In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 20
L for LOVE not for LOSE
Apa kabarmu, wahai hati?
Masihkah lirih menyepi?
Karena cinta yang kau jamu sejak awal kau membuka kunci
Aku memang pemimpi
Hingga puas ku rentang tubuhku disisi takdir
Hingga rasa air mata ini menjadi basa
Karena aku hanya tahu satu hal saja
Bahwa cinta tak pernah singgah dihati yang salah
Aku memilihmu!
Aku memilih untuk berjuang sekali lagi bersamamu
Jantung ini butuh irama detaknya, bagaimanapun
Dan kau adalah simfoni itu
Ya, kau adalah milikku, bukan miliknya!
-Seohyun-
Untaian kata itu dia tulis dalam
'Diary' di laptopnya. Tentangnya. Tentang hati yang menolak untuk menyerah.
Tentang seseorang yang dia anggap pantas untuk dimiliki dan dipertahankan.
Entah darimana datangnya
keberanian itu, tapi Seohyun sudah memutuskannya. Untuk tetap berdiri disisinya
dan sekali lagi berjuang demi sebuah rasa yang tak lagi asing baginya. Cinta.
Bukan untuk Yonghwa. Bukan untuk
siapapun. Semua itu hanya untuk segumpal daging yang berdetak memompa darah
didalam tubuhnya. Her heart. Karena
entah sejak kapan, Jung Yonghwa telah menjelma menjadi satu alasan untuk
jantung itu tetap berdetak.
Tak ada yang salah bila mereka
dipertemukan begitu terlambat. Begitupun dengan rasa yang kini menjelma menjadi
penyebab tangis dan tawa dalam hidup mereka. Kim Hyunna hanya lebih beruntung
saja, karena dia hadir dalam hidup Yonghwa lebih awal dari dirinya. Tapi semua
itu tidak cukup menjadi sebuah alasan untuknya menyerah. Terlebih karena
Yonghwa pun memilihnya. Semua hanya soal waktu. Dan hanya Yang Maha Tahu yang
menggenggam semua misteri itu.
*****
Seohyun kembali dengan
rutinitasnya di kampus, lalu di KCC, dan setelah itu dia harus segera
menyelesaikan segala prosedur dan persiapan penerbitan di kantor Gangnam Soul.
Setelah istirahat beberapa hari karena demamnya, kini semuanya mulai pulih.
Yonghwa memperlakukannya lebih istimewa usai pertengkaran itu. Tadi pagi, dia
bahkan mengantarnya ke kampus dengan mobilnya sendiri sebelum dia berangkat
menuju kantor FNC untuk preparasi show case CNBLUE di Jepang.
KCC siang itu tidak terlalu
ramai. Seohyun bahkan bisa sepuasnya bercanda dengan Suho seperti anak remaja.
Kepolosan Suho, dan lawakan-lawakannya membuat Seohyun tak kuasa menahan
dirinya untuk tidak terbahak. Sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa selama
beberapa menit seseorang sedang memperhatikan mereka.
"Oh.. Anyeong haseo. Silakan
duduk..." Suho menyapa seorang wanita cantik yang sedang berdiri
memperhatikan kedua pelayan KCC itu. Seohyun pun memutar tubuhnya dan dengan
refleks menundukan tubuhnya memberi salam dengan senyum hangatnya. Tapi
kemudian senyum itu lenyap saat dia melihat siapa perempuan yang sedang
menatapnya itu.
Kim Hyunna.
Seohyun mempersilahkannya duduk
di patio seat restaurant itu. Dia berusaha untuk tetap tenang, dan bekerja
secara profesional dengan melakukan base manners nya sebagai pelayan.
"Ada yang ingin
dipesan?" Dengan ragu, Seohyun mulai bertanya. Hyunna masih tidak
bergeming dan hanya menatap Seohyun dengan tatapan yang membuatnya merasa tidak
nyaman. Merasa dirinya diabaikan, Seohyun lalu menyodorkan buku menu kehadapan
Hyunna dan mempersilahkannya untuk melihat-lihat daftar menu KCC.
"Baiklah, bila Nona tidak
ingin memesan apapun sekarang, mungkin Nona bisa melihat-lihat dulu daftar menu
andalan kami. Silakan Nona memanggil kami bila Nona sudah siap memesan."
Seohyun masih berusaha bersikap ramah. Setelah itu, dia menarik dirinya untuk
masuk ke dapur. Tapi langkahnya terhenti.
"Apakah kau memang terbiasa
bersikap hipokrit seperti itu?"
Suara itu, masih terasa sangat
mengganggunya. Terlebih kini dengan kalimat yang dia ucapkan. Seohyun
memejamkan kedua matanya, lalu menghela nafas panjang. Dia tetap berusaha untuk
tenang. Lalu perlahan, Seohyun kembali memutar tubuhnya dan melihat Hyunna yang
sedang menatapnya lebih sinis.
"Nde? Apa maksudmu?"
Seohyun membalas tatapannya.
"Tak bisa kah kau duduk,
Seohyun Ssi? Atau... kau lebih suka kita berbicara seperti ini dan membiarkan
banyak mata dan telinga memperhatikan kita?" Wanita itu tersenyum. Senyum
yang terlihat sangat menyebalkan dimata Seohyun. Munafik? Siapa yang dia sebut
munafik? Akhirnya, meski malas dan ingin menghindar, Seohyun mengikutinya. Dia
menarik kursi dihadapan Hyunna, lalu duduk disana.
"Baiklah. Apa yang kau
inginkan?" Perasaan kalut itu, Seohyun mencoba menyembunyikannya dibalik
wajah tenangnya. Hyunna masih menatap sinis. Wanita itu melipat kedua tangannya
didepan dadanya.
"Langsung saja. Seohyun
Ssi... bisakah kau keluar dari rumah Yonghwa dan mencari tempat tinggal yang
lain? Ani... lebih jelasnya, bisakah kau keluar dari kehidupan Yonghwa dan
mencari kesenangan ditempat yang lain? Karena seperti yang kau ketahui, Jung
Yonghwa akan segera menikah denganku. Dan tentu saja, aku merasa tidak nyaman
bila kau selalu berada didekatnya."
Rasanya seperti disiram oleh
kobaran api kewajahnya. Seohyun sekali lagi harus menahan diri setelah
perempuan itu lagi-lagi menampar harga dirinya.
"Nde? Apa maksdumu?"
Sejujurnya, Seohyun bukanlah perempuan dungu yang tidak mampu menangkap maksud ucapan
Hyunna. Hanya saja, dia masih berusaha menahan dirinya.
"Kau masih tidak mengerti
maksudku? Baiklah, biar kusederhanakan saja kalau begitu. Seohyun Ssi,
tinggalkan tunanganku. Bila kau butuh tempat tinggal, aku akan menyediakan yang
terbaik untukmu. Tapi menjauhlah dari hidupnya. Hhm?" Lagi-lagi perempuan
itu merendahkannya.
"Mwo? Kenapa kau harus
mengatakannya padaku? Seperti yang kau tahu, aku tinggal di rumah itu semata
karena Yonghwa Oppa yang memintanya. Dan aku membayar sewaku setiap bulan. Lalu
untuk masalah siapa yang mendekati siapa, aku harap kau tidak salah
menganalisa, Kim Hyunna Ssi. Karena sejak awal, bukan aku yang datang kedalam
hidupnya, melainkan dia menginginkan aku untuk masuk kesana. Jadi bila kau
merasa tidak nyaman karena calon suamimu berada didekatku, maka yakinkan dia
untuk tetap disisimu dan menjauhiku. Karena selama dia memilihku, memegang erat
tanganku, jeoseohapnida... aku tidak bisa melepaskannya."
Tuhan tahu, betapa jantungnya
berdebar kencang hingga suara degupannya bisa terdengar oleh telinganya
sendiri. Tuhan juga tahu, betapa Seohyun merasa amat buruk setelah apa yang
baru saja dia ucapkan pada Hyunna. Dia belum pernah dengan sengaja menyakiti
siapapun, dan dia tidak bermaksud untuk menjadi sejahat ini pada Hyunna.
Tapi... apalagi yang harus dia lakukan? Terlambat baginya untuk menghindar dan
mengalah. Dan dia tidak terima dengan penghinaan yang Hyunna lakukan.
"Mwo??!! Neol jinjja!!
Geurae! Kau fikir aku tidak bisa melakukannya? Huh? Meski Yonghwa tidak mau,
aku tetap akan memaksanya hingga dia tak lagi punya pilihan lain. Aku datang
padamu, karena aku fikir setidaknya aku bisa menyelamatkanmu dari rasa sakit
yang lebih hebat. Kau fikir, dengan Yonghwa memilihmu maka semua ini akan
selesai sampai disitu? Mungkin kau tidak tahu, dengan siapa kau sedang
bersaing.
Aku, Kim Hyunna, tidak pernah
sekalipun dalam hidupku aku gagal mendapatkan apa yang aku inginkan sejak aku
terlahir kedunia ini. Dan jangan merasa jumawa karena saat ini Yonghwa
dimabukkan oleh cinta sesaatnya padamu. Semua hanya soal waktu, hingga dia
sadari bahwa perasaan itu hanya sekelebat nafsu saja.
Berapa lama kau mengenalnya?
Sebulan? Dua bulan? Setahun?
Seohyun Ssi, kau tidak akan bisa
bersaing dengan 10 tahun yang aku habiskan untuk mengenalnya dan juga
keluarganya. Juga untuk 4 tahun terakhir menjadi calon istrinya. Kau... bukan
apa-apa..."
Raut wajah Hyunna seolah penuh
empati. Tapi Seohyun tahu, wajah itu hanya sedang mengolok-olok dan
mengejeknya.
"Baiklah. Lakukanlah yang
terbaik untuk keinginanmu itu, Kim Hyunna Ssi. Lebih bagus lagi bila kau bisa
membuat 'sekelebat nafsu' Jung Yonghwa terhadapku lenyap begitu saja tanpa
menggoreskan luka baru dihati lelaki itu. Coba saja. Aku harap, uangmu, kekuasaanmu,
dan segala yang kau miliki mampu membuat Jung Yonghwa terbebas dari
penderitaannya. Dengan begitu, aku baru akan rela melepaskannya untuk hidup
bahagia denganmu."
Seohyun menatap tajam kedua mata
Hyunna yang tampak mulai gentar. Dia tidak percaya bahwa Seohyun akan
mengatakan kata-kata itu padanya. Dia fikir, akan sangat mudah menyerangnya dan
melumpuhkan harga dirinya. Tapi Hyunna justru merasa bahwa Seohyun sedang
mengobarkan api peperangan dengannya.
"Baiklah. Setidaknya aku
sudah memperingatkanmu. Harusnya kau lebih cerdas, Seohyun Ssi. Karena
melawanku hanya akan membuat hidupmu jauh lebih sulit. Geurae, kita lihat saja.
Siapa yang akan menangis pada akhirnya."
Hyunna tersenyum picik. Dia
meraih purse Dolce&Gabbana-nya, lalu beranjak pergi dengan sisa keangkuhan
yang coba dia tunjukkan di hadapan Seohyun. Tapi begitu dia melewati pintu
restaurant itu, Hyunna mulai kehilangan tenaga ditubuhnya. Kakinya terasa
lemas, jantungnya berdebar kencang, dan hatinya teramat sakit. Gadis itu
menyandarkan tubuhnya ke tembok luar restaurant dan membiarkan air matanya
mencair.
Dia tidak sekuat itu. Dirinya
tidak setangguh itu untuk bisa tetap membuat Yonghwa berada disisinya. Uang,
kekuasaan dan segala yang dia miliki, dia tahu... semua itu tidak cukup untuk
memberinya kebahagiaan. Semua itu tidak mampu membeli cinta yang Yonghwa
miliki. Dan melihat betapa Seohyun begitu berani mempertahankan cintanya,
Hyunna merasa bahwa dirinya sudah kalah saat itu juga. Satu hal yang dia sesali
saat itu. Kenapa dia harus jatuh cinta pada Yonghwa, setelah apa yang sudah
terenggut dalam hidupnya setelah Yongdo pergi? Kenapa Yongdo saja tidak cukup?
Haruskah dia kehilangan Yonghwa juga?
Seohyun berjalan menuju dapur
dengan air mata yang sudah nyaris tumpah. Dadanya terasa sesak. Semua ucapan
Hyunna masih terngiang jelas dikepalanya. Tiba-tiba dia merasa teramat kecil.
Satu-satu nya senjata yang dia miliki hanyalah cintanya. Dia tidak punya uang,
apalagi kekuasaan. Dan segala omong kosong yang dia ucapkan tadi, Seohyun bahkan
tidak yakin bahwa dia mampu melawannya.
Suho melihatnya datang dari balik
pintu dengan tubuh gontai dan wajah memerah. Seohyun duduk disampingnya, tanpa
sepatah katapun terucap.
"Barbie, wae geurae? Apa
yang terjadi?" Suho menatapnya cemas. Tapi Seohyun tidak menjawab. Dan air
matanya mulai meluncur satu persatu.
"Omo.. omo..! My Barbie ah!
Wae geurae? Aigoo... wae uro ya? Uljima... Barbie ah! Aku akan ikut menangis
denganmu bila kau menangis..." Suho mulai merengek dengan mata yang secara
otomatis langsung berkaca-kaca begitu dia melihat sahabatnya menangis.
"Neomu apeuni, Suho ah! Nae
maeumi, neomu appha.." Seohyun memukul-mukul dadanya dengan kepalan
tanggannya. Suho lalu merangkulnya dan mengusap kepala gadis malang itu.
Seohyun menangis dibahunya.
"Aigoo, My Barbie! Siapa
yang sudah membuatmu menangis? Akan aku hajar dia! Huh? Ssshh.... geumanhae...
! Uljima. Hatiku ikut sakit melihatnya.."
*****
Yonghwa mencoba mengatur ritme
nafasnya, begitu kedua kakinya menginjak lantai sebuah gedung yang belum pernah
dia datangi. Tulisan 'Gangnam Soul' tertera jelas didepan pintu utama. Ya...
dia harus menemuinya. Bagaimana pun, Yonghwa harus berbicara dengannya.
Seorang perempuan cantik, yang
kemudian diketahui sebagai asisten editor itu dengan ramah mengantar Yonghwa
menuju ruangan yang dituju. Ruangan editor, Cho Kyuhyun.
"Kamsahamnida.."
Yonghwa mengangguk dengan senyuman ramah pada asisten itu. Lalu beberapa saat
kemudian, tangannya mulai mengetuk pintu dihadapannya.
"Ya..." Terdengar suara
seorang pria dari dalam. Perlahan, Yonghwa membuka pintunya dan segera disambut
oleh tatapan kaget seorang Cho Kyuhyun.
"Oh... Jung Yonghwa Ssi?
Masuklah..." Kyuhyun bergegas bangkit dari kursi kerjanya, dan berjalan
menghampiri Yonghwa. Yonghwa pun tidak segan lagi dan segera masuk ruangan itu.
"Duduklah..." Kyuhyun
mempersilahkan Yonghwa untuk duduk di sofa tamu.
"Wow... aku terkejut dengan
kedatanganmu. Moseumniriseyo? Ada yang bisa aku bantu?" Meski
bertanya-tanya dalam hatinya, Kyuhyun tetap berusaha untuk bersikap ramah.
"Animida. Aku hanya
kebetulan lewat saja. Apa aku mengganggumu?" Yonghwa pun berusaha untuk
bersikap normal.
"Aniyo. Aku baru saja
selesai meeting. Gwaenchannayo. Kau mau minum?"
"Gomawoyo. Aku baru saja
menghabiskan kopiku sebelum datang kesini. Aku hanya... ingin minta maaf dan
berterima kasih padamu." Yonghwa menyerahkan sekotak minuman herbal dan
ginseng keatas meja dihadapannya.
"Omo... apa ini? Minta maaf
dan terima kasih untuk apa?" Kyuhyun mengerutkan keningnya, tapi senyum diwajahnya
masih belum hilang.
"Aniyo, ini hanya oleh-oleh
yang dikirim Eomma-ku dari Busan. Hanya untuk membantumu menjaga kesehatan
saja.
Dan Cho Kyuhyun Ssi, aku sudah
mendengarnya dari Joohyun. Malam itu, terima kasih banyak untuk membantunya dan
juga menjaganya. Aku juga minta maaf, bila kau terganggu dan merasa kerepotan
karena apa yang Joohyun lakukan."
Senyum diwajah Kyuhyun perlahan
memudar. Malam itu, ya.. Kyuhyun masih ingat betapa menyedihkannya keadaan
Seohyun. Gadis itu minum dan menangis sendirian. Rasanya ingin sekali Kyuhyun
merenggut kerah baju lelaki dihadapnnya hanya untuk membuat perhitungan karena
telah membuat Seohyun-nya terluka. Tapi dia tahu, dia tidak boleh melakukan
itu.
"Ah.. maksudmu, saat hujan
besar dan aku menemukannya sedang minum dan menangis sendiri? Gwaenchannayo,
Yonghwa Ssi. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Lagi pula,
Joohyun benar-benar tenang saat dia mabuk, sehingga sama sekali tidak
merepotkanku." Kini, giliran senyum diwajah Yonghwa yang perlahan lenyap.
Caranya memanggil Seohyun, dia benar-benar tidak suka itu. Seolah kedua orang
itu sudah sangat akrab saja.
"Ya, tetap saja. Rasanya aku
harus berterima kasih padamu karena telah merawat Joohyun. Meski mungkin akan
lebih baik bila kau menghubungiku, hingga kau tidak perlu repot-repot
membawanya ke rumahmu dan aku hampir gila mencarinya sampai pagi." Perang
tantrum sepertinya baru saja dimulai. Kalimat-kalimat sarkastik seolah menjadi
media untuk saling menyerang satu sama lain.
"Ya, mungkin kau benar. Tapi
maaf, Jung Yonghwa Ssi, kau tidak pernah memberiku nomor ponsel mu. Dan Joohyun
melarangku untuk menghubungimu karena dia bilang kau sedang sangat sibuk. Jadi
ya.. aku tidak punya pilihan lain selain membawanya ke rumahku. Aku tidak bisa
meninggalkannya begitu saja di café itu, terlebih karena dia adalah Seo
Joohyun." Kyuhyun menatap tegas. Yonghwa semakin merasa iritasi dengan
jawaban Kyuhyun itu.
"Ya, aku mengerti. Tapi kau
tidak harus selalu menuruti perintah orang mabuk, bukan? Hanya karena Joohyun
melarangmu menghubungiku, lantas kau membenarkan caramu dengan membawa Joohyun
kerumahmu? Kau bahkan tidak memikirkan apa yang akan Joohyun rasakan saat dia
terbangun dan berada di rumah seorang laki-laki yang tidak terlalu dikenalnya
dengan baik. Kau juga seharusnya memikirkan pandangan orang-orang disekitarmu
yang mungkin akan salah faham pada kekasihku.
Tapi semua itu sudah berlalu. Dan
bagaimana pun aku tetap berterima kasih padamu." Kedua lelaki ini saling
menatap angkuh.
"Exactly, kekasihmu! Aku
harap kau selalu mengingat itu, Jung Yonghwa Ssi dan seharusnya kau lebih tahu
bagaimana cara menjaga perasaannya dan membuatnya tidak terluka hingga dia
tidak harus berakhir di rumah pria lain. Arasso! Semoga kejadian seperti
kemarin tidak akan pernah terjadi lagi. Karena bila sekali lagi aku menemukan
Joohyun minum dan menangis sendiri seperti malam itu, mungkin saat itu aku akan
benar-benar memintanya untuk meninggalkanmu saja." Kyuhyun mulai
menampakkan tatapan tegasnya.
"Mwo?!"
"Pastikan saja kau
memperlakukan dia dengan baik dan jangan melukainya lagi. Sangat
kekanak-kanakan menurutku, bila kau membuatnya menangis, lalu kau marah pada
laki-laki yang sudah membantunya menyeka air matanya. Aku hanya memberi tahumu,
Jung Yonghwa Ssi. Lelaki yang berteriak 'aku mencintaimu' tapi justru menjadi
penyebab air matanya, pada akhirnya akan kalah oleh dia yang diam-diam
menjaganya dan mengusap air mata yang kau sebabkan."
Yonghwa mengepalkan tangannya,
dan emosinya seperti akan segera meledak saat itu juga. Tapi dia tidak ingin
membuat hubungannya dengan Seohyun yang baru
dimulai lagi, akan kembali terganggu karena kebodohannya. Justru maksud
kedatangannya saat itu, adalah untuk membuat segalanya jelas dimata semua
orang. Termasuk Cho Kyuhyun, yang Yonghwa merasa dirinya adalah ancaman lain
untuk hubungan mereka.
"Geok cheongmaseyo. Kau
tidak akan mendapatkan kesempatan yang lainnya, Cho Kyuhyun Ssi. Karena kini,
Joohyun sepenuhnya percaya padaku. Dan aku tak akan membiarkannya terluka lagi."
Yonghwa bergegas bangkit dari duduknya dan hendak pergi dari hadapan Kyuhyun
sebelum dirinya gagal mengendalikan dirinya.
"Pastikan semua itu kau
tepati, Jung Yonghwa Ssi. Karena bila tidak, aku beri tahu... bahwa meski
Joohyun tidak berarti apa-apa untukmu, tapi bagi seseorang, Joohyun adalah
segalanya!"
Yonghwa menghela nafas dengan
berat sambil memejamkan matanya. Tapi sedikitpun dia tidak menoleh lagi, dan
meninggalkan Kyuhyun begitu saja.
*****
To : Sunset
'Are you done, Love? Aku sedang menuju KCC sekarang.'
Tiba-tiba rasa rindu itu begitu
mendesak, hingga waktu terasa berjalan amat lambat. Kemacetan Seoul terasa
berabad-abad rasanya, membuatnya frustasi. Keinginan untuk segera mengunci
tubuh itu dalam pelukannya benar-benar menjadi sebuah urgensi. Terlebih setelah
percakapannya dengan Cho Kyuhyun barusan. 'Andwe,
Joohyun hanya milikku! Bukan miliknya!' Bisiknya dalam hati.
From : Sunset
'Yup. Aku menunggumu, Oppa.. ^^'
Senyumnya merekah. Wajah bidadari
itu tergambar jelas dalam ingatannya. Dan hari ini, akan menjadi milik mereka
berdua tanpa satupun yang akan mengganggu.
A vacation. Sebelum akhirnya
mereka berdua disibukan dengan jadwal mereka masing-masing yang akan mulai
padat minggu depan. Yonghwa sudah menyiapkan segalanya. Tempat, makanan dan
segala perbekalan, semua sudah dia persiapkan dengan teliti. Mereka berdua
membutuhkan moment seperti ini, usai pertikaian kemarin.
Setelah berjuang menembus
kemacetan, akhirya Yonghwa tiba di depan KCC. Gadis cantik itu sudah
menunggunya dia depan restaurant. Dia segera berjalan menghampiri Yonghwa yang
kala itu hanya menunggu dimobilnya, mengingat area parkir beberapa meter
jauhnya. Seohyun membuka pintu passenger seat, dan segera menemukan senyum itu.
"Hello, Handsome!"
Sepasang mata bintang itu menambah indah senyum diwajahnya. Gadis itu mungkin
tidak sadar, bahwa senyum itu membuat sebuah reaksi hebat dalam hati Yonghwa.
Yes. Urgensi untuk memeluknya tak dapat lagi ditunda. Yonghwa segera menarik
tubuh Seohyun yang baru saja duduk disampingnya, dan mendekapnya erat. Seohyun
cukup terkejut dengan reaksi tiba-tiba itu.
"Igae mwo ya? Wae geurae,
Oppa?" Tubuhnya masih dalam dekapan Yonghwa.
"Jamkaman. Biarkan aku
seperti ini untuk beberapa menit." Yonghwa memejamkan kedua matanya sambil
menikmati sensasi relaksasi dari aroma shampoo Seohyun.
"Aigoo... wae kkamjagie ah?
Jangan bilang kalau kau melakukan kesalahan lagi, Mr. Gold!" Seohyun
membalas pelukan itu, dan diam-diam menikmatinya juga. Pertemuannya dengan
Hyunna tadi membuat batinnya lelah. Dan pelukan ini mengobati semua itu. 'Yonghwa adalah milikku, bukan miliknya!'
Batinnya.
Yonghwa akhirnya melepas peluk
itu, setelah puas me-recharge kerinduannya. Dengan senyum teduhnya, dia menatap
malaikat cantik dihadapannya penuh cinta.
"I missed you,
Angel..." Lembut, dia mengusap wajah cintanya. Seohyun membalas senyum
teduh itu.
"I missed you too,
Rocker!" Kedua tangannya mengunci wajah Yonghwa sambil menatap pria itu
lekat.
"I just want to be with you
now, Hyun. Tanpa terganggu apapun dan siapapun. Just the two of us."
Yonghwa terdengar setengah berbisik dengan suara husky nya. Seohyun mengerutkan
keningnya. Dia masih tidak mengerti apa yang Yonghwa ucapkan, karena memang
lelaki itu tidak mengatakan apapun tentang rencana yang dia buat. Just a little
surprise for her beloved angel.
"Kau mulai aneh, Jung
Yonghwa Ssi! Apa sebenarnya yang kau sembunyikan?" Seohyun memicingkan
salah satu matanya, mencoba menerobos kedalam fikiran pria dihadapannya.
"Opso, jinjja! Geunyang....
Baby, i'm gonna take you to some place. Hanya kau dan aku." Kini, Seohyun
semakin mengerutkan keningnya.
"Hhm? Kemana?" Yonghwa
melebarkan senyumnya melihat reaksi Seohyun.
"Bimil! It's secret now.
Just trust me, Honey... i promise, kau pasti menyukainya." Yonghwa mengedipkan
sebelah matanya.
Mobil merekapun melaju. Entah
kemana Yonghwa akan membawanya, tapi Seohyun hanya pasrah mengikutinya saja.
Kemanapun itu, selama bersamanya, Seohyun percaya semua akan baik-baik saja.
Hari mulai senja. Tak terasa,
mereka sudah berkendara selama 2 jam dan mereka masih belum sampai ditempat
tujuan yang Yonghwa recanakan. Seohyun tampak lelah dan menahan kantuknya.
"Just take a nap, Honey. Aku
akan membangunkanmu, saat kita sampai nanti." Yonghwa membelai lembut pipi
Seohyun-nya dengan tangan kanannya.
Setelah melewati ladang
perkebunan dan perbukitan, akhirnya Yonghwa menghentikan mobilnya tepat didepan
Villa mungil yang menghadap ke sebuah peternakan sapi perah. Udara pegunungan,
ditambah dengan cuaca diawal musim dingin benar-benar terasa menusuk tulang.
Yonghwa melepas sabuk pengamannya dan melihat sosok malaikat disampingnya yang
masih terpejam begitu damai. Lembut, dia mengusap kepala gadis itu hingga
membuatnya terbangun.
"Hhmm... apa kita sudah
sampai, Oppa?" Dengan suara parau dan kedua mata setengah mengantuknya,
Seohyun mencoba menegakkan tubuhnya dan melihat sekitar.
"Yes, Baby. Uri waseo."
Yonghwa kembali melempar senyum teduhnya.
Seohyun melepas seat belt nya dan
langsung terpukau dengan pemandangan sekelilingnya. Yonghwa keluar dari
mobilnya lebih dulu, lalu berjalan ke arah pintu passenger seat dan membantu
Seohyun membukanya.
"Lets go, Baby. Sebentar
lagi matahari mulai terbenam." Seohyun tampak masih bingung dengan apa
yang terjadi hingga tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Dia hanya
mengikuti setiap kata yang Yonghwa ucapkan. Dan diapun menuruni mobil Yonghwa
sambil memegang tangan lelaki itu. Namun matanya masih saja tersihir dengan
keindahan tempat itu.
Jalan setapak di bentengi
pohon-pohon tinggi yang nyaris kehilangan semua daunnya karena musim gugur.
Daun-daun kering berwarna jingga berserakan diatasnya. Dan disebelah kanannya,
terhampar padang rumput yang juga mulai menguning dan beberpa ekor sapi perah
yang masih mencari makan. Dan Seohyun bisa melihat dengan jelas, matahari yang
mulai terbenam di ujung padang rumput itu.
What a magnificent.
"Oppa... kita sedang berada
dimana?" Akhirnya, Seohyun mulai mengeluarkan suara.
"Yeogie? Kita sedang berada
di Villa keluargaku. Aku sudah bilang, kan... bahwa aku hanya ingin
menghabiskan waktu berdua saja denganmu? Dan disini, aku harap kita bisa
melupakan semua tentang Seoul dan seisinya. Pekerjaan, dan hal lainnya, biarkan
sejenak mereka lepas dari fikiran kita. Yang harus ada dalam hati dan fikiranmu
hanya seorang namja keren yang sekarang sedang berdiri disampingmu." Kedua
mata lelaki itu masih menatap matahari yang mulai terbenam dihadapannya dengan
senyum percaya dirinya. Seohyun mendecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
kemudian tertawa kecil.
"Kajja, Hyun... kita duduk
disana." Yonghwa menunjuk sebuah bangku dari batang pohon yang berada
dibawah sebuah pohon besar. Dari sana, keduanya bisa menikmati indahnya
matahari terbenam ditemani harmoni suara angin, burung dan erangan sapi-sapi
perah.
Beberapa saat, mereka hanya
menikmati moment itu tanpa satupun yang bicara. Hingga Yonghwa menggenggam
tangan Seohyun, dengan mata yang masih tidak beralih dari pemandangan
dihadapannya.
"Aku tidak pernah mengira
bahwa kau akan menjadi bagian yang teramat penting dalam hidupku, Hyun.."
Senyum tipis merekah disudut bibir Yonghwa.
"Aku jatuh cinta padamu
sejak pertama kali aku melihatmu di café itu. Diantara banyak gadis dengan make
up dan fashion high class, mataku hanya terkunci pada gadis sederhana dengan
blue jeans dan kemeja putihnya. Sejak saat itu, aku selalu mencarimu disetiap
konserku. Tak disangka, aku justru menemukanmu dengan tidak sengaja di KCC.
Lalu malam harinya, aku sengaja datang sebagai seorang pelanggan. Kau tidak
tahu betapa senangnya aku saat aku berhasil mengantarmu pulang malam itu.
Dan tanpa aku sadari, sejak saat
itu aku menjadi lebih banyak tersenyum. Mimpi burukku yang biasa aku alami
setiap hari, sejak saat itu tidak pernah datang lagi. Hingga aku mengajakmu
tinggal bersamaku. Mungkin rasa bersalahku pada Hyung yang membuat mimpi-mimpi
itu datang kembali. Ya.. semakin aku merasa bahagia karena kehadiranmu
disisiku, semakin aku merasa bersalah padanya." Yonghwa menghembuskan
nafas panjang. Lelaki itu menundukkan wajahnya sejenak, sebelum dia menoleh
kearah Seohyun disampingnya lalu meneruskan ucapannya.
"Tapi mulai saat ini, aku
tidak akan lagi hidup seperti itu, Hyun. Mulai saat ini, hatimu lah yang
menjadi prioritas untuk kujaga. Aku benar-benar ingin bahagia denganmu tanpa dihantui
rasa bersalah dan penyesalan pada siapapun.
Selama ini, sejak tragedi itu
terjadi, aku selalu hidup untuk menyenangkan dan menuruti orang lain karena
rasa bersalahku. Hyunna, dan pertunangan itu, semua aku lakukan karena aku
ingin mengembalikan hak nya dan juga keluarga ku yang terenggut karena kebodohanku.
Sejak saat itu, aku lupa bagaimana caranya untuk membahagiakan diriku sendiri.
Aku hanya akan menghabiskan seluruh hidupku untuk menebus semua kesalahan
itu."
Kedua mata mereka saling menatap
lekat. Luka hatinya, penyesalan, sekaligus cinta Yonghwa untuk Seohyun, dapat
Seohyun lihat dan rasakan lewat tatapan itu.
"Ottokhae, Oppa? Karenaku,
kau harus menjadi orang yang akan menyakiti mereka sekali lagi?" Rasa
takutnya kembali datang. Matanya mulai berkaca-kaca. Yonghwa menggelengkan
kepalanya sambil meremas tangan Seohyun dalam genggamannya.
"Ani ah, Joohyun ah.
Harusnya aku berterima kasih padamu. Seandainya saja aku tidak bertemu
denganmu, maka aku hanya akan menjalani penderitaan dalam bentuk lain dengan
menikahi perempuan yang tidak aku cintai dan dia pun tidak mencintaiku. Aku
akan meninggalkan CNBLUE, dan hidup sebagai penerus Venus Hotel setelah
pernikahan itu. Tapi setelah aku bertemu denganmu, aku sadar, bahwa aku juga
ingin bahagia. Lebih dari segalanya, aku ingin bersamamu selama hidupku."
Tatap keduanya saling mengunci
satu sama lain. Ada rasa tak terdefinisikan saat Yonghwa mengatakan isi hatinya
sambil menatap Seohyun seperti itu. Begitupun Seohyun. Andai Yonghwa bisa
membaca semua itu lewat kedua matanya, tentang cinta yang tak pernah dia
rasakan sebelumnya dan tidak pernah dia sangka akan sebesar itu.
Lalu, perlahan jarak diantara
mereka terhapus inci demi inci. Hingga wajah mereka begitu dekat, dan Seohyun
mulai merasakan sesuatu mengunci bibirnya. His lips. His passion. His love.
*****
Hari mulai gelap, dan keduanya
sudah berada di dalam Villa mungil dengan 2 kamar tidur, ruang tengah yang
melingkup sebagai ruang perapian, juga dapur kecil yang bersatu dengan bangunan
ruang tengah. Dinding dan lantainya dilapisi kayu parquet sehingga ruangan itu
terasa hangat. Dibagian belakang Villa, ada sebuah taman hidroponik kecil
dengan aneka bunga-bunga kecil dan sungai buatan yang memanjakan mata. Atapnya
terbungkus cannopi transparant yang memungkinkan bagi mereka melihat langit
saat mereka merebah di kursi rotan atau saat mereka santai diatas ayunan kecil
yang ada di dalamnya. Mereka juga bisa menggelar permadani kecil dan merebah
disana. Sekelilingnya ditutupi dinding kaca, sehingga meski mereka ingin
menikmati langit dimalam haripun mereka tidak perlu takut merasa kedinginan.
Yonghwa memasak makan malam untuk
mereka berdua, sedangkan Seohyun menata alas untuk makan malam mereka ditaman
belakang. Tak lama kemudian, mereka berduapun menikmati semi outdoor dinner
mereka. Cuaca dingin diluar sana sepertinya tidak mengganggu mereka. Seohyun
looked so naturally beautiful dengan blue jeans dan sweater dusty yang dia
pakai. Rambutnya dia biarkan tergerai, tanpa sedikitpun make up diwajahnya.
Katakanlah, kecantikan yang Yonghwa lihat dalam dirinya sedikitpun tanpa
kepalsuan. Kecantikan yang mengunci hatinya sejak pertama kali melihatnya.
Makan malam pun usai. Mereka
segara membereskan semuanya, lalu kembali ketaman belakang, dan duduk diatas
permadani tempat mereka makan tadi, yang kini sudah dilapisi matras hangat oleh
Yonghwa. Lelaki itu juga menyiapkan beberapa bantal dan selimut tebal. Dan
Seohyun sempat bingung karenanya. Yonghwa yang melihat ekspresi itu diwajah
Seohyun-nya hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Come here, Angel...!"
Yonghwa berbaring lebih dulu diatas 2 lapis bantal tebal yang dia susun
sebelumnya, lalu mengisyaratkan Seohyun untuk merebah disampingnya dengan
tangannya. Tentu saja, Seohyun tidak serta merta melakukan itu. Perempuan itu
hanya mematung ditempatnya berdiri dengan banyak tanda tanya beterbangan dalam
kepalanya. Dan itu membuat tawa Yonghwa meledak hingga terpingkal-pingkal.
Seohyun semakin bingung.
"Igae mwo ya? Oppa... wae
geurae?" Gadis itu merengek, merasa dirinya dipermainkan Yonghwa. Puas
dengan tawanya, Yonghwa sekali lagi mengisyaratkan gadisnya untuk duduk
disampingnya.
"Apapun yang kamu fikirkan,
sayang.... semua itu hanya imajinasi liarmu, i swear!" Yonghwa masih
meledakkan sisa tawanya. Dan Seohyun dibuatnya malu dengan statement yang baru
saja lelaki itu katakan.
"Mwo ya? Memangnya apa yang
aku fikirkan?" Gadis itu berusaha untuk tetap tenang, meski wajahnya mulai
terasa panas. Yonghwa bisa melihat pipi malaikat nya merona merah.
"Kalau begitu, palli! Come
here.." Sekali lagi dia menepukan tangannya ke atas matras disampinya.
Meski sedikit ragu, akhirnya Seohyun berjalan mendekati Yonghwa dan duduk tepat
disampingnya. Tapi tidak lama kemudian, Yonghwa menarik tubuh kecilnya hingga
membuatnya terbaring, merebah diatas lengan kirinya. Begitu dekat dengan tempat
dimana jantung itu berdetak. Ya, Seohyun bisa mendengarnya. Detak demi detak
irama jantungnya.
Beberapa saat, keduanya hanya
terdiam. Memandangi langit hitam tanpa bintang lewat cannopi tranparant diatas
mereka, sambil mereduksi kegugupan yang hadir tanpa aba-aba. Tangan kirinya,
dengan lembut mengusap kepala Seohyun yang terbaring nyaman dilengannya.
"Bila kita datang ketempat
ini di musim semi atau musim panas, mungkin kita bisa melihat taburan bintang
lewat kaca cannopi itu." Yonghwa mulai memecah keheningan.
"Jeongmal?" Suaranya
terdengar lembut.
"Hhm. Aku biasanya akan
merebah seperti ini dengan Eommaku. Saat aku kecil, aku yang merebah dipelukan
Eomma, dan Eomma akan bercerita tentang kisah bintang-bintang dilangit. Tentang
Canopus, tentang Capella, Orion, dan banyak lagi. Aku benar-benar sangat
menyukainya. Tapi saat aku mulai beranjak dewasa, kami seperti bertukar posisi.
Eomma yang akan terbaring diatas lenganku seperti apa yang kau lakukan
sekarang, Hyun. Lalu aku akan menceritakan banyak hal yang terjadi dalam
hidupku. Tentang siapa saja yang kutemui, dan kemana saja aku pergi. Lalu Eomma
akan tertidur ditengah ceritaku." Ada senyum tak terdeskripsikan merekah
diwajah lelaki itu saat dia bercerita tentang Eommanya.
"Oppa pasti sangat dekat
dengan Eomma-mu." Seohyun bisa merasakan kasih sayang yang Yonghwa miliki
untuk ibunya lewat senyum itu.
"Bisa dibilang begitu. Eomma
adalah pendongeng yang hangat. Dia juga pendengar yang baik, dan fans ku yang
paling tulus. Entah seberapa sering pun aku membuatnya kecewa, tapi Eomma
selalu mengatakan 'kau sudah melakukan yang terbaik, Yonghwa ah!'. Dan itu
membuatku lebih merasa buruk. Karena Eomma tidak pernah marah sekalipun
padaku." Senyumnya berubah sendu.
"Aku iri padamu, Oppa.
Setidaknya kau punya Eomma yang sangat mencintaimu dan kapanpun bisa kau ajak
berbagi banyak hal. Kau juga punya Appa yang hebat. Tidak sepertiku."
Senyum pahit itu juga tergambar diwajah Seohyun yang membuat Yonghwa menarik
tubuhnya lebih dekat dan mendekapnya dengan kedua tangannya.
"Kau masih punya aku, Hyun.
Mulai saat ini, akan selalu ada aku yang kapanpun bisa kau ajak berbagi banyak
hal. Dengan kedua tangan dan kakiku, aku akan bekerja keras untuk menjadi
lelaki yang mampu melindungimu sampai aku mati." Yonghwa mengecup lembut
ujung kepala Seohyun dipelukannya.
"Jinjja?" Suaranya
lirih.
"Hhm. Kau bisa bergantung
padaku, kapanpun kau mau. Dan lagi, Eomma-ku juga sangat menyukaimu dan ingin
segera bertemu denganmu." Mendengar itu, Seohyun spontan melepaskan diri
dari pelukan Yonghwa, lalu menatap lelaki disampingnya dengan mata terbelalak.
"Mwo rago? Kapan Oppa
menceritakan tentangku padanya? Apa yang Oppa ceritakan? Lalu, bagaimana reaksi
Eomma-mu?" Tiba-tiba semua itu terasa mengganggunya dan membuat jantungnya
berdebar kencang. Yonghwa kembali dibuatnya terbahak.
"Yakk!! Jung Yonghwa Ssi,
geumanhae!! Kau malah tertawa dan bukan menjawab pertanyaanku!" Gadis itu
mengerutkan bibirnya dan menatap tajam kearah kekasihnya.
"Mian.. Baby... tapi kau
benar-benar lucu saat kau gugup seperti itu. Dan pertanyaan-pertanyaan itu..
aigoo..." Yonghwa kembali tertawa hingga Seohyun benar-benar kesal
padanya.
"Geumanhae, Oppa. Atau aku
pergi tidur sekarang juga." Gadis itu nyaris beranjak, namun tangan Yonghwa
dengan sigap menahannya. Yonghwa benar-benar mengehentikan tawanya.
"Ani.. ani.. Joohyun ah!
Jeongmal mianhae. Anju ah. Baiklah, aku akan memberi tahumu." Yonghwa
mengisyaratkan Seohyun untuk kembali merebah diatas lengannya. Dan gadis itu
dengan mudah dijinakan kembali.
"Eomma mendengar kabar
tentangmu pertama kali dari Yoona. Lalu kami bertemu di Jepang saat konser kami
disana. Saat itu lah, Eomma bertanya langsung padaku. Dan aku menceritakan
semuanya tentangmu. Dari awal aku jatuh cinta padamu, hingga saat aku tak lagi
mengalami mimpi buruk itu karenamu. Dan Eomma bilang padaku, kalau dia belum
pernah melihat putranya jatuh cinta seperti ini sebelumnya."
"Jinjja?" Seohyun
menatapnya ragu.
"Demi Tuhan, Angel. Aku
berkata jujur. Aku juga memperlihatkan fotomu padanya. Dan aku tak akan pernah
lupa bagaimana Eomma tersenyum saat dia melihat wajahmu. Dia bilang, kau
benar-benar cantik, Joohyun ah." Yonghwa membelai rambut Seohyun
disampingnya, sambil menyelipkan beberapa helainya dibalik telinga gadis itu.
"Benarkah? Sejujurnya, aku
tidak punya cukup percaya diri, Oppa. Aku takut, orang tuamu tidak menyukaiku.
Terlebih karena aku hidup seorang diri setelah Eomma-ku meninggal dan Appa-ku
mencampakanku. Aku bahkan tidak memiliki apapun untuk bisa kubanggakan."
Bening matanya kembali berkaca-kaca. Percakapannya dengan Hyunna tadi siang,
kembali terbayang dalam benaknya hingga membuat hatinya seketika merasa gentar.
Kenyataan tentang siapa Kim Hyunna dan siapa dirinya sudah cukup menjelaskan
dimana dia harus berdiri.
"Ani ah, Baby...! Jangan
pernah merasa seperti itu. Orang tuaku sama sekali tidak pernah menilai
seseorang dari latar belakangnya. Aku yakin, orang tuaku akan sangat
menyukaimu. Terutama Eomma, karena dia selalu menginginkan anak perempuan.
Lihat saja nanti, saat dia bertemu denganmu, maka dia akan otomatis
melupakanku." Kata-kata itu seperti setitik cahaya yang memberi terang
dalam hatinya. Senyumnya kembali merekah diwajah cantik itu.
"Gomawo, Oppa. Sudah
mengatakan itu padaku. Meski saat ini kau hanya sedang menghiburku, aku tetap
berterima kasih. Semua itu sangat berarti untukku."
"Eii... apa maksudmu, Baby?
Andwe, aku tidak mungkin mengatakan semua itu hanya untuk menghiburmu.
Lagipula, dimataku... untukku... kau tetap perempuan sempurna meski dengan
ketidaksempurnaanmu. Biarkan aku yang akan mengisi rongga-rongga kosong dalam
hidupmu, Hyun. Seperti halnya kau mengisi ruang-ruang kosong dihidupku."
Sekali lagi, tatap keduanya
saling mengunci satu sama lain. Semakin dalam Yonghwa menatapnya, semakin besar
cinta itu terasa. Andwe! Dia tak akan pernah melepaskan segala keindahan yang
kini berada tepat dihadapannya untuk dimiliki lelaki lain. Sesulit apapun,
seperih apapun, dia tidak akan menyerah.
Dan perlahan jarak itu kembali
terhapus inci demi inci. Hingga wajah mereka begitu dekat, dan Yonghwa sekali
lagi mengunci bibirnya. Lembut, tidak tergesa tapi cukup untuk menggenapi
kerinduannya. Her lips. Her sweetness. Her passion. Her love. Semakin Yonghwa
menikmatinya, semakin mendesak rasa itu. Tentang betapa gilanya Yonghwa saat
menginginkannya. Dia menginginkannya hingga cinta dalam dadanya terasa seolah
akan meledak ketika itu juga. Dia harus menghentikannya. Ya, dia harus segera
berhenti karena jika tidak, dia tidak bisa menjamin bahwa jiwanya mampu
menahannya.
Yonghwa menghentikan ciumannya.
Perlahan, kedua matanya terbuka lalu menatap kedua mata bintang itu
dihadapannya.
"I love you, Seo
Joohyun....." Setengah berbisik, suara husky nya terasa membelai jiwa.
Seohyun tersenyum teduh sambil membalas tatapan itu.
"I know. Dan tentang cintaku
padamu, biarkan hanya aku dan Tuhan saja yang tahu..." Juga dengan
setengah berbisik, Seohyun mengucapkan kalimat ajaib itu. Yonghwa kembali
menarik tubuh Seohyun lebih dekat dan mendekapnya lebih erat. Dan beberapa saat
kemudian....
"Hyun.... lihat...."
Yonghwa menunjukkan tangannya ke atap cannopi transparant di atas mereka.
Seohyun pun segera melihatnya.
"Salju pertama...."
Mata gadis itu tersihir oleh butir-butir salju yang turun perlahan selembut
kapas, lalu jatuh satu persatu diatas cannopi. Benar-benar indah. Keduanya
terlentang diatas bantal masing-masing, berbalut selimut tebal yang Yonghwa
siapkan sebelumnya. Dengan tangan yang saling menggenggam erat, sepasang mata
mereka begitu asyik melihat indahnya salju pertama itu.
"Orang bilang, salju pertama
adalah simbol keberuntungan dan kebahagiaan. Hhh... aku benar-benar bahagia
bisa melihatnya bersamamu, Hyun." Lelaki itu berucap pelan, tapi cukup
jelas untuk bisa Seohyun dengar. Kedua tubuh mereka masih terlentang menatap
langit.
"Na do, Oppa.."
Jawabnya lembut.
*****
Keesokan harinya
From : Phabo Jong
'Yonghwa ah, neol eodie ah? Apa kau sudah melihat berita?'
To : Phabo Jong
'Somewhere. Berita apa?'
From : Phabo Jong
'Appa-mu. Cepat buka internetmu, dan segera hubungi aku. Aku hampir
gila karena semalaman tidak menemukanmu.'
Yonghwa bergegas membuka koneksi
internetnya begitu dia membaca pesan dari Jonghyun. Hanya butuh waktu beberapa
menit hingga akhirnya tubuh lelaki itu terkulai lemas kesandaran kusrinya
dengan jantung yang berdebar kencang.
"Aboji...." Lirih, dia
memanggilnya.
"First Snow"
Super Junior
I’ve waited for one entire year.
I missed winter so much.
A day seems so long. I am just waiting for the first snow. I hold your small hands and pray.
If all this love could pile up in the world,
everyone would be happy.
When the white snow falls,
the entire town is full of the laughter of small children.
Your mischievous smile I can’t stop loving U
I can tell Woo The first snow is coming.
When this night passes…
When this night passes, the first snow will most likely be heaped up.
The whole world will be white as though I am the main character in a fairy tale.
Your bright, angelic smile will lighten up the dark street.
The stars in the night sky will positively send down the white snow.
The world reflected in your eyes is so beautiful.
I am thankful that I am able to spend this moment with you.
When the white snow falls,
the entire town is full of the laughter of small children.
Your mischievous smile,
Just show it to me.
When did you become such a close person to me without me knowing?
You are more precious than anyone, like the first snow.
When the first snow falls, the whole world is filled with your twinkling eyes and
my heart that loves you. With that
I am happy with you.
When the white snow falls,
the entire town is full of the laughter of small children.
Your mischievous smile I can’t stop loving U
Author
note :
Hhhh...
caaape juga yah, marathon gini. Wish you enjoy this chapter, goguma-deul. ^_^




Joengmal... Pemenggalan cerita yang menyisakan rasa penasaran... Badai apalagi yang akan menanti yongseo di next chapter..
BalasHapusMungkinkah akibat ulah kim hyunaa demi merebut yonghwa kembali ke sisinya... Ah penasaran
omo,omo,omo..T-T
BalasHapusAigooooo.. -_-"
Ah yongseoo. Kadang kalau baca judul2 sebelumnya berasa mereka itu bener2 real. Hope so. Gak sabar baca chapter selanjutnyaa. Semangatt, fans setia menunggu ;)
BalasHapus