Selasa, 29 September 2015

In Time With You Chapter 3



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8
 
 
Chapter 3

Closer

Ada satu waktu, saat aku membenci diriku sendiri. Aku benci Seoul dan orang-orang yang ada didalamnya. Aku bahkan benci suara gonggongan anjing Ny. Kim yang biasanya aku baik-baik saja dengan semua itu.

Aku mengalaminya lagi sekarang. Saat inspirasiku mengabur, dan aku kehilangan semua kata untuk kutulis dalam laptopku.

Saat ini, pukul 10.15 pagi. Aku masih mengunci tubuhku dalam kamar kost kecil. Gorden ruang tengah aku biarkan tertutup meski sinar matahari menerawang disana seolah memaksa masuk kedalam ruangan ini, betapapun aku tidak menginginkannya.

Aku benci diriku. Saat mimpiku menjadi penulis masih menjadi tujuan utama hidupku, tapi aku malah kehabisan ide dan inspirasi untuk kutulis. Rasanya seperti berdiri diujung jalan dengan tembok tinggi menjulang. Tembok itu yang memaksaku untuk memisahkan antara mimpiku dan realitas yang harus kuhadapi kini.

Aku tahu. Tapi aku masih ingin menulis!

Bip... Bip... Bip...

From : Mr. Blue

'Apa yang akan kau lakukan, bila dalam kepalamu dipenuhi dengan chords dan melodi, tapi tanganmu tidak mampu menjadikannya sebuah lagu?'

Untuk sesaat, aku mengerutkan keningku dengan senyum tipis melengkung di sudut bibirku. Sejujurnya, pertanyaan serupa ingin aku tanyakan padanya.

To : Mr. Blue
'Terus saja pegang gitarmu. Karena kau tidak akan pernah tahu, kapan tanganmu akan mulai bekerja sama dengan fikiranmu.'

Aku bangkit dari dudukku lalu berjalan kearah jendela. Akhirnya, aku putuskan untuk membiarkan mentari masuk dan bertamu di rumahku. Aku juga membuka jendelanya, agar angin dan udara pagi menjelang siang ini sedikitnya mampu men-suply oksigen kedalam otakku. Who knows... inspirasiku kembali saat itu?

Bip... Bip... Bip...

From : Mr. Blue
'Apa yang sedang kau lakukan saat ini?'

Aku tidak langsung membalasnya, melainkan aku berjalan menuju dapurku bermaksud untuk membuat ramyeon.

Bip... Bip... Bip....

From : Mr. Blue
'Hhm.. kau pasti sibuk, Seo Chingu!'

Tsk...! Seo Chingu? Apalah itu!! Tapi itu berhasil membuatku tersenyum lebih lebar.

To : Mr. Blue
'Aku sedang sibuk mendidik diriku untuk bisa lebih kuat dalam menerima kenyataan. Kkkk ~ Kau pasti berfikir bahwa aku mulai aneh dan mengerikan. :P'

From : Mr. Blue
'I already have. Bahkan sejak pertama kali aku melihatmu.'

To : Mr. Blue
'Jinjayo? Lalu kenapa kau mau mengantar orang aneh ini pulang dengan mobilmu?'

From : Mr. Blue
'Karena itu adalah untuk kedua kalinya aku bertemu denganmu. Dan untuk yang kedua itu, aku fikir... kau cukup lumayan.'

"Mwo? Lumayan?!!!!"

Spontan, aku meneriakan pertanyaan itu. Tapi.... malam itu adalah yang kedua kalinya dia bilang? Lalu yang pertama....

"ANDWEEEE!!!!!!!"

Tanpa kusadari, aku berteriak lebih kencang. Dia mengingatnya!!! Dia mengingat kejadian bodoh itu!!!

Bip... Bip... Bip...

From : Mr. Blue
'Nae Chingu ah, ajari aku juga cara untuk bisa menerima kenyataan. Aku janji, aku akan membayar untuk pendidikan itu dengan harga yang fantastis.'

Aigoo.... Jung Yonghwa, sebenarnya dia itu lelaki macam apa sih?

To : Mr. Blue
'Tell me the price!'

From : Mr. Blue
'Big Portion of Dongjangjigae?'

Sekali lagi aku tersenyum membacanya.

To : Mr. Blue
'Sepertinya menggiurkan...^^ '

From : Mr. Blue
'I'll be there in 15 minutes. Get ready, Barbie! (Aku pinjam istilah temanmu sampai aku menemukan panggilan yang pas untukmu. ;) )

Lagi-lagi aku tersenyum seperti orang gila. Dia bilang dia akan...

"Oooo MayGaaaad.... dia bilang dia akan kesini? 15 menit lagi???!!! Ya Tuhan... phabo ah!!!"

Kukerahkan seluruh upayaku untuk membersihkan ruang tamuku dari sampah tisu, kaleng minuman, kotak makanan dan piring-piring kotor. Tubuhku seolah dipasangkan speed booster hingga aku mampu menyelesaikan semuanya dalam waktu 10 menit. Tanpa sempat mengepel lantai tentunya. Tapi setidaknya sekarang rumah ini lebih mirip seperti rumah tinggal untuk manusia dan bukan kandang sapi. 5 menit tersisa aku gunakan untuk mandi dan berpakaian. Aigoo... 5 menit untuk seorang gadis??? Shut up!! Aku bahkan tidak berani mengatakan bahwa aku ini seorang gadis.

As always, casual vintage jeans dengan beberapa sobekan di bagian pahanya, T-shirt berwarna baby pink dengan logo superman di bagian depannya, dan kali ini, aku mengikat rambutku dengan ikatan ekor kuda. Ah... cardiganku. Dan purse kecil berwana pink tak lupa aku bawa.

Sesaat, aku berdiri didepan meja riasku. Sedikit ragu, aku mengoleskan lipstick berwarna peach dibibirku.

Bip... Bip... Bip....

From : Mr. Blue
'Kita hanya akan makan Dongjangjigae, Chingu ah! Kau tidak perlu berdandan secantik itu.'

Bukan main terkejutnya aku menerima pesan itu. Spontan, aku menoleh ke semua sisi ruang kamarku karena kekhawatiran yang tidak masuk akal. Phabo!!! Mana mungkin dia melihatnya... karena aku sedang berada di lantai 2, dikamarku dengan pintu tertutup. He got me, jashik ah!!

To : Mr. Blue
'Kau dimana?'

From : Mr. Blue
'Hanya perlu menuruni 17 buah anak tangga, ditambah 8 langkah kedepan, maka kau akan bertemu denganku. ;) '

Haish.... lelaki ini... benar-benar!!! Aku berjalan menuju pintu dan bersiap untuk meninggalkan rumahku. Dan benar saja, dari atas, aku bisa melihatnya. Mr. CNBLUE tersenyum melihatku dari depan pagar rumah Ny. Kim.

"Hai...." Aku menyapanya. Senyumnya semakin lebar saat dia membukakan pintu pagar untukku.

"Anyeong, Chingu ah! Ready for some adventure?" Tiba-tiba dia menyodorkan sebuah helmet padaku.

"Mwoeyo?" Aku menatapnya penuh tanya. Lalu dia menunjuk sebuah motor sport berwarna merah yang diparkirkan beberapa meter dari pagar rumah Ny. Kim.

"We're gonna ride Mr. Red...." Katanya, penuh semangat.

"Ride what? Mr. Red?" Dia menggangguk dengan teeth smile nya.

"Mr. Blue and.... Mr. Red?" Aku menyerah dengan segala kebodohanku karena membiarkan tanganku yang tanpa sadar menunjuk dirinya, lalu motornya. Dan mulutku... ya ampun....

"Mwo? Mr. Blue? Siapa Mr. Blue?" Yonghwa tampak sedikit bingung dengan celotehanku. Hingga akhirnya dia mengerti maksud kebodohanku tadi.

"Ah... Mr. Blue?" Dia menunjukan telunjuk nya tepat kehidungnya sendiri. Aku hanya diam saja menahan malu.

"Aku bukan Mr. Blue, Joohyun ah. Aku adalah Mr. Gold. Dan dia... adalah Mr. Red. Mr. Blue... nama itu sudah ada pemiliknya. Dan.... ck... lupakan! Kau pasti tidak mengerti, bukan?"

Sejujurnya, Iya!!! Aku fikir, Yonghwa yang tidak akan mengerti maksudku, tapi pada akhirnya, aku yang justru tidak mengerti semua yang dia katakan.

"Sini, kupakaikan!" Dia mengambil lagi helmet dari tanganku, lalu memasangkannya dikepalaku. Tak lupa, dia mengunci pengaitnya.

"Ready?? Kajaaa....!" Yonghwa meraih tanganku lalu mengajakku menaiki motornya. Dan... aku sudah berada diatasnya. Dengan kedua tanganku yang Yonghwa lingkarkan dipinggangnya dan dadaku yang....

Kau benar-benar sudah gila, Seo Joohyun!!!!

Setelah berkendara kurang lebih satu jam, akhirnya, Yonghwa menghentikan motornya di sebuah restoran di pinggir pantai. Bila aku harus jujur, aku benar-benar ketakutan selama berada diatas motornya tadi. Tapi restoran pinggir pantai ini... harus ku akui bahwa tempat ini luar biasa. Dan angin pantai di musim panas, hhhhmm.... sudah lama aku tidak memanjakan diriku dengan berlibur atau sekedar mengunjungi tempat seperti ini.

"Otthae? Keren, kan?" Yonghwa dengan bangga bertanya.

"Ooh! Jinjja areumdawoyo!" Aku melihat deburan ombak menyapu karang di pinggiran restoran itu. Dan semua itu benar-benar menakjubkan hingga kata saja tidak akan cukup untuk melukiskan keindahannya.

"Kajja!! Dongjangjigae disini luarrrr biasa. Kau juga bisa menikmati aneka sea food yang benar-benar fresh disini.

Yonghwa mengajakku masuk. Design interior di dalamnya pun sungguh memukau. Aku berani bertaruh, bahwa Yonghwa akan menguras isi dompetnya untuk 2 porsi dongjangjigae saja.

"Here. Kita duduk disini." Yonghwa mengajakku ke balcon belakang restoran itu. Ada beberapa set kursi dengan meja ber-canopy. Seorang waitress datang menyapa kami dengan ramah dan menyodorkan daftar menu.

"2 porsi besar Dongjangjigae, satu coca cola, dan kau mau minum apa, Barbie?" Waitress itu tampak menahan senyumnya saat Yonghwa memanggilku Barbie. Aishh... aku sudah cukup dengan Suho dan kini Mr. Blue juga membuatku malu. Mungkin waitress ini akan berfikir tentang dari mana asal muasal nama Barbie itu berawal. Karena penampilanku sama sekali tidak mirip Barbie.

"Sama saja denganmu..!"Jawabku singkat. Waitress itu mencatatnya lalu pergi meninggalkan kami.

"Yoo... igae nugunji?" Sebuah suara datang dibelakangku. Yonghwa terperangah lalu tersenyum hangat.

"Ahjussi... Oraemanieyo...." Yonghwa berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati lelaki paruh baya itu. Lelaki tua itu dengan serta merta menjabat tangannya dan memberinya sebuah pelukan.

"Aigoo... Yonghwa ah!! Aku fikir kau sudah melupakanku."

"Aniyo, Ajussi. Mana mungkin aku melupakanmu. Aku hanya sedang sibuk dengan band-ku. Yaah... keliling Korea dan beberapa negara di Asia. Ajussi tampak sehat dan muda. Aku senang melihatnya."

"Yaa... apalagi yang bisa kakek tua ini lakukan selain menikmati sisa usiaku yang aku tidak tahu seberapa banyak lagi. Ngomong-ngomong, kau datang dengan siapa?"

"Aah... majayo, aku sampai lupa. Joohyun ah, kemarilah. Kenalkan, ini Moonsae Ajussi. Aku mengenalnya sejak aku kecil karena orang tuaku sering mengajakku makan di restorannya. Dan Ajussi... ini Seo Joohyun."

"Anyeong Haseo, Ajussi." Aku membungkukan tubuhku.

Moonsae Ajussi menyodorkan tangannya, lalu menggenggam tanganku digenggamannya.

"Aigoo, neomu yeppoda. Kau sungguh beruntung, Yonghwa ah. Agassi ini cantik sekali seperti ibumu. Aku yakin, ibumu akan sangat senang mempunyai menantu secantik ini."

Aku tersedak tiba-tiba, hingga terbatuk-batuk untuk beberapa waktu. Yonghwa membantuku dengan menepuk-nepuk punggungku hingga batukku reda. He was kidding me! Menantu katanya??? Menantu apa???

"Joohyun ini temanku, Ajussi. Dia seorang penulis dan dia juga penikmat musikku. Joohyun punya selera yang tinggi dalam menilai musik." Moonsae Ajussi akhirnya menganggukkan kepalanya.

"Aah.. geurokuna! Ya.. ya... ya...! Setiap hubungan pasti akan diawali dengan sebuah persahabatan dulu. Biar semua berkembang dengan sendirinya seiring waktu." Tambahnya.

"A.. Aniyo, Ajussi. Kami..." Bibirku terasa kelu, hingga Yonghwa menghentikannya.

"Arassoyo, Ajussi. Tapi hari ini... aku hanya ingin membuatnya merasakan betapa lezatnya Dongjangjigae buatanmu. Karenanya, aku mengajaknya jauh-jauh datang kemari." Mungkin Yonghwa tidak menyadarinya. Tapi tangannya sedang merangkul pundakku kala itu.

"Ara!! Kalau bukan karena gadis ini, mana mungkin kau sudi datang jauh-jauh hanya untuk menemui lelaki tua sepertiku." Moonsae Ajussi menampakkan wajah kecewanya yang aku tahu, semua itu hanya pura-pura untuk membuat Yonghwa merasa bersalah.

"Eii... semakin tua Ajussi semakin sensitif saja. Aku mengajaknya kesini karena tempat ini sangat istimewa untukku. Terlebih karena Ajussi pemiliknya."

"Arasso... Arasso! Ya sudah, kalian nikmati saja makanannya yah. Nanti aku buatkan juga ikan bakar menu khas restoran ini." Dengan begitu, Moonsae Ajussi pun berlalu. Dongjangjigae pesanan kami pun tiba. Hhmm... dari aroma nya saja, aku sudah bisa menebak akan seperti apa rasanya.

"Joohyun ah... kupersembahkan dongjangjigae paling lezat didunia." Yonghwa berhasil membuat senyumku merekah lebih lebar. Dan tampaknya, semua itu membuatnya senang. Begitupun aku. Mendengarnya menyebut namaku, Joohyun... Joohyun ah... entahlah... aku bahagia mendengar nama itu mengalun dari bibirnya.

Dia tidak berbohong tentang Dongjangjigae ini, karena benar saja... rasanya luar biasa. Bahan-bahannya, bumbunya, kaldunya, semua terasa pas dan membuatku tidak bisa berhenti makan meski perutku sudah terasa kenyang.

"Jung Yonghwa Ssi, gomawoyo. Jinjayo, makanan ini benar-benar lezat. Perutku rasanya seperti akan meledak, tapi mulutku tidak bisa menghentikannya." Yonghwa tertawa kecil mendengar ucapanku. Dia benar-benar tampak sangat senang dengan reaksiku.

"Benarkan, kataku? Sekali kau datang kesini, maka kau akan datang lagi suatu saat nanti. Dongjangjigae ini sudah di mantrai seperti itu, kau tahu?" Giliranku yang tertawa kecil mendengar candaan kecilnya.

"Majayo. Geuronika, neomu gomawoyo, Yonghwa Ssi."

"Yonghwa." Katanya.

"Cukup Yonghwa saja. Dan hilangkan ornamen lainnya."

"A.. aniyo. Aku... aku tidak terbiasa dengan itu. Terlebih, kau pasti lebih tua dariku."  Yup. Meninggalkan Banmal bukanlah hal mudah untukku, apalagi pada orang yang baru saja aku kenal.

"Jinja? Okay... tahun berapa kau lahir?" Yonghwa menggeser kursi nya lebih dekat denganku.

"Aku? Line 91. Dan Yonghwa Ssi?"

"Sama. Kita di usia yang sama. So... problem's solved!" Jawabnya dengan tawa kecilnya.

"Eii... kojimal!!! Aku yakin kau lebih tua dariku." Aku memicingkan sebelah mataku, dan dia justru malah tertawa karena semua itu.

"Yaak... apa wajahku benar-benar terlihat tua? Darimana kau tahu kalau aku lebih tua darimu?"

"Arasso, kalau begitu, tunjukkan KTP-mu!"

"Mwo? Seo Joohyun, apakah untuk menjadi temanmu aku harus menunjukkan KTP-ku?"

"Jung Yonghwa Ssi, bukankah untuk menjadi teman seseorang yang pertama harus kau lakukan adalah berkata jujur?"

"Mwo?" Lelaki itu kehilangan kata-katanya.

"Nde!!" Dan aku merasa menang.

"Jashik...!" Yonghwa meledakan tawanya beberapa saat kemudian. Begitupun aku. Kami berbagi tawa saat itu.

"Okay... i give up! Aku 2 tahun lebih tua darimu, Joohyun ah. Tapi itu bukanlah alasan untuk kita tidak bisa berteman, bukan? Dan aku tidak suka bila temanku berbicara formal padaku. So... panggil aku dengan namaku. Karena aku sungguh ingin jadi temanmu." Aku bisa melihat, kata-kata itu ter-refleksi di kedua bening matanya. Untukku yang selalu menarik diri dari segala bentuk hubungan sosial, karena keadaanku dan kecurigaanku bahwa mereka tidak tertarik untuk dekat dengan orang miskin sepertiku, lelaki ini menjadi sebuah pengecualian. Aku tidak memiliki intuisi yang buruk tentang dia. Dan dia benar, mungkin dikehidupan sebelumnya kita pernah bertemu. Karena seorang introvert sepertiku bisa dengan mudah merasa nyaman didekatnya.

"Waeyo?" Aku bertanya. Dia mengerutkan keningnya lagi.

"Kenapa kau ingin berteman denganku?" Dia kembali tersenyum mendengar pertanyaanku sebelum menjawabnya.

"Mwo? Apakah untuk menjadi temanmu pun aku membutuhkan sebuah alasan?"

"Aniyo, geunyang... Aku bisa mengerti alasan Suho yang begitu manjagaku. Kang Gary Sajangnim dan juga Jihyo Eonnie yang begitu memperhatikanku seperti keluarganya sendiri, ataupun Hyoyeon Eonnie yang akan selalu berdiri di barisan paling depan saat ada orang yang akan menyakitiku. Alasan mereka mungkin sama. Mereka kasihan padaku karena tidak ada siapapun didekatku yang akan melakukan hal yang mereka lakukan padaku." Aku menundukan kepalaku sesaat sebelum aku meneruskan kalimatku.

"Tapi kau...." Aku menatap matanya lekat. Lelaki itu tidak tersenyum, melainkan hanya membalas tatapanku lebih dalam.

"Kau baru saja mengenalku. Bahkan mungkin kau belum mengenalku sama sekali. Karenanya, aku bingung... kenapa tiba-tiba kau ingin menjadi temanku?"

Jung Yonghwa masih menatapku dengan lekat.

"Aku tahu, namamu Seo Joohyun. Aku tahu, kau lebih suka orang memanggilmu Seohyun. Kau seorang mahasiswi yang bekerja paruh waktu untuk membiayai hidup dan juga pendidikanmu. Aku juga tahu bahwa kau bercita-cita ingin menjadi seorang penulis dan kau sangat mengagungkan mimpimu itu. Aku tahu, kau tinggal sendiri di Seoul karena Eomma-mu sudah meninggal." Yonghwa masih menatapku. Bahkan kali ini terasa lebih tajam dari sebelumnya.

"Itu hanya sebagian kecil saja, Yonghwa Ssi... dan kau tidak..."

"Mungkin sepertinya kau harus merubah caramu dalam menilai orang lain, Joohyun ah! Dengan begitu, kaupun bisa merubah caramu menilai dirimu sendiri." Aku termenung mendengarnya. Apa maksudnya?

"Kau mungkin tidak sadar, karena kau terbiasa merasa rendah diri, merasa dirimu terbelakang, dan sebagainya, dengan semua perasaanmu itu... kau juga sudah merendahkan kebaikan hati orang lain. Seperti fikiranmu tentang teman-temanmu tadi. Pernahkah kau mendengar sendiri dari mulut mereka bahwa mereka berbuat baik padamu karena mereka merasa kasihan padamu?" Yonghwa menatapku lebih tajam lagi dan aku mulai merasa terdesak.

"Tidak pernah, bukan? Jadi menurutku, tidak adil, Joohyun ah... bila kau selalu menilai ketulusan orang lain dengan membandingkannya pada kenyataan tentang siapa dirimu, apa yang kau miliki dan apa yang bisa kau lakukan. Hei... friend.. Sincerity is really does exist! Dan kau harus mulai belajar menerima itu dari sudut pandang orang lain."

Jantungku berdegup kencang. Keringat dingin mulai membasahi kedua telapak tanganku. Tidak satupun kata yang Yonghwa katakan itu salah, tapi dia tidak tahu, apa yang sudah aku alami karena aku kerap mempercayai apa yang dia sebut 'ketulusan' itu.

"God, Joohyun i'm sorry. Aku tidak bermaksud untuk menghakimi pemikiranmu atau menyalahkan semua itu. Aku hanya...." Yonghwa tiba-tiba menggenggam tanganku saat genangan air mata mulai terbentuk di kedua kelopak mataku. Tapi aku tidak akan menangis, aku janji.

"Joohyun ah, tidak bisakah aku menjadi temanmu hanya karena aku menyukaimu? Se-sederhana caramu menilai musikku. Kau tahu kan, diantara ribuan orang yang tidak menyukai musikku, tapi kau sangat menyukainya. Kau bahkan bisa menilai dan memberi harga yang fantastis untuk musikku yang sebagian orang malah tidak ingin mendengarnya.

Se-sederhana itu!

Sejak malam itu aku melihatmu di KCC, melihatmu bekerja, mendengar caramu melihat musikku, mendengar mimpimu, aku merasa bahwa Seo Joohyun adalah orang yang baik. Aku merasa bahwa Seo Joohyun adalah orang yang jujur. Orang yang bisa berbagi banyak hal tentang dunia ini denganku karena sejujurnya, aku juga punya mimpi yang sama denganmu. Kau dengan bukumu, dan aku dengan musik.

Apakah alasan itu tidak cukup untuk membuatku ingin menjadi lebih dekat denganmu? Atau... apakah istilah teman terlalu rumit untukmu?"

Tangannya masih menggenggam tanganku. Ini pertama kalinya seorang pria menggenggam tanganku seperti ini. Aku bahkan tidak menolaknya. Bukan karena aku merasa nyaman dengan semua ini, tapi karena aku merasa lewat genggaman tangannya, Yonghwa seperti sedang mentransfer fikiran-fikirannya ke ruang fikirku. Aku ingin sekali menyangkalnya, tapi aku sama sekali tidak bisa menemukan satupun kesalahan dari semua yang dia katakan padaku.

Aku hanya bisa menundukkan pandanganku, karena rasa malu pada diriku sendiri. Seperti seorang munafik, selama ini aku menyangkal semua konsep hubungan manusia didunia ini, tapi sejak malam itu, aku mulai menginginkannya. Setidaknya sekali saja, membiarkan orang asing menjadi bagian kecil dalam dunia kecilku. Sekali saja mencobanya, karena tanpa kusadari, alasanku untuk tersenyum kini bertambah setelah aku mengenalnya. C'mon, Seo Joohyun, menjadi temannya tidak akan melukaimu!

"Joohyun ah..... aku akan mengajakmu ke satu tempat. Kau pasti akan menyukainya." Yonghwa melepaskan genggamannya, dan kini... dia menarik tanganku hingga aku tidak punya pilihan lain selain mengikutinya.

Yonghwa mengajakku berjalan beberapa meter dengan tangannya yang tetap menggenggam tanganku. Lagi-lagi aku tak kuasa menolaknya dan hanya membiarkannya saja. Entahlah... entah kemana dia akan mengajakku.

Ada beberapa anak tangga yang harus kami naiki, dan debur ombak masih terlihat disisi kiri anak tangga itu. Kami sepertinya sedang menaiki sebuah bukit.

Dan tibalah kami disebuah dataran tinggi yang dipagari batang-batang pohon kecil. Ada sebuah bangku panjang yang juga terbuat dari batang pohon disana. Yonghwa mengajakku duduk. Genggaman kami terlepas, dan sesaat, aku melihatnya menatap laut dengan senyum tipis yang tak terdeskripsikan maknanya.

"Indah, bukan?" Yonghwa kembali menatapku. Aku tersenyum sebelum aku menjawabnya.

"Ya. Sangat indah." Jawabku. Mungkin memang itu satu-satunya yang bisa aku deskripsikan tentang apa yang aku lihat.

"Aku dulu sering datang kesini dengan Eomma. Appa-ku akan selalu sibuk dengan pekerjaannya dan Hyung... dia tidak suka kakinya kelelahan karena berjalan terlalu jauh. Akupun sama, sebetulnya. Tapi aku kasihan pada Eomma. Bila aku menolaknya, maka Eomma akan pergi sendiri. Aku selalu berharap untuk bisa punya adik perempuan. Karena dengan begitu, mungkin Eomma akan membiarkanku bermain sesukaku dan sebagai gantinya, Eomma akan bersenang-senang dengan adikku."

Aku melihat binar mata yang sama saat dia menceritakan tentang keluarganya seperti binaran saat aku memuji musik CNBLUE.

"Eomma pasti saat ini sangat kesepian, karena satu-satunya teman baiknya kini lebih banyak menghabiskan waktuku dengan musik dan serangkaian tour kami." Aku memilih untuk menjadi pendengarnya kali ini.

"Kau tahu, Joohyun ah? Hal yang paling aku sukai dari tempat ini adalah karena disini, aku seperti berada diatas awan. Menatap laut dari ketinggian, dan bila sunset tiba, tubuhku bisa berdiri sejajar dengan matahari." Yonghwa masih tersenyum menatap laut dihadapannya.

"Joohyun ah, lautan itu, matahari, langit, angin, aku, dirimu dan semua yang ada dijagat raya ini adalah sama. Kita semua diciptakan oleh satu Pencipta. Kau fikir, langit berada diatas karena dia yang memintanya pada Tuhan? Matahari bersinar terang, karena permohonannya? Atau tanah yang setiap waktu berada di bawah kaki kita semata karena dia rela menjadi yang terinjak?" Yonghwa kembali menatapku dengan tatapan tajam penuh arti.

"Bukan! Mereka berada di tempatnya karena Sang Pencipta tahu, dimana mereka harus berada. Begitupun denganmu. Dan juga aku. Kita diciptakan dengan cerita yang berbeda yang bahkan kita tidak bisa memilihnya. Tapi yang terpenting bukan itu. Melainkan apa yang bisa kita lalukan dan kita berikan sebagai ciptaan-Nya. Seperti langit yang Tuhan ciptakan untuk berada diatas, karena darinya... Tuhan bisa menggantungan kerlip-kerlip bintang untuk kita lihat dimalam hari, dan juga bisa menurunkan hujan untuk kehidupan kita. Begitupun bumi yang kita pijak. Berada di bawah tidaklah menjadikannya hina. Tapi darinya, Tuhan menitipkan benih-benih tanaman yang juga untuh hidup kita. Dan tanpanya, mungkin saat ini manusia harus hidup seperti astronot untuk melawan gravitasi.

Kau, harus berhenti menghakimi dirimu sendiri, Joohyun ah! Karena betapapun dirimu merasa bahwa hidupmu tidak punya arti, kau tidak pernah tahu... mungkin untuk seseorang dirimu adalah alasannya untuk tetap berada didunia ini."

Tuhan tahu, betapa hatiku luluh seluluh-luluhnya saat kata-kata itu seperti mantra yang membuka ribuan pintu dalam hidupku. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa lelaki ini melakukan semua ini padaku?

"Chingu ah... aku rasa hari ini kau yang harus membayarku untuk pelajaran hidup barusan." Yonghwa menjentikkan jarinya tepat didepan mataku dan menggiring lamunanku kembali. Aku tertawa kecil mendengarnya.

"Mianhae, Oppa... karena ternyata... aku tidak memiliki apa-apa untuk ku ajarkan padamu. Arasso, Dongjangjigaenya, akan menjadi milikku!"

Yonghwa terpaku menatapku. Lekat, dan hangat. Sebuah senyum kembali merekah diwajahnya.

"Gomawo, Hyun...!" Matanya menatapku teduh.

"Terima kasih untuk apa? Aku hanya membayar semangkuk Dongjangjigae untukmu." Aku tertunduk malu.

"Gomawo, karena telah membukakan sebuah pintu untukku." Giliranku yang kini terpaku.

"Thank you for the 'Mianhae', and Thank you for more for the 'Oppa'. I love it...." Yonghwa tersenyum memperlihatkan giginya lagi. Aku paling menyukai senyum yang satu ini. “Terima kasih, karena akhirnya kau menerimaku menjadi temanmu.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar