Selasa, 29 September 2015

In Time With You Chapter 4




In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8
 
 
Chapter 4

The Unforgetable Dinner

Yonghwa mengantarku pulang dengan motor sportnya setelah kami berhasil melihat Sun set sore itu. Hari yang panjang, tapi sangat menyenangkan dalam hidupku setelah Eomma pergi. Kami tiba didepan rumah Ny. Kim. Aku turun dari motornya dan segera melepas helm dikepalaku.

"Gomawo, Oppa. Aku tidak tahu bagaimana aku akan mengakhiri hari ini bila Oppa tidak mengajakku pergi. Mungkin aku hanya akan membusuk disana." Aku menunjukkan tanganku ke lantai 2 rumah Ny. Kim. Yonghwa tersenyum sekali lagi.

"Benarkah? Separah itukah bila seorang penulis sedang kehilangan idenya?" Yonghwa memicingkan sebelah matanya.

"Hmm! Bahkan bisa lebih parah lagi." Kami kembali meledakkan tawa kecil kami.

"Tapi, kau punya ramyeon kan?" Seperti biasa, Yonghwa kerap menanyakan hal secara random, dan tak jarang semua itu membuatku bingung.

"Ramyeon?" Aku mengerutkan keningku.

"Yup. Setelah mengemudikan motor ini lebih dari satu jam, aku merasa perutku mulai lapar. Dan aku jadi teringat pada cerita serammu tentang asam lambung itu."

Tsk... Yonghwa benar-benar membuatku terbahak.

"Aigoo... aku mulai kehabisan akal dalam menghadapimu, Oppa. Arasso!! Masuklah! Aku akan memasak untukmu. Karena bila kau takut asam lambungmu bermasalah, maka ramyeon adalah hal pertama yang harus kau hindari selain kopi." Aku membukakan pintu pagar rumah Ny. Kim dan mempersilahkannya masuk. Yonghwa mengikutiku dari belakang dan kami menaiki anak tangga disamping rumah itu satu persatu.

"Hyun, ijae gwaenchanna?" Dia bertanya.

"Wae?"

"Aku bertamu di rumahmu pada jam ini?"

Aku memasukan beberapa digit pass code pada pintuku dan mempersilahkannya masuk. Sekali lagi dia mengikutiku.

"Gwaenchanna. Geok cheongmaseo." Jawabku sambil menyalakan lampu ruang tengah.

"Anjuseo, Oppa. Aku akan membuatkan makanan untukmu." Aku menyimpan purse dan cardiganku lebih dulu di kamarku lalu aku kembali kedapur yang memang letaknya bersatu dengan ruang tengah. Yonghwa duduk dengan nyaman di sofa kuningku.

"Apa yang akan kau masak?" Tanya pria itu. Aku melirik kearahnya, dan.. aku tidak percaya bahwa dia bisa terbaring senyaman itu di sofaku. Dia pasti sangat lelah, setelah berkendara sejauh itu dengan motornya.

"Hhm... dongjangjigae?" Canda kecilku.

"Mwo?!" Lelaki itu terperangah dan akupun tertawa.

"Ani, Oppa. Aku bercanda. Hhm... di kulkasku, aku punya daging ayam dan.... hanya itu. Heheh..." Betapa malunya aku, saat kubuka lemari es ku dan kusadari hanya tersisa satu ekor ayam saja disana. Yonghwa meledakkan tawanya sekali lagi. Kali ini dia sampai memegang perutnya.

"Jangan khawatir, Oppa. Seekor ayam ini akan aku sihir menjadi menu makan malam yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu." Fuiih.... aku sedang membual sebenarnya. Entah apa yang aku lakukan dengan ayam ini.

Satu jam kemudian, rice cookerku berbunyi itu tandanya, nasi sudah matang. Begitupun soup ayam rempah ini. Aku berbalik kearah Yonghwa dan....

Lelaki itu tertidur. Benar saja, dia pasti sangat lelah. Aku menata nasi, soup ayam, dan potongan omlet diatas meja ruang tengah. Aku akan membangunkannya saat semuanya sudah siap. Tapi Yonghwa terbangun sebelum aku selesai mengambil mangkuk untuk makan kami.

"Kau bangun, Oppa?" Tanyaku. Yonghwa meregangkan otot tubuhnya sebelum dia menjawabku.

"Sofamu benar-benar nyaman, Hyun. Aku tidak menyadari kapan aku mulai terlelap." Yonghwa bangkit dari tidurnya lalu duduk dilantai dengan punggungnya yang masih bersandar di sofa.

"Kau pasti sangat lelah, Oppa. Makanya kau begitu mudahnya terlelap disana." Aku memberinya mangkuk dan sepasang sumpit kemudian duduk disampingnya.

"Tidak juga. Aku biasa melewati hari yang lebih melelahkan dari ini, tapi tetap saja aku tidak bisa tidur dengan nyaman apalagi di jam-jam ini. Ini pasti karena sofamu, Hyun!" Yonghwa memukul-mukul sofaku dengan tangan kanannya dan aku hanya tersenyum melihatnya.

"Kenapa kau memanggilku Hyun?" Ini sudah ke-4 kalinya aku mendengar dia memanggilku Hyun.

"Hhmm... molla. Geunyang! Nama itu hanya mengalun begitu saja." Yonghwa tersenyum lagi.

"Wae? Kau tidak suka? Atau... sudah ada orang lain yang memanggilmu begitu?" Aku mengambilkan nasi dan juga soup ayam untuknya.

"Ani, Oppa. Aku belum pernah mendengar orang lain memanggilku seperti itu." Jawabku.

"Bagus bila begitu." Yonghwa mulai melahap soup ayamku. Dan aku menunggu reaksinya.

.......

.......

There was not any reactions.

Dia hanya melahapnya, mengunyah, menelan, lalu meneguk air putih yang aku sediakan. Berulang kali seperti itu. Meski aku penasaran dengan penilaiannya, tapi aku enggan untuk bertanya. Hingga akhirnya aku memulai suapan pertamaku.

"Ooooo May Gaaaddd!!!!"

Aku merasa seperti lidahku akan menjulur keluar dari mulutku. Was it even a food for human??? Aku yakin, kaldu soup-ku sama asin nya dengan air laut tadi.

Yonghwa terbahak hingga terpingkal-pingkal melihat reaksiku. Suara tawanya menggema diseluruh ruangan ini sementara aku masih sibuk menenguk air putih untuk menetralisir rasa yang mengerikan itu.

Aku menatapnya dengan tatapan maaf, kesal, menyesal, sedikit marah dan semua bercampur menjadi satu.

"Yak!!! Bagaimana bisa kau terus menelannya padahal kau tahu makanan ini tidak layak untuk kau makan?!" Sedikit sengit, aku melempar kata-kataku. Yonghwa masih terpingkal-pingkal kala itu.

"Kau sengaja membuatku malu, Oppa!!" Aku mulai mengerutkan bibirku, dan bila aku tidak menjaga harga diriku, maka aku sudah menangis meraung-raung kala itu.

"Ani!! Untuk apa aku mempermalukanmu. Ani ah... bukan begitu Seo Joohyun! Aku hanya....." Yonghwa berhenti sejenak, dan tawanya kemudian berganti dengan sebuah senyuman.

"Bagaimanapun aku berterima kasih padamu, Hyun. Karenamu, malam ini aku bisa menikmati masakan rumahan. Makan dengan nasi yang dimasak langsung dan juga soup ayam buatanmu. Mungkin ini pertama kalinya untukku selama 6 tahun terakhir ini. Okay... aku akui, soup ini memang terlalu asin. Aku mengerti, mungkin karena kau masih terpengaruh angin laut tadi..."

"Yaakk!!!" Rasanya aku ingin memukulnya dengan sendok sayur ditanganku, dan Yonghwa meringis menghalau ancamanku.

"Ani.. Ani..! Mian... Mian!!! Aigoo.... jinjja gwaenchanna, Hyun! Jeongmal. Aku tidak akan menilai semua ini dari rasanya. Kau benar, aku mungkin tidak akan bisa melupakan makan malam ini seumur hidupku.

Gomawo...!"

Aku masih terpaku dengan kerutan di bibirku. Tetap saja, semua ini terlalu memalukan untuk seorang gadis sepertiku.

"Jangan kau makan soupnya, Oppa. Makan saja omletmu!" Tangannya menghentikanku saat aku akan mengambil mangkuk soup miliknya.

"Wae? Aku akan memakannya. Hanya karena soup ini asin, bukan berarti kau bisa membuangnya begitu saja kan? Bagaimanapun, kau harus menghargai ayam yang sudah mengorbankan nyawanya demi soup ini. Kau hanya perlu menambahkan air putih kedalam kuah mu seperti ini." Lelaki itu menuangkan air minumnya kedalam mangkuknya. Dan aku tertawa dengan hipotesa bodoh tadi. Tapi Yonghwa benar-benar bukan main. Ayam yang sudah mengorbankan nyawanya? Hhh... aku bahkan tidak pernah berfikir sampai sana. Mungkin itu bisa aku jadikan inpirasi untuk novelku nanti.

Benar saja. Yonghwa menghabiskan semua soupnya. Meski aku merasa bersalah, tapi disisi lainnya aku senang karena dia menghabiskan makanan yang kubuat.

Usai makan malam, Yonghwa bahkan membantuku membersihkan meja dan mencuci piring. Aku masuk kedalam kamarku dan mengganti bajuku. Sejenak, aku duduk didepan cermin meja riasku dan menatap bayang diriku disana. Gadis yang sangat aku kenali sejak aku kecil dan mengenal siapa diriku sebenarnya. Dan malam itu, gadis itu tersenyum. Sudah lama dia tidak melihatnya tersenyum seperti itu.

Tok.. Tok...

Yonghwa mengetuk pintu kamarku. Mungkin dia sudah selesai dengan pekerjaannya. Aku segera berdiri dan keluar dari kamarku. Tentu saja sudah dengan piyama pink dengan motif hati.

"Aku fikir kau sudah tidur." Sapanya, begitu dia melihatku muncul dari balik pintu.

"Belum lah. Aku tidak biasa tidur awal seperti ini. Lagipula, aku masih harus mengerjakan beberapa tulisan dan tugas kuliahku." Kami kembali duduk di sofa kuningku. Kali ini side by side.

"Kau benar, Joohyun ah. Kamar kost mu benar-benar nyaman. Untuk penulis sepertimu, lingkungan seperti ini memang sangat cocok. Sepi dan dingin."

"Ya... kecuali bila anjingnya Ny. Kim mulai menggonggong tak karuan, dan Ny. Kim ikut teriak-teriak untuk menghentikan gonggongannya." Kami tertawa kecil bersamaan.

"Selain aku, siapa lagi yang suka mengunjungimu?"

"Paling hanya beberapa teman kampusku, Suho, Hyo Eonnie, dan... kau Oppa. Setelah kau bertanya padaku, aku baru sadar kalau aku tidak punya banyak teman." Aku tertawa kecil mengingatnya.

"Really? Jadi... hanya Suho dan aku, lelaki yang pernah mengunjungimu disini?" Sekali lagi dia bertanya.

"Yup!! Oh.. dan pengantar jajangmyeon! Mereka juga laki-laki kan? Ya.. meskipun mereka hanya sampai berdiri didepan pintu saja." Kami kembali tertawa sebelum akhirnya hening tercipta.

..........

"Seo Joohyun....."

"Hhmm?"

"Ani..! Aku hanya suka memanggil namamu seperti itu. Dan sepertinya, mulai sekarang aku akan sering menyebut nama itu." Yonghwa merebahkan tubuh dan kepalanya kesandaran sofaku. Matanya menatap langit-langit.

"Kalau begitu, harusnya aku mengambil keuntungan darimu dengan menetapkan royalti. 1000 Won untuk satu kali panggilan. Maka dalam satu bulan, aku bisa membeli banyak novel dari uang royaltiku itu." Yonghwa serentak bangkit mendengarnya. Dia kembali menegakkan tubuhnya lalu melihat kearahku.

"Mwo? Aigoo... geun yeoja ga! Novel? Genre apa yang kau suka?" Matanya kembali menatapku antusias.

"Aku membaca semua genre. Apapun, yang penting semua itu berbahasa Inggris atau Korea, aku akan membacanya."

"Wow! Aku lebih menyukai komik, to be honest. Hanya beberapa novel yang pernah aku baca dan biasanya bukan genre romance."

"Kenapa kau tidak suka membaca romance?" Aku membalas tatapannya dengan rasa ingin tahu yang sama.

"Aku bukan tidak membacanya, hanya saja aku tidak terlalu tertarik dengan kisah cinta yang diatur alurnya sedemikian rupa, dengan kata-kata puitis, dan happy ending. Semua terlalu seperti sebuah delusi untukku. Kisah perasaan dua orang manusia, yang semuanya di plot sesuai keinginan penulisnya, yang terkadang mengesampingkan realitas yang ada."

Aku terpaku mendengar jawabannya. At some point, aku setuju dengan sudut pandang itu.

"Tapi yang kau baca itu adalah, Novel... Mr. Blue, or Gold or... whatever..." Aku meledeknya kali ini.

"Ya, aku tahu. Itulah kenapa aku membencinya. Karena semua keindahan dan kebahagiaan itu hanya sebuah Novel. Betapapun hebatnya sebuah ending dalam novel itu, tetap saja... semua itu hanya Novel. Dan itu yang membuatku kecewa."

Aku tersenyum sekali lagi mendengar pemikirannya. Lelaki ini benar-benar unik.

"Wow... untunglah kau bukan seorang penulis, Oppa! Karena bila iya, maka aku yakin kau hanya akan menulis genre tragedy atau mungkin thriller."

"Ya, kau benar. Beruntung aku tidak pintar dengan kata-kata."

"Tapi aku suka lirik-lirik lagumu, Oppa."

"Really? Which one?"

"Aku suka semuanya. Tapi aku paling suka Love Revolution." Yonghwa menggerser tubuhnya dan menghapus jarak diantara kami. Dia menopang dagunya denga salah satu tangannya dan wajahnya menghadap kearahku. Seingatku, pose ini adalah pose saat dia tertarik atau ingin mendengar lebih banyak tentang ceritaku.

"Wae? Apa yang kau suka dari Love Revolution?" Matanya menatapku teduh.

"Hhm... aku suka part lirik Himdeultaen Bitamin cheorom samkeumaeh, Appeu ddhaen Eomma phum gateun (Menyegarkan seperti vitamin saat aku lelah, Menghangatkan seperti pelukan eomma saat aku sakit). Aku suka caramu dalam mendeskripsikan eksistensi seseorang." Aku membalas tatapannya diiringi senyumku.

"Jeongmal? Apa yang istimewa dari lirik itu? Bukankah lirik itu hanya sebuah kata cinta biasa dan... sangat standar, menurutku." Yonghwa menegakkan kembali tubuhnya, dan jarak antara kami kembali tercipta.

"Ani ah. Yang aku rasakan tidak seperti itu. Saat kau membuat analogi tentang gadis yang kau cintai dengan pelukan seorang ibu, menurutku semua itu keren. Dari sana, aku tahu bahwa kau sangat mencintai Eomma-mu dan kau menginginkan perempuan yang seperti Eomma-mu. Dimataku, lelaki yang sangat mencintai Eomma-nya adalah lelaki yang keren. Dan dimasa depan, dia pasti akan sangat mencintai pasangannya juga."

"Dari mana kau tahu semua itu? Ck..ck..ck.. Seo Joohyun! Bicaramu seperti orang yang berpengalaman saja." Yonghwa terkekeh, sedikit meledekku.

"Tentu saja aku mencintai Eomma-ku. Dia yang membuatku bisa melihat dunia ini. Tapi aku melihatnya tidak ada yang istimewa, Joohyun ah!" Aku melihat Yonghwa menopang tengkuknya dengan kedua tangannya lalu kembali bersandar di sofaku.

"Ani ah. Mungkin karena aku mulai bosan dengan lirik cinta yang... 'kaulah segalanya, aku mencintaimu lebih dari apapun, atau aku tak akan pernah meninggalkanmu...' aku muak dengan semua itu. Meski hanya sebuah lagu, tapi bukankah seseorang tidak semudah itu mengucapkan janji? Dan dalam lagumu, aku mendengar kalimat yang berbeda. Kau bisa menggambarkan dua bentuk cinta yang berbeda dalam satu kalimat saja." Yonghwa kembali terdiam. Begitupun aku.  Beberapa saat, aku hanya memainkan kuku-kuku tanganku dan waktupun berlalu.

"Dan kau.... seperti apa cinta dalam perspektif seorang penulis sepertimu?" Yonghwa kembali menegakkan tubuhnya dan menatapku.

"Sebagai penulis... aku bisa menggambarkan cinta dalam banyak bentuk. Tergantung apa yang dan tentang siapa yang aku tulis. Tapi pada intinya sama. Cinta itu selalu menjadi bagian terbaik dalam semua cerita. Tak peduli apapun itu. Eomma yang mengajarkanku tentang itu. Dan memang, meski hanya menulisnya saja, dan cerita itu hanya buah dari imajinasiku saja, tapi cinta tetaplah cinta. Sesuatu yang lahir dari kebaikan, dan hanya akan melahirkan kebaikan yang lain."  Aku menundukkan kepalaku dengan senyum yang dengan serta merta merekah di wajahku saat aku mengingat Eomma.

"Lalu... apa itu cinta dari sudut pandang seorang Seo Joohyun?" Yonghwa kembali menanyakan hal random yang membuatku bingung.

"Huh?" Aku tidak menangkap maksudnya.

"Ya, menurutmu, bukan dalam kaca mata seorang peulis, apa itu cinta?" Yonghwa menatap mataku lebih tajam. Senyum kecil masih terlukis disudut bibirnya tapi sorot mata penuh tanya itu, aku tidak bisa menghalaunya.

"Aku? Molla Oppa. Sejujurnya, karena aku hidup sendiri di usiaku yang sangat muda, selain aku miskin dalam hal materi, aku juga miskin dengan pengalaman hidup. Aku melewatkan banyak fase yang mungkin orang lain sudah mengalaminya. Yaa... such a romantic relationship, maybe. Hampir tidak ada ruang untuk bernafas dalam duniaku beberapa tahun ini, apalagi untuk hubungan semacam itu. No! Satu-satunya bentuk cinta yang aku tahu saat ini adalah apa yang sudah Eomma-ku beri dan lakukan untukku. Hanya itu." Ada senyum pahit diwajahku saat aku menjawabnya. Dan senyum diwajah lelaki itu seketika sirna mendengarku. Tatapnya berganti menjadi lebih teduh dan menenangkan.

"Aku berharap kita bertemu lebih awal, Joohyun ah. Andai saja aku menemukanmu lebih awal...." Yonghwa menundukkan kepalanya dan menggantung ucapannya disitu. Aku menunggunya, tapi lelaki itu hanya terdiam.

"Wae? Apa yang akan terjadi bila kita bertemu lebih awal?" Aku menatapnya kini. Yonghwa menghela nafas panjang, lalu kembali tersenyum.

"Ani ah! Aku hanya bicara saja. Ck... Seo Joohyun, jinjja gomapta. You made my day! Sudah malam, aku harus pulang sebelum Ny. Kim memanggilkan keamanan untuk mengusirku." Yonghwa bangkit dari duduknya.

"Na do gomawo, Oppa. Aku benar-benar bersenang-senang hari ini."

Aku mengantarnya hingga depan pagar Ny. Kim. Menunggunya memakai helmet dan menaiki Mr. Red.

"Kau terlihat berbeda dengan motormu, Oppa."

"Benarkah? Hhh... sejujurnya, hari ini adalah pertama kalinya aku menaiki motor ini lagi setelah 6 tahun terakhir."

"Benarkah?" Banyak hal yang lelaki ini tinggalkan selama 6 tahun ini, sepertinya.

"Hmm! Dan kau beruntung menjadi orang yang pertama menaikinya bersamaku." Lelaki itu tertawa di balik helmetnya.

"Jalja, Joohyun ah!! Sampai bertemu lagi!!" Yonghwa melambaikan tangannya untuk terakhir kali sebelum akhirnya dia melajukan motornya dan menghilang dari pandanganku.

"Jalja... Yonghwa Oppa..." Bisikku.

"Greeting"
J.Rabbit

Today as well, you greet me
You look at me and smile brightly
All day, my heart is filled with only thoughts of you
What do I do then?

Are you dreaming the same dream as me?
Are you wandering, looking for me too?
I probably can’t turn back time
Today as well, you greet me

Tidak ada komentar:

Posting Komentar