In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 16
Dating
3 Minggu Kemudian
From : Mr. Gold
'What are you doing now, Beib?'
Senyum termanis
segera merekah diwajah lelahnya ketika sebuah pesan dari seorang yang dia
rindukan tiba-tiba muncul dilayar ponselnya. Mr. Gold. Ya, Seohyun
merubahnya sejak dia mengetahui untaian cerita itu. Sudah seminggu ini Seohyun
tidak melihat wajahnya. CNBLUE sedang berada di Eropa bersama beberapa band
indie dari Jepang untuk mengikuti annual rock festival disana. Dan seharian
kemarin, Yonghwa tidak menghubunginya.
To : Mr. Gold
'Baru saja menyelesaikan shiff-ku. Sekarang aku sedang
menunggu Hyo Eonnie sebelum aku pulang. And how about you, Handsome?'
From : Mr. Gold
'Very weak, tired and.... Neomu bogoshiposeo, Sunset!!
I think i need my energy. Can't hardly wait
to see your sparkling angel eyes. :( '
Dan senyumnya
merekah semakin lebar. Terpancar jelas warna bahagia dari sana.
To : Mr. Gold
'Kalau begitu cepatlah pulang, Oppa! Sarapan dan makan
malam tanpamu rasanya aneh dan membosankan.'
Hari ini KCC cukup
ramai sejak pagi. Belum lagi, semalam Seohyun hanya punya waktu 2 jam untuk
tidur karena tugas akhirnya. Seohyun beberapa saat merebahkan tubunya disofa
ruang istirahat, sambil memijat-mijat kakinya. Benar-benar hari yang
melelahkan.
"Barbie, ada
yang mencarimu!" Tiba-tiba Suho datang dari balik pintu.
"Na ya?
Nugu?" Seohyun mengerutkan keningnya.
"Molla. Aku
baru melihatnya pertama kali di KCC. Ckckck... geun yeoja ga! Haissh!!
Sebenarnya kau punya berapa banyak pacar sih? Actor itu, lalu musisi itu, dan
sekarang.. bila kuperhatikan, dari gayanya berpakaian, sepertinya dia seorang
yang kaya dan terpelajar. Wajahnya juga tampan. Aigoo.... yakkk... Seo
Barbie!!! Pantas saja dimatamu aku ini tak pernah cukup. Apa karena aku hanya
sekedar tukang masak yang bahkan belum lulus kuliah?" Dan sebuah lap piring
pun mendarat manis diwajah Suho sebagai jawaban dari pertanyaan bodohnya.
"Kau gila,
ya?! Tsk..." Seohyun menyorotkan tatapan kesal kearah sahabatnya meski
pertanyaan dalam benaknya belum terjawab tentang siapa lelaki yang dimaksud
Suho.
"Yakk!!! Kau
tidak tahu betapa berharganya wajah ini, huh? Aigoo... lihat lap ini!! Eomma,
Ottokhae? Na ye sojungan eolgu ah..." Rengekan Suho semakin terdengar
menyebalkan ditelinga Seohyun namun tetap saja... Seohyun tidak bisa menahan
tawanya karena tingkah Suho itu.
"Geumanhae,
Nobita! Sekarang katakan, dimana dia sekarang?"
"Tuh... dia
sedang menunggumu dikursi balcon. Akhh... sayang sekali. Wajahnya memang
tampan, tapi.... urusan selera... sepertinya dia sedikit aneh. Karena jika saja
akal sehatnya berfungsi dengan baik, untuk apa pria tampan sepertinya datang
kesini untuk mencarimu? Benar-benar tidak masuk akal." Suho melipat kedua
tangannya didepan dadanya sambil menampakkan wajah simpati yang dia tujukan
pada pria yang Seohyun bahkan belum tahu siapa dia. Dan kali ini Suho tidak
mampu mengelak lagi. Sebuah sendok berbalut minyak ikan benar-benar mendarat
halus di pipinya.
Harga yang harus
dia bayar karena kecerewetannya.
"Yak!!!! Seo
Phabo ah!!! Seo carzy ah! Seo ugly ah!!! Neol jinjja mitjoseo?!" Suho
berteriak sambil membelalakan matanya hingga kedua bola mata kodoknya tampak
seolah siap melompat dari kelopaknya. Seohyun hanya tertawa geli meilhat
reaksinya lalu berjalan melewati Suho begitu saja untuk melihat dan memastikan
siapa lelaki yang datang mencarinya.
Pandangannya
langsung tertuju kearah balcon KCC. Seohyun melihatnya. Seorang pria berkaca
mata, berbalut casual blue jeans dan kemeja putih motif kotak-kotak dengan
tangan yang dilinting hingga sikut. Suho benar, lelaki itu benar-benar tampan.
Perlahan, Seohyun
berjalan mendekatinya hingga akhirnya dia menyadari.....
"Oh... Cho
Kyuhyun Ssi?" Sedikit kaget, Seohyun menyapanya. Dia tidak menyangka bahwa
pria ini akan datang ketempatnya bekerja dan mencarinya.
Dari tempat
duduknya, Kyuhyun tersenyum hangat lalu dia berdiri menyambut kedatangan
Seohyun.
"Omo... wae
kkamjagiyo, Kyuhyun Ssi? Aku benar-benar kaget, karena tiba-tiba kau datang ke
tempat kerjaku." Ya, dari wajahnya Kyuhyun tahu betapa terkejutnya
Seohyun. Lagi-lagi pria ini hanya tersenyum manis.
"Aniyo,
geunyang... aku kebetulan lewat daerah sini. Dan aku ingat bahwa kau pernah
bilang kalau kau kerja disini. Hanya iseng, Seohyun Ssi. Tapi aku senang,
karena ternyata kau masih berada disini." Seohyun sedikit relax usai
mendengar jawaban Kyuhyun. Meski masih terasa tak biasa untuknya.
Akhirnya, Seohyun
mengaggukkan kepalanya diiringi dengan senyum yang tak kalah manis. Lalu dia
pun duduk di kursi yang berada tepat dihadapan Kyuhyun.
"Sebetulnya,
ini sudah waktunya aku pulang. Tapi rekan shiff ku belum datang, jadi
kuputuskan untuk tetap disini sampai dia datang."
Sekali lagi,
suasana canggung kembali tercipta. Kali ini, giliran Kyuhyun yang tersenyum
sambil menganggukkan kepalanya. Dan hening tercipta untuk beberapa saat.
"Hhm...
Seohyun Ssi, sebetulnya aku datang kesini sekalian untuk menyerahkan ini."
Kyuhyun menyerahkan sebuah amplop berukuran A4 berwarna maroon dengan logo 'Gangnam
Soul' di sudut kiri atasnya.
"Igae
mwoeyo?" Tidak langsung mengambilnya, Seohyun justru termangu beberapa
saat sambil menebak-nebak isi amplop itu dalam fikirannya.
"Ini adalah
kontrak kerja yang coba aku tawarkan padamu. Setelah kuberikan beberapa
tulisanmu yang kau email beberapa hari lalu pada bagian redaksi, tanpa kuduga,
ternyata respon mereka benar-benar luar biasa. Mereka semua menyukai karyamu.
Dan karena itu, rasanya teramat sayang bila kami harus melewatkan seorang
penulis berbakat sepertimu. Geuraeseo, luangkan waktumu untuk membaca setiap
detail isi kontrak ini. Dan bila kau setuju, silakan tanda tangani. Aku akan
menunggumu di kantorku."
Sekali lagi Seohyun
termangu dibuatnya. Kontrak? Secepat ini? Benarkah? Kebaikan apa yang sudah dia
lakukan beberapa waktu terakhir ini, hingga dia berhak mendapatkan rentetan
keajaiban itu?
"Chogieyo....
Seohyun Ssi?!" Kyuhyun melambaikan tangannya dihadapan wajah Seohyun yang
kala itu masih sibuk memilah-milah yang mana antara mimpi dan kenyataan.
"Ah?.. Oo..
Oh... Jeoseohapnida. Aigoo... cho geunyang...! Aku hanya kaget, Kyuhyun Ssi.
Semua ini terlalu tiba-tiba. Aku bahkan sama sekali tidak menaruh harapan pada
tulisanku kali ini. Hajiman... jeongmal neomu kamsahamnida. Terima kasih karena
memberiku kesempatan ini. Kau tidak tahu betapa berartinya semua ini
untukku."
Matanya
berkaca-kaca. Andai saja dia tidak sedang berada dihadapan orang asing, mungkin
Seohyun saat itu tidak akan ragu lagi untuk menumpahkan air mata bahagianya.
"Gwaenchannayo,
Seohyun Ssi. Kau juga harus tahu bahwa bakat-bakat sepertimu ini yang akan
membuat perusahaan kami bisa berkembang lebih besar. Aku berjanji, kau tidak
akan menyesal bergabung dengan kami. Akan banyak kesempatan lain yang bisa kau
dapatkan. Bukan hanya buku, kau juga bisa menjadi penulis skenario. Atau, bila
kau tertarik dengan berita, kau bisa bergabung dengan bagian penerbitan."
Senyum haru merekah
lebih lebar di wajah cantiknya. Entah apa yang harus dia ucapkan lagi untuk
mengungkapkan betapa bahagianya dia.
"Kamsahamnida.
Neomu neomu kamsahamnida!" Seohyun membungkukan tubuhnya sebagai isyarat
penghormatan dan juga terima kasihnya pada laki-laki yang sedang tersenyum
dihadapannya. Namun tidak berlangsung lama, karena kedua tangan Kyuhyun segera
meraih kedua bahu Seohyun dan mencegahnya untuk membungkukan tubuhnya lebih
rendah lagi.
"Geumanhaeyo,
Seohyun Ssi. Jeongmal gwaenchannayo. Kau tidak perlu melakukan itu. Aigoo...
kau membuatku merasa canggung." Kedua pipinya tampak memerah. Kyuhyun
tidak berharap Seohyun berekspresi se-berlebihan itu, karena memang
kenyataannya novel yang Seohyun tulis itu benar-benar layak untuk diberi
kesempatan.
Beberapa waktu
mereka hanya saling tersenyum meredam rasa canggung yang hadir tanpa terduga.
Kedua wajah mereka benar-benar tersipu. Selain senyuman, mereka hanya saling
melempar tatapan satu sama lain. Seohyun sesekali melihat amplop maroon itu
ditangannya, sambil mengusapnya seolah benda itu benar-benar berharga untuknya.
Ya, mereka tidak
menyadarinya, jika sepasang mata sedang memperhatikan mereka dengan sorot
tajam. Marah, sedih, kecewa, bingung, ragu, semua terhimpun dalam hatinya
membentuk senyawa asing yang bernama cemburu. Dia merindukan gadis itu sejak
ribuan mil jauhnya dan melaju secepat angin hanya untuk sampai ketempat itu dan
memeluk tubuh kecilnya. 'Tapi.... siapa
lelaki brengsek yang sedang tersenyum bersamanya?' Bisiknya dalam hati.
Entah apa yang salah dengan hatinya, tapi Yonghwa benar-benar benci melihat seorang
pria membuat Seohyun-nya tersenyum, kemudian Seohyun tersenyum bersamanya.
Perlahan, dengan sisa tenaga yang dia miliki setelah belasan jam penerbangan,
Yonghwa berjalan mendekati kedua orang itu. Dan sebuah tatapan kaget menyambut
kedatangannya.
"Omo...
Oppa?!" Seohyun membelalakan kedua bening matanya. Mata yang dia rindukan.
"Hi Baby! Surprise......!"
Dengan senyum yang dia paksakan merekah diwajahnya, Yonghwa berusaha bersikap
normal. Atau justru malah terlihat abnormal, barangkali. Yang jelas, Yonghwa
hanya ingin menunjukan eksistensinya dihadapan seseorang, sekaligus memberi
label atas sesuatu yang menjadi miliknya. Seohyun-nya!
"Eojae waseo,
Oppa? Kenapa kau tidak memberitahuku kalau hari ini kau pulang?" Seohyun
masih tidak bisa meredakan keterkejutannya.
"Aku dan
Jonghyun pulang lebih awal, sedang Minhyuk dan Jungshin mereka masih menikmati
liburan mereka di Barcelona."
Kedua mata mereka
terkunci satu sama lain. Seolah bahasa tak lagi dibutuhkan hanya untuk
mengatakan betapa mereka saling merindu. Meski rasa cemburu itu masih pekat
menguasai hati dan fikirannya, tapi Yonghwa tak mampu mengingkari bahwa memeluk
tubuh gadis dihadapannya lebih menjadi sebuah urgensi yang tak bisa ditunda.
Dan Yonghwa benar-benar menarik tangan gadisnya, lalu menguncinya dalam pelukan
seolah dia lupa bahwa dia sedang berada dihadapan puluhan pasang mata. Terutama
sepasang mata yang paling dekat dengan tempat mereka berdiri yang kala itu tak
mampu menyembunyikan rasa terkejutnya.
"I missed you,
Sweetie! I missed you so much!" Yonghwa memejamkan matanya dan membenamkan
wajahnya dipundak Seohyun. Rasanya seperti seorang astronot yang baru
menginjakan kakinya kembali ke bumi dan menghirup oksigen tanpa alat bantu. Ya,
seperti itu yang dia rasakan kala aroma shampoo Seohyun-nya bersemilir menusuk
hidungnya.
"I missed you
too, Oppa. Hajiman...... Oppa.... mereka sedang melihat kita."
Seketika bisikan Seohyun menarik kembali
kesadaran Yonghwa yang sempat hilang beberapa waktu. Lelaki itu segera melepas
pelukannya dengan wajah canggung sedikit bodoh, sambil melihat-lihat pandangan
para pengunjung KCC yang tertuju padanya.
"Mian, Hyun...
aku... " Wajahnya memerah. Yonghwa benar-benar berusaha agar dirinya tidak
tampak lebih bodoh setelah kebodohan yang baru saja dia lakukan. Seohyun
tertawa kecil melihat kelakuan lelaki yang semula dia kenali sebagai seorang
yang karismatik itu.
"Gwaenchanna,
Chodding ah! Yeogie... Anjuseo, Oppa." Seohyun mempersilahkan Yonghwa
duduk di sampingnya.
"Ah... maja,
Oppa. Ini... kenalkan, Cho Kyuhyun Ssi. Dia adalah seorang editor di Gangam
Soul. Dan Kyuhyun Ssi, perkenalkan
dia......"
"Jung Yonghwa.
Seohyunie namja-eyo.
Bangapseumnida." Yonghwa menyodorkan tangan kanannya sambil menampakan
senyum lebih hangat dari sebelumnya usai mendengar kata 'editor' dari mulut
Seohyun. Dan Kyuhyun menjabatnya sambil membalas senyum serupa.
"Kau tahu,
Oppa?! Taddaa....." Matanya tampak sangat bersinar kala Seohyun menunjukan
amplop maroon ditangannya. Yonghwa tidak serta merta mengambilnya. Ekspresi
wajahnya justru seolah bertanya tentang apa isi amplop itu.
"Akhirnya...
aku bisa menerbitkan novelku!" Jawab Seohyun penuh antusias. Yonghwa
seketika menampakan ekspresi senang sekaligus terkejutnya.
"Jinjja?!!!"
Dan Seohyun menjawab dengan anggukkan kepalanya.
"Aigoo... uri
Joohyunie jinjja daebak yah!!! Chukkhae, chagie ah! I'm so proud of you."
Yonghwa mengunci wajah Seohyun dengan kedua telapak tangannya.
"Kamsahamnida,
Cho Kyuhyun Ssi. Terima kasih sudah membantunya dalam mewujudkan
mimpinya." Bisa dibilang, kali ini Yonghwa tersenyum dengan tulus. Dan
Kyuhyun pun tampak mengangguk-anggukan kepalanya sambil merekahkan senyum
serupa.
"It's okay,
Yonghwa Ssi. Kekasihmu benar-benar layak mendapatkan kesempatan ini.
Sebetulnya, bukan aku yang berhak memutuskan apakah tulisannya pantas atau
tidak. Tapi tim-ku lah yang menilainya. Dan mereka memiliki persepsi yang sama
denganku. Seo Joohyun Ssi memang memiliki sesuatu yang tersembunyi yang aku
yakin, suatu saat dia bisa menjadi orang besar dengan tulisannya."
Wajah Seohyun
semakin tersipu. Yonghwa menatap wajah Seohyun-nya penuh kebanggaan karena
akhirnya, perempuan istimewa ini memiliki satu lagi alasan untuk tinggal lebih
lama di Seoul. Disisinya.
"You really
are awesome, Honey! I told you, right? Kau pasti bisa melakukannya! Chukkhae,
Hyun..." Yonghwa mengacak lembut kepala Seohyun yang diakhiri dengan
mengusapnya penuh cinta.
"Gomawo, Oppa.
Dan Kyuhyun Ssi... tidak tahu
bagaimana aku harus berterima kasih padamu. Tapi aku berjanji untuk melakukan
yang terbaik agar kau tidak menyesal telah memberiku kesempatan ini."
*****
Usai pertemuan
mereka dengan Cho Kyuhyun, Yonghwa mengajak Seohyun ke suatu tempat. Pada
awalnya, Seohyun tidak tahu kemana Yonghwa akan mengajaknya. Lelaki itu
membawanya ke sebuah boutique dan memilihkan beberapa dress juga sepatu untuk
Seohyun.
Seohyun tidak
mengerti, untuk apa Yonghwa melakukannya. Tapi Yonghwa bilang, dia tidak ingin
membuang-buang waktunya hanya untuk pulang ke rumah lalu menunggu Seohyun
berganti pakaian.
Dan beberapa jam
kemudian, mobilnya dia parkirkan didepan sebuah restaurant pinggir pantai
bernama 'Exodus' yang dari luar saja sudah tampak begitu mewah dengan bangunan
bergaya mediterania yang indah. Yonghwa melepas sabuk pengamannya. Dengan
senyum khasnya, dia melirik kearah Seohyun yang saat itu benar-benar cantik
dengan Navy Blue Mini Dress berbalut classy coat berwarna senada dan wedges
tali yang simple yet elegant. Rambutnya hanya dia ikat sederhana dengan
beberapa bagian yang sengaja dia biarkan teruntai tak terikat, tanpa make up
yang terlalu berat, Seohyun benar-benar terlihat classy.
Seperti inilah
gadis dalam impiannya.
"Lets go,
Baby! Mereka sudah menunggu kita didalam." Yonghwa mengusap lembut pipi
gadis diampingnya dengan jemarinya.
"Mereka?
Siapa?" Seohyun mengerutkan keningnya.
"Aku sudah
tidak sabar ingin memamerkan kecantikanmu pada mereka. Dia pikir, didunia ini
hanya dia satu-satunya lelaki yang beruntung karena punya kekasih cantik? Hari
ini, aku benar-benar akan membuat mereka berhenti menyombongkan diri
mereka."
Seohyun semakin
bingung mendengar jawaban itu. Siapa sebenarnya mereka? Melihat ekspresi itu
diwajah Seohyun, Yonghwa tertawa kecil.
"Aigoo, My
Baby.. neomu kyeopta!" Yonghwa mencubit pipi kanan Seohyun.
"Geok cheongma,
Hyun. Kita hanya akan bertemu dengan Jonghyun dan Yoona. Telingaku benar-benar
sakit karena Yoona terus merengek ingin bertemu denganmu."
"Yoona? Siapa
dia?" Seohyun masih belum sepenuhnya mengerti dengan rencana Yonghwa malam
itu.
"Dia sahabat kecilku,
Hyun. Aku, Jonghyun dan Yoona. Kami bertiga tumbuh bersama di Busan. Lalu saat
SMA, Jonghyun dan Yoona tiba-tiba memproklamirkan diri sebagai sepasang kekasih
dihadapanku. Tentu saja aku terkejut. Meski sebenarnya aku tahu bahwa mereka
berdua punya perasaan yang lebih dari hanya sekedar sahabat. Dan hingga kini,
mereka masih menjadi sepasang kekasih yang menyebalkan untukku."
Untuk pertama
kalinya sejak mereka tiba di area parkir restaurant itu, Seohyun merekahkan
senyumnya. Dia merasa sedikit lega mendengar cerita Yonghwa tentang siapa yang
akan mereka temui.
"Daebak. Aku
seperti mendengar kisah persahabatan Harry Potter, Ron Weasley, dan Hermaonie
Granger." Seohyun tertawa kecil.
"Huh? No..
no.. no!! Kisah kami benar-benar berbeda. Bila dalam buku Harry Potter
dikisahkan Hermaonie yang selalu mendukung dan membela Harry, dalam kisahku..
hmm... it's totally different! Yoona dan Jonghyun selalu berkomplot untuk
menyudutkanku. Dan sosok Hermaonie itu menurutku adalah sosok perempuan tangguh
yang keren. Ya... Yoona memang tangguh. Terutama saat dia bisa menguasi dan
mengendalikan aku dan Jonghyun. Tapi bila dia terluka atau sakit sedikiiit
saja, kau akan tahu batapa cengengnya gadis itu!
Karena itu, hari
ini aku membawamu, Hyun. Bila nanti Romeo dan Juliet itu berkomplot
menyerangku, promise me, kau harus membelaku. Okay?" Seohyun tertawa
semakin lepas mendengar ucapan Yonghwa. Lihat saja, apakah nanti lelaki ini
akan semakin terlihat seperti seorang chodding atau tidak saat dia berkumpul
dengan sahabat-sahabatnya.
Merekapun berjalan
memasuki restaurant. Suara live music sudah terdengar begitu mereka melintasi
pintu masuk. Seorang waitress menyapa mereka dengan ramah dan bertanya apakah
mereka sudah membuat janji atau belum. Dan setelah Yonghwa menyebut nama Lee
Jonghyun, waitress itu segera menunjukkan jalan menuju teras belakang
restaurant itu, tempat dimana Jonghyun dan Yoona sudah menunggu mereka. Tidak
lama, Yonghwa segera melihat Jonghyun yang melambaikan tangannya dari tempat
dia duduk.
Seohyun segera
mengetahui bahwa perempuan cantik berambut light brown yang sedang tersenyum
dan duduk disamping Jonghyun tidak lain adalah Yoona. Gadis yang Yonghwa
ceritakan sebelumnya. Entahlah, tapi rasanya Seohyun setuju dengan apa yang
dilakukan Jonghyun saat dia memamerkan kecantikan kekasihnya. Karena dimata
Seohyun pun, Yoona benar-benar seorang gadis dengan kecantikan yang tidak
biasa. Matanya terang bersinar. Senyum diwajah pucatnya, dan bentuk tubuh yang
ramping, semua itu adalah impian untuk setiap gadis.
"Aigoo.... apa
yang sebenarnya kalian lakukan, huh? Dua jam aku dan Yoona menunggu kalian
hingga Yoona menghabiskan 2 mangkuk cream soup....."
Plaaaakkk!!!
"Aaawwww!!!!"
Selang beberapa
detik, sebuah pukulan mendarat dikepala Jonghyun. Siapa sangka, dibalik binar
cantiknya, Yoona juga bisa melakukan hal segila itu? Seohyun mencoba
menyembunyikan tawanya dibalik tubuh Yonghwa. Rasanya sulit untuk bisa menahan
dirinya agar tidak tertawa melihat Jonghyun yang terkesan menakutkan saat
pertama mereka bertemu, malam itu dibuat tak berdaya oleh seorang gadis cantik.
"Enak saja kau
bilang! Kau juga ikut memakannya kan?" Yoona terlihat sengit.
"Yak!!
Haruskah kau memukul kepalaku? Im Yoona, jinjja.... neol..." Jonghyun pun
tak kalah sengit.
"Wae? Naega
wae?!!! Haruskah aku menendang kakimu juga?"
"Mwo?!!"
"Geumanhae,
Phabo ah!! Apa kalian tidak malu, menampakan sisi ini dihadapan yeoja-ku? Ya...
aku tahu bahwa kalian memang selalu 'se-romantis' ini, geundae jebbal... jangan
membuat Joohyun berfikir kalau dia sedang berkencan dengan salah satu dari
sebuah kelompok anak SD!"
Dengan gayanya,
Yonghwa mencoba menunjukan sisi kedewasaan dan bijaksananya. Tapi semua itu
tidak berlangsung lama.
"Gwaenchannayo,
Oppa. Aku sudah lama melihat sisi chodingmu, bahkan jauh sebelum aku bertemu
dengan Jonghyun Oppa dan Yoona Eonnie. So... just calm down, Mr. Gold dan kau
tidak perlu berusaha terlalu keras agar kau terlihat keren. Gwaenchnna!" Seohyun
mengedipkan satu matanya kearah Yonghwa disampingnya yang membuat Yonghwa
terpaku dengan mulut menganga. Lalu Yoona berdiri dan berjalan mendekati
Seohyun. Gadis itu mengaitkan kedua tangannya disalah satu tangan Seohyun.
"Good job, Seo
Joohyun Ssi. Kau tampak sangat terlatih dalam mengendalikan bocah ini!"
Kedua perempuan itu saling bertatapan, lalu berbagi tawa karena kebodohan yang
dilakukan Jonghyun dan Yonghwa. Mereka tidak seperti dua orang yang baru saja
bertemu.
"Duduklah,
Joohyun Ssi. Kau pasti sudah lapar usai bekerja seharian ini." Dengan
lembut, Yoona membimbing Seohyun menempati kursinya. Dibantu Yonghwa yang
dengan manly menggeser kursi untuk Seohyun dan membuatnya duduk lebih mudah.
Setelah itu, Yoona pun kembali duduk disamping Jonghyun.
"Aah....
finally, i can meet you, Seo Joohyun Ssi. Sejak awal Yonghwa bercerita
tentangmu, aku sudah sangat ingin melihatmu. Aku benar-benar penasaran, gadis
seperti apa yang sudah membuat sahabatku begitu tertarik." Yoona tersenyum
hangat.
"Jeongmalyo?
Aigoo... benarkah Oppa bercerita tentangku?" Seohyun sedikit tersipu.
"Nde! Sejak
awal dia melihatmu terjatuh di koridor café." Seohyun spontan membelalakan
kedua matanya.
"Mwoeyo?
Koridor café?" Seohyun ingat, bukankah itu saat pertama kali dia bertemu dengannya?
Seohyun tahu, bahwa Yonghwa mengingatnya. Tapi dia sama sekali tidak menyangka
bahwa Yonghwa bahkan menceritakan pertemuan sekejap mata itu pada Yoona. Apa
yang yang dia ceritakan tentangnya?
"Geumanhae,
Phabo ah! Jangan mulai membuat masalah didepan yeojaku!" Yonghwa mulai
terlihat panik. Dan itu tampak jelas dari cara Yonghwa menatap Yoona yang
terkesan sedikit mengancam.
"Wae? Aku kan
tidak menceritakan pada kekasihmu kalau mulai malam itu kau tidak pernah
berhenti memimpikannya? Aku juga tidak bilang padanya kalau kau terus
mencarinya sejak malam itu, meski kau tidak mau mengakuinya. Kenapa kau harus
marah?!"
"Yak!!! Im
Phabo Yoona!!!" Yonghwa meninggikan intonasi suaranya bersamaan dengan
ledakan tawa Jonghyun. Sementara Seohyun, gadis itu terpaku ditempat duduknya
usai mendengar pengakuan Yoona. Benarkah semua itu? Yonghwa mencarinya hingga
akhirnya dia menemukannya di KCC? Untuk apa? Bagaimana bisa? Fikiran-fikran itu
berkecamuk dibenaknya.
"Geumanhae, Double Y! Aku tidak ingin Seohyun melihat
adegan yang tak seharusnya dia lihat." Dalam sisa tawanya, Jonghyun
mencoba menghentikan dua orang dewasa yang sedang bertingkah kekanak-kanakan
itu.
"Seohyun ah,
kau pasti sangat lapar, bukan? Ini... pilihlah makanan kesukaanmu. Malam ini,
aku akan memberimu service terbaik karena kau sudah membuat uri Yonghwa kembali
menemukan hidupnya." Seohyun melihat sebuah senyum yang hangat diwajah
Jonghyun. Tidak seperti saat mereka pertama kali bertemu, kali ini Jonghyun
sama sekali tidak terlihat menakutkan.
Akhirnya, mereka
pun menikmati makan malam istimewa yang Jonghyun persiapkan. Suasana candle
light dinner di akhir musim gugur, dibawah langit berbintang, ditemani simfoni
deburan ombak, malam itu benar-benar terasa sempurna. Beberapa obrolan dan candaan
ringan mereka bagi selama makan malam berlangsung. Malam itu, Yoona dan
Jonghyun, juga Yonghwa dan Seohyun, mereka terlihat sangat bahagia.
"Yonghwa ah,
irona!" Jonghyun tiba-tiba bangkit dari duduknya begitu dia menyelesaikan
makan malamnya. Untuk sesaat, Yonghwa tidak mengerti, apa yang diinginkan
sahabatnya itu.
"Wae? Neol
eodie ga?"
"Geunyang
ddarawa!! Palli...!!" Jonghyun mengisyaratkan dengan kepalanya, agar
Yonghwa mengikutinya. Meski Yonghwa masih tidak mengerti, namun akhirnya diapun
mengikuti Jonghyun.
Yoona dan Seohyun
hanya bisa mengikuti kemana perginya dua orang lelaki itu dengan mata mereka.
Dan akhirnya, mereka melihat Jonghyun menaiki stage tempat sebuah band café
melakukan live music mereka, lalu mengambil gitar yang sudah tersedia disana.
Beberapa saat kemudian, Yonghwa mengikutinya dan melakukan hal yang sama. Kali
ini, kedua lelaki itu tersenyum.
"Cek..
cek..." Jonghyun terdengar sedang melakukan beberapa cek pada microfon dan
gitar di tangannya.
"Anyeonghaseo,
yeorobun. Hhm... malam ini, aku dan sahabatku hanya ingin melakukan sesuatu
untuk membuat kedua wanita cantik yang sedang duduk disana terkesan. Semoga
penampilan kami bisa menghibur kalian semua disini. Mostly for you, ladies!
This song is belong to you!" Jonghyun menunjukan tangannya ketempat
Seohyun dan Yoona sedang duduk melihat penampilan mereka. Tak sedikit pula mata
yang kemudian ikut melirik kearah mereka diikuti dengan riuh sorak dan tepuk
tangan. Seohyun dan Yoona tersipu karena semua itu.
Beberapa detik kemudian,
kedua pria tampan itu memulai petikan gitar mereka. Sebuah melody yang hangat
dan mendebarkan hati, meski tanpa lirik sekalipun.
Jonghyun :
When i look at you my face gets red
when i see you my heart goes thump thump
i talk with shyness like a kid
when i look at you i just smile out of nowhere
like a fool I keep doing that
I think love came to me
Dengan lesung pipit
di kedua pipinya, juga binar mata kecoklatan yang dia hanya sorotkan pada satu
perempuan, Jonghyun melantunkan bait pertama lagu itu. Lagu yang baru pertama
kalinya Yoona dan Seohyun dengar.
Yonghwa :
You’re the president of my heart
You’re my chests’ star embroider
I’m Genie for you girl
You make me stop breathing
whatever you want
because i love you
There’s no reason for my love you know
Dengan senyum dan
binar mata yang tak kalah penuh cinta, kali ini Yonghwa membawakan bagian rap
lagu itu. Sorot matanya tertuju pada Seohyun yang masih tersihir dengan
performa 'dadakan' mereka. Dan Yonghwa tersenyum lebih lebar saat dia mulai
menyanyikan bagian reffrain lagu itu dengan suara lembutnya.
She felt in love
once again. She was falling deeper!
Yonghwa :
You’re a darling
you’re more beautiful than the stars above in the night
sky
the shining thing deep inside my heart
my own love light
I love you darling
give me light next to me whenever
every night i look at you
and you’re beautiful even when i look at you
you’re my love light
Dan saat kata 'Sarang Bit' mengalun dari mulut
Yonghwa, ada perasaan tak terdeskripsikan yang berlabuh dihati Seohyun. Ya, dia
bisa merasakannya. Cinta memang tak kasat mata, karena cinta bukanlah kata
benda. Cinta juga bukanlah kata sifat yang bisa dengan mudah berubah seperti
cuaca. Bukan juga kata kerja yang bisa dimiliki hanya dengan kata harus atau
ingin. Cinta... adalah kata hati. Yang lahir dari hati, dan hanya tertuju untuk
satu hati.
Dipenghujung
performa mereka, kedua lelaki itu saling menatap sambil tersenyum lalu
tertunduk malu. Ya, mereka baru menyadarinya, tentang betapa picisan nya yang
baru saja mereka lalukan. Meskipun mereka berusaha melakukan yang terbaik.
Masih tertunduk
malu, kedua pria Busan itu menuruni stage dan melewati beberpa custumer
restaurant yang masih menghujani mereka dengan tepuk tangan. Hingga akhirnya
mereka tiba kembali ditempat mereka duduk sebelumnya. Disisi kedua bidadari
mereka.
"Whoaaa...
igae mwo ya?? New song? Aku belum pernah mendengarnya sebelumnya." Yoona
menyambut kedatangan mereka dengan tatapan bangga, bahagia, dan sedikit
penasaran.
"Ya, kurang
lebih begitu. Kau tanya saja pada pemilik lagu itu!" Jonghyun menunjuk
Yonghwa dengan isyarat kepalanya.
"Mwo? Yang
tadi itu lagumu, Yong?" Yonghwa tertunduk malu dengan pertanyaan Yoona
barusan. Entahlah, bertahun-tahun dia membuat musik dan menulis lagu, baru kali
ini dia merasa kehilangan percaya dirinya. Mungkin karena ini adalah pertaman
kalinya dia menyanyikan lagu itu secara live, didepan banyak mata, dan juga....
didepan perempuan yang menjadi inspirasi dari lagu itu.
"Aah... ya..
lagu itu aku yang membuatnya. Dan itu akan ada didalam album perdana kami awal
tahun depan." Yonghwa tampak menggaruk-garuk kepalanya sambil terus
tertunduk menyembunyikan wajahnya.
"Jinjja???
Album perdana? Maksudmu...." Yoona mengerutkan keningnya.
"Yes,
Darling.... finally... CNBLUE akan debut sebagai band yang bisa bersaing dalam
music chart resmi di Korea dibawah sebuah label. Kau tahu FNC kan? They found
us in Japan and... they gave us the ticket!" Binar bahagia tampak berkobar
dikedua mata Jonghyun saat dia menceritakan tentang keberhasilan CNBLUE.
"Whoaaaa!!!!
Chukkhae chagie ah!!! Aaah....!" Tanpa ragu dan malu, Yoona segera memburu
Jonghyun lalu memeluknya dihadapan Yonghwa dan Seohyun. Dan Jonghyun, tentu
saja lelaki ini membalas pelukannya tanpa ragu. Sambil melirik pada Yonghwa
dengan tatapan dan senyum kemenangan. The other show up!
"Aishhh!!
Grumanhae! It's disgusting, you know?!" Yonghwa menunjukkan wajah
nyinyirnya, meski kedua lovers itu tampak tak peduli.
"Wae? Just do
it, if you want it too! You have your own juliet now, Phabo ah!" Yoona
melempar sorot mata nakalnya.
"Chukkhae,
Oppa! Akhirnya, kau berhasil meraih mimpimu." Yonghwa menatap gadisnya
dengan senyum terbaiknya. Perlahan, dia mengusap kepala Seohyun dan merapihkan
rambutnya.
"Neo do
chukkhae, Hyun! Akhirnya, kau pun berhasil meraih mimpimu." Jauh didalam
batinnya, Yonghwa pun ingin menarik tubuh kecil dihadapannya dan mengunci nya
dalam pelukannya. Tapi tidak dihadapan banyak mata seperti itu.
Tanpa mereka
sadari, Yoona sedang menatap mereka dengan senyum haru dan mata yang
berkaca-kaca. Yonghwa melihatnya dan langsung bertanya.
"Mwo yah?
Kenapa kau melihatku seperti itu?" Yoona menundukkan tatapannya sambil
menggeleng pelan.
"Ani ah,
geunyang! Aku... aku benar-benar bahagia, Yonghwa ah! Rasanya sudah
berabad-abad lamanya aku tidak melihatmu seperti ini. Aku fikir, aku tidak akan
pernah melihat senyum mu yang seperti ini lagi selamanya.
Gomawoyo, Seohyun
Ssi. Karenamu, akhirnya aku bisa melihatnya lagi." Wajah Yoona tampak
memerah menahan harunya. Jonghyun segera meraih tangan gadisnya lalu
menggenggamnya dengan erat.
"Mwo yah? Kau
ini kenapa sih? Kenapa tiba-tiba jadi sentimentil seperti itu?" Yonghwa
berusaha mencairkan kembali suasana yang hampir berubah menjadi melancholic
itu. Dia mengerti apa yang dirasakan sahabatnya. Dia juga tahu dengan pasti,
betapa besar kekhawatiran yang Yoona dan Jonghyun rasakan selama 6 tahun ini.
"Mianhae,
Jonghyun ah... Yoona ah! Mianhae, aku membuat kalian harus mencemaskan dan
menjagaku seperti itu."
"Ani ah, kau
tak perlu minta maaf untuk itu. Bukan salahmu, bila kami menjadi begitu terikat
padamu. Sejak awal, kau tahu kan, persahabatan ini terjalin karena apa? Aku
yakin, kau pun akan melakukan hal yang sama bila sesuatu terjadi padaku atau
Yoona."
Beberapa waktu,
hening tercipta. Suasana benar-benar berubah jadi mellow. Bisa dikatakan, itu
adalah pertama kalinya mereka mengungkapkan perasaan seperti itu sejak tragedi
itu terjadi. Dan Seohyun, gadis itu dibuat kagum dengan kisah persahabatan yang
menyentuh itu. Betapa beruntungnya Yonghwa karena memiliki mereka.
*****
Usai makan malam,
mereka berempat memutuskan untuk beberapa saat berjalan ditepi pantai. Yonghwa
berjalan didepan dengan Jonghyun, dan Seohyun beberapa langkah mengikuti
dibelakang mereka bersama Yoona.
"Kau
benar-benar cantik, Seohyun Ssi. Seperti yang selalu dikatakan Yonghwa."
"Gomawoyo,
Eonnie. Eonnie juga sangat cantik, seperti yang dikatakan Yonghwa
Oppa."
"Jinjjayo?
Yonghwa bilang begitu?" Yoona tertawa kecil mendengarnya.
"Nde. Oppa
bilang, Eonnie adalah perempuan yang cantik dan tangguh. Dan kalian sudah
bersahabat sejak kecil. Tapi ngomong-ngomong, Eonnie... panggil saja namaku
dengan nyaman. Eonnie juga bisa berbicara banmal denganku."
"Geurae?
Arasso geurom."
Beberapa saat,
mereka terdiam sambil terus berjalan menelusuri pantai.
"Seohyun
ah...." Yoona kembali memulai pembicaraan.
"Nde,
Eonnie?"
"Dimasa depan,
mungkin akan kau temui sesuatu yang membuatmu terganggu, tidak nyaman atau
bahkan terluka. Satu hal yang ingin aku minta darimu..." Yoona
menghentikan langkahnya, dan Seohyun mengikutinya. Mereka kini saling
berhadapan. Yoona meraih kedua tangan Seohyun lalu menggenggamnya.
"Apapun yang
akan terjadi nanti, aku mohon percayalah pada Yonghwa. Percayalah bahwa dia
akan melakukan yang terbaik untukmu, untuk kalian dan juga hidupnya."
Yoona menatap teduh kedua mata Seohyun dengan penuh pengharapan.
"A.. apa
maksud Eonnie?" Tapi Seohyun sama sekali tidak mengerti maksud ucapan
Yoona.
"Ani ah. Bukan
bermaksud apa-apa. Demi Tuhan aku benar-benar bahagia melihat Yonghwa menemukan
semangat hidupnya kembali. Aku tahu, kali ini Yonghwa benar-benar jatuh cinta
padamu. Dan setelah bertemu denganmu, aku lebih bahagia lagi karena aku tahu
bahwa kau adalah gadis yang baik.
Seohyun ah,
kumohon, jaga sahabat dengan baik. Dan kapanpun kau membutuhkan bantuanku,
jangan sungkan untuk menghubungiku. Aku senang, kau memanggilku Eonnie karena
sejak lama aku ingin sekali punya seorang adik."
"Araseoyo,
Eonnie. Gomawoyo."
Author
Note :
Chapter
intermezooooo..... ^_^

Casino Games, Slots, and Table Games in New Orleans | DrmCD
BalasHapusWe've got 서울특별 출장안마 Vegas-style 화성 출장안마 slots with the hottest progressives, the hippest progressives 화성 출장샵 and the best casino table games in New 영천 출장샵 Orleans! 목포 출장안마
click for source dildo,horse dildo,sex chair,horse dildo,custom sex doll,sex chair,love dolls,sex chair,bulk sex dolls More hints
BalasHapus