Jumat, 20 Maret 2015

The World Within Chapter 2






The World Within

Author               : Jingga8
Genre                 : Romance
Rating                : M ( 18+ )
Cast                    : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Poster By           : Ismi Nuraulia




A Little Storm…

Chapter 2

Tak terasa, 5 bulan sudah mereka menjalani waktu sebagai sepasang suami istri. Keduanya kini kembali pada pekerjaan masing-masing. Rentetan jadwal promo CNBLUE sudah menunggu begitu mereka berdua kembali dari bulan madu. Begitupun dengan SNSD. Meski kini kata ‘GirlsBand’ sudah tidak relavan lagi, mengingat kini beberapa membernya sudah berstatus istri seseorang, namun hingga kini existensi nya masih meraja di industri musik Korea. Ditengah bermunculannya grup baru, SNSD dengan new concept mereka, terbukti mampu bertahan dalam kompetisi musik dinegaranya. Bahkan kini lebih mendunia. Tidak heran, dalam waktu 5 bulan terakhir ini saja, Yonghwa dan Seohyun terpaksa harus menghabiskan beberapa malam tanpa satu sama lain karena alasan pekerjaan mereka. Bila bukan Seohyun yang harus show di luar negeri, maka giliran Yonghwa dan CNBLUE yang harus terbang kenegara lain.

Hari itu, Seohyun mengabiskan waktunya di ruang tengah dan fokus pada laptop dihadapannya. Sebentar lagi, diapun ada jadwal latihan bersama SNSD, namun sebelum itu, dia hanya ingin relaksasi dengan menghabiskan waktu nya untuk membaca artikel atau sekedar membaca postingan-postingan fans nya di twitter.

Tiba-tiba Yonghwa keluar dari kamar mereka dengan hanya menggunakan jeansnya tanpa baju yang menutupi tubuhnya. Tangannya sibuk memegang handuk untuk mengeringkan rambutnya. Sebentar lagi dia harus pergi ke studio FNC untuk memulai proses producing band baru.

“Baby… Aku tidak bisa menemukan baju lengan panjangku yang berwarna biru yang kau beli minggu lalu…”

“Coba cari di ruang setrika, Oppa.” Seohyun menjawabnya tanpa sedikitpun memalingkan matanya dari laptopnya. Yonghwa hanya mengangguk dan mengikuti kata-kata Seohyun untuk mencarinya di ruang setrika. Tapi kemudian dia kembali lagi dan langsung duduk dibelakang istrinya.

“Lihat apa sih? Serius amat…” Kedua tangannya lalu melingkar di tubuh Seohyun dan dengan lembut, Yonghwa mengecup lehernya sebelum dia menopangkan dagunya dipundak Seohyun.

“Ketemu bajunya?”

“No! Please… tolong carikan untukku…” Dengan suara manja Yonghwa merajuk seperti anak kecil pada eommanya.

“Oppa… kau kan bisa mencarinya sendiri. Sebentar lagi aku ada jadawal latihan dan itu pasti akan sangat melelahkan.” Seohyun tak ingin kalah merajuk dengan mengeluarkan ageyeo andalannya. Tapi sepertinya Yonghwa tidak mau dengar. Dia semakin mempererat pelukannya dan tak henti-hentinya menciumi pundak istrinya hingga Seohyun merasa kegelian. Yonghwa benar-benar menyukai aroma tubuh Seohyun saat dia menciumnya seperti ini. Sejujurnya, Seohyun pun menikmati semua itu. Mendegar desah nafas suaminya yang terasa begitu dekat ditelinganya, sungguh menjadi sebuah relaksasi tersendiri untuknya. Mebuatnya seperti berada didunia paling nyaman dan paling damai hingga dia tidak ingin pergi kemanapun lagi.

“Oppa… kau harus segera pergi atau kau akan terlambat.” Melihat suaminya seperti seekor kucing yang malas, Seohyun tidak punya pilihan lain selain bangkit dari duduknya dan bergegas menuju ruang setrika untuk mengambil baju yang dicari suaminya. Beberapa waktu kemudian, Seohyun pun datang lagi sudah dengan T-Shirt biru di tangannya. Seohyun segera menyerahkan baju itu pada Yonghwa yang saat itu malah terbaring dengan malas di sofa.

“Oughh… rasanya malas sekali, Hyuuun… Aku tidak ingin pergi ke studio. Bisakah aku hanya menghabiskan waktuku denganmu saja seharian ini?” Yonghwa kembali merengek.

“Sayangnya tidak, Oppa. Kecuali bila kau ingin Hoobae mu men-cap dirimu sebagai sunbae yang tidak bertanggung jawab! Lagipula, aku juga harus latihan hari ini. Jadi dipastikan kalau hari ini adalah hari yang sibuk untuk kita.” Seohyun melemparkan senyum termanisnya. Jauh di dalam hatinya, dia pun berharap bahwa hari ini mereka bisa menghabiskan waktu dengan suaminya. Tapi Seohyun adalah Seohyun. Dia tidak akan mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan mereka. Dia sudah terlatih untuk bersikap profesional selama ini.

Yonghwa mendesah dengan raut wajah kecewanya. Apa boleh buat. Kini dia justru harus bekerja lebih giat demi untuk bisa memenuhi janji-janji masa depannya pada Seohyun. Dia tidak berniat untuk terus membiarkan Seohyun bekerja sebagai seorang idol. Ada waktunya nanti, saat Tuhan menganugerahi anak pada mereka, Yonghwa ingin Seohyun hanya fokus pada anak mereka nanti. Dan Seohyun menyetujui itu.

“Arrasso…” Yonghwa berjalan menuju kamarnya dan akhirnya memakai baju yang tadi dibawakan Seohyun. Sekali lagi dia mengecek barang-barang yang harus dia bawa. Namun tiba-tiba…

“Oppa…” Yonghwa mendengar Seohyun memanggil dari ruang tengah.

“Wae…” Dengan ransel dipundak kanannya dan gitar case di tangan kirinya, Yonghwa datang menghampiri Seohyun yang saat itu tampak serius melihat kearah laptopnya. Yonghwa lalu datang mendekat dan duduk disamping Seohyun.

“Igae mwo ya, Oppa?” Seohyun menatap Yonghwa dengan tatapan tajam. Yonghwa merasa bingung sebelum dia melihat Laptop dihadapan istrinya dan melihat sebuah foto dengan tulisan di bawahnya.

Aigoo.. aku tidak percaya. Jung Yonghwa, bukankah dia suami dari Seohyun? Dan bukankah mereka saat ini masih pengantin baru? Kenapa dia makan siang bersama Park Shinhye? Jangan-jangan mereka masih memiliki hubungan rahasia yang tidak diketahui istrinya. Aku merasa kasihan pada Seohyun.

Sontak, Yonghwa kaget luar biasa. Dia menatap wajah istrinya yang kala itu masih menyorotkan tatapan yang tajam kearahnya. Kali ini Yonghwa melihat bening mata itu mulai berkabut dan air mata tampak tergenang disana. Andai saja sebuah tatapan bisa menyakiti seseorang, maka saat itu seharusnya Yonghwa sudah terpotong-potong habis oleh tatapannya.

Beberapa saat, Yonghwa sempat bingung harus mulai menjelaskan semuanya dari mana. Tapi akhirnya dia mencoba untuk menjelaskan yang terjadi sesungguhnya.

“Hyun… baby… dengarkan aku. Apa yang kau lihat dan kau baca dalam postingan itu semuanya tidak benar. Semua itu tidak seperti yang kau fikirkan. Kau lihat, itu hanya kamera seorang fan dan dia hanya mengatakan apa yang dia fikirkan tanpa mengetahui kejadian yang sesngguhnya.”

Harus Yonghwa akui, dia benar-benar panik saat itu. Tuhan tahu bahwa dia tidak bermaksud curang pada istrinya karena kenyataan yang terjadi tidaklah seperti yang Seohyun bayangkan.

“Lalu… apa maksud dari semua ini?” Seohyun bertanya dengan suara yang nyaris bergetar namun ia berusaha untuk tetap tenang. Yonghwa tahu, istrinya sedang menahan tangis dan emosinya.

“Sayang, memang benar, kemarin siang aku bertemu dengan Shinhye di Manggo. Tapi itu hanya sebuah kebetulan dan tidak berlangsung lama. Begitu aku masuk, aku melihat Shinhye sedang duduk disebuah sudut sendirian. Dan dengan alasan manner, aku lalu menghampirinya dan menyapanya. Itu saja. Aku hanya menanyakan kabarnya, apa yang sedang dia lakukan disana dan setelah itu, aku segera memesan kopiku dan pergi. Hanya itu, Hyun. Shinhye bahkan mengirimkan salam untukmu.”

Penjelasan barusan adalah penjelasan yang jujur. Memang demikian adanya tanpa ada satu halpun yang Yonghwa sembunyikan. Satu-satunya kesalahan yang Yonghwa lakukan hanyalah karena dia tidak menceritakan semua itu pada Seohyun sehingga Seohyun harus mengetahuinya dari orang lain. Dan kini masalahnya akan menjadi rumit bila Yonghwa salah dalam memberi penjelasan.

“Lalu kenapa Oppa tidak menceritakannya padaku? Kenapa aku harus mendengarnya dari orang lain?” Seohyun masih menatap Yonghwa dengan tatapan tajamnya.

“Mianhae, Hyun.. aku lupa. Kau tahu kan.. semalam aku pulang larut. Jangankan untuk mengingat pertemuakku dengan Shinhye, fikiranku sejak pagi terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Dan saat tiba dirumah, satu-satunya hal yang aku inginkan hanyalah menghabiskan waktu yang berkualitas bersamamu. Mianhae…” Yonghwa melemahkan suaranya. Dia mengerti bila Seohyun harus marah dalam hal ini. Tapi Seohyun harus percaya padanya, bahwa dia berkata jujur.

“Tapi tetap saja, seharusnya Oppa mengatakannya. Kau baca tulisan itu? Kau fikir apa yang akan aku alami setelah ini? Bagaimana bila orang tua ku membacanya? Atau eonni-deul? Atau teman-temanku yang lainnya? Seharusnya Oppa lebih hati-hati. Atau setidaknya, untuk hal seperti ini Oppa harus mengatakannya padaku.”

“Arraso. Mianhae, Hyun! Tapi aku benar-benar tidak bermaksud untuk membohongimu. Demi Tuhan, Hyun. Bagiku, pertemuanku dengan Shinhye bukanlah masalah besar. Dunia tahu kok.. bahwa aku ini suamimu. Dan lagi, kau juga tahu kan… kalau Shinhye tidak lebih dari sekedar seorang sahabat lama dalam hidupku? Hyun.. sebelum pernikahan ini, kita sudah melewati banyak hal dan kau tahu… bahwa selama perjalanan itu tidak pernah sekalipun aku menghianatimu. Kau tahu bahwa aku dan Shinhye tidak pernah memiliki hubungan seperti yang mereka gosipkan. Karena itulah, aku sampai lupa untuk mengatakannya padamu.”

Seohyun tampak tertunduk mendengar penjelasan Yonghwa. Hati kecilnya ingin sekali untuk mempercayai kata-kata Yonghwa begitu saja. Tapi rasa sakit itu masih nyata terasa saat nama itu muncul dalam benaknya.

“Kau selalu menganggapnya bukan hal besar, Oppa! Apa kau lupa… apa yang terjadi padaku.. pada kita.. tahun lalu? Apa kau lupa… tragedi itu terjadi karena apa? Aku tahu, Shinhye Eonnie tidak bersalah dalam hal ini. Tapi fans nya… ya Tuhan… apa satu tragedi saja tidak cukup untukmu, Oppa.. hingga kau menginginkan yang lebih besar lagi?”

 Seohyun tak kuasa lagi menahan tangis yang sedari tadi ditahannya. Dia menangis sambil menundukkan kepalanya. Yonghwa merasa buruk melihat pemandangan itu.

“Aigoo… Hyun.. aku tidak bermaksud seperti itu. Aku akui, aku memang bersalah padamu karena tidak menceritakannya lebih awal. Aku hanya merasa bahwa semua itu tidak penting dan bukan sesuatu yang akan mengganggu kita. Fan gila itu kini sudah berada dalam penjara dan dipastikan bahwa dia akan membusuk disana dalam waktu yang lama. Hyun, aku mohon.. jangan biarkan hal kecil ini mengganggu kita. Percyalah.. sayang… aku tidak akan pernah mengingkari janjiku padamu. Apalagi mengkhianatimu. Aku benar-benar minta maaf, Hyun. Hhmm? Aku berjanji, ini kali terakhirku melakukan kesalahan seperti ini.”

Yonghwa mengusap wajah istrinya dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya menggenggam erat jemari Seohyun. Dia tidak menyangka, bahwa kesalahan yang dia anggap tidak akan menjadi apa-apa dalam kehidupan rumah tangganya, justru malah menjadi sangat berbahaya saat satu saja statement negatif muncul di social media. Yonghwa fikir, setelah berhasil mengikatnya dalam pernikahan, maka apapun yang terjadi diluar sana tidak akan berpengaruh pada mereka. Tapi Yonghwa lupa bahwa mereka tetaplah Idol. Setiap mata tidak akan berhenti melihat mereka dan berusaha untuk menggali apapun tentang kehidupan pribadi mereka.

Tiba-tiba ponsel nya berbunyi. Dia melihat nama managernya tertera di layarnya. Dia tahu, saat ini dia sudah sangat terlambat. Setelah dia menjawab panggilan tadi, perhatiannya kembali pada Seohyun yang masih tertunduk sedih. Namun tangisnya sudah mereda.

“Honey, I think I have to go now. Aku usahakan untuk pulang cepat dan… geok cheongma.. aku berjanji untuk menyelesaikan kesalahfahaman ini hingga tuntas. Okay?” Sekali lagi, Yonghwa mengusap lembut pipi Seohyun. Seohyun mengagguk perlahan dan masih enggan membuka mulutnya. Dia butuh waktu untuk menetralisir emosinya setelah menangis tadi. Dan Yonghwa mengerti itu. Diapun mengecup lembut kening Seohyun sebelum akhirnya pergi meninggalkannya.

Waktu berlalu, dan hari mulai berganti malam. Yonghwa sebelumnya berjanji untuk pulang lebih awal. Namun kini sudah hampir pukul 11 malam dan dia masih belum tiba di rumahnya. Seohyun menunggunya penuh rasa cemas. Hujan malam itu mengguyur teramat deras disertai petir yang terus menyambar dan tiupan angin yang menjadikan malam itu semakin mencekam. Berulang kali Seohyun menatap layar poselnya berharap Yonghwa segera melepon dan memberinya kabar. Tapi semua itu tak kunjung terjadi.

Kekhawatiran dalam hatinya kian menggila saat dia teringat wajah suaminya sebelum meninggalkannya tadi pagi. Yah, mereka mengalami pertengkaran kecil yang membuat Seohyun mengantar kepergian suaminya dengan raut wajah masam. Jantungnya berdebar kencang memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi pada suaminya. Dengan ponsel yang tergenggam erat ditangannya, Seohyun memejamkan matanya lalu perlahan mulutnya melantunkan doa.

“Tuhan, kumohon jaga suamiku dimanapun dia berada kini. Lindungi dia dari segala marabahaya dan kejahatan yang mungkin bisa disebabkan oleh mahluk-Mu ataupun oleh dirinya sendiri. Ampuni aku, Tuhan… karena telah bersikap kasar padanya tadi pagi. Kumohon… bawa suamiku kembali kepelukanku dalam keadaan selamat.” Lirih.. kata-kata itu mengalun sendu. Dan beberapa saat kemudian, akhirnya poselnya berdering. Seohyun segera mengangkatnya saat nama Yonghwa tertera dilayarnya.

“Oppa.. neol eodi ya? Aku mengkhawatirkanmu..” Seohyun segera melemparkan pertanyaan itu bahkan sebelum dia dengar suara suaminya.

“Hyun.. bisakah kau menjemputku?” Yonghwa terdengar seperti sedang meringis kesakitan.

“Nde, Oppa. Kau dimana sekarang?”

“Rumah sakit…”

Rasanya seperti petir yang diluar sana kini menghantam tepat dikepalanya begitu kata rumah sakit dia dengar dari mulut  Yonghwa.

“Apa? Rumah sakit? Wae, Oppa? Apa yang terjadi padamu?” Tangannya mulai gemetar dan air mata mulai deras mengalir dipipinya.

“Datanglah dulu ke rumah sakit. Nanti aku jelaskan. Diluar sedang hujan, Hyun.. jadi berhati-hatilah saat menyetir. Pelan-pelan saja dan jangan khawatir karena aku baik-baik saja. Arratji?”

Tanpa berfikir lebih lama, Seohyun segera meraih kunci mobilnya dan berlari menuju car port. Dia segera melajukan mobilnya. Rasanya ingin sekali dia menginjak pedal gas itu sekeras-kerasnya agar dia bisa tiba lebih cepat di rumah sakit dan segera menemui suaminya. Tapi Yonghwa memintanya untuk berhati-hati karena hujan masih belum berhenti. Sepanjang perjalanan, Seohyun terus saja menangis.

Dia berjalan dengan cepat di koridor lobby UGD. Matanya dengan teliti mencari kesegala arah dan akhirnya, dia menemukan Yonghwa tengah duduk di salah satu tempat tidur UGD. Seohyun segera berlari ke arahnya dan dengan serta merta memeluk erat tubuh suaminya. Lagi-lagi Seohyun meledakkan tangisnya.

“Ssshh… gwaenchanna! Aku tidak apa-apa, kok. Mianhae, membuatmu khawatir.” Yonghwa mengusap kepala Seohyun dalam pelukannya.

“Terima kasih, Tuhan… kau selamat, Oppa! Kau tahu, betapa takutnya aku saat mendengar kata rumah sakit tadi. Aku fikir sesuatu yang buruk terjadi padamu. Apa yang terjadi sebenarnya?”

Yonghwa membimbing tubuh Seohyun untuk duduk disampingnya. Dia meraih tangan dingin Seohyun kedalam genggamannya.

“Aku tergelincir saat menyetir tadi. Perhatianku teralih pada Black Box CCTV mobilku. Saat perjalanan pulang tadi, sejujurya aku masih memikirkan apa yang terjadi diantara kita tadi pagi. Aku khawatir kau masih marah terlebih karena hari inipun aku disibukan dengan recording band baru kami hingga aku tak sempat melakukan apa-apa untuk mengklarifikasi kesalahfahaman itu. Lalu aku teringat pada black box mobilku yang aku fikir bisa aku tunjukkan padamu, juga bisa aku jadikan bukti untuk mengklarifikasi pada publik tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku mencoba untuk melepaskannya namun ternyata di hadapanku ada sebuah lubang besar dan mobilku tidak sempat menghindarinya. Hingga akhirnya mobilku menabrak pembatas jalan.” Yonghwa menyentuh plester yang membalut pelipisnya. Kepalanya terasa sakit. Begitupun punggung dan kedua tangannya.

“Mianhae, Oppa. Jeongmal mianhae! Aku seharusnya tidak bersikap berlebihan tadi pagi. Oppa, bagiku bukan masalah bila orang membicarakan apapun tentang kita. Persetan dengan apa yang akan mereka fikirkan, tapi aku tidak akan pernah bisa kehilanganmu. Bagaimana mungkin kau mengabaikan keselamatanmu hanya demi sebuah black box? Jebbal… berhati-hatilah…”

Yonghwa tersenyum melihat betapa khawatirnya Seohyun. Yonghwa menarik tubuh istrinya dan merangkulnya. Lalu Seohyun kembali menangis dan membenamkan wajahnya didada Yonghwa.

“Aigoo… uljima, Saranga! Aku baik-baik saja, kok. Tidak ada luka serius. Hanya shock dibeberapa persendian dan luka kecil di keningku ini. It’s okay, Honey! It’s okay!” Yonghwa mengecup lembut kening Seohyun dan mengusap air matanya.

Seohyun membantunya berdiri dan memapahnya pulang. Begitulah… seberapa seringnya pun, dan seberapa besarnya pun mereka bertengkar, pada akhirnya cinta selalu menjadi yang terkuat. Dalam hidup mereka, tidak ada yang lebih menakutkan dari pada harus terjaga dan menjalani hidup tanpa satu sama lain disisi mereka.

~ To Be Continue ~

Waktu nulis ini, di Bandung lagi hujan gede dengan petir yang cetarrrr membahana! Serasa feelnya makin dapet deh… ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar