Sabtu, 21 Maret 2015

The World Within Chapter 1


The World Within

Author               : Jingga8
Genre                 : Romance
Rating                : M ( 18+ )
Cast                    : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Poster                 : Ismi Nuraulia





Good  Morning, Sun Shine...

Chapter  1

Saat kau lihat cahaya mentari memantul pada jendela sebuah gedung...
dialah malaikat...

Malaikat yang tidak pernah gagal membuat jantung ini berdegup kencang...
Malaikat yang tiada hentinya menganggu tidur malamku dan memenjara diriku dalam ketakutan...

Yah.. aku takut!
Aku takut ketika kubuka mataku...
Saat cahaya mentari menuntun mataku ketempatnya terlelap,
Namun aku tak lagi menemukannya disana...

Malaikatku...
Aku takut... karena aku hanya seorang pecinta... bukan Malaikat sepertinya...

Seo Joohyun... Mantra apa yang telah kau tiupkan kedalam jiwaku?


Yonghwa dengan takjub memandangi sosok bidadari yang masih terlelap begitu cantik disampingnya. Rasanya tak akan pernah ada kata bosan untuk terus menatapnya seperti itu. Meski seluruh hidupnya harus dia habiskan untuk terjaga dan melakukan hal itu, dia rela. Terkadang, rasa takut itu masih lekat menghantui dirinya. Dia takut. Benar-benar takut, bila suatu saat ketika dia membuka matanya, Seohyun tak lagi berada disana. Seperti tahun lalu.

Andwee!! Buru-buru ditepisnya fikiran mengerikan itu.

Semua itu hanya masa lalu dan segalanya sudah berakhir. Mereka berhasil melewatinya meski rasanya mereka nyaris kehilangan tenaga untuk berjuang dan bertahan. Dan kini... cincin itu sudah kembali melingkar di jari manis mereka. Kali ini untuk janji yang sesungguhnya...

“Seo Joohyun... aku Jung Yonghwa... dengan cincin ini, aku akan mengikat takdirmu dengan takdirku. Sepanjang sisa hidupku untuk terus berada disampingmu. Mencintaimu, menghormatimu, dan membuatmu selamanya dalam penjagaanku. Janji ini mungkin bisa terkikis seiring perjalanan waktu. Tapi cincin ini, akan selalu mengingatkanku kembali pada malaikat pemilik hatiku yang bersamanya.. aku berhasil mengalahkan waktu dan masa mudaku. Cincin ini akan selalu menuntunku kembali padamu betapapun dunia ini terus mencoba memisahkan kita. Tidak akan! Selamanya aku tak akan pernah melepaskanmu dan membiarkanmu pergi lagi.

Saranghae, Joohyun ah..”

“Jung Yonghwa.. aku Seo Joohyun.. Dengan cincin ini, aku relakan takdirku selamanya terikat dengan takdirmu. Sepanjang hidupku untuk terus disampingmu. Mencintaimu, menghormatimu, dan menjadikanmu kompas yang akan menuntun hidupku. Yah.. janji ini mungkin akan pudar seiring waktu. Tapi cincin ini akan selalu mengingatkanku pada laki-laki yang telah memiliki seluruh diriku bahkan sejak awal kita bertemu. Cincin ini akan mengingatkanku tentang seberapa kerasnya kita berjuang untuk bisa membuatnya melingkar di jari manis kita. Selamanya, meski dunia mencoba membuatmu terpisah dariku, aku tak akan pernah melepasmu dan berhenti berjuang untukmu.

Saranghae, Oppa..”

Geun Nal, saat salju turun, Yonghwa memasangkan cincin itu di jari manis Seohyun dan Seohyun pun melakukan hal yang sama di jari manis Yonghwa. Setelah penderitaan yang nyaris membuat mereka ingin menyerah, akhirnya Yonghwa berhasil menikahi Seohyun.

Tanpa Yonghwa sadari, tangannya mulai menelusuri lekukan wajah Seohyun dan berlabuh dipipi porcelainnya. Ternyata sentuhan itu membuat Seohyun membuka matanya. Beberapa detik kemudian, sebuah senyum hangat menerekah di wajah mereka.

“Hai....” Disela senyumnya, Seohyun menyapa lelaki yang sepertinya masih tersihir oleh kecantikan dirinya.

“Hai...! Good Morning, SunShine!” Dengan suara seraknya, Yonghwa berhasil membuat hati Seo Joohyun bergetar saat mendengarnya.

“Good Morning, Star Light...”

Dengan suara yang tidak kalah serak, Seohyun kembali membalasnya. Dan sepenggal kalimat sederhana itu mampu membuat Busan Namja ini melunglai dan kehilangan pertahanannya. Dengan lembut, Yonghwa menarik tubuh “Undressed” istrinya lebih dekat lalu membiarkannya keplanya berlabuh dada kirinya. Tentu saja, gerakan ini membuat Seohyun dengan leluasa menggeser tubuhnya yang masih terasa mengantuk itu untuk lebih dekat ke tubuh suaminya. Dan kemudian diapun berlabuh dengan nyaman disana. Peluknya, adalah tempat dimana Seohyun merasa paling aman. Merasakan hangatnya kulit tubuh suaminya bersatu dengan kulit tubuhnya, Seohyun merasa seperti sebuah keajaiban. Dia tidak tahu bahwa semua akan terasa seindah ini.

“Aigoo... kok tidur lagi? Ini sudah hampir jam 10, Angel...” Yonghwa mendapati istrinya kembali menutup matanya dalam peluknya. Meski begitu, Yonghwa justru malah mempererat pelukannya. Tentu saja, Seohyun semakin malas membuka matanya.

“Salahmu sendiri... kenapa Oppa menarik tubuhku dan memelukku seperti ini? Ough.. aku benar-benar masih ngantuk, Oppa!” Tanpa sedikitpun membuka matanya, Seohyun bergumam manja dipelukan Yonghwa. Benar-benar cute. Yonghwa tak mampu menahan senyumnya saat dia sadari betapa imutnya Seohyun SNSD yang dia idolakan dulu.

“Omo... kau menyalahkanku untuk sifat pemalasmu? Eiii... igae mwo yah? Wake up... Mrs. Jung!! We are in Hawaii Now. Benarkah honeymoon ini hanya akan kau habiskan di hotel? Palli... ironaaa... Nae Yeoshiin...” Yonghwa mencubit pipi Seohyun. Seohyun mulai mengerutkan bibirnya dengan matanya yang masih tertutup. Tentu saja... tindakan itu mengundang tindakan yang lain. Dan... kurang dari 10 detik, bibir itu sudah berada dalam kecupan bibir suaminya. Seketika Seohyun membuka matanya.

“Oppa...!” Sekali lagi Seohyun mengerutkan bibirnya.

“Wae? Shiro?” Yonghwa mengangkat salah satu alisnya dan tersenyum nakal. Sementara Seohyun masih tersipu dibuatnya.

“Aniya.. tapi itu terlalu tiba-tiba dan itu membuatku kaget.” Sekali lagi Seohyun mengerutkan bibirnya. Siapa yang tidak akan kehilangan tembok pertahanannya, bila dihadapanmu menjelma seorang malaikat dengan senyum dan aegyeo termanis seperti Seohyun? Begitupun Jung Yonghwa. Meski kini 10 tahun sudah waktu terlewati untuk mencintainya, tetap saja... setiap detik terasa seperti pandangan pertama untuknya. Seohyun tidak henti-hentinya menaburkan sihir kedalam jiwa Yonghwa.

“Siapa yang menyuruhmu mengerutkan bibirmu? Huh? Lalu.. bila karena tindakanmu aku kehilangan diriku.. apa semua itu salahku? Aah... Seo Joohyun... sampai kapan kau akan berhenti memantraiku?” Yonghwa menelusuri wajah Seohyun sambil menatap lekat wajah secantik malaikat dihadapannya. Kali ini lebih dalam dari sebelumnya. Lewat tatapan itu, teruntai kata syukur yang dia yakini tidak akan pernah bisa berhenti meski dia ucapakan sepanjang hidupnya.

“Aku tidak tahu, kebaikan apa yang sudah aku lakukan dimasa lalu, Hyun.. hingga aku layak mendapatkan kebahagiaan sebesar ini? Melihatmu seperti ini, merasakan keberadaanmu didekatku, memiliki tubuh dan hatimu, semua ini adalah keajaiban yang pernah terjadi dalam dunia kecilku.” Lembut.... tangannya kembali menyusuri tiap centi wajah istrinya. Membelai kepalanya, menelusuri hingga leher dan pundaknya yang kini telah nyata menjadi miliknya. Dan kali ini, Seohyun pun melakukan hal yang sama. Tangan kecilnya mengusap lembut wajah Yonghwa.

“Oppa adalah laki-laki yang baik. Sejak awal aku bisa merasakannya. Kau tahu, Oppa? Saat aku remaja dulu, aku memimpikan untuk bisa menikahi laki-laki yang seperti Appa-ku. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengan laki-laki yang akan mencintaiku seperti Appa mencintai Eomma. Dan saat pertama kali aku bersamamu, entahlah... mungkin itu terlalu dini untuk dikatakan sebagai rasa suka. Lebih tepatnya, aku merasa nyaman. Aku merasa aman. Dan aku percaya, bahwa Oppa akan memperlakukanku dengan baik.

Dan seiring berjalannya waktu, entah sejak kapan dan dimulai dari mana, aku merasa... bahwa Oppa adalah seseorang yang tidak  boleh tidak ada dalam hidupku. Sejak awal hingga kini, perasaanku sama denganmu, Oppa. Bahkan mungkin Oppa tidak tahu, bahwa aku mencintaimu melebihi hidupku sendiri hingga aku rela kehilangan nyawaku untukmu seperti.....”

“Ssssh.....!!!” Belum selesai kalimat itu, Yonghwa menaruh telunjuknya dibibir Seohyun dengan maksud untuk menghentikannya agar tidak meneruskan cerita pilu itu lagi. Yonghwa tidak ingin hari pertama bulan madunya dia isi dengan tangis. Dan dia tahu pasti bahwa sebentar lagi.. bila Seohyun tidak menghentikan kata-kata nya, maka air matanya akan segera meluncur  dari kelopak matanya.

“Geumanhae.. Jagie ah.. Aku tidak ingin mendengarnya lagi. Yang terpenting saat ini adalah... bahwa kau kini ada bersamaku. Aku akan melindungimu dan tidak akan membiarkan siapapun berani menyentuhmu lagi. Hhm?” Yonghwa mengusap kepala Seohyun dengan jemarinya yang gemetar. Setiap kali kenangan buruk itu terlintas dalam kepalanya, maka debar jantungnya akan memacu kencang. Dan rasa takut itu seperti kembali menyusup melalui pembuluh darahnya.

“Arasso, Oppa. Mianhae...” Seohyun merekahkan senyum terindahnya. Yonghwa menghela nafasnya sebelum akhirnya dia mendekap erat tubuh Seohyun dipeluknya. Dengan lembut, dia mengecup kepala istrinya.

“Saranghae, Hyun... Neomu Saranghanda!” Lirih.. kata itu mengalun merdu ditelinga Seohyun.

“Na do saranghae, Oppa...”

And another round of make love is begin…..


To Be Continue.... ^_^

Hallo… My Fellow Gogumas…
Hmmm… aku bikin lagi neh. Kali ini aku sengaja angkat kehidupan after married nya YongSeo seperti orderannya Erna Ningsih Eonnie!
So… buat anak-anak under age… aku dah kasih warning yah.. kalo fiksi ini buat 18 taun keatas.
Happy reading… ^_^

 





Jumat, 20 Maret 2015

The World Within Chapter 3






The World Within

Author               : Jingga8
Genre                 : Romance
Rating                : M ( 18+ )
Cast                    : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Poster By           : Ismi Nuraulia




A Messy Surprise…

Chapter 3

Matanya terbuka saat dia melihat kearah jam digital disamping meja tempat tidurnya menunjukkan pukul 06:25. Yonghwa terjaga lebih awal. Saat dia melayangkan pandangannya kesisi kirinya, dia dapati Seohyun masih tertidur pulas. Dengan lembut, Yonghwa menyisir rambut istrinya dengan jarinya lalu mencium keningnya.

Perlahan, Yonghwa menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Dengan hati-hati dia bangun dan berusaha untuk tidak membangunkan Seohyun yang masih terlelap dengan begitu cantik. Hari ini, Yonghwa ada pekerjaan yang harus dia selesaikan di Busan. Tapi karena dia menggunakan pesawat untuk pergi kesana, maka dia tidak harus tergesa.

Usai mandi dan merapihkan diri, Yonghwa melihat Seohyun masih terlelap ditempatnya semula. Hhm.. mungkin latihan koreografi kemarin telah menguras habis staminanya, hingga dia tidak menyadari bahwa hari mulai terang. Yonghwa tidak berniat untuk membangunkannya dan memberinya waktu untuk beristirahat dengan cukup. Dia melangkahkan kakinya menuju dapur dan mulai menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Seohyun.

Dari kamar, Seohyun terperanjak saat didapati suaminya sudah tidak lagi terbaring disana. Dia juga mendengar suara dari dapur dan dia segera menyadari bahwa suaminya telah bangun lebih dulu dari dirinya.

“Ah… shit!! Kenapa aku tidur seperti mayat?” Seohyun bergegas bangkit dan mengikat rambut panjangnya. Dan benar saja, saat pintu kamarnya terbuka, dia mendapati suaminya yang sedang ‘menari ria’ dengan serokan di tangan kanannya sementara tangan kirinya memegang gagang pan berisi omlete. Seohyun merasa bersalah pada awalnya, karena suaminya harus melakukan pekerjaan yang seharusnya menjadi bagiannya. Tapi melihat Yonghwa menari-nari dan bernyanyi dengan apron pink dibajunya, Seohyun tak kuasa menahan tawanya. How cute… uri Yong… bisiknya dalam hati.

“Aigoo… Mr. Jung… sejak kapan Oppa terlihat cute dengan apron didadamu seperti itu?” Seohyun menutup pintu kamarnya lalu berjalan mendekati Yonghwa. Yonghwa yang menyadari istrinya sudah bangun langsung melemparkan senyum termanisnya untuk Seohyun.

“Good Morning, Mrs. Jung? Sudah bangun rupanya.” Yonghwa kembali pada aktifitas menggorengnya. Kali ini bisa dibilang ada kemajuan. Dia sudah bisa membuat omlete dan menggulungnya dengan rapih. Seohyun lalu berdiri disamping suaminya dan menyandarkan kepalanya dengan manja di pundak Yonghwa.

“Oppa… bukankah seharusnya Oppa membangunkanku? Kau masih belum sepenuhnya pulih dari cederamu akibat kecelakaan minggu lalu. Dan lagi, bukankah sekarang sudah waktunya untuk check-up?” Yonghwa tersenyum hingga menampakkan tekstur giginya mendengar Hyun-nya kembali mencerewetinya tentang Check-up! Kata yang paling dia benci.

“Aku baik-baik saja kok! Untuk apa check-up segala? Lagi pula, aku sibuk, Hyun. Dan kau tahu bahwa untuk melakukan check-up itu akan menghabiskan waktu yang tidak sebentar. Aku malas menunggu antrian di rumah sakit!” Yonghwa mengangkat omlete buatannya lalu menyajikannya dipiring yang sudah dia siapkan dimeja makan. Seohyun mengikutinya lalu duduk di salah satu kursi makan.

“Tapi tetap saja, Oppa… kau harus melakukannya. Semalam kau mengeluh lagi kalau kepalamu terasa sakit. Tapi gilirannya aku menyuruhmu untuk periksa, Oppa selalu saja membantahku.” Seohyun akan menjadi sangat ‘menyebalkan’ bila itu menyangkut masalah kesehatan Yonghwa. Dia tidak peduli bila suaminya akan merasa kesal tiap kali dia mencerewetinya seperti itu.

“Oh.. Hyun.. hari ini kau ada jadwal? Aku mungkin bisa pulang awal, karena pekerjaanku di Busan hanya membutuhkan waktu 2 jam. Setelah itu, aku akan segera kembali ke Seoul.”

“Jangan mencoba untuk merubah topik pembicaraan, Oppa!”

“Okay.. aku tahu, Hyun! Bila ada masalah dengan tubuhku, aku pasti akan segera memeriksanya tanpa harus kau cereweti. But now.. look at me.. I’m totally fine!” Yonghwa membusugkan dadanya demi mencoba membuktikan betapa saat ini dia baik-baik saja.

“Jaashik…” Seohyun bergumam.

“Mwo? Apa yang kau katakan barusan?” Yonghwa membalikan tubuhnya dan menghadap kearah Seohyun.

“Ani! Kau adalah choding yang keras kepala, Oppa!”

“Mwo? Choding? Yak… Seo Joohyun Ssi… bagaimana mungkin aku seorang choding bila aku bisa membuatmu mendesah hebat tadi malam? Bagaimana mungkin seorang choding bisa membuat seorang Seo Joohyun tidak ingin melepaskan tubuhnya dan terus mengiba padaku untuk…”

“Geumanhae, Jung Choding!! Satu kata lagi kau teruskan maka…”

“Wae?” Dalam hitungan detik, tiba-tiba wajah Yonghwa sudah berjarak hanya beberapa inci dari wajah Seohyun hingga membuat tubuhnya terseret kesandaran kursi yang dia duduki. Dengan suara lembut dan sedikit mendesah, Yonghwa mulai menggoda istrinya dengan nakal.

“Wae? Apa yang akan kau lakukan bila aku meneruskan kalimatku? Huh? Apa yang kau lakukan bila kukatakan bahwa Joohyun-ku bisa lunglai tak berdaya saat setiap inci tubuhnya aku telusuri. Saat bibirku mulai menari dibibirnya, menelusuri tengkuknya, lehernya, dadanya, dan tanganku… aahh… betapa aku menyukai setiap lekuk tubuhnya…” Yonghwa bisa merasakan ekpresi ketegangan diwajah Seohyun. Tampak semakin jelas saat Seohyun menggigit bibir bawahnya. Benar-benar cute dimata Yonghwa.

“O..Oppa… neol…”

“Wae? Kau tidak menyukainya? Kau tidak suka bila kukatakan bahwa aku benar-benar mencintai segala yang ada pada dirimu, Seo Joohyun? Kau tidak suka bila kukatakan bahwa aku selalu ingin mengehentikan waktu setiap kali tubuhmu berada dalam dekapan tubuhku dan kusadari bahwa kita bukan lagi dua orang yang terpisah?” Yonghwa kian mendekatkan wajahnya ke wajah Seohyun hingga kini, hidungnya beradu dengan hidung Seohyun. Seohyun semakin tersudut. Deru nafasnya memacu seiring degup jantung yang tak kalah cepatnya. Harus dia akui, Yonghwa menguasainya. Dia kalah dan menyerah saat cintanya untuk laki-laki dihadapannya kini lebih berkuasa dibanding akal sehatnya.

“Kau harus bekerja, Oppa… ini sudah terlambat.” Dengan nafas sedikit terengah dan suara lemah, Seohyun berusaha untuk menarik kembali akal sehatnya dan juga suaminya yang ‘menggila’.

“I don’t care! I wan’t my breakfast first!” Yonghwa mengecup bibir istrinya yang kala itu hanya berjarak beberapa inci dari bibirnya. Seohyun yang semula berusaha mengingatkan suaminya, mendapat serangan tiba-tiba itu malah membuatnya tidak berdaya. Dia tidak bisa melakukan apa-apa selain membiarkan bibir itu menari menelusuri tiap rongga mulutnya. Entah sejak kapan, aroma Mac Jaccobs ditubuh Yonghwa menjadi seperti opium yang bisa membiusnya seketika hingga tak jarang dia kehilangan kesadarannya lalu mengikuti permainan yang dimulai suaminya. Yonghwa adalah candunya.

“Oppa…” Seohyun menghentikannya. Yonghwa menatap Seohyun dengan mata sayunya.

“Wae…” Sedikit merengek, Yonghwa benar-benar frustasi saat Seohyun harus menghentikannya seperti itu.

“Busan, Oppa! Busan! Kau harus bergegas atau… kau akan ketinggalan pesawatmu.” Seohyun tersenyum nakal sambil mencubit hidung suaminya. Yonghwa menegakkan badannya dengan muka kusut. Seohyun semakin geli saat laki-laki itu mengerutkan bibirnya seolah dia benar-benar marah pada istrinya.

“Aigoo… uri Yong… you look so cute when you pouted! Aish… bila bukan karena Oppa harus bergegas ke Busan, mungkin saat ini aku sudah melahapmu hingga kau memelas mohon ampunanku! Tapi Oppa kan harus bekerja. So.. we can have the other breakfast next time, Okay?” Seohyun mengedipkan mata kanannya dan itu justru menyiksa Yonghwa lebih hebat lagi.

“Aish… hentikan aegyeomu, atau aku batalkan penerbanganku pagi ini!” Seohyun terkekeh mendengarnya.

“Arrasso.. arraso! Mian, Oppa!” Seohyun bangkit dari duduknya lalu membuat Yonghwa duduk manis dikursi dihadapannya. Seohyun menyajikan masakan Yonghwa tadi tepat di hadapan Yonghwa.

“Here.. please.. enjoy your REAL BREAKFAST, Mr. Jung!” Seohyun melebarkan senyumnya dan membuat Yonghwa tidak berdaya menerima kenyataan bahwa pagi ini, pesawat tidak mungkin menunggunya bila dia terlambat.

“Lebih baik kau siapkan dirimu, Mrs. Jung! Karena nanti malam, kau tidak akan bisa melakukan ini lagi padaku. Tak akan kubiarkan kau lari, Nyonya!” Yonghwa menatap Seohyun dengan tatapan seolah mengancam.

“Arraso, Oppa! Aku tidak akan lari kemanapun. Kau pulang cepat kan?”

“Huh. Aku akan langsung pulang begitu pekerjaanku selesai. Kita bisa berkunjung ke tempat orang tuaku lain waktu saat aku bisa mengajakmu juga.”

“Okay. I’ll be waiting…”

***

Seohyun tiba dirumah setelah membeli beberapa bahan untuk dimasaknya. Tidak lupa dia membeli sebuah tiramisu cake lengkap dengan tulisan ‘Happy Birthday, My Star..’ diatasnya. Yah.. besok adalah hari ulang tahun Yonghwa. Yonghwa sendiri bahkan tidak menyadarinya. Terlebih saat ponselnya dalam perbaikan karena Yonghwa lupa mengeluarkannya dari saku celananya dan Seohyun memasukannya kedalam mesin cuci tanpa dia periksa lebih dulu.

“Okay… aku akan mulai membuat soup rumput laut dan membumbui daging sapi ini. Aku tahu, suamiku sangat menyukai black paper steak buatanku.”

Seohyun begitu excited. Dia merencanakan untuk memberi kejutan ulang tahun untuk suaminya. Dan ini adalah pertama kalinya dia merayakan ulang tahun Yonghwa setelah mereka resmi menjadi suami istri. Dia berencana untuk melakukan semua ini sendiri. Mulai dari memasak, dekorasi, hingga skenario makan malam romantis nanti.

Beberapa waktu berlalu dan hampir semuanya selesai Seohyun siapkan. Masakannya sudah dia tata rapi di atas meja makan dengan hiasan liin dan mawar putih. Kamar mereka pun telah Seohyun sulap bak kamar pengantin. Penuh bunga dan juga lilin-lilin kecil di setiap sudutnya.

"Percect! Aku akan mandi dulu sekarang sebelum dia datang. Hhm.. satu jam lagi. Aku rasa itu cukup!" Lagi-lagi dia bergumam pada dirinya sendiri. Lalu ia pun bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.

Seohyun memilih gaun backless panjang berwarna peach. Warna yang lembut yang memang menggambarkan karakter dirinya. Karena ini adalah backless gown, Seohyun tidak memerlukan bra untuk dia gunakan. Dan ide cerdasnya untuk memberi Yonghwa 'hadiah' ulang tahun terindah, adalah dengan menggunakan g-string ivory yang Yonghwa belikan saat CNBLUE menggelar konser di Paris beberapa bulan yang lalu. Selama ini Seohyun enggan memakainya karena model seperti ini tidak nyaman dia gunakan. Selain itu, alasan lainnya adalah, karena dia masih malu-malu. Under garment jenis itu tidak biasa dia gunakan bahkan bisa dikatakan, Seohyun tidak pernah memakainya. Bayangkan saja, Seohyun melihat wanita-wanita penghibur di film-film barat yang memakai pakaian seperti itu. Dan kini dia harus memakainya? Seohyun? Seo Joohyun dengan G-string?

Hhhh... Tapi malam ini, Seohyun akan melakukan apapun yang akan membuat suaminya menjadi laki-laki paling bahagia didunia.

Riasan wajahnya sudah sempurna kini. Dengan make up tipis dan tatanan rambut yang dia biarkan tergerai, Seohyun benar-benar menjelma seperti seorang malaikat. Dia melirik kearah jam dinding dan kini waktu menunjukkan pukul 9.30 malam. Yonghwa nya masih belum juga datang. Harusnya Yonghwa sudah berada di rumah sejak pukul 7 tadi. Tapi lalu dia menelepon Seohyun bahwa dia akan terlambat beberapa saat dan berjanji untuk sampai di rumah pukul 9 malam.

Yonghwa terlambat setengah jam.

Satu jam.

Dua jam.

Kini tepat pukul 11.00 dan Seohyun tidak bisa tinggal diam lagi. Dia mengambil ponsel nya dan segera menghibungi Yonghwa. Beberapa kali nada dering terdengar olehnya, tapi Yonghwa tak kunjung menjawab. Seohyun mulai gusar. Apa yang terjadi hingga Yonghwa terlambat hingga selarut ini dan dia bahkan tidak menjawab ponselnya.

"Ya Tuhan, Oppa... kumohon angkat ponselmu!" Dalam kegusarannya, Seohyun bergumam. Kakinya kini mulai melangkah dari ujung ruangan ke ujung ruangan yang lain. Kuku telunjukknya yang sudah terbalut indah lapisan kutek putih, tanpa dia sadari dia mulai mengigitnya.

Yonghwa masih belum menjawab ponselnya. Seohyun menghempaskan tubuhnya kesofa ruang tengah. Makan malam romantis, dan rencana hadiah terindahnya kini tak lagi diinginkanya. Fikirannya hanya terpaut pada wajah suaminya yang kini entah berada dimana.

Beberapa menit kemudian, ponsel ditangannya berdering dan Seohyun segera menjawabnya.

"Yeoboseo?" Dengan nada khawatir Seohyun menjawab.

"Hyun.. ini aku. Sayang, aku minta maaf, sepertinya aku tidak bisa pulang cepat. Data yang sudah kurekam bersama anak-anak mendadak hilang. Beberapa orang sedang memperbaiki software nya, berharap kami tidak harus take ulang. Mianhae, yeobo. Aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk pulang cepat. Gwaenchanna?"

Ada rasa lega dalam hati Seohyun begitu dia mendengar suara Yonghwa dan ternyata dia baik-baik saja disana. Tapi disisi lain, perasaan kecewapun tak dapat dia pungkiri. Betapa dirinya sudah menyiapkan semua ini sejak pagi tadi dengan harapan bisa memberikan sesuatu yang indah untuk suaminya. Tapi.... inilah dunianya dan Yonghwa. Dia sadar, di industri ini, mereka tidak bisa hidup sebagaimana orang biasa jalani. Mereka memiliki jam kerja diluar jam biasa orang-orang pada umumnya. Seohyun menghela nafas panjang sebelum dia menjawab suaminya.

"Setidaknya kabari aku, Oppa! Kau tidak tahu betapa aku hampir gila memikirkan bermacam-macam hal buruk yang mungkin terjadi padamu. Aku benar-benar takut  Oppa!" Diujung sana, Yonghwa bisa merasakan betapa khawatirnya Seohyun dan itu membuanya semakin merasa bersalah.

"Arra, Yeobo! Hanbondo mianhae! Aku benar-benar panik karena data recording yang sudah berjalan 90% terancam hilang, Hyun. Hasil kerja keras kami selama berbulan-bulan ini akan sia2 bila data ini tidak berhasil dipulihkan. Sekarang kau tidur saja, yah.. tidak usah menungguku. Aku akan pulang dengan kereta terakhir malam ini." Seohyun terdiam tak menjawab. Dia memejamkan matanya menahan rasa kecewa yang terasa menghimpit didadanya.

"Hyun.... Honey.. kau mendengarku?"

"Arraso..." Sepenggal kata itu yang mampu Seohyun ucapkan sementara tangannya sibuk menyeka air mata yang tanpa terasa menetes di pipinya.

"Okay baby! See you at home! I love you..."

Seohyun tidak menjawabnya. Dia langsung menutup ponselnya setelah itu. Dengan langkah gontai, Seohyun menyeret kakinya ke kamarnya. Sejenak, dia berdiri didepan cermin. Menatap bayang dirinya dalam balutan gaun yang telah dia persiapkan khusus untuk malam ini. Riasan wajahnya pun mulai pudar. Ntar karena terlalu lama menunggu, atau karena air matanya barusan. Tak lama kemudian, Seohyun mengganti bajunya dengan piyama yang biasa dia kenakan lalu tidur.

Pukul 5.25 pagi, Yonghwa tiba dirumahnya. Betapa terkejutnya dia, saat memasukin ruang tengah dan didapatinya meja makan yang berisi berbagai macam makanan dan juga sebuah cake dengan tulisan Happy Birthday. Setelah beberapa saat berfikir, akhirnya Yonghwa menyadarinya.

"Ya Tuhan... apa yang sudah kulakukan...." Yonghwa mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rasa bersalah benar-benar terasa menekan dadanya. Hyun-nya... dengan susah payah menyiapkan semua ini untuknya, dan dia baru datang sepagi ini? Yonghwa bergegas menuju kamarnya. Dia mendapati Seohyun yang terlelap tidur disudut tempat tidur mereka. Perlahan, dia menghampirinya dan duduk di sisi lain tempat tidur mereka tepat menghadap malaikatnya kini. Dengan lembut tangannya mengusap rambut Seohyun.

"Apa yang sudah kulakukan padamu, Hyun? Aku benar-benar tidak tahu kalau kau melakukan semua ini untukku. Maafkan aku, sayang... kau pasti lelah menungguku. Hhhh... meski aku tahu bahwa kau akan mengerti, tapi kau pun pasti kecewa, Joohyun ah!"

Yonghwa menyusuri setiap inci wajah istrinya dengan kedua matanya. Betapa sempurnanya wajah ini. Wajah cantik yang semakin sempurna dengan hati yang cantik.

"Saranghae, Buin ah..."

Tak lama kemudian, Yonghwa pun akhirnya merebahkan tubuhnya yang terasa amat lelah, lalu tidur disamping istrinya.

~ To Be Continue ~

Hmmm... saya dah masih warning yah... kl cerita ini rada kurang cocok buat pelajar. Berhubung kali ini saya mengangkat cerita tentang Yongseo after their marriage, so.. mungkin akan banyak hal yang saya tulis tentang apa yang biasa terjadi dalam kehidupan berumah tangga. Termasuk sesuatu yang lebih intimate and romantic from the point of view a married couple. Saya coba buat me deskripsikannya dengan cara yang romantis dan bukan erotis. So... very welcome buat kritik dan saran yah...
Hope you enjoy guys... ^_^

The World Within Chapter 2






The World Within

Author               : Jingga8
Genre                 : Romance
Rating                : M ( 18+ )
Cast                    : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Poster By           : Ismi Nuraulia




A Little Storm…

Chapter 2

Tak terasa, 5 bulan sudah mereka menjalani waktu sebagai sepasang suami istri. Keduanya kini kembali pada pekerjaan masing-masing. Rentetan jadwal promo CNBLUE sudah menunggu begitu mereka berdua kembali dari bulan madu. Begitupun dengan SNSD. Meski kini kata ‘GirlsBand’ sudah tidak relavan lagi, mengingat kini beberapa membernya sudah berstatus istri seseorang, namun hingga kini existensi nya masih meraja di industri musik Korea. Ditengah bermunculannya grup baru, SNSD dengan new concept mereka, terbukti mampu bertahan dalam kompetisi musik dinegaranya. Bahkan kini lebih mendunia. Tidak heran, dalam waktu 5 bulan terakhir ini saja, Yonghwa dan Seohyun terpaksa harus menghabiskan beberapa malam tanpa satu sama lain karena alasan pekerjaan mereka. Bila bukan Seohyun yang harus show di luar negeri, maka giliran Yonghwa dan CNBLUE yang harus terbang kenegara lain.

Hari itu, Seohyun mengabiskan waktunya di ruang tengah dan fokus pada laptop dihadapannya. Sebentar lagi, diapun ada jadwal latihan bersama SNSD, namun sebelum itu, dia hanya ingin relaksasi dengan menghabiskan waktu nya untuk membaca artikel atau sekedar membaca postingan-postingan fans nya di twitter.

Tiba-tiba Yonghwa keluar dari kamar mereka dengan hanya menggunakan jeansnya tanpa baju yang menutupi tubuhnya. Tangannya sibuk memegang handuk untuk mengeringkan rambutnya. Sebentar lagi dia harus pergi ke studio FNC untuk memulai proses producing band baru.

“Baby… Aku tidak bisa menemukan baju lengan panjangku yang berwarna biru yang kau beli minggu lalu…”

“Coba cari di ruang setrika, Oppa.” Seohyun menjawabnya tanpa sedikitpun memalingkan matanya dari laptopnya. Yonghwa hanya mengangguk dan mengikuti kata-kata Seohyun untuk mencarinya di ruang setrika. Tapi kemudian dia kembali lagi dan langsung duduk dibelakang istrinya.

“Lihat apa sih? Serius amat…” Kedua tangannya lalu melingkar di tubuh Seohyun dan dengan lembut, Yonghwa mengecup lehernya sebelum dia menopangkan dagunya dipundak Seohyun.

“Ketemu bajunya?”

“No! Please… tolong carikan untukku…” Dengan suara manja Yonghwa merajuk seperti anak kecil pada eommanya.

“Oppa… kau kan bisa mencarinya sendiri. Sebentar lagi aku ada jadawal latihan dan itu pasti akan sangat melelahkan.” Seohyun tak ingin kalah merajuk dengan mengeluarkan ageyeo andalannya. Tapi sepertinya Yonghwa tidak mau dengar. Dia semakin mempererat pelukannya dan tak henti-hentinya menciumi pundak istrinya hingga Seohyun merasa kegelian. Yonghwa benar-benar menyukai aroma tubuh Seohyun saat dia menciumnya seperti ini. Sejujurnya, Seohyun pun menikmati semua itu. Mendegar desah nafas suaminya yang terasa begitu dekat ditelinganya, sungguh menjadi sebuah relaksasi tersendiri untuknya. Mebuatnya seperti berada didunia paling nyaman dan paling damai hingga dia tidak ingin pergi kemanapun lagi.

“Oppa… kau harus segera pergi atau kau akan terlambat.” Melihat suaminya seperti seekor kucing yang malas, Seohyun tidak punya pilihan lain selain bangkit dari duduknya dan bergegas menuju ruang setrika untuk mengambil baju yang dicari suaminya. Beberapa waktu kemudian, Seohyun pun datang lagi sudah dengan T-Shirt biru di tangannya. Seohyun segera menyerahkan baju itu pada Yonghwa yang saat itu malah terbaring dengan malas di sofa.

“Oughh… rasanya malas sekali, Hyuuun… Aku tidak ingin pergi ke studio. Bisakah aku hanya menghabiskan waktuku denganmu saja seharian ini?” Yonghwa kembali merengek.

“Sayangnya tidak, Oppa. Kecuali bila kau ingin Hoobae mu men-cap dirimu sebagai sunbae yang tidak bertanggung jawab! Lagipula, aku juga harus latihan hari ini. Jadi dipastikan kalau hari ini adalah hari yang sibuk untuk kita.” Seohyun melemparkan senyum termanisnya. Jauh di dalam hatinya, dia pun berharap bahwa hari ini mereka bisa menghabiskan waktu dengan suaminya. Tapi Seohyun adalah Seohyun. Dia tidak akan mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan mereka. Dia sudah terlatih untuk bersikap profesional selama ini.

Yonghwa mendesah dengan raut wajah kecewanya. Apa boleh buat. Kini dia justru harus bekerja lebih giat demi untuk bisa memenuhi janji-janji masa depannya pada Seohyun. Dia tidak berniat untuk terus membiarkan Seohyun bekerja sebagai seorang idol. Ada waktunya nanti, saat Tuhan menganugerahi anak pada mereka, Yonghwa ingin Seohyun hanya fokus pada anak mereka nanti. Dan Seohyun menyetujui itu.

“Arrasso…” Yonghwa berjalan menuju kamarnya dan akhirnya memakai baju yang tadi dibawakan Seohyun. Sekali lagi dia mengecek barang-barang yang harus dia bawa. Namun tiba-tiba…

“Oppa…” Yonghwa mendengar Seohyun memanggil dari ruang tengah.

“Wae…” Dengan ransel dipundak kanannya dan gitar case di tangan kirinya, Yonghwa datang menghampiri Seohyun yang saat itu tampak serius melihat kearah laptopnya. Yonghwa lalu datang mendekat dan duduk disamping Seohyun.

“Igae mwo ya, Oppa?” Seohyun menatap Yonghwa dengan tatapan tajam. Yonghwa merasa bingung sebelum dia melihat Laptop dihadapan istrinya dan melihat sebuah foto dengan tulisan di bawahnya.

Aigoo.. aku tidak percaya. Jung Yonghwa, bukankah dia suami dari Seohyun? Dan bukankah mereka saat ini masih pengantin baru? Kenapa dia makan siang bersama Park Shinhye? Jangan-jangan mereka masih memiliki hubungan rahasia yang tidak diketahui istrinya. Aku merasa kasihan pada Seohyun.

Sontak, Yonghwa kaget luar biasa. Dia menatap wajah istrinya yang kala itu masih menyorotkan tatapan yang tajam kearahnya. Kali ini Yonghwa melihat bening mata itu mulai berkabut dan air mata tampak tergenang disana. Andai saja sebuah tatapan bisa menyakiti seseorang, maka saat itu seharusnya Yonghwa sudah terpotong-potong habis oleh tatapannya.

Beberapa saat, Yonghwa sempat bingung harus mulai menjelaskan semuanya dari mana. Tapi akhirnya dia mencoba untuk menjelaskan yang terjadi sesungguhnya.

“Hyun… baby… dengarkan aku. Apa yang kau lihat dan kau baca dalam postingan itu semuanya tidak benar. Semua itu tidak seperti yang kau fikirkan. Kau lihat, itu hanya kamera seorang fan dan dia hanya mengatakan apa yang dia fikirkan tanpa mengetahui kejadian yang sesngguhnya.”

Harus Yonghwa akui, dia benar-benar panik saat itu. Tuhan tahu bahwa dia tidak bermaksud curang pada istrinya karena kenyataan yang terjadi tidaklah seperti yang Seohyun bayangkan.

“Lalu… apa maksud dari semua ini?” Seohyun bertanya dengan suara yang nyaris bergetar namun ia berusaha untuk tetap tenang. Yonghwa tahu, istrinya sedang menahan tangis dan emosinya.

“Sayang, memang benar, kemarin siang aku bertemu dengan Shinhye di Manggo. Tapi itu hanya sebuah kebetulan dan tidak berlangsung lama. Begitu aku masuk, aku melihat Shinhye sedang duduk disebuah sudut sendirian. Dan dengan alasan manner, aku lalu menghampirinya dan menyapanya. Itu saja. Aku hanya menanyakan kabarnya, apa yang sedang dia lakukan disana dan setelah itu, aku segera memesan kopiku dan pergi. Hanya itu, Hyun. Shinhye bahkan mengirimkan salam untukmu.”

Penjelasan barusan adalah penjelasan yang jujur. Memang demikian adanya tanpa ada satu halpun yang Yonghwa sembunyikan. Satu-satunya kesalahan yang Yonghwa lakukan hanyalah karena dia tidak menceritakan semua itu pada Seohyun sehingga Seohyun harus mengetahuinya dari orang lain. Dan kini masalahnya akan menjadi rumit bila Yonghwa salah dalam memberi penjelasan.

“Lalu kenapa Oppa tidak menceritakannya padaku? Kenapa aku harus mendengarnya dari orang lain?” Seohyun masih menatap Yonghwa dengan tatapan tajamnya.

“Mianhae, Hyun.. aku lupa. Kau tahu kan.. semalam aku pulang larut. Jangankan untuk mengingat pertemuakku dengan Shinhye, fikiranku sejak pagi terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Dan saat tiba dirumah, satu-satunya hal yang aku inginkan hanyalah menghabiskan waktu yang berkualitas bersamamu. Mianhae…” Yonghwa melemahkan suaranya. Dia mengerti bila Seohyun harus marah dalam hal ini. Tapi Seohyun harus percaya padanya, bahwa dia berkata jujur.

“Tapi tetap saja, seharusnya Oppa mengatakannya. Kau baca tulisan itu? Kau fikir apa yang akan aku alami setelah ini? Bagaimana bila orang tua ku membacanya? Atau eonni-deul? Atau teman-temanku yang lainnya? Seharusnya Oppa lebih hati-hati. Atau setidaknya, untuk hal seperti ini Oppa harus mengatakannya padaku.”

“Arraso. Mianhae, Hyun! Tapi aku benar-benar tidak bermaksud untuk membohongimu. Demi Tuhan, Hyun. Bagiku, pertemuanku dengan Shinhye bukanlah masalah besar. Dunia tahu kok.. bahwa aku ini suamimu. Dan lagi, kau juga tahu kan… kalau Shinhye tidak lebih dari sekedar seorang sahabat lama dalam hidupku? Hyun.. sebelum pernikahan ini, kita sudah melewati banyak hal dan kau tahu… bahwa selama perjalanan itu tidak pernah sekalipun aku menghianatimu. Kau tahu bahwa aku dan Shinhye tidak pernah memiliki hubungan seperti yang mereka gosipkan. Karena itulah, aku sampai lupa untuk mengatakannya padamu.”

Seohyun tampak tertunduk mendengar penjelasan Yonghwa. Hati kecilnya ingin sekali untuk mempercayai kata-kata Yonghwa begitu saja. Tapi rasa sakit itu masih nyata terasa saat nama itu muncul dalam benaknya.

“Kau selalu menganggapnya bukan hal besar, Oppa! Apa kau lupa… apa yang terjadi padaku.. pada kita.. tahun lalu? Apa kau lupa… tragedi itu terjadi karena apa? Aku tahu, Shinhye Eonnie tidak bersalah dalam hal ini. Tapi fans nya… ya Tuhan… apa satu tragedi saja tidak cukup untukmu, Oppa.. hingga kau menginginkan yang lebih besar lagi?”

 Seohyun tak kuasa lagi menahan tangis yang sedari tadi ditahannya. Dia menangis sambil menundukkan kepalanya. Yonghwa merasa buruk melihat pemandangan itu.

“Aigoo… Hyun.. aku tidak bermaksud seperti itu. Aku akui, aku memang bersalah padamu karena tidak menceritakannya lebih awal. Aku hanya merasa bahwa semua itu tidak penting dan bukan sesuatu yang akan mengganggu kita. Fan gila itu kini sudah berada dalam penjara dan dipastikan bahwa dia akan membusuk disana dalam waktu yang lama. Hyun, aku mohon.. jangan biarkan hal kecil ini mengganggu kita. Percyalah.. sayang… aku tidak akan pernah mengingkari janjiku padamu. Apalagi mengkhianatimu. Aku benar-benar minta maaf, Hyun. Hhmm? Aku berjanji, ini kali terakhirku melakukan kesalahan seperti ini.”

Yonghwa mengusap wajah istrinya dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya menggenggam erat jemari Seohyun. Dia tidak menyangka, bahwa kesalahan yang dia anggap tidak akan menjadi apa-apa dalam kehidupan rumah tangganya, justru malah menjadi sangat berbahaya saat satu saja statement negatif muncul di social media. Yonghwa fikir, setelah berhasil mengikatnya dalam pernikahan, maka apapun yang terjadi diluar sana tidak akan berpengaruh pada mereka. Tapi Yonghwa lupa bahwa mereka tetaplah Idol. Setiap mata tidak akan berhenti melihat mereka dan berusaha untuk menggali apapun tentang kehidupan pribadi mereka.

Tiba-tiba ponsel nya berbunyi. Dia melihat nama managernya tertera di layarnya. Dia tahu, saat ini dia sudah sangat terlambat. Setelah dia menjawab panggilan tadi, perhatiannya kembali pada Seohyun yang masih tertunduk sedih. Namun tangisnya sudah mereda.

“Honey, I think I have to go now. Aku usahakan untuk pulang cepat dan… geok cheongma.. aku berjanji untuk menyelesaikan kesalahfahaman ini hingga tuntas. Okay?” Sekali lagi, Yonghwa mengusap lembut pipi Seohyun. Seohyun mengagguk perlahan dan masih enggan membuka mulutnya. Dia butuh waktu untuk menetralisir emosinya setelah menangis tadi. Dan Yonghwa mengerti itu. Diapun mengecup lembut kening Seohyun sebelum akhirnya pergi meninggalkannya.

Waktu berlalu, dan hari mulai berganti malam. Yonghwa sebelumnya berjanji untuk pulang lebih awal. Namun kini sudah hampir pukul 11 malam dan dia masih belum tiba di rumahnya. Seohyun menunggunya penuh rasa cemas. Hujan malam itu mengguyur teramat deras disertai petir yang terus menyambar dan tiupan angin yang menjadikan malam itu semakin mencekam. Berulang kali Seohyun menatap layar poselnya berharap Yonghwa segera melepon dan memberinya kabar. Tapi semua itu tak kunjung terjadi.

Kekhawatiran dalam hatinya kian menggila saat dia teringat wajah suaminya sebelum meninggalkannya tadi pagi. Yah, mereka mengalami pertengkaran kecil yang membuat Seohyun mengantar kepergian suaminya dengan raut wajah masam. Jantungnya berdebar kencang memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi pada suaminya. Dengan ponsel yang tergenggam erat ditangannya, Seohyun memejamkan matanya lalu perlahan mulutnya melantunkan doa.

“Tuhan, kumohon jaga suamiku dimanapun dia berada kini. Lindungi dia dari segala marabahaya dan kejahatan yang mungkin bisa disebabkan oleh mahluk-Mu ataupun oleh dirinya sendiri. Ampuni aku, Tuhan… karena telah bersikap kasar padanya tadi pagi. Kumohon… bawa suamiku kembali kepelukanku dalam keadaan selamat.” Lirih.. kata-kata itu mengalun sendu. Dan beberapa saat kemudian, akhirnya poselnya berdering. Seohyun segera mengangkatnya saat nama Yonghwa tertera dilayarnya.

“Oppa.. neol eodi ya? Aku mengkhawatirkanmu..” Seohyun segera melemparkan pertanyaan itu bahkan sebelum dia dengar suara suaminya.

“Hyun.. bisakah kau menjemputku?” Yonghwa terdengar seperti sedang meringis kesakitan.

“Nde, Oppa. Kau dimana sekarang?”

“Rumah sakit…”

Rasanya seperti petir yang diluar sana kini menghantam tepat dikepalanya begitu kata rumah sakit dia dengar dari mulut  Yonghwa.

“Apa? Rumah sakit? Wae, Oppa? Apa yang terjadi padamu?” Tangannya mulai gemetar dan air mata mulai deras mengalir dipipinya.

“Datanglah dulu ke rumah sakit. Nanti aku jelaskan. Diluar sedang hujan, Hyun.. jadi berhati-hatilah saat menyetir. Pelan-pelan saja dan jangan khawatir karena aku baik-baik saja. Arratji?”

Tanpa berfikir lebih lama, Seohyun segera meraih kunci mobilnya dan berlari menuju car port. Dia segera melajukan mobilnya. Rasanya ingin sekali dia menginjak pedal gas itu sekeras-kerasnya agar dia bisa tiba lebih cepat di rumah sakit dan segera menemui suaminya. Tapi Yonghwa memintanya untuk berhati-hati karena hujan masih belum berhenti. Sepanjang perjalanan, Seohyun terus saja menangis.

Dia berjalan dengan cepat di koridor lobby UGD. Matanya dengan teliti mencari kesegala arah dan akhirnya, dia menemukan Yonghwa tengah duduk di salah satu tempat tidur UGD. Seohyun segera berlari ke arahnya dan dengan serta merta memeluk erat tubuh suaminya. Lagi-lagi Seohyun meledakkan tangisnya.

“Ssshh… gwaenchanna! Aku tidak apa-apa, kok. Mianhae, membuatmu khawatir.” Yonghwa mengusap kepala Seohyun dalam pelukannya.

“Terima kasih, Tuhan… kau selamat, Oppa! Kau tahu, betapa takutnya aku saat mendengar kata rumah sakit tadi. Aku fikir sesuatu yang buruk terjadi padamu. Apa yang terjadi sebenarnya?”

Yonghwa membimbing tubuh Seohyun untuk duduk disampingnya. Dia meraih tangan dingin Seohyun kedalam genggamannya.

“Aku tergelincir saat menyetir tadi. Perhatianku teralih pada Black Box CCTV mobilku. Saat perjalanan pulang tadi, sejujurya aku masih memikirkan apa yang terjadi diantara kita tadi pagi. Aku khawatir kau masih marah terlebih karena hari inipun aku disibukan dengan recording band baru kami hingga aku tak sempat melakukan apa-apa untuk mengklarifikasi kesalahfahaman itu. Lalu aku teringat pada black box mobilku yang aku fikir bisa aku tunjukkan padamu, juga bisa aku jadikan bukti untuk mengklarifikasi pada publik tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku mencoba untuk melepaskannya namun ternyata di hadapanku ada sebuah lubang besar dan mobilku tidak sempat menghindarinya. Hingga akhirnya mobilku menabrak pembatas jalan.” Yonghwa menyentuh plester yang membalut pelipisnya. Kepalanya terasa sakit. Begitupun punggung dan kedua tangannya.

“Mianhae, Oppa. Jeongmal mianhae! Aku seharusnya tidak bersikap berlebihan tadi pagi. Oppa, bagiku bukan masalah bila orang membicarakan apapun tentang kita. Persetan dengan apa yang akan mereka fikirkan, tapi aku tidak akan pernah bisa kehilanganmu. Bagaimana mungkin kau mengabaikan keselamatanmu hanya demi sebuah black box? Jebbal… berhati-hatilah…”

Yonghwa tersenyum melihat betapa khawatirnya Seohyun. Yonghwa menarik tubuh istrinya dan merangkulnya. Lalu Seohyun kembali menangis dan membenamkan wajahnya didada Yonghwa.

“Aigoo… uljima, Saranga! Aku baik-baik saja, kok. Tidak ada luka serius. Hanya shock dibeberapa persendian dan luka kecil di keningku ini. It’s okay, Honey! It’s okay!” Yonghwa mengecup lembut kening Seohyun dan mengusap air matanya.

Seohyun membantunya berdiri dan memapahnya pulang. Begitulah… seberapa seringnya pun, dan seberapa besarnya pun mereka bertengkar, pada akhirnya cinta selalu menjadi yang terkuat. Dalam hidup mereka, tidak ada yang lebih menakutkan dari pada harus terjaga dan menjalani hidup tanpa satu sama lain disisi mereka.

~ To Be Continue ~

Waktu nulis ini, di Bandung lagi hujan gede dengan petir yang cetarrrr membahana! Serasa feelnya makin dapet deh… ^_^