Selasa, 24 November 2015

In Time With You Chapter 18



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8
 
Chapter 18

Who Am  I To You?

Seohyun membuka matanya dan mendapati dirinya sedang berada disebuah kamar yang asing, yang belum pernah dia datangi sebelumnya. Seohyun menatap kesekeliling kamar itu sambil memijat-mijat kepalanya yang terasa sangat sakit. Perasaan kalut seketika menyeruak dalam hatinya.

Hingga seseorang datang dan mengetuk pintu kamar itu. Tidak lama kemudian, Seohyun melihat kepalanya muncul dari balik pintu.

"Kyu.. Kyuhyun Ssi?" Jantungnya berdebar kencang. Ottokhae? Bagaimana bisa dia berada disana?

"Good morning, Drunken master..." Kyuhyun menampakan senyum hangatnya. Tapi semua itu tidak lantas membuat kegelisahan Seohyun lenyap begitu saja. Seohyun masih sepenuhnya tidak mengerti tentang apa yang terjadi yang membuatnya bisa berada ditempat itu.

"Bagaimana bisa aku ada disini, Kyuhyun Ssi? Dimana ini sebenarnya?" Lagi-lagi, Kyuhyun tersenyum. Perlahan, lelaki itu masuk lalu duduk di kursi yang terletak disamping tempat tidur.

"Kau tenang saja. Saat ini kau sedang berada dirumahku. Mianhaeyo, Seohyun Ssi, aku membawamu kesini tanpa persetujuanmu. Aku tidak tahu, kemana aku harus membawamu semalam karena aku tidak tahu dimana tempat tinggalmu. Dan kau sangat mabuk tadi malam, hingga kau tertidur begitu lelap."

Seketika kejadian tadi malam kembali membayang dalam ingatannya. Seohyun ingat, terakhir kali dia sedang duduk disebuah café dan menunggu Yonghwa datang mencarinya. Ya, Seohyun ingat bahwa dia menghabiskan soju sebanyak itu.

Seohyun segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena rasa malu yang dia rasakan pada Kyuhyun. Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya. Seohyun bukan tipe orang yang akan mempermalukan dirinya sendiri seperti itu. Dan semalam.....

"Saesanghae... apa yang sudah aku lakukan?" Suaranya terdengar samar, tapi cukup jelas untuk bisa Kyuhyun dengar. Kyuhyun tertawa kecil melihat reaksi Seohyun.

"Gwaenchannayo, Seohyun Ssi. Kau tidak perlu malu dihadapanku. Aku bersumpah, selain tidur seperti mayat, kau tidak melakukan kebodohan lainnya, kok. Gwaenchannayo." Kyuhyun mengusap pundak Seohyun, bermaksud untuk menenangkannya.

"Joseohapnida, Kyuhyun Ssi. Jeongmal mianhaeyo. Aku tidak pernah seperti itu sebelumnya. Tapi tadi malam... aku benar-benar...." Seohyun tak mampu meneruskan kata-katanya. Dia tidak mungkin menceritakan masalahnya pada orang yang baru dia kenal. Terlebih karena ini adalah masalah pribadinya.

"Gwaenchannayo. Akupun kadang melakukan hal yang sama sepertimu saat aku sudah berada dipuncak kelelahanku, Seohyun Ssi. Tapi lain kali, bila kau ingin minum seperti itu, kau harus mengajak seseorang untuk menemanimu. Beruntung aku melihatmu tadi malam. Hujan dan petir nya benar-benar mengerikan, kau tahu?" Kyuhyun menatap Seohyun dengan teduh.

"Gomawoyo, Kyuhyun Ssi. Maaf, aku merepotkanmu."

"Eiii... aniyo, jinjja! Seperti yang aku bilang, kau gadis yang baik saat kau sedang mabuk sekalipun." Kyuhyun tersenyum lebih lebar. Dan Seohyunpun membalasnya sambil menundukkan wajahnya.

"Baiklah, Seo Joohyun Ssi. Kau bisa membersihkan dan merapihkan dirimu dulu. Handuk dan segala kebutuhanmu semua tersedia di kamar mandi. Pakai saja. Dan bila kau telah selesai, turunlah kebawah untuk sarapan. Aku menunggumu." Sekali lagi, Kyuhyun melemparkan senyum yang menyejukan. Seohyun hanya bisa mengagukkan kepalanya.

Seohyun menyisir rambutnya dengan jemarinya, kemudian kembali mengikatnya dengan ikatan ekor kuda. Pandangannya melayang pada tasnya. Seohyun meraihnya, lalu mengambil ponselnya dari dalam tas itu.

Tak lama, rentetan bunyi notifikasi berdenting berkali-kali. 48X panggilan tak terjawab. Dan.....

From : Mr. Gold
'Hyun, neol jeongmal eodie ah? Tolong hubungi aku, Joohyun ah! Jebbal... aku mohon!'

From : Mr. Gold
'Aku tahu, kau berhak marah atas semua yang terjadi. Geunyang jebbal, Hyun... kau harus mendengar penjelasanku. Kumohon angkat teleponmu.'

From : Mr. Gold
'Demi Tuhan, Seo Joohyun... kau dimana sekarang? Aku benar-benar khawatir hingga hampir gila rasanya. Hujan malam ini sangat deras, dan petirnya benar-benar mengerikan. Setidaknya balas pesanku, agar aku tahu kau baik-baik saja sekarang.'

From : Mr. Gold
'Mianhae, Joohyun ah. Naega jalmothaeseo! Kumohon, Baby... katakan kalau kau saat ini berada ditempat yang aman. Jebbal... '

From : Mr. Gold
'I can't lose you, Hyun! I swear, i really can't. Seberapa besarpun hatimu meragu padaku, demi Tuhan.. Joohyun ah... aku tidak pernah main-main dengan cintaku.'

From : Mr. Gold
'Saranghae, Joohyun ah...'

Seohyun tertegun dan menghela nafas panjang usai membaca satu persatu pesannya. Yonghwa pasti sangat mengkhawatirkannya tadi malam.

Sesaat, Seohyun terdiam dan memikirkan lagi apa yang sudah terjadi. Dia berusaha mencari berbagai macam kemungkinan tentang apa yang membuat Yonghwa melakukan itu padanya. Tapi bagaimanapun, tetap saja, hatinya terasa sakit. Yonghwa membohonginya dan membuatnya terlihat bodoh.

Seohyun menghela nafas panjang lalu menyimpan lagi ponselnya kedalam tasnya. Entahlah, tapi hingga saat itu, Seohyun masih merasa enggan untuk membalas pesan-pesannya. Dengan sisa tenaganya, Seohyun berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

*****

Seohyun menuruni anak tangga itu satu persatu, dan langsung menemukan Kyuhyun yang sedang duduk di kursi makan sambil bekerja dengan laptopnya.

"Kau sudah selesai? Come.... aku membuat sarapan sederhana untuk kita. Aku harap kau menyukainya. Tapi bila ternyata rasanya aneh dan tidak manusiawi, maka jangan paksakan dirimu, Seohyun Ssi. Aku akan menelepon sarapan siap saji saja bila begitu."

Seohyun tertawa kecil mendengar ucapan Kyuhyun.

"Geok cheongmaseo, aku sudah terbiasa dengan rasa masakan yang aneh dan tidak manusiawi. Karena rasa masakanku juga payah sekali."

"Jinjjayo? Baguslah kalau begitu...."

Lalu keduanya pun tertawa. Seohyun duduk disalah satu kursi makan yang terletak di depan Kyuhyun. Kyuhyun segera menutup laptop nya, lalu mulai menuangkan nasi goreng buatannya keatas piring untuk Seohyun.

"Ini, Seohyun Ssi.... nikmatilah nasi goreng segala rasa ini."

"Gomawoyo. Hajimayo, kau bisa memanggilku Seohyun saja. Dan karena Kyuhyun Ssi lebih tua dariku, maka kau juga bisa bicara banmal padaku."

"Geuraeseo? Hhmm.. baiklah. Kalau begitu, kau juga panggil namaku saja dan mulailah bicara banmal padaku."

"Eih? A.. aniyo... aku tidak bisa. Kau kan lebih tua dariku." Seohyun menundukan kepalanya.

"Kalau begitu panggil aku Oppa. Lagipula, kau di usia yang sama dengan adikku." Sesaat, Seohyun terdiam. Tapi kemudian dia mengangguk pelan.

Merekapun menikmati sarapan sederhana mereka. Bahasan seputar sastra, musik dan seni menjadi topik yang asyik untuk mereka ceritakan satu sama lain. Seohyun merasa, dirinya dan Kyuhyun memiliki banyak kesamaan dalam cara pandang mereka.

"Oh.. iya, apa rencanamu hari ini, Joohyun ah? Hhm.. tak apa kan, bila aku memanggilmu dengan nama aslimu?" Kyuhyun selesai dengan sarapannya, dan membersihkan mulutnya denga tisu makan.

"Hari ini aku tidak ada kuliah, dan aku juga sedang cuti bekerja. Mungkin aku hanya akan menyelasaikan beberapa chapter terakhir novelku dan segera menyerahkannya ke kantormu."

Seohyun pun selesai dengan makannya dan menyeka mulutnya.

"Jadi, kau hanya akan pulang ke rumahmu setelah ini?" Kyuhyun menatap Seohyun yang tampak sedang berfikir usai mendengar pertanyaan yang dia ajukan. Seohyun baru ingat, bahwa dia tidak bisa pulang ke rumah Yonghwa saat ini.

"Hhm... aku.. mungkin harus ke perpustakaan dulu untuk mencari beberapa bahan tambahan." Gadis itu merekahkan senyum yang terlihat aneh, dan membuat Kyuhyun mengerutkan keningnya.

"Perpustakaan? Referensi apa yang kau butuhkan? Barangkali aku memilikinya, jadi kau tidak perlu repot pergi ke perpustakaan kota."

"Aniyo.. aniyo! Gwaenchannayo. Aku akan mencarinya sendiri. Lagi pula, aku sedang membutuhkan udara segar untuk menenankan fikiranku. Yaa... sambil jalan-jalan laah..." Sekali lagi Seohyun menyeringai, aneh. Kyuhyun masih memicingkan matanya sambil menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi antara Seohyun dan Yonghwa.

"Joohyun ah, boleh aku menanyakan sesuatu?"

"Tentu saja. Kenapa?" Seohyun tersenyum hangat sambil meneguk orange juice nya.

"Apa kau sedang bertengkar dengan kekasihmu?"

"Uhhukkk...." Spontan, Seohyun tiba-tiba tersedak usai mendengar pertanyaan itu hingga dia menyemburkan orange juice yang baru saja dia teguk. Kyuhyun seketika panik. Dia segera berlari mendekati Seohyun dan membantunya dengan menepuk-nepuk punggungnya. Hatinya benar-benar merasa bersalah, karena menanyakan hal itu di waktu yang tidak tepat. Seohyun mulai reda dan tenang. Wajahnya benar-benar merah dan tenggorokannya terasa amat perih. Kyuhyun membantunya menyeka mulutnya dengan tisue.

"Gwaenchanna?" Kyuhyun menatapnya cemas.

"Oh..! Gwaenchannayo, Oppa." Nafasnya masih terengah.

"Mianhae, Joohyun ah. Jinjja mianhae. Aku tidak bermaksud mengagetkanmu seperti itu. Aigoo.. naega jinjja phabo ah! Kenapa juga aku harus menanyakan itu." Kyuhyun mengurut keningnya sambil menenangkan diri.

"Gwaenchannayo, Oppa. Aku yang terlalu buru-buru meneguk minumanku. Geok cheongmaseyo." Kyuhyun menghembuskan nafas lega, setelah melihat Seohyun sudah sepenuhnya membaik. Dia kemudian duduk di kursi sebelah Seohyun. Tubuhnya menghadap Seohyun hingga mereka saling berhadapan.

"Mianhae, aku bertanya yang bukan-bukan. Hanya saja, semalam kau tampak berantakan. Lebih tepatnya, kau terlihat sangat terluka. Beberapa kali kau bergumam dan menyebut namanya. Aku hanya menebak-nebak saja, apa mungkin kalian sedang bertengkar. Tapi bila kau tidak ingin menjawabnya, gwaenchanna. Aku mengerti, Joohyun ah." Kyuhyun lagi-lagi menatap teduh gadis dihadapannya. Seohyun tersenyum pahit, dan kembali menundukkan wajahnya.

"Aniyo, gwaenchannayo, Oppa. Aku juga tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Yonghwa Oppa. Kemarin kami masih baik-baik saja. Bahkan malam sebelumnya, aku dan dia masih ngobrol sambil bercanda sebelum aku tidur dikamarku. Lalu tiba-tiba...." Seohyun berhenti disana, sambil menghembuskan nafas yang terasa berat di dadanya.

"Aku tidak tahu lagi, Oppa. Aku hanya merasa bahwa aku akan segera kehilangannya." Seohyun menatap Kyuhyun dengan wajah memerah dan air mata yang sudah menggenang di kelopak matanya.

"Wae? Terakhir saat aku bertemu dengannya, aku melihat kalian baik-baik saja. Aku bisa melihat dengan jelas bahwa Jung Yonghwa sangat mencintaimu." Kyuhyun sangat hati-hati dengan intonasi suara dan bahasa yang akan dia ucapkan pada Seohyun, karena dia tidak ingin menyentuh titik rasa sakit gadis itu.

"Untukku pun, semua ini terasa seperti mimpi. Kau tahu, Oppa? Betapa inginnya aku lari dan mengingkari kenyataan yang terjadi diantara kami. Aku ingin menganggap semua itu tidak nyata dan hanya mimpi burukku saja. Tapi....

Tapi saat aku terbangun tadi, tetap saja hatiku terasa sakit. Aku marah padanya. Aku kecewa. Lebih dari itu, aku takut. Aku takut bila aku mendengar penjelasannya, saat itu akan menjadi saat dimana aku harus melepaskannya. Ottokhae, Oppa? Semua ini sangat menyakitkan..."

Suaranya lirih, nyaris tak terdengar. Akhirnya, air mata itu mengalir tak terbendung. Seohyun menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan kerapuhan yang akan tampak disana. Kyuhyun menghela nafas dengan berat. Menatap gadis dihadapannya dengan luka yang begitu jelas bisa dia lihat dan dia rasakan, benar-benar menyakitkan untuknya. Andai saja dia bisa melindunginya. Andai dia bisa memeluknya dan mengatakan padanya bahwa semua akan baik-baik saja, karena ada dia yang akan selalu menjaganya. Andai saja Seohyun tahu kenyataannya.

Tapi bagaimana bisa dia melindunginya, sementara kenyataan tentang siapa dirinya sebenarnya mungkin akan membuat Seohyun terluka lebih dalam?

Dengan lembut, Kyuhyun meraih wajah sendu dihadapannya, lalu dengan ibu jarinya dia mengusap air mata itu.

"Uljima, Joohyun ah. Gwaenchanna. Semua akan baik-baik saja. Mungkin kau hanya salah faham. Bagaimanapun, sepahit apapun, kau harus bertemu dengannya dan mendengar penjelasannya. Dia berhak mendapat kesempatan itu. Begitu juga dirimu. Setidaknya, beri dirimu kesempatan untuk mengetahui kebenaran, sasakit apapun itu. Yonghwa pasti sangat mencemaskanmu semalaman." Keduanya saling bertatapan. Ada rasa teduh yang Seohyun rasakan saat dia menatap kedua mata itu. Entah semua itu perasaan apa, tapi Seohyun selalu merasa nyaman dan aman saat dia bersama Kyuhyun.

"Mollayo, Oppa. Semalaman mungkin Yonghwa Oppa mencariku. Berulang kali dia mencoba menghubungiku, tapi sepertinya aku tanpa sengaja mematikan ponselku. Dan tadi pagi, aku membaca pesan-pesannya. Kau benar, Oppa. Mungkin lelaki itu hampir gila karena tidak menemukanku. Hajiman, jaega..." Seohyun kembali menghentikan ucapannya untuk sejenak menghela nafas panjang.

"Aku sedang berfikir, apakah aku harus mengakhirinya saat ini, sebelum aku menerima rasa sakit lebih besar? Apa lebih baik aku tidak tahu segalanya, daripada aku terluka karena sebuah kenyataan?"

"Jangan paksakan dirimu, Joohyun ah. Kau akan lebih terluka. Kau akan menyesal dan kau akan merindukannya. Kau mencintainya, bukan? Dan aku yakin, Jung Yonghwa pun begitu. Apapun masalah yang kalian hadapi saat ini, just face it, Joohyun ah. Be brave. Be strong! Aku tahu, aku akan terdengar aneh setelah mengatakan ini, tapi....

Joohyun ah, saat nanti kau mulai lelah, saat nanti kekuatanmu sudah diujung batasnya, kau ingat.. bahwa kau punya seorang Oppa disini. Aku ingin bisa menolongmu kapanpun kau membutuhkan pertolongan." Sekali lagi kedua mata mereka saling bertatapan. Seohyun bisa merasakannya, bahwa lelaki dihadapannya sedang berkata tulus. Dan Kyuhyun mungkin benar, sepahit apapun kenyataan yang akan dia terima, dia tetap harus mendengar penjelasannya.

*****

Kyuhyun mengantar Seohyun hingga depan apartemen Yonghwa. Musim dingin sepertinya akan segera tiba, karena cuaca siang itu terasa menusuk tulang. Kyuhyun turun dari mobilnya dan menghampiri Seohyun yang juga baru saja turun dari mobil Kyuhyun.

"Gomawoyo, Oppa. Neomu gomawoyo." Seohyun tersenyum tulus. Dan Kyuhyun membalas dengan senyum serupa.

"Cheonmanhae, Joohyun ah. Himnae ah! Kau pasti bisa melewatinya. Yang harus kau lakukan hanyalah menenangkan dirimu dan jangan biarkan emosi menguasainya. Bila kau membutuhkanku, jangan sungkan untuk menghubungiku. Aratji?" Kyuhyun menepuk lengan kanan Joohyun. Dari jauh, mereka berdua terlihat sangat serasi. Orang bisa saja menjadi salah faham saat melihat mereka, karena wajah mereka tampak mirip, seperti kakak dan adik. Atau bahkan.. seperti sepasang kekasih.

Setidaknya, begitulah dimata Yonghwa yang melihat mereka dari dalam mobilnya. Semalaman dia tertidur disana setelah lelah mencari keberadaan Seohyun dan tidak menemukannya. Gadis itu lagi-lagi tersenyum karena pria lain. Emosinya membuncah diubun-ubunnya. Tapi semua itu tertahan karena kejadian kemarin siang tergambar ulang dalam ingatannya. Cukup untuknya menyakiti Seohyun, hingga hak nya untuk cemburu hanya akan menjadi bahan olok-olokan saja.

Spekulasi dalam fikirannya tiba-tiba terasa menyakitkan. Pertanyaan tentang 'Apakah Seohyun bersamanya semalam?' benar-benar menyakitinya. Dia nyaris seperti orang gila, mencari dan mencemaskan Seohyun, hingga seluruh tubuhnya basah kuyup oleh derasnya hujanpun Yonghwa tak mempedulikan itu. Tapi Seohyun tidak mengangkat ponselnya. Dia juga mengabaikan pesannya. Dan siang ini, dia tersenyum bersama lelaki lain.

Yonghwa menyalakan mobilnya, lalu melaju memasuki basement tanpa Seohyun ketahui. Gadis itu masih terlihat asyik berbicara dengan Kyuhyun, dan Yonghwa sadar, dia harus segera pergi dari sana. Karena jika tidak, Yonghwa ragu bila dia bisa menahan dirinya untuk tidak menyeret tangan Seohyun dan membawanya masuk.

Dia tiba lebih dulu di dalam apartemen nya, lalu segera merebahkan tubuhnya diatas sofa. Sejenak, dia memejamkan matanya. Tubuh dan jiwanya semua terasa sakit dan lelah. Dia tidak tahu, dari mana dia harus memperbaiki semua ini.

Dan suara passcode pun berbunyi. Yonghwa segera beranjak duduk sambil menanti kedatangan Seohyun dari balik pintu. Seohyun langsung melihat Yonghwa sedang duduk menatapnya dengan wajah pucat dan berantakan.  Sejenak, dia berdiri ditempatnya dan mereka hanya saling menatap.

"Waseo?" Lemah, dan sedikit bergetar, Yonghwa akhirnya bertanya.

"Hhm.." Seohyun hanya menjawab singkat, sebelum kemudian dia melangkah menuju dapur dan mengambil segelas air putih. Dengan sisa tenaganya, Yonghwa mengikuti Seohyun, lalu duduk didepan mini bar table.

"Aku mencarimu semalaman, Hyun..." Lagi... dengan suara seraknya.

"Mian. Aku tidak mendengar ponselku mati tanpa kusadari dan aku baru melihatnya tadi pagi." Seohyun masih menghindari tatapan Yonghwa dan menyibukan dirinya dengan hal yang tidak perlu, seperti membuka kulkas, dan melihat-lihat isinya.

"Semalam kau dimana? Aku mencarimu kesemua tempat. Temanmu di KCC pun jadi ikut mengkhawatirkanmu." Yonghwa berusaha keras untuk tetap tenang tanpa sedikitpun menunjukan emosinya.

"Aku dirumah temanku." Singkat. Seohyun merasa tidak ada lagi yang bisa dia lakukan disana, hingga dia putuskan untuk pergi ke kamarnya dan berganti baju. Tapi Yonghwa menahan lengannya. Sesaat, mereka hanya saling bertatapan.

"Kita harus bicara, Hyun." Tatapnya mengiba.

"Najunghae. Hari ini aku sangat lelah dan kepalaku benar-benar sakit." Tentu saja, dia fikir 5 botol soju tidak akan bereaksi apa-apa pada tubuhnya? Dan Yonghwa segera menyadari itu.

"Semalam kau minum, yah? Dimana? Dengan siapa?" Rupanya aroma soju dimantel Seohyun masih tercium jelas dari radius dekat. Yonghwa hampir kehilangan kendalinya, saat dia ingat lagi, siapa yang sudah mengantar Seohyun-nya tadi, yang mungkin lelaki itulah yang bersama Seohyun semalaman.

"Wae? Apa aku tidak boleh minum? Aku sudah cukup dewasa, dan aku tidak butuh persetujuan siapapun untuk itu. Lalu dengan siapa aku minum.... hhh... kau fikir saja sendiri, Mr. Gold. Siapa kira-kira yang bisa aku temui saat aku ingin melarikan diri di kota asing ini? Kau bahkan bisa menghitung dengan satu tanganmu saja, berapa banyak temanku, bukan?" Seohyun tersenyum pahit dengan tatapan sinisnya.

"Mwo? God, Joohyun ah..." Yonghwa kembali mengusap wajah dan kepalanya dengan frustasi. "Hyun, jebbal.. duduklah! Kita harus bicara." Yonghwa masih menahannya. Bagaimanapun, dalam hal ini dia lah yang bersalah.

Seohyun memejamkan mata sejenak dan mengatur ritme nafasnya. Andwe! Dia tidak boleh emosi, dan dia harus mendengar penjelasannya. Perlahan, dia menarik salah satu kursi mini bar table itu, lalu duduk disana.

Masing-masing hanya terdiam sejenak, sambil menenangkan diri mereka.

"Mianhae. Jeongmal mianhae, Hyun." Yonghwa memulainya. Lirih, dia mencoba memperbaiki segalanya lewat kata sakti itu. Seohyun masih terdiam, sambil menunggu kalimat Yonghwa selanjutanya.

"Kim Hyunna... dia adalah mantan tunangan Hyung-ku. Mereka berencana menikah 6 tahun lalu. Tapi tepat seminggu sebelum pernikahan itu terjadi, tragedi itu terjadi karena kebodohanku. Aku merenggut segalanya, bukan hanya hidup Hyung-ku saja. Tapi juga hidup orang tuaku dan juga Hyunna. Gadis itu kehilangan semangat hidupnya hingga beberapa kali dia mencoba membunuh dirinya sendiri.

Saat itu, saat aku mencoba untuk menemuinya lagi, 2 tahun setelah tragedi itu, Hyunna masih sangat depresi. Dia menolak bertemu denganku pada awalnya. Tapi aku terus mencoba dan mencoba lagi. Hingga akhirnya, aku bisa melihatnya. Hyunna sangat kurus, lusuh, pucat, benar-benar tidak terawat. Sejujurnya, hatiku sakit melihatnya seperti itu. Dan sejak saat itu, aku memutuskan untuk mengambil semua tanggung jawab atas penderitaan yang dia alami karena kematian Yongdo Hyung. Termasuk pertunangan itu."

Seohyun tak mampu membendung air matanya, saat satu persatu kalimat itu dicerna oleh fikirannya. Detik-detik kehilangannya terasa semakin dekat dan nyata.

"Kenapa kau menyembunyikannya dariku? Kenapa kau malah memulai semua ini denganku, sementara kau sudah membuat komitmen dengannya lebih dulu? Sebenarnya, aku ini siapa bagimu? Apa karena aku tinggal dan berjuang sendiri di kota ini, karena hidupku yang tampak menyedihkan ini, maka kau menganggapku begitu mudah untuk masuk kedalam permainanmu? Kenapa kau tega melakukan ini padaku?"

Kalimat terakhir itu terdengar amat lirih hingga nyaris tak terdengar. Dan itu menyakiti Yonghwa juga. Lelaki itu segera meraih kedua tangan Seohyun, lalu menguncinya dalam genggamannya.

"Ani ah, Joohyun ah! Demi Tuhan, bukan seperti itu. Aku tidak pernah sekalipun merendahkanmu, apalagi berniat menyakiti dan mempermainkanmu. Andai saja kau tahu, bahwa akupun berusaha keras untuk menahan diriku agar aku tidak pernah mendekatimu dan menuruti keinginanku untuk bersamamu, tapi...

Hyun, aku tidak tahu sejak kapan kehadiranmu menjadi candu. Dan tanpa alasan logis, aku merasa takut bila kau hilang dari hidupku. Karenanya, saat itu.. seperti orang gila... aku mengejarmu ke Jeongdongjin dan membujukmu untuk kembali ke Seoul. Kembali ke tempat dimana aku bisa dengan mudah menemukanmu.

Mianhae, Hyun... untuk membuatmu merasakan semua ini, aku benar-benar minta maaf. Tapi perasaanku padamu itu nyata. Dan itu jujur.

Aku mencintaimu, Seo Joohyun. Dan aku tetap mencintaimu meski disaat aku sadari bahwa aku tidak boleh melakukannya. Satu hal yang aku yakini... bahwa bila segala hal dalam duniaku adalah kesalahan, maka mencintaimu adalah satu-satunya hal yang benar yang telah aku lakukan."

Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Tak lekat, Yonghwa terus menatap gadis dihadapannya dengan doa yang tak pernah henti mengalun dalam hatinya.

'Kumohon, Tuhan... jangan biarkan aku kehilangannya juga...'

"Lalu apa yang akan kau lakukan kini? Bagaimana bisa aku merasa baik-baik saja hanya karena kau mengatakan bahwa kau mencintaiku, sementara aku tahu, bahwa seseorang terluka karena itu?"

"Aku tahu, Hyun. Aku tahu kemelut ini tidak lantas usai sampai disini. Aku tahu, tidak semudah itu kita melewati semua ini. Tapi aku akan memulainya dari sini. Dengan meyakinkanmu bahwa cintaku padamu benar adanya. Kau boleh meragukan apapun didunia ini, tapi bukan cintaku. Dan aku ingin kau tahu, bahwa aku tidak akan berhenti sampai disini. Sudah terlambat untuk berhenti karena aku terlanjur terbiasa dengan keberadaanmu. Aku terlanjur menginginkamu hingga aku tak ingin yang lainnya didunia ini. Aku tidak bisa membiarkan diriku kehilangan lagi.

Jadi kumohon, Joohyun ah. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Aku berjanji padamu, bahwa perasaanmu akan menjadi prioritas utama untukku sebelum aku memikirkan perasaan yang lainnya. Aku sudah mengatakan semuanya pada Hyunna dan aku akan terus meyakinkannya bahwa apa yang terjadi antara kami ini tidak pernah nyata. Jebbal, Hyun... jangan meninggalkanku lagi."

Sesuatu terasa tercekat ditenggorokannya. Debar jantungnya berdegup kencang. Rasa takut itu menyiksanya tanpa ampun. Seohyun terdiam dan menundukkan pandangannya. Diapun sama, betapa kuatnya desakan hati untuk menjadi seorang yang egois yang tak perlu mempedulikan perasaan orang lain dan hanya memikirkan keinginannya saja. Tapi sampai kapan? Apakah dengan begitu dia benar-benar bisa bahagia?

"Beri aku waktu untuk berfikir, Oppa. Beri kita waktu. Semua ini benar-benar sulit untukku. Terlebih untukmu." Seohyun mengusap air matanya, dan menghela nafas panjang.

"Kau tidur dimana semalam?" Sekarang, giliran Yonghwa yang membutuhkan jawaban itu.

"Sudah aku katakan, aku dirumah temanku." Jawab Seohyun, dengan intonasi lebih tenang.

"Sejak kapan kau berteman dengan editormu?" Seohyun mengerutkan keningnya usai mendengar pertanyaan terakhir Yonghwa.

"Kau sudah tahu? Lalu untuk apa kau menanyakan itu?" Seohyun kembali tersenyum sinis. Sebenarnya, kali ini dia merasa tertangkap  basah meski dia tidak melakukan hal yang salah. Tapi semua itu menjadi terasa memuakan saat Yonghwa bertanya dengan tatapan curiganya. No way! Kali ini dia tidak berhak untuk cemburu, fikirnya.

"Mwo? Hanya itu yang bisa kau katakan? Seo Joohyun, jangan katakan padaku bahwa semalam kau minum bersamanya, lalu kau pergi kerumahnya dan.... dan... dan kau tertidur disana!" Yonghwa berdiri dari duduknya lalu menatap Seohyun tajam. Dia mulai gusar dan amat terganggu. Dan Seohyun, tentu saja dia tidak terima dengan pertanyaan Yonghwa yang lebih terdengar seperti sebuah pernyataan baginya.

"Wae? Memangnya kenapa? Kau bahkan terlalu sibuk dengan masalahmu, hingga akhirnya aku harus minum sendiri. Beruntung, Kyuhyun Oppa ada disana hingga aku tidak harus berakhir di kantor polisi karena mabuk ditempat umum tanpa satupun teman atau keluarga yang bisa dihubungi." Seohyun menatapnya tak kalah tajam.

"Oppa? Whoa... sejak kapan kau punya Oppa baru? Daebak!! You're so fast, girl... and it too fast, actually!!" Yonghwa tak bisa menahannya lagi. Cara Seohyun memanggil Cho Kyuhyun seolah memberinya gambaran bahwa yang terjadi antara Seohyun dan lelaki itu bukan hanya hal biasa. Dan itu membuatnya iritasi.

"Mwo rago? Apa maksudmu? Jangan merendahkanku dengan fikiran-fikiran kotormu, Mr. Gold! Tidak semua orang bisa dengan mudah berubah dan berpindah hati sepertimu. Mungkin semua itu menjadi sederhana, saat kau melupakan tunanganmu lalu datang padaku. Tapi tidak untukku. Meski demi Tuhan, aku ingin sekali melakukan itu. Aku harap, aku bisa menghapus semua perasaanku padamu semudah aku jatuh cinta padamu." Dan lagi-lagi air matanya terjatuh. Tapi kali ini, Seohyun segera menyekanya.

"Joohyun ah, bukan begitu maksudku. Kau tidak mengerti betapa takutnya aku, saat semalam aku tidak berhasil menemukanmu dan kau tidak mengangkat ponselmu. Lalu tiba-tiba tadi aku melihatmu diantar seorang lelaki dan kau tersenyum padanya. Aku bahkan tertidur didalam mobilku semalaman, hanya untuk berjaga barangkali kau menghubungiku dan aku bisa segera menjemputmu."

"Lalu apa saja yang kau lakukan, hingga kau begitu terlambat menemukanku?! Aku menatap layar ponselku hingga larut dan tak satu kali pun namamu muncul disana. Aku menunggumu hingga aku sanggup menghabiskan 5 botol soju. Lalu Cho Kyuhyun datang dan aku tidak tahu apa yang terjadi, karena saat aku terbangun, aku sudah berada disebuah kamar. Dirumahnya."

"Mwo?! God... Seo Joohyun. Betapapun aku mencoba mengerti, tapi.... hhh... Ya Tuhan... bagaimana bisa kau tidur di rumahnya? 5 botol soju?!! Kau bahkan tidak tahu apa sudah dia lakukan padamu selama kau tidak sadarkan diri, bukan? Bajingan itu, kenapa dia tidak menghubungiku, padahal dia tahu bahwa aku ini kekasihmu?"

"Aku yang melarangnya!! Dan jaga bicaramu, Jung Yonghwa Ssi! Belum cukupkah luka yang goreskan dihatiku? Aku ingatkan bilamana kau lupa. Dalam hal ini, kau lah tokoh antagonisnya. Kau yang menyebabkan semuanya. Jadi berhenti memutar balikan kenyataan dan bersikap seolah akulah yang sudah mengkhianatimu! Dan jangan mengatakan hal buruk tentang Kyuhyun Oppa, karena kau tidak tahu pria seperti apa dia. Kau... tidak berhak melakukan itu!!"

Seohyun menatap Yonghwa sangat tajam. Dan Yonghwa hanya mampu terpaku ditempatnya berdiri. Gadis itu dengan sigap mengambil tasnya, lalu segera berlalu dari hadapan Yonghwa.

"Joohyun ah.. bukan begitu.... Seo Joohyun!!" Terlambat! Yonghwa terlanjur menambah luka untuk Seohyun-nya. Seohyun benar, bagaimana pun dialah tokoh antagonisnya. Dia yang memulainya. Dan dia tidak berhak melakukan semua itu pada Seohyun.

Yonghwa berjalan cepat mengejar Seohyun ke kamarnya.  Yonghwa berusaha mengetuk pintunya dan mengajaknya untuk bicara. Dia minta maaf dan mengatakan bahwa dia menyesal sudah mengatakan semua itu. Tapi pintunya tertutup rapat. Seohyun membentangkan jarak itu. Membuat dirinya tidak mudah untuk digapai.

*****

Malam tiba, dan Seohyun masih belum keluar dari dalam kamarnya. Yonghwa sudah menyiapkan makan malam untuk mereka, berharap Seohyun segera muncul dan mereka bisa kembali berbicara. Tapi sudah lebih dari 6 jam gadis itu mengunci dirinya didalam kamar. Dan Yonghwa mulai merasa cemas. Meski ragu, dia mencobanya lagi. Mengetuk pintu kamarnya, dan memanggil namanya.

"Hyun... waktunya makan malam. Jebbal, keluarlah. Kau sudah terlalu lama didalam. Kau harus makan." Yonghwa menunggunya dengan sabar didepan pintu tertutup itu. Sekali lagi dia mengetuk.

"Hyuun...! Seo Joohyun... kumohon, buka pintunya." Tapi tak terdengar suara sedikitpun dari dalam. Yonghwa mencoba membukanya, tapi pintunya terkunci. Lalu dia mengetuk lagi. Lagi dan lagi. Tapi Seohyun tetap tidak menjawab.

Yonghwa semakin panik, dan segera berlari mengambil kunci cadangan. Tanpa berfikir panjang, Yonghwa membuka pintu kamar itu, lalu masuk kedalamnya. Dan.....

"Divine"
Girl's Generation

They’re way too fragile, aren’t they?
These feelings that sway ever so lightly
I’m looking for the  answer that
Disappears when dawn breaks
This close road that blocks my way
This starlight that becomes my guide

Hey, I want you to tell me
The place where I should go
Even though it’s so far away, that....
It seems like this small me will be crushed
I’m waiting for god’s will
This is destiny

So to speak, this small me is powerless against
The raging waves that give their loud roars, but
The sea will surely part
And make a path for me
One day,
We can be divine

Author Note :
Harap sabar yah... Chingu-deul. Ga boleh es-mo-si.. nanti darah tinggi. Wkwkkw... doain aja, mereka ga kenapa2. Doain juga, Authornya biar rajin dan ga stengah2 nulisnya yaah... :P





Tidak ada komentar:

Posting Komentar