Jumat, 23 September 2016

In Time With You Chapter 31



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8




Chapter  31

The Way Back Home

Seohyun POV

‘Kali ini aku tidak ingin mendengar alasanmu yang lainnya, Joohyun ah! Aku tidak mau tahu, bagaimanapun kali ini kau harus datang! Apa kau tega, dihari pernikahanku dan Oppa-mu satu-satunya kau malah memilih bekerja?! Pokoknya aku tidak akan memaafkanmu bila kali ini kau tidak datang seperti pada acara pertunangan kami tahun lalu!! Kalau kau masih adikku, maka kau harus pulang!! Arratji?!!!’

Suara Taeyeon Eonni saat mencerewetiku masih menggema ditelingaku. Tepat satu minggu lagi, Oppa-ku akan menikah dengannya. Akhirnya, kisah cinta mereka yang justru berlabuh lebih dulu. Oppa-ku sangat beruntung menemukan perempuan cantik dan cerdas dengan kelembutan hati seperti Taeyeon Eonni. Aku benar-benar bahagia untuknya.

Tapi..... Ottokhae? Apalagi alasan yang harus aku gunakan sekarang? Menghadiri pernikahan mereka, berarti aku harus pulang ke Seoul. Dari sana, aku akan terbang ke Busan untuk pesta pernikahan mereka. Dan itu artinya.... aku akan bertemu dengannya. Bukan hanya dengannya, tapi mingkin juga dengan Eomma dan Appanya. Tsk.. tentu saja! Bagaimana mungkin pertemuan itu bisa aku hindari sementara pengantin pria nya adalah kakak kandungku, dan pengantin wanitanya adalah kakak sepupu yang sangat dekat dengannya seperti kakak kandungnya sendiri. Jadi bila aku berharap bahwa kami tidak akan bertemu diacara itu, sama saja dengan berharap salju turun di musim semi. Pertemuanku dengan Jung Yonghwa tidak dapat aku hindari lagi. Tidak kali ini.

Bunyi ponselku menarik lamunanku. Aku menatap layarnya, dan kutemukan nama ‘Cho Ahjussi’ tertera disana. Huuffhh... apalagi ini? Apa lelaki ini juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan calon istrinya? Dengan gontai, kuraih ponselku kemudian mengangkatnya.

“Hmm.. wae, Oppa?” Nada suaraku mungkin terdengar malas.

‘Mwo ya? Ada apa dengan suaramu? Kenapa kau menerima teleponku seperti malas-malasan begitu?’ BINGO!! You’re right, Mr. Cho!

“Daebakk... kau langsung menyadarinya, Oppa..!” Jawabku setengah sarkastik. Tsk.. adik macam apa aku ini? Selalu saja suka mengerjainya seperti itu.

Mwo rago? Yak.. kau mulai lagi, Agassi..’ Kudengar Oppa-ku berlaga sengit diujung telepon sana, dan itu membuatku tersenyum.

“Just kidding, Cho Ahjussi. Wae geurae? Jamkanman!!! Kuingatkan kau!! Bila kali ini kau meneleponku hanya untuk mencerewetiku seperti yang dilakukan calon istrimu, maka aku benar-benar tidak akan datang pada acara pernikahanmu!!” Tak mau kalah, aku membalasnya.

‘Mwo? Wait, Baby.. Apa itu artinya... kau akan datang, Seo Ahjumma?’ Nada suaranya terdengar setengah excited dan setengah tidak percaya. Aku semakin ingin tertawa dibuatnya.

“Hmm... semua itu tergantung bagaimana caranya kau membuatku senang, Cho Ahjussi. Mungkin dengan sedikit usaha, kau bisa membuat hatiku luluh.” Godaku, sekali lagi.

‘Aigoo... hhh... didunia ini mana ada Calon Pengantin yang membujuk tamunya untuk datang sampai seperti ini? Mana ada Calon Pengantin yang memberi hadiah untuk tamunya hanya agar tamunya mau datang?’

“Shiro? Arasso, maka akan kubatalkan tiket pesawatku dan aku akan terbang ke Barcelona untuk seminar literasi-ku.”

‘Yak!!! Geumanhae!! Arasso... arasso!! Aku hanya ingin kau sudah harus berada di Seoul lusa nanti. Aku ingin kau menemani Taeyeon untuk persiapan terakhirnya sebelum dia berangkat ke Busan. Setelah itu,  apapun yang kau inginkan, aku berjanji aku akan melakukannya untukmu. Bila perlu, aku akan memberikan 100% keuntungan dari penjualan bukumu. Plus... royalti naskah drama-mu, tanpa perusahanku menguranginya sedikitpun. Kkoul?!’ sambil menahan tawaku, aku segera menjawabnya.

“Kkoul!! Yeeaayyyy!!!!! Gomawo, Cho Ahjussi!! Uri Oppa jinjja jjang!!! Bila tahu begini, seharusnya kau menikah dari dulu, Oppa. Bila perlu, kau bisa menikah setiap bulan dan melakukan semua ini untukku.”

‘Mwo rago?!! Kenapa kau tidak sekalian saja membunuhku, Ahjumma?! Aigoo.. dulu aku fikir punya adik perempuan itu akan sangat menyenangkan. Aku terlalu naif. Siapa yang menyangka bila adikku satu-satunya sangat menyukai uang dan selalu saja membuatku dalam keadaan yang sulit?’ Akhirnya aku tak mampu menahannya lagi. Kuledakkan tawaku dan tak lama, kedengar Kyuhyun Oppa pun ikut tertawa.

‘Okay, Sweetie.  Take care! I’ll be waiting for you here.’

“Okay, Oppa. Kau juga jaga kesehatanmu! Jangan sampai dokter cantikmu melubangi tubuhmu dengan suntikannya dihari bahagia kalian!”

‘Arasso.. arasso!’

Beberapa waktu, kami berdua terdiam. Aku fikir dia akan menutup line teleponnya, tapi...

‘Joohyunie...’

“Hmm.. wae, Oppa?”

‘Hhhh... aku tahu, mungkin tidak akan mudah untukmu. Tapi.. kau akan baik-baik saja, kan?’ Huffh... pertanyaan itu. Kenapa dia baru menanyakan itu sekarang, setelah dia memaksaku begitu keras untuk hadir di pesta pernikahannya? Tapi.. bila kufikirkan lagi, sangat tidak adil untuk Oppa-ku satu-satunya bila aku masih mempertahankan egoku begitu kerasnya hingga kuabaikan dia dihari paling bahagia dalam hidupnya. Setidaknya, bila kisah cintaku telah hancur berkeping-keping, tapi hubunganku dengan Oppa-ku tidak akan pernah terhapus oleh apapun. Dan aku tidak ingin membuatnya bersedih dihari istimewa itu. Aku sadar, selama ini Kyuhyun Oppa lah yang banyak melakukan segala hal untukku. Untuk kebaikan dan kebahagiaanku. Sementara aku belum pernah melakukakan apapun untuknya.

“I’ll be fine, Oppa. Don’t worry. Lagipula kami sudah pernah bertemu sebelumnya. Aku rasa saat ini aku sudah lebih kuat. Dan lagi, mana mungkin aku sampai hati tidak menghadiri hari bahagiamu, Oppa. Meski aku tidak cukup banyak membantu, setidaknya kau ini punya seorang adik, kan? Dan aku tidak ingin Eomma mencerewetiku saat nanti aku bertemu lagi dengannya hanya karena aku membuatmu kecewa, Oppa. Geok cheongma, aku akan ada disisimu Minggu nanti. I promise.” Kudengar Oppa-ku menghembuskan nafas lega.

‘Gomapta, Sweetie. Aku sangat mengerti luka yang kau alami. Aku ingin hidupmu secepatnya kembali berjalan di track-nya, Joohyun ah. Rasa sakit itu harus kau hentikan, bukan kau tahan. 2 tahun berlalu, dan aku bersyukur pada Tuhan karena kau sangat sehat saat ini. Apalagi yang menahan langkahmu? Terlebih karena aku tahu Yonghwa tidak pernah membencimu. Laki-laki itu sedang menunggumu dan selama ini selalu menunggumu untuk kembali padanya. Kumohon, Joohyun ah.. mulailah untuk membuka hatimu lagi.’ Suara lembutnya, aku semakin menyukainya. Setelah Eomma pergi, saat ini suara Kyuhyun Oppa lah yang selalu menjadi penyembuh rasa sesak-ku saat hidupku tak lagi mampu kuhadapi sendiri.

“Nan ajik do molla, Oppa. Kita lihat saja nanti. Saat ini aku hanya ingin fokus dalam membantu persiapan pernihakanmu dan Taeyeon Unni. Aku ingin setidaknya sekali saja melakukan sesuatu sebagai adik yang baik untukmu.” Jawabku, lirih.

Arasso. Take your time, but... don’t let him wait too long, Honey. It’s not fair for him, you know? I’ll always be by your side no matter what. And i want you to be happy for the rest of your life, Seo Joohyun. Aku yakin, Eomma kita pun menginginkan hal itu.’

Dan percakapan kamipun terhenti beberapa waktu kemudian. Masih dengan langkah gontai, aku meraih koporku dan mulai mengemasi satu persatu pakaian yang akan aku bawa ke Seoul. Fikirku masih tak lekang darinya. Lelaki yang kutemukan berdiri dibalik pintu rumahku dua minggu yang lalu. Yang datang secepat mimpi kemudian berlalu pergi lagi. Tuhan tahu, betapa inginnya tubuhku berlari meraihnya dan menahannya untuk tidak pergi. Betapa gilanya keinginanku mengiba padanya untuk tidak meninggalkanku saat itu. Tsk.. penyesalan demi penyesalan terasa seperti penjara. Terlebih saat kutemukan cinta abadiku menitikan air matanya dihadapanku. Tuhan, betapa besarnya luka yang kusebabkan padanya.

Kuhentikan aktifitas mengemasku. Perlahan, aku berjalan menuju meja kerjaku, lalu kukeluarkan diary-ku dari dalam laci. Kutemukan foto kami berdua disana, saat terakhir kami bersama dan melihat salju pertama turun. Kuusap lembut gambar wajahnya.

“Bila kini aku berlari lagi kearahmu, akankah kau membuka pelukmu lagi, Mr. Gold? Akankah semua itu kita miliki lagi?” Gumam-ku sendiri.

Dua hari kemudian, Incheon International Ariport.

“Seo Joohyuuuuunnnn!!!!!”

“Barbieeeeeee!!!!!!”

Aku segera mendapati dua orang itu sedang berlari kearahku yang baru saja keluar dari terminal kedatangan dengan teriakan yang amat aku kenal. Dan amat kurindukan. Suho, dan Hyo Eonni.

“Eonniiiiiiiiii.....!!!!” Tak mau kalah, akupun berlari kearahnya. Kami berpelukan teramat erat di iringi isak tangis dua orang perempuan cengeng yang selama lebih dari dua tahun ini tidak saling bertemu. Hyo Eonni menghujaniku dengan ciumannya. Kedua tangannya seolah tak mau berhenti mengusap wajahku, kepalaku, juga tubuhku seolah dia tidak percaya dengan keberadaanku dihadapannya.

“Aigoo.. uri Joohyun ah. Nan jinjja bogoshipposeo! Yakk!!! Nappeun saekie ah! Teganya kau pergi tanpa sepatah katapun padaku. Kau tidak tahu bagaimana gilanya aku saat itu. Ditambah lagi saat aku tahu tentang Leukimia-mu. Jinjja nappeunom ah! Kau membuatku takut, Phabo ah!!” Dan tangisnya semakin menggila sambil kembali memelukku. Orang-orang mulai melihat kami dengan tatapan aneh dan penasaran karena suara tangisan Hyo Eonni yang mungkin terdengar seperti tangisan anak kecil yang sedang merengek pada ibunya.

“Mianhaeyo, Eonni.. naega jalmothaeseo. Aku tahu aku bersalah pada kalian. Jigeumeun naega waseo, Eonni. Aku pulang. Kalian boleh melakukan apapun padaku dan menghukumku sesuka kalian hingga hati kalian merasa lebih baik. Aku tidak akan menghindar dan menangkalnya.” Kuusap lembut punggungnya. Hyo Eonni kemudian melepas peluknya dan sibuk menyeka air matanya seperti seorang gadis kecil.

“Phabo!! Seo Joohyun  neol jinjja phabo ah!! Mana mungkin aku tega menghukummu setelah penderitaan yang kau jalani selama ini. Melihatmu kembali berdiri dihadapanku, semua ini terasa seperti keajaiban. Aku bahagia melihatmu sehat dan tetap hidup. Gomapta, Joohyun ah. Gomapta.” Sekali lagi Hyo Eonni mendekapku. Tapi kali ini tidak berlangsung lama. Pandangku lalu melayang pada lelaki yang sedari tadi berdiri dibelakang Hyo Eonni sambil menundukkan wajah merahnya. Nae sojungan chingu, Suho.

Aku berjalan mendekatinya dan berdiri tepat dihadapannya. Lelaki itu masih tertunduk dan enggan menatapku.

“Oraenmanida, Suho ah....” Sapaku tampaknya tak langsung membuatnya bergeming. Butuh beberapa waktu hingga akhirnya Suho mengangkat wajahnya dan menatapku. Wajah pucat itu tampak merah padam. Tatapnya gamang dengan bola mata berkaca-kaca. Tapi akhirnya, Suho menampakkan senyumnya. Meski hanya diujung bibirnya dan lelaki itu masih tidak mengucapkan apapun. Hhh... jika saja dia seorang perempuan, aku yakin lelaki ini pun akan sama tersedunya dengan Hyo Eonni. Tapi karena dia seorang lelaki, Suho tampak berusaha keras menahannya. Hingga akhirnya, tubuhku lah yang seperti tertarik magnet ditubuhnya. Aku memeluknya. Mengusap punggungnya, dan merebahkan kepalaku didadanya. Tempat yang dulu menjadi yang tenyaman saat hidupku tak sanggup kutaklukan sendiri.

“Neomu Bogoshipposeo, Chingu ah!” Suaraku tercekat lagi. Beberapa waktu, Suho masih tak bergeming. Tapi aku mulai merasakan kedua tangannya melingkar ditubuhku dan mengusap kepalaku lembut.

“Jarieso, Barbie ah! Kau melakukan yang terbaik. Jarieso!” Lirih, suaranya terdengar berbisik. “Gomawo, untuk tetap hidup, Barbie! Huufh...” Kudengar isak kecilnya. Perlahan, kulepaskan pelukanku dan kembali kutatap wajahnya. Kali ini, sengaja aku memasang tatapan nakalku.

“Omo... igae mwo yah? Noel uro? Suho-nim menangis karena merindukanku? Aigoo.. akhirnya kau mengakuinya, bukan? Bahwa hidupmu tanpaku itu membosankan? Aku tahu, kau pasti akan merindukanku sampai merasa frustasi. Karena itu, baik-baiklah padaku saat aku bersamamu, Chingu-ah!” Meski tenggorokanku pun masih terasa tertekan menahan isakanku yang lain, aku berusaha terlihat normal dengan menepuk pundaknya seperti yang biasa aku lakukan padanya dulu. Akhirnya, Suho-ku tersenyum lebih lebar sambil mengusap sisa air matanya. Dia mengusap rambutku lembut dengan tatapan tulus yang aku sangat mengerti artinya.

“I promise, i’ll treat you better, Barbie. Bagaimanapun kau sudah bangkit dari kematian. Aku tidak ingin kualat hanya karena aku memperlakukanmu dengan buruk. Aku tidak akan berani lagi, Barbie ah!” Suho menampakkan wajah innocent-nya dan aku sangat mengerti bahwa lelaki ini sedang memulai lagi peperangan ini denganku.

“Mwo rago? Yak!!! Kau mulai lagi, Phabo ah! Bangkit dari kematian? Kau fikir aku ini hantu, huh? Nawa!! Kau merindukan kepalan tanganku, bukan?!!” Suho tampak meringis, dan hanya dalam waktu beberapa menit saja, adegan itu berubah menjadi aksi kejar-kejaran antara aku dengannya, seolah kami lupa bahwa kini kami adalah manusia-manusia dewasa yang sudah berusia lebih dari ¼ abad. I don’t care at all. I just wanna feels like home. And with them, i’m home.

Dua hari kemudian.....

Tak terasa, tibalah saat yang mendebarkan itu. Kegugupan tampak jelas di wajah Oppa-ku yang sejak di pesawat tadi tubuhnya tidak bisa diam. Berkali-kali dia pergi ke toilet, padahal penerbangan dari Seoul ke Busan hanya memakan waktu kurang dari 2 jam saja. Lagipula, acaranya baru akan dimulai esok hari, tapi lelaki ini benar-benar tidak bisa menguasai dirinya. Sampai kami tiba di Hotelpun, Oppa melupakan tas nya hingga kami sibuk mencarinya dan kembali ke Bandara. Belum lagi si perfectionist ini masih saja sibuk dengan detail-detail kecil yang harus dilakukan fandom wedding organizer. Dan itu membuatku sakit kepala. Haisshhh!!! Jinjja!!

Apakah menikah itu harus se-memusingkan ini?!!

Hhh.. molla!! Berada disamping calon pengantin seperti itu, justru membuatku lebih stress dibandingkan si pengantin itu sendiri. Kuputuskan untuk keluar dari Hotel untuk mencari udara segar.

Siang itu, kami tiba di Busan pukul 3 sore. Cuaca musim panas di Busan lebih bersahabat dibandingkan dengan New York. Dari pintu Hotel, aroma laut sudah bisa kuhirup. Hotel tempatku menginap memang hanya berjarak kurang lebih 200 meter saja menuju pantai. Hanya butuh menyebrangi sebuah jalan raya, maka aku sudah bisa memijakkan kaki diatas pasir pantai.

“Here i am....” Gumamku, saat kupijakkan kedua kakiku diatas hamparan pasir yang hangat. Ombak sore itu menyapu pantai dengan lembut. Angin bertiup hangat dan mentari senja sebentar lagi akan membenamkan dirinya.

"I love it..." Bisikku, sambil tak lekat menikmati lukisan Tuhan dihadapanku.

Waktu berlalu tanpa kusadari. Pesona Sunset di langit Busan seperti sihir dimataku. Semakin kularut menikmatinya, semakin pekat rasa rindu itu. Padanya. Pada seseorang, yang pernah menggenggam tanganku dan menapaki pasir berserak ini. Yang bibirnya terasa begitu hangat mengunci bibirku ditengah dinginnya musim salju. Dia... yang kutinggalkan dengan tidak adil dan harus menanggung luka karena sikap pengecutku dua tahun lalu. Wajahnya jelas terbayang dalam ingatanku.

"Hhh.... i miss you so much, Mr. Gold. Aku merindukanmu hingga setiap detik terasa menyiksa. Jeongmal geuriwoseo...." Lagi-lagi aku bergumam sendiri. Lalu......

"I miss you too, Sunset! I missed you more than you can immagine it."

Suara itu tiba-tiba mengalun ditelingaku selembut angin menyapu wajahku. Suara yang teramat kukenal karena setiap detik kenangannya berputar dalam ingatanku seiring udara disetiap helaan nafasku. Bagaimana mungkin? Bagaimana ini?

Aroma parfumnya, lalu keberadaannya tepat disampingku. Kutatap wajah itu setengah tidak percaya. Pesona Sunset Busan sudah cukup menyilaukan mataku dan kini.... wajah indahnya menggenapi rasa takjubku. Ani ah! Ini bukan mimpi. Semua itu terlalu nyata untuk hanya sekedar mimpi.

*****

Yonghwa POV

Hari itu. Ya, aku menghitung setiap detiknya untuk sampai ke hari kepulangannya kembali ke negara ini. Debar jantungku menggema tak berirama. Menanti kemunculannya dari balik pintu terminal departure bandara. Meski kuyakini tubuhku terlindungi oleh pilar besar dihadapanku, lengkap dengan seperangkat perisai keamanan, topi, kaca mata hitam dan masker yang mampu menutupi identitasku, tetap saja.... kegugupan ini melebihi ketika aku pertama kali tampil dengan CNBLUE.

Lebih dari satu jam aku berdiri disana hingga menghabiskan 2 cup besar ice americano sebelum akhirnya aku melihatnya. She's back. My angel, with her shiny black hair, that simple blue jeans and white t-shirt, yeah... she's the girl who made me falling so deep. 3 tahun lalu pun aku jatuh cinta padanya saat dia mengenakan setelan seperti itu di konserku. Sejak saat itu, aku tak peduli lagi pada jutaan gadis di dunia ini dengan segala pesona mereka dan juga high style yang mereka gunakan. Tidak ada yang bisa menyamainya. Apalagi mengalahkannya. Seo Joohyun adalah bintang paling terang yang pernah kutemukan.

Kulihat Hyoyeon dan Suho berlari mendekati Joohyun dengan teriakan histeris mereka. Beberapa saat, aku hanyut menyaksikan adegan mengaharukan yang terjadi antara 3 sahabat yang beberapa waktu berpisah itu. Mereka adalah orang-orang terbaik yang Tuhan kirim kesisi Joohyun.

Lalu aku melihat gadisku memeluk Suho dan menepuk punggung laki-laki itu dengan lembut. Beberapa waktu kemudian, Suho membalas pelukan itu dan mendekap erat yeoja-ku. Igae mwo yah? Kenapa aku harus melihat adegan itu dan merasa terganggu karenanya? Tsk... bahkan aku saja tidak mendapatkan pelukan itu saat kutemui dia di apartemennya di New York.

"Kau benar-benar keterlaluan, Seo Joohyun.." Gumamku, lirih.

Lalu kulihat mereka berlari saling berkejaran. Tangis haru mereka seketika hilang berganti tawa bahagia. Tanpa kusadari, bibirku ikut tersenyum melihatnya.

"Geurae! Seperti itulah seharusnya, Joohyun ah. Kau memiliki kebahagiaan itu disekelilingmu, jadi kau tak perlu membuangnya. Tertawalah. Tersenyumlah seperti itu dan hentikan lukamu!" Bisikku...

Aku mengikutinya tanpa dia sadari dan dia ketahui. Mulai dari Bandara, hingga dia memasuki rumah Kyuhyun Hyung. Esok harinya, aku melakukan hal yang sama. Aku mengikutinya mulai dari saat dia keluar rumah itu bersama Taeyeon Noona, hingga mengikutinya berkeliling banyak tempat dimana dua orang gadis cantik itu membeli bermacam-macam barang. Huufhh.. kuakui, perempuan itu jauh lebih kuat dari kami para lelaki. Bagaimana bisa mereka masih bisa tertawa ceria selepas itu, usai berjalan mengintara banyak tempat seharian? Eomma... kakiku.... fuiiih.....

Jika bukan karena aku merindukannya, maka aku sudah pasti akan menyerah dan mengaku kalah.

Malam harinya, aku masih memarkirkan mobilku didepan rumah Kyuhyun Hyung. Kulihat satu kamar di lantai atas masih belum mematikan lampunya. Dalam benak-ku bertanya-tanya, mungkinkah itu adalah kamar miliknya? Apa yang sedang Joohyun-ku lakukan hingga selarut ini pun dia masih belum tidur? Apakah dia merindukanku juga? Ani ah. Apakah pernah sekali saja namaku terbersit dalam fikirannya?

Dan beberapa waktu kemudian pertanyaan pertamaku mulai terjawab. Seseroang membuka jendela kamar itu lalu aku melihatnya. Benar saja. Itu kamarnya. Apa yang sedang dia lakukan dimalam selarut itu? Ah.. molla. Anggap saja Tuhan yang membimbingnya membuka jendela itu dan menampakkan wajahnya, karena Tuhan iba padaku. Tuhan tahu, lelaki menyedihkan ini sangat merindukannya dan Dia memberiku kesempatan untuk menatap wajahnya tanpa Joohyun tahu keberadaanku disana.

Busan....

Aku tiba di kotaku sehari sebelum Joohyun dan keluarganya tiba. Seperti saat kedatangannya di Incheon, kali ini aku pun melakukan hal yang sama. Aku menunggunya di Bandara, lalu mengikutinya hingga ke Hotel tempatnya menginap nanti. Sesekali aku tak kuasa menahan tawaku saat kulihat Joohyun mencereweti Oppa-nya. Wajahnya saat sedang sewot benar-benar lucu. Aku baru melihat sisi seperti itu darinya. Saat bersamaku dulu, Joohyun yang kukenal adalah Joohyun yang mandiri, tegar dan cerdas. Mungkin karena saat itu dia merasa hidup seorang diri tanpa keluarga yang bisa menjadi tempatnya bersandar. Tapi kali ini aku melihat sisi lain darinya. Gadis kesayanganku ternyata seorang yang sangat manja. Beberapa kali kulihat Kyuhyun Oppa kewalahan dengan rajukan adiknya hingga membuatnya terpasksa mengalah padanya. Tsk... Joohyun-ku.

Pantai ini. Pantai yang sama yang Joohyun datangi dulu dan membuatku panik setengah mati mencarinya. Apa yang sedang dilakukan malaikatku disana? Ditempat segala kenangan yang dia hempas itu tercipta. Apakah fikirannya sedang menjelajahi ruang masa lalunya? Kehari dimusim salju itu? Saat kuresapi manis bibirnya dengan segenap rasa memilikiku. Saat kukira tak akan pernah akan ada lara usai ciuman hangat itu menyatukan kami. Hari itu yang kutahu hanyalah 'aku mencintainya dan akan melakukan apapun untuknya.' Tak kusangka, kecupan manis itu mempertegas rasa sakitku saat kusadari semua itu adalah yang terakhir dan cintaku pergi meninggalkanku.

Kutatap punggung kecil yang setengahnya tertutup gerai rambut hitamnya. Sesekali rambut indah itu terkibas lembutnya angin musim panas. Dan sunset dihadapannya seolah menggenapi keindahan itu. Rasanya seperti sedang menatap lukisan Maha Sempurna yang membuat tubuhku rela terpaku menatapnya disana.

Kuhapus jarak antara aku dan tempatnya berdiri hingga tubuhku berdiri tepat beberapa langkah di belakangnya. Cukup dekat untuk bisa mencium aroma lembut parfumnya dan mendengar desah lelahnya.

"I love it.. " Gumamnya. Dan itu berhasil merekahkan senyumku.

Gadis itu benar-benar tersihir oleh pesona Sunset dihadapannya hingga dia tidak menyadari bahwa waktu berlalu dan dirinya menjadi objek pemuas rinduku.

"Hhh.... i miss you so much, Mr. Gold. Aku merindukanmu hingga setiap detik terasa menyiksa. Jeongmal geuriwoseo...." Aku mendengarnya. Jelas, aku mendengarnya. Bisikan rindu itu... Untukku.... Ya, aku mendengarnya. Seketika hatiku bergetar dengan rasa yang tak mampu kudeskripsikan. Rasanya seperti baru saja menemukan Oasis ditengah gurun tandus setelah hampir mati kehausan. Seperti menemukan cahaya setelah sekian lama terjebak dalam kegelapan. Seperti kembali menemukan daratan setelah berlayar dalam perjalanan panjang tanpa arah. Kalimat itu seketika menyembuhkan luka-luka itu.

"I miss you too, Sunset! I missed you more than you can immagine it." Lirih, aku menjawabnya. Joohyun-ku terpaku. Bahkan hingga akhirnya kutampakkan diriku dengan berjalan lalu berdiri disampingnya, cintaku masih menatapku dengan tatapan tak terdefinisikan. Kutatap wajah malaikat itu dengan segenap rindu yang ingin kutuntaskan. Kali ini, tidak dengan air mataku. Untuknya yang sudah kembali, kupersembahkan senyum terbaikku.

'Terima kasih, Seo Joohyun. Meski entah kau akan pergi lagi selepas ini, aku tak peduli. Gwaenchanna. Aku akan mengikutimu kemanapun sayapmu mengepak.'

Author Note :
Anyeong haseo, nae saranghaneul goguma chingu!! ^^ Akhirnya.... kisah ini kembali ke jalan yang seharusnya. Gomapseupnida, karena selalu mengikuti pahit manis dan jungkir balik alurnya.

6 komentar:

  1. Aigo² kumohon jangan end lagi ya ..aku tunggu selanjutnya

    BalasHapus
  2. Eonni,,ni belum end kan?msh penasaran kisah selanjutx,, jgn tamatin skrng dong eonni,,ni ff sumpah daebak,,

    BalasHapus
  3. Authornim. Tolong jangan lama2 hiatus ya. Saya suka sama FF nya. Dari awal blog ini ada udah ngikutin. Neomu daebakidaa. Jangan berenti nulis Yongseo story yaa. Fighting 😊😊

    BalasHapus
  4. Masih sabar... menanti... kelannjutan kisahnya...

    BalasHapus