi tiba-tiba pingsan hingga kepalanya terbentur dan terluka.

Kami sudah melakukan beberapa pemeriksaan dasar dan tes darah. Sebelumnya, saya sempat mengambil sampel darah Seo Joohyun Ssi saat dia mengalami demam. Dan kami menemukan sesuatu yang harus kami katakan hanya pada keluarganya saja. Jadi, Cho Kyuhyun Ssi, bisakah kami minta tolong agar keluarga Seo Joohyun Ssi dihubungi dan segera datang?"

Kakinya seketika terasa lemas. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang begitu mendesak sehingga hanya keluarga saja yang boleh mengetahuinya?

"Euisa-Nim, Seo Joohyun hidup seorang diri di kota ini. Paman dan bibinya berada di Jeongdojin. Ibunya sudah lama meninggal dan ayahnya berada di luar negeri. Selain itu, yang saya tahu, kekasihnya juga saat ini sedang berada di Busan. Tapi saya cukup dekat mengenal ayahnya. Bila anda tidak keberatan, setidaknya anda bisa menjelaskan sedikit saja tentang keadaan Joohyun. Setelah itu, saya akan segera menghubungi ayahnya dan memintanya datang."

Taeyeon terdiam sejenak. Dalam benaknya dia merasa terhimpit dilema. Dia tahu, seharusnya saat ini Yonghwa lah yang dia hubungi. Tapi mengingat kemelut yang sedang dihadapi keluarganya, Taeyeon tahu, memberi tahunya bahwa perempuan yang dia cintai sedang melawan penyakit serius hanya akan menambah bebannya. Dan lelaki dihadapannya kini, Taeyeon bingung, apakah dia harus mengatakan kondisi Seohyun padanya atau tidak. Dia harus menjaga kode etiknya sebagai dokter dengan merahasiakan penyakit pasien dari orang yang bukan keluarganya. Tapi kondisi Seohyun saat itu sangat membutuhkan penanganan serius secepat mungkin untuk bisa menyelamatkan nyawanya.

"Baiklah, Cho Kyuhyun Ssi. Saya percaya, anda bisa menjaga privasi Seo Joohyun Ssi dan akan membantunya sebagai perwakilan dari keluarganya. Saya bisa melihat, bahwa anda sangat mengkhawatirkannya.

Begini... dari hasil tes darah, kami menemukan bahwa Seo Joohyun Ssi mengidap Anemia aplastik. Yaitu sebuah penyakit yang terjadi karena kegagalan sumsum tulang dalam memproduksi sel darah merah, trombosit dan sel darah putih.

Mungkin animea terdengar seperti penyakit yang ringan dengan terapi pengobatan sederhana. Tapi dalam kasus Joohyun Ssi, animea jenis ini bisa mengancam jiwanya dalam waktu kurang dari 3 tahun bila tidak secepatnya dilakukan penanganan. Kekebalan tubuhnya akan terus menurun dan membuatnya rentan terhadap serangan virus dan bakteri. Tidak menutup kemungkinan juga, penyakit ini bisa menyebabkan gagal organ dan berubah menjadi Leukimia kapan saja."

Seperti sebuah batu besar menghantam kepalanya teramat keras. Kyuhyun merasa sekujur tubuhnya lemas dan kehilangan tenaganya. Wajahnya mulai merah, dan butir-butir air matanya mulai jatuh satu persatu tanpa sanggup dicegahnya.

'Leukimia. Tuhan... haruskah sekali lagi?' Batinnya.

"Mo.. mwoeyo? Euisan-Nim... Je..jebbalyo, anda pasti salah menganalisanya. Igae... igae.. hhh... andwe... uri Joohyun ottokhae?"

Seolah dia lupa dengan siapa dia sedang berhadapan dan dimana dirinya kala itu, Kyuhyun tertunduk pilu. Lelaki itu menangis tanpa suara hingga membuat Taeyeon tersentuh sekaligus bingung. Sebenarnya siapa lelaki itu? Kenapa dia harus sesedih itu? Bila pria inipun sedemikian sedihnya, bayangkan apa yang akan sepupunya rasakan? Batinnya.

"Jigeum gwaenchannayo, Kyuhyun Ssi. Saat ini kami sudah memberinya transfusi dan menyuntikan beberapa suplement untuk meningkatkan sistem imunnya. Tapi kau harus segera berbicara dengan keluarganya. Karena saat ini satu-satunya cara paling efektif untuk bisa menyelamatkannya adalah dengan pencangkokan sumsum tulang belakang. Kami sangat membutuhkan keluarganya saat ini, karena presentase kecocokan donor akan lebih besar." Mendengar itu, perlahan Kyuhyun mengangkat wajahnya, lalu menatap Taeyeon dengan tatap sendunya.

"Jeongmalyo? Lalu, apakah dengan begitu maka hidupnya benar-benar bisa tertolong? Kapan, Euisan-Nim? Kapan anda bisa menjadwalkan prosedur pencangkokan itu?" Binar-binar harapan mulai menyala lewat tatapnya, membuat Taeyeon semakin kebingungan.

"Lebih cepat lebih baik, selagi kadar sel darah merahnya masih bisa terproduksi. Banyak pasien dengan kasus ini berhasil disembuhkan dengan treatment tepat dan cepat. Bila kami telah menemukan donor yang tepat, maka departemen hematologi bisa segera menjadwalkan operasi itu. Saya sarankan untuk secepatnya, Kyuhyun Ssi. Karena hemoglobin nya saat ini menurun drastis."

Kyuhyun menghembuskan nafas lega. Kedua matanya terpejam beberapa saat, lalu dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

"Kalau begitu... bisakah kau mengambil sampel darahku dan melakukan pemerikaaan untuk mengetahui apa aku bisa mendonorkan sumsum tulangku?" Tatapnya mengiba. Taeyeon mengerutkan keningnya. Cho Kyuhyun sudah cukup membuatnya bingung dengan reaksi yang dia tunjukkan begitu dia  mendengar penyakit Seohyun. Dan kini, lelaki ini ingin mendonorkan sumsum tulangnya?

"Chogieyo.. Cho Kyuhyun Ssi. Maaf bila mungkin pertanyaanku terdengar tidak etis. Tapi... apa yang membuatmu memutuskan hal itu? Kita tidak bisa main-main dengan penyakitnya. Setidaknya, kita tidak perlu membuang-buang waktu dengan melakukan tes-tes yang kita tahu presentase keberhasilannya kecil. Karenanya, aku memintamu untuk menghubungi keluarganya." Taeyeon menatap kedua mata lelaki dihadapannya lebih dalam, seolah dia ingin menyelami isi fikirannya.

"Anda bisa melakukannya padaku, Euisanim. Jaega.... aku Oppa-nya."

Taeyeon kembali mengerutkan keningnya. Jawaban itu justru semakin memusingkan untuknya.

"Mwo ragoyo? Bukankah tadi kau bilang bahwa Seo Joohyun Ssi hidup seorang diri di kota ini? Bagaimana bisa..."

"Dia belum tahu semua ini, Euisan-Nim. Saya masih belum sempat mengatakan semuanya. Ayah kami memang berbeda, tapi kami memiliki satu ibu yang sama.

Euisan-Nim... Bbutagdeurimnida... selamatkan Joohyun..." Sekali lagi lelaki itu mengiba. Terbayang lagi dalam memorinya, apa yang dulu pernah dia lakukan pada mendiang ibunya. Dan semua itu semakin menyiksanya.

Taeyeon terpaku ditempatnya duduk. Benarkah didunia ini ada kenyataan seperti itu? Pantas saja... kesedihan yang dia tampakan sudah cukup memberitahunya bahwa dia sangat menyayangi Seohyun. Oppa nya?

"Arasso, Cho Kyuhyun Ssi. Hari ini sudah terlalu melelahkan untukmu. Mungkin besok kau bisa datang lagi dengan kondisi yang lebih sehat dan segar. Setelah itu, kita bisa mulai membicarakan segala prosedurnya dengan bagian hematologi. Tapi sebelum itu, kami juga harus memberitahukan semua ini pada Seo Joohyun Ssi. Dia harus benar-benar siap dan kuat melawan penyakitnya, sementara kita semua disini juga berusaha menolongnya." Kyuhyun mengangguk setuju.

"Ooh.. iya, Kyuhyun Ssi. Apa anda tahu, bahwa Joohyun Ssi punya kekasih?" Kyuhyun terdiam sejenak, sambil mencerna pertanyaan itu

"Nde, jaega arayo. Waeyo?"

"Jung Yonghwa adalah adik sepupu saya. Saya juga pernah bertemu Seo Joohyun Ssi saat dia demam beberapa hari lalu. Apa anda juga mengenalnya?" Kyuhyun terdiam sejenak. Betapa sebuah kebetulan, fikirnya.

"Nde. Saya mengenalnya. Oh iya, apa anda sudah memberitahunya?" Kyuhyun balik bertanya.

"Belum. Sebetulnya, kami sudah menemukan diagnosa penyakitnya beberapa hari yang lalu. Saya sempat ingin mengatakannya pada Yonghwa, tapi.. saya ingin terlebih dulu mengatakan semua ini pada Seo Joohyun Ssi. Tapi tiba-tiba, keluarga samchoon mendapat musibah dan Yonghwa saat ini pasti sedang sangat tertekan. Saya tidak sampai hati untuk memberi tahunya saat ini. Mungkin hingga segala urusan keluarganya selesai, baru saya akan memberitahunya."

*****

Busan

'Anyeong haseo, Seohyun imnida. Saat ini, aku mungkin sedang sibuk. Silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi biiiip.....'

Yonghwa mulai merasa tidak tenang. Kenapa Seohyun mematikan ponselnya? Sudah sejak sore tadi dia mencoba menghubungi gadis itu. Tapi hingga malam selarut ini, dia masih kesulitan menghubunginya. Dalam kegusarannya, lelaki itu berulang kali mondar mandir dari satu sisi ke sisi lain kamarnya.

"Haishh!! Kemana sebenarnya anak ini? Kapan dia akan berhenti membuatku khawatir seperti ini?" Gumamnya.

Lalu tiba-tiba ponselnya berbunyi. Nomor yang tidak terdaftar. Ragu, Yonghwa menjawabnya.

"Yeoboseo?"

'Jung Yonghwa Ssi. Joyo, Kyuhyun..' Yonghwa mengerutkan keningnya, begitu dia mendengar nama itu. Kyuhyun? Wae? Batinnya.

"Ooh.. nde, Kyuhyun Ssi. Ada apa meneleponku selarut ini?" Yonghwa menjawab senormal mungkin.

'Animida. Aku hanya ingin memberi tahumu, bahwa Joohyun kelelahan hingga jatuh pingsan di kantorku tadi siang.'

"MWO RAGO?!" Yonghwa mulai panik.

'Ijae gwaenchannayo, Yonghwa Ssi. Geok Cheongmaseo. Aku membawanya ke rumah sakit, dan sepupumu sendiri yang merawatnya. Saat ini Joohyun sedang tidur karena dokter memberinya obat agar dia istirahat. Mianhaeyo, aku baru sempat mengabarimu. Aku mendengar dari sepupumu tentang apa yang dialami keluargamu. Tapi kau tenang saja, Joohyun akan segera baik-baik saja.'

Yonghwa segera menjatuhkan tubuh lemasnya keatas sofa kamarnya. Ada sedikit lega mendengar penjelasan Kyuhyun barusan. Tapi juga rasa cemas itu masih menggantung dalam hatinya.

"Daengieyo. Hhh... neomo kamsahamnida, Cho Kyuhyun Ssi. Lagi-lagi aku dan Joohyun menyulitkanmu. Jeongmal minahaeyo." Suaranya terdengar lemah.

'Gwaenchannayo. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Kau jangan khawatir. Selesaikan saja urusanmu di Busan. Besok pagi, saat Joohyun bangun, aku akan menyuruhnya menghubungimu.'

"Algaeseyo. Neomu gomawoyo. Ah.. Cho Kyuhyun Ssi..."

'Nde?'

"Hhm... apa.. kau akan menginap di rumah sakit dan menemani Joohyun malam ini?"

Jung Yonghwa tetaplah Jung Yonghwa sampai kapanpun juga. Bagaimanapun, lelaki ini tidak bisa meloloskan diri dari sifat pencemburu dan possesive nya.

'Aniyo, Yonghwa Ssi. Aku rasa akupun harus istirahat, karena besok aku harus melakukan beberapa hal. Saat ini, ada Suho Ssi dan juga Hyoyeon Ssi yang akan menemaninya. Geok cheongmaseyo. Aku tidak akan bermain curang denganmu dalam keadaan seperti ini.' Andai Yonghwa tahu, Kyuhyun nyaris tertawa karena sikapnya.

"Mwoeyo? A.. animida. Bukan begitu maksudku. Aku tidak sedang cemburu, karena aku tahu Joohyun hanya mencintaiku. Geunyang..."

'Kalau begitu, segera selesaikan urusanmu agar kau bisa menjaganya. Jangan sampai kau membuat kesempatan untuk pria lain mengisi tempatmu saat ini.' Kyuhyun mulai merasa asik mempermainkan anak ingusan itu dengan ultimatum-ultimatum seperti itu.

"Nde?!! Oh.. jinjja!! Geumanhaeyo, Kyuhyun Ssi. Aku harap kau tidak berharap banyak dalam hal ini. Karena mungkin kau hanya akan terluka pada akhirnya." Dan Yonghwa bisa mendengar lelaki diseberang telepon itu terbahak. Akhirnya, Kyuhyun gagal menahannya.

'Aigoo... Jung Yonghwa Ssi. Kenapa selalu aku yang kau fikir akan menempati posisimu? Hey.. Man! Joohyun-mu itu gadis yang cantik dan juga cerdas. Diluaran sana, banyak sekali pria yang mungkin bisa tergila-gila padanya. Jadi hentikan, dan jangan selalu fokus padaku.' Kali ini Yonghwa merasa seperti sedang tertangkap basah.

"Nde?!! A.. aniyo! Eiiii.. bukan begitu maksudku. Aku tahu, Joohyun itu memang cantik. Tapi aku sama sekali tidak khawatir. Sedikiiiiit.. pun.. aku tidak takut, karena aku percaya Joohyun hanya akan mencintaiku saja." Kyuhyun semakin terbahak karenanya, dan itu membuat Yonghwa semakin bingung.

'Araso.. araso! Aigoo... baiklah, Jung Yonghwa Ssi. Aku harus segera pulang. Kau bisa menanyakan kabar lebih lanjut tentang Uri Joohyun pada sepupumu.' Lagi-lagi, Kyuhyun menggodanya.

"Uri Joohyun??! Aigooo... " Yonghwa memijat-mijat tengkuknya yang mulai terasa tegang sejak melayani pembicaraan menyebalkan itu dengan Kyuhyun. Dan Kyuhyun jauh disana semakin kesulitan menahan tawanya.

'Ittabayo, Jung Yonghwa Ssi. Jalgayo...' Kyuhyun menutup teleponnya.

"Yeoboseo? Hello? Yakk!!! Geun saeki ah!! Mwo?!!! Uri Joohyun?? Haishhh.. benar-benar minta dihajar!"

Sesaat, lelaki itu lupa bahwa ada hal yang lebih harus dikhawatirkan dari pada rasa cemburunya yang kekanak-kanakan itu. Yonghwa segera menelepon Taeyeon. Tapi tanpa Yonghwa ketahui, Taeyeon dan Kyuhyun sudah sepakat untuk menyembunyikan kebenaran itu untuk sementara waktu, hingga masalah keluarganya selesai.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar