In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 17
That Girl
KCC beberapa hari ini benar-benar
menyita waktu dan tenaga Seohyun. Terlebih pasca Song Jihyo melahirkan bayi
laki-lakinya beberapa minggu lalu. Tugasnya bertambah dengan merangkap sebagai
kasir dan finance dalam satu waktu. Seohyun memulai pekerjaannya pukul 2 siang
begitu kuliahnya usai, dan baru bisa sampai di rumah pukul 10.30 malam.
Terkadang dia malu pada Yonghwa. Paling tidak, harusnya dia bisa membantunya
merapihkan dan membersihkan rumahnya. Tapi karena pekerjaan ini, maka Seohyun
hanya bisa membuatkan sarapan untuk Yonghwa sebelum dia pergi kuliah.
Kang Sajangnim memeberinya cuti.
Biasanya, dia tidak akan mengambilnya karena kondisi restaurant yang sedang
ramai akhir-akhir ini dan Seohyun merasa tidak enak pada Hyoyeon dan Suho. Tapi
kali ini, dia benar-benar butuh istirahat untuk mempersiapkan ujiannya dan
menyelesaikan beberapa chapter terakhir novelnya. Dan lagi, Seohyun berniat
untuk membersihkan apartemen Yonghwa kali ini dan membuatkan makan malam
bergizi untuk mereka.
Usai membeli beberapa bahan
masakan, Seohyun segera menuju rumah. Yonghwa baru akan tiba dirumah sore
nanti. Jadi dia masih sempat untuk melakukan pekerjaannya hingga nanti.
Setibanya disana, seperti biasa, Seohyun menekan passcode pintu apartemennya,
lalu memasukinya. Dengan santai dia menyimpan sepatunya disamping sepatu
Yonghwa di rak kecil yang terletak disamping pintu. Tapi betapa terkejutnya
dia, saat mendapati ada sepasang sepatu perempuan disana.
Mungkinkah Eomma-nya Yonghwa?
Batinnya.
Dengan ragu, Seohyun berjalan menuju
ruang tengah untuk memastikan siapa yang datang. Tapi tak ada seorang pun
disana. Lalu dia berjalan lagi menuju dapur untuk menyimpan belajaan yang
dibawanya. Hatinya masih tidak tenang. Karena bila benar sepatu itu milik
ibunya Yonghwa, Seohyun benar-benar tidak tahu harus melakukan dan bicara apa.
Dan sebuah suara datang dari arah
koridor kamar tamu.
"Arasso, Yonghwa ah!! Aku
akan menunggumu disini. Tadinya aku ingin memberimu kejutan karena kau bilang
padaku jadwalmu kosong hari ini. ~ Mwo?! Kenapa aku tidak boleh menunggu di
apartemenmu?~ Aku tahu, Yonghwa ah, tapi..... Bogoshipposeo! Kau sangat sulit
dihubungi akhir-akhir ini dan aku benar-benar merindukanmu.~ Mwo?! Apartemen
Jonghyun? Kenapa aku harus menunggu disana?~ Yak.. Yonghwa ah, kau bersikap
sangat aneh. Ada apa sebenarnya?~ Arasso! Geunom!"
Debar jantungnya memacu kencang.
Segala bentuk spekulasi dan fikiran berkecamuk dibenak gadis itu. Suaranya,
Seohyun yakin perempuan ini bukan diusia seorang Eomma. Dan percakapan itu, apa
maksud semua itu? Siapa dia?
"Omo... kau... siapa kau?
Kenapa kau bisa berada didalam apartemen Yonghwa?" Perempuan itu tampak
kaget melihat Seohyun sedang berdiri terpaku didepan mini bar table.
Akhirnya, Seohyun melihatnya.
Perempuan cantik dengan rambut hitam, panjang tergerai baru saja datang dari
arah kamar Yonghwa. Tanpa dia sadari, tangannya mengepal sekuat tenaga, manahan
nyeri yang mulai terasa dihatinya, bahkan hanya karena analisa dan spekulasinya
sendiri.
"A... aku... aku...."
Damn!! Kenapa tiba-tiba lidahnya membeku? Kenapa dia harus terlihat gugup
dihadapan wanita itu, bahkan saat dia tidak melakukan kesalahan apapun?
"Aah... kau datang untuk
membersihkan rumah ini, bukan? Okay. Silahkan. Lakukan saja, dan jangan merasa
terganggu. Aku akan menunggu di studio Yonghwa." Perempuan itu tersenyum
ramah padanya, lalu dia membawa tubuhnya menghilang dibalik dinding koridor.
Rasa perih mulai terasa nyata
menyesakkan dadanya. Membersihkan rumah? Apa dimata orang-orang dirinya memang
terlihat semenyedihkan itu? Siapa dia? Dan kenapa dia tahu passcode rumah ini?
Semakin dia memikirkannya,
semakin sakit rasanya.
"Masa bodoh! Aku hanya harus
percaya pada Yonghwa. Aku akan bertanya padanya nanti. Sambil menunggunya
datang, aku akan melakukan rencanaku semula, yaitu membersihkan rumah
ini." Seohyun bergumam pada dirinya sendiri. Dia fikir, dengan begitu rasa
sakitnya akan membias.
Waktu berlalu terasa lambat.
Betapapun kerasnya Seohyun mencoba untuk tidak merasa terganggu, tetap saja....
fikirannya tidak tenang.
"Ahjumma, bisa minta tolong
kau buatkan teh dengan sedikit gula?" Suara itu kembali datang tiba-tiba.
Dan kali ini benar-benar menampar harga dirinya hingga Seohyun ingin berteriak
rasanya. Tapi dengan bodohnya, dia hanya menganggukan kepala sambil menyeret
langkah kakinya yang terasa lemas menuju dapur untuk memenuhi permintaan wanita
itu.
Batinnya tak henti-hentinya
mengutuki dirinya sendiri. Ya, Seohyun memang terbiasa melayani orang-orang
karena pekerjaannya. Tapi kali ini, bukankah perempuan itu sudah sangat
keterlaluan? Dia bahkan belum sempat mengatakan siapa dirinya, tapi perempuan
itu malah langsung menilainya sebagai pelayan.
Perempuan itu duduk disofa living
room sambil terus bermain-main dengan ponselnya. Seohyun segera menyodorkan secangkir
teh hangat yang dia minta dan secepatnya ingin segera lenyap dari sana. Tapi...
"Oh iya, Ahjumma... ini...
aku membeli beberapa minuman untuk Yonghwa dari New York. Bisa tolong kau
simpan di kulkas?"
Perempuan itu menyerahkan dua
paper bag berisi beberapa botol minuman padanya. Kali ini kesabaran Seohyun
hampir habis dan dia tidak peduli lagi tentang siapa perempuan itu sebenarnya.
Dia hanya ingin mengatakan padanya bahwa dia bukan pelayan!!!
Tapi niatnya terhenti seiring
suara passcode pintu terbuka. Beberapa detik kemudian, pria yang ditunggu oleh
wanita itu, dan tentu saja oleh Seohyun juga, muncul dengan wajah paniknya.
Terutama saat dia melihat Seohyun yang juga berada disana.
"Yonghwa....." Senyum
super lebar seketika merekah diwajah perempuan itu. Tapi tatapan Yonghwa hanya
terarah pada Seohyun yang kali ini menatapnya tajam. Dan itu bukanlah tatapan
penyambutan atas kedatangannya. Melainkan sisa marahnya yang urung dia ledakkan
pada wanita itu.
Perempuan itu menyadari bahwa
Yonghwa sedang menatap Seohyun dan mengabaikan keberadaannya. Dia melihat
kearah Seohyun yang ternyata juga sedang menatap Yonghwa.
"Ahjumma... apa yang kau
lakukan? Bukankah aku memintamu untuk menyimpan minuman ini?"
"Ahjumma?!!!" Yonghwa
nyaris berteriak hingga membuat perempuan itu dan juga Seohyun terhenyak kaget.
"Yo... Yonghwa ah! Kenapa
kau berteriak?"
"Ahjumma? Siapa yang kau
fikir sebagai ahjumma? Kim Hyunna!! Neol mitjoseo?!!" Yonghwa benar-benar
berteriak kali ini hingga membuat kedua perempuan itu meringis ketakutan. Binar
matanya benar-benar marah. Lalu pandangannya beralih pada Seohyun.
"Dan kau, Seo Joohyun! Neol
phabo ah?! Dia memanggilmu ahjumma dan kau diam saja?!"
Seohyun menatap Yonghwa semakin
tajam.
"Mwo? Naega phabo rago?
Ah... cham! Baiklah, aku pergi saja kalau begitu." Seohyun tersenyum pahit
dan hendak berlalu mengambil jaket dan tasnya, tapi Yonghwa bergegas meraih
lengannya.
"Joohyun ah... bukan begitu
maksudku..."
"Igae mwo yah?!! Huh?! Yak..
Jung Yonghwa! Apa yang sebenarnya kau lakukan sekarang? Aku datang jauh-jauh
hanya karena aku merindukanmu, dan kau.... kau tiba-tiba pulang membentak
tunanganmu sendiri didepan perempuan asing?!"
Seperti sebuah batu besar jatuh
dan menghantam kepalanya dengan keras saat Seohyun mendengar ucapan perempuan
itu. Tunangan? Kim Hyunna, tunangan Yonghwa? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa
semua itu terjadi tanpa dia mengetahuinya sedikitpun? Bagaimana mungkin Yonghwa
melakukan semua itu padanya dan membiarkannya tersesat teramat jauh?
Cengkraman tangan Yonghwa di
lengan Seohyun kian terasa kencang. Begitupun sorot matanya. Seolah lewat
tatapan mata itu Yonghwa sedang mengiba pada Seohyun untuk memberinya
kesempatan menjelaskan segalanya.
"Yonghwa ah!!!" Kim
Hyunna yang merasa diabaikan akhirnya berteriak. Yonghwa sadar, bahwa dia harus
segera menyelesaikan kemelut ini mulai dari Hyunna. Sekali lagi, dia menatap
Seohyun.
"Joohyun ah, jebbal gidari
ah! Aku akan menjelaskankannya padamu. Hhm? Kaja, Hyunna ah! Kita harus
bicara!" Yonghwa melepaskan cengkramannya dilengan Seohyun dan kali ini
dia mencoba menarik pergelangan tangan Hyunna untuk mengajaknnya pergi.
"Shiro!! Kenapa harus aku
yang pergi? Kalau kau ingin bicara, maka bicarakan disini!" Wajah
perempuan itu benar-benar berubah murka. Matanya mulai berkaca-kaca menahan
tangisnya.
"Gwaenchanna, Oppa! Aku akan
pergi!" Akhirnya, Seohyun berhasil meraih jaket dan tasnya lalu pergi
meninggalkan Yonghwa dan perempuan itu disana.
Meninggalkan cintanya ditangan
takdir yang entah akan berubah seperti apa.
*****
"Mwo rago? Apa kau bilang?
Putus?" Suara Hyunna terdengar bergetar. Kedua kakinya terasa lemas, dan
air matanya satu-persatu jatuh tanpa terbendung. Dia tidak percaya dengan apa
yang baru saja dia dengar.
"Hyunna, mengertilah...
sejak awal pertunangan ini tidak seharusnya terjadi. Aku bukan Hyung dan aku
juga tidak mungkin bisa menggantikan posisinya dalam hidupmu. Kau... kau berhak
mendapatkan pria yang lebih baik yang akan menjaga dan mencintaimu setulus
hatinya."
"DAN KAU SUDAH MEMBUNUH
LELAKI TERBAIK ITU!!!"
Hyunna tak mampu lagi membendung
lukanya. Luka yang setengah mati dia berjuang untuk menyembuhkannya, dan
kini... Yonghwa mengoreknya lagi tepat dilubang yang sama hingga membuatnya
kembali berdarah.
"Hyunna ah....."
"Shiro!! Aku tidak ingin
putus denganmu! Mwo ah? Kau ingin putus denganku lalu hidup bahagia dengan
gadis yang kau cintai? Huh?! Maldo andwe!!
Kau... telah merenggut orang yang
paling aku cintai dan karenamu, hidupku terasa seperti zombi.
No neun... bukankah kau sudah
berjanji untuk bertanggung jawab untuk sisa kebahagiaan yang sudah kau rebut
dari hidupku?"
Hyunna menatap Yonghwa semakin
tajam dengan air mata yang mengalir deras dari kedua matanya. Kepedihan itu
masih tampak jelas disana. Gadis itu begitu rapuh dan terluka. Ya, Yonghwa
sadar, dia memang seharusnya bertanggung jawab karena telah merenggut dunia
kecil milik Hyunna. Bila saja tragedi malam itu tidak terjadi, maka Hyunna
pasti sudah bahagia hidup bersama Hyung-nya.
Dan sejak saat itu, 2 tahun lalu,
saat Yonghwa perlahan bisa mengatasi depresinya, Hyunna masih terpuruk dan
menarik diri dari lingkungan sosial. Dia menjadi gadis pendiam dan penyendiri.
Kehilangan Yongdo bagaikan kehilangan hidupnya. Yonghwa mendengar kabar
tentangnya dari kedua orang tuanya, lalu dia mulai sering datang menemui
Hyunna.
Kim Hyunna, putri tunggal pemilik
perusahaan properti. Yonghwa mengenalnya sejak kecil, dan diam-diam dia
menyukai Hyunna. Mereka berada di usia yang sama. Tapi kemudian, Yonghwa tahu
bahwa Hyunna menyukai Hyung-nya. Bahkan tidak jarang Hyunna menjadikan Yonghwa
sebagai senjata rahasia untuk datang ke rumah keluarga Jung hanya untuk sekedar
bertemu dengan Hyung-nya.
Ya, Yonghwa tahu semua itu, tapi
dia membiarkan Hyunna memanfaatkannya sesuka hatinya. Suatu hari, di usia
mereka yang ke 20, keluarga Kim dan keluarga Jung akhirnya meresmikan
pertunangan Kim Hyunna dan Jung Yongdo. Tentu saja, kisah cinta kedua anak ini
sekaligus membawa keuntungan bagi bisnis keluarga mereka. Dan bahkan mereka
langsung menentukan tanggal pernikahan bagi keduanya. Yaitu tepat seminggu
setelah kecelakaan itu merenggut Yongdo.
Butuh waktu lama untuk Yonghwa
membawa kembali Hyunna kedalam hidupnya, sementara dia sendiri pun masih
berjuang keras untuk bisa keluar dari traumanya. Dan saat itu, Yonghwa berjanji
pada Hyunna bahwa selamanya dia akan selalu ada untuknya. Membantunya untuk
kembali berdiri dan menjalani sisa hidupnya. Menjaganya dan mencintainya
seperti yang seharusnya Hyung-nya lakukan.
Tak disangka, Hyunna menerimanya.
Perlahan, sejak saat itu, Hyunna mulai kembali menjalani kehidupan normalnya.
Melanjutkan kuliahnya, berkumpul dengan teman-temannya, dan satu hal yang tak
kalah pentingnya.
Melanjutkan hidupnya sebagai
calon menantu keluarga Jung.
*****
Perlahan, dengan lembut Yonghwa
meraih wajah pucat dihadapannya dengan jemarinya. Untuk kesekian kalinya,
Yonghwa berusaha mengusap air mata gadis itu setiap kali dia mulai menangis.
Meski berkali-kali juga air mata itu kembali mengalir dan dia menjadi salah
satu penyebabnya. Dia tahu, betapa brengseknya apa yang sudah dia lakukan pada
gadis ini saat dia gagal menghalau eksistensi Seohyun dalam hidupnya. Seberapa
besarnya pun rasa bersalah yang Yonghwa rasakan untuk Hyunna, semua itu tak
cukup mampu menolak kenyataan tentang betapa dirinya sangat menginginkan
Seohyun. Gadis yang untuk pertama kalinya membuat jantungnya berdebar kencang
saat melihatnya.
"Hyunna, dengar..
Aku tahu, aku tidak berhak
mengatakan ini padamu setelah apa yang sudah aku lakukan dan aku sebabkan dalam
hidupmu. Tapi kumohon, Hyunna ah.. cobalah untuk memikirkannya sekali lagi.
Benarkah hubungan kita ini adalah apa yang kau inginkan? Benarkah kehadiranku
membuat hidupmu lebih baik? Benarkah aku bisa menggantikannya? Benarkah.... "
Yonghwa terdiam sesaat kala rasa perih terasa menyesak didadanya.
"Benarkah... saat kau
menatapku adalah aku yang kau lihat? Atau kau hanya ingin melihat bayang wajah
Yongdo Hyung dalam diriku?"
Keduanya terdiam. Mata mereka
masih saling bertatapan dan luka-luka itu semakin jelas berbayang. Lalu suara
Hyunna lirih terdengar setengah berbisik.
"Kenapa kau baru
menanyakannya sekarang? Setelah kuseret kakiku begitu jauh hanya untuk
mengikutimu berlari dari kepedihan ini. Setelah aku paksa tubuh dan jiwaku
untuk mempercayaimu bahwa waktu akan menyembuhkan segalanya. Setelah aku mulai
terbiasa dengan kehadiranmu dan bahkan mulai gila karena aku percaya... bahwa
kepergian Yongdo Oppa semata karena Tuhan memberiku kesempatan untuk hidup
lebih bahagia denganmu?
Wae, Yonghwa ah? Wae?"
Suaranya lemah, nyaris tak terdengar. Air mata semakin deras mengalir
dipipinya. Semua itu terasa mengiris hati Yonghwa.
Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin
Yonghwa berbuat sejahat ini pada Hyunna? Harusnya dia menahannya. Harusnya dia
abaikan saja getaran cinta terkutuknya untuk Seohyun. Lihat! Lihat apa yang
sudah dia lakukan pada gadis rapuh ini? Dan juga Seohyun-nya? Dimana dia
sekarang? Siapa yang akan mengusap air matanya karena Yonghwa yakin gadis itu
juga pasti sedang menangis saat itu.
Frustasi, Yonghwa mengusap wajah
dan kepalanya dengan kedua tangannya. Rasanya dia ingin menghentikan waktu dan
lenyap dari situasi itu. Lari, seperti seorang pengecut, ketempat yang tidak
akan ada seorang pun yang akan mengenalinya.
"Mianhae, Hyunna ah! Naega
jeongmal mianhae!" Lemah, suaranya mengalun sambil dia tundukkan
kepalanya.
"Wae, Yonghwa ah? Apa karena
gadis itu?" Hyunna terus menatapnya meski Yonghwa selalu berusaha
menghindari tatapan itu.
"Ani ah, Hyunna ah!
Geuronggo ani ah! Geunyang.... mianhae, aku hanya merasa bahwa kita perlu waktu
untuk memikirkan lagi semuanya. Aku tahu, seharusnya aku terlebih dulu datang
padamu sebelumnya. Aku tidak berharap kejadiannya akan seperti ini.
Hyunna, jebbal... aku hanya ingin
kita berdua tidak menyesali keputusan ini. Terutama kau."
"Kau mencintainya?"
Seolah Hyunna tak peduli dengan apa yang Yonghwa katakan, dia hanya ingin
mendengar jawaban itu dari mulut Yonghwa.
Sesaat, keduanya hanya saling
menatap. Hyunna terus menunggu jawaban itu, sementara Yonghwa tidak tahu harus
megatakan apa.
"Mianhae, Hyunna ah!
Mianhae!" Yonghwa menundukan kepalanya. Hanya kata-kata itu yang mampu
keluar dari mulutnya.
"Bukan itu jawaban yang aku
tunggu, Yonghwa! Sekali lagi aku bertanya. Kau mencintainya?" Hyunna
menatapnya semakin tajam. Perlahan, Yonghwa mengangkat wajahnya dan kembali
menatap Hyunna dengan air mata yang sudah menggenang dikelopak matanya.
"Aku mencintainya, Hyunna
ah! Otthokhae? Aku sangat mencintainya hingga aku tak peduli apakah perasaan
ini benar atau salah. Aku mencintainya hingga aku merasa kembali hidup seperti
seorang manusia.
Mianhae, Hyunna ah! Aku
mencintainya...."
Dan air mata itu akhirnya jatuh.
Saat dia mengatakan bahwa dia mencintainya, saat itu pula bayang wajah Seohyun
melintas dalam fikirannya. Yonghwa sadar, dia tidak bisa kehilangannya. Dia
merindukannya. Rasanya ingin sekali dia berlari dari tempatnya berdiri hanya
untuk segera menemukannya. Meski dia tahu yang dia lakukan itu salah, tapi
baginya, mencintai Seohyun adalah hal yang paling benar yang pernah dia lakukan
dalam hidupnya.
"Jinjja? Hah.. Ottokhae?
Ijae ottokhae, Yonghwa ah? Kenapa semua jadi seperti ini? Wae? Kenapa kau
melakukan ini padaku?" Tangisnya pecah. Kedua tangan kecilnya mengepal.
Dengan sisa tenaganya dia memukul-mukul tubuh Yonghwa dihadapannya. Sesaat,
Yonghwa membiarkannya hingga Hyunna merasa puas. Tapi kemudian dia menarik
tubuhnya dan memeluknya. Hyunna menangis semakin menjadi dalam pelukan Yonghwa.
"Mianhae, Hyunna ah! Naega
jalmothaeseo! Jeongmal mianhanda."
*****
Ditempat lain, seorang gadis
sedang duduk sendiri disudut sebuah café dengan beberapa botol soju
dihadapannya. Malam semakin larut, dan hujan turun begitu deras. Matanya
menerawang keluar jendela, menatap rintik-rintik hujan yang menari saat
menyentuh tanah. Sesekali, dia melihat layar ponselnya.
"Dia tidak mencariku. Lelaki
itu... dia tidak berusaha mencariku!" Gumamnya, dengan kesadaran yang
mulai terganggu karena lima botol soju yang masuk ke perutnya. Seohyun bukanlah
peminum yang handal. Biasanya, dia akan langsung kehilangan dirinya hanya
dengan satu botol saja. Tapi kali ini, entah apa yang terjadi. Seohyun tak
kunjung mabuk dan rasa sakit dihatinya pun tak kunjung hilang.
Dia masih memikirkannya.
Perempuan itu. Kim Hyunna. Tunangan Yonghwa, kekasihnya.
"Hhhh.... akhirnya, aku
merasa dunia ini berhasil mempermainkanku lagi." Lagi-lagi dia bergumam
sendiri dengan tawa getirnya. Seohyun menuangkan lagi soju kedalam gelas kecil
dihadannya, lalu menegaknya.
"Phabo! Kenapa aku bisa
sebodoh ini? Kenapa aku membiarkan diriku dipermainkan seperti ini? Kenapa aku
harus menangis sendiri ditempat ini dengan botol-botol soju dan menunggunya
datang?" Air matanya kembali mengalir deras. Tangan kecilnya mengepal dan
memukul-mukul dadanya sendiri, berharap dengan begitu, rasa sakit itu akan
hilang.
Seohyun menyeka air matanya, lalu
sekali lagi berusaha menuangkan soju kedalam gelasnya. Tapi tangannya terhenti
saat dia akan meneguk minuman itu, karena seseorang dengan cepat merebut gelasnya,
dan meminumnya. Dengan penglihatan yang juga mulai terganggu, Seohyun berusaha
melihat siapa yang sudah mengambil minumannya. Samar-samar, Seohyun melihat
sosok pria tinggi, tiba-tiba duduk dihadapannya. Matanya memicing, demi agar
bisa melihat lebih jelas. Dan akhirnya....
"Ah... Cho Kyuhyun Ssi?
Anyeong Has.. seyyoo!! Eoraen.. manhie..yoo!!" Sepertinya, Soju mulai
bereaksi dalam tubuhnya karena bicaranya mulai terbata.
"Nde, Seohyun Ssi.
Eoraenmanhieyo. Aku tidak mengira akan bertemu denganmu disini. Mwoeyo? Apa kau
minum sendiri?" Kyuhyun mulai menghitung botol-botol soju yang berada di
atas meja.
"Nnndeee!!! Aku minum
sendiri! Aah.. kau datang terlambat, Kyuhyun Ssi! Andai saja.. kau datang lebih
awal, hhh... maka aku tidak harus menghabiskannya sendiri!" Seohyun
tertawa kecil dengan mata yang sulit untuk dia buka. Kyuhyun menghela nafas
panjang. Matanya menatap sendu kearah gadis dihadapannya yang kala itu terlihat
sangat menyedihkan.
"Wae geureayo, Seohyun Ssi?
Apa yang membuatmu seperti ini? Kenapa perempuan sepertimu sampai bisa
menghabiskan 5 botol soju seperti ini?" Tampak jelas dimatanya, Kyuhyun
benar-benar mengkhawatirkan Seohyun.
"Opsoyo! Geunyang... aku
hanya..." Seohyun kembali menahan tangisnya.
"Aku hanya ingin minum saja.
Karena aku benar-benar lelah. Aku lelah sampai aku ingin kehilangan kesadaranku
untuk sesaat. Karenanya... hhhh... aku ada disini sekarang." Seohyun
kembali menunjukan senyum yang sengaja dibuatnya.
"Kalau begitu, aku akan
menemanimu. Gwaenchannayo? Atau... kau ingin aku menghubungi kekasihmu agar dia
datang dan menjemputmu disini?"
"Aniyo... aniyo! Jinjja
aniyo!! Kau.. tidak boleh menghubinginya! Geun saram... lelaki itu, saat ini
sedang sibuk. Dia..hhh... dia sedang sibuk, karenanya dia tidak
mencariku." Sekali lagi, Seohyun mencoba untuk menuangkan soju kedalam
gelasnya. Tapi lagi-lagi, Kyuhyun mengambil gelas itu, lalu meneguk soju yang
Seohyun tuangkan.
"Yaak... Kyuhyun Ssi! Kau..
terus mengambil gelasku! Geuman.. haeyo! Ambil gelasmu sendiri!" Seohyun
mengerutkan bibirnya sambil menunjukan tangannya ke wajah Kyuhyun. Untuk
sesaat, Kyuhyun tersenyum dibuatnya, karena Seohyun benar-benar cute saat dia
mabuk seperti itu.
"Aigoo... geuraeyo, aku akan
mengambil gelasku. Tapi jebbalyo, kau harus berhenti sekarang, Seohyun Ssi. Kau
sudah minum terlalu banyak." Kyuhyun dengan sebenarnya khawatir melihat
keadaan Seohyun. Meski dia tidak tahu apa yang sedang dialami gadis itu, dia
hanya berharap bahwa Seohyun tidak sedang terluka saat ini.
Andwe! Tidak boleh ada yang
melukai Seohyun-nya.
Beberapa saat kemudian, Seohyun
sudah sepenuhnya tumbang karena soju-soju nya. Kepalanya tersungkur diatas
meja. Dan Kyuhyun masih disana menjaganya. Diam-diam, Kyuhyun memperhatikan
wajah sendu memerah yang kini terlelap dihadapannya. Perlahan, dengan lembut
jemarinya menyisir rambut Seohyun yang tergerai menutupi sebagian wajah
cantiknya.
"Kau pasti sangat lelah,
Joohyun ah! Aku tidak tahu seberapa besar beban yang kau pikul selama ini. Aku
berharap, kau bisa membaginya padaku. Mianhae, Joohyun ah! Jeongmal
mianhae!"
Matanya yang berkaca-kaca menatap
lekat perempuan dihadapannya. Hingga malam semakin larut, dan café itu pun akan
segera tutup, Kyuhyun tak punya pilihan lagi selain membawa Seohyun bersamanya.
Dia tidak tahu kemana harus mengantar Seohyun pulang. Ani! Dia tahu, tapi...
melihat kondisi Seohyun dan apa yang dia katakan tentang Yonghwa tadi, Kyuhyun
yakin, sesuatu sedang terjadi diantara mereka. Dan membawanya pulang kerumah
Yonghwa, bukanlah ide yang baik saat itu. Terlebih, Seohyun tidak tahu bila
dirinya tahu dimana Seohyun tinggal.
Hujan masih mengguyur Seoul.
Kyuhyun melindungi tubuh Seohyun dengan mantelnya, lalu menggendong Seohyun
dipunggungnya sebelum dia berlari melintasi hujan menuju mobilnya. Kyuhyun mendudukan
Seohyun dikursi depan, disampingnya. Dengan hati-hati, dia memasangkan sabuk
pengaman dan mengeringkan wajah Seohyun yang terkena hujan dengan tisu.
Tiba-tiba Seohyun bergumam lirih.
"Nappeun saram! Nappeun
namja! Kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa kau membawaku masuk kedalam
duniamu, bila nyatanya aku tetaplah orang asing disana?" Air mata kembali
mengalir disudut matanya yang terpejam. Dan itu menyakiti hati Kyuhyun yang
melihatnya.
"Geun saram? Jung Yonghwa
menyakitimu? Haruskah kupatahkan hidungnya, huh?" Sambil mengusap air mata
Seohyun, tak kalah lirih, Kyuhyun bergumam membalas ucapan gadis itu yang tentu
saja tidak akan mendengarnya.
*****
'Anyeong haseo, Seohyun imnida. Saat ini, aku mungkin sedang sibuk.
Silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi biiiip.....'
Yonghwa berulang kali mengacak
rambutnya, frustasi. Gadis itu tidak mengangkat teleponnya. Dimana dia? Malam
kian larut, hujan deras ditambah petir menyambar membuatnya semakin mencekam.
"Seo Joohyun, Jebbal....
beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya..." Lelaki itu bergumam
sendiri didalam mobilnya, usai berputar-putar kesegala tempat untuk mencarinya.
Tapi dia tidak menemukannya.
'Where You Are'
CNBLUE
I’m breaking down. I am screaming out.
My time is running out. What do I do now?
Oh give up? or stand up?
I don’t know. I wanna break the spell now.
I’m drowning now. I am crying out.
My time is running out.
I need someone to save me now.
Somewhere, Lady luck will smile at me. yeah
I’m searching where you are.
Oh, shining down on me from where you are.
I’ll always be right there, baby. Always be right there, baby.
Oh, please touch my body and my face.
I’m searching where you are.
Can you see what I need? It’s where you are.
I’ll always be right there, baby. Always be right there, baby.
You know? When I can be where you are, only then I will shine bright.
I’m crumbling down. I’m falling apart.
My time is running out. What do I do now?
Oh give up? or stand up?
I don’t know. I wanna break the spell now.
I can’t breathe now. I’m losing myself.
My time is running out.
I need someone to save me now.
My time is running out. What do I do now?
Oh give up? or stand up?
I don’t know. I wanna break the spell now.
I’m drowning now. I am crying out.
My time is running out.
I need someone to save me now.
Somewhere, Lady luck will smile at me. yeah
I’m searching where you are.
Oh, shining down on me from where you are.
I’ll always be right there, baby. Always be right there, baby.
Oh, please touch my body and my face.
I’m searching where you are.
Can you see what I need? It’s where you are.
I’ll always be right there, baby. Always be right there, baby.
You know? When I can be where you are, only then I will shine bright.
I’m crumbling down. I’m falling apart.
My time is running out. What do I do now?
Oh give up? or stand up?
I don’t know. I wanna break the spell now.
I can’t breathe now. I’m losing myself.
My time is running out.
I need someone to save me now.
Author
Note :
Sorry
for the late update.... as always, thanks for keep reading my story and i wish
you enjoy it. Please... say hello to Kim Hyunna and Cho Kyuhyun. Semoga kalian
bisa nerima mereka dengan baik yaah,,, kwkwkwk.... :P

Finally..you update,eonnie..
BalasHapusI was Waited for along time..
But,why it must "to be continued" like this??
it Made me like had a big stone in my mind and my heart..
Yeah..a.k.a broken heart..hahahahahaha
. X'D
thanks for your wrote eonnie..
I love Your yongseo ff..
jingga Eonnie fighting!!^^
I'll Be wait for the next chapter,eonnie.. ^^
Love your ff eonni...😁😁
BalasHapusMe too eonnie!!! Fighting jingga eonnie, aku tunggu chapter selanjutnya
BalasHapusAku terima..... Hehe,
BalasHapusMungkin mudah menyingkirkan hyunna tapi kyuhyun.... Hmmm