The World Within
Author : Jingga8
Genre : Romance
Rating : M ( 18+ )
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Poster By : Ismi Nuraulia
Losing
Chapter 14
Bulan depan, jadwal dari serangkaian World Tour CNBLUE
akan dimulai. Yonghwa dan ketiga koloninya sedang berada ditengah kesibukan
mereka dalam mempersiapkan semua itu. Siang itu, keempat lelaki itu sedang
berada di studio mereka. Masing-masing sibuk dengan alat musik yang mereka
pegang.
Tiga bulan berlalu sejak
Jonghyun, Minhyuk dan Jungshin menemukan surat berisi teror itu. Dan hingga
kini, Yonghwa masih belum mengetahuinya. Syukurlah, tidak ada yang perlu
dikhawatirkan lagi karena setelah melewati beberapa penyelidikan, ternyata
ancaman itu hanya omong kosong saja. Pengirim surat itu berhasil ditangkap dan
ternyata motif dibalik itu hanyalah iseng belaka karena kebenciannya pada
Seohyun. Dan ancaman itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kecelakaan
panggung yang dialami SNSD di LA. Meski begitu, remaja itu tetap harus
merasakan dinginnya dinding penjara untuk mempertanggung jawabakan keisengannya
itu. Tidak cukup sampai disitu, Jonghyun bahkan datang sendiri ke penjara
tempat Moon Jaeyeong itu menghabiskan masa 20 tahun hukumannya, untuk
memastikan bahwa perempuan gila itu masih berada disana dan tidak bisa berbuat
gila lagi. Setelah itu, barulah Jonghyun merasa lega.
Tiba-tiba phonecell Yonghwa
berdering. Seohyun meneleponnya.
“Hello... Angel..! Already miss
me?”
“Huuuuuuuu!!!!!” Ketiga
dongsaengnya serempak menyoraki Yonghwa. Rasanya sulit untuk Jonghyun, Minhyuk
dan Jungshin untuk membiasakan diri mereka menahan betapa menyebalkannya
Yonghwa saat setiap kali dia memamerkan kehidupan pernikahannya.
“Hyun... baby... are you there?”
Sekali lagi Yonghwa menyapa karena suara Seohyun belum terdengar.
“Op...pa....” Senyum diwajah
Yonghwa seketika sirna saat dia mendengar suara Seohyun-nya gemetar.
“Hyun... wae geurae? Boseumniri
ah?” Yonghwa bangkit dari duduknya disertai raut wajah panik. Ketiga adiknyapun
tak kalah kagetnya.
“Oppa... aku berdarah...! Banyak
darah... Oppa... aku takut...” Seohyun terdengar menangis kencang.
“Mwo? Hy.. Hyun... kau dimana?
Apa yang terjadi?” Yonghwa semakin kalut.
“Cepat pulang, Oppa... aku
takut.....!!!” Seohyun menangis semakin menjadi. Tanpa berfikir panjang,
Yonghwa meraih tas nya lalu setengah berlari menuju pintu.
“Gidari ah, Hyun... aku segera
pulang. Aku akan menelepon ambulance!”
“Ani.... Oppa pulang dulu!! Aku
tidak mau sendirian! Aku benar-benar takut Oppa....” Yonghwa semakin panik.
Tanpa kata-kata, dia meninggalkan ketiga dongsaengnya dalam ketakutan dan
kebingungan.
Kurang dari 30 menit, Yonghwa
tiba dirumahnya. Dia berlari menuju kamarnya dan berusaha menemukan Seohyun.
Yonghwa mendengar tangisan Seohyun dari kamar mandi dan dengan tergesa
menghampirinya. Dan...
“Ya Tuhan... Joohyun ah.. apa
yang terjadi?” Yonghwa mendapati istrinya yang bersimbah darah duduk dilantai
kamar mandi. Darah segar bahkan masih mengalir melumuri kakinya.
“Oppa.... “ Bibirnya tampak
sangat pucat. Tangannya dingin dan gemetar. Seohyun benar-benar tampak
ketakutan. Yonghwa segera memeluknya.
"Oppaa.... sepertinya... kita
kehilangan bayi kita..." Seohyun semakin terisak dalam pelukan Yonghwa.
Sementara itu, Yonghwa tersentak kaget saat mendengar kata bayi.
"Mwo? Kau... kau hamil,
Hyun? Sejak kapan?" Dengan tatapan panik bercampur khawatir, Yonghwa
melepas pelukanya dan berusaha untuk setenang mungkin mendengarkan penjelasan
Seohyun. Karena sejujurnya, dia sama sekali tidak mengerti akan semua itu.
"Aku juga tidak tahu, Oppa.
Aku hanya menyadarinya bahwa dua bulan ini aku tidak haid setelah pagi ini
perutku terasa kram dan.... dan banyak darah mengalir dari rahimku. Oppa...
ottokhae?"
Seohyun kembali menangis sambil
menahan sakit diperutnya. Ani! Sakit diperutnya bahkan tidak seberapa dibanding
rasa sakit yang kini meremas hatinya. Fikiran bahwa dia telah kehilangan buah
cintanya rasanya ribuan kali lebih menyakitkan.
Yonghwa seperti baru saja terkena
sengatan listrik tegangan tinggi yang membuat tubuhnya membeku tak dapat
bergerak. Yonghwa menutup kedua matanya dan berusaha mengatur ritme nafasnya.
"Gwaenchanna....! Gwaenchanna,
Hyun! Uljima... kita ke rumah sakit sekarang, yah?!" Yonghwa berusaha
bersikap tenang demi Seohyun. Meski kenyataan itu juga terasa menyakitkan
untuknya. Saat ini yang terpenting adalah untuk segera memeberi pertolongan
pada Seohyun dengan segera membawanya ke rumah sakit.
2 jam kemudian….
Seohyun masih berada di ruang
tindakan. Sudah beberapa jam berlalu tapi Yonghwa masih belum mendengar kabar
tentang keadaan Seohyun. Jantungnya berdegup kencang sejak tadi. Keringat dingin
mengalir deras karena untuk kesekian kalinya Yonghwa harus berada dalam sebuah
rumah sakit dan menunggu Seohyun yang entah bagaimana kondisinya.
Lalu seorang suster datang
mengahampiri Yonghwa.
"Anda... Tuan Jung?"
Tanya suster itu.
"Betul, Sus. Bagaimana istri
saya?" Yonghwa bangkit dari duduknya masih dengan raut wajah cemas.
"Istri anda sudah
dipindahkan ke ruang perawatan. Mari, saya antarkan." Suster itu lalu
memimpin jalan dan Yonghwa mengikutinya dari belakang.
Mereka tiba disebuah ruangan VVIP
dan suster itu membantu membukakan pintunya. Tampak seorang Dokter sedang
menyuntikan sesuatu kedalam selang infus Seohyun yang kala itu masih tertidur
dibawah pengaruh anastesi. Dokter itu tersenyum dan meanggukan kepalanya begitu
melihat Yonghwa masuk. Yonghwa membalas dengan anggukan serupa sambil berjalan
mendekati tempat tidur Seohyun.
"Bagaimana istri saya,
Dok?" Melihat Seohyun terbaring lemah seperti itu benar-benar membuatnya
gundah. Dokter itu mengajak Yonghwa berjalan beberapa langkah menjauh dari
tempat tidur Seohyun.
"Istri anda sudah memperoleh
pertolongan. Namun mungkin dia akan merasa lemas selama beberapa hari karena
efek anastesi. Tapi saat ini, kondisinya baik-baik saja." Hhh... ada rasa
lega dalam dadanya mendengar bahwa Seohyun-nya baik-baik saja.
"Lalu... bayi kami?"
Tak dapat Yonghwa pungkiri bahwa meski keselamatan Seohyun adalah prioritasnya,
tapi sedikit harapan menggantung dalam batinnya untuk dokter bisa menyelamatkan
bayinya juga.
"Saya minta maaf, karena
kami tidak bisa menyelamatkan kehamilannya. Seo Joohyun Ssi mengalami
pendarahan yang cukup hebat yang disertai dengan kram. Dan dari hasil USG, kami
melihat janin nya tumbuh diluar uterus. Dalam istilah medis kasus ini disebut
ectopic pregnancy. Bilapun kehamilan ini diteruskan, akan sangat berisiko terutama
bagi sang ibu. Jadi, kami melakukan tindakan kuretase untuk membersihkan janin
itu dari rahim istri anda."
Seketika kakinya terasa lemas
setelah mendengar penjelasan dokter barusan. Dia baru saja kehilangan bayinya.
Calon anak pertamanya. Tapi mendengar bahwa kehamilan itu sangat berbahaya
untuk Seohyun, itu membuatnya semakin lemas. Disatu sisi Yonghwa bersyukur
karena Seohyun selamat dan terhindar dari bahaya. Tapi disisi lain, diapun
tidak bisa merasa senang karena kehilangan ini. Bagaimanapun janin itu adalah
anaknya. Darah dagingnya dan sebelum dia melihat rupa buah hatinya itu, Yonghwa
harus rela kehilangannya.
Dokter segera meninggalkan
Yonghwa dan Seohyun usai memberikan penjelasan. Kini hanya tersisa mereka
berdua dalam ruangan itu. Yonghwa duduk disamping tempat tidur Seohyun yang
kini masih terlelap. Hatinya benar-benar sakit, untuk kesekian kalinya Yonghwa
melihat Seohyun dalam keadaan seperti ini.
Dengan lembut, tangannya mengusap
kepala Seohyun. Apa yang harus dia katakan padanya nanti, bila Seohyun bertanya
tentang bayinya? Bagi Yonghwa pun kenyataan ini cukup menyakitkan. Apalagi
untuk Seohyun? Genangan air mata sudah menggenang dikelopak matanya. Meski
sekuatnya dia menahan, tetap saja.... kehilangan ini begitu menyakitkan.
Tidak lama, Seohyun membuka
matanya dan melihat Yonghwa-nya berair mata disampingnya.
"Oppa.... bayiku...."
Dengan suara yang lemah, Seohyun hanya teringat pada janin yang dikandungnya.
Dia tidak tahu segala prosesnya karena Seohyun sempat tidak sadarkan diri
sebelum tiba di rumah sakit. Yonghwa tidak sanggup penjawabnya. Dia hanya
menundukkan kepalanya dan dari situ Seohyun tahu apa yang telah terjadi pada
bayi mereka. Air matanya kembali mengalir.
"Mianhae, Oppa! Naega
jalmothaeseo! Jeongmal mianhae... aku benar-benar tidak tahu kalau aku hamil.
Maafkan aku, Oppa... aku tidak bisa menjaga anak kita." Seohyun kembali
terisak dan Yonghwa segera memelukanya.
"Gwaenchanna, baby...!
Gwaenchanna!! Ini yang terbaik dan semua bukan salahmu. Kita masih terlalu muda
dan tidak mengetahuinya. Lagipula, kehamilanmu terlalu beresiko. Bayi kita
tumbuh diluar uterusmu dan itu sangat berbahaya untuk kalian berdua. It's okay,
honey... kita bisa mencobanya lagi setelah keadaanmu benar-benar pulih.
Hhm?"
Meski kejadian ini cukup menjadi
pukulan untuk Yonghwa, tapi dia tahu... semua ini bukan kesalahan siapapun.
Terlepas dari betapapun mereka mengingikan kehadirannya, tapi mereka tidak bisa
melakukan apa-apa jika ternyata Tuhan lebih sayang pada bayi mereka hingga Dia
mengambilnya kembali. Dari sini, mereka akan belajar untuk menjadi pribadi yang
lebih baik lagi. Belajar menjadi calon orang tua yang bila saatnya nanti Tuhan
kembali menitipkannya, mereka benar-benar telah siap.
~To Be Continue~
And i
cried so hard while writing this chapter. Actually... it was my real experience
and i still remember how painful it was... T_T
Pernikahan
itu tidak selalu terisi dengan tawa. Sesekali, terkadang air mata harus menjadi
bagian dalam salah satu episode nya. Tapi yang terpenting dari semuanya
adalah... bagaimana untuk selalu melibatkan Tuhan dalam segala ujian dan
bergantung segalanya pada pertolongan-Nya. Dan Tuhan lebih tahu bagaimana cara
terbaik untuk menyayangi kita. ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar