Selasa, 01 Desember 2015

In Time With You Chapter 20



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8






Chapter 20

L for LOVE not for LOSE

Apa kabarmu, wahai hati?
Masihkah lirih menyepi?
Karena cinta yang kau jamu sejak awal kau membuka kunci

Aku memang pemimpi
Hingga puas ku rentang tubuhku disisi takdir
Hingga rasa air mata ini menjadi basa
Karena aku hanya tahu satu hal saja
Bahwa cinta tak pernah singgah dihati yang salah
Aku memilihmu!
Aku memilih untuk berjuang sekali lagi bersamamu
Jantung ini butuh irama detaknya, bagaimanapun
Dan kau adalah simfoni itu
Ya, kau adalah milikku, bukan miliknya!
-Seohyun-

Untaian kata itu dia tulis dalam 'Diary' di laptopnya. Tentangnya. Tentang hati yang menolak untuk menyerah. Tentang seseorang yang dia anggap pantas untuk dimiliki dan dipertahankan.

Entah darimana datangnya keberanian itu, tapi Seohyun sudah memutuskannya. Untuk tetap berdiri disisinya dan sekali lagi berjuang demi sebuah rasa yang tak lagi asing baginya. Cinta.

Bukan untuk Yonghwa. Bukan untuk siapapun. Semua itu hanya untuk segumpal daging yang berdetak memompa darah didalam tubuhnya. Her heart. Karena entah sejak kapan, Jung Yonghwa telah menjelma menjadi satu alasan untuk jantung itu tetap berdetak.

Tak ada yang salah bila mereka dipertemukan begitu terlambat. Begitupun dengan rasa yang kini menjelma menjadi penyebab tangis dan tawa dalam hidup mereka. Kim Hyunna hanya lebih beruntung saja, karena dia hadir dalam hidup Yonghwa lebih awal dari dirinya. Tapi semua itu tidak cukup menjadi sebuah alasan untuknya menyerah. Terlebih karena Yonghwa pun memilihnya. Semua hanya soal waktu. Dan hanya Yang Maha Tahu yang menggenggam semua misteri itu.

*****

Seohyun kembali dengan rutinitasnya di kampus, lalu di KCC, dan setelah itu dia harus segera menyelesaikan segala prosedur dan persiapan penerbitan di kantor Gangnam Soul. Setelah istirahat beberapa hari karena demamnya, kini semuanya mulai pulih. Yonghwa memperlakukannya lebih istimewa usai pertengkaran itu. Tadi pagi, dia bahkan mengantarnya ke kampus dengan mobilnya sendiri sebelum dia berangkat menuju kantor FNC untuk preparasi show case CNBLUE di Jepang.

KCC siang itu tidak terlalu ramai. Seohyun bahkan bisa sepuasnya bercanda dengan Suho seperti anak remaja. Kepolosan Suho, dan lawakan-lawakannya membuat Seohyun tak kuasa menahan dirinya untuk tidak terbahak. Sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa selama beberapa menit seseorang sedang memperhatikan mereka.

"Oh.. Anyeong haseo. Silakan duduk..." Suho menyapa seorang wanita cantik yang sedang berdiri memperhatikan kedua pelayan KCC itu. Seohyun pun memutar tubuhnya dan dengan refleks menundukan tubuhnya memberi salam dengan senyum hangatnya. Tapi kemudian senyum itu lenyap saat dia melihat siapa perempuan yang sedang menatapnya itu.

Kim Hyunna.

Seohyun mempersilahkannya duduk di patio seat restaurant itu. Dia berusaha untuk tetap tenang, dan bekerja secara profesional dengan melakukan base manners nya sebagai pelayan.

"Ada yang ingin dipesan?" Dengan ragu, Seohyun mulai bertanya. Hyunna masih tidak bergeming dan hanya menatap Seohyun dengan tatapan yang membuatnya merasa tidak nyaman. Merasa dirinya diabaikan, Seohyun lalu menyodorkan buku menu kehadapan Hyunna dan mempersilahkannya untuk melihat-lihat daftar menu KCC.

"Baiklah, bila Nona tidak ingin memesan apapun sekarang, mungkin Nona bisa melihat-lihat dulu daftar menu andalan kami. Silakan Nona memanggil kami bila Nona sudah siap memesan." Seohyun masih berusaha bersikap ramah. Setelah itu, dia menarik dirinya untuk masuk ke dapur. Tapi langkahnya terhenti.

"Apakah kau memang terbiasa bersikap hipokrit seperti itu?"

Suara itu, masih terasa sangat mengganggunya. Terlebih kini dengan kalimat yang dia ucapkan. Seohyun memejamkan kedua matanya, lalu menghela nafas panjang. Dia tetap berusaha untuk tenang. Lalu perlahan, Seohyun kembali memutar tubuhnya dan melihat Hyunna yang sedang menatapnya lebih sinis.

"Nde? Apa maksudmu?" Seohyun membalas tatapannya.

"Tak bisa kah kau duduk, Seohyun Ssi? Atau... kau lebih suka kita berbicara seperti ini dan membiarkan banyak mata dan telinga memperhatikan kita?" Wanita itu tersenyum. Senyum yang terlihat sangat menyebalkan dimata Seohyun. Munafik? Siapa yang dia sebut munafik? Akhirnya, meski malas dan ingin menghindar, Seohyun mengikutinya. Dia menarik kursi dihadapan Hyunna, lalu duduk disana.

"Baiklah. Apa yang kau inginkan?" Perasaan kalut itu, Seohyun mencoba menyembunyikannya dibalik wajah tenangnya. Hyunna masih menatap sinis. Wanita itu melipat kedua tangannya didepan dadanya.

"Langsung saja. Seohyun Ssi... bisakah kau keluar dari rumah Yonghwa dan mencari tempat tinggal yang lain? Ani... lebih jelasnya, bisakah kau keluar dari kehidupan Yonghwa dan mencari kesenangan ditempat yang lain? Karena seperti yang kau ketahui, Jung Yonghwa akan segera menikah denganku. Dan tentu saja, aku merasa tidak nyaman bila kau selalu berada didekatnya."

Rasanya seperti disiram oleh kobaran api kewajahnya. Seohyun sekali lagi harus menahan diri setelah perempuan itu lagi-lagi menampar harga dirinya.

"Nde? Apa maksdumu?" Sejujurnya, Seohyun bukanlah perempuan dungu yang tidak mampu menangkap maksud ucapan Hyunna. Hanya saja, dia masih berusaha menahan dirinya.

"Kau masih tidak mengerti maksudku? Baiklah, biar kusederhanakan saja kalau begitu. Seohyun Ssi, tinggalkan tunanganku. Bila kau butuh tempat tinggal, aku akan menyediakan yang terbaik untukmu. Tapi menjauhlah dari hidupnya. Hhm?" Lagi-lagi perempuan itu merendahkannya.

"Mwo? Kenapa kau harus mengatakannya padaku? Seperti yang kau tahu, aku tinggal di rumah itu semata karena Yonghwa Oppa yang memintanya. Dan aku membayar sewaku setiap bulan. Lalu untuk masalah siapa yang mendekati siapa, aku harap kau tidak salah menganalisa, Kim Hyunna Ssi. Karena sejak awal, bukan aku yang datang kedalam hidupnya, melainkan dia menginginkan aku untuk masuk kesana. Jadi bila kau merasa tidak nyaman karena calon suamimu berada didekatku, maka yakinkan dia untuk tetap disisimu dan menjauhiku. Karena selama dia memilihku, memegang erat tanganku, jeoseohapnida... aku tidak bisa melepaskannya."

Tuhan tahu, betapa jantungnya berdebar kencang hingga suara degupannya bisa terdengar oleh telinganya sendiri. Tuhan juga tahu, betapa Seohyun merasa amat buruk setelah apa yang baru saja dia ucapkan pada Hyunna. Dia belum pernah dengan sengaja menyakiti siapapun, dan dia tidak bermaksud untuk menjadi sejahat ini pada Hyunna. Tapi... apalagi yang harus dia lakukan? Terlambat baginya untuk menghindar dan mengalah. Dan dia tidak terima dengan penghinaan yang Hyunna lakukan.

"Mwo??!! Neol jinjja!! Geurae! Kau fikir aku tidak bisa melakukannya? Huh? Meski Yonghwa tidak mau, aku tetap akan memaksanya hingga dia tak lagi punya pilihan lain. Aku datang padamu, karena aku fikir setidaknya aku bisa menyelamatkanmu dari rasa sakit yang lebih hebat. Kau fikir, dengan Yonghwa memilihmu maka semua ini akan selesai sampai disitu? Mungkin kau tidak tahu, dengan siapa kau sedang bersaing.

Aku, Kim Hyunna, tidak pernah sekalipun dalam hidupku aku gagal mendapatkan apa yang aku inginkan sejak aku terlahir kedunia ini. Dan jangan merasa jumawa karena saat ini Yonghwa dimabukkan oleh cinta sesaatnya padamu. Semua hanya soal waktu, hingga dia sadari bahwa perasaan itu hanya sekelebat nafsu saja.

Berapa lama kau mengenalnya? Sebulan? Dua bulan? Setahun?

Seohyun Ssi, kau tidak akan bisa bersaing dengan 10 tahun yang aku habiskan untuk mengenalnya dan juga keluarganya. Juga untuk 4 tahun terakhir menjadi calon istrinya. Kau... bukan apa-apa..."

Raut wajah Hyunna seolah penuh empati. Tapi Seohyun tahu, wajah itu hanya sedang mengolok-olok dan mengejeknya.

"Baiklah. Lakukanlah yang terbaik untuk keinginanmu itu, Kim Hyunna Ssi. Lebih bagus lagi bila kau bisa membuat 'sekelebat nafsu' Jung Yonghwa terhadapku lenyap begitu saja tanpa menggoreskan luka baru dihati lelaki itu. Coba saja. Aku harap, uangmu, kekuasaanmu, dan segala yang kau miliki mampu membuat Jung Yonghwa terbebas dari penderitaannya. Dengan begitu, aku baru akan rela melepaskannya untuk hidup bahagia denganmu."

Seohyun menatap tajam kedua mata Hyunna yang tampak mulai gentar. Dia tidak percaya bahwa Seohyun akan mengatakan kata-kata itu padanya. Dia fikir, akan sangat mudah menyerangnya dan melumpuhkan harga dirinya. Tapi Hyunna justru merasa bahwa Seohyun sedang mengobarkan api peperangan dengannya.

"Baiklah. Setidaknya aku sudah memperingatkanmu. Harusnya kau lebih cerdas, Seohyun Ssi. Karena melawanku hanya akan membuat hidupmu jauh lebih sulit. Geurae, kita lihat saja. Siapa yang akan menangis pada akhirnya."

Hyunna tersenyum picik. Dia meraih purse Dolce&Gabbana-nya, lalu beranjak pergi dengan sisa keangkuhan yang coba dia tunjukkan di hadapan Seohyun. Tapi begitu dia melewati pintu restaurant itu, Hyunna mulai kehilangan tenaga ditubuhnya. Kakinya terasa lemas, jantungnya berdebar kencang, dan hatinya teramat sakit. Gadis itu menyandarkan tubuhnya ke tembok luar restaurant dan membiarkan air matanya mencair.

Dia tidak sekuat itu. Dirinya tidak setangguh itu untuk bisa tetap membuat Yonghwa berada disisinya. Uang, kekuasaan dan segala yang dia miliki, dia tahu... semua itu tidak cukup untuk memberinya kebahagiaan. Semua itu tidak mampu membeli cinta yang Yonghwa miliki. Dan melihat betapa Seohyun begitu berani mempertahankan cintanya, Hyunna merasa bahwa dirinya sudah kalah saat itu juga. Satu hal yang dia sesali saat itu. Kenapa dia harus jatuh cinta pada Yonghwa, setelah apa yang sudah terenggut dalam hidupnya setelah Yongdo pergi? Kenapa Yongdo saja tidak cukup? Haruskah dia kehilangan Yonghwa juga?

Seohyun berjalan menuju dapur dengan air mata yang sudah nyaris tumpah. Dadanya terasa sesak. Semua ucapan Hyunna masih terngiang jelas dikepalanya. Tiba-tiba dia merasa teramat kecil. Satu-satu nya senjata yang dia miliki hanyalah cintanya. Dia tidak punya uang, apalagi kekuasaan. Dan segala omong kosong yang dia ucapkan tadi, Seohyun bahkan tidak yakin bahwa dia mampu melawannya.

Suho melihatnya datang dari balik pintu dengan tubuh gontai dan wajah memerah. Seohyun duduk disampingnya, tanpa sepatah katapun terucap.

"Barbie, wae geurae? Apa yang terjadi?" Suho menatapnya cemas. Tapi Seohyun tidak menjawab. Dan air matanya mulai meluncur satu persatu.

"Omo.. omo..! My Barbie ah! Wae geurae? Aigoo... wae uro ya? Uljima... Barbie ah! Aku akan ikut menangis denganmu bila kau menangis..." Suho mulai merengek dengan mata yang secara otomatis langsung berkaca-kaca begitu dia melihat sahabatnya menangis.

"Neomu apeuni, Suho ah! Nae maeumi, neomu appha.." Seohyun memukul-mukul dadanya dengan kepalan tanggannya. Suho lalu merangkulnya dan mengusap kepala gadis malang itu. Seohyun menangis dibahunya.

"Aigoo, My Barbie! Siapa yang sudah membuatmu menangis? Akan aku hajar dia! Huh? Ssshh.... geumanhae... ! Uljima. Hatiku ikut sakit melihatnya.."

*****

Yonghwa mencoba mengatur ritme nafasnya, begitu kedua kakinya menginjak lantai sebuah gedung yang belum pernah dia datangi. Tulisan 'Gangnam Soul' tertera jelas didepan pintu utama. Ya... dia harus menemuinya. Bagaimana pun, Yonghwa harus berbicara dengannya.

Seorang perempuan cantik, yang kemudian diketahui sebagai asisten editor itu dengan ramah mengantar Yonghwa menuju ruangan yang dituju. Ruangan editor, Cho Kyuhyun.

"Kamsahamnida.." Yonghwa mengangguk dengan senyuman ramah pada asisten itu. Lalu beberapa saat kemudian, tangannya mulai mengetuk pintu dihadapannya.

"Ya..." Terdengar suara seorang pria dari dalam. Perlahan, Yonghwa membuka pintunya dan segera disambut oleh tatapan kaget seorang Cho Kyuhyun.

"Oh... Jung Yonghwa Ssi? Masuklah..." Kyuhyun bergegas bangkit dari kursi kerjanya, dan berjalan menghampiri Yonghwa. Yonghwa pun tidak segan lagi dan segera masuk ruangan itu.

"Duduklah..." Kyuhyun mempersilahkan Yonghwa untuk duduk di sofa tamu.

"Wow... aku terkejut dengan kedatanganmu. Moseumniriseyo? Ada yang bisa aku bantu?" Meski bertanya-tanya dalam hatinya, Kyuhyun tetap berusaha untuk bersikap ramah.

"Animida. Aku hanya kebetulan lewat saja. Apa aku mengganggumu?" Yonghwa pun berusaha untuk bersikap normal.

"Aniyo. Aku baru saja selesai meeting. Gwaenchannayo. Kau mau minum?"

"Gomawoyo. Aku baru saja menghabiskan kopiku sebelum datang kesini. Aku hanya... ingin minta maaf dan berterima kasih padamu." Yonghwa menyerahkan sekotak minuman herbal dan ginseng keatas meja dihadapannya.

"Omo... apa ini? Minta maaf dan terima kasih untuk apa?" Kyuhyun mengerutkan keningnya, tapi senyum diwajahnya masih belum hilang.

"Aniyo, ini hanya oleh-oleh yang dikirim Eomma-ku dari Busan. Hanya untuk membantumu menjaga kesehatan saja. 

Dan Cho Kyuhyun Ssi, aku sudah mendengarnya dari Joohyun. Malam itu, terima kasih banyak untuk membantunya dan juga menjaganya. Aku juga minta maaf, bila kau terganggu dan merasa kerepotan karena apa yang Joohyun lakukan."

Senyum diwajah Kyuhyun perlahan memudar. Malam itu, ya.. Kyuhyun masih ingat betapa menyedihkannya keadaan Seohyun. Gadis itu minum dan menangis sendirian. Rasanya ingin sekali Kyuhyun merenggut kerah baju lelaki dihadapnnya hanya untuk membuat perhitungan karena telah membuat Seohyun-nya terluka. Tapi dia tahu, dia tidak boleh melakukan itu.

"Ah.. maksudmu, saat hujan besar dan aku menemukannya sedang minum dan menangis sendiri? Gwaenchannayo, Yonghwa Ssi. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Lagi pula, Joohyun benar-benar tenang saat dia mabuk, sehingga sama sekali tidak merepotkanku." Kini, giliran senyum diwajah Yonghwa yang perlahan lenyap. Caranya memanggil Seohyun, dia benar-benar tidak suka itu. Seolah kedua orang itu sudah sangat akrab saja.

"Ya, tetap saja. Rasanya aku harus berterima kasih padamu karena telah merawat Joohyun. Meski mungkin akan lebih baik bila kau menghubungiku, hingga kau tidak perlu repot-repot membawanya ke rumahmu dan aku hampir gila mencarinya sampai pagi." Perang tantrum sepertinya baru saja dimulai. Kalimat-kalimat sarkastik seolah menjadi media untuk saling menyerang satu sama lain.

"Ya, mungkin kau benar. Tapi maaf, Jung Yonghwa Ssi, kau tidak pernah memberiku nomor ponsel mu. Dan Joohyun melarangku untuk menghubungimu karena dia bilang kau sedang sangat sibuk. Jadi ya.. aku tidak punya pilihan lain selain membawanya ke rumahku. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja di café itu, terlebih karena dia adalah Seo Joohyun." Kyuhyun menatap tegas. Yonghwa semakin merasa iritasi dengan jawaban Kyuhyun itu. 

"Ya, aku mengerti. Tapi kau tidak harus selalu menuruti perintah orang mabuk, bukan? Hanya karena Joohyun melarangmu menghubungiku, lantas kau membenarkan caramu dengan membawa Joohyun kerumahmu? Kau bahkan tidak memikirkan apa yang akan Joohyun rasakan saat dia terbangun dan berada di rumah seorang laki-laki yang tidak terlalu dikenalnya dengan baik. Kau juga seharusnya memikirkan pandangan orang-orang disekitarmu yang mungkin akan salah faham pada kekasihku.

Tapi semua itu sudah berlalu. Dan bagaimana pun aku tetap berterima kasih padamu." Kedua lelaki ini saling menatap angkuh.

"Exactly, kekasihmu! Aku harap kau selalu mengingat itu, Jung Yonghwa Ssi dan seharusnya kau lebih tahu bagaimana cara menjaga perasaannya dan membuatnya tidak terluka hingga dia tidak harus berakhir di rumah pria lain. Arasso! Semoga kejadian seperti kemarin tidak akan pernah terjadi lagi. Karena bila sekali lagi aku menemukan Joohyun minum dan menangis sendiri seperti malam itu, mungkin saat itu aku akan benar-benar memintanya untuk meninggalkanmu saja." Kyuhyun mulai menampakkan tatapan tegasnya.

"Mwo?!"

"Pastikan saja kau memperlakukan dia dengan baik dan jangan melukainya lagi. Sangat kekanak-kanakan menurutku, bila kau membuatnya menangis, lalu kau marah pada laki-laki yang sudah membantunya menyeka air matanya. Aku hanya memberi tahumu, Jung Yonghwa Ssi. Lelaki yang berteriak 'aku mencintaimu' tapi justru menjadi penyebab air matanya, pada akhirnya akan kalah oleh dia yang diam-diam menjaganya dan mengusap air mata yang kau sebabkan."

Yonghwa mengepalkan tangannya, dan emosinya seperti akan segera meledak saat itu juga. Tapi dia tidak ingin membuat hubungannya dengan Seohyun yang baru  dimulai lagi, akan kembali terganggu karena kebodohannya. Justru maksud kedatangannya saat itu, adalah untuk membuat segalanya jelas dimata semua orang. Termasuk Cho Kyuhyun, yang Yonghwa merasa dirinya adalah ancaman lain untuk hubungan mereka.

"Geok cheongmaseyo. Kau tidak akan mendapatkan kesempatan yang lainnya, Cho Kyuhyun Ssi. Karena kini, Joohyun sepenuhnya percaya padaku. Dan aku tak akan membiarkannya terluka lagi." Yonghwa bergegas bangkit dari duduknya dan hendak pergi dari hadapan Kyuhyun sebelum dirinya gagal mengendalikan dirinya.

"Pastikan semua itu kau tepati, Jung Yonghwa Ssi. Karena bila tidak, aku beri tahu... bahwa meski Joohyun tidak berarti apa-apa untukmu, tapi bagi seseorang, Joohyun adalah segalanya!"

Yonghwa menghela nafas dengan berat sambil memejamkan matanya. Tapi sedikitpun dia tidak menoleh lagi, dan meninggalkan Kyuhyun begitu saja.

*****

To : Sunset
'Are you done, Love? Aku sedang menuju KCC sekarang.'

Tiba-tiba rasa rindu itu begitu mendesak, hingga waktu terasa berjalan amat lambat. Kemacetan Seoul terasa berabad-abad rasanya, membuatnya frustasi. Keinginan untuk segera mengunci tubuh itu dalam pelukannya benar-benar menjadi sebuah urgensi. Terlebih setelah percakapannya dengan Cho Kyuhyun barusan. 'Andwe, Joohyun hanya milikku! Bukan miliknya!' Bisiknya dalam hati.

From : Sunset
'Yup. Aku menunggumu, Oppa.. ^^'

Senyumnya merekah. Wajah bidadari itu tergambar jelas dalam ingatannya. Dan hari ini, akan menjadi milik mereka berdua tanpa satupun yang akan mengganggu.

A vacation. Sebelum akhirnya mereka berdua disibukan dengan jadwal mereka masing-masing yang akan mulai padat minggu depan. Yonghwa sudah menyiapkan segalanya. Tempat, makanan dan segala perbekalan, semua sudah dia persiapkan dengan teliti. Mereka berdua membutuhkan moment seperti ini, usai pertikaian kemarin.

Setelah berjuang menembus kemacetan, akhirya Yonghwa tiba di depan KCC. Gadis cantik itu sudah menunggunya dia depan restaurant. Dia segera berjalan menghampiri Yonghwa yang kala itu hanya menunggu dimobilnya, mengingat area parkir beberapa meter jauhnya. Seohyun membuka pintu passenger seat, dan segera menemukan senyum itu.

"Hello, Handsome!" Sepasang mata bintang itu menambah indah senyum diwajahnya. Gadis itu mungkin tidak sadar, bahwa senyum itu membuat sebuah reaksi hebat dalam hati Yonghwa. Yes. Urgensi untuk memeluknya tak dapat lagi ditunda. Yonghwa segera menarik tubuh Seohyun yang baru saja duduk disampingnya, dan mendekapnya erat. Seohyun cukup terkejut dengan reaksi tiba-tiba itu.

"Igae mwo ya? Wae geurae, Oppa?" Tubuhnya masih dalam dekapan Yonghwa.

"Jamkaman. Biarkan aku seperti ini untuk beberapa menit." Yonghwa memejamkan kedua matanya sambil menikmati sensasi relaksasi dari aroma shampoo Seohyun.

"Aigoo... wae kkamjagie ah? Jangan bilang kalau kau melakukan kesalahan lagi, Mr. Gold!" Seohyun membalas pelukan itu, dan diam-diam menikmatinya juga. Pertemuannya dengan Hyunna tadi membuat batinnya lelah. Dan pelukan ini mengobati semua itu. 'Yonghwa adalah milikku, bukan miliknya!' Batinnya.

Yonghwa akhirnya melepas peluk itu, setelah puas me-recharge kerinduannya. Dengan senyum teduhnya, dia menatap malaikat cantik dihadapannya penuh cinta.

"I missed you, Angel..." Lembut, dia mengusap wajah cintanya. Seohyun membalas senyum teduh itu.

"I missed you too, Rocker!" Kedua tangannya mengunci wajah Yonghwa sambil menatap pria itu lekat.

"I just want to be with you now, Hyun. Tanpa terganggu apapun dan siapapun. Just the two of us." Yonghwa terdengar setengah berbisik dengan suara husky nya. Seohyun mengerutkan keningnya. Dia masih tidak mengerti apa yang Yonghwa ucapkan, karena memang lelaki itu tidak mengatakan apapun tentang rencana yang dia buat. Just a little surprise for her beloved angel.

"Kau mulai aneh, Jung Yonghwa Ssi! Apa sebenarnya yang kau sembunyikan?" Seohyun memicingkan salah satu matanya, mencoba menerobos kedalam fikiran pria dihadapannya.

"Opso, jinjja! Geunyang.... Baby, i'm gonna take you to some place. Hanya kau dan aku." Kini, Seohyun semakin mengerutkan keningnya.

"Hhm? Kemana?" Yonghwa melebarkan senyumnya melihat reaksi Seohyun.

"Bimil! It's secret now. Just trust me, Honey... i promise, kau pasti menyukainya." Yonghwa mengedipkan sebelah matanya.

Mobil merekapun melaju. Entah kemana Yonghwa akan membawanya, tapi Seohyun hanya pasrah mengikutinya saja. Kemanapun itu, selama bersamanya, Seohyun percaya semua akan baik-baik saja.

Hari mulai senja. Tak terasa, mereka sudah berkendara selama 2 jam dan mereka masih belum sampai ditempat tujuan yang Yonghwa recanakan. Seohyun tampak lelah dan menahan kantuknya.

"Just take a nap, Honey. Aku akan membangunkanmu, saat kita sampai nanti." Yonghwa membelai lembut pipi Seohyun-nya dengan tangan kanannya.

Setelah melewati ladang perkebunan dan perbukitan, akhirnya Yonghwa menghentikan mobilnya tepat didepan Villa mungil yang menghadap ke sebuah peternakan sapi perah. Udara pegunungan, ditambah dengan cuaca diawal musim dingin benar-benar terasa menusuk tulang. Yonghwa melepas sabuk pengamannya dan melihat sosok malaikat disampingnya yang masih terpejam begitu damai. Lembut, dia mengusap kepala gadis itu hingga membuatnya terbangun.

"Hhmm... apa kita sudah sampai, Oppa?" Dengan suara parau dan kedua mata setengah mengantuknya, Seohyun mencoba menegakkan tubuhnya dan melihat sekitar.

"Yes, Baby. Uri waseo." Yonghwa kembali melempar senyum teduhnya.

Seohyun melepas seat belt nya dan langsung terpukau dengan pemandangan sekelilingnya. Yonghwa keluar dari mobilnya lebih dulu, lalu berjalan ke arah pintu passenger seat dan membantu Seohyun membukanya.

"Lets go, Baby. Sebentar lagi matahari mulai terbenam." Seohyun tampak masih bingung dengan apa yang terjadi hingga tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Dia hanya mengikuti setiap kata yang Yonghwa ucapkan. Dan diapun menuruni mobil Yonghwa sambil memegang tangan lelaki itu. Namun matanya masih saja tersihir dengan keindahan tempat itu.

Jalan setapak di bentengi pohon-pohon tinggi yang nyaris kehilangan semua daunnya karena musim gugur. Daun-daun kering berwarna jingga berserakan diatasnya. Dan disebelah kanannya, terhampar padang rumput yang juga mulai menguning dan beberpa ekor sapi perah yang masih mencari makan. Dan Seohyun bisa melihat dengan jelas, matahari yang mulai terbenam di ujung padang rumput itu.

What a magnificent.




"Oppa... kita sedang berada dimana?" Akhirnya, Seohyun mulai mengeluarkan suara.

"Yeogie? Kita sedang berada di Villa keluargaku. Aku sudah bilang, kan... bahwa aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja denganmu? Dan disini, aku harap kita bisa melupakan semua tentang Seoul dan seisinya. Pekerjaan, dan hal lainnya, biarkan sejenak mereka lepas dari fikiran kita. Yang harus ada dalam hati dan fikiranmu hanya seorang namja keren yang sekarang sedang berdiri disampingmu." Kedua mata lelaki itu masih menatap matahari yang mulai terbenam dihadapannya dengan senyum percaya dirinya. Seohyun mendecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian tertawa kecil.

"Kajja, Hyun... kita duduk disana." Yonghwa menunjuk sebuah bangku dari batang pohon yang berada dibawah sebuah pohon besar. Dari sana, keduanya bisa menikmati indahnya matahari terbenam ditemani harmoni suara angin, burung dan erangan sapi-sapi perah.

Beberapa saat, mereka hanya menikmati moment itu tanpa satupun yang bicara. Hingga Yonghwa menggenggam tangan Seohyun, dengan mata yang masih tidak beralih dari pemandangan dihadapannya.

"Aku tidak pernah mengira bahwa kau akan menjadi bagian yang teramat penting dalam hidupku, Hyun.." Senyum tipis merekah disudut bibir Yonghwa.

"Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali aku melihatmu di café itu. Diantara banyak gadis dengan make up dan fashion high class, mataku hanya terkunci pada gadis sederhana dengan blue jeans dan kemeja putihnya. Sejak saat itu, aku selalu mencarimu disetiap konserku. Tak disangka, aku justru menemukanmu dengan tidak sengaja di KCC. Lalu malam harinya, aku sengaja datang sebagai seorang pelanggan. Kau tidak tahu betapa senangnya aku saat aku berhasil mengantarmu pulang malam itu.

Dan tanpa aku sadari, sejak saat itu aku menjadi lebih banyak tersenyum. Mimpi burukku yang biasa aku alami setiap hari, sejak saat itu tidak pernah datang lagi. Hingga aku mengajakmu tinggal bersamaku. Mungkin rasa bersalahku pada Hyung yang membuat mimpi-mimpi itu datang kembali. Ya.. semakin aku merasa bahagia karena kehadiranmu disisiku, semakin aku merasa bersalah padanya." Yonghwa menghembuskan nafas panjang. Lelaki itu menundukkan wajahnya sejenak, sebelum dia menoleh kearah Seohyun disampingnya lalu meneruskan ucapannya.

"Tapi mulai saat ini, aku tidak akan lagi hidup seperti itu, Hyun. Mulai saat ini, hatimu lah yang menjadi prioritas untuk kujaga. Aku benar-benar ingin bahagia denganmu tanpa dihantui rasa bersalah dan penyesalan pada siapapun.

Selama ini, sejak tragedi itu terjadi, aku selalu hidup untuk menyenangkan dan menuruti orang lain karena rasa bersalahku. Hyunna, dan pertunangan itu, semua aku lakukan karena aku ingin mengembalikan hak nya dan juga keluarga ku yang terenggut karena kebodohanku. Sejak saat itu, aku lupa bagaimana caranya untuk membahagiakan diriku sendiri. Aku hanya akan menghabiskan seluruh hidupku untuk menebus semua kesalahan itu."

Kedua mata mereka saling menatap lekat. Luka hatinya, penyesalan, sekaligus cinta Yonghwa untuk Seohyun, dapat Seohyun lihat dan rasakan lewat tatapan itu.

"Ottokhae, Oppa? Karenaku, kau harus menjadi orang yang akan menyakiti mereka sekali lagi?" Rasa takutnya kembali datang. Matanya mulai berkaca-kaca. Yonghwa menggelengkan kepalanya sambil meremas tangan Seohyun dalam genggamannya.

"Ani ah, Joohyun ah. Harusnya aku berterima kasih padamu. Seandainya saja aku tidak bertemu denganmu, maka aku hanya akan menjalani penderitaan dalam bentuk lain dengan menikahi perempuan yang tidak aku cintai dan dia pun tidak mencintaiku. Aku akan meninggalkan CNBLUE, dan hidup sebagai penerus Venus Hotel setelah pernikahan itu. Tapi setelah aku bertemu denganmu, aku sadar, bahwa aku juga ingin bahagia. Lebih dari segalanya, aku ingin bersamamu selama hidupku."

Tatap keduanya saling mengunci satu sama lain. Ada rasa tak terdefinisikan saat Yonghwa mengatakan isi hatinya sambil menatap Seohyun seperti itu. Begitupun Seohyun. Andai Yonghwa bisa membaca semua itu lewat kedua matanya, tentang cinta yang tak pernah dia rasakan sebelumnya dan tidak pernah dia sangka akan sebesar itu.

Lalu, perlahan jarak diantara mereka terhapus inci demi inci. Hingga wajah mereka begitu dekat, dan Seohyun mulai merasakan sesuatu mengunci bibirnya. His lips. His passion. His love.

*****

Hari mulai gelap, dan keduanya sudah berada di dalam Villa mungil dengan 2 kamar tidur, ruang tengah yang melingkup sebagai ruang perapian, juga dapur kecil yang bersatu dengan bangunan ruang tengah. Dinding dan lantainya dilapisi kayu parquet sehingga ruangan itu terasa hangat. Dibagian belakang Villa, ada sebuah taman hidroponik kecil dengan aneka bunga-bunga kecil dan sungai buatan yang memanjakan mata. Atapnya terbungkus cannopi transparant yang memungkinkan bagi mereka melihat langit saat mereka merebah di kursi rotan atau saat mereka santai diatas ayunan kecil yang ada di dalamnya. Mereka juga bisa menggelar permadani kecil dan merebah disana. Sekelilingnya ditutupi dinding kaca, sehingga meski mereka ingin menikmati langit dimalam haripun mereka tidak perlu takut merasa kedinginan.



Yonghwa memasak makan malam untuk mereka berdua, sedangkan Seohyun menata alas untuk makan malam mereka ditaman belakang. Tak lama kemudian, mereka berduapun menikmati semi outdoor dinner mereka. Cuaca dingin diluar sana sepertinya tidak mengganggu mereka. Seohyun looked so naturally beautiful dengan blue jeans dan sweater dusty yang dia pakai. Rambutnya dia biarkan tergerai, tanpa sedikitpun make up diwajahnya. Katakanlah, kecantikan yang Yonghwa lihat dalam dirinya sedikitpun tanpa kepalsuan. Kecantikan yang mengunci hatinya sejak pertama kali melihatnya.

Makan malam pun usai. Mereka segara membereskan semuanya, lalu kembali ketaman belakang, dan duduk diatas permadani tempat mereka makan tadi, yang kini sudah dilapisi matras hangat oleh Yonghwa. Lelaki itu juga menyiapkan beberapa bantal dan selimut tebal. Dan Seohyun sempat bingung karenanya. Yonghwa yang melihat ekspresi itu diwajah Seohyun-nya hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

"Come here, Angel...!" Yonghwa berbaring lebih dulu diatas 2 lapis bantal tebal yang dia susun sebelumnya, lalu mengisyaratkan Seohyun untuk merebah disampingnya dengan tangannya. Tentu saja, Seohyun tidak serta merta melakukan itu. Perempuan itu hanya mematung ditempatnya berdiri dengan banyak tanda tanya beterbangan dalam kepalanya. Dan itu membuat tawa Yonghwa meledak hingga terpingkal-pingkal. Seohyun semakin bingung.

"Igae mwo ya? Oppa... wae geurae?" Gadis itu merengek, merasa dirinya dipermainkan Yonghwa. Puas dengan tawanya, Yonghwa sekali lagi mengisyaratkan gadisnya untuk duduk disampingnya.

"Apapun yang kamu fikirkan, sayang.... semua itu hanya imajinasi liarmu, i swear!" Yonghwa masih meledakkan sisa tawanya. Dan Seohyun dibuatnya malu dengan statement yang baru saja lelaki itu katakan.

"Mwo ya? Memangnya apa yang aku fikirkan?" Gadis itu berusaha untuk tetap tenang, meski wajahnya mulai terasa panas. Yonghwa bisa melihat pipi malaikat nya merona merah.

"Kalau begitu, palli! Come here.." Sekali lagi dia menepukan tangannya ke atas matras disampinya. Meski sedikit ragu, akhirnya Seohyun berjalan mendekati Yonghwa dan duduk tepat disampingnya. Tapi tidak lama kemudian, Yonghwa menarik tubuh kecilnya hingga membuatnya terbaring, merebah diatas lengan kirinya. Begitu dekat dengan tempat dimana jantung itu berdetak. Ya, Seohyun bisa mendengarnya. Detak demi detak irama jantungnya.

Beberapa saat, keduanya hanya terdiam. Memandangi langit hitam tanpa bintang lewat cannopi tranparant diatas mereka, sambil mereduksi kegugupan yang hadir tanpa aba-aba. Tangan kirinya, dengan lembut mengusap kepala Seohyun yang terbaring nyaman dilengannya.

"Bila kita datang ketempat ini di musim semi atau musim panas, mungkin kita bisa melihat taburan bintang lewat kaca cannopi itu." Yonghwa mulai memecah keheningan.

"Jeongmal?" Suaranya terdengar lembut.

"Hhm. Aku biasanya akan merebah seperti ini dengan Eommaku. Saat aku kecil, aku yang merebah dipelukan Eomma, dan Eomma akan bercerita tentang kisah bintang-bintang dilangit. Tentang Canopus, tentang Capella, Orion, dan banyak lagi. Aku benar-benar sangat menyukainya. Tapi saat aku mulai beranjak dewasa, kami seperti bertukar posisi. Eomma yang akan terbaring diatas lenganku seperti apa yang kau lakukan sekarang, Hyun. Lalu aku akan menceritakan banyak hal yang terjadi dalam hidupku. Tentang siapa saja yang kutemui, dan kemana saja aku pergi. Lalu Eomma akan tertidur ditengah ceritaku." Ada senyum tak terdeskripsikan merekah diwajah lelaki itu saat dia bercerita tentang Eommanya.

"Oppa pasti sangat dekat dengan Eomma-mu." Seohyun bisa merasakan kasih sayang yang Yonghwa miliki untuk ibunya lewat senyum itu.

"Bisa dibilang begitu. Eomma adalah pendongeng yang hangat. Dia juga pendengar yang baik, dan fans ku yang paling tulus. Entah seberapa sering pun aku membuatnya kecewa, tapi Eomma selalu mengatakan 'kau sudah melakukan yang terbaik, Yonghwa ah!'. Dan itu membuatku lebih merasa buruk. Karena Eomma tidak pernah marah sekalipun padaku." Senyumnya berubah sendu.

"Aku iri padamu, Oppa. Setidaknya kau punya Eomma yang sangat mencintaimu dan kapanpun bisa kau ajak berbagi banyak hal. Kau juga punya Appa yang hebat. Tidak sepertiku." Senyum pahit itu juga tergambar diwajah Seohyun yang membuat Yonghwa menarik tubuhnya lebih dekat dan mendekapnya dengan kedua tangannya.

"Kau masih punya aku, Hyun. Mulai saat ini, akan selalu ada aku yang kapanpun bisa kau ajak berbagi banyak hal. Dengan kedua tangan dan kakiku, aku akan bekerja keras untuk menjadi lelaki yang mampu melindungimu sampai aku mati." Yonghwa mengecup lembut ujung kepala Seohyun dipelukannya.

"Jinjja?" Suaranya lirih.

"Hhm. Kau bisa bergantung padaku, kapanpun kau mau. Dan lagi, Eomma-ku juga sangat menyukaimu dan ingin segera bertemu denganmu." Mendengar itu, Seohyun spontan melepaskan diri dari pelukan Yonghwa, lalu menatap lelaki disampingnya dengan mata terbelalak.

"Mwo rago? Kapan Oppa menceritakan tentangku padanya? Apa yang Oppa ceritakan? Lalu, bagaimana reaksi Eomma-mu?" Tiba-tiba semua itu terasa mengganggunya dan membuat jantungnya berdebar kencang. Yonghwa kembali dibuatnya terbahak.

"Yakk!! Jung Yonghwa Ssi, geumanhae!! Kau malah tertawa dan bukan menjawab pertanyaanku!" Gadis itu mengerutkan bibirnya dan menatap tajam kearah kekasihnya.

"Mian.. Baby... tapi kau benar-benar lucu saat kau gugup seperti itu. Dan pertanyaan-pertanyaan itu.. aigoo..." Yonghwa kembali tertawa hingga Seohyun benar-benar kesal padanya.

"Geumanhae, Oppa. Atau aku pergi tidur sekarang juga." Gadis itu nyaris beranjak, namun tangan Yonghwa dengan sigap menahannya. Yonghwa benar-benar mengehentikan tawanya.

"Ani.. ani.. Joohyun ah! Jeongmal mianhae. Anju ah. Baiklah, aku akan memberi tahumu." Yonghwa mengisyaratkan Seohyun untuk kembali merebah diatas lengannya. Dan gadis itu dengan mudah dijinakan kembali.

"Eomma mendengar kabar tentangmu pertama kali dari Yoona. Lalu kami bertemu di Jepang saat konser kami disana. Saat itu lah, Eomma bertanya langsung padaku. Dan aku menceritakan semuanya tentangmu. Dari awal aku jatuh cinta padamu, hingga saat aku tak lagi mengalami mimpi buruk itu karenamu. Dan Eomma bilang padaku, kalau dia belum pernah melihat putranya jatuh cinta seperti ini sebelumnya."

"Jinjja?" Seohyun menatapnya ragu.

"Demi Tuhan, Angel. Aku berkata jujur. Aku juga memperlihatkan fotomu padanya. Dan aku tak akan pernah lupa bagaimana Eomma tersenyum saat dia melihat wajahmu. Dia bilang, kau benar-benar cantik, Joohyun ah." Yonghwa membelai rambut Seohyun disampingnya, sambil menyelipkan beberapa helainya dibalik telinga gadis itu.

"Benarkah? Sejujurnya, aku tidak punya cukup percaya diri, Oppa. Aku takut, orang tuamu tidak menyukaiku. Terlebih karena aku hidup seorang diri setelah Eomma-ku meninggal dan Appa-ku mencampakanku. Aku bahkan tidak memiliki apapun untuk bisa kubanggakan." Bening matanya kembali berkaca-kaca. Percakapannya dengan Hyunna tadi siang, kembali terbayang dalam benaknya hingga membuat hatinya seketika merasa gentar. Kenyataan tentang siapa Kim Hyunna dan siapa dirinya sudah cukup menjelaskan dimana dia harus berdiri.

"Ani ah, Baby...! Jangan pernah merasa seperti itu. Orang tuaku sama sekali tidak pernah menilai seseorang dari latar belakangnya. Aku yakin, orang tuaku akan sangat menyukaimu. Terutama Eomma, karena dia selalu menginginkan anak perempuan. Lihat saja nanti, saat dia bertemu denganmu, maka dia akan otomatis melupakanku." Kata-kata itu seperti setitik cahaya yang memberi terang dalam hatinya. Senyumnya kembali merekah diwajah cantik itu.

"Gomawo, Oppa. Sudah mengatakan itu padaku. Meski saat ini kau hanya sedang menghiburku, aku tetap berterima kasih. Semua itu sangat berarti untukku."

"Eii... apa maksudmu, Baby? Andwe, aku tidak mungkin mengatakan semua itu hanya untuk menghiburmu. Lagipula, dimataku... untukku... kau tetap perempuan sempurna meski dengan ketidaksempurnaanmu. Biarkan aku yang akan mengisi rongga-rongga kosong dalam hidupmu, Hyun. Seperti halnya kau mengisi ruang-ruang kosong dihidupku."

Sekali lagi, tatap keduanya saling mengunci satu sama lain. Semakin dalam Yonghwa menatapnya, semakin besar cinta itu terasa. Andwe! Dia tak akan pernah melepaskan segala keindahan yang kini berada tepat dihadapannya untuk dimiliki lelaki lain. Sesulit apapun, seperih apapun, dia tidak akan menyerah.

Dan perlahan jarak itu kembali terhapus inci demi inci. Hingga wajah mereka begitu dekat, dan Yonghwa sekali lagi mengunci bibirnya. Lembut, tidak tergesa tapi cukup untuk menggenapi kerinduannya. Her lips. Her sweetness. Her passion. Her love. Semakin Yonghwa menikmatinya, semakin mendesak rasa itu. Tentang betapa gilanya Yonghwa saat menginginkannya. Dia menginginkannya hingga cinta dalam dadanya terasa seolah akan meledak ketika itu juga. Dia harus menghentikannya. Ya, dia harus segera berhenti karena jika tidak, dia tidak bisa menjamin bahwa jiwanya mampu menahannya.

Yonghwa menghentikan ciumannya. Perlahan, kedua matanya terbuka lalu menatap kedua mata bintang itu dihadapannya.

"I love you, Seo Joohyun....." Setengah berbisik, suara husky nya terasa membelai jiwa. Seohyun tersenyum teduh sambil membalas tatapan itu.

"I know. Dan tentang cintaku padamu, biarkan hanya aku dan Tuhan saja yang tahu..." Juga dengan setengah berbisik, Seohyun mengucapkan kalimat ajaib itu. Yonghwa kembali menarik tubuh Seohyun lebih dekat dan mendekapnya lebih erat. Dan beberapa saat kemudian....

"Hyun.... lihat...." Yonghwa menunjukkan tangannya ke atap cannopi transparant di atas mereka. Seohyun pun segera melihatnya.

"Salju pertama...." Mata gadis itu tersihir oleh butir-butir salju yang turun perlahan selembut kapas, lalu jatuh satu persatu diatas cannopi. Benar-benar indah. Keduanya terlentang diatas bantal masing-masing, berbalut selimut tebal yang Yonghwa siapkan sebelumnya. Dengan tangan yang saling menggenggam erat, sepasang mata mereka begitu asyik melihat indahnya salju pertama itu.

"Orang bilang, salju pertama adalah simbol keberuntungan dan kebahagiaan. Hhh... aku benar-benar bahagia bisa melihatnya bersamamu, Hyun." Lelaki itu berucap pelan, tapi cukup jelas untuk bisa Seohyun dengar. Kedua tubuh mereka masih terlentang menatap langit.

"Na do, Oppa.." Jawabnya lembut.

*****

Keesokan harinya

From : Phabo Jong
'Yonghwa ah, neol eodie ah? Apa kau sudah melihat berita?'

To : Phabo Jong
'Somewhere. Berita apa?'

From : Phabo Jong
'Appa-mu. Cepat buka internetmu, dan segera hubungi aku. Aku hampir gila karena semalaman tidak menemukanmu.'

Yonghwa bergegas membuka koneksi internetnya begitu dia membaca pesan dari Jonghyun. Hanya butuh waktu beberapa menit hingga akhirnya tubuh lelaki itu terkulai lemas kesandaran kusrinya dengan jantung yang berdebar kencang.

"Aboji...." Lirih, dia memanggilnya.



"First Snow"
Super Junior

I’ve waited for one entire year.
I missed winter so much.
A day seems so long. I am just waiting for the first snow. I hold your small hands and pray.
If all this love could pile up in the world,
everyone would be happy.

When the white snow falls,
the entire town is full of the laughter of small children.
Your mischievous smile I can’t stop loving U
I can tell Woo The first snow is coming.

When this night passes…
When this night passes, the first snow will most likely be heaped up.
The whole world will be white as though I am the main character in a fairy tale.
Your bright, angelic smile will lighten up the dark street.
The stars in the night sky will positively send down the white snow.
The world reflected in your eyes is so beautiful.
I am thankful that I am able to spend this moment with you.

When the white snow falls,
the entire town is full of the laughter of small children.
Your mischievous smile,
Just show it to me.

When did you become such a close person to me without me knowing?
You are more precious than anyone, like the first snow.

When the first snow falls, the whole world is filled with your twinkling eyes and
my heart that loves you. With that
I am happy with you.

When the white snow falls,
the entire town is full of the laughter of small children.
Your mischievous smile I can’t stop loving U




Author note :
Hhhh... caaape juga yah, marathon gini. Wish you enjoy this chapter, goguma-deul. ^_^

3 komentar:

  1. Joengmal... Pemenggalan cerita yang menyisakan rasa penasaran... Badai apalagi yang akan menanti yongseo di next chapter..
    Mungkinkah akibat ulah kim hyunaa demi merebut yonghwa kembali ke sisinya... Ah penasaran

    BalasHapus
  2. omo,omo,omo..T-T
    Aigooooo.. -_-"

    BalasHapus
  3. Ah yongseoo. Kadang kalau baca judul2 sebelumnya berasa mereka itu bener2 real. Hope so. Gak sabar baca chapter selanjutnyaa. Semangatt, fans setia menunggu ;)

    BalasHapus