Kamis, 31 Maret 2016

In Time With You Chapter 28



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8



Chapter 28

She's Gone

Yonghwa POV

'Dear : The brightest person i ever knew.. Jung Yonghwa

Saat aku termenung sendiri didalam kamarmu selama kau di Busan, banyak hal yang terlintas dalam fikiranku. Kamar ini, meski hanya sekejap mata, tapi kenangan termanis dalam masa mudaku pernah terekam disini. Saat aku terjaga disebuah pagi yang dingin, dipenghujung musim gugur dan kudapati tubuhku terkunci dalam dekapanmu.

Geun nal. Andai aku bisa menghentikan waktuku saat itu. Andai aku bisa mengekang rentang waktu terbaik itu....

Lalu kusadari bahwa mimpiku terlalu tinggi. Aku terlalu tamak, berpaling dari kenyataan bahwa kita... masing-masing menghadap arah mata angin yang berbeda.

Saat kau membaca suratku, mungkin aku sudah berada di suatu tempat dimana sebuah benua besar dan samudera teramat luas membentang antara kau dan tempatku berdiri kini. Sesuatu yang semakin mempertegas, bahwa jarak antara kita memang ada dan nyata. Selama ini kita hanya berusaha menyangkal dan bertahan dengan mimpi semu kita.

Mianhae, Oppa...! Karena pergi seperti ini tanpa menunggumu pulang dan mengucapkan terima kasih dengan lebih layak, maafkan aku. Katakanlah aku ini seorang pengecut yang mungkin akan seketika merubah keputusanku begitu aku melihat kedua matamu. Aku tak mampu.

Oppa, ada hal didunia ini yang terjadi diluar kuasa kita sebagai manusia. Meski sekeras apapun kita mencoba, satu hal yang tak akan pernah kita menangkan. Takdir. Ya. Takdir.

Geurigo, geumanhae. Kau tak perlu lagi berlari begitu keras untuk bisa mengejarnya. Kau juga tidak perlu lagi melewati hari-hari yang panjang dan melelahkan hanya untuk satu hal yang kita sebut itu cinta. Love is never be enough, Oppa. Dan orang-orang dewasa seperti kita aku rasa seharusnya menyadari realita itu.

Lepaskanlah, Oppa. Lepaskan aku dan biarkan takdirmu kembali berotasi ditempat yang seharusnya seperti saat sebelum kau mengenalku.

Geurigo ajik... gomawoseo. Neomu gomawoseo. Untuk dua musim terbaik sepanjang hidupku yang kulewati bersamamu, jinjja gomawo. Aku mendoakanmu untuk selalu bahagia, bagaimanapun itu.

Apeujima, seulpohajima. Jebbal... orae orae haengbokhae! Jung Yonghwa.'

Dua tahun yang lalu, kutemukan surat itu diatas tempat tidurku. She wasn't there. Not even her scent. Seperti seorang pesakitan, aku berlari menggila menyusuri setiap sudut dalam rumahku. Kamarnya tampak kosong, buku-buku diatas meja kerjanya tak satupun berderet disana. Lalu kubuka lemari pakaiannya dan kudapati semua pakainyannya pun lenyap. Hanya tersisa satu helai gaun yang dia kenakan minggu lalu di Busan.

Lalu aku semakin gila. Menerobos hujan lebat dimusim salju tanpa payung ataupun jaket menutupi tubuhku. Aku bahkan lupa memakai sepatuku. Hanya dengan slipper tipis bergambar kepala doraemon, aku berlari menelusuri tempat-tempat yang mungkin aku bisa menemukannya disana.

But... She has gone. For good and goodness sake, she said. Tsk... what a fvckin shit! Kenyataannya adalah, dia merampas semua hak-ku untuk bahagia. She took everything and let me be a zoombi once again after i done with those fvcking tears. She turned me to be a man with a heart  beating everyday, but lost it function to feel.

Aku mendengar segalanya dari Taeyeon Noona dan juga Cho Kyuhyun, yang ternyata adalah kakak kandungnya. Aku mendengar semuanya. Termasuk tentang Leukimia yang mereka fikir itulah yang menjadi alasan Joohyun pergi dari hidupku. Untuk menyelamatkanku dari penderitaan lebih besar bila leukimia itu harus merenggut hidupnya pada akhirnya.

Ya, Joohyun-ku... gadis bodoh itu, memeluk luka-luka itu dengan bahu kecilnya seorang diri. Aku mengerti, neraka macam apa yang sedang dia hadapi, dan aku tahu ketakutan macam apa yang harus dia perangi. Aku pernah menjalaninya. Aku tahu semua itu tak akan semudah saat aku mengatakan 'gwaenchanna' padanya.

Demi Tuhan, aku mengerti!

Tapi bukan itu!

Yang menyakitkanku adalah... She didn't trust me! She was doubting me! Sangat menyakitkan untukku, saat kusadari keberadaanku tidak cukup untuk memberinya alasan dan kekuatan untuk tetap tinggal. Cintaku, tidak cukup untuknya. Dan dia memaksaku untuk mengerti realita ini dengan teori 'kedewasaan' yang dia tulis dalam surat terakhirnya. Tsk.. dewasa!! Seo Joohyun sudah dewasa, hingga menurutnya meninggalkanku adalah sebuah kebaikan yang akan membuatku berterima kasih padanya.

Yeah, thanks to her.. for wasting my tears this whole years. Thanks to her... because now i know, how tasty Jack Daniels is. Thanks to her... for give me the chance to fvck so many beautiful and sexy idols here. But damn... i cried like an insane after i fvcked them all because i miss her so much! I miss her so much, for God's sake!

Sore ini, aku dan CNBLUE tiba di Manhattan untuk menggelar konser kami lusa malam. 30 bulan tanpanya, aku dan CNBLUE berhasil melahirkan 3 album dengan hampir 90% lagu ciptaanku. We're superstar now. Setiap album, kubuat seperti sebuah kisah yang menyampaikan pesan. Berharap ditempatnya kini geun phabo yeoja, bisa mendengar teriakanku. Tentang betapa mengerikannya hidupku selepas kepergiannya. Tentang rinduku, yang kupenjara sekuat hatiku.

New York, kota ini, tempat dimana gadis itu bersembunyi.

Mwo? Tentu saja aku tahu. Putra pemilik Venus Hotel, sekaligus vocalis sebuah band yang cukup terkenal tidak hanya di Asia tapi juga di Eropa dan Amerika, tentu saja tidak sulit untuk menemukan kemana gadis itu pergi. Berkali-kali Kyuhyun Hyung menyuruhku untuk pergi menemui adiknya dengan bermacam alasan yang dia buat, tapi aku menolaknya. Begitupun Yoona. Dia bahkan bertemu dengan Joohyun di kota ini saat dia menghadiri sebuah fashion show musim panas lalu. Yoona memberiku alamat lengkap dimana Joohyun tinggal, meneruskan sekolahnya dan manjadi tenaga sukarelawan bagi anak-anak penderita kanker di Manhattan, lalu memintaku untuk menemuinya. Tapi lagi-lagi kutolak.

If she really want to see me, then she'll come back here and find me. But the fact that she left me behind, it just showed me that she didn't want to be found. Ya, seperti pintanya terakhir kali dalam suratnya, maka aku hanya harus melepaskannya dan membiarkannya hilang.

Entah sampai kapan.....

For now, i only give her space to breathe, as i keep my distance so she could find those missing pieces that she need. Setidaknya saat ini gadis itu sudah sembuh total. Aku bisa mengekang rasa rinduku selagi aku tahu bahwa Joohyun-ku sehat, dan hidup dengan baik meski dia berada dibelahan bumi yang luput dari jangkauan mataku. Ya, setidaknya dia hidup.

Hudson river, with that pink sunset. Aku berdiri menghadap aliran sungai membentang dengan riak yang begitu tenang. Sunset. Lagi-lagi mengingatkanku padanya. Meski aku membencinya setelah kepergian itu, tapi aku tak mampu menyangkal bahwa aku sangat merindukannya. Not even a single day went through without missing her. Tanpa kusadari, aku kerap memanggil namanya dalam hatiku, dan berbicara sendiri seolah Joohyun ada dan mendengarnya.

'Apa kabarmu, Seo Joohyun? Hyun... ?'

Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu menetes dikepalaku. Ough... hujan datang tepat waktu. Saat mentari mulai tenggelam, usai aku puas menatapnya, kubiarkan gerimis ini membasahi kepalaku. Berharap kenangan-kenangan itu akan hilang dan terbasuh oleh derasnya hujan.

Impossible!

Hujan hanya akan membuat kenangannya semakin pekat.

Kuseret kedua kakiku berjalan menelusuri pedestrian sepanjang Hudson River yang kini mulai lengang. Mungkin karena hujan, orang dengan fikiran yang sehat pasti akan memilih berteduh saat mereka tidak membawa payungnya. Tidak sepertiku. Membiarkan tubuhku basah kuyup, sambil menikmati tetes demi tetes air hujan ditelapak tanganku.

Who cares, anyway?

'Seo Joohyun, do you see this rain? Can you feel it? Huh? We're under the same sky now. Breathe the same air. Can you feel it?'

Damn... i feel like i'm about to cry again.... huuufhht....

Langkahku terhenti didepan seorang pengamen jalanan yang sedang memetik gitar akustiknya dibawah rintik hujan. She's a girl with her blonde long hair and those beautiful blue eyes. Dari caranya memetik senar-senar gitar itu, aku bisa menilai bahwa gadis ini cukup mahir dengan gitarnya.

Aku berdiri beberapa meter dihadapannya untuk melihat dan menikmati musiknya. Hanya aku satu-satunya audience yang dia miliki karena seperti yang kukatakan, orang dengan fikiran yang sehat tidak akan melakukan apa yang aku dan gadis ini lakukan dibawah hujan.

She look at me and smile. Lalu beberapa saat kemudian, dia mulai bernyanyi.

When will I see you again?
You left with no goodbye
Not a single word was said..
No final kiss to seal any seams
I had no idea of the state we were in

I know I have a fickle heart and bitterness
And a wandering eye
And a heaviness in my head

But don't you remember?
Don't you remember?
The reason you loved me before
Baby, please remember me once more

'Setelah kepergianmu, waktu menjadi sesuatu yang sulit untuk kuhadapi. Sangat menakutkan. Detik berjalan terasa lambat, sambil kuhitung berapa lama lagi luka ini akan lenyap seiring senja berganti pagi. Wajahmu tak pernah hilang dalam benak. Tak pernah sedetikpun. Dan kenangan ini, meski kerap menyakitiku, namun hanya ini hal berharga yang kau tinggalkan...'

When was the last time you thought of me?
Or have you completely erased me from your memory?
I often think about where I went wrong
The more I do, the less I know

But I know I have a fickle heart and bitterness
And a wandering eye
And a heaviness in my head

But don't you remember?
Don't you remember?
The reason you loved me before
Baby, please remember me once more

'Mengapa? Ketika kau bisa memilih untuk tetap disisiku, kau justru memilih untuk menempuh jalan penuh duka itu? Berapa banyak air matamu yang terjatuh tanpa aku tahu dan membantumu mengusapnya? Seberapa dingin dan sepinya malam-malam dingin yang kau berjuang melawannya dengan rasa sakit itu? Sendiri. Tanpaku. Didn't you ever think about me, even once? Huh? Don't you miss me, Seo Joohyun?'

Gave you the space so you could breathe
I kept my distance so you would be free
And hope that you find the missing piece
To bring you back to me

Why don't you remember?
Don't you remember?
The reason you loved me before,
Baby, please remember me once more,
When will I see you again?


'Kau, pelukis senyumku, juga seseorang yang menjadi alasan air mata ini tertumpah. Tercurah. Terkuras.

Kau, darimu aku mengenal bahagia, juga tempat darimana luka ini berasal.

Kau, irama cinta yang gagal aku mainkan. Betapapun jutaan nada ada dalam genggamanku.

Sebanyak luka yang kini kurasa, aku tahu... bahwa kau pun tidak bahagia.

Saat ini, dibawah derasnya hujan... Sambil mengingat wajahmu. Aku merindukanmu, Seo Joohyun. Sangat!'

Gadis itu menatapku iba. Damn! I swear to God that i've already stop crying like this since last year. But now... I totally looked like an idiot who is crying like a boy under the rain, dinegara yang asing, dan dihadapan orang yang sama sekali tak kukenal. I can't help it. I miss her to the point that i think i would die here.

*****

Aku merebahkan tubuh lelahku diatas sofa kamar hotelku. Bajuku benar-benar basah kuyup hingga aku sempat tertahan oleh petugas security karena penampilanku yang berantakan ini. Syukurlah, Jonghyun dan Yoona menemukanku disana dan mengantarku kekamarku.

"Bak mandimu sudah kuisi air hangat. Cepat, bersihkan tubuhmu dan ganti bajumu! Kau memang gila, Yonghwa ah! Kau tahu bahwa lusa kalian akan melakukan konser, bukan? Bagaimana bisa kau membiarkan tubuhmu basah kuyup seperti itu?" Yoona mulai lagi dengan omelannya. Meski begitu, sahabat terbaikku itu tetap saja menyiapkan pakaian gantiku, lalu segera menyiapkan secangkir kopi ginseng untukku.

"Palli, phabo ah! Kau ingin aku menyeretmu, huh? Jangan kau fikir aku tidak berani menelanjangimu dan memaksamu mandi, ya!!" Gadis itu kembali sengit dan menyorotkan mata tajamnya ke arahku. Beruntung, Jonghyun ada disana dan menghentikan gadis sangar itu dengan menarik tangannya sambil berisyarat dengan matanya.

"Geumanhae. Berhentilah mencereweti dia seperti itu." That's my Jonghyun!

"Itu karena kau dan dua maknae kalian selalu membiarkannya melakukan hal semaunya sendiri. Lihat... orang akan berfikir dia ini orang gila, Jonghyun ah! Bahkan dia tidak diijinkan masuk oleh security dibawah tadi!"

"Ara! Tapi kita tidak perlu memperlakukan dia seperti anak kecil, Yoona ah. Geumanhae! Yang terpenting saat ini dia sudah disini, bukan?"

"Mwo? Siapa yang memang seperti anak kecil?" Lalu Yoona kembali menatapku. "Aku tahu, Yonghwa ah... kau terluka dengan apa yang terjadi. Tapi kau ini laki-laki! Aku sudah memberimu alamat dimana kau bisa menemukannya, bukan? Kau hanya tinggal menemuinya, bukan malah berbuat bodoh seperti ini!"

"Im Yoona, Geumanhae!!!" Omo.. baru kali ini aku mendengar Jonghyun membentak Yoona-nya seperti itu.

"Mwo? Kau membentakku?!"

"Ani ah... bukan begitu! Haisshh!! Yoona ah... apa semua perempuan memang punya jalan berfikir sepertimu, huh? Kalian berfikir seolah semua itu mudah untuk kami.. lelaki.. untuk melakukan apa yang kalian fikirkan. Just so you know, Honey... she left him! Dia meninggalkan Yonghwa dan itu artinya... dia tidak ingin lagi bersamanya. Dan kau semudah itu memaksa Yonghwa untuk menemuinya? Come on.. girl! Let him keep his pride! At least, hanya itu yang tersisa darinya setelah Joohyun mengambil semuanya."

Igae mwo ya? Kenapa mereka jadi bertengkar karena aku? Aku nyaris bangkit dari posisiku untuk menghentikan mereka tapi..

"Karena kalian.. para lelaki.. terlalu menjaga ego kalian, seolah itu adalah satu-satunya hal berharga dalam hidup kalian. Tidakkah kau fikir bahwa Joohyun pergi dengan luka yang tidak kita fahami? I knew, she left him, but i do understand... she need someone to find her, somehow. Salah satu dari mereka setidaknya harus menghentikan penderitaan mereka. Bukan menyerah begitu saja sambil menikmati luka-luka itu."

"Nah... ini!! Fikiranmu ini! Kalian perempuan, selalu berfikir bahwa hanya kalian yang punya perasaan. Cuma kalian yang bisa terluka. Asal kau tahu, Honey... lelaki juga bisa patah hati. Seharusnya Joohyun lebih tahu, neraka macam apa yang akan dia ciptakan bila dia pergi dari hidup Yonghwa. But she chose to leave, right? Jadi bila kau bertemu lagi dengannya, katakan padanya... dia berhasil menghancurkan hidup sahabatku! Dan aku tidak akan memaafkannya!"

"Mwo?!!"

"Geumanhae!!!!" Akhirnya... aku tidak tahan lagi. Telingaku benar-benar sakit mendengar teriakan mereka. Dan juga kepalaku. Ough....

"Go.. go!! Hush!!" Aku mendorong dua orang itu dengan sisa tenagaku kearah pintu.

"Yak... apa yang kau lakukan?" Yoona menatapku kebingungan.

"Mwo? Kau benar-benar ingin aku menelanjangi tubuhku dihadapanmu, huh?" Aku membalas tatapan tajamnya. Gadis itupun meringis.

"Huh? Mwo?" Yoona kehilangan kata-katanya.

"Geunyang palli kha!!! Kalian membuat kepalaku sakit, tahu!! Go away!" Aku sekali lagi mendorong punggung mereka, hingga mereka berhasil terlempar ke luar dari kamarku.

Hhh.. pasangan yang aneh. Mereka tidak pernah gagal membuatku tersenyum karena tingkah aneh mereka. Aku benar-benar iri. 80% waktu yang mereka habiskan bersama biasanya akan terisi dengan keributan seperti tadi. Tapi tak pernah sekalipun keduanya berpisah.

Ya, aku iri!

Usai mandi dan mengganti pakaianku, aku menjatuhkan tubuhku diatas tempat tidur. Detik-detik mengerikan itu perlahan kembali setiap kali aku sendiri tanpa ditemani siapapun. Lagi-lagi bayang wajahnya yang kini seolah tergambar di langit-langit kamarku yang kini kutatap.

Ah... bukunya....

Buku yang kubeli di Seoul musim panas tahun lalu. Novel perdananya.

Seo Joohyun kini menjadi seorang penulis terkenal di Korea. Meski tubuhnya berada di Amerika, tapi tulisan-tulisannya bisa dinikmati pecinta novel di negara kami. Tentu saja, semua itu berkat 'seseorang' di Gangnam Soul yang tidak lain adalah kakak kandungnya. Bahkan kudengar, akhir tahun ini Violet Sun Set akan dijadikan sebuah drama yang di produksi oleh SBS. Wow... it would be so great, if i can be James Golden di drama itu, mengingat kisah dalam novelnya terasa tak asing untukku. Atau mungkin nama James bisa diganti dengan Jung Yonghwa yang jauh lebih cocok dan lebih realistis untuk sebuah drama Korea. Aku yakin, tidak akan ada yang lebih hebat dariku dalam memerankan tokoh James Golden. Akan aku tunjukan pada dunia, cinta dari sekotak coklat itu aku balas dengan seluruh hidupku. Tapi Violet menolaknya, dan melemparnya ketempat sampah!

Tanganku meraih Violet Sun Set yang covernya mulai rusak karena kerap kubawa dan kubaca dimanapun aku berada. Aku kembali membuka halaman kedua buku itu. Prolog. Bagian yang paling aku benci, tapi kubaca ratusan kali.

'Untukmu, yang berdiri dibalik kabut
Tenggelam dalam gelap sambil memeluk rindu
Dikamar sepi, dimana tapak-tapak kenangan itu terserak
Kau fikir, aku akan kembali menemukanmu disana
Ditempat cahaya pagi menampakkan diri
Ditempat cinta dan segala rasa itu pernah merajai

Terkutuklah aku!
Terkutuklah aku untuk luka yang kini merenggut sinar itu dari kedua matamu

Cinta abadiku...
Andai kau tahu...
Rindu ini sudah cukup menghukumku
Aku rindu.....'

Huuffhttt..... dadaku selalu terasa berat setiap kali aku usai membacanya.

"Hhhh... apa yang sebenarnya kau inginkan, Seo Joohyun? Wae? Kenapa kau lakukan ini padaku? Pada kita?"

*****

Seohyun POV

Besok! Hari yang kuhitung setiap detiknya, akhirnya tiba. Sejak sebulan yang lalu, setiap hari kulewati sambil menyilang tanggal demi tanggal di kalender mejaku dengan spidol merah. Menghitung mundur waktu kedatangannya. Cinta abadiku... yang kuhempas setahun yang lalu. He's coming!

Kutatap lagi selembar tiket diatas meja kerjaku. Lekat, aku masih tak percaya bahwa aku akhirnya membelinya juga. Bertarung dengan remaja-remaja perempuan yang menamai diri mereka BOICE dalam antrian yang sangat panjang hanya untuk mendapatkan tiket ini. Bodohnya aku! Aku tahu, aku bisa mendapatkan tiket konsernya dengan mudah melalui pembelian online, tapi aku lebih memilih untuk berdiri dalam desakan-desakan itu. Wae? Karena aku ingin berdiri ditempat yang aku bisa melihatnya, tapi dia tak akan bisa melihatku.

Pengecut!!

Begitulah aku. Dua setengah tahun ini, kukenakan topeng dengan wajah tegar dan ceria. Bersembunyi dari kejaran sepi dan serangan rindu-rindu yang mungkin akan membunuhku. Leukimia itu berhasil kukalahkan. Beruntung, Eomma menghadiahkan seorang Oppa untukku usai kepergiannya. Meski terkadang, Hyo Eonni bilang, aku masih sesekali bersikap dingin yang membuat Oppa-ku tersiksa dengan rasa bersalahnya.

Demi Tuhan, aku tak pernah bermaksud seperti itu. Aku hanya butuh waktu untuk menata kembali puzzle-puzzle hidupku yang masih berserakan. Untuk segala yang tiba-tiba itu, aku butuh waktu untuk menyiapkan ruang baginya dalam hidupku. Tapi aku mulai menyayanginya. Bahkan sejak awal, aku sangat menyukai dan menghormati Oppa-ku. He's trully a gentleman. Baik aku ataupun Kyuhyun Oppa, kami berdua hanya dua orang yang terlahir dengan jalan hidup istimewa. Kita tidak bisa menghakimi masa lalu untuk apa yang kita miliki saat ini. Dibalik semua itu, aku masih mensyukurinya. Memiliki Appa berhati malaikat, dan juga seorang Oppa yang luar biasa. Apalagi yang harus kupinta? Aku tidak boleh serakah dengan mengharapkan Yonghwa untuk membuka kembali peluknya untukku.

Aku harus tahu diri!

Lelaki itu, sepertinya kini memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Lebih bebas. Lebih bahagia. Kudengar dari Taeyeon Eonni, bahwa dia menolak tawaran Appa-nya untuk mengelola Hotel keluarga mereka, dan lebih memilih untuk berpetualang bersama CNBLUE. Ddaengida. Tanpaku, ternyata tidak seburuk itu. He's alive. Breathe, healthy, wealthy, and success. Dia memiliki semua alasan untuk menjadi pria yang bahagia.

Tanpaku!

Hujan. Aku sangat menyukai jalanan St. Nicholas Ave yang basah dan berkilau ketika hujan turun. Pantulan lampu jalan terlihat sangat cantik disetiap sudut pedestrian. Dari balik jendela kamarku, aku menikmati pemandangan itu. Lalu bayang wajahnya hadir.

"Oppa.., seharusnya saat ini kau sudah berada di kota ini. Apa kabarmu? Bagaimana menurutmu musim panas di New York? Apa udaranya lebih panas dari Seoul?

Oppa.. apa kau sudah berada di Hotelmu saat ini? Apa kau juga sedang melihat hujan ini?"

Tanpa kusadari, deretan kalimat itu begitu saja mengalun dari mulutku sambil kunikmati rintik-rintik hujan menyentuh tanganku yang ku ulurkan keluar jendela.

"Neomu... bogoshipposeo, Mr. Gold..."

Huuffhhh.... kenapa aku seperti ini lagi? Andwe!! Aku tidak boleh mengacaukan segalanya lagi. Semua sudah kembali pada tempatnya semula.

Aku kembali ketempat dudukku dibalik meja kerjaku. Kubiarkan kaca jendela kamarku terbuka, agar aku masih bisa mencium aroma tanah dan mendengar gemericik tiap tetesnya. Lalu aku teringat pada 3 buah Hard Cover Album yang Jungshin kirimkan untukku. Mungkin anak itu mendapatkan alamatku dari Kyuhyun Oppa. Dan aku juga yakin, Yonghwa juga tahu tempat dimana aku berada kini.

Tapi tak sekalipun dia pernah menghubungiku, apalagi datang mencariku.

Ya, gadis pengecut ini masih saja begitu rakus. Bukankah semua itu memang permintaanku, agar dia melepasku dan merelakan kisah kita usai begitu saja? Lalu untuk apa aku berharap bahwa suatu pagi dia akan muncul dan berdiri didepan pintuku? Aku memang tidak tahu diri!

Aku mengambil salah satu album mereka. Album perdananya. Satu-satunya album yang sudah pernah aku buka kemasannya, dan kulihat isinya. Perlahan, jemariku menelusuri gambar wajahnya dalam Album yang berbentuk Photo Book itu. Dari semua foto yang tercetak disana, tak satupun kudapati kedua matanya menatap kamera. Dia seperti sengaja menghindarinya. Beberapa adalah foto-foto candid, dimana Yonghwa-ku tampak sedang menundukan wajahnya, atau bahkan hanya menampakkan punggungnya saja. Bahkan meski hanya melihat punggungnya saja, aku bisa melihat seberapa berat beban itu dan seberapa lelahnya dia.

Cinta abadiku.....

Dan untuk pertama kalinya, akhirnya kucoba menguatkan hatiku untuk memutar CD itu dan mendengarkan suaranya. Ya. Tak pernah sekalipun aku mendengar lagu-lagunya. Aku sengaja menghindarinya. Aku takut. Sangat takut. Membaca lirik-lirik yang dia tulis saja sudah membuat jantungku terasa seakan berhenti berdetak. Apalagi jika aku harus mendengar suaranya?

Tapi kali ini, aku akan membiarkan hati dan fikiranku terhukum oleh kerindunku sendiri. 30 bulan, bukankah aku ini terlalu payah hingga harus bersembunyi selama itu? Bahkan dari perasaanku sendiri! Setidaknya hanya sekali. Toh lusa aku akan melihat konsernya. Melihat wajah malaikat itu lagi..

Clik... CD nya mulai berputar dalam player-ku.

Don’t come back
Now everything I say is for you
Don’t come back
This is for you who I can’t let go

My smile that’s engraved in your eyes and
The scent that’s drenched in your arms
Erase them all!

Love is.. originally cruel
Love is.. originally piercing
Love is.. originally like fire
But knowing all that we still love

Don’t come back
Trying to push you away, it’s for me
Don’t come back
A cowardly man, it’s for me

My warmth that’s left in your hands
My traces that are buried in your heart
Erase them all!

Love is.. originally cruel
Love is.. originally piercing
Love is.. originally like fire
But knowing all that we still love

Breakups are all.. originally painful
Breakups are all.. originally aching
Breakups are all.. like that
They grow into memories that will be remembered

Dan entah sejak kapan, kusadari bahwa aku mulai tersedu lagi. Terisak lagi.

Suara itu. Suaranya... Yonghwa-ku. Jung Yonghwa. Mendengar bait demi bait, dengan suara sendunya...

Tuhan... apa yang sudah aku lakukan padanya? Aku bisa merasakannya. Yonghwa-ku sedang melagukan lukanya. Love Is... apakah ini yang dia maksud?

'Kau... yang entah berada dibelahan bumi yang mana kini. Dengarlah.. dan rasakan. Semoga nada-nada sederhana ini cukup kuat untuk bisa mengetuk hatimu lagi. Jebbal ddorawa...'

Kalimat itu tertulis dalam cover album perdananya. Untukku kah?

Tuhan.. bodohnya aku!

Menggila, aku membuka kemasan 2 album lainnya yang masih dalam bentuk utuh karena belum aku apa-apakan sama sekali. Seperti kukatakan tadi. Aku terlalu pengecut dan takut bila saat aku membukanya, melihat foto-fotonya, mendengar lagu-lagunya, maka pertahanan diriku akan runtuh seketika.

Benar saja! Damn!! Kenapa aku baru membukanya sekarang?

Dalam lembar lirik 'Without You' kutemukan lagi sebuah pesan. Sebuah foto taman belakang dengan bangku kosong disana. Aku tahu tempat itu. Villa keluarganya, tempat dimana kami melihat salju pertama turun.

'Kau ingat? Tanpamu, waktuku benar-benar terhenti. Tanpamu, Sunset. Tanpamu...'

Dan aku kembali menggila. Aku membuka kemasan album yang terakhir. Lagi-lagi aku menemukannya.

'Bagaimana Sunset ditempatmu, Violet? Tidakkah kau ingin pulang?' Don't you missing me, Love?'

Violet? Igae mwo ya? Apa yang dia lakukan? Ani! Bukankah dari artikel-artikel yang beredar selama ini dia selalu dikelilingi oleh gadis-gadis cantik, sexy dan popular? Wae geurae? Masihkah terasa sakit? Luka-luka yang kusebabkan, belum sembuhkah?

Jung Yonghwa... Nan ijae ottokhae? Aku harus bagaimana sekarang?





Author Note :

As always.. really sorry for the very late update. Banyak hal yang terjadi yang sedikitnya membuat sudut pandang saya dalam menulis juga berubah. But over all... i chose to keep walking on the path that i used to through since the very first place. So, thank you very much for all support you've gave and keep reading my very lame story and cheer me up. Detik-detik menuju chapter final niih,,,

In Time With You Chapter 27



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8





Chapter 27

Truth

Seohyun POV

Pendengaranku terasa berdengung seolah aku terbaring disamping mesin pompa air. Aku merasa seluruh tubuhku lemas dan tak mampu aku gerakan. Dunia terasa berputar meski mataku masih terpejam karena aku tak memiliki cukup tenaga untuk membukanya.

................

Perlahan, suara dengung tadi memudar, lalu sedikit demi sedikit menghilang. Aku mulai bisa mendengar semua suara disekitarku dengan jernih. Meski aku masih cukup kesulitan untuk memfokuskan pendengaranku karena efek putaran dikepalaku yang masih terasa mengganggu. Aku juga mulai merasa kedinginan disekujur tubuhku. Tapi lagi-lagi... aku tak mampu melakukan apapun.

Tuhan... apa aku sudah mati?

Maldo andwe! Suara-suara itu, langkah-langkah kaki, suara mesin monitor cardio, dan obrolan beberapa orang bisa kudengar. Semua itu menyadarkanku bahwa aku masih berada didunia ini.

Tapi mengapa tubuhku terasa begitu tak berdaya?

Ah... transplantasi...

Aku mengingatnya. Setidaknya, otakku tidak kehilangan fungsinya, meski tubuhku masih tak bisa kugerakan.

*****

"Aku harap, radiasi ini cukup efektif dalam membunuh sel-sel kanker yang mulai bertransformasi dalam darahnya. Setelah ini, kita harus bisa membujuknya untuk melakukan beberapa kali kemotherapy agar dia bisa sepenuhnya sembuh."

Aku mendengar suara dokter Shim. Ya, aku yakin, itu suaranya.

"I hope so, Oppa. Meski tetap saja, kita tidak selalu bisa memprediksi seberapa cepat penyakit ini berkembang. Siapa yang menyangka bahwa aplastik itu bisa bertransformasi secepat ini? Bila aku tahu semua akan begini, aku pasti tidak akan mengijinkannya keluar rumah sakit ini dan pergi ke Busan. Aku harap, kita belum terlambat melakukan tindakan ini."

Dan kali ini Taeyeon Eonni. Aku tahu itu adalah suaranya. Apa maksudnya? Siapa yang sedang mereka perbincangkan?

"Geok cheongma, Taeyeon ah! Beruntung, kita menemukannya sedini ini. Kita harus optimis, anak ini akan sembuh sepenuhnya. Bila kita bandingkan dengan kasus yang terjadi pada Eomma-nya, kasusnya cukup unik. Dan karena kita segera mengetahuinya, aku harap beberapa kali kemotherapy akan cukup untuk membunuh semua sel kanker dalam darahnya. Semoga transplantasi yang diberikan Kyuhyun bisa diterima oleh tubuhnya dengan sempurna, sehingga tubuhnya bisa kembali memproduksi sel darah merah dengan normal. Dengan begitu, dia baru bisa menjalani rangkaian kemo dan radiasi."

Kyuhyun? Cho Kyuhyun, maksudnya? Transplantasi pemberian Kyuhyun? Dan.. apa yang mereka bilang tadi? Kanker? Kemotherapy? Siapa yang mereka maksud?

Igae mwo ah? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku harus merasa ketakutan seperti ini?

"Semoga saja, Oppa. Aku belum pernah merasa se-stress ini dalam menangani seorang pasien. Karena dia adalah perempuan yang berharga untuk sepupuku, dan aku tahu sepupuku itu tak akan menginginkan hidupnya lagi bila sesuatu yang buruk terjadi pada kekasihnya, semua itu membuatku takut."

Aku!
Tidak salah lagi! Mereka sedang berbicara tentang aku!
Ya! Aku....

Leukimia?

Hhh...

Leukimia. Sesuatu yang seharusnya tidak lagi asing dan membuatku terkejut. Tentu saja aku tahu, resiko penurunan genetik dari  Eomma-ku, mungkin saja akan menurun padaku. Harusnya aku siap dengan semua itu.

Tapi...
Ottokhae? Rasa takut ini serasa bisa membunuhku lebih cepat.

"Jung Yonghwa, maksudmu?"

"Ya. Kau sudah membaca beritanya bukan... bahwa hari ini keluarga Jung akan ditentukan nasibnya? Hhh... anak itu sudah cukup terluka dan hampir mati karena kehilangan Hyung-nya. Dan kini dia sedang berjuang untuk menyelamatkan masa depan perusahaan Appa-nya. Bayangkan, bila dia tahu bahwa gadis yang sangat dia cintai saat ini didiagnosa dengan Leukimia stadium awal. Uri Yonghwa benar-benar bisa mati jika kali ini dia juga harus kehilangan Joohyun."

Benarkan? Dia menyebut namaku kali ini. Tsk... semua ini benar-benar luar biasa. Bila saja tubuhku cukup kuat, aku pasti akan bertepuk tangan dengan keras. Sangat menakjubkan kala kusadari bahwa Seo Joohyun dan sesuatu yang orang menyebutnya 'kebahagiaan' adalah dua ciptaan Tuhan yang tidak pernah ditakdirkan untuk bisa hidup bersama.

"Tapi tadi siang sebelum operasi, aku sempat membaca beritanya, bahwa Tn. Jung tetap menjabat sebagai Presiden Direktur Venus Hotel. Apa kau belum mengetahuinya?"

"Jeongmalyo? Aku belum mendengarnya, Oppa. Seharian ini aku sangat stress karena Joohyun dan Kyuhyun. Hhh.. daengida.. bila memang samchoon-ku berhasil melewati peperangan melelahkan itu. Tapi... wae kkamjagi ah? Apa yang sudah membuatnya selamat?

Maldo andwe! Anak bodoh itu.. apakah dia menyetujui pernikahan bodoh itu? Jung Yonghwa... aigoo! Tapi itu tidak mungkin! Sesuatu pasti sudah terjadi!"

Yonghwa Oppa? Benarkah?

Belum sempat kudengar kelanjutan percakapan mereka, tiba-tiba kurasakan tempat tidurku bergerak. Entah mereka akan membawaku kemana. Yang pasti, aku masih dalam keadaan tidak berdaya dan tidak bisa bertanya ataupun menolak.

Mereka menghentikanku disatu tempat yang aku masih tidak tahu berada dimana. Satuhal yang aku tahu. Aku masih didalam rumah sakit ini, karena aroma obat-obatan masih terasa sangat menusuk hidungku. Demi Tuhan, aku ingin segera bangun dan membuka mataku. Banyak hal yang harus aku tanyakan pada Taeyeon Eonni dan juga dr. Shim. Tapi belum juga aku mampu menggerakan tubuhku, lagi-lagi aku mendengar sesuatu.

"Kyuhyun ah, kau sudah bangun?"

Suara itu. Appa? Andwe! Maldo andwe! Tidak mungkin dia!

"Joohyunie.. otthaeyo, Ahjussi?"

Kyuhyun Oppa? Appa dan Kyuhyun Oppa? Apa yang terjadi? Mengapa mereka bersama ditempat ini?

"Semuanya berjalan lancar. Adikmu masih belum bangun usai radiasi yang dia terima. Tapi dokter bilang, semua akan baik-baik saja. Semoga tubuhnya cukup kuat untuk bisa menerima donor darimu sehingga dia bisa menerima segala prosedur pengobatan."

Mwo rago?!! Adik? Tuhan... aku pasti salah mendengarnya. Ani! Mungkin obat-obatan ini membuatku berhalusinasi.

Aku terus mencoba untuk sadar dan membuka mataku, meski semua itu benar-benar membuatku frustasi karena aku masih saja tak mampu melakukan hal sekecil ini.

Lalu aku mendengarnya lagi. Kata demi kata dari suara-suara yang sangat aku kenal. Semakin sempurna kesadaranku, suara itu terdengar semakin jelas.

Aku tidak sedang berhalusinasi!

Aku terus mendengarnya, tanpa satupun kata yang luput dari telingaku. Semua! Suara-suara yang terasa seperti menarikku kedalam lorong waktu yang gelap dan menakutkan. Menyakitkan. Wajah-wajah itu... Eomma... Appa... dan... Cho Kyuhyun.

Mwo? Kakak-ku?

Maldo andwe!! Tidak mungkin! Mereka pasti salah. Apa yang mereka katakan tentang Eomma-ku pasti sebuah kesalahan. Eomma tidak mungkin melakukan semua itu. Tidak mungkin!!! Mana mungkin didunia ini ada kenyataan seperti ini?

Tsk.. Semua ini terlalu menggelikan, Tuhan! Kehidupan ini, dan segala yang terjadi dalam perjalananku benar-benar menggelikan!

Air mataku mulai terasa mencair dari sudut mataku hingga terasa nyaris menggenang ditelingaku. Sekuat tenaga kucoba untuk membuka kedua mataku, tapi aku gagal. Aku benar-benar ingin berlari kearah suara-suara itu dan menanyakan sendiri tentang semua kebenaran itu.

"Ahjussi, Joohyun berhak tahu kebenaran ini. Selama ini dia terus menyalahkanmu karena dia fikir kau telah melarikan diri dari mereka. Dia fikir, kaulah yang telah menelantarkan mereka begitu saja."

"Aku tidak sanggup mengatakannya, Kyuhyun ah. Aku tidak sanggup melihat bagaimana wajah anak itu saat dia tahu semua kebenaran ini. Ani ah! Uri Joohyun sudah cukup menderita. Dia sangat mencintai Eomma-nya dan aku tidak ingin kenyataan ini menghancurkan kenangannya tentang Young ah. Aku rela, gadis kecilku membenciku. Aku memang pantas mendapatkannya. Aku telah gagal menjadi suami yang baik untuk Young ah, dan juga Appa yang baik baginya."

Appa.... waeyo? Wae geuraeyo.. Appa? Aku harus bagaimana sekarang? Aku harus bagaimana saat aku melihatmu lagi?

"Animida. Joohyun juga masih punya Ahjussi. Ahjussi, kita sama-sama hadapi ini. Aku yakin, Joohyun akan mengerti. Dan dia juga sangat merindukanmu, Ahjussi. Aku bisa melihatnya."

"Najunghae, Kyuhyun ah. Najunghae. Bukan sekarang. Aku ingin putriku benar-benar sembuh sepenuhnya. Karenanya, aku serahkan dia padamu. Untuk semua biaya transplantasi dan perawatan putriku, geok cheongma.. aku sudah menyelesaikannya dengan rumah sakit ini. Neomu gomapta, Kyuhyun ah!"

"Mwoeyo? Ahjussi.. kenapa kau harus melakuakannya? Biaya rumah sakit ini biar aku saja yang mengurusnya. Ya Tuhan.. perusahaanmu bahkan baru mulai bangkit lagi. Kenapa kau tidak menyerahkan segalanya padaku saja?"

"Aku ini Appa-nya, Kyuhyun ah. Apa yang aku lakukan, hanyalah sebagian kecil yang memang seharusnya dilakukan oleh seorang Appa."

Aku tidak sanggup lagi!! Aku tidak sanggup mendengarnya lagi!!! Tuhan...... tolong buka mataku!! Aku tidak ingin mendengar semua itu lagi!!! Kumohon hentikan....!!!!

________________

Dan perlahan... sebuah cahaya yang menyilaukan terasa menusuk mataku. Aku mulai bisa membukanya.

"Omo... Seo Joohyun Ssi.. nona sudah sadar?" Seorang suster menghampiriku, lalu memeriksa kedua bola mataku.

"Shim Euisan-nim, Kim Euisan-nin. Seo Joohyun Ssi sudah sadarkan diri."

Suster itu setengah berteriak disamping telingaku. Kedua mataku langsung mengintari semua arah, mencari suara-suara yang kudengar tadi. Tapi tak kutemukan satupun. Disamping kananku, aku hanya menemukan tirai putih membentang dan disamping kiriku, aku melihat Hyoyeon Eonnie yang sedang menangis tanpa suara sambil menatapku cemas.

"Check vital!" Kurasakan tangan dr. Shim membelalakan mataku satu persatu sambil menyorotkan lampu kecil yang menyilaukan.

"Good! Detak jantung normal. Tekanan darah 92/101. Suhu tubuh 34°. Cepat! Selimuti dia dengan selimut lebih tebal dan berikan penghangat lebih banyak. Anastesinya membuat suhu tubuhnya menurun."

Tepat sekali, dokter! Karena aku mulai merasa sekujur tubuhku menggigil. Aku benar-benar seperti akan mati.

"Seo Joohyun Ssi, kau bisa mendengarku?" Suara dr. Shim membuat mataku yang masih terasa berat kembali terbuka. Aku tak cukup punya tenaga untuk menjawabnya dan hanya mengaggukkan kepalaku perlahan.

"Good! Aku akan menyuntikan anti anastesi untuk mengurangi efek menggigil pada tubuhmu. Jarieso, Seo Joohyun Ssi! Kau melakukannya dengan baik."

Baik? Benarkah? Entahlah.. apakah semua ini benar-benar baik seperti yang dr. Shim katakan? Nyatanya, kini aku merasa duniaku benar-benar berantakan. Leukimia, Jung Yonghwa, dan satu lagi... Tiba-tiba aku memiliki seorang Oppa yang selama ini disembunyikan Eomma dariku, hingga aku membeci Appa-ku sendiri karena kebodohan itu!

Sempurna!

Bilapun leukimia ini pada akhirnya merenggut hidupku seperti apa yang terjadi pada Eomma, tak akan ada hal yang membuatku menyesal. Dunia ini semakin terasa menakutkan untukku!

*****

Author POV

Setelah beberapa saat, Seohyun akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inapnya ditemani Hyoyeon dan Suho yang tidak pernah sedikitpun menjauh darinya sejak dia masuk ruang operasi tadi. Gadis itu masih tertidur lelap, karena efek morfin dalam tubuhnya belum sepenuhnya hilang. Begitupun Kyuhyun. Dia ditemani Tn. Seo dan Taeyeon sudah dipindahkan ke ruang rawat inap terpisah. Berbeda dengan Seohyun, Kyuhyun sudah sepenuhnya sadarkan diri. Meski dibagian panggulnya masih merasakan nyeri yang membuatnya tidak nyaman akibat anastesi saat transplantasi tadi, tapi Kyuhyun sudah bisa diajak berbicara.

Kemudian, dia teringat dengan apa yang terjadi di ruang NICU tadi. Batinnya tak tenang, memikirkan apakah Seohyun mendengar semua percakapan itu atau tidak. Kyuhyun tidak tahu bahwa Seohyun terbaring tepat disampingnya karenanya dia berbicara dengan leluasa. Tn. Seo dan Taeyeon juga berfikir bahwa Seohyun masih dalam pengaruh anastesi hingga dia tidak mungkin mendengar apapun yang mereka katakan.

Namun tetap saja! Batinnya tak tenang.

"Geok cheongma, Oppa. Kemungkinan besar Joohyun tidak mendengarnya. Butuh proses untuk seseorang sadarkan diri usai menerima anastesi. Terkadang fikirannya bercampur dengan halusinasi dan rasa kantuk yang tak tertahankan. Semoga saja Joohyun tidak menyadarinya." Taeyeon seolah mengerti kegelisahan yang Kyuhyun rasakan. Karena sejak dia dipindahkan ke ruang rawat inap, dirinya lebih banyak terdiam murung. Begitupun Tn. Seo.

"Semoga saja, Taeyeon ah. Aku tidak ingin kehilangannya lagi." Kyuhyun menghembuskan nafas dengan berat.

"Nanti saat dia terbangun, aku akan menemuinya, untuk memeriksa keadaannya. Saat ini, dia pasti masih tertidur karena efek anastesinya. Aku akan mengabarimu setelah aku bertemu dengannya nanti. Geok cheongma. Istirahatlah. Agar besok kau bisa menemuinya." Taeyeon mengusap tangan Kyuhyun yang kemudian Kyuhyun mengunci tangan kecil itu dalam genggamannya.

"Hhm. Gomawo, Taeyeon ah! Untuk semua yang sudah kau lakukan untukku dan juga adikku. Neomu gomawoseo!" Tatap lemah itu mengiba.

"Sokay, Oppa..! Kau tidak perlu berterima kasih seperti itu. Apa yang aku lakukan adalah bagian dari kewajibanku sebagai dokter. Bila aku memperlakukan Joohyun berbeda, semua karena Joohyun adalah orang yang sangat penting untuk Yonghwa dan juga untukmu. Lebih dari itu, aku mengaguminya. Aku menyukai kalian berdua dan aku senang bisa melakukan semua ini untuk kalian." Taeyeon menatapnya teduh. Beberapa saat, Kyuhyun terdiam.

"Taeyeon ah... apa adikku bisa sembuh?" Seperti ada benda tajam menusuk dadanya, kala dia harus bertanya tentang hal itu. Lelaki itu teramat ketakutan saat dia membayangkan apa yang terjadi pada Eomma-nya, harus terulang dan terjadi lagi pada adiknya.

"Kita hanya akan melakukan yang terbaik untuk menolongnya, Oppa. Teknologi pengobatan dinegara kita saat ini sudah sama canggihnya dengan Amerika dan Jepang. Beruntung, kita menemukannya saat ini, sehingga peluang untuk sembuh masih sangat tinggi. Jangan putus asa. Terlebih dihadapan Joohyun. She need us, Oppa.. so we have to be tough for her."  Taeyeon meremas jemari Kyuhyun dalam genggamannya lebih kuat. Air mata lelaki itu kembali menggenang.

"I'm so scare, Taeyeon ah! Naega jinjja bushowo.." Suaranya tercekat. Lalu dengan serta merta  Taeyeon mendekatkan tubuhnya, kemudian memeluk Kyuhyun erat. Usapan demi usapan dipunggung lelaki itu, meski Taeyeon tahu semua itu tidak cukup untuk bisa mengikis luka hatinya, paling tidak... Kyuhyun harus tahu, bahwa kini dia tidak sendiri.

*****

Hyoyeon masih duduk disamping tempat tidur sahabatnya yang kala itu masih tertidur lelap. Tangannya, dengan lembut mengusap wajah Joohyun dengan handuk yang sebelumnya sudah dibilas air hangat.

"Siapa yang menyangka bahwa gadis nakal ini akan terbaring lemah seperti ini, Suho ah? Hhh... berapa kali kita berdua mendapat masalah karena kejahilan yang dia lakukan? Uri Joohyun, selama ini selalu menjadi pendengar yang baik untuk kita. Tapi anak ini tidak pernah sekalipun mengeluhkan apa yang dia alami dan dia rasakan pada kita. Aigoo.... harusnya kita bertanya padanya, Suho ah. Joohyunie gwaenchanna? Maanhi appa ah? Geok cheongma, Eonni itjana! Ya.. harusnya dulu aku mengatakan semua itu padanya."

Sekali lagi  Hyo mengusap air matanya. Suho meremas bahu sahabatnya seolah gerakan itu mampu menyalurkan kekuatan untuk Hyo. Meski tanpa Hyo tahu, Suho juga amat terpukul dengan semua ini. Bertahun-tahun menjadi sahabat Joohyun dikampus dan juga di KCC, bukan tidak mungkin semua itu merubah apa yang dia rasakan pada Joohyun. Entah sejak kapan, tapi Joohyun bukan hanya sekedar seorang sahabat untuknya. Cinta itu diam-diam dia kubur sendiri dalam hatinya hanya karena dia takut bila dia akan kehilangan sahabatnya jika saja Seohyun mengetahui perasaannya. Melihatnya bahagia bersama Jung Yonghwa, tanpa Joohyun sadari, Suho adalah orang yang sangat terluka karena semua itu. Tapi baginya, melihat Joohyun hidup dan bahagia bersama lelaki lain itu jauh lebih baik daripada melihatnya terbaring tak berdaya seperti itu. Dan leukimia... itu sangat menakutkan untuknya.

"My Barbie will be okay. Dia tidak akan selemah itu. Ya.. Uri Barbie adalah gadis yang tangguh!" Suaranya nyaris tercekat. Wajahnya memerah seiring air mata yang tergenang dikelopak matanya, namun tak sempat jatuh tertumpah.

"Ara! Aku juga yakin, Joohyun tidak akan menyerah semudah itu. Terlalu banyak orang yang mencintai dia dan akan selalu mendukungnya apapun yang terjadi. Terlebih saat ini dia juga memiliki seorang Appa dan Oppa yang sangat mencintainya. Juga Jung Yonghwa. Aku yakin, demi lelaki itu, Joohyun akan berjuang untuk sembuh."

"Aku harap begitu, Noona. Tapi... dimana dia saat ini? Apa dia benar-benar akan menikahi putri tunggal pemilik Kim Coorporate? Tsk.. membaca beritanya saja sudah membuatku kesal." Raut wajah Suho seketika berubah. Begitupun Hyo.

"Mwo rago? Putri tunggal pemilik Kim Coorporate? Darimana kau mendengarnya?" Hyo langsung meletakan handuk ditangannya, kemudian bangkit dan mengajak Suho untuk menjauh dari pendengaran Seohyun lalu duduk di sofa.

"Internet. Berita itu sedang menjadi headline dibeberapa news online. Bahkan ada foto yang memperlihatkan Jung Yonghwa sedang berada di sebuah rumah sakit, sedang menyuapi putri keluarga Kim yang katanya sedang menjalani perawatan usai operasi usus buntu."

"Mwo?! Maldo andwe! Kau pasti salah, Suho ah! Mungkin berita itu bukan tentang Jung Yonghwa Ssi." Semua itu begitu sulit diterima oleh Hyo.

"Molla, Noona! Coba, kau lihat sendiri! Ini..." Suho memberikan ponsel miliknya pada Hyo untuk memperlihatkan artikel yang tadi dia baca. Dan dalam hitungan detik, Hyo pun membelalakan kedua matanya penuh rasa tidak percaya.

"Oh My God! Maldo andwe! Aku tidak percaya ini! Ottokhae? Ijae ottokhaji? Uri Joohyun ottokhae, Suho ah?" Rasa sedih sekaligus marah tergambar jelas diwajahnya.

"Jangan katakan apapun padanya, Noona. Lagipula, kita masih belum tahu kebenaran berita ini. Sebelum ada pernyataan resmi dari kedua keluarga itu, aku ingin kita menjaga Joohyun dari kabar ini." Hyo menggangguk anggukan kepalanya, sambil terus berulang kali membaca artikel ditangannya.

Tanpa mereka sadari, gadis yang sedang terbaring ditempat tidurnya diam-diam membuka kedua matanya perlahan. Hari itu, sepertinya terlalu banyak orang yang membicarakannya dibelakang punggungnya. Mencoba menjaga rahasia-rahasia menyakitkan itu darinya, namun mereka gagal.

She heard everything!

*****

Esoknya, Seohyun terbangun lebih pagi. Kali ini tubunnya terasa lebih ringan dan kedua matanya tidak lagi terasa berat.

Mimpinya tadi... dia bisa dengan jelas melihat wajah Yonghwa-nya dari dekat. Kedua mata lelaki itu tampak sendu, menatapnya tanpa kata-kata. Seolah banyak hal yang ingin dia sampaikan, tapi tak mampu dia ucapkan.

Tangan lemasnya mencoba meraih ponsel dimeja samping tempat tidurnya. Ditatapnya layar ponselnya dengan wallpaper Mr. Gold dan gigi gingsulnya. Lembut, ibu jarinya mengusap wajah itu. She miss him. Tapi... hhh... tak satupun panggilan atau pesan darinya.

Sesaat, Seohyun termenung. Kenyataan-kenyataan pahit yang dia dengar kemarin, kembali berputar dalam benaknya. Bagaimana bisa semua hal mengerikan itu terjadi dalam satu waktu? Lalu tentang Jung Yonghwa... benarkah apa yang mereka katakan?

Gadis itu tampak ragu melihat layar ponselnya. Perang dalam batinnya membuatnya bingung. Haruskah dia mencari tahu kabarnya? Haruskah dia mencoba menghubunginya? Atau.... tunggu saja, dan biarkan takdir memainkan perannya?

Namun gadis itu menyerah. Akhirnya, setelah mencoba mengalahkan ego dan segala fikiran dalam otaknya, Seohyun men-dial nomor ponsel Yonghwa. At least, she have to try.

Tapi...

'Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau diluar jangkauan. Silahkan tinggalkan pesan..'

Tangan yang dia gunakan untuk menggenggam ponselnya, kini kembali terkulai lemas diatas tempat tidurnya. Frustasi. Seohyun benar-benar merasa hilang dan tersesat.

Sekali lagi dia mencobanya, tapi tetap sama. Akhirnya, Seohyun menguatkan hatinya untuk mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dan dia menemukan sebuah artikel dari sebuah surat kabar online ternama di negara ini yang baru saja mereka terbitkan pagi ini.

'Setelah melalui polemik yang cukup rumit, dan beberapa kasus hukum yang harus dihadapinya, akhirnya Jung Taewon Sajang-Nim pemilik Venus Hotel berhasil menyelamatkan posisinya di perusahaan yang telah dirintis keluarganya sejak 3 generasi lalu.

Banyak kalangan yang sempat menduga bahwa Jung Taewon tidak akan mampu mempertahankan posisinya karena desakan para pemegang saham dan juga kepercayaan masyarakat yang sempat menurun padanya, hingga membuat reputasi Venus Hotel sempat mengalami keterpurukan. Namun kemarin siang, salah satu perwakilan Venus Hotel memberikan pernyataan pers bahwa Tn. Jung Taewon masih akan menjabat sebagai Presiden Direktur Hotel bintang lima itu dan kasus hukum yang sempat menjeratnya masih terus berlajut sambil mengumpulkan bukti-bukti bahwa pengusaha berusia 57 tahun itu hanyalah salah satu korban dari tindak kejahatan money laundring yang dilakukan seseorang untuk menjatuhkan reputasinya. Dan saat ini, polisi masih terus menyelidikinya.

Adapun tentang alasan mengapa para pemegang saham tiba-tiba merubah fikiran mereka, dalam hal ini, representative Venus Hotel enggan menjelaskannya lebih lanjut. Namun kuat dugaan, semua itu terjadi karena dukungan dari calon besannya, yang tidak lain adalah pemilik perusahaan mega konstruksi Kim Coorporate, Kim Sukjin.

Kita semua tahu, bahwa hubungan kedua pengusaha besar ini sudah terjalin cukup lama sejak pertunangan putri tunggalnya dengan mendiang putra sulung Jung Taewon, Jung Yongdo, yang kemudian berlanjut dengan adiknya Jung Yonghwa usai kecelakaan yang merenggut nyawanya.

Kabar yang kami terima dari salah satu karyawan perusahaan itu, dalam waktu dekat, keluarga Jung dan keluarga Kim akan segera mengadakan pesta pernikahan putra putri mereka. Ditemui di rumah sakit Busan, Jung Yonghwa yang saat itu sedang menemani Kim Hyunna yang sedang menjalani perawatan pasca operasi usus buntu yang dijalaninya beberapa hari lalu, tidak banyak mengatakan hal rinci kepada kami. Pria tampan yang memilih karier sebagai musisi ini lebih banyak tersenyum dan meminta doa dari semua pihak untuk keluarganya dan juga hubungan dirinya dan Kim Hyunna.

Bila memang pernikahan mereka akan terjadi tahun ini, dipastikan pernikahan ini akan menjadi salah satu pernikahan terhebat di negara ini. Kita tunggu saja kabar baik dari kedua keluarga ini.'

Detik terasa berhenti berputar. Dunia dan seisinya seketika terasa hampa. Senyap, sepi.. dan menakutkan. Yang terdengar kini hanyalah degub jantungnya yang menggila, serta deru nafas yang terasa berat.

Tak ada lagi air mata. Tak ada! Gadis itu tak lagi menangis. Beberapa saat, fikirannya tenggelam mencerna kenyataan demi kenyataan yang terjadi. She had lost everything. Bahkan hanya dengan leukimia saja sudah cukup menjadi alasan baginya untuk lenyap dari hadapan Yonghwa demi untuk menyelamatkannya dari rasa sakit yang lebih menyiksanya. Dan isu pernikahan itu.. seolah semua itu membuat fikirannya semakin jernih. Ya.. Seo Joohyun dan Jung Yonghwa adalah dua orang yang tidak akan pernah bisa hidup dalam satu dunia. Bagaimanapun cinta itu mereka teriakan hingga tenggorokan mereka terluka dan tak lagi mengeluarkan suara, tetap saja... semua itu tidak akan mampu merubah kenyataan.

Jung Yonghwa... membutuhkan seseorang yang bisa memberinya lebih dari sekedar cinta.

Knock.. knock...

Suara ketukan pintu mengaburkan fikirannya. Seohyun menoleh kearah datangnya suara, lalu mendapati seseorang muncul dari balik pintu dengan sebuah senyum diwajahnya. Senyum yang berbeda dari sebelumnya. Senyum yang menyembunyikan rasa takut dan khawatir yang belum jelas alasannya.

"Hai... how are you, Princess?" Kyuhyun berjalan perlahan mendekati tempat tidur Seohyun.

Tidak seperti biasanya. Kali ini, atmosfer diantara mereka benar-benar berubah. Kyuhyun dengan senyum canggungnya, dan Seohyun dengan tatapan datar yang tak sanggup Kyuhyun terka artinya.

Ya, beberapa saat, kedua kakak adik itu hanya saling menatap satu sama lain.

Kyuhyun mulai gusar dan nyaris panik. Teringat lagi pada apa yang terjadi di ruang NICU dan juga percakapan itu. Tapi...

"Oppa... waseoyo?" Akhirnya... suara lemah adiknya membuat gumpalan resah itu sirna seketika. Lelaki itu menghembuskan nafas lega sambil menarik senyuman lebih lebar.

"Mianhae, Joohyun ah. Aku terlambat menemuimu. Aku juga mengingkari janjiku untuk menemanimu saat proses transplantasi kemarin tapi aku..."

"Duduklah, Oppa." Senyum diwajah Kyuhyun seketika memudar lagi. Ekspresi Seohyun dan intonasi suaranya, membuat rasa takutnya kembali datang.

"Bagaimana keadaanmu sekarang, Joohyun ah? Kau.. tidak merasakan gejala-gejala yang aneh, kan? Seperti mual, gatal-gatal, sakit kepala, atau ruam pada tubuhmu?" Kyuhyun menatapnya khawatir.

"Aniyo. Jaega gwaenchannayo. Mungkin karena orang yang mendonorkan sumsum tulangnya adalah orang dengan genetika yang sangat dekat denganku, karenanya tubuhku langsung bisa menerimanya dengan baik."

Dug! Kyuhyun serasa mendapat tamparan hebat diwajahnya.

"Oh? Geu... geuraeso? Ddaengida. Aku sempat khawatir bila saja tubuhmu mengalami gejala-gejala penolakan. Kita mungkin harus segera mencari donor yang lainnya. Syukurlah.. karena kau baik-baik saja." Lelaki itu kembali merekahkan senyum yang aneh.

"Tentu saja. Tubuhku cukup tahu diri, dan tahu cara untuk berterima kasih. Geuronika, tubuh lemah ini tidak harus selalu merepotkan dan membebani orang lain lagi, bukan?" Sebuah senyum merekah diwajahnya kali ini. Tapi entahlah, Kyuhyun merasa senyum itu sangat sinis  dengan kalimat sarkastik itu.

"Oh? A.. apa maksudmu? Eiii... Seo Joohyun.. kau tidak boleh berfikir seperti itu. Kau tidak pernah membebani siapapun. Aku melihat, kau ini benar-benar tangguh. Gadis dengan tubuh lemah ini tidak akan mudah dikalahkan oleh apapun. And see... kau menerima donornya dengan baik."

"Geuraeyo? Hhh.... tapi aku tidak berfikir begitu." Seohyun menundukan pandangannya dengan sisa senyum pahit di sudut bibirnya. Sejujurnya, Seohyun tidak tahu harus bersikap dan berkata apa pada Kyuhyun yang kini dia ketahui sebagai kakak kandungnya itu. Tidak dapat dia ingkari, meski Kyuhyun juga hanyalah korban dari keadaan ini seperti halnya dirinya, tapi dia tak mampu menutupi kekecewaan itu. Terlebih, Seohyun tidak tahu harus marah pada siapa.

Beberapa saat, keduanya saling menatap dengan perasaan masing-masing. Menggelikan! Karena keduanya mengira bahwa salah satu diantara mereka tidak tahu rahasia satu sama lainnya. Kyuhyun masih mengira bahwa Seohyun tidak mengetahui apapun. Kenyataannya, Kyuhyun lah yang kini tidak tahu bahwa Seohyun mengetahui segala yang mereka tutupi darinya.

"Oppa....."

"Hhmm...."

"Apa kau tahu, dimanakah tempat yang paling jauh dan sulit untuk dijangkau dari Korea?" Gadis itu mulai memalingkan wajahnya kemudian menatap lurus kearah jendela. Teramat banyak hal yang berputar dalam kepalanya, hingga tiba-tiba saja mulutnya mengeluarkan kata-kata yang aneh, yang membuat Kyuhyun tertegun sambil mengerutkan keningnya.

"Huh? Tempat yang jauh dan sulit dijangkau? Apa maksudmu?" Untuk alasan yang belum pasti, Kyuhyun merasa, sesuatu sedang terjadi pada Seohyun. Sikapnya berbeda. Dan kali ini Kyuhyun tidak menemukan sinar mata itu dikedua mata adiknya.

"Aniyo.. aku hanya... hhh.." Seohyun menundukan wajahnya.

"Wae? Sebenarnya apa yang sedang mengganggu fikiranmu? Kau benar-benar berbeda, Joohyun ah. Dan itu membuatku cemas. What's going on? Malhaebwa. Siapa tahu aku bisa membantumu." Kyuhyun tak mampu lagi menutupi perasaan cemasnya.  Tapi kemudian dia mendapati sebuah senyum sinis diwajah adiknya. Ya, setidaknya, Kyuhyun merasa seperti itu.

"Membantuku? Lagi? Hhh... waeyo, Oppa? Kenapa kau selalu membantuku? Aku bahkan hanya seseorang yang baru kau kenal beberapa bulan yang lalu. Apa kau memang seseorang yang terbiasa berbuat baik pada siapapun yang terlihat lemah sepertiku? Atau.. kau hanya melakukan ini padaku saja?" Seohyun kembali menatap Kyuhyun dengan lekat. Lagi-lagi pertanyaan itu membuatnya terpaku.

"Oh? Apa maksudmu?" Kyuhyun mulai merasa terganggu. Lagi-lagi Seohyun tersenyum sinis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aniyo. Geunyang... untuk seseorang yang baru saling kenal, kau ini terlalu baik, Oppa. Apa kau tidak takut bahwa aku bisa saja menyalah fahami kebaikanmu? Bagaimana kalau aku akhirnya jatuh cinta padamu? Apa kau tidak takut hal itu akan terjadi?"

Bug!! Lagi-lagi Kyuhyun merasa seperti terkena hantaman hebat diwajahnya. Dia bahkan tak mampu menghindar dari tatapan tajam yang Seohyun arahkan padanya.

"Joohyun ah.. kau ini kenapa sih? Apa sesuatu mengganggumu? Apa Jung Yonghwa..."

"Tidak ada kaitannya dengannya sama sekali! Dan lagi, aku sedang tidak ingin membicarakan apapun tentangnya saat ini." Seohyun melempar tantrum yang lebih menakutkan kali ini.

"Arasso! Sepertinya aku mengunjungimu diwaktu yang salah, Joohyun ah! Fine, bila memang kali ini kau tidak ingin menceritakannya padaku. Sokay. Aku hanya khawatir. Geurae, istirahatlah! Aku hanya ingin memastikan apa kau baik-baik saja usai transplantasimu. Syukurlah, you look fine. Aku akan datang lagi nanti. Semoga saat itu moodmu sudah kembali normal seperti Joohyun yang kukenal." Kyuhyun nyaris beranjak dari tempatnya duduk. Namun seketika ia terhenti lagi...

"Geurae! Terulah menghindar seperti itu. Berdoa saja, semoga masih ada nanti, seperti yang kau bilang."

Kyuhyun menoleh kearah adiknya yang kini tertunduk diatas tempat tidurnya. Dia tak percaya dengan kata-kata samar yang baru saja dia dengar. Gadis ini benar-benar aneh!

"Mwo rago? Seo Joohyun... neol..." Kyuhyun menghela nafasnya dengan berat. Lelaki itu mengusap wajahnya frustasi.

"Joohyun ah.. moseuniri ah, jeongmal? Huh? Kau benar-benar aneh hari ini. Bila ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku, maka katakanlah. Bila ada yang ingin kau tanyakan, tanyakanlah sehingga aku bisa menjawabnya. Jangan bersikap yang membuatku bingung. Ani! Jangan bersikap yang membuatku takut." Giliran Kyuhyun yang melempar sorot mata tajam itu kearah Seohyun.

"Takut? Untuk apa kau merasa takut? Apa yang sudah aku lakukan padamu hingga aku membuatmu merasa takut?" Seohyun menatapnya lebih sinis. Kakak beradik itu seperti sedang perang tantrum kala itu.

"Seo Joohyun, aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa kau memperlakukanku seperti ini? Apa aku melakukan kesalahan padamu? Atau jangan-jangan kemarin kau...."

"Pergilah, Oppa! Aku lelah! Aku hanya ingin tidur." Seohyun menarik selimutnya, lalu bergegas terbaring membelakangi Kyuhyun yang kala itu masih berdiri dalam kebingungan. Dan itu membuat Kyuhyun semakin putus asa. Hingga akhirnya dia melangkahkan kakinya dan pergi. Seperti seorang pengecut, Kyuhyun memilih untuk menghindar sekali lagi. Bukan sekarang waktunya. Setidaknya, bukan disaat Seohyun masih terbaring lemah usai transplantasi itu.

Seohyun kembali menangis. Menangis dengan segenap tenaganya, namun tanpa suara. Dia hanya ingin lenyap. Ingin hilang dari muka bumi ini begitu saja. Dia benci segalanya. Dunia dan semua yang ada didalamnya!

*****

Dear : Miss Joohyun Seo

Aku sudah membaca novel yang kau tulis untuk tugas akhirmu yang diberikan oleh Professor Nam minggu lalu, saat aku berkunjung ke universitasmu. Violet Sun Set-mu benar-benar mencuri hatiku. Selama dua hari aku membacanya, aku merasa seolah fikiranku tersandera dalam cerita yang kau tulis. Entahlah, tiba-tiba aku merasa menjadi seorang James Golden dalam bukumu. Aku jatuh cinta dengan cara James mencintai Violet, plus.... aku bisa merasakan betapa parahnya patah hati yang James rasakan saat Violet tiba-tiba menghilang disuatu senja. Sungguh... ternyata cinta seharusnya hanya sesederhana sekotak coklat yang Violet buatkan dihari James menyusulnya ke rumah tepi pantai. Ya.. harusnya sesederhana itu.

Aku sangat menantikan novelmu ini diterbitkan dipasaran. Aku akan menjadi pembeli pertamamu, Miss Joohyun Seo.

Over all, aku sudah mengirim surat resmi ke universitasmu, bahwa University of New York ingin memberimu kesempatan untuk lebih banyak mengenal dan mempelajari sastra disini. Aku akan merasa sangat bahagia, bila kita akan sering bertemu dan berdiskusi andai saja kau memutuskan untuk menerima beasiswa ini.

Miss Joohyun Seo, aku menantikan jawabanmu segera.

Regards,
Prof. Cedrik Lynn

Seohyun menerima email itu beberapa hari yang lalu. New York. Haruskah?