In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 9
Falling Deeper (Seohyun POV)
Tak terasa, hampir satu bulan aku
berbagi ruang bersamanya. Meski tidak banyak waktu yang kami habiskan bersama
karena jadwal kerja dan kuliahku juga jadwal show CNBLUE, tapi tetap saja,
rasanya berbeda. Saat aku pulang, kadang Yonghwa sudah berada disana dan
menyiapkan makan malam untuk kami. Atau bila aku tiba lebih awal, aku yang akan
menyiapkan makan malam untuk kami sambil menunggunya datang.
Hal yang tidak pernah aku lakukan
dan aku rasakan sebelumnya.
Beberapa hari lalu, aku kembali
mendengarnya. Mungkin itu untuk ketiga kalinya sejak aku tinggal disini. Dari
balik dinding gypsum kamarku, aku mendengar Yonghwa merintih kesakitan ditengah
malam buta. Semakin lama aku mendengarnya, rintihan itu akan berubah menjadi
sebuah isakan yang pilu menyayat hati. Aku juga mendengarnya memanggil nama
seseorang, tapi tidak begitu jelas siapa nama yang dia panggil. Terakhir kali,
aku mendengar isakannya lebih lama, hingga aku berlari menuju pintu kamarnya
dengan maksud untuk melihat keadaannya. Tapi setibanya disana, kudengar
isakannya mulai reda hingga kuurungkan niatku untuk masuk dan membangunkannya.
Apa yang sebenarnya mengganggu
tidurnya? Apa yang sudah membuatnya terisak begitu pilu? Mimpi apakah itu?
Meski ingin kutanyakan pada setiap keesokan harinya, tapi aku ragu. Aku takut
melewati batas ruang yang sebenarnya tidak ingin dia ceritakan padaku.
Betapapun khawatirnya aku, aku hanya akan menunggu hingga Yonghwa mengatakannya
sendiri padaku.
Knock.. Knock....
Aku mendengar seseorang mengetuk
pintu kamarku.
"Masuklah, Oppa!" Tak
lupa, aku save data tulisan terakhirku sebelum aku menutup laptopku dan
kehilangan semua hasil kerja kerasku seperti kemarin.
"Hei... sibuk?" Aku
hanya bisa melihat kepala Yonghwa muncul dari balik pintu kamarku.
"Tidak juga. Aku hanya
sedang menulis sesuatu. Wae geurae, Oppa? Kau membutuhkan sesuatu?" Usai
mematikan laptopku, aku kemudian berdiri dan berjalan mendekatinya di pintuku.
"Ania... geunyang...."
Yonghwa tampak ragu menatapku.
"Geunyang wae? Palli
malhaebwa!" Desakku.
"The Boys want to meet
you." Yonghwa mengisyaratkan dengan ibu jarinya.
"The Boys??
Maksudmu...." Yonghwa menganggukkan kepalanya seolah dia langsung mengerti
dengan apa yang terlintas di kepalaku.
"Yes! My Boys! Mereka
menunggumu di ruang tengah."
'What??? Eomma... jigeum eottokhae?? CNBLUE? Aku akan bertemu mereka
semua? Saesange... apa yang harus aku lakukan?'
"Hyun... gwaenchanna??"
Suara Yonghwa menarik lamunanku kembali.
"Uh?? Oo... ne.. gwaenchanna.
Hajiman...."
"Gwaenchanna, Hyun! Geok
cheongma. Mereka semua pria-pria yang jauh lebih manusiawi dariku. Aku jamin,
kau akan lebih mudah bergabung dengan mereka dibanding denganku." Yonghwa
memberiku senyumannya dan itu cukup untuk memberiku sebuah jaminan hingga
membuat kegugupanku sedikit berkurang.
"Arrasso, Oppa. Gidaryo
juseo, aku akan merapihkan diriku dulu."
"Huh? Untuk apa? Aigoo...
Seo Joohyun! Saat bersamaku kau bahkan membiarkan rambutmu terikat sembarang.
Tapi saat kau akan bertemu pria-pria itu, kau justru sibuk merapihkan
penampilanmu?" Yonghwa tampak membelalakan matanya. Sejujurnya, dia
terlihat lucu saat itu.
"Mwo ya, Oppa??!! Tentu saja
aku harus terlihat rapi. Who knows... when will i find my destiny, right?"
Gila!! Aku tak percaya bahwa aku baru saja memberinya sebuah kedipan.
"MWO?!!!! Destiny??? What
destiny?" Bola matanya tampak semakin besar membulat. Dan entah mengapa,
aku menikmati reaksinya terhadap candaanku kali ini.
"Aigoo... geumanhae, Oppa!
Jigeum, jebbal... kka juseo. Aku akan mengganti bajuku, okay?" Dengan
sedikit tenaga, aku mencoba mendorong tubuhnya untuk keluar dari kamarku.
"Mwo?? Untuk apa kau
mengganti bajumu segala?"
"Kau ini terlalu banyak
bertanya, Mr. Blue!! Just get out of here, please!! And wait for me!!" Aku
kembali mendorongnya. Tapi lelaki itu semakin keras kepala. Dia kembali lagi
menghampiriku dengan ekspresi aneh nya.
"Miss Seo, kuperingatkan
kau! Jangan coba-coba kau pakai baju yang akan membuat mereka senang!!!! Trust
me! Mereka adalah pria-pria yang tidak layak mendapatkan jackpot seperti itu.
Selain itu, semua akan sia-sia saja karena mereka punya selera yang aneh
tentang perempuan. So, Barbie... don't ever wish to find your destiny in them!
You won't have any idea how terrible your destiny will be."
Aku terkekeh mendengarnya. Mwo?
Beberapa menit yang lalu, Yonghwa memberi kesan yang baik tentang
teman-temannya dihadapanku. Tapi kemudian, 180° dia putar semua compliment nya
tentang mereka.
"Arraso... Arraso!! Geunyang
kka!!!" Sekali lagi, aku mendorong tubuhnya dan kali ini aku berhasil
membuatnya keluar dari kamarku. Hhm... aku baru menemukan sisi itu dalam
dirinya. Jung Yonghwa, ternyata tidak lebih dari seorang chodding.
Akhirnya, aku melangkahkan kakiku
menuju ruang tengah. Dari balcon, sudah terdengar riuh suara obrolan dan tawa
mereka. Tuhan.. jantungku berdegup semakin kencang. Aku melihat Yonghwa
melambaikan tangannya padaku saat dia melihatku dari balik pintu kaca. Dan
tatapan ketiga pria yang lain mengikutinya beberapa saat kemudian. Aku menghela
nafas panjang, sebelum akhirnya kuseret langkahku mendekati mereka.
Aku bersumpah, aku mencoba untuk
menampilkan senyum terbaikku ditengah kegugupanku. Berharap semua itu tidak
nampak jelas diwajah bodohku.
Ketiga pria itu menatapku dengan
senyum mereka. Dan Yonghwa mulai berdiri mendekatiku lalu menggiring tubuhku
untuk berjalan lebih dekat lagi dengan mereka.
"Guys, here.. this is Seo
Joohyun. Tapi dia lebih senang bila orang memanggilnya Seohyun." Mungkin
Yonghwa tidak menyadarinya. Tapi tangannya yang kini melingkar dipundakku
justru membuat kegugupanku bertambah menjadi 2 kali lipat.
"Anyeong haseo, Seo Joohyun
imnida. Pangap seupnida." Aku membungkukan tubuhku dan kulihat mereka pun
ikut berdiri membalas sapaanku.
"Hai Seohyun ah! Kita berada
di line usia yang sama. So... tidak keberatankan bila aku memanggilmu seperti
itu? Aku Kang Minhyuk, drummer mereka." Tentu saja aku tahu kalau dia
adalah drummer CNBLUE. Meski ini pertama kalinya dia melihatku, tapi aku sudah
melihatnya berkali-kali meski tidak terlalu tahu siapa nama masing-masing dari
mereka.
"Ooh... Nde! Panggil saja
namaku senyaman mungkin." Jawabku, masih dengan sisa kegugupanku.
"Aku juga berada di usia
yang sama denganmu, Seohyun Ssi. Namaku Lee Jungshin." Lelaki kurus tinggi
itu menyodorkan tangan kanannya meminta untuk kujabat. Dan akupun menjabatnya
sambil terus berfikir.
'Ah... jadi ini pria yang bernama Jungshin yang pernah menempati kamar
yang aku tempati saat ini? Tampangnya cukup lumayan. Tapi seleranya dalam
memilih design kamar, hhmmm... aku ragu kalau lelaki ini benar-benar seorang
lelaki sejati.'
"Dan aku Lee Jonghyun. Meski
aku lebih tua satu tahun darimu, tapi kau bisa memanggilku hanya dengan namaku
saja." Lelaki terakhir ini memiliki rupa yang berbeda dari yang lainnya.
Kulitnya lebih putih dengan lesung pipit dikedua pipinya dan kedua bola matanya
berwarna coklat terang. Aku sempat mengira bahwa pria ini memiliki darah
blesteran. Meski tidak yakin juga. Selain itu, entahlah... mungkin hanya perasaanku
saja, aku merasa sikap Jonghyun lebih dingin dibanding yang lainnya.
"Okay, cukup dengan
perkenalannya. Kajja... jangan buang waktu lagi. Lakukan pekerjaan
kalian!!" Yonghwa berdiri dan satu persatu mendorong ketiga temannya untuk
berjalan masuk ke studionya.
Mwo???!!! Hanya begini saja?!!!!
Setelah kurapihkan penampilanku, mengganti bajuku, semua hanya selesai seperti
ini???
Yonghwa menoleh kearahku untuk
terakhir kalinya sebelum dia menghilang dibalik koridor dan memberiku sebuah
tatapan yang seolah mengatakan 'Apa aku
bilang? Untuk apa kau melakukan semua itu, Seo Joohyun?'
Phabo!! Itu karena dia buru-buru
menggiring semua temannya untuk menjauhiku. Padahal aku tahu, Jungshin baru
akan mengatakan sesuatu padaku sebelum Yonghwa menghancurkan atmosfer itu.
Hhh... akhirnya, kuputuskan untuk menyibukan diriku didapur dan membuat sesuatu
untuk cemilan mereka. Dengan beberapa bahan yang kubeli kemarin, aku akan
mencoba membuat goguma cupcake dan es sarang burung yang kini menjadi minuman
favorit Yonghwa.
Satu jam kemudian, cupcake ku
siap terhidang. Aku mendisplay nya di sebuah ceramics flat dan menghidangkannya
diatas mini bar table. Pria-pria itu sepertinya masih sibuk dengan musik mereka
di studio Yonghwa. Aku memutuskan untuk meneruskan tulisanku di kursi balcon.
"Hai... apa yang sedang kau
tulis?" Sebuah suara mengejutkanku dari belakang. Tenyata Jungshin datang
dengan sebotol air mineral ditangan kanannya. Pria itu berjalan mendekatiku
lalu duduk tepat dikursi sebelahku.
"Bukan apa-apa. Hanya
keisenganku saja." Jawabku dengan senyum yang coba kubuat senormal
mungkin.
"Jinjja? Ah.. aku ingat! Kau pasti sedang menulis novel,
kan? Hyung pernah bilang, bahwa kau adalah seorang penulis." Jungshin
meneguk lagi minumannya.
"Penulis? Benarkah Yonghwa
Oppa mengatakan itu? Aigoo... dia benar-benar seorang hyperbole. Aku hanya
seorang pelayan restaurant yang kebetulan punya hobi menulis, Jungshin ah! Dan
aku bukan seorang penulis, karena novelku bahkan berkali-kali ditolak oleh
penerbit." Aku tertawa kecil. Jungshin pun tersenyum hangat mendengar
ceritaku.
"Gwaenchanna, Seohyun ah!
Untuk menjadi seorang penulis, kau tidak perlu membuat bukumu terjual lebih
dulu. Tulis saja sebanyak apapun yang ingin kau tulis. Setidaknya, menulislah
untuk dirimu sendiri tanpa beban apapun. Dengan begitu kau akan lebih
menikmatinya hingga suatu saat nanti orang akan menerima karyamu."
Aku tertegun sejenak saat
mendengarnya. Pria yang bahkan men-design kamarnya dengan nuansa pink ternyata
bisa mengatakan sesuatu yang bijak seperti itu, fikirku.
"Hhhmm.... harum apa
ini?" Tiba-tiba sebuah suara lagi terdengar dari dalam rumah. Kali ini
Minhyuk datang mendekat kearah kami.
"Oo iya, aku tadi membuatkan
sesuatu untuk kalian. Jamkamanyo... akan aku ambilkan." Aku beranjak dari
dudukku dan segera mengambil sepiring cupcake buatanku tadi lalu
menghidangkannya di meja taman.
"Whoaaa....
masgettaa...!!" Kedua mata sipit Kang Minhyuk berubah seketika saat
cupcake itu kuletakkan di hadapannya.
"Makanlah. Kau pasti lapar
setelah menggebuk drum-mu, Minhyuk ah."
"Geuroom!! Tentu saja aku
sangat lapar. Whoaa... pasti semua ini enak sekali." Minhyuk mengambil
satu cupcake buatanku, dan Jungshinpun mengikutinya. Aku senang, mereka
memakannya dengan lahap. Untuk urusan baking dan dessert, jujur saja, aku cukup
percaya diri. Pengalamanku bekerja di KCC, sedikitnya cukup lumayan untuk
urusan ini. Kecuali memasak, tentunya. Entah kenapa, aku tidak pernah 100%
berhasil melakukan hal yang satu itu.
"Jamkaman, aku akan
membuatkan dessert untuk kalian." Aku kembali berdiri dan akan membuat es
sarang burung untuk mereka.
"Tidak usah repot-repot,
Seohyun ah. Aku tidak ingin Yonghwa Hyung mencereweti kami karena membuatmu
melakukan semua ini untuk kami." Jungshin mencoba menghentikanku dengan
mulutnya yang masih penuh dengan cupcake.
"Geok cheongma, aku tidak
sedang repot kok. Hanya dessert sederhana yang mudah untuk aku buat. Yonghwa
Oppa juga menyukainya kok." Akupun berjalan menuju dapur untuk menyiapkan
semuanya.
Beberapa waktu kemudian, Jungshin
dan Minhyuk pun mengikutiku kedapur. Mereka duduk didepan mini bar table sambil
memperhatian gerakanku. Entahlah, aku mulai merasa nyaman dengan kedua lelaki
ini. Yonghwa benar, mereka orang-orang yang hangat dan terbuka yang membuatku dengan
mudah berbaur dengan mereka.
"Aku tidak percaya pada
awalnya, saat Hyung bilang bahwa dia tinggal dengan seseorang di rumahnya. Dan
aku semakin tidak percaya lagi bahwa yang tinggal bersamanya adalah seorang
perempuan." Jungshin memecah keheningan dengan celoteh kecilnya. Aku
tersenyum merespon ucapannya sambil terus melakukan pekerjaanku.
"Jinjja?"
"Jinjja! Kau tahu, Seohyun
ah? Aku selalu membujuknya untuk mengajak kami kesini sejak pertama kami dengar
kau pindah. Aku hanya ingin membuktikan bahwa Hyung tidak sedang membual hanya
untuk membalas dendam padaku karena keputusanku untuk pindah dari rumahnya. Dan
saat aku melihatmu untuk pertama kalinya tadi, wow.... aku semakin... semakin..
semakin.. tidak percaya lagi! Bagaimana bisa Yonghwa Hyung seberuntung ini?
Seorang perempuan cantik sepertimu mau menyewa kamar yang menurutku lebih mirip
seperti sangkar burung. Belum lagi dengan barang-barang Hyung yang dia letakkan
disana juga. Dulu aku sampai tidak bisa membedakan, apakah ini benar kamarku, atau
sebuah gudang yang Hyung persilahkan untuk tempat tidurku?" Ekspresi
wajahnya tampak lucu saat Jungshin bad mouthing Hyung nya dengan suara yang
sengaja dia pelankan.
"Benarkah? Barang-barang
apa? Aku tidak menemukan satupun barang miliknya di kamarku. Dan lagi,
menurutku, kamar itu lumayan nyaman. Bahkan sangat nyaman untukku. Aku akui,
meski seleramu sebegai laki-laki cukup aneh dalam men-design kamar itu, tapi
aku menyukainya. Aku suka warna pink dengan motif hati dan juga nuansa putih di
toiletnya. Kau benar-benar cute, Jungshin ah!"
"Mwo? Pink? Motif hati? Apa
maksudmu?" Jungshin tampak mengerutkan keningnya.
"Iya, pink. Bed cover pink
dan wallpaper motif hati di kamarku. Bukankah semua itu kau yang menatanya?
Kamar itu sebelumnya milikmu kan?" Jungshin dan Minhyuk saling menatap
dengan wajah heran bercampur bingung.
"Permisi, Seohyun ah... tapi
aku penasaran dengan apa yang kau maksud. Boleh aku melihat kamarmu?"
Tanya Jungshin. Dan kini, justru giliranku yang bingung dibuatnya. Rencanaku
untuk membuatkan dessert untuk mereka akhirnya kutunda, lalu mengajak dua pria
yang mulai aneh ini untuk melihat kamarku.
"Masuklah.." Meski aku
masih belum mengerti apa maksud Jungshin dan untuk apa dia melihat kamarku,
tapi aku persilahkan saja mereka berdua untuk melihatnya.
"Omo... saesange!!! Maldo
andwe!!! Mitjoseo!! Aku tidak percaya semua ini." Itulah kata-kata yang
pertama kali meluncur dari mulut Jungshin saat dia masuk kedalam kamarku.
"Minhyuk ah... apa yang
terjadi dengan Jung Yonghwa?" Sekali lagi Jungshin mengoceh sembarang
dengan wajah terkesima. Begitupun Minhyuk. Kedua mulut mereka serempak terbuka
melihat isi kamarku seolah mereka sedang melihat sebuah istana berdinding emas.
"Chogie...!! Sebenarnya ada
apa sih? Apa yang salah dengan kamarku?" Akhirnya, pandangan mereka
kembali padaku setelah puas menelusuri semua sisi kamar ini.
"Berapa lama kau berfikir
hingga kau memutuskan untuk tinggal disini?" Minhyuk yang kali ini
bertanya.
"Kurang lebih 2 minggu bila
aku tidak salah mengingat." Jawabku.
"2 Minggu?!!!" Mereka
serempak bertanya.
"Daebaakkk!!!" Jungshin
menambahi.
"Apanya yang hebat??
Sebenarnya kalian kenapa sih?? Aku benar-benar bingung melihat sikap aneh
kalian ini. Apa yang salah dengan kamarku?" Kali ini aku mulai tidak sabar
dan ingin segera mendengar penjelasan mereka.
"Seohyun ah, bila aku
katakan semua, mungkin kau tidak akan percaya. Tapi demi Tuhan, kamar ini
benar-benar berbeda dengan saat terakhir kali aku menempatinya. Jangankan
dengan wallpaper dan tempat tidur ini. Disudut sana, Hyung bahkan menyimpan
beberapa gitar dan box-box yang entah berisi apa. Aku tidak percaya bahwa dia
akan merubah tempat ini menjadi seperti ini."
Mwo? Benarkah? Benarkah Yonghwa
yang sengaja menyiapkan semua ini untukku? Benarkah semua ini bukan Jungshin
yang menatanya sebelumnya? Aku seperti hilang sekejap, sebelum akhirnya Minhyuk
menarik kesadaranku kembali.
"Dan yang membuatku sempat
terkejut adalah saat Hyung bilang akan menyewakan kamarnya pada seseorang.
Padahal selama ini kami tahu bahwa Hyung tidak pernah bisa berbagi ruang dengan
siapapun selain kami. Bahkan saat touring pun dia akan memilih kamar hotelnya
sendiri dan tidak akan berbagi dengan kami. Saat Hyung bilang bahwa roomate nya
seorang perempuan, aku lebih kaget lagi. Tapi aku sedikitnya mengerti, mungkin
kau memang orang yang istimewa untuknya. Tidak heran, bila dia menyiapkan kamar
ini sedemikian rupa hanya dalam waktu 2 minggu saja. Bila kau bukan seseorang
yang istimewa untuknya, Hyung tidak mungkin membiarkanmu masuk kedalam
rumahnya. Apalagi berbagi ruang."
Lagi-lagi aku terkejut mendengar
ucapan Minhyuk.
"Maja! Hyung tidak akan
membiarkan orang asing tinggal bersamanya bila orang itu tidak benar-benar
mengenal dan mengerti dirinya. Hyung pasti sudah menceritakan semuanya padamu,
kan?" Jungshin menambahi.
"Menceritakan apa?"
Demi Tuhan, aku masih sangat bingung dengan semua yang dua pria ini ucapkan.
"Semuanya. Tentang trauma
yang...." Belum selesai Jungshin mengatakannya, Minhyuk segera
mengehentikannya.
"Jamkaman! Seohyun ah...
benarkah kau tidak tahu apa-apa tentang masa lalu Hyung?" Kedua mata mereka kini menatapku
tajam. Entah mengapa, aku merasa tersudut dan terintimidasi dengan
tatapan-tatapan itu.
"Masa lalu? A.. aku.. aku
tidak mengerti apa yang kalian ucapkan." Suaraku terdengar ragu. Lalu
kedua pria itu serempak menutup mulut mereka seolah mereka menyesali semua kata
yang sudah mereka ucapkan sebelumnya.
"Itu sebabnya aku benci saat
kalian terlalu banyak bicara!"
Sebuah suara tiba-tiba membuat
kami luar biasa terkejut. Beberapa saat kemudian, sosok Jonghyun muncul dari
balik pintu dengan wajah datar dan ekspresi dinginnya. Entah ekspresi itu dia
peruntukan untuk teman-temannya, atau untukku. Tapi semua itu cukup
menakutkanku.
"Hyung...." Minhyuk menyapanya
dengan gugup.
"Kajja!! Yonghwa menunggu
kalian di ruang tengah. Jangan sampai dia datang kesini dan mendapati kalian
sedang bergosip tentang dia dibelakangnya."
Aishh!! Aku benar-benar tidak
suka dengan sikapnya. Mwo ya? Siapa yang sedang bergosip?!!
Kami semua akhirnya mengikutinya
berjalan menuju ruang tengah. Nampak Yonghwa sedang duduk didepan mini bar
table sambil memakan cupcake buatanku.
"Yak!! Apa yang kalian
lakukan di kamar Seohyun?!!!" Yonghwa memelototi Minhyuk dan Jungshin begitu
kami melintasi pintu kaca.
"Opso!! Aku hanya ingin
bernostalgia dengan bekas kamarku dulu dan memintanya mengajakku kesana. Tapi
ternyata semuanya sudah benarrrrr-benarrrrr
berubah! Hingga aku tidak mengenalinya lagi. Ruangan itu kini benar-benar sudah
menjadi sebuah kamar. Bukan setengah gudang, setengah kamar!"
Jungshin meledek Yonghwa dengan
gaya sarkastiknya hingga Yonghwa tak mampu lagi melawan kata-katanya. Aku
mengerti, mungkin Yonghwa malu padaku. Karenanya aku berusaha mengalihkan arah
obrolan mereka yang entah akan berakhir seperti apa. Aku kembali pada sisa
pekerjaanku sebelum Jungshin dan Minhyuk membuatku tersesat dalam teka teki
mereka.
"Okay, Guys!!! Aku akan
membuat dessert untuk kalian! Seharusnya pekerjaan ini sudah selesai saat ini jika
saja mereka tidak menggangguku."
"What dessert? Es sarang
burung?" Yonghwa menatapku dengan mata berbinar.
"Hhm...!" Jawabku
singkat. Kulihat sebuah senyum merekah lebar diwajahnya.
"Guys, kalian harus mencoba
es sarang burung buatannya! Sumpah.... minuman ini luar biasa enak! Kalian
pasti akan menyukainya!" Yonghwa bersikap hypperbole lagi hanya untuk
sebuah es sarang burung. Haruskah dia mengatakan hal itu dihadapan
teman-temannya? Tsk.. chodding!!
"Really? Aku
penasaran..."
Kali ini aku mendengar suara
Jonghyun. Aku menatap wajahnya dan laki-laki itu sedang tersenyum padaku.
Senyum yang berbeda dari sebelumnya. Aku benci mengatakannya, tapi aku merasa,
senyumnya kali ini lebih tulus dari sebelumnya. Igae mwo ya? Apa yang
sebenarnya dia fikirkan tentangku? Dia bisa begitu dingin sebelumnya, tapi
kini.... dihadapan Yonghwa, dia justru bersikap sebaliknya. Siapa sebenarnya
lelaki ini?
"Silahkan.....! Aku harap
kalian menyukainya." Kuhidangkan satu persatu mangkuk es sarang burung itu
dihadapan masing-masing. Mereka semua menyambutnya dengan tatapan bersinar.
"Hhhm..... whoaaa....
Seohyun ah!! Jinjjaa... neol jinjja daebak!! Igae jinjja mastaaa!!!"
Jungshin melahap minuman itu penuh semangat. Begitupun Minhyuk dan Yonghwa.
Lalu, mataku melayang pada laki-laki disamping Yonghwa yang juga sedang
menikmati dessert buatanku. Matanya hanya tertuju pada mangkuk dihadapannya
sambil terus melahapnya tanpa berkomentar apapun. Tsk! Aku penasaran, apa
pendapatnya tentang dessertku. Tapi lupakan saja! Tidak penting untukku.
Usai menyantap habis dessert
mereka, keempat pria itu kembali ke studio Yonghwa. Melanjutkan obrolan mereka
yang aku tidak mengerti. Aku hanya tahu, semua itu tentang musik. Sementara
itu, aku segera membereskan mangkuk-mangkuk mereka dan mencucinya saat itu
juga. Ditengah aktifitas mencuciku, tiba-tiba seseorang berdiri disampingku dan
membuatku cukup terkejut.
"Aku bantu, yah..."
Jonghyun tiba-tiba mengambil beberapa mangkuk yang sudah aku bilas dan
mengeringkannya. Sejujurnya, aku masih tidak nyaman karena sikapnya.
"Seohyun ah,, hhm... aku
tidak tahu harus mengatakannya bagaimana. Mungkin kau juga bisa salah faham
dengan sikapku sebelumnya tapi... aku hanya...." Jonghyun menghentikan
ucapannya beberapa saat. Lelaki itu tampak sedang berfikir sementara aku
menunggunya untuk menyelesaikan ucapannya.
"Seohyun ah, aku hanya ingin
mengatakan bahwa... setelah 6 tahun ini, ini adalah pertama kalinya aku melihat
Yonghwa seperti ini. Maksudku, selain aku, Minhyuk dan Jungshin, aku baru
melihatnya berinteraksi dan membuka dirinya lagi untuk orang lain. Dan itu
denganmu, Seohyun ah!" Kali ini, Jonghyun menatapku lekat. Aku tidak
melihat ada sedikitpun sinisme dari sorot mata itu. Ada sesuatu yang lebih
dalam. Lebih tegas ingin Jonghyun katakan padaku lewat sorot mata itu. Tapi aku
masih belum memahaminya.
"Kau tahu, Seohyun?
Sejujurnya aku senang melihatnya seperti ini. Aku lega. Betapapun aku dan
anak-anak mencobanya, tapi usaha kami tidak cukup untuk bisa mengembalikannya
kemasa sebelum 6 tahun yang lalu. Melihatnya mulai membuka dirinya untukmu,
melihat caranya bicara dan bagaimana ekspresi wajahnya saat dia menceritakan
segala tentangmu,...
Disatu sisi, aku bersyukur pada
Tuhan karena akhirnya aku bisa melihat cahaya itu sekali lagi dalam dirinya.
Tapi disisi lain, aku juga tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Aku tidak
bisa pura-pura tenang tanpa memikirkan kapan Yonghwa akan kembali lagi
kemasa-masa terbawahnya." Jonghyun menatapku sendu. Ekspresi wajahnya
semakin serius.
"Aku... hhm... sejujurnya
aku tidak mengerti tentang apa yang baru saja kau katakan, Oppa. Aku tidak tahu
masa-masa seperti apa yang sudah Yonghwa Oppa jalani sebelumnya. Tapi aku
mengerti kekhawatiranmu.
Terus terang, aku juga
mengkhawatirkannya beberapa hari ini. Tapi aku ragu untuk bertanya padanya
meski niatku hanya ingin tahu apakah dia baik-baik saja atau tidak."
"Kau mulai
mendengarnya?" Jonghyun menatapku lebih tajam. Aku mengangguk pelan
berharap yang dia maksud adalah tentang rintihan-rintihan Yonghwa ditengah
malam.
"Sebaiknya jangan pernah
bertanya apapun padanya tentang apa yang kau dengar, Seohyun ah. Jangan! Tunggu
sampai dia mengatakan segalanya padamu."
"Arrasso, Oppa! Tapi... apa
kau tahu, apa yang membuatnya seperti itu? Yonghwa Oppa juga pernah mengatakan
sesuatu tentang 6 tahun lalu. Seperti saat dia menaiki lagi Mr. Red yang dia
bilang.. dia baru melakukannya lagi sejak 6 tahun lalu. Atau saat aku buatkan
dia makan malam ditempat lamaku. Dia juga bilang bahwa terakhir kali dia
menikmati masakan rumahan adalah 6 tahun yang lalu."
"Mr. Red? Kau tahu Mr.
Red?" Tatapan Jonghyun kian serius.
"Hhm. Beberapa bulan lalu,
Yonghwa mengajakku makan Dongjangjigae di restoran milik Moonsae Ahjussi. Saat
itu, dia datang dengan menaiki Mr. Red dan mengajakku pergi bersamanya."
Kali ini mulut Jonghyun terbuka lebar. Begitupun dengan kedua bola matanya.
Jelas sekali bahwa lelaki ini begitu terkejut mendengar ceritaku.
"Oh God!" Bisiknya
sambil memejamkan kedua matanya.
"Waeyo, Oppa? Apa yang
terjadi?" Aku semakin penasaran dengan semua cerita ini. Dan kecemasanku
pun meningkat drastis. Apa yang sebenarnya sudah dialami Yonghwa?
"Apalagi yang dia ceritakan
padamu?" Sekali lagi Jonghyun bertanya dengan wajah cemas nya.
"Opsoyo. Hanya itu saja.
Meski betapapun inginnya aku bertanya tentang apa yang terjadi 6 tahun yang
lalu, entahlah... aku selalu ragu, Oppa. Aku takut dan aku khawatir untuk
sesuatu yang belum jelas kufahami. Apa kau tahu bahwa yang terjadi 6 tahun lalu
itu yang mungkin menjadi teror disetiap tidurnya?" Jonghyun menghela nafad
panjang sebelum dia menjawabku.
"Tentu saja aku tahu. Tapi
aku tidak pada kapasitas yang bisa mengatakannya padamu." Jonghyun
menatapku lebih tenang kali ini.
"Kau tunggu saja, Seohyun
ah. Dari yang kulihat, saat Yonghwa memintamu untuk tinggal dirumah ini, saat
itu dia sudah menganggapmu sebagai seorang yang... you know... like someone he
can share something with. Terutama karena dia membiarkanmu tinggal dikamar itu
yang hanya tersekat dinding gypsum dengan kamarnya. Yonghwa sangat sadar, kau
bisa mendengar semua teror yang sering dia rasakan setiap malam. Dan dia
baik-baik saja meski dia tahu kau akan mengetahuinya.
Yang ingin aku katakan dari semua
pembicaraan ini adalah....
Seohyun ah, aku tahu bahwa
mungkin apa yang aku katakan ini terdengar konyol untukmu. Tapi kumohon,
bersikap baiklah padanya. Aku hanya merasa, bahwa bersamamu, dia bisa menemukan
lagi hidupnya yang selama 6 tahun ini sempat terampas darinya. Entah bagaimana
awalnya dan apa yang membuatnya begitu terikat denganmu, Seohyun ah. Tapi bila
dia sampai menaiki lagi Mr. Red dan membawamu menaiki itu bersamanya, aku
yakin... kau bukan hanya seseorang untuknya. He found the reason in you,
Seohyun! Dan bila sampai kau menyakiti atau mengecewakannya, aku takut...
Yonghwa akan kembali ke masa itu. Kau mengerti maksudku kan?"
Tatapnya kini seolah mengiba.
Meski aku masih tersesat didalam labirin yang di buat Jungshin, Minhyuk dan
kini Jonghyun memperpanjang jalan itu, tapi aku menganggukkan kepalaku dan meyakinkan
Jonghyun bahwa aku berada disini bukan untuk mengganggunya. Apalagi
menyakitinya. Tidak... aku tidak akan pernah melakukan itu padanya.
"Gomawo, Seohyun ah! Aku
tahu, kau pasti gadis yang baik. Bila kau membutuhkan sesuatu, atau ada sesuatu
yang mengganggu fikiranmu, jangan ragu untuk menghubungiku. Kapanpun itu."
Untuk pertama kalinya, aku baru mengakui bahwa Jonghyun punya senyum yang
manis. Terutama dengan lesung pipitnya. Aku mengerti sekarang, Jonghyun hanya
terlalu mencemaskan sahabatnya. Seperti yang dia katakan. Aku hanya akan
menunggu.
"Wow... sejak kapan kau
punya keahlian merayu seperti itu? Menghubungimu? Kapanpun itu? Come on,
man..!! What a cheap shit!!" Suara Yonghwa membuatku dan Jonghyun
terhenyak. Tuhanku, berkali-kali pria-pria ini mengagetkanku dengan kemunculan
mereka yang tiba-tiba.
"Yak!! Sejak kapan kau
berada disana?" Aku bisa merasakan, Jonghyun mulai gugup dihadapan
Yonghwa.
"Sejak Gomawo, Seohyun ah...
aku tahu kau gadis yang baik. Bila kau membutuhkan sesuatu... bla... bla...
bla...! Aigoo... you know, man? You were suck when you tried to act
nicely!"
"Op... Oppa... semua ini
tidak seperti yang kau fikirkan. Kami hanya...." Jantungku seakan berhenti
berdetak saat Yonghwa menatapku begitu tajam. Beberapa saat aku terdesak oleh
tatapan itu hingga tenggorokanku tak mampu memproduksi satu katapun. Bahkan
untuk menghela nafas saja, tiba-tiba terasa berat untukku. Aku tahu semua ini
terdengar bodoh. Tapi aku tidak ingin Yonghwa salah faham padaku.
Namun beberapa saat kemudian,
lelaki itu terbahak. Ya! Yonghwa tertawa terpingkal-pingkal hingga membuatku
bingung bukan main.
"Op.. pa...." Demi
Tuhan, aku ingin menangis saat itu juga.
"Aigoo, Hyun... tentu saja
aku tahu!" Yonghwa masih tertawa sambil memegang perutnya.
"Aku tahu tidak akan salah
faham pada kalian, Hyun. Aku tahu, Jonghyun tidak akan berani macam-macam.
Kalau tidak, lelaki ini tidak akan bisa tinggal lagi di planet ini karena Im
Yoona akan mengusirnya dan mengirimnya ke Saturnus." Kali ini, aku melihat
Jonghyun tersenyum lepas. Mungkin diapun merasa lega seperti halnya aku.
"Kau membuatku takut, Oppa!
Aku hanya tidak ingin kau menyangka bahwa aku mencoba menggoda salah satu
diantara kalian. Demi Tuhan, aku tidak ada maksud seperti itu. Kami
hanya..."
"Hei... easy! Aku tahu,
Baby! Demi Tuhan, akupun tidak berfikiran macam-macam tentang kalian. Aku hanya
senang mempermainkanmu seperti ini. Mianhae..." Entah dia melakukannya
dengan sadar atau tidak, tapi kini jemarinya menyentuh bibirku. Dia bukan hanya
sedang menghentikan mulutku untuk berbicara, tapi juga menghentikan detak
jantungku dengan sentuhannya.
"Aigoo.... kenapa sekarang
malah aku yang merasa mual?!! God, what a cheap shit!!!" Jonghyun
menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berlalu meninggalkanku dan Yonghwa.
Setelah Jonghyun benar-benar menghilang dari pandangan kami, perhatian Yonghwa
kembali padaku.
"Gwaenchanna?"
Tanyanya, tiba-tiba.
"Mwo ya?"
"Teman-temanku. Mereka tidak
membuatmu merasa tidak nyaman kan? Aku minta maaf bila maknae kami bersikan
over reacting tentang kamarmu. Dia hanya merasa cemburu. Dan kupastikan anak
itu benar-benar menyesal sudah meninggalkanku sendiri. Tsk... anyway... kau
jauh lebih baik darinya, menurutku." Aku tersenyum mendengar ucapannya.
"Gwaenchanna, Oppa. Mereka
hanya penasaran dengan bentuk kamar itu saat ditempati oleh seorang perempuan.
Lagipula, kau benar. Mereka membuatku dengan mudah merasa dekat dengan
mereka."
"Iya kan? Apa kataku! Geok
cheongma, mereka juga menyukaimu, Hyun. Jangan kaget bila setelah ini Jungshin
akan sering mengganggumu lewat pesan-pesannya di SNS."
"Oo iya, apa Jonghyun
mengatakan sesuatu padamu?"
Ooww!! Tiba-tiba lidahku terasa
kelu. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk berdusta padanya tentang apa yang
sebenarnya kami bicarakan tadi.
"Sesuatu apa? Tentang musik
kalian atau tour kalian? Atau.... tentang fansgirl mu yang pantang menyerah
dalam mendekatimu?" Jarieso, Seo Joohyun!! Rasanya aku mulai berbakat
dalam hal improvisasi.
"Mwo??? Fansgirl? Dia
mengatakan itu?" Matanya terbelalak.
"Wae? Kau mau pamer juga?
Tsk... kau fikir dengan begitu kau ini keren, Oppa?" Aku melingkarkan
kedua tanganku didadaku dan memberinya tatapan yang menantang.
"Tentu saja keren. Meski
yaa.... untuk seorang Jung Yonghwa, punya banyak fansgirl itu bukanlah sesuatu
yang aneh lagi. Bahkan sebelum aku bergabung dengan CNBLUE pun aku sudah cukup
popular dikalangan gadis-gadis itu. Tapi kau tenang saja, Joohyun ah! Hanya kau
satu-satunya fangirl-ku yang beruntung. Kau bisa melihatku dan berbicara denganku
kapanpun kau mau. Kau bahkan bisa sarapan, makan siang, dan makan malam
denganku. Hebat, bukan?" Lelaki itu mengikuti caraku melingkarkan
tangannya didepan dadanya.
"Mwo??!!! Siapa bilang aku
fangirl-mu? Come on, Mr. Jung!! Don't be too delusional! Hei... CNBLUE itu
punya 4 orang member. Bukan hanya Oppa saja!!" Jawabku sengit. Tapi dia
tidak menyerah. Tubuhnya semakin mendekat dan mendesakku hingga keujung dinding
dapur.
"Benarkah? Lalu siapa
biasmu? Jungshin? Minhyuk? Atau lelaki yang baru saja pergi dari sini?"
Debar jantungku memacu lebih
kencang seiring desah nafasnya yang terasa hangat menyapu wajahku. Ya!! Wajah
kami hanya berjarak beberapa inci saja.
"Op... oppa..."
Waktu terasa berhenti berputar.
Dunia tiba-tiba hening tanpa suara. Hanya kedua mata kami yang saling memandang
dengan bahasa yang bahkan tidak mampu kuartikan. Aku hanya merasa, matanya
menusuk teramat dalam hingga kedasar hatiku. Membuatku terpaku dan tak mampu
bergerak ataupun bersuara. Hingga perlahan, inci demi inci mulai terhapus
diantara kami dan aku mulai bisa merasakan sesuatu yang hangat menyentuh
bibirku.
Waktu terasa berhenti berputar.
Dunia tiba-tiba hening tanpa suara. Hanya debar jantungku saja yang terdengar
menggema ditelingaku.
Apa yang sudah kulakukan? Aku
pasti sudah gila!! Aku benar-benar sudah gila!!!
Aku gila karena membiarkannya
mengecup bibirku dan aku hanya memejamkan mataku lalu menikmatinya.
"Falling
Slowly"
Glen
Hansard feat. Markéta Irglová
I
don't know you
But
I want you
All
the more for that
Words
fall through me
And
always fool me
And
I can't react
And
games that never amount
To
more than they're meant
Will
play themselves out
Take
this sinking boat and point it home
We've
still got time
Raise
your hopeful voice you have a choice
You'll
make it now
Falling
slowly, eyes that know me
And
I can't go back
Moods
that take me and erase me
And
I'm painted black
You
have suffered enough
And
warred with yourself
It's
time that you won
Take
this sinking boat and point it home
We've
still got time
Raise
your hopeful voice you have a choice
You've
made it now
Falling
slowly sing your melody
I'll
sing it loud

Ng sabar nunggu kelanjutannya..
BalasHapusfighthing jingga...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusJingga eonnie..
BalasHapusNan jeongmal bogosshipposseoyo~
Gamsahamnida,for your new ff..^^
I love it..^^
Wow,. Malem2 baca ff ini, jadi bayangin yongseo eon, ff mu daebak eon aku suka, walaupun ada beberapa typo, but overall aku suka bangett, hehe
BalasHapus👍👍👍❤❤❤❤
BalasHapus👍👍👍❤❤❤❤
BalasHapus