In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 3
Closer
Ada satu waktu, saat aku membenci
diriku sendiri. Aku benci Seoul dan orang-orang yang ada didalamnya. Aku bahkan
benci suara gonggongan anjing Ny. Kim yang biasanya aku baik-baik saja dengan
semua itu.
Aku mengalaminya lagi sekarang.
Saat inspirasiku mengabur, dan aku kehilangan semua kata untuk kutulis dalam
laptopku.
Saat ini, pukul 10.15 pagi. Aku
masih mengunci tubuhku dalam kamar kost kecil. Gorden ruang tengah aku biarkan
tertutup meski sinar matahari menerawang disana seolah memaksa masuk kedalam
ruangan ini, betapapun aku tidak menginginkannya.
Aku benci diriku. Saat mimpiku
menjadi penulis masih menjadi tujuan utama hidupku, tapi aku malah kehabisan
ide dan inspirasi untuk kutulis. Rasanya seperti berdiri diujung jalan dengan
tembok tinggi menjulang. Tembok itu yang memaksaku untuk memisahkan antara mimpiku
dan realitas yang harus kuhadapi kini.
Aku tahu. Tapi aku masih ingin
menulis!
Bip... Bip... Bip...
From : Mr. Blue
'Apa yang akan kau lakukan, bila dalam kepalamu dipenuhi dengan chords
dan melodi, tapi tanganmu tidak mampu menjadikannya sebuah lagu?'
Untuk sesaat, aku mengerutkan
keningku dengan senyum tipis melengkung di sudut bibirku. Sejujurnya,
pertanyaan serupa ingin aku tanyakan padanya.
To : Mr. Blue
'Terus saja pegang gitarmu.
Karena kau tidak akan pernah tahu, kapan tanganmu akan mulai bekerja sama
dengan fikiranmu.'
Aku bangkit dari dudukku lalu
berjalan kearah jendela. Akhirnya, aku putuskan untuk membiarkan mentari masuk
dan bertamu di rumahku. Aku juga membuka jendelanya, agar angin dan udara pagi
menjelang siang ini sedikitnya mampu men-suply oksigen kedalam otakku. Who
knows... inspirasiku kembali saat itu?
Bip... Bip... Bip...
From : Mr. Blue
'Apa yang sedang kau lakukan saat ini?'
Aku tidak langsung membalasnya,
melainkan aku berjalan menuju dapurku bermaksud untuk membuat ramyeon.
Bip... Bip... Bip....
From : Mr. Blue
'Hhm.. kau pasti sibuk, Seo Chingu!'
Tsk...! Seo Chingu? Apalah itu!!
Tapi itu berhasil membuatku tersenyum lebih lebar.
To : Mr. Blue
'Aku sedang sibuk mendidik diriku
untuk bisa lebih kuat dalam menerima kenyataan. Kkkk ~ Kau pasti berfikir bahwa
aku mulai aneh dan mengerikan. :P'
From : Mr. Blue
'I already have. Bahkan sejak pertama kali aku melihatmu.'
To : Mr. Blue
'Jinjayo? Lalu kenapa kau mau
mengantar orang aneh ini pulang dengan mobilmu?'
From : Mr. Blue
'Karena itu adalah untuk kedua kalinya aku bertemu denganmu. Dan untuk
yang kedua itu, aku fikir... kau cukup lumayan.'
"Mwo? Lumayan?!!!!"
Spontan, aku meneriakan
pertanyaan itu. Tapi.... malam itu adalah yang kedua kalinya dia bilang? Lalu
yang pertama....
"ANDWEEEE!!!!!!!"
Tanpa kusadari, aku berteriak
lebih kencang. Dia mengingatnya!!! Dia mengingat kejadian bodoh itu!!!
Bip... Bip... Bip...
From : Mr. Blue
'Nae Chingu ah, ajari aku juga cara untuk bisa menerima kenyataan. Aku
janji, aku akan membayar untuk pendidikan itu dengan harga yang fantastis.'
Aigoo.... Jung Yonghwa,
sebenarnya dia itu lelaki macam apa sih?
To : Mr. Blue
'Tell me the price!'
From : Mr. Blue
'Big Portion of Dongjangjigae?'
Sekali lagi aku tersenyum
membacanya.
To : Mr. Blue
'Sepertinya menggiurkan...^^ '
From : Mr. Blue
'I'll be there in 15 minutes. Get ready, Barbie! (Aku pinjam istilah temanmu
sampai aku menemukan panggilan yang pas untukmu. ;) )
Lagi-lagi aku tersenyum seperti
orang gila. Dia bilang dia akan...
"Oooo MayGaaaad.... dia
bilang dia akan kesini? 15 menit lagi???!!! Ya Tuhan... phabo ah!!!"
Kukerahkan seluruh upayaku untuk
membersihkan ruang tamuku dari sampah tisu, kaleng minuman, kotak makanan dan
piring-piring kotor. Tubuhku seolah dipasangkan speed booster hingga aku mampu
menyelesaikan semuanya dalam waktu 10 menit. Tanpa sempat mengepel lantai
tentunya. Tapi setidaknya sekarang rumah ini lebih mirip seperti rumah tinggal
untuk manusia dan bukan kandang sapi. 5 menit tersisa aku gunakan untuk mandi
dan berpakaian. Aigoo... 5 menit untuk seorang gadis??? Shut up!! Aku bahkan tidak berani mengatakan bahwa aku ini seorang
gadis.
As always, casual vintage jeans
dengan beberapa sobekan di bagian pahanya, T-shirt berwarna baby pink dengan
logo superman di bagian depannya, dan kali ini, aku mengikat rambutku dengan
ikatan ekor kuda. Ah... cardiganku. Dan purse kecil berwana pink tak lupa aku
bawa.
Sesaat, aku berdiri didepan meja
riasku. Sedikit ragu, aku mengoleskan lipstick berwarna peach dibibirku.
Bip... Bip... Bip....
From : Mr. Blue
'Kita hanya akan makan Dongjangjigae, Chingu ah! Kau tidak perlu
berdandan secantik itu.'
Bukan main terkejutnya aku
menerima pesan itu. Spontan, aku menoleh ke semua sisi ruang kamarku karena
kekhawatiran yang tidak masuk akal. Phabo!!! Mana mungkin dia melihatnya...
karena aku sedang berada di lantai 2, dikamarku dengan pintu tertutup. He got
me, jashik ah!!
To : Mr. Blue
'Kau dimana?'
From : Mr. Blue
'Hanya perlu menuruni 17 buah anak tangga, ditambah 8 langkah kedepan,
maka kau akan bertemu denganku. ;) '
Haish.... lelaki ini...
benar-benar!!! Aku berjalan menuju pintu dan bersiap untuk meninggalkan
rumahku. Dan benar saja, dari atas, aku bisa melihatnya. Mr. CNBLUE tersenyum
melihatku dari depan pagar rumah Ny. Kim.
"Hai...." Aku
menyapanya. Senyumnya semakin lebar saat dia membukakan pintu pagar untukku.
"Anyeong, Chingu ah! Ready
for some adventure?" Tiba-tiba dia menyodorkan sebuah helmet padaku.
"Mwoeyo?" Aku
menatapnya penuh tanya. Lalu dia menunjuk sebuah motor sport berwarna merah
yang diparkirkan beberapa meter dari pagar rumah Ny. Kim.
"We're gonna ride Mr. Red...."
Katanya, penuh semangat.
"Ride what? Mr. Red?"
Dia menggangguk dengan teeth smile nya.
"Mr. Blue and.... Mr.
Red?" Aku menyerah dengan segala kebodohanku karena membiarkan tanganku yang
tanpa sadar menunjuk dirinya, lalu motornya. Dan mulutku... ya ampun....
"Mwo? Mr. Blue? Siapa Mr.
Blue?" Yonghwa tampak sedikit bingung dengan celotehanku. Hingga akhirnya
dia mengerti maksud kebodohanku tadi.
"Ah... Mr. Blue?" Dia
menunjukan telunjuk nya tepat kehidungnya sendiri. Aku hanya diam saja menahan
malu.
"Aku bukan Mr. Blue, Joohyun
ah. Aku adalah Mr. Gold. Dan dia... adalah Mr. Red. Mr. Blue... nama itu sudah
ada pemiliknya. Dan.... ck... lupakan! Kau pasti tidak mengerti, bukan?"
Sejujurnya, Iya!!! Aku fikir,
Yonghwa yang tidak akan mengerti maksudku, tapi pada akhirnya, aku yang justru
tidak mengerti semua yang dia katakan.
"Sini, kupakaikan!" Dia
mengambil lagi helmet dari tanganku, lalu memasangkannya dikepalaku. Tak lupa,
dia mengunci pengaitnya.
"Ready?? Kajaaa....!"
Yonghwa meraih tanganku lalu mengajakku menaiki motornya. Dan... aku sudah
berada diatasnya. Dengan kedua tanganku yang Yonghwa lingkarkan dipinggangnya
dan dadaku yang....
Kau benar-benar sudah gila, Seo Joohyun!!!!
Setelah berkendara kurang lebih
satu jam, akhirnya, Yonghwa menghentikan motornya di sebuah restoran di pinggir
pantai. Bila aku harus jujur, aku benar-benar ketakutan selama berada diatas
motornya tadi. Tapi restoran pinggir pantai ini... harus ku akui bahwa tempat
ini luar biasa. Dan angin pantai di musim panas, hhhhmm.... sudah lama aku
tidak memanjakan diriku dengan berlibur atau sekedar mengunjungi tempat seperti
ini.
"Otthae? Keren, kan?"
Yonghwa dengan bangga bertanya.
"Ooh! Jinjja
areumdawoyo!" Aku melihat deburan ombak menyapu karang di pinggiran
restoran itu. Dan semua itu benar-benar menakjubkan hingga kata saja tidak akan
cukup untuk melukiskan keindahannya.
"Kajja!! Dongjangjigae
disini luarrrr biasa. Kau juga bisa menikmati aneka sea food yang benar-benar
fresh disini.
Yonghwa mengajakku masuk. Design
interior di dalamnya pun sungguh memukau. Aku berani bertaruh, bahwa Yonghwa
akan menguras isi dompetnya untuk 2 porsi dongjangjigae saja.
"Here. Kita duduk
disini." Yonghwa mengajakku ke balcon belakang restoran itu. Ada beberapa
set kursi dengan meja ber-canopy. Seorang waitress datang menyapa kami dengan
ramah dan menyodorkan daftar menu.
"2 porsi besar
Dongjangjigae, satu coca cola, dan kau mau minum apa, Barbie?" Waitress
itu tampak menahan senyumnya saat Yonghwa memanggilku Barbie. Aishh... aku
sudah cukup dengan Suho dan kini Mr. Blue juga membuatku malu. Mungkin waitress
ini akan berfikir tentang dari mana asal muasal nama Barbie itu berawal. Karena
penampilanku sama sekali tidak mirip Barbie.
"Sama saja
denganmu..!"Jawabku singkat. Waitress itu mencatatnya lalu pergi
meninggalkan kami.
"Yoo... igae nugunji?"
Sebuah suara datang dibelakangku. Yonghwa terperangah lalu tersenyum hangat.
"Ahjussi...
Oraemanieyo...." Yonghwa berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati
lelaki paruh baya itu. Lelaki tua itu dengan serta merta menjabat tangannya dan
memberinya sebuah pelukan.
"Aigoo... Yonghwa ah!! Aku
fikir kau sudah melupakanku."
"Aniyo, Ajussi. Mana mungkin
aku melupakanmu. Aku hanya sedang sibuk dengan band-ku. Yaah... keliling Korea
dan beberapa negara di Asia. Ajussi tampak sehat dan muda. Aku senang
melihatnya."
"Yaa... apalagi yang bisa
kakek tua ini lakukan selain menikmati sisa usiaku yang aku tidak tahu seberapa
banyak lagi. Ngomong-ngomong, kau datang dengan siapa?"
"Aah... majayo, aku sampai
lupa. Joohyun ah, kemarilah. Kenalkan, ini Moonsae Ajussi. Aku mengenalnya
sejak aku kecil karena orang tuaku sering mengajakku makan di restorannya. Dan
Ajussi... ini Seo Joohyun."
"Anyeong Haseo,
Ajussi." Aku membungkukan tubuhku.
Moonsae Ajussi menyodorkan
tangannya, lalu menggenggam tanganku digenggamannya.
"Aigoo, neomu yeppoda. Kau
sungguh beruntung, Yonghwa ah. Agassi ini cantik sekali seperti ibumu. Aku
yakin, ibumu akan sangat senang mempunyai menantu secantik ini."
Aku tersedak tiba-tiba, hingga
terbatuk-batuk untuk beberapa waktu. Yonghwa membantuku dengan menepuk-nepuk
punggungku hingga batukku reda. He was kidding me! Menantu katanya??? Menantu
apa???
"Joohyun ini temanku,
Ajussi. Dia seorang penulis dan dia juga penikmat musikku. Joohyun punya selera
yang tinggi dalam menilai musik." Moonsae Ajussi akhirnya menganggukkan
kepalanya.
"Aah.. geurokuna! Ya.. ya...
ya...! Setiap hubungan pasti akan diawali dengan sebuah persahabatan dulu. Biar
semua berkembang dengan sendirinya seiring waktu." Tambahnya.
"A.. Aniyo, Ajussi.
Kami..." Bibirku terasa kelu, hingga Yonghwa menghentikannya.
"Arassoyo, Ajussi. Tapi hari
ini... aku hanya ingin membuatnya merasakan betapa lezatnya Dongjangjigae
buatanmu. Karenanya, aku mengajaknya jauh-jauh datang kemari." Mungkin
Yonghwa tidak menyadarinya. Tapi tangannya sedang merangkul pundakku kala itu.
"Ara!! Kalau bukan karena
gadis ini, mana mungkin kau sudi datang jauh-jauh hanya untuk menemui lelaki
tua sepertiku." Moonsae Ajussi menampakkan wajah kecewanya yang aku tahu,
semua itu hanya pura-pura untuk membuat Yonghwa merasa bersalah.
"Eii... semakin tua Ajussi
semakin sensitif saja. Aku mengajaknya kesini karena tempat ini sangat istimewa
untukku. Terlebih karena Ajussi pemiliknya."
"Arasso... Arasso! Ya sudah,
kalian nikmati saja makanannya yah. Nanti aku buatkan juga ikan bakar menu khas
restoran ini." Dengan begitu, Moonsae Ajussi pun berlalu. Dongjangjigae
pesanan kami pun tiba. Hhmm... dari aroma nya saja, aku sudah bisa menebak akan
seperti apa rasanya.
"Joohyun ah...
kupersembahkan dongjangjigae paling lezat didunia." Yonghwa berhasil
membuat senyumku merekah lebih lebar. Dan tampaknya, semua itu membuatnya
senang. Begitupun aku. Mendengarnya menyebut namaku, Joohyun... Joohyun ah...
entahlah... aku bahagia mendengar nama itu mengalun dari bibirnya.
Dia tidak berbohong tentang
Dongjangjigae ini, karena benar saja... rasanya luar biasa. Bahan-bahannya,
bumbunya, kaldunya, semua terasa pas dan membuatku tidak bisa berhenti makan
meski perutku sudah terasa kenyang.
"Jung Yonghwa Ssi, gomawoyo.
Jinjayo, makanan ini benar-benar lezat. Perutku rasanya seperti akan meledak,
tapi mulutku tidak bisa menghentikannya." Yonghwa tertawa kecil mendengar
ucapanku. Dia benar-benar tampak sangat senang dengan reaksiku.
"Benarkan, kataku? Sekali
kau datang kesini, maka kau akan datang lagi suatu saat nanti. Dongjangjigae
ini sudah di mantrai seperti itu, kau tahu?" Giliranku yang tertawa kecil
mendengar candaan kecilnya.
"Majayo. Geuronika, neomu
gomawoyo, Yonghwa Ssi."
"Yonghwa." Katanya.
"Cukup Yonghwa saja. Dan
hilangkan ornamen lainnya."
"A.. aniyo. Aku... aku tidak
terbiasa dengan itu. Terlebih, kau pasti lebih tua dariku." Yup. Meninggalkan Banmal bukanlah hal mudah
untukku, apalagi pada orang yang baru saja aku kenal.
"Jinja? Okay... tahun berapa
kau lahir?" Yonghwa menggeser kursi nya lebih dekat denganku.
"Aku? Line 91. Dan Yonghwa
Ssi?"
"Sama. Kita di usia yang
sama. So... problem's solved!" Jawabnya dengan tawa kecilnya.
"Eii... kojimal!!! Aku yakin
kau lebih tua dariku." Aku memicingkan sebelah mataku, dan dia justru
malah tertawa karena semua itu.
"Yaak... apa wajahku
benar-benar terlihat tua? Darimana kau tahu kalau aku lebih tua darimu?"
"Arasso, kalau begitu,
tunjukkan KTP-mu!"
"Mwo? Seo Joohyun, apakah
untuk menjadi temanmu aku harus menunjukkan KTP-ku?"
"Jung Yonghwa Ssi, bukankah
untuk menjadi teman seseorang yang pertama harus kau lakukan adalah berkata
jujur?"
"Mwo?" Lelaki itu
kehilangan kata-katanya.
"Nde!!" Dan aku merasa
menang.
"Jashik...!" Yonghwa
meledakan tawanya beberapa saat kemudian. Begitupun aku. Kami berbagi tawa saat
itu.
"Okay... i give up! Aku 2
tahun lebih tua darimu, Joohyun ah. Tapi itu bukanlah alasan untuk kita tidak
bisa berteman, bukan? Dan aku tidak suka bila temanku berbicara formal padaku.
So... panggil aku dengan namaku. Karena aku sungguh ingin jadi temanmu."
Aku bisa melihat, kata-kata itu ter-refleksi di kedua bening matanya. Untukku
yang selalu menarik diri dari segala bentuk hubungan sosial, karena keadaanku
dan kecurigaanku bahwa mereka tidak tertarik untuk dekat dengan orang miskin
sepertiku, lelaki ini menjadi sebuah pengecualian. Aku tidak memiliki intuisi
yang buruk tentang dia. Dan dia benar, mungkin dikehidupan sebelumnya kita
pernah bertemu. Karena seorang introvert sepertiku bisa dengan mudah merasa
nyaman didekatnya.
"Waeyo?" Aku bertanya.
Dia mengerutkan keningnya lagi.
"Kenapa kau ingin berteman
denganku?" Dia kembali tersenyum mendengar pertanyaanku sebelum menjawabnya.
"Mwo? Apakah untuk menjadi
temanmu pun aku membutuhkan sebuah alasan?"
"Aniyo, geunyang... Aku bisa
mengerti alasan Suho yang begitu manjagaku. Kang Gary Sajangnim dan juga Jihyo
Eonnie yang begitu memperhatikanku seperti keluarganya sendiri, ataupun Hyoyeon
Eonnie yang akan selalu berdiri di barisan paling depan saat ada orang yang
akan menyakitiku. Alasan mereka mungkin sama. Mereka kasihan padaku karena
tidak ada siapapun didekatku yang akan melakukan hal yang mereka lakukan
padaku." Aku menundukan kepalaku sesaat sebelum aku meneruskan kalimatku.
"Tapi kau...." Aku
menatap matanya lekat. Lelaki itu tidak tersenyum, melainkan hanya membalas
tatapanku lebih dalam.
"Kau baru saja mengenalku.
Bahkan mungkin kau belum mengenalku sama sekali. Karenanya, aku bingung...
kenapa tiba-tiba kau ingin menjadi temanku?"
Jung Yonghwa masih menatapku
dengan lekat.
"Aku tahu, namamu Seo
Joohyun. Aku tahu, kau lebih suka orang memanggilmu Seohyun. Kau seorang
mahasiswi yang bekerja paruh waktu untuk membiayai hidup dan juga pendidikanmu.
Aku juga tahu bahwa kau bercita-cita ingin menjadi seorang penulis dan kau
sangat mengagungkan mimpimu itu. Aku tahu, kau tinggal sendiri di Seoul karena
Eomma-mu sudah meninggal." Yonghwa masih menatapku. Bahkan kali ini terasa
lebih tajam dari sebelumnya.
"Itu hanya sebagian kecil
saja, Yonghwa Ssi... dan kau tidak..."
"Mungkin sepertinya kau
harus merubah caramu dalam menilai orang lain, Joohyun ah! Dengan begitu,
kaupun bisa merubah caramu menilai dirimu sendiri." Aku termenung
mendengarnya. Apa maksudnya?
"Kau mungkin tidak sadar,
karena kau terbiasa merasa rendah diri, merasa dirimu terbelakang, dan
sebagainya, dengan semua perasaanmu itu... kau juga sudah merendahkan kebaikan
hati orang lain. Seperti fikiranmu tentang teman-temanmu tadi. Pernahkah kau
mendengar sendiri dari mulut mereka bahwa mereka berbuat baik padamu karena
mereka merasa kasihan padamu?" Yonghwa menatapku lebih tajam lagi dan aku
mulai merasa terdesak.
"Tidak pernah, bukan? Jadi
menurutku, tidak adil, Joohyun ah... bila kau selalu menilai ketulusan orang
lain dengan membandingkannya pada kenyataan tentang siapa dirimu, apa yang kau
miliki dan apa yang bisa kau lakukan. Hei... friend.. Sincerity is really does
exist! Dan kau harus mulai belajar menerima itu dari sudut pandang orang
lain."
Jantungku berdegup kencang.
Keringat dingin mulai membasahi kedua telapak tanganku. Tidak satupun kata yang
Yonghwa katakan itu salah, tapi dia tidak tahu, apa yang sudah aku alami karena
aku kerap mempercayai apa yang dia sebut 'ketulusan' itu.
"God, Joohyun i'm sorry. Aku
tidak bermaksud untuk menghakimi pemikiranmu atau menyalahkan semua itu. Aku
hanya...." Yonghwa tiba-tiba menggenggam tanganku saat genangan air mata
mulai terbentuk di kedua kelopak mataku. Tapi aku tidak akan menangis, aku
janji.
"Joohyun ah, tidak bisakah
aku menjadi temanmu hanya karena aku menyukaimu? Se-sederhana caramu menilai
musikku. Kau tahu kan, diantara ribuan orang yang tidak menyukai musikku, tapi
kau sangat menyukainya. Kau bahkan bisa menilai dan memberi harga yang
fantastis untuk musikku yang sebagian orang malah tidak ingin mendengarnya.
Se-sederhana itu!
Sejak malam itu aku melihatmu di
KCC, melihatmu bekerja, mendengar caramu melihat musikku, mendengar mimpimu,
aku merasa bahwa Seo Joohyun adalah orang yang baik. Aku merasa bahwa Seo
Joohyun adalah orang yang jujur. Orang yang bisa berbagi banyak hal tentang
dunia ini denganku karena sejujurnya, aku juga punya mimpi yang sama denganmu.
Kau dengan bukumu, dan aku dengan musik.
Apakah alasan itu tidak cukup
untuk membuatku ingin menjadi lebih dekat denganmu? Atau... apakah istilah
teman terlalu rumit untukmu?"
Tangannya masih menggenggam
tanganku. Ini pertama kalinya seorang pria menggenggam tanganku seperti ini.
Aku bahkan tidak menolaknya. Bukan karena aku merasa nyaman dengan semua ini,
tapi karena aku merasa lewat genggaman tangannya, Yonghwa seperti sedang
mentransfer fikiran-fikirannya ke ruang fikirku. Aku ingin sekali menyangkalnya,
tapi aku sama sekali tidak bisa menemukan satupun kesalahan dari semua yang dia
katakan padaku.
Aku hanya bisa menundukkan
pandanganku, karena rasa malu pada diriku sendiri. Seperti seorang munafik,
selama ini aku menyangkal semua konsep hubungan manusia didunia ini, tapi sejak
malam itu, aku mulai menginginkannya. Setidaknya sekali saja, membiarkan orang
asing menjadi bagian kecil dalam dunia kecilku. Sekali saja mencobanya, karena
tanpa kusadari, alasanku untuk tersenyum kini bertambah setelah aku mengenalnya.
C'mon, Seo Joohyun, menjadi temannya tidak akan melukaimu!
"Joohyun ah..... aku akan
mengajakmu ke satu tempat. Kau pasti akan menyukainya." Yonghwa melepaskan
genggamannya, dan kini... dia menarik tanganku hingga aku tidak punya pilihan
lain selain mengikutinya.
Yonghwa mengajakku berjalan
beberapa meter dengan tangannya yang tetap menggenggam tanganku. Lagi-lagi aku
tak kuasa menolaknya dan hanya membiarkannya saja. Entahlah... entah kemana dia
akan mengajakku.
Ada beberapa anak tangga yang
harus kami naiki, dan debur ombak masih terlihat disisi kiri anak tangga itu.
Kami sepertinya sedang menaiki sebuah bukit.
Dan tibalah kami disebuah dataran
tinggi yang dipagari batang-batang pohon kecil. Ada sebuah bangku panjang yang
juga terbuat dari batang pohon disana. Yonghwa mengajakku duduk. Genggaman kami
terlepas, dan sesaat, aku melihatnya menatap laut dengan senyum tipis yang tak
terdeskripsikan maknanya.
"Indah, bukan?" Yonghwa
kembali menatapku. Aku tersenyum sebelum aku menjawabnya.
"Ya. Sangat indah."
Jawabku. Mungkin memang itu satu-satunya yang bisa aku deskripsikan tentang apa
yang aku lihat.
"Aku dulu sering datang
kesini dengan Eomma. Appa-ku akan selalu sibuk dengan pekerjaannya dan Hyung...
dia tidak suka kakinya kelelahan karena berjalan terlalu jauh. Akupun sama,
sebetulnya. Tapi aku kasihan pada Eomma. Bila aku menolaknya, maka Eomma akan
pergi sendiri. Aku selalu berharap untuk bisa punya adik perempuan. Karena
dengan begitu, mungkin Eomma akan membiarkanku bermain sesukaku dan sebagai
gantinya, Eomma akan bersenang-senang dengan adikku."
Aku melihat binar mata yang sama
saat dia menceritakan tentang keluarganya seperti binaran saat aku memuji musik
CNBLUE.
"Eomma pasti saat ini sangat
kesepian, karena satu-satunya teman baiknya kini lebih banyak menghabiskan
waktuku dengan musik dan serangkaian tour kami." Aku memilih untuk menjadi
pendengarnya kali ini.
"Kau tahu, Joohyun ah? Hal
yang paling aku sukai dari tempat ini adalah karena disini, aku seperti berada
diatas awan. Menatap laut dari ketinggian, dan bila sunset tiba, tubuhku bisa
berdiri sejajar dengan matahari." Yonghwa masih tersenyum menatap laut
dihadapannya.
"Joohyun ah, lautan itu,
matahari, langit, angin, aku, dirimu dan semua yang ada dijagat raya ini adalah
sama. Kita semua diciptakan oleh satu Pencipta. Kau fikir, langit berada diatas
karena dia yang memintanya pada Tuhan? Matahari bersinar terang, karena
permohonannya? Atau tanah yang setiap waktu berada di bawah kaki kita semata
karena dia rela menjadi yang terinjak?" Yonghwa kembali menatapku dengan
tatapan tajam penuh arti.
"Bukan! Mereka berada di
tempatnya karena Sang Pencipta tahu, dimana mereka harus berada. Begitupun
denganmu. Dan juga aku. Kita diciptakan dengan cerita yang berbeda yang bahkan
kita tidak bisa memilihnya. Tapi yang terpenting bukan itu. Melainkan apa yang
bisa kita lalukan dan kita berikan sebagai ciptaan-Nya. Seperti langit yang
Tuhan ciptakan untuk berada diatas, karena darinya... Tuhan bisa menggantungan
kerlip-kerlip bintang untuk kita lihat dimalam hari, dan juga bisa menurunkan
hujan untuk kehidupan kita. Begitupun bumi yang kita pijak. Berada di bawah
tidaklah menjadikannya hina. Tapi darinya, Tuhan menitipkan benih-benih tanaman
yang juga untuh hidup kita. Dan tanpanya, mungkin saat ini manusia harus hidup
seperti astronot untuk melawan gravitasi.
Kau, harus berhenti menghakimi
dirimu sendiri, Joohyun ah! Karena betapapun dirimu merasa bahwa hidupmu tidak
punya arti, kau tidak pernah tahu... mungkin untuk seseorang dirimu adalah
alasannya untuk tetap berada didunia ini."
Tuhan tahu, betapa hatiku luluh
seluluh-luluhnya saat kata-kata itu seperti mantra yang membuka ribuan pintu
dalam hidupku. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa lelaki ini melakukan semua ini
padaku?
"Chingu ah... aku rasa hari
ini kau yang harus membayarku untuk pelajaran hidup barusan." Yonghwa
menjentikkan jarinya tepat didepan mataku dan menggiring lamunanku kembali. Aku
tertawa kecil mendengarnya.
"Mianhae, Oppa... karena
ternyata... aku tidak memiliki apa-apa untuk ku ajarkan padamu. Arasso,
Dongjangjigaenya, akan menjadi milikku!"
Yonghwa terpaku menatapku. Lekat,
dan hangat. Sebuah senyum kembali merekah diwajahnya.
"Gomawo, Hyun...!"
Matanya menatapku teduh.
"Terima kasih untuk apa? Aku
hanya membayar semangkuk Dongjangjigae untukmu." Aku tertunduk malu.
"Gomawo, karena telah
membukakan sebuah pintu untukku." Giliranku yang kini terpaku.
"Thank you for the 'Mianhae', and Thank you for more for
the 'Oppa'. I love it...."
Yonghwa tersenyum memperlihatkan giginya lagi. Aku paling menyukai senyum yang
satu ini. “Terima kasih, karena akhirnya kau menerimaku menjadi temanmu.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar