Rabu, 30 September 2015

In Time With You Chapter 7



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8
 
 
Chapter  7

Sun Set (Yonghwa POV)

Dan akhirnya, Joohyun menggenapi petualanganku. Gadis itu duduk manis di depan dinning table dapurnya sementara aku.... Hhhh.... Sejak awal harusnya aku sudah mengira akan seperti ini. Gurita-gurita malang itu berakhir disebuah panci soup setelah Joohyun menggorengnya setengah matang. Lebih tepatnya, aku mengangkatnya sebelum gurita itu matang karena terus terang saja, aku tidak tahu Joohyun akan menjadikannya jenis masakan apa.

Intinya, aku menyelesaikan semua sisa kekacauan yang sudah dia sebabkan.

Dua piring nasi goreng sea food dan soup gurita pedas, aku hidangkan diatas dinning table dihadapannya. Seketika aku melihat kilauan sebening embun dikedua bola matanya. Senyumnya merekah sempurna, dengan kedua tangan yang dilipat didadanya.

She looked so pleased. And i was so pleased to see her that way...

"Whoaaa... Oppa...!! Oppa jinjja... daebaaak!!! Whoaa..... makanan ini...." Gadis itu menatapku dengan kedua matanya yang bersinar. Aku menyukainya. Aku menyukai caranya menatapku seperti itu. Ya, matanya. Bukankah alasanku sampai ditempat ini memang hanya untuk menemukan binar mata itu?

"Jeoha?"  Aku sengaja menahan senyumku hanya agar tidak terkesan 'gampangan'. Aku takut, senyumku akan mengatakan segala yang ada dalam hati dan fikiranku tentangnya.

"Oh... neomu.. neomu jeoha!! Gomawo, Oppa..." Gadis itu bahkan menyeringai hingga tampak semua tekstur giginya. "Jalmogae seupnida.." Joohyun memulai suapan pertamanya. Dan...

"Uuukkhh!!!" Gadis itu mengernyitkan keningnya dengan kedua mata yang rapat tertutup. What happened?

"Wae? What's wrong with the foods?" Dia membuatku panik. Gadis itu tidak menjawabnya dan hanya terus mengunyah makanan dimulutnya dengan ekspresi wajah yang sama. Aishh.. perempuan ini... jinjaaa!! Aku mengambil suapan pertamaku dan....

That was okay. That really was okay and for God sake, that was the most amazing brunch foods i ever made. So... Ada apa dengan ekspresi wajahnya itu???

Aku menatapnya dengan tatapan tajamku dan gadis itu... dalam hitungan detik, dia mulai terbahak didepanku. Demi Tuhan, Seo Joohyun terbahak dengan sendok di tangan kanannya yang juga dia gunakan untuk menutup mulutnya secara bersamaan.

She teased me, huh?!!

"Yaakk!!! Kau fikir ini lucu, Seo Joohyun?!!!!" Kata-kata itu meluncur dengan sengit dari mulutku tapi gadis itu malah tertawa semakin gila setelah mendengarnya.

Okay!! Enough, Seo Joohyun Ssi!!!

Aku mencoba mengambil piring makannya juga dengan mangkuk sup di hadapannya. Tentu saja aku hanya bercanda, dengan memintanya untuk berhenti memakan masakan terbaikku. Dan Joohyun dengan sigap menahan piringnya. Gadis itu juga berhenti tertawa. Kini, dia menatapku dengan wajah memelasnya.

"Aaah... Oppaaaa..... aku lapaaar...." Ini pertama kalinya aku mendengar suara manja itu dari mulutnya. Matanya bahkan mengedip dua kali dan bibirnya....

What the hell she tried to do to me?! Kenapa jantungku berdegup kencang? Kenapa piring dan mangkuk sup ditanganku mendadak terasa berat hingga membuat tanganku gemetar?

Seo Joohyun... who are you?

Aku melepaskan tanganku dari piring dan mangkuknya kemudian secepat mungkin kuhindari tatapan itu. Aku sudah gila! Aku benar-benar sudah gila!!

"Mianhae, Oppa. Beginilah caraku menutupi rasa maluku. Dibanding dengan makan malam rasa garam yang aku buatkan malam itu, masakan mu benar-benar luar biasa." Joohyun tersenyum kali ini. Dia kembali meneruskan sarapannya dengan lahap. She loved it. And i loved her more for that.

What?? Who love her??!

"Ini adalah sarapan terlezat yang pernah aku makan sejak Eommaku sakit, hingga akhirnya dia pergi." Lanjutnya, dengan makanan penuh dimulutnya, dan senyum pahit disudut bibirnya. Matanya tertunduk menatap makanan buatanku. Aku tersentuh dengan pujian itu. Tapi kalimat terakhirnya, sedikit mengiris hatiku.

"Jinjja?"

"Hhm..."

"Syukurlah. Setidaknya kedatanganku tidak sia-sia." Jawabku, sambil terus melahap dan mengunyah makananku.

"Oppa... tentang kedatanganmu.... kau belum menjawabnya. Apa yang membuatmu datang menemuiku dan bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?" Suasana pembicaraan kami mulai sedikit santai. Dan aku tahu, Joohyun mengharapkan alasan serius dari mulutku. Sesaat, aku menyelesaikan dulu suapan terakhirku sebelum aku menjawab pertanyaan itu.

"Kau yakin, kau ingin mendengarnya, Hyun?" Kedua tanganku kugunakan untuk menyeka bibirku.

"Ya. Aku ingin mendengarnya, Oppa." Tatapannya semakin lekat.

"Geurae! Aku akan menceritakan padamu mulai dari 3 jam yang aku habiskan di KCC dengan 2 gelas Americano dan segelas orange juice pemberian Hyoyeon setelah dia tahu bahwa berjam-jam aku duduk disana ternyata hanya untuk menunggumu datang. Tapi lalu dia bilang kau sakit dan tidak datang bekerja. Kemudian aku melajukan mobilku kerumahmu. Hingga hari mulai gelap, aku terus berdiri sambil melihat kearah kamarmu. Tapi tidak ada yang bergerak disana. Aku meneleponmu dan hanya voice mail yang menjawabku. Akhirnya, aku kembali pada Hyoyeon dan dia memberiku alamat ini." Aku menundukkan mataku saat tatapan Joohyun terasa kian lekat dan dalam. Aku takut untuk membalas tatapnya. Aku takut, akal sehatku tidak cukup mampu untuk menghentikan diriku dari perbuatan bodoh yang akan aku sesali setelahnya.

"Jeongmal?" Tanya nya.

"Hhm! Mungkin bila aku harus sedikit mendramatisir, aku juga bisa menceritakan padamu tentang bagaimana nikmatnya tidur selama 6 jam dalam kereta, ditambah lagi gerimis menyambutku begitu aku turun dari keretaku hingga aku harus berteduh di sebuah café hingga hujan reda. Tidak sampai situ, aku pertama kali sampai di galeri ibumu dulu. Dan Nona cantik itu memberiku alamat Samchoonmu. Syukurlah, Gumo-mu memberiku teh hangat dan juga goguma panggang karena kalau tidak, aku akan menangis menahan lapar saat aku masih belum juga menemukanmu. Gomawo, chingu ah!!! Neo tthaemunae! Aku bisa menikmati petualangan ini."

Joohyun tersenyum tipis, lalu menundukkan matanya.

"Lalu... pertanyaanku yang pertama, Oppa? Ada apa, hingga kau harus menempuh semua petualangan itu?"

Aku tertegun. Matanya kembali menatapku dan kali ini, aku tidak mampu menghindarinya. Beberapa detik mulutku membisu saat fikiranku berusaha merangkai kata yang tepat untuk kuucapkan padanya. Damn!! I though it would be easier if i found her and talk to her about anything. But....

"Karena kau tidak membalas pesanku, Hyun. Kau.... mengabaikanku."

Joohyun menatapku tak percaya. Sure, i didn't believe myself either when i realized that the only reason for me to be there was just because she ignored me.

"Oppa.... Mianhae...." Lirih, suaranya mengalun ditelingaku.

"Gwaenchanna, Hyun. Hyoyeon memberitahuku bahwa kau demam dan sempat dirawat di rumah sakit. Dan mungkin alasan inilah yang membuatku semakin mencemaskanmu. Terlebih saat aku tidak menemukanmu dirumahmu. Temanmu juga menceritakan tentang apa yang terjadi pada Ny. Kim. Terus terang, aku juga kaget saat mendengarnya. Hhh.... andai saat itu aku ada disampingmu, Hyun..." Aku menatap matanya. Gadis itupun membalas tatapanku dengan senyum tipis disudut bibirnya.

"Gomawo, Oppa!" Sekali lagi, suaranya terdengar lirih.

"Gomawo opso, Hyun... aku hanya melakukan hal yang ingin aku lakukan. Aku hanya merasa, bahwa aku harus menemukanmu." Bening matanya tampak lebih berkilau dengan genangan air yang tiba-tiba sudah mengendap dikelopak matanya.

"Ajik gomawoseo, Oppa! Kalau bukan karenamu, aku mungkin tidak akan pernah tahu akan seperti ini rasanya. Terima kasih, untuk mencari dan menemukanku. Oppa adalah orang pertama yang melakukan itu padaku." Dan genangan air itu akhirnya jatuh dikedua pipi pucatnya. Seiring dengannya, hatiku terasa seperti teriris sebuah pisau tajam melihat gadis ini meneteskan air matanya dihadapanku.

Lembut... jemariku mengusap pipinya dan mengenyahkan air mata itu.

"Aku akan selalu menemukanmu, Hyun! Tak peduli sejauh apapun kau pergi dan bersembunyi dariku.

I'll find you!"

*****

Sarapan kami pun usai. Tapi sisa kekacauan ini, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sementara Joohyun mencuci piring dan peralatan kotor, aku membantunya membersihkan meja, kompor, bahkan mengepel lantai. Seriously, Seo Joohyun worth to get a gold medal for let me doing these! Bahkan Eomma-ku tidak pernah membiarkanku melakukan ini. Beruntung, Jonghyun, Minhyuk dan Jungshin tidak melihat semua ini. Bila sampai mereka tahu....

Sudahlah!! Aku terlalu sibuk untuk memikirkan mereka.

"Oppa.... aku akan membuat sarang burung untukmu." Joohyun mengeringkan kedua tangannya dengan lap bersih disampingku. Aku tertegun mendengarnya. Wait!! Ide apa lagi yang ada dikepalanya setelah dia berhasil menyiksa kaki dan pinggangku seperti ini?

"Sarang burung? Untuk apa?" Aku mulai panik. Gadis itu membuka lemari es, dan mengambil beberapa bahan dari sana.

"Gidaryo Juseo, Mr. Blue... aku jamin, kau pasti sangat menyukainya." Sekali lagi gadis itu tersenyum.

Sirup rasa melon, agar-agar rumput laut, dan irisan buah-buahan, dia mencampurnya jadi satu kedalam 2 buah mangkuk besar. Diatasnya dia beri toping serutan es batu dan susu kental manis. Dan satu lagi yang membuatku tertarik. Gadis itu membentuk dua ekor burung dari irisan melon dan strawberi lalu meletakkannya diatas serutan es tadi.

Aah... jadi ini yang dia maksud dengan sarang burung?! Bukan sarang burung.....

Lupakan!

"Tadaaaaa...... inilah es sarang burung ala chef Joohyun!!!!" Lagi! Dengan binar mata itu lagi, Joohyun men-display dessert buatannya tepat dihadapanku. It was just... wow.... and it looked delicious, i swear!

"Wow..... i wonder with the taste, Chef..." I teased her and she gave me that threaten gazed. Aku tertawa kecil karenanya.

Benar saja. Kali ini Joohyun layak menyebut dirinya chef. Sarang Burung buatannya benar-benar lezat dan menyegarkan. Ini pertama kalinya aku menikmati minuman dengan sensasi rasa seperti ini.

Joohyun masih berdiri dihadapanku sambil menatapku dengan tatapan penasaran.

"Otthae?" Dia menatapku semakin lekat. Aku ingin sekali membalaskan dendamku atas apa yang sudah dilakukannya tadi padaku. Tapi aku tak mampu memungkirinya. Ini benar-benar enak.

"Hhmmm... not bad. I love it, Chef! Thank you.." Aku tersenyum menatapnya. Dan gadis itu membalas senyumku dengan senyum yang lebih lebar.

Dan aku tersadar....

Jantungku berdetak lebih kencang setiap kali aku melihat senyum itu.

"Gomawo Oppa...! Setidaknya, aku bisa membayar penderitaanmu karena kebodohanku tadi."

Dan kami kembali tertawa sambil menikmati minuman ini.

*****

Aku duduk diatas kursi kayu di halaman rumah itu. Angin pantai terasa lembut mengusap wajahku. Dan aroma lautnya.... mengingatkanku pada Busan. Kota tempat aku dibesarkan.

"Oppa... ikut aku...!!" Tiba-tiba Joohyun datang dari dalam rumahnya. Kali ini ada yang berbeda. Untuk pertama kalinya, aku melihat Joohyun dengan dress ditubuhnya. A simply white mini dress, dengan rambut yang dia biarkan jatuh tergerai. She looked.... different!

"Oppa..." Dia mengaburkan lamunanku.

"Oh? Eodie ga?" I did my best to hide my stupid thought.

"Aku akan menunjukan tempat persembunyianku waktu aku kecil."

*****

Aku dan Joohyun berjalan bersampingan. Sengaja kubiarkan kakiku berjalan tanpa sepatuku. Aku rindu sentuhan ombak membasahi kakiku. Dan kamipun tiba di sebuah dataran tinggi diujung pantai ini. Sekilas, dari bawah tempat itu tampak mengerikan karena tebing yang curam dan cukup tinggi. Tapi semua terasa berbeda ketika aku berada diatasnya. Aku tidak melihat apapun lagi selain hamparan laut membentang dihadapanku.

Joohyun berdiri disampingku.

"Disana. Di ujung sana!" Dia menunjukkan tangannya ke satu titik di ujung lautan.

"Aku biasa menemukan matahari terbit disana."

Aku menolehkan kepalaku dan menatap wajahnya disampingku. Gadis itu masih menatap lurus kearah horizon dihadapakan kami.

"Jeongdongjin adalah tempat terbaik untukmu bisa melihat Sun Rise dengan sempurna." Joohyun tersenyum lagi. Tapi kali ini dia tidak sedang menatapku.

"Jinjja?" I already knew, actually.

Pertanyaanku mengalun ditengah delusiku yang semakin gila. Wajahnya, begitu dekat disampingku. I just realized that she had that flawless bright skin. Dengan bentuk hidung yang sempurna, juga warna bibir yang sudah pink alami meski tanpa lipstick sekali pun. Rambut kecoklatan yang panjang tergerai dan tertiup angin, hingga aroma shampoo nya sampai kehidungku.

Aku menyerah. Ku akui, she was so dazzlingly beautiful.

"Hhm! Karena itu, Eomma membangun sebuah galeri dengan nama Sunset. Karena Eomma tahu di kota ini orang-orang tidak akan pernah melihatnya." Joohyun masih menebakkan senyumnya.

"Apa karena itu juga, Eomma-mu memberi nama Joohyun untukmu?" Sejenak, Joohyun menatapku sambil mengerutkan keningnya.

"Dari mana Oppa tahu arti namaku?" Tatapnya penuh rasa penasaran.

"Aku membacanya di galeri ibumu. Ada sebuah lukisan langit senja berjudul namamu. Aku membaca pesan Eomma-mu di sudut bawah lukisannya. 'Teruntuk uri Joohyun. My Sunset.'"

Joohyun menatapku dengan tatapan teduhnya sekali lagi. Matanya kembali berkaca-kaca and i swore, if she ever cried once more, don't blame me if i couldn't control myself. Untunglah, dia segera mengalihkan pandangannya. Gadis itu menghela nafas panjang, lalu berjalan ke arah belakang dari tempat kami berdiri.

"Sini, Oppa...! Duduk disini!" Joohyun duduk diatas sebuah batu besar yang sepertinya secara alami sudah ada di sana sejak dulu. Tangannya menunjukkan sebuah tempat untukku. Tepat disisinya. Tak lama, akupun mengikutinya.

"Waktu kecil, aku sering datang ketempat ini. Aku berlari dari rumah sambil menahan tangisku dan secepatnya naik kesini. Tangisku baru akan kuledakkan disini. Saat tidak ada seorang pun yang akan melihatku." Joohyun tersenyum pahit sambil terus menatap laut dihadapan kami.

"Wae?" Aku menatapnya disampingku, berharap menemukan matanya yang akan membalas tatapanku. Tapi gadis itu malah tertunduk dengan tawa kecil yang masih terasa pahit dimataku.

"Karena aku sebenarnya adalah gadis yang cengeng, Oppa. Aku akan menangis setiap kali aku marah, aku lelah, terlebih saat sesuatu terjadi tidak sesuai keinginanku." Joohyun kembali mengangkat wajahnya dan menatap laut sekali lagi.

"Tapi...  setidaknya aku tidak ingin terlihat rapuh. Aku tidak ingin Eomma melihat air mataku. Karenanya, aku berlari ketempat ini hanya untuk menangis sepuas hatiku." Seo Joohyun menghela nafasnya lebih dalam. Mataku masih terpaku menatapnya. Gadis ini, sebenarnya ada berapa banyak luka yang dia sembunyikan dibalik senyumnya?

"Ibumu... meninggal saat kau SMA kan? Keberatan, bila kau menceritakan padaku, kenapa ibumu meninggal diusia semuda itu?" Aku berusaha untuk lebih hati-hati dalam memilih kata untuk pertanyaan ini. Aku tidak ingin membuka luka lamanya. Hanya saja, terlepas dari rasa ingin tahuku, mungkin Joohyun lebih baik menceritakan rasa sakitnya pada seseorang. Aku harap dengan begitu, beban dalam dirinya sedikit berkurang.

"Leukimia. Eomma pertama kali menemukan penyakitnya saat aku berusia 15 tahun. Aku dan Appa tidak tahu akan hal itu, pada awalnya. Hingga satu malam, Eomma pingsan di dalam galeri nya dan dilarikan ke rumah sakit. Rasanya seperti mimpi buruk, saat dokter memberi tahu kami bahwa Leukimia di tubuhnya sudah menginjak stadium lanjut. Mustahil untuk bisa melakukan operasi dan treatment lainnya untuk kesembuhan Eomma. Satu-satunya yang bisa dokter lakukan hanyalah kemotherapy untuk menghambat pertumbuhan sel kankernya. Hingga harapan hidup Eomma bisa lebih panjang beberapa tahun lagi."

Wajah putihnya mulai memerah. Dan kristal bening sudah menggenang lagi di kelopak matanya. Tapi Joohyun kembali tersenyum sebelum menatapku.

"Dan dokter benar, Oppa. Eomma bisa bertahan 2 tahun sejak saat itu. Sebelum akhirnya Eomma menyerah dan meminta kami untuk menghentikan segala jenis pengobatan." Gadis itu kembali menundukkan kepalanya.

"Wae? Apa yang membuatnya menyerah?"

"Entahlah." Joohyun kembali mengangkat kepalanya dan menghela nafas panjang.

"Mungkin semua itu terlalu melelahkan untuknya. Eomma juga sering mengusirku dari rumah sakit hanya untuk menyuruhku fokus dengan pelajaranku. Samchoon dan Gumo, mereka yang merawat Eomma saat aku sekolah. Tapi lama-lama, Eomma juga sering kali tidak ingin ditunggui oleh mereka. Mungkin karena Eomma khawatir akan menyusahkan mereka.

Dan karena itu, mungkin itulah alasan Eomma menyerah."

"Lalu Appa-mu? Bukankah Eomma-mu masih memilikinya?" Kali ini, aku melihat senyum diwajahnya seketika sirna. Binar matanya berubah sendu, marah, benci, dan semua rasa yang tak mampu aku uraikan. Gadis itu lalu menatapku kembali.

"Dia pergi, Oppa. Dia pergi saat dokter mengatakan sisa usia Eomma mungkin hanya tinggal beberapa bulan saja. Bahkan saat Eomma pergi, juga beberapa waktu setelah itu, aku masih menunggunya dan berharap dia akan menemuiku. Setidaknya, aku ini putrinya. Aku fikir, dia akan sedikitnya peduli bagaimana aku akan meneruskan hidupku setelah kematian Eomma.

Tapi lelaki itu tidak pernah datang. Dia tidak pernah mencariku dan mencoba menemukanku seperti yang kau lakukan hari ini, Oppa."

Aku tertegun. Jadi inilah luka yang sebenarnya.

"Gwaenchanna, Oppa. Kau tidak perlu menatapku dengan tatapan iba. Aku baik-baik saja sekarang." Joohyun meregangkan kedua tangannya sambil menghela nafas panjang. Dia pun kembali merekahkan senyum manisnya seolah semua itu mampu menyembunyikan kepingan luka yang kutahu masih lekat dalam hatinya.

“Hyun,... “

“Ehm...”

“Berapa lama kau akan menghabiskan liburanmu di kota ini?” Senyum diwajahnya perlahan memudar. Gadis itu kembali menundukkan kepalanya dan aku benci melihatnya melakukan hal itu.

“Sebenarnya, aku tidak sedang berlibur, Oppa. Aku datang kesini karena aku tidak bisa tinggal di Seoul lebih lama lagi.”

Aku berusaha mencerna maksud ucapannya dan berkali-kali memastikan bahwa apa yang aku dengar adalah benar.

“Mwo?!” Tapi aku ingin memastikannya sekali lagi.

“Sejak kematian Ny. Kim, aku tidak bisa lagi tinggal disana. Secara hukum rumah itu sudah diwariskan pada suaminya dan suaminya berniat untuk menjual rumah itu. Terus terang, Oppa... kamar yang Ny. Kim sewakan padaku, bukan hanya nyaman untuk aku tinggali. Tapi Ny. Kim memberiku harga yang murah yang tidak akan mungkin aku peroleh ditempat lainnya. Dengan begitu, aku bisa menggunakan sebagian besar uangku untuk biaya kuliahku, dan sisanya untuk kebutuhan lainnya. Dan sekarang....." Joohyun menghela nafas panjang sambil menatap laut dihadapan kami.

"Sekarang aku tidak yakin lagi untuk bisa mengalahkan Seoul dengan kedua tanganku sendiri. Kematian Ny. Kim yang tiba-tiba, lalu aku harus kehilangan tempat tinggal, dan novelku yang sudah ditolak oleh 3 penerbit, terus terang.... semua itu membunuh mimpiku. Tiba-tiba aku merasa, Seoul terlalu besar dan tangguh untuk kutaklukan."

Gadis itu kembali tersenyum pahit. Tuhan tahu, betapa aku membenci apa yang baru saja aku dengar. Aku benci melihatnya rapuh. Aku benci mendengarnya menyerah dengan mimpi-mimpi yang pernah dia banggakan dihadapanku saat itu.

Saat pertama kali Seo Joohyun masuk kedalam fikiranku.

"Berapa novel yang sudah kau tulis sejauh Ini?"

"Nde?" Joohyun tertegun menatapku.

"Berapa novel yang sudah kau selesaikan dan ditolak oleh penerbit?"

"Untuk novel, aku baru selesai mengerjakan dua judul. Tapi yang sudah aku coba untuk mem-publish nya hanya satu. Dan.... 3 perusahaan itu menolaknya." Joohyun tertawa kecil sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya.

"Apa alasan mereka menolak tulisanmu?"

"Hmm... kebanyakan yang mereka cari dari sebuah novel adalah romance yang bisa dengan mudah dicerna oleh akal fikiran manusia. Meski dengan sedikit fiksi, mereka tetap menuntut sesuatu yang lebih entertaining. Terlepas dari usahaku untuk mencoba memberi perspektif yang jujur tentang cinta, yang mereka inginkan hanya sesuatu yang dicari dan diminati banyak orang tanpa peduli bahwa yang aku tulis hanya sebuah ilusi yang aku sendiri tidak pernah meyakini kebenarannya. Dari situ aku sadar.... bahkan untuk menjadi penulispun mimpi itu terlalu tinggi untukku."

"Lalu... novel yang satu lagi? Kenapa kau tidak mencoba mem-publish nya juga?" Entah apa yang sedang aku lakukan saat itu, tapi aku yakin, bahwa aku harus melakukan sesuatu untuk merubah fikirannya.

"Hhhm.... novel pertamaku mungkin akan mendapat respon yang sama. Bahkan jauh lebih parah." Kali ini Joohyun tertawa lebih lebar dan membuatku semakin penasaran.

"Jinjja? Wae? Apa yang kau tulis?"

"Aku menulis tentang betapa cinta tidak cukup menjadi alasanmu untuk bahagia, dengan sad ending sebagai penutupnya." Joohyun menatapku dengan senyumnya. Aku mengerutkan keningku dan menatapnya.

"Huh? Really?" Tanyaku.

"Hhmm..." Jawabnya, sambil mengangguk. Lalu senyumku kembali merekah.

"Seo Joohyuh.... jinjja...." Aku menggeleng-gelengkan kepalaku ditengah senyumku.

"Wae?? Naega wae?"

"Ani... geunyang...." Untuk sesaat, aku hanya menatapnya. Menyelam kedalam bening matanya berharap bisa menemukan sesuatu yang akan menghidupkan lagi mimpi-mimpi itu.

"Joohyun ah..."

"Ooh..."

"Dalam apartemenku, aku punya 3 kamar tidur. Yang satu adalah kamarku, yang satu lagi biasa digunakan sebagai kamar tamu. Hanya sesekali digunakan bila Eommaku datang. Dan yang terakhir, berada di samping balcon living room. Kamar itu sebelumnya di pakai Jungshin anggota band-ku. Tapi sekarang dia memilih untuk tinggal dengan Hyung-nya, so... kamar itu tidak ada pemiliknya." Joohyun menatapku penuh tanya. Aku tahu, gadis ini akan mentah-mentah menolak tawaranku bila aku memintanya untuk tingga begitu saja. Jadi...

"Berapa kau membayar sewa pada Ny. Kim? Kau hanya perlu membayar sewa padaku senilai itu. Lagipula, aku fikir akan lebih baik bila ada seseorang yang akan tetap menjaga apartrmenku saat aku dan band-ku harus tour selama berbulan-bulan. Anggap saja semua ini sebagai simbiosis mutualisme. Kau mendapat tempat yang nyaman dan murah, dan aku mendapat seseorang yang bisa menjaganya saat aku tak ada disana. Otthae?"

Kudapati keningnya mengerut dan matanya masih menatapku penuh tanya.

"Oppa... mana bisa seorang perempuan tinggal serumah dengan laki-laki? Apa yang akan orang-orang fikirkan tentangku? Tentangmu? Terlebih bila Eommamu datang, apa yang akan mereka fikirkan?"

"Geok cheongma! Tidak akan ada yang mempedulikan keberadaanmu disana. Aku membeli apartemen dengan private access.  Satu Elevator yang hanya digunakan untuk 4 unit rumah. Dan orang-orang yang tinggal di lantai yang sama denganku adalah orang-orang yang sibuk dengan kehidupan mereka sendiri. Aku bahkan hanya akan bertemu mereka sekali dalam satu bulan. Dan tentang Eomma ku, kau tak perlu khawatir. Saat di Amerika dulu, aku tinggal bersama 3 orang pria seusiaku dan 2 orang mahasiswi yang juga menyewa kamar disana. But that was all."

Joohyun tertegun untuk beberapa waktu. Matanya tak lagi menatapku. Sepertinya gadis itu sedang berusaha mempertimbangkan tawaranku. Aku harap.

"Tapi.... Entahlah, Oppa. Aku tidak punya lagi alasan untuk tinggal di Seoul. Aku sendiri tidak yakin, untuk apa aku meneruskan kuliahku." Joohyun kembali menundukkan kepalanya. Dan untuk kesekian kalinya, aku benci melihatnya melakukan itu.

"Baru satu judul kan... yang mereka tolak? Kau masih bisa menulis yang lainnya dan kembali mencobanya."

"Tidak semudah itu, Oppa. Menulis novel itu bukan hal yang sederhana yang bisa aku lakukan kapanpun. Terlebih saat motivasiku hilang."

"Maka temukanlah lagi apa yang kau sebut sebagai motivasi itu!"

"Tidak mudah, Oppa!"

"Setidaknya cobalah, Joohyun ah!!"

Beberapa saat, mata kami bertatapan. Gadis itu kembali menatapku dengan tatapan penuh tanya.

"Kau tahu, Hyun.... berapa banyak lagu yang sudah aku buat hingga saat ini? Dan kau tahu.... dari puluhan lagu itu, tak satupun yang berhasil menembus industri musik di negara ini. Sampai detik ini! Kau fikir, CNBLUE menjadi band indie karena pilihan kami sendiri? Bukan, Hyun!! Kami terpaksa membuka jalan dengan tangan kami sendiri karena tangan label-label musik di negara ini tidak satupun yang mau membukanya untuk kami.

Alasannya hampir sama! Mereka menuntut sesuatu yang diinginkan banyak orang, tak peduli karya itu flagiat, mainstream, instant, kamuflase, atau lipsync sekalipun. Yang terpenting bagi mereka adalah, karya kami harus layak jual! Who cares with those fvcking money, anyway? Musikku, bukan untuk menyuapi mereka."

Kali ini, tatapannya berubah. Perlahan, binar mata itu mulai kembali disana. Lembut. Hangat. Dia terus menatapku dan menciptakan rasa yang asing dalam hatiku.

"Aku iri padamu, Oppa."

"Iri? Wae?"

"Karena mimpimu bukan sesuatu yang kau harapkan untuk bisa memberimu masa depan yang lebih baik. Maksudku.... karena aku bisa menilai bahwa kau terlahir dari keluarga yang akan selalu ada mendukungmu dalam segala hal hingga kau tidak perlu memusingkan masalah uang. Tapi untukku... mimpiku adalah satu-satunya hal yang aku harap bisa merubah hidupku suatu saat nanti."

"You're right, Princess!!! Kau benar bahwa kau punya harapan untuk bisa merubah hidupmu dengan mimpi itu. Karenanya kau tidak punya alasan untuk berhenti saat ini. Kau hanya ditolak 3 kali. Bahkan mungkin akan lebih banyak lagi sebelum akhirnya seseorang bisa menghargai pemikiranmu dan menerima bukumu. Tapi semua itu akan mustahil bila kau tidak pernah mencobanya."

Entah sejak kapan... tapi kusadari tanganku sudah berada dikedua sisi pundaknya. Dan kini, tangan kananku bahkan menyentuh pipi kanannya dengan lembut.

"Seo Joohyun.... kembalilah ke Seoul bersamaku!"

"I'm Your Angel"
Celline Dion feat. R. Kelly

And then you will see, the morning will come
And everyday will be bright as the sun
All of your fears cast them on me
I just want you to see...

I'll be your cloud up in the sky
I'll be your shoulder when you cry
I'll hear your voices when you call me
I am your angel

And when all hope is gone, I'm here
No matter how far you are, I'm near
It makes no difference who you are
I am your angel
I'm your angel









In Time With You Chapter 6



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8
 
 
Chapter  6

I Found You (Yonghwa POV)

Dia tidak membalas pesanku.

Mengabaikanku?

Mungkin dia sibuk. Atau mungkin dia lupa membalasnya. Atau... dia tidak menerima pesanku. Aku harap tidak ada sesuatu yang buruk terjadi padanya.

To : Hyun~
'Semoga ini hanya perasaanku saja, bila saat ini kau sedang mengabaikanku, Dear Friend. Aku harap kau sehat dan baik-baik saja saat iniini. Long Tripku selesai akhir minggu ini. Aku fikir, secangkir teh buatanmu akan sangat membuatku senang. ^^'

Pesan itu aku kirim seminggu yang lalu, saat aku masih berada di Tokyo. Banyak hal yang ingin aku ceritakan padanya. Tentang seorang fangirl yang ternyata putri seorang yakuza, atau tentang pembuat tofu yang ternyata dulunya mantan rocker ternama di Jepang. Atau tentang musim gugur yang mengingatkanku pada banyak hal dimasa lalu.

Aku ingin menceritakannya. Melihat bening matanya saat dia mendengar ceritaku.

Ah...! Semua hanya keinginanku saja. Aku menyadari bahwa pertemuan kami terlalu singkat dan sederhana untuk lantas kusebut persahabatan. Bahkan aku meragukan diriku sendiri, bilakah aku mengerti konteks kosa kata itu.

Tapi dia berbeda. Dia itu.... unik! Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku ingin selalu kembali padanya.

Bahkan hanya melihatnya tertawa, atau saat jiwanya nyaris rapuh karena sesuatu yang tidak aku mengerti, aku merasa.... aku harus bersamanya. Aku nyaman berada didekatnya. Dan Seo Joohyun.... dia yang membuatku berani untuk menaiki Mr. Red untuk pertama kalinya sejak 6 tahun silam. Seolah aku lupa bagaimana Mr. Red menorehkan luka dalam hidupku yang sebelumnya aku fikir tidak akan pernah sembuh selamanya.

Dimana dia sekarang?

*****

Seberapa kerasnya pun aku merantai kakiku, tapi kini tiba-tiba saja aku sudah berada didepan rumah putih beratap merah. Sebelumnya, aku mampir ke KCC dan berharap bisa menemukannya di sana. Tapi teman perempuannya bilang, sudah beberapa hari dia tidak masuk kerja karena demam. Firasatku benar. Joohyun tidak mungkin hanya mengabaikanku. Sesuatu pasti sedang terjadi.

Tapi dimana dia sekarang?

Aku menatap ke lantai 2, berharap aku bisa melihat perempuan yang aku kenali disana. Aku terlalu malu, untuk mengatakan 'perempuan yang aku cari' meski aku sadar, semua itu tak mampu aku sangkal.

Cukup lama aku berdiri didepan SUV-ku. Tapi tidak ada satupun yang bergerak disana. Lampunya bahkan tetap padam hingga hari mulai gelap. Akhirnya, aku menyerah. Aku mengubunginya.

'Anyeong haseo, Seohyun imnida. Saat ini, aku mungkin sedang sibuk. Silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi biiiip.....'

"Seo Joohyun.... neol eodie ah?"

Lemah, suaraku terdengar nyaris putus asa.

Aku memutar kembali mobilku menuju KCC. Sekali lagi aku menemui Hyoyeon untuk menanyakan kemana kira-kira gadis itu pergi. Karena aku yakin, dia tidak sedang berada di rumahnya. Dan Hyoyeon memberiku satu alamat yang mungkin bisa jadi Joohyun ada disana.

Jeongdongjin.

"Jonghyun ah... na ya, Yonghwa. ~ Bisakah kalian latihan tanpaku? Aku harus pergi ke suatu tempat untuk sebuah urusan. ~ Okay, lakukan sesukamu!"

Aku segera menancap pedal gas mobilku menuju stasiun begitu aku menutup teleponku. Aku akan mencarinya dengan kereta malam ini. Tak peduli bila aku harus duduk didalam kereta selama 6 jam,  yang aku inginkan hanya satu. Menemukannya, dan menanyakan kenapa dia tidak membalas pesanku?

Tsk... terdengar seperti sebuah alasan, memang!

*****

Jeongdongjin, pukul 4.30 pagi. Gerimis kecil seolah melengkapi keputusasaanku. Aku berteduh disebuah cafetaria yang tak jauh letaknya dari stasiun kereta dan menunggu hujan reda.

Aku duduk di salah satu sudut café dan memandang hujan lewat jendela. Andai aku membawa gitarku, maka harusnya satu lagu sendu sudah tercipta disaat suasana seperti ini.

Fikiranku kembali padanya. Pada gadis yang menjadi alasan kenapa aku berada disini sepagi ini. Hhhh.... aku pasti sudah gila!! Apa yang aku lakukan hingga aku rela menempuh ribuan mil jauhnya dari Seoul? Teman? Hanya untuk seorang teman? Benarkah? Lagi-lagi terdengar seperti sebuah alasan tapi sesuatu dalam batinku terasa sedang menyekat fikiran-fikiran itu.

Nan jinjja mollaseo! Apa yang membuatku menjadi segila ini?!

"Ah... Seo Joohyun!! Apa yang telah kau lakukan padaku?" Aku bergumam sendiri, memeluk lututku sendiri sambil menatap rintik-rintik hujan dibalik kaca jendela.

Love Revolution berdering di ponselku.

'Kim Hyuna' nama itu muncul di layarnya.

"Oh, Hyuna ah!" Aku menyapanya datar.

'Yonghwa, noel eodie ah?'

"Aku... disuatu tempat. Wae?" Sekali lagi, masih dengan intonasi yang sama.

'Aku di  stasiun Seoul sekarang. Bisakah kau menjemputku?' Gadis itu, suaranya masih terdengar manja seperti dulu.

"Mianhae, Hyunna ah! Aku sedang tidak di Seoul saat ini. Panggilah taxi dan tunggulah di rumahku. Aku masih ada urusan yang harus aku selesaikan."

'Geurae? Arasso.' Suaranya terdengar kecewa sebelum dia menutup teleponnya.

Ini adalah pertama kalinya aku menolak permintaan Hyunna. Ajaib. Aku fikir, aku tidak akan pernah bisa melakukannya.

Hujan reda, dan mentari mulai terik dilangit timur. Aku menggunakan taxi untuk bisa sampai di alamat yang Hyoyeon berikan padaku.

Sunset Galeri, pantai barat, Jeongdongjin.

Hyoyeon memberitahuku bahwa dulu, Joohyun Eomma adalah seorang pelukis. Entah mengapa, beliau malah mengabadikan lukisan-lukisannya disebuah galeri di kota kecil yang sangat jauh dari ibu kota. Mungkin karena kota ini adalah kota kelahirannya.

Beberapa menit kemudian, taxi-ku berhenti didepan sebuah bagunan tradisional dengan jendela dan pintu yang tinggi menjulang. Sebuah tulisan besar terpampang diatas pintu utamanya. 'Find your Sunset here'. 

Sunset. Joohyun Eomma pasti seorang yang filosofis karena memberi nama galerinya dengan nama Sunset. Yah, ini akan menjadi satu-satunya Sunset di Jeongdongjin, karena kita tidak akan pernah bisa menemukannya di kota ini. Jeongdongjin adalah Sunrise City. Kota terbaik untuk bisa melihat matahari terbit. Tapi kita tidak akan bisa melihat matahari terbenam di pantai kota ini.

Tidak terlalu sulit untukku menemukan galeri ini, karena ini satu-satunya galeri seni lukis yang ada di kota ini. Selain itu, tempat ini merupakan salah satu destinasi wisata bagi para wisatawan yang datang ke Jeongdongjin.

Aku melangkahkan kakiku melewati pintu utama yang sudah terbuka lebar. Seorang resepsionis sudah berdiri di balik mejanya. Akupun menghampirinya dan langsung menanyakan keberadaan Seo Joohyun.

Thank God, Hyoyeon benar. Joohyun berada disini. Di rumah samchoonnya. Resepsionis itu memberiku alamat menuju rumah keluarga Kim. Kakak dari mendiang ibunya Seohyun. What a long.. long... journey! Ini mungkin menjadi perjalanan terpanjangku tanpa CNBLUE sepanjang usiaku. And then... i took another cab to find her. To see her again.

Seorang wanita diusia Eommaku menyambutku hangat. Dia bahkan membuatkan secangkir teh hangat dan beberapa buah goguma panggang untukku. Meski malu, aku menikmati suguhannya karena terus terang, perutku benar-benar terasa lapar.

Tapi... dimana gadis itu?

"Aigoo... aku tidak tahu kalau Uri Joohyun memiliki teman setampan ini. Kau pasti sangat lelah, jauh-jauh datang dari Seoul ke kota kecil ini." Wanita itu duduk dihadapanku dengan wajah ramahnya.

"Nde, gumonim. Maaf, bila aku berkunjung di waktu pagi seperti ini." Sejujurnya, aku tidak terlalu baik dalam hal tata krama dihadapan orang yang lebih tua. Bukan karena orang tuaku tidak mengajarkanku. Tapi karena aku tidak pernah benar-benar mendengarkan saat mereka memberitahuku.

"Gwaenchannayo. Kami senang, karena Joohyun punya teman yang sangat peduli padanya hingga rela menempuh jarak yang sangat jauh untuk mencarinya." Aku tersenyum padanya, lalu kembali meneguk teh ku.

"Lalu... dimana Joohyun sekarang?" Aku memberanikan diri untuk langsung menanyakannya.

"Dia ada dirumah Eommanya. Hanya beberapa meter dari sini. Kau bisa menelusuri jalan disamping rumah ini, hingga kau melihat pantai. Disana, kau akan menemukan satu-satunya rumah dengan pagar kayu yang menghadap pantai."

Usai kuhabiskan satu potong goguma panggang, dan secangkir teh hangat, aku pamit untuk segera pergi menuju rumah pantai itu.

Thanks to Hyun.... karena nya, aku bisa menikmati petualangan yang terasa seperti game detektif didalam X-Box-ku.

Gumonim benar. Hanya ada satu rumah dengan pagar kayu yang menghadap pantai. Rumah yang sederhana. Tidak terlalu besar tapi punya halaman yang cukup luas. Ada sebuah ayunan kayu disana, dan juga seperangkat meja dan kursi makan yang juga terbuat dari kayu. Beberapa bunga liar tumbuh dikebun kecilnya. Meski sebagian mulai mengering ditengah musim gugur ini.

Aku memberanikan diriku membuka pagarnya, lalu berjalan masuk menuju pintu rumahnya. Jantungku berdegup kencang. Ada perasaan excited, dan juga khawatir disaat yang bersamaan. Karena beberapa saat setelah aku mengetuk pintunya, aku tahu... aku akan segera melihat wajahnya.

Wajah perempuan yang aku cari.

Aku mengangkat tanganku dengan ragu, bermaksud untuk mulai mengetuk pintu. Berulang kali gerakan itu harus aku lakukan, tapi aku tak mampu menguasai fikiranku. Dan rasa gugup ini benar-benar membuatku gila.

"Aaaarrrhhhhh!!!"

Aku mendengar Joohyun berteriak dari dalam. Shit!!! Apa lagi sekarang??! Tanpa kupedulikan apapun, aku membuka pintu rumah itu dan berlari setengah gila mencari dari mana suara itu berasal. Aku mendengarnya menjerit untuk kedua kalinya, hingga akhirnya aku tahu bahwa gadis itu sedang berada di dapur.

"Joohyun ah!! Seo Joohyun... neol eodie ah?!!!" Hanya Tuhan yang tahu, betapa takutnya aku saat itu. Dan.....

"Oppa.... aarhhhhh....!!! Palli nawa!! Aarrghhh... tolong matikan kompornya! Minyaknya.... tidak mau berhenti menyembur!!"

Ya Tuhanku... entah apa yang harus aku katakan dan aku lakukan pada perempuan ini. Gadis itu sedang melompat maju mundur dengan gagang serokan di tangan kanannya, dan tutup panci di tangan kirinya.

Seriously, apa dia fikir dia sedang berperang? Dan teriakannya itu.... Dear God.... gadis ini nyaris menghentikan detak jantungku.

"Aaarrhhh!!!"

Entah apa yang sebenarnya sedang di goreng gadis bodoh ini karena minyak dari wajan dihadapannya tidak henti-hentinya menyembur. Aku tidak bisa diam lagi, dan segera mendekatinya lalu mematikan kompor itu sebelum perempuan ini benar-benar membakar habis rumah peninggalan ibunya ini.

Problem was solved. Joohyun menyeka keringat nya dengan nafas terengah. Gagang serokan dan tutup panci masih dipegangnya erat. Aku terpaku menatapnya.

"Hhaaaah... Oppa! Ddaengida!! Untunglah kau datang, kalau tidak...."

"Kalau tidak... kau akan membakar rumah ini. Atau setidaknya, kau akan menggoreng jarimu sendiri." Jawabku sedikit sarkastik, dengan nafas yang tak kalah terengahnya.

Beberapa saat, kami hanya saling menatap. Kejadian chaos tadi sukses membuatku melupakan segala rasa yang aku rasakan dibalik pintu tadi dan juga untuk apa aku datang kesini.

Kedua pasang mata kami saling menatap untuk beberapa saat lamanya. Dunia terasa hening setelah keributan yang terjadi sebelumnya.

"Op... Oppa..... apa yang kau lakukan disini?" Joohyun menatapku penuh tanya.

Lihatlah! Gadis bodoh ini!! Setelah serangan jantung yang dia sebabkan, dia baru menyadari kehadiranku?!!

"I found you, Phabo ah!" Kalimat itu mengalun lirih dari mulutku tanpa kusadari dan aku terus menatapnya lekat.

"Phabo Seo Joohyuh!! Seo Joohyun phabo!! Jinjja... jinjja phabo!!!" Aku terus mengatakannya tanpa sekejappun memutuskan kontak mata diantara kami.

"Oppa...." Suaranya lembut dan mengalun seperti sebuah lagu rindu di telingaku. Aku pasti sudah gila!!

"My God.. seriously... do i really here only to see these messy thing?" Akhirnya, aku mengusap kedua mataku dengan tangan kananku saat kusadari semua kekacauan ini. Aku ingat, tangan kiriku masih aku gunakan untuk menopang tubuhku dimeja makan setelah kejadian tadi yang membuat kedua kakiku terasa lemas.

"Yaak... who asks you to come, anyway?" Gadis bodoh itu malah menatapku sengit. Aishh!!! Andai dia tahu, perjalanan macam apa yang telah aku jalani untuk bisa sampai dihadapannya kini?!

"Mwo?? Noel...! Aish... jinjja geun phabo ya!!" Aku menatapnya tak kalah sengit. Hingga....

"Gomawo....." Sekali lagi, aku mendengar suara sendunya.

"Gomawo, Oppa. Aku.... aku benar-benar.... tidak bisa memasak gurita ini. Padahal aku sangat lapar dan sejak malam aku belum makan apa-apa." Gadis itu menundukan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya.

Aku tak bisa menahannya lagi. Seo Joohyun benar-benar...

Tawaku. Aku meledakkan tawaku untuk semua kebodohannya. Aku tertawa melihat rambut yang dengan acak dia gulung diatas kepalanya. Juga apron merah ditubuhnya. Dan serokan yang berkolaborasi dengan tutup panci ditangannya....

Ya Tuhan, aku benar-benar sudah gila telah menempuh ribuan mil perjalan hanya untuk menemukan gadis berantakan ini.

Aku terus tertawa. Dan diapun mengikutinya. Kami tertawa bersama.

Setidaknya, kau baik-baik saja, Seo Joohyun. Thank God, i found you!

"Just To See Her"
Smokey Robinson

Just to see her, just to touch her
Just to hold her in my arms again one more time
If I could feel her warm embrace
See her smiling face
Can't find anyone to take her place
I've got to see her again

I would do anything, I would go anywhere
There's nothing I wouldn't do
Just to see her again
I can't hide it, I can't fight it
It's so hard to live without the love she gave to me
Doesn't she know it, I tried hard not to show it
Can't I make her realize that she really needs me again