In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 18
Who Am I To You?
Seohyun membuka matanya dan
mendapati dirinya sedang berada disebuah kamar yang asing, yang belum pernah
dia datangi sebelumnya. Seohyun menatap kesekeliling kamar itu sambil
memijat-mijat kepalanya yang terasa sangat sakit. Perasaan kalut seketika
menyeruak dalam hatinya.
Hingga seseorang datang dan
mengetuk pintu kamar itu. Tidak lama kemudian, Seohyun melihat kepalanya muncul
dari balik pintu.
"Kyu.. Kyuhyun Ssi?"
Jantungnya berdebar kencang. Ottokhae? Bagaimana bisa dia berada disana?
"Good morning, Drunken
master..." Kyuhyun menampakan senyum hangatnya. Tapi semua itu tidak
lantas membuat kegelisahan Seohyun lenyap begitu saja. Seohyun masih sepenuhnya
tidak mengerti tentang apa yang terjadi yang membuatnya bisa berada ditempat
itu.
"Bagaimana bisa aku ada
disini, Kyuhyun Ssi? Dimana ini sebenarnya?" Lagi-lagi, Kyuhyun tersenyum.
Perlahan, lelaki itu masuk lalu duduk di kursi yang terletak disamping tempat
tidur.
"Kau tenang saja. Saat ini
kau sedang berada dirumahku. Mianhaeyo, Seohyun Ssi, aku membawamu kesini tanpa
persetujuanmu. Aku tidak tahu, kemana aku harus membawamu semalam karena aku
tidak tahu dimana tempat tinggalmu. Dan kau sangat mabuk tadi malam, hingga kau
tertidur begitu lelap."
Seketika kejadian tadi malam
kembali membayang dalam ingatannya. Seohyun ingat, terakhir kali dia sedang
duduk disebuah café dan menunggu Yonghwa datang mencarinya. Ya, Seohyun ingat
bahwa dia menghabiskan soju sebanyak itu.
Seohyun segera menutup wajahnya
dengan kedua tangannya karena rasa malu yang dia rasakan pada Kyuhyun. Dia
tidak pernah seperti itu sebelumnya. Seohyun bukan tipe orang yang akan
mempermalukan dirinya sendiri seperti itu. Dan semalam.....
"Saesanghae... apa yang
sudah aku lakukan?" Suaranya terdengar samar, tapi cukup jelas untuk bisa
Kyuhyun dengar. Kyuhyun tertawa kecil melihat reaksi Seohyun.
"Gwaenchannayo, Seohyun Ssi.
Kau tidak perlu malu dihadapanku. Aku bersumpah, selain tidur seperti mayat,
kau tidak melakukan kebodohan lainnya, kok. Gwaenchannayo." Kyuhyun
mengusap pundak Seohyun, bermaksud untuk menenangkannya.
"Joseohapnida, Kyuhyun Ssi.
Jeongmal mianhaeyo. Aku tidak pernah seperti itu sebelumnya. Tapi tadi malam...
aku benar-benar...." Seohyun tak mampu meneruskan kata-katanya. Dia tidak
mungkin menceritakan masalahnya pada orang yang baru dia kenal. Terlebih karena
ini adalah masalah pribadinya.
"Gwaenchannayo. Akupun
kadang melakukan hal yang sama sepertimu saat aku sudah berada dipuncak
kelelahanku, Seohyun Ssi. Tapi lain kali, bila kau ingin minum seperti itu, kau
harus mengajak seseorang untuk menemanimu. Beruntung aku melihatmu tadi malam.
Hujan dan petir nya benar-benar mengerikan, kau tahu?" Kyuhyun menatap
Seohyun dengan teduh.
"Gomawoyo, Kyuhyun Ssi.
Maaf, aku merepotkanmu."
"Eiii... aniyo, jinjja!
Seperti yang aku bilang, kau gadis yang baik saat kau sedang mabuk
sekalipun." Kyuhyun tersenyum lebih lebar. Dan Seohyunpun membalasnya
sambil menundukkan wajahnya.
"Baiklah, Seo Joohyun Ssi.
Kau bisa membersihkan dan merapihkan dirimu dulu. Handuk dan segala kebutuhanmu
semua tersedia di kamar mandi. Pakai saja. Dan bila kau telah selesai, turunlah
kebawah untuk sarapan. Aku menunggumu." Sekali lagi, Kyuhyun melemparkan
senyum yang menyejukan. Seohyun hanya bisa mengagukkan kepalanya.
Seohyun menyisir rambutnya dengan
jemarinya, kemudian kembali mengikatnya dengan ikatan ekor kuda. Pandangannya
melayang pada tasnya. Seohyun meraihnya, lalu mengambil ponselnya dari dalam
tas itu.
Tak lama, rentetan bunyi
notifikasi berdenting berkali-kali. 48X panggilan tak terjawab. Dan.....
From : Mr. Gold
'Hyun, neol jeongmal eodie ah? Tolong hubungi aku, Joohyun ah!
Jebbal... aku mohon!'
From : Mr. Gold
'Aku tahu, kau berhak marah atas semua yang terjadi. Geunyang jebbal,
Hyun... kau harus mendengar penjelasanku. Kumohon angkat teleponmu.'
From : Mr. Gold
'Demi Tuhan, Seo Joohyun... kau dimana sekarang? Aku benar-benar
khawatir hingga hampir gila rasanya. Hujan malam ini sangat deras, dan petirnya
benar-benar mengerikan. Setidaknya balas pesanku, agar aku tahu kau baik-baik
saja sekarang.'
From : Mr. Gold
'Mianhae, Joohyun ah. Naega jalmothaeseo! Kumohon, Baby... katakan
kalau kau saat ini berada ditempat yang aman. Jebbal... '
From : Mr. Gold
'I can't lose you, Hyun! I swear, i really can't. Seberapa besarpun
hatimu meragu padaku, demi Tuhan.. Joohyun ah... aku tidak pernah main-main
dengan cintaku.'
From : Mr. Gold
'Saranghae, Joohyun ah...'
Seohyun tertegun dan menghela
nafas panjang usai membaca satu persatu pesannya. Yonghwa pasti sangat
mengkhawatirkannya tadi malam.
Sesaat, Seohyun terdiam dan
memikirkan lagi apa yang sudah terjadi. Dia berusaha mencari berbagai macam
kemungkinan tentang apa yang membuat Yonghwa melakukan itu padanya. Tapi
bagaimanapun, tetap saja, hatinya terasa sakit. Yonghwa membohonginya dan
membuatnya terlihat bodoh.
Seohyun menghela nafas panjang
lalu menyimpan lagi ponselnya kedalam tasnya. Entahlah, tapi hingga saat itu,
Seohyun masih merasa enggan untuk membalas pesan-pesannya. Dengan sisa
tenaganya, Seohyun berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan
dirinya.
*****
Seohyun menuruni anak tangga itu
satu persatu, dan langsung menemukan Kyuhyun yang sedang duduk di kursi makan
sambil bekerja dengan laptopnya.
"Kau sudah selesai? Come....
aku membuat sarapan sederhana untuk kita. Aku harap kau menyukainya. Tapi bila
ternyata rasanya aneh dan tidak manusiawi, maka jangan paksakan dirimu, Seohyun
Ssi. Aku akan menelepon sarapan siap saji saja bila begitu."
Seohyun tertawa kecil mendengar
ucapan Kyuhyun.
"Geok cheongmaseo, aku sudah
terbiasa dengan rasa masakan yang aneh dan tidak manusiawi. Karena rasa
masakanku juga payah sekali."
"Jinjjayo? Baguslah kalau
begitu...."
Lalu keduanya pun tertawa.
Seohyun duduk disalah satu kursi makan yang terletak di depan Kyuhyun. Kyuhyun
segera menutup laptop nya, lalu mulai menuangkan nasi goreng buatannya keatas
piring untuk Seohyun.
"Ini, Seohyun Ssi....
nikmatilah nasi goreng segala rasa ini."
"Gomawoyo. Hajimayo, kau
bisa memanggilku Seohyun saja. Dan karena Kyuhyun Ssi lebih tua dariku, maka
kau juga bisa bicara banmal padaku."
"Geuraeseo? Hhmm.. baiklah.
Kalau begitu, kau juga panggil namaku saja dan mulailah bicara banmal
padaku."
"Eih? A.. aniyo... aku tidak
bisa. Kau kan lebih tua dariku." Seohyun menundukan kepalanya.
"Kalau begitu panggil aku
Oppa. Lagipula, kau di usia yang sama dengan adikku." Sesaat, Seohyun
terdiam. Tapi kemudian dia mengangguk pelan.
Merekapun menikmati sarapan
sederhana mereka. Bahasan seputar sastra, musik dan seni menjadi topik yang
asyik untuk mereka ceritakan satu sama lain. Seohyun merasa, dirinya dan
Kyuhyun memiliki banyak kesamaan dalam cara pandang mereka.
"Oh.. iya, apa rencanamu
hari ini, Joohyun ah? Hhm.. tak apa kan, bila aku memanggilmu dengan nama
aslimu?" Kyuhyun selesai dengan sarapannya, dan membersihkan mulutnya
denga tisu makan.
"Hari ini aku tidak ada
kuliah, dan aku juga sedang cuti bekerja. Mungkin aku hanya akan menyelasaikan
beberapa chapter terakhir novelku dan segera menyerahkannya ke kantormu."
Seohyun pun selesai dengan
makannya dan menyeka mulutnya.
"Jadi, kau hanya akan pulang
ke rumahmu setelah ini?" Kyuhyun menatap Seohyun yang tampak sedang
berfikir usai mendengar pertanyaan yang dia ajukan. Seohyun baru ingat, bahwa
dia tidak bisa pulang ke rumah Yonghwa saat ini.
"Hhm... aku.. mungkin harus
ke perpustakaan dulu untuk mencari beberapa bahan tambahan." Gadis itu
merekahkan senyum yang terlihat aneh, dan membuat Kyuhyun mengerutkan
keningnya.
"Perpustakaan? Referensi apa
yang kau butuhkan? Barangkali aku memilikinya, jadi kau tidak perlu repot pergi
ke perpustakaan kota."
"Aniyo.. aniyo!
Gwaenchannayo. Aku akan mencarinya sendiri. Lagi pula, aku sedang membutuhkan
udara segar untuk menenankan fikiranku. Yaa... sambil jalan-jalan laah..."
Sekali lagi Seohyun menyeringai, aneh. Kyuhyun masih memicingkan matanya sambil
menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi antara Seohyun dan Yonghwa.
"Joohyun ah, boleh aku
menanyakan sesuatu?"
"Tentu saja. Kenapa?"
Seohyun tersenyum hangat sambil meneguk orange juice nya.
"Apa kau sedang bertengkar
dengan kekasihmu?"
"Uhhukkk...." Spontan,
Seohyun tiba-tiba tersedak usai mendengar pertanyaan itu hingga dia
menyemburkan orange juice yang baru saja dia teguk. Kyuhyun seketika panik. Dia
segera berlari mendekati Seohyun dan membantunya dengan menepuk-nepuk
punggungnya. Hatinya benar-benar merasa bersalah, karena menanyakan hal itu di
waktu yang tidak tepat. Seohyun mulai reda dan tenang. Wajahnya benar-benar
merah dan tenggorokannya terasa amat perih. Kyuhyun membantunya menyeka
mulutnya dengan tisue.
"Gwaenchanna?" Kyuhyun
menatapnya cemas.
"Oh..! Gwaenchannayo,
Oppa." Nafasnya masih terengah.
"Mianhae, Joohyun ah. Jinjja
mianhae. Aku tidak bermaksud mengagetkanmu seperti itu. Aigoo.. naega jinjja
phabo ah! Kenapa juga aku harus menanyakan itu." Kyuhyun mengurut
keningnya sambil menenangkan diri.
"Gwaenchannayo, Oppa. Aku
yang terlalu buru-buru meneguk minumanku. Geok cheongmaseyo." Kyuhyun
menghembuskan nafas lega, setelah melihat Seohyun sudah sepenuhnya membaik. Dia
kemudian duduk di kursi sebelah Seohyun. Tubuhnya menghadap Seohyun hingga
mereka saling berhadapan.
"Mianhae, aku bertanya yang
bukan-bukan. Hanya saja, semalam kau tampak berantakan. Lebih tepatnya, kau
terlihat sangat terluka. Beberapa kali kau bergumam dan menyebut namanya. Aku
hanya menebak-nebak saja, apa mungkin kalian sedang bertengkar. Tapi bila kau
tidak ingin menjawabnya, gwaenchanna. Aku mengerti, Joohyun ah." Kyuhyun
lagi-lagi menatap teduh gadis dihadapannya. Seohyun tersenyum pahit, dan
kembali menundukkan wajahnya.
"Aniyo, gwaenchannayo, Oppa.
Aku juga tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Yonghwa Oppa.
Kemarin kami masih baik-baik saja. Bahkan malam sebelumnya, aku dan dia masih
ngobrol sambil bercanda sebelum aku tidur dikamarku. Lalu tiba-tiba...."
Seohyun berhenti disana, sambil menghembuskan nafas yang terasa berat di
dadanya.
"Aku tidak tahu lagi, Oppa.
Aku hanya merasa bahwa aku akan segera kehilangannya." Seohyun menatap
Kyuhyun dengan wajah memerah dan air mata yang sudah menggenang di kelopak
matanya.
"Wae? Terakhir saat aku
bertemu dengannya, aku melihat kalian baik-baik saja. Aku bisa melihat dengan
jelas bahwa Jung Yonghwa sangat mencintaimu." Kyuhyun sangat hati-hati dengan
intonasi suara dan bahasa yang akan dia ucapkan pada Seohyun, karena dia tidak
ingin menyentuh titik rasa sakit gadis itu.
"Untukku pun, semua ini
terasa seperti mimpi. Kau tahu, Oppa? Betapa inginnya aku lari dan mengingkari
kenyataan yang terjadi diantara kami. Aku ingin menganggap semua itu tidak
nyata dan hanya mimpi burukku saja. Tapi....
Tapi saat aku terbangun tadi,
tetap saja hatiku terasa sakit. Aku marah padanya. Aku kecewa. Lebih dari itu,
aku takut. Aku takut bila aku mendengar penjelasannya, saat itu akan menjadi
saat dimana aku harus melepaskannya. Ottokhae, Oppa? Semua ini sangat
menyakitkan..."
Suaranya lirih, nyaris tak
terdengar. Akhirnya, air mata itu mengalir tak terbendung. Seohyun menundukkan
wajahnya, berusaha menyembunyikan kerapuhan yang akan tampak disana. Kyuhyun
menghela nafas dengan berat. Menatap gadis dihadapannya dengan luka yang begitu
jelas bisa dia lihat dan dia rasakan, benar-benar menyakitkan untuknya. Andai
saja dia bisa melindunginya. Andai dia bisa memeluknya dan mengatakan padanya
bahwa semua akan baik-baik saja, karena ada dia yang akan selalu menjaganya.
Andai saja Seohyun tahu kenyataannya.
Tapi bagaimana bisa dia
melindunginya, sementara kenyataan tentang siapa dirinya sebenarnya mungkin
akan membuat Seohyun terluka lebih dalam?
Dengan lembut, Kyuhyun meraih
wajah sendu dihadapannya, lalu dengan ibu jarinya dia mengusap air mata itu.
"Uljima, Joohyun ah.
Gwaenchanna. Semua akan baik-baik saja. Mungkin kau hanya salah faham.
Bagaimanapun, sepahit apapun, kau harus bertemu dengannya dan mendengar
penjelasannya. Dia berhak mendapat kesempatan itu. Begitu juga dirimu.
Setidaknya, beri dirimu kesempatan untuk mengetahui kebenaran, sasakit apapun
itu. Yonghwa pasti sangat mencemaskanmu semalaman." Keduanya saling
bertatapan. Ada rasa teduh yang Seohyun rasakan saat dia menatap kedua mata
itu. Entah semua itu perasaan apa, tapi Seohyun selalu merasa nyaman dan aman
saat dia bersama Kyuhyun.
"Mollayo, Oppa. Semalaman
mungkin Yonghwa Oppa mencariku. Berulang kali dia mencoba menghubungiku, tapi
sepertinya aku tanpa sengaja mematikan ponselku. Dan tadi pagi, aku membaca
pesan-pesannya. Kau benar, Oppa. Mungkin lelaki itu hampir gila karena tidak
menemukanku. Hajiman, jaega..." Seohyun kembali menghentikan ucapannya untuk
sejenak menghela nafas panjang.
"Aku sedang berfikir, apakah
aku harus mengakhirinya saat ini, sebelum aku menerima rasa sakit lebih besar?
Apa lebih baik aku tidak tahu segalanya, daripada aku terluka karena sebuah
kenyataan?"
"Jangan paksakan dirimu,
Joohyun ah. Kau akan lebih terluka. Kau akan menyesal dan kau akan
merindukannya. Kau mencintainya, bukan? Dan aku yakin, Jung Yonghwa pun begitu.
Apapun masalah yang kalian hadapi saat ini, just face it, Joohyun ah. Be brave.
Be strong! Aku tahu, aku akan terdengar aneh setelah mengatakan ini, tapi....
Joohyun ah, saat nanti kau mulai
lelah, saat nanti kekuatanmu sudah diujung batasnya, kau ingat.. bahwa kau
punya seorang Oppa disini. Aku ingin bisa menolongmu kapanpun kau membutuhkan
pertolongan." Sekali lagi kedua mata mereka saling bertatapan. Seohyun
bisa merasakannya, bahwa lelaki dihadapannya sedang berkata tulus. Dan Kyuhyun
mungkin benar, sepahit apapun kenyataan yang akan dia terima, dia tetap harus
mendengar penjelasannya.
*****
Kyuhyun mengantar Seohyun hingga
depan apartemen Yonghwa. Musim dingin sepertinya akan segera tiba, karena cuaca
siang itu terasa menusuk tulang. Kyuhyun turun dari mobilnya dan menghampiri
Seohyun yang juga baru saja turun dari mobil Kyuhyun.
"Gomawoyo, Oppa. Neomu
gomawoyo." Seohyun tersenyum tulus. Dan Kyuhyun membalas dengan senyum
serupa.
"Cheonmanhae, Joohyun ah.
Himnae ah! Kau pasti bisa melewatinya. Yang harus kau lakukan hanyalah
menenangkan dirimu dan jangan biarkan emosi menguasainya. Bila kau membutuhkanku,
jangan sungkan untuk menghubungiku. Aratji?" Kyuhyun menepuk lengan kanan
Joohyun. Dari jauh, mereka berdua terlihat sangat serasi. Orang bisa saja
menjadi salah faham saat melihat mereka, karena wajah mereka tampak mirip,
seperti kakak dan adik. Atau bahkan.. seperti sepasang kekasih.
Setidaknya, begitulah dimata
Yonghwa yang melihat mereka dari dalam mobilnya. Semalaman dia tertidur disana
setelah lelah mencari keberadaan Seohyun dan tidak menemukannya. Gadis itu
lagi-lagi tersenyum karena pria lain. Emosinya membuncah diubun-ubunnya. Tapi
semua itu tertahan karena kejadian kemarin siang tergambar ulang dalam
ingatannya. Cukup untuknya menyakiti Seohyun, hingga hak nya untuk cemburu
hanya akan menjadi bahan olok-olokan saja.
Spekulasi dalam fikirannya
tiba-tiba terasa menyakitkan. Pertanyaan tentang 'Apakah Seohyun bersamanya
semalam?' benar-benar menyakitinya. Dia nyaris seperti orang gila, mencari dan
mencemaskan Seohyun, hingga seluruh tubuhnya basah kuyup oleh derasnya hujanpun
Yonghwa tak mempedulikan itu. Tapi Seohyun tidak mengangkat ponselnya. Dia juga
mengabaikan pesannya. Dan siang ini, dia tersenyum bersama lelaki lain.
Yonghwa menyalakan mobilnya, lalu
melaju memasuki basement tanpa Seohyun ketahui. Gadis itu masih terlihat asyik
berbicara dengan Kyuhyun, dan Yonghwa sadar, dia harus segera pergi dari sana.
Karena jika tidak, Yonghwa ragu bila dia bisa menahan dirinya untuk tidak
menyeret tangan Seohyun dan membawanya masuk.
Dia tiba lebih dulu di dalam
apartemen nya, lalu segera merebahkan tubuhnya diatas sofa. Sejenak, dia
memejamkan matanya. Tubuh dan jiwanya semua terasa sakit dan lelah. Dia tidak
tahu, dari mana dia harus memperbaiki semua ini.
Dan suara passcode pun berbunyi.
Yonghwa segera beranjak duduk sambil menanti kedatangan Seohyun dari balik
pintu. Seohyun langsung melihat Yonghwa sedang duduk menatapnya dengan wajah
pucat dan berantakan. Sejenak, dia
berdiri ditempatnya dan mereka hanya saling menatap.
"Waseo?" Lemah, dan
sedikit bergetar, Yonghwa akhirnya bertanya.
"Hhm.." Seohyun hanya
menjawab singkat, sebelum kemudian dia melangkah menuju dapur dan mengambil
segelas air putih. Dengan sisa tenaganya, Yonghwa mengikuti Seohyun, lalu duduk
didepan mini bar table.
"Aku mencarimu semalaman,
Hyun..." Lagi... dengan suara seraknya.
"Mian. Aku tidak mendengar
ponselku mati tanpa kusadari dan aku baru melihatnya tadi pagi." Seohyun
masih menghindari tatapan Yonghwa dan menyibukan dirinya dengan hal yang tidak
perlu, seperti membuka kulkas, dan melihat-lihat isinya.
"Semalam kau dimana? Aku
mencarimu kesemua tempat. Temanmu di KCC pun jadi ikut mengkhawatirkanmu."
Yonghwa berusaha keras untuk tetap tenang tanpa sedikitpun menunjukan emosinya.
"Aku dirumah temanku."
Singkat. Seohyun merasa tidak ada lagi yang bisa dia lakukan disana, hingga dia
putuskan untuk pergi ke kamarnya dan berganti baju. Tapi Yonghwa menahan
lengannya. Sesaat, mereka hanya saling bertatapan.
"Kita harus bicara,
Hyun." Tatapnya mengiba.
"Najunghae. Hari ini aku
sangat lelah dan kepalaku benar-benar sakit." Tentu saja, dia fikir 5
botol soju tidak akan bereaksi apa-apa pada tubuhnya? Dan Yonghwa segera
menyadari itu.
"Semalam kau minum, yah?
Dimana? Dengan siapa?" Rupanya aroma soju dimantel Seohyun masih tercium
jelas dari radius dekat. Yonghwa hampir kehilangan kendalinya, saat dia ingat
lagi, siapa yang sudah mengantar Seohyun-nya tadi, yang mungkin lelaki itulah
yang bersama Seohyun semalaman.
"Wae? Apa aku tidak boleh
minum? Aku sudah cukup dewasa, dan aku tidak butuh persetujuan siapapun untuk
itu. Lalu dengan siapa aku minum.... hhh... kau fikir saja sendiri, Mr. Gold.
Siapa kira-kira yang bisa aku temui saat aku ingin melarikan diri di kota asing
ini? Kau bahkan bisa menghitung dengan satu tanganmu saja, berapa banyak
temanku, bukan?" Seohyun tersenyum pahit dengan tatapan sinisnya.
"Mwo? God, Joohyun
ah..." Yonghwa kembali mengusap wajah dan kepalanya dengan frustasi.
"Hyun, jebbal.. duduklah! Kita harus bicara." Yonghwa masih
menahannya. Bagaimanapun, dalam hal ini dia lah yang bersalah.
Seohyun memejamkan mata sejenak
dan mengatur ritme nafasnya. Andwe! Dia tidak boleh emosi, dan dia harus
mendengar penjelasannya. Perlahan, dia menarik salah satu kursi mini bar table
itu, lalu duduk disana.
Masing-masing hanya terdiam
sejenak, sambil menenangkan diri mereka.
"Mianhae. Jeongmal mianhae,
Hyun." Yonghwa memulainya. Lirih, dia mencoba memperbaiki segalanya lewat
kata sakti itu. Seohyun masih terdiam, sambil menunggu kalimat Yonghwa
selanjutanya.
"Kim Hyunna... dia adalah
mantan tunangan Hyung-ku. Mereka berencana menikah 6 tahun lalu. Tapi tepat
seminggu sebelum pernikahan itu terjadi, tragedi itu terjadi karena
kebodohanku. Aku merenggut segalanya, bukan hanya hidup Hyung-ku saja. Tapi
juga hidup orang tuaku dan juga Hyunna. Gadis itu kehilangan semangat hidupnya
hingga beberapa kali dia mencoba membunuh dirinya sendiri.
Saat itu, saat aku mencoba untuk
menemuinya lagi, 2 tahun setelah tragedi itu, Hyunna masih sangat depresi. Dia
menolak bertemu denganku pada awalnya. Tapi aku terus mencoba dan mencoba lagi.
Hingga akhirnya, aku bisa melihatnya. Hyunna sangat kurus, lusuh, pucat,
benar-benar tidak terawat. Sejujurnya, hatiku sakit melihatnya seperti itu. Dan
sejak saat itu, aku memutuskan untuk mengambil semua tanggung jawab atas
penderitaan yang dia alami karena kematian Yongdo Hyung. Termasuk pertunangan
itu."
Seohyun tak mampu membendung air
matanya, saat satu persatu kalimat itu dicerna oleh fikirannya. Detik-detik
kehilangannya terasa semakin dekat dan nyata.
"Kenapa kau menyembunyikannya
dariku? Kenapa kau malah memulai semua ini denganku, sementara kau sudah
membuat komitmen dengannya lebih dulu? Sebenarnya, aku ini siapa bagimu? Apa
karena aku tinggal dan berjuang sendiri di kota ini, karena hidupku yang tampak
menyedihkan ini, maka kau menganggapku begitu mudah untuk masuk kedalam
permainanmu? Kenapa kau tega melakukan ini padaku?"
Kalimat terakhir itu terdengar
amat lirih hingga nyaris tak terdengar. Dan itu menyakiti Yonghwa juga. Lelaki
itu segera meraih kedua tangan Seohyun, lalu menguncinya dalam genggamannya.
"Ani ah, Joohyun ah! Demi
Tuhan, bukan seperti itu. Aku tidak pernah sekalipun merendahkanmu, apalagi
berniat menyakiti dan mempermainkanmu. Andai saja kau tahu, bahwa akupun
berusaha keras untuk menahan diriku agar aku tidak pernah mendekatimu dan
menuruti keinginanku untuk bersamamu, tapi...
Hyun, aku tidak tahu sejak kapan
kehadiranmu menjadi candu. Dan tanpa alasan logis, aku merasa takut bila kau
hilang dari hidupku. Karenanya, saat itu.. seperti orang gila... aku mengejarmu
ke Jeongdongjin dan membujukmu untuk kembali ke Seoul. Kembali ke tempat dimana
aku bisa dengan mudah menemukanmu.
Mianhae, Hyun... untuk membuatmu
merasakan semua ini, aku benar-benar minta maaf. Tapi perasaanku padamu itu
nyata. Dan itu jujur.
Aku mencintaimu, Seo Joohyun. Dan
aku tetap mencintaimu meski disaat aku sadari bahwa aku tidak boleh
melakukannya. Satu hal yang aku yakini... bahwa bila segala hal dalam duniaku
adalah kesalahan, maka mencintaimu adalah satu-satunya hal yang benar yang
telah aku lakukan."
Kedua matanya mulai berkaca-kaca.
Tak lekat, Yonghwa terus menatap gadis dihadapannya dengan doa yang tak pernah
henti mengalun dalam hatinya.
'Kumohon, Tuhan... jangan biarkan aku kehilangannya juga...'
"Lalu apa yang akan kau lakukan
kini? Bagaimana bisa aku merasa baik-baik saja hanya karena kau mengatakan
bahwa kau mencintaiku, sementara aku tahu, bahwa seseorang terluka karena
itu?"
"Aku tahu, Hyun. Aku tahu
kemelut ini tidak lantas usai sampai disini. Aku tahu, tidak semudah itu kita
melewati semua ini. Tapi aku akan memulainya dari sini. Dengan meyakinkanmu
bahwa cintaku padamu benar adanya. Kau boleh meragukan apapun didunia ini, tapi
bukan cintaku. Dan aku ingin kau tahu, bahwa aku tidak akan berhenti sampai
disini. Sudah terlambat untuk berhenti karena aku terlanjur terbiasa dengan
keberadaanmu. Aku terlanjur menginginkamu hingga aku tak ingin yang lainnya
didunia ini. Aku tidak bisa membiarkan diriku kehilangan lagi.
Jadi kumohon, Joohyun ah. Beri
aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Aku berjanji padamu, bahwa
perasaanmu akan menjadi prioritas utama untukku sebelum aku memikirkan perasaan
yang lainnya. Aku sudah mengatakan semuanya pada Hyunna dan aku akan terus
meyakinkannya bahwa apa yang terjadi antara kami ini tidak pernah nyata.
Jebbal, Hyun... jangan meninggalkanku lagi."
Sesuatu terasa tercekat
ditenggorokannya. Debar jantungnya berdegup kencang. Rasa takut itu menyiksanya
tanpa ampun. Seohyun terdiam dan menundukkan pandangannya. Diapun sama, betapa
kuatnya desakan hati untuk menjadi seorang yang egois yang tak perlu
mempedulikan perasaan orang lain dan hanya memikirkan keinginannya saja. Tapi
sampai kapan? Apakah dengan begitu dia benar-benar bisa bahagia?
"Beri aku waktu untuk
berfikir, Oppa. Beri kita waktu. Semua ini benar-benar sulit untukku. Terlebih
untukmu." Seohyun mengusap air matanya, dan menghela nafas panjang.
"Kau tidur dimana
semalam?" Sekarang, giliran Yonghwa yang membutuhkan jawaban itu.
"Sudah aku katakan, aku
dirumah temanku." Jawab Seohyun, dengan intonasi lebih tenang.
"Sejak kapan kau berteman
dengan editormu?" Seohyun mengerutkan keningnya usai mendengar pertanyaan
terakhir Yonghwa.
"Kau sudah tahu? Lalu untuk
apa kau menanyakan itu?" Seohyun kembali tersenyum sinis. Sebenarnya, kali
ini dia merasa tertangkap basah meski
dia tidak melakukan hal yang salah. Tapi semua itu menjadi terasa memuakan saat
Yonghwa bertanya dengan tatapan curiganya. No way! Kali ini dia tidak berhak
untuk cemburu, fikirnya.
"Mwo? Hanya itu yang bisa kau
katakan? Seo Joohyun, jangan katakan padaku bahwa semalam kau minum bersamanya,
lalu kau pergi kerumahnya dan.... dan... dan kau tertidur disana!" Yonghwa
berdiri dari duduknya lalu menatap Seohyun tajam. Dia mulai gusar dan amat
terganggu. Dan Seohyun, tentu saja dia tidak terima dengan pertanyaan Yonghwa
yang lebih terdengar seperti sebuah pernyataan baginya.
"Wae? Memangnya kenapa? Kau
bahkan terlalu sibuk dengan masalahmu, hingga akhirnya aku harus minum sendiri.
Beruntung, Kyuhyun Oppa ada disana hingga aku tidak harus berakhir di kantor
polisi karena mabuk ditempat umum tanpa satupun teman atau keluarga yang bisa
dihubungi." Seohyun menatapnya tak kalah tajam.
"Oppa? Whoa... sejak kapan
kau punya Oppa baru? Daebak!! You're so fast, girl... and it too fast,
actually!!" Yonghwa tak bisa menahannya lagi. Cara Seohyun memanggil Cho
Kyuhyun seolah memberinya gambaran bahwa yang terjadi antara Seohyun dan lelaki
itu bukan hanya hal biasa. Dan itu membuatnya iritasi.
"Mwo rago? Apa maksudmu?
Jangan merendahkanku dengan fikiran-fikiran kotormu, Mr. Gold! Tidak semua
orang bisa dengan mudah berubah dan berpindah hati sepertimu. Mungkin semua itu
menjadi sederhana, saat kau melupakan tunanganmu lalu datang padaku. Tapi tidak
untukku. Meski demi Tuhan, aku ingin sekali melakukan itu. Aku harap, aku bisa
menghapus semua perasaanku padamu semudah aku jatuh cinta padamu." Dan
lagi-lagi air matanya terjatuh. Tapi kali ini, Seohyun segera menyekanya.
"Joohyun ah, bukan begitu
maksudku. Kau tidak mengerti betapa takutnya aku, saat semalam aku tidak
berhasil menemukanmu dan kau tidak mengangkat ponselmu. Lalu tiba-tiba tadi aku
melihatmu diantar seorang lelaki dan kau tersenyum padanya. Aku bahkan tertidur
didalam mobilku semalaman, hanya untuk berjaga barangkali kau menghubungiku dan
aku bisa segera menjemputmu."
"Lalu apa saja yang kau
lakukan, hingga kau begitu terlambat menemukanku?! Aku menatap layar ponselku
hingga larut dan tak satu kali pun namamu muncul disana. Aku menunggumu hingga
aku sanggup menghabiskan 5 botol soju. Lalu Cho Kyuhyun datang dan aku tidak
tahu apa yang terjadi, karena saat aku terbangun, aku sudah berada disebuah
kamar. Dirumahnya."
"Mwo?! God... Seo Joohyun.
Betapapun aku mencoba mengerti, tapi.... hhh... Ya Tuhan... bagaimana bisa kau
tidur di rumahnya? 5 botol soju?!! Kau bahkan tidak tahu apa sudah dia lakukan
padamu selama kau tidak sadarkan diri, bukan? Bajingan itu, kenapa dia tidak
menghubungiku, padahal dia tahu bahwa aku ini kekasihmu?"
"Aku yang melarangnya!! Dan
jaga bicaramu, Jung Yonghwa Ssi! Belum cukupkah luka yang goreskan dihatiku?
Aku ingatkan bilamana kau lupa. Dalam hal ini, kau lah tokoh antagonisnya. Kau
yang menyebabkan semuanya. Jadi berhenti memutar balikan kenyataan dan bersikap
seolah akulah yang sudah mengkhianatimu! Dan jangan mengatakan hal buruk
tentang Kyuhyun Oppa, karena kau tidak tahu pria seperti apa dia. Kau... tidak
berhak melakukan itu!!"
Seohyun menatap Yonghwa sangat
tajam. Dan Yonghwa hanya mampu terpaku ditempatnya berdiri. Gadis itu dengan
sigap mengambil tasnya, lalu segera berlalu dari hadapan Yonghwa.
"Joohyun ah.. bukan
begitu.... Seo Joohyun!!" Terlambat! Yonghwa terlanjur menambah luka untuk
Seohyun-nya. Seohyun benar, bagaimana pun dialah tokoh antagonisnya. Dia yang
memulainya. Dan dia tidak berhak melakukan semua itu pada Seohyun.
Yonghwa berjalan cepat mengejar
Seohyun ke kamarnya. Yonghwa berusaha
mengetuk pintunya dan mengajaknya untuk bicara. Dia minta maaf dan mengatakan
bahwa dia menyesal sudah mengatakan semua itu. Tapi pintunya tertutup rapat.
Seohyun membentangkan jarak itu. Membuat dirinya tidak mudah untuk digapai.
*****
Malam tiba, dan Seohyun masih
belum keluar dari dalam kamarnya. Yonghwa sudah menyiapkan makan malam untuk
mereka, berharap Seohyun segera muncul dan mereka bisa kembali berbicara. Tapi
sudah lebih dari 6 jam gadis itu mengunci dirinya didalam kamar. Dan Yonghwa
mulai merasa cemas. Meski ragu, dia mencobanya lagi. Mengetuk pintu kamarnya,
dan memanggil namanya.
"Hyun... waktunya makan
malam. Jebbal, keluarlah. Kau sudah terlalu lama didalam. Kau harus
makan." Yonghwa menunggunya dengan sabar didepan pintu tertutup itu.
Sekali lagi dia mengetuk.
"Hyuun...! Seo Joohyun...
kumohon, buka pintunya." Tapi tak terdengar suara sedikitpun dari dalam.
Yonghwa mencoba membukanya, tapi pintunya terkunci. Lalu dia mengetuk lagi.
Lagi dan lagi. Tapi Seohyun tetap tidak menjawab.
Yonghwa semakin panik, dan segera
berlari mengambil kunci cadangan. Tanpa berfikir panjang, Yonghwa membuka pintu
kamar itu, lalu masuk kedalamnya. Dan.....
"Divine"
Girl's Generation
They’re way too fragile, aren’t
they?
These feelings that sway ever so
lightly
I’m looking for the answer that
Disappears when dawn breaks
This close road that blocks my
way
This starlight that becomes my guide
Hey, I want you to tell me
The place where I should go
Even though it’s so far away,
that....
It seems like this small me will
be crushed
I’m waiting for god’s will
This is destiny
So to speak, this small me is
powerless against
The raging waves that give their
loud roars, but
The sea will surely part
And make a path for me
One day,
We can be divine
Author
Note :
Harap
sabar yah... Chingu-deul. Ga boleh es-mo-si.. nanti darah tinggi. Wkwkkw...
doain aja, mereka ga kenapa2. Doain juga, Authornya biar rajin dan ga stengah2
nulisnya yaah... :P

Tidak ada komentar:
Posting Komentar