Rabu, 16 Desember 2015

In Time With You Chapter 22



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8




Chapter 22

A Morning Story

Seohyun membuka matanya dan untuk kesekian kalinya gadis itu mendapati dirinya terbangun disebuah kamar yang asing. Aroma rumah sakit langsung bisa dia kenali dalam beberapa kali helaan nafasnya. Kali ini, Seohyun melihat bukan hanya satu selang saja yang terhubung ke pembuluh darah ditangannya. Tapi ada 3 dengan warna cairan yang berbeda. Kepalanya terasa sakit. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi Seohyun ingat, kemarin hidungnya sempat mengeluarkan darah, lalu kepalanya terasa pusing. Setelah itu, dia tidak mengingat apapun lagi.

Pandangannya lalu melayang pada dua orang yang masih terlelap disofa ruangannya. Hyo dan Suho. Mereka berdua pasti kelelahan setelah menjaganya semalaman. Beberapa saat kemudian, dirinya mendengar suara seseorang membukakan pintu.

"Good Morning, Beautiful!" Kyuhyun muncul dari balik pintu dengan menggenggam sebuah bouquet white lily dan baby breath ditangannya.

"Oppa... " Seohyun berusaha tersenyum, meski tubuhnya masih marasakan rasa sakit itu.

"Otthae? Bagian mana yang masih terasa sakit?" Kyuhyun menatapnya cemas.

"Geok cheongmaseo. Hanya kepalaku saja. Mungkin karena aku tidur telalu lama." Seohyun merekahkan senyumnya lebih lebar.

"Jeongmal? Syukurlah. Kau selalu membuatku cemas, Agassi. Jebbal.. lain kali, jaga dirimu dengan baik." Kyuhyun duduk dikursi samping tempat tidurnya.

"Jeoseonghaeyo, Oppa. Aku merepotkanmu lagi." Seohyun mulai merasa bersalah.

"Gwaenchanna. Fokus saja pada kesehatanmu. Ini... aku membawakanmu bunga." Kyuhyun menyerahkan bouquet itu ketangan Seohyun. Senyum diwajahnya kembali mengembang saat dia menerima bunga itu. Lembut, Seohyun mencium aromanya. White lily. Bunga favoritnya.

"Neomu gomawoyo, Oppa. Bagaimana kau tahu bahwa aku suka Lily?"

"Geurae? Hhm.. mungkin hanya intuisiku saja. Aku teringat seseorang yang sangat menyukai bunga ini. Tsk... Tapi aku tidak sempat memberikannya padanya. Baguslah, bila kau menyukainya juga." Kyuhyun tersenyum lega.

"Whoooo... biar kutebak! Han yeoja gayo? Hhm... cinta pertamamu?" Seohyun menatap dengan tatapan menggoda. Kyuhyun hanya tersenyum, lalu sejenak menundukan kepalanya.

"Bisa dibilang seperti itu. Meski cinta itu terlambat kusadari, hingga aku harus kehilangannya sebelum sempat mengatakan padanya bahwa aku sangat mencintainya.

Dan juga merindukannya."

Senyum pahit tergambar disudut bibirnya. Seohyun bisa melihatnya. Kesedihan itu, terlalu jelas terpancar dari kedua mata itu.

"Omo... mianhaeyo, Oppa. Aku tidak bermaksud untuk mengungkit kenangan pahitmu. Jeongmal mianhaeyo." Seohyun menatap sayu. Tapi segera, senyum manis Kyuhyun kembali merekah. Dengan lembut, lelaki itu mengusap kepala Seohyun.

"Gwaenchanna! Sudah lama semua itu berlalu. Dan kau lihat sendiri, bahwa kini aku tumbuh menjadi lelaki tampan, bukan?" Kyuhyun mengedipkan sebelah matanya yang membuat Seohyun menatapnya nyinyir. Tapi ajaibnya, Seohyun sama sekali tidak merasa 'tidak nyaman' dengan sikap dan perlakuan Kyuhyun padanya, padahal seharusnya, semua itu membuatnya risih karena Kyuhyun adalah seorang pria yang baru dikenalnya.

Tentu saja. Bagaimanapun darah itu lebih kental daripada air.

"Geumanhaeyo, Oppa! Aough... jinjja!!" Seohyun memutar kedua bola matanya hingga membuat Oppa-nya tertawa.

"Arasso!! Oh iya, Joohyun ah, sebentar lagi Kim Taeyeon dan Sim Changmin Euisan-Nim akan datang memeriksamu lebih lanjut." Kyuhyun berfikir semalaman, tentang bagaimana metode terbaik untuk memberitahunya agar Seohyun tidak merasa down dan terpukul.

"Kim Taeyeon? Sepupu Yonghwa Oppa?" Seohyun kemudian teringat pada wajah lelaki itu. Baru dia sadari, betapa dia merindukannya dan sejak kemarin dirinya sama sekali belum mendengar suaranya.

"Oh, maja. Dan satu lagi Sim Changmin Euisan-Nim. Dia spesialis hematologi di rumah sakit ini. Dan kebetulan, dia adalah teman SMA ku dulu." Kyuhyun segera bisa melihat raut wajah itu berubah ketika dia mendengar kata hematologi. Seohyun sudah sangat faham, tentang bidang penyakit apa yang akan ditangani dokter spesialis ini.

"Hematologi? Apa maksudmu, Oppa? Aku sakit apa?" Tiba-tiba rasa takut itu muncul.

"Geok cheongma, Joohyun ah. Kau hanya anemia. Karenanya kau diberi transfusi sejak tadi malam. HB darahmu benar-benar drop karena kau terlalu kelelahan. Dan tentang hematologi ini, Kim Taeyeon Euisan-Nim yang menyarankannya, karena saat kau demam tempo hari, dia pernah mendengar dari Jung Yonghwa bahwa keluargamu ada riwayat Leukimia. Hanya untuk berjaga-jaga, Joohyun ah. Karena anemia pun tidak bisa kau abaikan begitu saja. Setidaknya bila masih dini, kau bisa melakukan pengobatan optimal, bukan?"

Hanya Tuhan yang tahu, betapa jantung Cho Kyuhyuh berdebar begitu kencang hingga keringat dingin mencair dari telapak tangannya saat dia mencoba menjelaskan semua itu pada adiknya. Kyuhyun harus menguatkan adiknya, meski batinnya sendiri cukup gentar. Andwe!! Dia tak akan bisa menerimanya, bila satu-satunya keluarga yang dia miliki dan baru saja dia temukan harus terenggut juga darinya karena penyakit yang sama seperti yang sudah merenggut Eommanya.

"Jeongmalyo? Kau tidak sedang menyembunyikan apapun dariku, Oppa?"

Kyuhyun mulai bisa merasakan hawa panas menjalar diwajahnya. Demi Tuhan, lelaki itu ingin berlari meraih tubuh lemah itu dan memeluknya erat. Demi Tuhan, Kyuhyun begitu merindukannya dan ingin berbagi banyak  hal dengan gadis dihadapannya. Demi Tuhan, dia ingin mengganti waktu-waktu yang sempat terenggut darinya selama ini, hingga dia harus berpisah dengan Eomma yang sudah melahirkannya, dan tidak pernah mengenal satu-satunya adik yang dia miliki. Demi Tuhan, penderitaan itu tidak main-main sakitnya dan kini diapun merasakan ketakutan yang Seohyun rasakan.

Kyuhyun tertunduk demi menyembunyikan kesedihannya. Andwe! Taeyeon bilang, kesempatan dan peluang hidup Joohyun masih cukup tinggi, karena nya... mereka tidak boleh menyerah.

"Opso, Joohyun ah! Jinjja opso." Tapi Seohyun tidak begitu saja percaya. Kesedihan di mata Kyuhyun tampak begitu jelas.

"Kojimal, Oppa! Jebbal... katakan yang sebenarnya..." Genangan air mata dikelopak matanya seakan siap meluncur sebentar lagi.

"Jinjja, Joohyun ah. Kau hanya anemia. Meski dalam kasusmu, animea bisa saja memiliki resiko tinggi. Karena itu, Taeyeon Euisan-Nim menyarankan untuk pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Hanya itu saja. Geok cheongma." Sekali lagi Kyuhyun mencoba membuat adiknya tenang. Tapi air mata gadis itu tetap saja mengalir hingga membuat hatinya terasa semakin teriris. Dengan lembut, Kyuhyun kembali mengusap wajah sendu itu.

"Aish.. uljima, Joohyun ah. Nae maami neomu appeuni. Jebbal, himnae Joohyun ah! Jadilah Joohyun yang kuat seperti yang selama ini aku kenal. Gwaenchanna. Aku akan selalu ada kapanpun kau membutuhkanku. Hhm...?" Seohyun mungkin tidak tahu, bahwa lelaki itu juga sedang menahan tangisnya.

Tanpa keduanya sadari, 2 pasang mata sedang menatap mereka sambil bertanya-tanya. Siapa sebenarnya lelaki yang mereka lihat begitu dekat dan perhatian pada Seohyun dan mengapa Seohyun terlihat begitu nyaman bersamanya. Bukankah terakhir kali Seohyun masih bersama Yonghwa?

"Noona, benarkan kataku?  Itu adalah laki-laki yang sama yang aku lihat waktu itu. Dia tampan bukan? Tidak kalah dengan musisi itu." Suho berbisik ditelinga Hyo yang masih terpaku menatap dua orang itu.

"Maldo andwe!! Kenapa anak ingusan itu begitu beruntung? Hidupnya selalu saja dikelilingi pria-pria tampan. Tapi aku? Haigooo... aku pasti sudah mengkhianati negara ini dikehidupanku sebelumnya, hingga aku harus rela berakhir dengan menikahi satu-satunya pria yang pernah ada dalam hidupku." Wajah cemberutnya benar-benar khas seorang Hyoyeon.

"Memang sudah sepantasnya, Noona! Kau harusnya bersyukur, suamimu masih mau menikahimu dengan sifat galakmu itu." Hyo spontan mengepalkan tangannya dan nyaris melayangkan sebuah pukulan ke arah Suho. Tapi segera terhenti begitu dia sadari bahwa Seohyun dan pria itu tengah menatap mereka.

"Ooh... Uri Joohyun ah! Kau sudah bangun rupanya..." Hyo menyeringai hingga menampakan semua tekstur giginya. Dia berusaha bersikap normal, berharap Seohyun tidak tahu bahwa baru saja mereka bergosip tentangnya.

"Iya, Eonnie. Aku sudah bangun jauh sebelum kalian berdua bangun. Aku bahkan mendengar semua gosip hangat kalian." Serentak, Hyo dan Suho menutup kedua mulut mereka sambil bertukar pandang.

"Aa.. aani ah... Barbie. Siapa yang bergosip tentangmu? Eii.. mana mungkin aku berani. Kami hanya... hanya..."

"Hanya mengagumimu, Joohyun ah! Karena kau memang beruntung hingga banyak pria tampan yang jatuh cinta padamu. Geuroom.. uri Joohyun neomu yippo jana..." Hyo dan Suho menyeringai  lagi dengan sikap inosen mereka.

"Ckckck... neol duri jinjja!! Yakk!! Siapa bilang kalian boleh bergosip tentangku seperti itu?! Jatuh cinta?? Siapa yang jatuh cinta? Dan kau Phabo ah!! Palli nawa.. biar aku menjahit mulutmu!" Seohyun menampakan mata galak nya kearah Suho hingga membuat lelaki itu berlindung dibalik tubuh Hyo.

"A.. ani ah.. Barbie. Aku tidak bergosip, sumpah!! Jangan marah, Barbie. Dokter bilang, bila kau sering marah pada temanmu, maka sel-sel tubuhmu akan menua 100 kali lebih cepat."

"Yak.. Kim Suho!! Kau benar-benar ingin mati yah?!!"

"Whoaa... siapa yang sepagi ini ingin mati?" Tiba-tiba, semua terdiam saat sebuah suara datang dari balik pintu. Kim Taeyeon dan Sim Changmin.

"Ooh.. anyeonghaseo, Euisan-Nim. Dan kau juga Chang! Aigoo.. kau terlihat keren dengan jas putih ini." Kyuhyun yang pertama berdiri dan menyapa dua orang dokter muda itu.

"Anyeong haseo, Kim Taeyeon Euisan-Nim. Shim Changmin Euisan-Nim." Seohyun menyapa dengan suara lemasnya. Sungguh berbanding terbalik dengan cara dia membentak Suho sebelumnya. Bukan karena sakit ditubuhnya. Melainkan rasa takut dihatinya.

"Anyeong, Yonghwa-i yeoja! Aigoo... tsk.. kenapa tubuhmu begitu lemah, huh? Kau hampir membuat Namja-mu memakai jet pribadi ayahnya hanya untuk datang melihat keadaanmu saat ini. Tapi aku bilang padanya, bahwa gadisnya hanya sedang dijewer Tuhan karena pola hidupnya yang sembarangan. Dan sekarang, suka atau tidak kau harus istirahat di rumah sakit ini, Joohyun ah. Ah.. kau tidak keberatan kan, bila aku memanggilmu begitu?"

Sebagai dokter, Taeyeon sangat menyadari psikologi Seohyun kala itu. Karenanya, akan lebih baik bila penyakitnya dianggap bukan apa-apa sambil terus melakukan treatment.

"Jeoseohamnida, Euisan-Nim. Aku sama sekali tidak bermaksud membuat semua orang khawatir. Omo.. choding itu pasti hampir gila mencemaskan aku." Wajah Yonghwa tergambar jelas dalam ingatannya dan Seohyun semakin merindukannya.

"Tentu saja dia cemas. Anak itu seperti orang gila meneleponku hampir setiap jam sejak tadi malam hanya untuk menanyakan kabarmu. Aku rasa, meski miliaran kali aku katakan padanya kalau kau baik-baik saja, dia tidak akan puas dengan jawabanku. So.. apa kau sudah menghubunginya?"

"Belum, Euisan-Nim. Aku belum sempat."

"Just call him right now, Sweet heart. He need to hear your voice before he face his rivals this afternoon, Miss! Ah... dan panggil saja aku Eonnie, karena aku lebih tua darimu." Taeyeon memberinya senyuman hangat.

Seohyun terdiam sejenak. Lalu dia melihat Kyuhyun mengambilkan ponselnya di laci meja, dan memberinya isyarat untuk menelepon Yonghwa. Dan Seohyun mengambilnya. Dia menekan angka 1 yang dalam sekali nada dering saja, lelaki itu langsung menerima panggilannya.

"Yak... Seo Joohyun! Teganya kau lakukan ini padaku! Aku hampir gila mengkhawatirkanmu semalaman. Aku bahkan tidak bisa tidur sedetikpun karena aku belum mendengar suaramu! Bagaimana kau bisa sampai pingsan? Baru beberapa hari kutinggalkan saja kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri! Kau ingin aku mati ketakutan yah?!"

Seohyun tampak menjauhkan ponselnya dari telinganya. Suara Yonghwa bahkan bisa didengar orang disekitar situ, meski tanpa load speaker sekalipun. Benar kan? Lelaki itu menggila. Kyuhyun, Taeyeon dan orang-orang diruangan Seohyun tak mampu menahan tawa mereka. Meski tanpa suara.

"Yeoboseo? Hello.. Seo Joohyun! Kau mendengarku?" Yonghwa masih berteriak diujung sana.

"Ya, aku mendengarmu, Oppa. Teruskan. Aku hanya akan mendengarnya." Seohyun membalasnya dengan sarkastik.

"Mwo? Geumanhae, Seo Joohyun Ssi. Setidaknya kau katakan padaku kalau saat ini kau baik-baik saja, sehingga aku tidak perlu mencemaskanmu. Bukannya..."

"Bagaimana aku mau bicara, Jung Yonghwa Ssi? Kata-kata yang meluncur dari mulutmu itu melebihi kecepatan senapan mesin. Aku kan sedang sakit, mana boleh kau marah-marah padaku seperti itu? Bahkan tanganku saja masih terhubung dengan 3 buah selang yang mengerikan dan menyakitkan. Kepalaku masih pusing, dan kau.. kau malah meneriaki aku!" Sepertinya, penyakit itu tidak cukup kuat untuk menghentikan kegalakan gadis itu. Seohyun mengerutkan bibirnya.

"Mwo?? 3 selang? Apa maksudmu? Kenapa tanganmu dimasukan 3 selang segala? Seo Joohyun, kau membuatku benar-benar gila!"

Dan telepon pun terputus. Seohyun terpaku dalam kebingungan. Kenapa Yonghwa memutuskan telepon nya. Marahkah dia?

Tapi beberapa saat kemudian, ponselnya berdering lagi. Kali ini, video call masuk...

"Wae, Oppa?" Dengan nada malas, Seohyun menerima panggilan itu dan langsung bisa melihat wajah Yonghwa-nya dilayar ponsel.

"Omo.. kenapa wajahmu begitu pucat? Nae Hyun ottokhae? Maanhi appha ga? Hhm?" Rasanya Yonghwa seperti ingin menangis melihat betapa pucatnya wajah malaikat itu. Andai saja dia mampu menghapus jarak antara mereka, maka dia hanya ingin memeluk erat tubuh cintanya.

"Wae? Kau mau meneriaki aku lagi, huh?!" Seohyun masih memasang wajah galaknya.

"Ani.. ani ah, Angel. Aku tidak bermaskud meneriaki. Aku hanya ketakutan dan terlalu mencemaskamu. Mianhae, Hyun. Otthae? Mana yang sakit?" Yonghwa menatapnya sendu.

"Hatiku yang sakit. Aku meneleponmu untuk memberitahu mu bahwa aku baik-baik saja. Tapi kau malah marah-marah." Okay, that was the real Seo Joohyun when she was with her lover.

"Aigoo... jeongmal mianhae, Baby.. aku tidak marah, kok. Aku hanya khawatir. Dan selang tadi... mana??? Aku ingin melihatnya!" Nada suaranya kembali tegas saat dia membahas tentang selang di tubuh Seohyun.

"Niih... lihatlah! Dokter bilang, aku tidak boleh stress, apalagi dimarahi dan diteriaki! Kau tidak kasihan padaku yah?"

"Omo... uri baby ottokhae? Hyun... haruskah aku terbang ke Seoul saat ini juga? Kau pasti kesakitan sendiri disana." Lagi-lagi, Yonghwa merasa ingin menangis.

"Gwaenchanna, Oppa. Ini hanya transfusi karena HB darah ku turun drastis. Mianhae, aku akui, beberapa hari ini aku kurang memperhatikan kesehatanku. Aku janji, aku akan lebih hati-hati lagi. Kau tenang saja menyelesaikan urusanmu disana. Jangan khawatirkan aku, karena aku disini bersama orang-orang yang akan menjagaku dengan baik." Untuk pertama kalinya, Seohyun merekahkan senyum malaikatnya. Haah... Yonghwa semakin merindukannya.

"Geurae? Ddaengida. Aku harap juga begitu. Melihat kau sudah punya tenaga untuk bertengkar denganku, aku merasa lega. Please, Angel.. be healthy! Kekuatanku benar-benar bergantung padamu. I need your energy to make me strong and brave. Jebbal..." Suaranya lembut terdengar. Tatapnya teduh, menyejukan.

"Arasso, Oppa. Aku akan menjaga diriku. Kau tenang saja. Aku percaya, Jung Yonghwa yang kukenal adalah lelaki yang kuat dan pemberani. Kau pasti bisa melewati semua ini, Oppa." Seohyun membalas tatapan teduh itu dengan tatapan serupa.

"Gomawo, Baby. Hhhh... jeongmal bogoshiposeo, Hyun..." Lelaki itu merajuk.

"Na do. Tapi kau fokus saja pada pekerjaanmu disana. Jaga Eomma-mu dengan baik. Dan sampaikan salamku padanya."

"I will, Honey. Eomma juga sangat mengkhawatirkamu semalam. Tapi Taeyeon Noona bilang bahwa kau baik-baik saja, makanya Eomma sedikit tenang. Geurigo.. get well very soon, Angel. I hate to see those damn IV hurts your precious hand."

"Arasso, Oppa. Kau juga jaga dirimu."

"Hhm! Saranghae, Seo Joohyun..." Lembut, suara itu mengalun, membuat semua orang diruangan itu merasa cemburu. Meski Yonghwa tidak tahu, bahwa sejak tadi, banyak orang yang mendengar pembicaraan mereka. Kedua insan mencinta itu seolah lupa, bahwa bukan hanya mereka saja yang punya mata dan telinga.

"Na do saranghae, Jung Yonghwa..." Tak kalah lembut, Seohyun membalasnya.

"Aah.. matta... Hyun...!"

"Wae?"

"Cho Kyuhyun Ssi... aku harap kau menjaga jarak dengannya." Seohyun tertegun sejenak. Lalu pandangannya melayang pada Kyuhyun yang sedang duduk dihadapannya. Kyuhyun memberi isyarat dengan meletakan telunjuknya dibibirnya, agar Seohyun tidak memberi tahu Yonghwa dulu, bahwa dia mendengar percakapan mereka. Dan Seohyun mengikutinya.

"Kyuhyun Oppa, wae? Memangnya kenapa?"

"Ani ah.. aku percaya padamu, Hyun. Tapi aku tidak percaya padanya. Aku merasa, dia punya maksud lain padamu."

Sekali lagi, Kyuhyun berusaha keras menahan tawanya. Taeyeon pun tampak menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan anak choding itu.

"Apa maksudmu? Maksud lain apanya?" Seohyun tidak mengerti tentang apa yang Yonghwa fikirkan.

"Bukan apa-apa. Hanya saja, aku merasa bahwa dia sedang mendekatimu dan berusaha mendapatkan hatimu."

Dan tawa Cho Kyuhyun pecah membelah keheningan. Dia tidak mampu lagi menahan tawanya. Yonghwa kali ini benar-benar membuatnya terpingkal. Dan Taeyeon pun mengikutinya tertawa. Sementara yang lain menatap dua orang itu dengan tatapan bingung.

Tentu saja, hanya mereka berdua yang tahu kebenarannya.

"Yak, Seo Joohyun... siapa yang bersamamu? Aku mendengar ada suara laki-laki tertawa disana?" Yonghwa tampak panik dilayar ponsel itu.

"Jaega yeogieyo, Jung Yonghwa Ssi. Aku mendengar semuanya dan... " Kyuhyun meneruskan sisa tawanya. "Dan aku benar-benar geli mendengarnya. Aigoo..."

Yonghwa benar-benar kaget. Seohyun pun akhirnya ikut tertawa melihat ekspresi Yonghwa dilayar ponselnya.

"Mwo? Yakk.. Hyun.. kenapa kau tidak bilang kalau kau bersamanya? Kau... sejak tadi berduaan dengan lelaki itu di ruanganmu?!" Yonghwa bersiap untuk marah lagi.

"Ani. Aku tidak sedang berduaan. Lebih tepatnya, selain aku, diruangan ini ada 5 orang lagi, Oppa."

"MWO?!!! Omo... dan... dan mereka mendengar semua percakapan kita?" Wajahnya benar-benar tak terdeskripsikan.

"Geurom... tentu saja mereka mendengarnya."

"Aku juga mendengarmu, Jashik ah!" Taeyeon setengah berteriak disana.

"Igeon nugu ah? Taeyeon Noona?" Yonghwa semakin panik.

"Oh! Taeyeon Eonnie do waeso, Oppa. Nih... sapalah mereka satu persatu dan bilang terima kasih karena mereka telah merawatku selama kau tidak ada." Seohyun menyorotkan satu-satu wajah Kyuhyun, Taeyeon, Changmin, Hyo dan Suho. Semuanya melambaikan tangan dengan senyum setengah mengejek mereka yang membuat Yonghwa semakin merasa malu.

"Aigoo.. eomma... naega ottokhae?" Yonghwa menutup wajahnya dengan satu tangannya. Seohyun tertawa semakin puas.

"Eii.. makanya, jangan sembarangan, Oppa! Kecemburuanmu itu tidak masuk akal! Aigoo... dasar choding!"

"Arasso, mian!! Yeorobun, neomu kamsahamnida, karena telah menjaga Joohyun-ku. Aku minta maaf, telah merepotkan. Hanbon do, kamsahamnida..." Semua orang bisa mendengar suara Yonghwa dari ponsel ditangan Seohyun.

"Kau masih saja merasa terancam olehku, Jung Yonghwa Ssi? Bukankah semalam kau sangat yakin kalau Joohyun sangat mencintaimu? Lalu kenapa kau harus memberinya peringatan? Eii.. siapa yang curang dalam hal ini?" Yonghwa sekali lagi mendengar suara Kyuhyun.

"Hyun, berikan ponselmu padanya!" Seohyun terdiam sejenak sambil terus menatap Yonghwa dilayar ponselnya dengan tatapan bingung.

"Sini, Joohyun ah. Biar aku bicara dengannya." Kyuhyun dengan sisa tawanya, meminta Seohyun untuk memberikan ponselnya. Dengan ragu, Seohyun akhirnya memberikannya.

"Waeyo, Jung Yonghwa Ssi? Apa masih ada yang bisa kubantu?" Kyuhyun bertanya dengan sarkastik, dan itu membuat Yonghwa lebih kesal.

"Cho Kyuhyun Ssi, begini... Sebelumnya aku minta maaf, karena perkataanku sebelumnya. Tapi memang benar, bila aku sedikit terganggu saat kau dekat dengan kekasihku. Tapi bukan begitu maksudku. Aku sangat berterima kasih padamu, karena kau begitu baik dan memperhatikan Joohyun. Dan aku harap, semua itu memang tulus adanya, tanpa ada maksud yang lainnya.

Mungkin kata-kataku memang terdengar seperti pria yang sedang cemburu. Tapi bukan begitu. Aku..."

"Ya... kau sedang cemburu, Phabo ah! Masih berani menyangkal?!" Taeyeon tiba-tiba muncul disamping Kyuhyun hingga wajahnya tampak dilayar ponsel Yonghwa.

"Yakk.. Kim Taeyeon! Shut up!!"

"You shut up, Mama Boy! Dengar! Buang jauh-jauh fikiran bodohmu tentang Cho Kyuhyun Ssi secepatnya, atau kau akan menyesal nantinya!!" Taeyeon memelototi sepupunya dengan tatap serius.

"Mwo?!" Yonghwa bingung karenanya.

"Cho Kyuhyun Ssi tidak mungkin jatuh cinta pada kekasihmu. Karena...." Taeyeon mulai bingung dengan kalimat lanjutannya. "Karena...."

"Apa kalian pacaran?" Yonghwa bertanya dengan wajah polosnya hingga membuat Kyuhyun dan Taeyeon terhenyak.

"Hyyee???" Keduanya serentak.

"Kau berkencan dengan Cho Kyuhyun Ssi, kan?" Sekali lagi Yonghwa bertanya. Dan sekali lagi pula, Taeyeon dan Kyuhyun menunjukkan wajah bodoh mereka?

"Mwo?! Yak... jashik ah! Kau minta kuhajar yah?! Mulutmu selalu saja sembarangan bicara! Pokoknya dengarkan aku!! Jangan pernah berfikir macam-macam tentang Kyuhyun Ssi, atau kau akan berakhir dengan rasa malu!"

*****

Busan

"Na waseo, yeobo..." Lelaki paruh baya itu berdiri didepan pintu, dengan suara lirih dan wajah sendu, diantar anak lelaki satu-satunya yang baru saja menjemputnya pulang. Wajah itu manatap lekat perempuan cantik yang kini berdiri dihadapannya dengan berlinang air mata. Perempuan yang dia ingat sebagai cinta pertama dan satu-satu nya cinta dalam hidupnya, yang sudah memberinya sebuah rumah untuk berlabuh. Keluarga.

Wanita itu berjalan cepat kearah suaminya yang sudah merentangkan kedua tangannya, menunggu tubuh mungil itu mendekapnya.

"Terima kasih, Tuhan... Gomawo yeobo, telah kembali padaku.." Ny. Jung terisak lagi dipelukan suaminya.

Ya, setelah dakwaan tentang penggelapan pajak itu tidak terbukti, akhirnya hakim memberi putusan untuk membebaskan Tuan Jung dalam kasus ini. Tapi tentang Cassino ilegal itu, bagaimana pun, nama Tuan Jung sudah tertera didalam kepemilikan sahamnya, sehingga kasus itu tetap berlanjut prosesnya. Syukurnya, karena rekam jejak dan sikap baik yang keluarga Jung tunjukan sejak puluhan tahun lalu, Tuan Jung tidak perlu ditahan.

Ketiga anggota keluarga Jung melakukan makan malam mereka dimeja makan. Ny. Jung memasak aneka olahan tofu yang dalam kepercayaan budaya Korea, tofu itu bisa menghilangkan nasib sial setelah keluar dari penjara. Tak lupa, ayam panggang kesukaan suaminya juga dia hidangkan disana. Tn. Jung tampak makan dengan lahap, meski Yonghwa tahu, ayahnya belum sepenuhnya merasa tenang. Statusnya sebagai tahanan kota, dan juga kasus yang sedang dia hadapi, tidak akan mampu membendung niat licik para pemegang saham untuk mengganti kepemimpinannya. Meski Yonghwa berhasil menangani lebih dari separuh pekerjaan Appa-nya dalam mengamankan posisi komisaris, tetap saja, perjalanan Venus Hotel masih akan sangat terjal.

"Gomawo, Yonghwa ah. Jika bukan karena kerja kerasmu, aku mungkin sudah kehilangan perusahaan yang sudah dirintis kakekmu dengan jerih payahnya. Gomawo..." Tn. Jung menatap teduh wajah anak bungsunya yang kini menjadi putra satu-satunya yang dia miliki.

"Gwaenchannayo, Aboji. Sebetulnya tidak banyak yang aku lakukan selain melakukan negosiasi dan lobi ke beberapa orang. Sisanya, Lee Ahjussi dan Im Ahjussi yang membantuku. Jonghyun juga terlibat banyak dalam hal ini."

"Geurae? Arraso. Setelah ini, aku akan segera menghubungi mereka untuk mengucapkan rasa terima kasihku. Tapi bagaimanapun, kaulah yang paling bekerja keras, Adeul. Appa gomawo, geurigo.. mianhata, Yonghwa ah. Kau pasti sangat lelah."

"Aniyo, Aboji. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai putramu. Bila saja Hyung masih ada, mungkin hasilnya akan lebih baik, Appa. Jeoseonghaeo.. aku hanya mampu melakukan ini."

"Ani ah, Yonghwa ah! Kau sudah melakukan yang terbaik, dan aku sangat bangga padamu. Aku yakin, Yongdo juga akan sangat bangga melihat adiknya yang manja, berhasil menyelamatkan Appa-nya dan juga perusahaan."

Ny. Jung tampak mengusap air mata harunya. Dulu, saat putra sulung nya masih hidup, pemandangan seperti itu teramat langka untuk bisa dilihat. Yonghwa dan Appa nya tidak akan pernah duduk dan berbicara dengan tenang seperti itu tanpa berakhir dengan pertengkaran. Tapi kini putra bungsunya sudah banyak berubah. Anak itu tampak lebih kuat, lebih dewasa dan bertanggung jawab.

"Ah.. bagaimana dengan rencana peluncuran album mu, Yonghwa?" Tn. Jung tahu, harusnya minggu ini adalah minggu yang sibuk untuk Yonghwa karena album pertamanya.

"Gwaenchannayo, Aboji. Kami memgundurnya hingga bulan depan. Geok cheongmaseyo."

"Aigoo.. aku semakin merasa bersalah padamu, Adeul. Dan juga teman-temanmu." Raut penyesalan tampak jelas di wajah Appa-nya.

"Aniyo, gwaenchannayo.. Appa. Jeongmalyo. Teman-temanku juga masih butuh waktu untuk mematangkan proses album ini."

"Geurae? Ddaengida...! Setelah ini, kembalilah ke Seoul. Geok cheongma, Appa akan ditemani tim pengacara terbaik dan beberapa ahli dalam masalah ini. Kau kerjakan saja pekerjaanmu."

"Nde, Appa. Minggu depan aku akan pulang dulu ke Seoul untuk mengurus pekerjaanku, lalu aku akan kembali lagi kesini dan membantumu."

"Ani ah. Gwaenchanna. Appa akan baik-baik saja. Dan lagi... kau pasti sangat merindukannya, bukan?" Yonghwa tertegun. Sejenak, dia menatap ayahnya yang sedang tersenyum melihatnya.

"Nde?" Yonghwa hanya ingin memastikan, kemana arah pembicaraan Ayahnya akan berlanjut.

"Gadis itu.. loh.. Yang membuat putraku rela melepaskan pertunangannya dengan putri pengusaha kaya dan memilih menjalani hidupnya dengan kemampuannya sendiri." Tn. Jung tersenyum merajuk putra bungsunya.

"Ah.. tentang itu." Yonghwa tertunduk malu. "Nde, Aboji. Aku minta maaf seharusnya aku membicarakan dulu masalah ini dengan kalian. Tapi Hyunna tiba-tiba kembali ke Korea dan aku belum sempat melakukan apa-apa. Jeoseohamnida, Aboji, Eommoni, sekali lagi aku membuat keputusan yang membuat kalian malu."

"Ani ah, Adeul! Eomma.. dan Appa mu tidak akan pernah mencampuri lagi urusan pribadimu. Kau sudah dewasa, Yonghwa ah, dan kau berhak menentukan masa depanmu sendiri. Sejak awal, kau memang tidak harus melakukan itu. Hyunna, tidak seharusnya menjadi tanggung jawabmu hanya karena Yongdo tidak lagi bersama kita. Eomma senang, karena pada akhirnya kau mulai memikirkan kembali kebahagiaanmu. Sudah waktunya kau untuk memulai hidupmu lagi, Adeul." Wanita cantik itu menggenggam lembut tangan putranya yang kini sudah lebih besar dari tangannya.

"Gomawoyo, Eomma. Appa. Aku berjanji, aku akan menyelesaikan masalahku sebaik mungkin, sehingga kalian tidak perlu mengkhawatirkanku lagi."

"Aku percaya padamu, Yonghwa. Kapan-kapan, ajaklah gadis-mu kemari. Aku ingin tahu, apa yang membuatmu begitu jatuh hati padanya." Tn. Jung menggoda anaknya yang kini tampak tersipu.

"Nde, Appa. Nanti, saat Joohyun sudah sehat, aku akan mengajaknya kesini dan memperkenalkannya pada kalian. Aku yakin, kalian pasti akan menyukainya. Meski dia dan Hyunna tampak berbanding jauh dari segi pendidikan, kelas dan penampilan...

Tapi Joohyun-ku sangat cantik meski dengan kesederhanaannya. Dia gadis yang sopan, cerdas dan pekerja keras. Tapi Eomma, jangan sekali-kali memintanya untuk memasak." Yonghwa melayangkan pandangan setengah mengancam kearah Eommanya, hingga membuat sang Eomma mengerutkan keningnya.

"Wae?" Tanya perempuan itu.

"Trust me... rasa masakannya... hhhh... aigooo..." Yonghwa menggeleng-gelengkan kepalanya, dan membuat orang tuanya tertawa.

"Gwaenchanna, Yonghwa ah! Karena itulah, sebagai namja kau harus bekerja keras agar istrimu bisa hidup enak tanpa harus mengotori tubuhnya dengan asap dapur." Appa-nya menepuk pundak Yonghwa. Lelaki itu teramat bangga melihat Yonghwa tumbuh menejadi lelaki yang mengagumkan. Meski mungkin terlambat baginya, Tn. Jung kini hanya ingin menjadi Appa yang baik bagi Yonghwa. Sesuatu yang dulu tidak dia lakukan pada Yongdo.

*****

Seoul

"Kopi?" Sebuah suara datang dari arah belakang, saat Kyuhyun sedang duduk sendiri diatap rumah sakit. Lelaki itu termenung, memikirkan apa yang akan dia lakukan pada hubungannya dengan Seohyun setelah ini.

Kyuhyun menoleh kebelakang, dan mendapati Taeyeon sedang datang mendekat dengan membawa dua cup kopi ditangannya. Kyuhyun tersenyum dan menerimanya.

"Gomawoyo, Euisan-Nim."

"Taeyeon. Panggil saja aku Taeyeon. Kau adalah kakaknya Joohyun dan aku adalah sepupu Jung Yonghwa. Aku rasa hubungan yang complicated ini sudah cukup untuk membuat kita bisa berbicara lebih nyaman mulai saat ini." Mereka berduapun tersenyum. Taeyeon lalu duduk tepat disamping Kyuhyun.

"Kau pasti sangat lelah, Kyuhyun Ssi."

"Nde, majayo. Sebenarnya, kata khawatir mungkin lebih tepat untuk mendeskripsikannya. Akhir-akhir ini, aku semakin mencemaskan Joohyun. Tentang penyakitnya, tentang hubungan kami, dan tentang apa yang akan terjadi pada kami saat aku memberitahu semua kebenaran ini padanya." Kyuhyun menundukan kepalanya dalam sisa senyum pahit itu.

"Aku mengerti. Bukan hal yang mudah saat suatu hari seseorang tiba-tiba datang kedalam hidupmu dan mengatakan bahwa kau punya seorang kakak. Joohyun pasti akan sangat shock.

Tapi... aku yakin, seiring waktu, dia akan mulai menerimanya. Bahkan seharusnya dia senang, karena dia tidak lagi hidup seorang diri, melainkan ada seorang Oppa yang sangat menyayangi dan akan melindunginya." Taeyeon tersenyum tulus. Kyuhyun masih menundukkan wajahnya dengan senyum pahit yang sama. Lalu pria itu mulai menatap kedepan sambil menghela nafasnya yang terasa berat.

"Aku harap semua akan semudah itu, Taeyeon Ssi. Aku benar-benar berharap, reaksi yang dia keluarkan hanya keterkejutan saja. Hhh..." Kyuhyun menghembuskan nafasnya.

"Tapi aku tahu, masalahku tidak akan usai sampai disitu." Kyuhyun kembali menunduk.

"Waeyo?" Taeyeon menatapnya semakin dalam.

"Joohyun mungkin akan sangat membenciku andai dia tahu apa yang sudah aku lakukan pada Eomma-ku. Uri Eomma." Lelaki itu kembali menghela nafas berat.

"Sebelumnya aku minta maaf, bila aku terkesan terlalu jauh masuk kedalam cerita pribadimu, Kyuhyun Ssi. Tapi sungguh, aku tidak punya maksud lain. Aku hanya bersikap sebegai seseorang yang mengenal Joohyun. Jadi, bila kau membutuhkan sesuatu, kau bisa mengatakannya padaku. Atau... bila kau membutuhkan teman untuk minum kopi dan bercerita sesuatu, kau bisa menghubungiku kapanpun itu." Taeyeon mengusap pundak Kyuhyun disampingnya dengan senyum tulus.

"Gomawoyo, Taeyeon Ssi. It means a lot for me." Kyuhyun membalas senyumnya dengan senyum teduh.

"Saat ini, kau fokus saja dalam menjaga kesehatanmu. Karena bila semua memungkinkan, bulan depan kita bisa menjalani prosedur pencangkokan sumsum tulang belakang untuk adikmu. Sejauh ini, sumsum tulang milikmu dan juga Tn. Seo lah yang paling cocok. Dan kami akan mengandalkanmu, mengingat usia Tn. Seo yang sudah tidak muda lagi."

"Nde. Arasoyo."

"Apa Tn. Seo masih tidak ingin menemui putrinya?" Sekali lagi Taeyeon bertanya.

"Aku sudah membujuknya, Taeyeon Ssi. Tapi sepertinya.. Ahjussi punya pemikiran lain. Mungkin nanti, saat Joohyun berhasil melewati penyakitnya dan proses pencangkokan itu berjalan dengan baik."

Author Note :
Thank you for keep waiting and reading this story. Hhh... rasanya... pengen bilang ke Kyuhyun.. "Come to mama, Sweetie!"
So.. jangan benci Kyuhyun yaaah...



6 komentar:

  1. Thank you juga krn udh update lagi...
    Kita gk prnh bosan buat baca dan ttp nunggu, semoga author ttp shat jd bsa trus update..
    Fighting..~~~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... makasih yah, buat doa kebaikannya. makasih juga, selalu baca coret2an ga jelas ini.. hehehe...

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Makasih kak udah dilanjutin ceritanya suka banget,untuk yg selanjut nya ku tunggu selalu semangat yah

    BalasHapus
  4. Makasih kak udah dilanjutin ceritanya suka banget,untuk yg selanjut nya ku tunggu selalu semangat yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2.. ^^
      aku juga makasih yaah.. dah mau baca... keep waiting, next chapter lagi on process niih...

      Hapus