Sabtu, 11 April 2015

The World Within Chapter 9






The World Within

Author               : Jingga8
Genre                 : Romance
Rating                : M ( 18+ )
Cast                    : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Poster By           : Ismi Nuraulia




Lost

Chapter 9

Flash back 2

Sinar matahari mulai nampak dilangit sebelah timur. Jungshin mengemudikan mobilnya hampir ke seluruh penjuru Seoul. Lalu mereka memutuskan untuk mencari hingga ke area sekitar mobil Tiffany ditemukan. Tempat itu berada di perbatasan menuju Jecheon. Sebuah kota yang dikelilingi pegunungan, hamparan laut bagian barat, hutan pinus dan daerah nya masih sangat asri.

Sejenak mereka berdua tertegun, mengingat bagaimana bisa ketiga orang gadis itu berkendara hingga ke Jecheon? Butuh waktu kurang lebih 2 jam untuk sampai kesini. Tapi apa yang membawa mereka ke sini? Dan kenapa mereka meninggalkan mobilnya di pinggir jalan di tengah hutang pinus seperti itu? Kemana mereka sebenarnya? Atau.. mungkinkah ada yang membawa mereka pergi? Tapi siapa dan untuk apa?

Fikiran-fikiran itu berkecamuk dalam benak Jonghyun maupun Jungshin. Rona kegelisahan kian nampak diwajah Jonghyun. Sejenak Jungshin menghentikan mobilnya dan Jonghyun beberapa saat turun dari mobil itu lalu melihat-lihat area sekitar.

“Jungshin ah, kira-kira apa yang dilakukan 3 gadis penakut itu ditengah hutan pinus seperti ini? Untuk apa mereka kesini dan menghentikan mobil mereka disini? Apa mungkin, analisa polisi itu benar? Mungkinkah seseorang berusaha menculik mereka? Tapi kenapa hingga kini tak ada seorangpun yang menghubungi manajemen ataupun keluarga mereka untuk meminta tebusan bila mana tujuan mereka ingin mencari keuntungan? Atau... Ya Tuhan.. jangan sampai hal itu terjadi..” Jonghyun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rasa takut dan frustasi kian menghimpit dadanya.

“Hyung, berfikir positif saja. Semoga saja mereka hanya mengalami kecelakaan kecil dan sedang dalam pertolongan seseorang saat ini. Tapi aku juga tidak bisa memungkiri rasa khawatirku. Semua ini terlalu janggal. Saesang Fans.. omo.. aku bahkan tidak berani memikirkannya.” Jungshin duduk disebatang kayu disebelah Jonghyun sambil mengurut-urut keningnya.

“Maldo andwe! Lihat saja! Bila ada yang berani menyentuh Yoona, meski hanya seujung jari saja, akan kubuat dia menyesal seumur hidup!” Kini binar murka terpancar dari mata The Burning of CNBLUE. Jungshin terkejut dengan kata-kata Hyung nya barusan. Ternyata rasa cinta itu belum sepenuhnya padam. Bahkan lebih tepatnya lagi, tidak pernah padam.

“Hyung, gwaenchanna! Aku yakin mereka akan baik-baik saja. Semoga saja motif dibalik semua ini hanya soal uang. Jadi kita lebih mudah menyelesaikannya. Semoga apa yang terlintas di fikiran kita tidak pernah terjadi.” Jungshin menepuk pundak Jonghyun disampingnya.

“Semoga saja. Aku tak tahu apa yang harus kualami lagi bila sekali lagi duniaku hancur karena Im Yoona. Untukku, lebih baik melihatnya bahagia bersama laki-laki lain, dari pada harus mengkhawatirkannya seperti ini. Rasanya menghela nafas pun terasa berat untukku. Bila sesuatu yang buruk terjadi padanya, aku tak tahu harus bagaimana.” Jonghyun menundukan kepalanya. Dadanya terasa sesak dan jantungnya berdegup kencang. Rasa ini lebih menyiksa dibanding saat malam Yoona memutuskan untuk pergi dari sisinya. Sekali lagi Jungshin menepuk pundak Hyungnya. Kali ini disertai usapan dipunggungnya.

“Kau masih  mencintainya, Hyung?” Sejenak Jonghyun termenung. Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba. Bahkan dia tidak pernah menanyakan hal itu pada dirinya sendiri dan tiba-tiba, kini dia sudah berada ditengah hutan pinus demi mencarinya? Cinta? Rasa yang beberapa tahun ini terasa asing untuknya. Mungkinkah hidupnya masih terikat pada perasaan usang itu? Jonghyun menghela nafasnya dan menghembuskannya perlahan.

“Molla, Jungshin ah. Aku benar-benar tidak tahu.” Matanya menerawang kedepan. Fikiran itu berputar-putar dalam benaknya.

“Yoona.. wanita pertama yang pernah memberiku jutaan rasa. Bahagia, cinta, hingga akhirnya rasa pahit karena perpisahan dan kehilangan. Aku fikir aku sudah melewatinya. Aku fikir… aku sudah benar-benar terlepas darinya. Tapi….” Matanya kini berkaca-kaca. Ini kali pertamanya Jungshin mendengar Jonghyun mengatakan hal se-sentimental itu.

“Mendengarnya dalam bahaya, rasanya aku tidak bisa menghentikan kakiku untuk tidak segera berlari mencarinya. Aku benar-benar sudah gila, Jungshin ah!” Jonghyun menundukkan kepalanya. Sekuat hati, dia berusaha menetralisir emosinya dan kembali menguatkan hatinya. Bagaimanapun, Yoona bukan lagi miliknya. Dan kini dia bahagia bersama Seunggi.

“Gwaenchanna, Hyung! Gwaenchanna! Kau akan segera melewatinya. Aku mengerti, saat ini pasti sangat berat untukmu. Geurigo, aku akan menemanimu mencarinya. Berharap dia, Seohyun dan Fanny Noona akan baik-baik saja. Hhhh… aku bisa ikut gila, bila sesuatu terjadi pada mereka. Apa yang akan terjadi pada Yonghwa Hyung dan juga…. Kau, Hyung!” Jungshin kembali mengusap punggung Jonghyun disampingnya.

Mereka meneruskan perjalanan mereka hingga benar-benar memasuki kota Jecheon. Beberapa saat mereka menepi di sebuah mini market untuk membeli beberapa kudapan untuk mengisi perut mereka. Saat mereka sedang menikmati roti dan kopi mereka di dalam mobil, tiba-tiba 3 orang remaja berseragam SMA melintas dihadapan mobil mereka. Ketiganya dengan serius melihat handphone milik salah seorang diantara mereka. Salah satu gadis tiba-tiba berceloteh yang sontak menarik perhatian Jonghyun dan Jungshin.

“Whoaaa? Jjinjarooo?” Gadis berambut pendek itu membelalakan matanya sambil menutup mulutnya. Matanya tak pernah lekat dari handphone yang dibawa oleh temannya.

“Tiffany, Yoona, dan Seohyun dari SNSD benar-benar diculik?” Kali ini gadis yang memakai ikat rambut menambahi komentar temannya. Mereka lalu saling bertukar pandang.

“Geundae..... yang kemarin kita lihat dipantai... hoksiiiiii....” Giliran gadis yang memegang handphone yang kini mengeluarkan komentar yang membuat Jonghyun dan jungshin lebih penasaran.

“Maldo Andwe...! Tidak mungkin mereka!” Kini kembali gadis berambut pendek mengeluarkan suaranya.

“Tapi coba kau lihat, mobil Tiffany ditemukan di pinggir jalan di tengah hutan pinus arah menuju Jecheon. Dan kemarin yang kita lihat itu, 3 orang laki-laki dengan topi dan kaca mata masing-masing seperti sedang menggendong seorang gadis di punggung mereka. Dan satu orang perempuan mengikuti mereka dari belakang. Kau ingat kan?”

“Maja!! Setiap orang menggendong satu gadis. Tapi kita fikir, mungkin mereka pasangan kekasih yang membawa gadisnya yang sedang mabuk untuk pulang. Tapi.. apa yang dilakukan oleh perempuan yang mengikuti mereka?”

“Kau benar, mana mungkin seseorang mabuk ditengah hari seperti itu? Dan lagi.. mereka membawa ketiga gadis itu kearah bukit. Untuk apa, coba?”

Ketiganya sejenak saling terdiam dengan memasang ekspresi seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Ah.. aku ingat!” Gadis yang memegang handphone itu tiba-tiba membuka tas nya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya itu.

“Gelang ini! Kau ingat, saat kita akan pulang, kita menemukan gelang ini tergeletak di atas pasir pantai. Aku benar-benar menyukainya karena gelang ini sangat indah. Pasti terbuat dari perak asli. Aku fikir, mungkin ini milik salah satu dari gadis yang digendong pria-pria kemarin.”

Melihat semua itu, Jonghyun dan jungshin tidak dapat lagi menahan diri mereka. Mereka lalu turun dari mobil mereka dan segera menghampiri ketiga gadis itu. Para gadis itu tampak kaget melihat kemunculan dua orang pria tampan yang sedang berjalan mendekati mereka.

“Anyeonghaseo!” Jungshin dan Jonghyun menyapa para gadis itu dengan ramah. Namun mereka tidak melapaskan topi dan kaca mata mereka. Para gadis tampak ketakutan dengan kehadiran Jonghyun dan Jungshin dalam performa seperti itu. Karenanya, Jungshin memberanikan diri membuka kaca matanya dan membiarkan para gadis itu mengenali siapa dirinya sebenarnya.

Untuk kedua kalinya para gadis itu membelalakan mata mereka hingga nyaris berteriak histeris melihat seorang Bassist CNBLUE kini muncul tepat dihadapan mereka. Beruntung Jonghyun segera menenangkan mereka sehingga para gadis itu tidak sempat berteriak dan mengundang lebih banyak perhatian.

“Omo... igeon.. jjinja CNBLUE-eyo?” Gadis berambut pendek itu masih tak percaya dengan yang dilihatnya.

“Nde. Maaf, membuat kalian ketakutan. Tapi, bolehkah kami minta bantuan kalian?” Jungshin memasang aegyo nya yang tentu saja membuat ketiga gadis itu tak dapat menolak permintaannya. Ketiganya serentak menganggukan kepala.

“Geurooommm!!!!” Jawab ketiganya kompak dan antusias.

“Okkayy, bila begitu, maukah kalian masuk ke mobil kami dan kita ngobrol di dalam? Rasanya tidak nyaman berbicara seperti ini. Mengingat kami.. kalian tahu kan.. kami ini CNBLUE...” Sekali lagi maknae menunjukkan sihirnya yang membuat para gadis ini tak berdaya selain mengikuti keinginannya. Mereka lalu masuk kedalam mobil.

“Okaay... yeoreobun, aku tak sengaja mendengar pembicaraan kalian tentang SNSD. Apa kalian mengetahui sesuatu?” Jungshin memulai proses interogasinya.

“Ohh.. aku membaca berita, bahwa SNSD ania.. Tiffany, Yoona dan Seohyun saat ini dinyatakan hilang dan diduga mengalami penculikan.” Kata gadis yang rambutnya diikat.

“Lalu, apa hubungannya dengan gadis-gadis yang kalian lihat dipantai?” Kali ini Jonghyun angkat suara.

“Kemarin, kami bertiga bolos sekolah dan kami bermain-main dipantai. Saat akan pulang, kami melihat tiga orang laki-laki memakai topi dan kaca mata hitam, masing-masing dari mereka menggendong gadis dipunggung mereka. Sesaat kami melihat mereka, lalu kami pergi begitu saja, karena kami fikir, mungkin mereka pasangan kekasih yang sedang kencan dipantai.” Degub jantung Jonghyun kini berdetak lebih kencang. Rasa takut itu semakin nyata menguasai dirinya.

“Lalu, apa lagi yang kau lihat?” Kali ini Jonghyun semakin menunjukkan ekspresi seriusnya yang mebuat ketiga gadis itu sedikit ketakutan. Jungshin lalu mengambil alih pertanyaan itu dengan kembali menunjukkan aegyo nya. Bila terus dibiarkan Jonghyun akan membuat ketiga gadis ini lari ketakutan sebelum informasi mereka berhasil dikorek.

“Girls... apa kalian melihat kemana pria-pria itu membawa ketiga gadis itu?” Senyum termanis Jungshin tunjukan untuk mencairkan lagi ketakutan gadis-gadis itu.

“Aniyo. Kita hanya melihat mereka membawanya kearah bukit dekat pantai. Setelah itu, kita tidak memperhatikannya lagi.”

“Arasso..! Geurom, gelang yang kau pegang itu... boleh aku melihatnya?” Jungshin menunjuk pada gelang silver dalam genggaman salah satu gadis. Gadis itu lalu memberikannya pada Jungshin.

Betapa terkejutnya Jungshin melihat bentuk gelang itu dan ukiran yang tertera disana.

YongJoo ~ Yonghwonara 

Matanya dan Jonghyun saling bertatapan. Itu adalah gelang pemberian Yonghwa untuk Seohyun yang dia beli di London dulu. Mereka ingat betul bagaimana kekanak-kanakannya Hyung mereka saat  bersikap pamer sebelum memberikan gelang itu pada Seohyun di anniversary mereka yang ke-2. Dan kini, gelang ini berada ditangan gadis-gadis itu. Mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Mimpi buruk yang mereka takutkan benar-benar terjadi. Jungshin kembali bertanya pada ketiga gadis itu.

“Girls, aku tahu.. sebagai yang baru saja saling kenal, aku terlalu banyak meminta bantuan kalian. Tapi.. maukah kalian menunjukkan pada kami lokasi dimana kalian melihat mereka?” Ketiga gadis itupun menganggukkan kepala mereka.

Tanpa menunggu lama, Jungshin memacu mobilnya ketempat gadis-gadis itu melihat Tiffany, Yoona dan Seohyun kemarin. Jonghyun segera melaporkan apa yang dia temukan pada Yonghwa. Dari Seoul, Yonghwa, Nikkhun, Seunggi, dan beberapa staff SM segera meluncur menuju Jecheon. Polisi pun segera berangkat ketempat yang diinformasikan Jonghyun.

“Giddarida.. Yoona ah.. Seohyun ah.. Jebbal...” Jonghyun berbisik lirih sambil tak henti-hentinya menggerak-gerak kedua kakinya ditengah kegusaran yang dia rasakan.

Ketiga gadis itu turun dari mobil mereka dan Jungshin meminta mereka untuk melaporkan apa yang mereka lihat pada polisi terdekat. Syukurlah, anak-anak remaja itu meski diusianya kini, mereka cenderung cepat tanggap dan benar-benar mengerti apa yang dihadapi Jungshin juga Jonghyun saat ini. Mereka menuruti setiap perkataan Jungshin dan berjanji untuk tetap merahasiakan apa yang mereka ketahui kepada siapapun. Jungshin bernjanji, kelak akan membalas segala kebaikan yang telah mereka lakukan dan dia meminta nomor handphone ketiga gadis itu.

Jonghyun ditemani Jungshin akhirnya menyusuri jalan setapak menuju bukit yang diceritakan ketiga gadis tadi. Jalanan menuju kesana cukup terjal dan belum lagi dengan hujan yang turun membuat medan yang mereka tempuh semakin sulit. Tanah yang becek dan ranting-ranting yang berserakan semakin menambah berat perjalannan mereka. Belum lagi kelengkapan, pakaian dan sepatu yang mereka gunakan. Jaket mereka tidak cukup tebal, sepatu yang mereka gunakan juga bukan sepatu untuk naik gunung.

Jonghyun menyuruh Jungshin untuk tinggal di mobil dan menunggu yang lain datang. Tapi mana mungkin Jungshin tega membiarkan Hyungnya menaiki bukit itu seorang diri. Sang maknae dengan setia tetap berada disamping Jonghyun. Beberapa saat kemudian, ponsel Jonghyun berbunyi.

“Nde Hyung..” Dengan terengah, Jonghyun menjawab telepon dari Yonghwa.

“Neol Eodie ah?” Yonghwa menjawab di ujung sana.

“Aku dan Jungshin sedang menaiki bukit yang gadis-gadis tadi tunjukkan. Aku sedang mencoba mencari kemana pria-pria itu membawa mereka. Tapi sudah setengah perjalanan, aku masih belum menemukan satu tempat pun yang memungkinkan mereka untuk menyekap Yoona, Tiffany dan Seohyun. Hanya pepohonan dan beberapa ladang perkebunan yang aku temukan.”

“Arasso! Sebaiknya kau kembali dulu kesini. Aku sudah sampai didepan mobilmu. Kembali lah dulu, biar polisi yang mencari mereka kesana. Terlalu berbahaya untukmu dan Jungshin!”

“Arasso, Hyung. Aku akan turun sekarang.”

Jonghyun dan Jungshin sepakat untuk turun bukit dan bergabung dengan tim yang sudah menunggu mereka di bawah. Ternyata menuruni bukit jauh lebih sulit dari pada menaikinya. Belum lagi tanah menjadi lebih licin karena hujan.

“Ah.. Jjinja.. aku pikir menuruni bukit ini akan lebih mudah daripada saat kita memanjat tadi. Tidak kusangka setelah bertahun-tahun terkurung dalam dorm bersama CNBLUE, membuat jiwa petualangku sedikit demi sedikit menurun. Padahal saat di Ilsan dulu, aku paling jago memanjat pohon, bukit, bahkan aku pernah ikut lomba marathon yang melintasi lereng pegunungan saat SMA dulu. Tapi kini...”

Jungshing terengah-engah mengambil nafas. Tentu saja, menuruni bukit yang cukup terjal sambil terus berbicara sudah pasti akan membuatnya lebih lelah. Namun dia melakukan itu bukan tanpa tujuan, tapi karena dia ingin mencairkan suasana tegangnya, karena sejak tadi Jonghyun tampak putus asa setelah tidak menemukan apa yang mereka cari.

Tapi betapa terkejutnya Jungshin begitu dia berbalik badan, Hyungnya tidak nampak disana. Dia ingat betul, beberapa menit yang lalu, dia masih bisa mendengar suara Jonghyun. Rasa panik mulai menyelimuti hatinya. Dia kembali menaiki bukit dan menyusuri jalan yang tadi dilewatinya bersama Jonghyun. Tapi tak ditemukannya. Degup jantungnya kian berlari tak karuan. Antara rasa cemas, takut, dan ingin menangis semua bercampur jadi satu.

“Hyung....!!!!” Dalam keputusasaannya, Jungshin tak henti-hentinya memanggil Jonghyun.

“Jonghyun Hyung....!!!!!” Kini dia mulai terisak. “Neol Odie ah... Ppabo!”

Setelah sekian lama mencari, Jungshin memutuskan untuk menuruni bukit dan menemui Yonghwa dan Tim kepolisian di bawah. Betapa terkejutnya Yonghwa mendapati Jungshin berlari kearahnya sambil menangis.

“Moseumniria.. Jungshin ah? Wae uro?” Tatapan panik itu tampak semakin jelas dimata Yonghwa.

“Hyung... Jonghyun Hyung...” Maknae kembali tersedu.

“Jongie wae?!!” Yonghwa semakin panik dibuatnya.

“Kami menuruni bukit bersama-sama. Aku berjalan di depan, tapi tiba-tiba dia menghilang tanpa sepengetahuanku. Aku kembali mencarinya keatas, tapi aku tidak menemukan apapun. Eotteokhae, Hyung?”

Mendengar penjelasan Jungshin, Tim kepolisian segera bergerak menaiki bukit. Yonghwa berniat mengikuti mereka, namun pihak berwajib melarangnya. Medan yang ditempuh terlalu berbahaya. Belum lagi, mereka tidak tahu pasti keberadaan para penjahat itu. Dan kini ditambah lagi dengan menghilangnya Jonghyun. Dengan terpaksa, Yonghwa mengikutinya. Meski batinnya tak mampu menghalau rasa cemas dan takut yang luar biasa karena kini nasib cintanya, dongsaengnya, dan juga sahabat-sahabatnya belum diketahui.

~ To Be Continue ~

Mohon untuk ga keberatan yaah.. Goguma-deul.. kalo beberapa chapter ini aku sisipin Jonghyun story juga. Dan jangan pada marah, karena aku masih bawa Yoona disini. I love Seungyeon too and I wish, she can make uri Jonghyun happy for now and longer… but… aku masih blom bisa kasih bayangan ttg kisah cinta mereka karena saat ini Brown eyes couple baru jalan 4 episode. Be easy yah… ini kan Cuma fanfic. Dan sejujurnya, aku lagi sangat terpengaruh sama salah satu single CNBLUE di album white nya yang berjudul Irony yang tak lain adalah ciptaannya Jonghyun. So… plisss… I wish you don’t mind yah…

But over all.. semua bakal balik lagi dan bermuara ke cerita YongSeo kok! Geok Cheongmaseyo… ^_^

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar