Selasa, 29 September 2015

In Time With You Chapter 2




In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8
 
 
Chapter 2

Greeting Mr. Blue

Suasana Kang's Crazy Crab malam itu lebih sepi dari biasanya. Hanya 2 meja yang masih terisa padahal saat itu jam dinding masih menunjukan pukul 9.25 malam. Aku gunakan waktu senggangku untuk mengeringkan gelas-gelas bersih dari balik bar table tempatku berdiri.

"Hai, Barbie.... bisa kau bantu aku menyiapkan 100 cup Ice Americano? Kita mendapat pesanan yang akan di ambil beberapa menit lagi." Suho muncul dari balik pintu dapur dan menyodorkan selembar kertas berisi daftar pesanan padaku.

"Jigeum do? Hhh... Arasso...." Aku mengambilnya, lalu mulai menyiapkan segala yang harus aku siapkan. 100 cup memang bukan jumlah yang banyak. Tapi bila aku hanya memiliki waktu beberapa menit saja untuk menyiapkannya, maka aku harus mulai melakukannya saat itu juga.

Kedua tanganku bergerak dengan sigap mengikuti instruksi dari fikiranku. Meski begitu, mata dan telingaku masih kufungsikan dengan penuh konsentrasi, sehingga bila saja ada pelanggan baru yang datang, atau mereka yang sudah ada ingin memesan sesuatu yang lain lagi, aku langsung bisa melayani mereka.

Suara genta angin dari arah pintu berbunyi lagi. Itu merupakan pertanda seseorang tengah membuka pintu. Dan benar saja, seorang pelanggan datang. Seorang pria, dengan tinggi badan rata-rata. Tidak terlalu tinggi untuk ukuran laki-laki. Mungkin hanya sekitar 175-180cm. Rambutnya coklat kemerahan dengan cutting yang simple, namun membuat wajahnya tampak lebih fresh dan muda. Ditelinga kanan nya aku melihat sebuah tindikan dengan material berwarna silver. Dan gitarnya. Aku rasa dia adalah seorang musisi.

Pria itu duduk tepat dihadapanku. Diantara banyak meja yang kosong malam itu, dia justru memilih mini bar table ini, kemudian menyandarkan gitarnya pada kursi disamping kirinya. Lalu mata kami saling bertemu dan....

Aku mengenalinya. Aku tahu siapa lelaki ini. CNBLUE! Lelaki yang sama yang melihat kebodohanku minggu lalu. Meski aku yakin tentang betapa sempurna nya dia, tapi aku harap, setidaknya lelaki ini lemah dengan daya ingat nya.

"Hhmm... expresso double shot, dan beberapa cemilan kecil." Pria itu masih menatapku dengan senyum tipis disudut bibirnya. Aku mengeluarkan note book dari saku apronku, lalu menuliskan pesanannya.

"Cemilan kecil.. kami punya nachos, craby kimbab, crispy baby crab, waffle atau pancake." Sekali lagi aku melihat kerutan yang sama dikeningnya. Aah..  jadi kerutan dikening itu terjadi saat pria ini sedang berfikir.

"Satu waffle dan satu kimbab. Karena aku memesan expresso, jadi... waffle untuk mengilangkan rasa pahit di lidahku, dan kimbab untuk mencegah asam labungku naik karena aku meneguk expresso dalam keadaan perut kosong." Aku tidak bisa menahan kedua bola mataku untuk tidak terbelalak mendengar penjelasan pria itu barusan.

"Mwoeyo? Eei... mana boleh meminum expresso saat perutmu kosong? Apa kau tidak tahu bagaimana sakitnya saat lambungmu terluka? Dan asam lambung itu bukan penyakit sepele. Kau bisa masuk rumah sakit karena penyakit itu." Aku tidak menyadari apa yang baru saja aku katakan, hingga aku melihat ekspresi itu di wajahnya.

Lelaki itu menatapku sambil menahan tawanya. Hingga beberapa saat kemudian dia menyerah dan meluapkannya. Sesuatu terasa seperti menghantam kepalaku. Phabo!! Apa yang sudah aku lakukan? Jinjja?? Aku baru saja mencereweti customer ku karena pesanannya? Haissh... Seo Joohyun, jinjja phabo ah!!!

Aku menggigit bibir bagian bawahku dan sekuatnya menyembunyikan malu. Lelaki itu masih tersenyum menatapku dan semua itu membuatku semakin gugup.

"Seohyun? Benarkan... itu namamu?" Aku tersentak mendengarnya. Seolah dia bisa membaca ekspresi wajahku yang bertanya-tanya 'darimana kau tahu namaku', telunjuknya kemudian menunjuk ke arah name tag di dada kiriku. Ah... maja!! Phabo... Phabo... Phabo!! Tentu saja dia membacanya!!!

"Aah... joseohapnida, aku tidak bermaksud untuk...."

"Gwaenchannayo! Its so refreshing anyway... saat aku mendengar seseorang mencerewetiku tentang makananku. Aku lupa, kapan terakhir kalinya aku mendengarkan kalimat seperti itu. Gomawoyo, Seohyun Ssi." Sekali lagi pria itu tersenyum. Kali ini lebih lebar hingga aku bisa melihat tekstur giginya yang... unik. Ya, his charm, i guess.

"Ah.. nde.. jinjja joseohapnida. Aku hanya teringat pengalaman pribadiku saat aku masuk rumah sakit dulu. Penyebab nya hanya hal sepele. Aku melewatkan waktu makanku dan saat cuaca panas, aku meneguk Ice Americano di restoran ini. And well... keesokannya, aku terbaring di rumah sakit. Dan aku tidak bercanda tentang rasa sakit itu. Jinjja.... aku bersumpah bahwa aku tak ingin lagi merasakannya."

Sekali lagi, aku tidak menyadari apa yang sudah aku lakukan dan aku ucapkan hingga aku menyadari bahwa pria ini menatapku semakin dalam dengan senyum dan matanya yang berbinar. Tangan kanannya menopang dagunya dan dia tampak sangat menikmati ocehanku.

Omo.. ocehanku? Aku tidak percaya bahwa aku baru saja mengoceh di depan customerku yang bahkan baru pertama kalinya aku melihatnya datang ke KCC. Aishhh... sejak kapan mulutku ini menjadi seperti senjata mesin yang bisa mengeluarkan rentetan kata tidak berguna seperti itu?

Aku memukul-mukul mulutku karena kebodohannya. Dan pria itu malah kembali meledakkan tawanya. Hhh... apakah dimatanya aku terlihat lucu? Sesange... apa yang telah kulakukan?

"Aigoo.. joseohapnida... jeongmal josehapnida! Aku akan segera membuat pesananmu, gidaryo juseo..." Dengan sigap aku memutar tubuhku dan bermaksud untuk menyerahkan pesanannya pada Suho.

"Seohyun Ssi...!" Suaranya menghentikan langkahku. Aku memutar tubuhku kembali dan menghampirinya lagi.

"Nde..."

"Aku batalkan expresso ku. Aaah... kau membuatku takut, Seohyun Ssi. Andwe, aku juga tidak ingin merasakan rasa sakit seperti yang kau ceritakan tadi. Just give me a cup of tea. Aku membutuhkan sesuatu yang bisa memberi efek relaksasi untuk tubuhku." Aku melihat pria itu meregangkan otot-otot tangannya. Ya, dia memang terlihat lelah seperti belum beristirahat untuk beberapa waktu.

"Nde, algaeseupnida." Kali ini aku benar-benar berlalu dan meninggalkannya.

Suho menyediakan pesanan pria itu. Dan aku masih disibukan dengan pesanan Ice Americano yang akan segera di ambil pemesannya. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Tapi aku merasa, gerakanku seperti sedang diikuti oleh sepasang mata dari balik bar table. Aku tidak berani menatapnya kembali, karena sebelumnya, aku melihat kearahnya dan dia sedang melihatku dengan senyuman yang tak bisa aku mengerti artinya.

Suara genta angin berbunyi lagi. Mungkin orang yang akan mengambil pesanan Ice Americano ini. Dan benar saja, Suho menyapanya, sambil menyerahkan beberapa box makanan yang juga merupakan pesanan orang itu.

"Barbie... Ice Americano nya siap?" Haissh... sudah kukatakan jangan memanggilku seperti itu ditempat kerja!! Phabo Suho ah!! Saat di kampus, dia sudah cukup membuatku mendapatkan masalah karena fangirls nya kerap menghadangku dan memintaku untuk menjauh darinya. Dan ditempat kerja pun anak bodoh ini selalu mencoba untuk menyulitkanku juga.

"Siap, Chef! Ini... " Aku menyerahkan satu persatu box yang berisi minuman yang sudah aku tata.

"Joohyun ah!!!" Mataku seketika beralih pada seseorang yang memanggilku dengan nama asliku.

"Neol jinja Seo Joohyun?!" Sekali lagi lekaki itu bertanya. Aku terbelalak saat melihat Jung Jinwoon sedang berdiri sambil memegang pesanan-pesanan itu. Ternyata dia yang memesan semua ini?

"Jinwooooniiiii.....!!!!" Seperti gadis yang baru saja bertemu eomma nya aku melompat kegirangan dan berlari kearah Jinwoon. Jinwoon menarik tubuhku kedalam pelukannya dan mendekapku erat. Aku tahu, Suho dan Mr. CNBLUE itu sedang melihat kami dengan tatapan heran penuh tanya.

"Ya Tuhan, Jinwoon ah... kau kemana saja? Aku membaca artikelmu bahwa kau akan debut sebegai pemeran utama dalam sebuah drama. Chukkhae, Woonie!! Aku bahagia untukmu!" Dengan tulus aku menggenggam tangannya. Jinwoon pun tampak sangat bahagia dan penampilannya... wow... he really was a halyu star.

"Maja, Joohyun ah. Saat ini aku sedang melakukan shooting untuk drama itu. Dan pesanan ini, semua ini akan aku bagikan pada kru dan rekan-rekan ku disana. Ini hanya gratitude kecil yang bisa aku lakukan sebagai newbie." Aku menatap Jinwoon dengan tatapan takjub dan juga bangga, karena teman masa kecilku bisa menjadi orang yang sukses saat ini.

"Aku senang, karena kau akhirnya bisa meraih mimpimu, Jinwoon ah! Jinjja... naega neomu haengbokhaeso!"

"Gomawo, Joohyun ah. Neo do! Aku yakin, suatu hari kau pun bisa meraih mimpimu. Bila kau membutuhkanku, jangan sungkan untuk datang dan memintaku, okay?!" Jinwoon mencubit hidungku. Entahlah, kenapa rasanya aku sangat peduli pada reaksi yang diperlihatkan Mr. CNBLUE itu terhadap berbincanganku dengan Jinwoon. Lelaki itu meneguk teh nya perlahan, tapi aku tahu, telinganya sedang mendengarkan kami. Tentu saja... jarak antara kami tidak lebih dari satu meter saja.

"Gomawo, Woonie ah! Yah, kita lihat saja... apakah halyu star sepertimu masih mau berteman dengan pelayan restoran sepertiku. Kau dengan Calvin Klein mu dan aku dengan apron ini... aku tidak percaya bahwa kita dulu adalah anak-anak yang pernah di kejar-kejar Ilwook Haraboji karena telah mencuri jeruk dikebunnya." Perkataanku itu adalah ungkapan yang jujur. Bahwa CK ditubuhnya, tidak akan pernah sepadan dengan apron ditubuhku.

"Eiii... wae geurae?? Kemana perginya Joohyun-ku yang penuh semangat kompetisi? Aku tahu, bahwa suatu hari kau juga akan menjelma menjadi seorang penulis yang hebat. Aku yakin itu, karena kau tidak pernah gagal membuatku tersentuh dengan tulisan-tulisanmu. You're a hiden black pearl, Joohyun ah. Aku yakin, suatu saat orang akan menemukanmu dan menyadari tentang betapa hebatnya dirimu." Dan lagi-lagi, aku malah penasaran dengan ekspresi wajah Mr. CNBLUE. Kali ini, aku melihatnya tersenyum sendiri sambil memandangi cangkir teh ditangannya.

"Gomawo, Woonie! Aku pun akan selalu berdoa untukmu, agar kau semakin sukses dengan mimpimu ini."

"Geuroom! Neo do!! Okay, aku janji, lain kali aku akan datang lagi special untuk mengganggumu. Tapi kali ini, aku harus kembali ke lokasi shootingku karena mereka pasti sudah menunggu."

"Geurae? Arrasso!! Jinwoonie, Fighting!!"

"Seo Joohyun, Fighting!!" Jinwoon pun berlalu dengan membawa bungkus pesanannya dibantu oleh asisten nya.

"Seo Barbie, Fighting!!" Aku menoleh kearah Suho yang sedang nyinyir meledekku dengan meniru kata-kataku tadi sebelum akhirnya diapun hilang dibalik pintu. Anak kecil itu! Sekalipun aku tidak pernah melihatnya bersikap manusiawi dihadapan teman lelakiku. Bila nanti aku berakhir menjadi seorang wanita tua yang kesepian, maka orang yang akan aku mintai pertanggung jawabannya adalah dia.

Dan aku kembali padanya. Ani. Aku kembali ketempatku biasa berdiri di balik mini bar table. Dihadapannya. Sebuah senyuman masih tersemat di wajah itu, dan aku tidak bisa menghiraukan rasa penasaranku tentang arti senyuman itu.

"Aku baru tahu, bahwa vocalis CNBLUE adalah pria yang murah senyum." Akhirnya, aku mengatakannya dengan sedikit sarkastik. Pria itu tampak kaget saat kusebut nama CNBLUE.

"Wow... kau tahu CNBLUE?" Matanya sedikit terbelalak disela senyumnya. Aku tahu arti senyum yang satu ini. Dia pasti tidak menyangka ada orang yang mengenalinya sebagai seorang musisi padahal CNBLUE hanya sebuah band indie.

"Yeah... aku tahu Lets Go Crazy, Love Revolution, I'm a Loner, Coffee Shop dan beberapa lagumu yang lain. Aku bahkan membeli album indie kalian dan mendownload mp3 kalian di i-tunes resmi. Beberapa kali, saat aku memiliki waktu luang, aku juga datang ke konser indie kalian. Aku mendengarkan musik kalian disetiap pagiku, dan gomawoyo... you guys always made my days!" Aku memberikan senyum tulusku. Aku berkata jujur untuk ungkapan itu karena aku benar-benar suka dengan musik mereka.

Aku bisa melihat, mata pria itu semakin berbinar mendengar ucapanku.

"Jung Yonghwa." Pria itu menyodorkan tangan kanannya. Dia memintaku menjabatnya?

"Namaku Jung Yonghwa." Sekali lagi dia mengucapkan namanya dan memberi isyarat lebih jelas untukku menjabat tangannya. Dan beberapa saat kemudian, aku pun menjabatnya. Jung Yonghwa semakin tersenyum lebar. Haissh... cukup rasanya malam itu untukku melihat senyumnya. Aku tidak tahu, apa yang akan terjadi padaku bila aku harus melihat senyuman itu lebih banyak lagi.

"So... Seohyun, Barbie, Joohyun.... yang mana aku harus memanggilmu?" Aku terpaku sesaat mendengar pertanyaan itu. Dan beberapa saat kemudian, Yonghwa terkekeh menikmati betapa bodohnya ekspresi yang aku tampakkan di wajahku.

"Chogieyo... Jung Yonghwa Ssi... kenapa dari tadi kau menertawakan aku terus?" Tawanya terhenti saat melihatku mulai mengerutkan bibirku.

"A.. aniyo, Seohyun Ssi. Geunyang.. neol jinjja kyeopta. You're so cute and.... pure!"

Sempurna!! Ketika aku sudah menyerah dengan senyumannya, dan kini dia menyebutku cute? Dan apa tadi? Pure? Aigoo... nae eolgul...! Aku harap pipiku tidak berubah menjadi udang rebus saat itu.

"Mianhaeyo, untuk pertemuan pertama kita, aku mungkin terlalu frontal. Tapi aku berkata jujur, Seohyun Ssi. Kau benar-benar cute. Terlebih karena kau mengenalku dan CNBLUE. Kau tidak tahu betapa bahagianya aku bertemu gadis se-imut dirimu dan kau pun sangat menyukai karya kami. Neomu gomawoyo, Seohyun Ssi." Okay, aku rasa sebentar lagi aku akan mati dengan segala perasaan aneh dalam diriku karena lelaki ini.

"So... What do you think about our music?" Bila kuhitung-hitung, lelaki ini suka sekali berbahasa Inggris sejak tadi.

"Hal pertama yang bisa aku rasakan tentang musik kalian adalah.... Jujur. Aku merasa musik kalian adalah musik yang jujur yang datang dari hati dan semangat kalian tentang bermusik. Kau tahu kan... ditengah maraknya kamuflase yang terjadi di industri musik negara kita ini, disaat banyak orang lebih memilih untuk bergabung dengan boyband dan lebih menyuguhkan tampilan visual mereka dibandingkan dengan kualitas vocal atau musik mereka, aku merasa... musik kalian adalah sesuatu yang membayar kerinduanku terhadap esensi sebuah musik.

Apa yang aku harapkan dari mendengar lagu seseorang, aku mendapatkannya saat aku mendengar musik kalian. Aku bahagia, karena ternyata di negara kita ini, masih ada sekelompok orang yang menjunjung tinggi idealisme, kejujuran dan originalitas dalam membuat sebuah karya. Sejujurnya, aku nyaris putus asa, karena aku fikir, semua orang saat ini rela menggadaikan mimpi mereka demi uang,  popularitas, dan segala bentuk kemewahan yang lain."

Kudapati senyum diwajahnya mulai pudar kini. Tatapan itu berubah menjadi lebih dalam, intimate, namun aku tidak mengerti maknanya. Sesaat aku merasa, bahwa aku sudah mengatakan hal yang salah dan berlebihan yang mungkin mengganggu fikirannya. Tapi...

"Seo Joohyun... who are you?" Bening matanya terasa seperti menyelam lebih dalam kedalam relung hatiku. Aku nyaris merasa ditelanjangi dengan tatapan itu.

"Nde?" Aku tahu, aku melakukan yang terbaik untuk menutupi kegugupanku.

"Aniyo... maksudku... Seohyun Ssi... aku hanya merasa seperti aku sudah mengenalmu sejak lama. Mendengar caramu menilai musikku, musik kami... semua itu terasa seperti aku sudah mengungkapkan semua isi hati dan fikiranku padamu sebelumnya hingga kau bisa memahaminya dengan perspektif itu." Tidak seperti sebelumnya, kali ini tatapan matanya mempertegas kata yang baru saja keluar dari mulutnya.

"Ah.. hh.. geunyang... aku hanya...." Sesaat akupun kehilangan cara untuk bisa menjelaskan maksudku.

"Jung Yonghwa Ssi, kau tahu? Aku adalah seorang pemimpi. Dan aku bisa bertahan hidup semata karena aku memiliki mimpi-mimpi itu. Aku ingin menjadi penulis. Aku berharap, dengan tulisanku aku bisa merubah dunia. Aniyo... mungkin semua itu terlalu besar untukku. Aku hanya ingin setidaknya menyebarkan kebaikan lewat tulisanku. Berharap aku bisa mengajak setiap orang yang membacanya untuk bisa melihat dunia dari sudut yang berbeda. Aku ingin berbagi mimpiku lewat tulisan-tulisanku.

Untukku, baik itu musik, ataupun buku, semua itu karya yang lahir dari mimpi kita. Aku tidak sedang berhiprokrit dengan mengatakan bahwa aku tidak mengharapkan apa-apa dari mimpiku ini. Hanya saja, aku tidak akan pernah menjual mimpiku ini hanya demi uang. Aku tidak akan membuat karya hanya karena tuntutan seseorang ataupun permintaan pasar.

Tsk... mungkin terdengar menggelikan saat kau mendengar orang miskin sepertiku mengoceh tentang idealisme. Tapi setidaknya, hanya itulah satu-satunya kebanggaan yang aku miliki saat ini."

Aku tertawa kecil menertawakan diriku sendiri. Tanganku kembali mengerjakan hal random di balik mini bar table itu, demi untuk meredam suasana yang mulai terasa aneh. Aku menundukan pandanganku, tapi aku tahu bahwa lelaki di hadapanku masih menatapku lekat.

"Kau tinggal dimana?" Yonghwa bertanya dan tatapanku kembali kearahnya.

"Sangdo-Dong." Jawabku singkat.

"Hhhmm... cukup jauh dari sini, ya? Dan kau bekerja hingga pukul berapa?" Dia kembali bertanya.

"Restoran ini tutup pukul 11 malam. Kecuali untuk week-end kami akan tetap melayani hingga pukul 1 pagi."

"Are you okay with that? I mean... untuk seorang gadis sepertimu, bukankah Seoul dimalam hari tidak terlalu aman? Kau harus setidaknya melewatkan dua terminal untuk sampai ke Sangdo-Dong." Kali ini Yonghwa menatapku dengan kekhawatirannya.

"Gwanechannayo. Suho dan aku biasa pulang searah. Dia akan menemaniku berjalan hingga kedepan tempat kost ku, sebelum dia pulang ke rumahnya."

"Kost?" Yonghwa kembali mengerutkan keningnya.

"Ya. Aku menyewa sebuah kamar di lantai 2. Meski tidak terlalu besar, tapi lingkungannya nyaman, dan tempat kost ku juga bersih."

"Aku fikir kau tinggal dengan orang tuamu, Seohyun Ssi."

"Aniyo. Eommaku... meninggal saat aku kelas 2 SMA, dan sejak itu, aku tinggal sendiri di Seoul. Beruntung aku bertemu dengan Kang Sajangnim dan juga istrinya. Mereka memberiku pekerjaan disini dengan gaji yang lumayan. Sehingga aku bisa terus melanjutkan kuliahku juga." Yonghwa terpaku untuk beberapa saat. Tampak seperti dia sedang memikirkan sesuatu.

"Wow.... semakin aku mengenalmu, semakin banyak kejutan yang aku terima. You're just like a pandora, Seohyun Ssi. Dan... ayahmu?"

Tubuhku seketika berhenti dari semua gerakan yang aku lakukan begitu dia bertanya tentang ayahku.

"Barbie.... waktunya closing!" Suho menyelamatkanku kali ini.

"Aah... jinjja?? Arasso...."

Gomawo, Suho yah!! Karenamu aku tak perlu membuka lemabaran hitam itu lagi. Terutama dihadapan lelaki ini.

"Ooh... kalian akan segera tutup? Arasso, aku akan menghabiskan waffleku." Yonghwa mempercepat gerakannya. Saking larutnya kami dengan obrolan kosong tadi, Yonghwa sampai melupakan makanan pesannya.

"Ah... Seohyun Ssi, kali ini aku membawa mobilku. Boleh aku mengantarmu?" Okay, enough... Mr. CNBLUE! Enough with these shimmering feelings you've gave to me.

"Oh? Aniyo, kamsahamnida. Aku dan Suho akan naik bis saja. Gwaenchannayo." Jawabku. Berharap Tuhan berbaik hati dengan membantuku menyembunyikan kegugupanku ini.

"Jebbalyo, Seohyun Ssi. Setidaknya karena malam ini aku membawa mobilku. Hhm? Lagipula, akan lebih cepat dan lebih aman kan? Kau juga bisa mengajak temanmu."

*****

Dan akhirnya, aku sudah duduk didalam SUV putih milik Mr. CNBLUE yang kala itu sudah duduk dibelakang kemudi mobilnya, disampingku. Suho, dengan wajah cemberutnya duduk dikursi belakang setelah kupaksa dengan susah payah untuk pulang bersama kami. Tidak banyak kata yang terucap selama diperjalanan. Hingga Suho turun lebih dulu, dan Yonghwa meneruskan laju mobilnya menuju tempat kost-ku.

"Neomu kamsahamnida, Jung Yonghwa Ssi." Aku melepaskan seat beltku. Dengan polite, aku menganggukkan kepalaku dan bermaksud untuk turun.

"Ah.. majayo, Seohyun Ssi. Boleh aku meminjam ponselmu?" Aku tertegun sesaat. Tapi akhirnya aku mengeluarkan ponselku dan memberikannya.Yonghwa mengambilnya, lalu tak lama kemudian, aku mendengar love revolution berdering diponselnya.

"Done! I got your number, and we're friend now." Yonghwa mengembalikan ponselku dengan senyum sejuta makna nya. Dan aku, membeku dengan mulut menganga.

*****

Aku memasuki kamarku dan segera melempar tubuhku ke atas tempat tidur.

Bip... Bip... Bip...

Satu pesan masuk dilayar ponselku.

'Save my number, Dear friend... Good Night! ^^
Jung Yonghwa'

"Nice To Meet You"
GNa Feat. Wheesung

Hello, nice to meet you
You're prettier than I thought you would be
I heard a lot about you
I hear you've been looking for a good person lately

It's a pleasure, nice to meet you
You're more handsome than I thought you would be
I also heard about you
that you're lonely

I think this will be an okay fate
Do you feel what I feel too
I feel like you know me already
This thrilling joy
Let's meet tomorrow and the day after that
I want to get to know you more
I'm curious and excited
It looks like I'll come to like you

Tidak ada komentar:

Posting Komentar