Kamis, 19 November 2015

In Time With You Chapter 17



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8
 
 
Chapter 17

That Girl

KCC beberapa hari ini benar-benar menyita waktu dan tenaga Seohyun. Terlebih pasca Song Jihyo melahirkan bayi laki-lakinya beberapa minggu lalu. Tugasnya bertambah dengan merangkap sebagai kasir dan finance dalam satu waktu. Seohyun memulai pekerjaannya pukul 2 siang begitu kuliahnya usai, dan baru bisa sampai di rumah pukul 10.30 malam. Terkadang dia malu pada Yonghwa. Paling tidak, harusnya dia bisa membantunya merapihkan dan membersihkan rumahnya. Tapi karena pekerjaan ini, maka Seohyun hanya bisa membuatkan sarapan untuk Yonghwa sebelum dia pergi kuliah.

Kang Sajangnim memeberinya cuti. Biasanya, dia tidak akan mengambilnya karena kondisi restaurant yang sedang ramai akhir-akhir ini dan Seohyun merasa tidak enak pada Hyoyeon dan Suho. Tapi kali ini, dia benar-benar butuh istirahat untuk mempersiapkan ujiannya dan menyelesaikan beberapa chapter terakhir novelnya. Dan lagi, Seohyun berniat untuk membersihkan apartemen Yonghwa kali ini dan membuatkan makan malam bergizi untuk mereka.

Usai membeli beberapa bahan masakan, Seohyun segera menuju rumah. Yonghwa baru akan tiba dirumah sore nanti. Jadi dia masih sempat untuk melakukan pekerjaannya hingga nanti. Setibanya disana, seperti biasa, Seohyun menekan passcode pintu apartemennya, lalu memasukinya. Dengan santai dia menyimpan sepatunya disamping sepatu Yonghwa di rak kecil yang terletak disamping pintu. Tapi betapa terkejutnya dia, saat mendapati ada sepasang sepatu perempuan disana.

Mungkinkah Eomma-nya Yonghwa? Batinnya.

Dengan ragu, Seohyun berjalan menuju ruang tengah untuk memastikan siapa yang datang. Tapi tak ada seorang pun disana. Lalu dia berjalan lagi menuju dapur untuk menyimpan belajaan yang dibawanya. Hatinya masih tidak tenang. Karena bila benar sepatu itu milik ibunya Yonghwa, Seohyun benar-benar tidak tahu harus melakukan dan bicara apa.

Dan sebuah suara datang dari arah koridor kamar tamu.

"Arasso, Yonghwa ah!! Aku akan menunggumu disini. Tadinya aku ingin memberimu kejutan karena kau bilang padaku jadwalmu kosong hari ini. ~ Mwo?! Kenapa aku tidak boleh menunggu di apartemenmu?~ Aku tahu, Yonghwa ah, tapi..... Bogoshipposeo! Kau sangat sulit dihubungi akhir-akhir ini dan aku benar-benar merindukanmu.~ Mwo?! Apartemen Jonghyun? Kenapa aku harus menunggu disana?~ Yak.. Yonghwa ah, kau bersikap sangat aneh. Ada apa sebenarnya?~ Arasso! Geunom!"

Debar jantungnya memacu kencang. Segala bentuk spekulasi dan fikiran berkecamuk dibenak gadis itu. Suaranya, Seohyun yakin perempuan ini bukan diusia seorang Eomma. Dan percakapan itu, apa maksud semua itu? Siapa dia?

"Omo... kau... siapa kau? Kenapa kau bisa berada didalam apartemen Yonghwa?" Perempuan itu tampak kaget melihat Seohyun sedang berdiri terpaku didepan mini bar table.

Akhirnya, Seohyun melihatnya. Perempuan cantik dengan rambut hitam, panjang tergerai baru saja datang dari arah kamar Yonghwa. Tanpa dia sadari, tangannya mengepal sekuat tenaga, manahan nyeri yang mulai terasa dihatinya, bahkan hanya karena analisa dan spekulasinya sendiri.

"A... aku... aku...." Damn!! Kenapa tiba-tiba lidahnya membeku? Kenapa dia harus terlihat gugup dihadapan wanita itu, bahkan saat dia tidak melakukan kesalahan apapun?

"Aah... kau datang untuk membersihkan rumah ini, bukan? Okay. Silahkan. Lakukan saja, dan jangan merasa terganggu. Aku akan menunggu di studio Yonghwa." Perempuan itu tersenyum ramah padanya, lalu dia membawa tubuhnya menghilang dibalik dinding koridor.

Rasa perih mulai terasa nyata menyesakkan dadanya. Membersihkan rumah? Apa dimata orang-orang dirinya memang terlihat semenyedihkan itu? Siapa dia? Dan kenapa dia tahu passcode rumah ini?

Semakin dia memikirkannya, semakin sakit rasanya.

"Masa bodoh! Aku hanya harus percaya pada Yonghwa. Aku akan bertanya padanya nanti. Sambil menunggunya datang, aku akan melakukan rencanaku semula, yaitu membersihkan rumah ini." Seohyun bergumam pada dirinya sendiri. Dia fikir, dengan begitu rasa sakitnya akan membias.

Waktu berlalu terasa lambat. Betapapun kerasnya Seohyun mencoba untuk tidak merasa terganggu, tetap saja.... fikirannya tidak tenang.

"Ahjumma, bisa minta tolong kau buatkan teh dengan sedikit gula?" Suara itu kembali datang tiba-tiba. Dan kali ini benar-benar menampar harga dirinya hingga Seohyun ingin berteriak rasanya. Tapi dengan bodohnya, dia hanya menganggukan kepala sambil menyeret langkah kakinya yang terasa lemas menuju dapur untuk memenuhi permintaan wanita itu.

Batinnya tak henti-hentinya mengutuki dirinya sendiri. Ya, Seohyun memang terbiasa melayani orang-orang karena pekerjaannya. Tapi kali ini, bukankah perempuan itu sudah sangat keterlaluan? Dia bahkan belum sempat mengatakan siapa dirinya, tapi perempuan itu malah langsung menilainya sebagai pelayan.

Perempuan itu duduk disofa living room sambil terus bermain-main dengan ponselnya. Seohyun segera menyodorkan secangkir teh hangat yang dia minta dan secepatnya ingin segera lenyap dari sana. Tapi...

"Oh iya, Ahjumma... ini... aku membeli beberapa minuman untuk Yonghwa dari New York. Bisa tolong kau simpan di kulkas?"

Perempuan itu menyerahkan dua paper bag berisi beberapa botol minuman padanya. Kali ini kesabaran Seohyun hampir habis dan dia tidak peduli lagi tentang siapa perempuan itu sebenarnya. Dia hanya ingin mengatakan padanya bahwa dia bukan pelayan!!!

Tapi niatnya terhenti seiring suara passcode pintu terbuka. Beberapa detik kemudian, pria yang ditunggu oleh wanita itu, dan tentu saja oleh Seohyun juga, muncul dengan wajah paniknya. Terutama saat dia melihat Seohyun yang juga berada disana.

"Yonghwa....." Senyum super lebar seketika merekah diwajah perempuan itu. Tapi tatapan Yonghwa hanya terarah pada Seohyun yang kali ini menatapnya tajam. Dan itu bukanlah tatapan penyambutan atas kedatangannya. Melainkan sisa marahnya yang urung dia ledakkan pada wanita itu.

Perempuan itu menyadari bahwa Yonghwa sedang menatap Seohyun dan mengabaikan keberadaannya. Dia melihat kearah Seohyun yang ternyata juga sedang menatap Yonghwa.

"Ahjumma... apa yang kau lakukan? Bukankah aku memintamu untuk menyimpan minuman ini?"

"Ahjumma?!!!" Yonghwa nyaris berteriak hingga membuat perempuan itu dan juga Seohyun terhenyak kaget.

"Yo... Yonghwa ah! Kenapa kau berteriak?"

"Ahjumma? Siapa yang kau fikir sebagai ahjumma? Kim Hyunna!! Neol mitjoseo?!!" Yonghwa benar-benar berteriak kali ini hingga membuat kedua perempuan itu meringis ketakutan. Binar matanya benar-benar marah. Lalu pandangannya beralih pada Seohyun.

"Dan kau, Seo Joohyun! Neol phabo ah?! Dia memanggilmu ahjumma dan kau diam saja?!"

Seohyun menatap Yonghwa semakin tajam.

"Mwo? Naega phabo rago? Ah... cham! Baiklah, aku pergi saja kalau begitu." Seohyun tersenyum pahit dan hendak berlalu mengambil jaket dan tasnya, tapi Yonghwa bergegas meraih lengannya.

"Joohyun ah... bukan begitu maksudku..."

"Igae mwo yah?!! Huh?! Yak.. Jung Yonghwa! Apa yang sebenarnya kau lakukan sekarang? Aku datang jauh-jauh hanya karena aku merindukanmu, dan kau.... kau tiba-tiba pulang membentak tunanganmu sendiri didepan perempuan asing?!"

Seperti sebuah batu besar jatuh dan menghantam kepalanya dengan keras saat Seohyun mendengar ucapan perempuan itu. Tunangan? Kim Hyunna, tunangan Yonghwa? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa semua itu terjadi tanpa dia mengetahuinya sedikitpun? Bagaimana mungkin Yonghwa melakukan semua itu padanya dan membiarkannya tersesat teramat jauh?

Cengkraman tangan Yonghwa di lengan Seohyun kian terasa kencang. Begitupun sorot matanya. Seolah lewat tatapan mata itu Yonghwa sedang mengiba pada Seohyun untuk memberinya kesempatan menjelaskan segalanya.

"Yonghwa ah!!!" Kim Hyunna yang merasa diabaikan akhirnya berteriak. Yonghwa sadar, bahwa dia harus segera menyelesaikan kemelut ini mulai dari Hyunna. Sekali lagi, dia menatap Seohyun.

"Joohyun ah, jebbal gidari ah! Aku akan menjelaskankannya padamu. Hhm? Kaja, Hyunna ah! Kita harus bicara!" Yonghwa melepaskan cengkramannya dilengan Seohyun dan kali ini dia mencoba menarik pergelangan tangan Hyunna untuk mengajaknnya pergi.

"Shiro!! Kenapa harus aku yang pergi? Kalau kau ingin bicara, maka bicarakan disini!" Wajah perempuan itu benar-benar berubah murka. Matanya mulai berkaca-kaca menahan tangisnya.

"Gwaenchanna, Oppa! Aku akan pergi!" Akhirnya, Seohyun berhasil meraih jaket dan tasnya lalu pergi meninggalkan Yonghwa dan perempuan itu disana.

Meninggalkan cintanya ditangan takdir yang entah akan berubah seperti apa.

*****

"Mwo rago? Apa kau bilang? Putus?" Suara Hyunna terdengar bergetar. Kedua kakinya terasa lemas, dan air matanya satu-persatu jatuh tanpa terbendung. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

"Hyunna, mengertilah... sejak awal pertunangan ini tidak seharusnya terjadi. Aku bukan Hyung dan aku juga tidak mungkin bisa menggantikan posisinya dalam hidupmu. Kau... kau berhak mendapatkan pria yang lebih baik yang akan menjaga dan mencintaimu setulus hatinya."

"DAN KAU SUDAH MEMBUNUH LELAKI TERBAIK ITU!!!"

Hyunna tak mampu lagi membendung lukanya. Luka yang setengah mati dia berjuang untuk menyembuhkannya, dan kini... Yonghwa mengoreknya lagi tepat dilubang yang sama hingga membuatnya kembali berdarah.

"Hyunna ah....."

"Shiro!! Aku tidak ingin putus denganmu! Mwo ah? Kau ingin putus denganku lalu hidup bahagia dengan gadis yang kau cintai? Huh?! Maldo andwe!!

Kau... telah merenggut orang yang paling aku cintai dan karenamu, hidupku terasa seperti zombi.

No neun... bukankah kau sudah berjanji untuk bertanggung jawab untuk sisa kebahagiaan yang sudah kau rebut dari hidupku?"

Hyunna menatap Yonghwa semakin tajam dengan air mata yang mengalir deras dari kedua matanya. Kepedihan itu masih tampak jelas disana. Gadis itu begitu rapuh dan terluka. Ya, Yonghwa sadar, dia memang seharusnya bertanggung jawab karena telah merenggut dunia kecil milik Hyunna. Bila saja tragedi malam itu tidak terjadi, maka Hyunna pasti sudah bahagia hidup bersama Hyung-nya.

Dan sejak saat itu, 2 tahun lalu, saat Yonghwa perlahan bisa mengatasi depresinya, Hyunna masih terpuruk dan menarik diri dari lingkungan sosial. Dia menjadi gadis pendiam dan penyendiri. Kehilangan Yongdo bagaikan kehilangan hidupnya. Yonghwa mendengar kabar tentangnya dari kedua orang tuanya, lalu dia mulai sering datang menemui Hyunna.

Kim Hyunna, putri tunggal pemilik perusahaan properti. Yonghwa mengenalnya sejak kecil, dan diam-diam dia menyukai Hyunna. Mereka berada di usia yang sama. Tapi kemudian, Yonghwa tahu bahwa Hyunna menyukai Hyung-nya. Bahkan tidak jarang Hyunna menjadikan Yonghwa sebagai senjata rahasia untuk datang ke rumah keluarga Jung hanya untuk sekedar bertemu dengan Hyung-nya.

Ya, Yonghwa tahu semua itu, tapi dia membiarkan Hyunna memanfaatkannya sesuka hatinya. Suatu hari, di usia mereka yang ke 20, keluarga Kim dan keluarga Jung akhirnya meresmikan pertunangan Kim Hyunna dan Jung Yongdo. Tentu saja, kisah cinta kedua anak ini sekaligus membawa keuntungan bagi bisnis keluarga mereka. Dan bahkan mereka langsung menentukan tanggal pernikahan bagi keduanya. Yaitu tepat seminggu setelah kecelakaan itu merenggut Yongdo.

Butuh waktu lama untuk Yonghwa membawa kembali Hyunna kedalam hidupnya, sementara dia sendiri pun masih berjuang keras untuk bisa keluar dari traumanya. Dan saat itu, Yonghwa berjanji pada Hyunna bahwa selamanya dia akan selalu ada untuknya. Membantunya untuk kembali berdiri dan menjalani sisa hidupnya. Menjaganya dan mencintainya seperti yang seharusnya Hyung-nya lakukan.

Tak disangka, Hyunna menerimanya. Perlahan, sejak saat itu, Hyunna mulai kembali menjalani kehidupan normalnya. Melanjutkan kuliahnya, berkumpul dengan teman-temannya, dan satu hal yang tak kalah pentingnya.

Melanjutkan hidupnya sebagai calon menantu keluarga Jung.

*****

Perlahan, dengan lembut Yonghwa meraih wajah pucat dihadapannya dengan jemarinya. Untuk kesekian kalinya, Yonghwa berusaha mengusap air mata gadis itu setiap kali dia mulai menangis. Meski berkali-kali juga air mata itu kembali mengalir dan dia menjadi salah satu penyebabnya. Dia tahu, betapa brengseknya apa yang sudah dia lakukan pada gadis ini saat dia gagal menghalau eksistensi Seohyun dalam hidupnya. Seberapa besarnya pun rasa bersalah yang Yonghwa rasakan untuk Hyunna, semua itu tak cukup mampu menolak kenyataan tentang betapa dirinya sangat menginginkan Seohyun. Gadis yang untuk pertama kalinya membuat jantungnya berdebar kencang saat melihatnya.

"Hyunna, dengar..
Aku tahu, aku tidak berhak mengatakan ini padamu setelah apa yang sudah aku lakukan dan aku sebabkan dalam hidupmu. Tapi kumohon, Hyunna ah.. cobalah untuk memikirkannya sekali lagi. Benarkah hubungan kita ini adalah apa yang kau inginkan? Benarkah kehadiranku membuat hidupmu lebih baik? Benarkah aku bisa menggantikannya? Benarkah.... " Yonghwa terdiam sesaat kala rasa perih terasa menyesak didadanya.

"Benarkah... saat kau menatapku adalah aku yang kau lihat? Atau kau hanya ingin melihat bayang wajah Yongdo Hyung dalam diriku?"

Keduanya terdiam. Mata mereka masih saling bertatapan dan luka-luka itu semakin jelas berbayang. Lalu suara Hyunna lirih terdengar setengah berbisik.

"Kenapa kau baru menanyakannya sekarang? Setelah kuseret kakiku begitu jauh hanya untuk mengikutimu berlari dari kepedihan ini. Setelah aku paksa tubuh dan jiwaku untuk mempercayaimu bahwa waktu akan menyembuhkan segalanya. Setelah aku mulai terbiasa dengan kehadiranmu dan bahkan mulai gila karena aku percaya... bahwa kepergian Yongdo Oppa semata karena Tuhan memberiku kesempatan untuk hidup lebih bahagia denganmu?

Wae, Yonghwa ah? Wae?" Suaranya lemah, nyaris tak terdengar. Air mata semakin deras mengalir dipipinya. Semua itu terasa mengiris hati Yonghwa.

Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin Yonghwa berbuat sejahat ini pada Hyunna? Harusnya dia menahannya. Harusnya dia abaikan saja getaran cinta terkutuknya untuk Seohyun. Lihat! Lihat apa yang sudah dia lakukan pada gadis rapuh ini? Dan juga Seohyun-nya? Dimana dia sekarang? Siapa yang akan mengusap air matanya karena Yonghwa yakin gadis itu juga pasti sedang menangis saat itu.

Frustasi, Yonghwa mengusap wajah dan kepalanya dengan kedua tangannya. Rasanya dia ingin menghentikan waktu dan lenyap dari situasi itu. Lari, seperti seorang pengecut, ketempat yang tidak akan ada seorang pun yang akan mengenalinya.

"Mianhae, Hyunna ah! Naega jeongmal mianhae!" Lemah, suaranya mengalun sambil dia tundukkan kepalanya.

"Wae, Yonghwa ah? Apa karena gadis itu?" Hyunna terus menatapnya meski Yonghwa selalu berusaha menghindari tatapan itu.

"Ani ah, Hyunna ah! Geuronggo ani ah! Geunyang.... mianhae, aku hanya merasa bahwa kita perlu waktu untuk memikirkan lagi semuanya. Aku tahu, seharusnya aku terlebih dulu datang padamu sebelumnya. Aku tidak berharap kejadiannya akan seperti ini.

Hyunna, jebbal... aku hanya ingin kita berdua tidak menyesali keputusan ini. Terutama kau."

"Kau mencintainya?" Seolah Hyunna tak peduli dengan apa yang Yonghwa katakan, dia hanya ingin mendengar jawaban itu dari mulut Yonghwa.

Sesaat, keduanya hanya saling menatap. Hyunna terus menunggu jawaban itu, sementara Yonghwa tidak tahu harus megatakan apa.

"Mianhae, Hyunna ah! Mianhae!" Yonghwa menundukan kepalanya. Hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari mulutnya.

"Bukan itu jawaban yang aku tunggu, Yonghwa! Sekali lagi aku bertanya. Kau mencintainya?" Hyunna menatapnya semakin tajam. Perlahan, Yonghwa mengangkat wajahnya dan kembali menatap Hyunna dengan air mata yang sudah menggenang dikelopak matanya.

"Aku mencintainya, Hyunna ah! Otthokhae? Aku sangat mencintainya hingga aku tak peduli apakah perasaan ini benar atau salah. Aku mencintainya hingga aku merasa kembali hidup seperti seorang manusia.

Mianhae, Hyunna ah! Aku mencintainya...."

Dan air mata itu akhirnya jatuh. Saat dia mengatakan bahwa dia mencintainya, saat itu pula bayang wajah Seohyun melintas dalam fikirannya. Yonghwa sadar, dia tidak bisa kehilangannya. Dia merindukannya. Rasanya ingin sekali dia berlari dari tempatnya berdiri hanya untuk segera menemukannya. Meski dia tahu yang dia lakukan itu salah, tapi baginya, mencintai Seohyun adalah hal yang paling benar yang pernah dia lakukan dalam hidupnya.

"Jinjja? Hah.. Ottokhae? Ijae ottokhae, Yonghwa ah? Kenapa semua jadi seperti ini? Wae? Kenapa kau melakukan ini padaku?" Tangisnya pecah. Kedua tangan kecilnya mengepal. Dengan sisa tenaganya dia memukul-mukul tubuh Yonghwa dihadapannya. Sesaat, Yonghwa membiarkannya hingga Hyunna merasa puas. Tapi kemudian dia menarik tubuhnya dan memeluknya. Hyunna menangis semakin menjadi dalam pelukan Yonghwa.

"Mianhae, Hyunna ah! Naega jalmothaeseo! Jeongmal mianhanda."

*****

Ditempat lain, seorang gadis sedang duduk sendiri disudut sebuah café dengan beberapa botol soju dihadapannya. Malam semakin larut, dan hujan turun begitu deras. Matanya menerawang keluar jendela, menatap rintik-rintik hujan yang menari saat menyentuh tanah. Sesekali, dia melihat layar ponselnya.

"Dia tidak mencariku. Lelaki itu... dia tidak berusaha mencariku!" Gumamnya, dengan kesadaran yang mulai terganggu karena lima botol soju yang masuk ke perutnya. Seohyun bukanlah peminum yang handal. Biasanya, dia akan langsung kehilangan dirinya hanya dengan satu botol saja. Tapi kali ini, entah apa yang terjadi. Seohyun tak kunjung mabuk dan rasa sakit dihatinya pun tak kunjung hilang.

Dia masih memikirkannya. Perempuan itu. Kim Hyunna. Tunangan Yonghwa, kekasihnya.

"Hhhh.... akhirnya, aku merasa dunia ini berhasil mempermainkanku lagi." Lagi-lagi dia bergumam sendiri dengan tawa getirnya. Seohyun menuangkan lagi soju kedalam gelas kecil dihadannya, lalu menegaknya.

"Phabo! Kenapa aku bisa sebodoh ini? Kenapa aku membiarkan diriku dipermainkan seperti ini? Kenapa aku harus menangis sendiri ditempat ini dengan botol-botol soju dan menunggunya datang?" Air matanya kembali mengalir deras. Tangan kecilnya mengepal dan memukul-mukul dadanya sendiri, berharap dengan begitu, rasa sakit itu akan hilang.

Seohyun menyeka air matanya, lalu sekali lagi berusaha menuangkan soju kedalam gelasnya. Tapi tangannya terhenti saat dia akan meneguk minuman itu, karena seseorang dengan cepat merebut gelasnya, dan meminumnya. Dengan penglihatan yang juga mulai terganggu, Seohyun berusaha melihat siapa yang sudah mengambil minumannya. Samar-samar, Seohyun melihat sosok pria tinggi, tiba-tiba duduk dihadapannya. Matanya memicing, demi agar bisa melihat lebih jelas. Dan akhirnya....

"Ah... Cho Kyuhyun Ssi? Anyeong Has.. seyyoo!! Eoraen.. manhie..yoo!!" Sepertinya, Soju mulai bereaksi dalam tubuhnya karena bicaranya mulai terbata.

"Nde, Seohyun Ssi. Eoraenmanhieyo. Aku tidak mengira akan bertemu denganmu disini. Mwoeyo? Apa kau minum sendiri?" Kyuhyun mulai menghitung botol-botol soju yang berada di atas meja.

"Nnndeee!!! Aku minum sendiri! Aah.. kau datang terlambat, Kyuhyun Ssi! Andai saja.. kau datang lebih awal, hhh... maka aku tidak harus menghabiskannya sendiri!" Seohyun tertawa kecil dengan mata yang sulit untuk dia buka. Kyuhyun menghela nafas panjang. Matanya menatap sendu kearah gadis dihadapannya yang kala itu terlihat sangat menyedihkan.

"Wae geureayo, Seohyun Ssi? Apa yang membuatmu seperti ini? Kenapa perempuan sepertimu sampai bisa menghabiskan 5 botol soju seperti ini?" Tampak jelas dimatanya, Kyuhyun benar-benar mengkhawatirkan Seohyun.

"Opsoyo! Geunyang... aku hanya..." Seohyun kembali menahan tangisnya.

"Aku hanya ingin minum saja. Karena aku benar-benar lelah. Aku lelah sampai aku ingin kehilangan kesadaranku untuk sesaat. Karenanya... hhhh... aku ada disini sekarang." Seohyun kembali menunjukan senyum yang sengaja dibuatnya.

"Kalau begitu, aku akan menemanimu. Gwaenchannayo? Atau... kau ingin aku menghubungi kekasihmu agar dia datang dan menjemputmu disini?"

"Aniyo... aniyo! Jinjja aniyo!! Kau.. tidak boleh menghubinginya! Geun saram... lelaki itu, saat ini sedang sibuk. Dia..hhh... dia sedang sibuk, karenanya dia tidak mencariku." Sekali lagi, Seohyun mencoba untuk menuangkan soju kedalam gelasnya. Tapi lagi-lagi, Kyuhyun mengambil gelas itu, lalu meneguk soju yang Seohyun tuangkan.

"Yaak... Kyuhyun Ssi! Kau.. terus mengambil gelasku! Geuman.. haeyo! Ambil gelasmu sendiri!" Seohyun mengerutkan bibirnya sambil menunjukan tangannya ke wajah Kyuhyun. Untuk sesaat, Kyuhyun tersenyum dibuatnya, karena Seohyun benar-benar cute saat dia mabuk seperti itu.

"Aigoo... geuraeyo, aku akan mengambil gelasku. Tapi jebbalyo, kau harus berhenti sekarang, Seohyun Ssi. Kau sudah minum terlalu banyak." Kyuhyun dengan sebenarnya khawatir melihat keadaan Seohyun. Meski dia tidak tahu apa yang sedang dialami gadis itu, dia hanya berharap bahwa Seohyun tidak sedang terluka saat ini.

Andwe! Tidak boleh ada yang melukai Seohyun-nya.

Beberapa saat kemudian, Seohyun sudah sepenuhnya tumbang karena soju-soju nya. Kepalanya tersungkur diatas meja. Dan Kyuhyun masih disana menjaganya. Diam-diam, Kyuhyun memperhatikan wajah sendu memerah yang kini terlelap dihadapannya. Perlahan, dengan lembut jemarinya menyisir rambut Seohyun yang tergerai menutupi sebagian wajah cantiknya.

"Kau pasti sangat lelah, Joohyun ah! Aku tidak tahu seberapa besar beban yang kau pikul selama ini. Aku berharap, kau bisa membaginya padaku. Mianhae, Joohyun ah! Jeongmal mianhae!"

Matanya yang berkaca-kaca menatap lekat perempuan dihadapannya. Hingga malam semakin larut, dan café itu pun akan segera tutup, Kyuhyun tak punya pilihan lagi selain membawa Seohyun bersamanya. Dia tidak tahu kemana harus mengantar Seohyun pulang. Ani! Dia tahu, tapi... melihat kondisi Seohyun dan apa yang dia katakan tentang Yonghwa tadi, Kyuhyun yakin, sesuatu sedang terjadi diantara mereka. Dan membawanya pulang kerumah Yonghwa, bukanlah ide yang baik saat itu. Terlebih, Seohyun tidak tahu bila dirinya tahu dimana Seohyun tinggal.

Hujan masih mengguyur Seoul. Kyuhyun melindungi tubuh Seohyun dengan mantelnya, lalu menggendong Seohyun dipunggungnya sebelum dia berlari melintasi hujan menuju mobilnya. Kyuhyun mendudukan Seohyun dikursi depan, disampingnya. Dengan hati-hati, dia memasangkan sabuk pengaman dan mengeringkan wajah Seohyun yang terkena hujan dengan tisu. Tiba-tiba Seohyun bergumam lirih.

"Nappeun saram! Nappeun namja! Kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa kau membawaku masuk kedalam duniamu, bila nyatanya aku tetaplah orang asing disana?" Air mata kembali mengalir disudut matanya yang terpejam. Dan itu menyakiti hati Kyuhyun yang melihatnya.

"Geun saram? Jung Yonghwa menyakitimu? Haruskah kupatahkan hidungnya, huh?" Sambil mengusap air mata Seohyun, tak kalah lirih, Kyuhyun bergumam membalas ucapan gadis itu yang tentu saja tidak akan mendengarnya.

*****

'Anyeong haseo, Seohyun imnida. Saat ini, aku mungkin sedang sibuk. Silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi biiiip.....'

Yonghwa berulang kali mengacak rambutnya, frustasi. Gadis itu tidak mengangkat teleponnya. Dimana dia? Malam kian larut, hujan deras ditambah petir menyambar membuatnya semakin mencekam.

"Seo Joohyun, Jebbal.... beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya..." Lelaki itu bergumam sendiri didalam mobilnya, usai berputar-putar kesegala tempat untuk mencarinya.

Tapi dia tidak menemukannya.

'Where You Are'
CNBLUE


I’m breaking down. I am screaming out.
My time is running out. What do I do now?
Oh give up? or stand up?
I don’t know. I wanna break the spell now.

I’m drowning now. I am crying out.
My time is running out.
I need someone to save me now.
Somewhere, Lady luck will smile at me. yeah

I’m searching where you are.
Oh, shining down on me from where you are.
I’ll always be right there, baby. Always be right there, baby.
Oh, please touch my body and my face.
I’m searching where you are.
Can you see what I need? It’s where you are.
I’ll always be right there, baby. Always be right there, baby.
You know? When I can be where you are, only then I will shine bright.

I’m crumbling down. I’m falling apart.
My time is running out. What do I do now?
Oh give up? or stand up?
I don’t know. I wanna break the spell now.

I can’t breathe now. I’m losing myself.
My time is running out.
I need someone to save me now.


Author Note :
Sorry for the late update.... as always, thanks for keep reading my story and i wish you enjoy it. Please... say hello to Kim Hyunna and Cho Kyuhyun. Semoga kalian bisa nerima mereka dengan baik yaah,,, kwkwkwk.... :P










4 komentar:

  1. Finally..you update,eonnie..
    I was Waited for along time..
    But,why it must "to be continued" like this??
    it Made me like had a big stone in my mind and my heart..
    Yeah..a.k.a broken heart..hahahahahaha
    . X'D
    thanks for your wrote eonnie..
    I love Your yongseo ff..
    jingga Eonnie fighting!!^^
    I'll Be wait for the next chapter,eonnie.. ^^

    BalasHapus
  2. Me too eonnie!!! Fighting jingga eonnie, aku tunggu chapter selanjutnya

    BalasHapus
  3. Aku terima..... Hehe,
    Mungkin mudah menyingkirkan hyunna tapi kyuhyun.... Hmmm

    BalasHapus