Kamis, 31 Maret 2016

In Time With You Chapter 28



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8



Chapter 28

She's Gone

Yonghwa POV

'Dear : The brightest person i ever knew.. Jung Yonghwa

Saat aku termenung sendiri didalam kamarmu selama kau di Busan, banyak hal yang terlintas dalam fikiranku. Kamar ini, meski hanya sekejap mata, tapi kenangan termanis dalam masa mudaku pernah terekam disini. Saat aku terjaga disebuah pagi yang dingin, dipenghujung musim gugur dan kudapati tubuhku terkunci dalam dekapanmu.

Geun nal. Andai aku bisa menghentikan waktuku saat itu. Andai aku bisa mengekang rentang waktu terbaik itu....

Lalu kusadari bahwa mimpiku terlalu tinggi. Aku terlalu tamak, berpaling dari kenyataan bahwa kita... masing-masing menghadap arah mata angin yang berbeda.

Saat kau membaca suratku, mungkin aku sudah berada di suatu tempat dimana sebuah benua besar dan samudera teramat luas membentang antara kau dan tempatku berdiri kini. Sesuatu yang semakin mempertegas, bahwa jarak antara kita memang ada dan nyata. Selama ini kita hanya berusaha menyangkal dan bertahan dengan mimpi semu kita.

Mianhae, Oppa...! Karena pergi seperti ini tanpa menunggumu pulang dan mengucapkan terima kasih dengan lebih layak, maafkan aku. Katakanlah aku ini seorang pengecut yang mungkin akan seketika merubah keputusanku begitu aku melihat kedua matamu. Aku tak mampu.

Oppa, ada hal didunia ini yang terjadi diluar kuasa kita sebagai manusia. Meski sekeras apapun kita mencoba, satu hal yang tak akan pernah kita menangkan. Takdir. Ya. Takdir.

Geurigo, geumanhae. Kau tak perlu lagi berlari begitu keras untuk bisa mengejarnya. Kau juga tidak perlu lagi melewati hari-hari yang panjang dan melelahkan hanya untuk satu hal yang kita sebut itu cinta. Love is never be enough, Oppa. Dan orang-orang dewasa seperti kita aku rasa seharusnya menyadari realita itu.

Lepaskanlah, Oppa. Lepaskan aku dan biarkan takdirmu kembali berotasi ditempat yang seharusnya seperti saat sebelum kau mengenalku.

Geurigo ajik... gomawoseo. Neomu gomawoseo. Untuk dua musim terbaik sepanjang hidupku yang kulewati bersamamu, jinjja gomawo. Aku mendoakanmu untuk selalu bahagia, bagaimanapun itu.

Apeujima, seulpohajima. Jebbal... orae orae haengbokhae! Jung Yonghwa.'

Dua tahun yang lalu, kutemukan surat itu diatas tempat tidurku. She wasn't there. Not even her scent. Seperti seorang pesakitan, aku berlari menggila menyusuri setiap sudut dalam rumahku. Kamarnya tampak kosong, buku-buku diatas meja kerjanya tak satupun berderet disana. Lalu kubuka lemari pakaiannya dan kudapati semua pakainyannya pun lenyap. Hanya tersisa satu helai gaun yang dia kenakan minggu lalu di Busan.

Lalu aku semakin gila. Menerobos hujan lebat dimusim salju tanpa payung ataupun jaket menutupi tubuhku. Aku bahkan lupa memakai sepatuku. Hanya dengan slipper tipis bergambar kepala doraemon, aku berlari menelusuri tempat-tempat yang mungkin aku bisa menemukannya disana.

But... She has gone. For good and goodness sake, she said. Tsk... what a fvckin shit! Kenyataannya adalah, dia merampas semua hak-ku untuk bahagia. She took everything and let me be a zoombi once again after i done with those fvcking tears. She turned me to be a man with a heart  beating everyday, but lost it function to feel.

Aku mendengar segalanya dari Taeyeon Noona dan juga Cho Kyuhyun, yang ternyata adalah kakak kandungnya. Aku mendengar semuanya. Termasuk tentang Leukimia yang mereka fikir itulah yang menjadi alasan Joohyun pergi dari hidupku. Untuk menyelamatkanku dari penderitaan lebih besar bila leukimia itu harus merenggut hidupnya pada akhirnya.

Ya, Joohyun-ku... gadis bodoh itu, memeluk luka-luka itu dengan bahu kecilnya seorang diri. Aku mengerti, neraka macam apa yang sedang dia hadapi, dan aku tahu ketakutan macam apa yang harus dia perangi. Aku pernah menjalaninya. Aku tahu semua itu tak akan semudah saat aku mengatakan 'gwaenchanna' padanya.

Demi Tuhan, aku mengerti!

Tapi bukan itu!

Yang menyakitkanku adalah... She didn't trust me! She was doubting me! Sangat menyakitkan untukku, saat kusadari keberadaanku tidak cukup untuk memberinya alasan dan kekuatan untuk tetap tinggal. Cintaku, tidak cukup untuknya. Dan dia memaksaku untuk mengerti realita ini dengan teori 'kedewasaan' yang dia tulis dalam surat terakhirnya. Tsk.. dewasa!! Seo Joohyun sudah dewasa, hingga menurutnya meninggalkanku adalah sebuah kebaikan yang akan membuatku berterima kasih padanya.

Yeah, thanks to her.. for wasting my tears this whole years. Thanks to her... because now i know, how tasty Jack Daniels is. Thanks to her... for give me the chance to fvck so many beautiful and sexy idols here. But damn... i cried like an insane after i fvcked them all because i miss her so much! I miss her so much, for God's sake!

Sore ini, aku dan CNBLUE tiba di Manhattan untuk menggelar konser kami lusa malam. 30 bulan tanpanya, aku dan CNBLUE berhasil melahirkan 3 album dengan hampir 90% lagu ciptaanku. We're superstar now. Setiap album, kubuat seperti sebuah kisah yang menyampaikan pesan. Berharap ditempatnya kini geun phabo yeoja, bisa mendengar teriakanku. Tentang betapa mengerikannya hidupku selepas kepergiannya. Tentang rinduku, yang kupenjara sekuat hatiku.

New York, kota ini, tempat dimana gadis itu bersembunyi.

Mwo? Tentu saja aku tahu. Putra pemilik Venus Hotel, sekaligus vocalis sebuah band yang cukup terkenal tidak hanya di Asia tapi juga di Eropa dan Amerika, tentu saja tidak sulit untuk menemukan kemana gadis itu pergi. Berkali-kali Kyuhyun Hyung menyuruhku untuk pergi menemui adiknya dengan bermacam alasan yang dia buat, tapi aku menolaknya. Begitupun Yoona. Dia bahkan bertemu dengan Joohyun di kota ini saat dia menghadiri sebuah fashion show musim panas lalu. Yoona memberiku alamat lengkap dimana Joohyun tinggal, meneruskan sekolahnya dan manjadi tenaga sukarelawan bagi anak-anak penderita kanker di Manhattan, lalu memintaku untuk menemuinya. Tapi lagi-lagi kutolak.

If she really want to see me, then she'll come back here and find me. But the fact that she left me behind, it just showed me that she didn't want to be found. Ya, seperti pintanya terakhir kali dalam suratnya, maka aku hanya harus melepaskannya dan membiarkannya hilang.

Entah sampai kapan.....

For now, i only give her space to breathe, as i keep my distance so she could find those missing pieces that she need. Setidaknya saat ini gadis itu sudah sembuh total. Aku bisa mengekang rasa rinduku selagi aku tahu bahwa Joohyun-ku sehat, dan hidup dengan baik meski dia berada dibelahan bumi yang luput dari jangkauan mataku. Ya, setidaknya dia hidup.

Hudson river, with that pink sunset. Aku berdiri menghadap aliran sungai membentang dengan riak yang begitu tenang. Sunset. Lagi-lagi mengingatkanku padanya. Meski aku membencinya setelah kepergian itu, tapi aku tak mampu menyangkal bahwa aku sangat merindukannya. Not even a single day went through without missing her. Tanpa kusadari, aku kerap memanggil namanya dalam hatiku, dan berbicara sendiri seolah Joohyun ada dan mendengarnya.

'Apa kabarmu, Seo Joohyun? Hyun... ?'

Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu menetes dikepalaku. Ough... hujan datang tepat waktu. Saat mentari mulai tenggelam, usai aku puas menatapnya, kubiarkan gerimis ini membasahi kepalaku. Berharap kenangan-kenangan itu akan hilang dan terbasuh oleh derasnya hujan.

Impossible!

Hujan hanya akan membuat kenangannya semakin pekat.

Kuseret kedua kakiku berjalan menelusuri pedestrian sepanjang Hudson River yang kini mulai lengang. Mungkin karena hujan, orang dengan fikiran yang sehat pasti akan memilih berteduh saat mereka tidak membawa payungnya. Tidak sepertiku. Membiarkan tubuhku basah kuyup, sambil menikmati tetes demi tetes air hujan ditelapak tanganku.

Who cares, anyway?

'Seo Joohyun, do you see this rain? Can you feel it? Huh? We're under the same sky now. Breathe the same air. Can you feel it?'

Damn... i feel like i'm about to cry again.... huuufhht....

Langkahku terhenti didepan seorang pengamen jalanan yang sedang memetik gitar akustiknya dibawah rintik hujan. She's a girl with her blonde long hair and those beautiful blue eyes. Dari caranya memetik senar-senar gitar itu, aku bisa menilai bahwa gadis ini cukup mahir dengan gitarnya.

Aku berdiri beberapa meter dihadapannya untuk melihat dan menikmati musiknya. Hanya aku satu-satunya audience yang dia miliki karena seperti yang kukatakan, orang dengan fikiran yang sehat tidak akan melakukan apa yang aku dan gadis ini lakukan dibawah hujan.

She look at me and smile. Lalu beberapa saat kemudian, dia mulai bernyanyi.

When will I see you again?
You left with no goodbye
Not a single word was said..
No final kiss to seal any seams
I had no idea of the state we were in

I know I have a fickle heart and bitterness
And a wandering eye
And a heaviness in my head

But don't you remember?
Don't you remember?
The reason you loved me before
Baby, please remember me once more

'Setelah kepergianmu, waktu menjadi sesuatu yang sulit untuk kuhadapi. Sangat menakutkan. Detik berjalan terasa lambat, sambil kuhitung berapa lama lagi luka ini akan lenyap seiring senja berganti pagi. Wajahmu tak pernah hilang dalam benak. Tak pernah sedetikpun. Dan kenangan ini, meski kerap menyakitiku, namun hanya ini hal berharga yang kau tinggalkan...'

When was the last time you thought of me?
Or have you completely erased me from your memory?
I often think about where I went wrong
The more I do, the less I know

But I know I have a fickle heart and bitterness
And a wandering eye
And a heaviness in my head

But don't you remember?
Don't you remember?
The reason you loved me before
Baby, please remember me once more

'Mengapa? Ketika kau bisa memilih untuk tetap disisiku, kau justru memilih untuk menempuh jalan penuh duka itu? Berapa banyak air matamu yang terjatuh tanpa aku tahu dan membantumu mengusapnya? Seberapa dingin dan sepinya malam-malam dingin yang kau berjuang melawannya dengan rasa sakit itu? Sendiri. Tanpaku. Didn't you ever think about me, even once? Huh? Don't you miss me, Seo Joohyun?'

Gave you the space so you could breathe
I kept my distance so you would be free
And hope that you find the missing piece
To bring you back to me

Why don't you remember?
Don't you remember?
The reason you loved me before,
Baby, please remember me once more,
When will I see you again?


'Kau, pelukis senyumku, juga seseorang yang menjadi alasan air mata ini tertumpah. Tercurah. Terkuras.

Kau, darimu aku mengenal bahagia, juga tempat darimana luka ini berasal.

Kau, irama cinta yang gagal aku mainkan. Betapapun jutaan nada ada dalam genggamanku.

Sebanyak luka yang kini kurasa, aku tahu... bahwa kau pun tidak bahagia.

Saat ini, dibawah derasnya hujan... Sambil mengingat wajahmu. Aku merindukanmu, Seo Joohyun. Sangat!'

Gadis itu menatapku iba. Damn! I swear to God that i've already stop crying like this since last year. But now... I totally looked like an idiot who is crying like a boy under the rain, dinegara yang asing, dan dihadapan orang yang sama sekali tak kukenal. I can't help it. I miss her to the point that i think i would die here.

*****

Aku merebahkan tubuh lelahku diatas sofa kamar hotelku. Bajuku benar-benar basah kuyup hingga aku sempat tertahan oleh petugas security karena penampilanku yang berantakan ini. Syukurlah, Jonghyun dan Yoona menemukanku disana dan mengantarku kekamarku.

"Bak mandimu sudah kuisi air hangat. Cepat, bersihkan tubuhmu dan ganti bajumu! Kau memang gila, Yonghwa ah! Kau tahu bahwa lusa kalian akan melakukan konser, bukan? Bagaimana bisa kau membiarkan tubuhmu basah kuyup seperti itu?" Yoona mulai lagi dengan omelannya. Meski begitu, sahabat terbaikku itu tetap saja menyiapkan pakaian gantiku, lalu segera menyiapkan secangkir kopi ginseng untukku.

"Palli, phabo ah! Kau ingin aku menyeretmu, huh? Jangan kau fikir aku tidak berani menelanjangimu dan memaksamu mandi, ya!!" Gadis itu kembali sengit dan menyorotkan mata tajamnya ke arahku. Beruntung, Jonghyun ada disana dan menghentikan gadis sangar itu dengan menarik tangannya sambil berisyarat dengan matanya.

"Geumanhae. Berhentilah mencereweti dia seperti itu." That's my Jonghyun!

"Itu karena kau dan dua maknae kalian selalu membiarkannya melakukan hal semaunya sendiri. Lihat... orang akan berfikir dia ini orang gila, Jonghyun ah! Bahkan dia tidak diijinkan masuk oleh security dibawah tadi!"

"Ara! Tapi kita tidak perlu memperlakukan dia seperti anak kecil, Yoona ah. Geumanhae! Yang terpenting saat ini dia sudah disini, bukan?"

"Mwo? Siapa yang memang seperti anak kecil?" Lalu Yoona kembali menatapku. "Aku tahu, Yonghwa ah... kau terluka dengan apa yang terjadi. Tapi kau ini laki-laki! Aku sudah memberimu alamat dimana kau bisa menemukannya, bukan? Kau hanya tinggal menemuinya, bukan malah berbuat bodoh seperti ini!"

"Im Yoona, Geumanhae!!!" Omo.. baru kali ini aku mendengar Jonghyun membentak Yoona-nya seperti itu.

"Mwo? Kau membentakku?!"

"Ani ah... bukan begitu! Haisshh!! Yoona ah... apa semua perempuan memang punya jalan berfikir sepertimu, huh? Kalian berfikir seolah semua itu mudah untuk kami.. lelaki.. untuk melakukan apa yang kalian fikirkan. Just so you know, Honey... she left him! Dia meninggalkan Yonghwa dan itu artinya... dia tidak ingin lagi bersamanya. Dan kau semudah itu memaksa Yonghwa untuk menemuinya? Come on.. girl! Let him keep his pride! At least, hanya itu yang tersisa darinya setelah Joohyun mengambil semuanya."

Igae mwo ya? Kenapa mereka jadi bertengkar karena aku? Aku nyaris bangkit dari posisiku untuk menghentikan mereka tapi..

"Karena kalian.. para lelaki.. terlalu menjaga ego kalian, seolah itu adalah satu-satunya hal berharga dalam hidup kalian. Tidakkah kau fikir bahwa Joohyun pergi dengan luka yang tidak kita fahami? I knew, she left him, but i do understand... she need someone to find her, somehow. Salah satu dari mereka setidaknya harus menghentikan penderitaan mereka. Bukan menyerah begitu saja sambil menikmati luka-luka itu."

"Nah... ini!! Fikiranmu ini! Kalian perempuan, selalu berfikir bahwa hanya kalian yang punya perasaan. Cuma kalian yang bisa terluka. Asal kau tahu, Honey... lelaki juga bisa patah hati. Seharusnya Joohyun lebih tahu, neraka macam apa yang akan dia ciptakan bila dia pergi dari hidup Yonghwa. But she chose to leave, right? Jadi bila kau bertemu lagi dengannya, katakan padanya... dia berhasil menghancurkan hidup sahabatku! Dan aku tidak akan memaafkannya!"

"Mwo?!!"

"Geumanhae!!!!" Akhirnya... aku tidak tahan lagi. Telingaku benar-benar sakit mendengar teriakan mereka. Dan juga kepalaku. Ough....

"Go.. go!! Hush!!" Aku mendorong dua orang itu dengan sisa tenagaku kearah pintu.

"Yak... apa yang kau lakukan?" Yoona menatapku kebingungan.

"Mwo? Kau benar-benar ingin aku menelanjangi tubuhku dihadapanmu, huh?" Aku membalas tatapan tajamnya. Gadis itupun meringis.

"Huh? Mwo?" Yoona kehilangan kata-katanya.

"Geunyang palli kha!!! Kalian membuat kepalaku sakit, tahu!! Go away!" Aku sekali lagi mendorong punggung mereka, hingga mereka berhasil terlempar ke luar dari kamarku.

Hhh.. pasangan yang aneh. Mereka tidak pernah gagal membuatku tersenyum karena tingkah aneh mereka. Aku benar-benar iri. 80% waktu yang mereka habiskan bersama biasanya akan terisi dengan keributan seperti tadi. Tapi tak pernah sekalipun keduanya berpisah.

Ya, aku iri!

Usai mandi dan mengganti pakaianku, aku menjatuhkan tubuhku diatas tempat tidur. Detik-detik mengerikan itu perlahan kembali setiap kali aku sendiri tanpa ditemani siapapun. Lagi-lagi bayang wajahnya yang kini seolah tergambar di langit-langit kamarku yang kini kutatap.

Ah... bukunya....

Buku yang kubeli di Seoul musim panas tahun lalu. Novel perdananya.

Seo Joohyun kini menjadi seorang penulis terkenal di Korea. Meski tubuhnya berada di Amerika, tapi tulisan-tulisannya bisa dinikmati pecinta novel di negara kami. Tentu saja, semua itu berkat 'seseorang' di Gangnam Soul yang tidak lain adalah kakak kandungnya. Bahkan kudengar, akhir tahun ini Violet Sun Set akan dijadikan sebuah drama yang di produksi oleh SBS. Wow... it would be so great, if i can be James Golden di drama itu, mengingat kisah dalam novelnya terasa tak asing untukku. Atau mungkin nama James bisa diganti dengan Jung Yonghwa yang jauh lebih cocok dan lebih realistis untuk sebuah drama Korea. Aku yakin, tidak akan ada yang lebih hebat dariku dalam memerankan tokoh James Golden. Akan aku tunjukan pada dunia, cinta dari sekotak coklat itu aku balas dengan seluruh hidupku. Tapi Violet menolaknya, dan melemparnya ketempat sampah!

Tanganku meraih Violet Sun Set yang covernya mulai rusak karena kerap kubawa dan kubaca dimanapun aku berada. Aku kembali membuka halaman kedua buku itu. Prolog. Bagian yang paling aku benci, tapi kubaca ratusan kali.

'Untukmu, yang berdiri dibalik kabut
Tenggelam dalam gelap sambil memeluk rindu
Dikamar sepi, dimana tapak-tapak kenangan itu terserak
Kau fikir, aku akan kembali menemukanmu disana
Ditempat cahaya pagi menampakkan diri
Ditempat cinta dan segala rasa itu pernah merajai

Terkutuklah aku!
Terkutuklah aku untuk luka yang kini merenggut sinar itu dari kedua matamu

Cinta abadiku...
Andai kau tahu...
Rindu ini sudah cukup menghukumku
Aku rindu.....'

Huuffhttt..... dadaku selalu terasa berat setiap kali aku usai membacanya.

"Hhhh... apa yang sebenarnya kau inginkan, Seo Joohyun? Wae? Kenapa kau lakukan ini padaku? Pada kita?"

*****

Seohyun POV

Besok! Hari yang kuhitung setiap detiknya, akhirnya tiba. Sejak sebulan yang lalu, setiap hari kulewati sambil menyilang tanggal demi tanggal di kalender mejaku dengan spidol merah. Menghitung mundur waktu kedatangannya. Cinta abadiku... yang kuhempas setahun yang lalu. He's coming!

Kutatap lagi selembar tiket diatas meja kerjaku. Lekat, aku masih tak percaya bahwa aku akhirnya membelinya juga. Bertarung dengan remaja-remaja perempuan yang menamai diri mereka BOICE dalam antrian yang sangat panjang hanya untuk mendapatkan tiket ini. Bodohnya aku! Aku tahu, aku bisa mendapatkan tiket konsernya dengan mudah melalui pembelian online, tapi aku lebih memilih untuk berdiri dalam desakan-desakan itu. Wae? Karena aku ingin berdiri ditempat yang aku bisa melihatnya, tapi dia tak akan bisa melihatku.

Pengecut!!

Begitulah aku. Dua setengah tahun ini, kukenakan topeng dengan wajah tegar dan ceria. Bersembunyi dari kejaran sepi dan serangan rindu-rindu yang mungkin akan membunuhku. Leukimia itu berhasil kukalahkan. Beruntung, Eomma menghadiahkan seorang Oppa untukku usai kepergiannya. Meski terkadang, Hyo Eonni bilang, aku masih sesekali bersikap dingin yang membuat Oppa-ku tersiksa dengan rasa bersalahnya.

Demi Tuhan, aku tak pernah bermaksud seperti itu. Aku hanya butuh waktu untuk menata kembali puzzle-puzzle hidupku yang masih berserakan. Untuk segala yang tiba-tiba itu, aku butuh waktu untuk menyiapkan ruang baginya dalam hidupku. Tapi aku mulai menyayanginya. Bahkan sejak awal, aku sangat menyukai dan menghormati Oppa-ku. He's trully a gentleman. Baik aku ataupun Kyuhyun Oppa, kami berdua hanya dua orang yang terlahir dengan jalan hidup istimewa. Kita tidak bisa menghakimi masa lalu untuk apa yang kita miliki saat ini. Dibalik semua itu, aku masih mensyukurinya. Memiliki Appa berhati malaikat, dan juga seorang Oppa yang luar biasa. Apalagi yang harus kupinta? Aku tidak boleh serakah dengan mengharapkan Yonghwa untuk membuka kembali peluknya untukku.

Aku harus tahu diri!

Lelaki itu, sepertinya kini memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Lebih bebas. Lebih bahagia. Kudengar dari Taeyeon Eonni, bahwa dia menolak tawaran Appa-nya untuk mengelola Hotel keluarga mereka, dan lebih memilih untuk berpetualang bersama CNBLUE. Ddaengida. Tanpaku, ternyata tidak seburuk itu. He's alive. Breathe, healthy, wealthy, and success. Dia memiliki semua alasan untuk menjadi pria yang bahagia.

Tanpaku!

Hujan. Aku sangat menyukai jalanan St. Nicholas Ave yang basah dan berkilau ketika hujan turun. Pantulan lampu jalan terlihat sangat cantik disetiap sudut pedestrian. Dari balik jendela kamarku, aku menikmati pemandangan itu. Lalu bayang wajahnya hadir.

"Oppa.., seharusnya saat ini kau sudah berada di kota ini. Apa kabarmu? Bagaimana menurutmu musim panas di New York? Apa udaranya lebih panas dari Seoul?

Oppa.. apa kau sudah berada di Hotelmu saat ini? Apa kau juga sedang melihat hujan ini?"

Tanpa kusadari, deretan kalimat itu begitu saja mengalun dari mulutku sambil kunikmati rintik-rintik hujan menyentuh tanganku yang ku ulurkan keluar jendela.

"Neomu... bogoshipposeo, Mr. Gold..."

Huuffhhh.... kenapa aku seperti ini lagi? Andwe!! Aku tidak boleh mengacaukan segalanya lagi. Semua sudah kembali pada tempatnya semula.

Aku kembali ketempat dudukku dibalik meja kerjaku. Kubiarkan kaca jendela kamarku terbuka, agar aku masih bisa mencium aroma tanah dan mendengar gemericik tiap tetesnya. Lalu aku teringat pada 3 buah Hard Cover Album yang Jungshin kirimkan untukku. Mungkin anak itu mendapatkan alamatku dari Kyuhyun Oppa. Dan aku juga yakin, Yonghwa juga tahu tempat dimana aku berada kini.

Tapi tak sekalipun dia pernah menghubungiku, apalagi datang mencariku.

Ya, gadis pengecut ini masih saja begitu rakus. Bukankah semua itu memang permintaanku, agar dia melepasku dan merelakan kisah kita usai begitu saja? Lalu untuk apa aku berharap bahwa suatu pagi dia akan muncul dan berdiri didepan pintuku? Aku memang tidak tahu diri!

Aku mengambil salah satu album mereka. Album perdananya. Satu-satunya album yang sudah pernah aku buka kemasannya, dan kulihat isinya. Perlahan, jemariku menelusuri gambar wajahnya dalam Album yang berbentuk Photo Book itu. Dari semua foto yang tercetak disana, tak satupun kudapati kedua matanya menatap kamera. Dia seperti sengaja menghindarinya. Beberapa adalah foto-foto candid, dimana Yonghwa-ku tampak sedang menundukan wajahnya, atau bahkan hanya menampakkan punggungnya saja. Bahkan meski hanya melihat punggungnya saja, aku bisa melihat seberapa berat beban itu dan seberapa lelahnya dia.

Cinta abadiku.....

Dan untuk pertama kalinya, akhirnya kucoba menguatkan hatiku untuk memutar CD itu dan mendengarkan suaranya. Ya. Tak pernah sekalipun aku mendengar lagu-lagunya. Aku sengaja menghindarinya. Aku takut. Sangat takut. Membaca lirik-lirik yang dia tulis saja sudah membuat jantungku terasa seakan berhenti berdetak. Apalagi jika aku harus mendengar suaranya?

Tapi kali ini, aku akan membiarkan hati dan fikiranku terhukum oleh kerindunku sendiri. 30 bulan, bukankah aku ini terlalu payah hingga harus bersembunyi selama itu? Bahkan dari perasaanku sendiri! Setidaknya hanya sekali. Toh lusa aku akan melihat konsernya. Melihat wajah malaikat itu lagi..

Clik... CD nya mulai berputar dalam player-ku.

Don’t come back
Now everything I say is for you
Don’t come back
This is for you who I can’t let go

My smile that’s engraved in your eyes and
The scent that’s drenched in your arms
Erase them all!

Love is.. originally cruel
Love is.. originally piercing
Love is.. originally like fire
But knowing all that we still love

Don’t come back
Trying to push you away, it’s for me
Don’t come back
A cowardly man, it’s for me

My warmth that’s left in your hands
My traces that are buried in your heart
Erase them all!

Love is.. originally cruel
Love is.. originally piercing
Love is.. originally like fire
But knowing all that we still love

Breakups are all.. originally painful
Breakups are all.. originally aching
Breakups are all.. like that
They grow into memories that will be remembered

Dan entah sejak kapan, kusadari bahwa aku mulai tersedu lagi. Terisak lagi.

Suara itu. Suaranya... Yonghwa-ku. Jung Yonghwa. Mendengar bait demi bait, dengan suara sendunya...

Tuhan... apa yang sudah aku lakukan padanya? Aku bisa merasakannya. Yonghwa-ku sedang melagukan lukanya. Love Is... apakah ini yang dia maksud?

'Kau... yang entah berada dibelahan bumi yang mana kini. Dengarlah.. dan rasakan. Semoga nada-nada sederhana ini cukup kuat untuk bisa mengetuk hatimu lagi. Jebbal ddorawa...'

Kalimat itu tertulis dalam cover album perdananya. Untukku kah?

Tuhan.. bodohnya aku!

Menggila, aku membuka kemasan 2 album lainnya yang masih dalam bentuk utuh karena belum aku apa-apakan sama sekali. Seperti kukatakan tadi. Aku terlalu pengecut dan takut bila saat aku membukanya, melihat foto-fotonya, mendengar lagu-lagunya, maka pertahanan diriku akan runtuh seketika.

Benar saja! Damn!! Kenapa aku baru membukanya sekarang?

Dalam lembar lirik 'Without You' kutemukan lagi sebuah pesan. Sebuah foto taman belakang dengan bangku kosong disana. Aku tahu tempat itu. Villa keluarganya, tempat dimana kami melihat salju pertama turun.

'Kau ingat? Tanpamu, waktuku benar-benar terhenti. Tanpamu, Sunset. Tanpamu...'

Dan aku kembali menggila. Aku membuka kemasan album yang terakhir. Lagi-lagi aku menemukannya.

'Bagaimana Sunset ditempatmu, Violet? Tidakkah kau ingin pulang?' Don't you missing me, Love?'

Violet? Igae mwo ya? Apa yang dia lakukan? Ani! Bukankah dari artikel-artikel yang beredar selama ini dia selalu dikelilingi oleh gadis-gadis cantik, sexy dan popular? Wae geurae? Masihkah terasa sakit? Luka-luka yang kusebabkan, belum sembuhkah?

Jung Yonghwa... Nan ijae ottokhae? Aku harus bagaimana sekarang?





Author Note :

As always.. really sorry for the very late update. Banyak hal yang terjadi yang sedikitnya membuat sudut pandang saya dalam menulis juga berubah. But over all... i chose to keep walking on the path that i used to through since the very first place. So, thank you very much for all support you've gave and keep reading my very lame story and cheer me up. Detik-detik menuju chapter final niih,,,

10 komentar:

  1. Daebak ..suka baca ff awak ..jalan cerita menarik 👍👍👍👍👍

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Sukses bikin air mata meleleh....
    Tak sabar menunggu next chapter unni...

    BalasHapus
  4. Tiap hari cek tp blom ada update lanjutan nya :(

    BalasHapus
  5. Hmmm titunggu chapter seterusnya 😞

    BalasHapus
  6. Hmmm titunggu chapter seterusnya 😞

    BalasHapus
  7. Sis, tiap hari berkunjung ke blog mu tapi ga ada update lanjutan nya, sampe di baca berulang2 yg ada 😭 fighting sista...

    BalasHapus
  8. Yeorobun-deul, jeongmal mianhaeyo... dooh.. saya memang author tidak berbakti. kemaren ini sibuk bulan puasa plusssss kerjaan kantor yang ga kasih saya toleransi buat nulis. Inshaa Allah, lagi saya re-touched chapter selanjutnya. moga2 ga lama saya update yah. Jeongmal mianhaeyo, do.. neomu gomawoyo... #Bow

    BalasHapus
  9. Sampe uda lupa dan di baca berulang2 sis ff nya 😁

    BalasHapus
  10. i can't say anything but... Daebaaakkk.... keren bgt, teh..

    BalasHapus