Jumat, 29 Mei 2015

The World Within Chapter 14






The World Within

Author               : Jingga8
Genre                 : Romance
Rating                : M ( 18+ )
Cast                    : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Poster By           : Ismi Nuraulia







Losing

Chapter 14

Bulan depan,  jadwal dari serangkaian World Tour CNBLUE akan dimulai. Yonghwa dan ketiga koloninya sedang berada ditengah kesibukan mereka dalam mempersiapkan semua itu. Siang itu, keempat lelaki itu sedang berada di studio mereka. Masing-masing sibuk dengan alat musik yang mereka pegang.

Tiga bulan berlalu sejak Jonghyun, Minhyuk dan Jungshin menemukan surat berisi teror itu. Dan hingga kini, Yonghwa masih belum mengetahuinya. Syukurlah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi karena setelah melewati beberapa penyelidikan, ternyata ancaman itu hanya omong kosong saja. Pengirim surat itu berhasil ditangkap dan ternyata motif dibalik itu hanyalah iseng belaka karena kebenciannya pada Seohyun. Dan ancaman itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kecelakaan panggung yang dialami SNSD di LA. Meski begitu, remaja itu tetap harus merasakan dinginnya dinding penjara untuk mempertanggung jawabakan keisengannya itu. Tidak cukup sampai disitu, Jonghyun bahkan datang sendiri ke penjara tempat Moon Jaeyeong itu menghabiskan masa 20 tahun hukumannya, untuk memastikan bahwa perempuan gila itu masih berada disana dan tidak bisa berbuat gila lagi. Setelah itu, barulah Jonghyun merasa lega.

Tiba-tiba phonecell Yonghwa berdering. Seohyun meneleponnya.

“Hello... Angel..! Already miss me?”

“Huuuuuuuu!!!!!” Ketiga dongsaengnya serempak menyoraki Yonghwa. Rasanya sulit untuk Jonghyun, Minhyuk dan Jungshin untuk membiasakan diri mereka menahan betapa menyebalkannya Yonghwa saat setiap kali dia memamerkan kehidupan pernikahannya.

“Hyun... baby... are you there?” Sekali lagi Yonghwa menyapa karena suara Seohyun belum terdengar.

“Op...pa....” Senyum diwajah Yonghwa seketika sirna saat dia mendengar suara Seohyun-nya gemetar.

“Hyun... wae geurae? Boseumniri ah?” Yonghwa bangkit dari duduknya disertai raut wajah panik. Ketiga adiknyapun tak kalah kagetnya.

“Oppa... aku berdarah...! Banyak darah... Oppa... aku takut...” Seohyun terdengar menangis kencang.

“Mwo? Hy.. Hyun... kau dimana? Apa yang terjadi?” Yonghwa semakin kalut.

“Cepat pulang, Oppa... aku takut.....!!!” Seohyun menangis semakin menjadi. Tanpa berfikir panjang, Yonghwa meraih tas nya lalu setengah berlari menuju pintu.

“Gidari ah, Hyun... aku segera pulang. Aku akan menelepon ambulance!”

“Ani.... Oppa pulang dulu!! Aku tidak mau sendirian! Aku benar-benar takut Oppa....” Yonghwa semakin panik. Tanpa kata-kata, dia meninggalkan ketiga dongsaengnya dalam ketakutan dan kebingungan.

Kurang dari 30 menit, Yonghwa tiba dirumahnya. Dia berlari menuju kamarnya dan berusaha menemukan Seohyun. Yonghwa mendengar tangisan Seohyun dari kamar mandi dan dengan tergesa menghampirinya. Dan...

“Ya Tuhan... Joohyun ah.. apa yang terjadi?” Yonghwa mendapati istrinya yang bersimbah darah duduk dilantai kamar mandi. Darah segar bahkan masih mengalir melumuri kakinya.

“Oppa.... “ Bibirnya tampak sangat pucat. Tangannya dingin dan gemetar. Seohyun benar-benar tampak ketakutan. Yonghwa segera memeluknya.

"Oppaa.... sepertinya... kita kehilangan bayi kita..." Seohyun semakin terisak dalam pelukan Yonghwa. Sementara itu, Yonghwa tersentak kaget saat mendengar kata bayi.

"Mwo? Kau... kau hamil, Hyun? Sejak kapan?" Dengan tatapan panik bercampur khawatir, Yonghwa melepas pelukanya dan berusaha untuk setenang mungkin mendengarkan penjelasan Seohyun. Karena sejujurnya, dia sama sekali tidak mengerti akan semua itu.

"Aku juga tidak tahu, Oppa. Aku hanya menyadarinya bahwa dua bulan ini aku tidak haid setelah pagi ini perutku terasa kram dan.... dan banyak darah mengalir dari rahimku. Oppa... ottokhae?"

Seohyun kembali menangis sambil menahan sakit diperutnya. Ani! Sakit diperutnya bahkan tidak seberapa dibanding rasa sakit yang kini meremas hatinya. Fikiran bahwa dia telah kehilangan buah cintanya rasanya ribuan kali lebih menyakitkan.

Yonghwa seperti baru saja terkena sengatan listrik tegangan tinggi yang membuat tubuhnya membeku tak dapat bergerak. Yonghwa menutup kedua matanya dan berusaha mengatur ritme nafasnya.

"Gwaenchanna....! Gwaenchanna, Hyun! Uljima... kita ke rumah sakit sekarang, yah?!" Yonghwa berusaha bersikap tenang demi Seohyun. Meski kenyataan itu juga terasa menyakitkan untuknya. Saat ini yang terpenting adalah untuk segera memeberi pertolongan pada Seohyun dengan segera membawanya ke rumah sakit.

2 jam kemudian….

Seohyun masih berada di ruang tindakan. Sudah beberapa jam berlalu tapi Yonghwa masih belum mendengar kabar tentang keadaan Seohyun. Jantungnya berdegup kencang sejak tadi. Keringat dingin mengalir deras karena untuk kesekian kalinya Yonghwa harus berada dalam sebuah rumah sakit dan menunggu Seohyun yang entah bagaimana kondisinya.

Lalu seorang suster datang mengahampiri Yonghwa.

"Anda... Tuan Jung?" Tanya suster itu.

"Betul, Sus. Bagaimana istri saya?" Yonghwa bangkit dari duduknya masih dengan raut wajah cemas.

"Istri anda sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Mari, saya antarkan." Suster itu lalu memimpin jalan dan Yonghwa mengikutinya dari belakang.

Mereka tiba disebuah ruangan VVIP dan suster itu membantu membukakan pintunya. Tampak seorang Dokter sedang menyuntikan sesuatu kedalam selang infus Seohyun yang kala itu masih tertidur dibawah pengaruh anastesi. Dokter itu tersenyum dan meanggukan kepalanya begitu melihat Yonghwa masuk. Yonghwa membalas dengan anggukan serupa sambil berjalan mendekati tempat tidur Seohyun.

"Bagaimana istri saya, Dok?" Melihat Seohyun terbaring lemah seperti itu benar-benar membuatnya gundah. Dokter itu mengajak Yonghwa berjalan beberapa langkah menjauh dari tempat tidur Seohyun.

"Istri anda sudah memperoleh pertolongan. Namun mungkin dia akan merasa lemas selama beberapa hari karena efek anastesi. Tapi saat ini, kondisinya baik-baik saja." Hhh... ada rasa lega dalam dadanya mendengar bahwa Seohyun-nya baik-baik saja.

"Lalu... bayi kami?" Tak dapat Yonghwa pungkiri bahwa meski keselamatan Seohyun adalah prioritasnya, tapi sedikit harapan menggantung dalam batinnya untuk dokter bisa menyelamatkan bayinya juga.

"Saya minta maaf, karena kami tidak bisa menyelamatkan kehamilannya. Seo Joohyun Ssi mengalami pendarahan yang cukup hebat yang disertai dengan kram. Dan dari hasil USG, kami melihat janin nya tumbuh diluar uterus. Dalam istilah medis kasus ini disebut ectopic pregnancy. Bilapun kehamilan ini diteruskan, akan sangat berisiko terutama bagi sang ibu. Jadi, kami melakukan tindakan kuretase untuk membersihkan janin itu dari rahim istri anda."

Seketika kakinya terasa lemas setelah mendengar penjelasan dokter barusan. Dia baru saja kehilangan bayinya. Calon anak pertamanya. Tapi mendengar bahwa kehamilan itu sangat berbahaya untuk Seohyun, itu membuatnya semakin lemas. Disatu sisi Yonghwa bersyukur karena Seohyun selamat dan terhindar dari bahaya. Tapi disisi lain, diapun tidak bisa merasa senang karena kehilangan ini. Bagaimanapun janin itu adalah anaknya. Darah dagingnya dan sebelum dia melihat rupa buah hatinya itu, Yonghwa harus rela kehilangannya.

Dokter segera meninggalkan Yonghwa dan Seohyun usai memberikan penjelasan. Kini hanya tersisa mereka berdua dalam ruangan itu. Yonghwa duduk disamping tempat tidur Seohyun yang kini masih terlelap. Hatinya benar-benar sakit, untuk kesekian kalinya Yonghwa melihat Seohyun dalam keadaan seperti ini.

Dengan lembut, tangannya mengusap kepala Seohyun. Apa yang harus dia katakan padanya nanti, bila Seohyun bertanya tentang bayinya? Bagi Yonghwa pun kenyataan ini cukup menyakitkan. Apalagi untuk Seohyun? Genangan air mata sudah menggenang dikelopak matanya. Meski sekuatnya dia menahan, tetap saja.... kehilangan ini begitu menyakitkan.

Tidak lama, Seohyun membuka matanya dan melihat Yonghwa-nya berair mata disampingnya.

"Oppa.... bayiku...." Dengan suara yang lemah, Seohyun hanya teringat pada janin yang dikandungnya. Dia tidak tahu segala prosesnya karena Seohyun sempat tidak sadarkan diri sebelum tiba di rumah sakit. Yonghwa tidak sanggup penjawabnya. Dia hanya menundukkan kepalanya dan dari situ Seohyun tahu apa yang telah terjadi pada bayi mereka. Air matanya kembali mengalir.

"Mianhae, Oppa! Naega jalmothaeseo! Jeongmal mianhae... aku benar-benar tidak tahu kalau aku hamil. Maafkan aku, Oppa... aku tidak bisa menjaga anak kita." Seohyun kembali terisak dan Yonghwa segera memelukanya.

"Gwaenchanna, baby...! Gwaenchanna!! Ini yang terbaik dan semua bukan salahmu. Kita masih terlalu muda dan tidak mengetahuinya. Lagipula, kehamilanmu terlalu beresiko. Bayi kita tumbuh diluar uterusmu dan itu sangat berbahaya untuk kalian berdua. It's okay, honey... kita bisa mencobanya lagi setelah keadaanmu benar-benar pulih. Hhm?"

Meski kejadian ini cukup menjadi pukulan untuk Yonghwa, tapi dia tahu... semua ini bukan kesalahan siapapun. Terlepas dari betapapun mereka mengingikan kehadirannya, tapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa jika ternyata Tuhan lebih sayang pada bayi mereka hingga Dia mengambilnya kembali. Dari sini, mereka akan belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Belajar menjadi calon orang tua yang bila saatnya nanti Tuhan kembali menitipkannya, mereka benar-benar telah siap.

~To Be Continue~

And i cried so hard while writing this chapter. Actually... it was my real experience and i still remember how painful it was... T_T

Pernikahan itu tidak selalu terisi dengan tawa. Sesekali, terkadang air mata harus menjadi bagian dalam salah satu episode nya. Tapi yang terpenting dari semuanya adalah... bagaimana untuk selalu melibatkan Tuhan dalam segala ujian dan bergantung segalanya pada pertolongan-Nya. Dan Tuhan lebih tahu bagaimana cara terbaik untuk menyayangi kita. ^_^





The World Within Chapter 13






The World Within

Author               : Jingga8
Genre                 : Romance
Rating                : M ( 18+ )
Cast                    : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Poster By           : Ismi Nuraulia







Second Honeymoon

Chapter 13

Seohyun  terbangun setelah sinar mentari mulai menyinari wajahnya dari jendela hotel yang tirainya sudah tersibak. Dia menemukan dirinya terjaga sendiri. Seingatnya, seorang vocalist tampan tengah terbaring disisinya beberapa jam lalu. Dimana dia kini?

Mata sayu setengah mengantuknya dia paksakan untuk mencari sosok itu disekeliling kamar hotel tempat dia menginap selama liburan ini. Lalu dia menemukan pintu menuju ke balcon kamar itu terbuka. Setelah meregangkan otot tangan dan pinggangnya, Seohyun mengikat rambutnya lalu berlajan menuju balcon.

Segera setelah dia melewati pintu, dia langsung disuguhi dengan pemandangan indah yang luar biasa memanjakan matanya. Dari atas balcon, hijaunya pegunungan Alpen benar-benar seperti sihir yang membuat lidahnya terasa kelu. Tapi bukan itu! Satu hal yang membuatnya begitu terpesona adalah ketika dia melihat punggung seseorang tengah berdiri menghadap pegunungan dihadapannya. Ribuan hari dia lewati bersama lelaki itu, namun baru kali ini dia tersadar bahwa... bahkan punggungnya pun terlihat begitu indah. Terlebih saat view itu menyatu dengan hamparan pegunungan Alpen, Seohyun benar-benar terpaku dibuatnya.

Sepertinya Yonghwa juga sedang berada dalam perngaruh sihir Sang alam hingga dia tidak menyadari bahwa Seohyun sedang menikmati ‘lukisan’ punggung suaminya. Sampai dia merasakan sepasang tangan melingkar dipinggangnya dan punggungnya mulai terasa hangat. Yonghwa tersenyum. Matanya menatap jemari Seohyun diperutnya. Dengan lembut, Yonghwa menggenggamnya.

“Sudah bangun.. ternyata...” Lembut, dia menyapa malaikatnya.

“Hmm...” Seohyun menjawab singkat. Dia masih menikmati punggung itu seolah tidak akan pernah rela melepaskannya.

“Aigoo.. my baby... pasti kamu masih mengantuk.” Yonghwa tertawa kecil mendengar jawaban singkat istrinya.

“Ani. Geunyang..... bogoshiposeo, Yong...!”

Hening. Kata-kata yang baru saja merdu terucap dari bibir Seohyun, berhasil membuat debar jantung Yonghwa berdegup kencang. Setiap kali dia mendengar kata-kata manis penuh cinta terucap dari bibir Seohyun, setiap kali pula perasaan seperti itu hadir. Seolah itu adalah pertama kalinya Yonghwa mendengar Seohyun mengatakannya. Happy, fluttering, exciting, touching, love, seperti semua rasa itu bercampur aduk dalam satu waktu.

Yonghwa menghela nafas panjang, sebelum akhirnya dia membuat tangan Seohyun terlepas dari tubuhnya. Yonghwa berbalik dan menghadap tepat kearah perempuan yang meski tanpa make up seperti itupun dia terlihat luar biasa cantik. Dengan lembut, Yonghwa mengusap kepala Seohyun. Dalam setiap usapan, ada banyak doa dan kata yang Yonghwa tak mampu mengucapnya dengan bibirnya. Beberapa waktu, Yonghwa hanya menikmati indahnya wajah itu dihadapannya.

“Bogoshiposeo, Hyun...! Aku merindukanmu lebih dari kamu merindukanku. Bahkan setiap detik, meski aku sedang menatapmu seperti ini, aku masih saja merindukanmu. Dan mungkin seumur hidupku aku akan melewati hari-hari seperti ini. Selalu merindukanmu.” Teduh, Yonghwa menyelami bening mata perempuan yang sudah dinikahinya selama setengah tahun ini.

“Na do, Oppa! Meski kini aku menikahimu, tetap saja.... rasa takut kehilanganmu bahkan kian membesar setiap waktunya. Aku takut, saat suatu hari aku terjaga dan menemukan dalam matamu tidak ada lagi cinta untukku. Aku takut, waktu akan merubahmu dan membuatmu tersadar tentang betapa tidak sempurnanya aku. Aku takut, waktu akan mencurimu dariku.” Entah kenapa, tiba-tiba perasaan sendu seperti itu tiba-tiba hadir setelah melihat punggung Yonghwa tadi. Yonghwa mengerutkan keningnya disela senyumnya.

“Omo... wae kamjagie, Angel? Kenapa tiba-tiba  kamu terdengar melancholic sepagi ini? Apa maksudmu dengan waktu akan mencuriku darimu? Huh?” Yonghwa menatap istrinya masih dengan senyum diwajahnya.

“Hyun, listen... waktu tidak akan pernah mencuriku darimu. Kau tahu kenapa? Karena aku sudah terlebih dulu mencurimu darinya. Dan aku pastikan padanya, bahwa dia tidak akan pernah bisa menjauhkan kita sampai kapanpun.” Sejenak Yonghwa tertawa kecil lagi disela ucapannya.

“Dan tentang ketidaksempurnaanmu... Hhhh... Seo Joohyun....

Setelah apa yang terjadi pada cinta kita, kau fikir aku akan menyerah hanya karena ketidaksempurnaan yang kau miliki? Baby, bila kaupun menyadari bahwa dirimu tidak sempurna, lalu bagaimana denganku? Kau pasti bisa melihat dengan sangat jelas bahwa aku lebih tidak sempurna darimu, bukan?” Yonghwa mengusap pipi Seohyun.

“Joohyun ah, aku akui... bahwa aku jatuh hati padamu untuk pertama kali memang karena kecantikanmu pada awalnya. Tapi yang membuatku pada akhirnya memutuskan untuk bersamamu adalah karena aku tahu tentang betapa tidak sempurnanya dirimu. Dengan sinar yang kau pancarkan diatas panggung, kusadari, ternyata banyak sekali ruang kosong dalam hidupmu. Banyak sekali hal yang kau lewatkan saat kau sibuk mengejar mimpimu. Semua itu membuatku ingin mengisinya. Banyak hal yang ingin aku tunjukkan padamu bahwa dunia ini lebih indah dari sekedar nama SNSD dan SM yang selama ini mengelilingimu. Melihat betapa kaku dan kesepiannya kamu saat itu, aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak peduli padamu atau menganggapmu hanya sekedar co star biasa.

Aku ingin melindungimu dan melengkapi puzzle-puzzle yang hilang dalam hidupmu sebelum kita bertemu, Joohyun ah! Dan sejalan dengan itu, tanpa kusadari akupun sedang membuat diriku menjadi lelaki yang lebih bahagia. Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa aku harus hidup dengan baik dan tumbuh menjadi lelaki yang sukses untuk bisa membahagiakan seseorang yang ingin aku lindungi.

Dan itu adalah kamu.... Seo Joohyun...”

Mata Seohyun mulai berkaca-kaca dan Yonghwa tahu bahwa sebentar lagi perempuan cengeng ini akan kembali menangis seperti setiap kali dia usai menonton romantic drama.

“Aigooo... jebbal, Baby.. this is our honemoon, you know? What with those tears and sadness? Dengarkan aku, aku akan membuat peraturan selama kita disini. First... no sentimental conversation like before. Aku tidak suka mendengar kata-kata sedih seperti itu. Kedua, no tears. Bahkan saat kau mengantuk atau tertawapun, tahan air matamu dan jangan sampai aku melihatnya...”

“Mwo?!!!!” Seohyun menyela ucapan suaminya yang terdengar tidak masuk akal. Namun segera terhenti karena sebuah kecupan dibibirnya menghentikannya.

“Ketiga... jangan menyela saat suamimu membuat aturan... atau kau akan dihukum.” Yonghwa tersenyum nakal setelah mengecup bibir istrinya dan Seohyun kehilangan kata-katanya.

“Terakhir... kau harus bangun pagi, Ny. Jung!! Really.... ini adalah honemoon kedua kita dan kau selalu bangun siang seperti saat kita di Hawaii dulu. Aku ingin mengajakmu mengunjungi banyak tempat, tapi karena kau tidur seperti bayi kecil... aku pun jadi ikut-ikutan tertidur bersamamu. Dan honeymoon kita hanya terlewati diatas tempat tidur sampai waktunya kita kembali ke Seoul.”

Seohyun memutar bola matanya diringi senyum mengejek saat mendengar kalimat terakhir Yonghwa. Mulutnya perlahan menggerutu.

“Psss... seolah kau tidak menyukainya, Oppa! Siapa yang menyandera tubuhku di tempat tidur?” Suaranya terdengar samar, tapi Yonghwa mendengarnya.

“Mwo?!!! Apa kau bilang?”

“Mwo?!! Apa yang kukatakan salah? Oppa mengatakan itu, seolah akulah yang membuatmu menghabiskan waktu ditempat tidur. Pshh... Seolah Oppa lupa, bahkan saat aku perlu untuk mandi atau makan sekalipun kau selalu mengikutiku dan membuatku harus melakukannya dengan terburu-buru. And after that, Oppa kembali menyeretku ketempat tidur, kau ingat.. Tuan Jung?” Akhirnya mood ‘berdebat’ Seohyun kembali.

“Mwo?!! Aigoo... Ny. Jung... kau berkata seperti itu seolah kau tidak menikmatinya. Ah.. Chamm!!” Yonghwa melipat kedua tangannya didadanya, siap melayani ratu debat dihadapannya.

“Geurae!! Maja!! Aku menikmatinya. Saaangaaat menikmatinya bahkan. Kau tahu, tadinya aku berniat untuk memberimu banyak ‘kupon’ hari ini, Tuan Jung. Tapi sepertinya... kau mulai merasa bosan dengan ‘Bed Service’-ku. So... aku tarik lagi semua kupon-kupon itu. Heol... Rule number 5... NO BED GAME SESSION selama kita disini, TUAN JUNG YONGHWA....!!”

Seohyun tersenyum licik sambil memutar badannya lalu kembali kekamar mereka sesaat setelah mengibaskan rambutnya penuh semangat kemenangan. Yonghwa beberpa detik hanya terpaku dengan mulut menganga mendengar apa yang baru saja Seohyun katakan. Ini tidak benar! Mildang dengan Seohyun hanya akan berakhir dengan kesengsaraan untuk Yonghwa. Yonghwa segera menyadari itu dan segera berlari mengejar Seohyun ke kamar mereka.

Diam-diam Seohyun terkekeh sendiri melihat betapa shock-nya Yonghwa. Dia yakin, suaminya akan sangat menyesali kata-katanya.

“Napeun namja! Hhh... kau mencuri cinta pertamaku, ciuman pertamaku, malam pertamaku, dan banyak hal pertamaku yang berhasil kaudapatkan, Jung Yonghwa!! Mildang? Hah.. jinjja...! Geurae.. kau lupa bahwa aku sudah belajar banyak tentang itu.” Seohyun menggerutu selama dia berjalan menuju kamarnya dan Yonghwa mungkin tidak mendengarnya.

~To Be Continue~



Jumat, 15 Mei 2015

The World Within Chapter 12


The World Within

Author               : Jingga8
Genre                 : Romance
Rating                : M ( 18+ )
Cast                    : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Poster By            : Ismi Nuraulia





Romantic Park….

Chapter 12

Polisi masih menangani kasus terror yang dilayangkan seorang psyco pada Yonghwa. Hingga kini, Yonghwa maupun Seohyun belum mengetahui semua ini. Jonghyun, Minhyuk, Jungshin dan manajemen nya masih merahasiakan semua ini dari Yonghwa. Diam-diam mereka membayar beberapa bodyguard yang akan selalu mengawasi Yonghwa dan Seohyun kemanapun mereka pergi. Begitupun dengan para detektif yang kini menangani kasus ini. Yonghwa sengaja mereka biarkan untuk tenang dulu setelah kejadian yang menimpa Seohyun saat konser SNSD di LA beberapa minggu lalu. Dan kini, keduanya berencana untuk berlibur ke Eropa selama beberapa hari setelah Seohyun benar-benar pulih dan materi album baru CNBLUE telah selesai seluruhnya hingga saatnya comeback bulan depan.

Yonghwa dan Seohyun tiba di Florence, Italia. Tempat yang penuh sejarah untuk mereka dan merupakan saksi bisu saat setahun lalu Yonghwa melamar Seohyun. Rasanya baru kemarin perasaan dag dig dug itu membuncah dihati keduanya.

Flash Back

Malam itu, Yonghwa mengajak Seohyun berjalan setelah selesai makan malam di restaurant Italia yang memang menyajikan menu favorit keduanya. Mereka sepakat untuk kembali ke hotel mereka dengan berjalan kaki sambil menikmati pemandangan Florence di malam hari. Yonghwa masih ingat betapa gugupnya dia malam itu. Tangannya berkeringat hingga membuat Seohyun-nya tidak nyaman saat berada dalam genggamannya. Yonghwa memang sudah merencanakan segalanya. Romantic dinner namun dengan nuansa casual sehingga mereka tidak harus menggunakan suit formil. Begitupun dengan gitar yang tergantung dipunggungnya. Seohyun pada awalnya kebingungan, untuk apa Yonghwa membawa gitarnya saat makan malam mereka? Namun tidak terlalu dihiraukannya. Yonghwa-nya adalah seorang musisi. Dan seorang musisi membawa gitarnya adalah sesuatu yang sangat biasa. Fikirnya kala itu.

Lalu, mereka tiba disebuah taman kota yang ternyata bernama Piazzale Michelangelo Square. Yonghwa meminta Seohyun untuk berhenti dan duduk disebuah bangku taman. Angin musim semi bertiup sejuk. Diatas ketinggian Piazzale Michelangelo Square, lampu kota Florence tampak seperti taburan bintang ditengah gelapnya malam. Perfect! Tuhan benar-benar membantu Yonghwa kala itu. Cuaca yang cerah, angin yang berhembus lembut, temaram lampu yang romantis, dan jangan lupa bahwa saat itu mereka sedang berada di Italia. Negara yang memang sudah sejak lama berada dalam list untuk mereka datangi bersama suatu saat.

Yonghwa menghela nafas panjang. Jantungnya berdegup lebih kencang dibanding saat pertama kali CNBLUE melakukan debut mereka. Malam itu, sebuah permintaan akan merubah total hidupnya. Sepenggal kalimat itu akan menjadikan sisa hidupnya akan seperti surga atau malah sebaliknya akan menempatkannya di neraka tanpa akhir bila saja yng terjadi nanti tidak sesuai mimpinya. Dalam kegugupannya, akhirnya Yonghwa mengambil gitar dipunggungnya. Seohyun melihatnya penuh antusias. Dia mengira, Yonghwa hanya akan menyanyikan sebuah lagu untuk mengisi keheningan malam saja.

Yonghwa mulai memetik gitarnya. Merdu, petikan demi petikan melodi itu mengalun ditelinga Seohyun. Nada-nada itu begitu asing ditelinganya. Bisa dikatakan, itu adalah pertama kalinya Seohyun mendengar melodi itu. Hingga akhirnya, Seohyun mulai mendengar pangerannya bernyanyi.

Damn.. why so hard to say
Secret feelings locked away
Heaven knows I’ve always felt so much for you

I’m not that romantic
Even worse I’m sarcastic sometimes..
And now it’s time I tell you this..
What’s always been my only wish…

Even though I’m not spiderman or superman
I’ll be the one who guards you
Night and day, trust me..
I don’t need a spider web or laser eyes
Cause you’re giving me the strength to say…
Share your life and be my wife…”

Dan bait terakhir itu mengalun lembut namun tajam menancap dihati Seohyun. Seiring dengannya, Yonghwa pun menatapnya dengan tatapan teduh penuh pengharapan. Yah, itu lagu yang dia tulis untuk Seohyun-nya. Lagu yang sejujurnya Yonghwa jadikan alat untuk mengungkapkan permohonannya karena lidahnya terlalu kelu bila harus mengucapkan kalimat itu tanpa bantuan gitar dan nada. Lewat lagu itu, Yonghwa berharap Seohyun-nya tersentuh hingga tidak lagi memiliki alasan untuk menolaknya. Jujur saja, meski setelah beberapa tahun bersama dan tidak sedikitpun mereka meragukan cinta mereka terhadap satu sama lain, namun tetap saja… “Share your life and be my my wife” bukanlah kalimat sederhana yang akan Seohyun jawab IYA dengan mudah. Terlebih setelah tragedy beberapa bulan sebelumnya.

Seohyun terpaku. Diam tak bergeming. Meski saat itu hanya temaram lampu taman yang membantu penglihatan mereka, namun Yonghwa dapat  dengan jelas melihat bening mata malaikatnya sedang menatap penuh tanya. Tentu saja semua itu menambah kritis kegugupan yang sedari tadi berusaha disembunyikannya. Really… it was so damn hard for him. ‘Melamar’ itu ternyata tidak se-sederhana dan semudah yang selalu dia lihat di dalam drama. Akhirnya, Yonghwa menguatkan hati untuk lebih berani menyatakan isi hatinya malam itu. Apapun jawaban dan keputusan Seohyun, dia akan berusaha menerima dan menghormatinya. Lagipula, semua sudah berjalan sejauh itu, kan? Yonghwa meletakan gitarnya disamping bangku taman yang dia duduki dan perlahan meraih tangan kecil itu kemudian  menguncinya dalam genggaman.

“Seo Joohyun, hhhmm… aku tahu, aku akan menemukan reaksi seperti ini saat kau mendengar laguku. Entah karena kau terlalu menyukai laguku, atau sebaliknya. Entah karena kau mengerti makna lirik laguku, atau hanya mendengarnya sebagai sebuah lagu cinta biasa.” Yonghwa berusaha mencairkan kebekuan itu dengan senyum dan canda kecilnya. Meski sejujurnya, terasa garing dan sama sekali tidak lucu.

“But, Angel…

Malam ini, ditempat yang memang seharusnya kita berada saat moment seperti ini terjadi, dengan segala kekurangan yang aku miliki, Seo Joohyun… aku ingin mengabadikan waktu bersamamu dalam sebuah ikatan yang tidak akan bisa dipisahkan oleh manusia. Aku ingin memilikimu dengan cara yang seharusnya. Bukan hanya sebuah cinta tanpa bentuk integriti dan tanggung jawabku.

Yah… aku menginginkanmu lebih dari ini, Hyun….

Mungkin aku terlalu serakah untuk mengharap lebih dari apa yang sudah kita jalani saat ini. Tapi, sayang…. Aku benar-benar ingin terus bersamamu bukan untuk saat ini saja. Dimasa depan, diwaktu yang ku tidak tahu akan seperti apa hidupku nanti, tapi aku ingin menjalaninya bersamamu. Aku ingin memberikan seorang Eomma yang luar biasa sepertimu untuk anak-anak ku nanti.

Seo Joohyun, share your life, and be my only wife….”

Yonghwa melihat butiran bening jatuh tertumpah dipipi malaikatnya begitu kalimat terakhir itu selesai dia ucapkan. Seohyun menundukkan kepalanya dan berusaha menyembunyikan air mata cengengnya. Panik. Yonghwa benar-benar panik saat itu. Tangannya yng masih gemetar berusaha meraih dagu Seohyun lalu membuatnya untuk kembali menatapnya.

“Baby… mianhae.. apa kata-kataku barusan membebanimu? Jinjja mianhae, Hyun.. aku tidak bermaksud membuatmu tertekan ataupun memaksamu.” Wajah Seohyun kala itu sudah kembali terangkat menghadap Yonghwa namun matanya tetap tertunduk dan berusaha menghindari tatapan Yonghwa. air matanya pun masih terus mengalir dan semakin menambah kepanikan yang Yonghwa rasakan. Yonghwa semakin erat menggenggam tangan Seohyun dan mulai menyesali tindakan gegabahnya.

“Aigoo… baby.. jebbal, uljima! Aku benar-benar minta maaf dan menyesal telah melakukan kegilaan ini. Aku pasti benar-benar gila, Hyun! Mianhae… geunyang… lupakan saja apa yang aku katakana tadi, huh?! Anggap saja aku tidak pernah…..”

“I do, Oppa! I do!”

“……………………….”

Hening. Beberapa saat, waktu terasa berhenti. Yonghwa berada diantara imaji dan nalar sehatnya. I do, katanya? Yonghwa tak hentinya menatap lekat bening mata itu. Berusaha mencerna arti kata I do itu. Kini, giliran dirinya yang tertegun, tersesat tak bergeming dengan jawaban Seohyun.

“Oppa…. Aku bilang aku mau!!!! Phabo!! Kau mempermainkanku yah??!!” Seohyun merengek manja melihat Yonnghwa yang hanya ternganga tanpa reaksi apapun setelah mendengar jawabannya. Dan segera, Yonghwa membawa kesadarannya kembali saat itu.

“Ah? Mwo? A.. ani ah.. Joohyun ah!! Aku… aku…” Kata-katanya berhenti disitu. Sekali lagi Yonghwa membiarkan dirinya tenggelam dalam teduhnya mata bidadari dihadapannya yang baru saja mengatakan bersedia untuk menjalani sisa hidunya bersamanya. Saat itu, Yonghwa sekuatnya mengunci air mata yang terasa urgent untuk segera mengalir. Nope! Crying in front of the woman who just accepted your proposal absolutely is very bad idea, fikirnya. Karena itu, Yonghwa menghentikan kata-katanya. Dia tak mampu meneruskannya.

Perlahan, Yonghwa mendekatkan wajahnya ke wajah perempuan dihadapannya. Dengan lembut, dia biarkan bibirnya berlabuh di bibir malaikatnya. Merasakan lembut dan hangatnya bibir itu. Sejak pertama kali, bibir itu memang seperti sebuah perangkap yang membuat hati dan cintanya tak mampu lagi terbang mencari hati yang lain. Disanalah tempatnya. Melalui lembut bbirnya, Yonghwa tahu betapa Seohyunpun menginginkannya seperti dirinya menginginkan Seohyun. Melalui bibir itu, Yonghwa mengerti bahwa Seohyun mencintainya sebesar cinta yang dia rasakan untuk Seohyun tanpa harus Seohyun mengatakannya.

Beberapa saat, mata keduanya terpejam. Tidak cukup hanya dengan mengecup bibirnya, Yonghwa mulai mengetuk dan meminta Seohyunnya untuk memberi akses lebih dan membiarkannya merasakan rasa manis ketika lidahnya bersatu dengan miliknya. Seohyun membiarkannya. Tanpa ragu, kedua tangannya mulai melingkar di leher Yonghwa dan membuat Yonghwa bisa lebih dekat dan lebih leluasa menikmati their passionate kissed session. Begitupun Yonghwa, tanpa ingin membuang waktu, tangan kanannya meraih pinggang Seohyun hingga kini tak ada lagi jarak antara keduanya. Sementara tangan kirinya kala itu dia gunakan untuk menopang leher Seohyun yang sudah tenggelam dalam permainan yang dia mulai.  Yonghwa tidak pernah tahu bahwa dia akan jatuh dalam pesona Seohyun separah ini. Addicted to her charm until he willing to sacrificing his soul…. He loves her lips. He really loves to kiss her that way. He wanted to kiss her like that for eternally.

Setelah beberapa saat dan keduanya nyaris kehabisan nafas, keduanya menghentikan ciuman mereka. Kening mereka masih beradu dan mata keduanya masih terpejam. Rasa manis sisa ciuman tadi masih terasa dibibir keduanya. Debar jantung mereka masih memacu kencang. Dan mereka masih berusaha untuk mengatur ritme nafas mereka dan kembali menenangkan diri. Yah, beberapa waktu mereka hanya seperti itu.

Hingga akhirnya Yonghwa membuka matanya perlahan. Mendapati Seohyun-nya masih terpejam hanya beberapa inci darinya. Tangan kirinya, yang sebelumnya berada ditengkuk Seohyun, dengan lembut mengusap pipi Seohyun.

“Saranghae, Hyun…..! Neomu saranghanda! Gomawo! Gomawo, Angel…” Lirih, dengan suara seraknya Yonghwa berbisik namun cukup keras untuk bisa terdengar oleh telinga Seohyun. Seohyun mulai membuka matanya. Untuk pertama kalinya sejak Yonghwa mengucapkan lamarannya, Yonghwa kembali melihat senyum itu merekah diwajah Seohyun. Dengan serta merta, senyumnya pun mengembang dan rasa gugup itu seketika musnah tak tersisa. She accepted his proposal. She allowed to share her life to be his wife. She…. His Seo Joohyun.

***

Present

Yonghwa dan Seohyun kembali berjalan menyusuri jalan-jalan kenangan yang pernah mereka tapaki setahun lalu. Hingga akhirnya merekapun tiba di Piazzale Michelangelo Square. Mereka menyebutnya Romantic Park. Mereka duduk dibangku yang sama seperti tahun lalu. Namun kali ini Yonghwa tidak membawa serta gitarnya.

Keduanya terdiam beberapa saat. Yonghwa mengunci tangan Seohyun dalam genggamannya sambil menikmati sejuknya angin musim semi dan indanya kelipan lampu kota Florence malam itu. Tidak banyak berubah. Waktu berlalu begitu cepat. Tidak mudah untuk bisa berdiri disini. Jutaan rasa sakit harus menjadi keping-keping puzzle yang melengkapi hidup mereka. Tapi toh, pada akhirnya semua terlewati juga. Mungkin dalam satu fase kehidupan, terkadang seseorang harus menghadapi sebuah situasi saat segala hal terasa salah dan tidak semestinya. Begitupun hidup mereka. Tapi mereka tahu, bahwa mereka sedang berjalan di track yang benar bersama orang yang tepat. Jadi, meski betapapun lelahnya, setidaknya mereka bisa saling meminjamkan bahu masing-masing untuk saling bersandar.

“Malam itu, kau terlihat sangat cantik, Hyun!” Tiba-tiba kalimat itu memecah keheningan.

“Malam itu? Eonjae?” Seohyun menoleh kearah suaminya yang masih tampak takjub dengan pemandangan Florence.

“Desember 2014. KBS Gaye Daejukhae, kau ingat?” Kali ini Yonghwa pun menoleh kearah Seohyun disampingnya dengan senyum diwajahnya.

“Tentu, aku ingat. Tapi… itu sudah beberapa tahun lalu kan? Maksudku.. tidak ada yang istimewa yang terjadi saat itu selain pertengkaran kita keesokan harinya. Kau benar-benar menyebalkan saat itu, Mr. Jung!” Seohyun memicingkan matanya. Seolah ingin mengingatkan Yonghwa tentang betapa kesalnya dia saat itu. Yonghwa tertawa kecil sambil menundukan wajahnya. Dia juga ingat pertengkaran kecil mereka pagi itu. Dan jika difikir lagi, pertengkaran itu adalah bukti how childish he was at the moment. But you know… cemburu bisa membuat seseorang kehilangan akal sehatnya, bukan?

“Semua itu salahmu, Mrs. Jung! Kau tidak tahu betapa kagetnya aku saat aku sadari punggungmu terbuka selebar itu dan setiap mata bisa dengan bebas menikmati apa yang seharusnya hanya menjadi milikku. Dan Wooyoung Hyung jinjja!! Dia benar-benar menguji kesabaranku. Kau tidak tahu kan… dibelakang punggungmu laki-laki itu sengaja menunjukkan padaku betapa sexy nya dirimu? Dan itu membuatku ingin menyeretnya ke back stage kemudian menguncinya di toilet. Hhhh….” Yonghwa menghembuskan nafas panjangnya masih dengan senyum merekah di wajahnya. Pandangannya kembali pada kemilau lampu kota malam itu.

“Tapi malam itu…. Kau benar-benar menjelma menjadi seorang malaikat, Hyun! Aku nyaris kehilangan pertahananku bila saja adik-adikku tidak mengingatkanku. Kau benar-benar menyihirku dengan kecantikanmu untuk kesekian kalinya. Gaun putih itu… dan rambut yang kau ikat sederhana, sumpah… aku ingin sekali menyeret tanganmu dan membawamu untuk mendaftarkan pernikahan kita saat itu juga.” Sekali lagi Yonghwa tertawa kecil. Begitupun Seohyun.

“Tapi bila kau memintaku untuk menikahimu saat itu, mungkin kau akan berakhir sebagai pria patah hati, Oppa!”

“Ya. Aku tahu, Hyun. Karena itu, keesokan paginya aku hanya bisa menggerutu dan merengek seperti anak kecil padamu. Aku benar-benar frustasi melihatmu dilihat banyak lelaki tepat didepan mataku. Rasanya aku ingin meninju wajah setiap lelaki yang terpesona padamu malam itu tapi aku tidak bisa melakukan apapun. Dan saat itu…. Aku mulai membuat lagu itu.”

“Lagu?”

“Ya, lagu yang aku nyanyikan saat memintamu menikahiku. Lagu itu kutulis saat itu. Aku benar-benar ingin menikahimu saat itu, Hyun! Gila, bukan?” Yonghwa kembali terkekeh.

“Tapi lagu itu benar-benar senjata rahasiamu, Oppa. Kau harus berterima kasih pada lagu itu, karena lagumu berhasil menyentuh hatiku begitu dalam. Tahun lalu, saat kau menyanyikan lagu itu, aku benar-benar bingung dengan perasaanku. Tapi diam-diam, aku berharap bahwa lagu itu bukanlah lagu yang kau ciptakan untuk albummu. Aku berharap lebih dari itu. And thank God, akhirnya Oppa memintaku.” Yonghwa mencium punggung tangan Seohyun dalam genggamannya. Seohyun mungkin tidak tahu, malam itu kata ‘I Do’-nya telah menyelamatkannya dari neraka tak berujung.

“Thank God, you were not rejected me!” Jawabnya.

“That was because I didn’t find any reasons to reject you, Oppa! Apa yang mebuatku harus melewatkan seorang lelaki yang begitu sempurna sepertimu dan membiarkanmu dimiliki perempuan lain? Andwe!! Aku tidak akan pernah merelakannya.” Seohyun menggeleng-gelengkan kepalanya saat fikiran tentang ‘dimiliki wanita lain’ itu terlintas dibenaknya. Yonghwa mulai tersanjung.

“Eiiii… jinjja?? Yaaa… kenapa tidak menjawabku lebih awal? Kau tahu, beberapa menit itu terasa seperti ribuan tahun saat aku menunggu jawabanmu. Aigoo, aku nyaris tak bisa bernafas saat itu.” Seohyun perlahan merapihkan rambut suaminya dengan segenap cinta yang ada dalam hatinya.

“Gomawo, Oppa!” Kata itu mengalun lembut ketelinga Yonghwa.

“Wae?” Yonghwa menatap Seohyun disampingnya.

“Untuk memintaku menjadi istrimu.” Sekali lagi, Yonghwa dibuatnya tersipu.

“Cheonmanhe, Yeobo!! Hhh… aku harap kau tidak menyesalinya, Hyun. Dan tidak akan pernah! Karena itu, jebbal… jaga dirimu baik-baik. Jangan terluka lagi. Jangan sakit lagi. Hhm?” Tangannya membelai lembut wajah Seohyun dan matanya menatap sendu.

“Nde, Oppa! Aku janji, aku tidak akan memnuatmu khawatir lagi.” Seohyun tersenyum menyejukan. Dan setelah itu, seperti dejavu… they rewinded the passionate kiss session. Di tempat yang sama, dengan orang yang sama. Meski waktu berbeda.

“I love you, Seo Joohyun!”

“I love you more, Jung Yonghwa!”


~To Be Continue~

Anyeong yeorobun…. ^_^
Mianhae, for the late update. Maklum… kalo ibu RT kan punya waktunya kalo dah beres kelonin suami dulu yaah… hehehe….
I’ll try to write the next chapter sooner deh….
Thank you, for reading!! YongSeo Couple… Yonghwonaraaaa!!!!!