Kamis, 26 November 2015

In Time With You Chapter 19



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8



Chapter 19

Worrisome

"Hyuun...! Seo Joohyun... kumohon, buka pintunya." Tapi tak terdengar suara sedikitpun dari dalam. Yonghwa mencoba membukanya, tapi pintunya terkunci. Lalu dia mengetuk lagi. Lagi dan lagi. Tapi Seohyun tetap tidak menjawab.

Yonghwa semakin panik, dan segera berlari mengambil kunci cadangan. Tanpa berfikir panjang, Yonghwa membuka pintu kamar itu, lalu masuk kedalamnya. Dan dia menemukan Seohyun masih tertidur berbalut selimut tebal diatas tempat tidurnya. Yonghwa segera menghampirnya.

Wajah dan keningnya dibasahi oleh keringat. Seohyun benar-benar pucat. Yonghwa menyentuh pipinya dan dia terkejut. Gadis itu demam tinggi. Panik, Yonghwa mengambil tisu lalu mengusap keringat di wajah dan leher Seohyun. Dia mencoba membangunkan Seohyun dengan mengguncang tubuhnya perlahan.

"Joohyun ah..! Seo Joohyun, jebbal irona. Kau demam. Ottokhae? Bagaimana bisa kau jadi seperti ini?"

Tapi Seohyun masih menutup kedua matanya, seolah dia tidak mendengar apapun. Yonghwa semakin panik. Dia berlari ke dapurnya untuk mengambil es batu dan beberapa perlengkapan untuk meng-kompres suhu tubuhnya. Sangat hati-hati, dia meletakan es batu yang sudah terbungkus kantung es diatas kening Seohyun. Dengan handuk kecil yang sudah direndam air hangat, tangannya yang gemetar berusaha menyeka keringat diwajah, leher dan tangan Seohyun.

"Ottokhae? Bajumu basah semua Joohyun ah. Kumohon bangunlah. Kau harus mengganti bajumu, kalau tidak, kau bisa kedinginan." Yonghwa mengusap pipi Seohyun dengan lembut dan berusaha membuatnya terbangun. Lagi-lagi gadis itu tak menghiraukannya. Sesekali, dia terdengar merintih menahan nyeri yang mungkin dirasakan tubuhnya. Yonghwa semakin cemas.

"Baby, jebbal... irona. God... apa yang harus aku lakukan?" Yonghwa memejamkan kedua matanya, mereduksi stress karena ketidaktahuan dan ketidakberdayaannya.

"Opp...ppaa... manhi appeuni. Sakit sekali...." Gadis itu bergumam dalam rintihannya. Yonghwa segera mendekatkan wajahnya. Dengan lembut, dia mengusap kepala Seohyun.

"Aro, Baby! Kau pasti sangat kesakitan. Mianhae, Hyun. Jeongmal mianhae." Air matanya menetes tanpa aba-aba. Rasa bersalah, panik, kalut, semua terasa memburunya.

"Jebbal, bangunlah.. sayang! Biar aku bisa menolongmu. Ani! Ini tidak benar. Kita harus ke rumah sakit sekarang. Aku tidak tahan melihatmu begini." Yonghwa hendak mengangkat tubuh lemah itu dan membawanya ke rumah sakit. Tapi tiba-tiba Seohyun menggigil hebat. Bibirnya pucat, bergetar. Dan Yonghwa semakin panik karenanya.

"Ya Tuhan, Joohyun ah. Apa yang terjadi?" Dalam kepanikannya, Yonghwa segera memeluk Seohyun dengan erat. Dan tubuhnya bisa merasakan guncangan yang diakibatkan Seohyun. Tanpa berfikir apa-apa lagi, lelaki itu masuk kedalam selimut Seohyun dan mendekap tubuh menggigil itu lebih erat.

"Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" Seperti anak kecil, Yonghwa terisak sendiri sambil memeluk Seohyun. Kemudian dia teringat Yoona. Yonghwa segera mengambil ponselnya dari saku celananya, tanpa sedikitpun melepas pelukannya. Dia segera mencari nama Yoona diponselnya, lalu menghubunginya.

'Oh.. Yonghwa ah. Wae?' Yoona menjawab diseberang sana.

"Tolong aku, Yoona ah! Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku takut..." Lelaki itu tersedu tanpa sempat memikirkan apapun lagi. Yoona yang mendengar Yonghwa terisak seperti itu, tentu saja menjadi sangat panik.

'Wae geurae? Apa yang terjadi, Yonghwa ah?'

"Palli nawa, Jebbal. Seohyun sakit dan dia tidak mau membuka matanya. Sekarang dia menggigil hebat. Ottokhae, Yoona ah? Aku benar-benar takut." Yoona  bisa mendengarnya. Lelaki dewasa yang tanpa malu tersedu-sedu seperti itu, sudah pasti dia sangat ketakutan saat itu.

'Jamkamaan. Aku akan kesitu sekarang. Jangan panik, Yonghwa ah, dan tetap kendalikan dirimu. Dia akan baik-baik saja. Aku akan menelepon Taeyeon Eonnie agar dia datang ke rumahmu dan memeriksanya. Kau harus tenang, Yonghwa ah. Jebbal, kendalikan dirimu!' 

Yoona terdengar sangat cemas. Dia tahu, saat ini Yonghwa sedang berada dalam ketakutan yang tidak akan bisa difahami orang lain. Dia pernah menyaksikan tubuh Hyung-nya tergeletak tak bernyawa dan berlumuran darah. Saat Seohyun sakit seperti itu, Yoona mengerti, teror itu kembali mengguncang jiwanya.

*****

Yoona datang beberapa menit kemudian bersama Kim Taeyeon dan seorang suster. Dia langsung memasuki rumah Yonghwa, dan bergegas menuju kamar Seohyun. Begitu pintunya terbuka, didapatinya Yonghwa sedang ikut terbaring memeluk Seohyun.

"Yonghwa ah..." Yoona memanggilnya. Lelaki itu tampak rapuh dan ketakutan.

"Yoona ah..." Suaranya lirih, dan dia hampir merengek lagi.

"Taeyeon Eonnie datang. Biar dia memeriksa Seohyun." Dengan lembut, Yoona mengusap bahu sahabatnya. Perlahan, Yonghwa melepaskan pelukannya, lalu bangkit dari posisi terbaringnya. Dia menatap Taeyeon yang sedang tersenyum penuh empati ke arahnya.

"Noona waseo? Gomawo, untuk menyempatkan dirimu dan datang kesini, Noona."

Kim Taeyeon adalah seorang dokter yang sebenarnya merupakan sepupu Yonghwa. Ayahnya adalah kakak laki-laki ibunya Yonghwa. Karena panik, Yonghwa sampai tidak ingat, kalau dia bisa menghubungi Taeyeon sejak tadi.

"Gwaenchanna, Yonghwa ah. Aku sedang tidak sibuk. Coba, biar aku melihatnya." Taeyeon mendekati Seohyun ditempat tidurnya. Dia melakukan beberapa pemeriksaan dasar selayaknya yang biasa dilakukan seorang dokter. Mulai dari tekanan darah, suhu tubuh, memeriksa pupil mata juga tenggorokan Seohyun. Kemudian dia menyadari, baju gadis itu basah oleh keringatnya sendiri.

"Geok cheongma, Yonghwa ah. Aku dan suster Han akan memeriksanya. Bajunya harus diganti dengan yang kering. Jadi, kau tunggulah diluar dan minum sesuatu yang manis. Lihat, wajahmu juga pucat. Jangan sampai kau juga sakit. Bagaimana bisa kau menjaganya bila kau juga sakit?"

Yonghwa menganggukkan kepalanya. Taeyeon benar, dirinya tidak boleh ikut sakit. Sejak tadipun sudah terfikir olehnya bahwa Seohyun harus mengganti bajunya. Tapi bagaimana caranya? Dia tidak mungkin melakukannya. Yonghwa lalu membuka lemari pakaian Seohyun dan mencari beberapa baju yang bisa Seohyun pakai. Usai menyerahkan sepasang piyama berwarna dusty pada Suster Han, Yonghwa akhirnya meninggalkan kamar itu, diikuti oleh Yoona.

Yonghwa kembali duduk di depan mini bar tablenya. Kali ini, lelaki itu membenamkan wajahnya di atas meja. Dia benar-benar putus asa. Yoona membuatkan secangkir teh manis hangat, lalu duduk disampingnya. Dengan lembut, dia mengusap punggung Yonghwa.

"Ijae gwaenchanna, Yonghwa ah. Seohyun hanya demam. Taeyeon eonnie pasti akan menolongnya, geok cheongma! Nih, minumlah." Yoona berusaha menenangkan sahabatnya yang tampak sangat ketakutan dan frustasi. Lelaki itu masih menyembunyikan wajahnya. Rasa takut itu teramat menyiksa. Melihat Seohyun-nya tiba-tiba menggigil dan tak sadarkan diri, Yonghwa merasa seperti sedang sekarat.

"Kau pasti sangat ketakutan, Yong! Aku mengerti, melihatnya seperti itu pasti membuat lukamu kembali terasa." Yoona masih mengusap punggung sahabatnya. Kali ini berakhir dengan mengusap kepalanya. Dan Yonghwa pun mulai mengangkat kepalanya, meski wajahnya masih tertunduk.

"Aku bisa mati bila aku harus kehilangannya juga, Yoona ah. Aku takut.." Suaranya terdengar parau. Air matanya masih sesekali menetes, namun bergegas di usapnya.

"Ara. Aku mengerti dirimu lebih baik dari siapapun. Tapi kau harus tetap tenang, Yonghwa ah. Semua itu sudah berlalu. Seohyun hanya demam, dan dia pasti akan segera membaik." Yoona meyakinkannya. Beberapa waktu kemudian, Yonghwa mulai tampak tenang. Dia juga meminum teh manis hangat yang Yoona buatkan.

"Yoona ah.... Seohyun bertemu Hyunna kemarin." Seketika Yoona membelakakan matanya dan menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Dia cukup terkejut mendengarnya.

"Mwo rago? Lalu...."

"We were fight. Dia baru saja kembali tadi siang, setelah menghilang sejak kemarin sore."

"Tentu saja dia marah. Aku bahkan bisa mematahkan hidung Jonghyun bila dia melakukan itu padaku. Lalu apa yang Hyunna lakukan pada Seohyun? Dan kau.. apa yang akan kau lakukan untuk menyelasaikan ulahmu ini?" Nada suaranya mulai terdengar tegas. Yoona dan Jonghyun sudah pernah memperingatkan Yonghwa tentang hal ini. Begitupun Minhyuk dan Jungshin.

"Hyunna memanggilnya ahjumma karena dia tidak tahu siapa Seohyun. Dia fikir Seohyun ada di rumah ini untuk membatuku membereskan tempat ini."

"Mwo? Mitjoseo?! Saesanghae Yonghwa, kau ini keterlaluan, kau tahu?!"

"Aku tahu, Yoona ah. Aku akui, aku salah karena membiarkan semua ini terjadi. Harga dirinya pasti sangat terluka. Dan aku benar-benar merasa buruk dihadapan Seohyun. Belum lagi kenyataan tentang hubunganku dan Hyunna. Hhh... bagaimana bisa dia memaafkanku dengan mudah?" Yonghwa kembali membenamkan wajahnya diatas meja.

"Aku sudah pernah memberitahumu tentang ini, bukan? Harusnya kau urus Hyunna dulu, sebelum kau memulainya dengan Seohyun. Tapi tiba-tiba kau bilang kalau kau sudah mengajaknya berbagi rumah ini denganmu. Kau terlalu tergesa, Yonghwa ah. Itulah sebabnya Jonghyun menentangmu, saat kau bilang kau akan mengajaknya tinggal disini. Bukan karena kami tidak mengerti tentangmu! Kami hanya tidak ingin siapapun terluka karena ini. Terutama kau!

Aku tidak tahan lagi melihatmu jatuh, Yonghwa! Aku terpaksa setuju denganmu, mendukungmu, karena aku bisa melihat bahwa duniamu perlahan kembali setelah kau bersama Seohyun. Aku tahu, Seohyun gadis yang baik, dan aku tidak meragukan bila dia mampu membuatmu bahagia. Aku hanya khawatir hal ini akan terjadi, Yonghwa ah."

"Aku tahu, aku memang salah, Yoona. Entah kenapa aku harus begitu tergesa. Sejak awal aku melihatnya malam itu, aku terpesona dengan kecantikan wajahnya. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti itu sebelumnya. Malam itu, Seohyun duduk sendiri. Hanya berbalut baju casual dan rambut panjang tergerai, bahkan tanpa make up sekalipun she was so breathetakingly beautiful. She looked like an angel with her simple presence. Aku tahu, semua itu terdengar gila. Tapi Tuhan sepertinya sengaja mempertemukanku dengannya saat tiba-tiba gadis itu terjatuh tanpa sebab.

Dia mencuri sesuatu dariku, malam itu. Hatiku!" Sekelebat, senyum diwajahnya merekah, mengenang malam yang ajaib itu.

"You were so madly in love, phabo ah! And now you're even crazier. Hhh... Lalu apa yang akan kau lakukan pada Hyunna dan keluarganya? Juga keluargamu. Kau mengerti kan, bahwa semua ini bukan hanya tentangmu dan Hyunna saja?"

"Aku juga sudah mengatakan segalanya pada Hyunna. Tidak mudah baginya untuk bisa mengerti dan menerima setelah apa yang sudah aku lakukan padanya."

"Geumanhae, Yonghwa ah! Sudah kukatakan berulang kali, bahwa apa yang terjadi adalah takdir yang memang harus terjadi. Dan kau tidak akan pernah mampu melawan takdir. Berhentilah merasa bertanggung jawab atas hidup Hyunna. Sejak awal aku sudah sering mengingatkanmu, Yonghwa... bahwa ini adalah hidupmu. Kau yang akan menjalaninya. Bahkan tanpa Hyunna didalamnya pun hidupmu sudah cukup berat.

Tapi lagi-lagi karena keras kepalamu kau melakukan itu, meski sebenarnya kau tidak harus. Sekarang, semua sudah terlanjur seperti ini, maka kau harus bersikap seperti seorang laki-laki. Berhentilah menyakiti dirimu sendiri  Yonghwa! Jabbal!"

Lalu mereka melihat Taeyeon dan susternya keluar dari kamar Seohyun. Yonghwa dan Yoona spontan berdiri dari duduk mereka. Taeyeon tersenyum menatap Yonghwa.

"Ijae gwaenchanna, Jashik ah! Aigoo... mendengar telepon dari Yoona bahwa kekasihmu sakit parah, rasanya jantungku hampir melompat keluar. Dia tidak apa-apa, Yonghwa. Aku sudah memberi infusan. Semoga panas tubuhnya segera turun. Dia hanya butuh istirahat dan makan makanan yang lembek. Sepertinya lambungnya terluka, karena saat kutekan tadi, Seo Joohyun meringis kesakitan." Yonghwa dan Yoona serempak menghembuskan nafas lega.

"Syukurlah kalau begitu. Anak bodoh ini memang tak pernah bosan membuat hidupku seperti roller coaster. Selama menjadi sahabatnya, aku rasa aku kehilangan 10 tahun masa mudaku. Dengar itu, Choding! Jangan memberinya makanan yang bisa melukai lambungnya!" Yoona melempar tatapan judesnya ke arah Yonghwa yang terlihat lebih tenang saat itu.

"Mwo ya? Aku selalu masak makanan yang bergizi untuknya. Kalau lambungnya terluka, itu bukan karena masakanku, tapi karena 5 botol soju yang dia habiskan sendiri tadi malam."

"Mwo??!!" Yoona terbelalak. Lalu...

PLAKKK!!!

Sebuah pukulan mendarat manis dikepala Yonghwa, yang membuat lelaki itu berteriak kesakitan.

"Yaakkk!! Im phabo Yoona!! Tak bisakah kau berhenti melibatkan tanganmu setiap kali kau berdebat denganku?!!! Awwww...." Yonghwa mengusap-usap kepalanya yang masih terasa sakit karena pukulan gadis kurus itu. Taeyeon terbahak melihat bagaimana sepupunya selalu tak berdaya ditangan Yoona.

"Kaulah yang bodoh! Bagaimana bisa kau biarkan dia meneguk 5 botol soju sendirian? Kau benar-benar keterlaluan Jung Phabo Yonghwa!!"

"Mana aku tahu? Aku juga hampir gila mencarinya semalaman. Aku bahkan tidur didalam mobilku sambil menunggunya!!"

"Seharusnya kau tahu kemana dia pergi. Giliran dia sakit seperti ini, baru kau tersedu-sedu seperti anak kecil dan membuatku panik!!"

"Itu memang karena aku panik, Phabo ah!"

"Kau yang bodoh!"

Kedua orang yang mengaku sudah bersahabat sejak kecil itu saling melempar tantrum mereka. Sepertinya keduanya tidak akan berhenti hingga bila Taeyeon tidak menghentikan keduanya.

"Geumanhae, neol duri!! Aigoo... kalian sudah hampir berada dipenghujung 20-an, tapi sikap kalian masih sama seperti saat kalian SD. Ck..ck..ck...!" Taeyeon melipat kedua tangannya didadanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Mianhae, Noona. Geurigo neomu gomawo! Terima kasih, sudah merepotkanmu."

"Never mind. Aku sudah terbiasa mendapat serangan seperti ini darimu. Baguslah, bila sekarang ada seseorang dalam hidupmu yang kau anggap lebih penting dari dirimu sendiri. Setidaknya, kau punya alasan untuk hidup lebih baik, Yonghwa ah!" Taeyeon menepuk pundak Yonghwa dan tersenyum tulus.

*****

Yoona dan Taeyeon akhirnya pulang. Tinggalah Yonghwa sendiri yang duduk disamping tempat tidur Seohyun, menatap wajah malaikat itu tertidur begitu damai. Dengan lembut, jemarinya menyisir dan merapihkan rambut Seohyun.

"Cepat sembuh, Angel. Untuk bisa menghukumku, yang pertama kali harus kau lakukan adalah kembali sehat. Melihatmu seperti ini, kau membuatku merasa tidak berguna, Seo Joohyun." Yonghwa menatap lekat wajah itu. Penuh cinta, dia mengecup kening Seohyun.

"Neomu geuriwoseo, Baby..."

Dan tanpa dia sadari, dia terlelap disana. Diatas kursi, dengan wajah terbenam diatas tempat tidur Seohyun.

*****

Cahaya mentari mulai masuk melalui celah jendela. Seohyun membuka matanya. Kepalanya masih terasa pening, tapi tidak seberat sebelumnya. Dia mulai merasa ada sesuatu yang menusuk tangannya. Lalu dia melihat selang infus tertancap disana. Dia hampir tidak mengingat apapun. Kapan jarum infus itu menancap ditangannya. Dan....

Seohyun menoleh kesampingnya. Yonghwa tertidur pulas meski dengan posisi yang tidak nyaman. Lekat, dia menatap wajah lelaki itu. Dia benar-benar tampak lelah. Kantung mata dan lingkar hitam disekelilingnya begitu jelas terlihat. Tak lama kemudian, Yonghwa terbangun dan langsung melihat keadaan Seohyun. Mereka pun saling menatap.

"Kau sudah bangun?" Yonghwa segera bangkit, lalu meletakan tangannya diatas kening Seohyun untuk mengecek suhu tubuhnya.

"Syukurlah, demam mu sudah turun. Hhh.... " Yonghwa akhirnya bisa bernafas lega.

"Gidari ah, Hyun. Aku akan membuatkan bubur untukmu. Kau harus meminum obatmu agar tubuhmu bisa secepatnya pulih." Yonghwa bangkit dari duduknya, dan hendak berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Tapi tangannya tertahan. Seohyun meraihnya. Langkahnya terhenti, dan Yonghwa kembali menatap Seohyun.

"Yes, Baby? What's the matter?"

"Katakan lagi padaku..." Suara gadis itu masih terdengar lemah. Mata sayu nya menatap Yonghwa penuh harap.

"Mwo ya? Apa yang ingin kau dengar dariku, Baby?" Hatinya luruh karena tatapan itu. Yonghwa kembali duduk. Kali ini, lebih dekat. Diatas tempat tidur Seohyun. Disampingnya.

"Katakan lagi padaku, tentang siapa aku dalam hidupmu." Lirih, kalimat itu mengalun. Yonghwa menghela nafas panjang. Dengan lembut, jemarinya meraih wajah pucat itu, dan mengusapnya penuh cinta.

"Saranghae, Joohyun ah. Neomu saranghanda..." Tak kalah lirih, kalimat itupun mengalun semerdu simfoni pagi. Keduanya saling menatap.

"Na do saranghae, Oppa! Ottokhae? Aku akan menjadi perempuan jahat karena mencintaimu." Kesedihan itu kembali hadir dimatanya.

"Ani ah, Joohyun ah. Love is not a crime. Aku ingin selalu mengingat apa yang Yoona katakan padaku. Bahwa semua yang terjadi dalam hidupku semata karena takdir. Dan aku tak akan pernah sanggup melawannya. Meski aku harus memperbaiki semua ini, tapi mencintaimu... aku tidak menyesalinya. Geunyang gidari ah, Saranga! Aku akan memperbaiki segalanya. Hhm?"

Yonghwa menatap mata sendu itu semakin dalam. Kemudian, Seohyun mengangguk pelan. Akhirnya, Yonghwa benar-benar bisa bernafas lega. Senyum itu kembali merekah diwajahnya. Perlahan, dia mendekatkan wajahnya ke arah perempuan dihadapannya yang masih terkulai ditempat tidurnya. Lalu dengan lembut, dia mengecup bibirnya.

"Gomawo, Angel..."

*****

Ditempat lain....

"Kau sudah menemuinya?" Lelaki dipenghujung usia 40 nya itu menatap penuh harap. Kyuhyun mengangguk pelan.

"Nde. Aku sudah melihatnya. Aku bersyukur, karena dia baik-baik saja, meski hidupnya tampak sangat melelahkan dan tidak mudah untuknya. Tapi dia melakukannya dengan baik. Uri Joohyunie, dia gadis yang hebat." Kyuhyun tersenyum tulus. Begitupun lelaki itu. Dia tersenyum haru.

"Ddaengida. Uri Joohyun, pasti tumbuh menjadi gadis yang kuat." Lelaki paruh baya itu tertunduk dengan mata berkaca-kaca.

"Kapan anda akan menemuinya? Aku yakin, dia pasti sangat merindukan anda." Kyuhyun menatap iba.

"Najunghae. Nanti... saat seluruh lukanya sudah terobati. Aku tidak ingin kehadiranku justru membuat kebahagiaan yang dia miliki saat ini terenggut lagi darinya."

"Tapi...."

"Kumohon jaga dia, Kyuhyun ah. Aku tahu, aku tidak pantas menyerahkan tanggung jawabku padamu. Tapi saat ini hanya kau yang bisa melakukannya tanpa sedikitpun akan membuatnya terluka. Aku mohon..." Tatapannya mengiba, hingga membuat Kyuhyun tak mampu membalas kata-katanya.

"Guilty"
Blue

I never want to play the games that people play
I never want to hear the things they gotta say
I've found everything I need
I never wanted anymore than I can see
I only want you to believe

If it's wrong to tell the truth
Then what am I supposed to do
When all I want to do is speak my mind
If it's wrong to do what's right
I'm prepared to testify
If loving you with all my heart's a crime
Then I'm guilty

Author Note :
Anggap aja lagi nonton drama korea yah, Chingu-deul. Kan kalo lagi nonton, kita juga sering bgt pengen nyipok sutradara sama script writer nya kalo mereka doyan nyiksa tokoh utamanya, trus gantungin konfliknya jadi to be continued. Wkwkwk....
WARNING : TIDAK MENERIMA KIRIMAN SANTET DALAM BENTUK APAPUN!





 

4 komentar:

  1. Hmmm diobok obok perasaannya, ikut mewek hahahahha..... Cepet kelarin next chapternya oenie....

    BalasHapus
  2. Hmmm diobok obok perasaannya, ikut mewek hahahahha..... Cepet kelarin next chapternya oenie....

    BalasHapus
  3. Unieeee duh hatiku carut marut baca ini. Ayo d tunggu next chapternya.

    BalasHapus
  4. thank you ya, guys.. dah rela buang2 waktu baca imaji sayah. saya ushain cepet updatenya. hari ini saya ngurusin gajian sama laporan bulanan dulu yahh...

    BalasHapus