In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 11
My Confusion
From : Jungshin Chingu
'Hei, Girl! Where are you and what are you doing now?'
To : Jungshin Chingu
'KCC. Bertarung untuk bertahan
hidup. ^^'
From : Jungshin Chingu
'Good! Kebetulan, temanmu hampir mati kelaparan saat ini. I'll be there
in 10 minutes.'
To : Jungshin Chingu
'Okay! Make sure you have enough
money before you order, Chingu!! :P'
From : Jungshin Chingu
'Aisshh!!!! >_<'
Aku tersenyum setiap kali usai
membalas pesan-pesannya. Siapa sangka, bila kini aku punya satu lagi sahabat
dekat? Ya. Secepat itu! Jungshin benar-benar seorang happy virus yang akan
segera menghapus semua beban fikiranku sesaat setelah aku mengobrol dengannya.
Meski hanya lewat chat.
"Ososeoyo!" Aku
melalukan base mannerku sebagai pelayan saat suara genta angin terdengar dari
arah pintu. Dan senyumku seketika merekah saat kulihat lelaki yang cukup tinggi
sedang berdiri disana dengan senyumnya. 10 minutes, katanya? Kurang dari 2
menit, lelaki itu sudah menampakan dirinya. Aku tertawa kecil karenanya.
"Aigoo... apa bassist CNBLUE
memang terbiasa se-disiplin ini? You came 8 minutes earlier, Sir!" Aku
menyapanya. Jungshin masih tersenyum kearahku sambil terus berjalan mendekatiku
di mini bar table.
"Setelah kufikir-fikir, aku
kepanasan menunggu di mobilku." Lelaki itu tertawa kecil menyembunyikan
malunya.
"Mwo? Jadi kau mengirimku
pesan saat kau sudah berada didepan restoran ini?"
"Ya... kurang lebih
begitu!" Jawabnya dengan tawa nakalnya.
Aku mempersilahkan Jungshin untuk
duduk di kursi yang terletak di ujung restauran dengan view terbaik disini.
Menghadap langsung ke Sungai Han. Usai membawakan makanan pesanannya, akupun
duduk dihadapannya. Syukurlah, KCC siang itu tidak terlalu ramai sehingga aku
punya waktu luang untuk menemaninya makan.
"Hhm... masta!! Aku tidak
tahu bahwa daging kepiting bisa juga diolah menjadi makanan seperti ini.
Benar-benar enak, Seohyun ah!" Jungshin dengan lahap menyantap semua
makanan dihadapannya.
"Syukurlah, kalau kau
menyukainya. Sering-seringlah makan disini. Nanti aku berikan bonus porsi
untukmu." Matanya seketika berbinar usai mendengar kata-kataku.
"Jinjja???" Tanyanya,
dengan mulut penuh makanan.
"Jinjja!!! Lebih bagus kalau
kau promosikan restoran ini pada fansgirl-mu. Aku akan memberi mu bonus porsi
yang banyak!"
"Deal!!! Aku setuju! Aku
akan promosikan tempat ini kesemua orang. Jadi pastikan untuk menepati janjimu,
Miss Seo!!"
"Arrasso! Yakseok!"
Beberapa saat, aku biarkan
Jungshin menikmati makan siangnya dan hanya duduk menemaninya saja. Hingga dia
usai menghabiskan nasinya, dan minum orange juice disamping kiri mejanya.
"Seohyun ah, apa kau senang
tinggal di rumah Yonghwa Hyung?" Aku terpaku mendengar pertanyaan
tiba-tiba itu. Sejujurnya, aku tidak siap untuk menjawabnya.
"Ke.. kenapa tiba-tiba kau
tanyakan itu?"
"Geunyang....."
Jungshin membersihkan mulutnya dengan napkin yang disediakan restoran ini, lalu
menatapku lebih serius dari sebelumnya.
"Aku tahu, sesuatu terjadi
diantara kalian malam itu. Meski aku tidak tahu persis apa yang terjadi
sebenarnya, tapi aku yakin, sesuatu telah benar-benar terjadi. Dan itu
mengganggu hubungan kalian. Am i correct?" Aku menghela nafas panjang
sambil mencoba menghindari tatapannya.
"Gwaenchanna, Seohyun ah.
Aku tidak sedang menginterogasimu apalagi menyudutkanmu. Aku hanya khawatir
melihat Hyung dengan sikap anehnya beberapa waktu terakhir. Aku juga
mengkhawatirkanmu karena kau tinggal dirumahnya. Kau pasti merasa sangat tidak
nyaman." Kali ini, Jungshin menatapku lebih teduh dengan rasa simpatinya,
hingga hatiku merasa lebih lega.
"Molla, Jungshin ah! Aku
juga bingung, sebenarnya apa yang terjadi diantara kami." Jawabku.
Jungshin meneguk lagi minumannya, lalu kembali menatapku.
"Just make it with him,
Seohyun ah. Percayalah, apa yang terjadi diantara kalian benar-benar
mengganggunya. Meski dia mencoba untuk bersikap normal dihadapan kami, tapi aku
tahu, sesuatu sedang membebani fikirannya." Jungshin menegakkan badannya
dan menggeser kursinya lebih rapat kemeja dihadapan kami.
"Aku tidak bermaksud
menyalahkanmu, Seohyun ah, karena akupun tidak tahu apa sebenarnya masalah
kalian. Yang aku tahu, Yonghwa Hyung benar-benar merasa bersalah padamu. Malam
itu dia masuk ke studio nya dengan wajah kalut dan kami bisa melihat dengan
jelas ada kesedihan disana. Dia bilang, dia sudah menyakitimu dan membuatmu
menangis. Dan sejak malam itu, Yonghwa Hyung sengaja menghabiskan waktu lebih
lama di studio Jonghyun Hyung, atau di bar, atau di tempat billiard hanya agar
bisa pulang setelah tengah malam. Dan aku tahu, pengecut ini sedang
menghindarimu."
Aku melayangkan pandanganku
kearah jendela disampingku. Ya aku pun
menyadarinya. Yonghwa selalu pulang larut, aku tahu, dia sengaja melakukannya.
Apa dia membenciku karena aku membiarkan bibirnya menyentuh bibirku? Apa dia
membenciku karena aku tidak menolaknya dan malah memejamkan mataku malam itu?
Aku tahu, seharusnya aku mengingatkannya untuk tidak melakukan itu, tapi....
apakah membiarkannya menciumku adalah sebuah kesalahan?
"Seohyun ah..."
Jungshin memanggilku dengan lembut saat aku hanyut dalam fikiranku.
"Bagaimana caranya aku bisa
bicara padanya, Jungshin ah, sementara dia terus menghindariku? Aku bahkan
merasa kalau Yonghwa Oppa membenciku hingga aku berfikir untuk segera pergi
dari rumah itu bila keberadaanku membuatnya tidak nyaman."
"Andwe!!! Jinjja andwe,
Seohyun ah!! Jebbal kkajima!! Aku yakin Yonghwa Hyung akan semakin gila bila
kau pergi dari rumah itu. Dengarkan aku....
Hyung tidak membencimu, Seohyun
ah! Malahan sebaliknya, Hyung merasa kau yang akan membencinya. Makanya dia
terus menghindarimu karena dia tidak tahu bagaimana cara untuk memperbaiki
hubungan diantara kalian.
Hyung bersikap seperti itu justru
karena dia takut akan kehilanganmu, Seohyun ah!"
Benarkah? Bernarkah yang Jungshin
katakan?
"Lalu aku harus bagaimana?
Aku merasa asing dirumah itu. Kau tahu, kalau aku tidak lebih hanya sekedar
numpang tinggal karena biaya sewaku mungkin bahkan tidak cukup untuk biaya
listrik rumah itu. Aku juga bingung, Jungshin ah!" Rasa frustasi kian
menyesakkan hati dan fikiranku. Terutama tentang kenyataan bahwa aku hanya
seorang yang Yonghwa beri pertolongan saja. Harusnya aku tahu diri dan
menghentikannya malam itu.
"He kissed you, right?"
Mataku seketika terbelalak mendengar pertanyaannya. Bagaimana mungkin dia tahu?
"Otteokhae? Neol...
otteokhae ara?" Kulihat Jungshin menghembuskan nafas panjangnya sebelum
pandangannya kembali padaku.
"Entah aku harus senang atau
khawatir dengan kalian, Seohyun ah. Harusnya aku senang. Tapi aku juga
khawatir. Hyung itu...." Jungshin berhenti sejenak dengan kalimatnya dan
sepertinya dia sedang berfikir.
"Hhhh... Seohyun ah, banyak
hal yang ingin aku ceritakan padamu. Tapi aku tidak berhak mengatakannya. Pada
saatnya nanti, kau akan tahu sendiri. Tapi sebagai sahabatnya, sebagai seorang
yang sudah mengenalnya bertahun-tahun, aku hanya minta padamu.... cobalah untuk
sedikit bersabar menghadapinya. Aku tahu, mungkin permintaanku ini terdengar
egois. Kumohon mengertilah. Hyung baru saja menemukanmu dan bersamamu, Hyung
mendapatkan kenyamanan lain selain bersama kami. Selesaikan kesalah fahaman
kalian secepatnya, Seohyun ah. Mulailah berbicara padanya. Trust me, he's
waiting for you."
Malamnya, aku pulang usai shift
malamku berakhir seperti biasanya. Dan kudapati rumah itu masih kosong, gelap
dan sepi. Yonghwa masih menghindariku seperti yang Jungshin katakan.
Hhhh.... aku menjatuhkan tubuhku
keatas sofa ruang tengah yang masih kubiarkan gelap tanpa kunyalakan lampunya.
Hanya cahaya bulan dan lampu balcon yang membantu penglihatanku. Sesaat, aku
memejamkan mataku. Kata-kata Jungshin tadi siang masih berputar dalam benakku.
Haruskah kulakukan seperti katanya? Menepis ego dan prestiseku dengan memulai
pembicaraan itu dengannya? Akankah Yonghwa mendengarku? Atau malah
mengabaikanku dan membuat luka lainnya dalam hatiku?
Ya, aku terluka. Aku terluka saat
pertama kali dia ucapkan kata maaf padaku. Bukan...! Bukan itu yang ingin aku
dengar. Aku tidak ingin mendengar kata maafnya yang justru membuatku merasa
terkecilkan arti. Apakah menciumku merupakan sebuah kesalahan untuknya?
Aku benci mendengarnya mengatakan
maaf, karenanya aku pergi meninggalkannya sendiri malam itu.
Akhirnya, setelah beberapa saat
kurebahkan lelahku, aku bangkit dan meraih laptopku. Sejak awal aku datang
kerumah ini, diam-diam aku mulai menulis beberapa chapter untuk judul baru
novelku. Yonghwa benar, rumah ini sungguh membantuku dalam menulis. Bukan hanya
novel, aku bahkan hampir menyelesaikan sebuah antologi untuk puisi-puisiku.
Puisiku tentangnya. Tentang pria yang sudah membuatku duduk ditempatku kini.
Aku mulai menulis. Menulis segala
kata yang menari dalam fikiranku. Heran. Tak seperti biasanya. Karena kali ini,
aku sama sekali menepis segala logika dan hanya diperbudak oleh kegelisahan
dalam jiwaku. Aku menulis segalanya. Tentang cinta yang tak pernah benar-benar
aku kenal wujudnya. Tentang rinduku. Resahku. Lukaku.
Tentangnya, yang begitu dekat
namun terasa ribuan mil jauhnya dariku.
Entah untuk berapa lama aku
menulis, hingga tanpa kusadari aku tertidur diatas sofanya. Suara pass code
pintu membangunkanku. Dia pulang. Yonghwa akhirnya pulang.
Sekuatnya kedua mataku kupaksa
tetap terpejam meski tubuhku nyaris berontak ingin secepatnya berlari
menghindarinya. Tapi Jungshin benar. Aku harus menyelesaikannya. Atau.... aku
benar-benar harus lenyap dari pandangannya.
Aku mulai merasakan kehadirannya.
Parfum yang sangat kukenal, kini terasa amat dekat denganku. Benar saja. Aku
mulai merasakan sentuhan tangannya mengusap lembut kepalaku. Demi Tuhan, setiap
belaian itu mengundang air mataku yang sekerasnya aku tahan.
I missed him!
Beberapa saat kemudian,
sentuhannya mulai hilang. Hingga kudengar suara dari layar laptopku yang
membuat kedua mataku perlahan terbuka.
Dia melihatnya. Lelaki itu
membaca tulisan terakhirku yang belum sempat kusimpan. Ottokhae? Bagaimana bila
dia tahu semuanya? Semua yang tanpa alasan kucoba sembunyikan darinya. Bukan
hanya darinya, bahkan dari diriku sendiri.
Kulihat samar wajahnya dari
pantulan cahaya layar laptopku. Yonghwa membaca satu persatu baris-baris
puisiku hingga kulihat sendu mulai membayang diwajah itu. Beberapa menit
kemudian, kulihat air mata jatuh diwajahnya. Yonghwa tertunduk pilu untuk
sesaat hingga hatiku terasa teriris melihatnya.
Dan mata kami akhirnya bertemu.
Aku melihatnya. Aku melihat betapa diapun terluka karena semua ini.
"Waseo?" Setengah
berbisik, suaraku tertahan oleh sesak dalam hatiku.
"Hmm.." Tampak jelas
bahwa lelaki dihadapanku juga sedang berusaha keras menyembunyikan lukanya.
"Daengida. Syukurlah, kau
sudah pulang, Oppa..." Kurasakan suaraku kian lirih tertahan.
"Mianhae, Joohyun ah...
aku.." Suaranya tercekat. Yonghwa menundukkan kepalanya. Dia fikir dengan
begitu dia bisa menyembunyikan segalanya dariku? Dia salah!! Aku melihatnya!
Aku merasakannya!
"Kau tak perlu melakukannya,
Oppa. Tak perlu kata maaf untuk apapun. Kau dan aku adalah dua orang dewasa dan
apapun bisa terjadi diusia kini saat ini. Aku mengerti, Oppa. Jadi kau tak
perlu menghindariku lagi hanya karena rasa bersalahmu. Aku tidak marah padamu
ataupun membencimu karena hal itu. Dan kumohon.... jangan merasa bersalah
seolah yang kau lakukan malam itu adalah sebuah kesalahan. Setidaknya, dengan
begitu aku tidak akan terlalu merasa terhina, Oppa." Yonghwa kembali
menatapku dengan tatap sendunya. Aku tahu, rasa bersalah itu seperti
menghukumnya untuk sesuatu yang bahkan bukan salahnya.
"Ani, Joohyun ah! Aku tidak
merasa bahwa yang kulakukan malam itu adalah sebuah kesalahan. Karena demi
Tuhan, aku tidak bisa menahan diriku dari perasaanku padamu. Bukan... bukan itu
yang membuatku merasa bersalah padamu." Perlahan, tangannya kembali
mengusap wajahku. Dengan lembut, kurasakan halus jemarinya menyapu pipiku.
"Aku minta maaf padamu,
karena aku berani menginginkanmu seperti itu. Aku tidak boleh melakukan itu.
Aku tidak boleh menginginkanmu karena hidupku sudah kurelakan untuk menjaga
satu hati saja. Aku harus menjaga hatinya tanpa harus peduli dengan hatiku
sendiri. Aku minta maaf padamu, karena aku telah mengambil sesuatu darimu yang
seharusnya hanya kau berikan pada lelaki yang berhak mendapatkannya. Maafkan
aku, Joohyun ah!" Suaranya semakin tercekat. Dan aku gagal! Aku gagal menahan
derai air mataku yang perlahan mulai terasa hangat disisi telingaku.
"Mianhae Opso, Oppa. Karena,
jika kau tidak melakukannya malam itu, mungkin aku yang akan datang dan
melakukannya padamu. Geok cheongmaseo! Aku tidak akan menuntut apapun untuk apa
yang sudah kau ambil dariku. Karena untukku....
Aku memberikannya pada lelaki
yang tepat."
Untuk terakhir kalinya,
kupandangi bayang wajah itu sebelum kupaksa tubuhku bangkit dan pergi menuju
kamarku.
"Good nite, Oppa!! Berdoalah
sebelum tidur agar mimpi burukmu tidak pernah datang kembali. Karena bila
sekali lagi kudengar kau terisak karena mimpimu, jangan salahkan aku bila aku
berlari menerobos pintu kamarmu untuk membangunkanmu!"
*****
Aku berjanji untuk bertemu
Jinwoon di perpustakaan kota sore ini. Dia sudah terkenal sekarang. Bertemu di
sebuah perpustakaan merupakan salah satu tempat yang aman untuknya agar dia
tidak tersangkut sebuah scandal diawal debutnya. Dan untukku, tentu saja aku
menyukai ide itu karena aku harus mencari beberapa literatur untuk tugas
akhirku.
Pukul 7.00 malam, aku sudah duduk
di dalam perpustakaan dengan setumpuk buku yang akan aku baca. Lebih tepatnya,
hanya mencari beberapa bahan saja dari beberapa halamannya. Jinwoon mengirimku
pesan, bahwa dia akan sedikit terlambat. Tak masalah, untukku. Toh akupun
memang punya kepentingan lain diperpustakaan ini. Jadi, aku akan menunggunya.
"Wow... kau seorang
sastrawati?" Aku mendengar sebuah suara datang dari sampingku. Suara
setengah berbisik, tentunya.. mengingat kami sedang berada diperpustakaan. Aku
menoleh kesampingnya, dan kudapati seorang pria memakai suit rapi dan juga kaca
mata sedang duduk dengan tumpukan buku-buku dimejanya. Pria yang cukup tampan,
menurutku.
"Nde? A.. aku?"
Tanyaku, ragu. Lelaki itu tersenyum padaku lalu telunjuknya menunjuk pada
buku-buku diatas meja didepanku.
"Antologi puisi. Bila kau
bukan seorang sastrawati, setidaknya kau mahasiswi sastra. Atau... mungkin
seorang penulis?" Sekali lagi lelaki itu bertanya.
"Ya, aku mahasiswi sastra
tingkat akhir yang juga sedang belajar menjadi penulis. Dan buku-buku ini,
hanya bahan referensi untuk tugas akhirku saja." Jawabku. Sambil
memperhatikan keadaan sekitar, khawatir suara kami mengganggu yang lainnya.
Syukurlah, perpustakaan hari itu cukup lengang.
"Jinjayo? Waah.. aku sudah
menduganya. Apa yang sedang kau tulis saat ini?" Lelaki itu membenarkan
posisi duduknya menghadap kearahku dan menunjukkan bahwa kini dia lebih
tertarik pada ceritaku.
"Hhm... hanya sebuah novel.
Tapi aku belum menyelesaikannya. Baru beberapa chapter dan itupun masih berupa
tulisan kasar. Masih banyak bagian yang harus aku revisi lagi. Ya.. hanya
selingan saat aku luang dari pekerjaan dan kuliahku." Lelaki itu
mengangguk-anggukan kepalanya, seolah dia menangkap maksud ucapanku.
"Jadi buku-buku ini kau
butuhkan untuk tugas akhirmu? Kau juga menulis puisi?" Tatapan lelaki itu
semakin fokus dan kurasakan, dia semakin tertarik dengan obrolan ini.
"Ya, kurang lebih begitu.
Aku juga punya rencana untuk membuat sebuah antologi untuk puisi-puisi usangku,
dan juga beberapa cerpen yang pernah aku buat untuk lomba-lomba menulis. Hanya
sebuah rencana. Saat ini, untuk bisa menulis sebuah novel saja aku masih
kepayahan." Jawabku, sambil tertawa kecil. Menertawakan mimpiku.
"Aku Cho Kyuhyun. Editor di
Gangnam Soul." Lelaki itu mengulurkan tangannya. Meski ragu pada awalnya,
namun akhirnya aku menjabatnya.
"Seohyun..." Jawabku.
"Okay, Seohyun Ssi, ini
kartu namaku. Meski aku belum tahu apa yang sedang kau tulis, tapi melihat
buku-buku di mejamu dan obrolan kita ini, aku punya intuisi bahwa kau akan
menulis sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang menarik, dan asal kau tahu, aku
tidak suka sesuatu yang mainstream dan aku melaknat plagiarisme! Saat kau
menyelesaikan buku mu itu, segera hubungi aku. Atau, kau bisa mengirim beberapa
chapter dulu padaku lewat email. Siapa tahu, kita bisa bekerja sama dimasa
depan."
Aku tertegun beberapa waktu.
Mencoba mencerna kembali apa yang baru saja lelaki ini katakan.
"Seohyun Ssi?" Cho
Kyuhyun melambaikan tangannya di depan wajahku yang ternganga.
"Oh.. Nde! Joseohapnida. Aku
hanya... aku hanya tidak percaya bahwa aku bisa bertemu dengan seorang editor
dan langsung memberiku kesempatan. Buku ku sebelumnya, sempat di tolak oleh 3
penerbit dan itu membuatku sempat tidak yakin dengan karyaku sendiri. Tapi
baiklah, aku akan segera menyelesaikan beberapa chapter untuk bisa kau lihat.
Aku akan segera mengirimnya. Neomu kamsahapnida, Cho Kyuhyun Ssi." Cho
Kyuhyun tersenyum padaku. Pembicaraan kami berakhir seiring kedatangan Jinwoon.
Kyuhyun pamit padaku, dan berlalu meninggalkan perpustakaan.
"2 jam 17 menit. Aigoo...
begini yaah.. rasanya janjian dengan aktor terkenal? Beruntung aku menunggumu
di perpustakaan. Andai saja kau memintaku untuk menunggumu di mall, fuih... aku
pasti sudah meninggalkanmu." Jinwoon terkekeh mendengarku lalu duduk
disampingku.
"Mianhae, Joohyun ah! Aku
benar-benar sudah siap pulang saat produser kami datang. Hhh... mau tidak mau,
kami harus menunggunya sebentar sampai dia pergi lagi. Neol gwaenchanna?"
Jiwoon tersenyum sambil merapihkan poniku.
"Oh. Gwaenchanna. Aku
menunggumu sambil mengerjakan tugasku."
"Jeongmal? Eii... aku baru
tahu, kalau ngobrol dengan seorang pria juga termasuk salah satu tugasmu.
Ck..ck..ck.."
"Mwo? Yaak!!!! Phabo ah!
Siapa yang ngobrol?!! Aku hanya berbicara padanya sebentar saja. Itupun tentang
tulisanku." Kulihat Jinwoon tertawa tanpa suara mendengar ucapanku.
"Arrasso.. arrasso!! Awas
saja, Seo Joohyun! Kalau kau berani mengkhianatiku, akan kupatahkan kaki lelaki
itu!"
"Mwo?!! Kau minta dihajar
yah?!" Jinwoon meringis melihatku nyaris melayangkan pukulan ke kepalanya.
"Yak!! Bukankah dulu kau
pernah berjanji padaku, kalau kau hanya akan menikah denganku saja? Dulu kau
bernjanji tidak akan menikah dengan pria manapun meski dia adalah seorang
pangeran Inggris sekalipun. Dulu kau hanya mencintaiku, Joohyun ah!"
Haissh... aku tak tahan lagi rasanya, melihat Jinwoon terus meledekku. Anak ini
benar-benar minta dihajar.
"Awwww!!!" Lelaki bodoh
itu berteriak seketika saat sebuah pukulan kulayangkan ke tubuhnya. Sontak,
banyak mata segera terarah pada kami karena teriakan bodoh itu. Tentu saja,
Jinwoon melanggar aturan perpustakaan untuk tidak membuat kebisingan.
"Neol phabo ah?!!" Aku
membelalakan mataku sambil mencerewetinya dengan suara berbisik.
"Mwo ya?? Kenapa kau memukulku?"
Jawabnya dengan suara berbisik juga.
"Siapa yang menyuruhmu
berkata yang tidak-tidak, Huh?"
"Mwo?!! Yang aku katakan
benar, kan?" Jinwoon sekali lagi menarik perhatian orang-orang dengan
suara bodohnya. Dan kali ini dia berhasil membuat seorang petugas perpustakaan
datang menghampiri kami dan menunjukkan pintu keluar pada kami. Haish!! Geun
phabo ah!! Dia malah terkekeh sambil membantuku membereskan buku-buku juga
laptop di mejaku sebelum akhirnya dia mengajakku pergi.
"Kkaja, Joohyun ah!! Aku
akan mengajakmu ke suatu tempat yang kau pasti suka!" Tangannya meraih
pergelangan tanganku lalu menarikku mengikuti langkahnya. Tapi aku tidak serta
merta setuju.
"Odie ga?" Aku
menghentikan langkahku hingga Jinwoon pun berhenti lalu menatapku dengan
senyumnya.
"Geunyang ddarawa! Aku
janji, kau pasti menyukainya. Geok cheongma, ddak hanbon nan middo ah!"
Beberapa menit Jinwoon melajukan
mobilnya, lalu menghentikannya didepan sebuah café kecil sekitaran Inshan-Dong. Anak itu melepas
seat belt nya dan mengisyaratkan aku untuk turun mengikutinya.
Tempat itu tidak terlalu ramai.
Tapi suasananya cukup asik dengan live music menghangatkan dinginnya malam. Ya.
Saat ini tepat pukul 10.00 malam. Terima kasih untuk sahabat kecilku Jinwoon,
karenanya, aku menahan laparku hingga selarut itu.
Jinwoon menuntunku menuju sebuah
meja ditengah area café. Sebuah meja kayu berbentuk kotak dengan 4 kursi yang
juga terbuat dari kayu.
"Yeogi, Joohyun ah! Anju
ah." Jinwoon menggeser salah satu kursinya, lalu mempersilahkan aku duduk.
Setelah itu, barulah dirinya duduk tepat disampingku.
Jangan salah sangka. Ini sama
sekali bukan kencan! Kami hanya makan malam sambil melihat dan mendengar sebuah
band café membawakan lagu-lagu swing yang mengalun merdu ditelingaku.
Setidaknya, malam ini aku harus berterima kasih pada Jinwoon karena membantuku
menetralisir segala sesak yang kurasakan beberapa hari ini. Hhhh... untuk
sesaat, aku melupakannya. Dan aku sangat menikmati my very late dinner kali
ini.
"Joohyun ah, jamkaman. Aku
harus ke toilet sebentar. Tunggu yah." Jinwoon beranjak usai kuanggukkan
kepalaku. Aku masih menikmati musiknya. Dan juga choco larva di hadapanku. Tapi
sesuatu terasa berbeda. Aku merasa... seperti sepasang mata sedang menatap dan
memperhatikanku.
*****
"Apa Jinwoon Oppa belum
memberitahumu? Bahwa aku adalah kekasihnya?" Raut wajah itu bisa kuartikan
seperti sedang menyulut tanda perang ke arahku. Meski aku tak mengerti, apa
maksudnya?
"Son Naeun, jebbal...
geumanhae! Kau tidak bisa berbuat seperti ini pada Joohyun!" Jinwoon
berusaha menarik kembali tangan gadis itu yang semakin terlihat murka.
"Mwo? Memangnya kenapa?
Memangnya dia siapa hingga kau memperlakukannya lebih istimewa dariku? Apa kau
lupa, apa yang membuatmu bisa berdiri di posisimu sekarang hingga semua orang
bisa mengenal dan menyukaimu? Dan perempuan ini.. sama sekali tidak pantas kau
bandingkan denganku!!!!"
"Jaga ucapanmu, Nona... atau
kau akan kehilangan popularitasmu saat kau bangun tidur besok pagi!!!" Aku
mendengar sebuah suara yang sangat aku kenal tiba-tiba datang dari belakangku.
Beberapa saat kemudian, kurasakan tanganku sudah terkunci dalam genggaman
tangannya.
"Perempuan dihadapanmu
ini.....
Dia milikku!"
Jung Yonghwa, apa yang kau lakukan?

👍👍👍👍👍👍👍👍👍👏👏👏👏
BalasHapusYaah, emotnya gag nongol...
BalasHapus*itu tepuk tangan yaa😊😊😊
waduh,,,bikin deg-deg an ajaaa....
BalasHapusohhhhh,,ng sabar.....
Jingga eonnie..
BalasHapusEonnie jeongmal jjang.. !! ;)
Owh yonghwa oppa you're so sweet namja,
BalasHapusMuncullah penantang baru
BalasHapus👍👍👍👍👍
BalasHapus👍👍👍👍👍
BalasHapus