Senin, 19 Oktober 2015

In Time With You Chapter 11





In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8
 
 


Chapter 11

My Confusion

From : Jungshin Chingu
'Hei, Girl! Where are you and what are you doing now?'

To : Jungshin Chingu
'KCC. Bertarung untuk bertahan hidup. ^^'

From : Jungshin Chingu
'Good! Kebetulan, temanmu hampir mati kelaparan saat ini. I'll be there in 10 minutes.'

To : Jungshin Chingu
'Okay! Make sure you have enough money before you order, Chingu!! :P'

From : Jungshin Chingu
'Aisshh!!!! >_<'

Aku tersenyum setiap kali usai membalas pesan-pesannya. Siapa sangka, bila kini aku punya satu lagi sahabat dekat? Ya. Secepat itu! Jungshin benar-benar seorang happy virus yang akan segera menghapus semua beban fikiranku sesaat setelah aku mengobrol dengannya. Meski hanya lewat chat.

"Ososeoyo!" Aku melalukan base mannerku sebagai pelayan saat suara genta angin terdengar dari arah pintu. Dan senyumku seketika merekah saat kulihat lelaki yang cukup tinggi sedang berdiri disana dengan senyumnya. 10 minutes, katanya? Kurang dari 2 menit, lelaki itu sudah menampakan dirinya. Aku tertawa kecil karenanya.

"Aigoo... apa bassist CNBLUE memang terbiasa se-disiplin ini? You came 8 minutes earlier, Sir!" Aku menyapanya. Jungshin masih tersenyum kearahku sambil terus berjalan mendekatiku di mini bar table.

"Setelah kufikir-fikir, aku kepanasan menunggu di mobilku." Lelaki itu tertawa kecil menyembunyikan malunya.

"Mwo? Jadi kau mengirimku pesan saat kau sudah berada didepan restoran ini?"

"Ya... kurang lebih begitu!" Jawabnya dengan tawa nakalnya.

Aku mempersilahkan Jungshin untuk duduk di kursi yang terletak di ujung restauran dengan view terbaik disini. Menghadap langsung ke Sungai Han. Usai membawakan makanan pesanannya, akupun duduk dihadapannya. Syukurlah, KCC siang itu tidak terlalu ramai sehingga aku punya waktu luang untuk menemaninya makan.

"Hhm... masta!! Aku tidak tahu bahwa daging kepiting bisa juga diolah menjadi makanan seperti ini. Benar-benar enak, Seohyun ah!" Jungshin dengan lahap menyantap semua makanan dihadapannya.

"Syukurlah, kalau kau menyukainya. Sering-seringlah makan disini. Nanti aku berikan bonus porsi untukmu." Matanya seketika berbinar usai mendengar kata-kataku.

"Jinjja???" Tanyanya, dengan mulut penuh makanan.

"Jinjja!!! Lebih bagus kalau kau promosikan restoran ini pada fansgirl-mu. Aku akan memberi mu bonus porsi yang banyak!"

"Deal!!! Aku setuju! Aku akan promosikan tempat ini kesemua orang. Jadi pastikan untuk menepati janjimu, Miss Seo!!"

"Arrasso! Yakseok!"

Beberapa saat, aku biarkan Jungshin menikmati makan siangnya dan hanya duduk menemaninya saja. Hingga dia usai menghabiskan nasinya, dan minum orange juice disamping kiri mejanya.

"Seohyun ah, apa kau senang tinggal di rumah Yonghwa Hyung?" Aku terpaku mendengar pertanyaan tiba-tiba itu. Sejujurnya, aku tidak siap untuk menjawabnya.

"Ke.. kenapa tiba-tiba kau tanyakan itu?"

"Geunyang....." Jungshin membersihkan mulutnya dengan napkin yang disediakan restoran ini, lalu menatapku lebih serius dari sebelumnya.

"Aku tahu, sesuatu terjadi diantara kalian malam itu. Meski aku tidak tahu persis apa yang terjadi sebenarnya, tapi aku yakin, sesuatu telah benar-benar terjadi. Dan itu mengganggu hubungan kalian. Am i correct?" Aku menghela nafas panjang sambil mencoba menghindari tatapannya.

"Gwaenchanna, Seohyun ah. Aku tidak sedang menginterogasimu apalagi menyudutkanmu. Aku hanya khawatir melihat Hyung dengan sikap anehnya beberapa waktu terakhir. Aku juga mengkhawatirkanmu karena kau tinggal dirumahnya. Kau pasti merasa sangat tidak nyaman." Kali ini, Jungshin menatapku lebih teduh dengan rasa simpatinya, hingga hatiku merasa lebih lega.

"Molla, Jungshin ah! Aku juga bingung, sebenarnya apa yang terjadi diantara kami." Jawabku. Jungshin meneguk lagi minumannya, lalu kembali menatapku.

"Just make it with him, Seohyun ah. Percayalah, apa yang terjadi diantara kalian benar-benar mengganggunya. Meski dia mencoba untuk bersikap normal dihadapan kami, tapi aku tahu, sesuatu sedang membebani fikirannya." Jungshin menegakkan badannya dan menggeser kursinya lebih rapat kemeja dihadapan kami.

"Aku tidak bermaksud menyalahkanmu, Seohyun ah, karena akupun tidak tahu apa sebenarnya masalah kalian. Yang aku tahu, Yonghwa Hyung benar-benar merasa bersalah padamu. Malam itu dia masuk ke studio nya dengan wajah kalut dan kami bisa melihat dengan jelas ada kesedihan disana. Dia bilang, dia sudah menyakitimu dan membuatmu menangis. Dan sejak malam itu, Yonghwa Hyung sengaja menghabiskan waktu lebih lama di studio Jonghyun Hyung, atau di bar, atau di tempat billiard hanya agar bisa pulang setelah tengah malam. Dan aku tahu, pengecut ini sedang menghindarimu."

Aku melayangkan pandanganku kearah jendela disampingku. Ya  aku pun menyadarinya. Yonghwa selalu pulang larut, aku tahu, dia sengaja melakukannya. Apa dia membenciku karena aku membiarkan bibirnya menyentuh bibirku? Apa dia membenciku karena aku tidak menolaknya dan malah memejamkan mataku malam itu? Aku tahu, seharusnya aku mengingatkannya untuk tidak melakukan itu, tapi.... apakah membiarkannya menciumku adalah sebuah kesalahan?

"Seohyun ah..." Jungshin memanggilku dengan lembut saat aku hanyut dalam fikiranku.

"Bagaimana caranya aku bisa bicara padanya, Jungshin ah, sementara dia terus menghindariku? Aku bahkan merasa kalau Yonghwa Oppa membenciku hingga aku berfikir untuk segera pergi dari rumah itu bila keberadaanku membuatnya tidak nyaman."

"Andwe!!! Jinjja andwe, Seohyun ah!! Jebbal kkajima!! Aku yakin Yonghwa Hyung akan semakin gila bila kau pergi dari rumah itu. Dengarkan aku....

Hyung tidak membencimu, Seohyun ah! Malahan sebaliknya, Hyung merasa kau yang akan membencinya. Makanya dia terus menghindarimu karena dia tidak tahu bagaimana cara untuk memperbaiki hubungan diantara kalian.

Hyung bersikap seperti itu justru karena dia takut akan kehilanganmu, Seohyun ah!"

Benarkah? Bernarkah yang Jungshin katakan?

"Lalu aku harus bagaimana? Aku merasa asing dirumah itu. Kau tahu, kalau aku tidak lebih hanya sekedar numpang tinggal karena biaya sewaku mungkin bahkan tidak cukup untuk biaya listrik rumah itu. Aku juga bingung, Jungshin ah!" Rasa frustasi kian menyesakkan hati dan fikiranku. Terutama tentang kenyataan bahwa aku hanya seorang yang Yonghwa beri pertolongan saja. Harusnya aku tahu diri dan menghentikannya malam itu.

"He kissed you, right?" Mataku seketika terbelalak mendengar pertanyaannya. Bagaimana mungkin dia tahu?

"Otteokhae? Neol... otteokhae ara?" Kulihat Jungshin menghembuskan nafas panjangnya sebelum pandangannya kembali padaku.

"Entah aku harus senang atau khawatir dengan kalian, Seohyun ah. Harusnya aku senang. Tapi aku juga khawatir. Hyung itu...." Jungshin berhenti sejenak dengan kalimatnya dan sepertinya dia sedang berfikir.

"Hhhh... Seohyun ah, banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Tapi aku tidak berhak mengatakannya. Pada saatnya nanti, kau akan tahu sendiri. Tapi sebagai sahabatnya, sebagai seorang yang sudah mengenalnya bertahun-tahun, aku hanya minta padamu.... cobalah untuk sedikit bersabar menghadapinya. Aku tahu, mungkin permintaanku ini terdengar egois. Kumohon mengertilah. Hyung baru saja menemukanmu dan bersamamu, Hyung mendapatkan kenyamanan lain selain bersama kami. Selesaikan kesalah fahaman kalian secepatnya, Seohyun ah. Mulailah berbicara padanya. Trust me, he's waiting for you."

Malamnya, aku pulang usai shift malamku berakhir seperti biasanya. Dan kudapati rumah itu masih kosong, gelap dan sepi. Yonghwa masih menghindariku seperti yang Jungshin katakan.

Hhhh.... aku menjatuhkan tubuhku keatas sofa ruang tengah yang masih kubiarkan gelap tanpa kunyalakan lampunya. Hanya cahaya bulan dan lampu balcon yang membantu penglihatanku. Sesaat, aku memejamkan mataku. Kata-kata Jungshin tadi siang masih berputar dalam benakku. Haruskah kulakukan seperti katanya? Menepis ego dan prestiseku dengan memulai pembicaraan itu dengannya? Akankah Yonghwa mendengarku? Atau malah mengabaikanku dan membuat luka lainnya dalam hatiku?

Ya, aku terluka. Aku terluka saat pertama kali dia ucapkan kata maaf padaku. Bukan...! Bukan itu yang ingin aku dengar. Aku tidak ingin mendengar kata maafnya yang justru membuatku merasa terkecilkan arti. Apakah menciumku merupakan sebuah kesalahan untuknya?

Aku benci mendengarnya mengatakan maaf, karenanya aku pergi meninggalkannya sendiri malam itu.

Akhirnya, setelah beberapa saat kurebahkan lelahku, aku bangkit dan meraih laptopku. Sejak awal aku datang kerumah ini, diam-diam aku mulai menulis beberapa chapter untuk judul baru novelku. Yonghwa benar, rumah ini sungguh membantuku dalam menulis. Bukan hanya novel, aku bahkan hampir menyelesaikan sebuah antologi untuk puisi-puisiku. Puisiku tentangnya. Tentang pria yang sudah membuatku duduk ditempatku kini.

Aku mulai menulis. Menulis segala kata yang menari dalam fikiranku. Heran. Tak seperti biasanya. Karena kali ini, aku sama sekali menepis segala logika dan hanya diperbudak oleh kegelisahan dalam jiwaku. Aku menulis segalanya. Tentang cinta yang tak pernah benar-benar aku kenal wujudnya. Tentang rinduku. Resahku. Lukaku.

Tentangnya, yang begitu dekat namun terasa ribuan mil jauhnya dariku.

Entah untuk berapa lama aku menulis, hingga tanpa kusadari aku tertidur diatas sofanya. Suara pass code pintu membangunkanku. Dia pulang. Yonghwa akhirnya pulang.

Sekuatnya kedua mataku kupaksa tetap terpejam meski tubuhku nyaris berontak ingin secepatnya berlari menghindarinya. Tapi Jungshin benar. Aku harus menyelesaikannya. Atau.... aku benar-benar harus lenyap dari pandangannya.

Aku mulai merasakan kehadirannya. Parfum yang sangat kukenal, kini terasa amat dekat denganku. Benar saja. Aku mulai merasakan sentuhan tangannya mengusap lembut kepalaku. Demi Tuhan, setiap belaian itu mengundang air mataku yang sekerasnya aku tahan.

I missed him!

Beberapa saat kemudian, sentuhannya mulai hilang. Hingga kudengar suara dari layar laptopku yang membuat kedua mataku perlahan terbuka.

Dia melihatnya. Lelaki itu membaca tulisan terakhirku yang belum sempat kusimpan. Ottokhae? Bagaimana bila dia tahu semuanya? Semua yang tanpa alasan kucoba sembunyikan darinya. Bukan hanya darinya, bahkan dari diriku sendiri.

Kulihat samar wajahnya dari pantulan cahaya layar laptopku. Yonghwa membaca satu persatu baris-baris puisiku hingga kulihat sendu mulai membayang diwajah itu. Beberapa menit kemudian, kulihat air mata jatuh diwajahnya. Yonghwa tertunduk pilu untuk sesaat hingga hatiku terasa teriris melihatnya.

Dan mata kami akhirnya bertemu. Aku melihatnya. Aku melihat betapa diapun terluka karena semua ini.

"Waseo?" Setengah berbisik, suaraku tertahan oleh sesak dalam hatiku.

"Hmm.." Tampak jelas bahwa lelaki dihadapanku juga sedang berusaha keras menyembunyikan lukanya.

"Daengida. Syukurlah, kau sudah pulang, Oppa..." Kurasakan suaraku kian lirih tertahan.

"Mianhae, Joohyun ah... aku.." Suaranya tercekat. Yonghwa menundukkan kepalanya. Dia fikir dengan begitu dia bisa menyembunyikan segalanya dariku? Dia salah!! Aku melihatnya! Aku merasakannya!

"Kau tak perlu melakukannya, Oppa. Tak perlu kata maaf untuk apapun. Kau dan aku adalah dua orang dewasa dan apapun bisa terjadi diusia kini saat ini. Aku mengerti, Oppa. Jadi kau tak perlu menghindariku lagi hanya karena rasa bersalahmu. Aku tidak marah padamu ataupun membencimu karena hal itu. Dan kumohon.... jangan merasa bersalah seolah yang kau lakukan malam itu adalah sebuah kesalahan. Setidaknya, dengan begitu aku tidak akan terlalu merasa terhina, Oppa." Yonghwa kembali menatapku dengan tatap sendunya. Aku tahu, rasa bersalah itu seperti menghukumnya untuk sesuatu yang bahkan bukan salahnya.

"Ani, Joohyun ah! Aku tidak merasa bahwa yang kulakukan malam itu adalah sebuah kesalahan. Karena demi Tuhan, aku tidak bisa menahan diriku dari perasaanku padamu. Bukan... bukan itu yang membuatku merasa bersalah padamu." Perlahan, tangannya kembali mengusap wajahku. Dengan lembut, kurasakan halus jemarinya menyapu pipiku.

"Aku minta maaf padamu, karena aku berani menginginkanmu seperti itu. Aku tidak boleh melakukan itu. Aku tidak boleh menginginkanmu karena hidupku sudah kurelakan untuk menjaga satu hati saja. Aku harus menjaga hatinya tanpa harus peduli dengan hatiku sendiri. Aku minta maaf padamu, karena aku telah mengambil sesuatu darimu yang seharusnya hanya kau berikan pada lelaki yang berhak mendapatkannya. Maafkan aku, Joohyun ah!" Suaranya semakin tercekat. Dan aku gagal! Aku gagal menahan derai air mataku yang perlahan mulai terasa hangat disisi telingaku. 

"Mianhae Opso, Oppa. Karena, jika kau tidak melakukannya malam itu, mungkin aku yang akan datang dan melakukannya padamu. Geok cheongmaseo! Aku tidak akan menuntut apapun untuk apa yang sudah kau ambil dariku. Karena untukku....

Aku memberikannya pada lelaki yang tepat."

Untuk terakhir kalinya, kupandangi bayang wajah itu sebelum kupaksa tubuhku bangkit dan pergi menuju kamarku.

"Good nite, Oppa!! Berdoalah sebelum tidur agar mimpi burukmu tidak pernah datang kembali. Karena bila sekali lagi kudengar kau terisak karena mimpimu, jangan salahkan aku bila aku berlari menerobos pintu kamarmu untuk membangunkanmu!"

*****

Aku berjanji untuk bertemu Jinwoon di perpustakaan kota sore ini. Dia sudah terkenal sekarang. Bertemu di sebuah perpustakaan merupakan salah satu tempat yang aman untuknya agar dia tidak tersangkut sebuah scandal diawal debutnya. Dan untukku, tentu saja aku menyukai ide itu karena aku harus mencari beberapa literatur untuk tugas akhirku.

Pukul 7.00 malam, aku sudah duduk di dalam perpustakaan dengan setumpuk buku yang akan aku baca. Lebih tepatnya, hanya mencari beberapa bahan saja dari beberapa halamannya. Jinwoon mengirimku pesan, bahwa dia akan sedikit terlambat. Tak masalah, untukku. Toh akupun memang punya kepentingan lain diperpustakaan ini. Jadi, aku akan menunggunya.

"Wow... kau seorang sastrawati?" Aku mendengar sebuah suara datang dari sampingku. Suara setengah berbisik, tentunya.. mengingat kami sedang berada diperpustakaan. Aku menoleh kesampingnya, dan kudapati seorang pria memakai suit rapi dan juga kaca mata sedang duduk dengan tumpukan buku-buku dimejanya. Pria yang cukup tampan, menurutku.

"Nde? A.. aku?" Tanyaku, ragu. Lelaki itu tersenyum padaku lalu telunjuknya menunjuk pada buku-buku diatas meja didepanku.

"Antologi puisi. Bila kau bukan seorang sastrawati, setidaknya kau mahasiswi sastra. Atau... mungkin seorang penulis?" Sekali lagi lelaki itu bertanya.

"Ya, aku mahasiswi sastra tingkat akhir yang juga sedang belajar menjadi penulis. Dan buku-buku ini, hanya bahan referensi untuk tugas akhirku saja." Jawabku. Sambil memperhatikan keadaan sekitar, khawatir suara kami mengganggu yang lainnya. Syukurlah, perpustakaan hari itu cukup lengang.

"Jinjayo? Waah.. aku sudah menduganya. Apa yang sedang kau tulis saat ini?" Lelaki itu membenarkan posisi duduknya menghadap kearahku dan menunjukkan bahwa kini dia lebih tertarik pada ceritaku.

"Hhm... hanya sebuah novel. Tapi aku belum menyelesaikannya. Baru beberapa chapter dan itupun masih berupa tulisan kasar. Masih banyak bagian yang harus aku revisi lagi. Ya.. hanya selingan saat aku luang dari pekerjaan dan kuliahku." Lelaki itu mengangguk-anggukan kepalanya, seolah dia menangkap maksud ucapanku.

"Jadi buku-buku ini kau butuhkan untuk tugas akhirmu? Kau juga menulis puisi?" Tatapan lelaki itu semakin fokus dan kurasakan, dia semakin tertarik dengan obrolan ini.

"Ya, kurang lebih begitu. Aku juga punya rencana untuk membuat sebuah antologi untuk puisi-puisi usangku, dan juga beberapa cerpen yang pernah aku buat untuk lomba-lomba menulis. Hanya sebuah rencana. Saat ini, untuk bisa menulis sebuah novel saja aku masih kepayahan." Jawabku, sambil tertawa kecil. Menertawakan mimpiku.

"Aku Cho Kyuhyun. Editor di Gangnam Soul." Lelaki itu mengulurkan tangannya. Meski ragu pada awalnya, namun akhirnya aku menjabatnya.

"Seohyun..." Jawabku.

"Okay, Seohyun Ssi, ini kartu namaku. Meski aku belum tahu apa yang sedang kau tulis, tapi melihat buku-buku di mejamu dan obrolan kita ini, aku punya intuisi bahwa kau akan menulis sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang menarik, dan asal kau tahu, aku tidak suka sesuatu yang mainstream dan aku melaknat plagiarisme! Saat kau menyelesaikan buku mu itu, segera hubungi aku. Atau, kau bisa mengirim beberapa chapter dulu padaku lewat email. Siapa tahu, kita bisa bekerja sama dimasa depan."

Aku tertegun beberapa waktu. Mencoba mencerna kembali apa yang baru saja lelaki ini katakan.

"Seohyun Ssi?" Cho Kyuhyun melambaikan tangannya di depan wajahku yang ternganga.

"Oh.. Nde! Joseohapnida. Aku hanya... aku hanya tidak percaya bahwa aku bisa bertemu dengan seorang editor dan langsung memberiku kesempatan. Buku ku sebelumnya, sempat di tolak oleh 3 penerbit dan itu membuatku sempat tidak yakin dengan karyaku sendiri. Tapi baiklah, aku akan segera menyelesaikan beberapa chapter untuk bisa kau lihat. Aku akan segera mengirimnya. Neomu kamsahapnida, Cho Kyuhyun Ssi." Cho Kyuhyun tersenyum padaku. Pembicaraan kami berakhir seiring kedatangan Jinwoon. Kyuhyun pamit padaku, dan berlalu meninggalkan perpustakaan.

"2 jam 17 menit. Aigoo... begini yaah.. rasanya janjian dengan aktor terkenal? Beruntung aku menunggumu di perpustakaan. Andai saja kau memintaku untuk menunggumu di mall, fuih... aku pasti sudah meninggalkanmu." Jinwoon terkekeh mendengarku lalu duduk disampingku.

"Mianhae, Joohyun ah! Aku benar-benar sudah siap pulang saat produser kami datang. Hhh... mau tidak mau, kami harus menunggunya sebentar sampai dia pergi lagi. Neol gwaenchanna?" Jiwoon tersenyum sambil merapihkan poniku.

"Oh. Gwaenchanna. Aku menunggumu sambil mengerjakan tugasku."

"Jeongmal? Eii... aku baru tahu, kalau ngobrol dengan seorang pria juga termasuk salah satu tugasmu. Ck..ck..ck.."

"Mwo? Yaak!!!! Phabo ah! Siapa yang ngobrol?!! Aku hanya berbicara padanya sebentar saja. Itupun tentang tulisanku." Kulihat Jinwoon tertawa tanpa suara mendengar ucapanku.

"Arrasso.. arrasso!! Awas saja, Seo Joohyun! Kalau kau berani mengkhianatiku, akan kupatahkan kaki lelaki itu!"

"Mwo?!! Kau minta dihajar yah?!" Jinwoon meringis melihatku nyaris melayangkan pukulan ke kepalanya.

"Yak!! Bukankah dulu kau pernah berjanji padaku, kalau kau hanya akan menikah denganku saja? Dulu kau bernjanji tidak akan menikah dengan pria manapun meski dia adalah seorang pangeran Inggris sekalipun. Dulu kau hanya mencintaiku, Joohyun ah!" Haissh... aku tak tahan lagi rasanya, melihat Jinwoon terus meledekku. Anak ini benar-benar minta dihajar.

"Awwww!!!" Lelaki bodoh itu berteriak seketika saat sebuah pukulan kulayangkan ke tubuhnya. Sontak, banyak mata segera terarah pada kami karena teriakan bodoh itu. Tentu saja, Jinwoon melanggar aturan perpustakaan untuk tidak membuat kebisingan.

"Neol phabo ah?!!" Aku membelalakan mataku sambil mencerewetinya dengan suara berbisik.

"Mwo ya?? Kenapa kau memukulku?" Jawabnya dengan suara berbisik juga.

"Siapa yang menyuruhmu berkata yang tidak-tidak, Huh?"

"Mwo?!! Yang aku katakan benar, kan?" Jinwoon sekali lagi menarik perhatian orang-orang dengan suara bodohnya. Dan kali ini dia berhasil membuat seorang petugas perpustakaan datang menghampiri kami dan menunjukkan pintu keluar pada kami. Haish!! Geun phabo ah!! Dia malah terkekeh sambil membantuku membereskan buku-buku juga laptop di mejaku sebelum akhirnya dia mengajakku pergi.

"Kkaja, Joohyun ah!! Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang kau pasti suka!" Tangannya meraih pergelangan tanganku lalu menarikku mengikuti langkahnya. Tapi aku tidak serta merta setuju.

"Odie ga?" Aku menghentikan langkahku hingga Jinwoon pun berhenti lalu menatapku dengan senyumnya.

"Geunyang ddarawa! Aku janji, kau pasti menyukainya. Geok cheongma, ddak hanbon nan middo ah!"

Beberapa menit Jinwoon melajukan mobilnya, lalu menghentikannya didepan sebuah café  kecil sekitaran Inshan-Dong. Anak itu melepas seat belt nya dan mengisyaratkan aku untuk turun mengikutinya.

Tempat itu tidak terlalu ramai. Tapi suasananya cukup asik dengan live music menghangatkan dinginnya malam. Ya. Saat ini tepat pukul 10.00 malam. Terima kasih untuk sahabat kecilku Jinwoon, karenanya, aku menahan laparku hingga selarut itu.

Jinwoon menuntunku menuju sebuah meja ditengah area café. Sebuah meja kayu berbentuk kotak dengan 4 kursi yang juga terbuat dari kayu.

"Yeogi, Joohyun ah! Anju ah." Jinwoon menggeser salah satu kursinya, lalu mempersilahkan aku duduk. Setelah itu, barulah dirinya duduk tepat disampingku.

Jangan salah sangka. Ini sama sekali bukan kencan! Kami hanya makan malam sambil melihat dan mendengar sebuah band café membawakan lagu-lagu swing yang mengalun merdu ditelingaku. Setidaknya, malam ini aku harus berterima kasih pada Jinwoon karena membantuku menetralisir segala sesak yang kurasakan beberapa hari ini. Hhhh... untuk sesaat, aku melupakannya. Dan aku sangat menikmati my very late dinner kali ini.

"Joohyun ah, jamkaman. Aku harus ke toilet sebentar. Tunggu yah." Jinwoon beranjak usai kuanggukkan kepalaku. Aku masih menikmati musiknya. Dan juga choco larva di hadapanku. Tapi sesuatu terasa berbeda. Aku merasa... seperti sepasang mata sedang menatap dan memperhatikanku.

*****

"Apa Jinwoon Oppa belum memberitahumu? Bahwa aku adalah kekasihnya?" Raut wajah itu bisa kuartikan seperti sedang menyulut tanda perang ke arahku. Meski aku tak mengerti, apa maksudnya?

"Son Naeun, jebbal... geumanhae! Kau tidak bisa berbuat seperti ini pada Joohyun!" Jinwoon berusaha menarik kembali tangan gadis itu yang semakin terlihat murka.

"Mwo? Memangnya kenapa? Memangnya dia siapa hingga kau memperlakukannya lebih istimewa dariku? Apa kau lupa, apa yang membuatmu bisa berdiri di posisimu sekarang hingga semua orang bisa mengenal dan menyukaimu? Dan perempuan ini.. sama sekali tidak pantas kau bandingkan denganku!!!!"

"Jaga ucapanmu, Nona... atau kau akan kehilangan popularitasmu saat kau bangun tidur besok pagi!!!" Aku mendengar sebuah suara yang sangat aku kenal tiba-tiba datang dari belakangku. Beberapa saat kemudian, kurasakan tanganku sudah terkunci dalam genggaman tangannya.

"Perempuan dihadapanmu ini.....

Dia milikku!"

Jung Yonghwa, apa yang kau lakukan?









8 komentar: