Sabtu, 18 April 2015

The World Within Chapter 11






The World Within

Author               : Jingga8
Genre                 : Romance
Rating                : M ( 18+ )
Cast                    : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Poster By           : Ismi Nuraulia




Tragedy...

Chapter 11

“HENTIKAN!! Angkat tanganmu!!”

Sekelompok polisi, dan 3 orang detektif berpakaian serba hitam tiba-tiba sudah berdiri dengan posisi siap menembak. Dibelakang mereka, terlihat juga Jung Yonghwa, Lee Jungshin, Lee Seunggi dan juga Nikkhun yang ‘bandel’ tetap ingin mengikuti proses pencarian itu.

Ketiga pria gila itu serentak mengangkat tangan mereka. Begitupun Jaeyeong. Dia segera menjatuhkan balok kayu ditangannya lalu kemudian mengangkat kedua tangannya.

“Jatuhkan badan kalian ke lantai! Dan letakkan tangan kalian diatas kepala kalian!”

Pria-pria psyco itu lalu mengikuti perintah detektif tadi. Yonghwa dan Jungshin panik, melihat Jonghyun terkapar tak berdaya di lantai dengan tubuh bersimbah darah. Keduanya segera berlari mendekati Jonghyun. Jungshin mengangkat kepala Jonghyun dan meletakkannya dipangkuannya. Tangannya bergetar saat didapatinya Jonghyun terkulai lemas tak sadarkan diri dengan wajah penuh luka dan kepalanya mengeluarkan darah.

“Hyung.. “ Suara Jungshin lirih nyaris tak terdengar. Air matanya mengalir deras tanpa disadarinya. Yonghwa pun tak kalah takutnya saat itu. Dia mengguncangkan tubuh Jonghyun dan berkali-kali memanggil-manggil namanya. Amarah dan kebencian semakin membuncah dalam dadanya. Bajingan-bajingan itu!!!! Matanya lalu melayang pada Seohyun yang masih terikat bersama Yoona dan Tiffany.

“Hyuuun...” Yonghwa segera bangkit dan hendak berlari mendekati Seohyun yang sedang menangis dengan darah yang mengalir dikeningnya. Tapi seorang polisi menahan tangannya dan melarangnya untuk mendekati mereka mengingat kondisi belum seutuhnya aman. Dan benar saja.

Saat polisi hendak memborgol tangan mereka, pria bernama Sungjae berhasil lolos dan dengan sigap mendekap Seohyun kemudian menodongkan pisaunya dileher Seohyun.

“Andweeee!!!!!” Yonghwa semakin histeris melihat kejadian itu, dan lagi-lagi polisi berusaha menahan dan menenangkannya.

“HAHAHAHAAAAA....!!!!” Suara pria gila itu menggema di ruangan itu. Matanya menatap Yonghwa dengan tajam.

“Akhirnya, kau datang, Jung Yonghwa! Ottae? Bagaimana perasaanmu melihat gadismu dalam pelukanku seperti ini? Mani Appha? Sakitkah? Hheeh... lihatlah gadismu ini sepuasnya sebelum kau tak lagi bisa melihatnya.”

“Han Sungjae, Lepaskan gadis itu dan segera serahkan dirimu sebelum kami menembakmu!”

Detektif Kang menodongkan pistolnya kearah Sungjae yang baru saja diketahui sebagai orang yang kerap mengirim terror pada Seohyun sejak 2010 lalu. Seohyun menyembuyikan fakta itu dari eonnie-eonnienya bahkan dari Yonghwa sekalipun. Dia tidak ingin membuat semua orang mengkhawatirkannya dan hanya menganggap semua ancaman juga terror itu sebagai isapan jempol belaka. Lagipula, dia merasa bahwa dia akan selalu aman karena dia tidak pernah pergi sendiri. Akan selalu ada manager, eonnie-deul atau Yonghwa yang selalu menemaninya pergi. Dan setelah kejadian penculikan itu, semua pihak berusaha mencari dan menelusuri kasus hilangnya Seohyun, Tiffany dan Yoona. Hingga akhirnya, Hyoyeon menemukan tumpukan surat disebuah kotak terkunci yang Seohyun sembunyikan didalam lemari pakaiannya. Sebenarnya sudah lama Hyo mencurigai kotak itu. Tapi Seohyun selalu bilang, itu bukan apa-apa dan hanya berisi barang-barang pribadinya. Meski rasanya janggal untuk Hyo, karena Seohyun bahkan sering menggeletakan diary nya diatas meja begitu saja tanpa takut seseorang akan membacanya. Karena memang sedekat apapun hubungan mereka, tidak ada satupun dari member SNSD yang pernah bersikap tidak sopan dengan menyentuh barang-barang pribadi member lainnya.

Setelah beberapa jam pencarian, akhirnya Hyo memberikan kotak yang terkunci itu pada detektif Kang dengan harapan, siapa tahu isi dari kotak itu bisa membantu memecahkan masalah itu dan memberi mereka petunjuk. Benar saja. Kotak itu berisi ancaman dan terror yang dilakukan Sungjae pada Seohyun. Karenanya, polisi segera bergerak dan melakukan tindakan. Lalu tidak lama kemudian Jonghyun memeberi kabar tentang jejak keberadaan mereka hingga pencarian menjadi lebih mudah.

Sungjae tampak semakin kalut dan semakin geram ketika sekali lagi Detektif Kang memintanya untuk melepaskan Seohyun.

“Kumohon, Han Seungjae… lepaskan Seo Joohyun Ssi sekarang juga!!!”

“SHIRO!!!!! LETAKAN SENJATAMU ATAU AKU AKAN BENAR-BENAR MEMOTONG KEPALANYA!!!!”

“Joohyun ah...” Yonghwa yang masih dalam genggaman petugas polisi semakin tak kuasa menahan dirinya saat pisau itu semakin direkatkan keleher Seohyun dan darah mulai menetes disana.

“Arraso!! Tahan dirimu, Han Sungjae! Kami tidak akan melukaimu tapi kau pun jangan melukai Seo Joohyun Ssi! Aku akan membuang pistolku!” Perlahan-lahan Detektif Kang melepatakan pistol nya dan mengangkat kedua tangannya. Gerakan itu diikuti oleh petugas yang lainnya.

“Jeowa!!” Sungjae tertawa puas.

“Jung Yonghwa!! Kemarilah!” Kini Sungjae mengarah pada Yonghwa.

“Oppa.. andwe!! Jangan kemari, aku mohon!!” Seohyun menangis histeris melihat Yonghwa yang kini berjalan mendekati mereka.

Lalu secepat kilat Sungjae mendorong Seohyun kemudian mencengkram Yonghwa dan mengarahkan pisaunya keleher Yonghwa. Seohyun semakin histeris melihat pemandangan itu.

“Seo Joohyun, kau sangat mencintai laki-laki ini, bukan? Bila aku berikan pilihan padamu, mana yang akan kau pilih? Mati... atau hidup tapi melihat namjamu mati dihadapanmu?”

“Mitjeoseo!!!” Seohyun semakin histeris.

“JAWAB AKU, PELCUR KECIL!!!”

“LEBIH BAIK AKU MATI DARIPADA KEHILANGANNYA!!! Bila kau meminta nyawaku, maka akan aku berikan dengan rela selama kau melepaskannya. Ania, kau menginginkanku kan? Kemarilah.. aku milikmu, dan lepaskan Jung Yonghwa! Kau ingin aku? Tubuhku? Jeowa... kini semua ini milikmu! TAPI DEMI TUHAN LEPASKAN JUNG YONGHWA!!!!” Tak dapat dipercaya bila teriakan itu keluar dari mulut gadis polos bernama Seo Joohyun.

“SEO JOOHYUN, NOEN MITJOSEO!!! Tutup mulutmu!!” Yonghwa tak tahan lagi mendengarnya. Seohyun-nya, andwe!! Dia tak rela Seohyun melakukan hal itu meski hanya sekedar dengan mulutnya.

“Whoooaaa... you’re a lover... GEUMANHAE!!!” Sungjae kembali meradang dan menggila.

“Seohyun ah.. kau benar-benar mencintainya melebihi dirimu sendiri. Geurae...” Sungjae melepaskan ikatan Seohyun dengan tangan kirinya sementara pisau di tangan kanannya tetap dia arahkan dileher Yonghwa. Tiffany dan Yoona masih menangis dalam ketidak berdayaan mereka.

“Ambil pisau dibawah kakimu itu, Seohyun ah!” Seohyun menuruti perkataan Sungjae dan mengambilnya dengan tangan bergetar.

“Seohyunie, andwe! Kumohon, baby... don’t do that!” Tiffany terisak membisikan itu pada Seohyun. Namun Seohyun hanya mendengar kata-kata Sungjae dan tetap menatap Yonghwa dihadapannya. Yonghwa tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, memberi isyarat pada Seohyun untuk tidak mendengarkan Sungjae.

“Sekarang kau putuskan! Aku yang lebih dulu menusukan pisau ini kelehernya, atau kau menusukan pisaumu ke perutmu sendiri?”

“ANDWEEEEEE!!!! JOOHYUN, ANDWEE!!! Honey, kumohon jangan gila Seo Joohyun, aku mohon! Jangan dengarkan bajingan ini!! KAU BAJINGAN, BILA INGIN MEMBUNUHKU LAKUKAN SAJA!!! JANGAN SENTUH JOOHYUN-KU!!” Yonghwa menangis histeris dalam cengkraman laki-laki sakit jiwa itu. Andwe.. hatinya benar-benar takut. Bukan karena dia takut kehilangan nyawanya, tapi dia takut Seohyun-nya akan melakukan hal gila yang diperintahkan oleh Sungjae.

“Han Sungjae, kumohon tenangkan dirimu! Kami berjanji tidak akan melukaimu jika kau melepaskan mereka. Bekerjasamalah!” Detektif Kang masih berdiri ditempatnya dengan mengangkat tangannya.

“SHIRO!!! Aku tidak akan membiarkan dua orang ini hidup bahagia! Bila aku tidak bisa bahagia, maka mereka harus lebih menderita dariku!! SEKARANG PUTUSKAN SEO JOOHYUN, ATAU AKU AKAN BENAR-BENAR MEMOTONG LEHERNYA!!!” Sungjae tidak main-main. Pisau itu benar-benar nyaris tertancap dileher Yonghwa dan Seohyun melihat darah mulai mengalir disana. Lalu...

“JOOHYUNAAAAAAAAHHHHH!!!! ANDWEEEEE!!!!!!”

Doorrr!!!!!

Sebuah tembakan mendarat dikepala Han Sungjae beberapa detik setelah pisau yang Seohyun tancapkan diperutnya sendiri.

Yonghwa mendekap gadis berlumuran darah itu diiringi jerit tangisnya. Tak lama tim medis datang dan segera memberi pertolongan pada Seohyun dan Jonghyun. Yoona dan Tiffany berhasil diselamatkan dan keduanya segera direngkuh oleh dekapan Nikkhun dan Seunggi. Mereka menangis sejadinya-jadinya dipelukan kekasih masing-masing. Pria berbaju merah yang ternyata bernama Oh Jinhyuk dan si gendut yang bernama Kim Wonhye yang diketahui sebagai Saesang fans yang memang sangat terobsesi pada Yoona dan Tiffany, mereka berhasil diamankan dan digiring menuju mobil polisi. Begitupun dengan Moon Jaeyeong. Setan betina itu kini sudah ditunggu oleh ancaman penjara seumur hidup atas dakwaan penculikan, penganiayaan dan percobaan pembunuhan. Dia sudah merencanakan semua ini dan memanfaatkan 3 orang Saesang fans seperti Sungjae, Jinhyuk dan Wonhye untuk melayangkan aksinya. Rupanya dia tahu, bahwa Yoona, Tiffany dan Seohyun akan pergi bertiga tanpa ditemani orang managemen mereka hari itu. Maka itu merupakan kesempatan yang sangat menguntungkan untuknya hingga dia segera mengkoordinasikan renacananya dengan 3 orang fans gila itu.

Selama 5 hari, Seohyun tak sadarkan diri. Meski operasinya berhasil, tapi pisau yang menancap diperutnya menyebabkan pendarahan hebat hingga dokter harus berusaha keras menyelamatkannya dari gagal organ. Entah berapa banyak air mata yang terkuras selama menantinya sadar. Yonghwa bahkan nyaris putus asa karena Seohyun-nya tak juga kunjung membuka matanya. Syukurlah, dihari ke-5, malaikatnya berhasil melewati masa kritisnya dan akhirnya membuka matanya. Sejak saat itu, Yonghwa tidak ingin mempedulikan apapun lagi. Dia tidak peduli lagi pada apa yang akan dunia katakan tentang cintanya pada Seohyun. Dia tidak ingin bersembunyi lagi.

Melalui sebuah konferensi pers, akhirnya Yonghwa ditengah kesedihannya karena tragedy yang terjadi pada Seohyun dan Jonghyun akhirnya mengatakan pada public bahwa ya.. sebenarnya dia sudah bersama Seohyun sejak 2011 beberapa bulan setelah WGM mereka berakhir. Yonghwa menjelaskan bahwa sejak mereka menjalani WGM pun perasaan untuk Seohyun sudah ada. Dan perasaan itu semakin terasa nyata saat program pernikahan virtual mereka harus berakhir dan membuat mereka terpaksa harus terpisah. Yonghwa menjelaskan segalanya dari proses awal hingga akhir. Bahkan tentang rumor yang kerap menghubung-hubungkan dirinya dengan Park Shinhye. Semua disangkalnya. Shinhye tidak lebih dari sekedar sahabat lama yang bahkan jarang sekali bertemu ataupun berkomunikasi. Selain karena kesibukan mereka, Yonghwa juga tidak ingin membuat Seohyun merasa tidak nyaman karena semua itu. Ulah sebagian Haters saja sudah cukup membuat Seohyun-nya terluka dan Yonghwa tidak ingin membuatnya lebih tertekan lagi.

Tragedy ini membuat Yonghwa semakin geram pada kelakuan Dooley yang selama beberapa tahun ini dia biarkan saja karena permintaan Seohyun. Dia fikir, mereka tidak akan pernah melakukan hal gila yang menegerikan seperti ini. Karena kegilaan mereka, Yonghwa harus menanggung rasa sakit karena melihat orang yang paling dia cintai terkapar tak berdaya dengan berbagai macam kabel dan selang disekujur tubuhnya. Syukurlah, Seohyun segera sadarkan diri. Bila tidak, maka Yonghwa benar-benar akan berubah menjadi seorang pembunuh yang akan menghabisi Oh Jaeyeong  itu dengan tangannya sendiri. Malam itu pun, saat Seohyun berjuang dimeja operasi, Yonghwa dengan segunung amarahnya datang ke kantor polisi dan membuat keributan disana. Dia nyaris tidak mempedulikan apapun lagi demi bisa menghabisi perempuan gila yang sudah menyebabkan cinta dan adiknya nyaris kehilangan nyawa. Bila saja polisi-polisi malam itu gagal menahannya, maka tragedy yang lain akan terjadi dan menghancurkan hidupnya.

~To Be Continue~

Gomawoyo, goguma-deul… udah sabar baca fanfic gila ini. Kkk~
Don’t worry… semua sudah berlalu…. Hehehe…..

Jumat, 17 April 2015

The World Within Chapter 10






The World Within

Author               : Jingga8
Genre                 : Romance
Rating                : M ( 18+ )
Cast                    : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Poster By           : Ismi Nuraulia






Saesang Fans

Chapter 10

Flash back 3

Semua terlihat begitu gelap. Hanya temaram lampu minyak dan perapian kayu bakar yang dapat membatu penglihatan. Jonghyun mengendap-endap dibalik dinding sebuah bangker tua yang sekelilingnya ditutupi pepohonan dan semak belukar. Pantas saja saat tadi dirinya dan Jungshin mencari tempat ini terasa begitu sulit. Jika saja dirinya tidak jatuh dan tergelincir, mungkin dirinya pun tidak akan menemukan tempat ini. Dari tempatnya berdiri, dia bisa mendengar suara-suara itu.

“Jangan menyentuhku, bajingan!!!!” Sepertinya itu suara Tiffany. Dari nada suaranya, bisa dipastikan bahwa dia sedang menangis histeris. Jonghyun kembali mengendap-endap untuk mencari tempat agar dirinya bisa melihat situasi didalam dengan jelas. Dan diapun tiba dibalik sebuah jendela tua yang sebagian kacanya sudah banyak yang pecah. Dari sana dia bisa melihat segalanya dengan sangat jelas. Sebuah pemandangan yang mengiris hati dan membakar amarahnya.

Tiffany, Yoona dan Seohyun ketiganya diikat masing-masing disebuah kursi kayu. Tiffany dan Yoona sedang menangis ketakutan, sementara Seohyun wajahnya terkulai lemah dengan rambut terurai menutupi wajahnya. Jonghyun tidak tahu pasti apakah Seohyun sedang tertidur atau justru tidak sadarkan diri.

Dihadapan mereka saat itu berdiri 3 orang laki-laki. Satu orang diantara mereka terlihat sedikit gemuk. Sedang yang dua orang lain tampak relatif kurus. Selain itu, Jonghyun juga melihat seorang perempuan yang kurang lebih diusia yang sama dengan Yoona sedang duduk di sebuah kursi dan menyaksikan bagaimana ketiga lelaki itu menyiksa dan mengikat Seohyun, Yoona dan Tiffany dengan wajah puas.

“Ssssh...! Pelankan suaramu, sayang! Aku tidak ingin ada yang datang mengganggu bulan madu kita.” Laki-laki kurus berbaju merah itu mendekatkan wajahnya ke wajah Tiffany hingga nyaris mencium bibirnya. Tiffany tampak ketakutan tapi...

“Cuih!!!” Sementara kedua tangan dan kakinya terikat, Tiffany hanya bisa menyerang laki-laki itu dengan cara meludahinya. Pria itu lantas mengusap mukanya sambil tersenyum.

“Owhh.. yeobo, kau curang! Jangan sia-siakan ludahmu untuk kau hempaskan kewajahku. Aku akan mengambilnya langsung dari mulutmu. Eottae? Haruskah kulakukan sekarang?” Laki-laki gila itu kembali mendekatkan wajahnya hingga nyaris menyentuh wajah Tiffany.

“Geunyang Kkaaa, Saeki ah!!! Jangan berani-berani menyentuhku atau aku akan membunuhmu!!!” Tiffany mulai histeris. Yoona semakin menggigil ketakutan disampingnya. Benar-benar menguji kesabaran Jonghyun saat itu. Tapi dia sadar, dia tidak boleh bertindak gegabah, atau dia justru malah akan mencelakai ketiganya.

“Ow..ow..ow.. Uri Gom! Uugh.. kyeopta...! Kau bahkan terlihat lebih sexy saat kau marah seperti itu. Eottokhae? Aku semakin tidak sabar menunggu bulan madu kita, sayang!” Psyco itu benar-benar membuat Jonghyun nyaris kehilangan kesabarannya. Tapi tiba-tiba dia mendengar suara yang familiar di telinganya. Suara yang dirindukannya.

“Apa yang kalian inginkan? Apa kalian tahu apa yang sedang kalian lakukan? Saat ini mungkin polisi sedang menuju kemari dan akan segera menangkap kalian!” Dengan suara bergetar, Yoona terlihat sedang menguatkan dirinya. Sungguh mengiris hatinya, saat pemandangan itu tepat didepan matanya. Lalu perempuan yang sedang duduk itu kini berdiri dan perlahan, dia berjalan kearah Yoona.

“Apa yang aku inginkan? Kau sedang bertanya padaku, Miss Perfect?” Perempuan itu mendekatkan wajahnya tepat dihadapan wajah Yoona. Beberapa saat mereka berdua hanya saling menatap.

“Itu karena…. Kau adalah temanya.” Perempuan itu menunjukkan telunjuknya pada Seohyun yang masih tertunduk lemas.

“Ya, satu-satunya kesalahanmu adalah karena kau adalah teman pelacur itu! Sejujurnya, aku tidak ada urusan denganmu. Meski terkadang caramu menyayangi perempuan itu benar-benar membuatku muak! Terutama kau, Hwang Migyeong!!!!” Kini tatapan perempuan gila itu mengarah tajam pada Tiffany sambil menunjuk penuh murka.

“Aku membencimu karena kau paling melindunginya. Kau melindunginya hingga diam-diam kau menfasilitasi segala keperluan pelacur itu untuk bisa bersama Yonghwa Oppa-ku dengan tenang. Kau yang paling mendukungnya dalam hal ini. Dan terakhir kali, saat aku berhasil memisahkan mereka dengan artikel yang kumuat di internet tentang Heirs dan Shinhye Eonnie dulu, kau yang menyatukan mereka kembali. Kau yang membantu Yonghwa Oppa mendapatkan hati pelacur ini lagi. Dan karena itu… kau juga harus mati saat ini!!!!” Perempuan itu berteriak semakin gila.

 “Oppa... Yonghwa Oppa... tolong aku...” Dengan wajah yang masih lemah terkulai, Seohyun bergumam diantara sadar dan tidak sadar. Dan perempuan gila itu semakin menjadi saat mendengarnya. Dia berniat untuk menjambak rambut Seohyun namun lelaki yang sedari tadi berada didepan Seohyun menahan tangannya.

“Jangan berani menyentuhnya! Dia milikku!!” Lelaki itu berkata.

“Mwo? Yak!!! Jangan lupa bahwa kau bisa berada disini karena aku yang membawamu, Sungjae ah! Bukankah sedari tadi kau sudah melukainya, huh?!!” Perempuan gila itu semakin meradang.

“Kau benar, Jaeyeong ah! Tapi bukankah kau sudah menyerahkannya padaku? Aku masih ingin bermain bersamanya, jadi kumohon… pelan-pelan, Jaeyeong ah! Huh…?”

“Oppa… Yonghwa Oppa…” Seohyun kembali bergumam lirih.

“Sssshh... Angel.. Sungjae Oppa disini! Ehmm? Kau kesakitan? Apa yang sakit? Oppa minta maaf telah melakukan ini padamu. Tapi kau harus tahu, didunia ini hanya Oppa yang mencintaimu sebesar ini. Selain Oppa, semuanya palsu. Termasuk bajingan yang bernama Jung Yonghwa itu. Play Boy brengsek itu tidak pantas berada disisimu. Sadarlah, sayang! Hanya Oppa yang rela mengorbankan segalanya untukmu.” Sungjae menyentuh wajah Seohyun yang masih terkulai. Dia merapihkan rambut Seohyun yang terurai menutupi wajahnya. Tanpa Jonghyun sadari, air matanya mengalir begitu melihat wajah Seohyun penuh lebam dan keningnya mengeluarkan darah.

“Seohyun ah..! Bajingan!! Apa yang dia lakukan pada Seohyun?” Jonghyun berbisik sendiri sambil mengepalkan tangannya.

“Neol? Kalau kau mau membunuhku, maka lakukan saja. Jauhkan tangan kotormu dari wajahku!” Dengan suara yang lemah, Seohyun menatap pria di hadapannya dengan tatapan tajam tapi dingin tanpa emosi.

“Wae? Kenapa aku tak boleh menyentuhmu tapi kau biarkan bajingan bernama Yonghwa itu melakukannya? Dia bahkan bisa memelukmu, menciummu, membawamu kemanapun dia mau. WAE NAEGA ANDWE?!!!!” Pria itu tampak mulai marah dan Seohyun bergetar ketakutan.

“Seo Joohyun, dengarkan aku! Aku bisa menyentuhmu, menciummu, memelukmu, atau bahkan tidur denganmu bila aku mau. Aku tidak perlu persetujuanmu. Dan hentikan sikap sok suci itu sebelum aku benar-benar MUAK!!!! Satu lagi! Hentikan menyebut nama Jung Yonghwa atau aku akan benar-benar membunuhnya! Kau tidak ingin hal yang buruk terjadi padanya, bukan? Jadilah gadis yang baik dan penurut, maka aku jamin tidak akan terjadi apa-apa padamu dan juga padanya. Arratji?”

“NEOL MITJOSEO!!! Jangan pernah menyentuh namjaku!! Bila kau berani mendekatinya, akan aku bunuh kau dengan tanganku sendiri!!!” Saat itu giliran Seohyun yang mulai histeris. Tak disangka gadis yang lembut sepertinya, bisa berkata dengan begitu berani disaat seperti itu.

“Geurae! Aku memang gila! Tapi kau tahu siapa yang memaksaku menjadi seperti ini, huh? KAU!! Bajingan kecil sepertimu, yang berpura-pura seperti malaikat, tapi bertingkah seperti pelacur untuk laki-laki itu. Laki-laki yang bahkan hingga kini masih terus saja mengingkari hubungannya denganmu. Aku heran, kenapa Seo Joohyun yang genius bisa begitu bodoh mencintai laki-laki pengecut seperti itu?”

“TUTUP MULUTMU, BRENGSEK!!” Seohyun berteriak. Sungjae semakin marah mendengar teriakan itu. Dia nyaris melayangkan tangannya kearah wajah Seohyun, tapi tiba-tiba Yoona berhasil melepaskan ikatannya dan menyerang pria yang akan memukul Seohyun. Sungjae sontak merasa kaget, tapi pria berbadan gemuk yang merupakan orang bayaran Jaeyeong itu segera memegang tubuh Yoona dan menghentikan aksinya.

“Geumanhae, Yoona ah!!! Kau memang tidak bisa diperlakukan dengan halus. Oke, bila memang itu maumu, aku bisa berbuat lebih kejam dari ini.” Jaeyeong berteriak pada Yoona dan menyuruh Si gendut untuk kembali membuat Yoona duduk di kursinya dan kembali mengikatnya. Jaeyeong berjalan mendekati Seohyun dan menekukan kakinya hingga wajahnya berada sejajar dengan wajah Seohyun dihadapannya. Tangan kanannya meraih dagu Seohyun dan memaksanya untuk menengadah dan melihatnya.

“Aigoo… lihat wajahmu kini, Seo Joohyun!! Bahkan tanpa luka-luka itu pun wajahmu sudah sangat menyeramkan! Dan kini… HAHAHAHAH!!!! Aku ingin tahu, apa yang akan Yonghwa Oppa lakukan melihatmu buruk rupa seperti ini? Aku yakin, dia akan berlari ketakutan dan segera menyadari betapa bodohnya dia selama ini. Memilih untuk berada disisimu sementara Shinhye Eonnie jauh lebih baik darimu? Aku yakin, perempuan licik sepertimu sudah meracuni akal sehatnya hingga lelaki genius sepertinya rela meninggalkan perempuan sempurna seperti Shinhye Eonnie!” Jaeyeong menatap Seohyun tajam dan Seohyun membalasnya dengan tatapan serupa.

“Mwo? Shinhye Eonnie, katamu? Hah.. neol mitjin yeoja! Apa Shinhye Eonnie memintamu untuk melakukan ini padaku? Apa dia membayarmu untuk semua ini?” Seohyun menatapnya lebih tajam dan itu membuat Jaeyeong lebih marah.

“TUTUP MULUTMU, PELACUR!!! SHINHYE EONNIE-KU BUKAN ORANG MURAHAN SEPERTIMU!!!! Aku rela melakukan ini demi memberi keadilan untuknya. Aku akan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi miliknya!! DAN KAU HARUS MENERIMA BALASAN ATAS SEMUA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADANYA!!!!”

“APA SALAHKU PADANYA?!!!” Seohyun tak kalah sengit.

“Apa salahku padanya, huh? Kau bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara kami bertiga. Kau fikir Shinhye Eonnie akan berterima kasih padamu untuk semua ini? Kau fikir dia akan senang melihatmu melakukan ini? Kau bahkan tidak tahu siapa sebenarnya lelaki yang dia cintai kan? DAN ITU BUKAN YONGHWA, OPPA-KU… SEKIE AH!!!!”

PLAKKKK!!!!!

Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Seohyun dan kembali mengucurkan darah segar dari ujung bibirnya.

“Pelacur murahan!! Beraninya kau mengatakan itu, huh!!!! AKAN KUBUNUH, KAU!!!!” Perempuan gila itu mengambil sebatang kayu didekat kakinya dan hendak melayangkan pukulan itu kearah Seohyun.

Tiba-tiba...

BRAAAAGGGG!!!!!

Pintu kayu itu roboh hanya dengan satu tendangan saja. Akhirnya Jonghyun tidak bisa menahan dirinya lagi.

“Lepaskan mereka!!!” Binar murka menyala dimatanya.

Keempat orang itu serentak kaget melihat kemuncunculan Jonghyun yang tiba-tiba. Dengan berani Jonghyun hendak mendekati tiga laki-laki sakit jiwa itu, namun Sungjae dengan sigap mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya dan berusaha menyerang Jonghyun. Tiffany, Yoona dan Seohyun serentak berteriak kala pisau itu dilayangkan kearah Jonghyun dan nyaris mengenai perutnya. Namun berhasil dihindarinya, dan pisau itu hanya mengenai tangan kanannya.

Darah segar mulai mengalir ditangannya. Tapi tak dihiraukannya. Kini dia semakin gencar melayangkan serangan pada ketiga laki-laki itu. Ya! 3 lawan 1. Tidak terlalu sulit bagi pemegang sabuk hitam Judo dan taekwondo seperti Jonghyun untuk mengalahkan 3 bajingan picisan seperti itu. Ketiga laki-laki itu nyaris tumbang setelah menerima pukulan dan tendangan Jonghyun di sekujur tubuh mereka.

Tapi tiba-tiba...

“Berhenti sekarang, atau kau akan menyaksikan dengan tanganmu sendiri detik-detik saat pisau ini mengiris wajah wanita yang kau cintai!”

Pandangan mata Jonghyun langsung malayang pada Yoona yang sudah berada dalam dekapan Jaeyeong dengan pisau yang menempel diwajahnya. Jonghyun segera melepasakan laki-laki berbaju merah dalam cengramannya. Dan kedua pria itu dengan sigap memengangi Jonghyun dan mengikat kedua tangan dan kakinya.

Setelah dirasa Jonghyun sudah tidak berdaya dan tidak dapat memberi perlawanan, ketiga laki-laki itu dengan gencar melayangkan pukulan, tendangan, dan melemparkan segala properti yang ada disekeliling mereka untuk melukai Jonghyun. Darah segar tidak hanya mengalir dari tangannya. Tapi kini wajanya pun berubah merah karena aliran darah yang deras mengalir dari kepalanya. Pandangannya mulai mengabur, tapi Jonghyun berusaha untuk tetap sadar dan tidak menunjukan rasa sakitnya.

Matanya tidak sedikitpun beralih dari tatapan Yoona. Ya, Yoona yang kini sedang memandangnya dengan jerit tangisnya. Gwaenchanna, bila hari itu dia harus mati, dia rela. Tapi dia terlebih dulu harus memastikan kalau mereka selamat. Jadi kali ini dia tidak boleh roboh. Dia harus kuat. Batinnya.

Jaeyeong yang tadi mencengkram Yoona kini perlahan-lahan berjalan mendekati Jonghyun yang terkapar dilantai. Dia menjambak rambutnya dan membuat Jonghyun menengadahkan wajahnya kearahnya.

“Noel Ppabo namja! Jjinja Ppabo namja, Oppa! Kau tahu, Im Yoona mencapakanmu dan memilih Lee Seunggi untuk bersamanya. Untuk apa kau mengorbankan dirimu seperti ini hanya untuk perempuan tidak tahu diri seperti dia?”

“Jangan menyebut Yoona seperti itu dengan mulut busukmu, atau aku akan memotong lidahmu!!!” Dengan suara yang lemah, Jonghyun berusaha untuk bangkit namun sebuah tendangan sekali lagi mendarat dikepalnya.

“Oppaaaaa!!!!!” Yoona berteriak histeris melihat Jonghyun yang kembali terhempas dilantai.

“Whoooo... Mrs Perfect, berteriak? Wae? Kau masih mencintainya? Kau masih mencintai laki-laki yang kau buang seperti sampah saat kau datang kepelukan kekasihmu saat ini? Wae? Kau menyesal telah mencampakkannya? Atau, kau sedang berfikir, kemanakah kekasihmu saat ini? Bukankah seharusnya dia yang berada disini untuk menyelamatkanmu?” Jaeyeong kembali mendekati Yoona. Dia mengangkat wajah lemah Yoona dengan tangannya.

“Lihat dan perhatikan baik-baik Im Yoona Ssi, bagaimana Jonghyun Oppa-ku terluka seperti itu untukmu? Sudah sering kukatakan bahwa SNSD hanyalah nasib sial untuk uri CNBLUE!! Sejak awal, saat Yonghwa Oppaku bertemu dengan pelacur itu, aku sudah yakin CNBLUE akan mengalami kehidupan yang sulit. Hingga akhirnya Jonghyun Oppa pun harus bertemu dengan rubah sepertimu... DAN LIHAT!!!! Lihat apa yang sudah kau lakukan padanya!! Meski kau campakkan dia tanpa arti, pada akhirnya.. dia adalah laki-laki pertama yang menemukanmu disini. Hhaaah… benar-benar membuatku tersentuh.” Jaeyeong bertepuk tangan dengan menunjukan wajah hipokritnya. Tapi teriakan Seohyun segeran menghentikannya.

“Kau… perempuan gila…! Bukankah yang kau inginkan hanya aku? Geurae, jika itu maumu, kau bisa terus menyekapku hingga kapanpun kau mau. Tapi lepaskan Fanny eonni dan Yoona Eonnie! Lepaskan juga Jonghyun Oppa dan jangan berani sedikitpun menyentuh mereka!!” Seohyun kembali menarik perhatian Jaeyeong.

“Shiro! Siapa bilang semua ini hanya berurusan denganmu? Tiffany dan juga Yoona kini adalah propertiku. Dengan adanya mereka, aku fikir itu akan lebih mudah untuk menyakitimu. Dan pastinya, akan lebih menyenangkan untukku. Hhh… dan kini ada satu lagi yang rela masuk kedalam neraka ini demi dirimu, Seo Joohyun! Meski kuharap Yonghwa Oppa yang datang, tapi… begini saja pun sudah cukup menyenangkan untukku.” Perempuan itu kemudian terbahak semakin kesetanan.

 “Hahahaha...!!” Seohyun pun ikut tertawa terbahak bersamanya dengan air mata yang mengalir deras dimatanya. Semua dibuat bingung dengan sikap maknae ini.

“Kau benar-benar menyedihkan, Jaeyeong ah! Jaeyeong! Benarkan itu namamu? Kau fikir dengan melakukan ini kau berhasil membuat Yonghwa Oppa berpaling dan melupakanku? Kau fikir dengan begini kau mampu membuat Yonghwa Oppa berhenti mencintaiku? Hhh.. kau benar-benar menyedihkan! Biar kuberi tahu, Jaeyeong ah! Kau.. mungkin bisa melenyapkanku dari hidupnya. Tapi kau tidak akan pernah bisa membuatku hilang dari hatinya. Selamanya, aku percaya Oppa akan selalu mengingatku dan membawa kenanganku kemanapun dan bersama siapapun dia melangkah nanti. Wae? Karena Jung Yonghwa mencintaiku! Semakin dia jauh dariku, semakin dia akan tenggelam merindukanku!”

Plak!!!

Sekali lagi sebuah tamparan mendarat di pipinya. Kali ini bahkan lebih keras dari sebelumnya hingga membuat Seohyun tersungkur dilantai beserta kursi yang terikat ketubuhnya.

“Hentikan omong kosongmu, atau aku akan benar-benar membunuh Jung Yonghwa-mu itu! Kau fikir aku bercanda dan tidak berani melakukan itu? Aku tidak pernah main-main Seo Joohyun! Bila aku tidak bisa memilikinya, maka hanya Shinhye Eonnie yang boleh! Tapi bila dia tetap memiih untuk bersamamu, maka lebih baik aku membunuhnya!!!!”

“DAN AKU AKAN MENCARIMU LALU MEMBUNUHMU DENGAN TANGANKU SENDIRI BILA KAU BERANI MELAKUKAN ITU PADANYA! Dan aku pun tidak main-main! Kau fikir aku tidak berani melakukan itu? AKU AKAN MEMBUNUHMU DENGAN CARA YANG LEBIH MENYAKITKAN DARI APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA NAMJA-KU!!!!” Jaeyeong semakin menggila hingga akhirnya dia mencengkeram leher Seohyun dan akan menghantam tubuh ringkih Seohyun dengan sebatang kayu. Namun…

“HENTIKAN!!! Angkat tanganmu!!”

~ To Be Continue ~


Sabtu, 11 April 2015

The World Within Chapter 9






The World Within

Author               : Jingga8
Genre                 : Romance
Rating                : M ( 18+ )
Cast                    : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Poster By           : Ismi Nuraulia




Lost

Chapter 9

Flash back 2

Sinar matahari mulai nampak dilangit sebelah timur. Jungshin mengemudikan mobilnya hampir ke seluruh penjuru Seoul. Lalu mereka memutuskan untuk mencari hingga ke area sekitar mobil Tiffany ditemukan. Tempat itu berada di perbatasan menuju Jecheon. Sebuah kota yang dikelilingi pegunungan, hamparan laut bagian barat, hutan pinus dan daerah nya masih sangat asri.

Sejenak mereka berdua tertegun, mengingat bagaimana bisa ketiga orang gadis itu berkendara hingga ke Jecheon? Butuh waktu kurang lebih 2 jam untuk sampai kesini. Tapi apa yang membawa mereka ke sini? Dan kenapa mereka meninggalkan mobilnya di pinggir jalan di tengah hutang pinus seperti itu? Kemana mereka sebenarnya? Atau.. mungkinkah ada yang membawa mereka pergi? Tapi siapa dan untuk apa?

Fikiran-fikiran itu berkecamuk dalam benak Jonghyun maupun Jungshin. Rona kegelisahan kian nampak diwajah Jonghyun. Sejenak Jungshin menghentikan mobilnya dan Jonghyun beberapa saat turun dari mobil itu lalu melihat-lihat area sekitar.

“Jungshin ah, kira-kira apa yang dilakukan 3 gadis penakut itu ditengah hutan pinus seperti ini? Untuk apa mereka kesini dan menghentikan mobil mereka disini? Apa mungkin, analisa polisi itu benar? Mungkinkah seseorang berusaha menculik mereka? Tapi kenapa hingga kini tak ada seorangpun yang menghubungi manajemen ataupun keluarga mereka untuk meminta tebusan bila mana tujuan mereka ingin mencari keuntungan? Atau... Ya Tuhan.. jangan sampai hal itu terjadi..” Jonghyun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rasa takut dan frustasi kian menghimpit dadanya.

“Hyung, berfikir positif saja. Semoga saja mereka hanya mengalami kecelakaan kecil dan sedang dalam pertolongan seseorang saat ini. Tapi aku juga tidak bisa memungkiri rasa khawatirku. Semua ini terlalu janggal. Saesang Fans.. omo.. aku bahkan tidak berani memikirkannya.” Jungshin duduk disebatang kayu disebelah Jonghyun sambil mengurut-urut keningnya.

“Maldo andwe! Lihat saja! Bila ada yang berani menyentuh Yoona, meski hanya seujung jari saja, akan kubuat dia menyesal seumur hidup!” Kini binar murka terpancar dari mata The Burning of CNBLUE. Jungshin terkejut dengan kata-kata Hyung nya barusan. Ternyata rasa cinta itu belum sepenuhnya padam. Bahkan lebih tepatnya lagi, tidak pernah padam.

“Hyung, gwaenchanna! Aku yakin mereka akan baik-baik saja. Semoga saja motif dibalik semua ini hanya soal uang. Jadi kita lebih mudah menyelesaikannya. Semoga apa yang terlintas di fikiran kita tidak pernah terjadi.” Jungshin menepuk pundak Jonghyun disampingnya.

“Semoga saja. Aku tak tahu apa yang harus kualami lagi bila sekali lagi duniaku hancur karena Im Yoona. Untukku, lebih baik melihatnya bahagia bersama laki-laki lain, dari pada harus mengkhawatirkannya seperti ini. Rasanya menghela nafas pun terasa berat untukku. Bila sesuatu yang buruk terjadi padanya, aku tak tahu harus bagaimana.” Jonghyun menundukan kepalanya. Dadanya terasa sesak dan jantungnya berdegup kencang. Rasa ini lebih menyiksa dibanding saat malam Yoona memutuskan untuk pergi dari sisinya. Sekali lagi Jungshin menepuk pundak Hyungnya. Kali ini disertai usapan dipunggungnya.

“Kau masih  mencintainya, Hyung?” Sejenak Jonghyun termenung. Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba. Bahkan dia tidak pernah menanyakan hal itu pada dirinya sendiri dan tiba-tiba, kini dia sudah berada ditengah hutan pinus demi mencarinya? Cinta? Rasa yang beberapa tahun ini terasa asing untuknya. Mungkinkah hidupnya masih terikat pada perasaan usang itu? Jonghyun menghela nafasnya dan menghembuskannya perlahan.

“Molla, Jungshin ah. Aku benar-benar tidak tahu.” Matanya menerawang kedepan. Fikiran itu berputar-putar dalam benaknya.

“Yoona.. wanita pertama yang pernah memberiku jutaan rasa. Bahagia, cinta, hingga akhirnya rasa pahit karena perpisahan dan kehilangan. Aku fikir aku sudah melewatinya. Aku fikir… aku sudah benar-benar terlepas darinya. Tapi….” Matanya kini berkaca-kaca. Ini kali pertamanya Jungshin mendengar Jonghyun mengatakan hal se-sentimental itu.

“Mendengarnya dalam bahaya, rasanya aku tidak bisa menghentikan kakiku untuk tidak segera berlari mencarinya. Aku benar-benar sudah gila, Jungshin ah!” Jonghyun menundukkan kepalanya. Sekuat hati, dia berusaha menetralisir emosinya dan kembali menguatkan hatinya. Bagaimanapun, Yoona bukan lagi miliknya. Dan kini dia bahagia bersama Seunggi.

“Gwaenchanna, Hyung! Gwaenchanna! Kau akan segera melewatinya. Aku mengerti, saat ini pasti sangat berat untukmu. Geurigo, aku akan menemanimu mencarinya. Berharap dia, Seohyun dan Fanny Noona akan baik-baik saja. Hhhh… aku bisa ikut gila, bila sesuatu terjadi pada mereka. Apa yang akan terjadi pada Yonghwa Hyung dan juga…. Kau, Hyung!” Jungshin kembali mengusap punggung Jonghyun disampingnya.

Mereka meneruskan perjalanan mereka hingga benar-benar memasuki kota Jecheon. Beberapa saat mereka menepi di sebuah mini market untuk membeli beberapa kudapan untuk mengisi perut mereka. Saat mereka sedang menikmati roti dan kopi mereka di dalam mobil, tiba-tiba 3 orang remaja berseragam SMA melintas dihadapan mobil mereka. Ketiganya dengan serius melihat handphone milik salah seorang diantara mereka. Salah satu gadis tiba-tiba berceloteh yang sontak menarik perhatian Jonghyun dan Jungshin.

“Whoaaa? Jjinjarooo?” Gadis berambut pendek itu membelalakan matanya sambil menutup mulutnya. Matanya tak pernah lekat dari handphone yang dibawa oleh temannya.

“Tiffany, Yoona, dan Seohyun dari SNSD benar-benar diculik?” Kali ini gadis yang memakai ikat rambut menambahi komentar temannya. Mereka lalu saling bertukar pandang.

“Geundae..... yang kemarin kita lihat dipantai... hoksiiiiii....” Giliran gadis yang memegang handphone yang kini mengeluarkan komentar yang membuat Jonghyun dan jungshin lebih penasaran.

“Maldo Andwe...! Tidak mungkin mereka!” Kini kembali gadis berambut pendek mengeluarkan suaranya.

“Tapi coba kau lihat, mobil Tiffany ditemukan di pinggir jalan di tengah hutan pinus arah menuju Jecheon. Dan kemarin yang kita lihat itu, 3 orang laki-laki dengan topi dan kaca mata masing-masing seperti sedang menggendong seorang gadis di punggung mereka. Dan satu orang perempuan mengikuti mereka dari belakang. Kau ingat kan?”

“Maja!! Setiap orang menggendong satu gadis. Tapi kita fikir, mungkin mereka pasangan kekasih yang membawa gadisnya yang sedang mabuk untuk pulang. Tapi.. apa yang dilakukan oleh perempuan yang mengikuti mereka?”

“Kau benar, mana mungkin seseorang mabuk ditengah hari seperti itu? Dan lagi.. mereka membawa ketiga gadis itu kearah bukit. Untuk apa, coba?”

Ketiganya sejenak saling terdiam dengan memasang ekspresi seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Ah.. aku ingat!” Gadis yang memegang handphone itu tiba-tiba membuka tas nya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya itu.

“Gelang ini! Kau ingat, saat kita akan pulang, kita menemukan gelang ini tergeletak di atas pasir pantai. Aku benar-benar menyukainya karena gelang ini sangat indah. Pasti terbuat dari perak asli. Aku fikir, mungkin ini milik salah satu dari gadis yang digendong pria-pria kemarin.”

Melihat semua itu, Jonghyun dan jungshin tidak dapat lagi menahan diri mereka. Mereka lalu turun dari mobil mereka dan segera menghampiri ketiga gadis itu. Para gadis itu tampak kaget melihat kemunculan dua orang pria tampan yang sedang berjalan mendekati mereka.

“Anyeonghaseo!” Jungshin dan Jonghyun menyapa para gadis itu dengan ramah. Namun mereka tidak melapaskan topi dan kaca mata mereka. Para gadis tampak ketakutan dengan kehadiran Jonghyun dan Jungshin dalam performa seperti itu. Karenanya, Jungshin memberanikan diri membuka kaca matanya dan membiarkan para gadis itu mengenali siapa dirinya sebenarnya.

Untuk kedua kalinya para gadis itu membelalakan mata mereka hingga nyaris berteriak histeris melihat seorang Bassist CNBLUE kini muncul tepat dihadapan mereka. Beruntung Jonghyun segera menenangkan mereka sehingga para gadis itu tidak sempat berteriak dan mengundang lebih banyak perhatian.

“Omo... igeon.. jjinja CNBLUE-eyo?” Gadis berambut pendek itu masih tak percaya dengan yang dilihatnya.

“Nde. Maaf, membuat kalian ketakutan. Tapi, bolehkah kami minta bantuan kalian?” Jungshin memasang aegyo nya yang tentu saja membuat ketiga gadis itu tak dapat menolak permintaannya. Ketiganya serentak menganggukan kepala.

“Geurooommm!!!!” Jawab ketiganya kompak dan antusias.

“Okkayy, bila begitu, maukah kalian masuk ke mobil kami dan kita ngobrol di dalam? Rasanya tidak nyaman berbicara seperti ini. Mengingat kami.. kalian tahu kan.. kami ini CNBLUE...” Sekali lagi maknae menunjukkan sihirnya yang membuat para gadis ini tak berdaya selain mengikuti keinginannya. Mereka lalu masuk kedalam mobil.

“Okaay... yeoreobun, aku tak sengaja mendengar pembicaraan kalian tentang SNSD. Apa kalian mengetahui sesuatu?” Jungshin memulai proses interogasinya.

“Ohh.. aku membaca berita, bahwa SNSD ania.. Tiffany, Yoona dan Seohyun saat ini dinyatakan hilang dan diduga mengalami penculikan.” Kata gadis yang rambutnya diikat.

“Lalu, apa hubungannya dengan gadis-gadis yang kalian lihat dipantai?” Kali ini Jonghyun angkat suara.

“Kemarin, kami bertiga bolos sekolah dan kami bermain-main dipantai. Saat akan pulang, kami melihat tiga orang laki-laki memakai topi dan kaca mata hitam, masing-masing dari mereka menggendong gadis dipunggung mereka. Sesaat kami melihat mereka, lalu kami pergi begitu saja, karena kami fikir, mungkin mereka pasangan kekasih yang sedang kencan dipantai.” Degub jantung Jonghyun kini berdetak lebih kencang. Rasa takut itu semakin nyata menguasai dirinya.

“Lalu, apa lagi yang kau lihat?” Kali ini Jonghyun semakin menunjukkan ekspresi seriusnya yang mebuat ketiga gadis itu sedikit ketakutan. Jungshin lalu mengambil alih pertanyaan itu dengan kembali menunjukkan aegyo nya. Bila terus dibiarkan Jonghyun akan membuat ketiga gadis ini lari ketakutan sebelum informasi mereka berhasil dikorek.

“Girls... apa kalian melihat kemana pria-pria itu membawa ketiga gadis itu?” Senyum termanis Jungshin tunjukan untuk mencairkan lagi ketakutan gadis-gadis itu.

“Aniyo. Kita hanya melihat mereka membawanya kearah bukit dekat pantai. Setelah itu, kita tidak memperhatikannya lagi.”

“Arasso..! Geurom, gelang yang kau pegang itu... boleh aku melihatnya?” Jungshin menunjuk pada gelang silver dalam genggaman salah satu gadis. Gadis itu lalu memberikannya pada Jungshin.

Betapa terkejutnya Jungshin melihat bentuk gelang itu dan ukiran yang tertera disana.

YongJoo ~ Yonghwonara 

Matanya dan Jonghyun saling bertatapan. Itu adalah gelang pemberian Yonghwa untuk Seohyun yang dia beli di London dulu. Mereka ingat betul bagaimana kekanak-kanakannya Hyung mereka saat  bersikap pamer sebelum memberikan gelang itu pada Seohyun di anniversary mereka yang ke-2. Dan kini, gelang ini berada ditangan gadis-gadis itu. Mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Mimpi buruk yang mereka takutkan benar-benar terjadi. Jungshin kembali bertanya pada ketiga gadis itu.

“Girls, aku tahu.. sebagai yang baru saja saling kenal, aku terlalu banyak meminta bantuan kalian. Tapi.. maukah kalian menunjukkan pada kami lokasi dimana kalian melihat mereka?” Ketiga gadis itupun menganggukkan kepala mereka.

Tanpa menunggu lama, Jungshin memacu mobilnya ketempat gadis-gadis itu melihat Tiffany, Yoona dan Seohyun kemarin. Jonghyun segera melaporkan apa yang dia temukan pada Yonghwa. Dari Seoul, Yonghwa, Nikkhun, Seunggi, dan beberapa staff SM segera meluncur menuju Jecheon. Polisi pun segera berangkat ketempat yang diinformasikan Jonghyun.

“Giddarida.. Yoona ah.. Seohyun ah.. Jebbal...” Jonghyun berbisik lirih sambil tak henti-hentinya menggerak-gerak kedua kakinya ditengah kegusaran yang dia rasakan.

Ketiga gadis itu turun dari mobil mereka dan Jungshin meminta mereka untuk melaporkan apa yang mereka lihat pada polisi terdekat. Syukurlah, anak-anak remaja itu meski diusianya kini, mereka cenderung cepat tanggap dan benar-benar mengerti apa yang dihadapi Jungshin juga Jonghyun saat ini. Mereka menuruti setiap perkataan Jungshin dan berjanji untuk tetap merahasiakan apa yang mereka ketahui kepada siapapun. Jungshin bernjanji, kelak akan membalas segala kebaikan yang telah mereka lakukan dan dia meminta nomor handphone ketiga gadis itu.

Jonghyun ditemani Jungshin akhirnya menyusuri jalan setapak menuju bukit yang diceritakan ketiga gadis tadi. Jalanan menuju kesana cukup terjal dan belum lagi dengan hujan yang turun membuat medan yang mereka tempuh semakin sulit. Tanah yang becek dan ranting-ranting yang berserakan semakin menambah berat perjalannan mereka. Belum lagi kelengkapan, pakaian dan sepatu yang mereka gunakan. Jaket mereka tidak cukup tebal, sepatu yang mereka gunakan juga bukan sepatu untuk naik gunung.

Jonghyun menyuruh Jungshin untuk tinggal di mobil dan menunggu yang lain datang. Tapi mana mungkin Jungshin tega membiarkan Hyungnya menaiki bukit itu seorang diri. Sang maknae dengan setia tetap berada disamping Jonghyun. Beberapa saat kemudian, ponsel Jonghyun berbunyi.

“Nde Hyung..” Dengan terengah, Jonghyun menjawab telepon dari Yonghwa.

“Neol Eodie ah?” Yonghwa menjawab di ujung sana.

“Aku dan Jungshin sedang menaiki bukit yang gadis-gadis tadi tunjukkan. Aku sedang mencoba mencari kemana pria-pria itu membawa mereka. Tapi sudah setengah perjalanan, aku masih belum menemukan satu tempat pun yang memungkinkan mereka untuk menyekap Yoona, Tiffany dan Seohyun. Hanya pepohonan dan beberapa ladang perkebunan yang aku temukan.”

“Arasso! Sebaiknya kau kembali dulu kesini. Aku sudah sampai didepan mobilmu. Kembali lah dulu, biar polisi yang mencari mereka kesana. Terlalu berbahaya untukmu dan Jungshin!”

“Arasso, Hyung. Aku akan turun sekarang.”

Jonghyun dan Jungshin sepakat untuk turun bukit dan bergabung dengan tim yang sudah menunggu mereka di bawah. Ternyata menuruni bukit jauh lebih sulit dari pada menaikinya. Belum lagi tanah menjadi lebih licin karena hujan.

“Ah.. Jjinja.. aku pikir menuruni bukit ini akan lebih mudah daripada saat kita memanjat tadi. Tidak kusangka setelah bertahun-tahun terkurung dalam dorm bersama CNBLUE, membuat jiwa petualangku sedikit demi sedikit menurun. Padahal saat di Ilsan dulu, aku paling jago memanjat pohon, bukit, bahkan aku pernah ikut lomba marathon yang melintasi lereng pegunungan saat SMA dulu. Tapi kini...”

Jungshing terengah-engah mengambil nafas. Tentu saja, menuruni bukit yang cukup terjal sambil terus berbicara sudah pasti akan membuatnya lebih lelah. Namun dia melakukan itu bukan tanpa tujuan, tapi karena dia ingin mencairkan suasana tegangnya, karena sejak tadi Jonghyun tampak putus asa setelah tidak menemukan apa yang mereka cari.

Tapi betapa terkejutnya Jungshin begitu dia berbalik badan, Hyungnya tidak nampak disana. Dia ingat betul, beberapa menit yang lalu, dia masih bisa mendengar suara Jonghyun. Rasa panik mulai menyelimuti hatinya. Dia kembali menaiki bukit dan menyusuri jalan yang tadi dilewatinya bersama Jonghyun. Tapi tak ditemukannya. Degup jantungnya kian berlari tak karuan. Antara rasa cemas, takut, dan ingin menangis semua bercampur jadi satu.

“Hyung....!!!!” Dalam keputusasaannya, Jungshin tak henti-hentinya memanggil Jonghyun.

“Jonghyun Hyung....!!!!!” Kini dia mulai terisak. “Neol Odie ah... Ppabo!”

Setelah sekian lama mencari, Jungshin memutuskan untuk menuruni bukit dan menemui Yonghwa dan Tim kepolisian di bawah. Betapa terkejutnya Yonghwa mendapati Jungshin berlari kearahnya sambil menangis.

“Moseumniria.. Jungshin ah? Wae uro?” Tatapan panik itu tampak semakin jelas dimata Yonghwa.

“Hyung... Jonghyun Hyung...” Maknae kembali tersedu.

“Jongie wae?!!” Yonghwa semakin panik dibuatnya.

“Kami menuruni bukit bersama-sama. Aku berjalan di depan, tapi tiba-tiba dia menghilang tanpa sepengetahuanku. Aku kembali mencarinya keatas, tapi aku tidak menemukan apapun. Eotteokhae, Hyung?”

Mendengar penjelasan Jungshin, Tim kepolisian segera bergerak menaiki bukit. Yonghwa berniat mengikuti mereka, namun pihak berwajib melarangnya. Medan yang ditempuh terlalu berbahaya. Belum lagi, mereka tidak tahu pasti keberadaan para penjahat itu. Dan kini ditambah lagi dengan menghilangnya Jonghyun. Dengan terpaksa, Yonghwa mengikutinya. Meski batinnya tak mampu menghalau rasa cemas dan takut yang luar biasa karena kini nasib cintanya, dongsaengnya, dan juga sahabat-sahabatnya belum diketahui.

~ To Be Continue ~

Mohon untuk ga keberatan yaah.. Goguma-deul.. kalo beberapa chapter ini aku sisipin Jonghyun story juga. Dan jangan pada marah, karena aku masih bawa Yoona disini. I love Seungyeon too and I wish, she can make uri Jonghyun happy for now and longer… but… aku masih blom bisa kasih bayangan ttg kisah cinta mereka karena saat ini Brown eyes couple baru jalan 4 episode. Be easy yah… ini kan Cuma fanfic. Dan sejujurnya, aku lagi sangat terpengaruh sama salah satu single CNBLUE di album white nya yang berjudul Irony yang tak lain adalah ciptaannya Jonghyun. So… plisss… I wish you don’t mind yah…

But over all.. semua bakal balik lagi dan bermuara ke cerita YongSeo kok! Geok Cheongmaseyo… ^_^