In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 4
The Unforgetable Dinner
Yonghwa mengantarku pulang dengan
motor sportnya setelah kami berhasil melihat Sun set sore itu. Hari yang
panjang, tapi sangat menyenangkan dalam hidupku setelah Eomma pergi. Kami tiba
didepan rumah Ny. Kim. Aku turun dari motornya dan segera melepas helm
dikepalaku.
"Gomawo, Oppa. Aku tidak
tahu bagaimana aku akan mengakhiri hari ini bila Oppa tidak mengajakku pergi.
Mungkin aku hanya akan membusuk disana." Aku menunjukkan tanganku ke
lantai 2 rumah Ny. Kim. Yonghwa tersenyum sekali lagi.
"Benarkah? Separah itukah
bila seorang penulis sedang kehilangan idenya?" Yonghwa memicingkan
sebelah matanya.
"Hmm! Bahkan bisa lebih
parah lagi." Kami kembali meledakkan tawa kecil kami.
"Tapi, kau punya ramyeon
kan?" Seperti biasa, Yonghwa kerap menanyakan hal secara random, dan tak
jarang semua itu membuatku bingung.
"Ramyeon?" Aku
mengerutkan keningku.
"Yup. Setelah mengemudikan
motor ini lebih dari satu jam, aku merasa perutku mulai lapar. Dan aku jadi
teringat pada cerita serammu tentang asam lambung itu."
Tsk... Yonghwa benar-benar
membuatku terbahak.
"Aigoo... aku mulai
kehabisan akal dalam menghadapimu, Oppa. Arasso!! Masuklah! Aku akan memasak
untukmu. Karena bila kau takut asam lambungmu bermasalah, maka ramyeon adalah
hal pertama yang harus kau hindari selain kopi." Aku membukakan pintu
pagar rumah Ny. Kim dan mempersilahkannya masuk. Yonghwa mengikutiku dari
belakang dan kami menaiki anak tangga disamping rumah itu satu persatu.
"Hyun, ijae
gwaenchanna?" Dia bertanya.
"Wae?"
"Aku bertamu di rumahmu pada
jam ini?"
Aku memasukan beberapa digit pass
code pada pintuku dan mempersilahkannya masuk. Sekali lagi dia mengikutiku.
"Gwaenchanna. Geok
cheongmaseo." Jawabku sambil menyalakan lampu ruang tengah.
"Anjuseo, Oppa. Aku akan
membuatkan makanan untukmu." Aku menyimpan purse dan cardiganku lebih dulu
di kamarku lalu aku kembali kedapur yang memang letaknya bersatu dengan ruang
tengah. Yonghwa duduk dengan nyaman di sofa kuningku.
"Apa yang akan kau
masak?" Tanya pria itu. Aku melirik kearahnya, dan.. aku tidak percaya
bahwa dia bisa terbaring senyaman itu di sofaku. Dia pasti sangat lelah,
setelah berkendara sejauh itu dengan motornya.
"Hhm... dongjangjigae?"
Canda kecilku.
"Mwo?!" Lelaki itu
terperangah dan akupun tertawa.
"Ani, Oppa. Aku bercanda.
Hhm... di kulkasku, aku punya daging ayam dan.... hanya itu. Heheh..."
Betapa malunya aku, saat kubuka lemari es ku dan kusadari hanya tersisa satu
ekor ayam saja disana. Yonghwa meledakkan tawanya sekali lagi. Kali ini dia
sampai memegang perutnya.
"Jangan khawatir, Oppa.
Seekor ayam ini akan aku sihir menjadi menu makan malam yang tidak akan pernah
kau lupakan seumur hidupmu." Fuiih.... aku sedang membual sebenarnya.
Entah apa yang aku lakukan dengan ayam ini.
Satu jam kemudian, rice cookerku
berbunyi itu tandanya, nasi sudah matang. Begitupun soup ayam rempah ini. Aku
berbalik kearah Yonghwa dan....
Lelaki itu tertidur. Benar saja,
dia pasti sangat lelah. Aku menata nasi, soup ayam, dan potongan omlet diatas
meja ruang tengah. Aku akan membangunkannya saat semuanya sudah siap. Tapi
Yonghwa terbangun sebelum aku selesai mengambil mangkuk untuk makan kami.
"Kau bangun, Oppa?"
Tanyaku. Yonghwa meregangkan otot tubuhnya sebelum dia menjawabku.
"Sofamu benar-benar nyaman,
Hyun. Aku tidak menyadari kapan aku mulai terlelap." Yonghwa bangkit dari
tidurnya lalu duduk dilantai dengan punggungnya yang masih bersandar di sofa.
"Kau pasti sangat lelah,
Oppa. Makanya kau begitu mudahnya terlelap disana." Aku memberinya mangkuk
dan sepasang sumpit kemudian duduk disampingnya.
"Tidak juga. Aku biasa
melewati hari yang lebih melelahkan dari ini, tapi tetap saja aku tidak bisa
tidur dengan nyaman apalagi di jam-jam ini. Ini pasti karena sofamu,
Hyun!" Yonghwa memukul-mukul sofaku dengan tangan kanannya dan aku hanya
tersenyum melihatnya.
"Kenapa kau memanggilku
Hyun?" Ini sudah ke-4 kalinya aku mendengar dia memanggilku Hyun.
"Hhmm... molla. Geunyang!
Nama itu hanya mengalun begitu saja." Yonghwa tersenyum lagi.
"Wae? Kau tidak suka?
Atau... sudah ada orang lain yang memanggilmu begitu?" Aku mengambilkan
nasi dan juga soup ayam untuknya.
"Ani, Oppa. Aku belum pernah
mendengar orang lain memanggilku seperti itu." Jawabku.
"Bagus bila begitu."
Yonghwa mulai melahap soup ayamku. Dan aku menunggu reaksinya.
.......
.......
There was not any reactions.
Dia hanya melahapnya, mengunyah,
menelan, lalu meneguk air putih yang aku sediakan. Berulang kali seperti itu.
Meski aku penasaran dengan penilaiannya, tapi aku enggan untuk bertanya. Hingga
akhirnya aku memulai suapan pertamaku.
"Ooooo May Gaaaddd!!!!"
Aku merasa seperti lidahku akan
menjulur keluar dari mulutku. Was it even a food for human??? Aku yakin, kaldu
soup-ku sama asin nya dengan air laut tadi.
Yonghwa terbahak hingga
terpingkal-pingkal melihat reaksiku. Suara tawanya menggema diseluruh ruangan
ini sementara aku masih sibuk menenguk air putih untuk menetralisir rasa yang
mengerikan itu.
Aku menatapnya dengan tatapan
maaf, kesal, menyesal, sedikit marah dan semua bercampur menjadi satu.
"Yak!!! Bagaimana bisa kau
terus menelannya padahal kau tahu makanan ini tidak layak untuk kau
makan?!" Sedikit sengit, aku melempar kata-kataku. Yonghwa masih
terpingkal-pingkal kala itu.
"Kau sengaja membuatku malu,
Oppa!!" Aku mulai mengerutkan bibirku, dan bila aku tidak menjaga harga
diriku, maka aku sudah menangis meraung-raung kala itu.
"Ani!! Untuk apa aku
mempermalukanmu. Ani ah... bukan begitu Seo Joohyun! Aku hanya....."
Yonghwa berhenti sejenak, dan tawanya kemudian berganti dengan sebuah senyuman.
"Bagaimanapun aku berterima
kasih padamu, Hyun. Karenamu, malam ini aku bisa menikmati masakan rumahan.
Makan dengan nasi yang dimasak langsung dan juga soup ayam buatanmu. Mungkin
ini pertama kalinya untukku selama 6 tahun terakhir ini. Okay... aku akui, soup
ini memang terlalu asin. Aku mengerti, mungkin karena kau masih terpengaruh
angin laut tadi..."
"Yaakk!!!" Rasanya aku
ingin memukulnya dengan sendok sayur ditanganku, dan Yonghwa meringis menghalau
ancamanku.
"Ani.. Ani..! Mian...
Mian!!! Aigoo.... jinjja gwaenchanna, Hyun! Jeongmal. Aku tidak akan menilai
semua ini dari rasanya. Kau benar, aku mungkin tidak akan bisa melupakan makan
malam ini seumur hidupku.
Gomawo...!"
Aku masih terpaku dengan kerutan
di bibirku. Tetap saja, semua ini terlalu memalukan untuk seorang gadis
sepertiku.
"Jangan kau makan soupnya,
Oppa. Makan saja omletmu!" Tangannya menghentikanku saat aku akan
mengambil mangkuk soup miliknya.
"Wae? Aku akan memakannya.
Hanya karena soup ini asin, bukan berarti kau bisa membuangnya begitu saja kan?
Bagaimanapun, kau harus menghargai ayam yang sudah mengorbankan nyawanya demi
soup ini. Kau hanya perlu menambahkan air putih kedalam kuah mu seperti
ini." Lelaki itu menuangkan air minumnya kedalam mangkuknya. Dan aku
tertawa dengan hipotesa bodoh tadi. Tapi Yonghwa benar-benar bukan main. Ayam
yang sudah mengorbankan nyawanya? Hhh... aku bahkan tidak pernah berfikir
sampai sana. Mungkin itu bisa aku jadikan inpirasi untuk novelku nanti.
Benar saja. Yonghwa menghabiskan
semua soupnya. Meski aku merasa bersalah, tapi disisi lainnya aku senang karena
dia menghabiskan makanan yang kubuat.
Usai makan malam, Yonghwa bahkan
membantuku membersihkan meja dan mencuci piring. Aku masuk kedalam kamarku dan
mengganti bajuku. Sejenak, aku duduk didepan cermin meja riasku dan menatap
bayang diriku disana. Gadis yang sangat aku kenali sejak aku kecil dan mengenal
siapa diriku sebenarnya. Dan malam itu, gadis itu tersenyum. Sudah lama dia
tidak melihatnya tersenyum seperti itu.
Tok.. Tok...
Yonghwa mengetuk pintu kamarku.
Mungkin dia sudah selesai dengan pekerjaannya. Aku segera berdiri dan keluar
dari kamarku. Tentu saja sudah dengan piyama pink dengan motif hati.
"Aku fikir kau sudah
tidur." Sapanya, begitu dia melihatku muncul dari balik pintu.
"Belum lah. Aku tidak biasa
tidur awal seperti ini. Lagipula, aku masih harus mengerjakan beberapa tulisan
dan tugas kuliahku." Kami kembali duduk di sofa kuningku. Kali ini side by
side.
"Kau benar, Joohyun ah. Kamar
kost mu benar-benar nyaman. Untuk penulis sepertimu, lingkungan seperti ini
memang sangat cocok. Sepi dan dingin."
"Ya... kecuali bila
anjingnya Ny. Kim mulai menggonggong tak karuan, dan Ny. Kim ikut teriak-teriak
untuk menghentikan gonggongannya." Kami tertawa kecil bersamaan.
"Selain aku, siapa lagi yang
suka mengunjungimu?"
"Paling hanya beberapa teman
kampusku, Suho, Hyo Eonnie, dan... kau Oppa. Setelah kau bertanya padaku, aku
baru sadar kalau aku tidak punya banyak teman." Aku tertawa kecil mengingatnya.
"Really? Jadi... hanya Suho
dan aku, lelaki yang pernah mengunjungimu disini?" Sekali lagi dia
bertanya.
"Yup!! Oh.. dan pengantar
jajangmyeon! Mereka juga laki-laki kan? Ya.. meskipun mereka hanya sampai
berdiri didepan pintu saja." Kami kembali tertawa sebelum akhirnya hening
tercipta.
..........
"Seo Joohyun....."
"Hhmm?"
"Ani..! Aku hanya suka
memanggil namamu seperti itu. Dan sepertinya, mulai sekarang aku akan sering
menyebut nama itu." Yonghwa merebahkan tubuh dan kepalanya kesandaran
sofaku. Matanya menatap langit-langit.
"Kalau begitu, harusnya aku
mengambil keuntungan darimu dengan menetapkan royalti. 1000 Won untuk satu kali
panggilan. Maka dalam satu bulan, aku bisa membeli banyak novel dari uang
royaltiku itu." Yonghwa serentak bangkit mendengarnya. Dia kembali
menegakkan tubuhnya lalu melihat kearahku.
"Mwo? Aigoo... geun yeoja
ga! Novel? Genre apa yang kau suka?" Matanya kembali menatapku antusias.
"Aku membaca semua genre.
Apapun, yang penting semua itu berbahasa Inggris atau Korea, aku akan
membacanya."
"Wow! Aku lebih menyukai
komik, to be honest. Hanya beberapa novel yang pernah aku baca dan biasanya
bukan genre romance."
"Kenapa kau tidak suka
membaca romance?" Aku membalas tatapannya dengan rasa ingin tahu yang sama.
"Aku bukan tidak membacanya,
hanya saja aku tidak terlalu tertarik dengan kisah cinta yang diatur alurnya
sedemikian rupa, dengan kata-kata puitis, dan happy ending. Semua terlalu
seperti sebuah delusi untukku. Kisah perasaan dua orang manusia, yang semuanya
di plot sesuai keinginan penulisnya, yang terkadang mengesampingkan realitas
yang ada."
Aku terpaku mendengar jawabannya.
At some point, aku setuju dengan sudut pandang itu.
"Tapi yang kau baca itu
adalah, Novel... Mr. Blue, or Gold or... whatever..." Aku meledeknya kali
ini.
"Ya, aku tahu. Itulah kenapa
aku membencinya. Karena semua keindahan dan kebahagiaan itu hanya sebuah Novel.
Betapapun hebatnya sebuah ending dalam novel itu, tetap saja... semua itu hanya
Novel. Dan itu yang membuatku kecewa."
Aku tersenyum sekali lagi
mendengar pemikirannya. Lelaki ini benar-benar unik.
"Wow... untunglah kau bukan
seorang penulis, Oppa! Karena bila iya, maka aku yakin kau hanya akan menulis
genre tragedy atau mungkin thriller."
"Ya, kau benar. Beruntung
aku tidak pintar dengan kata-kata."
"Tapi aku suka lirik-lirik
lagumu, Oppa."
"Really? Which one?"
"Aku suka semuanya. Tapi aku
paling suka Love Revolution." Yonghwa menggerser tubuhnya dan menghapus
jarak diantara kami. Dia menopang dagunya denga salah satu tangannya dan
wajahnya menghadap kearahku. Seingatku, pose ini adalah pose saat dia tertarik
atau ingin mendengar lebih banyak tentang ceritaku.
"Wae? Apa yang kau suka dari
Love Revolution?" Matanya menatapku teduh.
"Hhm... aku suka part lirik Himdeultaen Bitamin cheorom samkeumaeh,
Appeu ddhaen Eomma phum gateun (Menyegarkan seperti vitamin saat aku lelah,
Menghangatkan seperti pelukan eomma saat aku sakit). Aku suka caramu dalam
mendeskripsikan eksistensi seseorang." Aku membalas tatapannya diiringi
senyumku.
"Jeongmal? Apa yang istimewa
dari lirik itu? Bukankah lirik itu hanya sebuah kata cinta biasa dan... sangat
standar, menurutku." Yonghwa menegakkan kembali tubuhnya, dan jarak antara
kami kembali tercipta.
"Ani ah. Yang aku rasakan
tidak seperti itu. Saat kau membuat analogi tentang gadis yang kau cintai
dengan pelukan seorang ibu, menurutku semua itu keren. Dari sana, aku tahu
bahwa kau sangat mencintai Eomma-mu dan kau menginginkan perempuan yang seperti
Eomma-mu. Dimataku, lelaki yang sangat mencintai Eomma-nya adalah lelaki yang
keren. Dan dimasa depan, dia pasti akan sangat mencintai pasangannya
juga."
"Dari mana kau tahu semua
itu? Ck..ck..ck.. Seo Joohyun! Bicaramu seperti orang yang berpengalaman
saja." Yonghwa terkekeh, sedikit meledekku.
"Tentu saja aku mencintai
Eomma-ku. Dia yang membuatku bisa melihat dunia ini. Tapi aku melihatnya tidak
ada yang istimewa, Joohyun ah!" Aku melihat Yonghwa menopang tengkuknya
dengan kedua tangannya lalu kembali bersandar di sofaku.
"Ani ah. Mungkin karena aku
mulai bosan dengan lirik cinta yang... 'kaulah
segalanya, aku mencintaimu lebih dari apapun, atau aku tak akan pernah
meninggalkanmu...' aku muak dengan semua itu. Meski hanya sebuah lagu, tapi
bukankah seseorang tidak semudah itu mengucapkan janji? Dan dalam lagumu, aku
mendengar kalimat yang berbeda. Kau bisa menggambarkan dua bentuk cinta yang
berbeda dalam satu kalimat saja." Yonghwa kembali terdiam. Begitupun
aku. Beberapa saat, aku hanya memainkan
kuku-kuku tanganku dan waktupun berlalu.
"Dan kau.... seperti apa
cinta dalam perspektif seorang penulis sepertimu?" Yonghwa kembali
menegakkan tubuhnya dan menatapku.
"Sebagai penulis... aku bisa
menggambarkan cinta dalam banyak bentuk. Tergantung apa yang dan tentang siapa
yang aku tulis. Tapi pada intinya sama. Cinta itu selalu menjadi bagian terbaik
dalam semua cerita. Tak peduli apapun itu. Eomma yang mengajarkanku tentang
itu. Dan memang, meski hanya menulisnya saja, dan cerita itu hanya buah dari
imajinasiku saja, tapi cinta tetaplah cinta. Sesuatu yang lahir dari kebaikan,
dan hanya akan melahirkan kebaikan yang lain." Aku menundukkan kepalaku dengan senyum yang
dengan serta merta merekah di wajahku saat aku mengingat Eomma.
"Lalu... apa itu cinta dari
sudut pandang seorang Seo Joohyun?" Yonghwa kembali menanyakan hal random
yang membuatku bingung.
"Huh?" Aku tidak
menangkap maksudnya.
"Ya, menurutmu, bukan dalam
kaca mata seorang peulis, apa itu cinta?" Yonghwa menatap mataku lebih
tajam. Senyum kecil masih terlukis disudut bibirnya tapi sorot mata penuh tanya
itu, aku tidak bisa menghalaunya.
"Aku? Molla Oppa.
Sejujurnya, karena aku hidup sendiri di usiaku yang sangat muda, selain aku
miskin dalam hal materi, aku juga miskin dengan pengalaman hidup. Aku
melewatkan banyak fase yang mungkin orang lain sudah mengalaminya. Yaa... such
a romantic relationship, maybe. Hampir tidak ada ruang untuk bernafas dalam
duniaku beberapa tahun ini, apalagi untuk hubungan semacam itu. No!
Satu-satunya bentuk cinta yang aku tahu saat ini adalah apa yang sudah Eomma-ku
beri dan lakukan untukku. Hanya itu." Ada senyum pahit diwajahku saat aku
menjawabnya. Dan senyum diwajah lelaki itu seketika sirna mendengarku. Tatapnya
berganti menjadi lebih teduh dan menenangkan.
"Aku berharap kita bertemu
lebih awal, Joohyun ah. Andai saja aku menemukanmu lebih awal...." Yonghwa
menundukkan kepalanya dan menggantung ucapannya disitu. Aku menunggunya, tapi
lelaki itu hanya terdiam.
"Wae? Apa yang akan terjadi
bila kita bertemu lebih awal?" Aku menatapnya kini. Yonghwa menghela nafas
panjang, lalu kembali tersenyum.
"Ani ah! Aku hanya bicara
saja. Ck... Seo Joohyun, jinjja gomapta. You made my day! Sudah malam, aku
harus pulang sebelum Ny. Kim memanggilkan keamanan untuk mengusirku."
Yonghwa bangkit dari duduknya.
"Na do gomawo, Oppa. Aku
benar-benar bersenang-senang hari ini."
Aku mengantarnya hingga depan
pagar Ny. Kim. Menunggunya memakai helmet dan menaiki Mr. Red.
"Kau terlihat berbeda dengan
motormu, Oppa."
"Benarkah? Hhh...
sejujurnya, hari ini adalah pertama kalinya aku menaiki motor ini lagi setelah
6 tahun terakhir."
"Benarkah?" Banyak hal
yang lelaki ini tinggalkan selama 6 tahun ini, sepertinya.
"Hmm! Dan kau beruntung
menjadi orang yang pertama menaikinya bersamaku." Lelaki itu tertawa di
balik helmetnya.
"Jalja, Joohyun ah!! Sampai
bertemu lagi!!" Yonghwa melambaikan tangannya untuk terakhir kali sebelum
akhirnya dia melajukan motornya dan menghilang dari pandanganku.
"Jalja... Yonghwa
Oppa..." Bisikku.
"Greeting"
J.Rabbit
Today
as well, you greet me
You
look at me and smile brightly
All
day, my heart is filled with only thoughts of you
What
do I do then?
Are
you dreaming the same dream as me?
Are
you wandering, looking for me too?
I
probably can’t turn back time
Today
as well, you greet me

Tidak ada komentar:
Posting Komentar