In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 5
Dé Javu
3 Minggu berlalu sejak hari itu.
Aku tidak melihatnya lagi. Ataupun mendengar kabar darinya. Terakhir kali aku
menerima pesannya adalah saat dia dan CNBLUE akan melakukan long trip di
beberapa kota di Asia. Saat itu dia hanya berpamitan dan minta untuk ku doakan
agar pekerjaannya berjalan lancar.
Dan aku melakukannya. Aku selalu
menyebut namanya dalam doaku setiap hari.
"Seohyun ah.... kau boleh
pulang duluan. Biar aku dan Hyoyeon yang mengerjakan sisanya. Aigoo... gadis
ini semakin kurus saja. Pastikan kau makan dengan teratur. Aku tidak ingin
orang-orang berfikir kalau aku tidak memperlakukan karyawanku dengan
baik." Jihyo Eonnie mengambil lap piring dari tanganku dan mengambil alih
pekerjaanku.
"Gwaenchannayo, Eonnie... aku
akan menyelesaikannya dulu. Lagipula, ini baru jam 9 malam dan pelanggan masih
ramai berdatangan." Aku mengambil lagi lap piring itu dari tangannya.
"Na.. na.. nah!! Geun jashik
ah! Cobalah untuk sekali saja menuruti perkataanku, Agassi!! Kau belum mengambil
cutimu 2 minggu ini dan lihat matamu! Sesange... siapa yang akan menikahimu
nanti, huh? Sudah sana, pulang!! Aku sudah membungkuskan makan malam untuk
kalian di belakang. Makan dulu itu, lalu tidurlah." Kali ini, bukan hanya
mengambil lap piring dari tanganku, tapi Jihyo Eonnie juga mendorong tubuhku ke
arah dapur.
"Suho ah, Hyoyeon ah!!
Berikan bungkus makanan miliknya, lepaskan apron di tubuhnya dan tendang
pantatnya keluar dari sini!" Aigoo... ahjumma yang satu ini benar-benar!!
Diusia kandungannya yang sudah tinggal menghitung hari saja, dia pun masih
tetap datang bekerja. Dan baru saja dia komplain tentang betapa kerasnya aku
bekerja? Aku kan hanya mencontoh dirinya, karena aku benar-benar mengaguminya.
*****
Aku tiba di rumahku setengah jam
kemudian. Harus aku akui, sejujurnya aku memang lelah. Kepalaku sakit.
Begitupun dengan punggung dan kakiku.
Usai mandi dan membersihkan
tubuhku, aku memakan makanan pemberian Jihyo Eonnie sambil menonton siaran TV.
Tidak ada yang menarik. Hanya beberapa drama dengan jalan cerita yang clicé dan
bisa aku tebak endingnya. Lalu aku mematikannya lagi dan segera masuk kedalam
kamarku begitu aku menyelesaikan makanku.
Pukul 10 malam. Aku tidak
terbiasa tidur seawal ini. Aku mengambil beberapa novel dari rak buku disamping
tempat tidurku, sambil kunyalakan Mp3 playerku dan Shade Of Blue dari Incognito
menemani malam sepi ini. Beberapa menit kemudian, aku tidak mengingat apapun
lagi.
*****
"Joohyun ah, bagaimana
menurutmu gaun ini?" Aku mendengar Eomma memanggilku dari ruang ganti.
Akupun menghampirinya.
"Lihat... cantik,
bukan?" Eomma menunjukkan sebuah gaun putih padaku. Pada Joohyun yang
masih berusia 9 tahun.
"Nde, Eomma. Jinjja
yippoda."
"Kau menyukainya?"
Eomma berlutut dihadapanku dan kini tubuh kami nyaris sama tinggi.
"Nde, Eomma. Aku benar-benar
menyukainya." Aku tersenyum senang.
"Jeongmal? Geurae... Eomma
akan membelikannya untukmu." Eomma mencubit pipiku dan aku tertawa
kegirangan.
Eomma lalu mengajakku berjalan.
Tempat ini begitu ramai dan aku yakin ini adalah taman hiburan. Eomma
membelikanku ice cream, gula-gula kapas, juga beberapa akaesoris rambut yang
lucu-lucu.
Hingga kamipun duduk disebuah
bangku yang terletak ditengah sebuah taman bunga. Eomma memegang tanganku lalu
berkata.
"Uri Joohyun ah, kelak kau
harus tumbuh menjadi seorang perempuan yang anggun. Yang penuh kelembutan dan
pandai menempatkan dirimu dimanapun kau berada. Gaun putih ini, Eomma hadiahkan
untukmu, karena kini kau sudah tumbuh menjadi gadis kecil Eomma. Saat kau dewasa
nanti, bila saatnya tiba, Eomma akan memberikanmu satu gaun putih lagi. Saat
itu, kau pasti sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik." Eomma
merapihkan poniku.
"Tapi aku tidak ingin gaun
berwarna putih lagi, Eomma. Aku ingin gaun berwarna pink." Jawabku. Eomma
tertawa kecil mendengar celotehan polosku.
"Pink? Kau menyukai warna
pink?" Eomma bertanya.
"Nde, Eomma. Aku suka warna
pink."
"Geurae. Karena kau putri
yang cantik, maka kau boleh memakai gaun berwarna pink saat kau menikah
nanti." Eomma kembali tertawa kecil.
"Menikah? Aku kan masih
kecil, Eomma. Kenapa aku harus menikah?" Eomma tertawa sekali lagi. Kali
ini lebih lebar dari sebelumnya.
"Kau benar, anakku. Saat ini
kau masih menjadi gadis kecilku. Tapi waktu akan cepat berlalu dan kau... akan
tumbuh menjadi peremuan yang mengagumkan. Kau akan dikagumi banyak pria dan
mereka akan berebut untuk bisa memilikimu. Tapi hanya akan ada satu pria paling
beruntung yang akan menikahi putriku. Dan saat itu, aku akan berada disisimu
sambil menggenggam sapu tanganku karena aku tidak bisa menyembunyikan air mata
haruku." Eomma masih tersenyum sambil mengusap kepalaku.
"Karena itu, kau harus hidup
dengan baik mulai sekarang. Makan dengan baik, tidur dengan baik, dan satu hal
yang paling penting yang tidak boleh kau lupakan. Ini.... " Eomma
menyentuh dadaku, dan aku tidak mengerti maksud semua itu pada mulanya.
"Ini. Sesuatu yang ada
didalam sini. Hatimu. Budi pekerti dan perangaimu. Jagalah itu selalu, Uri
Ddal..."
*****
Ya Tuhan, sudah pukul 9 pagi dan
aku baru saja membuka mataku. Aku mengangkat tubunku yang masih terasa berat
lalu duduk untuk sejenak. Bayangan mimpi semalam masih terasa nyata.
Eomma....
Indah wajahnya, rasanya masih
ingin aku melihatnya lebih lama. Aku beranjak dari dudukku lalu membuka tirai
jendela kamarku. Matahari sudah terik bersinar. Tiba-tiba sebuah mobil
ambulance datang dan berhenti tepat di depan rumah Ny. Kim. Beberapa orang
petugas kulihat sedang berlari dengan sigap sambil membawa peralatan mereka dan
memasuki halaman rumah ini.
Ny. Kim.....
Aku segera berlari kebawah dan
mencari tahu apa yang terjadi. Betapa terkejutnya aku, saat aku tahu bahwa
wanita berusia 50 tahunan itu sudah ditemukan tidak bernyawa diruang TVnya.
Seluruh tubuhku berguncang. Kakiku seperti kehilangan tulang penyangganya, dan
aku nyaris ambruk ditanah. Beruntung, salah seorang petugas medis memapahku
berdiri.
Beberapa waktu kemudian, jasad
Ny. Kim sudah dibawa ambulance tadi menuju rumah sakit untuk keperluan otopsi.
Dan aku tertahan disini, dirumahnya bersama beberapa orang detektif dan officer
polisi.
"Seo Joohyun Ssi, kapan
terakhir kali anda bertemu atau berinteraksi dengan Ny. Kim Hyesil?"
Seorang detektif wanita menanyaiku setelah memberiku secangkir teh hangat dan
keadaanku yang jauh lebih baik daripada beberapa waktu lalu saat pertama kali
aku mendengar kabar itu.
"Sekitar 2 hari yang lalu.
Aku menyapa nya saat dia sedang menyiram kebunnya." Jawabku singkat.
Sejujurnya, fikiranku masih kosong dan tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Lalu, apa anda melihat
seseorang mendatanginya, atau berbicara dengannya?" Tanya wanita itu lagi.
"Aku tidak tahu. Aku
menyapanya saat aku akan pergi kuliah. Sekitar pukul 8 pagi. Dan malamnya, aku
kembali dari kerja part time ku pukul 11.45 malam. Tapi Kemarin pagi, aku masih
mendengarnya memanggil-manggil anjingnya. Seperti biasanya, Ny. Kim hanya
terdengar berbicara pada anjingnya saja." Detektif wanita itu tampak
membuat catatan-catatan kecil di note booknya.
"Lalu, pukul berapa kau
pulang tadi malam?" Sekali lagi dia bertanya. Kali ini matanya menatapku
lebih tajam.
"Sekitar pukul 10 malam. Aku
pulang lebih awal karena bosku memberiku ijin. Tapi aku langsung tertidur usai
menghabiskan makan malamku."
"Apa kau melihat atau
mendengar sesuatu dari rumah Ny. Kim?"
"Animida. Aku tidak
mendengar apa-apa."
"Lalu, seberapa sering
kalian berkomunikasi?" Hhh... entahlah, aku merasa seperti sedang di
interogasi sebagai tersangka dalam hal ini. Pertanyaannya kian menekanku dan membuatku
tidak nyaman.
"Tidak terlalu sering,
sejujurnya. Selain kesibukanku kuliah, aku juga kerja paruh waktu hingga larut
malam. Selain itu, Ny. Kim juga bukan tipikal orang yang suka bersosialisasi.
Selain hanya sapaan kecil, aku belum pernah mengobrol dengan nya. Dan inipun
pertama kalinya aku masuk ke rumahnya." Detektif wanita itu tampak
mengerutkan keningnya sambil terus mencatat.
"Ini. Kami menemukan surat
ini ditangannya saat kami menemukan jasadnya. Terus terang, kami mencurigai
kasus ini sebagai kasus bunuh diri, karena beberapa saat sebelum ambulance
datang ke tempat ini, Ny. Kim sendiri yang menelepon 119 untuk datang dan
menemukan tubuhnya. Penyebab kematiannya adalah over dosis. Dia menelan pil
anti depresannya dalam jumlah banyak. Tapi tentu saja, semua itu baru dugaan.
Kami masih akan melakukan banyak pemeriksaan pada kasus ini. Dan tentang surat
ini, bisakah anda melihatnya? Karena kami akan sangat membutuhkan kesaksian
anda dimasa depan bila kami menemukan perkembangan tentang kasus ini."
Wanita itu menyodorkan selembar
kertas padaku. Aku mengambilnya dengan tanganku yang gemetaran lalu akupun
mulai membacanya.
'Dengan begini, aku harap kau
lebih bahagia, John! Ketiadaanku, semoga ini akan memudahkan hidupmu. Dan juga
dia. Kau tidak perlu menerima serangan dari wanita mabuk yang memukilimu,
mencaci maki dan mengutukmu, hingga merusak rumahmu. Kematianku adalah hadiah
yang kupersembahkan untukmu atas nama cintaku!
Aku terbahak saat aku menulis
ini. Betapa lucunya hidupku. 30 tahun ini mengikat jiwaku dalam pernikahan ini
dengan lelaki yang bahkan tidak menginginkanku lagi.
Tapi sudahlah! Aku mulai merasa
lelah. Geurae!! Habiskan saja hidupmu dengan wanita jalang itu dan membusuk
bersamanya. Aku ingin mewariskan hartaku pada anjingku ini seandainya aku bisa.
Karena aku tidak punya anak, dan bahkan aku lupa... kapan terakhir kali aku
menginginkan kehadirannya... Maka ambilah juga rumah ini dan beberapa yang
sudah aku siapkan untukmu.
Bodohya aku! Saat akan matipun
aku masih memikirkan bagaimana kau akan hidup, Bajingan!
Bahagialah, John!'
Tubuhku kembali berguncang.
Tanganku bergetar hebat usai aku membaca kalimat itu. Dan... aku tidak
mengingat apapun lagi.
*****
Aku membuka mataku dengan aroma
asing yang menusuk hidungku. Aku ingat aroma ini, dan aku membencinya.
Telingaku menangkap banyak suara. Dan tanganku, aku merasa seseorang sedang
menggenggamnya.
"Seohyun ah? Kau sudah
bangun?" Samar, aku melihat Hyo Eonnie sedang duduk disamping tempat
tidurku. Suho juga ada disana. Wajah mereka menatapku penuh kekhawatiran.
"Eonnie, apa yang
terjadi?" Aku mulai sadar, bahwa kini aku sedang berada diatas ranjang
rumah sakit dengan jarum infus menancap ditangan kiriku. Tapi aku tidak ingat,
kenapa aku bisa berada disini.
"Kau pingsan, Seohyun ah.
Saat detektif tadi meminta keterangan darimu, tiba-tiba kau pingsan dan mereka
membawamu kesini." Jawabnya. Ah... maja! Surat itu! Aku ingat apa yang aku
rasakan saat aku membacanya.
"Kau pasti terlalu lelah,
Barbie!! Berapa kali kukatakan untuk pulang cepat dan beristirahat! Kau bahkan
tidak libur sama sekali selama 2 minggu ini. Wajahmu semakin tirus, tubuhmu
juga sangat kurus. Dan akhirnya kau pingsan kan?" Aku melihat mata Suho
seperti akan keluar dari kelopaknya saat dia menceramahiku.
"Mianhae... aku juga tidak
tahu kenapa aku bisa selemah ini. Mungkin karena aku terlalu kaget dengan
berita kematian Ny. Kim."
"Dokter bilang, kau hanya
perlu istirahat, Seohyun ah! Tidak ada penyakit yang serius denganmu selain
kelelahan. Aku akan mengantarmu pulang dan memasakan sesuatu untukmu."
Beruntung, Tuhan mengelilingiku dengan orang-orang seperti Hyo Eonnie, Suho,
Jihyo Eonnie dan Gary Oppa. Disaat seperti ini, mereka selalu menjadi
tangan-tangan Eomma untukku.
*****
Flash Back
"Tabahkan hatimu, Joohyun
ah. Mungkin ini memang yang terbaik untuk Ibumu. Sudah cukup penderitaannya
karena lelaki itu. Dan kini, dia sudah beristirahat dengan tenang." Aku
ingat, pamanku sedang mengusap lembut kepalaku.
"Harusnya Eomma bertahan
demi aku, Samchoon. Harusnya Eomma menunggu sebentar lagi, hingga aku lulus dan
memperoleh uang untuk mengobati penyakitnya. Apa yang harus aku lakukan seorang
diri?" Aku tersedu dihadapan foto berbingkai crisant putih itu. Wajah
Eommaku kini hanya bisa kupandangi dari sana.
"Samchoon dan gumo akan
selalu bersamamu, Joohyun ah. Kau tidak sendirian. Kami yang kini akan
merawatmu." Gumo memberikan pelukan tulusnya.
Eommaku pergi setelah
perjuangannya melawan kanker. Samchoon benar, mungkin ini yang terbaik untuk
Eomma. Tapi bukan itu yang membuatku tidak rela. Kenyataan bahwa ibuku menutup
matanya seorang diri, dalam keadaan sepi dan merindukan laki-laki yang
sebenarnya tidak pantas untuk ditunggu kedatangannya, semua itu melukaiku!
Aku membenci lelaki itu. Aku
membencinya untuk semua rasa sakit yang dia goreskan didalam sisa hidup ibuku.
Dan aku lebih membencinya lagi, setelah aku membaca surat terakhir ibuku.
'Saat kau membaca suratku, mungkin aku sudah tidak ada lagi didunia
ini. Dan gadis kecilmu, mungkin dia sedang menangis dalam kesedihannya kini.
Aku mengharapkanmu untuk berada didekatnya saat ini, Oppa. Memeluknya dan
mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja setelah kepergianku.
Tapi aku sadar, aku bahkan tidak berhak mengharapkanmu kembali. Kau
mungkin sudah bahagia dengan hidupmu kini.
Aku tidak membencimu, Oppa. Bahkan cintaku padamu hingga kini tetap
sama. Tidak ada yang lebih aku inginkan saat ini selain kebahagiaanmu. Jadi
kumohon, bahagialah, Oppa!'
*****
Bip... Bip... Bip...
From : Mr. Blue
01.15 PM
'Chingu, Anyeong! ^^ '
From : Mr. Blue
01.45 PM
'Kau pasti sibuk. ^^ '
From : Mr. Blue
03.05 PM
'Kau sedang apa? Apa KCC sedang menyanderamu lagi?'
From : Mr. Blue
04.00 PM
'Setidaknya, saat kau telah selesai dengan pekerjaanmu, balas pesanku.
Chingu ah..... '
From : Mr. Blue
10.30 PM
'Harusnya kau sudah berada di rumahmu, Hyun.... can you just say hey to
me? :( '
From : Mr. Blue
11.00 PM
'Arasso. Tidurlah. Kau pasti lelah. Good Night, nae chingu! :) '
From : Mr. Blue
11.30 PM
'Bogoshiposeo.....'
Aku membacanya. Aku membaca semua
pesannya tapi aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Aku tidak
tahu, bagaimana aku harus menghadapinya disaat akupun tidak tahu bagaimana aku
harus menghadapi diriku sendiri. Segala ketakutanku, kebencianku, marahku.....
Semua kembali terasa seperti belenggu yang merantai hatiku.
Pada akhirnya, hidup hanya
tentang meninggalkan....
Atau ditinggalkan....
Tak peduli betapapun besarnya
harga cinta yang harus kau bayar....
Sayangnya, terlalu banyak cinta
didunia ini yang dimataku... semua itu tidak layak mendapatkan pengorbanan
konyol itu!
"Miss
You Love"
Silver
Chair
Millionaire
say
Got
a big shot deal
And
thrown it all away but
But
I'm not too sure
How
I'm supposed to feel
Or
what I'm supposed to say
But
I'm not, not sure,
Not
too sure how it feels
To
handle every day
And
I miss you love
Make
room for the prey
'Cause
I'm coming in
With
what I wanna say but
It's
gonna hurt
And
I love the pain
A
breeding ground for hate but...
I'm
not, not sure,
Not
too sure how it feels
To
handle everyday
Like
the one that just past
In
the crowds of all the people

Tidak ada komentar:
Posting Komentar