Jumat, 02 Oktober 2015

In Time With You Chapter 9



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8
 
Chapter 9

Falling Deeper (Seohyun POV)

Tak terasa, hampir satu bulan aku berbagi ruang bersamanya. Meski tidak banyak waktu yang kami habiskan bersama karena jadwal kerja dan kuliahku juga jadwal show CNBLUE, tapi tetap saja, rasanya berbeda. Saat aku pulang, kadang Yonghwa sudah berada disana dan menyiapkan makan malam untuk kami. Atau bila aku tiba lebih awal, aku yang akan menyiapkan makan malam untuk kami sambil menunggunya datang.

Hal yang tidak pernah aku lakukan dan aku rasakan sebelumnya.

Beberapa hari lalu, aku kembali mendengarnya. Mungkin itu untuk ketiga kalinya sejak aku tinggal disini. Dari balik dinding gypsum kamarku, aku mendengar Yonghwa merintih kesakitan ditengah malam buta. Semakin lama aku mendengarnya, rintihan itu akan berubah menjadi sebuah isakan yang pilu menyayat hati. Aku juga mendengarnya memanggil nama seseorang, tapi tidak begitu jelas siapa nama yang dia panggil. Terakhir kali, aku mendengar isakannya lebih lama, hingga aku berlari menuju pintu kamarnya dengan maksud untuk melihat keadaannya. Tapi setibanya disana, kudengar isakannya mulai reda hingga kuurungkan niatku untuk masuk dan membangunkannya.

Apa yang sebenarnya mengganggu tidurnya? Apa yang sudah membuatnya terisak begitu pilu? Mimpi apakah itu? Meski ingin kutanyakan pada setiap keesokan harinya, tapi aku ragu. Aku takut melewati batas ruang yang sebenarnya tidak ingin dia ceritakan padaku. Betapapun khawatirnya aku, aku hanya akan menunggu hingga Yonghwa mengatakannya sendiri padaku.

Knock.. Knock....

Aku mendengar seseorang mengetuk pintu kamarku.

"Masuklah, Oppa!" Tak lupa, aku save data tulisan terakhirku sebelum aku menutup laptopku dan kehilangan semua hasil kerja kerasku seperti kemarin.

"Hei... sibuk?" Aku hanya bisa melihat kepala Yonghwa muncul dari balik pintu kamarku.

"Tidak juga. Aku hanya sedang menulis sesuatu. Wae geurae, Oppa? Kau membutuhkan sesuatu?" Usai mematikan laptopku, aku kemudian berdiri dan berjalan mendekatinya di pintuku.

"Ania... geunyang...." Yonghwa tampak ragu menatapku.

"Geunyang wae? Palli malhaebwa!" Desakku.

"The Boys want to meet you." Yonghwa mengisyaratkan dengan ibu jarinya.

"The Boys?? Maksudmu...." Yonghwa menganggukkan kepalanya seolah dia langsung mengerti dengan apa yang terlintas di kepalaku.

"Yes! My Boys! Mereka menunggumu di ruang tengah."

'What??? Eomma... jigeum eottokhae?? CNBLUE? Aku akan bertemu mereka semua? Saesange... apa yang harus aku lakukan?'

"Hyun... gwaenchanna??" Suara Yonghwa menarik lamunanku kembali.

"Uh?? Oo... ne.. gwaenchanna. Hajiman...."

"Gwaenchanna, Hyun! Geok cheongma. Mereka semua pria-pria yang jauh lebih manusiawi dariku. Aku jamin, kau akan lebih mudah bergabung dengan mereka dibanding denganku." Yonghwa memberiku senyumannya dan itu cukup untuk memberiku sebuah jaminan hingga membuat kegugupanku sedikit berkurang.

"Arrasso, Oppa. Gidaryo juseo, aku akan merapihkan diriku dulu."

"Huh? Untuk apa? Aigoo... Seo Joohyun! Saat bersamaku kau bahkan membiarkan rambutmu terikat sembarang. Tapi saat kau akan bertemu pria-pria itu, kau justru sibuk merapihkan penampilanmu?" Yonghwa tampak membelalakan matanya. Sejujurnya, dia terlihat lucu saat itu.

"Mwo ya, Oppa??!! Tentu saja aku harus terlihat rapi. Who knows... when will i find my destiny, right?" Gila!! Aku tak percaya bahwa aku baru saja memberinya sebuah kedipan.

"MWO?!!!! Destiny??? What destiny?" Bola matanya tampak semakin besar membulat. Dan entah mengapa, aku menikmati reaksinya terhadap candaanku kali ini.

"Aigoo... geumanhae, Oppa! Jigeum, jebbal... kka juseo. Aku akan mengganti bajuku, okay?" Dengan sedikit tenaga, aku mencoba mendorong tubuhnya untuk keluar dari kamarku.

"Mwo?? Untuk apa kau mengganti bajumu segala?"

"Kau ini terlalu banyak bertanya, Mr. Blue!! Just get out of here, please!! And wait for me!!" Aku kembali mendorongnya. Tapi lelaki itu semakin keras kepala. Dia kembali lagi menghampiriku dengan ekspresi aneh nya.

"Miss Seo, kuperingatkan kau! Jangan coba-coba kau pakai baju yang akan membuat mereka senang!!!! Trust me! Mereka adalah pria-pria yang tidak layak mendapatkan jackpot seperti itu. Selain itu, semua akan sia-sia saja karena mereka punya selera yang aneh tentang perempuan. So, Barbie... don't ever wish to find your destiny in them! You won't have any idea how terrible your destiny will be."

Aku terkekeh mendengarnya. Mwo? Beberapa menit yang lalu, Yonghwa memberi kesan yang baik tentang teman-temannya dihadapanku. Tapi kemudian, 180° dia putar semua compliment nya tentang mereka.

"Arraso... Arraso!! Geunyang kka!!!" Sekali lagi, aku mendorong tubuhnya dan kali ini aku berhasil membuatnya keluar dari kamarku. Hhm... aku baru menemukan sisi itu dalam dirinya. Jung Yonghwa, ternyata tidak lebih dari seorang chodding.

Akhirnya, aku melangkahkan kakiku menuju ruang tengah. Dari balcon, sudah terdengar riuh suara obrolan dan tawa mereka. Tuhan.. jantungku berdegup semakin kencang. Aku melihat Yonghwa melambaikan tangannya padaku saat dia melihatku dari balik pintu kaca. Dan tatapan ketiga pria yang lain mengikutinya beberapa saat kemudian. Aku menghela nafas panjang, sebelum akhirnya kuseret langkahku mendekati mereka.

Aku bersumpah, aku mencoba untuk menampilkan senyum terbaikku ditengah kegugupanku. Berharap semua itu tidak nampak jelas diwajah bodohku.

Ketiga pria itu menatapku dengan senyum mereka. Dan Yonghwa mulai berdiri mendekatiku lalu menggiring tubuhku untuk berjalan lebih dekat lagi dengan mereka.

"Guys, here.. this is Seo Joohyun. Tapi dia lebih senang bila orang memanggilnya Seohyun." Mungkin Yonghwa tidak menyadarinya. Tapi tangannya yang kini melingkar dipundakku justru membuat kegugupanku bertambah menjadi 2 kali lipat.

"Anyeong haseo, Seo Joohyun imnida. Pangap seupnida." Aku membungkukan tubuhku dan kulihat mereka pun ikut berdiri membalas sapaanku.

"Hai Seohyun ah! Kita berada di line usia yang sama. So... tidak keberatankan bila aku memanggilmu seperti itu? Aku Kang Minhyuk, drummer mereka." Tentu saja aku tahu kalau dia adalah drummer CNBLUE. Meski ini pertama kalinya dia melihatku, tapi aku sudah melihatnya berkali-kali meski tidak terlalu tahu siapa nama masing-masing dari mereka.

"Ooh... Nde! Panggil saja namaku senyaman mungkin." Jawabku, masih dengan sisa kegugupanku.

"Aku juga berada di usia yang sama denganmu, Seohyun Ssi. Namaku Lee Jungshin." Lelaki kurus tinggi itu menyodorkan tangan kanannya meminta untuk kujabat. Dan akupun menjabatnya sambil terus berfikir.

'Ah... jadi ini pria yang bernama Jungshin yang pernah menempati kamar yang aku tempati saat ini? Tampangnya cukup lumayan. Tapi seleranya dalam memilih design kamar, hhmmm... aku ragu kalau lelaki ini benar-benar seorang lelaki sejati.'

"Dan aku Lee Jonghyun. Meski aku lebih tua satu tahun darimu, tapi kau bisa memanggilku hanya dengan namaku saja." Lelaki terakhir ini memiliki rupa yang berbeda dari yang lainnya. Kulitnya lebih putih dengan lesung pipit dikedua pipinya dan kedua bola matanya berwarna coklat terang. Aku sempat mengira bahwa pria ini memiliki darah blesteran. Meski tidak yakin juga. Selain itu, entahlah... mungkin hanya perasaanku saja, aku merasa sikap Jonghyun lebih dingin dibanding yang lainnya.

"Okay, cukup dengan perkenalannya. Kajja... jangan buang waktu lagi. Lakukan pekerjaan kalian!!" Yonghwa berdiri dan satu persatu mendorong ketiga temannya untuk berjalan masuk ke studionya.

Mwo???!!! Hanya begini saja?!!!! Setelah kurapihkan penampilanku, mengganti bajuku, semua hanya selesai seperti ini???

Yonghwa menoleh kearahku untuk terakhir kalinya sebelum dia menghilang dibalik koridor dan memberiku sebuah tatapan yang seolah mengatakan 'Apa aku bilang? Untuk apa kau melakukan semua itu, Seo Joohyun?'

Phabo!! Itu karena dia buru-buru menggiring semua temannya untuk menjauhiku. Padahal aku tahu, Jungshin baru akan mengatakan sesuatu padaku sebelum Yonghwa menghancurkan atmosfer itu. Hhh... akhirnya, kuputuskan untuk menyibukan diriku didapur dan membuat sesuatu untuk cemilan mereka. Dengan beberapa bahan yang kubeli kemarin, aku akan mencoba membuat goguma cupcake dan es sarang burung yang kini menjadi minuman favorit Yonghwa.

Satu jam kemudian, cupcake ku siap terhidang. Aku mendisplay nya di sebuah ceramics flat dan menghidangkannya diatas mini bar table. Pria-pria itu sepertinya masih sibuk dengan musik mereka di studio Yonghwa. Aku memutuskan untuk meneruskan tulisanku di kursi balcon.

"Hai... apa yang sedang kau tulis?" Sebuah suara mengejutkanku dari belakang. Tenyata Jungshin datang dengan sebotol air mineral ditangan kanannya. Pria itu berjalan mendekatiku lalu duduk tepat dikursi sebelahku.

"Bukan apa-apa. Hanya keisenganku saja." Jawabku dengan senyum yang coba kubuat senormal mungkin.

"Jinjja? Ah..  aku ingat! Kau pasti sedang menulis novel, kan? Hyung pernah bilang, bahwa kau adalah seorang penulis." Jungshin meneguk lagi minumannya.

"Penulis? Benarkah Yonghwa Oppa mengatakan itu? Aigoo... dia benar-benar seorang hyperbole. Aku hanya seorang pelayan restaurant yang kebetulan punya hobi menulis, Jungshin ah! Dan aku bukan seorang penulis, karena novelku bahkan berkali-kali ditolak oleh penerbit." Aku tertawa kecil. Jungshin pun tersenyum hangat mendengar ceritaku.

"Gwaenchanna, Seohyun ah! Untuk menjadi seorang penulis, kau tidak perlu membuat bukumu terjual lebih dulu. Tulis saja sebanyak apapun yang ingin kau tulis. Setidaknya, menulislah untuk dirimu sendiri tanpa beban apapun. Dengan begitu kau akan lebih menikmatinya hingga suatu saat nanti orang akan menerima karyamu."

Aku tertegun sejenak saat mendengarnya. Pria yang bahkan men-design kamarnya dengan nuansa pink ternyata bisa mengatakan sesuatu yang bijak seperti itu, fikirku.

"Hhhmm.... harum apa ini?" Tiba-tiba sebuah suara lagi terdengar dari dalam rumah. Kali ini Minhyuk datang mendekat kearah kami.

"Oo iya, aku tadi membuatkan sesuatu untuk kalian. Jamkamanyo... akan aku ambilkan." Aku beranjak dari dudukku dan segera mengambil sepiring cupcake buatanku tadi lalu menghidangkannya di meja taman.

"Whoaaa.... masgettaa...!!" Kedua mata sipit Kang Minhyuk berubah seketika saat cupcake itu kuletakkan di hadapannya.

"Makanlah. Kau pasti lapar setelah menggebuk drum-mu, Minhyuk ah."

"Geuroom!! Tentu saja aku sangat lapar. Whoaa... pasti semua ini enak sekali." Minhyuk mengambil satu cupcake buatanku, dan Jungshinpun mengikutinya. Aku senang, mereka memakannya dengan lahap. Untuk urusan baking dan dessert, jujur saja, aku cukup percaya diri. Pengalamanku bekerja di KCC, sedikitnya cukup lumayan untuk urusan ini. Kecuali memasak, tentunya. Entah kenapa, aku tidak pernah 100% berhasil melakukan hal yang satu itu.

"Jamkaman, aku akan membuatkan dessert untuk kalian." Aku kembali berdiri dan akan membuat es sarang burung untuk mereka.

"Tidak usah repot-repot, Seohyun ah. Aku tidak ingin Yonghwa Hyung mencereweti kami karena membuatmu melakukan semua ini untuk kami." Jungshin mencoba menghentikanku dengan mulutnya yang masih penuh dengan cupcake.

"Geok cheongma, aku tidak sedang repot kok. Hanya dessert sederhana yang mudah untuk aku buat. Yonghwa Oppa juga menyukainya kok." Akupun berjalan menuju dapur untuk menyiapkan semuanya.

Beberapa waktu kemudian, Jungshin dan Minhyuk pun mengikutiku kedapur. Mereka duduk didepan mini bar table sambil memperhatian gerakanku. Entahlah, aku mulai merasa nyaman dengan kedua lelaki ini. Yonghwa benar, mereka orang-orang yang hangat dan terbuka yang membuatku dengan mudah berbaur dengan mereka.

"Aku tidak percaya pada awalnya, saat Hyung bilang bahwa dia tinggal dengan seseorang di rumahnya. Dan aku semakin tidak percaya lagi bahwa yang tinggal bersamanya adalah seorang perempuan." Jungshin memecah keheningan dengan celoteh kecilnya. Aku tersenyum merespon ucapannya sambil terus melakukan pekerjaanku.

"Jinjja?"

"Jinjja! Kau tahu, Seohyun ah? Aku selalu membujuknya untuk mengajak kami kesini sejak pertama kami dengar kau pindah. Aku hanya ingin membuktikan bahwa Hyung tidak sedang membual hanya untuk membalas dendam padaku karena keputusanku untuk pindah dari rumahnya. Dan saat aku melihatmu untuk pertama kalinya tadi, wow.... aku semakin... semakin.. semakin.. tidak percaya lagi! Bagaimana bisa Yonghwa Hyung seberuntung ini? Seorang perempuan cantik sepertimu mau menyewa kamar yang menurutku lebih mirip seperti sangkar burung. Belum lagi dengan barang-barang Hyung yang dia letakkan disana juga. Dulu aku sampai tidak bisa membedakan, apakah ini benar kamarku, atau sebuah gudang yang Hyung persilahkan untuk tempat tidurku?" Ekspresi wajahnya tampak lucu saat Jungshin bad mouthing Hyung nya dengan suara yang sengaja dia pelankan.

"Benarkah? Barang-barang apa? Aku tidak menemukan satupun barang miliknya di kamarku. Dan lagi, menurutku, kamar itu lumayan nyaman. Bahkan sangat nyaman untukku. Aku akui, meski seleramu sebegai laki-laki cukup aneh dalam men-design kamar itu, tapi aku menyukainya. Aku suka warna pink dengan motif hati dan juga nuansa putih di toiletnya. Kau benar-benar cute, Jungshin ah!"

"Mwo? Pink? Motif hati? Apa maksudmu?" Jungshin tampak mengerutkan keningnya.

"Iya, pink. Bed cover pink dan wallpaper motif hati di kamarku. Bukankah semua itu kau yang menatanya? Kamar itu sebelumnya milikmu kan?" Jungshin dan Minhyuk saling menatap dengan wajah heran bercampur bingung.

"Permisi, Seohyun ah... tapi aku penasaran dengan apa yang kau maksud. Boleh aku melihat kamarmu?" Tanya Jungshin. Dan kini, justru giliranku yang bingung dibuatnya. Rencanaku untuk membuatkan dessert untuk mereka akhirnya kutunda, lalu mengajak dua pria yang mulai aneh ini untuk melihat kamarku.

"Masuklah.." Meski aku masih belum mengerti apa maksud Jungshin dan untuk apa dia melihat kamarku, tapi aku persilahkan saja mereka berdua untuk melihatnya.

"Omo... saesange!!! Maldo andwe!!! Mitjoseo!! Aku tidak percaya semua ini." Itulah kata-kata yang pertama kali meluncur dari mulut Jungshin saat dia masuk kedalam kamarku.

"Minhyuk ah... apa yang terjadi dengan Jung Yonghwa?" Sekali lagi Jungshin mengoceh sembarang dengan wajah terkesima. Begitupun Minhyuk. Kedua mulut mereka serempak terbuka melihat isi kamarku seolah mereka sedang melihat sebuah istana berdinding emas.

"Chogie...!! Sebenarnya ada apa sih? Apa yang salah dengan kamarku?" Akhirnya, pandangan mereka kembali padaku setelah puas menelusuri semua sisi kamar ini.

"Berapa lama kau berfikir hingga kau memutuskan untuk tinggal disini?" Minhyuk yang kali ini bertanya.

"Kurang lebih 2 minggu bila aku tidak salah mengingat." Jawabku.

"2 Minggu?!!!" Mereka serempak bertanya.

"Daebaakkk!!!" Jungshin menambahi.

"Apanya yang hebat?? Sebenarnya kalian kenapa sih?? Aku benar-benar bingung melihat sikap aneh kalian ini. Apa yang salah dengan kamarku?" Kali ini aku mulai tidak sabar dan ingin segera mendengar penjelasan mereka.

"Seohyun ah, bila aku katakan semua, mungkin kau tidak akan percaya. Tapi demi Tuhan, kamar ini benar-benar berbeda dengan saat terakhir kali aku menempatinya. Jangankan dengan wallpaper dan tempat tidur ini. Disudut sana, Hyung bahkan menyimpan beberapa gitar dan box-box yang entah berisi apa. Aku tidak percaya bahwa dia akan merubah tempat ini menjadi seperti ini."

Mwo? Benarkah? Benarkah Yonghwa yang sengaja menyiapkan semua ini untukku? Benarkah semua ini bukan Jungshin yang menatanya sebelumnya? Aku seperti hilang sekejap, sebelum akhirnya Minhyuk menarik kesadaranku kembali.

"Dan yang membuatku sempat terkejut adalah saat Hyung bilang akan menyewakan kamarnya pada seseorang. Padahal selama ini kami tahu bahwa Hyung tidak pernah bisa berbagi ruang dengan siapapun selain kami. Bahkan saat touring pun dia akan memilih kamar hotelnya sendiri dan tidak akan berbagi dengan kami. Saat Hyung bilang bahwa roomate nya seorang perempuan, aku lebih kaget lagi. Tapi aku sedikitnya mengerti, mungkin kau memang orang yang istimewa untuknya. Tidak heran, bila dia menyiapkan kamar ini sedemikian rupa hanya dalam waktu 2 minggu saja. Bila kau bukan seseorang yang istimewa untuknya, Hyung tidak mungkin membiarkanmu masuk kedalam rumahnya. Apalagi berbagi ruang."

Lagi-lagi aku terkejut mendengar ucapan Minhyuk.

"Maja! Hyung tidak akan membiarkan orang asing tinggal bersamanya bila orang itu tidak benar-benar mengenal dan mengerti dirinya. Hyung pasti sudah menceritakan semuanya padamu, kan?" Jungshin menambahi.

"Menceritakan apa?" Demi Tuhan, aku masih sangat bingung dengan semua yang dua pria ini ucapkan.

"Semuanya. Tentang trauma yang...." Belum selesai Jungshin mengatakannya, Minhyuk segera mengehentikannya.

"Jamkaman! Seohyun ah... benarkah kau tidak tahu apa-apa tentang masa lalu  Hyung?" Kedua mata mereka kini menatapku tajam. Entah mengapa, aku merasa tersudut dan terintimidasi dengan tatapan-tatapan itu.

"Masa lalu? A.. aku.. aku tidak mengerti apa yang kalian ucapkan." Suaraku terdengar ragu. Lalu kedua pria itu serempak menutup mulut mereka seolah mereka menyesali semua kata yang sudah mereka ucapkan sebelumnya.

"Itu sebabnya aku benci saat kalian terlalu banyak bicara!"

Sebuah suara tiba-tiba membuat kami luar biasa terkejut. Beberapa saat kemudian, sosok Jonghyun muncul dari balik pintu dengan wajah datar dan ekspresi dinginnya. Entah ekspresi itu dia peruntukan untuk teman-temannya, atau untukku. Tapi semua itu cukup menakutkanku.

"Hyung...." Minhyuk menyapanya dengan gugup.

"Kajja!! Yonghwa menunggu kalian di ruang tengah. Jangan sampai dia datang kesini dan mendapati kalian sedang bergosip tentang dia dibelakangnya."

Aishh!! Aku benar-benar tidak suka dengan sikapnya. Mwo ya? Siapa yang sedang bergosip?!!

Kami semua akhirnya mengikutinya berjalan menuju ruang tengah. Nampak Yonghwa sedang duduk didepan mini bar table sambil memakan cupcake buatanku.

"Yak!! Apa yang kalian lakukan di kamar Seohyun?!!!" Yonghwa memelototi Minhyuk dan Jungshin begitu kami melintasi pintu kaca.

"Opso!! Aku hanya ingin bernostalgia dengan bekas kamarku dulu dan memintanya mengajakku kesana. Tapi ternyata semuanya sudah benarrrrr-benarrrrr berubah! Hingga aku tidak mengenalinya lagi. Ruangan itu kini benar-benar sudah menjadi sebuah kamar. Bukan setengah gudang, setengah kamar!"

Jungshin meledek Yonghwa dengan gaya sarkastiknya hingga Yonghwa tak mampu lagi melawan kata-katanya. Aku mengerti, mungkin Yonghwa malu padaku. Karenanya aku berusaha mengalihkan arah obrolan mereka yang entah akan berakhir seperti apa. Aku kembali pada sisa pekerjaanku sebelum Jungshin dan Minhyuk membuatku tersesat dalam teka teki mereka.

"Okay, Guys!!! Aku akan membuat dessert untuk kalian! Seharusnya pekerjaan ini sudah selesai saat ini jika saja mereka tidak menggangguku."

"What dessert? Es sarang burung?" Yonghwa menatapku dengan mata berbinar.

"Hhm...!" Jawabku singkat. Kulihat sebuah senyum merekah lebar diwajahnya.

"Guys, kalian harus mencoba es sarang burung buatannya! Sumpah.... minuman ini luar biasa enak! Kalian pasti akan menyukainya!" Yonghwa bersikap hypperbole lagi hanya untuk sebuah es sarang burung. Haruskah dia mengatakan hal itu dihadapan teman-temannya? Tsk.. chodding!!

"Really? Aku penasaran..."

Kali ini aku mendengar suara Jonghyun. Aku menatap wajahnya dan laki-laki itu sedang tersenyum padaku. Senyum yang berbeda dari sebelumnya. Aku benci mengatakannya, tapi aku merasa, senyumnya kali ini lebih tulus dari sebelumnya. Igae mwo ya? Apa yang sebenarnya dia fikirkan tentangku? Dia bisa begitu dingin sebelumnya, tapi kini.... dihadapan Yonghwa, dia justru bersikap sebaliknya. Siapa sebenarnya lelaki ini?

"Silahkan.....! Aku harap kalian menyukainya." Kuhidangkan satu persatu mangkuk es sarang burung itu dihadapan masing-masing. Mereka semua menyambutnya dengan tatapan bersinar.

"Hhhm..... whoaaa.... Seohyun ah!! Jinjjaa... neol jinjja daebak!! Igae jinjja mastaaa!!!" Jungshin melahap minuman itu penuh semangat. Begitupun Minhyuk dan Yonghwa. Lalu, mataku melayang pada laki-laki disamping Yonghwa yang juga sedang menikmati dessert buatanku. Matanya hanya tertuju pada mangkuk dihadapannya sambil terus melahapnya tanpa berkomentar apapun. Tsk! Aku penasaran, apa pendapatnya tentang dessertku. Tapi lupakan saja! Tidak penting untukku.

Usai menyantap habis dessert mereka, keempat pria itu kembali ke studio Yonghwa. Melanjutkan obrolan mereka yang aku tidak mengerti. Aku hanya tahu, semua itu tentang musik. Sementara itu, aku segera membereskan mangkuk-mangkuk mereka dan mencucinya saat itu juga. Ditengah aktifitas mencuciku, tiba-tiba seseorang berdiri disampingku dan membuatku cukup terkejut.

"Aku bantu, yah..." Jonghyun tiba-tiba mengambil beberapa mangkuk yang sudah aku bilas dan mengeringkannya. Sejujurnya, aku masih tidak nyaman karena sikapnya.

"Seohyun ah,, hhm... aku tidak tahu harus mengatakannya bagaimana. Mungkin kau juga bisa salah faham dengan sikapku sebelumnya tapi... aku hanya...." Jonghyun menghentikan ucapannya beberapa saat. Lelaki itu tampak sedang berfikir sementara aku menunggunya untuk menyelesaikan ucapannya.

"Seohyun ah, aku hanya ingin mengatakan bahwa... setelah 6 tahun ini, ini adalah pertama kalinya aku melihat Yonghwa seperti ini. Maksudku, selain aku, Minhyuk dan Jungshin, aku baru melihatnya berinteraksi dan membuka dirinya lagi untuk orang lain. Dan itu denganmu, Seohyun ah!" Kali ini, Jonghyun menatapku lekat. Aku tidak melihat ada sedikitpun sinisme dari sorot mata itu. Ada sesuatu yang lebih dalam. Lebih tegas ingin Jonghyun katakan padaku lewat sorot mata itu. Tapi aku masih belum memahaminya.

"Kau tahu, Seohyun? Sejujurnya aku senang melihatnya seperti ini. Aku lega. Betapapun aku dan anak-anak mencobanya, tapi usaha kami tidak cukup untuk bisa mengembalikannya kemasa sebelum 6 tahun yang lalu. Melihatnya mulai membuka dirinya untukmu, melihat caranya bicara dan bagaimana ekspresi wajahnya saat dia menceritakan segala tentangmu,...

Disatu sisi, aku bersyukur pada Tuhan karena akhirnya aku bisa melihat cahaya itu sekali lagi dalam dirinya. Tapi disisi lain, aku juga tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Aku tidak bisa pura-pura tenang tanpa memikirkan kapan Yonghwa akan kembali lagi kemasa-masa terbawahnya." Jonghyun menatapku sendu. Ekspresi wajahnya semakin serius.

"Aku... hhm... sejujurnya aku tidak mengerti tentang apa yang baru saja kau katakan, Oppa. Aku tidak tahu masa-masa seperti apa yang sudah Yonghwa Oppa jalani sebelumnya. Tapi aku mengerti kekhawatiranmu.

Terus terang, aku juga mengkhawatirkannya beberapa hari ini. Tapi aku ragu untuk bertanya padanya meski niatku hanya ingin tahu apakah dia baik-baik saja atau tidak."

"Kau mulai mendengarnya?" Jonghyun menatapku lebih tajam. Aku mengangguk pelan berharap yang dia maksud adalah tentang rintihan-rintihan Yonghwa ditengah malam.

"Sebaiknya jangan pernah bertanya apapun padanya tentang apa yang kau dengar, Seohyun ah. Jangan! Tunggu sampai dia mengatakan segalanya padamu."

"Arrasso, Oppa! Tapi... apa kau tahu, apa yang membuatnya seperti itu? Yonghwa Oppa juga pernah mengatakan sesuatu tentang 6 tahun lalu. Seperti saat dia menaiki lagi Mr. Red yang dia bilang.. dia baru melakukannya lagi sejak 6 tahun lalu. Atau saat aku buatkan dia makan malam ditempat lamaku. Dia juga bilang bahwa terakhir kali dia menikmati masakan rumahan adalah 6 tahun yang lalu."

"Mr. Red? Kau tahu Mr. Red?" Tatapan Jonghyun kian serius.

"Hhm. Beberapa bulan lalu, Yonghwa mengajakku makan Dongjangjigae di restoran milik Moonsae Ahjussi. Saat itu, dia datang dengan menaiki Mr. Red dan mengajakku pergi bersamanya." Kali ini mulut Jonghyun terbuka lebar. Begitupun dengan kedua bola matanya. Jelas sekali bahwa lelaki ini begitu terkejut mendengar ceritaku.

"Oh God!" Bisiknya sambil memejamkan kedua matanya.

"Waeyo, Oppa? Apa yang terjadi?" Aku semakin penasaran dengan semua cerita ini. Dan kecemasanku pun meningkat drastis. Apa yang sebenarnya sudah dialami Yonghwa?

"Apalagi yang dia ceritakan padamu?" Sekali lagi Jonghyun bertanya dengan wajah cemas nya.

"Opsoyo. Hanya itu saja. Meski betapapun inginnya aku bertanya tentang apa yang terjadi 6 tahun yang lalu, entahlah... aku selalu ragu, Oppa. Aku takut dan aku khawatir untuk sesuatu yang belum jelas kufahami. Apa kau tahu bahwa yang terjadi 6 tahun lalu itu yang mungkin menjadi teror disetiap tidurnya?" Jonghyun menghela nafad panjang sebelum dia menjawabku.

"Tentu saja aku tahu. Tapi aku tidak pada kapasitas yang bisa mengatakannya padamu." Jonghyun menatapku lebih tenang kali ini.

"Kau tunggu saja, Seohyun ah. Dari yang kulihat, saat Yonghwa memintamu untuk tinggal dirumah ini, saat itu dia sudah menganggapmu sebagai seorang yang... you know... like someone he can share something with. Terutama karena dia membiarkanmu tinggal dikamar itu yang hanya tersekat dinding gypsum dengan kamarnya. Yonghwa sangat sadar, kau bisa mendengar semua teror yang sering dia rasakan setiap malam. Dan dia baik-baik saja meski dia tahu kau akan mengetahuinya.

Yang ingin aku katakan dari semua pembicaraan ini adalah....

Seohyun ah, aku tahu bahwa mungkin apa yang aku katakan ini terdengar konyol untukmu. Tapi kumohon, bersikap baiklah padanya. Aku hanya merasa, bahwa bersamamu, dia bisa menemukan lagi hidupnya yang selama 6 tahun ini sempat terampas darinya. Entah bagaimana awalnya dan apa yang membuatnya begitu terikat denganmu, Seohyun ah. Tapi bila dia sampai menaiki lagi Mr. Red dan membawamu menaiki itu bersamanya, aku yakin... kau bukan hanya seseorang untuknya. He found the reason in you, Seohyun! Dan bila sampai kau menyakiti atau mengecewakannya, aku takut... Yonghwa akan kembali ke masa itu. Kau mengerti maksudku kan?"

Tatapnya kini seolah mengiba. Meski aku masih tersesat didalam labirin yang di buat Jungshin, Minhyuk dan kini Jonghyun memperpanjang jalan itu, tapi aku menganggukkan kepalaku dan meyakinkan Jonghyun bahwa aku berada disini bukan untuk mengganggunya. Apalagi menyakitinya. Tidak... aku tidak akan pernah melakukan itu padanya.

"Gomawo, Seohyun ah! Aku tahu, kau pasti gadis yang baik. Bila kau membutuhkan sesuatu, atau ada sesuatu yang mengganggu fikiranmu, jangan ragu untuk menghubungiku. Kapanpun itu." Untuk pertama kalinya, aku baru mengakui bahwa Jonghyun punya senyum yang manis. Terutama dengan lesung pipitnya. Aku mengerti sekarang, Jonghyun hanya terlalu mencemaskan sahabatnya. Seperti yang dia katakan. Aku hanya akan menunggu.

"Wow... sejak kapan kau punya keahlian merayu seperti itu? Menghubungimu? Kapanpun itu? Come on, man..!! What a cheap shit!!" Suara Yonghwa membuatku dan Jonghyun terhenyak. Tuhanku, berkali-kali pria-pria ini mengagetkanku dengan kemunculan mereka yang tiba-tiba.

"Yak!! Sejak kapan kau berada disana?" Aku bisa merasakan, Jonghyun mulai gugup dihadapan Yonghwa.

"Sejak Gomawo, Seohyun ah... aku tahu kau gadis yang baik. Bila kau membutuhkan sesuatu... bla... bla... bla...! Aigoo... you know, man? You were suck when you tried to act nicely!"

"Op... Oppa... semua ini tidak seperti yang kau fikirkan. Kami hanya...." Jantungku seakan berhenti berdetak saat Yonghwa menatapku begitu tajam. Beberapa saat aku terdesak oleh tatapan itu hingga tenggorokanku tak mampu memproduksi satu katapun. Bahkan untuk menghela nafas saja, tiba-tiba terasa berat untukku. Aku tahu semua ini terdengar bodoh. Tapi aku tidak ingin Yonghwa salah faham padaku.

Namun beberapa saat kemudian, lelaki itu terbahak. Ya! Yonghwa tertawa terpingkal-pingkal hingga membuatku bingung bukan main.

"Op.. pa...." Demi Tuhan, aku ingin menangis saat itu juga.

"Aigoo, Hyun... tentu saja aku tahu!" Yonghwa masih tertawa sambil memegang perutnya.

"Aku tahu tidak akan salah faham pada kalian, Hyun. Aku tahu, Jonghyun tidak akan berani macam-macam. Kalau tidak, lelaki ini tidak akan bisa tinggal lagi di planet ini karena Im Yoona akan mengusirnya dan mengirimnya ke Saturnus." Kali ini, aku melihat Jonghyun tersenyum lepas. Mungkin diapun merasa lega seperti halnya aku.

"Kau membuatku takut, Oppa! Aku hanya tidak ingin kau menyangka bahwa aku mencoba menggoda salah satu diantara kalian. Demi Tuhan, aku tidak ada maksud seperti itu. Kami hanya..."

"Hei... easy! Aku tahu, Baby! Demi Tuhan, akupun tidak berfikiran macam-macam tentang kalian. Aku hanya senang mempermainkanmu seperti ini. Mianhae..." Entah dia melakukannya dengan sadar atau tidak, tapi kini jemarinya menyentuh bibirku. Dia bukan hanya sedang menghentikan mulutku untuk berbicara, tapi juga menghentikan detak jantungku dengan sentuhannya.

"Aigoo.... kenapa sekarang malah aku yang merasa mual?!! God, what a cheap shit!!!" Jonghyun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berlalu meninggalkanku dan Yonghwa. Setelah Jonghyun benar-benar menghilang dari pandangan kami, perhatian Yonghwa kembali padaku.

"Gwaenchanna?" Tanyanya, tiba-tiba.

"Mwo ya?"

"Teman-temanku. Mereka tidak membuatmu merasa tidak nyaman kan? Aku minta maaf bila maknae kami bersikan over reacting tentang kamarmu. Dia hanya merasa cemburu. Dan kupastikan anak itu benar-benar menyesal sudah meninggalkanku sendiri. Tsk... anyway... kau jauh lebih baik darinya, menurutku." Aku tersenyum mendengar ucapannya.

"Gwaenchanna, Oppa. Mereka hanya penasaran dengan bentuk kamar itu saat ditempati oleh seorang perempuan. Lagipula, kau benar. Mereka membuatku dengan mudah merasa dekat dengan mereka."

"Iya kan? Apa kataku! Geok cheongma, mereka juga menyukaimu, Hyun. Jangan kaget bila setelah ini Jungshin akan sering mengganggumu lewat pesan-pesannya di SNS."

"Oo iya, apa Jonghyun mengatakan sesuatu padamu?"

Ooww!! Tiba-tiba lidahku terasa kelu. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk berdusta padanya tentang apa yang sebenarnya kami bicarakan tadi.

"Sesuatu apa? Tentang musik kalian atau tour kalian? Atau.... tentang fansgirl mu yang pantang menyerah dalam mendekatimu?" Jarieso, Seo Joohyun!! Rasanya aku mulai berbakat dalam hal improvisasi.

"Mwo??? Fansgirl? Dia mengatakan itu?" Matanya terbelalak.

"Wae? Kau mau pamer juga? Tsk... kau fikir dengan begitu kau ini keren, Oppa?" Aku melingkarkan kedua tanganku didadaku dan memberinya tatapan yang menantang.

"Tentu saja keren. Meski yaa.... untuk seorang Jung Yonghwa, punya banyak fansgirl itu bukanlah sesuatu yang aneh lagi. Bahkan sebelum aku bergabung dengan CNBLUE pun aku sudah cukup popular dikalangan gadis-gadis itu. Tapi kau tenang saja, Joohyun ah! Hanya kau satu-satunya fangirl-ku yang beruntung. Kau bisa melihatku dan berbicara denganku kapanpun kau mau. Kau bahkan bisa sarapan, makan siang, dan makan malam denganku. Hebat, bukan?" Lelaki itu mengikuti caraku melingkarkan tangannya didepan dadanya.

"Mwo??!!! Siapa bilang aku fangirl-mu? Come on, Mr. Jung!! Don't be too delusional! Hei... CNBLUE itu punya 4 orang member. Bukan hanya Oppa saja!!" Jawabku sengit. Tapi dia tidak menyerah. Tubuhnya semakin mendekat dan mendesakku hingga keujung dinding dapur.

"Benarkah? Lalu siapa biasmu? Jungshin? Minhyuk? Atau lelaki yang baru saja pergi dari sini?"

Debar jantungku memacu lebih kencang seiring desah nafasnya yang terasa hangat menyapu wajahku. Ya!! Wajah kami hanya berjarak beberapa inci saja.

"Op... oppa..."

Waktu terasa berhenti berputar. Dunia tiba-tiba hening tanpa suara. Hanya kedua mata kami yang saling memandang dengan bahasa yang bahkan tidak mampu kuartikan. Aku hanya merasa, matanya menusuk teramat dalam hingga kedasar hatiku. Membuatku terpaku dan tak mampu bergerak ataupun bersuara. Hingga perlahan, inci demi inci mulai terhapus diantara kami dan aku mulai bisa merasakan sesuatu yang hangat menyentuh bibirku.

Waktu terasa berhenti berputar. Dunia tiba-tiba hening tanpa suara. Hanya debar jantungku saja yang terdengar menggema ditelingaku.

Apa yang sudah kulakukan? Aku pasti sudah gila!! Aku benar-benar sudah gila!!!

Aku gila karena membiarkannya mengecup bibirku dan aku hanya memejamkan mataku lalu menikmatinya.

"Falling Slowly"
Glen Hansard feat. Markéta Irglová

I don't know you
But I want you
All the more for that
Words fall through me
And always fool me
And I can't react

And games that never amount
To more than they're meant
Will play themselves out

Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice you have a choice
You'll make it now

Falling slowly, eyes that know me
And I can't go back
Moods that take me and erase me
And I'm painted black

You have suffered enough
And warred with yourself
It's time that you won

Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice you have a choice
You've made it now

Falling slowly sing your melody
I'll sing it loud






6 komentar:

  1. Ng sabar nunggu kelanjutannya..
    fighthing jingga...

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Jingga eonnie..
    Nan jeongmal bogosshipposseoyo~
    Gamsahamnida,for your new ff..^^
    I love it..^^

    BalasHapus
  4. Wow,. Malem2 baca ff ini, jadi bayangin yongseo eon, ff mu daebak eon aku suka, walaupun ada beberapa typo, but overall aku suka bangett, hehe

    BalasHapus