Rabu, 21 Oktober 2015

In Time With You Chapter 12



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8
 



Chapter 12

Fight (Seohyun POV)

"Joohyun ah, jamkaman. Aku harus ke toilet sebentar. Tunggu yah." Jinwoon beranjak usai kuanggukkan kepalaku. Aku masih menikmati musiknya. Dan juga choco lava di hadapanku. Tapi sesuatu terasa berbeda. Aku merasa... seperti sepasang mata sedang menatap dan memperhatikanku.

Tapi tak kuhiraukan.

Beberapa waktu kemudian, Jinwoon kembali sambil membawa 2 mangkuk ice cream ditangannya.

"Jang..!!! For you, My Lady..." Lelaki itu tersenyum manis sambil menyimpan mangkuk ice cream itu dihadapanku.

"Igae mwo ya? Yak.. woonie ah! Apa kau tahu berapa banyak gula yang aku makan hari ini? Aigoo... dan ice cream ini...! Ottokhae.. aku tidak sanggup menolaknya!" Kali ini Jinwoon meledakan tawanya usai mendengar ucapanku.

"Gwaenchanna, Joohyun ah! Geok cheongma, bila tidak ada satupun lelaki yang mau menikahimu karena berat badanmu nanti, aku berjanji, aku akan bertanggung jawab untuk itu! I'm gonna marry you for sure, i promise!"

"Yak!!!! Kau masih belum puas kupukul yah?!!!" Nyaris saja kulayangkan tanganku ke tubuhnya  tapi tiba-tiba.. 

"Hei... kau fikir kau siapa berhak memukul namja-ku?!"

..............

Kepalan tanganku terhenti dan melayang diudara kala seorang gadis cantik tiba-tiba muncul dihadapan kami. Son Naeun, penyanyi dan artis cilik yang kini beranjak dewasa dan semakin berkilau dengan kariernya.

"Son Naeun, apa yang kau lakukan disini, tengah malam seperti ini?" Ditengah kepanikannya, aku tahu Jinwoon sedang berusaha mengendalikan situasi. Situasi yang  benar-benar tidak aku mengerti.

"Mwo? Na ya? Wae?!! Kau tidak menyangka bukan, kalau aku akan menemukanmu disini, tengah malam seperti ini, dengan seorang wanita yang kau panggil My Lady dan.. MWO???!!! Kau bilang kau akan menikahinya?! Yak!!! Jung Jinwoon, kau sedang menggali kuburanmu sendiri ya?!!"

Perempuan itu kian sengit, bahkan suaranya berhasil mengundang perhatian seisi café malam itu. Jinwoon yang mulai hilang kesabarannya tampak berusaha menarik tangan Son Naeun untuk pergi bersamanya. Tapi gadis itu berontak dan menghentikannya.

"Lepaskan tanganku!!!" Kedua orang itu saling bertatapan kini. Andai saja sebuah tatapan bisa melukai seseorang, maka aku yakin, dua orang itu sudah berdarah-darah malam itu.

Perempuan itu kembali menatapku, lalu berjalan menghampiriku lebih dekat.

"Apa Jinwoon Oppa belum memberitahumu? Bahwa aku adalah kekasihnya?" Raut wajah itu bisa kuartikan seperti sedang menyulut tanda perang ke arahku. Meski aku tak mengerti, apa maksudnya?

"Son Naeun, jebbal... geumanhae! Kau tidak bisa berbuat seperti ini pada Joohyun!" Jinwoon berusaha menarik kembali tangan gadis itu yang semakin terlihat murka.

"Mwo? Memangnya kenapa? Memangnya dia siapa hingga kau memperlakukannya lebih istimewa dariku? Apa kau lupa, apa yang membuatmu bisa berdiri di posisimu sekarang hingga semua orang bisa mengenal dan menyukaimu? Dan perempuan ini.. sama sekali tidak pantas kau bandingkan denganku!!!!"

"SON NAEUN!!!!" Jinwoon membentaknya dan itu membuatku terhenyak karena baru kali ini aku melihat dia meledak seperti itu.

"Mwo?!!! Kau berteriak padaku? Demi perempuan ini?!!!" Son Naeun semakin menjadi dan pandangannya kembali mengarah padaku.

"Kau lihat? Karena parasit sepertimu, namjaku sendiri berani melakukan itu padaku. Neol nugu ah?!! Siapa kau sebenarnya? Saesang fans murahan yang mencoba menggoda kekasihku, huh? Aku bersumpah akan membuatmu menyesal!!!!!!" Gadis itu berteriak histeris kemukaku hingga aku kehilangan keseimbanganku dan nyaris jatuh terlentang. Tapi tubuhku tertahan oleh sesuatu yang memegangiku dari belakang.

"Jaga ucapanmu, Nona... atau kau akan kehilangan popularitasmu saat kau terbangun dari tidurmu besok pagi!!!" Aku mendengar sebuah suara yang sangat aku kenal. Beberapa saat kemudian, kurasakan tanganku sudah terkunci dalam genggaman tangannya.

"Perempuan dihadapanmu ini.....

Dia milikku!"

Jung Yonghwa, apa yang kau lakukan?

"Nde? Dangshin... nugueyo?" Naeun sedikit kehilangan tensinya yang terdengar dari nada bicaranya yang mulai menurun.

"Jung Yonghwa. Aku kekasihnya." Mata gadis itu terbelalak usai mendengarnya. Begitupun dengan Jinwoon. Dan satu lagi yang tak kalah terkejutnya. Aku!

"Hyun, gwaenchanna?" Yonghwa menoleh kearahku dan menatapku dengan tatapan teduhnya. Tatapan yang kurindukan. Benar-benar kurindukan hingga setiap malam dirinya hadir dalam mimpi-mimpiku. Dan genggaman tangannya yang mengunci erat jemari tanganku....

Tuhan, mimpikah aku?

"Joohyun ah, mianhae. Seharusnya semua ini tidak harus terjadi. Jeongmal mianhae." Jinwoon mengiba dan menatapku penuh rasa bersalah.

"Gwaenchanna, Jinwoon ah! Aku juga minta maaf, karena aku tidak tahu bahwa aku bisa menjadi penyebab kesalah fahaman diantara kalian. Kau tidak pernah bilang kalau kau..."

"Gwaenchanna. Semua ini hanya salah faham, Joohyun ah. Aku akan menyelesaikannya. Dan... Jung Yonghwa Ssi, aku... minta maaf, telah membuat suasana seperti ini. Aku tidak bermaksud untuk memperlakukan sahabatku seperti ini. Jeongmal mianhaeyo!" Kurasakan Yonghwa menggenggam tanganku lebih erat. Dia bahkan mengusap-usap punggung tanganku dengan ibu jarinya.

"Mungkin lain kali kau harus membuat segalanya lebih jelas dimata kekasihmu, Jinwoon Ssi. Jangan sampai karena kesalahan yang menggelikan ini, mulut busuk kekasihmu bisa melukai orang lain. Dan aku tidak ingin mendengar sekali lagi kekasihmu merendahkan gadisku seperti tadi. Jadi jelaskan padanya, bahwa sebelum kenangan antara kalian tercipta, kekasihku sudah lebih dulu berada dalam hidupmu sejak kau kecil!"

Untuk kedua kalinya, aku kembali dikejutkan dengan apa yang Yonghwa lakukan. Bagaimana bisa dia mengatakan semua itu? Dari mana dia tahu....

Ah.. maja!! Malam itu, di KCC, dia pasti mendengar semuanya.

"Nde, algaeseupnida! Sekali lagi aku minta maaf pada kalian." Jinwoon sedikit menundukkan kepalanya. Sejujurnya, aku merasa buruk melihatnya meminta maaf dan melakukan itu padaku juga Yonghwa. Seharusnya gadis busuk itu yang melakukannya. Tsk... bahkan setelah dia tahu segalanya, perempuan ini masih saja bersikap arogan dan enggan minta maaf. Rasanya aku tidak rela sahabat kecilku punya kekasih seperti ini.

"Mianhae opso, Jinwoon ah! Nan gwaenchanna!" Aku mencoba merekahkan senyum terbaikku demi menghapus rasa bersalahnya.

"Geurae, kalau begitu, aku pulang duluan, Joohyun ah. Untuk hari ini, gomawo. Kau akan pulang dengan...

"Geok cheongma! Tentu saja Joohyun akan pulang bersamaku. Urus saja kekasihmu sebelum dia mempermalukan dirinya lebih parah." Nada bicara Yonghwa masih terdengar tidak bersahabat. Begitupun dengan expresi diwajahnya.

"Arraso. Jalja, Joohyun ah." Jinwoon melambaikan tangannya dengan senyum tipis di sudut bibirnya. Tangannya kembali meraih tangan gadis itu. Dan kali ini, Jinwoon berhasil membawanya pergi.

Kini, yang tersisa hanya aku... dan Mr. Blue yang masih menggenggam erat tanganku.

"Kkaja, Joohyun ah!" Tanpa menoleh kearahku, Yonghwa menarik tanganku dan mengajakku keluar meninggalkan tempat itu. Hingga kamipun tiba di depan SUV miliknya yang terparkir tak jauh dari sana. Yonghwa melepaskan tanganku lalu memintaku menaiki mobilnya.

Sejenak, suasana hening tercipta. Beberapa menit kami berdua hanya duduk terdiam didalam mobilnya, tapi Yonghwa tak kunjung menyalakannya. Dia hanya duduk dibelakang kemudi sambil menatap lurus kedepan. Entah apa yang ada dalam fikirannya.

"Gomawo.... Oppa..." Kuputuskan untuk memecah keheningan yang mulai terasa menyebalkan itu. Dan aku berhasil membuat Yonghwa bereaksi dengan menghela nafas panjang lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

"Seo Joohyun, setidaknya kau harus tahu dengan siapa kau pergi. Aku tahu, dia itu sahabatmu, tapi harusnya kalian tidak pergi selarut ini terutama karena sahabatmu itu sudah punya kekasih. Dan kekasihnya benar-benar seorang psyco!"

Ada yang aneh dari tatapannya kali ini. Mwo? Aku tidak ingin berfikir kalau lelaki ini sedang menghakimiku tentang kejadian tadi.

"Apa maksudmu, Oppa? Aku tahu, harusnya kesalah fahaman seperti tadi tidak terjadi. Tapi aku sama sekali tidak tahu kalau Jinwoon punya kekasih. Aku juga tidak berencana untuk menghabiskan waktu hingga selarut ini dengannya, hanya saja tadi Jinwoon datang terlambat karena pekerjaannya. Kami hanya makan malam biasa, kok. Dan hubunganku dengan Jinwoon tidak lebih hanya sebagai sahabat lama yang kembali bertemu di kota besar ini. Geurigo jebbal... jangan berfikir macam-macam tentang kami."

Tuhanku, entah untuk apa kujelaskan semua itu? Yonghwa bahkan bukan siapa-siapa dalam hidupku dan aku tidak perlu melakukan semua ini hanya karena dia sudah menolongku dengan menjadi kekasih palsuku.

Tsk... kekasih palsu!!

"Bagaimana mungkin aku tidak berfikir macam-macam? Aku melihatnya menggandeng tanganmu saat kalian datang tadi. Aku juga melihat caranya menatapmu, caranya tersenyum padamu, bagaimana dia memanggilmu My Lady, dan bahkan dia berjanji akan menikahimu! Apalagi yang bisa aku fikirkan saat itu?" Tatapannya kian tajam mengarah padaku membuatku semakin tersudut. Dan kalimat sinisnya itu! Haruskah Yonghwa bersikap seperti ini?

"Geurae, katakanlah aku memang salah karena dengan lugunya menerima ajakannya tanpa bertanya lebih dulu apakah dia punya kekasih atau tidak. Meski sejujurnya semua itu terdengar menggelikan dan kekanak-kanakan. Tapi... apakah kau harus bereaksi seperti ini padaku? Kenapa kau harus marah?" Aku mencoba menahan diriku, tapi pada akhirnya, aku hanya bisa membalas kata-kata nya dengan level intonasi yang sama.

"Seo Joohyun, dengar... seandainya aku tidak ada disana, apa yang akan kau lakukan? Apa kau hanya akan diam saja dipermalukan oleh anak ingusan seperti itu? Dan sahabatmu itu... apa yang dia lakukan? Setidaknya bila dia tidak bisa membungkam mulut kekasihnya, maka dia harus bisa melindungimu dengan benar. Kau fikir melihatmu berdiri diantara banyak pasang mata, melihatmu dimaki dan direndahkan seperti itu, semua itu tidak membuatku marah? Huh?!"

"Aku tahu, Oppa... dan aku berterima kasih untuk pertolonganmu tadi. Tapi kau tak perlu bersikap seperti ini. Aku mengerti kalau kau... kau.. mungkin memperhatikanku. Atau hanya simpati padaku. Tapi semua sudah cukup, Oppa. Jangan bersikap seolah kau adalah benar-benar kekasihku. Karena kenyataannya bukan!

Bukan, Oppa!"

Untuk terakhir kalinya, aku menatap matanya dengan tegas sebelum kuputuskan untuk keluar dari mobilnya. Lebih baik aku memanggil taxi atau naik bus saja. Semakin lama aku bersamanya, maka perdebatan itu tak akan pernah berakhir.

Aku berjalan sendiri dibawah cahaya bulan. Ada rasa sakit menghimpit dalam hatiku saat kalimat terakhir tadi kutegaskan padanya. Aku membuat segalanya semakin jelas. Tentang siapa aku dalam hidupnya.

Bukan siapa-siapa baginya.

Tak ada satupun taxi datang melewati halte bus tempatku duduk kini. Satu-satunya harapanku, semoga bus terakhir segera datang, karena cuaca dipenghujung musim gugur benar-benar menusuk tulangku. Dan syukurlah, bus yang kutunggu akhirnya tiba. Aku segera berdiri dan melangkahkan kakiku untuk menaikinya. Hanya ada 4 orang penumpang didalamnya dan aku memilih tempat duduk single di baris ketiga. Bus kembali terhenti setelah hampir melaju. Kulihat pintunya kembali terbuka dan seseorang masuk menaikinya. Mataku kembali terbelalak.

Jung Yonghwa, apalagi yang dia lakukan?

Untuk sesaat, mata kami saling bertemu. Tapi tak sepatah katapun dia katakan, melainkan hanya berjalan melewatiku, lalu duduk dibaris keempat. Tepat dibelakangku.

Bus pun membawa kami melaju menembus malam. Cuaca dingin masih terasa meski penghangat didalam bus itu menyala. Pandanganku melayang pada jendela kaca disampingku. Dan kutemukan bayang wajahnya disana.

Ya, lelaki itu menatapku sendu.

After a tiring day passes, underneath the moonlight,
Two people become one shadow
A vague happiness that seems reachable is still over there
Even if my scarred heart casts a shadow on your dreams
Please remember that a person,
Who loves you till it hurts, is next to you
Although this path seems far sometimes,
Even if you shed tears out of sadness
Until everything becomes a memory,
Let’s become each other’s resting place
When I’m walking with you,
When I can’t see where I need to go or the path I’m on
I’ll remember the world of that day
When everything dazzled with just you alone

Sebuah lagu berjudul Du Saram yang dinyanyikan oleh Park Jang Hyun mengalun, menambah pekat kesedihanku. Sekali lagi aku merasa, jarak antara aku dan Yonghwa begitu jauh, meski tubuh kami begitu dekat.

*****

Masih tak ada kata yang keluar baik dari mulutku ataupun Yonghwa. Selama didalam bus, hingga kami berjalan dari halte pemberhentian kami menuju apartemennya, lelaki itu hanya berjalan mengikutiku dibelakang seperti sebuah bayangan. Begitupun saat kami berdiri didalam elevator. Mulut kami benar-benar rapat terkunci.

Aku memasukan beberapa digit pass code begitu aku tiba didepan pintu unitnya. Tanpa menunggu lama, aku segera melepas sepatuku dan menukarnya dengan slipper pink milikku. Bergegas, aku berjalan menuju kamarku. Tapi kemudian langkahku terhenti saat tangannya meraih lenganku.

Kulayangkan pandanganku padanya, tapi kidapati wajahnya tertunduk menghindari mataku. Beberapa saat, waktu hanya terhenti seperti itu. Hingga kudengar suaranya lirih, setengah berbisik.

"Aku benci saat melihatnya datang sambil memegang tanganmu.

Aku benci melihatnya tersenyum padamu lalu kau membalas senyumnya.

Aku benci saat mendengarnya tertawa dan kaupun tertawa bersamanya.

Aku benci melihatnya berhasil membuatmu bahagia, Joohyun ah!"

Ada kesedihan yang terasa begitu pekat pada suaranya dan juga caranya menatapku.

"Aku bahkan nyaris putus asa dalam mencari cara untuk mengembalikan hubungan kita seperti semula yang aku tahu semua itu tak akan pernah bisa.

..................

Aku tak bisa menepis apa yang aku rasakan padamu, Hyun."

Untuk sesaat, aku hanya menatap wajahnya. Tak ada kata yang mampu kuucapkan karena sejujurnya, aku tidak tahu harus berkata apa.

"Melihatnya bersamamu, semua itu membuatku takut, Hyun!" Lelaki itu kembali menundukkan wajahnya. Seribu rasa berkecamuk menyiksa batinku. Permainan apalagi yang sedang dia bawakan kini?

"Lalu aku harus bagaimana, Oppa? Ani ah... lebih tepatnya... dimana sebenarnya aku harus berdiri?" Aku menatapnya semakin tajam. Aku harap, dia mengerti maksud dari pertanyaanku.

"Aku tidak tahu, Hyun. Aku hanya tahu bahwa hal yang paling aku takutkan saat ini adalah kehilangmu." Kesedihan dimatanya semakin tampak nyata. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Lalu kau ingin aku melakukan apa?" Kali ini, kulemahkan intonasi suaraku karena kesedihan diwajahnya nyaris mengalahkanku.

"Molla. Nan jinja molla. Aku tidak tahu harus melakukan apa untuk kita, Seo Joohyun. Bagaimana mungkin aku takut kehilanganmu sementara aku tak pernah sedetikpun memilikimu? Aku tak bisa memilikimu." Suaranya tercekat. Betapapun ingin kucoba mengerti rasa sakitnya, tapi tetap saja... dia tidak berhak menjadikanku sebuah opsi dalam hidupnya. Aku tahu dimana aku harus berdiri tanpa harus dia menunjukkannya. Yang harus dia lakukan padaku hanyalah berhenti meniupkan angin yang akan membuat tubuhku goyah.

"Geurae! Seperti inilah dirimu! Seorang Jung Yonghwa yang hanya lewat dan singgah untuk sesaat dalam hidupku. Geunyang! Kau hanya seperti itu!"

Kuakhiri pembicaraan pahit kami saat itu dan setengah berlari, kutinggalkan dia disana. Dan tangisku pecah usai kukunci pintu kamarku. Perasaan apa ini? Kenapa semua ini begitu menyakitkan? Seperti halnya aku yang bukan siapa-siapa dalam hidupnya, begitupun dengannya. Jung Yonghwa bukanlah siapa-siapa untukku. Tapi kenapa hatiku rasanya sesakit ini?

*****

"Andwe..! Kkajima! Kkajimara, Hyung! Naega jalmothaeseo! Hyung, mianhae... naega jalmothaeseo! Jebbal irona, Hyung!! Kumohon jangan hukum aku begini!! Hyung bangun...."

Aku seketika terjaga ketika suara rintihan itu terdengar begitu jelas ditelingaku. Untuk memastikannya, aku bangkit dari tidurku, lalu kuletakan telingaku pada dinding gypsum yang menyekat kamarku dengan kamar Yonghwa.

"Hyung mianhae. Kkajima...!"

Kali ini Yonghwa mulai terisak. Suara tangisnya teramat pilu dan aku belum pernah mendengarnya seperti itu sebelumnya. Kali ini benar-benar terdengar seperti raungan tangis.

Aku tidak bisa membiarkannya. Andwe!!!

Dan secepatnya aku berlari menuju kamar Yonghwa. Tanpa ragu, aku membuka pintunya dan segera menghampiri tubuhnya yang sedang terbaring ditempat tidurnya. Benar saja, Yonghwa menangis dalam tidurnya.

Aku mendekatinya lalu duduk disamping tempat tidurnya. Kuraih tangannya dan kugenggam erat.

"Oppa!! Oppa... irona!! Jebbal, buka matamu!" Aku berusaha mengguncang tubuhnya dan membuatnya terbangun. Tapi tak berhasil. Lalu kuusap wajahnya dan kuseka air mata yang deras mengalir ketepian telinganya. Tuhanku, aku bahkan tak mampu menahan air mataku sendiri saat melihatnya seperti ini meski aku tidak tahu, apa yang telah menyakitinya sampai begini.

"Oppa, irona jebbal!! Jung Yonghwa!!!!! Sadarlah..!!!"

Yonghwa serentak bangkit dari tidurnya dengan nafas yang terengah. Tangisnya mulai reda. Perlahan, Yonghwa mulai membuka matanya. Dia menatapku penuh tanya sebelum genap semua kesadarannya. Lalu beberapa saat kemudian...

"Hyun..." Dia memanggil namaku dengan suaranya yang gemetar.

"Oh. Na ya, Seo Joohyun!" Jawabku sambil mengusap sisa air mata diwajahnya. Yonghwa masih menatapku lekat.

"Jangan takut, Oppa! Kau tidak sendirian. Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri. Geok cheongma!" Entah apa yang sedang aku katakan padanya. Aku hanya tak tahan melihat pemandangan itu. Betapa terlukanya Yonghwa meski dalam tidurnya sekalipun. Rasa takutku membuatku seolah lupa pada alasan kenapa aku menangis beberapa jam yang lalu.

"Hyung...! Na ye Hyung...! Joohyun ah ottokhae? Aku mencelakainya! Aku membuatnya terluka karenaku." Yonghwa kembali menangis. Tanpa ingin berfikir lagi aku meraih tubuhnya lalu mendekapnya. Lelaki itu tersedu dalam pelukanku.

"Ijae Ottokhae, Hyun!" Kurasakan tubuhnya berguncang dalam pelukanku. Entah apa yang sudah terjadi pada Hyungnya hingga membuat Yonghwa menderita seperti itu. Dimana Hyungnya sekarang? Dalam ingatanku, akupun pernah menangis seperti ini. Dulu, saat kulihat jasad Eommaku perlahan dimasukan ke liang lahat.

Tuhanku, kumohon lenyapkan rasa sakitnya! Kumohon hentikan penderitaannya, karena aku tak sanggup melihatnya.

*****

Aku tak bisa mengingatnya, kapan Yonghwa mulai berhenti menangis. Karena saat cahaya mentari menyilaukan mataku, lelaki ini sedang tertidur pulas disampingku. Memeluk tubuhku. Disini, di dalam kamarnya. Diatas tempat tidurnya. Ditempat yang aku baru pertama kali melihat dan berada didalamnya.

"Jealousy"
Queen

Oh how wrong can you be?
Oh to fall in love was my very first mistake
How was I to know
I was far too much in love too see?

Oh jealousy look at me now,
Jealousy you got me somehow
You gave me no warning,
Took me by surprise
Jealousy you led me on,

You couldn't lose you couldn't fail
You had suspicion on my trail
How, how, how all my jealousy
I wasn't man enough to let you hurt my pride
Now I'm only left with my own jealousy

Oh how strong can you be,
With matters of the heart?
Life is much too short,
To while away with tears
If only you could see,
Just what you do to me

Oh jealousy you tripped me up,
Jealousy you brought me down
You bring me sorrow you cause me pain
Jealousy when will you let go?

Gotta hold of my possessive mind
Turned me into a jealous guy
How, how, how all my jealousy
I wasn't man enough to let you hurt my pride
Now I'm only left with my own jealousy

But now it matters not, if I should live or die
Because I'm only left with my own jealousy


 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar