In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 22
A Morning Story
Seohyun membuka matanya dan untuk
kesekian kalinya gadis itu mendapati dirinya terbangun disebuah kamar yang
asing. Aroma rumah sakit langsung bisa dia kenali dalam beberapa kali helaan
nafasnya. Kali ini, Seohyun melihat bukan hanya satu selang saja yang terhubung
ke pembuluh darah ditangannya. Tapi ada 3 dengan warna cairan yang berbeda.
Kepalanya terasa sakit. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi Seohyun ingat,
kemarin hidungnya sempat mengeluarkan darah, lalu kepalanya terasa pusing.
Setelah itu, dia tidak mengingat apapun lagi.
Pandangannya lalu melayang pada
dua orang yang masih terlelap disofa ruangannya. Hyo dan Suho. Mereka berdua
pasti kelelahan setelah menjaganya semalaman. Beberapa saat kemudian, dirinya
mendengar suara seseorang membukakan pintu.
"Good Morning,
Beautiful!" Kyuhyun muncul dari balik pintu dengan menggenggam sebuah
bouquet white lily dan baby breath ditangannya.
"Oppa... " Seohyun
berusaha tersenyum, meski tubuhnya masih marasakan rasa sakit itu.
"Otthae? Bagian mana yang masih
terasa sakit?" Kyuhyun menatapnya cemas.
"Geok cheongmaseo. Hanya
kepalaku saja. Mungkin karena aku tidur telalu lama." Seohyun merekahkan
senyumnya lebih lebar.
"Jeongmal? Syukurlah. Kau
selalu membuatku cemas, Agassi. Jebbal.. lain kali, jaga dirimu dengan
baik." Kyuhyun duduk dikursi samping tempat tidurnya.
"Jeoseonghaeyo, Oppa. Aku
merepotkanmu lagi." Seohyun mulai merasa bersalah.
"Gwaenchanna. Fokus saja
pada kesehatanmu. Ini... aku membawakanmu bunga." Kyuhyun menyerahkan
bouquet itu ketangan Seohyun. Senyum diwajahnya kembali mengembang saat dia
menerima bunga itu. Lembut, Seohyun mencium aromanya. White lily. Bunga
favoritnya.
"Neomu gomawoyo, Oppa.
Bagaimana kau tahu bahwa aku suka Lily?"
"Geurae? Hhm.. mungkin hanya
intuisiku saja. Aku teringat seseorang yang sangat menyukai bunga ini. Tsk...
Tapi aku tidak sempat memberikannya padanya. Baguslah, bila kau menyukainya
juga." Kyuhyun tersenyum lega.
"Whoooo... biar kutebak! Han
yeoja gayo? Hhm... cinta pertamamu?" Seohyun menatap dengan tatapan
menggoda. Kyuhyun hanya tersenyum, lalu sejenak menundukan kepalanya.
"Bisa dibilang seperti itu.
Meski cinta itu terlambat kusadari, hingga aku harus kehilangannya sebelum
sempat mengatakan padanya bahwa aku sangat mencintainya.
Dan juga merindukannya."
Senyum pahit tergambar disudut
bibirnya. Seohyun bisa melihatnya. Kesedihan itu, terlalu jelas terpancar dari
kedua mata itu.
"Omo... mianhaeyo, Oppa. Aku
tidak bermaksud untuk mengungkit kenangan pahitmu. Jeongmal mianhaeyo." Seohyun
menatap sayu. Tapi segera, senyum manis Kyuhyun kembali merekah. Dengan lembut,
lelaki itu mengusap kepala Seohyun.
"Gwaenchanna! Sudah lama
semua itu berlalu. Dan kau lihat sendiri, bahwa kini aku tumbuh menjadi lelaki
tampan, bukan?" Kyuhyun mengedipkan sebelah matanya yang membuat Seohyun
menatapnya nyinyir. Tapi ajaibnya, Seohyun sama sekali tidak merasa 'tidak
nyaman' dengan sikap dan perlakuan Kyuhyun padanya, padahal seharusnya, semua
itu membuatnya risih karena Kyuhyun adalah seorang pria yang baru dikenalnya.
Tentu saja. Bagaimanapun darah
itu lebih kental daripada air.
"Geumanhaeyo, Oppa! Aough...
jinjja!!" Seohyun memutar kedua bola matanya hingga membuat Oppa-nya
tertawa.
"Arasso!! Oh iya, Joohyun
ah, sebentar lagi Kim Taeyeon dan Sim Changmin Euisan-Nim akan datang
memeriksamu lebih lanjut." Kyuhyun berfikir semalaman, tentang bagaimana
metode terbaik untuk memberitahunya agar Seohyun tidak merasa down dan
terpukul.
"Kim Taeyeon? Sepupu Yonghwa
Oppa?" Seohyun kemudian teringat pada wajah lelaki itu. Baru dia sadari,
betapa dia merindukannya dan sejak kemarin dirinya sama sekali belum mendengar
suaranya.
"Oh, maja. Dan satu lagi Sim
Changmin Euisan-Nim. Dia spesialis hematologi di rumah sakit ini. Dan
kebetulan, dia adalah teman SMA ku dulu." Kyuhyun segera bisa melihat raut
wajah itu berubah ketika dia mendengar kata hematologi. Seohyun sudah sangat
faham, tentang bidang penyakit apa yang akan ditangani dokter spesialis ini.
"Hematologi? Apa maksudmu,
Oppa? Aku sakit apa?" Tiba-tiba rasa takut itu muncul.
"Geok cheongma, Joohyun ah.
Kau hanya anemia. Karenanya kau diberi transfusi sejak tadi malam. HB darahmu
benar-benar drop karena kau terlalu kelelahan. Dan tentang hematologi ini, Kim
Taeyeon Euisan-Nim yang menyarankannya, karena saat kau demam tempo hari, dia
pernah mendengar dari Jung Yonghwa bahwa keluargamu ada riwayat Leukimia. Hanya
untuk berjaga-jaga, Joohyun ah. Karena anemia pun tidak bisa kau abaikan begitu
saja. Setidaknya bila masih dini, kau bisa melakukan pengobatan optimal,
bukan?"
Hanya Tuhan yang tahu, betapa
jantung Cho Kyuhyuh berdebar begitu kencang hingga keringat dingin mencair dari
telapak tangannya saat dia mencoba menjelaskan semua itu pada adiknya. Kyuhyun
harus menguatkan adiknya, meski batinnya sendiri cukup gentar. Andwe!! Dia tak
akan bisa menerimanya, bila satu-satunya keluarga yang dia miliki dan baru saja
dia temukan harus terenggut juga darinya karena penyakit yang sama seperti yang
sudah merenggut Eommanya.
"Jeongmalyo? Kau tidak
sedang menyembunyikan apapun dariku, Oppa?"
Kyuhyun mulai bisa merasakan hawa
panas menjalar diwajahnya. Demi Tuhan, lelaki itu ingin berlari meraih tubuh
lemah itu dan memeluknya erat. Demi Tuhan, Kyuhyun begitu merindukannya dan
ingin berbagi banyak hal dengan gadis dihadapannya.
Demi Tuhan, dia ingin mengganti waktu-waktu yang sempat terenggut darinya
selama ini, hingga dia harus berpisah dengan Eomma yang sudah melahirkannya,
dan tidak pernah mengenal satu-satunya adik yang dia miliki. Demi Tuhan,
penderitaan itu tidak main-main sakitnya dan kini diapun merasakan ketakutan
yang Seohyun rasakan.
Kyuhyun tertunduk demi
menyembunyikan kesedihannya. Andwe! Taeyeon bilang, kesempatan dan peluang
hidup Joohyun masih cukup tinggi, karena nya... mereka tidak boleh menyerah.
"Opso, Joohyun ah! Jinjja opso." Tapi Seohyun
tidak begitu saja percaya. Kesedihan di mata Kyuhyun tampak begitu jelas.
"Kojimal, Oppa! Jebbal...
katakan yang sebenarnya..." Genangan air mata dikelopak matanya seakan
siap meluncur sebentar lagi.
"Jinjja, Joohyun ah. Kau
hanya anemia. Meski dalam kasusmu, animea bisa saja memiliki resiko tinggi.
Karena itu, Taeyeon Euisan-Nim menyarankan untuk pemeriksaan dan perawatan
lebih lanjut. Hanya itu saja. Geok cheongma." Sekali lagi Kyuhyun mencoba
membuat adiknya tenang. Tapi air mata gadis itu tetap saja mengalir hingga
membuat hatinya terasa semakin teriris. Dengan lembut, Kyuhyun kembali mengusap
wajah sendu itu.
"Aish.. uljima, Joohyun ah.
Nae maami neomu appeuni. Jebbal, himnae Joohyun ah! Jadilah Joohyun yang kuat
seperti yang selama ini aku kenal. Gwaenchanna. Aku akan selalu ada kapanpun
kau membutuhkanku. Hhm...?" Seohyun mungkin tidak tahu, bahwa lelaki itu
juga sedang menahan tangisnya.
Tanpa keduanya sadari, 2 pasang
mata sedang menatap mereka sambil bertanya-tanya. Siapa sebenarnya lelaki yang
mereka lihat begitu dekat dan perhatian pada Seohyun dan mengapa Seohyun
terlihat begitu nyaman bersamanya. Bukankah terakhir kali Seohyun masih bersama
Yonghwa?
"Noona, benarkan
kataku? Itu adalah laki-laki yang sama
yang aku lihat waktu itu. Dia tampan bukan? Tidak kalah dengan musisi
itu." Suho berbisik ditelinga Hyo yang masih terpaku menatap dua orang
itu.
"Maldo andwe!! Kenapa anak
ingusan itu begitu beruntung? Hidupnya selalu saja dikelilingi pria-pria
tampan. Tapi aku? Haigooo... aku pasti sudah mengkhianati negara ini
dikehidupanku sebelumnya, hingga aku harus rela berakhir dengan menikahi
satu-satunya pria yang pernah ada dalam hidupku." Wajah cemberutnya
benar-benar khas seorang Hyoyeon.
"Memang sudah sepantasnya,
Noona! Kau harusnya bersyukur, suamimu masih mau menikahimu dengan sifat
galakmu itu." Hyo spontan mengepalkan tangannya dan nyaris melayangkan
sebuah pukulan ke arah Suho. Tapi segera terhenti begitu dia sadari bahwa
Seohyun dan pria itu tengah menatap mereka.
"Ooh... Uri Joohyun ah! Kau
sudah bangun rupanya..." Hyo menyeringai hingga menampakan semua tekstur
giginya. Dia berusaha bersikap normal, berharap Seohyun tidak tahu bahwa baru
saja mereka bergosip tentangnya.
"Iya, Eonnie. Aku sudah
bangun jauh sebelum kalian berdua bangun. Aku bahkan mendengar semua gosip
hangat kalian." Serentak, Hyo dan Suho menutup kedua mulut mereka sambil
bertukar pandang.
"Aa.. aani ah... Barbie.
Siapa yang bergosip tentangmu? Eii.. mana mungkin aku berani. Kami hanya...
hanya..."
"Hanya mengagumimu, Joohyun
ah! Karena kau memang beruntung hingga banyak pria tampan yang jatuh cinta
padamu. Geuroom.. uri Joohyun neomu yippo jana..." Hyo dan Suho
menyeringai lagi dengan sikap inosen mereka.
"Ckckck... neol duri
jinjja!! Yakk!! Siapa bilang kalian boleh bergosip tentangku seperti itu?!
Jatuh cinta?? Siapa yang jatuh cinta? Dan kau Phabo ah!! Palli nawa.. biar aku
menjahit mulutmu!" Seohyun menampakan mata galak nya kearah Suho hingga
membuat lelaki itu berlindung dibalik tubuh Hyo.
"A.. ani ah.. Barbie. Aku
tidak bergosip, sumpah!! Jangan marah, Barbie. Dokter bilang, bila kau sering
marah pada temanmu, maka sel-sel tubuhmu akan menua 100 kali lebih cepat."
"Yak.. Kim Suho!! Kau
benar-benar ingin mati yah?!!"
"Whoaa... siapa yang sepagi
ini ingin mati?" Tiba-tiba, semua terdiam saat sebuah suara datang dari
balik pintu. Kim Taeyeon dan Sim Changmin.
"Ooh.. anyeonghaseo,
Euisan-Nim. Dan kau juga Chang! Aigoo.. kau terlihat keren dengan jas putih
ini." Kyuhyun yang pertama berdiri dan menyapa dua orang dokter muda itu.
"Anyeong haseo, Kim Taeyeon
Euisan-Nim. Shim Changmin Euisan-Nim." Seohyun menyapa dengan suara
lemasnya. Sungguh berbanding terbalik dengan cara dia membentak Suho
sebelumnya. Bukan karena sakit ditubuhnya. Melainkan rasa takut dihatinya.
"Anyeong, Yonghwa-i yeoja!
Aigoo... tsk.. kenapa tubuhmu begitu lemah, huh? Kau hampir membuat Namja-mu
memakai jet pribadi ayahnya hanya untuk datang melihat keadaanmu saat ini. Tapi
aku bilang padanya, bahwa gadisnya hanya sedang dijewer Tuhan karena pola
hidupnya yang sembarangan. Dan sekarang, suka atau tidak kau harus istirahat di
rumah sakit ini, Joohyun ah. Ah.. kau tidak keberatan kan, bila aku memanggilmu
begitu?"
Sebagai dokter, Taeyeon sangat
menyadari psikologi Seohyun kala itu. Karenanya, akan lebih baik bila
penyakitnya dianggap bukan apa-apa sambil terus melakukan treatment.
"Jeoseohamnida, Euisan-Nim.
Aku sama sekali tidak bermaksud membuat semua orang khawatir. Omo.. choding itu
pasti hampir gila mencemaskan aku." Wajah Yonghwa tergambar jelas dalam
ingatannya dan Seohyun semakin merindukannya.
"Tentu saja dia cemas. Anak
itu seperti orang gila meneleponku hampir setiap jam sejak tadi malam hanya
untuk menanyakan kabarmu. Aku rasa, meski miliaran kali aku katakan padanya
kalau kau baik-baik saja, dia tidak akan puas dengan jawabanku. So.. apa kau
sudah menghubunginya?"
"Belum, Euisan-Nim. Aku
belum sempat."
"Just call him right now,
Sweet heart. He need to hear your voice before he face his rivals this
afternoon, Miss! Ah... dan panggil saja aku Eonnie, karena aku lebih tua
darimu." Taeyeon memberinya senyuman hangat.
Seohyun terdiam sejenak. Lalu dia
melihat Kyuhyun mengambilkan ponselnya di laci meja, dan memberinya isyarat
untuk menelepon Yonghwa. Dan Seohyun mengambilnya. Dia menekan angka 1 yang
dalam sekali nada dering saja, lelaki itu langsung menerima panggilannya.
"Yak... Seo Joohyun! Teganya
kau lakukan ini padaku! Aku hampir gila mengkhawatirkanmu semalaman. Aku bahkan
tidak bisa tidur sedetikpun karena aku belum mendengar suaramu! Bagaimana kau
bisa sampai pingsan? Baru beberapa hari kutinggalkan saja kau tidak bisa
menjaga dirimu sendiri! Kau ingin aku mati ketakutan yah?!"
Seohyun tampak menjauhkan
ponselnya dari telinganya. Suara Yonghwa bahkan bisa didengar orang disekitar
situ, meski tanpa load speaker sekalipun. Benar kan? Lelaki itu menggila.
Kyuhyun, Taeyeon dan orang-orang diruangan Seohyun tak mampu menahan tawa mereka.
Meski tanpa suara.
"Yeoboseo? Hello.. Seo
Joohyun! Kau mendengarku?" Yonghwa masih berteriak diujung sana.
"Ya, aku mendengarmu, Oppa.
Teruskan. Aku hanya akan mendengarnya." Seohyun membalasnya dengan
sarkastik.
"Mwo? Geumanhae, Seo Joohyun
Ssi. Setidaknya kau katakan padaku kalau saat ini kau baik-baik saja, sehingga
aku tidak perlu mencemaskanmu. Bukannya..."
"Bagaimana aku mau bicara,
Jung Yonghwa Ssi? Kata-kata yang meluncur dari mulutmu itu melebihi kecepatan
senapan mesin. Aku kan sedang sakit, mana boleh kau marah-marah padaku seperti
itu? Bahkan tanganku saja masih terhubung dengan 3 buah selang yang mengerikan
dan menyakitkan. Kepalaku masih pusing, dan kau.. kau malah meneriaki
aku!" Sepertinya, penyakit itu tidak cukup kuat untuk menghentikan
kegalakan gadis itu. Seohyun mengerutkan bibirnya.
"Mwo?? 3 selang? Apa
maksudmu? Kenapa tanganmu dimasukan 3 selang segala? Seo Joohyun, kau membuatku
benar-benar gila!"
Dan telepon pun terputus. Seohyun
terpaku dalam kebingungan. Kenapa Yonghwa memutuskan telepon nya. Marahkah dia?
Tapi beberapa saat kemudian,
ponselnya berdering lagi. Kali ini, video call masuk...
"Wae, Oppa?" Dengan
nada malas, Seohyun menerima panggilan itu dan langsung bisa melihat wajah
Yonghwa-nya dilayar ponsel.
"Omo.. kenapa wajahmu begitu
pucat? Nae Hyun ottokhae? Maanhi appha ga? Hhm?" Rasanya Yonghwa seperti
ingin menangis melihat betapa pucatnya wajah malaikat itu. Andai saja dia mampu
menghapus jarak antara mereka, maka dia hanya ingin memeluk erat tubuh cintanya.
"Wae? Kau mau meneriaki aku
lagi, huh?!" Seohyun masih memasang wajah galaknya.
"Ani.. ani ah, Angel. Aku
tidak bermaskud meneriaki. Aku hanya ketakutan dan terlalu mencemaskamu.
Mianhae, Hyun. Otthae? Mana yang sakit?" Yonghwa menatapnya sendu.
"Hatiku yang sakit. Aku
meneleponmu untuk memberitahu mu bahwa aku baik-baik saja. Tapi kau malah
marah-marah." Okay, that was the real Seo Joohyun when she was with her
lover.
"Aigoo... jeongmal mianhae,
Baby.. aku tidak marah, kok. Aku hanya khawatir. Dan selang tadi... mana??? Aku
ingin melihatnya!" Nada suaranya kembali tegas saat dia membahas tentang
selang di tubuh Seohyun.
"Niih... lihatlah! Dokter
bilang, aku tidak boleh stress, apalagi dimarahi dan diteriaki! Kau tidak
kasihan padaku yah?"
"Omo... uri baby ottokhae?
Hyun... haruskah aku terbang ke Seoul saat ini juga? Kau pasti kesakitan
sendiri disana." Lagi-lagi, Yonghwa merasa ingin menangis.
"Gwaenchanna, Oppa. Ini
hanya transfusi karena HB darah ku turun drastis. Mianhae, aku akui, beberapa
hari ini aku kurang memperhatikan kesehatanku. Aku janji, aku akan lebih
hati-hati lagi. Kau tenang saja menyelesaikan urusanmu disana. Jangan
khawatirkan aku, karena aku disini bersama orang-orang yang akan menjagaku
dengan baik." Untuk pertama kalinya, Seohyun merekahkan senyum
malaikatnya. Haah... Yonghwa semakin merindukannya.
"Geurae? Ddaengida. Aku
harap juga begitu. Melihat kau sudah punya tenaga untuk bertengkar denganku,
aku merasa lega. Please, Angel.. be healthy! Kekuatanku benar-benar bergantung
padamu. I need your energy to make me strong and brave. Jebbal..."
Suaranya lembut terdengar. Tatapnya teduh, menyejukan.
"Arasso, Oppa. Aku akan
menjaga diriku. Kau tenang saja. Aku percaya, Jung Yonghwa yang kukenal adalah
lelaki yang kuat dan pemberani. Kau pasti bisa melewati semua ini, Oppa."
Seohyun membalas tatapan teduh itu dengan tatapan serupa.
"Gomawo, Baby. Hhhh...
jeongmal bogoshiposeo, Hyun..." Lelaki itu merajuk.
"Na do. Tapi kau fokus saja
pada pekerjaanmu disana. Jaga Eomma-mu dengan baik. Dan sampaikan salamku
padanya."
"I will, Honey. Eomma juga
sangat mengkhawatirkamu semalam. Tapi Taeyeon Noona bilang bahwa kau baik-baik
saja, makanya Eomma sedikit tenang. Geurigo.. get well very soon, Angel. I hate
to see those damn IV hurts your precious hand."
"Arasso, Oppa. Kau juga jaga
dirimu."
"Hhm! Saranghae, Seo
Joohyun..." Lembut, suara itu mengalun, membuat semua orang diruangan itu
merasa cemburu. Meski Yonghwa tidak tahu, bahwa sejak tadi, banyak orang yang
mendengar pembicaraan mereka. Kedua insan mencinta itu seolah lupa, bahwa bukan
hanya mereka saja yang punya mata dan telinga.
"Na do saranghae, Jung
Yonghwa..." Tak kalah lembut, Seohyun membalasnya.
"Aah.. matta...
Hyun...!"
"Wae?"
"Cho Kyuhyun Ssi... aku
harap kau menjaga jarak dengannya." Seohyun tertegun sejenak. Lalu
pandangannya melayang pada Kyuhyun yang sedang duduk dihadapannya. Kyuhyun
memberi isyarat dengan meletakan telunjuknya dibibirnya, agar Seohyun tidak
memberi tahu Yonghwa dulu, bahwa dia mendengar percakapan mereka. Dan Seohyun
mengikutinya.
"Kyuhyun Oppa, wae?
Memangnya kenapa?"
"Ani ah.. aku percaya
padamu, Hyun. Tapi aku tidak percaya padanya. Aku merasa, dia punya maksud lain
padamu."
Sekali lagi, Kyuhyun berusaha
keras menahan tawanya. Taeyeon pun tampak menggeleng-gelengkan kepalanya
mendengar ucapan anak choding itu.
"Apa maksudmu? Maksud lain
apanya?" Seohyun tidak mengerti tentang apa yang Yonghwa fikirkan.
"Bukan apa-apa. Hanya saja,
aku merasa bahwa dia sedang mendekatimu dan berusaha mendapatkan hatimu."
Dan tawa Cho Kyuhyun pecah
membelah keheningan. Dia tidak mampu lagi menahan tawanya. Yonghwa kali ini
benar-benar membuatnya terpingkal. Dan Taeyeon pun mengikutinya tertawa.
Sementara yang lain menatap dua orang itu dengan tatapan bingung.
Tentu saja, hanya mereka berdua
yang tahu kebenarannya.
"Yak, Seo Joohyun... siapa
yang bersamamu? Aku mendengar ada suara laki-laki tertawa disana?" Yonghwa
tampak panik dilayar ponsel itu.
"Jaega yeogieyo, Jung
Yonghwa Ssi. Aku mendengar semuanya dan... " Kyuhyun meneruskan sisa
tawanya. "Dan aku benar-benar geli mendengarnya. Aigoo..."
Yonghwa benar-benar kaget.
Seohyun pun akhirnya ikut tertawa melihat ekspresi Yonghwa dilayar ponselnya.
"Mwo? Yakk.. Hyun.. kenapa
kau tidak bilang kalau kau bersamanya? Kau... sejak tadi berduaan dengan lelaki
itu di ruanganmu?!" Yonghwa bersiap untuk marah lagi.
"Ani. Aku tidak sedang
berduaan. Lebih tepatnya, selain aku, diruangan ini ada 5 orang lagi,
Oppa."
"MWO?!!! Omo... dan... dan
mereka mendengar semua percakapan kita?" Wajahnya benar-benar tak
terdeskripsikan.
"Geurom... tentu saja mereka
mendengarnya."
"Aku juga mendengarmu,
Jashik ah!" Taeyeon setengah berteriak disana.
"Igeon nugu ah? Taeyeon
Noona?" Yonghwa semakin panik.
"Oh! Taeyeon Eonnie do
waeso, Oppa. Nih... sapalah mereka satu persatu dan bilang terima kasih karena
mereka telah merawatku selama kau tidak ada." Seohyun menyorotkan
satu-satu wajah Kyuhyun, Taeyeon, Changmin, Hyo dan Suho. Semuanya melambaikan
tangan dengan senyum setengah mengejek mereka yang membuat Yonghwa semakin
merasa malu.
"Aigoo.. eomma... naega
ottokhae?" Yonghwa menutup wajahnya dengan satu tangannya. Seohyun tertawa
semakin puas.
"Eii.. makanya, jangan
sembarangan, Oppa! Kecemburuanmu itu tidak masuk akal! Aigoo... dasar
choding!"
"Arasso, mian!! Yeorobun,
neomu kamsahamnida, karena telah menjaga Joohyun-ku. Aku minta maaf, telah
merepotkan. Hanbon do, kamsahamnida..." Semua orang bisa mendengar suara
Yonghwa dari ponsel ditangan Seohyun.
"Kau masih saja merasa
terancam olehku, Jung Yonghwa Ssi? Bukankah semalam kau sangat yakin kalau
Joohyun sangat mencintaimu? Lalu kenapa kau harus memberinya peringatan? Eii..
siapa yang curang dalam hal ini?" Yonghwa sekali lagi mendengar suara
Kyuhyun.
"Hyun, berikan ponselmu
padanya!" Seohyun terdiam sejenak sambil terus menatap Yonghwa dilayar
ponselnya dengan tatapan bingung.
"Sini, Joohyun ah. Biar aku
bicara dengannya." Kyuhyun dengan sisa tawanya, meminta Seohyun untuk
memberikan ponselnya. Dengan ragu, Seohyun akhirnya memberikannya.
"Waeyo, Jung Yonghwa Ssi?
Apa masih ada yang bisa kubantu?" Kyuhyun bertanya dengan sarkastik, dan
itu membuat Yonghwa lebih kesal.
"Cho Kyuhyun Ssi, begini...
Sebelumnya aku minta maaf, karena perkataanku sebelumnya. Tapi memang benar,
bila aku sedikit terganggu saat kau dekat dengan kekasihku. Tapi bukan begitu
maksudku. Aku sangat berterima kasih padamu, karena kau begitu baik dan
memperhatikan Joohyun. Dan aku harap, semua itu memang tulus adanya, tanpa ada
maksud yang lainnya.
Mungkin kata-kataku memang
terdengar seperti pria yang sedang cemburu. Tapi bukan begitu. Aku..."
"Ya... kau sedang cemburu,
Phabo ah! Masih berani menyangkal?!" Taeyeon tiba-tiba muncul disamping
Kyuhyun hingga wajahnya tampak dilayar ponsel Yonghwa.
"Yakk.. Kim Taeyeon! Shut
up!!"
"You shut up, Mama Boy!
Dengar! Buang jauh-jauh fikiran bodohmu tentang Cho Kyuhyun Ssi secepatnya,
atau kau akan menyesal nantinya!!" Taeyeon memelototi sepupunya dengan
tatap serius.
"Mwo?!" Yonghwa bingung
karenanya.
"Cho Kyuhyun Ssi tidak
mungkin jatuh cinta pada kekasihmu. Karena...." Taeyeon mulai bingung
dengan kalimat lanjutannya. "Karena...."
"Apa kalian pacaran?"
Yonghwa bertanya dengan wajah polosnya hingga membuat Kyuhyun dan Taeyeon
terhenyak.
"Hyyee???" Keduanya
serentak.
"Kau berkencan dengan Cho
Kyuhyun Ssi, kan?" Sekali lagi Yonghwa bertanya. Dan sekali lagi pula,
Taeyeon dan Kyuhyun menunjukkan wajah bodoh mereka?
"Mwo?! Yak... jashik ah! Kau
minta kuhajar yah?! Mulutmu selalu saja sembarangan bicara! Pokoknya dengarkan
aku!! Jangan pernah berfikir macam-macam tentang Kyuhyun Ssi, atau kau akan
berakhir dengan rasa malu!"
*****
Busan
"Na waseo, yeobo..."
Lelaki paruh baya itu berdiri didepan pintu, dengan suara lirih dan wajah
sendu, diantar anak lelaki satu-satunya yang baru saja menjemputnya pulang.
Wajah itu manatap lekat perempuan cantik yang kini berdiri dihadapannya dengan
berlinang air mata. Perempuan yang dia ingat sebagai cinta pertama dan
satu-satu nya cinta dalam hidupnya, yang sudah memberinya sebuah rumah untuk
berlabuh. Keluarga.
Wanita itu berjalan cepat kearah
suaminya yang sudah merentangkan kedua tangannya, menunggu tubuh mungil itu
mendekapnya.
"Terima kasih, Tuhan...
Gomawo yeobo, telah kembali padaku.." Ny. Jung terisak lagi dipelukan
suaminya.
Ya, setelah dakwaan tentang
penggelapan pajak itu tidak terbukti, akhirnya hakim memberi putusan untuk
membebaskan Tuan Jung dalam kasus ini. Tapi tentang Cassino ilegal itu,
bagaimana pun, nama Tuan Jung sudah tertera didalam kepemilikan sahamnya,
sehingga kasus itu tetap berlanjut prosesnya. Syukurnya, karena rekam jejak dan
sikap baik yang keluarga Jung tunjukan sejak puluhan tahun lalu, Tuan Jung
tidak perlu ditahan.
Ketiga anggota keluarga Jung
melakukan makan malam mereka dimeja makan. Ny. Jung memasak aneka olahan tofu
yang dalam kepercayaan budaya Korea, tofu itu bisa menghilangkan nasib sial
setelah keluar dari penjara. Tak lupa, ayam panggang kesukaan suaminya juga dia
hidangkan disana. Tn. Jung tampak makan dengan lahap, meski Yonghwa tahu,
ayahnya belum sepenuhnya merasa tenang. Statusnya sebagai tahanan kota, dan
juga kasus yang sedang dia hadapi, tidak akan mampu membendung niat licik para
pemegang saham untuk mengganti kepemimpinannya. Meski Yonghwa berhasil menangani
lebih dari separuh pekerjaan Appa-nya dalam mengamankan posisi komisaris, tetap
saja, perjalanan Venus Hotel masih akan sangat terjal.
"Gomawo, Yonghwa ah. Jika
bukan karena kerja kerasmu, aku mungkin sudah kehilangan perusahaan yang sudah
dirintis kakekmu dengan jerih payahnya. Gomawo..." Tn. Jung menatap teduh
wajah anak bungsunya yang kini menjadi putra satu-satunya yang dia miliki.
"Gwaenchannayo, Aboji.
Sebetulnya tidak banyak yang aku lakukan selain melakukan negosiasi dan lobi ke
beberapa orang. Sisanya, Lee Ahjussi dan Im Ahjussi yang membantuku. Jonghyun
juga terlibat banyak dalam hal ini."
"Geurae? Arraso. Setelah
ini, aku akan segera menghubungi mereka untuk mengucapkan rasa terima kasihku.
Tapi bagaimanapun, kaulah yang paling bekerja keras, Adeul. Appa gomawo,
geurigo.. mianhata, Yonghwa ah. Kau pasti sangat lelah."
"Aniyo, Aboji. Aku hanya
melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai putramu. Bila saja Hyung
masih ada, mungkin hasilnya akan lebih baik, Appa. Jeoseonghaeo.. aku hanya
mampu melakukan ini."
"Ani ah, Yonghwa ah! Kau
sudah melakukan yang terbaik, dan aku sangat bangga padamu. Aku yakin, Yongdo
juga akan sangat bangga melihat adiknya yang manja, berhasil menyelamatkan
Appa-nya dan juga perusahaan."
Ny. Jung tampak mengusap air mata
harunya. Dulu, saat putra sulung nya masih hidup, pemandangan seperti itu
teramat langka untuk bisa dilihat. Yonghwa dan Appa nya tidak akan pernah duduk
dan berbicara dengan tenang seperti itu tanpa berakhir dengan pertengkaran.
Tapi kini putra bungsunya sudah banyak berubah. Anak itu tampak lebih kuat,
lebih dewasa dan bertanggung jawab.
"Ah.. bagaimana dengan
rencana peluncuran album mu, Yonghwa?" Tn. Jung tahu, harusnya minggu ini
adalah minggu yang sibuk untuk Yonghwa karena album pertamanya.
"Gwaenchannayo, Aboji. Kami
memgundurnya hingga bulan depan. Geok cheongmaseyo."
"Aigoo.. aku semakin merasa
bersalah padamu, Adeul. Dan juga teman-temanmu." Raut penyesalan tampak
jelas di wajah Appa-nya.
"Aniyo, gwaenchannayo..
Appa. Jeongmalyo. Teman-temanku juga masih butuh waktu untuk mematangkan proses
album ini."
"Geurae? Ddaengida...!
Setelah ini, kembalilah ke Seoul. Geok cheongma, Appa akan ditemani tim
pengacara terbaik dan beberapa ahli dalam masalah ini. Kau kerjakan saja
pekerjaanmu."
"Nde, Appa. Minggu depan aku
akan pulang dulu ke Seoul untuk mengurus pekerjaanku, lalu aku akan kembali
lagi kesini dan membantumu."
"Ani ah. Gwaenchanna. Appa
akan baik-baik saja. Dan lagi... kau pasti sangat merindukannya, bukan?"
Yonghwa tertegun. Sejenak, dia menatap ayahnya yang sedang tersenyum
melihatnya.
"Nde?" Yonghwa hanya
ingin memastikan, kemana arah pembicaraan Ayahnya akan berlanjut.
"Gadis itu.. loh.. Yang
membuat putraku rela melepaskan pertunangannya dengan putri pengusaha kaya dan
memilih menjalani hidupnya dengan kemampuannya sendiri." Tn. Jung
tersenyum merajuk putra bungsunya.
"Ah.. tentang itu."
Yonghwa tertunduk malu. "Nde, Aboji. Aku minta maaf seharusnya aku
membicarakan dulu masalah ini dengan kalian. Tapi Hyunna tiba-tiba kembali ke
Korea dan aku belum sempat melakukan apa-apa. Jeoseohamnida, Aboji, Eommoni,
sekali lagi aku membuat keputusan yang membuat kalian malu."
"Ani ah, Adeul! Eomma.. dan
Appa mu tidak akan pernah mencampuri lagi urusan pribadimu. Kau sudah dewasa,
Yonghwa ah, dan kau berhak menentukan masa depanmu sendiri. Sejak awal, kau
memang tidak harus melakukan itu. Hyunna, tidak seharusnya menjadi tanggung
jawabmu hanya karena Yongdo tidak lagi bersama kita. Eomma senang, karena pada
akhirnya kau mulai memikirkan kembali kebahagiaanmu. Sudah waktunya kau untuk
memulai hidupmu lagi, Adeul." Wanita cantik itu menggenggam lembut tangan
putranya yang kini sudah lebih besar dari tangannya.
"Gomawoyo, Eomma. Appa. Aku
berjanji, aku akan menyelesaikan masalahku sebaik mungkin, sehingga kalian
tidak perlu mengkhawatirkanku lagi."
"Aku percaya padamu,
Yonghwa. Kapan-kapan, ajaklah gadis-mu kemari. Aku ingin tahu, apa yang
membuatmu begitu jatuh hati padanya." Tn. Jung menggoda anaknya yang kini
tampak tersipu.
"Nde, Appa. Nanti, saat
Joohyun sudah sehat, aku akan mengajaknya kesini dan memperkenalkannya pada
kalian. Aku yakin, kalian pasti akan menyukainya. Meski dia dan Hyunna tampak
berbanding jauh dari segi pendidikan, kelas dan penampilan...
Tapi Joohyun-ku sangat cantik
meski dengan kesederhanaannya. Dia gadis yang sopan, cerdas dan pekerja keras.
Tapi Eomma, jangan sekali-kali memintanya untuk memasak." Yonghwa
melayangkan pandangan setengah mengancam kearah Eommanya, hingga membuat sang
Eomma mengerutkan keningnya.
"Wae?" Tanya perempuan
itu.
"Trust me... rasa
masakannya... hhhh... aigooo..." Yonghwa menggeleng-gelengkan kepalanya,
dan membuat orang tuanya tertawa.
"Gwaenchanna, Yonghwa ah!
Karena itulah, sebagai namja kau harus bekerja keras agar istrimu bisa hidup
enak tanpa harus mengotori tubuhnya dengan asap dapur." Appa-nya menepuk
pundak Yonghwa. Lelaki itu teramat bangga melihat Yonghwa tumbuh menejadi
lelaki yang mengagumkan. Meski mungkin terlambat baginya, Tn. Jung kini hanya
ingin menjadi Appa yang baik bagi Yonghwa. Sesuatu yang dulu tidak dia lakukan
pada Yongdo.
*****
Seoul
"Kopi?" Sebuah suara
datang dari arah belakang, saat Kyuhyun sedang duduk sendiri diatap rumah
sakit. Lelaki itu termenung, memikirkan apa yang akan dia lakukan pada
hubungannya dengan Seohyun setelah ini.
Kyuhyun menoleh kebelakang, dan
mendapati Taeyeon sedang datang mendekat dengan membawa dua cup kopi
ditangannya. Kyuhyun tersenyum dan menerimanya.
"Gomawoyo, Euisan-Nim."
"Taeyeon. Panggil saja aku
Taeyeon. Kau adalah kakaknya Joohyun dan aku adalah sepupu Jung Yonghwa. Aku
rasa hubungan yang complicated ini sudah cukup untuk membuat kita bisa
berbicara lebih nyaman mulai saat ini." Mereka berduapun tersenyum.
Taeyeon lalu duduk tepat disamping Kyuhyun.
"Kau pasti sangat lelah,
Kyuhyun Ssi."
"Nde, majayo. Sebenarnya,
kata khawatir mungkin lebih tepat untuk mendeskripsikannya. Akhir-akhir ini,
aku semakin mencemaskan Joohyun. Tentang penyakitnya, tentang hubungan kami,
dan tentang apa yang akan terjadi pada kami saat aku memberitahu semua
kebenaran ini padanya." Kyuhyun menundukan kepalanya dalam sisa senyum
pahit itu.
"Aku mengerti. Bukan hal
yang mudah saat suatu hari seseorang tiba-tiba datang kedalam hidupmu dan
mengatakan bahwa kau punya seorang kakak. Joohyun pasti akan sangat shock.
Tapi... aku yakin, seiring waktu,
dia akan mulai menerimanya. Bahkan seharusnya dia senang, karena dia tidak lagi
hidup seorang diri, melainkan ada seorang Oppa yang sangat menyayangi dan akan
melindunginya." Taeyeon tersenyum tulus. Kyuhyun masih menundukkan
wajahnya dengan senyum pahit yang sama. Lalu pria itu mulai menatap kedepan
sambil menghela nafasnya yang terasa berat.
"Aku harap semua akan
semudah itu, Taeyeon Ssi. Aku benar-benar berharap, reaksi yang dia keluarkan
hanya keterkejutan saja. Hhh..." Kyuhyun menghembuskan nafasnya.
"Tapi aku tahu, masalahku
tidak akan usai sampai disitu." Kyuhyun kembali menunduk.
"Waeyo?" Taeyeon
menatapnya semakin dalam.
"Joohyun mungkin akan sangat
membenciku andai dia tahu apa yang sudah aku lakukan pada Eomma-ku. Uri
Eomma." Lelaki itu kembali menghela nafas berat.
"Sebelumnya aku minta maaf,
bila aku terkesan terlalu jauh masuk kedalam cerita pribadimu, Kyuhyun Ssi.
Tapi sungguh, aku tidak punya maksud lain. Aku hanya bersikap sebegai seseorang
yang mengenal Joohyun. Jadi, bila kau membutuhkan sesuatu, kau bisa
mengatakannya padaku. Atau... bila kau membutuhkan teman untuk minum kopi dan
bercerita sesuatu, kau bisa menghubungiku kapanpun itu." Taeyeon mengusap
pundak Kyuhyun disampingnya dengan senyum tulus.
"Gomawoyo, Taeyeon Ssi. It
means a lot for me." Kyuhyun membalas senyumnya dengan senyum teduh.
"Saat ini, kau fokus saja
dalam menjaga kesehatanmu. Karena bila semua memungkinkan, bulan depan kita
bisa menjalani prosedur pencangkokan sumsum tulang belakang untuk adikmu.
Sejauh ini, sumsum tulang milikmu dan juga Tn. Seo lah yang paling cocok. Dan
kami akan mengandalkanmu, mengingat usia Tn. Seo yang sudah tidak muda
lagi."
"Nde. Arasoyo."
"Apa Tn. Seo masih tidak
ingin menemui putrinya?" Sekali lagi Taeyeon bertanya.
"Aku sudah membujuknya,
Taeyeon Ssi. Tapi sepertinya.. Ahjussi punya pemikiran lain. Mungkin nanti,
saat Joohyun berhasil melewati penyakitnya dan proses pencangkokan itu berjalan
dengan baik."
Author
Note :
Thank
you for keep waiting and reading this story. Hhh... rasanya... pengen bilang ke
Kyuhyun.. "Come to mama, Sweetie!"
So..
jangan benci Kyuhyun yaaah...

Thank you juga krn udh update lagi...
BalasHapusKita gk prnh bosan buat baca dan ttp nunggu, semoga author ttp shat jd bsa trus update..
Fighting..~~~
Aamiin... makasih yah, buat doa kebaikannya. makasih juga, selalu baca coret2an ga jelas ini.. hehehe...
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMakasih kak udah dilanjutin ceritanya suka banget,untuk yg selanjut nya ku tunggu selalu semangat yah
BalasHapusMakasih kak udah dilanjutin ceritanya suka banget,untuk yg selanjut nya ku tunggu selalu semangat yah
BalasHapussama2.. ^^
Hapusaku juga makasih yaah.. dah mau baca... keep waiting, next chapter lagi on process niih...