In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 23
Met The In Law
"Mwo ragoyo? Cangkok sumsum
tulang belakang?" Seohyun membelalakan matanya usai Shim Changmin
memberikan penjelasan tentang tindakan yang harus Seohyun jalani untuk
penyakitnya. Gadis itu terguncang. Andwe! Cangkok tulang sumsum adalah
treatment yang pernah diterima Eomma-nya. Dan gagal, hingga 2 tahun kemudian,
Eomma-nya pergi untuk selamanya.
"Seo Joohyun Ssi, tolong
dimengerti keseluruhan penjelasanku tadi. Dalam kasusmu, pencangkokan sumsum
tulang adalah cara terbaik untuk bisa menyelamatkanmu dari kanker. Bukan
berarti bahwa saat ini kau sudah terkena kanker. Sekali lagi aku tegaskan
padamu, Joohyun Ssi, kau tidak terkena Leukimia seperti dugaanmu. Dan bila
penyakit itu teramat menakutkan untukmu, maka tolong, lakukan prosedur ini."
Sekali lagi, Changmin mencoba membujuknya. Gadis itu menangis lagi, membuat
batin Kyuhyun semakin remuk.
"Lalu, apa dengan cara ini
aku benar-benar bisa selamat, Euisan-Nim?" Lirih, gadis itu bertanya.
"90% pasien kami, yang
terdeteksi dini dan segera menemukan donor sumsum tulang yang cocok, mereka
bisa melewatinya dan sembuh total dengan pola hidup yang baik. Dan kasusmu, kau
beruntung, Nona.. karena kami segera menemukannya sebelum kerusakan sumsum
tulangmu terlalu parah." Changmin kembali menjelaskan. Tapi Seohyun masih
belum tampak tenang. Wajah murungnya masih belum juga hilang.
"Berapa lama aku bisa
menemukan donor yang tepat, Euisan-Nim? Berapa banyak uang yang harus aku
keluarkan untuk semua pengobatan ini? Berapa lama aku bekerja keras mencari
uang untuk semua itu?" Tatapnya sendu menusuk hati, membuat Changmin
nyaris kehilangan kata-kata untuk dia ucapkan.
"Seo Joohyun Ssi, dalam hal
ini.. kau hanya perlu untuk mengikuti saran kami saja. Jangan memikirkan
masalah biaya dan lain-lain. Lalu tentang donormu, kami sudah menemukan satu
donor yang paling tepat untukmu. Geok cheongmaseo.." Kali ini Changmin
berbicara dengan intonasi lebih lembut. Tapi lagi-lagi, dokter muda itu
menemukan sorot mata sendu itu.
"Mungkin mudah bagimu
mengatakan itu, Euisan-Nim. Tapi untukku, mendengarmu mengatakan tentang
penyakit ini, aku merasa seperti segalanya telah berakhir. Aku menyaksikan
dengan kedua mataku bagaimana penyakit ini perlahan merenggut hidup Eomma-ku.
Lalu, bagaimana bisa aku tidak perlu memikirkan biaya yang harus aku keluarkan?
Bila bukan aku, maka siapa yang akan memikirkannya untukku? Aku tidak memiliki
siapapun yang akan memperjuangkanku, Euisan-Nim. Jeongmal opsoyo! Jadi tentang
prosedur pencangkokan ini, tolong beri aku waktu untuk memikirkannya."
Baik Changmin, maupun Kyuhyun, keduanya hanya terdiam menundukan wajah mereka.
"Joohyun ah, untuk urusan
itu, kau tenang saja. Aku akan membantumu. Ani.. maksudku.. perusahaan akan
membantumu. Sebentar lagi, bukumu terbit dan kau akan mendapat royalti penuh
dari penjualannya.
Jadi kumohon, turuti saran
dokter, Joohyun ah. Lakukan saja hal yang akan membantu proses penyembuhanmu.
Geok cheongma, kau tidak benar-benar sendiri, Seo Joohyun." Lembut,
Kyuhyun menggenggam tangan kecil adiknya, berharap lelaki itu mampu menyalurkan
kekuatan untuknya.
"Berapa banyak yang akan aku
peroleh dari penjualan bukuku, Oppa? Aku ini hanya penulis pemula dan aku
tahu... tidak akan semudah itu proses ini untukku. Neomu gomawoseo, untuk
perhatianmu, dan semua yang Oppa lakukan untukku. Oppa benar-benar seperti
seorang Oppa untukku. Tapi.... aku benar-benar butuh waktu untuk memikirkan
lagi semua ini." Seohyun menatap Kyuhyun lebih dalam hingga membuat lelaki
itu tidak berdaya. Lalu tiba-tiba Taeyeon datang memasuki ruangan tempat
Seohyun dirawat. Dokter cantik itu berjalan mendekati tempat tidur Seohyun.
"Berapa banyak waktu yang
kau butuhkan untuk berfikir, Joohyun ah? Satu minggu? Satu bulan? Satu
tahun??" Taeyeon menatapnya tajam, namun penuh kelembutan.
"Honey, aku ingin bertanya
sesuatu padamu."
"Nde, Eonnie.." Lirih,
Seohyun menjawabnya.
"Uri Yonghwa... apakah kau
mencintainya?" Taeyeon masih menatapnya lembut. Seohyun terdiam sejenak,
mencerna maksud pertanyaan itu.
"Nde? Apa.. maksudnya,
Eonnie?" Seohyun membalas tatapan Taeyeon dengan tatap bingungnya. Lalu
dokter cantik itu meraih tangan Seohyun dan mengusapnya lembut.
"Aku bertanya, apa kau
mencintai Yonghwa? Aku ingin tahu, apa arti dirinya dalam hidupmu?" Kedua
gadis itu saling bertatapan untuk beberapa waktu, sebelum akhirnya Seohyun
tertunduk dan menjawab lirih.
"Aku mencintainya, Eonnie.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa bahwa dalam dunia ini ada
sesuatu yang baik yang pantas untuk aku syukuri, aku perjuangkan dan aku
pertahankan. Dan Yonghwa Oppa, adalah satu kebaikan itu." Seohyun kembali
menatap Taeyeon yang kini tersenyum teduh padanya.
"Daengida. Kalau begitu,
lakukanlah demi Yonghwa, Joohyun ah. Jadilah gadis yang sehat dan kuat demi
dia. Karena meski kau merasa bahwa hidupmu tidak berarti, dan bisa lenyap kapan
saja... tapi untuk Yonghwa, kau adalah sumber kekuatannya! Tak peduli bagaimana
kau merasa hidupmu tidak berarti... kau tidak tahu kan, bahwa kau kini menjadi
alasan bagi seseorang untuk bernafas?
Setidaknya, hiduplah untuk
membuat lelaki itu tetap hidup."
Lagi-lagi keduanya terdiam dan
saling menatap.
"Aku tahu, Eonnie. Bagiku,
Yonghwa Oppa juga satu-satunya yang berharga yang aku miliki. Tapi... "
Seohyun kembali tertunduk.
"Aku takut, Eonnie. Aku
benar-benar takut." Taeyeon mengusap pundak Seohyun dengan lembut.
"Ara. Semua itu manusiawi,
Joohyun ah. Bayangkan, apa yang akan terjadi pada Yonghwa seandainya dia harus
kehilanganmu karena penyakit ini. Lelaki itu harus mengalami tragedi untuk
kedua kalinya dan aku yakin.... dia tidak akan mampu bertahan kali ini.
Jadi kumohon, Joohyun ah, beri
dirimu kesempatan untuk bisa sembuh. Buka hati dan fikiranmu dan jangan menolak
orang-orang disekitarmu yang dengan tulus ingin menolongmu. Karena dengan
begitu, kau juga menolong Yonghwa. Hhm?" Tatapnya sedikit mengiba. Apa
yang Taeyeon katakan adalah benar adanya. Setidaknya, jika Seohyun bersikeras
menolak prosedur itu dengan segala alasan yang dimilikinya, maka Yonghwa
harusnya bisa menjadi satu alasan yang mengalahkan puluhan alasan-alasan itu.
Dan akhirnya, Seohyun setuju. 3
minggu lagi, dia akan menerima pencangkokan sumsum tulang belakang yang
didonorkan oleh kakak kandungnya sendiri. Cho Kyuhyun. Dan rasa bahagia tak
terhingga memenuhi hati lelaki yang penuh penyesalan itu. Kali ini, dia akan
melakukan segalanya. Memberi segalanya demi bisa menyelamatkannya.
Satu hal yang seharusnya dia
lalukan tetapi tidak dia lakukan pada Eomma-nya dulu.
*****
Salju turun lagi malam itu.
Butiran-butiran halus seputih kapas bertaburan dibalik kaca jendela rumah
sakit. Tubuhnya terasa jauh membaik. Perawatan beberapa hari di rumah sakit ini
benar-benar membantunya. Besok Seohyun sudah diperbolehkan pulang dan kembali
menjalani aktifitasnya sebelum operasinya 2 minggu lagi. Tentu saja, dia tetap
tidak boleh kelelahan.
Tiba-tiba, wajah Yonghwa
tergambar dalam ingatannya. Sudah seminggu berlalu, dan dia sangat
merindukannya.
"Apa yang sedang kau lakukan
malam ini, Oppa? Apa urusanmu sudah selesai? Apa kau makan dan tidur dengan
baik? Apa kau lelah?" Gadis itu bergumam sendiri sambil menatap butiran
salju yang turun dibalik jendela.
"Salju malam ini turun lagi,
Oppa. Apa kau melihatnya? Hhh... mungkin akan lebih baik rasanya bila malam ini
tubuhku terkunci dalam pelukanmu sambil melihat salju-salju ini jatuh menyentuh
tanah. Seperti malam itu....
Hhh... aku merindukanmu, Oppa.
Aku rindu ganggaman tanganmu yang dengan ajaib selalu mampu mengusir rasa
takutku.
Jung Yonghwa, jeongmal
bogoshiposeo."
Untaian kata itu syahdu mengalun
dari bibirnya. Kenangan terakhir liburan mereka malam itu kembali berputar
dalam ingatannya, yang membuat rindu itu terasa semakin pekat.
Lalu tiba-tiba, Seohyun merasakan
sepasang tangan melingkar ditubuhnya. Kehangatan itu, aroma parfum itu, dan
kedua tangan itu, dia mengenalnya. Ya, Seohyun sangat mengenalnya.
Dia bisa merasakan hembusan nafas
menyapu pundak dan lehernya. He kissed her there. Stuck on her body and lost in
her presence beauty. He missed her like dying too.
Dengan kedua tangannya, Seohyun
merengkuh tangan pria itu didadanya. Erat, dia menggenggamnya, seolah dengan
begitu dia sedang mengatakan rentetan kata-kata rindu padanya. Teramat
merindukannya, hingga pelukan itu terasa seperti mimpi.
"Na do, bogoshiposeo.. Seo
Joohyun.." Lelaki itu lembut berbisik.
Tak ada yang lebih indah dan
lebih merdu dibandingkan dengan lembut suara bisikan itu ditelinganya.
Alih-alih membalikan tubuhnya, Seohyun memilih untuk memejamkan kedua matanya
dan menikmati hangatnya dekapan itu ditubuhnya. Yonghwa-nya. He's back.
Keduanya terbaring diatas tempat
tidur rumah sakit. Berbagi tempat sempit itu hanya untuk bisa merasakan
keberadaan satu sama lain. Keduanya saling berhadapan dan terhubung dengan satu
garis tak terputus. Tatapan.
Yonghwa menyisir lembut rambut
Seohyun lalu menyelipkannya dibalik telinganya. Perlahan, dengan lembut
jemarinya mengusap wajah malaikat itu.
"Kau tampak kurus, Angel.
Wajahmu juga begitu pucat." Akhirnya, setelah puas menatapnya selama
beberapa waktu, Yonghwa membuka mulutnya.
"Oppa do. Kau tampak kurus
dan lebih hitam. Kau pasti sangat lelah, Mr. Gold!" Tak mau kalah, Seohyun
pun mengusap lembut wajah lelah Yonghwa dihadapannya.
"Maja. Aku tidak pernah tahu
bahwa merindukanmu bisa selelah ini. Terlebih saat aku tahu kau sakit seperti
ini. Rasanya setiap menit berjalan begitu lambat dan aku benar-benar tak sabar
menunggu waktu untuk bisa terbang ketempatmu." Suara seraknya, hanya Tuhan
yang tahu bahwa Seohyun sangat merindukan semua itu.
"Mianhae, Oppa. Aku selalu
saja membuatmu khawatir. Geok cheongma, dokter bilang, tidak ada yang serius
dengan penyakitku. Aku janji, aku akan menjaga diriku lebih baik lagi. Untukmu,
Oppa. Demi agar aku bisa hidup bersamamu lebih lama, aku berjanji, aku akan
sembuh." Bening matanya meredup.
"Mwo? Apa maksudmu, Seo
Joohyun? Apa yang sebenarnya terjadi dengan penyakitmu?" Lelaki itu mulai
panik dan matanya menatap tajam.
"Opso, Oppa. Jeongmal opso.
Nan jinjja gwaenchanna. Aku mengatakan itu, karena aku ingin agar Oppa tidak
lagi mengkhawatirkanku." Seohyun menyisir lembut rambut Yonghwa-nya,
hingga lelaki itu kembali tampak tenang.
"Just keep your promise,
Love. Saat ini aku benar-benar membutuhkanmu, Joohyun ah. I need you to be
strong so i can get my power too. Karena seperti nya pertarungan keluargaku masih
panjang." Kini, tatap matanya yang meredup.
"Oh iya, bagaimana dengan
masalah Appa-mu? Naega jeongmal mianhaeseo, Oppa. Disaat seperti ini, aku
seharusnya berada disampingmu."
"Ijae gwaenchanna. Appa-ku
sudah dibebaskan dan hanya menjadi tahanan kota. Tapi kasus cassino gelap itu
masih terus bergulir dan diselidiki lebih lanjut. Masalahnya sekarang
adalah.... dukungan untuk Appa di perusahaan melemah drastis. Kami masih harus
melakukan lobi dengan beberapa pemegang saham lainnya agar tetap berada dipihak
Appa." Seohyun bisa melihatnya. Beban yang kini menggantung di pundaknya,
tidak akan sesederhana yang mereka fikirkan.
"Disaat seperti ini, aku
baru bisa memahami bagaimana kerasnya perjuangan Appa, Joohyun ah. Andai kau
tahu, betapa mengerikannya kursi yang setiap hari dia duduki itu. Appa harus
menjadi orang yang sangat kuat agar dirinya bisa duduk disana dengan selamat,
karena ternyata... orang-orang yang setiap hari tersenyum dan membungkukan
tubuh dihadapannya bisa menjadi musuh bersenjata yang akan mencelakainya kapan
saja.
Aku menyesal, Joohyun ah... andai
sejak dulu aku menjadi anak yang penurut, maka saat ini Appa tidak akan selelah
ini berjuang sendiri. Hyung mungkin masih hidup dan akan membantunya. Dan aku..
tidak akan menjadi anak yang tidak berguna seperti saat ini."
Suaranya lirih mengiris hati. Air
mata lelaki itu kembali mengalir dari sudut matanya. Bergegas, Seohyun
mengusapnya.
"Kau telah melakukan yang
terbaik, Oppa. Aku mendengar dari Taeyeon Eonni dan semua itu membuatku bangga."
Sekali lagi, Seohyun mengusap kepalanya dengan lembut.
"Oppa, dalam dunia ini tidak
ada seorangpun yang tidak pernah berbuat salah. Melihat bagaimana kerasnya
usahamu untuk memperbaiki semua kesalahan yang pernah kau lakukan dimasa lalu,
bagiku, kau adalah lelaki tangguh yang pemberani. Aku sangat mengerti, Oppa.
Memaafkan diri sendiri itu adalah hal yang teramat sulit. Dan kau membuktikan
padaku bahwa kau bukan seorang pengecut. Yongdo Oppa, dan kedua orang tuamu pun,
aku yakin.. mereka akan merasakan hal yang sama.
Dan tentang kepergian
Hyung-mu....
Sayang, kita ini hanya mahluk
ciptaan dan selamanya hanya bisa mengikuti keinginan Sang Pencipta.
Tangan-tangan kecilmu tidak akan mampu melawan kehendak Tuhan. Saat Tuhan
menginginkan Hyung-mu kembali padanya, itu artinya.. Tuhan lebih menyayanginya
melebihi kasih sayangmu pada Hyung-mu."
Siapa yang tidak akan jatuh
tersentuh oleh kalimat indah yang baru saja mengalun dari mulut malaikat
hatinya? Bukan hanya menenangkan, tapi semua itu juga menyembuhkan. Bagaimana
Joohyun-nya menjadi penawar untuk perihnya luka beberapa tahun ini.
Yonghwa menarik tubuh gadis
dihadapannya lalu mendekapnya erat. Lembut, dia mengecup keningnya.
"Ketika aku hampir marah
pada Tuhan, Dia lalu mengirimmu kedalam hidupku. Kau menyelamatkan aku,
Hyun..." Yonghwa mendekapnya semakin erat. Dan Seohyun tak mau kalah.
Gadis itupun melingkarkan tangannya di pinggang Yonghwa.
"Oppa do. Meski kau tidak
tahu, tapi kau adalah alasanku untuk hidup. Kau juga menyelamatkan aku,
Oppa...." Bisiknya.
*****
Esoknya....
"Mwo? Busan?" Taeyeon berusaha
mencerna nya sekali lagi.
"Iya, Busan. Eomma dan Appa
ingin sekali bertemu dengannya. Apalagi setelah mereka mendengar Joohyun sakit.
Mereka sangat khawatir." Yonghwa mengatakan pada Taeyeon bahwa dia akan
mengajak Seohyun ke Busan menemui keluarganya.
"Tapi kan.. Joohyun itu
masih belum sepenuhnya pulih. Dan Busan.." Taeyeon jadi bingung sendiri
menjelaskan semua itu pada Yonghwa. Karena seperti janji nya pada Seohyun,
Taeyeon tidak boleh mengatakan penyakit Seohyun pada Yonghwa sampai operasi pencangkokan
tulang sumsum itu dinyatakan berhasil.
"Wae? Bukankah kemarin Noona
bilang bahwa Joohyun sudah sehat? Lagipula, kami akan memakai pesawat ke sana.
Dia tidak akan kelelahan kok."
"Araso.. araso! Hanya
berjanji satu hal padaku, Jashik ah! Jangan sampai dia kelelahan. Jangan
terlalu banyak menghabiskan waktu diluar ruangan, terlebih saat salju turun
dengan lebat. Aku tidak ingin Joohyun terserang flu dan semua jadi
berantakan." Taeyeon tidak main-main. Dia bahkan menunjukkan jari telunjuknya
tepat ke hidung Yonghwa.
"Ara! Aish... singkirkan
tanganmu ini, Noona! Aigoo... kenapa dalam hidupku aku dikelilingi
perempuan-perempuan yang agresif?" Yonghwa mengusap-usap hidungnya, dan
Taeyeon terkekeh melihatnya.
"Geurae, jaga dia baik-baik.
Sampaikan salamku pada Samchoon dan Gumo. Aku mungkin baru bisa pulang saat
tahun baru. Saat itu, aku akan menemui mereka." Dokter cantik itu menepuk
lengan sepupunya.
"Okay, noisy!" Yonghwa
mengacak rambut Taeyeon, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan ruangannya.
*****
Busan
Seohyun dibuat terpana saat dia
melihat sebuah gerbang besi yang tinggi itu terbuka secara otomatis. Yonghwa
kemudian melajukan mobilnya melewati gerbang tadi, dan membuat Seohyun semakin
terpukau.
Seandainya istana dalam kisah
cinderella itu memang ada di jaman modern ini, maka mension keluarga Jung akan
menjadi salah satunya. Dari pintu gerbang ke pintu utama saja harus melewati
sebuah taman yang luar biasa luasnya.
Lalu Yonghwa menghentikan Porsche
hitamnya tepat didepan pintu utama. Tampak seorang pria sudah berdiri tegak di
depan pintu dan siap untuk menyimpan mobilnya ketempat yang seharusnya. Yonghwa
melepas seat beltnya kemudian membantu Seohyun melepaskan miliknya. Pria yang
berdiri tadi lalu membantu Seohyun membukakan pintu mobil Yonghwa. Semua terasa
canggung dan tak biasa baginya.
Yonghwa menggenggam tangan
Seohyun yang kala itu terasa dingin. She was so nervous.
"Kajja, Hyun. Mereka sudah
menunggumu didalam." Yonghwa tahu, gadisnya sedang benar-benar gugup. Dia
memeperkuat genggamannya, sambil memapahnya masuk.
Lagi-lagi Seohyun terpana. Tempat
ini terlalu megah untuk mereka sebut rumah. Mulai dari lantai marmer, lampu
kristal yang menjuntai dari atap rumah ini hingga nyaris menyentuh lantai,
hiasan-hiasan kramik, lukisan-lukisan, semuanya hanya Seohyun dapati dalam
novel dan beberapa drama korea.
"Gwaenchanna, Baby.
Bersikaplah senyaman mungkin. Bila rumah ini membuatmu kurang nyaman karena
barang-barang dan furniture mewahnya, aku beri tahu, Eomma dan Appaku bukanlah
representasi dari tempat ini. Mereka adalah orang-orang yang sederhana dan
berfikiran terbuka. Apalagi saat ini. Keluarga kecilku benar-benar akan bahagia
hanya dengan sesuatu yang sederhana." Yonghwa menghadap kearah Seohyun di
sampingnya, lalu membuat gadis itupun menghadapnya. Lembut, dia mengusap rambut
Seohyun dan menyisirnya.
"Percayalah, mereka
menginginkanmu untuk menjadi bagian dari kebahagiaan kami itu. Kajja... aku
rasa mereka sudah menunggu kita di ruang makan." Yonghwa tersenyum menenangkan. Dan akhirnya,
senyum Seohyun-nya pun mengembang.
Setelah melewati beberapa ruangan
yang menakjubkan, mereka akhirnya menemukan dimana Tn. Jung dan Ny. Jung
berada. Kedua orang tua itu segera bangkit dari posisi duduk mereka dan
menyambut anak-anak itu dengan wajah sumbringah. Ny. Jung bahkan berjalan cepat
menghampiri mereka dan merentangkan tangannya untuk memeluk Seohyun.
"Aigoo.. akhirnya kita
bertemu, Nak." Ny. Jung memeluk Seohyun dengan hangat. Usapan demi usapan
yang dia berikan dipunggungnya, yang entah bagaimana, tapi semua itu terasa
seperti aliran listrik yang mengalir hingga ke hati Seohyun. Dia bahkan lupa,
kapan terakhir kali dia merasakan sentuhan dan pelukan seperti itu. Air matanya
nyaris meleleh lagi. Ny. Jung melepas peluknya, lalu menatap lekat wajah calon
menantunya.
"Kau benar-benar cantik,
Aga. Tidak heran, putraku jatuh cinta padamu." Lembut, tangan halusnya
mengusap wajah Seohyun. Lagi-lagi semua itu membuat Seohyun ingin menangis.
"Anyeong haseo, Eomonim,
Abonim, maaf.. saya baru sempat berkunjung saat ini." Seohyun
membungkukkan badannya dan mencoba merekahkan senyum terbaiknya, dibalik rasa
haru yang menyelimuti hatinya.
"Gwaenchanna, Aga. Kami
mengerti kesibukan anak-anak muda sekarang. Gomawo, karena kau mau datang
jauh-jauh ketempat ini." Kali ini, Tn. Jung yang bicara. Lelaki paruh baya
itu berjalan mendekati Seohyun dan memberinya senyum hangat.
"Jo do, neomu kamsahamnida,
Abonim, Eomonim. Maaf, saya datang tanpa membawa dan mempersiapkan apapun.
Yonghwa Oppa memberi tahu saya begitu mendadak tadi malam jadi..."
"Gwaenchanna. Kau tidak
perlu repot-repot, Nak. Melihatmu ada disini pun sudah membuat kami bahagia.
Kajja.. kita duduk." Ny. Jung menggandeng tangan Seohyun dan membimbingnya
ke meja makan. Sepertinya wanita paruh baya ini melupakan sesuatu.
Putranya.
"Aigoo... tidak ada yang
mengharapkan kehadiranku, sepertinya!" Merasa diabaikan, Yonghwa
menggerutu nyinyir, membuat Eomma-nya tersadar. Wanita cantik itu memutar
tubuhnya lalu kembali menatap putranya yang sedang memasang wajah muram.
"Omo.. Uri Adeul waseo?
Aigoo... bagaimana mungkin aku bisa sampai melupakanmu? Mianhae, Adeul.. Nawa..
kemarilah..." Ny. Jung melambaikan tangannya. Yonghwa berjalan lemas
mendekati Seohyun dan ibunya di meja makan. Masih dengan wajah kusutnya.
Seohyun tidak bisa menahannya dan dia pun terkekeh.
"Apa aku bilang? Benarkan?
Begitu Eomma melihatmu, maka dia akan segera melupakanku!" Setengah
berbisik, Yonghwa kembali menggerutu.
"Geumanhae, Yonghwa ah!
Eomma mianhae. Aku hanya terlalu senang melihat gadismu datang.
Ngomong-ngomong, kalian begitu terlambat. Eomma dan Appa sudah menyiapkan
hidangan ini sejak pagi. Untung aku menatanya diatas tray pemanas. Ayo, Joohyun
ah, cobalah masakan Appa-mu ini. Kau pasti tidak percaya, bahwa suamiku yang
memasak semua ini. Eomma hanya membantu sedikit saja."
"Oh.. jeongmalyo?" Baik
Seohyun maupun Yonghwa, kedua nya terkejut mendengar semua itu.
"Aboji, sejak kapan Aboji
suka memasak? Selama menjadi putramu, aku bahkan belum pernah melihatmu berada
didapur. Bagaimana mungkin Appa menyiapkan semua ini?" Pria itu tersenyum
mendengar komplain anaknya.
"Aku memang tidak pernah
menunjukkan sisi ini dihadapan siapapun selain didepan ibumu. Sebagai presdir,
aku harus menjaga wibawaku. Aku fikir, dengan menunjukkan sisi yang lembut,
relasi dan kompetitor ku bisa saja merendahkanku dan menganggapku mudah.
Termasuk dihadapan putra-putraku. Dulu, aku ingin menjadi ayah yang disegani
dan dibanggakan." Sejenak Tn. Jung tersenyum sambil menatap hidangan
dihadapannya. Lalu, pria itu meneruskan kalimatnya dengan suara lirih.
"Tapi kini... aku hanya
ingin menjadi Appa yang baik. Aku sadari, tidak ada yang lebih penting dan
lebih membuatku bahagia selain melihat keluargaku bahagia." Pria itu
tersenyum menatap kedua mata putranya. Kedua lelaki penuh penyesalan itu,
akhirnya bisa saling mendengar jerit batin masing-masing. Meski sedikit
terlambat.
Dan mereka melewati makan siang
yang hangat, meski salju turun cukup lebat. Usai makan siang, keempat orang itu
menuju ruang keluarga. Disana suhu udaranya lebih hangat dan lebih nyaman untuk
mengobrol dan berbagi cerita.
Sebuah sofa berwarna maroon menyudut
disatu ruangan besar. Disudut ruang, ada sebuah Grand Piano putih dan dua buah
Acoustic Guitar yang tersimpan dengan cantik. Semua itu menarik perhatian
Seohyun. Piano, benda yang dulu begitu akrab dengannya. Saat Eomma-nya masih
hidup.
"Bagaimana kesehatanmu
sekarang, Nak?" Tn. Jung membuka perbincangan sambil menikmati chese cake
buatan istrinya.
"Jauh lebih baik, Abonim.
Hanya saja, saya masih belum dijinkan untuk bekerja. Taeyeon Eonnie mengancam
saya, bila saya sampai kelelahan." Tn. Jung tertawa kecil. Pria itu
terlihat bahagia siang itu. Ny. Jung juga tak kalah berbinar.
"Syukurlah. Eomma tadinya
ingin menjengukmu kemarin. Tapi Taeyeon bilang, kau sudah membaik. Kau harus
lebih menjaga kesehatanmu, Aga. Hatiku sakit saat Yonghwa bilang bahwa kau
hidup seorang diri di kota besar itu. Tapi Yonghwa bilang, bahwa kau tinggal
bersamanya. Dan aku memukul kepala anak ini saat dia bilang bahwa kau menyewa
kamar padanya." Dug!! Seketika hati Seohyun terasa meloncat dari dadanya.
"Nde? Ah.. Jeoseohamnida,
Eomonim. Saya sedang mencari tempat tinggal baru yang lebih dekat ke tempat
kerja saya. Mungkin bulan depan, saya akan segera pindah dari sana." Gadis
itu merasa amat malu dan tidak enak dimata kedua orang tua Yonghwa. Apa yang
akan mereka fikirkan tentangnya, saat mereka mengetahui bahwa dia tinggal satu
atap dengan putranya? Batinnya kalut.
"Mwo? Ani ah.. Joohyun ah.
Bukan begitu maksud Eomma. Aku hanya terkejut, kenapa anak ini malah meminta
uang sewa padamu? Bukankah dia menyukaimu? Kenapa harus sewa segala? Yonghwa
bilang, kau yang memaksanya untuk menerima uang sewa itu, tapi tetap saja.. itu
membuatku marah. Mana boleh seorang pria memperlakukan gadis yang dicintainya
seperti itu?
Karenanya, Joohyun ah.. tinggalah
disana dengan nyaman. Aku hanya titip satu hal. Kalian harus bisa bertanggung
jawab dengan hidup kalian sendiri. Kalian mengerti kan maksudku? Dan aku rasa
kalian sudah cukup dewasa untuk menjalani hidup kalian sendiri. Aku percaya,
kalian tahu apa yang harus dan tidak harus kalian lakukan."
Seohyun tertunduk sambil
menganggukan kepalanya. Ada rasa lega, sekaligus malu.
"Mwo ya, Eomma? Memangnya
aku terlihat seperti akan mencelakainya? Aigoo... jinjja...." Rupanya,
Yonghwa juga merasa gugup dengan ucapan Eomma barusan.
"Bukan begitu.... bagaimana
pun Joohyun itu anak orang. Dan kau harus menjaganya! Bukan hanya dari orang
lain, tapi juga dari dirimu sendiri!" Ny. Jung menatap tajam putranya
hingga membuat Yonghwa meringis. Syukurlah, Appanya segera menjelma menjadi
superman untuknya.
"Geumanhae, Yeobo! Mereka
sudah dewasa. Kau tidak perlu mencampuri urusan mereka sampai kesitu."
"Aku tahu, Yeobo.. aku hanya
tidak ingin anak kita merugikan orang lain. Sebagai sesama perempuan, aku pasti
akan memihak Joohyun dalam hal ini. Karena bagaimana pun, kaum kamilah yang
akan dirugikan."
"Iya, tapi kau tidak harus
sampai seperti itu. Biar saja mereka menjalani hidup mereka dengan nyaman.
Yonghwa juga bukan lelaki yang kubesarkan tanpa tanggung jawab. Sebagai lelaki,
aku mengerti, Yonghwa tidak akan bertindak bodoh apalagi sampai menyakiti
gadisnya. Kau tenang saja, kaum-ku tidak selalu akan selalu menyakiti kaum-mu.
Lagipula, aku malah senang bila mereka bisa segera memberiku cucu."
"MWO?!!!!"
"NDE?!!!!"
Yonghwa dan Seohyun serentak
terhenyak. Cucu? Orang tuanya pasti sudah gila! Mereka sebenarnya sedang
berbicara apa sih? Kaum-ku? Kaum-mu? Huffh.. Yonghwa benar-benar sakit kepala.
Memangnya mereka fikir anak nya hidup di era 70-an?
"Wae? Apa yang salah, bila
diusiaku kini aku menginginkan seorang cucu? Bila bukan meminta padamu, lalu
aku harus meminta pada siapa? Hyung-mu tidak ada, dan kau satu-satunya yang aku
miliki. Aku tidak minta banyak. Aku hanya ingin seorang menantu dan beberapa
orang cucu. Permintaanku ini sederhana kan?" Tn. Jung menatap putranya
serius. Yonghwa menggantung mulutnya usai perkataan Appa-nya barusan dan
menatap tidak percaya. Begitupun Seohyun. Dan Ny. Jung... wanita cantik itu
tertunduk, tak kuasa menahan tawanya.
"Mitjindeul. My God... he
never change at all. Aigoo.." Yonghwa menggerutu sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya. Tn. Jung menahan tawanya melihat bagaimana
putranya dan gadis yang dicintai Yonghwa bereaksi.
"Geumanhae, Yeobo. Kita
sudah keterlaluan menggoda mereka. Lihat, wajah menantumu merah padam. Aigoo...
Joohyunie mianhae. Kami hanya bercanda, Aga. Sudah lama dalam keluarga ini tak
lagi terdengar suara tawa. Kau tidak akan tahu bagaimana bahagianya kami
melihat Uri Yonghwa menemukan kembali hidupnya. Dan melihatmu, kami semakin
bahagia karena Yonghwa akan bersama perempuan yang tepat menjalani sisa
hidupnya saat kami tiada nanti." Ny. Jung menggengam tangan Seohyun dan
mengusapnya lembut.
"Eii.. kau ini bicara apa,
Miss Kim? Kau pernah berjanji padaku bahwa kau akan hidup sangat lama dan
melihat cucu-cucuku nanti." Kini, giliran Yonghwa menggoda Eomma-nya.
"Aigoo.. geun saeki ah!
Sebelum kami melihat cucumu, kami ingin melihat anakmu lebih dulu." Sekali
lagi Tn. Jung menyerang putranya.
"Appa... geumanhaeyo! Apa
kau ingin Joohyun kapok dan enggan berkunjung lagi ke sini?" Yonghwa mulai
merengek.
"Mwo? A.. anieyo, Abonim.
Mana mungkin saya kapok?" Seohyun tersenyum aneh, lalu melempar tantrum ke
arah Yonghwa. Sebuah isyarat agar lelaki itu menutup mulutnya.
"Tuh.. dengar! Menantuku
lebih pengertian dari putraku sendiri!" Tn. Jung masih tak mau kalah.
"Geumanhae, neol duri!
Yonghwa ah, lebih baik kau mainkan sebuah lagu untuk kami. Aku rasa itu akan
lebih baik dari pada melihat kalian berdua bertengkar. Aku bosan melihatnya.
Palli!! Mainkan gitarmu!" Ny. Jung menuangkan lagi teh hangat ke
masing-masing cangkir diatas meja.
"Okay, Miss Kim! Anything
for you!" Yonghwa mengedip nakal kearah Eomma-nya, kemudian sebuah pukulan
mendarat dikepalanya.
"Awww!!!" Spontan,
Yonghwa mengusap kepalanya sambil meringis.
"Miss Kim adalah yeoja-ku!
Jadi berhenti menggodanya karena kau punya yeoja-mu sendiri, Phabo ah!"
Tn. Jung hari ini benar-benar membuat Yonghwa tercengang. Sejak kapan ayahnya
punya sisi gila seperti itu? Tapi dia abaikan saja. Beginilah seharusnya sebuah
keluarga menjalani hidupnya. Yonghwa kemudian bangkit, dan mengambil gitarnya.
"Okay... i'll sing this song
especially for the best women in my life. Mrs. Jung and you.. Soon to be Mrs.
Jung. Untuk segala yang sudah kalian berikan dalam hidupku, neomu gomawoseo.
Gomwoyo, Eomma... sudah memberiku sebuah kehidupan. Dan untukmu, Baby...
Gomawo! Sudah memberiku alasan untuk tetap hidup. Saranghae....." Kedua
wanita cantik itu langsung sibuk menahan haru mereka. Air mata tiba-tiba saja
menggenang dikedua kelopak mata mereka. Lalu tiba-tiba pria disamping mereka
mengangkat satu tangannya.
"Bagaimana denganku? Apa kau
tidak menyayangiku?" Tn. Jung kembali bertingkah konyol hingga semua orang
tidak mampu menahan tawa mereka.
"Araso.. araso. Aigoo.. hari
ini Appa benar-benar menggelikan. Geurae, Tuan Jung. Tentu saja aku berterima
kasih padamu. Untuk semua yang aku miliki saat ini. Untuk membuatku berdiri
sebagai diriku kini. Dan untuk menikahi Miss Kim sehingga aku punya Eomma yang
cantik, neomo gomawoyo. Geurigo, neomu mianhaeyo, Aboji. Untuk semua yang aku
lakukan di masa lalu. Saranghaeyo, Appa..." Kini, giliran kedua lelaki itu
yang saling menatap haru. Tapi tidak berlangsung lama. Dengan senyum
malaikatnya, Yonghwa mulai memetik senar-senar gitarnya.
Whenever I'm weary
From the battles that raged in my head
You made sense of madness
When my sanity hangs by a thread
I lose my way,
But still you seem to understand
Now & Forever,
I will be your man
Sometimes I just hold you
Too caught up in me to see
I'm holding a fortune
That Heaven has given to me
I'll try to show you
Each and every way I can
Now & Forever,
I will be your man
Now I can rest my worries
And always be sure
That I won't be alone, anymore
If I'd only known you were there
All the time,
All this time...
Until the day the ocean
Doesn't touch the sand
Now & Forever
I will be your man
Now & Forever,
I will be your man
"Now And Forever"
Richard Marx
Baik Eomma-nya ataupun Seohyun,
kedua wanita itu menatap Yonghwa dengan mata haru dan berkaca-kaca. Mereka lalu
bertepuk tangan usai mendengar lagu ter-merdu yang pernah mereka dengar. Lalu
tanpa diduga, Seohyun tiba-tiba berdiri dan menghampiri Yonghwa. Gadis itu
duduk di depan Grand Piano putih itu, dan dalam beberapa saat mulai memainkan
denting-denting piano dengan jemari lentiknya. Yonghwa sekali lagi menggantung
mulutnya dan menatap gadisnya tidak pecaya. Dia tidak menyangka Joohyun-nya
bisa memainkan piano se-mahir itu. Dengan sendirinya, Yonghwa mengiringi melodi
piano Seohyun dengan petikan gitarnya.
He knew that song. He loved it.
His Brother loved it too.....
Dan Yonghwa kembali bernyanyi.
Lembut, sambil menatap bidadari dengan rambut panjang terurai yang sedang memainkan melody begitu
indah. Semua itu semakin mengikat erat hatinya.
I don't know you
But I want you
All the more for that
Lalu Seohyun mengiringi suara
lembut Yonghwa dengan harmoni dari suara indahnya yang lagi-lagi membuat
Yonghwa terpana dalam takjub. Dia tidak tahu bahwa Seohyun punya suara seindah
itu.
Words fall through me
And always fool me
And I can't react
Melodi musik mereka, harmoni
suara mereka, dan cara keduanya saling menatap satu sama lain, memberi Tn. Jung
dan Ny. Jung kebahagiaan tak tertandingi oleh apapun. Melihat betapa Yonghwa
jatuh mencintai Seohyun, begitupun sebaliknya, kedua orang tua ini hanya bisa
menatap haru sambil mengucap syukur dalam hati mereka.
And games that never amount
To more than they're meant
Will play themselves out
Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice, you have a choice
You'll make it now
Falling slowly, eyes that know me
And I can't go back
Moods that take me and erase me
And I'm painted black
You have suffered enough
And warred with yourself
It's time that you won
Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice, you have a choice
You've made it now
Falling slowly sing your melody
I'll sing it loud
"Falling Slowly"
Glen Hansard feat. Markéta Irglová
"Whooa.. My Baby. How could
you? Omo... kau... Seo Joohyun, bagaimana mungkin aku sampai tidak tahu bahwa
kau bisa memainkan piano dan bernyanyi seindah itu? Kau..." Yonghwa
terpaku sambil berdiri usai menyimpan gitarnya.
*(Ingat.. ekspresi terkejut, terharu, tersentuh Yonghwa selesai dengar
Banmal Song Seohyun's version di last episode WGM).
Seohyun tersenyum antara gugup,
malu sekaligus bangga. Akhirnya, setelah bertahun-tahun berlalu, dirinya masih
bisa memainkan melodi itu. Lagu itu, adalah lagu yang selalu dia nyanyikan
dengan Eomma-nya dulu. Keduanya lalu duduk kembali disamping Tn. dan Ny. Jung.
Yonghwa tak henti-hentinya menatap Seohyun-nya terkagum-kagum.
"Ooh... menantuku
benar-benar luar biasa. Joohyun ah, bulan depan, aku akan mengajakmu ke acara
amal perusahaan kami. Aku tidak sabar ingin memamerkan menantuku yang bukan
hanya cantik, tapi ternyata sangat mahir bermain piano. Lihat saja, Ny. Lee
kali ini akan menutup mulutnya dan berhenti memamerkan Yoona di hadapan
teman-temanku." Seohyun menahan tawanya.
"Geumanhae, Eomma. Jangan
membuatku malu. Biar aku saja yang menghajar putra nya saat dia memamerkan
kisah cintanya dihadapanku. Lagipula, aku yakin, Jonghyun sudah mengatakan pada
Eomma-nya tentang Joohyun. Lelaki itu juga mengakui bahwa Joohyun-ku tidak
kalah cantik dengan Yoona. Setidaknya, Joohyun tidak akan pernah memukul
kepalaku atau menendang kakiku saat dia kesal padaku seperti yang selalu Yoona
lakukan padanya. Tsk... Pria yang malang..." Yonghwa terkekeh sendiri
membayangkan nasib sahabatnya.
Lalu malampun tiba. Usai makan
malam, semua orang bersiap memasuki kamar masing-masing.
"Joonhyun ah... hmm.. apa
kau keberatan bila aku ingin tidur bersamamu?" Tiba-tiba Ny. Jung
mengajukan pertanyaan yang membuat kedua lelaki diruang makan itu tercengang.
"Nde?" Seohyun berusaha
memperjelas. Dia khawatir bila dia telah salah mendengarnya.
"Girls time, you know?!
Otthae? Karena aku tidak punya anak perempuan, maka aku tidak pernah
melakukannya. Boleh kan??" Matanya mengiba. Seohyun terpaku untuk beberapa
saat. Ada perasaan lucu, sekaligus bahagia dalam batinnya. Dia tidak lagi
merasa heran tentang dari mana Yonghwa mendapatkan sifat konyolnya. Karena
kedua orang tuanya pun ternyata merupakan orang-orang yang hangat.
"Yeobo, geumanhae! Joohyun
pasti sangat lelah setelah seharian ini menemani kita. Sudahlah, biarkan dia
istirahat." Tn. Jung mencoba menghentikan kekonyolan istrinya.
"Aniyo, Abonim.
Gwaenchanseumnida. Saya sama sekali tidak terganggu. Sudah lama, sejak Eomma
meninggal, saya tidak pernah lagi diperlakukan seperti ini."
"Kau dengar kan? Joohyun
tidak keberatan, kok. Kau tidur sendiri malam ini, Yeobo! Biarkan aku dan
putriku menghabiskan malam ini bersama. Dan kau Yonghwa! Kau tidak sedang
berencana untuk menyelinap masuk kedalam kamar Joohyun tengah malam nanti kan?
Setidaknya jangan malam ini, karena aku akan bersamanya!" Ny. Jung menujuk
putranya dengan telunjuknya diiringi tatapan mengancam.
"Eomma!!!" Yonghwa
menatap Eomma-nya kesal. Tapi Ny. Jung bergegas menggandeng tangan Seohyun dan
mengajaknya masuk ke kamarnya.
*****
Tak terasa, sudah lewat tengah
malam. Kedua 'gadis' itu mulai merasa
kantuk setelah berbagi banyal cerita dan tawa. Ny. Jung sengaja melakukan ini.
Yonghwa banyak bercerita tentang betapa kesepiannya hidup Seohyun setelah
Eomma-nya pergi. Dan Eomma-nya adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki.
Ny. Jung hanya ingin membuat Seohyun merasa memiliki sebuah keluarga yang
menyayangi dan mendukungnya.
"Gomawo, Joohyun ah.
Kehadiranmu mengembalikan warna didalam rumah ini. Senyum diwajah Yonghwa, yang
kini juga menjadi senyumanku dan suamiku." Lembut, Ny. Jung mengusap
kepala gadis yang sudah terlelap tidur dihadapannya.
Author Note : Otthaeyo, Chingu-deul? Are you happy now? Hehehe... masih ada beberapa roller coaster sebelum chapter ending. so.. keep waiting yah. Gomawoyo, buat support dan banyak masukannya. ^^

Akhirnya dilanjutin juga aku suka banget ceritanya hehehe di tunggu kelanjutan nya
BalasHapusAkhirnya dilanjutin juga aku suka banget ceritanya hehehe di tunggu kelanjutan nya
BalasHapusKeep waiting😁😁😁
BalasHapusAnd fighting^_^
BalasHapusSelalu menunggu chapter berikutnya. Semangattt
BalasHapusKak semangat nulisnya .. bagus looo.. <3 fighting kak jingga
BalasHapusunnie cantik, insyaallah nanti aku buatin header buat blognya ya ^^
BalasHapus