The World Within
Author : Jingga8
Genre : Romance
Rating : M ( 18+ )
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Poster By : Ismi Nuraulia
A Little Storm…
Chapter 2
Tak terasa, 5 bulan sudah mereka
menjalani waktu sebagai sepasang suami istri. Keduanya kini kembali pada
pekerjaan masing-masing. Rentetan jadwal promo CNBLUE sudah menunggu begitu
mereka berdua kembali dari bulan madu. Begitupun dengan SNSD. Meski kini kata
‘GirlsBand’ sudah tidak relavan lagi, mengingat kini beberapa membernya sudah
berstatus istri seseorang, namun hingga kini existensi nya masih meraja di
industri musik Korea. Ditengah bermunculannya grup baru, SNSD dengan new
concept mereka, terbukti mampu bertahan dalam kompetisi musik dinegaranya.
Bahkan kini lebih mendunia. Tidak heran, dalam waktu 5 bulan terakhir ini saja,
Yonghwa dan Seohyun terpaksa harus menghabiskan beberapa malam tanpa satu sama
lain karena alasan pekerjaan mereka. Bila bukan Seohyun yang harus show di luar
negeri, maka giliran Yonghwa dan CNBLUE yang harus terbang kenegara lain.
Hari itu, Seohyun mengabiskan
waktunya di ruang tengah dan fokus pada laptop dihadapannya. Sebentar lagi,
diapun ada jadwal latihan bersama SNSD, namun sebelum itu, dia hanya ingin
relaksasi dengan menghabiskan waktu nya untuk membaca artikel atau sekedar
membaca postingan-postingan fans nya di twitter.
Tiba-tiba Yonghwa keluar dari
kamar mereka dengan hanya menggunakan jeansnya tanpa baju yang menutupi
tubuhnya. Tangannya sibuk memegang handuk untuk mengeringkan rambutnya.
Sebentar lagi dia harus pergi ke studio FNC untuk memulai proses producing band
baru.
“Baby… Aku tidak bisa menemukan
baju lengan panjangku yang berwarna biru yang kau beli minggu lalu…”
“Coba cari di ruang setrika,
Oppa.” Seohyun menjawabnya tanpa sedikitpun memalingkan matanya dari laptopnya.
Yonghwa hanya mengangguk dan mengikuti kata-kata Seohyun untuk mencarinya di
ruang setrika. Tapi kemudian dia kembali lagi dan langsung duduk dibelakang
istrinya.
“Lihat apa sih? Serius amat…”
Kedua tangannya lalu melingkar di tubuh Seohyun dan dengan lembut, Yonghwa
mengecup lehernya sebelum dia menopangkan dagunya dipundak Seohyun.
“Ketemu bajunya?”
“No! Please… tolong carikan
untukku…” Dengan suara manja Yonghwa merajuk seperti anak kecil pada eommanya.
“Oppa… kau kan bisa mencarinya
sendiri. Sebentar lagi aku ada jadawal latihan dan itu pasti akan sangat
melelahkan.” Seohyun tak ingin kalah merajuk dengan mengeluarkan ageyeo
andalannya. Tapi sepertinya Yonghwa tidak mau dengar. Dia semakin mempererat
pelukannya dan tak henti-hentinya menciumi pundak istrinya hingga Seohyun
merasa kegelian. Yonghwa benar-benar menyukai aroma tubuh Seohyun saat dia
menciumnya seperti ini. Sejujurnya, Seohyun pun menikmati semua itu. Mendegar
desah nafas suaminya yang terasa begitu dekat ditelinganya, sungguh menjadi
sebuah relaksasi tersendiri untuknya. Mebuatnya seperti berada didunia paling
nyaman dan paling damai hingga dia tidak ingin pergi kemanapun lagi.
“Oppa… kau harus segera pergi
atau kau akan terlambat.” Melihat suaminya seperti seekor kucing yang malas,
Seohyun tidak punya pilihan lain selain bangkit dari duduknya dan bergegas
menuju ruang setrika untuk mengambil baju yang dicari suaminya. Beberapa waktu
kemudian, Seohyun pun datang lagi sudah dengan T-Shirt biru di tangannya.
Seohyun segera menyerahkan baju itu pada Yonghwa yang saat itu malah terbaring
dengan malas di sofa.
“Oughh… rasanya malas sekali,
Hyuuun… Aku tidak ingin pergi ke studio. Bisakah aku hanya menghabiskan waktuku
denganmu saja seharian ini?” Yonghwa kembali merengek.
“Sayangnya tidak, Oppa. Kecuali
bila kau ingin Hoobae mu men-cap dirimu sebagai sunbae yang tidak bertanggung
jawab! Lagipula, aku juga harus latihan hari ini. Jadi dipastikan kalau hari
ini adalah hari yang sibuk untuk kita.” Seohyun melemparkan senyum termanisnya.
Jauh di dalam hatinya, dia pun berharap bahwa hari ini mereka bisa menghabiskan
waktu dengan suaminya. Tapi Seohyun adalah Seohyun. Dia tidak akan mencampur
adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan mereka. Dia sudah terlatih untuk
bersikap profesional selama ini.
Yonghwa mendesah dengan raut
wajah kecewanya. Apa boleh buat. Kini dia justru harus bekerja lebih giat demi untuk
bisa memenuhi janji-janji masa depannya pada Seohyun. Dia tidak berniat untuk
terus membiarkan Seohyun bekerja sebagai seorang idol. Ada waktunya nanti, saat
Tuhan menganugerahi anak pada mereka, Yonghwa ingin Seohyun hanya fokus pada
anak mereka nanti. Dan Seohyun menyetujui itu.
“Arrasso…” Yonghwa berjalan
menuju kamarnya dan akhirnya memakai baju yang tadi dibawakan Seohyun. Sekali
lagi dia mengecek barang-barang yang harus dia bawa. Namun tiba-tiba…
“Oppa…” Yonghwa mendengar Seohyun
memanggil dari ruang tengah.
“Wae…” Dengan ransel dipundak
kanannya dan gitar case di tangan kirinya, Yonghwa datang menghampiri Seohyun
yang saat itu tampak serius melihat kearah laptopnya. Yonghwa lalu datang
mendekat dan duduk disamping Seohyun.
“Igae mwo ya, Oppa?” Seohyun
menatap Yonghwa dengan tatapan tajam. Yonghwa merasa bingung sebelum dia
melihat Laptop dihadapan istrinya dan melihat sebuah foto dengan tulisan di
bawahnya.
Aigoo.. aku tidak percaya. Jung Yonghwa, bukankah dia suami dari
Seohyun? Dan bukankah mereka saat ini masih pengantin baru? Kenapa dia makan
siang bersama Park Shinhye? Jangan-jangan mereka masih memiliki hubungan
rahasia yang tidak diketahui istrinya. Aku merasa kasihan pada Seohyun.
Sontak, Yonghwa kaget luar biasa.
Dia menatap wajah istrinya yang kala itu masih menyorotkan tatapan yang tajam
kearahnya. Kali ini Yonghwa melihat bening mata itu mulai berkabut dan air mata
tampak tergenang disana. Andai saja sebuah tatapan bisa menyakiti seseorang,
maka saat itu seharusnya Yonghwa sudah terpotong-potong habis oleh tatapannya.
Beberapa saat, Yonghwa sempat
bingung harus mulai menjelaskan semuanya dari mana. Tapi akhirnya dia mencoba
untuk menjelaskan yang terjadi sesungguhnya.
“Hyun… baby… dengarkan aku. Apa
yang kau lihat dan kau baca dalam postingan itu semuanya tidak benar. Semua itu
tidak seperti yang kau fikirkan. Kau lihat, itu hanya kamera seorang fan dan
dia hanya mengatakan apa yang dia fikirkan tanpa mengetahui kejadian yang
sesngguhnya.”
Harus Yonghwa akui, dia
benar-benar panik saat itu. Tuhan tahu bahwa dia tidak bermaksud curang pada
istrinya karena kenyataan yang terjadi tidaklah seperti yang Seohyun bayangkan.
“Lalu… apa maksud dari semua
ini?” Seohyun bertanya dengan suara yang nyaris bergetar namun ia berusaha
untuk tetap tenang. Yonghwa tahu, istrinya sedang menahan tangis dan emosinya.
“Sayang, memang benar, kemarin
siang aku bertemu dengan Shinhye di Manggo. Tapi itu hanya sebuah kebetulan dan
tidak berlangsung lama. Begitu aku masuk, aku melihat Shinhye sedang duduk
disebuah sudut sendirian. Dan dengan alasan manner, aku lalu menghampirinya dan
menyapanya. Itu saja. Aku hanya menanyakan kabarnya, apa yang sedang dia
lakukan disana dan setelah itu, aku segera memesan kopiku dan pergi. Hanya itu,
Hyun. Shinhye bahkan mengirimkan salam untukmu.”
Penjelasan barusan adalah
penjelasan yang jujur. Memang demikian adanya tanpa ada satu halpun yang
Yonghwa sembunyikan. Satu-satunya kesalahan yang Yonghwa lakukan hanyalah
karena dia tidak menceritakan semua itu pada Seohyun sehingga Seohyun harus
mengetahuinya dari orang lain. Dan kini masalahnya akan menjadi rumit bila
Yonghwa salah dalam memberi penjelasan.
“Lalu kenapa Oppa tidak
menceritakannya padaku? Kenapa aku harus mendengarnya dari orang lain?” Seohyun
masih menatap Yonghwa dengan tatapan tajamnya.
“Mianhae, Hyun.. aku lupa. Kau
tahu kan.. semalam aku pulang larut. Jangankan untuk mengingat pertemuakku
dengan Shinhye, fikiranku sejak pagi terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Dan saat
tiba dirumah, satu-satunya hal yang aku inginkan hanyalah menghabiskan waktu
yang berkualitas bersamamu. Mianhae…” Yonghwa melemahkan suaranya. Dia mengerti
bila Seohyun harus marah dalam hal ini. Tapi Seohyun harus percaya padanya,
bahwa dia berkata jujur.
“Tapi tetap saja, seharusnya Oppa
mengatakannya. Kau baca tulisan itu? Kau fikir apa yang akan aku alami setelah
ini? Bagaimana bila orang tua ku membacanya? Atau eonni-deul? Atau
teman-temanku yang lainnya? Seharusnya Oppa lebih hati-hati. Atau setidaknya,
untuk hal seperti ini Oppa harus mengatakannya padaku.”
“Arraso. Mianhae, Hyun! Tapi aku
benar-benar tidak bermaksud untuk membohongimu. Demi Tuhan, Hyun. Bagiku,
pertemuanku dengan Shinhye bukanlah masalah besar. Dunia tahu kok.. bahwa aku
ini suamimu. Dan lagi, kau juga tahu kan… kalau Shinhye tidak lebih dari
sekedar seorang sahabat lama dalam hidupku? Hyun.. sebelum pernikahan ini, kita
sudah melewati banyak hal dan kau tahu… bahwa selama perjalanan itu tidak
pernah sekalipun aku menghianatimu. Kau tahu bahwa aku dan Shinhye tidak pernah
memiliki hubungan seperti yang mereka gosipkan. Karena itulah, aku sampai lupa
untuk mengatakannya padamu.”
Seohyun tampak tertunduk
mendengar penjelasan Yonghwa. Hati kecilnya ingin sekali untuk mempercayai
kata-kata Yonghwa begitu saja. Tapi rasa sakit itu masih nyata terasa saat nama
itu muncul dalam benaknya.
“Kau selalu menganggapnya bukan
hal besar, Oppa! Apa kau lupa… apa yang terjadi padaku.. pada kita.. tahun
lalu? Apa kau lupa… tragedi itu terjadi karena apa? Aku tahu, Shinhye Eonnie
tidak bersalah dalam hal ini. Tapi fans nya… ya Tuhan… apa satu tragedi saja
tidak cukup untukmu, Oppa.. hingga kau menginginkan yang lebih besar lagi?”
Seohyun tak kuasa lagi menahan tangis yang
sedari tadi ditahannya. Dia menangis sambil menundukkan kepalanya. Yonghwa
merasa buruk melihat pemandangan itu.
“Aigoo… Hyun.. aku tidak
bermaksud seperti itu. Aku akui, aku memang bersalah padamu karena tidak
menceritakannya lebih awal. Aku hanya merasa bahwa semua itu tidak penting dan
bukan sesuatu yang akan mengganggu kita. Fan gila itu kini sudah berada dalam
penjara dan dipastikan bahwa dia akan membusuk disana dalam waktu yang lama.
Hyun, aku mohon.. jangan biarkan hal kecil ini mengganggu kita. Percyalah..
sayang… aku tidak akan pernah mengingkari janjiku padamu. Apalagi mengkhianatimu.
Aku benar-benar minta maaf, Hyun. Hhmm? Aku berjanji, ini kali terakhirku
melakukan kesalahan seperti ini.”
Yonghwa mengusap wajah istrinya
dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya menggenggam erat jemari
Seohyun. Dia tidak menyangka, bahwa kesalahan yang dia anggap tidak akan
menjadi apa-apa dalam kehidupan rumah tangganya, justru malah menjadi sangat
berbahaya saat satu saja statement negatif muncul di social media. Yonghwa
fikir, setelah berhasil mengikatnya dalam pernikahan, maka apapun yang terjadi
diluar sana tidak akan berpengaruh pada mereka. Tapi Yonghwa lupa bahwa mereka
tetaplah Idol. Setiap mata tidak akan berhenti melihat mereka dan berusaha
untuk menggali apapun tentang kehidupan pribadi mereka.
Tiba-tiba ponsel nya berbunyi.
Dia melihat nama managernya tertera di layarnya. Dia tahu, saat ini dia sudah
sangat terlambat. Setelah dia menjawab panggilan tadi, perhatiannya kembali
pada Seohyun yang masih tertunduk sedih. Namun tangisnya sudah mereda.
“Honey, I think I have to go now.
Aku usahakan untuk pulang cepat dan… geok cheongma.. aku berjanji untuk
menyelesaikan kesalahfahaman ini hingga tuntas. Okay?” Sekali lagi, Yonghwa
mengusap lembut pipi Seohyun. Seohyun mengagguk perlahan dan masih enggan
membuka mulutnya. Dia butuh waktu untuk menetralisir emosinya setelah menangis
tadi. Dan Yonghwa mengerti itu. Diapun mengecup lembut kening Seohyun sebelum
akhirnya pergi meninggalkannya.
Waktu berlalu, dan hari mulai
berganti malam. Yonghwa sebelumnya berjanji untuk pulang lebih awal. Namun kini
sudah hampir pukul 11 malam dan dia masih belum tiba di rumahnya. Seohyun
menunggunya penuh rasa cemas. Hujan malam itu mengguyur teramat deras disertai
petir yang terus menyambar dan tiupan angin yang menjadikan malam itu semakin
mencekam. Berulang kali Seohyun menatap layar poselnya berharap Yonghwa segera
melepon dan memberinya kabar. Tapi semua itu tak kunjung terjadi.
Kekhawatiran dalam hatinya kian
menggila saat dia teringat wajah suaminya sebelum meninggalkannya tadi pagi.
Yah, mereka mengalami pertengkaran kecil yang membuat Seohyun mengantar
kepergian suaminya dengan raut wajah masam. Jantungnya berdebar kencang
memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi pada suaminya.
Dengan ponsel yang tergenggam erat ditangannya, Seohyun memejamkan matanya lalu
perlahan mulutnya melantunkan doa.
“Tuhan, kumohon jaga suamiku
dimanapun dia berada kini. Lindungi dia dari segala marabahaya dan kejahatan
yang mungkin bisa disebabkan oleh mahluk-Mu ataupun oleh dirinya sendiri.
Ampuni aku, Tuhan… karena telah bersikap kasar padanya tadi pagi. Kumohon… bawa
suamiku kembali kepelukanku dalam keadaan selamat.” Lirih.. kata-kata itu
mengalun sendu. Dan beberapa saat kemudian, akhirnya poselnya berdering.
Seohyun segera mengangkatnya saat nama Yonghwa tertera dilayarnya.
“Oppa.. neol eodi ya? Aku
mengkhawatirkanmu..” Seohyun segera melemparkan pertanyaan itu bahkan sebelum
dia dengar suara suaminya.
“Hyun.. bisakah kau menjemputku?”
Yonghwa terdengar seperti sedang meringis kesakitan.
“Nde, Oppa. Kau dimana sekarang?”
“Rumah sakit…”
Rasanya seperti petir yang diluar
sana kini menghantam tepat dikepalanya begitu kata rumah sakit dia dengar dari
mulut Yonghwa.
“Apa? Rumah sakit? Wae, Oppa? Apa
yang terjadi padamu?” Tangannya mulai gemetar dan air mata mulai deras mengalir
dipipinya.
“Datanglah dulu ke rumah sakit.
Nanti aku jelaskan. Diluar sedang hujan, Hyun.. jadi berhati-hatilah saat
menyetir. Pelan-pelan saja dan jangan khawatir karena aku baik-baik saja.
Arratji?”
Tanpa berfikir lebih lama, Seohyun
segera meraih kunci mobilnya dan berlari menuju car port. Dia segera melajukan
mobilnya. Rasanya ingin sekali dia menginjak pedal gas itu sekeras-kerasnya
agar dia bisa tiba lebih cepat di rumah sakit dan segera menemui suaminya. Tapi
Yonghwa memintanya untuk berhati-hati karena hujan masih belum berhenti.
Sepanjang perjalanan, Seohyun terus saja menangis.
Dia berjalan dengan cepat di
koridor lobby UGD. Matanya dengan teliti mencari kesegala arah dan akhirnya,
dia menemukan Yonghwa tengah duduk di salah satu tempat tidur UGD. Seohyun
segera berlari ke arahnya dan dengan serta merta memeluk erat tubuh suaminya.
Lagi-lagi Seohyun meledakkan tangisnya.
“Ssshh… gwaenchanna! Aku tidak
apa-apa, kok. Mianhae, membuatmu khawatir.” Yonghwa mengusap kepala Seohyun
dalam pelukannya.
“Terima kasih, Tuhan… kau
selamat, Oppa! Kau tahu, betapa takutnya aku saat mendengar kata rumah sakit
tadi. Aku fikir sesuatu yang buruk terjadi padamu. Apa yang terjadi
sebenarnya?”
Yonghwa membimbing tubuh Seohyun
untuk duduk disampingnya. Dia meraih tangan dingin Seohyun kedalam
genggamannya.
“Aku tergelincir saat menyetir
tadi. Perhatianku teralih pada Black Box CCTV mobilku. Saat perjalanan pulang
tadi, sejujurya aku masih memikirkan apa yang terjadi diantara kita tadi pagi.
Aku khawatir kau masih marah terlebih karena hari inipun aku disibukan dengan recording
band baru kami hingga aku tak sempat melakukan apa-apa untuk mengklarifikasi
kesalahfahaman itu. Lalu aku teringat pada black box mobilku yang aku fikir
bisa aku tunjukkan padamu, juga bisa aku jadikan bukti untuk mengklarifikasi
pada publik tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku mencoba untuk
melepaskannya namun ternyata di hadapanku ada sebuah lubang besar dan mobilku
tidak sempat menghindarinya. Hingga akhirnya mobilku menabrak pembatas jalan.”
Yonghwa menyentuh plester yang membalut pelipisnya. Kepalanya terasa sakit.
Begitupun punggung dan kedua tangannya.
“Mianhae, Oppa. Jeongmal mianhae!
Aku seharusnya tidak bersikap berlebihan tadi pagi. Oppa, bagiku bukan masalah
bila orang membicarakan apapun tentang kita. Persetan dengan apa yang akan
mereka fikirkan, tapi aku tidak akan pernah bisa kehilanganmu. Bagaimana
mungkin kau mengabaikan keselamatanmu hanya demi sebuah black box? Jebbal…
berhati-hatilah…”
Yonghwa tersenyum melihat betapa
khawatirnya Seohyun. Yonghwa menarik tubuh istrinya dan merangkulnya. Lalu
Seohyun kembali menangis dan membenamkan wajahnya didada Yonghwa.
“Aigoo… uljima, Saranga! Aku
baik-baik saja, kok. Tidak ada luka serius. Hanya shock dibeberapa persendian
dan luka kecil di keningku ini. It’s okay, Honey! It’s okay!” Yonghwa mengecup
lembut kening Seohyun dan mengusap air matanya.
Seohyun membantunya berdiri dan
memapahnya pulang. Begitulah… seberapa seringnya pun, dan seberapa besarnya pun
mereka bertengkar, pada akhirnya cinta selalu menjadi yang terkuat. Dalam hidup
mereka, tidak ada yang lebih menakutkan dari pada harus terjaga dan menjalani
hidup tanpa satu sama lain disisi mereka.
~ To Be Continue ~
Waktu
nulis ini, di Bandung lagi hujan gede dengan petir yang cetarrrr membahana!
Serasa feelnya makin dapet deh… ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar