In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 31
The Way Back Home
Seohyun POV
‘Kali ini aku tidak ingin mendengar alasanmu yang lainnya, Joohyun ah!
Aku tidak mau tahu, bagaimanapun kali ini kau harus datang! Apa kau tega,
dihari pernikahanku dan Oppa-mu satu-satunya kau malah memilih bekerja?!
Pokoknya aku tidak akan memaafkanmu bila kali ini kau tidak datang seperti pada
acara pertunangan kami tahun lalu!! Kalau kau masih adikku, maka kau harus
pulang!! Arratji?!!!’
Suara Taeyeon Eonni saat
mencerewetiku masih menggema ditelingaku. Tepat satu minggu lagi, Oppa-ku akan
menikah dengannya. Akhirnya, kisah cinta mereka yang justru berlabuh lebih
dulu. Oppa-ku sangat beruntung menemukan perempuan cantik dan cerdas dengan
kelembutan hati seperti Taeyeon Eonni. Aku benar-benar bahagia untuknya.
Tapi..... Ottokhae? Apalagi
alasan yang harus aku gunakan sekarang? Menghadiri pernikahan mereka, berarti
aku harus pulang ke Seoul. Dari sana, aku akan terbang ke Busan untuk pesta
pernikahan mereka. Dan itu artinya.... aku akan bertemu dengannya. Bukan hanya
dengannya, tapi mingkin juga dengan Eomma dan Appanya. Tsk.. tentu saja!
Bagaimana mungkin pertemuan itu bisa aku hindari sementara pengantin pria nya
adalah kakak kandungku, dan pengantin wanitanya adalah kakak sepupu yang sangat
dekat dengannya seperti kakak kandungnya sendiri. Jadi bila aku berharap bahwa
kami tidak akan bertemu diacara itu, sama saja dengan berharap salju turun di
musim semi. Pertemuanku dengan Jung Yonghwa tidak dapat aku hindari lagi. Tidak
kali ini.
Bunyi ponselku menarik lamunanku.
Aku menatap layarnya, dan kutemukan nama ‘Cho
Ahjussi’ tertera disana. Huuffhh... apalagi ini? Apa lelaki ini juga akan
melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan calon istrinya? Dengan gontai,
kuraih ponselku kemudian mengangkatnya.
“Hmm.. wae, Oppa?” Nada suaraku
mungkin terdengar malas.
‘Mwo ya? Ada apa dengan suaramu? Kenapa kau menerima teleponku seperti
malas-malasan begitu?’ BINGO!! You’re right, Mr. Cho!
“Daebakk... kau langsung
menyadarinya, Oppa..!” Jawabku setengah sarkastik. Tsk.. adik macam apa aku
ini? Selalu saja suka mengerjainya seperti itu.
‘Mwo rago? Yak.. kau mulai lagi, Agassi..’ Kudengar Oppa-ku berlaga
sengit diujung telepon sana, dan itu membuatku tersenyum.
“Just kidding, Cho Ahjussi. Wae
geurae? Jamkanman!!! Kuingatkan kau!! Bila kali ini kau meneleponku hanya untuk
mencerewetiku seperti yang dilakukan calon istrimu, maka aku benar-benar tidak
akan datang pada acara pernikahanmu!!” Tak mau kalah, aku membalasnya.
‘Mwo? Wait, Baby.. Apa itu artinya... kau akan datang, Seo Ahjumma?’
Nada suaranya terdengar setengah excited dan setengah tidak percaya. Aku
semakin ingin tertawa dibuatnya.
“Hmm... semua itu tergantung
bagaimana caranya kau membuatku senang, Cho Ahjussi. Mungkin dengan sedikit
usaha, kau bisa membuat hatiku luluh.” Godaku, sekali lagi.
‘Aigoo... hhh... didunia ini mana ada Calon Pengantin yang membujuk
tamunya untuk datang sampai seperti ini? Mana ada Calon Pengantin yang memberi
hadiah untuk tamunya hanya agar tamunya mau datang?’
“Shiro? Arasso, maka akan
kubatalkan tiket pesawatku dan aku akan terbang ke Barcelona untuk seminar
literasi-ku.”
‘Yak!!! Geumanhae!! Arasso... arasso!! Aku hanya ingin kau sudah harus
berada di Seoul lusa nanti. Aku ingin kau menemani Taeyeon untuk persiapan
terakhirnya sebelum dia berangkat ke Busan. Setelah itu, apapun yang kau inginkan, aku berjanji aku
akan melakukannya untukmu. Bila perlu, aku akan memberikan 100% keuntungan dari
penjualan bukumu. Plus... royalti naskah drama-mu, tanpa perusahanku
menguranginya sedikitpun. Kkoul?!’ sambil menahan tawaku, aku segera
menjawabnya.
“Kkoul!! Yeeaayyyy!!!!! Gomawo,
Cho Ahjussi!! Uri Oppa jinjja jjang!!! Bila tahu begini, seharusnya kau menikah
dari dulu, Oppa. Bila perlu, kau bisa menikah setiap bulan dan melakukan semua
ini untukku.”
‘Mwo rago?!! Kenapa kau tidak sekalian saja membunuhku, Ahjumma?!
Aigoo.. dulu aku fikir punya adik perempuan itu akan sangat menyenangkan. Aku
terlalu naif. Siapa yang menyangka bila adikku satu-satunya sangat menyukai uang
dan selalu saja membuatku dalam keadaan yang sulit?’ Akhirnya aku tak mampu
menahannya lagi. Kuledakkan tawaku dan tak lama, kedengar Kyuhyun Oppa pun ikut
tertawa.
‘Okay, Sweetie. Take care! I’ll
be waiting for you here.’
“Okay, Oppa. Kau juga jaga
kesehatanmu! Jangan sampai dokter cantikmu melubangi tubuhmu dengan suntikannya
dihari bahagia kalian!”
‘Arasso.. arasso!’
Beberapa waktu, kami berdua
terdiam. Aku fikir dia akan menutup line teleponnya, tapi...
‘Joohyunie...’
“Hmm.. wae, Oppa?”
‘Hhhh... aku tahu, mungkin tidak akan mudah untukmu. Tapi.. kau akan
baik-baik saja, kan?’ Huffh... pertanyaan itu. Kenapa dia baru menanyakan
itu sekarang, setelah dia memaksaku begitu keras untuk hadir di pesta
pernikahannya? Tapi.. bila kufikirkan lagi, sangat tidak adil untuk Oppa-ku
satu-satunya bila aku masih mempertahankan egoku begitu kerasnya hingga
kuabaikan dia dihari paling bahagia dalam hidupnya. Setidaknya, bila kisah
cintaku telah hancur berkeping-keping, tapi hubunganku dengan Oppa-ku tidak akan
pernah terhapus oleh apapun. Dan aku tidak ingin membuatnya bersedih dihari
istimewa itu. Aku sadar, selama ini Kyuhyun Oppa lah yang banyak melakukan
segala hal untukku. Untuk kebaikan dan kebahagiaanku. Sementara aku belum
pernah melakukakan apapun untuknya.
“I’ll be fine, Oppa. Don’t worry.
Lagipula kami sudah pernah bertemu sebelumnya. Aku rasa saat ini aku sudah
lebih kuat. Dan lagi, mana mungkin aku sampai hati tidak menghadiri hari
bahagiamu, Oppa. Meski aku tidak cukup banyak membantu, setidaknya kau ini
punya seorang adik, kan? Dan aku tidak ingin Eomma mencerewetiku saat nanti aku
bertemu lagi dengannya hanya karena aku membuatmu kecewa, Oppa. Geok cheongma,
aku akan ada disisimu Minggu nanti. I promise.” Kudengar Oppa-ku menghembuskan
nafas lega.
‘Gomapta, Sweetie. Aku sangat mengerti luka yang kau alami. Aku ingin
hidupmu secepatnya kembali berjalan di track-nya, Joohyun ah. Rasa sakit itu
harus kau hentikan, bukan kau tahan. 2 tahun berlalu, dan aku bersyukur pada
Tuhan karena kau sangat sehat saat ini. Apalagi yang menahan langkahmu?
Terlebih karena aku tahu Yonghwa tidak pernah membencimu. Laki-laki itu sedang
menunggumu dan selama ini selalu menunggumu untuk kembali padanya. Kumohon,
Joohyun ah.. mulailah untuk membuka hatimu lagi.’ Suara lembutnya, aku
semakin menyukainya. Setelah Eomma pergi, saat ini suara Kyuhyun Oppa lah yang
selalu menjadi penyembuh rasa sesak-ku saat hidupku tak lagi mampu kuhadapi
sendiri.
“Nan ajik do molla, Oppa. Kita
lihat saja nanti. Saat ini aku hanya ingin fokus dalam membantu persiapan
pernihakanmu dan Taeyeon Unni. Aku ingin setidaknya sekali saja melakukan
sesuatu sebagai adik yang baik untukmu.” Jawabku, lirih.
‘Arasso. Take your time, but... don’t let him wait too long, Honey. It’s
not fair for him, you know? I’ll always be by your side no matter what. And i
want you to be happy for the rest of your life, Seo Joohyun. Aku yakin, Eomma
kita pun menginginkan hal itu.’
Dan percakapan kamipun terhenti
beberapa waktu kemudian. Masih dengan langkah gontai, aku meraih koporku dan
mulai mengemasi satu persatu pakaian yang akan aku bawa ke Seoul. Fikirku masih
tak lekang darinya. Lelaki yang kutemukan berdiri dibalik pintu rumahku dua
minggu yang lalu. Yang datang secepat mimpi kemudian berlalu pergi lagi. Tuhan
tahu, betapa inginnya tubuhku berlari meraihnya dan menahannya untuk tidak
pergi. Betapa gilanya keinginanku mengiba padanya untuk tidak meninggalkanku
saat itu. Tsk.. penyesalan demi penyesalan terasa seperti penjara. Terlebih
saat kutemukan cinta abadiku menitikan air matanya dihadapanku. Tuhan, betapa
besarnya luka yang kusebabkan padanya.
Kuhentikan aktifitas mengemasku.
Perlahan, aku berjalan menuju meja kerjaku, lalu kukeluarkan diary-ku dari
dalam laci. Kutemukan foto kami berdua disana, saat terakhir kami bersama dan
melihat salju pertama turun. Kuusap lembut gambar wajahnya.
“Bila kini aku berlari lagi
kearahmu, akankah kau membuka pelukmu lagi, Mr. Gold? Akankah semua itu kita
miliki lagi?” Gumam-ku sendiri.
Dua hari kemudian, Incheon
International Ariport.
“Seo Joohyuuuuunnnn!!!!!”
“Barbieeeeeee!!!!!!”
Aku segera mendapati dua orang
itu sedang berlari kearahku yang baru saja keluar dari terminal kedatangan
dengan teriakan yang amat aku kenal. Dan amat kurindukan. Suho, dan Hyo Eonni.
“Eonniiiiiiiiii.....!!!!” Tak mau
kalah, akupun berlari kearahnya. Kami berpelukan teramat erat di iringi isak
tangis dua orang perempuan cengeng yang selama lebih dari dua tahun ini tidak
saling bertemu. Hyo Eonni menghujaniku dengan ciumannya. Kedua tangannya seolah
tak mau berhenti mengusap wajahku, kepalaku, juga tubuhku seolah dia tidak
percaya dengan keberadaanku dihadapannya.
“Aigoo.. uri Joohyun ah. Nan
jinjja bogoshipposeo! Yakk!!! Nappeun saekie ah! Teganya kau pergi tanpa
sepatah katapun padaku. Kau tidak tahu bagaimana gilanya aku saat itu. Ditambah
lagi saat aku tahu tentang Leukimia-mu. Jinjja nappeunom ah! Kau membuatku
takut, Phabo ah!!” Dan tangisnya semakin menggila sambil kembali memelukku.
Orang-orang mulai melihat kami dengan tatapan aneh dan penasaran karena suara
tangisan Hyo Eonni yang mungkin terdengar seperti tangisan anak kecil yang
sedang merengek pada ibunya.
“Mianhaeyo, Eonni.. naega
jalmothaeseo. Aku tahu aku bersalah pada kalian. Jigeumeun naega waseo, Eonni.
Aku pulang. Kalian boleh melakukan apapun padaku dan menghukumku sesuka kalian
hingga hati kalian merasa lebih baik. Aku tidak akan menghindar dan
menangkalnya.” Kuusap lembut punggungnya. Hyo Eonni kemudian melepas peluknya
dan sibuk menyeka air matanya seperti seorang gadis kecil.
“Phabo!! Seo Joohyun neol jinjja phabo ah!! Mana mungkin aku tega
menghukummu setelah penderitaan yang kau jalani selama ini. Melihatmu kembali
berdiri dihadapanku, semua ini terasa seperti keajaiban. Aku bahagia melihatmu
sehat dan tetap hidup. Gomapta, Joohyun ah. Gomapta.” Sekali lagi Hyo Eonni
mendekapku. Tapi kali ini tidak berlangsung lama. Pandangku lalu melayang pada
lelaki yang sedari tadi berdiri dibelakang Hyo Eonni sambil menundukkan wajah
merahnya. Nae sojungan chingu, Suho.
Aku berjalan mendekatinya dan
berdiri tepat dihadapannya. Lelaki itu masih tertunduk dan enggan menatapku.
“Oraenmanida, Suho ah....” Sapaku
tampaknya tak langsung membuatnya bergeming. Butuh beberapa waktu hingga
akhirnya Suho mengangkat wajahnya dan menatapku. Wajah pucat itu tampak merah
padam. Tatapnya gamang dengan bola mata berkaca-kaca. Tapi akhirnya, Suho
menampakkan senyumnya. Meski hanya diujung bibirnya dan lelaki itu masih tidak
mengucapkan apapun. Hhh... jika saja dia seorang perempuan, aku yakin lelaki
ini pun akan sama tersedunya dengan Hyo Eonni. Tapi karena dia seorang lelaki,
Suho tampak berusaha keras menahannya. Hingga akhirnya, tubuhku lah yang
seperti tertarik magnet ditubuhnya. Aku memeluknya. Mengusap punggungnya, dan
merebahkan kepalaku didadanya. Tempat yang dulu menjadi yang tenyaman saat
hidupku tak sanggup kutaklukan sendiri.
“Neomu Bogoshipposeo, Chingu ah!”
Suaraku tercekat lagi. Beberapa waktu, Suho masih tak bergeming. Tapi aku mulai
merasakan kedua tangannya melingkar ditubuhku dan mengusap kepalaku lembut.
“Jarieso, Barbie ah! Kau
melakukan yang terbaik. Jarieso!” Lirih, suaranya terdengar berbisik. “Gomawo,
untuk tetap hidup, Barbie! Huufh...” Kudengar isak kecilnya. Perlahan,
kulepaskan pelukanku dan kembali kutatap wajahnya. Kali ini, sengaja aku
memasang tatapan nakalku.
“Omo... igae mwo yah? Noel uro?
Suho-nim menangis karena merindukanku? Aigoo.. akhirnya kau mengakuinya, bukan?
Bahwa hidupmu tanpaku itu membosankan? Aku tahu, kau pasti akan merindukanku
sampai merasa frustasi. Karena itu, baik-baiklah padaku saat aku bersamamu,
Chingu-ah!” Meski tenggorokanku pun masih terasa tertekan menahan isakanku yang
lain, aku berusaha terlihat normal dengan menepuk pundaknya seperti yang biasa
aku lakukan padanya dulu. Akhirnya, Suho-ku tersenyum lebih lebar sambil
mengusap sisa air matanya. Dia mengusap rambutku lembut dengan tatapan tulus
yang aku sangat mengerti artinya.
“I promise, i’ll treat you
better, Barbie. Bagaimanapun kau sudah bangkit dari kematian. Aku tidak ingin
kualat hanya karena aku memperlakukanmu dengan buruk. Aku tidak akan berani
lagi, Barbie ah!” Suho menampakkan wajah innocent-nya dan aku sangat mengerti
bahwa lelaki ini sedang memulai lagi peperangan ini denganku.
“Mwo rago? Yak!!! Kau mulai lagi,
Phabo ah! Bangkit dari kematian? Kau fikir aku ini hantu, huh? Nawa!! Kau
merindukan kepalan tanganku, bukan?!!” Suho tampak meringis, dan hanya dalam
waktu beberapa menit saja, adegan itu berubah menjadi aksi kejar-kejaran antara
aku dengannya, seolah kami lupa bahwa kini kami adalah manusia-manusia dewasa
yang sudah berusia lebih dari ¼ abad. I don’t care at all. I just wanna feels
like home. And with them, i’m home.
Dua hari kemudian.....
Tak terasa, tibalah saat yang
mendebarkan itu. Kegugupan tampak jelas di wajah Oppa-ku yang sejak di pesawat
tadi tubuhnya tidak bisa diam. Berkali-kali dia pergi ke toilet, padahal
penerbangan dari Seoul ke Busan hanya memakan waktu kurang dari 2 jam saja.
Lagipula, acaranya baru akan dimulai esok hari, tapi lelaki ini benar-benar
tidak bisa menguasai dirinya. Sampai kami tiba di Hotelpun, Oppa melupakan tas
nya hingga kami sibuk mencarinya dan kembali ke Bandara. Belum lagi si
perfectionist ini masih saja sibuk dengan detail-detail kecil yang harus
dilakukan fandom wedding organizer. Dan itu membuatku sakit kepala. Haisshhh!!!
Jinjja!!
Apakah menikah itu harus
se-memusingkan ini?!!
Hhh.. molla!! Berada disamping
calon pengantin seperti itu, justru membuatku lebih stress dibandingkan si
pengantin itu sendiri. Kuputuskan untuk keluar dari Hotel untuk mencari udara
segar.
Siang itu, kami tiba di Busan
pukul 3 sore. Cuaca musim panas di Busan lebih bersahabat dibandingkan dengan
New York. Dari pintu Hotel, aroma laut sudah bisa kuhirup. Hotel tempatku
menginap memang hanya berjarak kurang lebih 200 meter saja menuju pantai. Hanya
butuh menyebrangi sebuah jalan raya, maka aku sudah bisa memijakkan kaki diatas
pasir pantai.
“Here i am....” Gumamku, saat
kupijakkan kedua kakiku diatas hamparan pasir yang hangat. Ombak sore itu
menyapu pantai dengan lembut. Angin bertiup hangat dan mentari senja sebentar
lagi akan membenamkan dirinya.
"I love it..." Bisikku,
sambil tak lekat menikmati lukisan Tuhan dihadapanku.
Waktu berlalu tanpa kusadari.
Pesona Sunset di langit Busan seperti sihir dimataku. Semakin kularut
menikmatinya, semakin pekat rasa rindu itu. Padanya. Pada seseorang, yang
pernah menggenggam tanganku dan menapaki pasir berserak ini. Yang bibirnya
terasa begitu hangat mengunci bibirku ditengah dinginnya musim salju. Dia...
yang kutinggalkan dengan tidak adil dan harus menanggung luka karena sikap
pengecutku dua tahun lalu. Wajahnya jelas terbayang dalam ingatanku.
"Hhh.... i miss you so much,
Mr. Gold. Aku merindukanmu hingga setiap detik terasa menyiksa. Jeongmal
geuriwoseo...." Lagi-lagi aku bergumam sendiri. Lalu......
"I miss you too, Sunset! I
missed you more than you can immagine it."
Suara itu tiba-tiba mengalun
ditelingaku selembut angin menyapu wajahku. Suara yang teramat kukenal karena
setiap detik kenangannya berputar dalam ingatanku seiring udara disetiap helaan
nafasku. Bagaimana mungkin? Bagaimana ini?
Aroma parfumnya, lalu
keberadaannya tepat disampingku. Kutatap wajah itu setengah tidak percaya.
Pesona Sunset Busan sudah cukup menyilaukan mataku dan kini.... wajah indahnya
menggenapi rasa takjubku. Ani ah! Ini bukan mimpi. Semua itu terlalu nyata
untuk hanya sekedar mimpi.
*****
Yonghwa POV
Hari itu. Ya, aku menghitung
setiap detiknya untuk sampai ke hari kepulangannya kembali ke negara ini. Debar
jantungku menggema tak berirama. Menanti kemunculannya dari balik pintu
terminal departure bandara. Meski kuyakini tubuhku terlindungi oleh pilar besar
dihadapanku, lengkap dengan seperangkat perisai keamanan, topi, kaca mata hitam
dan masker yang mampu menutupi identitasku, tetap saja.... kegugupan ini
melebihi ketika aku pertama kali tampil dengan CNBLUE.
Lebih dari satu jam aku berdiri
disana hingga menghabiskan 2 cup besar ice americano sebelum akhirnya aku
melihatnya. She's back. My angel, with her shiny black hair, that simple blue
jeans and white t-shirt, yeah... she's the girl who made me falling so deep. 3
tahun lalu pun aku jatuh cinta padanya saat dia mengenakan setelan seperti itu
di konserku. Sejak saat itu, aku tak peduli lagi pada jutaan gadis di dunia ini
dengan segala pesona mereka dan juga high style yang mereka gunakan. Tidak ada
yang bisa menyamainya. Apalagi mengalahkannya. Seo Joohyun adalah bintang
paling terang yang pernah kutemukan.
Kulihat Hyoyeon dan Suho berlari
mendekati Joohyun dengan teriakan histeris mereka. Beberapa saat, aku hanyut
menyaksikan adegan mengaharukan yang terjadi antara 3 sahabat yang beberapa
waktu berpisah itu. Mereka adalah orang-orang terbaik yang Tuhan kirim kesisi
Joohyun.
Lalu aku melihat gadisku memeluk
Suho dan menepuk punggung laki-laki itu dengan lembut. Beberapa waktu kemudian,
Suho membalas pelukan itu dan mendekap erat yeoja-ku. Igae mwo yah? Kenapa aku
harus melihat adegan itu dan merasa terganggu karenanya? Tsk... bahkan aku saja
tidak mendapatkan pelukan itu saat kutemui dia di apartemennya di New York.
"Kau benar-benar
keterlaluan, Seo Joohyun.." Gumamku, lirih.
Lalu kulihat mereka berlari
saling berkejaran. Tangis haru mereka seketika hilang berganti tawa bahagia.
Tanpa kusadari, bibirku ikut tersenyum melihatnya.
"Geurae! Seperti itulah
seharusnya, Joohyun ah. Kau memiliki kebahagiaan itu disekelilingmu, jadi kau
tak perlu membuangnya. Tertawalah. Tersenyumlah seperti itu dan hentikan
lukamu!" Bisikku...
Aku mengikutinya tanpa dia sadari
dan dia ketahui. Mulai dari Bandara, hingga dia memasuki rumah Kyuhyun Hyung.
Esok harinya, aku melakukan hal yang sama. Aku mengikutinya mulai dari saat dia
keluar rumah itu bersama Taeyeon Noona, hingga mengikutinya berkeliling banyak
tempat dimana dua orang gadis cantik itu membeli bermacam-macam barang.
Huufhh.. kuakui, perempuan itu jauh lebih kuat dari kami para lelaki. Bagaimana
bisa mereka masih bisa tertawa ceria selepas itu, usai berjalan mengintara
banyak tempat seharian? Eomma... kakiku.... fuiiih.....
Jika bukan karena aku
merindukannya, maka aku sudah pasti akan menyerah dan mengaku kalah.
Malam harinya, aku masih
memarkirkan mobilku didepan rumah Kyuhyun Hyung. Kulihat satu kamar di lantai
atas masih belum mematikan lampunya. Dalam benak-ku bertanya-tanya, mungkinkah
itu adalah kamar miliknya? Apa yang sedang Joohyun-ku lakukan hingga selarut
ini pun dia masih belum tidur? Apakah dia merindukanku juga? Ani ah. Apakah
pernah sekali saja namaku terbersit dalam fikirannya?
Dan beberapa waktu kemudian
pertanyaan pertamaku mulai terjawab. Seseroang membuka jendela kamar itu lalu
aku melihatnya. Benar saja. Itu kamarnya. Apa yang sedang dia lakukan dimalam
selarut itu? Ah.. molla. Anggap saja Tuhan yang membimbingnya membuka jendela
itu dan menampakkan wajahnya, karena Tuhan iba padaku. Tuhan tahu, lelaki
menyedihkan ini sangat merindukannya dan Dia memberiku kesempatan untuk menatap
wajahnya tanpa Joohyun tahu keberadaanku disana.
Busan....
Aku tiba di kotaku sehari sebelum
Joohyun dan keluarganya tiba. Seperti saat kedatangannya di Incheon, kali ini
aku pun melakukan hal yang sama. Aku menunggunya di Bandara, lalu mengikutinya
hingga ke Hotel tempatnya menginap nanti. Sesekali aku tak kuasa menahan tawaku
saat kulihat Joohyun mencereweti Oppa-nya. Wajahnya saat sedang sewot
benar-benar lucu. Aku baru melihat sisi seperti itu darinya. Saat bersamaku
dulu, Joohyun yang kukenal adalah Joohyun yang mandiri, tegar dan cerdas.
Mungkin karena saat itu dia merasa hidup seorang diri tanpa keluarga yang bisa
menjadi tempatnya bersandar. Tapi kali ini aku melihat sisi lain darinya. Gadis
kesayanganku ternyata seorang yang sangat manja. Beberapa kali kulihat Kyuhyun
Oppa kewalahan dengan rajukan adiknya hingga membuatnya terpasksa mengalah
padanya. Tsk... Joohyun-ku.
Pantai ini. Pantai yang sama yang
Joohyun datangi dulu dan membuatku panik setengah mati mencarinya. Apa yang
sedang dilakukan malaikatku disana? Ditempat segala kenangan yang dia hempas
itu tercipta. Apakah fikirannya sedang menjelajahi ruang masa lalunya? Kehari
dimusim salju itu? Saat kuresapi manis bibirnya dengan segenap rasa memilikiku.
Saat kukira tak akan pernah akan ada lara usai ciuman hangat itu menyatukan
kami. Hari itu yang kutahu hanyalah 'aku mencintainya dan akan melakukan apapun
untuknya.' Tak kusangka, kecupan manis itu mempertegas rasa sakitku saat
kusadari semua itu adalah yang terakhir dan cintaku pergi meninggalkanku.
Kutatap punggung kecil yang
setengahnya tertutup gerai rambut hitamnya. Sesekali rambut indah itu terkibas
lembutnya angin musim panas. Dan sunset dihadapannya seolah menggenapi
keindahan itu. Rasanya seperti sedang menatap lukisan Maha Sempurna yang
membuat tubuhku rela terpaku menatapnya disana.
Kuhapus jarak antara aku dan
tempatnya berdiri hingga tubuhku berdiri tepat beberapa langkah di belakangnya.
Cukup dekat untuk bisa mencium aroma lembut parfumnya dan mendengar desah
lelahnya.
"I love it.. "
Gumamnya. Dan itu berhasil merekahkan senyumku.
Gadis itu benar-benar tersihir
oleh pesona Sunset dihadapannya hingga dia tidak menyadari bahwa waktu berlalu
dan dirinya menjadi objek pemuas rinduku.
"Hhh.... i miss you so much,
Mr. Gold. Aku merindukanmu hingga setiap detik terasa menyiksa. Jeongmal
geuriwoseo...." Aku mendengarnya. Jelas, aku mendengarnya. Bisikan rindu
itu... Untukku.... Ya, aku mendengarnya. Seketika hatiku bergetar dengan rasa
yang tak mampu kudeskripsikan. Rasanya seperti baru saja menemukan Oasis
ditengah gurun tandus setelah hampir mati kehausan. Seperti menemukan cahaya
setelah sekian lama terjebak dalam kegelapan. Seperti kembali menemukan daratan
setelah berlayar dalam perjalanan panjang tanpa arah. Kalimat itu seketika
menyembuhkan luka-luka itu.
"I miss you too, Sunset! I
missed you more than you can immagine it." Lirih, aku menjawabnya.
Joohyun-ku terpaku. Bahkan hingga akhirnya kutampakkan diriku dengan berjalan
lalu berdiri disampingnya, cintaku masih menatapku dengan tatapan tak
terdefinisikan. Kutatap wajah malaikat itu dengan segenap rindu yang ingin
kutuntaskan. Kali ini, tidak dengan air mataku. Untuknya yang sudah kembali,
kupersembahkan senyum terbaikku.
'Terima kasih, Seo Joohyun. Meski entah kau akan pergi lagi selepas
ini, aku tak peduli. Gwaenchanna. Aku akan mengikutimu kemanapun sayapmu
mengepak.'
Author Note :
Anyeong haseo, nae saranghaneul goguma
chingu!! ^^ Akhirnya.... kisah ini kembali ke jalan yang seharusnya.
Gomapseupnida, karena selalu mengikuti pahit manis dan jungkir balik alurnya.

Aigo² kumohon jangan end lagi ya ..aku tunggu selanjutnya
BalasHapusEonni,,ni belum end kan?msh penasaran kisah selanjutx,, jgn tamatin skrng dong eonni,,ni ff sumpah daebak,,
BalasHapusAuthornim. Tolong jangan lama2 hiatus ya. Saya suka sama FF nya. Dari awal blog ini ada udah ngikutin. Neomu daebakidaa. Jangan berenti nulis Yongseo story yaa. Fighting 😊😊
BalasHapusEonni ini dah end ya?
BalasHapusEonni ini dah end ya?
BalasHapusMasih sabar... menanti... kelannjutan kisahnya...
BalasHapus