Jumat, 29 Mei 2015

The World Within Chapter 14






The World Within

Author               : Jingga8
Genre                 : Romance
Rating                : M ( 18+ )
Cast                    : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Poster By           : Ismi Nuraulia







Losing

Chapter 14

Bulan depan,  jadwal dari serangkaian World Tour CNBLUE akan dimulai. Yonghwa dan ketiga koloninya sedang berada ditengah kesibukan mereka dalam mempersiapkan semua itu. Siang itu, keempat lelaki itu sedang berada di studio mereka. Masing-masing sibuk dengan alat musik yang mereka pegang.

Tiga bulan berlalu sejak Jonghyun, Minhyuk dan Jungshin menemukan surat berisi teror itu. Dan hingga kini, Yonghwa masih belum mengetahuinya. Syukurlah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi karena setelah melewati beberapa penyelidikan, ternyata ancaman itu hanya omong kosong saja. Pengirim surat itu berhasil ditangkap dan ternyata motif dibalik itu hanyalah iseng belaka karena kebenciannya pada Seohyun. Dan ancaman itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kecelakaan panggung yang dialami SNSD di LA. Meski begitu, remaja itu tetap harus merasakan dinginnya dinding penjara untuk mempertanggung jawabakan keisengannya itu. Tidak cukup sampai disitu, Jonghyun bahkan datang sendiri ke penjara tempat Moon Jaeyeong itu menghabiskan masa 20 tahun hukumannya, untuk memastikan bahwa perempuan gila itu masih berada disana dan tidak bisa berbuat gila lagi. Setelah itu, barulah Jonghyun merasa lega.

Tiba-tiba phonecell Yonghwa berdering. Seohyun meneleponnya.

“Hello... Angel..! Already miss me?”

“Huuuuuuuu!!!!!” Ketiga dongsaengnya serempak menyoraki Yonghwa. Rasanya sulit untuk Jonghyun, Minhyuk dan Jungshin untuk membiasakan diri mereka menahan betapa menyebalkannya Yonghwa saat setiap kali dia memamerkan kehidupan pernikahannya.

“Hyun... baby... are you there?” Sekali lagi Yonghwa menyapa karena suara Seohyun belum terdengar.

“Op...pa....” Senyum diwajah Yonghwa seketika sirna saat dia mendengar suara Seohyun-nya gemetar.

“Hyun... wae geurae? Boseumniri ah?” Yonghwa bangkit dari duduknya disertai raut wajah panik. Ketiga adiknyapun tak kalah kagetnya.

“Oppa... aku berdarah...! Banyak darah... Oppa... aku takut...” Seohyun terdengar menangis kencang.

“Mwo? Hy.. Hyun... kau dimana? Apa yang terjadi?” Yonghwa semakin kalut.

“Cepat pulang, Oppa... aku takut.....!!!” Seohyun menangis semakin menjadi. Tanpa berfikir panjang, Yonghwa meraih tas nya lalu setengah berlari menuju pintu.

“Gidari ah, Hyun... aku segera pulang. Aku akan menelepon ambulance!”

“Ani.... Oppa pulang dulu!! Aku tidak mau sendirian! Aku benar-benar takut Oppa....” Yonghwa semakin panik. Tanpa kata-kata, dia meninggalkan ketiga dongsaengnya dalam ketakutan dan kebingungan.

Kurang dari 30 menit, Yonghwa tiba dirumahnya. Dia berlari menuju kamarnya dan berusaha menemukan Seohyun. Yonghwa mendengar tangisan Seohyun dari kamar mandi dan dengan tergesa menghampirinya. Dan...

“Ya Tuhan... Joohyun ah.. apa yang terjadi?” Yonghwa mendapati istrinya yang bersimbah darah duduk dilantai kamar mandi. Darah segar bahkan masih mengalir melumuri kakinya.

“Oppa.... “ Bibirnya tampak sangat pucat. Tangannya dingin dan gemetar. Seohyun benar-benar tampak ketakutan. Yonghwa segera memeluknya.

"Oppaa.... sepertinya... kita kehilangan bayi kita..." Seohyun semakin terisak dalam pelukan Yonghwa. Sementara itu, Yonghwa tersentak kaget saat mendengar kata bayi.

"Mwo? Kau... kau hamil, Hyun? Sejak kapan?" Dengan tatapan panik bercampur khawatir, Yonghwa melepas pelukanya dan berusaha untuk setenang mungkin mendengarkan penjelasan Seohyun. Karena sejujurnya, dia sama sekali tidak mengerti akan semua itu.

"Aku juga tidak tahu, Oppa. Aku hanya menyadarinya bahwa dua bulan ini aku tidak haid setelah pagi ini perutku terasa kram dan.... dan banyak darah mengalir dari rahimku. Oppa... ottokhae?"

Seohyun kembali menangis sambil menahan sakit diperutnya. Ani! Sakit diperutnya bahkan tidak seberapa dibanding rasa sakit yang kini meremas hatinya. Fikiran bahwa dia telah kehilangan buah cintanya rasanya ribuan kali lebih menyakitkan.

Yonghwa seperti baru saja terkena sengatan listrik tegangan tinggi yang membuat tubuhnya membeku tak dapat bergerak. Yonghwa menutup kedua matanya dan berusaha mengatur ritme nafasnya.

"Gwaenchanna....! Gwaenchanna, Hyun! Uljima... kita ke rumah sakit sekarang, yah?!" Yonghwa berusaha bersikap tenang demi Seohyun. Meski kenyataan itu juga terasa menyakitkan untuknya. Saat ini yang terpenting adalah untuk segera memeberi pertolongan pada Seohyun dengan segera membawanya ke rumah sakit.

2 jam kemudian….

Seohyun masih berada di ruang tindakan. Sudah beberapa jam berlalu tapi Yonghwa masih belum mendengar kabar tentang keadaan Seohyun. Jantungnya berdegup kencang sejak tadi. Keringat dingin mengalir deras karena untuk kesekian kalinya Yonghwa harus berada dalam sebuah rumah sakit dan menunggu Seohyun yang entah bagaimana kondisinya.

Lalu seorang suster datang mengahampiri Yonghwa.

"Anda... Tuan Jung?" Tanya suster itu.

"Betul, Sus. Bagaimana istri saya?" Yonghwa bangkit dari duduknya masih dengan raut wajah cemas.

"Istri anda sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Mari, saya antarkan." Suster itu lalu memimpin jalan dan Yonghwa mengikutinya dari belakang.

Mereka tiba disebuah ruangan VVIP dan suster itu membantu membukakan pintunya. Tampak seorang Dokter sedang menyuntikan sesuatu kedalam selang infus Seohyun yang kala itu masih tertidur dibawah pengaruh anastesi. Dokter itu tersenyum dan meanggukan kepalanya begitu melihat Yonghwa masuk. Yonghwa membalas dengan anggukan serupa sambil berjalan mendekati tempat tidur Seohyun.

"Bagaimana istri saya, Dok?" Melihat Seohyun terbaring lemah seperti itu benar-benar membuatnya gundah. Dokter itu mengajak Yonghwa berjalan beberapa langkah menjauh dari tempat tidur Seohyun.

"Istri anda sudah memperoleh pertolongan. Namun mungkin dia akan merasa lemas selama beberapa hari karena efek anastesi. Tapi saat ini, kondisinya baik-baik saja." Hhh... ada rasa lega dalam dadanya mendengar bahwa Seohyun-nya baik-baik saja.

"Lalu... bayi kami?" Tak dapat Yonghwa pungkiri bahwa meski keselamatan Seohyun adalah prioritasnya, tapi sedikit harapan menggantung dalam batinnya untuk dokter bisa menyelamatkan bayinya juga.

"Saya minta maaf, karena kami tidak bisa menyelamatkan kehamilannya. Seo Joohyun Ssi mengalami pendarahan yang cukup hebat yang disertai dengan kram. Dan dari hasil USG, kami melihat janin nya tumbuh diluar uterus. Dalam istilah medis kasus ini disebut ectopic pregnancy. Bilapun kehamilan ini diteruskan, akan sangat berisiko terutama bagi sang ibu. Jadi, kami melakukan tindakan kuretase untuk membersihkan janin itu dari rahim istri anda."

Seketika kakinya terasa lemas setelah mendengar penjelasan dokter barusan. Dia baru saja kehilangan bayinya. Calon anak pertamanya. Tapi mendengar bahwa kehamilan itu sangat berbahaya untuk Seohyun, itu membuatnya semakin lemas. Disatu sisi Yonghwa bersyukur karena Seohyun selamat dan terhindar dari bahaya. Tapi disisi lain, diapun tidak bisa merasa senang karena kehilangan ini. Bagaimanapun janin itu adalah anaknya. Darah dagingnya dan sebelum dia melihat rupa buah hatinya itu, Yonghwa harus rela kehilangannya.

Dokter segera meninggalkan Yonghwa dan Seohyun usai memberikan penjelasan. Kini hanya tersisa mereka berdua dalam ruangan itu. Yonghwa duduk disamping tempat tidur Seohyun yang kini masih terlelap. Hatinya benar-benar sakit, untuk kesekian kalinya Yonghwa melihat Seohyun dalam keadaan seperti ini.

Dengan lembut, tangannya mengusap kepala Seohyun. Apa yang harus dia katakan padanya nanti, bila Seohyun bertanya tentang bayinya? Bagi Yonghwa pun kenyataan ini cukup menyakitkan. Apalagi untuk Seohyun? Genangan air mata sudah menggenang dikelopak matanya. Meski sekuatnya dia menahan, tetap saja.... kehilangan ini begitu menyakitkan.

Tidak lama, Seohyun membuka matanya dan melihat Yonghwa-nya berair mata disampingnya.

"Oppa.... bayiku...." Dengan suara yang lemah, Seohyun hanya teringat pada janin yang dikandungnya. Dia tidak tahu segala prosesnya karena Seohyun sempat tidak sadarkan diri sebelum tiba di rumah sakit. Yonghwa tidak sanggup penjawabnya. Dia hanya menundukkan kepalanya dan dari situ Seohyun tahu apa yang telah terjadi pada bayi mereka. Air matanya kembali mengalir.

"Mianhae, Oppa! Naega jalmothaeseo! Jeongmal mianhae... aku benar-benar tidak tahu kalau aku hamil. Maafkan aku, Oppa... aku tidak bisa menjaga anak kita." Seohyun kembali terisak dan Yonghwa segera memelukanya.

"Gwaenchanna, baby...! Gwaenchanna!! Ini yang terbaik dan semua bukan salahmu. Kita masih terlalu muda dan tidak mengetahuinya. Lagipula, kehamilanmu terlalu beresiko. Bayi kita tumbuh diluar uterusmu dan itu sangat berbahaya untuk kalian berdua. It's okay, honey... kita bisa mencobanya lagi setelah keadaanmu benar-benar pulih. Hhm?"

Meski kejadian ini cukup menjadi pukulan untuk Yonghwa, tapi dia tahu... semua ini bukan kesalahan siapapun. Terlepas dari betapapun mereka mengingikan kehadirannya, tapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa jika ternyata Tuhan lebih sayang pada bayi mereka hingga Dia mengambilnya kembali. Dari sini, mereka akan belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Belajar menjadi calon orang tua yang bila saatnya nanti Tuhan kembali menitipkannya, mereka benar-benar telah siap.

~To Be Continue~

And i cried so hard while writing this chapter. Actually... it was my real experience and i still remember how painful it was... T_T

Pernikahan itu tidak selalu terisi dengan tawa. Sesekali, terkadang air mata harus menjadi bagian dalam salah satu episode nya. Tapi yang terpenting dari semuanya adalah... bagaimana untuk selalu melibatkan Tuhan dalam segala ujian dan bergantung segalanya pada pertolongan-Nya. Dan Tuhan lebih tahu bagaimana cara terbaik untuk menyayangi kita. ^_^





Tidak ada komentar:

Posting Komentar