In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 26
Choise
Seohyun kembali menginjakan kakinya dilantai rumah sakit, tempat yang dia
berjanji akan langsung mendatanginya setibanya dia di Seoul. Cho Kyuhyun dan
Kim Taeyeon tentu saja sudah menunggunya disana. Dan serangkaian proses
persiapan transplantasi, sudah didepan matanya untuk dia jalani satu persatu.
Kyuhyun menyiapkan kamar yang
super nyaman untuk Seohyun tinggali selama beberapa waktu kedepan. Taeyeon
bilang, bila proses trabsplantasinya berjalan lancar, Seohyun tidak harus
berlama-lama berada di rumah sakit ini. Hanya sesekali melakukan check up
secara berkala, untuk memastikan bahwa sumsum tulangnya kembali bisa
memproduksi darah dengan normal dan tubuh Seohyun tidak menunjukan penolakan
terhadap sel darah pendonor.
“Eonni... apakah donorku sudah
tiba di rumah sakit ini?” Sebetulnya, sejak awal Seohyun sudah merasa penasaran
tentang siapa orang baik yang rela mendonorkan sumsum tulang untuk menolongnya.
Hanya saja, Taeyeon selalu bilang bahwa orang itu memintanya untuk merahasiakan
identitasnya.
“Ah.. kemarin dia datang untuk
menjalani beberapa tes pra operasi. Mungkin besok, dia juga sudah harus
menjalani rawat inap disini untuk menjaga dan menghindarkannya dari hal-hal
yang tidak diinginkan sebelum transplantasi dilakukan. Tapi Joohyun ah, tolong
jangan paksa aku untuk mengingkari janjiku padanya dengan menanyakan identitas
orang itu. Aku hanya bisa mengatakan satu hal tentangnya padamu. Orang yang
akan mendonorkan sumsum tulangnya padamu, adalah orang yang sangat baik. Orang
itu, ingin melakukan hal yang seharusnya dia lakukan sejak lama pada orang yang
dia cintai, tapi dia terlambat melakukannya. Dan kini, dia merasa bahagia
karena memiliki kesempatan untuk bisa melakukannya padamu. Jadi menurutku,
kalian sedang menolong satu sama lain lewat operasi ini. Dia menolongmu untuk
sembuh, dan kau... menolongnya untuk sedikitnya mengurangi penderitaannya
karena rasa bersalahnya.”
Seohyun mengangguk kecil.
Penjelasan Taeyeon barusan, meski tidak menjawab seluruh rasa ingin tahunya,
setidaknya itu saja sudah cukup untuknya. Meski bagaimana, Seohyun tetap akan
berterima kasih pada orang itu dan mendoakan semua yang terbaik untuknya.
Tiba-tiba... seseorang datang
mengetuk pintu.
“Oh.. Oppa... waseo?” Kyuhyun
datang dengan dua bouquet bunga ditangannya. Tangan kanannya, memegang
rangkaian white lily dan baby breath, yang kemudian dia berikan pada Seohyun.
Lalu, tangan kirinya memegang serangkaian white roses, kemudian dia serahkan
pada Taeyeon. Tentu saja, Seohyun sempat terpaku melihatnya.
“Whoa... igae mwoeyo? Oppa..
kenapa kau memberi Kim Euisan-nim mawar putih ini?” Dengan wajah polosnya,
Seohyun bertanya pada Kyuhyun yang kala itu hanya bisa tersipu malu. Tapi
bukannya Kyuhyun yang menjawab, justru malah Kim Taeyeon yang membuka mulutnya.
"Wae? Memangnya kenapa kalau
dia memberiku bunga? Memangnya cuma anak ingusan sepertimu saja yang boleh
mendapatkan bouquet bunga seperti ini?" Mata dokter cantik itu setengah
memelototinya, membuat Seohyun meringis kecil.
"A.. aniyo. Geunyang... aku
hanya...." Seohyun seperti kehilangan nyalinya karena reaksi Taeyeon
barusan. Dan itu membuat Kyuhyun tertawa kecil. Lelaki itu mengacak rambut
adiknya.
"Aigoo... uri Joohyunie
neomu gyowo...! Ckckck...! Ottae? Apa kau menikmati liburanmu?"
Dug! Tiba-tiba, pertanyaan itu
merubah suasana hati Seohyun seketika. Dia bahkan tengah berusaha untuk
melupakan apa yang terjadi selama di Busan, dan hanya fokus pada kesehatannya
saja. Tapi Kyuhyun membuat usahanya menjadi sia-sia.
"Geuromyo! Tentu saja aku
menikmatinya. Yonghwa Oppa, Eommonim, Abonim, mereka semua memperlakukanku
dengan istimewa. Aku benar-benar merasa dicintai." Senyum kecil merekah
diwajah cantiknya kala memori tentang ketiga orang itu terbayang dibenaknya.
"Geurae? Tidak heran, imo
segera memamerkan calon menantunya pada Eomma-ku yang pada akhirnya membuatku
menjadi sasaran uring-uringan Eomma. Ckckck... semua ini gara-gara kau, Seo
Joohyun! Eomma-ku jadi ikut-ikutan membanding-bandingkan diriku denganmu. Dan
yang terparah adalah.... Eomma dan Appa-ku tiba-tiba menjadi sangat cerewet dan
memintaku untuk membawa pulang seorang menantu untuk mereka saat tahun baru
nanti. Bila aku tidak bisa membawanya, maka mereka bilang, lebih baik aku tidak
usah pulang sekalian. Gila, bukan?" Taeyeon memutar kedua bola matanya,
yang membuatnya tampak lebih lucu. Kyuhyun seperti tak bisa berhenti tertawa.
"Jinjayo? Omo.. Eonni,
mianhaeyo. Aku tidak bermaksud membuatmu dalam masalah. Tapi... apa orang tuamu
tidak keterlaluan? Masa... hanya karena Eonni belum menemukan seseorang yang
tepat, lalu mereka tidak mengijinkanmu pulang?" Sekali lagi, Seohyun
menunjukan wajah polosnya.
"Karena itu, kau harus cepat
menemukannya, Taeyeon Ssi! Atau tahun baru kali ini akan menjadi tahun baru
yang mengenaskan untukmu." Kyuhyun menggodanya, membuat Taeyeon
memicingkan mata kearahnya.
"Yak... kau fikir menemukan
calon suami itu semudah membeli kucing piaraan? Aigoo... memikirkannya saja
sudah membuat kepalaku sakit. Andwe! Lebih baik aku lewati malam tahun baru
kali ini sendirian di apartemenku, daripada harus sembarangan mengikuti
keinginan gila meraka."
"Eii... yakin.. kau hanya
akan melewatkan tahun barumu sendirian? Hhm... sayang sekali.. bila dokter
cantik sepertimu harus melewati malam itu dengan begitu tragis. Come on, girl!
Open your eyes and look at around you. You'll find someone, when you're really
looking for him. Kau bahkan tidak tahu bahwa dia bisa begitu dekat, karena kau
tidak memasang radarmu dengan baik." Kyuhyun menatap Taeyeon dengan kedua
mata bersinarnya. Dia lupa, ada seseorang yang dengan jelas bisa melihat arti
dari tatapan itu. Seohyun tersenyum lebar melihat pemandangan dihadapannya.
"Aigoo... kenapa aku
tiba-tiba merasa menjadi pihak ketiga?" Seohyun berceloteh. Membuat
Taeyeon dan Kyuhyun serentak melihatnya. Secara berurutan, Seohyun menatap
Kyuhyun, kemudian melihat Taeyeon disampingnya.
"Oppa, Eonni... mungkin
untuk ukuran usia, aku memang lebih muda dari kalian. Tapi tentang cinta dan
relationship.. hhm.. kalian bisa bertanya padaku." Seohyun menepuk dadanya
dengan angkuh, membuat Kyuhyun menatapnya dengan kerutan dikeningnya, dan
Taeyeon melihatnya dengan nyinyir.
"Yak.. apa maksudmu?"
Taeyeon mulai gusar.
"I could clearly see that,
Eonni! Bagaimana pria tampan disampingmu ini menatapmu dengan tatapan itu. Dan
aku tahu, apa arti tatapan itu." Seohyun mengedipkan sebelah matanya,
membuat Taeyeon semakin nyinyir dan Kyuhyun tiba-tiba merasa gugup.
"Yaa.. yak! Seo Joohyun? Apa
maksudmu? Kau ini bicara apa sih?" Kyuhyun menepuk lengan adiknya, tapi
Seohyun malah tertawa kecil.
"Araso.. araso! Aku akan
menutup mulutku dan membiarkan kalian untuk saling menemukan. Aigoo... aku
benar-benar merindukan Yong Oppa-ku! Andai dia ada disini, aku bisa
menunjukannya pada kalian. Apa yang harus kau lakukan saat kau jatuh cinta pada
seseorang." Kyuhyun dan Taeyeon merasa kali ini Seohyun dan cara bicaranya
benar-benar menyebalkan.
"Haish... anak ini minta
kuberi obat lebih banyak, sepertinya! Istirahatlah! Semakin banyak kau bicara,
semakin tidak baik untuk kepalamu, karena imajinasimu bisa menggangu fungsi
kognitifmu, lalu berakibat buruk untuk syaraf dan jantungmu. Kajja.. Kyuhyun
Ssi! Kunci dia diruangan ini, hingga gadis ini menyadari apa
kesalahannya!" Taeyeon tanpa sadar menarik lengan jaket yang dikenakan
Kyuhyun, hingga membuat Seohyun semakin menggila.
"Whoooo... lihat.. bagaimana
caramu membawanya keluar, Eonni. Ough... kalian benar-benar lucu!" Seohyun
kembali tertawa.
"Geumanhae, Phabo ah! Atau
aku benar-benar akan menguncimu disini!" Giliran Kyuhyun yang mengancam
adiknya.
"Arasoyo, Ahjussi!! Geuman
kkayo!! Sebelum kau ketahuan lebih banyak!"
Akhirnya, kedua orang yang nyaris
Seohyun telanjangi perasaannya itu pun keluar meninggalkan ruangan Seohyun.
Gadis itu masih duduk diatas tempat tidurnya, dengan sisa senyum diwajahnya.
Namun tak lama kemudian, senyum itu memudar, saat wajah Yonghwa tiba-tiba
tergambar dalam fikirannya.
Dia menghela nafas yang terasa berat. Seohyun meraih
ponselnya. Dengan ragu, dia melihat layarnya ponselnya untuk memastikan apakah
Yonghwa-nya membalas pesannya atau tidak. Dan betapa terkejutnya dia, saat dia
mendapati 76 panggilan tak terjawab, 15 pesan, dan 1 voice mail masuk tanpa dia
ketahui. Lalu dia teringat kebodohannya. Saat dia di pesawat, dia mematikan
ponselnya, kemudian menyalakannya lagi saat tiba di RS, dalam keadaan silent
mode. Tentu saja... dia tidak akan mendengar panggilan Yonghwa.
Seohyun lalu mendengarkan voice
mail yang Yonghwa kirim padanya.
'Joohyun ah.. saat ini kau pasti sudah dalam pesawatmu. Ya Tuhan..
bodohnya aku!
Mianhae, Hyun..! Jeongmal mianhae. Aku tidak sempat melihat ponselku,
hingga aku terlambat membaca pesanmu. Aku benar-benar.....
Hhh... apapun yang akan aku katakan padamu, pasti hanya terdengar
sebagai sebuah excuse untuk semua kesalahanku. Jebbal mianhae, Joohyun ah...
God... rasanya aku benar-benar ingin menangis...
Joohyun ah, jebbal.. begitu kau mendengar pesanku ini, hubungin aku
segera. Hhm?'
Hatinya kembali berdebar kencang.
Yonghwa-nya, suaranya terdengar sangat lelah dan putus asa. Entah hari-hari
semacam apa yang sudah dilaluinya kemarin, hingga dia tidak sempat membaca
pesannya.
Akhirnya, Seohyun memutuskan
untuk menghubunginya kali ini. Yonghwa memintanya, bukan? Selain itu, Seohyun
ingin mendengar suaranya sekali lagi, sebelum operasi transplantasi itu
dilakukan.
Seohyun men-dial nomor Yonghwa di
ponselnya. Lalu...
"......................"
"Yeoboseo? Oppa? Oppa...
mianhae, ponselku dalam keadaan silent mode hingga aku tidak mendengar
panggilanmu. Oppa pasti sangat khawatir. Geunyang geok cheongma. Saat ini aku
sudah di Seoul dan sudah kembali menjalani pekerjaan menulisku. Oppa, kau
baik-baik saja kan?" Rentetan kalimat itu secara otomatis meluncur dari
mulutnya. Tapi Seohyun masih belum mendengar suara Yonghwa-nya.
"Oppa? Kau
mendengarku?" Seohyun memastikannya sekali lagi.
"Op...."
"Anyeonghaseo, Seo Joohyun
Ssi. Jaegaeyo. Kim Hyunna-eyo."
Dug!!! Rasanya seperti tertimpa
batu besar. Geun yeoja, wae? Kenapa dia yang menerima ponsel Yonghwa? Batinnya.
"A.. anyeong haseo.
Jeogieyo... Yonghwa Oppa neun, eodieyo?" Seohyun berusaha mengendalikan
kegugupannya.
"Oh.. Yonghwa sedang menemui
dokterku. Mungkin akan kembali beberapa waktu lagi. Moseumniriseo, Joohyun Ssi?
Apa ada yang ingin kau katakan padanya? Biar nanti aku sampaikan pada Yonghwa
saat dia kembali." Suaranya masih terdengar sangat lemah. Tapi entah
kenapa, Seohyun merasa semua itu menakutkan.
"Oh? A.. aniyo.
Gwaenchannayo, nanti aku akan menghubunginya lagi. Geurom..."
"Seo Joohyun Ssi...."
Seohyun nyaris menutup percakapan itu, namun panggilan Hyunna menghentikannya.
"Nde..." Gadis itu
semakin gugup.
"Seo Joohyun Ssi... bisakah
kau menyerah tentangnya?"
Pertanyaan itu. Seohyun sudah
pernah mendengarnya, dan dia ingat... dia juga sudah pernah menjawabnya. Tapi..
kenapa wanita itu lagi-lagi menanyakan hal yang sama?
"Hhh... Kim Hyunna Ssi, bukankah
dulu aku pernah mengatakannya padamu? Aku akan selalu bersamanya selama dia
masih menginginkanku disisinya. Apapun yang terjadi. Aku tidak akan pernah
meninggalkannya, kecuali dia sendiri yang memintaku untuk pergi. Jadi...."
"Yonghwa benar-benar hancur
saat ini, Joohyun Ssi! Tidakkah kau melihatnya? Dia berusaha untuk terlihat
kuat dan tegar dihadapanmu dan juga orang tuanya. Kau tidak tahu, apa yang dia
lalui dan dia lakukan selama dia disini, bukan? Jung Yonghwa, meski dia terus
menemaniku dan tidak meninggalkanku sekejap pun, tapi dia tidak berhenti untuk
melakukan lobi-lobi bisnis pada para pemegang saham melalui ponselnya.
Yonghwa.. sepanjang aku mengenalnya, aku tidak pernah melihat dia begitu
terdera seperti saat ini.
Joohyun Ssi, lawan yang paling
berat baginya adalah Appa-ku. Appa tidak akan merubah keputusannya, walau
bagaimanapun aku memohon padanya. Meski begitu, Yonghwa tidak menyerah. Meski
dia tahu, siapa yang sedang dia hadapi, dia tetap melakukan negosiasi dengan
para pemegang saham, sambil terus menjagaku disini.
Ya. Aku. Aku adalah putri dari
laki-laki yang mungkin akan menghancurkan masa depan perusahaan Appa-nya."
Suara Kim Hyunna terdengar lirih.
Di atas tempat tidurnya, Seohyun
mulai gemetar, mendengarkan setiap kata yang Hyunna ucapkan.
"Geurigo, Seo Joohyun Ssi.
Kumohon, biarkan aku menolongnya. Bila Yonghwa kembali pada janjinya untuk
menikah denganku, maka dia dan keluarganya tidak perlu lagi menjalani kejadian
yang mengerikan seperti ini lagi. Kumohon lepaskan dia. Setidaknya dengan
begitu, kau baru mencintainya dengan cara yang benar.
Joohyun Ssi, aku mengerti, semua
itu tidak akan mudah untukmu. Geunyang jebbalyo, fikirkan Yonghwa dan keluarganya.
Hanya karena cinta kalian yang egois, apakah mereka pantas kehilangan semua
yang mereka miliki dan mereka perjuangkan seumur hidup mereka?
Kumohon, Joohyun Ssi..."
Hyunna sepertinya mulai terisak.
Dan Seohyun... jangan tanya bagaimana gadis itu tersungkur ditempat tidurnya
sambil meremas baju didadanya, menahan sedu sedan yang terasa akan segera
meledak seiring sesak yang kian menekan tenggorokannya.
"Joohyun Ssi, kumohon
fikirkanlah. Lusa, adalah hari yang paling menentukan untuk Keluarga Jung.
Semua itu mungkin hanya akan berubah dengan sebuah keputusan tepat yang kau
ambil, Seo Joohyun Ssi. Kau dan aku bisa menolong Yonghwa dengan cara yang
berbeda. Kumohon... "
Dan pembicaraan merekapun
berakhir disana. Lalu.. dalam hitungan detik, perlahan Seohyun mulai meledakkan
tangisnya. Dia tak mampu menguncinya lagi dan membiarkan tubuhnya diguncang
sedu sedan menyakitkan itu. Tubuh kecil itu, mengerut diatas tempat tidur rumah
sakit. Disaksikan dinding-dinding bisu dan sepi.
"Ottokhae, Oppa? Naega
ottokhae jigeum?" Seohyun tersidak sendu. Lalu seseorang datang mengetuk
dan membuka pintu.
"Omo... Joohyun ah! Wae
geurea? Huh? Kau kenapa? Apa yang sakit?" Kyuhyun segera berlari
menghampiri Seohyun begitu dia melihat dan mendengarnya menangis saat dia
membuka pintu. Seohyun masih tersedu, membuat Kyuhyun semakin panik. Perlahan,
Kyuhyun membantu Seohyun untuk kembali
duduk.
"Joohyun ah! Jebbal...
malhae!! Katakan padaku ada apa, sehingga aku bisa menolongmu. Jangan membuatku
takut!" Kyuhyun duduk tepat dihadapan Seohyun, hingga dia bisa melihat
wajah adiknya dengan lebih jelas. Tangannya yang gemetar mulai mengusap wajah
dan kepala Seohyun demi membuat adiknya kembali tenang.
"Oppa... aku harus
bagaimana? Yonghwa Oppa.... cintaku padanya sudah mencelakainya. Oppa
ottokhaeyo? Aku mencelakainya, Oppa... tapi aku tidak bisa
meninggalkannya."
Tangisnya semakin pilu. Dan itu
menyakitkan bagi Kyuhyun saat dia melihatnya. Kyuhyun segera menarik tubuh
malang itu kedalam peluknya, lalu mendekapnya.
"Oppa.. aku takut! Aku
benar-benar takut. Membayangkan hidup tanpanya, semua itu menakutkan. Hajiman..
Oppa... bila aku memilih untuk bersamanya, dan dia harus kehilangan segalanya
demi untuk bersamaku, semua itu lebih menakutkan. Oppa... aku harus bagaimana?"
Gadis itu masih menangis dalam
pelukan Kyuhyun. Beberapa waktu, Kyuhyun hanya mampu memeluknya dan memberinya
usapan-usapan lembut dipunggung dan kepalanya sehingga Seohyun bisa kembali
tenang. Dan ketika dirasa adiknya sudah mulai tenang, Kyuhyun perlahan melepas
pelukannya. Lembut, Kyuhyun mengusap wajah Seohyun dan menyeka air matanya.
"Hhh... sudah lebih tenang,
sekarang?" Sambil merapihkan rambut Seohyun. Seohyun hanya mengangguk
pelan.
"Aigoo... kau membuatku
takut, Seo Joohyun. Aku fikir kau kesakitan karena penyakitmu. Hhhh...."
Kyuhyun terlihat sedikit lega.
"Dan tentang Yonghwa...
maukah kau menceritakannya padaku? Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian? Aku
mendengar beberapa hal dari Taeyeon Ssi, tapi.. rasanya aku ingin mendengarnya
sendiri darimu. Ceritakan padaku, Joohyun ah.. agar aku bisa menolongmu."
Akhirnya, Seohyun menceritakan
segalanya. Ya.. segalanya. Mulai dari awal pertemuan mereka, siapa itu Kim
Hyunna, tentang Jung Yongdo, hingga kini.. masalah yang sedang mereka hadapi
karena keputusan Yonghwa untuk meninggalkan Hyunna dan memilih untuk
bersamanya. Seohyun menceritakan segalanya pada Kyuhyun, tentang arti
keberadaan seorang Jung Yonghwa dalam dunia kecilnya. Saat dia merasa tidak
memiliki seorangpun untuk dia rindukan, untuk dia jadikan alasan untuk tetap
hidup, Jung Yonghwa datang dan memberinya semua rasa itu. Dan kini, sesuatu
memaksanya untuk melepaskannya begitu saja? Bagaimana bisa? Haruskah Jung
Yonghwa juga direnggut dari hidupnya? Kehilangan lagi? Menderita lagi? Kesepian
lagi? Bagaimana bisa? Fikirnya.
Mendengar semua yang adiknya
katakan, Kyuhyun kembali menarik tubuh Seohyun dan memeluknya.
"Hhhh.. Seo Joohyun! Uri
Joohyuni jinjja!" Kyuhyun melepaskan pelukan itu lagi, lalu kembali
menatap Seohyun dengan lembut.
"Geok cheongma! Semua pasti
akan terlalui, Joohyun ah! Kau tidak sendiri. Aku akan selalu mendukungmu dan
semampuku membantumu apapun itu. Dan tentang Jung Yonghwa.. aku harap kau
fikirkan semua itu dengan fikiran yang tenang. Jangan tergesa dan terintimidasi
dengan apa yang perempuan itu katakan. Kau tunggu saja dia. Yonghwa mungkin
saat ini sedang berada dalam keadaan dimana ketangguhannya sebagai seorang
lelaki sedang benar-benar diuji. Doakan saja dia. Aku yakin, keputusannya untuk
tetap bersamamu adalah keputusan yang bisa dia pertanggung jawabkan. Jadi
apapun yang kini dihadapinya, Yonghwa pasti akan berjuang sungguh-sungguh. Kau
tenang saja. Tidak akan ada siapapun yang menyesali keputusannya. Baik itu
dirimu, orang tuanya dan Yonghwa sendiri.
He chose you, Seo Joohyun! Dia
memilihmu karena dia yakin bahwa kau adalah bagian terpenting yang harus ada
dalam hidupnya. Geurigo.. geunyang gidari ah! Tunggu hingga dia
menghubungimu."
Kata-kata Kyuhyun itu, sedikitnya
berhasil membuat Seohyun merasa lebih tenang. Ya, Seohyun mungkin hanya
terguncang dengan tekanan yang Kim Hyunna katakan padanya. Atau memang dia
tertekan oleh fikirannya sendiri. Saat ini, Seohyun hanya akan menunggu
Yonghwa.
*****
Hari transplantasi pun tiba...
"Semua sudah siap? Baiklah...
Joohyun ah.. percayalah, semua akan baik-baik saja. Untuk memutuskan menerima
pencangkokan sumsum tulang ini, aku benar-benar berterima kasih padamu. Kau
memang gadis yang luar biasa. Aku tahu, Yonghwa tak akan jatuh cinta pada gadis
yang salah. Kau tenang saja. Shim Changmin Euisan-Nim dan dokter-dokter yang
akan melakukan prosedur transplantasi padamu hari ini, mereka akan melakukan
yang terbaik." Kim Taeyeon memberi pelukan hangatnya pada Seohyun. Shim
Changmin, dan beberapa dokter bedah juga anastesi juga sudah berbaris di ruang
operasi dengan pakaian khusus mereka.
"Aku dan Kyuhyun Ssi akan
menunggumu diluar. Suho Ssi dan Hyeyeon Ssi juga. Kau tenang saja, okay?"
Sekali lagi, Taeyeon mengusap kepala Seohyun.
"Nde, Eonnie. Gomawoyo.
Untuk semua yang sudah kalian lakukan untukku, neomu neomu kamsahaeyo."
"Sokay, Baby..! Tapi.. apa
kau yakin tidak ingin menghubungi Yonghwa dulu?" Seohyun menundukkan
wajahnya usai mendengar pertanyaan itu. Entahlah, dia sendiri tak tahu harus
bagaimana.
"Najunghae, Eonnie. Setelah
operasinya berjalan lancar, aku akan menghubunginya. Saat ini, aku takut justru
hanya akan membuatnya khawatir."
"Arraso. Come, give me
another hug!" Taeyeon memeluknya sekali lagi.
"Seo Joohyun,
Fighting!!"
"Gomawoyo, Eonnie. Ah...
bila Kyuhyun Oppa datang, tolong katakan padanya, bahwa aku sangat berterima
kasih. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya untuk membalas semua
kebaikan yang sudah dia lakukan untukku. He's like an angel for me. Eonni
do!"
Mata kedua gadis itu
berkaca-kaca. Seohyun tidak melihat Kyuhyun sejak pagi, hingga kini dia sudah
memasuki ruang operasi. Taeyeon bilang, Kyuhyun harus menghadiri meeting
penting pagi ini dan akan datang siang nanti. Andai Seohyun tahu, lelaki itu
kini sudah terbaring diruang sebelahnya dan bersiap untuk mendonorkan sumsum
tulangnya untuk Seohyun. Kyuhyun mendengar kata-kata adiknya tadi hingga
membuat air matanya menitik ditengah senyum harunya.
"Geurae. Akan aku sampaikan.
Aku yakin, Kyuhyun Ssi pasti tahu bahwa kau sangat berterima kasih padanya.
Tapi sebaiknya, kau katakan sendiri padanya usai operasimu nanti. Okay?"
Lalu, Taeyeon pun meninggalkan
ruang bedah dan mempercayakan semuanya pada dr. Shim dan tim nya. Sebelum
meninggalkan departemen bedah, Taeyeon masuk ke ruang sebelah terlebih dahulu.
Dan dia menemukan Kyuhyun terbaring sendiri, menunggu para dokter bedah untuk
membawanya ke ruang yang sama dengan Seohyun. Saat ini, Seohyun mungkin sudah
mulai terpengaruh oleh anastesinya. Beberapa menit kemudian, giliran Kyuhyun.
"Hai... kau gugup?"
Sapa Taeyeon dari pintu masuk.
"Sedikit. Lebih dari itu,
aku sangat bahagia." Kyuhyun tersenyum teduh. Taeyeon berjalan mendekati
tempat tidur dimana Kyuhyun berbaring, kemudian berdiri disampingnya.
"Kau mendengar apa yang
adikmu katakan tadi?"
"Hhm.."
"Aku harap, setelah
transplantasi ini berjalan lancar, kau bisa mengatakan kebenarannya pada
Seohyun tentang siapa dirimu sebenarnya." Kyuhyun tersenyum tipis.
"Semoga. Butuh keberanian
besar untuk melakukan itu, kau tahu?"
"Ara! Dan aku yakin.. kau
adalah lelaki pemberani."
Lalu tanpa diduga, Kim Taeyeon
mendekatkan wajahnya kearah Kyuhyun dan memberinya sebuah kecupan dibibir.
Semua itu terjadi amat cepat, hingga Kyuhyun tidak sempat mempersiapkan diri
ataupun membalasnya. Matanya terbelalak setelah apa yang baru saja dia terima.
"Good luck, Kyuhyun Oppa!
Bila kau ingin penjelasan untuk ciuman tadi, lakukan operasinya dengan baik.
Aku menunggu kalian diluar." Taeyeon merekahkan senyum terakhirnya sebelum
dia memutar tubuhnya untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Tapi tangannya
tertahan. Kyuhyun menggenggam pergelangam tangannya lalu memberinya satu
senyuman teduh lagi.
"Gomawo...Taeyeon ah!
Geurigo... gidari ah!"
*****
1 jam berlalu sejak kakak beradik
itu keluar dari ruang operasi. Keduanya terbaring bersebelahan di ruang NICU untuk proses pemulihan anastesi
dan hanya dibatasi sebuah tirai putih. Kyuhyun terbangun lebih dulu, sementara
Seohyun masih tak sadarkan diri usai terapi radiasi yang diberikan padanya.
Saat Kyuhyun membuka kedua
matanya, dia langsung mendapati Kim Taeyeon dan juga Tn. Seo sudah berada
disampingnya. Ya, Tn. Seo memang sudah berada di ruang tunggu sejak awal
Seohyun memasukinya, hingga kini. Namun lelaki itu masih tidak berani
menunjukkan dirinya dihadapan Seohyun secara langsung.
"Kyuhyun ah, kau sudah
bangung?" Tn. Seo langsung menyapanya dengan wajah cemas.
"Joohyunie.. otthaeyo,
Ahjussi?" Suaranya masih terdengar lemah karena pengaruh anastesi.
"Semuanya berjalan lancar.
Adikmu masih belum bangun usai radiasi yang dia terima. Tapi dokter bilang,
semua akan baik-baik saja. Semoga tubuhnya cukup kuat untuk bisa menerima donor
darimu sehingga dia bisa menerima segala prosedur pengobatan pencegah kanker."
Tn. Seo meraih tangan Kyuhyun, lalu menggengamnya erat dengan kedua tangannya
yang gemetar.
"Gomapta, Kyuhyun ah! Aku
tidak tahu, bagaimana cara untuk berterima kasih padamu untuk semua ini. Neomu
gomapta!" Lelaki paruh baya itu tampak menahan air matanya.
"Tidak perlu berterima
kasih, Ahjussi. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan.
Juseohapnida, karena aku datang sangat terlambat. Juseohapnida, karena aku
sudah membuat kebahagiaan keluargamu terenggut, Ahjussi.
Ahjussi telah banyak kehilangan
dan juga menderita karena kesalah fahaman yang disebabkan oleh Haelmoni. Bila
saja aku mendengarmu malam itu dan memberikan sumsum tulangku untuk Eomma...
mungkin saat ini kita masih bisa melihatnya. Jeongmal mianhaeyo, Ahjussi...
karena kebodohanku mempercayai kata-kata Haelmoni begitu saja, aku sudah
membiarkan Eomma-ku pergi dengan begitu menyedihkan dan sangat kesepian. Lalu
Joohyun... gadis malang itu harus hidup begitu keras, sementara aku tidak
pernah sedikitpun merasa kekurangan.
Juseohapnida, Ahjussi..."
Kyuhyun tersedu lagi. Lelaki itu
menangis pilu dalam pelukan Tn. Seo. Lelaki yang dulu sangat dibencinya karena
kesalah fahaman yang terlambat dia mengerti.
"Gwaenchanna! Gwaenchanna!
Semua sudah berlalu dan sekarang kau tahu semua kebenarannya. Aku yakin,
Ibumu.. dia akan mengerti semua ini. Kau hanyalah anak yang tak berdosa dan tak
berdaya. Kau pun sama menderitanya seperti Young ah. Selama aku hidup bersamanya,
Young ah lebih banyak menghabiskan waktunya di Galeri miliknya. Dia hampir
tidak pernah menatap mataku. Pada awalnya, aku tidak mengerti, kenapa istriku
sendiri bersikap seperti orang asing padaku. Young ah seperti menjaga jaraknya
dariku. Dia tidak pernah membiarkanku masuk kedalam hidupnya sepenuhnya.
Hingga malam itu, saat Young ah
jatuh pingsan karena Leukimia yang kami kira sudah sembuh, ternyata kambuh
lagi. Aku menemukan sebuah kotak yang menarik perhatianku dilemari ruang
kerjanya. Saat aku membukanya, aku menemukan sebuah pakaian bayi dan sepasang
kaos kaki bayi. Aku juga menemukan sebuah foto dimana Young ah sedang dirangkul
oleh seorang laki-laki. Dibalik foto itu, aku menemukan nama Cho Jangsil yang
Young ah tulis dengan tulisan tangannya. Aku juga menemukan sepucuk surat yang
membuatku merasa seperti terserap kedalam lorong waktu yang gelap dan
mengerikan.
Itu adalah surat dari Appa-mu.
Dia mengatakan, putra mereka bernama Cho Kyuhyun. Dan dia hidup dengan baik.
Haelmoni-nya sangat menyayangi dia dan dia akan tumbuh menjadi lelaki yang
tidak akan pernah kekurangan apapun.
Saat itu... aku benar-benar
terpukul. Young ah divonis mengidap leukimia stadium lanjut dan membutuhkan
donor yang tepat secepatnya. Belum lagi, biaya transplantasi yang tidak
sedikit, aku benar-benar nyaris putus asa. Belum lagi dengan kenyataan tentang
keberadaanmu yang tiba-tiba kutemukan. Aku benar-benar kacau saat itu. Aku
marah, takut, kecewa, dan tidak tahu harus berbuat apa.
Tapi kemudian, saat aku berfikir
lagi, keberadaanmu sedikitnya memberiku titik terang. Young ah membutuhkan
donor secepatnya dan aku hanya teringat padamu. Karenanya, malam itu aku datang
menemuimu, Kyuhyun ah. Aku hanya ingin menyelamatkan Young ah tak peduli
bagaimana pun caranya. Aku akan bekerja lebih keras untuk biaya pengobatannya,
aku bahkan rela menggadaikan saham perusahaanku untuk bisa memperoleh uang
dengan cepat.
Tapi saat Young ah mengetahui
bahwa aku menemuimu, Young ah marah besar. Dia melempar semua barang yang ada
diruangan rumah sakit malam itu dan mengusirku pergi. Sejak saat itu, Young ah
tidak ingin menemuiku lagi. Satu minggu kemudian, pengacaranya datang padaku,
dan memintaku untuk menandatangani surat perceraian kami. Hh.. aku tidak
mengerti. Aku benar-benar tidak mengerti.
Terus terang, akupun sangat marah
padanya. Aku merasa telah ditipu lalu diperlakukan tidak adil. Aku masih sangat
mencintainya bahkan setelah aku ketahui semua masa lalu yang dia sembunyikan
dariku. Tapi ternyata, untuk Young ah semua itu terlalu berat dan memalukan.
Young ah merasa harga dirinya terluka hingga dia tidak bisa menghadapiku lagi.
Karenanya dia memintaku pergi." Tn. Seo menundukkan kepalanya.
"Ahjussi, Joohyun berhak
tahu kebenaran ini. Selama ini dia terus menyalahkanmu karena dia fikir kau
telah melarikan diri dari mereka. Dia fikir, kaulah yang telah menelantarkan
mereka begitu saja."
"Aku tidak sanggup
mengatakannya, Kyuhyun ah. Aku tidak sanggup melihat bagaimana wajah anak itu
saat dia tahu semua kebenaran ini. Ani ah! Uri Joohyun sudah cukup menderita.
Dia sangat mencintai Eomma-nya dan aku tidak ingin kenyataan ini menghancurkan
kenangannya tentang Young ah.
Aku rela, gadisku membenciku. Aku
memang pantas mendapatkannya. Aku telah gagal menjadi suami yang baik untuk
Young ah, dan juga Appa yang baik baginya."
"Ahjussi.. jaega
jalmothaeseoyo. Seharusnya aku mencari tahu sendiri dan bukan hanya
mendengarkan kata-kata Haelmoni. Aku benar-benar tidak percaya bahwa Haelmoni
yang selama ini sangat aku hormati dan aku mencintainya melebihi siapapun,
ternyata bisa melakukan hal sekejam itu. Mianhaeyo, Ahjussi..."
"Gwaenchanna, Kyuhyun ah.
Kau dan Joohyun sama-sama hanya anak yang tidak berdosa. Semua yang terjadi
pada kalian semata karena kami gagal menjadi orang tua yang baik. Sudahlah,
saat ini.. yang harus kau lakukan adalah terus menjaga adikmu. Dia satu-satunya
keluarga yang kau miliki. Begitupun dirimu untuk Joohyun. Aku bahagia, anak itu
tidak harus menjalani hidupnya seorang diri lagi. Dia punya Oppa yang akan
melindunginya."
"Animida. Joohyun juga masih
punya Ahjussi. Ahjussi, kita sama-sama hadapi ini. Aku yakin, Joohyun akan
mengerti. Dan dia juga sangat merindukanmu, Ahjussi. Aku bisa melihatnya."
"Najunghae, Kyuhyun ah.
Najunghae. Bukan sekarang. Aku ingin putriku benar-benar sembuh sepenuhnya.
Karenanya, aku serahkan dia padamu. Untuk semua biaya transplantasi dan
perawatan putriku, geok cheongma.. aku sudah menyelesaikannya dengan rumah
sakit ini. Neomu gomapta, Kyuhyun ah!"
"Mwoeyo? Ahjussi.. kenapa
kau harus melakuakannya? Biaya rumah sakit ini biar aku saja yang mengurusnya.
Ya Tuhan.. perusahaanmu bahkan baru mulai bangkit lagi. Kenapa kau tidak
menyerahkan segalanya padaku saja?"
"Aku ini Appa-nya, Kyuhyun
ah. Apa yang aku lakukan, hanyalah sebagian kecil yang memang seharusnya
dilakukan oleh seorang Appa."
Lalu ditengah percakapan itu,
tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara seorang suster.
"Omo... Seo Joohyun Ssi..
nona sudah sadar?"
*****
Sementara itu, yang terjadi di
Busan pada hari kepulangan Seohyun ke Seoul adalah....
"Hyunna ah, apa kau melihat
ponselku?" Yonghwa mondar mandir dari ujung kamar ke ujung yang lainnya
sambil mencari ponselnya dengan teliti disemua tempat. Hyunna tidak segera
menjawabnya, hingga Yonghwa mulai kelelahan dan nyaris putus asa. Dia sekali
lagi bertanya.
"Hyunna ah, apa kau melihat
ponselku?" Kali ini Yonghwa menatap perempuan yang masih terbaring
setengah duduk di tempat tidurnya. Lagi-lagi Hyunna tidak segera menjawabnya.
Untuk beberapa saat, mereka hanya saling menatap.
"Hyunna ah.. jebbal.. apa
kau melihat..."
"Aku melihatnya. Bukan hanya
itu. Aku juga melihat isinya." Jawab Hyunna dengan expresi datar.
"Kim Hyunna.. apa yang
kau..."
"Aku juga membaca pesan
darinya." Sekali lagi, perempuan itu menjawab dengan tatapan dingin. Namun
kali ini, suaranya terdengar bergetar.
"Mwo? Pesan dari siapa
maksudmu?" Yonghwa mulai merasa terganggu.
"Geun yeoja! Perempuan yang
sudah merampas segalanya dariku." Suaranya semakin bergetar. Meski
expresinya tetap sama, namun matanya mulai berkaca-kaca.
"Kembalikan padaku! Kumohon,
Hyunna ah.. kembalilan ponselku!" Intonasi bicara Yonghwa mulai
terdengar tegas.
"Shiro!! Aku tidak akan
membiarkanmu membacanya!" Hyunna memalingkan pandangnnya seakan dia
mencoba menghindari tatapan Yonghwa yang mulai terasa menyakitkan dan
menakutkan untuknya.
"Hyunna ah.. jebbal. Kumohon
jangan bersikap seperti ini." Yonghwa kembali melunak. Bagaimanapun, saat
itu Hyunna masih sangat lemah baik secara fisik maupun psikis.
"Shiro! Sekali kau membacanya,
maka kau akan segera pergi mengejarnya. Kau akan meninggalkanku lagi dan bila
itu terjadi maka aku bersumpah padamu bahwa aku tidak ingin hidup
lagi!!!!!" Kali ini Hyunna kembali histeris. Perempuan itu meledakkan
tangisnya lagi, membuat Yonghwa tak berdaya.
"Aigoo.. Hyunna ah.. jebbal.
Aku mohon padamu. Dia pasti menungguku dan mengkhawatirkanku. Setidaknya
ijinkan aku untuk menghubunginya dan memberi kabar padanya bahwa aku baik-baik
saja. Jebbal... jangan lakukan itu. Kumohon.. sebentar saja..." Yonghwa
benar-benar mengiba. Wajah Seohyun-nya tergambar semakin jelas dalam
fikirannya. Rindu? Jangan ditanya lagi. Jika saja hatinya cukup kuat untuk
membawa kakinya berlari, dia sudah melakukannya sejak awal.
Hyunna menggeleng-gelengkan
kepalanya dalam sisa tangisnya. Seolah apapun yang terjadi, dia tidak akan
pernah mengembalikan ponsel milik Yonghwa.
"Kim Hyunna..."
"SHIRO!! NA RAGO
SHIROOOOO!!!" Hyunna menjerit lebih histeris membuat Yonghwa semakin panik
hingga para suster pun berdatangan ke ruangan itu. Yonghwa tertegun mematung
dengan mata terbelalak ditempatnya berdiri. Bukan main terkejutnya dia.
"Omona.. Hyunna ah!! Uri
ddal.. moseumniri ah?? Apa yang terjadi, Aga ah? YAK.. JUNG YONGHWA!! APA YANG
SUDAH KAU LAKUKAN PADA PUTRIKU???!!!" Ny. Kim juga datang dengan pakaian
rumah sakit yang masih dia kenakan. Perempuan paruh baya itu langsung memeluk
putrinya yang masih menangis histeris. Lalu Tn. Kim yang kala itu kebetulan
baru datang untuk menjenguk istri dan putrinya pun tak luput dari kepanikan
itu.
"Moseumniri ah?!" Nada
suaranya terdengar amat tegas menggema.
"A.. abonim.. jaega..."
Yonghwa tiba-tiba merasa terhimpit. Terjebak. Tertekan oleh situasi yang Hyunna
ciptakan. Perempuan itu berhasil membuat Yonghwa menjadi tokoh antagonis nya
siang itu.
"Neoneun..!!!" Tn. Kim
mengarahkan telunjuknya kearah Yonghwa dengan tatapan menyala.
"Kali ini.. apa yang sudah
kau lakukan pada putriku?!"
"Animida, Abonim.. jaega
geunyang... Hyunna..." Situasi itu benar-benar membuatnya gila. Bahkan kejadian
sesederhana itupun, Yonghwa kesulitan untuk menjelaskannya.
Tapi.. bukankah Tuhan selalu
berpihak pada orang yang baik? Bukan! Tuhan selalu menolong orang yang benar.
Begitupun saat itu, ketika ponsel Yonghwa tiba-tiba berdering dibawah bantal Hyunna.
Semua mata langsung tertuju pada gadis itu. Hyunna mulai panik. Tubuhnya gusar
menghadapi tatapan-tatapan penuh tanya itu.
"Ponselku..." Lirih,
kata itu keluar dalam sisa tenaganya. Jiwanya benar-benar dipenghujung rasa
lelah. Ingin sekali Yonghwa menjerit sekerasnya mengalahkan jeritan Hyunna tadi
agar seisi dunia tahu dialah yang
sesungguhnya sedang terdera. Tn. Kim langsung menanyai putrinya tentang
apa yang sebenarnya terjadi.
"Katakan padaku, Hyunna
ah... mengapa ponsel miliknya ada padamu?" Tn. Kim menatap putrinya dengan
tajam, membuat Hyunna sedikit tersentak.
"A.. Appa! Igae...
igae..." Perempuan itu pasti sangat kebingungan menjelaskan apa yang
terjadi pada ayahnya. Itulah yang beberapa saat yang lalu Yonghwa rasakan.
Ponsel itu terus berbunyi hingga membuat Hyunna dan juga Tn. Kim semakin panik.
"Anak ini.. benar-benar!!!
Kembalikan ponselnya!" Tn. Kim seolah lupa, bila putri tunggalnya baru
saja sadarkan diri dan melewati masa kritisnya.
"Ap..pa..."
"KEMBALIKAN SEKARANG
JUGA!!!" Semua yang berada disana benar-benar tersentak dengan teriakan
Tn. Kim. Karena Hyunna tidak kunjung memberikannya, maka Tn. Kim dengan paksa
mengambilnya dari bawah bantal Hyunna. Tentu saja Hyunna kembali histeris
karena perlakuan ayahnya itu. Ny. Kim tidak kalah histeris membela putrinya
dari sikap Tn. Kim.
"Geumanhae, Kim Sukjin!! Apa
kau tidak melihat?! Putrimu ini baru saja kembali dari kematian! Kenapa kau
tega melakukan ini?!!"
"Ini.. sikapmu ini yang
membuat anak ini menjadi anak yang manja. Kim Hyunna, apa kau tidak punya harga
diri, huh? Untuk apa kau melakukan hal murahan seperti ini? Kau ini putriku!
Semua milikku akan menjadi milikmu! Untuk apa kau terus merendahkan dirimu demi
dia?! Memalukan!!"
"Kim Sukjin!!!"
"Diam kau!! Kau hanya bisa
merengek dan berteriak membelanya. Saat anak ini membuat masalah, akulah yang
harus menyelesaikan semua kekacauan yang dia sebabkan. Dan apa? Bunuh diri?
Hah!! Lebih baik sekalian saja kau bunuh aku, Hyunna ah!"
Kali ini, baik Ny. Kim maupun
Hyunna, tak satupun dari mereka yang membantah kata-kata Tn. Kim. Keduanya
hanya menangis dipelukan masing-masing. Tn. Kim lalu berbalik menatap Yonghwa
yang kala itu masih mematung ditempatnya berdiri. Perlahan, dia berjalan
mendekati Yonghwa.
"Putriku menjerit karena
benda ini, bukan?" Tn. Kim menyodorkan ponsel itu pada Yonghwa.
"Ambilah! Dan pergilah dari
sini! Aku tidak ingin melihatmu muncul dihadapan putriku lagi!"
"Appa...!"
"Diam kau, Hyunna!"
"Abonim..."
"Berhenti memanggilku
seperti itu! Karena kau bukan lagi siapa-siapa untukku. Kau.. hanya putra dari
seseorang yang akan segera bangkrut dan harus menyelesaikan kasus hukumnya.
Tsk.. beruntungnya ayahmu memiliki putra sepertimu, Jung Yonghwa." Tn. Kim
menatapnya sinis.
"Appa.... bila kau
membiarkannya pergi, maka aku benar-benar akan mati!!!"
"Maka mati saja kau!! Mati
saja sesukamu bila kau memang menginginkannya!!"
"Yeobo!!!"
"Jung Yonghwa, dengarkan aku
baik-baik. Ini adalah terakhir kalinya aku akan mengatakan ini padamu. Lusa,
adalah hari dimana aku akan mengumumkan keputusanku di hadapan rapat pemegang
saham. Kau tahu kan, apa artinya itu?"
"Abo.. A.. Ahjussi.. saya
mohon, tolong fikirkan lagi..."
"Dengarkan aku dulu! Aku
belum selesai berbicara! Jung Yonghwa, aku katakan terakhir kali padamu. Kau..
masih punya kesempatan untuk menolong Appa-mu. Kau.. masih bisa merubah
keputusanku. Kau.. pasti tahu apa yang harus kau lakukan untuk itu, bukan?"
Tn. Kim menatapnya semakin tajam. Yonghwa semakin tersudut. Lagi-lagi dia
dipaksa berdiri diantara dua sisi jurang. Kemanapun dia melompat, dia tetap
akan mati.
"Sekarang pergilah! Dan kau
bisa kembali lagi kesini dengan keputusanmu!"
*****
Yonghwa meninggalkan ruangan itu
seperti yang dikatakan Tn. Kim. Beberapa saat, dia menggunakan waktunya untuk
menenangkan diri. Dia segera mecari pesan terakhir dari Seohyun yang tadi
sempat Hyunna katakan.
From : My Sunset
'Aku pergi, Oppa. Jaga dirimu baik-baik. Maaf, aku tidak menemuimu
lebih dulu, karena aku tahu, aku tidak mungkin bisa melakukannya. Geok
cheongma, aku akan baik-baik saja.'
Seketika, kedua kakinya terasa
lemas. Bagaimana mungkin dia sampai melupakannya? Kedua tangannya dia gunakan
untuk mengusap wajahnya dengan frustasi. Bila saja dia tidak sedang berada
diruang publik, maka dia sudah menangis meraung-raung. Dunia ini sudah
mempermainkannya begitu jauh.
Dengan sisa kekuatan hatinya,
Yonghwa men-dial nomor Seohyun. Tapi dia hanya mendapati voice mailnya saja.
Gadisnya saat itu pasti sudah berada dalam pesawat. Dia terlambat. Sangat
terlambat.
"Shit!!!" Yonghwa
menghantam sebuah pilar dikoridor rumah sakit dengan kepalan tangannya, hingga
tangannya ruam dan nyaris berdarah. Beberapa orang disana sempat melirik
kearahnya untuk perbuatan yang baru saja dia lakukan.
Sekali lagi, Yonghwa mencoba
menghubunginya. Dan lagi-lagi voice mail yang menjawabnya.
"Joohyun ah.. saat ini kau pasti sudah dalam pesawatmu. Ya Tuhan..
bodohnya aku!" Yonghwa menengadahkan kepalanya sambil menjambak separuh
rambutnya. Lelaki itu benar-benar putus asa.
"Mianhae, Hyun..! Jeongmal mianhae. Aku tidak sempat melihat
ponselku, hingga aku terlambat membaca pesanmu. Aku benar-benar....."
Suaranya nyaris tercekat.
"Hhh... apapun yang akan aku katakan padamu, pasti hanya terdengar
sebagai sebuah excuse untuk semua kesalahanku. Jebbal mianhae, Joohyun ah...
God... rasanya aku benar-benar ingin menangis..." Air mata sudah
menggumpal disudut matanya, yang kemudian segera dia usap dengan cepat.
"Joohyun ah, jebbal.. begitu kau mendengar pesanku ini, hubungin
aku segera. Hhm?" Yonghwa segera menutupnya. Bila dia teruskan lagi, dia
takut mungkin dia tak akan sanggup membendung tangisnya.
Lelaki itu menyandarkan keningnya
kesalah satu pilar koridor. Dia berusaha untuk menetralisir emosi dalam dadanya
dan kembali menenangkan diri. Dia harus berfikir jernih. Dia harus berfikir
jernih!! Saat ini, bukan waktunya untuk menjadi lemah atau menyerah. Terlebih
setelah dia mendengar kabar dari Jonghyun bahwa sudah dipastikan jabatan
Komisaris akan berpindah ketangan Hong Sajang atas dukungan Tn. Kim. Appa-nya
tampaknya sudah menyerah. Dia tidak lagi melakukan lobi pada siapun lagi dan
lebih memilih untuk menghabiskan hari-harinya bersama Eomma-nya.
"Andwe! Semua tidak bisa
seperti ini! Semua tidak boleh seperti ini! Aku tidak rela..." Gumamnya.
Yonghwa merapihkan dirinya.
Hatinya sedikit lebih tenang kali ini. Entah keputusan ini benar atau tidak,
yang pasti... dia tidak akan menyerah. Dengan sisa keberaniannya, Yonghwa
kembali ke ruangan Hyunna.
Semua mata langsung tertuju
padanya saat dia memasuki ruangan itu. Terlebih Tn. Kim. Perlahan, Yonghwa
menghampiri mereka.
"Ahjussi... saya sudah
memikirkannya. Entah keputusan ini benar atau tidak... entah semua itu sesuai
dengan keinginanmu atau tidak tapi....." Yonghwa menundukkan kepalanya
sejenak.
"Saya akan memikirkan
kembali tentang rencana pernikahan itu. Tapi saat ini.. saya tidak bisa
memutuskan apapun. Saat ini, dalam fikiran saya terlalu banyak masalah yang
berkecamuk. Saya tidak bisa berfikir jernih. Apa yang terjadi pada Hyunna
adalah pukulan besar bagi saya dan saya merasa bahwa saya harus menyelesaikan
masalah ini antara saya dan Hyunna dulu.
Tolong beri kami waktu, Ahjussi.
Saya mohon, tolong jangan libatkan Appa dalam masalah ini. Sebagai laki-laki,
saya akan bertanggung jawab untuk masalah ini dengan kekuatan saya sendiri.
Saya mohon.. beri saya waktu...."
Tn. Kim dan istrinya hanya
terdiam mendengar ungkapan Yonghwa. Namun Hyunna, senyum diwajahnya seketika
kembali usai mendengar semua itu. Harapan hidupnya seolah telah kembali. Meski
Yonghwa tidak berjanji untuk kembali padanya, tapi setidaknya dia bilang bahwa
dia ingin mencoba memperbaiki segalanya. Setidaknya, saat ini kesempatan yang
dia miliki sama besarnya dengan apa yang Seohyun miliki.
Melihat senyuman merekah diwajah
putrinya, Tn. Kim akhirnya berbicara.
"Geurae. Kita lihat.. apa
yang bisa kau lakukan untuk merubah keputusanku. Untuk saat ini, aku akan menunda
perang ini. Tapi ingat, Jung Yonghwa! Sekali saja kau membuat kesalahan, maka
kupastikan.. bukan hanya perusahaan ayahmu yang akan hilang dari kalian. Tapi
juga martabat dan kehormatan keluarga kalian bisa kuhancurkan. Ingat itu
baik-baik!" Pria setengah baya itu menyorotkan tatapan tajam. Yonghwa
menanggapinya dengan rasa lega. Dengan serta merta, dia menundukan badannya dan
mengucapkan terima kasih berulang kali. Hingga akhirnya Tn. Kim dan istrinya
pergi meninggalkan nya dan Hyunna sendiri.
"Gomawo, Yonghwa ah.
Gomawo..." Lirih.. Hyunna mengatakan itu dengan wajah harunya.
"Hhh... istirahatlah. Hari
ini kau baru saja sadarkan diri, tapi kau langsung melakukan banyak hal yang
menguras tenaga dan fikiranmu. Saat ini, yang harus kau lakukan adalah kembali
sehat seperti dulu. Baru kita bicara tentang kita." Hyunna masih merasakan
tatapan Yonghwa begitu dingin padanya. Tapi dia tidak peduli. Yang terpenting
baginya, Yonghwa bersamanya saat ini.
"Aku akan mandi dulu.
Setelah itu, aku akan menemui dr. Han untuk menanyakan tentang
perkembanganmu."
Dengan begitu, Yonghwa pun
meninggalkan Hyunna ditempat tidurnya. Lagi-lagi lelaki itu melakukan kebodohan
yang sama dengan meninggalkan jaketnya di sofa. Dan ponselnya berada disaku
jaket itu.
Kim Jaejeong
"I'll Protect You"
I can’t look at you even when I have my eyes open
I can’t find your heart which has become cloudy amongst the worn out memories
I can’t do more because I’m tied and cried too much
No matter how much I think, I think I’ll be okay when if I see you
I want to protect you…
even your bad habits make me smile when I’m tired
Although it may be difficult,
I’m going to say that I love you until the day you first come into my arms
I can’t smile, I can’t remember even when I smile
today also feels like it may disappear like a dream when I open my eyes
Even when I see you, I feel like you aren’t with me
I guess I’m still awkward at expressing my feelings… to love you
I want to protect you… even your bad habits make me smile when I’m tired
Although it may be difficult, I’m going to say that I love you until the day you first come into my arms
Will you become happy when you leave me to find a different warmth?
Even so I can’t let you go baby
It’s going to hurt even more than dying
I love you.. more than anyone… no, I’m next to you
I’m holding your hand
I can’t give you to anyone else’s arms
my heart cannot let you go…why
Author
Note :
Tadinya...
ga akan update dulu, karena nunggu chapter 27 dan 28 nya kelar. Tapi beberapa
Goguma dah pada maen teror aja deh! Ya udin... aku update dulu 2 chapters ini
dengan resiko yang kalian tanggung sendiri yah...
Thank
you for keep reading my story.. ^^
Happy
6th Anniversary for Us... Goguma-deul...
YongSeo
Fighting!!!

wow, ceritanya memang keren kak.. ooo iya kalau ingin tahu cara membuat website gratis yukk disini saja. terimakasih.
BalasHapusHappy Anniv. Duh mulai drama deh aku bacanya. Meskipun lama tapi aku tetep rajin bolak-balik cek blog ini. Fighting nulis chapter selanjutnya
BalasHapusEonni keren bgt ceritanya,,suka bgt ma karakter yongseo disini dan juga burning couplex,,hehehe..mreka favoritku,,semangat ya eonni lanjut ffx...
BalasHapus