In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 12
Fight (Seohyun POV)
"Joohyun ah, jamkaman. Aku
harus ke toilet sebentar. Tunggu yah." Jinwoon beranjak usai kuanggukkan
kepalaku. Aku masih menikmati musiknya. Dan juga choco lava di hadapanku. Tapi
sesuatu terasa berbeda. Aku merasa... seperti sepasang mata sedang menatap dan
memperhatikanku.
Tapi tak kuhiraukan.
Beberapa waktu kemudian, Jinwoon
kembali sambil membawa 2 mangkuk ice cream ditangannya.
"Jang..!!! For you, My Lady..."
Lelaki itu tersenyum manis sambil menyimpan mangkuk ice cream itu dihadapanku.
"Igae mwo ya? Yak.. woonie
ah! Apa kau tahu berapa banyak gula yang aku makan hari ini? Aigoo... dan ice
cream ini...! Ottokhae.. aku tidak sanggup menolaknya!" Kali ini Jinwoon
meledakan tawanya usai mendengar ucapanku.
"Gwaenchanna, Joohyun ah!
Geok cheongma, bila tidak ada satupun lelaki yang mau menikahimu karena berat
badanmu nanti, aku berjanji, aku akan bertanggung jawab untuk itu! I'm gonna
marry you for sure, i promise!"
"Yak!!!! Kau masih belum
puas kupukul yah?!!!" Nyaris saja kulayangkan tanganku ke tubuhnya tapi tiba-tiba..
"Hei... kau fikir kau siapa
berhak memukul namja-ku?!"
..............
Kepalan tanganku terhenti dan
melayang diudara kala seorang gadis cantik tiba-tiba muncul dihadapan kami. Son
Naeun, penyanyi dan artis cilik yang kini beranjak dewasa dan semakin berkilau
dengan kariernya.
"Son Naeun, apa yang kau
lakukan disini, tengah malam seperti ini?" Ditengah kepanikannya, aku tahu
Jinwoon sedang berusaha mengendalikan situasi. Situasi yang benar-benar tidak aku mengerti.
"Mwo? Na ya? Wae?!! Kau
tidak menyangka bukan, kalau aku akan menemukanmu disini, tengah malam seperti ini, dengan seorang wanita yang kau
panggil My Lady dan.. MWO???!!! Kau bilang kau akan menikahinya?! Yak!!! Jung
Jinwoon, kau sedang menggali kuburanmu sendiri ya?!!"
Perempuan itu kian sengit, bahkan
suaranya berhasil mengundang perhatian seisi café malam itu. Jinwoon yang mulai
hilang kesabarannya tampak berusaha menarik tangan Son Naeun untuk pergi
bersamanya. Tapi gadis itu berontak dan menghentikannya.
"Lepaskan tanganku!!!"
Kedua orang itu saling bertatapan kini. Andai saja sebuah tatapan bisa melukai
seseorang, maka aku yakin, dua orang itu sudah berdarah-darah malam itu.
Perempuan itu kembali menatapku,
lalu berjalan menghampiriku lebih dekat.
"Apa Jinwoon Oppa belum
memberitahumu? Bahwa aku adalah kekasihnya?" Raut wajah itu bisa kuartikan
seperti sedang menyulut tanda perang ke arahku. Meski aku tak mengerti, apa
maksudnya?
"Son Naeun, jebbal...
geumanhae! Kau tidak bisa berbuat seperti ini pada Joohyun!" Jinwoon
berusaha menarik kembali tangan gadis itu yang semakin terlihat murka.
"Mwo? Memangnya kenapa?
Memangnya dia siapa hingga kau memperlakukannya lebih istimewa dariku? Apa kau
lupa, apa yang membuatmu bisa berdiri di posisimu sekarang hingga semua orang
bisa mengenal dan menyukaimu? Dan perempuan ini.. sama sekali tidak pantas kau
bandingkan denganku!!!!"
"SON NAEUN!!!!" Jinwoon
membentaknya dan itu membuatku terhenyak karena baru kali ini aku melihat dia
meledak seperti itu.
"Mwo?!!! Kau berteriak
padaku? Demi perempuan ini?!!!" Son Naeun semakin menjadi dan pandangannya
kembali mengarah padaku.
"Kau lihat? Karena parasit
sepertimu, namjaku sendiri berani melakukan itu padaku. Neol nugu ah?!! Siapa
kau sebenarnya? Saesang fans murahan yang mencoba menggoda kekasihku, huh? Aku
bersumpah akan membuatmu menyesal!!!!!!" Gadis itu berteriak histeris
kemukaku hingga aku kehilangan keseimbanganku dan nyaris jatuh terlentang. Tapi
tubuhku tertahan oleh sesuatu yang memegangiku dari belakang.
"Jaga ucapanmu, Nona... atau
kau akan kehilangan popularitasmu saat kau terbangun dari tidurmu besok
pagi!!!" Aku mendengar sebuah suara yang sangat aku kenal. Beberapa saat
kemudian, kurasakan tanganku sudah terkunci dalam genggaman tangannya.
"Perempuan dihadapanmu
ini.....
Dia milikku!"
Jung Yonghwa, apa yang kau lakukan?
"Nde? Dangshin...
nugueyo?" Naeun sedikit kehilangan tensinya yang terdengar dari nada
bicaranya yang mulai menurun.
"Jung Yonghwa. Aku
kekasihnya." Mata gadis itu terbelalak usai mendengarnya. Begitupun dengan
Jinwoon. Dan satu lagi yang tak kalah terkejutnya. Aku!
"Hyun, gwaenchanna?"
Yonghwa menoleh kearahku dan menatapku dengan tatapan teduhnya. Tatapan yang
kurindukan. Benar-benar kurindukan hingga setiap malam dirinya hadir dalam
mimpi-mimpiku. Dan genggaman tangannya yang mengunci erat jemari tanganku....
Tuhan, mimpikah aku?
"Joohyun ah, mianhae.
Seharusnya semua ini tidak harus terjadi. Jeongmal mianhae." Jinwoon
mengiba dan menatapku penuh rasa bersalah.
"Gwaenchanna, Jinwoon ah!
Aku juga minta maaf, karena aku tidak tahu bahwa aku bisa menjadi penyebab
kesalah fahaman diantara kalian. Kau tidak pernah bilang kalau kau..."
"Gwaenchanna. Semua ini
hanya salah faham, Joohyun ah. Aku akan menyelesaikannya. Dan... Jung Yonghwa
Ssi, aku... minta maaf, telah membuat suasana seperti ini. Aku tidak bermaksud
untuk memperlakukan sahabatku seperti ini. Jeongmal mianhaeyo!" Kurasakan
Yonghwa menggenggam tanganku lebih erat. Dia bahkan mengusap-usap punggung
tanganku dengan ibu jarinya.
"Mungkin lain kali kau harus
membuat segalanya lebih jelas dimata kekasihmu, Jinwoon Ssi. Jangan sampai
karena kesalahan yang menggelikan ini, mulut busuk kekasihmu bisa melukai orang
lain. Dan aku tidak ingin mendengar sekali lagi kekasihmu merendahkan gadisku
seperti tadi. Jadi jelaskan padanya, bahwa sebelum kenangan antara kalian
tercipta, kekasihku sudah lebih dulu berada dalam hidupmu sejak kau
kecil!"
Untuk kedua kalinya, aku kembali
dikejutkan dengan apa yang Yonghwa lakukan. Bagaimana bisa dia mengatakan semua
itu? Dari mana dia tahu....
Ah.. maja!! Malam itu, di KCC,
dia pasti mendengar semuanya.
"Nde, algaeseupnida! Sekali
lagi aku minta maaf pada kalian." Jinwoon sedikit menundukkan kepalanya.
Sejujurnya, aku merasa buruk melihatnya meminta maaf dan melakukan itu padaku
juga Yonghwa. Seharusnya gadis busuk itu yang melakukannya. Tsk... bahkan
setelah dia tahu segalanya, perempuan ini masih saja bersikap arogan dan enggan
minta maaf. Rasanya aku tidak rela sahabat kecilku punya kekasih seperti ini.
"Mianhae opso, Jinwoon ah!
Nan gwaenchanna!" Aku mencoba merekahkan senyum terbaikku demi menghapus
rasa bersalahnya.
"Geurae, kalau begitu, aku
pulang duluan, Joohyun ah. Untuk hari ini, gomawo. Kau akan pulang dengan...
"Geok cheongma! Tentu saja
Joohyun akan pulang bersamaku. Urus saja kekasihmu sebelum dia mempermalukan
dirinya lebih parah." Nada bicara Yonghwa masih terdengar tidak bersahabat.
Begitupun dengan expresi diwajahnya.
"Arraso. Jalja, Joohyun
ah." Jinwoon melambaikan tangannya dengan senyum tipis di sudut bibirnya.
Tangannya kembali meraih tangan gadis itu. Dan kali ini, Jinwoon berhasil
membawanya pergi.
Kini, yang tersisa hanya aku...
dan Mr. Blue yang masih menggenggam erat tanganku.
"Kkaja, Joohyun ah!"
Tanpa menoleh kearahku, Yonghwa menarik tanganku dan mengajakku keluar
meninggalkan tempat itu. Hingga kamipun tiba di depan SUV miliknya yang
terparkir tak jauh dari sana. Yonghwa melepaskan tanganku lalu memintaku
menaiki mobilnya.
Sejenak, suasana hening tercipta.
Beberapa menit kami berdua hanya duduk terdiam didalam mobilnya, tapi Yonghwa
tak kunjung menyalakannya. Dia hanya duduk dibelakang kemudi sambil menatap
lurus kedepan. Entah apa yang ada dalam fikirannya.
"Gomawo.... Oppa..."
Kuputuskan untuk memecah keheningan yang mulai terasa menyebalkan itu. Dan aku
berhasil membuat Yonghwa bereaksi dengan menghela nafas panjang lalu mengusap
wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Seo Joohyun, setidaknya kau
harus tahu dengan siapa kau pergi. Aku tahu, dia itu sahabatmu, tapi harusnya
kalian tidak pergi selarut ini terutama karena sahabatmu itu sudah punya
kekasih. Dan kekasihnya benar-benar seorang psyco!"
Ada yang aneh dari tatapannya
kali ini. Mwo? Aku tidak ingin berfikir kalau lelaki ini sedang menghakimiku
tentang kejadian tadi.
"Apa maksudmu, Oppa? Aku
tahu, harusnya kesalah fahaman seperti tadi tidak terjadi. Tapi aku sama sekali
tidak tahu kalau Jinwoon punya kekasih. Aku juga tidak berencana untuk
menghabiskan waktu hingga selarut ini dengannya, hanya saja tadi Jinwoon datang
terlambat karena pekerjaannya. Kami hanya makan malam biasa, kok. Dan
hubunganku dengan Jinwoon tidak lebih hanya sebagai sahabat lama yang kembali
bertemu di kota besar ini. Geurigo jebbal... jangan berfikir macam-macam
tentang kami."
Tuhanku, entah untuk apa
kujelaskan semua itu? Yonghwa bahkan bukan siapa-siapa dalam hidupku dan aku
tidak perlu melakukan semua ini hanya karena dia sudah menolongku dengan
menjadi kekasih palsuku.
Tsk... kekasih palsu!!
"Bagaimana mungkin aku tidak
berfikir macam-macam? Aku melihatnya menggandeng tanganmu saat kalian datang
tadi. Aku juga melihat caranya menatapmu, caranya tersenyum padamu, bagaimana
dia memanggilmu My Lady, dan bahkan dia berjanji akan menikahimu! Apalagi yang
bisa aku fikirkan saat itu?" Tatapannya kian tajam mengarah padaku
membuatku semakin tersudut. Dan kalimat sinisnya itu! Haruskah Yonghwa bersikap
seperti ini?
"Geurae, katakanlah aku
memang salah karena dengan lugunya menerima ajakannya tanpa bertanya lebih dulu
apakah dia punya kekasih atau tidak. Meski sejujurnya semua itu terdengar
menggelikan dan kekanak-kanakan. Tapi... apakah kau harus bereaksi seperti ini
padaku? Kenapa kau harus marah?" Aku mencoba menahan diriku, tapi pada
akhirnya, aku hanya bisa membalas kata-kata nya dengan level intonasi yang
sama.
"Seo Joohyun, dengar...
seandainya aku tidak ada disana, apa yang akan kau lakukan? Apa kau hanya akan
diam saja dipermalukan oleh anak ingusan seperti itu? Dan sahabatmu itu... apa
yang dia lakukan? Setidaknya bila dia tidak bisa membungkam mulut kekasihnya,
maka dia harus bisa melindungimu dengan benar. Kau fikir melihatmu berdiri
diantara banyak pasang mata, melihatmu dimaki dan direndahkan seperti itu,
semua itu tidak membuatku marah? Huh?!"
"Aku tahu, Oppa... dan aku
berterima kasih untuk pertolonganmu tadi. Tapi kau tak perlu bersikap seperti
ini. Aku mengerti kalau kau... kau.. mungkin memperhatikanku. Atau hanya
simpati padaku. Tapi semua sudah cukup, Oppa. Jangan bersikap seolah kau adalah
benar-benar kekasihku. Karena kenyataannya bukan!
Bukan, Oppa!"
Untuk terakhir kalinya, aku
menatap matanya dengan tegas sebelum kuputuskan untuk keluar dari mobilnya.
Lebih baik aku memanggil taxi atau naik bus saja. Semakin lama aku bersamanya,
maka perdebatan itu tak akan pernah berakhir.
Aku berjalan sendiri dibawah
cahaya bulan. Ada rasa sakit menghimpit dalam hatiku saat kalimat terakhir tadi
kutegaskan padanya. Aku membuat segalanya semakin jelas. Tentang siapa aku
dalam hidupnya.
Bukan siapa-siapa baginya.
Tak ada satupun taxi datang
melewati halte bus tempatku duduk kini. Satu-satunya harapanku, semoga bus
terakhir segera datang, karena cuaca dipenghujung musim gugur benar-benar
menusuk tulangku. Dan syukurlah, bus yang kutunggu akhirnya tiba. Aku segera
berdiri dan melangkahkan kakiku untuk menaikinya. Hanya ada 4 orang penumpang
didalamnya dan aku memilih tempat duduk single di baris ketiga. Bus kembali
terhenti setelah hampir melaju. Kulihat pintunya kembali terbuka dan seseorang
masuk menaikinya. Mataku kembali terbelalak.
Jung Yonghwa, apalagi yang dia lakukan?
Untuk sesaat, mata kami saling
bertemu. Tapi tak sepatah katapun dia katakan, melainkan hanya berjalan
melewatiku, lalu duduk dibaris keempat. Tepat dibelakangku.
Bus pun membawa kami melaju
menembus malam. Cuaca dingin masih terasa meski penghangat didalam bus itu
menyala. Pandanganku melayang pada jendela kaca disampingku. Dan kutemukan
bayang wajahnya disana.
Ya, lelaki itu menatapku sendu.
After a tiring day passes, underneath the moonlight,
Two people become one shadow
A vague happiness that seems reachable is still over there
Even if my scarred heart casts a shadow on your dreams
Please remember that a person,
Who loves you till it hurts, is next to you
Although this path seems far sometimes,
Even if you shed tears out of sadness
Until everything becomes a memory,
Let’s become each other’s resting place
When I’m walking with you,
When I can’t see where I need to go or the path I’m on
I’ll remember the world of that day
When everything dazzled with just you alone
Sebuah lagu berjudul Du Saram
yang dinyanyikan oleh Park Jang Hyun mengalun, menambah pekat kesedihanku. Sekali
lagi aku merasa, jarak antara aku dan Yonghwa begitu jauh, meski tubuh kami
begitu dekat.
*****
Masih tak ada kata yang keluar
baik dari mulutku ataupun Yonghwa. Selama didalam bus, hingga kami berjalan
dari halte pemberhentian kami menuju apartemennya, lelaki itu hanya berjalan
mengikutiku dibelakang seperti sebuah bayangan. Begitupun saat kami berdiri
didalam elevator. Mulut kami benar-benar rapat terkunci.
Aku memasukan beberapa digit pass
code begitu aku tiba didepan pintu unitnya. Tanpa menunggu lama, aku segera
melepas sepatuku dan menukarnya dengan slipper pink milikku. Bergegas, aku
berjalan menuju kamarku. Tapi kemudian langkahku terhenti saat tangannya meraih
lenganku.
Kulayangkan pandanganku padanya,
tapi kidapati wajahnya tertunduk menghindari mataku. Beberapa saat, waktu hanya
terhenti seperti itu. Hingga kudengar suaranya lirih, setengah berbisik.
"Aku benci saat melihatnya
datang sambil memegang tanganmu.
Aku benci melihatnya tersenyum
padamu lalu kau membalas senyumnya.
Aku benci saat mendengarnya
tertawa dan kaupun tertawa bersamanya.
Aku benci melihatnya berhasil
membuatmu bahagia, Joohyun ah!"
Ada kesedihan yang terasa begitu
pekat pada suaranya dan juga caranya menatapku.
"Aku bahkan nyaris putus asa
dalam mencari cara untuk mengembalikan hubungan kita seperti semula yang aku
tahu semua itu tak akan pernah bisa.
..................
Aku tak bisa menepis apa yang aku
rasakan padamu, Hyun."
Untuk sesaat, aku hanya menatap
wajahnya. Tak ada kata yang mampu kuucapkan karena sejujurnya, aku tidak tahu
harus berkata apa.
"Melihatnya bersamamu, semua
itu membuatku takut, Hyun!" Lelaki itu kembali menundukkan wajahnya.
Seribu rasa berkecamuk menyiksa batinku. Permainan apalagi yang sedang dia
bawakan kini?
"Lalu aku harus bagaimana,
Oppa? Ani ah... lebih tepatnya... dimana sebenarnya aku harus berdiri?"
Aku menatapnya semakin tajam. Aku harap, dia mengerti maksud dari pertanyaanku.
"Aku tidak tahu, Hyun. Aku
hanya tahu bahwa hal yang paling aku takutkan saat ini adalah kehilangmu."
Kesedihan dimatanya semakin tampak nyata. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Lalu kau ingin aku
melakukan apa?" Kali ini, kulemahkan intonasi suaraku karena kesedihan
diwajahnya nyaris mengalahkanku.
"Molla. Nan jinja molla. Aku
tidak tahu harus melakukan apa untuk kita, Seo Joohyun. Bagaimana mungkin aku
takut kehilanganmu sementara aku tak pernah sedetikpun memilikimu? Aku tak bisa
memilikimu." Suaranya tercekat. Betapapun ingin kucoba mengerti rasa
sakitnya, tapi tetap saja... dia tidak berhak menjadikanku sebuah opsi dalam
hidupnya. Aku tahu dimana aku harus berdiri tanpa harus dia menunjukkannya. Yang
harus dia lakukan padaku hanyalah berhenti meniupkan angin yang akan membuat
tubuhku goyah.
"Geurae! Seperti inilah
dirimu! Seorang Jung Yonghwa yang hanya lewat dan singgah untuk sesaat dalam
hidupku. Geunyang! Kau hanya seperti itu!"
Kuakhiri pembicaraan pahit kami
saat itu dan setengah berlari, kutinggalkan dia disana. Dan tangisku pecah usai
kukunci pintu kamarku. Perasaan apa ini? Kenapa semua ini begitu menyakitkan?
Seperti halnya aku yang bukan siapa-siapa dalam hidupnya, begitupun dengannya.
Jung Yonghwa bukanlah siapa-siapa untukku. Tapi kenapa hatiku rasanya sesakit
ini?
*****
"Andwe..! Kkajima! Kkajimara, Hyung! Naega jalmothaeseo! Hyung,
mianhae... naega jalmothaeseo! Jebbal irona, Hyung!! Kumohon jangan hukum aku
begini!! Hyung bangun...."
Aku seketika terjaga ketika suara
rintihan itu terdengar begitu jelas ditelingaku. Untuk memastikannya, aku
bangkit dari tidurku, lalu kuletakan telingaku pada dinding gypsum yang
menyekat kamarku dengan kamar Yonghwa.
"Hyung mianhae. Kkajima...!"
Kali ini Yonghwa mulai terisak.
Suara tangisnya teramat pilu dan aku belum pernah mendengarnya seperti itu
sebelumnya. Kali ini benar-benar terdengar seperti raungan tangis.
Aku tidak bisa membiarkannya.
Andwe!!!
Dan secepatnya aku berlari menuju
kamar Yonghwa. Tanpa ragu, aku membuka pintunya dan segera menghampiri tubuhnya
yang sedang terbaring ditempat tidurnya. Benar saja, Yonghwa menangis dalam
tidurnya.
Aku mendekatinya lalu duduk
disamping tempat tidurnya. Kuraih tangannya dan kugenggam erat.
"Oppa!! Oppa... irona!!
Jebbal, buka matamu!" Aku berusaha mengguncang tubuhnya dan membuatnya
terbangun. Tapi tak berhasil. Lalu kuusap wajahnya dan kuseka air mata yang
deras mengalir ketepian telinganya. Tuhanku, aku bahkan tak mampu menahan air
mataku sendiri saat melihatnya seperti ini meski aku tidak tahu, apa yang telah
menyakitinya sampai begini.
"Oppa, irona jebbal!! Jung
Yonghwa!!!!! Sadarlah..!!!"
Yonghwa serentak bangkit dari
tidurnya dengan nafas yang terengah. Tangisnya mulai reda. Perlahan, Yonghwa
mulai membuka matanya. Dia menatapku penuh tanya sebelum genap semua
kesadarannya. Lalu beberapa saat kemudian...
"Hyun..." Dia memanggil
namaku dengan suaranya yang gemetar.
"Oh. Na ya, Seo
Joohyun!" Jawabku sambil mengusap sisa air mata diwajahnya. Yonghwa masih
menatapku lekat.
"Jangan takut, Oppa! Kau
tidak sendirian. Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri. Geok cheongma!"
Entah apa yang sedang aku katakan padanya. Aku hanya tak tahan melihat
pemandangan itu. Betapa terlukanya Yonghwa meski dalam tidurnya sekalipun. Rasa
takutku membuatku seolah lupa pada alasan kenapa aku menangis beberapa jam yang
lalu.
"Hyung...! Na ye Hyung...!
Joohyun ah ottokhae? Aku mencelakainya! Aku membuatnya terluka karenaku."
Yonghwa kembali menangis. Tanpa ingin berfikir lagi aku meraih tubuhnya lalu
mendekapnya. Lelaki itu tersedu dalam pelukanku.
"Ijae Ottokhae, Hyun!"
Kurasakan tubuhnya berguncang dalam pelukanku. Entah apa yang sudah terjadi
pada Hyungnya hingga membuat Yonghwa menderita seperti itu. Dimana Hyungnya
sekarang? Dalam ingatanku, akupun pernah menangis seperti ini. Dulu, saat
kulihat jasad Eommaku perlahan dimasukan ke liang lahat.
Tuhanku, kumohon lenyapkan rasa sakitnya! Kumohon hentikan
penderitaannya, karena aku tak sanggup melihatnya.
*****
Aku tak bisa mengingatnya, kapan
Yonghwa mulai berhenti menangis. Karena saat cahaya mentari menyilaukan mataku,
lelaki ini sedang tertidur pulas disampingku. Memeluk tubuhku. Disini, di dalam
kamarnya. Diatas tempat tidurnya. Ditempat yang aku baru pertama kali melihat
dan berada didalamnya.
"Jealousy"
Queen
Oh how wrong can you be?
Oh to fall in love was my very first mistake
How was I to know
I was far too much in love too see?
Oh jealousy look at me now,
Jealousy you got me somehow
You gave me no warning,
Took me by surprise
Jealousy you led me on,
You couldn't lose you couldn't fail
You had suspicion on my trail
How, how, how all my jealousy
I wasn't man enough to let you hurt my pride
Now I'm only left with my own jealousy
Oh how strong can you be,
With matters of the heart?
Life is much too short,
To while away with tears
If only you could see,
Just what you do to me
Oh jealousy you tripped me up,
Jealousy you brought me down
You bring me sorrow you cause me pain
Jealousy when will you let go?
Gotta hold of my possessive mind
Turned me into a jealous guy
How, how, how all my jealousy
I wasn't man enough to let you hurt my pride
Now I'm only left with my own jealousy
But now it matters not, if I should live or
die
Because I'm only left with my own jealousy

Tidak ada komentar:
Posting Komentar