In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 27
Truth
Seohyun POV
Pendengaranku terasa berdengung
seolah aku terbaring disamping mesin pompa air. Aku merasa seluruh tubuhku
lemas dan tak mampu aku gerakan. Dunia terasa berputar meski mataku masih
terpejam karena aku tak memiliki cukup tenaga untuk membukanya.
................
Perlahan, suara dengung tadi
memudar, lalu sedikit demi sedikit menghilang. Aku mulai bisa mendengar semua
suara disekitarku dengan jernih. Meski aku masih cukup kesulitan untuk
memfokuskan pendengaranku karena efek putaran dikepalaku yang masih terasa
mengganggu. Aku juga mulai merasa kedinginan disekujur tubuhku. Tapi
lagi-lagi... aku tak mampu melakukan apapun.
Tuhan... apa aku sudah mati?
Maldo andwe! Suara-suara itu,
langkah-langkah kaki, suara mesin monitor cardio, dan obrolan beberapa orang
bisa kudengar. Semua itu menyadarkanku bahwa aku masih berada didunia ini.
Tapi mengapa tubuhku terasa
begitu tak berdaya?
Ah... transplantasi...
Aku mengingatnya. Setidaknya,
otakku tidak kehilangan fungsinya, meski tubuhku masih tak bisa kugerakan.
*****
"Aku harap, radiasi ini
cukup efektif dalam membunuh sel-sel kanker yang mulai bertransformasi dalam
darahnya. Setelah ini, kita harus bisa membujuknya untuk melakukan beberapa
kali kemotherapy agar dia bisa sepenuhnya sembuh."
Aku mendengar suara dokter Shim.
Ya, aku yakin, itu suaranya.
"I hope so, Oppa. Meski
tetap saja, kita tidak selalu bisa memprediksi seberapa cepat penyakit ini
berkembang. Siapa yang menyangka bahwa aplastik itu bisa bertransformasi
secepat ini? Bila aku tahu semua akan begini, aku pasti tidak akan
mengijinkannya keluar rumah sakit ini dan pergi ke Busan. Aku harap, kita belum
terlambat melakukan tindakan ini."
Dan kali ini Taeyeon Eonni. Aku
tahu itu adalah suaranya. Apa maksudnya? Siapa yang sedang mereka perbincangkan?
"Geok cheongma, Taeyeon ah!
Beruntung, kita menemukannya sedini ini. Kita harus optimis, anak ini akan
sembuh sepenuhnya. Bila kita bandingkan dengan kasus yang terjadi pada
Eomma-nya, kasusnya cukup unik. Dan karena kita segera mengetahuinya, aku harap
beberapa kali kemotherapy akan cukup untuk membunuh semua sel kanker dalam
darahnya. Semoga transplantasi yang diberikan Kyuhyun bisa diterima oleh
tubuhnya dengan sempurna, sehingga tubuhnya bisa kembali memproduksi sel darah
merah dengan normal. Dengan begitu, dia baru bisa menjalani rangkaian kemo dan
radiasi."
Kyuhyun? Cho Kyuhyun, maksudnya?
Transplantasi pemberian Kyuhyun? Dan.. apa yang mereka bilang tadi? Kanker?
Kemotherapy? Siapa yang mereka maksud?
Igae mwo ah? Apa yang sebenarnya
terjadi? Mengapa aku harus merasa ketakutan seperti ini?
"Semoga saja, Oppa. Aku
belum pernah merasa se-stress ini dalam menangani seorang pasien. Karena dia
adalah perempuan yang berharga untuk sepupuku, dan aku tahu sepupuku itu tak
akan menginginkan hidupnya lagi bila sesuatu yang buruk terjadi pada
kekasihnya, semua itu membuatku takut."
Aku!
Tidak salah lagi! Mereka sedang
berbicara tentang aku!
Ya! Aku....
Leukimia?
Hhh...
Leukimia. Sesuatu yang seharusnya tidak lagi asing dan membuatku
terkejut. Tentu saja aku tahu, resiko penurunan genetik dari Eomma-ku, mungkin saja akan menurun padaku.
Harusnya aku siap dengan semua itu.
Tapi...
Ottokhae? Rasa takut ini serasa
bisa membunuhku lebih cepat.
"Jung Yonghwa,
maksudmu?"
"Ya. Kau sudah membaca beritanya
bukan... bahwa hari ini keluarga Jung akan ditentukan nasibnya? Hhh... anak itu
sudah cukup terluka dan hampir mati karena kehilangan Hyung-nya. Dan kini dia
sedang berjuang untuk menyelamatkan masa depan perusahaan Appa-nya. Bayangkan,
bila dia tahu bahwa gadis yang sangat dia cintai saat ini didiagnosa dengan
Leukimia stadium awal. Uri Yonghwa benar-benar bisa mati jika kali ini dia juga
harus kehilangan Joohyun."
Benarkan? Dia menyebut namaku
kali ini. Tsk... semua ini benar-benar luar biasa. Bila saja tubuhku cukup
kuat, aku pasti akan bertepuk tangan dengan keras. Sangat menakjubkan kala
kusadari bahwa Seo Joohyun dan sesuatu yang orang menyebutnya 'kebahagiaan'
adalah dua ciptaan Tuhan yang tidak pernah ditakdirkan untuk bisa hidup
bersama.
"Tapi tadi siang sebelum
operasi, aku sempat membaca beritanya, bahwa Tn. Jung tetap menjabat sebagai
Presiden Direktur Venus Hotel. Apa kau belum mengetahuinya?"
"Jeongmalyo? Aku belum
mendengarnya, Oppa. Seharian ini aku sangat stress karena Joohyun dan Kyuhyun.
Hhh.. daengida.. bila memang samchoon-ku berhasil melewati peperangan
melelahkan itu. Tapi... wae kkamjagi ah? Apa yang sudah membuatnya selamat?
Maldo andwe! Anak bodoh itu..
apakah dia menyetujui pernikahan bodoh itu? Jung Yonghwa... aigoo! Tapi itu
tidak mungkin! Sesuatu pasti sudah terjadi!"
Yonghwa Oppa? Benarkah?
Belum sempat kudengar kelanjutan
percakapan mereka, tiba-tiba kurasakan tempat tidurku bergerak. Entah mereka
akan membawaku kemana. Yang pasti, aku masih dalam keadaan tidak berdaya dan
tidak bisa bertanya ataupun menolak.
Mereka menghentikanku disatu
tempat yang aku masih tidak tahu berada dimana. Satuhal yang aku tahu. Aku
masih didalam rumah sakit ini, karena aroma obat-obatan masih terasa sangat
menusuk hidungku. Demi Tuhan, aku ingin segera bangun dan membuka mataku.
Banyak hal yang harus aku tanyakan pada Taeyeon Eonni dan juga dr. Shim. Tapi
belum juga aku mampu menggerakan tubuhku, lagi-lagi aku mendengar sesuatu.
"Kyuhyun ah, kau sudah
bangun?"
Suara itu. Appa? Andwe! Maldo
andwe! Tidak mungkin dia!
"Joohyunie.. otthaeyo,
Ahjussi?"
Kyuhyun Oppa? Appa dan Kyuhyun
Oppa? Apa yang terjadi? Mengapa mereka bersama ditempat ini?
"Semuanya berjalan lancar.
Adikmu masih belum bangun usai radiasi yang dia terima. Tapi dokter bilang,
semua akan baik-baik saja. Semoga tubuhnya cukup kuat untuk bisa menerima donor
darimu sehingga dia bisa menerima segala prosedur pengobatan."
Mwo rago?!! Adik? Tuhan... aku
pasti salah mendengarnya. Ani! Mungkin obat-obatan ini membuatku berhalusinasi.
Aku terus mencoba untuk sadar dan
membuka mataku, meski semua itu benar-benar membuatku frustasi karena aku masih
saja tak mampu melakukan hal sekecil ini.
Lalu aku mendengarnya lagi. Kata
demi kata dari suara-suara yang sangat aku kenal. Semakin sempurna kesadaranku,
suara itu terdengar semakin jelas.
Aku tidak sedang berhalusinasi!
Aku terus mendengarnya, tanpa
satupun kata yang luput dari telingaku. Semua! Suara-suara yang terasa seperti
menarikku kedalam lorong waktu yang gelap dan menakutkan. Menyakitkan.
Wajah-wajah itu... Eomma... Appa... dan... Cho Kyuhyun.
Mwo? Kakak-ku?
Maldo andwe!! Tidak mungkin!
Mereka pasti salah. Apa yang mereka katakan tentang Eomma-ku pasti sebuah
kesalahan. Eomma tidak mungkin melakukan semua itu. Tidak mungkin!!! Mana
mungkin didunia ini ada kenyataan seperti ini?
Tsk.. Semua ini terlalu menggelikan,
Tuhan! Kehidupan ini, dan segala yang terjadi dalam perjalananku benar-benar
menggelikan!
Air mataku mulai terasa mencair
dari sudut mataku hingga terasa nyaris menggenang ditelingaku. Sekuat tenaga
kucoba untuk membuka kedua mataku, tapi aku gagal. Aku benar-benar ingin
berlari kearah suara-suara itu dan menanyakan sendiri tentang semua kebenaran
itu.
"Ahjussi, Joohyun berhak
tahu kebenaran ini. Selama ini dia terus menyalahkanmu karena dia fikir kau
telah melarikan diri dari mereka. Dia fikir, kaulah yang telah menelantarkan
mereka begitu saja."
"Aku tidak sanggup
mengatakannya, Kyuhyun ah. Aku tidak sanggup melihat bagaimana wajah anak itu
saat dia tahu semua kebenaran ini. Ani ah! Uri Joohyun sudah cukup menderita.
Dia sangat mencintai Eomma-nya dan aku tidak ingin kenyataan ini menghancurkan
kenangannya tentang Young ah. Aku rela, gadis kecilku membenciku. Aku memang
pantas mendapatkannya. Aku telah gagal menjadi suami yang baik untuk Young ah,
dan juga Appa yang baik baginya."
Appa.... waeyo? Wae geuraeyo..
Appa? Aku harus bagaimana sekarang? Aku harus bagaimana saat aku melihatmu
lagi?
"Animida. Joohyun juga masih
punya Ahjussi. Ahjussi, kita sama-sama hadapi ini. Aku yakin, Joohyun akan
mengerti. Dan dia juga sangat merindukanmu, Ahjussi. Aku bisa melihatnya."
"Najunghae, Kyuhyun ah.
Najunghae. Bukan sekarang. Aku ingin putriku benar-benar sembuh sepenuhnya.
Karenanya, aku serahkan dia padamu. Untuk semua biaya transplantasi dan
perawatan putriku, geok cheongma.. aku sudah menyelesaikannya dengan rumah
sakit ini. Neomu gomapta, Kyuhyun ah!"
"Mwoeyo? Ahjussi.. kenapa
kau harus melakuakannya? Biaya rumah sakit ini biar aku saja yang mengurusnya.
Ya Tuhan.. perusahaanmu bahkan baru mulai bangkit lagi. Kenapa kau tidak
menyerahkan segalanya padaku saja?"
"Aku ini Appa-nya, Kyuhyun
ah. Apa yang aku lakukan, hanyalah sebagian kecil yang memang seharusnya
dilakukan oleh seorang Appa."
Aku tidak sanggup lagi!! Aku
tidak sanggup mendengarnya lagi!!! Tuhan...... tolong buka mataku!! Aku tidak
ingin mendengar semua itu lagi!!! Kumohon hentikan....!!!!
________________
Dan perlahan... sebuah cahaya
yang menyilaukan terasa menusuk mataku. Aku mulai bisa membukanya.
"Omo... Seo Joohyun Ssi..
nona sudah sadar?" Seorang suster menghampiriku, lalu memeriksa kedua bola
mataku.
"Shim Euisan-nim, Kim
Euisan-nin. Seo Joohyun Ssi sudah sadarkan diri."
Suster itu setengah berteriak
disamping telingaku. Kedua mataku langsung mengintari semua arah, mencari
suara-suara yang kudengar tadi. Tapi tak kutemukan satupun. Disamping kananku,
aku hanya menemukan tirai putih membentang dan disamping kiriku, aku melihat
Hyoyeon Eonnie yang sedang menangis tanpa suara sambil menatapku cemas.
"Check vital!"
Kurasakan tangan dr. Shim membelalakan mataku satu persatu sambil menyorotkan
lampu kecil yang menyilaukan.
"Good! Detak jantung normal.
Tekanan darah 92/101. Suhu tubuh 34°. Cepat! Selimuti dia dengan selimut lebih
tebal dan berikan penghangat lebih banyak. Anastesinya membuat suhu tubuhnya
menurun."
Tepat sekali, dokter! Karena aku
mulai merasa sekujur tubuhku menggigil. Aku
benar-benar seperti akan mati.
"Seo Joohyun Ssi, kau bisa
mendengarku?" Suara dr. Shim membuat mataku yang masih terasa berat
kembali terbuka. Aku tak cukup punya tenaga untuk menjawabnya dan hanya
mengaggukkan kepalaku perlahan.
"Good! Aku akan menyuntikan
anti anastesi untuk mengurangi efek menggigil pada tubuhmu. Jarieso, Seo
Joohyun Ssi! Kau melakukannya dengan baik."
Baik? Benarkah? Entahlah.. apakah semua ini benar-benar baik seperti
yang dr. Shim katakan? Nyatanya, kini aku merasa duniaku benar-benar
berantakan. Leukimia, Jung Yonghwa, dan satu lagi... Tiba-tiba aku memiliki
seorang Oppa yang selama ini disembunyikan Eomma dariku, hingga aku membeci
Appa-ku sendiri karena kebodohan itu!
Sempurna!
Bilapun leukimia ini pada
akhirnya merenggut hidupku seperti apa yang terjadi pada Eomma, tak akan ada
hal yang membuatku menyesal. Dunia ini semakin terasa menakutkan untukku!
*****
Author POV
Setelah beberapa saat, Seohyun
akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inapnya ditemani Hyoyeon dan Suho yang
tidak pernah sedikitpun menjauh darinya sejak dia masuk ruang operasi tadi.
Gadis itu masih tertidur lelap, karena efek morfin dalam tubuhnya belum
sepenuhnya hilang. Begitupun Kyuhyun. Dia ditemani Tn. Seo dan Taeyeon sudah
dipindahkan ke ruang rawat inap terpisah. Berbeda dengan Seohyun, Kyuhyun sudah
sepenuhnya sadarkan diri. Meski dibagian panggulnya masih merasakan nyeri yang
membuatnya tidak nyaman akibat anastesi saat transplantasi tadi, tapi Kyuhyun
sudah bisa diajak berbicara.
Kemudian, dia teringat dengan apa
yang terjadi di ruang NICU tadi. Batinnya tak tenang, memikirkan apakah Seohyun
mendengar semua percakapan itu atau tidak. Kyuhyun tidak tahu bahwa Seohyun
terbaring tepat disampingnya karenanya dia berbicara dengan leluasa. Tn. Seo
dan Taeyeon juga berfikir bahwa Seohyun masih dalam pengaruh anastesi hingga
dia tidak mungkin mendengar apapun yang mereka katakan.
Namun tetap saja! Batinnya tak
tenang.
"Geok cheongma, Oppa. Kemungkinan
besar Joohyun tidak mendengarnya. Butuh proses untuk seseorang sadarkan diri
usai menerima anastesi. Terkadang fikirannya bercampur dengan halusinasi dan
rasa kantuk yang tak tertahankan. Semoga saja Joohyun tidak menyadarinya."
Taeyeon seolah mengerti kegelisahan yang Kyuhyun rasakan. Karena sejak dia
dipindahkan ke ruang rawat inap, dirinya lebih banyak terdiam murung. Begitupun
Tn. Seo.
"Semoga saja, Taeyeon ah.
Aku tidak ingin kehilangannya lagi." Kyuhyun menghembuskan nafas dengan
berat.
"Nanti saat dia terbangun,
aku akan menemuinya, untuk memeriksa keadaannya. Saat ini, dia pasti masih
tertidur karena efek anastesinya. Aku akan mengabarimu setelah aku bertemu
dengannya nanti. Geok cheongma. Istirahatlah. Agar besok kau bisa menemuinya."
Taeyeon mengusap tangan Kyuhyun yang kemudian Kyuhyun mengunci tangan kecil itu
dalam genggamannya.
"Hhm. Gomawo, Taeyeon ah!
Untuk semua yang sudah kau lakukan untukku dan juga adikku. Neomu
gomawoseo!" Tatap lemah itu mengiba.
"Sokay, Oppa..! Kau tidak perlu
berterima kasih seperti itu. Apa yang aku lakukan adalah bagian dari
kewajibanku sebagai dokter. Bila aku memperlakukan Joohyun berbeda, semua
karena Joohyun adalah orang yang sangat penting untuk Yonghwa dan juga untukmu.
Lebih dari itu, aku mengaguminya. Aku menyukai kalian berdua dan aku senang
bisa melakukan semua ini untuk kalian." Taeyeon menatapnya teduh. Beberapa
saat, Kyuhyun terdiam.
"Taeyeon ah... apa adikku
bisa sembuh?" Seperti ada benda tajam menusuk dadanya, kala dia harus
bertanya tentang hal itu. Lelaki itu teramat ketakutan saat dia membayangkan
apa yang terjadi pada Eomma-nya, harus terulang dan terjadi lagi pada adiknya.
"Kita hanya akan melakukan
yang terbaik untuk menolongnya, Oppa. Teknologi pengobatan dinegara kita saat
ini sudah sama canggihnya dengan Amerika dan Jepang. Beruntung, kita
menemukannya saat ini, sehingga peluang untuk sembuh masih sangat tinggi.
Jangan putus asa. Terlebih dihadapan Joohyun. She need us, Oppa.. so we have to
be tough for her." Taeyeon meremas
jemari Kyuhyun dalam genggamannya lebih kuat. Air mata lelaki itu kembali
menggenang.
"I'm so scare, Taeyeon ah!
Naega jinjja bushowo.." Suaranya tercekat. Lalu dengan serta merta Taeyeon mendekatkan tubuhnya, kemudian
memeluk Kyuhyun erat. Usapan demi usapan dipunggung lelaki itu, meski Taeyeon
tahu semua itu tidak cukup untuk bisa mengikis luka hatinya, paling tidak...
Kyuhyun harus tahu, bahwa kini dia tidak sendiri.
*****
Hyoyeon masih duduk disamping
tempat tidur sahabatnya yang kala itu masih tertidur lelap. Tangannya, dengan
lembut mengusap wajah Joohyun dengan handuk yang sebelumnya sudah dibilas air
hangat.
"Siapa yang menyangka bahwa
gadis nakal ini akan terbaring lemah seperti ini, Suho ah? Hhh... berapa kali
kita berdua mendapat masalah karena kejahilan yang dia lakukan? Uri Joohyun,
selama ini selalu menjadi pendengar yang baik untuk kita. Tapi anak ini tidak
pernah sekalipun mengeluhkan apa yang dia alami dan dia rasakan pada kita.
Aigoo.... harusnya kita bertanya padanya, Suho ah. Joohyunie gwaenchanna? Maanhi appa ah? Geok cheongma, Eonni itjana! Ya..
harusnya dulu aku mengatakan semua itu padanya."
Sekali lagi Hyo mengusap air matanya. Suho meremas bahu
sahabatnya seolah gerakan itu mampu menyalurkan kekuatan untuk Hyo. Meski tanpa
Hyo tahu, Suho juga amat terpukul dengan semua ini. Bertahun-tahun menjadi
sahabat Joohyun dikampus dan juga di KCC, bukan tidak mungkin semua itu merubah
apa yang dia rasakan pada Joohyun. Entah sejak kapan, tapi Joohyun bukan hanya
sekedar seorang sahabat untuknya. Cinta itu diam-diam dia kubur sendiri dalam
hatinya hanya karena dia takut bila dia akan kehilangan sahabatnya jika saja
Seohyun mengetahui perasaannya. Melihatnya bahagia bersama Jung Yonghwa, tanpa
Joohyun sadari, Suho adalah orang yang sangat terluka karena semua itu. Tapi
baginya, melihat Joohyun hidup dan bahagia bersama lelaki lain itu jauh lebih
baik daripada melihatnya terbaring tak berdaya seperti itu. Dan leukimia... itu
sangat menakutkan untuknya.
"My Barbie will be okay. Dia
tidak akan selemah itu. Ya.. Uri Barbie adalah gadis yang tangguh!"
Suaranya nyaris tercekat. Wajahnya memerah seiring air mata yang tergenang
dikelopak matanya, namun tak sempat jatuh tertumpah.
"Ara! Aku juga yakin,
Joohyun tidak akan menyerah semudah itu. Terlalu banyak orang yang mencintai
dia dan akan selalu mendukungnya apapun yang terjadi. Terlebih saat ini dia
juga memiliki seorang Appa dan Oppa yang sangat mencintainya. Juga Jung
Yonghwa. Aku yakin, demi lelaki itu, Joohyun akan berjuang untuk sembuh."
"Aku harap begitu, Noona.
Tapi... dimana dia saat ini? Apa dia benar-benar akan menikahi putri tunggal
pemilik Kim Coorporate? Tsk.. membaca beritanya saja sudah membuatku
kesal." Raut wajah Suho seketika berubah. Begitupun Hyo.
"Mwo rago? Putri tunggal
pemilik Kim Coorporate? Darimana kau mendengarnya?" Hyo langsung meletakan
handuk ditangannya, kemudian bangkit dan mengajak Suho untuk menjauh dari
pendengaran Seohyun lalu duduk di sofa.
"Internet. Berita itu sedang
menjadi headline dibeberapa news online. Bahkan ada foto yang memperlihatkan
Jung Yonghwa sedang berada di sebuah rumah sakit, sedang menyuapi putri
keluarga Kim yang katanya sedang menjalani perawatan usai operasi usus
buntu."
"Mwo?! Maldo andwe! Kau
pasti salah, Suho ah! Mungkin berita itu bukan tentang Jung Yonghwa Ssi."
Semua itu begitu sulit diterima oleh Hyo.
"Molla, Noona! Coba, kau
lihat sendiri! Ini..." Suho memberikan ponsel miliknya pada Hyo untuk
memperlihatkan artikel yang tadi dia baca. Dan dalam hitungan detik, Hyo pun
membelalakan kedua matanya penuh rasa tidak percaya.
"Oh My God! Maldo andwe! Aku
tidak percaya ini! Ottokhae? Ijae ottokhaji? Uri Joohyun ottokhae, Suho
ah?" Rasa sedih sekaligus marah tergambar jelas diwajahnya.
"Jangan katakan apapun
padanya, Noona. Lagipula, kita masih belum tahu kebenaran berita ini. Sebelum
ada pernyataan resmi dari kedua keluarga itu, aku ingin kita menjaga Joohyun
dari kabar ini." Hyo menggangguk anggukan kepalanya, sambil terus berulang
kali membaca artikel ditangannya.
Tanpa mereka sadari, gadis yang
sedang terbaring ditempat tidurnya diam-diam membuka kedua matanya perlahan.
Hari itu, sepertinya terlalu banyak orang yang membicarakannya dibelakang
punggungnya. Mencoba menjaga rahasia-rahasia menyakitkan itu darinya, namun
mereka gagal.
She heard everything!
*****
Esoknya, Seohyun terbangun lebih
pagi. Kali ini tubunnya terasa lebih ringan dan kedua matanya tidak lagi terasa
berat.
Mimpinya tadi... dia bisa dengan
jelas melihat wajah Yonghwa-nya dari dekat. Kedua mata lelaki itu tampak sendu,
menatapnya tanpa kata-kata. Seolah banyak hal yang ingin dia sampaikan, tapi
tak mampu dia ucapkan.
Tangan lemasnya mencoba meraih
ponsel dimeja samping tempat tidurnya. Ditatapnya layar ponselnya dengan
wallpaper Mr. Gold dan gigi gingsulnya. Lembut, ibu jarinya mengusap wajah itu.
She miss him. Tapi... hhh... tak satupun panggilan atau pesan darinya.
Sesaat, Seohyun termenung.
Kenyataan-kenyataan pahit yang dia dengar kemarin, kembali berputar dalam
benaknya. Bagaimana bisa semua hal mengerikan itu terjadi dalam satu waktu?
Lalu tentang Jung Yonghwa... benarkah apa yang mereka katakan?
Gadis itu tampak ragu melihat
layar ponselnya. Perang dalam batinnya membuatnya bingung. Haruskah dia mencari
tahu kabarnya? Haruskah dia mencoba menghubunginya? Atau.... tunggu saja, dan biarkan
takdir memainkan perannya?
Namun gadis itu menyerah.
Akhirnya, setelah mencoba mengalahkan ego dan segala fikiran dalam otaknya,
Seohyun men-dial nomor ponsel Yonghwa. At least, she have to try.
Tapi...
'Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau diluar jangkauan.
Silahkan tinggalkan pesan..'
Tangan yang dia gunakan untuk
menggenggam ponselnya, kini kembali terkulai lemas diatas tempat tidurnya.
Frustasi. Seohyun benar-benar merasa hilang dan tersesat.
Sekali lagi dia mencobanya, tapi
tetap sama. Akhirnya, Seohyun menguatkan hatinya untuk mencari tahu tentang apa
yang sebenarnya terjadi. Dan dia menemukan sebuah artikel dari sebuah surat
kabar online ternama di negara ini yang baru saja mereka terbitkan pagi ini.
'Setelah melalui polemik yang
cukup rumit, dan beberapa kasus hukum yang harus dihadapinya, akhirnya Jung
Taewon Sajang-Nim pemilik Venus Hotel berhasil menyelamatkan posisinya di
perusahaan yang telah dirintis keluarganya sejak 3 generasi lalu.
Banyak kalangan yang sempat
menduga bahwa Jung Taewon tidak akan mampu mempertahankan posisinya karena
desakan para pemegang saham dan juga kepercayaan masyarakat yang sempat menurun
padanya, hingga membuat reputasi Venus Hotel sempat mengalami keterpurukan.
Namun kemarin siang, salah satu perwakilan Venus Hotel memberikan pernyataan
pers bahwa Tn. Jung Taewon masih akan menjabat sebagai Presiden Direktur Hotel
bintang lima itu dan kasus hukum yang sempat menjeratnya masih terus berlajut
sambil mengumpulkan bukti-bukti bahwa pengusaha berusia 57 tahun itu hanyalah
salah satu korban dari tindak kejahatan money laundring yang dilakukan
seseorang untuk menjatuhkan reputasinya. Dan saat ini, polisi masih terus
menyelidikinya.
Adapun tentang alasan mengapa
para pemegang saham tiba-tiba merubah fikiran mereka, dalam hal ini,
representative Venus Hotel enggan menjelaskannya lebih lanjut. Namun kuat
dugaan, semua itu terjadi karena dukungan dari calon besannya, yang tidak lain
adalah pemilik perusahaan mega konstruksi Kim Coorporate, Kim Sukjin.
Kita semua tahu, bahwa hubungan
kedua pengusaha besar ini sudah terjalin cukup lama sejak pertunangan putri
tunggalnya dengan mendiang putra sulung Jung Taewon, Jung Yongdo, yang kemudian
berlanjut dengan adiknya Jung Yonghwa usai kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Kabar yang kami terima dari salah
satu karyawan perusahaan itu, dalam waktu dekat, keluarga Jung dan keluarga Kim
akan segera mengadakan pesta pernikahan putra putri mereka. Ditemui di rumah
sakit Busan, Jung Yonghwa yang saat itu sedang menemani Kim Hyunna yang sedang
menjalani perawatan pasca operasi usus buntu yang dijalaninya beberapa hari
lalu, tidak banyak mengatakan hal rinci kepada kami. Pria tampan yang memilih
karier sebagai musisi ini lebih banyak tersenyum dan meminta doa dari semua pihak
untuk keluarganya dan juga hubungan dirinya dan Kim Hyunna.
Bila memang pernikahan mereka
akan terjadi tahun ini, dipastikan pernikahan ini akan menjadi salah satu
pernikahan terhebat di negara ini. Kita tunggu saja kabar baik dari kedua
keluarga ini.'
Detik terasa berhenti berputar.
Dunia dan seisinya seketika terasa hampa. Senyap, sepi.. dan menakutkan. Yang
terdengar kini hanyalah degub jantungnya yang menggila, serta deru nafas yang
terasa berat.
Tak ada lagi air mata. Tak ada!
Gadis itu tak lagi menangis. Beberapa saat, fikirannya tenggelam mencerna
kenyataan demi kenyataan yang terjadi. She
had lost everything. Bahkan hanya dengan leukimia saja sudah cukup menjadi
alasan baginya untuk lenyap dari hadapan Yonghwa demi untuk menyelamatkannya dari
rasa sakit yang lebih menyiksanya. Dan isu pernikahan itu.. seolah semua itu
membuat fikirannya semakin jernih. Ya.. Seo Joohyun dan Jung Yonghwa adalah dua
orang yang tidak akan pernah bisa hidup dalam satu dunia. Bagaimanapun cinta
itu mereka teriakan hingga tenggorokan mereka terluka dan tak lagi mengeluarkan
suara, tetap saja... semua itu tidak akan mampu merubah kenyataan.
Jung Yonghwa... membutuhkan
seseorang yang bisa memberinya lebih dari sekedar cinta.
Knock.. knock...
Suara ketukan pintu mengaburkan
fikirannya. Seohyun menoleh kearah datangnya suara, lalu mendapati seseorang
muncul dari balik pintu dengan sebuah senyum diwajahnya. Senyum yang berbeda
dari sebelumnya. Senyum yang menyembunyikan rasa takut dan khawatir yang belum
jelas alasannya.
"Hai... how are you,
Princess?" Kyuhyun berjalan perlahan mendekati tempat tidur Seohyun.
Tidak seperti biasanya. Kali ini,
atmosfer diantara mereka benar-benar berubah. Kyuhyun dengan senyum
canggungnya, dan Seohyun dengan tatapan datar yang tak sanggup Kyuhyun terka
artinya.
Ya, beberapa saat, kedua kakak
adik itu hanya saling menatap satu sama lain.
Kyuhyun mulai gusar dan nyaris
panik. Teringat lagi pada apa yang terjadi di ruang NICU dan juga percakapan
itu. Tapi...
"Oppa... waseoyo?" Akhirnya...
suara lemah adiknya membuat gumpalan resah itu sirna seketika. Lelaki itu
menghembuskan nafas lega sambil menarik senyuman lebih lebar.
"Mianhae, Joohyun ah. Aku
terlambat menemuimu. Aku juga mengingkari janjiku untuk menemanimu saat proses
transplantasi kemarin tapi aku..."
"Duduklah, Oppa."
Senyum diwajah Kyuhyun seketika memudar lagi. Ekspresi Seohyun dan intonasi
suaranya, membuat rasa takutnya kembali datang.
"Bagaimana keadaanmu
sekarang, Joohyun ah? Kau.. tidak merasakan gejala-gejala yang aneh, kan?
Seperti mual, gatal-gatal, sakit kepala, atau ruam pada tubuhmu?" Kyuhyun
menatapnya khawatir.
"Aniyo. Jaega gwaenchannayo.
Mungkin karena orang yang mendonorkan sumsum tulangnya adalah orang dengan
genetika yang sangat dekat denganku, karenanya tubuhku langsung bisa
menerimanya dengan baik."
Dug! Kyuhyun serasa mendapat
tamparan hebat diwajahnya.
"Oh? Geu... geuraeso?
Ddaengida. Aku sempat khawatir bila saja tubuhmu mengalami gejala-gejala
penolakan. Kita mungkin harus segera mencari donor yang lainnya. Syukurlah..
karena kau baik-baik saja." Lelaki itu kembali merekahkan senyum yang
aneh.
"Tentu saja. Tubuhku cukup
tahu diri, dan tahu cara untuk berterima kasih. Geuronika, tubuh lemah ini
tidak harus selalu merepotkan dan membebani orang lain lagi, bukan?"
Sebuah senyum merekah diwajahnya kali ini. Tapi entahlah, Kyuhyun merasa senyum
itu sangat sinis dengan kalimat
sarkastik itu.
"Oh? A.. apa maksudmu?
Eiii... Seo Joohyun.. kau tidak boleh berfikir seperti itu. Kau tidak pernah
membebani siapapun. Aku melihat, kau ini benar-benar tangguh. Gadis dengan
tubuh lemah ini tidak akan mudah dikalahkan oleh apapun. And see... kau
menerima donornya dengan baik."
"Geuraeyo? Hhh.... tapi aku
tidak berfikir begitu." Seohyun menundukan pandangannya dengan sisa senyum
pahit di sudut bibirnya. Sejujurnya, Seohyun tidak tahu harus bersikap dan
berkata apa pada Kyuhyun yang kini dia ketahui sebagai kakak kandungnya itu.
Tidak dapat dia ingkari, meski Kyuhyun juga hanyalah korban dari keadaan ini seperti
halnya dirinya, tapi dia tak mampu menutupi kekecewaan itu. Terlebih, Seohyun
tidak tahu harus marah pada siapa.
Beberapa saat, keduanya saling
menatap dengan perasaan masing-masing. Menggelikan! Karena keduanya mengira
bahwa salah satu diantara mereka tidak tahu rahasia satu sama lainnya. Kyuhyun
masih mengira bahwa Seohyun tidak mengetahui apapun. Kenyataannya, Kyuhyun lah
yang kini tidak tahu bahwa Seohyun mengetahui segala yang mereka tutupi
darinya.
"Oppa....."
"Hhmm...."
"Apa kau tahu, dimanakah
tempat yang paling jauh dan sulit untuk dijangkau dari Korea?" Gadis itu
mulai memalingkan wajahnya kemudian menatap lurus kearah jendela. Teramat
banyak hal yang berputar dalam kepalanya, hingga tiba-tiba saja mulutnya mengeluarkan
kata-kata yang aneh, yang membuat Kyuhyun tertegun sambil mengerutkan
keningnya.
"Huh? Tempat yang jauh dan
sulit dijangkau? Apa maksudmu?" Untuk alasan yang belum pasti, Kyuhyun
merasa, sesuatu sedang terjadi pada Seohyun. Sikapnya berbeda. Dan kali ini
Kyuhyun tidak menemukan sinar mata itu dikedua mata adiknya.
"Aniyo.. aku hanya...
hhh.." Seohyun menundukan wajahnya.
"Wae? Sebenarnya apa yang
sedang mengganggu fikiranmu? Kau benar-benar berbeda, Joohyun ah. Dan itu
membuatku cemas. What's going on? Malhaebwa. Siapa tahu aku bisa
membantumu." Kyuhyun tak mampu lagi menutupi perasaan cemasnya. Tapi kemudian dia mendapati sebuah senyum
sinis diwajah adiknya. Ya, setidaknya, Kyuhyun merasa seperti itu.
"Membantuku? Lagi? Hhh...
waeyo, Oppa? Kenapa kau selalu membantuku? Aku bahkan hanya seseorang yang baru
kau kenal beberapa bulan yang lalu. Apa kau memang seseorang yang terbiasa
berbuat baik pada siapapun yang terlihat lemah sepertiku? Atau.. kau hanya
melakukan ini padaku saja?" Seohyun kembali menatap Kyuhyun dengan lekat.
Lagi-lagi pertanyaan itu membuatnya terpaku.
"Oh? Apa maksudmu?"
Kyuhyun mulai merasa terganggu. Lagi-lagi Seohyun tersenyum sinis sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aniyo. Geunyang... untuk
seseorang yang baru saling kenal, kau ini terlalu baik, Oppa. Apa kau tidak
takut bahwa aku bisa saja menyalah fahami kebaikanmu? Bagaimana kalau aku
akhirnya jatuh cinta padamu? Apa kau tidak takut hal itu akan terjadi?"
Bug!! Lagi-lagi Kyuhyun merasa
seperti terkena hantaman hebat diwajahnya. Dia bahkan tak mampu menghindar dari
tatapan tajam yang Seohyun arahkan padanya.
"Joohyun ah.. kau ini kenapa
sih? Apa sesuatu mengganggumu? Apa Jung Yonghwa..."
"Tidak ada kaitannya dengannya
sama sekali! Dan lagi, aku sedang tidak ingin membicarakan apapun tentangnya
saat ini." Seohyun melempar tantrum yang lebih menakutkan kali ini.
"Arasso! Sepertinya aku
mengunjungimu diwaktu yang salah, Joohyun ah! Fine, bila memang kali ini kau tidak
ingin menceritakannya padaku. Sokay. Aku hanya khawatir. Geurae, istirahatlah!
Aku hanya ingin memastikan apa kau baik-baik saja usai transplantasimu.
Syukurlah, you look fine. Aku akan datang lagi nanti. Semoga saat itu moodmu
sudah kembali normal seperti Joohyun yang kukenal." Kyuhyun nyaris
beranjak dari tempatnya duduk. Namun seketika ia terhenti lagi...
"Geurae! Terulah menghindar
seperti itu. Berdoa saja, semoga masih ada nanti, seperti yang kau
bilang."
Kyuhyun menoleh kearah adiknya
yang kini tertunduk diatas tempat tidurnya. Dia tak percaya dengan kata-kata
samar yang baru saja dia dengar. Gadis ini benar-benar aneh!
"Mwo rago? Seo Joohyun...
neol..." Kyuhyun menghela nafasnya dengan berat. Lelaki itu mengusap
wajahnya frustasi.
"Joohyun ah.. moseuniri ah,
jeongmal? Huh? Kau benar-benar aneh hari ini. Bila ada sesuatu yang ingin kau
katakan padaku, maka katakanlah. Bila ada yang ingin kau tanyakan, tanyakanlah
sehingga aku bisa menjawabnya. Jangan bersikap yang membuatku bingung. Ani!
Jangan bersikap yang membuatku takut." Giliran Kyuhyun yang melempar sorot
mata tajam itu kearah Seohyun.
"Takut? Untuk apa kau merasa
takut? Apa yang sudah aku lakukan padamu hingga aku membuatmu merasa
takut?" Seohyun menatapnya lebih sinis. Kakak beradik itu seperti sedang
perang tantrum kala itu.
"Seo Joohyun, aku
benar-benar tidak mengerti. Kenapa kau memperlakukanku seperti ini? Apa aku
melakukan kesalahan padamu? Atau jangan-jangan kemarin kau...."
"Pergilah, Oppa! Aku lelah!
Aku hanya ingin tidur." Seohyun menarik selimutnya, lalu bergegas
terbaring membelakangi Kyuhyun yang kala itu masih berdiri dalam kebingungan.
Dan itu membuat Kyuhyun semakin putus asa. Hingga akhirnya dia melangkahkan
kakinya dan pergi. Seperti seorang pengecut, Kyuhyun memilih untuk menghindar
sekali lagi. Bukan sekarang waktunya. Setidaknya, bukan disaat Seohyun masih
terbaring lemah usai transplantasi itu.
Seohyun kembali menangis.
Menangis dengan segenap tenaganya, namun tanpa suara. Dia hanya ingin lenyap.
Ingin hilang dari muka bumi ini begitu saja. Dia benci segalanya. Dunia dan
semua yang ada didalamnya!
*****
Dear : Miss Joohyun Seo
Aku sudah membaca novel yang kau tulis untuk tugas akhirmu yang
diberikan oleh Professor Nam minggu lalu, saat aku berkunjung ke universitasmu.
Violet Sun Set-mu benar-benar mencuri hatiku. Selama dua hari aku membacanya,
aku merasa seolah fikiranku tersandera dalam cerita yang kau tulis. Entahlah,
tiba-tiba aku merasa menjadi seorang James Golden dalam bukumu. Aku jatuh cinta
dengan cara James mencintai Violet, plus.... aku bisa merasakan betapa parahnya
patah hati yang James rasakan saat Violet tiba-tiba menghilang disuatu senja.
Sungguh... ternyata cinta seharusnya hanya sesederhana sekotak coklat yang
Violet buatkan dihari James menyusulnya ke rumah tepi pantai. Ya.. harusnya
sesederhana itu.
Aku sangat menantikan novelmu ini diterbitkan dipasaran. Aku akan
menjadi pembeli pertamamu, Miss Joohyun Seo.
Over all, aku sudah mengirim surat resmi ke universitasmu, bahwa
University of New York ingin memberimu kesempatan untuk lebih banyak mengenal
dan mempelajari sastra disini. Aku akan merasa sangat bahagia, bila kita akan
sering bertemu dan berdiskusi andai saja kau memutuskan untuk menerima beasiswa
ini.
Miss Joohyun Seo, aku menantikan jawabanmu segera.
Regards,
Prof. Cedrik Lynn
Seohyun menerima email itu
beberapa hari yang lalu. New York. Haruskah?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar