In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 21
Problems
From : Phabo Jong
'Yonghwa ah, neol eodie ah? Apa kau sudah melihat berita?'
To : Phabo Jong
'Somewhere. Berita apa?'
From : Phabo Jong
'Appa-mu. Cepat buka internetmu, dan segera hubungi aku. Aku hampir
gila karena semalaman tidak menemukanmu.'
Yonghwa bergegas membuka koneksi
internetnya begitu dia membaca pesan dari Jonghyun. Hanya butuh waktu beberapa
menit hingga akhirnya tubuh lelaki itu terkulai lemas kesandaran kusrinya
dengan jantung yang berdebar kencang.
"Aboji...." Lirih, dia
memanggilnya. Yonghwa segera meraih ponselnya dan menghubungi Jonghyun.
'Oh.. Yonghwa ah! Neol jeongmal eodie ah, Jassik? Aku mencarimu
kemana-mana!' Jonghyun terdengar sengit diwaktu sepagi itu hingga membuat
Yonghwa semakin kalut.
"Aku di Villa, Jong. Mian.
Apa yang sebenarnya terjadi?" Yonghwa berusaha mengatur nafasnya dan tetap
bersikap tenang.
'Aku dan Appa ku masih mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi,
Yonghwa. Tiba-tiba saja, siang kemarin kantor Appa mu di datangi sekelompok orang
dari kejaksaan dan menyita banyak file dari sana. Dan akhirnya ayahmu ditahan
karena tuduhan money laundring dan penggelapan pajak. Ayahmu dituduh diam-diam
membuka sebuah cassino gelap dan menyediakan fasilitas pencucian uang untuk
para bandar judi. Apa kau tahu tentang semua ini?'
Betapa kerasnya pun usaha Yonghwa
untuk menenangkan dirinya, tapi dia gagal setelah mendengar penjelasan
Jonghyun.
"Na do molla, Jonghyun ah!
Aku tidak pernah tahu apalagi terlibat dalam bisnis Appa ku. Apalagi masalah
Cassino gelap itu. Aku benar-benar tidak tahu semua itu." Yonghwa mondar
mandir sambil mengurut-ngurut kepalanya.
'Arasso. Sekarang kau cepatlah pulang, Yonghwa. Aku yakin, sebentar
lagi rapat pemegang saham akan segera dilaksanakan. Bila kau tidak ada, aku khawatir
banyak orang akan memanfaatkan kemelut ini untuk kepentingan mereka.'
"Arasso. Aku akan pulang
sekarang. Kau dimana sekarang, Jong?"
'Aku sedang dalam perjalanan ke Busan.'
"Geurae? Ddaengida. Tolong
jaga Eomma ku sementara aku belom datang, Jong!"
'Geok cheongma. Yoona sedang bersamanya saat ini. Kau juga hati-hati di
jalan, Yonghwa! Jangan kalut dan tetap tenang. Ayahmu saat ini sudah didampingi
oleh pengacara-pengacara terbaiknya. Ayahku dan ayah Yoona juga ikut
membantunya. Geok cheongma!'
"Gomawo, chingu ah! Neomu
gomawo!"
Lelaki itu kembali menjatuhkan
tubuh lemasnya ke sofa ditaman belakang sambil mengusap wajahnya dengan kedua
tangannya. Masalah sepertinya belum akan usai. Disaat seperti ini, dia berharap
Hyung nya masih ada, maka beban itu tidak akan menjadi miliknya sepenuhnya.
Seohyun datang dari dalam dengan membawa segelas susu dan dua potong roti
berselai. Dia melihat Yonghwa termenung dengan wajah kusam, penuh kekhawatiran.
"Oppa... sarapan
dulu..." Gadis itu menyimpan makanan ditangannya diatas meja taman.
Yonghwa tidak menjawabnya. Lelaki itu lalu meneguk susu coklat yang Seohyun
bawakan, masih dengan wajah muram nya.
"Oppa.... wae geurae?
Moseumniri ah?" Seohyun menatapnya penuh kekhawatiran.
"Hyun, kita harus segera ke
Seoul saat ini juga. Karena aku harus segera terbang ke Busan." Yonghwa
menatap Seohyun-nya sendu.
"Busan? Apa sesuatu terjadi
pada orang tuamu?" Seohyun tampak lebih khawatir.
"Sesuatu terjadi di
perusahaan ayahku hingga membuatnya harus ditahan oleh kejaksaan."
Seketika, Seohyun membelalakan kedua matanya dan menutup mulutnya dengan kedua
tangannya.
"Saesanghae, Oppa!
Otteokhae?" Gadis itu kini tampak lebih khawatir dari Yonghwa sendiri.
"Geok cheongma, dia akan
baik-baik saja. Aku masih belum tahu apa-apa saat ini, Joohyun ah. Karenanya
aku harus segera berada di Busan untuk melihat dan memeriksanya sendiri.
Mianhae, Hyun... liburan kita harus terganggu karena masalah ini." Matanya
menatap gadis itu dengan sendu. Dia masih merindukannya dan ingin lebih lama
menghabiskan waktu bersamanya. Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan keluarganya
begitu saja.
"Gwaenchanna, Oppa. Jangan
khawatirkan aku. Saat ini tidak ada yang lebih penting selain urusan
keluargamu. Geok cheongma, kau selesaikan saja semua urusanmu." Seohyun
menggenggam satu tangan Yonghwa. Dan beberapa saat kemudian, Yonghwa mengunci
tangan itu dengan tangannya satu lagi.
"Aku janji, akan segera
menyelesaikannya. Doakan aku, ya..." Tatapnya teduh.
"Pasti. Tanpa harus kau
minta." Seohyun memberi senyum tulusnya.
Dan mereka pun segera
meninggalkan Villa itu usai menjalani liburan pendek mereka. Meski hanya
semalam, tapi mereka cukup puas karena bisa berbagi waktu yang hanya untuk
mereka berdua saja.
*****
Busan
"Oh... Yonghwa ah...."
Perempuan paruh baya yang masih tampak cantik itu segera berdiri dan setengah
berlari menghampiri anak lelakinya yang baru saja muncul dari balik pintu.
Yonghwa merentangkan kedua tangannya dan membiarkan wanita itu berlabuh dalam
pelukannya. Wajah cantik itu tampak muram menahan kesedihan dan kekhawatiran.
"Gwanchanna, Eomma. Semua
akan baik-baik saja." Yonghwa mengusap punggung Eomma nya dengan lembut.
Eomma terdengar terisak. Perlahan, Yonghwa melepas peluknya, lalu mengusap air
mata di wajah wanita nomor 1 dalam hidupnya.
"Uljima, Jung Samonim.
Hatiku sakit melihatmu begini. Geok cheongma, Eomma. Lee Ahjussi dan juga Im
Ahjussi sedang membantu Appa. Semua ini pasti jebakan seseorang yang ingin
menghancurkan bisnis Appa. Eomma tenang saja, kebenaran pasti terungkap."
Yonghwa mendengarnya dari asisten
pribadi ayahnya, bahwa beberapa bulan lalu, ayahnya menandatangani sebuah kerja
sama dengan sebuah bank. Semua sistem finasial perusahaannya sejak saat itu
dipindah bukukan ke bank tersebut, termasuk kas perusahaan hingga sistem
penggajian karyawan pun kini disalurkan oleh bank tersebut. Dan konpensasi
untuk perusahaannya adalah 13% saham yang dimiliki bank tersebut. Tentu saja,
semua itu menggiurkan. Terlebih bank tersebut adalah bank yang memiliki
kredibilitas selama puluhan tahun di dunia perbankan Korea Selatan. Venus Hotel
sudah memeriksa segalanya dengan cermat, dan tidak menemukan satupun indikasi
buruk. Karenanya, kerja sama itu tercipta.
Siapa sangka bila pada akhirnya
10% dari saham yang dipindah tangankan pada ayahnya ternyata saham dengan
identitas ganda? Ayahnya bahkan tidak tahu menahu tentang Cassino gelap itu.
Juga tentang penggelapan pajak, Venus Hotel dari sejak awal berdiri hingga kini
tidak pernah sekalipun melakukan pelanggaran itu. Karenanya, saat ini tim kuasa
hukum perusahaan sedang berjuang keras menuntut keadilan dan membuktikan bahwa
semua itu adalah jebakan.
3 hari kemudian, Yonghwa,
Jonghyun dan beberapa koalisi Tuan Jung sudah berada diruang meeting Venus
Hotel. Benar saja, seperti yang Jonghyun katakan, para pemegang saham segera
menuntut untuk diadakan rapat besar dengan agenda pemindahan kepemimpinan Venus
Hotel.
Banyak pihak yang berlomba ingin
mengambil posisi ayahnya. Hanya selang beberapa hari saja, sudah tampak
kubu-kubu yang mencoba menggabungkan saham mereka untuk menunjuk komisaris yang
mereka inginkan. Yonghwa masih dalam posisi yang beruntung, karena saham
ayahnya, ditambah ayah Jonghyun dan Yoona, juga beberapa orang-orang yang loyal
pada ayahnya saat ini sudah menggenggam 36%. Tapi bila kubu lawan bersatu, maka
dia tetap akan kalah. Dia butuh setidaknya 15% lagi untuk berdiri diposisi yang
aman.
Lelaki itu tertunduk dan berfikir
keras disofa koridor hotel dengan segelas kopi instant ditangannya. Dia harus
berhasil melobi beberapa pemegang saham untuk mau membantunya. Tapi dia tahu,
semua itu tidak akan mudah. Dia sama sekali tidak berpengalaman dalam bisnis
ini. Lalu dia mendengar suara langkah kaki yang sedang datang mendekat. Dia
menengadahkan wajahnya, dan mendapati Hyunna sudah berdiri tepat dihadapannya.
"Hyunna..." Sedikit
kaget, Yonghwa mencoba menyapa.
"Ya, Yonghwa. Ini aku. Maaf,
Appaku sedang dalam perjalan bisnis ke Austria, sehingga dia tidak bisa hadir
ke rapat pegang saham barusan. Appa menyuruhku menggantikannya, tapi Sekertaris
Moon lupa mengatakannya padaku. Karenanya aku terlambat datang. Mianhae,
Yonghwa ah." Hyunna duduk disamping Yonghwa. Yonghwa mencoba untuk rilex
dengan menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Gwaenchanna, Hyunna ah.
Jonghyun banyak membantuku. Tapi mungkin aku harus lebih banyak belajar lagi,
karena semua ini benar-benar baru untukku."
"Geurae? Ddaengida. Aku
sangat khawatir saat aku mendengar kabar tentang Abonim. Aku langsung teringat
padamu, karena aku tahu kau pun akan segera meluncurkan album CNBLUE minggu
depan." Hyunna menatap tulus.
"Yaah... tsk.. aku juga
benar-benar bingung. Kami terpaksa harus mengundur tanggal show case kami
karena urusan ini. Syukurlah, manajemenku membantuku menyelsaikan urusan
CNBLUE, sehingga aku bisa fokus dulu dalam masalah ini." Yonghwa membalas
senyum Hyunna, juga dengan senyum yang tulus.
"Syukurlah. Lalu.. bagaimana
hasil rapat pemegang saham tadi?"
"Hhh.... sejauh ini, posisiku
masih menguntungkan. Tapi bila kubu Tuan Joo dan Tuan Hong bergabung, maka
sudah pasti aku akan kalah. Aku harus mencari setidaknya 15% lagi. Semoga masih
ada waktu." Senyum diwajahnya tampak nanar. Beban itu begitu jelas
tergambar disana.
"Geok cheongma Yonghwa ah.
Sahamku dan saham Appaku bila digabungkan bisa mencapai 18%. Kau akan berada
diposisi yang aman, karena aku sudah pasti akan selalu berada dipihak calon
suamiku. Kau bisa tenang sekarang." Hyunna mengusap pundak Yonghwa.
Ya, seharusnya Yonghwa bisa
bernafas lega saat itu. Tapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Bebannya
semakin terasa berat karena kata 'calon suami' seolah menjadi sebuah taruhan
didalam tawaran Hyunna itu. Yonghwa menatap Hyunna dengan tatapan lembut. Dia
benar-benar hati-hati dalam memilah kata yang akan dia ucapkan demi untuk tidak
menyakiti Hyunna lebih banyak.
"Hyunna.. jebbal.. dengaran
aku. Aku sangat berterima kasih untuk dukungan dan ketulusanmu juga keluargamu.
Kau tahu pasti bahwa saat ini aku tidak bisa bersikap munafik dengan
berpura-pura bahwa aku tidak membutuhkan dukunganmu. Aku benar-benar
membutuhkannya, Hyunna ah." Yonghwa menatap lebih dalam. Wajah gadis itu
masih belum menampakkan reaksi yang jelas. Dia hanya membalas tatapan Yonghwa
dihadapannya.
"Tapi, Hyunna... kau juga
lebih tahu dari siapapun bila aku tidak bisa menjanjikan apapun untukmu selain
perjanjian profesional dalam bisnis ini. Mianhae, Hyunna. Aku tidak ingin
membohongimu. Dan tentang pernikahan... Hyunna, kau berhak mendapatkan lebih
dari ini. Pernikahan karena cinta yang tulus. Bukan karena saham dan
bisnis." Yonghwa masih menatap perempuan yang kini wajahnya mulai memerah
dan kedua matanya berkaca-kaca.
"Sejak kapan kau peduli pada
cinta? Ani... sejak kapan kau peduli padaku? Pada apa yang baik untukku dan
perasaanku? Jung Yonghwa, sejak awal aku akui semua ini hanya demi bisnis orang
tua kita. Atau mungkin hanya karena rasa bersalahmu atas kematian Yongdo Oppa.
Tapi Yonghwa.... seiring waktu, semua itu bisa berubah. Hatimu. Hatiku. Kita
bisa belajar saling mencintai satu sama lain." Tatapnya mengiba. Hanya
Tuhan yang tahu betapa rapuhnya hati itu. Hati yang tanpa sengaja jatuh
mencintai lelaki dihadapannya.
"Ani ah, Hyunna. Sejak awal
kita tahu bahwa diantara kita tidak pernah bisa ada rasa itu. Jadi aku mohon,
sebelum kita saling melukai satu sama lain lebih jauh, lebih baik kita berhenti
saat ini." Suaranya masih terdengar lembut. Yonghwa khawatir akan
melukainya lebih dalam. Meski tanpa diketahuinya, Hyunna sudah sangat terluka.
"Ani ah, Yonghwa. Kita pasti
bisa. Bukankah kau pun dulu menyukaiku sebelum akhirnya kau menyerah
karena Hyung-mu? Yonghwa.. aku yakin,
perasaan itu masih ada dalam lubuk hatimu yang terdalam. Kau hanya tidak ingin
mengakuinya karena rasa bersalahmu pada Yongdo Oppa. Dan perasaanmu pada
perempuan itu, aku yakin kau hanya sedang goyah. Suatu hari kau akan
menyadarinya, dan kau akan tahu bahwa yang kau cintai hanya aku." Suaranya
mulai bergetar, seiring tatapnya yang semakin mengiba. Bahkan kini kedua tangannya
ikut bekerja dengan menggenggam kedua tangan Yonghwa erat.
"Hyunna, jebbal... dengarkan
aku. Aku akui, aku pernah menyukaimu dulu. Tapi semua itu sudah lama berlalu
dan saat itu usiaku masih remaja. Aku tidak bisa mengatakan bahwa semua itu
adalah cinta.
Kumohon, Hyunna. Kita tidak perlu
menyia-nyiakan usia kita untuk mencoba. Kita sudah tahu jawabannya. Aku akui,
mungkin aku melukai harga dirimu dan aku minta maaf untuk itu. Tapi
fikirkanlah, bahwa setelah kau terlepas dariku, kau bebas menikahi lelaki yang
kau cintai dan hidup bahagia bersamanya." Gadis itu akhirnya gagal menahan
air matanya.
"Ottokhae? Ottokhae, Yonghwa
ah? Karena lelaki yang aku cintai itu baru saja mengatakan padaku bahwa dia
tidak ingin menikah denganku?" Suaranya lirih. Yonghwa membelalakan kedua
matanya usai mendengar kalimat itu. Dia harap, dia salah mendengarnya.
"Mo.. mwo rago?" Gugup,
Yonghwa ingin mendengarnya sekali lagi.
"Saranghae, Yonghwa ah.
Naega neol saranghae! Aku tidak tahu sejak kapan dan bagaimana tapi... aku
benar-benar jatuh cinta padamu."
Sekali lagi, tubuh lelaki itu terkulai lemas kesandaran sofa. Dia
memejamkan matanya sambil mengatur irama nafas yang mulai menyesakkan dadanya.
*****
Seoul, Kantin Gangnam Soul
"Wow... daebak!! Aku yakin
bukumu kali ini akan menjadi awal yang sukses untuk debutmu sebagai penulis.
Jinjja, Joohyun ah. Aku berkata jujur. Tuhan memang menganugrahkan bakat ini
padamu."
Akhirnya, Seohyun berhasil
merampungkan satu bukunya. Dan bila semua prosesnya berjalan lancar, dua minggu
lagi buku itu siap terbit dipasaran. Beberapa broad cast berupa brain storming,
quote dan cover buku itu sudah mulai di publish di internet dengan pack cage
yang menarik perhatian. Dan sejauh ini, respon orang-orang yang melihat BC itu
cukup baik. Gangnam Soul memang cukup diperhitungkan untuk setiap buku juga
novel yang diterbitkannya.
"Gomawoyo, Oppa. Bila bukan
karenamu, aku yakin.. tulisan-tulusanku hanya akan menjadi residu yang memenuhi
memory laptopku. Jeongmal gomawoyo." Kyuhyun tersenyum puas melihat senyum
bahagia merekah lebar di wajah perempuan dihadapannya.
'Geurae, seperti itulah, Joohyun ah. Tersenyumlah seperti itu mulai
saat ini dan selamanya. Jangan pernah menangis lagi. Jangan menderita sendiri
lagi. Aku akan melakukan segalanya untuk menebus semua kesalahanku padamu...' Bisiknya
dalam hati.
"Oppa, jebbal gidaryo juseo.
Aku harus ke toilet sebentar." Seohyun bangkit dari duduknya. Kyuhyun
tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Lelaki itu menghembuskan nafas lega.
30 menit berlalu, dan Seohyun
belum juga kembali. Kyuhyun mulai bertanya-tanya. Dia segera berdiri, lalu
berniat menyusulnya. Namun langkah nya terhenti saat asisten nya tiba-tiba
muncul dengan wajah panik dan nafas terengah.
"Taeri-Nim... igeon...
igeon... Seo Joohyun Ssi.." Gadis itu hanya menunjuk-nunjuk dengan
telunjuknya ke arah toilet, namun kepanikan itu sepertinya mengunci deretan
kata yang ingin dia ucapkan. Kyuhyun tidak menunggunya menyelesaikan kata-kata
itu, secepat kilat lelaki itu berlari menghampiri toilet. Dan jantungnya nyaris
terhenti saat dia melihat tubuh Seohyun sedang di angkat oleh 2 orang petugas
security dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kyuhyun berlari mendekatinya, lalu
dengan jelas bisa dia lihat wajahnya berlumur darah.
Tangannya gemetar hebat.
Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai mengucur dari keningnya.
"Igae mwo ya? Moseumniri
ah?" Dengan suara yang tak kalah bergetar, Kyuhyun mencoba menanyakan pada
orang-orang yang saat itu sedang berada disana.
"Mollayo, Taeri-Nim. Saat
aku memasuki toilet, aku sudah mendapati tubuh Nona ini tergeletak di lantai.
Aku mencoba membangunkannya, tapi aku menjadi sangat ketakutan ketika aku
melihat kepalanya berdarah. Sehingga aku spontan berteriak memanggil
security." Salah satu karyawati disana tampak masih ketakutan. Begitupun
Kyuhyun. Rasanya seperti sebuah mimpi buruk. Andwe!! Jinjja, dia tidak ingin
kehilangan lagi!
"Anda tengang saja,
Taeri-Nim. Kami sudah menelepon 119. Mereka sedang dalam perjalanan menuju
kemari." Salah seorang security mencoba menenangkan kepanikan yang teramat
nampak di wajah salah satu pimpinan mereka.
Beberapa menit kemudian, tim
medis datang dengan membawa berbagai peralatan pertolongan. Seohyun segera
dilarikan ke rumah sakit dengan menggunakan ambulance. Dan Kyuhyun menemani
disampingnya. Menggenggam erat tangannya, dengan doa yang tiada henti mengalun
dalam hatinya.
'Kumohon, Tuhan... bila kali ini aku harus kehilangannya juga, aku
tidak tahu lagi bagaimana aku harus hidup.' Batinnya.
*****
3 jam kemudian....
"Keluarga Seo Joohyun
Ssi..." Seorang suster memanggil dari balik pintu kaca. Kyuhyun segera
berdiri dan menghampirinya. Suster itu mempersilahkannya masuk kemudian bertemu
dengan seorang dokter cantik yang sedang duduk dibalik mejanya. Kim Taeyeon.
"Silahkan duduk."
Dengan senyum ramah, Taeyeon mempersilahkan Kyuhyun untuk duduk di sofa ruangan
itu. Tanpa banyak bicara, Kyuhyun mengikutinya. Meski banyak tanya dalam
benaknya yang teramat ingin dia tanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi
pada Seohyun.
"Anda...?" Taeyeon
mencoba bertanya tentang siapa Kyuhyun untuk Seohyun. Karena Taeyeon tahu,
bahwa Seohyun adalah kekasih sepupunya yang kala itu pernah dia obati karena
demam.
"Cho Kyuhyun imnida. Saya
editor ditempat Seo Joohyun Ssi bekerja. Bagaimana keadaannya?" Kyuhyun
masih tidak mampu menyembunyikan rasa cemasnya.
"Seo Joohyun Ssi sudah
mendapat perawatan saat ini. Luka di keningnya pun sudah dijahit. Kemungkinan
besar, Seo Joohyun Ssi tiba-tiba pingsan hingga kepalanya terbentur dan
terluka.
Kami sudah melakukan beberapa
pemeriksaan dasar dan tes darah. Sebelumnya, saya sempat mengambil sampel darah
Seo Joohyun Ssi saat dia mengalami demam. Dan kami menemukan sesuatu yang harus
kami katakan hanya pada keluarganya saja. Jadi, Cho Kyuhyun Ssi, bisakah kami
minta tolong agar keluarga Seo Joohyun Ssi dihubungi dan segera datang?"
Kakinya seketika terasa lemas.
Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang begitu mendesak sehingga hanya keluarga
saja yang boleh mengetahuinya?
"Euisa-Nim, Seo Joohyun
hidup seorang diri di kota ini. Paman dan bibinya berada di Jeongdojin. Ibunya
sudah lama meninggal dan ayahnya berada di luar negeri. Selain itu, yang saya
tahu, kekasihnya juga saat ini sedang berada di Busan. Tapi saya cukup dekat
mengenal ayahnya. Bila anda tidak keberatan, setidaknya anda bisa menjelaskan
sedikit saja tentang keadaan Joohyun. Setelah itu, saya akan segera menghubungi
ayahnya dan memintanya datang."
Taeyeon terdiam sejenak. Dalam
benaknya dia merasa terhimpit dilema. Dia tahu, seharusnya saat ini Yonghwa lah
yang dia hubungi. Tapi mengingat kemelut yang sedang dihadapi keluarganya,
Taeyeon tahu, memberi tahunya bahwa perempuan yang dia cintai sedang melawan
penyakit serius hanya akan menambah bebannya. Dan lelaki dihadapannya kini,
Taeyeon bingung, apakah dia harus mengatakan kondisi Seohyun padanya atau
tidak. Dia harus menjaga kode etiknya sebagai dokter dengan merahasiakan
penyakit pasien dari orang yang bukan keluarganya. Tapi kondisi Seohyun saat
itu sangat membutuhkan penanganan serius secepat mungkin untuk bisa
menyelamatkan nyawanya.
"Baiklah, Cho Kyuhyun Ssi.
Saya percaya, anda bisa menjaga privasi Seo Joohyun Ssi dan akan membantunya
sebagai perwakilan dari keluarganya. Saya bisa melihat, bahwa anda sangat
mengkhawatirkannya.
Begini... dari hasil tes darah,
kami menemukan bahwa Seo Joohyun Ssi mengidap Anemia aplastik. Yaitu sebuah
penyakit yang terjadi karena kegagalan sumsum tulang dalam memproduksi sel
darah merah, trombosit dan sel darah putih.
Mungkin animea terdengar seperti
penyakit yang ringan dengan terapi pengobatan sederhana. Tapi dalam kasus
Joohyun Ssi, animea jenis ini bisa mengancam jiwanya dalam waktu kurang dari 3
tahun bila tidak secepatnya dilakukan penanganan. Kekebalan tubuhnya akan terus
menurun dan membuatnya rentan terhadap serangan virus dan bakteri. Tidak
menutup kemungkinan juga, penyakit ini bisa menyebabkan gagal organ dan berubah
menjadi Leukimia kapan saja."
Seperti sebuah batu besar
menghantam kepalanya teramat keras. Kyuhyun merasa sekujur tubuhnya lemas dan
kehilangan tenaganya. Wajahnya mulai merah, dan butir-butir air matanya mulai
jatuh satu persatu tanpa sanggup dicegahnya.
'Leukimia. Tuhan... haruskah sekali lagi?' Batinnya.
"Mo.. mwoeyo? Euisan-Nim...
Je..jebbalyo, anda pasti salah menganalisanya. Igae... igae.. hhh... andwe...
uri Joohyun ottokhae?"
Seolah dia lupa dengan siapa dia
sedang berhadapan dan dimana dirinya kala itu, Kyuhyun tertunduk pilu. Lelaki
itu menangis tanpa suara hingga membuat Taeyeon tersentuh sekaligus bingung.
Sebenarnya siapa lelaki itu? Kenapa dia harus sesedih itu? Bila pria inipun
sedemikian sedihnya, bayangkan apa yang akan sepupunya rasakan? Batinnya.
"Jigeum gwaenchannayo,
Kyuhyun Ssi. Saat ini kami sudah memberinya transfusi dan menyuntikan beberapa
suplement untuk meningkatkan sistem imunnya. Tapi kau harus segera berbicara
dengan keluarganya. Karena saat ini satu-satunya cara paling efektif untuk bisa
menyelamatkannya adalah dengan pencangkokan sumsum tulang belakang. Kami sangat
membutuhkan keluarganya saat ini, karena presentase kecocokan donor akan lebih
besar." Mendengar itu, perlahan Kyuhyun mengangkat wajahnya, lalu menatap
Taeyeon dengan tatap sendunya.
"Jeongmalyo? Lalu, apakah
dengan begitu maka hidupnya benar-benar bisa tertolong? Kapan, Euisan-Nim?
Kapan anda bisa menjadwalkan prosedur pencangkokan itu?" Binar-binar
harapan mulai menyala lewat tatapnya, membuat Taeyeon semakin kebingungan.
"Lebih cepat lebih baik,
selagi kadar sel darah merahnya masih bisa terproduksi. Banyak pasien dengan
kasus ini berhasil disembuhkan dengan treatment tepat dan cepat. Bila kami
telah menemukan donor yang tepat, maka departemen hematologi bisa segera
menjadwalkan operasi itu. Saya sarankan untuk secepatnya, Kyuhyun Ssi. Karena
hemoglobin nya saat ini menurun drastis."
Kyuhyun menghembuskan nafas lega.
Kedua matanya terpejam beberapa saat, lalu dia mengusap wajahnya dengan kedua
telapak tangannya.
"Kalau begitu... bisakah kau
mengambil sampel darahku dan melakukan pemerikaaan untuk mengetahui apa aku
bisa mendonorkan sumsum tulangku?" Tatapnya mengiba. Taeyeon mengerutkan
keningnya. Cho Kyuhyun sudah cukup membuatnya bingung dengan reaksi yang dia
tunjukkan begitu dia mendengar penyakit
Seohyun. Dan kini, lelaki ini ingin mendonorkan sumsum tulangnya?
"Chogieyo.. Cho Kyuhyun Ssi.
Maaf bila mungkin pertanyaanku terdengar tidak etis. Tapi... apa yang membuatmu
memutuskan hal itu? Kita tidak bisa main-main dengan penyakitnya. Setidaknya,
kita tidak perlu membuang-buang waktu dengan melakukan tes-tes yang kita tahu
presentase keberhasilannya kecil. Karenanya, aku memintamu untuk menghubungi
keluarganya." Taeyeon menatap kedua mata lelaki dihadapannya lebih dalam,
seolah dia ingin menyelami isi fikirannya.
"Anda bisa melakukannya
padaku, Euisanim. Jaega.... aku Oppa-nya."
Taeyeon kembali mengerutkan
keningnya. Jawaban itu justru semakin memusingkan untuknya.
"Mwo ragoyo? Bukankah tadi
kau bilang bahwa Seo Joohyun Ssi hidup seorang diri di kota ini? Bagaimana
bisa..."
"Dia belum tahu semua ini,
Euisan-Nim. Saya masih belum sempat mengatakan semuanya. Ayah kami memang
berbeda, tapi kami memiliki satu ibu yang sama.
Euisan-Nim... Bbutagdeurimnida...
selamatkan Joohyun..." Sekali lagi lelaki itu mengiba. Terbayang lagi
dalam memorinya, apa yang dulu pernah dia lakukan pada mendiang ibunya. Dan
semua itu semakin menyiksanya.
Taeyeon terpaku ditempatnya
duduk. Benarkah didunia ini ada kenyataan seperti itu? Pantas saja... kesedihan
yang dia tampakan sudah cukup memberitahunya bahwa dia sangat menyayangi
Seohyun. Oppa nya?
"Arasso, Cho Kyuhyun Ssi.
Hari ini sudah terlalu melelahkan untukmu. Mungkin besok kau bisa datang lagi
dengan kondisi yang lebih sehat dan segar. Setelah itu, kita bisa mulai
membicarakan segala prosedurnya dengan bagian hematologi. Tapi sebelum itu,
kami juga harus memberitahukan semua ini pada Seo Joohyun Ssi. Dia harus
benar-benar siap dan kuat melawan penyakitnya, sementara kita semua disini juga
berusaha menolongnya." Kyuhyun mengangguk setuju.
"Ooh.. iya, Kyuhyun Ssi. Apa
anda tahu, bahwa Joohyun Ssi punya kekasih?" Kyuhyun terdiam sejenak,
sambil mencerna pertanyaan itu
"Nde, jaega arayo.
Waeyo?"
"Jung Yonghwa adalah adik
sepupu saya. Saya juga pernah bertemu Seo Joohyun Ssi saat dia demam beberapa
hari lalu. Apa anda juga mengenalnya?" Kyuhyun terdiam sejenak. Betapa
sebuah kebetulan, fikirnya.
"Nde. Saya mengenalnya. Oh
iya, apa anda sudah memberitahunya?" Kyuhyun balik bertanya.
"Belum. Sebetulnya, kami
sudah menemukan diagnosa penyakitnya beberapa hari yang lalu. Saya sempat ingin
mengatakannya pada Yonghwa, tapi.. saya ingin terlebih dulu mengatakan semua
ini pada Seo Joohyun Ssi. Tapi tiba-tiba, keluarga samchoon mendapat musibah
dan Yonghwa saat ini pasti sedang sangat tertekan. Saya tidak sampai hati untuk
memberi tahunya saat ini. Mungkin hingga segala urusan keluarganya selesai,
baru saya akan memberitahunya."
*****
Busan
'Anyeong haseo, Seohyun imnida. Saat ini, aku mungkin sedang sibuk.
Silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi biiiip.....'
Yonghwa mulai merasa tidak
tenang. Kenapa Seohyun mematikan ponselnya? Sudah sejak sore tadi dia mencoba
menghubungi gadis itu. Tapi hingga malam selarut ini, dia masih kesulitan
menghubunginya. Dalam kegusarannya, lelaki itu berulang kali mondar mandir dari
satu sisi ke sisi lain kamarnya.
"Haishh!! Kemana sebenarnya
anak ini? Kapan dia akan berhenti membuatku khawatir seperti ini?"
Gumamnya.
Lalu tiba-tiba ponselnya
berbunyi. Nomor yang tidak terdaftar. Ragu, Yonghwa menjawabnya.
"Yeoboseo?"
'Jung Yonghwa Ssi. Joyo, Kyuhyun..' Yonghwa mengerutkan keningnya,
begitu dia mendengar nama itu. Kyuhyun? Wae? Batinnya.
"Ooh.. nde, Kyuhyun Ssi. Ada
apa meneleponku selarut ini?" Yonghwa menjawab senormal mungkin.
'Animida. Aku hanya ingin memberi tahumu, bahwa Joohyun kelelahan
hingga jatuh pingsan di kantorku tadi siang.'
"MWO RAGO?!" Yonghwa
mulai panik.
'Ijae gwaenchannayo, Yonghwa Ssi. Geok Cheongmaseo. Aku membawanya ke
rumah sakit, dan sepupumu sendiri yang merawatnya. Saat ini Joohyun sedang
tidur karena dokter memberinya obat agar dia istirahat. Mianhaeyo, aku baru
sempat mengabarimu. Aku mendengar dari sepupumu tentang apa yang dialami
keluargamu. Tapi kau tenang saja, Joohyun akan segera baik-baik saja.'
Yonghwa segera menjatuhkan tubuh
lemasnya keatas sofa kamarnya. Ada sedikit lega mendengar penjelasan Kyuhyun
barusan. Tapi juga rasa cemas itu masih menggantung dalam hatinya.
"Daengieyo. Hhh... neomo
kamsahamnida, Cho Kyuhyun Ssi. Lagi-lagi aku dan Joohyun menyulitkanmu.
Jeongmal minahaeyo." Suaranya terdengar lemah.
'Gwaenchannayo. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan.
Kau jangan khawatir. Selesaikan saja urusanmu di Busan. Besok pagi, saat
Joohyun bangun, aku akan menyuruhnya menghubungimu.'
"Algaeseyo. Neomu gomawoyo.
Ah.. Cho Kyuhyun Ssi..."
'Nde?'
"Hhm... apa.. kau akan
menginap di rumah sakit dan menemani Joohyun malam ini?"
Jung Yonghwa tetaplah Jung
Yonghwa sampai kapanpun juga. Bagaimanapun, lelaki ini tidak bisa meloloskan
diri dari sifat pencemburu dan possesive nya.
'Aniyo, Yonghwa Ssi. Aku rasa akupun harus istirahat, karena besok aku
harus melakukan beberapa hal. Saat ini, ada Suho Ssi dan juga Hyoyeon Ssi yang
akan menemaninya. Geok cheongmaseyo. Aku tidak akan bermain curang denganmu
dalam keadaan seperti ini.' Andai Yonghwa tahu, Kyuhyun nyaris tertawa
karena sikapnya.
"Mwoeyo? A.. animida. Bukan
begitu maksudku. Aku tidak sedang cemburu, karena aku tahu Joohyun hanya
mencintaiku. Geunyang..."
'Kalau begitu, segera selesaikan urusanmu agar kau bisa menjaganya.
Jangan sampai kau membuat kesempatan untuk pria lain mengisi tempatmu saat
ini.' Kyuhyun mulai merasa asik mempermainkan anak ingusan itu dengan
ultimatum-ultimatum seperti itu.
"Nde?!! Oh.. jinjja!!
Geumanhaeyo, Kyuhyun Ssi. Aku harap kau tidak berharap banyak dalam hal ini.
Karena mungkin kau hanya akan terluka pada akhirnya." Dan Yonghwa bisa
mendengar lelaki diseberang telepon itu terbahak. Akhirnya, Kyuhyun gagal
menahannya.
'Aigoo... Jung Yonghwa Ssi. Kenapa selalu aku yang kau fikir akan
menempati posisimu? Hey.. Man! Joohyun-mu itu gadis yang cantik dan juga
cerdas. Diluaran sana, banyak sekali pria yang mungkin bisa tergila-gila
padanya. Jadi hentikan, dan jangan selalu fokus padaku.' Kali ini Yonghwa
merasa seperti sedang tertangkap basah.
"Nde?!! A.. aniyo! Eiiii..
bukan begitu maksudku. Aku tahu, Joohyun itu memang cantik. Tapi aku sama
sekali tidak khawatir. Sedikiiiiit.. pun.. aku tidak takut, karena aku percaya
Joohyun hanya akan mencintaiku saja." Kyuhyun semakin terbahak karenanya,
dan itu membuat Yonghwa semakin bingung.
'Araso.. araso! Aigoo... baiklah, Jung Yonghwa Ssi. Aku harus segera
pulang. Kau bisa menanyakan kabar lebih lanjut tentang Uri Joohyun pada sepupumu.' Lagi-lagi, Kyuhyun menggodanya.
"Uri Joohyun??! Aigooo...
" Yonghwa memijat-mijat tengkuknya yang mulai terasa tegang sejak melayani
pembicaraan menyebalkan itu dengan Kyuhyun. Dan Kyuhyun jauh disana semakin
kesulitan menahan tawanya.
'Ittabayo, Jung Yonghwa Ssi. Jalgayo...' Kyuhyun menutup
teleponnya.
"Yeoboseo? Hello? Yakk!!!
Geun saeki ah!! Mwo?!!! Uri Joohyun?? Haishhh.. benar-benar minta
dihajar!"
Sesaat, lelaki itu lupa bahwa ada
hal yang lebih harus dikhawatirkan dari pada rasa cemburunya yang
kekanak-kanakan itu. Yonghwa segera menelepon Taeyeon. Tapi tanpa Yonghwa
ketahui, Taeyeon dan Kyuhyun sudah sepakat untuk menyembunyikan kebenaran itu
untuk sementara waktu, hingga masalah keluarganya selesai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar