In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 2
Greeting Mr. Blue
Suasana Kang's Crazy Crab malam
itu lebih sepi dari biasanya. Hanya 2 meja yang masih terisa padahal saat itu
jam dinding masih menunjukan pukul 9.25 malam. Aku gunakan waktu senggangku
untuk mengeringkan gelas-gelas bersih dari balik bar table tempatku berdiri.
"Hai, Barbie.... bisa kau
bantu aku menyiapkan 100 cup Ice Americano? Kita mendapat pesanan yang akan di
ambil beberapa menit lagi." Suho muncul dari balik pintu dapur dan
menyodorkan selembar kertas berisi daftar pesanan padaku.
"Jigeum do? Hhh...
Arasso...." Aku mengambilnya, lalu mulai menyiapkan segala yang harus aku
siapkan. 100 cup memang bukan jumlah yang banyak. Tapi bila aku hanya memiliki
waktu beberapa menit saja untuk menyiapkannya, maka aku harus mulai melakukannya
saat itu juga.
Kedua tanganku bergerak dengan
sigap mengikuti instruksi dari fikiranku. Meski begitu, mata dan telingaku
masih kufungsikan dengan penuh konsentrasi, sehingga bila saja ada pelanggan
baru yang datang, atau mereka yang sudah ada ingin memesan sesuatu yang lain
lagi, aku langsung bisa melayani mereka.
Suara genta angin dari arah pintu
berbunyi lagi. Itu merupakan pertanda seseorang tengah membuka pintu. Dan benar
saja, seorang pelanggan datang. Seorang pria, dengan tinggi badan rata-rata.
Tidak terlalu tinggi untuk ukuran laki-laki. Mungkin hanya sekitar 175-180cm.
Rambutnya coklat kemerahan dengan cutting yang simple, namun membuat wajahnya
tampak lebih fresh dan muda. Ditelinga kanan nya aku melihat sebuah tindikan
dengan material berwarna silver. Dan gitarnya. Aku rasa dia adalah seorang
musisi.
Pria itu duduk tepat dihadapanku.
Diantara banyak meja yang kosong malam itu, dia justru memilih mini bar table
ini, kemudian menyandarkan gitarnya pada kursi disamping kirinya. Lalu mata
kami saling bertemu dan....
Aku mengenalinya. Aku tahu siapa
lelaki ini. CNBLUE! Lelaki yang sama yang melihat kebodohanku minggu lalu.
Meski aku yakin tentang betapa sempurna nya dia, tapi aku harap, setidaknya
lelaki ini lemah dengan daya ingat nya.
"Hhmm... expresso double
shot, dan beberapa cemilan kecil." Pria itu masih menatapku dengan senyum
tipis disudut bibirnya. Aku mengeluarkan note book dari saku apronku, lalu
menuliskan pesanannya.
"Cemilan kecil.. kami punya
nachos, craby kimbab, crispy baby crab, waffle atau pancake." Sekali lagi
aku melihat kerutan yang sama dikeningnya. Aah.. jadi kerutan dikening itu terjadi saat pria
ini sedang berfikir.
"Satu waffle dan satu
kimbab. Karena aku memesan expresso, jadi... waffle untuk mengilangkan rasa
pahit di lidahku, dan kimbab untuk mencegah asam labungku naik karena aku
meneguk expresso dalam keadaan perut kosong." Aku tidak bisa menahan kedua
bola mataku untuk tidak terbelalak mendengar penjelasan pria itu barusan.
"Mwoeyo? Eei... mana boleh meminum
expresso saat perutmu kosong? Apa kau tidak tahu bagaimana sakitnya saat
lambungmu terluka? Dan asam lambung itu bukan penyakit sepele. Kau bisa masuk
rumah sakit karena penyakit itu." Aku tidak menyadari apa yang baru saja
aku katakan, hingga aku melihat ekspresi itu di wajahnya.
Lelaki itu menatapku sambil
menahan tawanya. Hingga beberapa saat kemudian dia menyerah dan meluapkannya.
Sesuatu terasa seperti menghantam kepalaku. Phabo!! Apa yang sudah aku lakukan?
Jinjja?? Aku baru saja mencereweti customer ku karena pesanannya? Haissh... Seo
Joohyun, jinjja phabo ah!!!
Aku menggigit bibir bagian
bawahku dan sekuatnya menyembunyikan malu. Lelaki itu masih tersenyum menatapku
dan semua itu membuatku semakin gugup.
"Seohyun? Benarkan... itu
namamu?" Aku tersentak mendengarnya. Seolah dia bisa membaca ekspresi
wajahku yang bertanya-tanya 'darimana kau
tahu namaku', telunjuknya kemudian menunjuk ke arah name tag di dada
kiriku. Ah... maja!! Phabo... Phabo... Phabo!! Tentu saja dia membacanya!!!
"Aah... joseohapnida, aku
tidak bermaksud untuk...."
"Gwaenchannayo! Its so
refreshing anyway... saat aku mendengar seseorang mencerewetiku tentang
makananku. Aku lupa, kapan terakhir kalinya aku mendengarkan kalimat seperti itu.
Gomawoyo, Seohyun Ssi." Sekali lagi pria itu tersenyum. Kali ini lebih
lebar hingga aku bisa melihat tekstur giginya yang... unik. Ya, his charm, i
guess.
"Ah.. nde.. jinjja
joseohapnida. Aku hanya teringat pengalaman pribadiku saat aku masuk rumah sakit
dulu. Penyebab nya hanya hal sepele. Aku melewatkan waktu makanku dan saat
cuaca panas, aku meneguk Ice Americano di restoran ini. And well...
keesokannya, aku terbaring di rumah sakit. Dan aku tidak bercanda tentang rasa
sakit itu. Jinjja.... aku bersumpah bahwa aku tak ingin lagi
merasakannya."
Sekali lagi, aku tidak menyadari
apa yang sudah aku lakukan dan aku ucapkan hingga aku menyadari bahwa pria ini
menatapku semakin dalam dengan senyum dan matanya yang berbinar. Tangan
kanannya menopang dagunya dan dia tampak sangat menikmati ocehanku.
Omo.. ocehanku? Aku tidak percaya
bahwa aku baru saja mengoceh di depan customerku yang bahkan baru pertama
kalinya aku melihatnya datang ke KCC. Aishhh... sejak kapan mulutku ini menjadi
seperti senjata mesin yang bisa mengeluarkan rentetan kata tidak berguna
seperti itu?
Aku memukul-mukul mulutku karena
kebodohannya. Dan pria itu malah kembali meledakkan tawanya. Hhh... apakah
dimatanya aku terlihat lucu? Sesange... apa yang telah kulakukan?
"Aigoo.. joseohapnida...
jeongmal josehapnida! Aku akan segera membuat pesananmu, gidaryo juseo..."
Dengan sigap aku memutar tubuhku dan bermaksud untuk menyerahkan pesanannya
pada Suho.
"Seohyun Ssi...!"
Suaranya menghentikan langkahku. Aku memutar tubuhku kembali dan menghampirinya
lagi.
"Nde..."
"Aku batalkan expresso ku.
Aaah... kau membuatku takut, Seohyun Ssi. Andwe, aku juga tidak ingin merasakan
rasa sakit seperti yang kau ceritakan tadi. Just give me a cup of tea. Aku
membutuhkan sesuatu yang bisa memberi efek relaksasi untuk tubuhku." Aku
melihat pria itu meregangkan otot-otot tangannya. Ya, dia memang terlihat lelah
seperti belum beristirahat untuk beberapa waktu.
"Nde, algaeseupnida."
Kali ini aku benar-benar berlalu dan meninggalkannya.
Suho menyediakan pesanan pria
itu. Dan aku masih disibukan dengan pesanan Ice Americano yang akan segera di
ambil pemesannya. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Tapi aku merasa,
gerakanku seperti sedang diikuti oleh sepasang mata dari balik bar table. Aku
tidak berani menatapnya kembali, karena sebelumnya, aku melihat kearahnya dan
dia sedang melihatku dengan senyuman yang tak bisa aku mengerti artinya.
Suara genta angin berbunyi lagi.
Mungkin orang yang akan mengambil pesanan Ice Americano ini. Dan benar saja,
Suho menyapanya, sambil menyerahkan beberapa box makanan yang juga merupakan
pesanan orang itu.
"Barbie... Ice Americano nya
siap?" Haissh... sudah kukatakan jangan memanggilku seperti itu ditempat
kerja!! Phabo Suho ah!! Saat di kampus, dia sudah cukup membuatku mendapatkan
masalah karena fangirls nya kerap menghadangku dan memintaku untuk menjauh
darinya. Dan ditempat kerja pun anak bodoh ini selalu mencoba untuk
menyulitkanku juga.
"Siap, Chef! Ini... "
Aku menyerahkan satu persatu box yang berisi minuman yang sudah aku tata.
"Joohyun ah!!!" Mataku
seketika beralih pada seseorang yang memanggilku dengan nama asliku.
"Neol jinja Seo
Joohyun?!" Sekali lagi lekaki itu bertanya. Aku terbelalak saat melihat
Jung Jinwoon sedang berdiri sambil memegang pesanan-pesanan itu. Ternyata dia
yang memesan semua ini?
"Jinwooooniiiii.....!!!!"
Seperti gadis yang baru saja bertemu eomma nya aku melompat kegirangan dan
berlari kearah Jinwoon. Jinwoon menarik tubuhku kedalam pelukannya dan
mendekapku erat. Aku tahu, Suho dan Mr. CNBLUE itu sedang melihat kami dengan
tatapan heran penuh tanya.
"Ya Tuhan, Jinwoon ah... kau
kemana saja? Aku membaca artikelmu bahwa kau akan debut sebegai pemeran utama
dalam sebuah drama. Chukkhae, Woonie!! Aku bahagia untukmu!" Dengan tulus
aku menggenggam tangannya. Jinwoon pun tampak sangat bahagia dan
penampilannya... wow... he really was a halyu star.
"Maja, Joohyun ah. Saat ini
aku sedang melakukan shooting untuk drama itu. Dan pesanan ini, semua ini akan
aku bagikan pada kru dan rekan-rekan ku disana. Ini hanya gratitude kecil yang
bisa aku lakukan sebagai newbie." Aku menatap Jinwoon dengan tatapan
takjub dan juga bangga, karena teman masa kecilku bisa menjadi orang yang
sukses saat ini.
"Aku senang, karena kau
akhirnya bisa meraih mimpimu, Jinwoon ah! Jinjja... naega neomu
haengbokhaeso!"
"Gomawo, Joohyun ah. Neo do!
Aku yakin, suatu hari kau pun bisa meraih mimpimu. Bila kau membutuhkanku,
jangan sungkan untuk datang dan memintaku, okay?!" Jinwoon mencubit
hidungku. Entahlah, kenapa rasanya aku sangat peduli pada reaksi yang
diperlihatkan Mr. CNBLUE itu terhadap berbincanganku dengan Jinwoon. Lelaki itu
meneguk teh nya perlahan, tapi aku tahu, telinganya sedang mendengarkan kami.
Tentu saja... jarak antara kami tidak lebih dari satu meter saja.
"Gomawo, Woonie ah! Yah,
kita lihat saja... apakah halyu star sepertimu masih mau berteman dengan
pelayan restoran sepertiku. Kau dengan Calvin Klein mu dan aku dengan apron
ini... aku tidak percaya bahwa kita dulu adalah anak-anak yang pernah di
kejar-kejar Ilwook Haraboji karena telah mencuri jeruk dikebunnya."
Perkataanku itu adalah ungkapan yang jujur. Bahwa CK ditubuhnya, tidak akan
pernah sepadan dengan apron ditubuhku.
"Eiii... wae geurae?? Kemana
perginya Joohyun-ku yang penuh semangat kompetisi? Aku tahu, bahwa suatu hari
kau juga akan menjelma menjadi seorang penulis yang hebat. Aku yakin itu,
karena kau tidak pernah gagal membuatku tersentuh dengan tulisan-tulisanmu.
You're a hiden black pearl, Joohyun ah. Aku yakin, suatu saat orang akan
menemukanmu dan menyadari tentang betapa hebatnya dirimu." Dan lagi-lagi,
aku malah penasaran dengan ekspresi wajah Mr. CNBLUE. Kali ini, aku melihatnya
tersenyum sendiri sambil memandangi cangkir teh ditangannya.
"Gomawo, Woonie! Aku pun
akan selalu berdoa untukmu, agar kau semakin sukses dengan mimpimu ini."
"Geuroom! Neo do!! Okay, aku
janji, lain kali aku akan datang lagi special untuk mengganggumu. Tapi kali
ini, aku harus kembali ke lokasi shootingku karena mereka pasti sudah
menunggu."
"Geurae? Arrasso!!
Jinwoonie, Fighting!!"
"Seo Joohyun,
Fighting!!" Jinwoon pun berlalu dengan membawa bungkus pesanannya dibantu
oleh asisten nya.
"Seo Barbie,
Fighting!!" Aku menoleh kearah Suho yang sedang nyinyir meledekku dengan
meniru kata-kataku tadi sebelum akhirnya diapun hilang dibalik pintu. Anak
kecil itu! Sekalipun aku tidak pernah melihatnya bersikap manusiawi dihadapan
teman lelakiku. Bila nanti aku berakhir menjadi seorang wanita tua yang
kesepian, maka orang yang akan aku mintai pertanggung jawabannya adalah dia.
Dan aku kembali padanya. Ani. Aku
kembali ketempatku biasa berdiri di balik mini bar table. Dihadapannya. Sebuah
senyuman masih tersemat di wajah itu, dan aku tidak bisa menghiraukan rasa
penasaranku tentang arti senyuman itu.
"Aku baru tahu, bahwa
vocalis CNBLUE adalah pria yang murah senyum." Akhirnya, aku mengatakannya
dengan sedikit sarkastik. Pria itu tampak kaget saat kusebut nama CNBLUE.
"Wow... kau tahu
CNBLUE?" Matanya sedikit terbelalak disela senyumnya. Aku tahu arti senyum
yang satu ini. Dia pasti tidak menyangka ada orang yang mengenalinya sebagai
seorang musisi padahal CNBLUE hanya sebuah band indie.
"Yeah... aku tahu Lets Go
Crazy, Love Revolution, I'm a Loner, Coffee Shop dan beberapa lagumu yang lain.
Aku bahkan membeli album indie kalian dan mendownload mp3 kalian di i-tunes
resmi. Beberapa kali, saat aku memiliki waktu luang, aku juga datang ke konser
indie kalian. Aku mendengarkan musik kalian disetiap pagiku, dan gomawoyo...
you guys always made my days!" Aku memberikan senyum tulusku. Aku berkata
jujur untuk ungkapan itu karena aku benar-benar suka dengan musik mereka.
Aku bisa melihat, mata pria itu semakin
berbinar mendengar ucapanku.
"Jung Yonghwa." Pria
itu menyodorkan tangan kanannya. Dia memintaku menjabatnya?
"Namaku Jung Yonghwa."
Sekali lagi dia mengucapkan namanya dan memberi isyarat lebih jelas untukku
menjabat tangannya. Dan beberapa saat kemudian, aku pun menjabatnya. Jung
Yonghwa semakin tersenyum lebar. Haissh... cukup rasanya malam itu untukku
melihat senyumnya. Aku tidak tahu, apa yang akan terjadi padaku bila aku harus
melihat senyuman itu lebih banyak lagi.
"So... Seohyun, Barbie,
Joohyun.... yang mana aku harus memanggilmu?" Aku terpaku sesaat mendengar
pertanyaan itu. Dan beberapa saat kemudian, Yonghwa terkekeh menikmati betapa
bodohnya ekspresi yang aku tampakkan di wajahku.
"Chogieyo... Jung Yonghwa
Ssi... kenapa dari tadi kau menertawakan aku terus?" Tawanya terhenti saat
melihatku mulai mengerutkan bibirku.
"A.. aniyo, Seohyun Ssi.
Geunyang.. neol jinjja kyeopta. You're so cute and.... pure!"
Sempurna!! Ketika aku sudah
menyerah dengan senyumannya, dan kini dia menyebutku cute? Dan apa tadi? Pure?
Aigoo... nae eolgul...! Aku harap pipiku tidak berubah menjadi udang rebus saat
itu.
"Mianhaeyo, untuk pertemuan
pertama kita, aku mungkin terlalu frontal. Tapi aku berkata jujur, Seohyun Ssi.
Kau benar-benar cute. Terlebih karena kau mengenalku dan CNBLUE. Kau tidak tahu
betapa bahagianya aku bertemu gadis se-imut dirimu dan kau pun sangat menyukai
karya kami. Neomu gomawoyo, Seohyun Ssi." Okay, aku rasa sebentar lagi aku
akan mati dengan segala perasaan aneh dalam diriku karena lelaki ini.
"So... What do you think
about our music?" Bila kuhitung-hitung, lelaki ini suka sekali berbahasa
Inggris sejak tadi.
"Hal pertama yang bisa aku
rasakan tentang musik kalian adalah.... Jujur. Aku merasa musik kalian adalah
musik yang jujur yang datang dari hati dan semangat kalian tentang bermusik.
Kau tahu kan... ditengah maraknya kamuflase yang terjadi di industri musik
negara kita ini, disaat banyak orang lebih memilih untuk bergabung dengan
boyband dan lebih menyuguhkan tampilan visual mereka dibandingkan dengan
kualitas vocal atau musik mereka, aku merasa... musik kalian adalah sesuatu
yang membayar kerinduanku terhadap esensi sebuah musik.
Apa yang aku harapkan dari
mendengar lagu seseorang, aku mendapatkannya saat aku mendengar musik kalian.
Aku bahagia, karena ternyata di negara kita ini, masih ada sekelompok orang
yang menjunjung tinggi idealisme, kejujuran dan originalitas dalam membuat
sebuah karya. Sejujurnya, aku nyaris putus asa, karena aku fikir, semua orang
saat ini rela menggadaikan mimpi mereka demi uang, popularitas, dan segala bentuk kemewahan yang
lain."
Kudapati senyum diwajahnya mulai
pudar kini. Tatapan itu berubah menjadi lebih dalam, intimate, namun aku tidak
mengerti maknanya. Sesaat aku merasa, bahwa aku sudah mengatakan hal yang salah
dan berlebihan yang mungkin mengganggu fikirannya. Tapi...
"Seo Joohyun... who are
you?" Bening matanya terasa seperti menyelam lebih dalam kedalam relung
hatiku. Aku nyaris merasa ditelanjangi dengan tatapan itu.
"Nde?" Aku tahu, aku
melakukan yang terbaik untuk menutupi kegugupanku.
"Aniyo... maksudku...
Seohyun Ssi... aku hanya merasa seperti aku sudah mengenalmu sejak lama.
Mendengar caramu menilai musikku, musik kami... semua itu terasa seperti aku
sudah mengungkapkan semua isi hati dan fikiranku padamu sebelumnya hingga kau
bisa memahaminya dengan perspektif itu." Tidak seperti sebelumnya, kali
ini tatapan matanya mempertegas kata yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Ah.. hh.. geunyang... aku
hanya...." Sesaat akupun kehilangan cara untuk bisa menjelaskan maksudku.
"Jung Yonghwa Ssi, kau tahu?
Aku adalah seorang pemimpi. Dan aku bisa bertahan hidup semata karena aku
memiliki mimpi-mimpi itu. Aku ingin menjadi penulis. Aku berharap, dengan
tulisanku aku bisa merubah dunia. Aniyo... mungkin semua itu terlalu besar
untukku. Aku hanya ingin setidaknya menyebarkan kebaikan lewat tulisanku.
Berharap aku bisa mengajak setiap orang yang membacanya untuk bisa melihat
dunia dari sudut yang berbeda. Aku ingin berbagi mimpiku lewat
tulisan-tulisanku.
Untukku, baik itu musik, ataupun
buku, semua itu karya yang lahir dari mimpi kita. Aku tidak sedang berhiprokrit
dengan mengatakan bahwa aku tidak mengharapkan apa-apa dari mimpiku ini. Hanya
saja, aku tidak akan pernah menjual mimpiku ini hanya demi uang. Aku tidak akan
membuat karya hanya karena tuntutan seseorang ataupun permintaan pasar.
Tsk... mungkin terdengar menggelikan
saat kau mendengar orang miskin sepertiku mengoceh tentang idealisme. Tapi
setidaknya, hanya itulah satu-satunya kebanggaan yang aku miliki saat
ini."
Aku tertawa kecil menertawakan
diriku sendiri. Tanganku kembali mengerjakan hal random di balik mini bar table
itu, demi untuk meredam suasana yang mulai terasa aneh. Aku menundukan
pandanganku, tapi aku tahu bahwa lelaki di hadapanku masih menatapku lekat.
"Kau tinggal dimana?"
Yonghwa bertanya dan tatapanku kembali kearahnya.
"Sangdo-Dong." Jawabku
singkat.
"Hhhmm... cukup jauh dari
sini, ya? Dan kau bekerja hingga pukul berapa?" Dia kembali bertanya.
"Restoran ini tutup pukul 11
malam. Kecuali untuk week-end kami akan tetap melayani hingga pukul 1
pagi."
"Are you okay with that? I
mean... untuk seorang gadis sepertimu, bukankah Seoul dimalam hari tidak
terlalu aman? Kau harus setidaknya melewatkan dua terminal untuk sampai ke
Sangdo-Dong." Kali ini Yonghwa menatapku dengan kekhawatirannya.
"Gwanechannayo. Suho dan aku
biasa pulang searah. Dia akan menemaniku berjalan hingga kedepan tempat kost
ku, sebelum dia pulang ke rumahnya."
"Kost?" Yonghwa kembali
mengerutkan keningnya.
"Ya. Aku menyewa sebuah
kamar di lantai 2. Meski tidak terlalu besar, tapi lingkungannya nyaman, dan
tempat kost ku juga bersih."
"Aku fikir kau tinggal
dengan orang tuamu, Seohyun Ssi."
"Aniyo. Eommaku... meninggal
saat aku kelas 2 SMA, dan sejak itu, aku tinggal sendiri di Seoul. Beruntung
aku bertemu dengan Kang Sajangnim dan juga istrinya. Mereka memberiku pekerjaan
disini dengan gaji yang lumayan. Sehingga aku bisa terus melanjutkan kuliahku
juga." Yonghwa terpaku untuk beberapa saat. Tampak seperti dia sedang
memikirkan sesuatu.
"Wow.... semakin aku
mengenalmu, semakin banyak kejutan yang aku terima. You're just like a pandora,
Seohyun Ssi. Dan... ayahmu?"
Tubuhku seketika berhenti dari
semua gerakan yang aku lakukan begitu dia bertanya tentang ayahku.
"Barbie.... waktunya
closing!" Suho menyelamatkanku kali ini.
"Aah... jinjja??
Arasso...."
Gomawo, Suho yah!! Karenamu aku
tak perlu membuka lemabaran hitam itu lagi. Terutama dihadapan lelaki ini.
"Ooh... kalian akan segera
tutup? Arasso, aku akan menghabiskan waffleku." Yonghwa mempercepat
gerakannya. Saking larutnya kami dengan obrolan kosong tadi, Yonghwa sampai
melupakan makanan pesannya.
"Ah... Seohyun Ssi, kali ini
aku membawa mobilku. Boleh aku mengantarmu?" Okay, enough... Mr. CNBLUE!
Enough with these shimmering feelings you've gave to me.
"Oh? Aniyo, kamsahamnida.
Aku dan Suho akan naik bis saja. Gwaenchannayo." Jawabku. Berharap Tuhan
berbaik hati dengan membantuku menyembunyikan kegugupanku ini.
"Jebbalyo, Seohyun Ssi.
Setidaknya karena malam ini aku membawa mobilku. Hhm? Lagipula, akan lebih
cepat dan lebih aman kan? Kau juga bisa mengajak temanmu."
*****
Dan akhirnya, aku sudah duduk
didalam SUV putih milik Mr. CNBLUE yang kala itu sudah duduk dibelakang kemudi
mobilnya, disampingku. Suho, dengan wajah cemberutnya duduk dikursi belakang
setelah kupaksa dengan susah payah untuk pulang bersama kami. Tidak banyak kata
yang terucap selama diperjalanan. Hingga Suho turun lebih dulu, dan Yonghwa
meneruskan laju mobilnya menuju tempat kost-ku.
"Neomu kamsahamnida, Jung
Yonghwa Ssi." Aku melepaskan seat beltku. Dengan polite, aku menganggukkan
kepalaku dan bermaksud untuk turun.
"Ah.. majayo, Seohyun Ssi.
Boleh aku meminjam ponselmu?" Aku tertegun sesaat. Tapi akhirnya aku
mengeluarkan ponselku dan memberikannya.Yonghwa mengambilnya, lalu tak lama
kemudian, aku mendengar love revolution berdering diponselnya.
"Done! I got your number,
and we're friend now." Yonghwa mengembalikan ponselku dengan senyum sejuta
makna nya. Dan aku, membeku dengan mulut menganga.
*****
Aku memasuki kamarku dan segera
melempar tubuhku ke atas tempat tidur.
Bip... Bip... Bip...
Satu pesan masuk dilayar
ponselku.
'Save my number, Dear friend... Good Night! ^^
Jung Yonghwa'
"Nice
To Meet You"
GNa
Feat. Wheesung
Hello,
nice to meet you
You're
prettier than I thought you would be
I
heard a lot about you
I
hear you've been looking for a good person lately
It's
a pleasure, nice to meet you
You're
more handsome than I thought you would be
I
also heard about you
that
you're lonely
I
think this will be an okay fate
Do
you feel what I feel too
I
feel like you know me already
This
thrilling joy
Let's
meet tomorrow and the day after that
I
want to get to know you more
I'm
curious and excited
It
looks like I'll come to like you

Tidak ada komentar:
Posting Komentar