In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 19
Worrisome
"Hyuun...! Seo Joohyun...
kumohon, buka pintunya." Tapi tak terdengar suara sedikitpun dari dalam.
Yonghwa mencoba membukanya, tapi pintunya terkunci. Lalu dia mengetuk lagi.
Lagi dan lagi. Tapi Seohyun tetap tidak menjawab.
Yonghwa semakin panik, dan segera
berlari mengambil kunci cadangan. Tanpa berfikir panjang, Yonghwa membuka pintu
kamar itu, lalu masuk kedalamnya. Dan dia menemukan Seohyun masih tertidur
berbalut selimut tebal diatas tempat tidurnya. Yonghwa segera menghampirnya.
Wajah dan keningnya dibasahi oleh
keringat. Seohyun benar-benar pucat. Yonghwa menyentuh pipinya dan dia
terkejut. Gadis itu demam tinggi. Panik, Yonghwa mengambil tisu lalu mengusap
keringat di wajah dan leher Seohyun. Dia mencoba membangunkan Seohyun dengan
mengguncang tubuhnya perlahan.
"Joohyun ah..! Seo Joohyun,
jebbal irona. Kau demam. Ottokhae? Bagaimana bisa kau jadi seperti ini?"
Tapi Seohyun masih menutup kedua
matanya, seolah dia tidak mendengar apapun. Yonghwa semakin panik. Dia berlari
ke dapurnya untuk mengambil es batu dan beberapa perlengkapan untuk
meng-kompres suhu tubuhnya. Sangat hati-hati, dia meletakan es batu yang sudah
terbungkus kantung es diatas kening Seohyun. Dengan handuk kecil yang sudah
direndam air hangat, tangannya yang gemetar berusaha menyeka keringat diwajah,
leher dan tangan Seohyun.
"Ottokhae? Bajumu basah
semua Joohyun ah. Kumohon bangunlah. Kau harus mengganti bajumu, kalau tidak,
kau bisa kedinginan." Yonghwa mengusap pipi Seohyun dengan lembut dan
berusaha membuatnya terbangun. Lagi-lagi gadis itu tak menghiraukannya.
Sesekali, dia terdengar merintih menahan nyeri yang mungkin dirasakan tubuhnya.
Yonghwa semakin cemas.
"Baby, jebbal... irona.
God... apa yang harus aku lakukan?" Yonghwa memejamkan kedua matanya,
mereduksi stress karena ketidaktahuan dan ketidakberdayaannya.
"Opp...ppaa... manhi
appeuni. Sakit sekali...." Gadis itu bergumam dalam rintihannya. Yonghwa
segera mendekatkan wajahnya. Dengan lembut, dia mengusap kepala Seohyun.
"Aro, Baby! Kau pasti sangat
kesakitan. Mianhae, Hyun. Jeongmal mianhae." Air matanya menetes tanpa
aba-aba. Rasa bersalah, panik, kalut, semua terasa memburunya.
"Jebbal, bangunlah.. sayang!
Biar aku bisa menolongmu. Ani! Ini tidak benar. Kita harus ke rumah sakit sekarang.
Aku tidak tahan melihatmu begini." Yonghwa hendak mengangkat tubuh lemah
itu dan membawanya ke rumah sakit. Tapi tiba-tiba Seohyun menggigil hebat.
Bibirnya pucat, bergetar. Dan Yonghwa semakin panik karenanya.
"Ya Tuhan, Joohyun ah. Apa
yang terjadi?" Dalam kepanikannya, Yonghwa segera memeluk Seohyun dengan
erat. Dan tubuhnya bisa merasakan guncangan yang diakibatkan Seohyun. Tanpa
berfikir apa-apa lagi, lelaki itu masuk kedalam selimut Seohyun dan mendekap
tubuh menggigil itu lebih erat.
"Tuhan, apa yang harus aku
lakukan?" Seperti anak kecil, Yonghwa terisak sendiri sambil memeluk
Seohyun. Kemudian dia teringat Yoona. Yonghwa segera mengambil ponselnya dari
saku celananya, tanpa sedikitpun melepas pelukannya. Dia segera mencari nama
Yoona diponselnya, lalu menghubunginya.
'Oh.. Yonghwa ah. Wae?' Yoona menjawab diseberang sana.
"Tolong aku, Yoona ah! Aku
tidak tahu harus bagaimana. Aku takut..." Lelaki itu tersedu tanpa sempat
memikirkan apapun lagi. Yoona yang mendengar Yonghwa terisak seperti itu, tentu
saja menjadi sangat panik.
'Wae geurae? Apa yang terjadi, Yonghwa ah?'
"Palli nawa, Jebbal. Seohyun
sakit dan dia tidak mau membuka matanya. Sekarang dia menggigil hebat.
Ottokhae, Yoona ah? Aku benar-benar takut." Yoona bisa mendengarnya. Lelaki dewasa yang tanpa
malu tersedu-sedu seperti itu, sudah pasti dia sangat ketakutan saat itu.
'Jamkamaan. Aku akan kesitu sekarang. Jangan panik, Yonghwa ah, dan
tetap kendalikan dirimu. Dia akan baik-baik saja. Aku akan menelepon Taeyeon
Eonnie agar dia datang ke rumahmu dan memeriksanya. Kau harus tenang, Yonghwa
ah. Jebbal, kendalikan dirimu!'
Yoona terdengar sangat cemas. Dia
tahu, saat ini Yonghwa sedang berada dalam ketakutan yang tidak akan bisa
difahami orang lain. Dia pernah menyaksikan tubuh Hyung-nya tergeletak tak
bernyawa dan berlumuran darah. Saat Seohyun sakit seperti itu, Yoona mengerti,
teror itu kembali mengguncang jiwanya.
*****
Yoona datang beberapa menit
kemudian bersama Kim Taeyeon dan seorang suster. Dia langsung memasuki rumah
Yonghwa, dan bergegas menuju kamar Seohyun. Begitu pintunya terbuka,
didapatinya Yonghwa sedang ikut terbaring memeluk Seohyun.
"Yonghwa ah..." Yoona
memanggilnya. Lelaki itu tampak rapuh dan ketakutan.
"Yoona ah..." Suaranya
lirih, dan dia hampir merengek lagi.
"Taeyeon Eonnie datang. Biar
dia memeriksa Seohyun." Dengan lembut, Yoona mengusap bahu sahabatnya.
Perlahan, Yonghwa melepaskan pelukannya, lalu bangkit dari posisi terbaringnya.
Dia menatap Taeyeon yang sedang tersenyum penuh empati ke arahnya.
"Noona waseo? Gomawo, untuk
menyempatkan dirimu dan datang kesini, Noona."
Kim Taeyeon adalah seorang dokter
yang sebenarnya merupakan sepupu Yonghwa. Ayahnya adalah kakak laki-laki ibunya
Yonghwa. Karena panik, Yonghwa sampai tidak ingat, kalau dia bisa menghubungi
Taeyeon sejak tadi.
"Gwaenchanna, Yonghwa ah.
Aku sedang tidak sibuk. Coba, biar aku melihatnya." Taeyeon mendekati
Seohyun ditempat tidurnya. Dia melakukan beberapa pemeriksaan dasar selayaknya
yang biasa dilakukan seorang dokter. Mulai dari tekanan darah, suhu tubuh,
memeriksa pupil mata juga tenggorokan Seohyun. Kemudian dia menyadari, baju
gadis itu basah oleh keringatnya sendiri.
"Geok cheongma, Yonghwa ah.
Aku dan suster Han akan memeriksanya. Bajunya harus diganti dengan yang kering.
Jadi, kau tunggulah diluar dan minum sesuatu yang manis. Lihat, wajahmu juga
pucat. Jangan sampai kau juga sakit. Bagaimana bisa kau menjaganya bila kau
juga sakit?"
Yonghwa menganggukkan kepalanya.
Taeyeon benar, dirinya tidak boleh ikut sakit. Sejak tadipun sudah terfikir
olehnya bahwa Seohyun harus mengganti bajunya. Tapi bagaimana caranya? Dia
tidak mungkin melakukannya. Yonghwa lalu membuka lemari pakaian Seohyun dan
mencari beberapa baju yang bisa Seohyun pakai. Usai menyerahkan sepasang piyama
berwarna dusty pada Suster Han, Yonghwa akhirnya meninggalkan kamar itu,
diikuti oleh Yoona.
Yonghwa kembali duduk di depan
mini bar tablenya. Kali ini, lelaki itu membenamkan wajahnya di atas meja. Dia
benar-benar putus asa. Yoona membuatkan secangkir teh manis hangat, lalu duduk
disampingnya. Dengan lembut, dia mengusap punggung Yonghwa.
"Ijae gwaenchanna, Yonghwa
ah. Seohyun hanya demam. Taeyeon eonnie pasti akan menolongnya, geok cheongma!
Nih, minumlah." Yoona berusaha menenangkan sahabatnya yang tampak sangat
ketakutan dan frustasi. Lelaki itu masih menyembunyikan wajahnya. Rasa takut
itu teramat menyiksa. Melihat Seohyun-nya tiba-tiba menggigil dan tak sadarkan
diri, Yonghwa merasa seperti sedang sekarat.
"Kau pasti sangat ketakutan,
Yong! Aku mengerti, melihatnya seperti itu pasti membuat lukamu kembali
terasa." Yoona masih mengusap punggung sahabatnya. Kali ini berakhir
dengan mengusap kepalanya. Dan Yonghwa pun mulai mengangkat kepalanya, meski
wajahnya masih tertunduk.
"Aku bisa mati bila aku
harus kehilangannya juga, Yoona ah. Aku takut.." Suaranya terdengar parau.
Air matanya masih sesekali menetes, namun bergegas di usapnya.
"Ara. Aku mengerti dirimu
lebih baik dari siapapun. Tapi kau harus tetap tenang, Yonghwa ah. Semua itu
sudah berlalu. Seohyun hanya demam, dan dia pasti akan segera membaik."
Yoona meyakinkannya. Beberapa waktu kemudian, Yonghwa mulai tampak tenang. Dia
juga meminum teh manis hangat yang Yoona buatkan.
"Yoona ah.... Seohyun
bertemu Hyunna kemarin." Seketika Yoona membelakakan matanya dan menutup
mulutnya dengan salah satu tangannya. Dia cukup terkejut mendengarnya.
"Mwo rago? Lalu...."
"We were fight. Dia baru
saja kembali tadi siang, setelah menghilang sejak kemarin sore."
"Tentu saja dia marah. Aku
bahkan bisa mematahkan hidung Jonghyun bila dia melakukan itu padaku. Lalu apa
yang Hyunna lakukan pada Seohyun? Dan kau.. apa yang akan kau lakukan untuk
menyelasaikan ulahmu ini?" Nada suaranya mulai terdengar tegas. Yoona dan
Jonghyun sudah pernah memperingatkan Yonghwa tentang hal ini. Begitupun Minhyuk
dan Jungshin.
"Hyunna memanggilnya ahjumma
karena dia tidak tahu siapa Seohyun. Dia fikir Seohyun ada di rumah ini untuk
membatuku membereskan tempat ini."
"Mwo? Mitjoseo?! Saesanghae
Yonghwa, kau ini keterlaluan, kau tahu?!"
"Aku tahu, Yoona ah. Aku
akui, aku salah karena membiarkan semua ini terjadi. Harga dirinya pasti sangat
terluka. Dan aku benar-benar merasa buruk dihadapan Seohyun. Belum lagi
kenyataan tentang hubunganku dan Hyunna. Hhh... bagaimana bisa dia memaafkanku
dengan mudah?" Yonghwa kembali membenamkan wajahnya diatas meja.
"Aku sudah pernah
memberitahumu tentang ini, bukan? Harusnya kau urus Hyunna dulu, sebelum kau
memulainya dengan Seohyun. Tapi tiba-tiba kau bilang kalau kau sudah mengajaknya
berbagi rumah ini denganmu. Kau terlalu tergesa, Yonghwa ah. Itulah sebabnya
Jonghyun menentangmu, saat kau bilang kau akan mengajaknya tinggal disini.
Bukan karena kami tidak mengerti tentangmu! Kami hanya tidak ingin siapapun
terluka karena ini. Terutama kau!
Aku tidak tahan lagi melihatmu
jatuh, Yonghwa! Aku terpaksa setuju denganmu, mendukungmu, karena aku bisa
melihat bahwa duniamu perlahan kembali setelah kau bersama Seohyun. Aku tahu,
Seohyun gadis yang baik, dan aku tidak meragukan bila dia mampu membuatmu
bahagia. Aku hanya khawatir hal ini akan terjadi, Yonghwa ah."
"Aku tahu, aku memang salah,
Yoona. Entah kenapa aku harus begitu tergesa. Sejak awal aku melihatnya malam
itu, aku terpesona dengan kecantikan wajahnya. Aku belum pernah merasakan
perasaan seperti itu sebelumnya. Malam itu, Seohyun duduk sendiri. Hanya
berbalut baju casual dan rambut panjang tergerai, bahkan tanpa make up
sekalipun she was so breathetakingly beautiful. She looked like an angel with
her simple presence. Aku tahu, semua itu terdengar gila. Tapi Tuhan sepertinya
sengaja mempertemukanku dengannya saat tiba-tiba gadis itu terjatuh tanpa
sebab.
Dia mencuri sesuatu dariku, malam
itu. Hatiku!" Sekelebat, senyum diwajahnya merekah, mengenang malam yang
ajaib itu.
"You were so madly in love,
phabo ah! And now you're even crazier. Hhh... Lalu apa yang akan kau lakukan
pada Hyunna dan keluarganya? Juga keluargamu. Kau mengerti kan, bahwa semua ini
bukan hanya tentangmu dan Hyunna saja?"
"Aku juga sudah mengatakan
segalanya pada Hyunna. Tidak mudah baginya untuk bisa mengerti dan menerima
setelah apa yang sudah aku lakukan padanya."
"Geumanhae, Yonghwa ah!
Sudah kukatakan berulang kali, bahwa apa yang terjadi adalah takdir yang memang
harus terjadi. Dan kau tidak akan pernah mampu melawan takdir. Berhentilah
merasa bertanggung jawab atas hidup Hyunna. Sejak awal aku sudah sering
mengingatkanmu, Yonghwa... bahwa ini adalah hidupmu. Kau yang akan
menjalaninya. Bahkan tanpa Hyunna didalamnya pun hidupmu sudah cukup berat.
Tapi lagi-lagi karena keras
kepalamu kau melakukan itu, meski sebenarnya kau tidak harus. Sekarang, semua
sudah terlanjur seperti ini, maka kau harus bersikap seperti seorang laki-laki.
Berhentilah menyakiti dirimu sendiri
Yonghwa! Jabbal!"
Lalu mereka melihat Taeyeon dan
susternya keluar dari kamar Seohyun. Yonghwa dan Yoona spontan berdiri dari
duduk mereka. Taeyeon tersenyum menatap Yonghwa.
"Ijae gwaenchanna, Jashik
ah! Aigoo... mendengar telepon dari Yoona bahwa kekasihmu sakit parah, rasanya
jantungku hampir melompat keluar. Dia tidak apa-apa, Yonghwa. Aku sudah memberi
infusan. Semoga panas tubuhnya segera turun. Dia hanya butuh istirahat dan
makan makanan yang lembek. Sepertinya lambungnya terluka, karena saat kutekan
tadi, Seo Joohyun meringis kesakitan." Yonghwa dan Yoona serempak
menghembuskan nafas lega.
"Syukurlah kalau begitu.
Anak bodoh ini memang tak pernah bosan membuat hidupku seperti roller coaster.
Selama menjadi sahabatnya, aku rasa aku kehilangan 10 tahun masa mudaku. Dengar
itu, Choding! Jangan memberinya makanan yang bisa melukai lambungnya!"
Yoona melempar tatapan judesnya ke arah Yonghwa yang terlihat lebih tenang saat
itu.
"Mwo ya? Aku selalu masak
makanan yang bergizi untuknya. Kalau lambungnya terluka, itu bukan karena masakanku,
tapi karena 5 botol soju yang dia habiskan sendiri tadi malam."
"Mwo??!!" Yoona
terbelalak. Lalu...
PLAKKK!!!
Sebuah pukulan mendarat manis
dikepala Yonghwa, yang membuat lelaki itu berteriak kesakitan.
"Yaakkk!! Im phabo Yoona!!
Tak bisakah kau berhenti melibatkan tanganmu setiap kali kau berdebat
denganku?!!! Awwww...." Yonghwa mengusap-usap kepalanya yang masih terasa
sakit karena pukulan gadis kurus itu. Taeyeon terbahak melihat bagaimana
sepupunya selalu tak berdaya ditangan Yoona.
"Kaulah yang bodoh!
Bagaimana bisa kau biarkan dia meneguk 5 botol soju sendirian? Kau benar-benar
keterlaluan Jung Phabo Yonghwa!!"
"Mana aku tahu? Aku juga
hampir gila mencarinya semalaman. Aku bahkan tidur didalam mobilku sambil
menunggunya!!"
"Seharusnya kau tahu kemana
dia pergi. Giliran dia sakit seperti ini, baru kau tersedu-sedu seperti anak
kecil dan membuatku panik!!"
"Itu memang karena aku
panik, Phabo ah!"
"Kau yang bodoh!"
Kedua orang yang mengaku sudah
bersahabat sejak kecil itu saling melempar tantrum mereka. Sepertinya keduanya
tidak akan berhenti hingga bila Taeyeon tidak menghentikan keduanya.
"Geumanhae, neol duri!!
Aigoo... kalian sudah hampir berada dipenghujung 20-an, tapi sikap kalian masih
sama seperti saat kalian SD. Ck..ck..ck...!" Taeyeon melipat kedua
tangannya didadanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mianhae, Noona. Geurigo
neomu gomawo! Terima kasih, sudah merepotkanmu."
"Never mind. Aku sudah
terbiasa mendapat serangan seperti ini darimu. Baguslah, bila sekarang ada
seseorang dalam hidupmu yang kau anggap lebih penting dari dirimu sendiri.
Setidaknya, kau punya alasan untuk hidup lebih baik, Yonghwa ah!" Taeyeon
menepuk pundak Yonghwa dan tersenyum tulus.
*****
Yoona dan Taeyeon akhirnya
pulang. Tinggalah Yonghwa sendiri yang duduk disamping tempat tidur Seohyun,
menatap wajah malaikat itu tertidur begitu damai. Dengan lembut, jemarinya
menyisir dan merapihkan rambut Seohyun.
"Cepat sembuh, Angel. Untuk
bisa menghukumku, yang pertama kali harus kau lakukan adalah kembali sehat.
Melihatmu seperti ini, kau membuatku merasa tidak berguna, Seo Joohyun."
Yonghwa menatap lekat wajah itu. Penuh cinta, dia mengecup kening Seohyun.
"Neomu geuriwoseo,
Baby..."
Dan tanpa dia sadari, dia
terlelap disana. Diatas kursi, dengan wajah terbenam diatas tempat tidur
Seohyun.
*****
Cahaya mentari mulai masuk
melalui celah jendela. Seohyun membuka matanya. Kepalanya masih terasa pening,
tapi tidak seberat sebelumnya. Dia mulai merasa ada sesuatu yang menusuk
tangannya. Lalu dia melihat selang infus tertancap disana. Dia hampir tidak
mengingat apapun. Kapan jarum infus itu menancap ditangannya. Dan....
Seohyun menoleh kesampingnya.
Yonghwa tertidur pulas meski dengan posisi yang tidak nyaman. Lekat, dia
menatap wajah lelaki itu. Dia benar-benar tampak lelah. Kantung mata dan
lingkar hitam disekelilingnya begitu jelas terlihat. Tak lama kemudian, Yonghwa
terbangun dan langsung melihat keadaan Seohyun. Mereka pun saling menatap.
"Kau sudah bangun?"
Yonghwa segera bangkit, lalu meletakan tangannya diatas kening Seohyun untuk
mengecek suhu tubuhnya.
"Syukurlah, demam mu sudah
turun. Hhh.... " Yonghwa akhirnya bisa bernafas lega.
"Gidari ah, Hyun. Aku akan
membuatkan bubur untukmu. Kau harus meminum obatmu agar tubuhmu bisa secepatnya
pulih." Yonghwa bangkit dari duduknya, dan hendak berjalan ke dapur untuk
menyiapkan sarapan. Tapi tangannya tertahan. Seohyun meraihnya. Langkahnya
terhenti, dan Yonghwa kembali menatap Seohyun.
"Yes, Baby? What's the
matter?"
"Katakan lagi
padaku..." Suara gadis itu masih terdengar lemah. Mata sayu nya menatap
Yonghwa penuh harap.
"Mwo ya? Apa yang ingin kau
dengar dariku, Baby?" Hatinya luruh karena tatapan itu. Yonghwa kembali
duduk. Kali ini, lebih dekat. Diatas tempat tidur Seohyun. Disampingnya.
"Katakan lagi padaku,
tentang siapa aku dalam hidupmu." Lirih, kalimat itu mengalun. Yonghwa
menghela nafas panjang. Dengan lembut, jemarinya meraih wajah pucat itu, dan
mengusapnya penuh cinta.
"Saranghae, Joohyun ah.
Neomu saranghanda..." Tak kalah lirih, kalimat itupun mengalun semerdu
simfoni pagi. Keduanya saling menatap.
"Na do saranghae, Oppa!
Ottokhae? Aku akan menjadi perempuan jahat karena mencintaimu." Kesedihan
itu kembali hadir dimatanya.
"Ani ah, Joohyun ah. Love is
not a crime. Aku ingin selalu mengingat apa yang Yoona katakan padaku. Bahwa
semua yang terjadi dalam hidupku semata karena takdir. Dan aku tak akan pernah
sanggup melawannya. Meski aku harus memperbaiki semua ini, tapi mencintaimu...
aku tidak menyesalinya. Geunyang gidari ah, Saranga! Aku akan memperbaiki
segalanya. Hhm?"
Yonghwa menatap mata sendu itu
semakin dalam. Kemudian, Seohyun mengangguk pelan. Akhirnya, Yonghwa
benar-benar bisa bernafas lega. Senyum itu kembali merekah diwajahnya.
Perlahan, dia mendekatkan wajahnya ke arah perempuan dihadapannya yang masih
terkulai ditempat tidurnya. Lalu dengan lembut, dia mengecup bibirnya.
"Gomawo, Angel..."
*****
Ditempat lain....
"Kau sudah menemuinya?"
Lelaki dipenghujung usia 40 nya itu menatap penuh harap. Kyuhyun mengangguk
pelan.
"Nde. Aku sudah melihatnya.
Aku bersyukur, karena dia baik-baik saja, meski hidupnya tampak sangat
melelahkan dan tidak mudah untuknya. Tapi dia melakukannya dengan baik. Uri
Joohyunie, dia gadis yang hebat." Kyuhyun tersenyum tulus. Begitupun
lelaki itu. Dia tersenyum haru.
"Ddaengida. Uri Joohyun,
pasti tumbuh menjadi gadis yang kuat." Lelaki paruh baya itu tertunduk
dengan mata berkaca-kaca.
"Kapan anda akan menemuinya?
Aku yakin, dia pasti sangat merindukan anda." Kyuhyun menatap iba.
"Najunghae. Nanti... saat
seluruh lukanya sudah terobati. Aku tidak ingin kehadiranku justru membuat
kebahagiaan yang dia miliki saat ini terenggut lagi darinya."
"Tapi...."
"Kumohon jaga dia, Kyuhyun
ah. Aku tahu, aku tidak pantas menyerahkan tanggung jawabku padamu. Tapi saat
ini hanya kau yang bisa melakukannya tanpa sedikitpun akan membuatnya terluka.
Aku mohon..." Tatapannya mengiba, hingga membuat Kyuhyun tak mampu
membalas kata-katanya.
"Guilty"
Blue
I never want to play the games
that people play
I never want to hear the things
they gotta say
I've found everything I need
I never wanted anymore than I can
see
I only want you to believe
If it's wrong to tell the truth
Then what am I supposed to do
When all I want to do is speak my
mind
If it's wrong to do what's right
I'm prepared to testify
If loving you with all my heart's
a crime
Then I'm guilty
Author
Note :
Anggap
aja lagi nonton drama korea yah, Chingu-deul. Kan kalo lagi nonton, kita juga
sering bgt pengen nyipok sutradara sama script writer nya kalo mereka doyan
nyiksa tokoh utamanya, trus gantungin konfliknya jadi to be continued.
Wkwkwk....
WARNING
: TIDAK MENERIMA KIRIMAN SANTET DALAM BENTUK APAPUN!
