In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 28
She's Gone
Yonghwa POV
'Dear : The brightest person
i ever knew.. Jung Yonghwa
Saat aku termenung sendiri
didalam kamarmu selama kau di Busan, banyak hal yang terlintas dalam fikiranku.
Kamar ini, meski hanya sekejap mata, tapi kenangan termanis dalam masa mudaku
pernah terekam disini. Saat aku terjaga disebuah pagi yang dingin, dipenghujung
musim gugur dan kudapati tubuhku terkunci dalam dekapanmu.
Geun nal. Andai aku bisa
menghentikan waktuku saat itu. Andai aku bisa mengekang rentang waktu terbaik
itu....
Lalu kusadari bahwa mimpiku
terlalu tinggi. Aku terlalu tamak, berpaling dari kenyataan bahwa kita...
masing-masing menghadap arah mata angin yang berbeda.
Saat kau membaca suratku,
mungkin aku sudah berada di suatu tempat dimana sebuah benua besar dan samudera
teramat luas membentang antara kau dan tempatku berdiri kini. Sesuatu yang
semakin mempertegas, bahwa jarak antara kita memang ada dan nyata. Selama ini
kita hanya berusaha menyangkal dan bertahan dengan mimpi semu kita.
Mianhae, Oppa...! Karena
pergi seperti ini tanpa menunggumu pulang dan mengucapkan terima kasih dengan
lebih layak, maafkan aku. Katakanlah aku ini seorang pengecut yang mungkin akan
seketika merubah keputusanku begitu aku melihat kedua matamu. Aku tak mampu.
Oppa, ada hal didunia ini
yang terjadi diluar kuasa kita sebagai manusia. Meski sekeras apapun kita
mencoba, satu hal yang tak akan pernah kita menangkan. Takdir. Ya. Takdir.
Geurigo, geumanhae. Kau tak
perlu lagi berlari begitu keras untuk bisa mengejarnya. Kau juga tidak perlu
lagi melewati hari-hari yang panjang dan melelahkan hanya untuk satu hal yang
kita sebut itu cinta. Love is never be enough, Oppa. Dan orang-orang dewasa
seperti kita aku rasa seharusnya menyadari realita itu.
Lepaskanlah, Oppa. Lepaskan
aku dan biarkan takdirmu kembali berotasi ditempat yang seharusnya seperti saat
sebelum kau mengenalku.
Geurigo ajik... gomawoseo.
Neomu gomawoseo. Untuk dua musim terbaik sepanjang hidupku yang kulewati
bersamamu, jinjja gomawo. Aku mendoakanmu untuk selalu bahagia, bagaimanapun
itu.
Apeujima, seulpohajima.
Jebbal... orae orae haengbokhae! Jung Yonghwa.'
Dua tahun yang lalu, kutemukan surat itu diatas tempat tidurku. She
wasn't there. Not even her scent. Seperti seorang pesakitan, aku berlari
menggila menyusuri setiap sudut dalam rumahku. Kamarnya tampak kosong,
buku-buku diatas meja kerjanya tak satupun berderet disana. Lalu kubuka lemari
pakaiannya dan kudapati semua pakainyannya pun lenyap. Hanya tersisa satu helai
gaun yang dia kenakan minggu lalu di Busan.
Lalu aku semakin gila. Menerobos hujan lebat dimusim salju tanpa
payung ataupun jaket menutupi tubuhku. Aku bahkan lupa memakai sepatuku. Hanya
dengan slipper tipis bergambar kepala doraemon, aku berlari menelusuri
tempat-tempat yang mungkin aku bisa menemukannya disana.
But... She has gone. For good and goodness sake, she said. Tsk...
what a fvckin shit! Kenyataannya adalah, dia merampas semua hak-ku untuk
bahagia. She took everything and let me be a zoombi once again after i done
with those fvcking tears. She turned me to be a man with a heart beating everyday, but lost it function to
feel.
Aku mendengar segalanya dari Taeyeon Noona dan juga Cho Kyuhyun, yang
ternyata adalah kakak kandungnya. Aku mendengar semuanya. Termasuk tentang
Leukimia yang mereka fikir itulah yang menjadi alasan Joohyun pergi dari
hidupku. Untuk menyelamatkanku dari penderitaan lebih besar bila leukimia itu
harus merenggut hidupnya pada akhirnya.
Ya, Joohyun-ku... gadis bodoh itu, memeluk luka-luka itu dengan bahu
kecilnya seorang diri. Aku mengerti, neraka macam apa yang sedang dia hadapi,
dan aku tahu ketakutan macam apa yang harus dia perangi. Aku pernah
menjalaninya. Aku tahu semua itu tak akan semudah saat aku mengatakan
'gwaenchanna' padanya.
Demi Tuhan, aku mengerti!
Tapi bukan itu!
Yang menyakitkanku adalah... She didn't trust me! She was doubting
me! Sangat menyakitkan untukku, saat kusadari keberadaanku tidak cukup untuk
memberinya alasan dan kekuatan untuk tetap tinggal. Cintaku, tidak cukup
untuknya. Dan dia memaksaku untuk mengerti realita ini dengan teori
'kedewasaan' yang dia tulis dalam surat terakhirnya. Tsk.. dewasa!! Seo Joohyun sudah dewasa, hingga menurutnya
meninggalkanku adalah sebuah kebaikan yang akan membuatku berterima kasih
padanya.
Yeah, thanks to her.. for wasting my tears this whole years. Thanks to
her... because now i know, how tasty Jack Daniels is. Thanks to her... for give
me the chance to fvck so many beautiful and sexy idols here. But damn... i
cried like an insane after i fvcked them all because i miss her so much! I miss
her so much, for God's sake!
Sore ini, aku dan CNBLUE tiba di Manhattan untuk menggelar konser kami
lusa malam. 30 bulan tanpanya, aku dan CNBLUE berhasil melahirkan 3 album
dengan hampir 90% lagu ciptaanku. We're superstar now. Setiap album, kubuat
seperti sebuah kisah yang menyampaikan pesan. Berharap ditempatnya kini geun phabo yeoja, bisa mendengar
teriakanku. Tentang betapa mengerikannya hidupku selepas kepergiannya. Tentang
rinduku, yang kupenjara sekuat hatiku.
New York, kota ini, tempat dimana gadis itu bersembunyi.
Mwo? Tentu saja aku tahu. Putra pemilik Venus Hotel, sekaligus vocalis
sebuah band yang cukup terkenal tidak hanya di Asia tapi juga di Eropa dan
Amerika, tentu saja tidak sulit untuk menemukan kemana gadis itu pergi.
Berkali-kali Kyuhyun Hyung menyuruhku untuk pergi menemui adiknya dengan
bermacam alasan yang dia buat, tapi aku menolaknya. Begitupun Yoona. Dia bahkan
bertemu dengan Joohyun di kota ini saat dia menghadiri sebuah fashion show
musim panas lalu. Yoona memberiku alamat lengkap dimana Joohyun tinggal,
meneruskan sekolahnya dan manjadi tenaga sukarelawan bagi anak-anak penderita
kanker di Manhattan, lalu memintaku untuk menemuinya. Tapi lagi-lagi kutolak.
If she really want to see me, then she'll come back here and find me.
But the fact that she left me behind, it just showed me that she didn't want
to be found. Ya, seperti pintanya terakhir kali dalam suratnya, maka aku hanya
harus melepaskannya dan membiarkannya hilang.
Entah sampai kapan.....
For now, i only give her space to breathe, as i keep my distance so
she could find those missing pieces that she need. Setidaknya saat ini gadis
itu sudah sembuh total. Aku bisa mengekang rasa rinduku selagi aku tahu bahwa
Joohyun-ku sehat, dan hidup dengan baik meski dia berada dibelahan bumi yang
luput dari jangkauan mataku. Ya, setidaknya dia hidup.
Hudson river, with that pink sunset. Aku berdiri menghadap aliran
sungai membentang dengan riak yang begitu tenang. Sunset. Lagi-lagi
mengingatkanku padanya. Meski aku membencinya setelah kepergian itu, tapi aku
tak mampu menyangkal bahwa aku sangat merindukannya. Not even a single day went
through without missing her. Tanpa kusadari, aku kerap memanggil namanya dalam
hatiku, dan berbicara sendiri seolah Joohyun ada dan mendengarnya.
'Apa kabarmu, Seo Joohyun?
Hyun... ?'
Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu menetes dikepalaku. Ough... hujan
datang tepat waktu. Saat mentari mulai tenggelam, usai aku puas menatapnya,
kubiarkan gerimis ini membasahi kepalaku. Berharap kenangan-kenangan itu akan
hilang dan terbasuh oleh derasnya hujan.
Impossible!
Hujan hanya akan membuat kenangannya semakin pekat.
Kuseret kedua kakiku berjalan menelusuri pedestrian sepanjang Hudson
River yang kini mulai lengang. Mungkin karena hujan, orang dengan fikiran yang
sehat pasti akan memilih berteduh saat mereka tidak membawa payungnya. Tidak
sepertiku. Membiarkan tubuhku basah kuyup, sambil menikmati tetes demi tetes
air hujan ditelapak tanganku.
Who cares, anyway?
'Seo Joohyun, do you see
this rain? Can you feel it? Huh? We're under the same sky now. Breathe the same
air. Can you feel it?'
Damn... i feel like i'm about to cry again.... huuufhht....
Langkahku terhenti didepan seorang pengamen jalanan yang sedang
memetik gitar akustiknya dibawah rintik hujan. She's a girl with her blonde
long hair and those beautiful blue eyes. Dari caranya memetik senar-senar gitar
itu, aku bisa menilai bahwa gadis ini cukup mahir dengan gitarnya.
Aku berdiri beberapa meter dihadapannya untuk melihat dan menikmati
musiknya. Hanya aku satu-satunya audience yang dia miliki karena seperti yang
kukatakan, orang dengan fikiran yang sehat tidak akan melakukan apa yang aku
dan gadis ini lakukan dibawah hujan.
She look at me and smile. Lalu beberapa saat kemudian, dia mulai
bernyanyi.
When will I see you again?
You left with no goodbye
Not a single word was said..
No final kiss to seal any
seams
I had no idea of the state
we were in
I know I have a fickle heart
and bitterness
And a wandering eye
And a heaviness in my head
But don't you remember?
Don't you remember?
The reason you loved me
before
Baby, please remember me
once more
'Setelah kepergianmu, waktu menjadi sesuatu yang sulit untuk kuhadapi.
Sangat menakutkan. Detik berjalan terasa lambat, sambil kuhitung berapa lama
lagi luka ini akan lenyap seiring senja berganti pagi. Wajahmu tak pernah hilang
dalam benak. Tak pernah sedetikpun. Dan kenangan ini, meski kerap menyakitiku,
namun hanya ini hal berharga yang kau tinggalkan...'
When was the last time you
thought of me?
Or have you completely
erased me from your memory?
I often think about where I
went wrong
The more I do, the less I
know
But I know I have a fickle
heart and bitterness
And a wandering eye
And a heaviness in my head
But don't you remember?
Don't you remember?
The reason you loved me
before
Baby, please remember me
once more
'Mengapa? Ketika kau bisa memilih untuk tetap disisiku, kau justru
memilih untuk menempuh jalan penuh duka itu? Berapa banyak air matamu yang
terjatuh tanpa aku tahu dan membantumu mengusapnya? Seberapa dingin dan sepinya
malam-malam dingin yang kau berjuang melawannya dengan rasa sakit itu? Sendiri.
Tanpaku. Didn't you ever think about me, even once? Huh? Don't you miss me, Seo
Joohyun?'
Gave you the space so you
could breathe
I kept my distance so you
would be free
And hope that you find the
missing piece
To bring you back to me
Why don't you remember?
Don't you remember?
The reason you loved me
before,
Baby, please remember me
once more,
When will I see you again?
'Kau, pelukis senyumku, juga seseorang yang menjadi alasan air mata ini
tertumpah. Tercurah. Terkuras.
Kau, darimu aku mengenal bahagia, juga tempat darimana luka ini
berasal.
Kau, irama cinta yang gagal aku mainkan. Betapapun jutaan nada ada
dalam genggamanku.
Sebanyak luka yang kini kurasa, aku tahu... bahwa kau pun tidak
bahagia.
Saat ini, dibawah derasnya hujan... Sambil mengingat wajahmu. Aku
merindukanmu, Seo Joohyun. Sangat!'
Gadis itu menatapku iba. Damn! I
swear to God that i've already stop crying like this since last year. But
now... I totally looked like an idiot who is crying like a boy under the rain,
dinegara yang asing, dan dihadapan orang yang sama sekali tak kukenal. I can't
help it. I miss her to the point that i think i would die here.
*****
Aku merebahkan tubuh lelahku diatas sofa kamar hotelku. Bajuku
benar-benar basah kuyup hingga aku sempat tertahan oleh petugas security karena
penampilanku yang berantakan ini. Syukurlah, Jonghyun dan Yoona menemukanku
disana dan mengantarku kekamarku.
"Bak mandimu sudah kuisi air
hangat. Cepat, bersihkan tubuhmu dan ganti bajumu! Kau memang gila, Yonghwa ah!
Kau tahu bahwa lusa kalian akan melakukan konser, bukan? Bagaimana bisa kau
membiarkan tubuhmu basah kuyup seperti itu?" Yoona mulai lagi dengan omelannya.
Meski begitu, sahabat terbaikku itu tetap saja menyiapkan pakaian gantiku, lalu
segera menyiapkan secangkir kopi ginseng untukku.
"Palli, phabo ah! Kau ingin
aku menyeretmu, huh? Jangan kau fikir aku tidak berani menelanjangimu dan
memaksamu mandi, ya!!" Gadis itu kembali sengit dan menyorotkan mata
tajamnya ke arahku. Beruntung, Jonghyun ada disana dan menghentikan gadis
sangar itu dengan menarik tangannya sambil berisyarat dengan matanya.
"Geumanhae. Berhentilah
mencereweti dia seperti itu." That's
my Jonghyun!
"Itu karena kau dan dua
maknae kalian selalu membiarkannya melakukan hal semaunya sendiri. Lihat...
orang akan berfikir dia ini orang gila, Jonghyun ah! Bahkan dia tidak diijinkan
masuk oleh security dibawah tadi!"
"Ara! Tapi kita tidak perlu
memperlakukan dia seperti anak kecil, Yoona ah. Geumanhae! Yang terpenting saat
ini dia sudah disini, bukan?"
"Mwo? Siapa yang memang
seperti anak kecil?" Lalu Yoona kembali menatapku. "Aku tahu, Yonghwa
ah... kau terluka dengan apa yang terjadi. Tapi kau ini laki-laki! Aku sudah
memberimu alamat dimana kau bisa menemukannya, bukan? Kau hanya tinggal
menemuinya, bukan malah berbuat bodoh seperti ini!"
"Im Yoona,
Geumanhae!!!" Omo.. baru kali ini aku mendengar Jonghyun membentak
Yoona-nya seperti itu.
"Mwo? Kau
membentakku?!"
"Ani ah... bukan begitu!
Haisshh!! Yoona ah... apa semua perempuan memang punya jalan berfikir
sepertimu, huh? Kalian berfikir seolah semua itu mudah untuk kami.. lelaki..
untuk melakukan apa yang kalian fikirkan. Just so you know, Honey... she left
him! Dia meninggalkan Yonghwa dan itu artinya... dia tidak ingin lagi
bersamanya. Dan kau semudah itu memaksa Yonghwa untuk menemuinya? Come on..
girl! Let him keep his pride! At least, hanya itu yang tersisa darinya setelah
Joohyun mengambil semuanya."
Igae mwo ya? Kenapa mereka jadi
bertengkar karena aku? Aku nyaris bangkit dari posisiku untuk menghentikan
mereka tapi..
"Karena kalian.. para
lelaki.. terlalu menjaga ego kalian, seolah itu adalah satu-satunya hal
berharga dalam hidup kalian. Tidakkah kau fikir bahwa Joohyun pergi dengan luka
yang tidak kita fahami? I knew, she left him, but i do understand... she need
someone to find her, somehow. Salah satu dari mereka setidaknya harus
menghentikan penderitaan mereka. Bukan menyerah begitu saja sambil menikmati
luka-luka itu."
"Nah... ini!! Fikiranmu ini!
Kalian perempuan, selalu berfikir bahwa hanya kalian yang punya perasaan. Cuma
kalian yang bisa terluka. Asal kau tahu, Honey... lelaki juga bisa patah hati.
Seharusnya Joohyun lebih tahu, neraka macam apa yang akan dia ciptakan bila dia
pergi dari hidup Yonghwa. But she chose to leave, right? Jadi bila kau bertemu
lagi dengannya, katakan padanya... dia berhasil menghancurkan hidup sahabatku!
Dan aku tidak akan memaafkannya!"
"Mwo?!!"
"Geumanhae!!!!"
Akhirnya... aku tidak tahan lagi. Telingaku benar-benar sakit mendengar
teriakan mereka. Dan juga kepalaku. Ough....
"Go.. go!! Hush!!" Aku
mendorong dua orang itu dengan sisa tenagaku kearah pintu.
"Yak... apa yang kau
lakukan?" Yoona menatapku kebingungan.
"Mwo? Kau benar-benar ingin
aku menelanjangi tubuhku dihadapanmu, huh?" Aku membalas tatapan tajamnya.
Gadis itupun meringis.
"Huh? Mwo?" Yoona
kehilangan kata-katanya.
"Geunyang palli kha!!!
Kalian membuat kepalaku sakit, tahu!! Go away!" Aku sekali lagi mendorong
punggung mereka, hingga mereka berhasil terlempar ke luar dari kamarku.
Hhh.. pasangan yang aneh. Mereka
tidak pernah gagal membuatku tersenyum karena tingkah aneh mereka. Aku
benar-benar iri. 80% waktu yang mereka habiskan bersama biasanya akan terisi
dengan keributan seperti tadi. Tapi tak pernah sekalipun keduanya berpisah.
Ya, aku iri!
Usai mandi dan mengganti
pakaianku, aku menjatuhkan tubuhku diatas tempat tidur. Detik-detik mengerikan
itu perlahan kembali setiap kali aku sendiri tanpa ditemani siapapun. Lagi-lagi
bayang wajahnya yang kini seolah tergambar di langit-langit kamarku yang kini
kutatap.
Ah... bukunya....
Buku yang kubeli di Seoul musim
panas tahun lalu. Novel perdananya.
Seo Joohyun kini menjadi seorang
penulis terkenal di Korea. Meski tubuhnya berada di Amerika, tapi
tulisan-tulisannya bisa dinikmati pecinta novel di negara kami. Tentu saja,
semua itu berkat 'seseorang' di Gangnam Soul yang tidak lain adalah kakak
kandungnya. Bahkan kudengar, akhir tahun ini Violet Sun Set akan dijadikan
sebuah drama yang di produksi oleh SBS. Wow... it would be so great, if i can
be James Golden di drama itu, mengingat kisah dalam novelnya terasa tak asing
untukku. Atau mungkin nama James bisa diganti dengan Jung Yonghwa yang jauh
lebih cocok dan lebih realistis untuk sebuah drama Korea. Aku yakin, tidak akan
ada yang lebih hebat dariku dalam memerankan tokoh James Golden. Akan aku
tunjukan pada dunia, cinta dari sekotak coklat itu aku balas dengan seluruh hidupku.
Tapi Violet menolaknya, dan melemparnya ketempat sampah!
Tanganku meraih Violet Sun Set
yang covernya mulai rusak karena kerap kubawa dan kubaca dimanapun aku berada.
Aku kembali membuka halaman kedua buku itu. Prolog.
Bagian yang paling aku benci, tapi kubaca ratusan kali.
'Untukmu, yang berdiri dibalik kabut
Tenggelam dalam gelap sambil memeluk rindu
Dikamar sepi, dimana tapak-tapak kenangan itu terserak
Kau fikir, aku akan kembali menemukanmu disana
Ditempat cahaya pagi menampakkan diri
Ditempat cinta dan segala rasa itu pernah merajai
Terkutuklah aku!
Terkutuklah aku untuk luka yang kini merenggut sinar itu dari kedua
matamu
Cinta abadiku...
Andai kau tahu...
Rindu ini sudah cukup menghukumku
Aku rindu.....'
Huuffhttt..... dadaku selalu
terasa berat setiap kali aku usai membacanya.
"Hhhh... apa yang sebenarnya
kau inginkan, Seo Joohyun? Wae? Kenapa kau lakukan ini padaku? Pada kita?"
*****
Seohyun POV
Besok! Hari yang kuhitung setiap
detiknya, akhirnya tiba. Sejak sebulan yang lalu, setiap hari kulewati sambil
menyilang tanggal demi tanggal di kalender mejaku dengan spidol merah.
Menghitung mundur waktu kedatangannya. Cinta abadiku... yang kuhempas setahun
yang lalu. He's coming!
Kutatap lagi selembar tiket
diatas meja kerjaku. Lekat, aku masih tak percaya bahwa aku akhirnya membelinya
juga. Bertarung dengan remaja-remaja perempuan yang menamai diri mereka BOICE
dalam antrian yang sangat panjang hanya untuk mendapatkan tiket ini. Bodohnya
aku! Aku tahu, aku bisa mendapatkan tiket konsernya dengan mudah melalui
pembelian online, tapi aku lebih memilih untuk berdiri dalam desakan-desakan
itu. Wae? Karena aku ingin berdiri ditempat yang aku bisa melihatnya, tapi dia
tak akan bisa melihatku.
Pengecut!!
Begitulah aku. Dua setengah tahun
ini, kukenakan topeng dengan wajah tegar dan ceria. Bersembunyi dari kejaran
sepi dan serangan rindu-rindu yang mungkin akan membunuhku. Leukimia itu
berhasil kukalahkan. Beruntung, Eomma menghadiahkan seorang Oppa untukku usai
kepergiannya. Meski terkadang, Hyo Eonni bilang, aku masih sesekali bersikap
dingin yang membuat Oppa-ku tersiksa dengan rasa bersalahnya.
Demi Tuhan, aku tak pernah
bermaksud seperti itu. Aku hanya butuh waktu untuk menata kembali puzzle-puzzle
hidupku yang masih berserakan. Untuk segala yang tiba-tiba itu, aku butuh waktu
untuk menyiapkan ruang baginya dalam hidupku. Tapi aku mulai menyayanginya.
Bahkan sejak awal, aku sangat menyukai dan menghormati Oppa-ku. He's trully a
gentleman. Baik aku ataupun Kyuhyun Oppa, kami berdua hanya dua orang yang
terlahir dengan jalan hidup istimewa. Kita tidak bisa menghakimi masa lalu
untuk apa yang kita miliki saat ini. Dibalik semua itu, aku masih
mensyukurinya. Memiliki Appa berhati malaikat, dan juga seorang Oppa yang luar
biasa. Apalagi yang harus kupinta? Aku tidak boleh serakah dengan mengharapkan
Yonghwa untuk membuka kembali peluknya untukku.
Aku harus tahu diri!
Lelaki itu, sepertinya kini
memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Lebih bebas. Lebih bahagia. Kudengar
dari Taeyeon Eonni, bahwa dia menolak tawaran Appa-nya untuk mengelola Hotel
keluarga mereka, dan lebih memilih untuk berpetualang bersama CNBLUE.
Ddaengida. Tanpaku, ternyata tidak seburuk itu. He's alive. Breathe, healthy,
wealthy, and success. Dia memiliki semua alasan untuk menjadi pria yang
bahagia.
Tanpaku!
Hujan. Aku sangat menyukai
jalanan St. Nicholas Ave yang basah dan berkilau ketika hujan turun. Pantulan
lampu jalan terlihat sangat cantik disetiap sudut pedestrian. Dari balik
jendela kamarku, aku menikmati pemandangan itu. Lalu bayang wajahnya hadir.
"Oppa.., seharusnya saat ini
kau sudah berada di kota ini. Apa kabarmu? Bagaimana menurutmu musim panas di
New York? Apa udaranya lebih panas dari Seoul?
Oppa.. apa kau sudah berada di
Hotelmu saat ini? Apa kau juga sedang melihat hujan ini?"
Tanpa kusadari, deretan kalimat
itu begitu saja mengalun dari mulutku sambil kunikmati rintik-rintik hujan
menyentuh tanganku yang ku ulurkan keluar jendela.
"Neomu... bogoshipposeo, Mr.
Gold..."
Huuffhhh.... kenapa aku seperti
ini lagi? Andwe!! Aku tidak boleh mengacaukan segalanya lagi. Semua sudah
kembali pada tempatnya semula.
Aku kembali ketempat dudukku
dibalik meja kerjaku. Kubiarkan kaca jendela kamarku terbuka, agar aku masih
bisa mencium aroma tanah dan mendengar gemericik tiap tetesnya. Lalu aku
teringat pada 3 buah Hard Cover Album yang Jungshin kirimkan untukku. Mungkin
anak itu mendapatkan alamatku dari Kyuhyun Oppa. Dan aku juga yakin, Yonghwa
juga tahu tempat dimana aku berada kini.
Tapi tak sekalipun dia pernah
menghubungiku, apalagi datang mencariku.
Ya, gadis pengecut ini masih saja
begitu rakus. Bukankah semua itu memang permintaanku, agar dia melepasku dan
merelakan kisah kita usai begitu saja? Lalu untuk apa aku berharap bahwa suatu
pagi dia akan muncul dan berdiri didepan pintuku? Aku memang tidak tahu diri!
Aku mengambil salah satu album
mereka. Album perdananya. Satu-satunya album yang sudah pernah aku buka
kemasannya, dan kulihat isinya. Perlahan, jemariku menelusuri gambar wajahnya
dalam Album yang berbentuk Photo Book itu. Dari semua foto yang tercetak
disana, tak satupun kudapati kedua matanya menatap kamera. Dia seperti sengaja
menghindarinya. Beberapa adalah foto-foto candid, dimana Yonghwa-ku tampak sedang
menundukan wajahnya, atau bahkan hanya menampakkan punggungnya saja. Bahkan
meski hanya melihat punggungnya saja, aku bisa melihat seberapa berat beban itu
dan seberapa lelahnya dia.
Cinta abadiku.....
Dan untuk pertama kalinya,
akhirnya kucoba menguatkan hatiku untuk memutar CD itu dan mendengarkan
suaranya. Ya. Tak pernah sekalipun aku mendengar lagu-lagunya. Aku sengaja
menghindarinya. Aku takut. Sangat takut. Membaca lirik-lirik yang dia tulis
saja sudah membuat jantungku terasa seakan berhenti berdetak. Apalagi jika aku
harus mendengar suaranya?
Tapi kali ini, aku akan
membiarkan hati dan fikiranku terhukum oleh kerindunku sendiri. 30 bulan,
bukankah aku ini terlalu payah hingga harus bersembunyi selama itu? Bahkan dari
perasaanku sendiri! Setidaknya hanya sekali. Toh lusa aku akan melihat
konsernya. Melihat wajah malaikat itu lagi..
Clik... CD nya mulai berputar
dalam player-ku.
Don’t come back
Now everything I say is for you
Don’t come back
This is for you who I can’t let go
My smile that’s engraved in your eyes and
The scent that’s drenched in your arms
Erase them all!
Love is.. originally cruel
Love is.. originally piercing
Love is.. originally like fire
But knowing all that we still love
Don’t come back
Trying to push you away, it’s for me
Don’t come back
A cowardly man, it’s for me
My warmth that’s left in your hands
My traces that are buried in your heart
Erase them all!
Love is.. originally cruel
Love is.. originally piercing
Love is.. originally like fire
But knowing all that we still love
Breakups are all.. originally painful
Breakups are all.. originally aching
Breakups are all.. like that
They grow into memories that will be remembered
Dan entah sejak kapan, kusadari
bahwa aku mulai tersedu lagi. Terisak lagi.
Suara itu. Suaranya...
Yonghwa-ku. Jung Yonghwa. Mendengar bait demi bait, dengan suara sendunya...
Tuhan... apa yang sudah aku
lakukan padanya? Aku bisa merasakannya. Yonghwa-ku sedang melagukan lukanya.
Love Is... apakah ini yang dia maksud?
'Kau... yang entah berada dibelahan bumi yang mana kini. Dengarlah..
dan rasakan. Semoga nada-nada sederhana ini cukup kuat untuk bisa mengetuk
hatimu lagi. Jebbal ddorawa...'
Kalimat itu tertulis dalam cover
album perdananya. Untukku kah?
Tuhan.. bodohnya aku!
Menggila, aku membuka kemasan 2
album lainnya yang masih dalam bentuk utuh karena belum aku apa-apakan sama
sekali. Seperti kukatakan tadi. Aku terlalu pengecut dan takut bila saat aku
membukanya, melihat foto-fotonya, mendengar lagu-lagunya, maka pertahanan
diriku akan runtuh seketika.
Benar saja! Damn!! Kenapa aku
baru membukanya sekarang?
Dalam lembar lirik 'Without You' kutemukan lagi sebuah
pesan. Sebuah foto taman belakang dengan bangku kosong disana. Aku tahu tempat
itu. Villa keluarganya, tempat dimana kami melihat salju pertama turun.
'Kau ingat? Tanpamu, waktuku benar-benar terhenti. Tanpamu, Sunset.
Tanpamu...'
Dan aku kembali menggila. Aku
membuka kemasan album yang terakhir. Lagi-lagi aku menemukannya.
'Bagaimana Sunset ditempatmu, Violet? Tidakkah kau ingin pulang?' Don't
you missing me, Love?'
Violet? Igae mwo ya? Apa yang dia
lakukan? Ani! Bukankah dari artikel-artikel yang beredar selama ini dia selalu
dikelilingi oleh gadis-gadis cantik, sexy dan popular? Wae geurae? Masihkah
terasa sakit? Luka-luka yang kusebabkan, belum sembuhkah?
Jung Yonghwa... Nan ijae
ottokhae? Aku harus bagaimana sekarang?
Author Note :
As always.. really sorry for the very late update. Banyak hal yang terjadi yang sedikitnya membuat sudut pandang saya dalam menulis juga berubah. But over all... i chose to keep walking on the path that i used to through since the very first place. So, thank you very much for all support you've gave and keep reading my very lame story and cheer me up. Detik-detik menuju chapter final niih,,,

Daebak ..suka baca ff awak ..jalan cerita menarik 👍👍👍👍👍
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSukses bikin air mata meleleh....
BalasHapusTak sabar menunggu next chapter unni...
Tiap hari cek tp blom ada update lanjutan nya :(
BalasHapusHmmm titunggu chapter seterusnya 😞
BalasHapusHmmm titunggu chapter seterusnya 😞
BalasHapusSis, tiap hari berkunjung ke blog mu tapi ga ada update lanjutan nya, sampe di baca berulang2 yg ada 😭 fighting sista...
BalasHapusYeorobun-deul, jeongmal mianhaeyo... dooh.. saya memang author tidak berbakti. kemaren ini sibuk bulan puasa plusssss kerjaan kantor yang ga kasih saya toleransi buat nulis. Inshaa Allah, lagi saya re-touched chapter selanjutnya. moga2 ga lama saya update yah. Jeongmal mianhaeyo, do.. neomu gomawoyo... #Bow
BalasHapusSampe uda lupa dan di baca berulang2 sis ff nya 😁
BalasHapusi can't say anything but... Daebaaakkk.... keren bgt, teh..
BalasHapus