In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 15
The Pain, The Lost
Flash Back
6 Tahun lalu.....
"Yonghwa ah, fikirkan lagi!!
Jangan karena ambisimu lalu kau berbuat gila seperti ini! Black Dragon itu gang
motor yang sangat berbahaya. Bukan hanya di Busan, bahkan di Seoul pun mereka
menjadi buruan polisi. Dan kau akan menjadi bagian dalam track ilegal mereka?!!
Jebbal, Yonghwa ah!! Jangan gila!!!"
Wajah Jonghyun tampak memerah.
Matanya berkaca-kaca menahan emosinya. Tentu saja, mendengar sahabatnya yang
sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri akan masuk kedalam lingkaran setan,
mana mungkin dia hanya duduk diam? Balap liar?! Andwe! Dia tidak akan pernah
membiarkannya.
Yonghwa masih tampak tenang,
meski dia tahu bahwa Jonghyun tidak sedang main-main saat itu. Lelaki itu
benar-benar marah dan akan terus mencoba menghalanginya dengan cara apapun.
"Geok cheongma, Jonghyun ah.
Meski mereka itu gerombolan sampah, tapi mereka punya aturan yang cukup fair.
Aku hanya mengikuti balapan yang mereka adakan dan mencoba mendapatkan
hadiahnya. Bukan berarti aku akan bergabung dengan gang berandalan itu. Lagipula,
uang tunai senilai 10 juta Won itu pantas untuk aku perjuangkan. Untuk bisa
masuk kedalam club nasional, kau tahu kan tidak sedikit uang yang harus aku
keluarkan? Dan Appaku sama sekali tidak akan memfasilitasi itu!"
Yonghwa bangkit dari duduknya,
lalu berjalan mendekati Jonghyun. Dia meletakkan kedua tangannya di pundak
Jonghyun dan dengan tatapannya, Yonghwa mencoba meyakinkan Jonghyun bahwa semua
akan baik-baik saja.
"Aku berjanji padamu, Jong!
Ini akan menjadi yang pertama dan terakhir kalinya aku melakukan ini. Aku hanya
butuh uang itu. Aku harus ke Seoul dan masuk club resmi untuk mendapat
pelatihan. Naega neol yakseokhae, aku akan baik-baik saja dan tidak akan
membuat masalah." Yonghwa menatap Jonghyun lebih dalam. Tapi sahabatnya
itu masih tidak bisa menerima jalan fikiran Yonghwa. Tatapnya masih penuh
marah.
"Neol mitjoseo? Huh? Kau
fikir akan sesederhana itu masalahnya?! Jebbal, Yonghwa ah! Jangan naif! Mereka
itu gangster, bukan event organizer!!! Kau fikir kau bisa mendapatkan uang itu
dengan mudah saat kau menang nanti? Sekali kau terlibat dengan mereka, mereka
tidak akan dengan mudah melepaskanmu! Terlebih bila mereka membutuhkan bakatmu
dalam menguasai track!" Mata merahnya kian menyorot tajam. Apapun yang
terjadi, Jonghyun harus sekuatnya menahan Yonghwa dari rencana bodohnya.
"Ara! Tapi aku sudah
membicarakan ini dengan Han Songgi Samchoon. Dia akan membantuku bila sesuatu
terjadi padaku." Yonghwa masih berusaha menenangkan Jonghyun.
"Han Ahjussi? Pamanmu?
Tsk.... geumanhae, Jashik ah! Kau benar-benar sudah tidak waras! Kau fikir
hanya karena dia seorang gubernur lalu
dia cukup kuat untuk melindungimu, Huh? Irona, Yonghwa ah!! Dan lihatlah..!!
Bila memang kekuatan gubernur seperti yang kau katakan, maka kenapa gang itu
masih berkeliaran dan mengganggu masyarakat dimalam hari? Bahkan polisi ibu
kota pun masih berusaha keras membubarkan komunitas itu!"
"Lalu aku harus bagaimana,
Jonghyun ah?! Huh? Kau ingin melihatku duduk diam setelah aku lari dari rumah
dan bertengkar hebat dengan ayahku?! Kau ingin melihat ayahku diam-diam
menertawakan pilihanku dan mimpi gilaku?!" Kali ini, Yonghwa pun nyaris
kehilangan kesabarannya. Lelaki ini mulai membalas tatapan tajam Jonghyun
dengan tatapan serupa.
"Karena itu kau jangan
bodoh, Saekie ah! Bila kau terlibat dengan gang itu, kau bukan hanya akan
ditertawakan oleh ayahmu saja! Tapi juga oleh seisi kota ini! Namamu akan ada
di head line harian kota ini dengan caption 'Putera kedua Jung Taewon pemilik
Venus Hotel terlibat balapan ilegal dengan sebuah gang pembuat onar!' Dan
esoknya, ayahmu akan jadi bahan olok-olokan rekan-rekannya. Begitu juga ibumu.
Dan Yongdo Hyung pun tak akan luput dari petaka itu!"
Sesaat, Yonghwa terdiam usai
mendengar perkataan Jonghyun. Ya, Jonghyun mungkin benar dalam hal itu. Dia pun
sadar, yang akan terjadi tidak akan semudah yang dia katakan. Dia tahu segala
resikonya. Tapi....
"Mereka sudah memegang
namaku, Jong!" Mendengar itu, Jonghyun kembali membelalakan kedua matanya.
"Mwo rago?!"
"Oh! Di After Party café tiga hari lalu."
Jonghyun menatap Yonghwa tidak percaya.
"Yak.. saekie ah!! Ottokhae?
Huh? Bagaimana bisa kau melakukan itu?!" Kali ini, kedua tangan Jonghyun
yang mencengkram pundak Yonghwa disertai dengan guncangan-guncangan yang
membuat Yonghwa nyaris hilang keseimbangannya.
"Teddy, bartender disana
memberi tahuku, lalu dia mengenalkanku pada Song Kangin, ketua Black Dragon
yang malam itu sedang berada disana dengan beberapa orang temannya." Kedua
bola mata Jonghyun seakan nyaris melompat dari dalam kelopaknya begitu nama
Kangin disebut. Kakinya terasa lemas seketika.
"Geun jashik ah, Jinjja!!!!
Kau tidak tahu siapa dia, Huh?! Kau lupa, apa yang dia lakukan tahun lalu? Dia
itu bukan hanya gangster Yonghwa ah!
Tapi juga seorang pengedar dan pelaku pencurian sepeda motor! Ya Tuhan....
dimana sebenarnya akal sehatmu, Jung Yonghwa?!"
"Dia orang yang cukup
bersahabat, Jonghyun ah. Dari cara dia bicara padaku, juga dari bagaimana dia
menjelaskan tentang mekanisme balapan yang akan aku ikuti. Aku tidak peduli tentang
siapa dia dan apa yang dia lakukan. Aku tidak akan terlibat karena aku hanya
akan peduli dengan uang itu saja!"
"Sampai sebegitu kah kau
membutuhkan uang itu, Yonghwa ah? Eolmana? Geunyang malhae! Berapa yang kau
butuhkan? 10 juta? 20 juta? Aku akan memberikannya padamu tapi LUPAKAN IDE GILA
ITU!!!"
Jonghyun benar-benar sudah
kehilangan kesabarannya. Yonghwa hanya akan semakin gila karena rasa putus
asanya dan Jonghyun tidak tahan lagi mendengar itu.
"Mwo? Apa kau bilang? Lee
Jonghyun, apa kau sedang memamerkan uangmu? Yak.. saekie ah.. apa dimatamu aku
adalah lelaki yang menyedihkan yang perlu kau kasihani dengan kekayaan yang
dimiliki keluargamu?! Kau sedang mengejekku, huh?! Geumanhae, Saekie ah! Kali
ini kau sudah melewati batas!" Yonghwa menatap Jonghyun dengan tatapan
tajam, sekaligus sinis. Beberapa saat kemudian, dia berpaling dan berjalan
meninggalkan Jonghyun. Tapi dalam beberapa langkah, Yonghwa kembali dan
mendekati Jonghyun yang masih terpaku.
"Aku kira kau adalah
temanku, Jonghyun ah! Aku kira setidaknya persahabatan kita ini tak akan pernah
dibandrol dengan nilai berapapun. Dan hari ini kau membuktikan padaku bahwa aku
salah! Tidak ada yang gratis di bumi ini termasuk persahabatan kita!"
Sekali lagi, Yonghwa menyorotkan tatapan tajamnya, lalu benar-benar berlalu
dari hadapan Jonghyun.
Jonghyun terpaku ditempatnya
berdiri sambil melihat punggung temannya yang perlahan menghilang dari
pandangannya. Lelaki itu menundukan kepalanya. Kata-kata Yonghwa barusan masih
terngiang ditelinganya. Akhirnya, dialah yang melakukan kesalahan itu. Dia
membuat Yonghwa terhina dengan nilai Won yang dia sebutkan tadi. Tuhan tahu,
betapa menyesalnya dia.
Jonghyun bukan tipe orang yang
akan memamerkan kekayaan ayahnya, meski Tuan Lee adalah pemilik perusahaan
manufaktur terbesar di Busan. Dia bukan orang yang akan menjadikan uang dan
status sosialnya sebagai salah satu alasan didalam persahabatnya dengan Yonghwa
dan Yoona. Meski ketiganya terlahir dari keluarga Chaebol, tapi persahabatan
mereka dimulai bukan karena status sosial keluarga mereka, melainkan karena
mereka tahu, ditengah kemewahan yang mereka terima, mereka tetap saja bukan
orang-orang yang bahagia. Dan bersama Yonghwa dan Yoona, Jonghyun mendapatkan
banyak petualangan seru yang membuat hidupnya lebih berwarna.
Dan kini dia menyakiti salah satu
orang yang paling berharga dalam hidupnya! Yonghwa pergi setelah kekecewaan
yang dia sebabkan.
To : Im Yoona
'Jigeum ottokhae, Yoona ah? Aku menyakitinya. Idiot itu benar-benar
marah padaku!'
From : Im Yoona
'Moseumniri ah jigeum? Apalagi yang dia lakukan?'
To : Im Yoona
'Yonghwa bukan lagi seorang idiot, tapi kali ini dia benar-benar gila!
Geun saekie ah, dia melibatkan diri dalam balap liar dengan Black Dragon.'
From : Im Yoona
'MWO?!! Dimana si bodoh itu sekarang? Biar kupatahkan kakinya!!!!'
*****
Usai memeriksa ulang kondisi Mr.
Black, giliran Yonghwa menyiapkan dirinya. Streching kecil dia lakukan sebelum
dia membawa Mr. Black ke lokasi track yang sudah disepakati. Dia tidak bisa
mundur dari langkah yang sudah diambilnya. Meski bagaimana pun Jonghyun dan
Yoona mencegahnya. Gwaenchanna! Dia akan melakukan yang terbaik demi mimpinya.
Pukul 00.00 dini hari, Yonghwa
membawa motornya kesebuah gudang kosong di Selatan Busan. Kangin meminta semua peserta
untuk berkumpul disana pada tengah malam. Dan Yonghwa mengikutinya.
Dia menemukan lokasi itu, lalu
beberapa orang dengan badan tinggi besar sudah berjaga-jaga di depan gerbang
besar gudang itu. Yonghwa menyebutkan nama dan tujuan kedatangnya, lalu kedua
pria itu mengijinkannya masuk. Gerbang itupun terbuka.
Didalam, Yonghwa melihat beberapa
motor sudah berjajar rapi. Lalu pria-pria bertato dengan penampilan ala
gangster sudah berkumpul juga disana.
"Oh... Jung Yonghwa
waseo?" Kangin menyapanya dengan tawa lepas. Dia bahkan berdiri dan
menghampiri Yonghwa yang baru saja melepas helmet nya usai memarkirkan Mr.
Black.
"Oh. Seperti nya aku
terlambat." Jawab Yonghwa.
"Ani.. ani! Kau datang tepat
waktu, Dollar Man! Kkaja, sapa yang lainnya!" Kangin mengalungkan tangan
kirinya dipundak Yonghwa lalu menggiringnya menemui semua yang hadir disana.
Dan tiba-tiba....
BRUKKK!!!!
Tubuhnya ambruk dilantai sesaat
setelah sebuah hantaman menghempas kepalanya. Yonghwa kehilangan kesadarannya.
Kangin tertawa sinis melihat
tubuh lemahnya tergeletak di lantai. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku
celananya, lalu mengambil foto Yonghwa yang tersungkur tak sadarkan diri. Dan
beberapa saat kemudian, jemarinya dengan cekatan segera mengirim foto itu pada
seseorang yang menjadi target utama dalam rencana nya malam ini.
To : Jung Yongdo
'Anyeong, Chingu ah! Aku menemukan Mr. Gold tergeletak disini.
Ottokhae? Haruskah aku menyelamatkannya? Atau... membiarkannya tergeletak
disini dan sedikit bermain-main dengannya? Mungkin kau hanya memiliki waktu 30
menit untuk menyelamatkan adikmu tercinta, Mr. Blue! Jika sedikit saja kau
terlambat, maka ucapkan selamat tinggal pada Mr. Gold yang kau sayangi dan kau
banggakan ini!'
To : Jung Yongdo
'Dan ingat, Chingu ah... jangan membuat kesalahan yang sama dengan
melibatkan polisi dalam hal ini. Kau hanya perlu datang kesini seorang diri.
Bagaimanapun, aku sangat merindukanmu dan ingin merayakan persahabatan kita
malam ini. Aku menunggumu, Chingu ah! Saranghae!'
*****
Kakinya seketika terasa seperti
kehilangan semua tulang penyangganya saat Yongdo menerima pesan itu.
Yonghwa-nya... adik satu-satunya yang dia miliki, bagaimana bisa dia berada di
tangan Kangin?
Dengan sisa-sisa kekuatannya,
Yongdo berusaha menghubungi Kangin.
'Yeoboseo, Nae Chingu ah! Oraemanida! Aigoo... kau tahu, aku
benar-benar merindukanmu, sobat!'
Suara Kangin menggema dibalik
speaker phone nya. Darahnya seketika mendidih mendengar suara itu lagi. Orang
yang paling ingin dia hindari kini kembali mengganggunya dan melukai Yonghwa.
"Dimana adikku sekarang,
Saekie ah?! Kau... tidak ada urusan dengannya, JADI LEPASKAN DIA DAN HADAPI
AKU, BAJINGAN!!!" Tangannya gemetar hebat. Emosinya sudah pada titik yang
nyaris meledak. Bila dia harus mempertaruhkan nyawanya untuk Yonghwa malam itu,
maka dia akan melakukannya.
"O.. o... o... tenanglah, kawan!! Kau tidak perlu emosi begitu.
Geok cheongma, aku hanya melukainya sedikit saja. Dia tidak akan mati dengan
mudah, kecuali bila kau terus menunda-nunda waktumu dengan memaki-maki aku
lewat ponsel seperti ini.
Ingat.... nasib Mr. Gold bukan berada di tanganku, Yongdo ah! Tapi
ditanganmu! Bila kau ingin menolongnya, maka jangan buang waktumu! Aku ditempat
biasa. Tempat kita pernah sama-sama menikmati hidup kita!"
"ARRRHHHGGGHH!!!!!"
Jangtungnya terasa seakan
meledak. Emosinya serasa menggumpal di ubun-ubun nya hingga Yongdo tak mampu
berfikir jernih. Dia segera meraih jaket dan kunci mobilnya, lalu secepatnya
berlari menuju basement. Namun langkahnya terhenti, saat dia mendapati Jonghyun
dan Yoona sudah berdiri didepan pintu apartemennya.
"Hyung, kau akan
pergi?" Tanya Jonghyun dengan tatapan heran, saat dia melihat Yongdo
begitu panik dan tergesa.
"Najunghae!! Najunghae,
Jonghyun ah!! Aku harus pergi sekarang." Tanpa menghiraukan keberadaan
mereka, Yongdo segera berlari menuju mobilnya. Andai saja ada Mr. Red, mungkin
dia akan memakainya untuk bisa tiba di gudang itu lebih cepat. Sayangnya, dia
meninggalkan motor nya di rumah orang tuanya dan akan memakan waktu lebih lama
bila dia harus ke sana dulu mengambilnya. Belum lagi rentetan pertanyaan yang
akan diajukan orang tuanya.
Jonghyun tidak hanya diam. Dia
pun bergegas mengikuti Yongdo. Firasat hatinya mengatakan, ada sesuatu yang
tidak beres dengan Yonghwa. Ya, dia tahu malam ini balapan itu akan
dilaksanankan dan dia datang menemui Yongdo untuk memberi tahunya. Dia ingin
Yongdo menghentikan Yonghwa. Tapi sepertinya Yongdo sudah tahu semuanya.
Sekali lagi, Jonghyun menghampiri
Yongdo di basement.
"Hyung, moseumniriseo? Apa
yang terjadi?" Jonghyun dan Yoona pun kali ini mulai terlihat panik.
"Jonghyun ah, dengar... bila
dalam waktu satu jam aku dan Yonghwa tidak kembali, segera hubungi polisi! Aku
akan menjemput anak bodoh itu di gudang selatan." Dengan tergesa, Yongdo
menaiki mobilnya, tapi lagi-lagi Jonghyun menghentikannya.
"Aku ikut, Hyung!"
"Andwe, Jong!! Kau tunggu
disini dan lakukan seperti yang aku katakan! Kangin, bajingan itu hanya akan
semakin liar bila dia tahu kau bersamaku." Kemudian, lelaki itupun berlalu
dengan menginjak pedal gas Porsche nya sekencang mungkin.
"Yoona, Kkaja!! Kita tidak
bisa tinggal diam. Setidaknya kita harus berada di tempat yang sedekat mungkin
dengan gudang itu!" Jonghyun menarik pergelangan tangan Yoona dan
mengajaknya setengah berlari menuju mobilnya.
"Ijae ottokhae, Jonghyun ah?
Apa yang terjadi pada Yonghwa? Ya Tuhan...." Gadis itu mulai merengek
dengan tangisnya begitu dia duduk di kursi mobil Jonghyun.
"Aku juga tidak tahu, Yoona
ah! Jebbal... kalau sampai sesuatu terjadi pada Yonghwa, aku bersumpah akan
menghancurkan Song Kangin!" Dengan sorot mata menyala, Jonghyun pun
bergegas menginjak pedal gas nya, menyusul Yongdo.
*****
"Ooh.... Chingu ah!!! Waseo?
Aigooo... oraemani ah! Aku sudah lama menunggumu." Dengan santai, Kangin
berjalan mendekati Yongdo yang baru saja tiba di gudang itu. Kangin bahkan
menyodorkan tangannya untuk berjabat tapi dengan sigap Yongdo menarik kerah
baju Kangin dan mendekatkan wajahnya dihadapannya.
"Dimana adikku sekarang,
brengsek?" Binar kemurkaan terpancar jelas dari kedua matanya. Tapi Kangin
hanya tersenyum lebar sambil mengusap-usap pundak Yongdo.
"Tenanglah, Chingu!! Aku
sudah menolongnya. Aku tahu, sahabat baikku pasti akan menangis sedih bila
sesuatu terjadi pada Jung Yonghwa. Lihat.... kau harusnya berterima kasih
padaku, meski aku sudah kau khianati dan kau injak-injak hingga ke dasar
jurang, aku tetap sudi menolong adikmu, meski kau datang terlambat!"
"KATAKAN DIMANA ADIKKU,
SAEKIE AH!!!!! ATAU KUBUNUH KAU SAAT INI JUGA!!!"
Yongdo akhirnya meledakkan apa
yang sejak tadi tertahan dalam kepalanya. Tapi lagi-lagi Kangin tertawa. Kali
ini lelaki itu terbahak kencang.
"Mwo?? Mwo rago?
Membunuhku?! Cuih!!! Lebih baik kau cari bualan lain karena demi Tuhan, Yongdo
ah.. kau membuatku tertawa!" Kangin terbahak semakin gila. Kemudian
tawanya berhenti tiba-tiba. Kali ini, Kangin menatap Yongdo sinis dan tajam.
"Jangan berlaga seperti
seorang ksatria, Jung Yongdo! Aku tahu, pengecut macam apa dirimu sebenarnya!
Mwo? Membunuhku? Tsk.... Jung
Yongdo.... anak konglomerat yang sangat mencintai orang tua dan adiknya. Jung
Yongdo yang sangat mencintai kehidupan dan reputasinya, hingga kau tega
menjerumuskan sahabatmu sendiri kedalam penjara. Dan sekarang... mwo? Kau masih
belum puas dan ingin membunuhku?
SEBELUM KAU MELAKUKAN ITU, AKU
YANG AKAN MEMBUNUHMU DAN SEMUA YANG KAU CINTAI, SAEKIE AH!!!!"
"MAKA LAKUKANLAH DAN
LEPASKAN YONGHWA!!!"
Kedua pria itu saling menatap
tajam. Api kebencian berkobar dari mata keduanya.
"Mwo rago? Melepaskannya?
Hhh... kau masih berfikir bahwa aku masih sebodoh tahun lalu? Ani.... ani...
Yongdo ah!! Kali ini aku lebih pintar. Aku tahu, bahwa Yonghwa adalah titik
terlemah dalam hidupmu. Dan aku......
Aku membutuhkannya untuk bisa
menyakitimu!"
Kangin menunjukan telunjuknya ke
dada Yongdo. Tidak bisa Yongdo ingkari, bahwa ancaman itu membuatnya gentar.
Dia tidak pernah takut pada apapun dan rela kehilangan apapun. Tapi jangan Jung
Yonghwa. Yonghwa adalah satu-satunya alasan Yongdo untuk hidup ditengah tekanan
dan deraan yang dilakukan Appa nya. Yongdo harus bisa lebih kuat dari Appa nya
agar dia bisa melindungi Yonghwa dari sikap otoriternya. Yongdo rela, mengambil
porsi menjadi anak yang patuh, hanya agar Yonghwa bisa terbebas dari semua
tanggung jawabnya sebagai pewaris keluarga Jung dan hidup bebas mengejar
mimpinya.
Mimpi yang tak mampu diraihnya.
"Yonghwa tidak ada kaitannya
dengan urusan kita, Kangin ah! Geurokhae jebbal, lepaskan dia. Aku berjanji
untuk memenuhi semua keinginanmu, tapi lepaskan adikku. Aku mohon, Kangin
ah!" Suaranya mulai bergetar seiring rasa takut yang nyaris menguasai
pertahanannya.
"Jeongmal??? Apapun
mauku???" Kangin menggoda nya dengan Aegyeo yang membuatnya muak.
"Andwe, Jung... Yong...
Do!!! Kali ini, aku tak akan termakan omong kosongmu!"
"Jebbal, Kangin ah! Jangan
lakukan ini! Harusnya kau lebih tahu, bahwa aku melakukan itu padamu karena aku
peduli padamu, Saekie ah! Aku ingin kau berhenti karena apa yang kau lakukan
sudah terlalu jauh!"
"TUTUP MULUTMU ATAU AKU AKAN
BENAR-BENAR MEMBUNUHMU!!" Kangin mencengkram leher Yongdo dan menyeretnya
hingga menempel di dinding pilar.
"Kau, tidak berhak berbicara
tentang kesetiaan, kepedulian, moral atau apa yang benar yang harus aku
lakukan. Semua itu terdengar seperti kotoran ditelingaku! Bagiku, kau adalah
sampah yang sudah menghancurkan hidupku. Kesalahan terbesar yang aku lakukan
adalah dengan mempercayaimu.
Ani! Kebodohanku, karena aku
menganggapmu sebagai sahabat selama bertahun-tahun!" Tatapan marahnya
berubah menjadi sebuah kesedihan yang tak tergambarkan. Betapa kecewa dan
terlukanya Kangin karena perbuatan Yongdo.
"Kangin ah... kau tidak
mengerti! Aku menghentikanmu karena aku...."
"Geumanhae!!! Aku tidak
ingin mendengar apapun dari mulutmu! Yang harus kau lakukan saat ini
adalah.....
Penuhi janjimu padaku setahun
yang lalu!"
"Mwo? Kangin ah.. aku bahkan
tidak membawa Mr. Red dan sudah lama aku tidak menaikinya."
"Kau fikir aku peduli, huh?
Kau fikir aku melakukan hal gila ini hanya untuk mendengar alasan anak mami
sepertimu? Hei, budy... fikirkan keselamatan Mr. Gold yang kau cintai!"
Kangin menunjukkan telunjuk nya
ke sebuah kursi di ujung gudang. Yonghwa terikat disana dengan beberapa pria
yang siap menyakitinya bila Yongdo melakukan kesalahan.
"Yonghwa ah...."
Hatinya kembali bergetar. Yonghwa sedang menatap kearahnya dengan tangisan
tanpa suara karena mulutnya tertutup lakban hitam.
"Arasso, Kangin ah! Kita
lakukan malam ini. Aku akan memakai motor Yonghwa. Perjanjiannya masih seperti
tahun lalu, bila aku menang... kau harus melakukan apa mauku, dan lepaskan
adikku! Dan bila aku kalah, geurae, aku akan kembali dengan kalian."
"No... no... no!!! Kali ini
aku yang buat peraturan, Jung Yongdo! Satu tahun dalam penjara membuatku
berfikir keras, kira2 permainan apa yang harus kulakukan bersamamu saat aku
keluar dari sana?
Dan aku punya ide!
Yongdo ah.... bila kau menang,
aku akan melepaskan adikmu. Tapi bila kau kalah, kau bukan hanya harus kembali,
tapi kali ini... kupastikan kau akan kehilangan apa yang kau miliki saat ini.
Jung Yongdo, putera konglomerat Jung Taewon ternyata seorang ketua gangster
pengedar marijuana dan pelaku pencurian sepeda motor. Tidak hanya sampai situ.
Kau juga akan mencuci bersih nama baikku yang sudah kau hancurkan tahun lalu."
"Neol Mitjoseo!!!"
"Terserah padamu! Putuskan
saja, selagi adikmu melihatnya!"
Yongdo sekali lagi menatap
adiknya. Yonghwa tampak menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai isyarat agar
Hyung nya tidak melakukan itu.
"Geurae! Lakukan maumu,
Kangin ah! Dan lepaskan Yonghwa!"
*****
Yongdo sudah duduk diatas Mr.
Black dan siap melakukan race itu. Begitupun Kangin. Dia mengumpulkan semua
rasa percaya dirinya, bahwa dia akan mengalahkan Yongdo kali ini.
Dan race itupun dimulai. Keduanya
melajukan motor yang mereka tunggangi secepat kilatan petir. Dalam kecepatan
yang mereka kendalikan, disadari atau tidak, salah satu dari mereka sedang
mengantarkan nyawanya. Dan salah satunya lagi, akan menangis seumur hidupnya
karena penyesalan.
Motor mereka melaju menembus
malam yang kian pekat. Jalan raya tampak lengang, karena manusia pada umumnya
sedang terlelap tidur malam itu. Bukan dijalanan. Melakukan balap liar!
Yongdo masih tetap seperti dulu.
Selalu memimpin meski dalam kondisi tidak fit sekalipun. Terlebih kali ini.
Yongdo harus bisa mengalahkan Kangin dan
membebaskan Yonghwa.
Jung Yongdo, kembali menunjukkan
skill nya.
Kangin masih berusaha menyusul
Yongdo dengan segenap kemampuannya. Lelaki ini seakan tidak membutuhkan handle
rem ditangan kanannya karena memang, dia tidak pernah menggunakannya. Hingga
mereka harus berhenti di sebuah lampu merah. Yongdo dari jarak beberapa puluh
meter sudah mulai mengurangi kecepatannya, dan berjaga bila ada kendaraan yang
melintas dari arah berlawanan. Benar saja, sebuah truk besar sedang melaju dari
sebelah kanan. Dia bersiap untuk berhenti, tapi dari kaca spionnya, Yongdo
melihat Kangin masih melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Tanpa berfikir
panjang, Yongdo memutar Mr. Black 90° dengan maksud ingin menghentikan Kangin
dan mencegahnya dari tabrakan hebat dengan truk yang akan melintas. Tapi usaha
yang dilakukannya tidak cukup untuk menahan kecepatan motor Kangin. Akhirnya,
kedua motor mereka beradu dan keduanya terhempas jauh dari motor mereka
masing-masing.
Jung Yongdo, tubuhnya melayang,
menghantam truk yang semula dihindarinya. Kangin menyaksikan semua itu dan....
"Yongdo ah!!! Jung Yongdo...
andwe!!!" Dengan darah bercucuran dikepalanya, dan sisi-sisa kekuatan yang
dia miliki, Kangin menyeret langkahnya mendekati tubuh Yongdo yang tak bergerak
diatas aspal.
"Yongdo ah, irona!! Saekie
ah... jebbal... buka matamu!" Air mata mulai deras mengalir diwajahnya
seiring rasa takut yang menguasai hatinya. Kangin mulai menangis, saat dia
meraih tubuh Yongdo dan merebahkannya dalam pangkuannya. Sahabatnya, kini
terdiam dengan kepala yang berlumuran darah.
"Saekie ah... irona!!! Kau
tak mungkin semudah ini mati!!!" Kangin mengguncang-guncang tubuh Yongdo
di pelukannya.
"Kangin ah....
mianhae!" Yongdo membuka matanya perlahan. Suaranya terdengar lemah.
"Aku tidak pernah
mengkhianatimu, demi Tuhan! Aku hanya ingin kau berhenti merusak hidupmu
seperti itu. Kau.... dan aku..... seburuk apapun hidup kita..... kita pantas
berdiri sebagai manusia! Sepahit apapun hidupmu, setidaknya kau harus mati
sebagai manusia." Suaranya kian melemah. Nafasnya samakin terengah dan
darah segar mulai keluar dari mulutnya. Kangin semakin panik.
"Yongdo ah! Andwe!! Jebbal,
bertahanlah! Saekie aah.... belum cukupkah kau hancurkan hidupku? Setidaknya
kau harus hidup agar kau bisa minta maaf padaku dengan benar!!!
Ani...
Kau harus hidup agar aku bisa
minta maaf padamu, Jung Yongdo! Mianhae, saekie ah!!! Jeongmal mianhae!"
Kangin menangis semakin menjadi sambil memeluk tubuh Yongdo.
"Phabo!! Apa aku harus
berlumur darah seperti ini, baru kau menyadarinya? Huh?" Yongdo
terbatuk-batuk dan kembali mengeluarkan darah.
"Kangin ah, jangan
mengganggu Yonghwa. Anak itu terlalu bersih. Tidak seperti kita yang penuh
dosa."
"Geok cheongma, aku hanya ingin
menggunakan dia untuk mengganggumu. Geurokhae jebbal, Yongdo ah, jebbal...
bertahanlah..." Sedu sedan nya kian parah. Rasa takut terasa menghimpit
dadanya. Bukan akhir seperti ini yang Kangin inginkan. Dia tidak pernah
benar-benar berniat menyakiti sahabatnya. Tidak akan pernah.
Yongdo menatap tangisan pilu
sahabatnya. Perlahan, tangannya yang lemah menggapai wajah Kangin.
"Song Kangin..... Nae
Chingu..... gomawo....."
Lalu tangan itu terkulai dan
jatuh keatas aspal. Tubuhnya tak lagi bergerak. Jung Yongdo... meninggalkannya
disana.
*****
Flash Back End
"Duka itu sepekat kabut
diakhir musim gugur. Aku kehilangan diriku selama berbulan-bulan hingga harus
menerima treatment khusus di rumah sakit karena dugaan gangguan kejiwaan. Aku
berhenti berbicara, berhenti tertawa bahkan aku tidak menangis sedikitpun sejak
aku mendengar kabar bahwa Hyungku, teman terbaikku, pahlawanku.... tewas malam
itu."
Seohyun bisa dengan jelas
melihatnya. Luka menganga yang tergambar dari sendu wajahnya. Yonghwa
menundukkan kepalanya, membenamkan pilu yang bertahun-tahun tak pernah
sekalipun dia katakan pada siapapun.
Lembut, Seohyun meremas jemari
Yonghwa dengan tangan kecilnya. Dia bahkan tidak tahu harus melakukan apa untuk
membuatnya merasa lebih baik.
"Tapi akhirnya kau berhasil
melewatinya, Oppa. Yongdo Oppa pasti bangga melihatmu kini." Kata-kata itu
mungkin terdengar seperti basa basi. Tapi hanya itu yang setulus hati bisa
Seohyun ucapkan.
"Aku harap begitu, Hyun.
Karena untuk sampai ketitik ini, aku benar-benar berjuang keras melawan diriku
sendiri. Kau tahu, memaafkan diri sendiri itu tidak mudah, Joohyun ah. Setiap
kali teror-teror itu datang mengganggu tidur malamku dan menyiksaku dengan rasa
bersalah yang tak pernah berujung, kadang dipagi harinya aku berfikir.... ya...
setidaknya hukuman ini pantas untukku.
Hyungku akan terlihat sangat menyedihkan
bila setelah apa yang aku lakukan padanya, aku masih bisa hidup dengan
tenang."
Ada senyum getir merekah
diwajahnya. Lelaki itu tampak begitu lelah. Begitu terhukum oleh penghakiman
yang dilakukan oleh dirinya sendiri. Seohyun mengerti, tidak akan mudah
membebaskan diri dari hukuman itu.
"Kau salah, Oppa. Andai Oppa
benar-benar memahami kasih sayang Hyung-mu padamu, kau tidak harus memenjara
dirimu sendiri dalam perasaan bersalah seperti ini. Apa yang Hyung-mu lakukan
untukmu, semata karena dia berharap kau akan menjalani hidupmu dengan baik.
Baginya, hidupmu lebih berharga dari hidupnya hingga dia rela melakukan itu.
Bayangkan, betapa hancurnya hati Yongdo Oppa bila dia melihatmu terluka seperti
ini."
Untuk kesekian kalinya, ucapan
Seohyun menyentuh hatinya paling dalam. Hingga air matanya kembali meluncur
bebas, namun bergegas di usapnya. Benarkah? Benarkah yang Seohyun katakan?
Akahkah Hyung-nya berfikir begitu?
"Aah... Seo Joohyun! Neol
jinjja!" Yonghwa kembali merekahkan senyumnya usai mengusap air matanya.
Lalu dia memutar tubuhnya dan menatap Seohyun disampingnya.
"Gomawo, Joohyun ah! Gomawo,
telah datang dihidupku dan mendengarkan kisah usang ini. I wish i would have
found you sooner so i could feel better. But it's okay. Thank you for being
here anyway. Thank you for telling me that way. I was so afraid that he would
be angry and doesn't want to see me again in our next life."
Kedua matanya kembali memerah dan
berkaca-kaca ditengah senyumnya. Seohyun segera meraih wajahnya dengan salah
satu tangannya.
"He won't, Oppa. He missing
you too and i'm so sure that he's waiting to see you again in the next life.
Tapi sebelum saat itu tiba, cobalah untuk hidup dengan baik. Menjadi Jung
Yonghwa seperti yang diinginkan oleh Yongdo Oppa. Agar saat kau bertemu lagi
dengannya nanti, kau bisa menegakkan bahumu sambil tersenyum padanya."
Kali ini, Yonghwa gagal
menahannya. Sesak dalam dadanya yĂ ng selama 6 tahun ini dia pendam sendiri,
akhirnya kini bermuara. Satu persatu air matanya menetes dalam sentuhan tangan
Seohyun dipipinya. Dan Seohyun tidak mampu memikirkan hal lainnya selain
menarik tubuh itu perlahan dan membenamkannya ditubuhnya.
"Charieseo, Jung Yonghwa!
Kau telah melakukannya dengan baik." Joohyun mengusap lembut punggung
Yonghwa. Lalu beberapa saat kemudian, Yonghwa mulai melingkarkan kedua
tangannya dan memeluk Seohyun lebih erat. Kedua matanya terpejam. Dia biarkan
separuh wajahnya terbenam di pundak Seohyun dan sekali lagi menangis tanpa
suara.
"Kau tidak takut padaku,
Hyun?" Tanya nya lirih, masih dalam pelukannya.
"Ani. Kenapa aku harus takut
padamu?" Jawabnya, masih terus mengusap punggungnya.
"Karena aku pasien rumah
sakit jiwa." Suaranya semakin lirih. Seohyun terdiam beberapa waktu,
kemudian perlahan dia melepas pelukannya. Dia menatap wajah rapuh dihadapannya
sambil mengusap lembut pipinya.
"Untukku, kau hanyalah Jung
Yonghwa.
Ya... kau hanya seorang Jung
Yonghwa!"
"Locked
Away"
R.
City feat. Adam Levine
If I got locked away
And we lost it all today
Tell me honestly, would you still love me the
same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly, would you still love me the
same?
Right about now
If I judge for life, man, would you stay by
my side?
Or is you gonna say goodbye?
Can you tell me right now?
If I couldn't buy you the fancy things in
life
Shawty, would it be alright?
Come on show me that you know
Now tell me would you really ride for me?
Baby tell me would you die for me?
Would you spend your whole life with me?
Would you be there to always hold me down?
Tell me would you really cry for me?
Baby don't lie to me
If I didn't have anything
I wanna know would you stick around?
*****
6 tahun lalu, tidak satu emosipun
Yonghwa tunjukan, dan itu semakin menyiksa Appanya. Anak sulungnya tewas
mengenaskan, istrinya masuk rumah sakit karena duka cita tak terperi yang harus
dia terima atas kematian Yongdo. Dan maknae nya dalam depresi yang tak mampu
dia sembuhkan.
Tuan Jung akhirnya membawa
keluarganya ke Amerika dan menetap disana selama 2 tahun. Sampai Yonghwa bisa
menerima kenyataan, dan kembali menjalani kehidupan normalnya. Begitupun
istrinya. Ny. Jung berusaha menguatkan dirinya demi Yonghwa. Karena kini, hanya
dia yang mereka miliki. Tuan Jung pun sangat terpukul dengan peristiwa ini. Dia
tidak pernah mengira, bahwa keegoisannya bisa membuat kedua putera berharganya
begitu menderita. Dia hanyalah seorang Appa yang menginginkan kehidupan yang
baik untuk Yongdo dan Yonghwa.
Di Amerika, Yonghwa bertemu
Minhyuk dan Jungshin. Mereka dipertemukan takdir karena kejadian tragis yang
pernah terjadi dalam hidup mereka. Ketiga pria depresi ini seperti saling
terikat satu sama lain setelah sering menghabiskan waktu bersama sepulang
kuliah mereka. Disinilah CNBLUE berawal. Setelah itu, Jonghyun dan Yoona
akhirnya mengikuti Yonghwa ke Amerika demi mendukung kesembuhannya. Yonghwa
menemukan mimpi dan hidup barunya bersama mereka.
Music. In the name of CNBLUE.
Code Name Blue. Seperti sebutan
untuk Hyung-nya.
Dan Song Kangin..... sekali lagi
dia harus kembali merasakan dinginnya tembok penjara dan kali ini untuk waktu
yang lebih lama. Ya, dia memang pantas menerima hukuman itu. Meski sebenarnya,
tanpa dinding penjarapun, Kangin sudah cukup dihukum dengan kehilangan Yongdo
dalam pelukannya sendiri. Satu-satunya sahabat yang tanpa syarat menemaninya
disaat anak-anak yang lain menjauh karena kemiskinan yang keluarganya alami.
Yongdo lah, yang menjadi satu-satunya orang yang tetap bersamanya sejak mereka
SMP hingga dewasa kini.
Dan Kangin teramat menyesal
hingga ketitik yang membuatnya ingin mengakhiri hidupnya sendiri, saat dia
mengingat bahwa dia harus kehilangan orang terbaik dalam hidupnya hanya karena
sebuah kesalah fahaman saja. Dia mengakui, semua kenakalan yang pernah mereka
lakukan bersama hanyalah demi sebuah kesenangan semata. Tidak pernah sekalipun
mereka melakukan tindak kriminal terlebih yang akan merugikan orang lain.
Terakhir kali, Kangin tergoda
untuk melakukan transaksi ilegal dengan menjadi kurir marijuana. Alasannya
hanya satu. Dia butuh uang untuk pengobatan neneknya dan itu tidak sedikit.
Berkali-kali Yongdo menawarkan bantuannya, tapi Kangin tak mau menerimanya. Ya,
dia memang miskin. Tapi dia punya harga diri yang tak akan pernah dia gadaikan
demi uang. Juga persahabatan yang dia miliki bersama Yongdo. Lucu, memang.
Bukankah kisah ini sama dengan yang Yonghwa dan Jonghyun alami? Ya, memang
begitulah adanya.
Dan usaha terakhir Yongdo untuk
menghentikannya adalah dengan melaporkannya pada polisi sebelum Kangin terlibat
lebih jauh. Saat itulah, dua sahabat itu berubah menjadi dua orang asing yang
berusaha untuk saling menyakiti.
