Kamis, 31 Maret 2016

In Time With You Chapter 27



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8





Chapter 27

Truth

Seohyun POV

Pendengaranku terasa berdengung seolah aku terbaring disamping mesin pompa air. Aku merasa seluruh tubuhku lemas dan tak mampu aku gerakan. Dunia terasa berputar meski mataku masih terpejam karena aku tak memiliki cukup tenaga untuk membukanya.

................

Perlahan, suara dengung tadi memudar, lalu sedikit demi sedikit menghilang. Aku mulai bisa mendengar semua suara disekitarku dengan jernih. Meski aku masih cukup kesulitan untuk memfokuskan pendengaranku karena efek putaran dikepalaku yang masih terasa mengganggu. Aku juga mulai merasa kedinginan disekujur tubuhku. Tapi lagi-lagi... aku tak mampu melakukan apapun.

Tuhan... apa aku sudah mati?

Maldo andwe! Suara-suara itu, langkah-langkah kaki, suara mesin monitor cardio, dan obrolan beberapa orang bisa kudengar. Semua itu menyadarkanku bahwa aku masih berada didunia ini.

Tapi mengapa tubuhku terasa begitu tak berdaya?

Ah... transplantasi...

Aku mengingatnya. Setidaknya, otakku tidak kehilangan fungsinya, meski tubuhku masih tak bisa kugerakan.

*****

"Aku harap, radiasi ini cukup efektif dalam membunuh sel-sel kanker yang mulai bertransformasi dalam darahnya. Setelah ini, kita harus bisa membujuknya untuk melakukan beberapa kali kemotherapy agar dia bisa sepenuhnya sembuh."

Aku mendengar suara dokter Shim. Ya, aku yakin, itu suaranya.

"I hope so, Oppa. Meski tetap saja, kita tidak selalu bisa memprediksi seberapa cepat penyakit ini berkembang. Siapa yang menyangka bahwa aplastik itu bisa bertransformasi secepat ini? Bila aku tahu semua akan begini, aku pasti tidak akan mengijinkannya keluar rumah sakit ini dan pergi ke Busan. Aku harap, kita belum terlambat melakukan tindakan ini."

Dan kali ini Taeyeon Eonni. Aku tahu itu adalah suaranya. Apa maksudnya? Siapa yang sedang mereka perbincangkan?

"Geok cheongma, Taeyeon ah! Beruntung, kita menemukannya sedini ini. Kita harus optimis, anak ini akan sembuh sepenuhnya. Bila kita bandingkan dengan kasus yang terjadi pada Eomma-nya, kasusnya cukup unik. Dan karena kita segera mengetahuinya, aku harap beberapa kali kemotherapy akan cukup untuk membunuh semua sel kanker dalam darahnya. Semoga transplantasi yang diberikan Kyuhyun bisa diterima oleh tubuhnya dengan sempurna, sehingga tubuhnya bisa kembali memproduksi sel darah merah dengan normal. Dengan begitu, dia baru bisa menjalani rangkaian kemo dan radiasi."

Kyuhyun? Cho Kyuhyun, maksudnya? Transplantasi pemberian Kyuhyun? Dan.. apa yang mereka bilang tadi? Kanker? Kemotherapy? Siapa yang mereka maksud?

Igae mwo ah? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku harus merasa ketakutan seperti ini?

"Semoga saja, Oppa. Aku belum pernah merasa se-stress ini dalam menangani seorang pasien. Karena dia adalah perempuan yang berharga untuk sepupuku, dan aku tahu sepupuku itu tak akan menginginkan hidupnya lagi bila sesuatu yang buruk terjadi pada kekasihnya, semua itu membuatku takut."

Aku!
Tidak salah lagi! Mereka sedang berbicara tentang aku!
Ya! Aku....

Leukimia?

Hhh...

Leukimia. Sesuatu yang seharusnya tidak lagi asing dan membuatku terkejut. Tentu saja aku tahu, resiko penurunan genetik dari  Eomma-ku, mungkin saja akan menurun padaku. Harusnya aku siap dengan semua itu.

Tapi...
Ottokhae? Rasa takut ini serasa bisa membunuhku lebih cepat.

"Jung Yonghwa, maksudmu?"

"Ya. Kau sudah membaca beritanya bukan... bahwa hari ini keluarga Jung akan ditentukan nasibnya? Hhh... anak itu sudah cukup terluka dan hampir mati karena kehilangan Hyung-nya. Dan kini dia sedang berjuang untuk menyelamatkan masa depan perusahaan Appa-nya. Bayangkan, bila dia tahu bahwa gadis yang sangat dia cintai saat ini didiagnosa dengan Leukimia stadium awal. Uri Yonghwa benar-benar bisa mati jika kali ini dia juga harus kehilangan Joohyun."

Benarkan? Dia menyebut namaku kali ini. Tsk... semua ini benar-benar luar biasa. Bila saja tubuhku cukup kuat, aku pasti akan bertepuk tangan dengan keras. Sangat menakjubkan kala kusadari bahwa Seo Joohyun dan sesuatu yang orang menyebutnya 'kebahagiaan' adalah dua ciptaan Tuhan yang tidak pernah ditakdirkan untuk bisa hidup bersama.

"Tapi tadi siang sebelum operasi, aku sempat membaca beritanya, bahwa Tn. Jung tetap menjabat sebagai Presiden Direktur Venus Hotel. Apa kau belum mengetahuinya?"

"Jeongmalyo? Aku belum mendengarnya, Oppa. Seharian ini aku sangat stress karena Joohyun dan Kyuhyun. Hhh.. daengida.. bila memang samchoon-ku berhasil melewati peperangan melelahkan itu. Tapi... wae kkamjagi ah? Apa yang sudah membuatnya selamat?

Maldo andwe! Anak bodoh itu.. apakah dia menyetujui pernikahan bodoh itu? Jung Yonghwa... aigoo! Tapi itu tidak mungkin! Sesuatu pasti sudah terjadi!"

Yonghwa Oppa? Benarkah?

Belum sempat kudengar kelanjutan percakapan mereka, tiba-tiba kurasakan tempat tidurku bergerak. Entah mereka akan membawaku kemana. Yang pasti, aku masih dalam keadaan tidak berdaya dan tidak bisa bertanya ataupun menolak.

Mereka menghentikanku disatu tempat yang aku masih tidak tahu berada dimana. Satuhal yang aku tahu. Aku masih didalam rumah sakit ini, karena aroma obat-obatan masih terasa sangat menusuk hidungku. Demi Tuhan, aku ingin segera bangun dan membuka mataku. Banyak hal yang harus aku tanyakan pada Taeyeon Eonni dan juga dr. Shim. Tapi belum juga aku mampu menggerakan tubuhku, lagi-lagi aku mendengar sesuatu.

"Kyuhyun ah, kau sudah bangun?"

Suara itu. Appa? Andwe! Maldo andwe! Tidak mungkin dia!

"Joohyunie.. otthaeyo, Ahjussi?"

Kyuhyun Oppa? Appa dan Kyuhyun Oppa? Apa yang terjadi? Mengapa mereka bersama ditempat ini?

"Semuanya berjalan lancar. Adikmu masih belum bangun usai radiasi yang dia terima. Tapi dokter bilang, semua akan baik-baik saja. Semoga tubuhnya cukup kuat untuk bisa menerima donor darimu sehingga dia bisa menerima segala prosedur pengobatan."

Mwo rago?!! Adik? Tuhan... aku pasti salah mendengarnya. Ani! Mungkin obat-obatan ini membuatku berhalusinasi.

Aku terus mencoba untuk sadar dan membuka mataku, meski semua itu benar-benar membuatku frustasi karena aku masih saja tak mampu melakukan hal sekecil ini.

Lalu aku mendengarnya lagi. Kata demi kata dari suara-suara yang sangat aku kenal. Semakin sempurna kesadaranku, suara itu terdengar semakin jelas.

Aku tidak sedang berhalusinasi!

Aku terus mendengarnya, tanpa satupun kata yang luput dari telingaku. Semua! Suara-suara yang terasa seperti menarikku kedalam lorong waktu yang gelap dan menakutkan. Menyakitkan. Wajah-wajah itu... Eomma... Appa... dan... Cho Kyuhyun.

Mwo? Kakak-ku?

Maldo andwe!! Tidak mungkin! Mereka pasti salah. Apa yang mereka katakan tentang Eomma-ku pasti sebuah kesalahan. Eomma tidak mungkin melakukan semua itu. Tidak mungkin!!! Mana mungkin didunia ini ada kenyataan seperti ini?

Tsk.. Semua ini terlalu menggelikan, Tuhan! Kehidupan ini, dan segala yang terjadi dalam perjalananku benar-benar menggelikan!

Air mataku mulai terasa mencair dari sudut mataku hingga terasa nyaris menggenang ditelingaku. Sekuat tenaga kucoba untuk membuka kedua mataku, tapi aku gagal. Aku benar-benar ingin berlari kearah suara-suara itu dan menanyakan sendiri tentang semua kebenaran itu.

"Ahjussi, Joohyun berhak tahu kebenaran ini. Selama ini dia terus menyalahkanmu karena dia fikir kau telah melarikan diri dari mereka. Dia fikir, kaulah yang telah menelantarkan mereka begitu saja."

"Aku tidak sanggup mengatakannya, Kyuhyun ah. Aku tidak sanggup melihat bagaimana wajah anak itu saat dia tahu semua kebenaran ini. Ani ah! Uri Joohyun sudah cukup menderita. Dia sangat mencintai Eomma-nya dan aku tidak ingin kenyataan ini menghancurkan kenangannya tentang Young ah. Aku rela, gadis kecilku membenciku. Aku memang pantas mendapatkannya. Aku telah gagal menjadi suami yang baik untuk Young ah, dan juga Appa yang baik baginya."

Appa.... waeyo? Wae geuraeyo.. Appa? Aku harus bagaimana sekarang? Aku harus bagaimana saat aku melihatmu lagi?

"Animida. Joohyun juga masih punya Ahjussi. Ahjussi, kita sama-sama hadapi ini. Aku yakin, Joohyun akan mengerti. Dan dia juga sangat merindukanmu, Ahjussi. Aku bisa melihatnya."

"Najunghae, Kyuhyun ah. Najunghae. Bukan sekarang. Aku ingin putriku benar-benar sembuh sepenuhnya. Karenanya, aku serahkan dia padamu. Untuk semua biaya transplantasi dan perawatan putriku, geok cheongma.. aku sudah menyelesaikannya dengan rumah sakit ini. Neomu gomapta, Kyuhyun ah!"

"Mwoeyo? Ahjussi.. kenapa kau harus melakuakannya? Biaya rumah sakit ini biar aku saja yang mengurusnya. Ya Tuhan.. perusahaanmu bahkan baru mulai bangkit lagi. Kenapa kau tidak menyerahkan segalanya padaku saja?"

"Aku ini Appa-nya, Kyuhyun ah. Apa yang aku lakukan, hanyalah sebagian kecil yang memang seharusnya dilakukan oleh seorang Appa."

Aku tidak sanggup lagi!! Aku tidak sanggup mendengarnya lagi!!! Tuhan...... tolong buka mataku!! Aku tidak ingin mendengar semua itu lagi!!! Kumohon hentikan....!!!!

________________

Dan perlahan... sebuah cahaya yang menyilaukan terasa menusuk mataku. Aku mulai bisa membukanya.

"Omo... Seo Joohyun Ssi.. nona sudah sadar?" Seorang suster menghampiriku, lalu memeriksa kedua bola mataku.

"Shim Euisan-nim, Kim Euisan-nin. Seo Joohyun Ssi sudah sadarkan diri."

Suster itu setengah berteriak disamping telingaku. Kedua mataku langsung mengintari semua arah, mencari suara-suara yang kudengar tadi. Tapi tak kutemukan satupun. Disamping kananku, aku hanya menemukan tirai putih membentang dan disamping kiriku, aku melihat Hyoyeon Eonnie yang sedang menangis tanpa suara sambil menatapku cemas.

"Check vital!" Kurasakan tangan dr. Shim membelalakan mataku satu persatu sambil menyorotkan lampu kecil yang menyilaukan.

"Good! Detak jantung normal. Tekanan darah 92/101. Suhu tubuh 34°. Cepat! Selimuti dia dengan selimut lebih tebal dan berikan penghangat lebih banyak. Anastesinya membuat suhu tubuhnya menurun."

Tepat sekali, dokter! Karena aku mulai merasa sekujur tubuhku menggigil. Aku benar-benar seperti akan mati.

"Seo Joohyun Ssi, kau bisa mendengarku?" Suara dr. Shim membuat mataku yang masih terasa berat kembali terbuka. Aku tak cukup punya tenaga untuk menjawabnya dan hanya mengaggukkan kepalaku perlahan.

"Good! Aku akan menyuntikan anti anastesi untuk mengurangi efek menggigil pada tubuhmu. Jarieso, Seo Joohyun Ssi! Kau melakukannya dengan baik."

Baik? Benarkah? Entahlah.. apakah semua ini benar-benar baik seperti yang dr. Shim katakan? Nyatanya, kini aku merasa duniaku benar-benar berantakan. Leukimia, Jung Yonghwa, dan satu lagi... Tiba-tiba aku memiliki seorang Oppa yang selama ini disembunyikan Eomma dariku, hingga aku membeci Appa-ku sendiri karena kebodohan itu!

Sempurna!

Bilapun leukimia ini pada akhirnya merenggut hidupku seperti apa yang terjadi pada Eomma, tak akan ada hal yang membuatku menyesal. Dunia ini semakin terasa menakutkan untukku!

*****

Author POV

Setelah beberapa saat, Seohyun akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inapnya ditemani Hyoyeon dan Suho yang tidak pernah sedikitpun menjauh darinya sejak dia masuk ruang operasi tadi. Gadis itu masih tertidur lelap, karena efek morfin dalam tubuhnya belum sepenuhnya hilang. Begitupun Kyuhyun. Dia ditemani Tn. Seo dan Taeyeon sudah dipindahkan ke ruang rawat inap terpisah. Berbeda dengan Seohyun, Kyuhyun sudah sepenuhnya sadarkan diri. Meski dibagian panggulnya masih merasakan nyeri yang membuatnya tidak nyaman akibat anastesi saat transplantasi tadi, tapi Kyuhyun sudah bisa diajak berbicara.

Kemudian, dia teringat dengan apa yang terjadi di ruang NICU tadi. Batinnya tak tenang, memikirkan apakah Seohyun mendengar semua percakapan itu atau tidak. Kyuhyun tidak tahu bahwa Seohyun terbaring tepat disampingnya karenanya dia berbicara dengan leluasa. Tn. Seo dan Taeyeon juga berfikir bahwa Seohyun masih dalam pengaruh anastesi hingga dia tidak mungkin mendengar apapun yang mereka katakan.

Namun tetap saja! Batinnya tak tenang.

"Geok cheongma, Oppa. Kemungkinan besar Joohyun tidak mendengarnya. Butuh proses untuk seseorang sadarkan diri usai menerima anastesi. Terkadang fikirannya bercampur dengan halusinasi dan rasa kantuk yang tak tertahankan. Semoga saja Joohyun tidak menyadarinya." Taeyeon seolah mengerti kegelisahan yang Kyuhyun rasakan. Karena sejak dia dipindahkan ke ruang rawat inap, dirinya lebih banyak terdiam murung. Begitupun Tn. Seo.

"Semoga saja, Taeyeon ah. Aku tidak ingin kehilangannya lagi." Kyuhyun menghembuskan nafas dengan berat.

"Nanti saat dia terbangun, aku akan menemuinya, untuk memeriksa keadaannya. Saat ini, dia pasti masih tertidur karena efek anastesinya. Aku akan mengabarimu setelah aku bertemu dengannya nanti. Geok cheongma. Istirahatlah. Agar besok kau bisa menemuinya." Taeyeon mengusap tangan Kyuhyun yang kemudian Kyuhyun mengunci tangan kecil itu dalam genggamannya.

"Hhm. Gomawo, Taeyeon ah! Untuk semua yang sudah kau lakukan untukku dan juga adikku. Neomu gomawoseo!" Tatap lemah itu mengiba.

"Sokay, Oppa..! Kau tidak perlu berterima kasih seperti itu. Apa yang aku lakukan adalah bagian dari kewajibanku sebagai dokter. Bila aku memperlakukan Joohyun berbeda, semua karena Joohyun adalah orang yang sangat penting untuk Yonghwa dan juga untukmu. Lebih dari itu, aku mengaguminya. Aku menyukai kalian berdua dan aku senang bisa melakukan semua ini untuk kalian." Taeyeon menatapnya teduh. Beberapa saat, Kyuhyun terdiam.

"Taeyeon ah... apa adikku bisa sembuh?" Seperti ada benda tajam menusuk dadanya, kala dia harus bertanya tentang hal itu. Lelaki itu teramat ketakutan saat dia membayangkan apa yang terjadi pada Eomma-nya, harus terulang dan terjadi lagi pada adiknya.

"Kita hanya akan melakukan yang terbaik untuk menolongnya, Oppa. Teknologi pengobatan dinegara kita saat ini sudah sama canggihnya dengan Amerika dan Jepang. Beruntung, kita menemukannya saat ini, sehingga peluang untuk sembuh masih sangat tinggi. Jangan putus asa. Terlebih dihadapan Joohyun. She need us, Oppa.. so we have to be tough for her."  Taeyeon meremas jemari Kyuhyun dalam genggamannya lebih kuat. Air mata lelaki itu kembali menggenang.

"I'm so scare, Taeyeon ah! Naega jinjja bushowo.." Suaranya tercekat. Lalu dengan serta merta  Taeyeon mendekatkan tubuhnya, kemudian memeluk Kyuhyun erat. Usapan demi usapan dipunggung lelaki itu, meski Taeyeon tahu semua itu tidak cukup untuk bisa mengikis luka hatinya, paling tidak... Kyuhyun harus tahu, bahwa kini dia tidak sendiri.

*****

Hyoyeon masih duduk disamping tempat tidur sahabatnya yang kala itu masih tertidur lelap. Tangannya, dengan lembut mengusap wajah Joohyun dengan handuk yang sebelumnya sudah dibilas air hangat.

"Siapa yang menyangka bahwa gadis nakal ini akan terbaring lemah seperti ini, Suho ah? Hhh... berapa kali kita berdua mendapat masalah karena kejahilan yang dia lakukan? Uri Joohyun, selama ini selalu menjadi pendengar yang baik untuk kita. Tapi anak ini tidak pernah sekalipun mengeluhkan apa yang dia alami dan dia rasakan pada kita. Aigoo.... harusnya kita bertanya padanya, Suho ah. Joohyunie gwaenchanna? Maanhi appa ah? Geok cheongma, Eonni itjana! Ya.. harusnya dulu aku mengatakan semua itu padanya."

Sekali lagi  Hyo mengusap air matanya. Suho meremas bahu sahabatnya seolah gerakan itu mampu menyalurkan kekuatan untuk Hyo. Meski tanpa Hyo tahu, Suho juga amat terpukul dengan semua ini. Bertahun-tahun menjadi sahabat Joohyun dikampus dan juga di KCC, bukan tidak mungkin semua itu merubah apa yang dia rasakan pada Joohyun. Entah sejak kapan, tapi Joohyun bukan hanya sekedar seorang sahabat untuknya. Cinta itu diam-diam dia kubur sendiri dalam hatinya hanya karena dia takut bila dia akan kehilangan sahabatnya jika saja Seohyun mengetahui perasaannya. Melihatnya bahagia bersama Jung Yonghwa, tanpa Joohyun sadari, Suho adalah orang yang sangat terluka karena semua itu. Tapi baginya, melihat Joohyun hidup dan bahagia bersama lelaki lain itu jauh lebih baik daripada melihatnya terbaring tak berdaya seperti itu. Dan leukimia... itu sangat menakutkan untuknya.

"My Barbie will be okay. Dia tidak akan selemah itu. Ya.. Uri Barbie adalah gadis yang tangguh!" Suaranya nyaris tercekat. Wajahnya memerah seiring air mata yang tergenang dikelopak matanya, namun tak sempat jatuh tertumpah.

"Ara! Aku juga yakin, Joohyun tidak akan menyerah semudah itu. Terlalu banyak orang yang mencintai dia dan akan selalu mendukungnya apapun yang terjadi. Terlebih saat ini dia juga memiliki seorang Appa dan Oppa yang sangat mencintainya. Juga Jung Yonghwa. Aku yakin, demi lelaki itu, Joohyun akan berjuang untuk sembuh."

"Aku harap begitu, Noona. Tapi... dimana dia saat ini? Apa dia benar-benar akan menikahi putri tunggal pemilik Kim Coorporate? Tsk.. membaca beritanya saja sudah membuatku kesal." Raut wajah Suho seketika berubah. Begitupun Hyo.

"Mwo rago? Putri tunggal pemilik Kim Coorporate? Darimana kau mendengarnya?" Hyo langsung meletakan handuk ditangannya, kemudian bangkit dan mengajak Suho untuk menjauh dari pendengaran Seohyun lalu duduk di sofa.

"Internet. Berita itu sedang menjadi headline dibeberapa news online. Bahkan ada foto yang memperlihatkan Jung Yonghwa sedang berada di sebuah rumah sakit, sedang menyuapi putri keluarga Kim yang katanya sedang menjalani perawatan usai operasi usus buntu."

"Mwo?! Maldo andwe! Kau pasti salah, Suho ah! Mungkin berita itu bukan tentang Jung Yonghwa Ssi." Semua itu begitu sulit diterima oleh Hyo.

"Molla, Noona! Coba, kau lihat sendiri! Ini..." Suho memberikan ponsel miliknya pada Hyo untuk memperlihatkan artikel yang tadi dia baca. Dan dalam hitungan detik, Hyo pun membelalakan kedua matanya penuh rasa tidak percaya.

"Oh My God! Maldo andwe! Aku tidak percaya ini! Ottokhae? Ijae ottokhaji? Uri Joohyun ottokhae, Suho ah?" Rasa sedih sekaligus marah tergambar jelas diwajahnya.

"Jangan katakan apapun padanya, Noona. Lagipula, kita masih belum tahu kebenaran berita ini. Sebelum ada pernyataan resmi dari kedua keluarga itu, aku ingin kita menjaga Joohyun dari kabar ini." Hyo menggangguk anggukan kepalanya, sambil terus berulang kali membaca artikel ditangannya.

Tanpa mereka sadari, gadis yang sedang terbaring ditempat tidurnya diam-diam membuka kedua matanya perlahan. Hari itu, sepertinya terlalu banyak orang yang membicarakannya dibelakang punggungnya. Mencoba menjaga rahasia-rahasia menyakitkan itu darinya, namun mereka gagal.

She heard everything!

*****

Esoknya, Seohyun terbangun lebih pagi. Kali ini tubunnya terasa lebih ringan dan kedua matanya tidak lagi terasa berat.

Mimpinya tadi... dia bisa dengan jelas melihat wajah Yonghwa-nya dari dekat. Kedua mata lelaki itu tampak sendu, menatapnya tanpa kata-kata. Seolah banyak hal yang ingin dia sampaikan, tapi tak mampu dia ucapkan.

Tangan lemasnya mencoba meraih ponsel dimeja samping tempat tidurnya. Ditatapnya layar ponselnya dengan wallpaper Mr. Gold dan gigi gingsulnya. Lembut, ibu jarinya mengusap wajah itu. She miss him. Tapi... hhh... tak satupun panggilan atau pesan darinya.

Sesaat, Seohyun termenung. Kenyataan-kenyataan pahit yang dia dengar kemarin, kembali berputar dalam benaknya. Bagaimana bisa semua hal mengerikan itu terjadi dalam satu waktu? Lalu tentang Jung Yonghwa... benarkah apa yang mereka katakan?

Gadis itu tampak ragu melihat layar ponselnya. Perang dalam batinnya membuatnya bingung. Haruskah dia mencari tahu kabarnya? Haruskah dia mencoba menghubunginya? Atau.... tunggu saja, dan biarkan takdir memainkan perannya?

Namun gadis itu menyerah. Akhirnya, setelah mencoba mengalahkan ego dan segala fikiran dalam otaknya, Seohyun men-dial nomor ponsel Yonghwa. At least, she have to try.

Tapi...

'Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau diluar jangkauan. Silahkan tinggalkan pesan..'

Tangan yang dia gunakan untuk menggenggam ponselnya, kini kembali terkulai lemas diatas tempat tidurnya. Frustasi. Seohyun benar-benar merasa hilang dan tersesat.

Sekali lagi dia mencobanya, tapi tetap sama. Akhirnya, Seohyun menguatkan hatinya untuk mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dan dia menemukan sebuah artikel dari sebuah surat kabar online ternama di negara ini yang baru saja mereka terbitkan pagi ini.

'Setelah melalui polemik yang cukup rumit, dan beberapa kasus hukum yang harus dihadapinya, akhirnya Jung Taewon Sajang-Nim pemilik Venus Hotel berhasil menyelamatkan posisinya di perusahaan yang telah dirintis keluarganya sejak 3 generasi lalu.

Banyak kalangan yang sempat menduga bahwa Jung Taewon tidak akan mampu mempertahankan posisinya karena desakan para pemegang saham dan juga kepercayaan masyarakat yang sempat menurun padanya, hingga membuat reputasi Venus Hotel sempat mengalami keterpurukan. Namun kemarin siang, salah satu perwakilan Venus Hotel memberikan pernyataan pers bahwa Tn. Jung Taewon masih akan menjabat sebagai Presiden Direktur Hotel bintang lima itu dan kasus hukum yang sempat menjeratnya masih terus berlajut sambil mengumpulkan bukti-bukti bahwa pengusaha berusia 57 tahun itu hanyalah salah satu korban dari tindak kejahatan money laundring yang dilakukan seseorang untuk menjatuhkan reputasinya. Dan saat ini, polisi masih terus menyelidikinya.

Adapun tentang alasan mengapa para pemegang saham tiba-tiba merubah fikiran mereka, dalam hal ini, representative Venus Hotel enggan menjelaskannya lebih lanjut. Namun kuat dugaan, semua itu terjadi karena dukungan dari calon besannya, yang tidak lain adalah pemilik perusahaan mega konstruksi Kim Coorporate, Kim Sukjin.

Kita semua tahu, bahwa hubungan kedua pengusaha besar ini sudah terjalin cukup lama sejak pertunangan putri tunggalnya dengan mendiang putra sulung Jung Taewon, Jung Yongdo, yang kemudian berlanjut dengan adiknya Jung Yonghwa usai kecelakaan yang merenggut nyawanya.

Kabar yang kami terima dari salah satu karyawan perusahaan itu, dalam waktu dekat, keluarga Jung dan keluarga Kim akan segera mengadakan pesta pernikahan putra putri mereka. Ditemui di rumah sakit Busan, Jung Yonghwa yang saat itu sedang menemani Kim Hyunna yang sedang menjalani perawatan pasca operasi usus buntu yang dijalaninya beberapa hari lalu, tidak banyak mengatakan hal rinci kepada kami. Pria tampan yang memilih karier sebagai musisi ini lebih banyak tersenyum dan meminta doa dari semua pihak untuk keluarganya dan juga hubungan dirinya dan Kim Hyunna.

Bila memang pernikahan mereka akan terjadi tahun ini, dipastikan pernikahan ini akan menjadi salah satu pernikahan terhebat di negara ini. Kita tunggu saja kabar baik dari kedua keluarga ini.'

Detik terasa berhenti berputar. Dunia dan seisinya seketika terasa hampa. Senyap, sepi.. dan menakutkan. Yang terdengar kini hanyalah degub jantungnya yang menggila, serta deru nafas yang terasa berat.

Tak ada lagi air mata. Tak ada! Gadis itu tak lagi menangis. Beberapa saat, fikirannya tenggelam mencerna kenyataan demi kenyataan yang terjadi. She had lost everything. Bahkan hanya dengan leukimia saja sudah cukup menjadi alasan baginya untuk lenyap dari hadapan Yonghwa demi untuk menyelamatkannya dari rasa sakit yang lebih menyiksanya. Dan isu pernikahan itu.. seolah semua itu membuat fikirannya semakin jernih. Ya.. Seo Joohyun dan Jung Yonghwa adalah dua orang yang tidak akan pernah bisa hidup dalam satu dunia. Bagaimanapun cinta itu mereka teriakan hingga tenggorokan mereka terluka dan tak lagi mengeluarkan suara, tetap saja... semua itu tidak akan mampu merubah kenyataan.

Jung Yonghwa... membutuhkan seseorang yang bisa memberinya lebih dari sekedar cinta.

Knock.. knock...

Suara ketukan pintu mengaburkan fikirannya. Seohyun menoleh kearah datangnya suara, lalu mendapati seseorang muncul dari balik pintu dengan sebuah senyum diwajahnya. Senyum yang berbeda dari sebelumnya. Senyum yang menyembunyikan rasa takut dan khawatir yang belum jelas alasannya.

"Hai... how are you, Princess?" Kyuhyun berjalan perlahan mendekati tempat tidur Seohyun.

Tidak seperti biasanya. Kali ini, atmosfer diantara mereka benar-benar berubah. Kyuhyun dengan senyum canggungnya, dan Seohyun dengan tatapan datar yang tak sanggup Kyuhyun terka artinya.

Ya, beberapa saat, kedua kakak adik itu hanya saling menatap satu sama lain.

Kyuhyun mulai gusar dan nyaris panik. Teringat lagi pada apa yang terjadi di ruang NICU dan juga percakapan itu. Tapi...

"Oppa... waseoyo?" Akhirnya... suara lemah adiknya membuat gumpalan resah itu sirna seketika. Lelaki itu menghembuskan nafas lega sambil menarik senyuman lebih lebar.

"Mianhae, Joohyun ah. Aku terlambat menemuimu. Aku juga mengingkari janjiku untuk menemanimu saat proses transplantasi kemarin tapi aku..."

"Duduklah, Oppa." Senyum diwajah Kyuhyun seketika memudar lagi. Ekspresi Seohyun dan intonasi suaranya, membuat rasa takutnya kembali datang.

"Bagaimana keadaanmu sekarang, Joohyun ah? Kau.. tidak merasakan gejala-gejala yang aneh, kan? Seperti mual, gatal-gatal, sakit kepala, atau ruam pada tubuhmu?" Kyuhyun menatapnya khawatir.

"Aniyo. Jaega gwaenchannayo. Mungkin karena orang yang mendonorkan sumsum tulangnya adalah orang dengan genetika yang sangat dekat denganku, karenanya tubuhku langsung bisa menerimanya dengan baik."

Dug! Kyuhyun serasa mendapat tamparan hebat diwajahnya.

"Oh? Geu... geuraeso? Ddaengida. Aku sempat khawatir bila saja tubuhmu mengalami gejala-gejala penolakan. Kita mungkin harus segera mencari donor yang lainnya. Syukurlah.. karena kau baik-baik saja." Lelaki itu kembali merekahkan senyum yang aneh.

"Tentu saja. Tubuhku cukup tahu diri, dan tahu cara untuk berterima kasih. Geuronika, tubuh lemah ini tidak harus selalu merepotkan dan membebani orang lain lagi, bukan?" Sebuah senyum merekah diwajahnya kali ini. Tapi entahlah, Kyuhyun merasa senyum itu sangat sinis  dengan kalimat sarkastik itu.

"Oh? A.. apa maksudmu? Eiii... Seo Joohyun.. kau tidak boleh berfikir seperti itu. Kau tidak pernah membebani siapapun. Aku melihat, kau ini benar-benar tangguh. Gadis dengan tubuh lemah ini tidak akan mudah dikalahkan oleh apapun. And see... kau menerima donornya dengan baik."

"Geuraeyo? Hhh.... tapi aku tidak berfikir begitu." Seohyun menundukan pandangannya dengan sisa senyum pahit di sudut bibirnya. Sejujurnya, Seohyun tidak tahu harus bersikap dan berkata apa pada Kyuhyun yang kini dia ketahui sebagai kakak kandungnya itu. Tidak dapat dia ingkari, meski Kyuhyun juga hanyalah korban dari keadaan ini seperti halnya dirinya, tapi dia tak mampu menutupi kekecewaan itu. Terlebih, Seohyun tidak tahu harus marah pada siapa.

Beberapa saat, keduanya saling menatap dengan perasaan masing-masing. Menggelikan! Karena keduanya mengira bahwa salah satu diantara mereka tidak tahu rahasia satu sama lainnya. Kyuhyun masih mengira bahwa Seohyun tidak mengetahui apapun. Kenyataannya, Kyuhyun lah yang kini tidak tahu bahwa Seohyun mengetahui segala yang mereka tutupi darinya.

"Oppa....."

"Hhmm...."

"Apa kau tahu, dimanakah tempat yang paling jauh dan sulit untuk dijangkau dari Korea?" Gadis itu mulai memalingkan wajahnya kemudian menatap lurus kearah jendela. Teramat banyak hal yang berputar dalam kepalanya, hingga tiba-tiba saja mulutnya mengeluarkan kata-kata yang aneh, yang membuat Kyuhyun tertegun sambil mengerutkan keningnya.

"Huh? Tempat yang jauh dan sulit dijangkau? Apa maksudmu?" Untuk alasan yang belum pasti, Kyuhyun merasa, sesuatu sedang terjadi pada Seohyun. Sikapnya berbeda. Dan kali ini Kyuhyun tidak menemukan sinar mata itu dikedua mata adiknya.

"Aniyo.. aku hanya... hhh.." Seohyun menundukan wajahnya.

"Wae? Sebenarnya apa yang sedang mengganggu fikiranmu? Kau benar-benar berbeda, Joohyun ah. Dan itu membuatku cemas. What's going on? Malhaebwa. Siapa tahu aku bisa membantumu." Kyuhyun tak mampu lagi menutupi perasaan cemasnya.  Tapi kemudian dia mendapati sebuah senyum sinis diwajah adiknya. Ya, setidaknya, Kyuhyun merasa seperti itu.

"Membantuku? Lagi? Hhh... waeyo, Oppa? Kenapa kau selalu membantuku? Aku bahkan hanya seseorang yang baru kau kenal beberapa bulan yang lalu. Apa kau memang seseorang yang terbiasa berbuat baik pada siapapun yang terlihat lemah sepertiku? Atau.. kau hanya melakukan ini padaku saja?" Seohyun kembali menatap Kyuhyun dengan lekat. Lagi-lagi pertanyaan itu membuatnya terpaku.

"Oh? Apa maksudmu?" Kyuhyun mulai merasa terganggu. Lagi-lagi Seohyun tersenyum sinis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aniyo. Geunyang... untuk seseorang yang baru saling kenal, kau ini terlalu baik, Oppa. Apa kau tidak takut bahwa aku bisa saja menyalah fahami kebaikanmu? Bagaimana kalau aku akhirnya jatuh cinta padamu? Apa kau tidak takut hal itu akan terjadi?"

Bug!! Lagi-lagi Kyuhyun merasa seperti terkena hantaman hebat diwajahnya. Dia bahkan tak mampu menghindar dari tatapan tajam yang Seohyun arahkan padanya.

"Joohyun ah.. kau ini kenapa sih? Apa sesuatu mengganggumu? Apa Jung Yonghwa..."

"Tidak ada kaitannya dengannya sama sekali! Dan lagi, aku sedang tidak ingin membicarakan apapun tentangnya saat ini." Seohyun melempar tantrum yang lebih menakutkan kali ini.

"Arasso! Sepertinya aku mengunjungimu diwaktu yang salah, Joohyun ah! Fine, bila memang kali ini kau tidak ingin menceritakannya padaku. Sokay. Aku hanya khawatir. Geurae, istirahatlah! Aku hanya ingin memastikan apa kau baik-baik saja usai transplantasimu. Syukurlah, you look fine. Aku akan datang lagi nanti. Semoga saat itu moodmu sudah kembali normal seperti Joohyun yang kukenal." Kyuhyun nyaris beranjak dari tempatnya duduk. Namun seketika ia terhenti lagi...

"Geurae! Terulah menghindar seperti itu. Berdoa saja, semoga masih ada nanti, seperti yang kau bilang."

Kyuhyun menoleh kearah adiknya yang kini tertunduk diatas tempat tidurnya. Dia tak percaya dengan kata-kata samar yang baru saja dia dengar. Gadis ini benar-benar aneh!

"Mwo rago? Seo Joohyun... neol..." Kyuhyun menghela nafasnya dengan berat. Lelaki itu mengusap wajahnya frustasi.

"Joohyun ah.. moseuniri ah, jeongmal? Huh? Kau benar-benar aneh hari ini. Bila ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku, maka katakanlah. Bila ada yang ingin kau tanyakan, tanyakanlah sehingga aku bisa menjawabnya. Jangan bersikap yang membuatku bingung. Ani! Jangan bersikap yang membuatku takut." Giliran Kyuhyun yang melempar sorot mata tajam itu kearah Seohyun.

"Takut? Untuk apa kau merasa takut? Apa yang sudah aku lakukan padamu hingga aku membuatmu merasa takut?" Seohyun menatapnya lebih sinis. Kakak beradik itu seperti sedang perang tantrum kala itu.

"Seo Joohyun, aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa kau memperlakukanku seperti ini? Apa aku melakukan kesalahan padamu? Atau jangan-jangan kemarin kau...."

"Pergilah, Oppa! Aku lelah! Aku hanya ingin tidur." Seohyun menarik selimutnya, lalu bergegas terbaring membelakangi Kyuhyun yang kala itu masih berdiri dalam kebingungan. Dan itu membuat Kyuhyun semakin putus asa. Hingga akhirnya dia melangkahkan kakinya dan pergi. Seperti seorang pengecut, Kyuhyun memilih untuk menghindar sekali lagi. Bukan sekarang waktunya. Setidaknya, bukan disaat Seohyun masih terbaring lemah usai transplantasi itu.

Seohyun kembali menangis. Menangis dengan segenap tenaganya, namun tanpa suara. Dia hanya ingin lenyap. Ingin hilang dari muka bumi ini begitu saja. Dia benci segalanya. Dunia dan semua yang ada didalamnya!

*****

Dear : Miss Joohyun Seo

Aku sudah membaca novel yang kau tulis untuk tugas akhirmu yang diberikan oleh Professor Nam minggu lalu, saat aku berkunjung ke universitasmu. Violet Sun Set-mu benar-benar mencuri hatiku. Selama dua hari aku membacanya, aku merasa seolah fikiranku tersandera dalam cerita yang kau tulis. Entahlah, tiba-tiba aku merasa menjadi seorang James Golden dalam bukumu. Aku jatuh cinta dengan cara James mencintai Violet, plus.... aku bisa merasakan betapa parahnya patah hati yang James rasakan saat Violet tiba-tiba menghilang disuatu senja. Sungguh... ternyata cinta seharusnya hanya sesederhana sekotak coklat yang Violet buatkan dihari James menyusulnya ke rumah tepi pantai. Ya.. harusnya sesederhana itu.

Aku sangat menantikan novelmu ini diterbitkan dipasaran. Aku akan menjadi pembeli pertamamu, Miss Joohyun Seo.

Over all, aku sudah mengirim surat resmi ke universitasmu, bahwa University of New York ingin memberimu kesempatan untuk lebih banyak mengenal dan mempelajari sastra disini. Aku akan merasa sangat bahagia, bila kita akan sering bertemu dan berdiskusi andai saja kau memutuskan untuk menerima beasiswa ini.

Miss Joohyun Seo, aku menantikan jawabanmu segera.

Regards,
Prof. Cedrik Lynn

Seohyun menerima email itu beberapa hari yang lalu. New York. Haruskah?




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar