Selasa, 29 September 2015

In Time With You Chapter 5



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8

Chapter 5

Dé Javu

3 Minggu berlalu sejak hari itu. Aku tidak melihatnya lagi. Ataupun mendengar kabar darinya. Terakhir kali aku menerima pesannya adalah saat dia dan CNBLUE akan melakukan long trip di beberapa kota di Asia. Saat itu dia hanya berpamitan dan minta untuk ku doakan agar pekerjaannya berjalan lancar.

Dan aku melakukannya. Aku selalu menyebut namanya dalam doaku setiap hari.

"Seohyun ah.... kau boleh pulang duluan. Biar aku dan Hyoyeon yang mengerjakan sisanya. Aigoo... gadis ini semakin kurus saja. Pastikan kau makan dengan teratur. Aku tidak ingin orang-orang berfikir kalau aku tidak memperlakukan karyawanku dengan baik." Jihyo Eonnie mengambil lap piring dari tanganku dan mengambil alih pekerjaanku.

"Gwaenchannayo, Eonnie... aku akan menyelesaikannya dulu. Lagipula, ini baru jam 9 malam dan pelanggan masih ramai berdatangan." Aku mengambil lagi lap piring itu dari tangannya.

"Na.. na.. nah!! Geun jashik ah! Cobalah untuk sekali saja menuruti perkataanku, Agassi!! Kau belum mengambil cutimu 2 minggu ini dan lihat matamu! Sesange... siapa yang akan menikahimu nanti, huh? Sudah sana, pulang!! Aku sudah membungkuskan makan malam untuk kalian di belakang. Makan dulu itu, lalu tidurlah." Kali ini, bukan hanya mengambil lap piring dari tanganku, tapi Jihyo Eonnie juga mendorong tubuhku ke arah dapur.

"Suho ah, Hyoyeon ah!! Berikan bungkus makanan miliknya, lepaskan apron di tubuhnya dan tendang pantatnya keluar dari sini!" Aigoo... ahjumma yang satu ini benar-benar!! Diusia kandungannya yang sudah tinggal menghitung hari saja, dia pun masih tetap datang bekerja. Dan baru saja dia komplain tentang betapa kerasnya aku bekerja? Aku kan hanya mencontoh dirinya, karena aku benar-benar mengaguminya.

*****

Aku tiba di rumahku setengah jam kemudian. Harus aku akui, sejujurnya aku memang lelah. Kepalaku sakit. Begitupun dengan punggung dan kakiku.

Usai mandi dan membersihkan tubuhku, aku memakan makanan pemberian Jihyo Eonnie sambil menonton siaran TV. Tidak ada yang menarik. Hanya beberapa drama dengan jalan cerita yang clicé dan bisa aku tebak endingnya. Lalu aku mematikannya lagi dan segera masuk kedalam kamarku begitu aku menyelesaikan makanku.

Pukul 10 malam. Aku tidak terbiasa tidur seawal ini. Aku mengambil beberapa novel dari rak buku disamping tempat tidurku, sambil kunyalakan Mp3 playerku dan Shade Of Blue dari Incognito menemani malam sepi ini. Beberapa menit kemudian, aku tidak mengingat apapun lagi.

*****

"Joohyun ah, bagaimana menurutmu gaun ini?" Aku mendengar Eomma memanggilku dari ruang ganti. Akupun menghampirinya.

"Lihat... cantik, bukan?" Eomma menunjukkan sebuah gaun putih padaku. Pada Joohyun yang masih berusia 9 tahun.

"Nde, Eomma. Jinjja yippoda."

"Kau menyukainya?" Eomma berlutut dihadapanku dan kini tubuh kami nyaris sama tinggi.

"Nde, Eomma. Aku benar-benar menyukainya." Aku tersenyum senang.

"Jeongmal? Geurae... Eomma akan membelikannya untukmu." Eomma mencubit pipiku dan aku tertawa kegirangan.

Eomma lalu mengajakku berjalan. Tempat ini begitu ramai dan aku yakin ini adalah taman hiburan. Eomma membelikanku ice cream, gula-gula kapas, juga beberapa akaesoris rambut yang lucu-lucu.

Hingga kamipun duduk disebuah bangku yang terletak ditengah sebuah taman bunga. Eomma memegang tanganku lalu berkata.

"Uri Joohyun ah, kelak kau harus tumbuh menjadi seorang perempuan yang anggun. Yang penuh kelembutan dan pandai menempatkan dirimu dimanapun kau berada. Gaun putih ini, Eomma hadiahkan untukmu, karena kini kau sudah tumbuh menjadi gadis kecil Eomma. Saat kau dewasa nanti, bila saatnya tiba, Eomma akan memberikanmu satu gaun putih lagi. Saat itu, kau pasti sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik." Eomma merapihkan poniku.

"Tapi aku tidak ingin gaun berwarna putih lagi, Eomma. Aku ingin gaun berwarna pink." Jawabku. Eomma tertawa kecil mendengar celotehan polosku.

"Pink? Kau menyukai warna pink?" Eomma bertanya.

"Nde, Eomma. Aku suka warna pink."

"Geurae. Karena kau putri yang cantik, maka kau boleh memakai gaun berwarna pink saat kau menikah nanti." Eomma kembali tertawa kecil.

"Menikah? Aku kan masih kecil, Eomma. Kenapa aku harus menikah?" Eomma tertawa sekali lagi. Kali ini lebih lebar dari sebelumnya.

"Kau benar, anakku. Saat ini kau masih menjadi gadis kecilku. Tapi waktu akan cepat berlalu dan kau... akan tumbuh menjadi peremuan yang mengagumkan. Kau akan dikagumi banyak pria dan mereka akan berebut untuk bisa memilikimu. Tapi hanya akan ada satu pria paling beruntung yang akan menikahi putriku. Dan saat itu, aku akan berada disisimu sambil menggenggam sapu tanganku karena aku tidak bisa menyembunyikan air mata haruku." Eomma masih tersenyum sambil mengusap kepalaku.

"Karena itu, kau harus hidup dengan baik mulai sekarang. Makan dengan baik, tidur dengan baik, dan satu hal yang paling penting yang tidak boleh kau lupakan. Ini.... " Eomma menyentuh dadaku, dan aku tidak mengerti maksud semua itu pada mulanya.

"Ini. Sesuatu yang ada didalam sini. Hatimu. Budi pekerti dan perangaimu. Jagalah itu selalu, Uri Ddal..."

*****

Ya Tuhan, sudah pukul 9 pagi dan aku baru saja membuka mataku. Aku mengangkat tubunku yang masih terasa berat lalu duduk untuk sejenak. Bayangan mimpi semalam masih terasa nyata.

Eomma....

Indah wajahnya, rasanya masih ingin aku melihatnya lebih lama. Aku beranjak dari dudukku lalu membuka tirai jendela kamarku. Matahari sudah terik bersinar. Tiba-tiba sebuah mobil ambulance datang dan berhenti tepat di depan rumah Ny. Kim. Beberapa orang petugas kulihat sedang berlari dengan sigap sambil membawa peralatan mereka dan memasuki halaman rumah ini.

Ny. Kim.....

Aku segera berlari kebawah dan mencari tahu apa yang terjadi. Betapa terkejutnya aku, saat aku tahu bahwa wanita berusia 50 tahunan itu sudah ditemukan tidak bernyawa diruang TVnya. Seluruh tubuhku berguncang. Kakiku seperti kehilangan tulang penyangganya, dan aku nyaris ambruk ditanah. Beruntung, salah seorang petugas medis memapahku berdiri.

Beberapa waktu kemudian, jasad Ny. Kim sudah dibawa ambulance tadi menuju rumah sakit untuk keperluan otopsi. Dan aku tertahan disini, dirumahnya bersama beberapa orang detektif dan officer polisi.

"Seo Joohyun Ssi, kapan terakhir kali anda bertemu atau berinteraksi dengan Ny. Kim Hyesil?" Seorang detektif wanita menanyaiku setelah memberiku secangkir teh hangat dan keadaanku yang jauh lebih baik daripada beberapa waktu lalu saat pertama kali aku mendengar kabar itu.

"Sekitar 2 hari yang lalu. Aku menyapa nya saat dia sedang menyiram kebunnya." Jawabku singkat. Sejujurnya, fikiranku masih kosong dan tidak percaya dengan apa yang terjadi.

"Lalu, apa anda melihat seseorang mendatanginya, atau berbicara dengannya?" Tanya wanita itu lagi.

"Aku tidak tahu. Aku menyapanya saat aku akan pergi kuliah. Sekitar pukul 8 pagi. Dan malamnya, aku kembali dari kerja part time ku pukul 11.45 malam. Tapi Kemarin pagi, aku masih mendengarnya memanggil-manggil anjingnya. Seperti biasanya, Ny. Kim hanya terdengar berbicara pada anjingnya saja." Detektif wanita itu tampak membuat catatan-catatan kecil di note booknya.

"Lalu, pukul berapa kau pulang tadi malam?" Sekali lagi dia bertanya. Kali ini matanya menatapku lebih tajam.

"Sekitar pukul 10 malam. Aku pulang lebih awal karena bosku memberiku ijin. Tapi aku langsung tertidur usai menghabiskan makan malamku."

"Apa kau melihat atau mendengar sesuatu dari rumah Ny. Kim?"

"Animida. Aku tidak mendengar apa-apa."

"Lalu, seberapa sering kalian berkomunikasi?" Hhh... entahlah, aku merasa seperti sedang di interogasi sebagai tersangka dalam hal ini. Pertanyaannya kian menekanku dan membuatku tidak nyaman.

"Tidak terlalu sering, sejujurnya. Selain kesibukanku kuliah, aku juga kerja paruh waktu hingga larut malam. Selain itu, Ny. Kim juga bukan tipikal orang yang suka bersosialisasi. Selain hanya sapaan kecil, aku belum pernah mengobrol dengan nya. Dan inipun pertama kalinya aku masuk ke rumahnya." Detektif wanita itu tampak mengerutkan keningnya sambil terus mencatat.

"Ini. Kami menemukan surat ini ditangannya saat kami menemukan jasadnya. Terus terang, kami mencurigai kasus ini sebagai kasus bunuh diri, karena beberapa saat sebelum ambulance datang ke tempat ini, Ny. Kim sendiri yang menelepon 119 untuk datang dan menemukan tubuhnya. Penyebab kematiannya adalah over dosis. Dia menelan pil anti depresannya dalam jumlah banyak. Tapi tentu saja, semua itu baru dugaan. Kami masih akan melakukan banyak pemeriksaan pada kasus ini. Dan tentang surat ini, bisakah anda melihatnya? Karena kami akan sangat membutuhkan kesaksian anda dimasa depan bila kami menemukan perkembangan tentang kasus ini."

Wanita itu menyodorkan selembar kertas padaku. Aku mengambilnya dengan tanganku yang gemetaran lalu akupun mulai membacanya.

'Dengan begini, aku harap kau lebih bahagia, John! Ketiadaanku, semoga ini akan memudahkan hidupmu. Dan juga dia. Kau tidak perlu menerima serangan dari wanita mabuk yang memukilimu, mencaci maki dan mengutukmu, hingga merusak rumahmu. Kematianku adalah hadiah yang kupersembahkan untukmu atas nama cintaku!

Aku terbahak saat aku menulis ini. Betapa lucunya hidupku. 30 tahun ini mengikat jiwaku dalam pernikahan ini dengan lelaki yang bahkan tidak menginginkanku lagi.

Tapi sudahlah! Aku mulai merasa lelah. Geurae!! Habiskan saja hidupmu dengan wanita jalang itu dan membusuk bersamanya. Aku ingin mewariskan hartaku pada anjingku ini seandainya aku bisa. Karena aku tidak punya anak, dan bahkan aku lupa... kapan terakhir kali aku menginginkan kehadirannya... Maka ambilah juga rumah ini dan beberapa yang sudah aku siapkan untukmu.

Bodohya aku! Saat akan matipun aku masih memikirkan bagaimana kau akan hidup, Bajingan!

Bahagialah, John!'

Tubuhku kembali berguncang. Tanganku bergetar hebat usai aku membaca kalimat itu. Dan... aku tidak mengingat apapun lagi.

*****

Aku membuka mataku dengan aroma asing yang menusuk hidungku. Aku ingat aroma ini, dan aku membencinya. Telingaku menangkap banyak suara. Dan tanganku, aku merasa seseorang sedang menggenggamnya.

"Seohyun ah? Kau sudah bangun?" Samar, aku melihat Hyo Eonnie sedang duduk disamping tempat tidurku. Suho juga ada disana. Wajah mereka menatapku penuh kekhawatiran.

"Eonnie, apa yang terjadi?" Aku mulai sadar, bahwa kini aku sedang berada diatas ranjang rumah sakit dengan jarum infus menancap ditangan kiriku. Tapi aku tidak ingat, kenapa aku bisa berada disini.

"Kau pingsan, Seohyun ah. Saat detektif tadi meminta keterangan darimu, tiba-tiba kau pingsan dan mereka membawamu kesini." Jawabnya. Ah... maja! Surat itu! Aku ingat apa yang aku rasakan saat aku membacanya.

"Kau pasti terlalu lelah, Barbie!! Berapa kali kukatakan untuk pulang cepat dan beristirahat! Kau bahkan tidak libur sama sekali selama 2 minggu ini. Wajahmu semakin tirus, tubuhmu juga sangat kurus. Dan akhirnya kau pingsan kan?" Aku melihat mata Suho seperti akan keluar dari kelopaknya saat dia menceramahiku.

"Mianhae... aku juga tidak tahu kenapa aku bisa selemah ini. Mungkin karena aku terlalu kaget dengan berita kematian Ny. Kim."

"Dokter bilang, kau hanya perlu istirahat, Seohyun ah! Tidak ada penyakit yang serius denganmu selain kelelahan. Aku akan mengantarmu pulang dan memasakan sesuatu untukmu." Beruntung, Tuhan mengelilingiku dengan orang-orang seperti Hyo Eonnie, Suho, Jihyo Eonnie dan Gary Oppa. Disaat seperti ini, mereka selalu menjadi tangan-tangan Eomma untukku.

*****

Flash Back

"Tabahkan hatimu, Joohyun ah. Mungkin ini memang yang terbaik untuk Ibumu. Sudah cukup penderitaannya karena lelaki itu. Dan kini, dia sudah beristirahat dengan tenang." Aku ingat, pamanku sedang mengusap lembut kepalaku.

"Harusnya Eomma bertahan demi aku, Samchoon. Harusnya Eomma menunggu sebentar lagi, hingga aku lulus dan memperoleh uang untuk mengobati penyakitnya. Apa yang harus aku lakukan seorang diri?" Aku tersedu dihadapan foto berbingkai crisant putih itu. Wajah Eommaku kini hanya bisa kupandangi dari sana.

"Samchoon dan gumo akan selalu bersamamu, Joohyun ah. Kau tidak sendirian. Kami yang kini akan merawatmu." Gumo memberikan pelukan tulusnya.

Eommaku pergi setelah perjuangannya melawan kanker. Samchoon benar, mungkin ini yang terbaik untuk Eomma. Tapi bukan itu yang membuatku tidak rela. Kenyataan bahwa ibuku menutup matanya seorang diri, dalam keadaan sepi dan merindukan laki-laki yang sebenarnya tidak pantas untuk ditunggu kedatangannya, semua itu melukaiku!

Aku membenci lelaki itu. Aku membencinya untuk semua rasa sakit yang dia goreskan didalam sisa hidup ibuku. Dan aku lebih membencinya lagi, setelah aku membaca surat terakhir ibuku.

'Saat kau membaca suratku, mungkin aku sudah tidak ada lagi didunia ini. Dan gadis kecilmu, mungkin dia sedang menangis dalam kesedihannya kini. Aku mengharapkanmu untuk berada didekatnya saat ini, Oppa. Memeluknya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja setelah kepergianku.

Tapi aku sadar, aku bahkan tidak berhak mengharapkanmu kembali. Kau mungkin sudah bahagia dengan hidupmu kini.

Aku tidak membencimu, Oppa. Bahkan cintaku padamu hingga kini tetap sama. Tidak ada yang lebih aku inginkan saat ini selain kebahagiaanmu. Jadi kumohon, bahagialah, Oppa!'

*****

Bip... Bip... Bip...

From : Mr. Blue
01.15 PM
'Chingu, Anyeong! ^^ '

From : Mr. Blue
01.45 PM
'Kau pasti sibuk. ^^ '

From : Mr. Blue
03.05 PM
'Kau sedang apa? Apa KCC sedang menyanderamu lagi?'

From : Mr. Blue
04.00 PM
'Setidaknya, saat kau telah selesai dengan pekerjaanmu, balas pesanku. Chingu ah..... '

From : Mr. Blue
10.30 PM
'Harusnya kau sudah berada di rumahmu, Hyun.... can you just say hey to me? :( '

From : Mr. Blue
11.00 PM
'Arasso. Tidurlah. Kau pasti lelah. Good Night, nae chingu! :) '

From : Mr. Blue
11.30 PM
'Bogoshiposeo.....'

Aku membacanya. Aku membaca semua pesannya tapi aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Aku tidak tahu, bagaimana aku harus menghadapinya disaat akupun tidak tahu bagaimana aku harus menghadapi diriku sendiri. Segala ketakutanku, kebencianku, marahku..... Semua kembali terasa seperti belenggu yang merantai hatiku.

Pada akhirnya, hidup hanya tentang meninggalkan....

Atau ditinggalkan....

Tak peduli betapapun besarnya harga cinta yang harus kau bayar....

Sayangnya, terlalu banyak cinta didunia ini yang dimataku... semua itu tidak layak mendapatkan pengorbanan konyol itu!

"Miss You Love"
Silver Chair

Millionaire say
Got a big shot deal
And thrown it all away but
But I'm not too sure
How I'm supposed to feel
Or what I'm supposed to say
But I'm not, not sure,
Not too sure how it feels
To handle every day
And I miss you love

Make room for the prey
'Cause I'm coming in
With what I wanna say but
It's gonna hurt
And I love the pain
A breeding ground for hate but...

I'm not, not sure,
Not too sure how it feels
To handle everyday
Like the one that just past
In the crowds of all the people
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar