In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 13
How, If I Do Really Fall In Love With You?
Mentari mulai bersinar terik dan
cahayanya menyelusup melalui celah-celah tirai jendela kamarnya. Kedua tubuh
lelah itu masih terbaring disana. Berbagi ruang seadanya hingga terlelap dalam
pelukan masing-masing.
Tanpa mereka sadari.
Mereka bahkan mungkin tidak
mengingatnya, kapan Yonghwa mulai berhenti menangis dalam dekapan Seohyun lalu
tertidur begitu lelap. Begitupun gadis itu. Bagaimana bisa dia berakhir disana?
Dalam pelukan Yonghwa yang sebelumnya berada dalam dekapnya.
Perlahan, Seohyun membuka kedua
matanya. Wajah itu. Kedua mata sembab itu sedang menatapnya seribu makna.
Seketika fikirannya sibuk mencari tahu bagaimana bisa semua ini terjadi?
Mengapa dia terbangun disini? Didalam kamar yang baru pertama kalinya Seohyun
berada di dalamnya. Diatas tempat tidurnya.
Dalam dekapannya.
Tapi perasaan aneh itu
mengacaukan segalanya. Hingga Seohyun tidak punya waktu untuk melakukan apa
yang seharusnya dia lakukan kala akal sehatnya berfungsi dengan baik. Dia hanya
membalas tatapan laki-laki dihadapannya dan membiarkan waktu berhenti disana.
"Good morning..... Seo
Joohyun." Suara seraknya terdengar semerdu simfoni menyapa pagi.
"Good morning..... Jung
Yonghwa." Begitupun suara Seohyun ditelinganya.
Semua terasa seperti mimpi. Mimpi
yang bahkan tidak berani mereka minta. Perlahan, dengan lembut jemari Yonghwa
mulai menelusuri setiap inci wajah gadis dihadapannya. Lewat setiap sentuhan
itu dia ingin meyakinkan dirinya bahwa semua ini nyata. Bukan hanya delusinya.
"Bagaimana bisa kau ada
disini, Hyun?" Bisiknya, masih terdengar serak.
"Mianhae, Oppa. Aku masuk
kedalam kamarmu tanpa ijinmu dulu. Aku hanya..."
"Gomawo!
.................
Gomawo, Hyun.. untuk datang dan
memelukku. Aku hampir gila dengan teror-teror itu. Dan semalam.... jika saja
kau tak datang dan membangunkan aku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
Mungkin aku harus berakhir didalam ruang sepi itu lagi. Seperti waktu
itu." Suaranya lirih, dan puing-puing luka tergambar jelas dimatanya.
Ruang sepi itu. Bahkan terasa
lebih kejam daripada penjara baginya.
"Melihatmu semalam, kau
membuatku takut, Oppa." Seohyun berbisik tak kalah lirih. Jemari Yonghwa
masih mengusap halus wajahnya.
"Mianhae. Aku tidak ingin
membuatmu takut, Joohyun ah. Sejujurnya, aku juga tidak ingin kau mengetahui
sisi ini dari diriku yang hanya akan membuatmu semakin jauh dariku."
"Wae? Kenapa kau harus takut
aku menjauh darimu? Sementara jarak antara kita beberapa waktu ini, kau
sendirilah yang membentangkannya, Oppa." Seohyun menatapnya lebih lekat
dan Yonghwa... untuk sesaat bibirnya
membeku, tak mampu berucap.
"Kau benar, Joohyun ah!
Semua ini salahku. Aku bahkan tidak berhak menginginkan apa-apa darimu."
Yonghwa menghindari tatapan Seohyun kali ini. Terlalu banyak rasa takut yang
ingin dia sembunyikan, yang mungkin bisa Seohyun lihat lewat kedua matanya.
"Wae? Kenapa kau tak
bisa?" Rasa ingin tahu itu mendesak tiba-tiba. Seohyun merasa, kali ini
mungkin waktu yang tepat untuknya mengetahui segala misteri itu.
"Karena...." Yonghwa
kembali menatap mata gadis dihadapannya.
"Terlalu banyak luka dalam
hidupku yang mungkin tak akan mudah untuk kau mengerti, Hyun. Semakin aku
menikmati kebersamaan kita, waktu yang kita lewati dan bagi bersama, juga saat
aku semakin merasa bahwa eksistensimu benar-benar membawa perubahan dalam
hidupku,
....................
Semua itu membuatku takut."
Suaranya masih terdengar serak dan nyaris berbisik. Tapi Seohyun bisa
mendengarnya. Dia juga bisa merasakannya.
“Seo Joohyun... How, if i do
really fall in love with you? Ottokhae?" Lirih, kalimat itu mengalun
ditelinga Joohyun yang masih terkunci ditempatnya berbaring. Berwarna-warni
rasa memenuhi ruang hatinya. Bagaimanapun, betapapun menakutkannya jalan yang
akan dia temukan dimasa depan, dia tidak mampu menyangkal bahwa sudah lama
dirinya menunggu kata-kata itu. Setidaknya, dia membutuhkan sebuah kepastian.
Bukan sekedar pengakuan.
"Tak bisakah? Apa yang
membuatmu tak bisa, Oppa? Setidaknya, setelah apa yang terjadi diantara kita...
betapapun kau berusaha menghindariku dan begitupun aku yang sekuatnya mencoba
untuk menempatkan dirimu diluar hatiku,
Tetap saja, diakui atau tidak,
ada ikatan tak kasat mata yang membuat usaha kita sia-sia. Seperti tadi malam.
Dan pagi ini, apa yang akan kau
jelaskan padaku tentang bagaimana kita bisa terbangun dalam pelukan
masing-masing?" Kedua mata mereka saling bertaut.
"Oppa..... setidaknya
katakan padaku, bahwa aku tidak sedang merendahkan diriku saat ini!"
Mendengar kalimat terakhir itu, dengan serta merta Yonghwa segera menarik tubuh
Seohyun dan menguncinya dalam pelukannya. Erat, Yonghwa memeluknya.
"No.. no, Baby! Jangan
pernah berfikir seperti itu. Andwe!! I'm sorry, i never mean to make you feel
that way.
Untukku, kau istimewa, Seo
Jooyun. Kau tidak akan pernah mengerti betapa aku berterima kasih karena kau
berada disisiku saat ini, bahkan saat aku membuka kedua mataku.
You are so special and more than
that... i need you, Hyun...." Lembut, Yonghwa mengecup puncak kepala
Seohyun hingga dia bisa menghirup aroma lavender dari rambutnya.
"Then just let it be, Oppa.
Kita lihat... akan sejauh apa perjalan ini menyeret kaki kita saat kisah ini
dimulai."
"Mungkin aku bisa melukaimu,
Hyun!"
"Mungkin aku juga bisa
melukaimu, Oppa!"
Perlahan, Yonghwa melepaskan
pelukannya dan kembali menatap lekat wajah perempuan dihadapannya.
"Kau tahu, Hyun.. akan
banyak cacad yang kau temukan dalam diriku seiring waktu. Semakin banyak kau
menemukannya, mungkin caramu melihatku tak akan lagi sama."
"Begitupun aku, Oppa. Ada banyak luka yang juga harus aku
sembuhkan. Aku juga tidak punya cukup nyali untuk mempertaruhkan kebahagiaanku
dalam sebuah hubungan yang complex seperti kebanyakan orang. Aku takut, Oppa...."
Suaranya lirih, nyaris tak terdengar. Matanya menatap sendu. Yonghwa seperti
melihat cermin yang menunjukkan rasa takut serupa dalam dirinya saat dia
menatap mata Seohyun.
"Na do, Hyun..."
Suaranya tak kalah lirih.
"Sometimes, i thought about
it. My feeling, your feeling, and the unspoken things between us. At least,
isn't it worth to have a try? We have to figure it out that we deserve for
this, so we can find where exactly we have to stand. But i can't promise you
anything, Hyun. For now, i can't." Yonghwa mengusap lembut wajah Seohyun
sekali lagi.
"Dan aku tidak pernah
memintanya, Oppa. Aku tidak pernah memaksamu untuk berjanji padaku. Arasso!
Paling tidak aku tahu posisiku."
"No, Honey... please!"
Yonghwa mengunci wajah Seohyun dengan kedua telapak tangannya dan menatapnya
lebih dalam.
"Yang ingin aku katakan saat
ini adalah....
Bisakah kau menungguku? Bisakah
kau tetap berdiri ditempatmu kini, hingga aku bisa melengkapi keping-keping
puzzle yang sempat terserak dalam hidupku dan aku bisa berdiri dihadapanmu
sebagai diriku yang utuh. Sedikit lagi, Hyun. Hanya tinggal sedikit lagi. Would
you?"
Yonghwa menatapnya penuh
pengharapan. Sebut saja dia serakah, karena meski saat ini dia tak mampu
melakukan apa-apa, tapi dia akan mulai mencoba memperbaiki segalanya satu persatu.
Terutama tentang tanggung jawabnya pada Kim Hyunna.
Tidak. Dia tidak bisa bersama
Seohyun, sebelum dia membuat segalanya jelas dengan Hyunna.
Seohyun hanya mengangguk
perlahan, meski sejujurnya dia tidak yakin bahwa keputusannya adalah benar.
Dalam hal ini, dia sadar akan menjadi orang yang paling terluka bila masa depan
tidak seperti keinginannya. Tapi biar saja. Biar dia mencobanya.
Perlahan, Yonghwa kembali
menariknya kedalam pelukannya. Beberapa waktu, dia hanya memeluknya sambil
mengusap-usap punggung gadis itu.
"Aku cemburu, Hyun! Aku
cemburu hingga hampir gila rasanya." Seohyun tertegun untuk sejenak. Apa
yang dia maksud adalah kejadian semalam? Kali ini Seohyun yang melepaskan
pelukannya, lalu menatap Yonghwa dimatanya.
"Sejak kapan kau melihatku
di Café itu tadi malam?"
"Sejak sebelum kau datang
dan dia menggenggam tanganmu." Raut wajahnya berubah saat bayangan tentang
kejadian tadi malam terlintas lagi di benaknya.
"Jadi Oppa sudah ada disana
sebelum aku datang?"
Yonghwa hanya mengangguk pelan.
"Lalu kenapa kau tidak
datang menghampiriku lebih awal?"
"Karena aku takut, Hyun. Aku
takut kau akan melihat segalanya. Tentang betapa bodohnya hal yang akan aku
lakukan pada sahabatmu karena rasa cemburuku. Aku takut aku tidak bisa
menahannya. Dan lagi... Oh God... i hate it!! Hatiku sakit melihatmu tersenyum
dan tertawa bersamanya, Seo Joohyun!"
"Mwo? Aigoo... Oppa..."
Berbanding terbalik dengan wajah murung Yonghwa, Seohyun justru tertawa kecil
usai mendengar pengakuan menggelikan itu.
"What? You think it's funny,
huh?"
"Ani ah, geunyang...
.................
Hei.. Jung Yonghwa Ssi, bagaimana
bisa kau cemburu pada lelaki yang hanya menggandeng tanganku sementara kau
sudah mencuri ciuman pertamaku?"
Seohyun menatap Yonghwa disela senyumnya.
Lelaki itu tertegun mendengarnya.
"Was it.... really your
first kiss?" Dengan bodohnya Yonghwa bertanya. Dan Seohyun hanya
menganggukan kepalanya.
"I swear to God that if it
wasn't you, then i would smack your nose right there! Tapi aku membiarkannya,
Oppa! Aku membiarkanmu mengambilnya dariku meski tanpa persetujuanku lebih
dulu."
Rasa bersalah itu kembali
singgah. He really was a jerk! Yonghwa ingin sekali mengembalikan apa yang
sudah di ambilnya bila saja dia bisa melakukannya.
"Mianhae, Hyun... i know
that i was totally bastard! Kalau kau ingin menamparku untuk semua itu, maka
lakukanlah! Aku tidak akan mengelak, malah semua itu bisa mengurangi rasa
bersalahku padamu." Seohyun hanya tersenyum tipis mendengarnya.
"Bukankah sudah kukatakan, Oppa!
Kau tidak perlu minta maaf untuk itu. Gwaenchanna!"
"Jinjja"
"Oh..."
"Lalu.... bila aku
memintanya sekali lagi....
Akankah kau memberinya
lagi?"
"MWO??!!!!"
Dan tawa keduanya pun pecah,
menggema di seisi ruang kamarnya. Tawa, yang sudah lama tidak mereka bagi
bersama.
"I missed you, Seo
Joohyun!" Bisiknya, usai meredakan tawanya.
"I missed you too.... Jung Yonghwa!"
*****
Seohyun memutuskan untuk
mengambil off nya di KCC hari itu. Begitupun Yonghwa. Tentu saja, lelaki ini
tak bisa pergi kemanapun selama sembab dimatanya belum menghilang. Usai
menangis hebat, kini Yonghwa harus bersabar dengan kantung mata dan lingkaran
hitam disekitar matanya.
Meski keduanya enggan beranjak
dari tempat tidur Yonghwa, lebih tepatnya, mereka enggan untuk melepaskan
pelukan masing-masing, apa daya... mereka tidak bisa berkompromi dengan rasa
lapar diperut mereka. Akhirnya, pukul 11 siang, mereka keluar dari kamar
Yonghwa lalu menikmati brunch mereka di kursi balcon.
Langit Seoul siang itu begitu
cerah. Dan riak air sungai Han tampak begitu tenang dari ketinggian apartment
ini.
Seohyun menyiapkan 2 piring
omrise dengan kimchi dan ikan goreng. Tak lupa juga 2 gelas susu coklat dingin
yang baru dia keluarkan dari lemari es.
Yonghwa menikmatinya. Benar-benar
menikmatinya. Hingga rasanya, dia ingin kembali meledakan tangisnya untuk
kebahagiaan yang dia rasakan kala itu, andai saja dia bukan pria berumur 27
tahun dan sedang berhadapan dengan gadis yang dia cintai.
Cinta?
Kata itu tak lagi terdengar
angker untuknya.
"It feels so nice...."
Sekali lagi Yonghwa bergumam.
"Jinjja?"
"Hhm.. Aku tidak pernah
membayangkan akan sebaik ini rasanya. Dulunya, balcon ini adalah tempat yang
paling aku hindari, karena disini, aku hanya akan merasa semakin kesepian.
Thank you for coming, Hyun. Taman kecil ini tampak sempurna dengan
kehadiranmu."
Seohyun sontak meledakkan
tawanya, usai mendengar roman picisan ala Yonghwa barusan. Dan Yonghwa dibuat
tertegun karenanya.
"Wae?!! Wae ulgo ya?"
"Geunyang.... Oppa...
jebbal! Kau benar, kau sebaiknya jangan pernah menjadi penulis, karena
kata-kata mu... Ya Tuhan.... bagaimana bisa kata-kata manis bisa terdengar
begitu mengerikan..." Seohyun kembali tertawa dan kali ini dia benar-benar
merasa kram di perutnya.
"Yak!!! Aku hanya mencoba
mengatakan hal yang manis tentangmu!! Haisshh!! Sudahlah! Andai aku tahu
reaksimu akan seperti ini, lebih baik aku tidak perlu menyia-nyiakan
bakatku!" Yonghwa melingkarkan kedua tangannya didadanya, lalu membuang
pandangannya ke arah sungai Han.
"Aigoo... arasso, arasso!
Gomawo, Oppa! Kau adalah orang pertama yang membuatku tersanjung dengan
kata-katamu!" Mendengarnya, Yonghwa kembali menghadapkan wajahnya ke arah
Seohyun dengan senyumnya.
"Jinjja??!" Matanya
mulai berbinar lagi.
"Tentu saja aku bohong,
Oppa! Ah.. chamm!! Mana mungkin diusiaku ini aku tidak pernah mendapat
kata-kata manis dari seorang pria. Aku bahkan mendapatkan bouquet bunga,
coklat, sebuah lagu yang dinyanyikan dengan gitar yang dia ciptakan untukku,
beberapa pernak-pernik dan accesories... Ya... aku pernah menerima semua itu,
Oppa."
Seketika, senyum di wajah Yonghwa
kembali sirna.
"Aigoo... kau sedang pamer
yah? Chukkhae, kau berhasil merusak suasana, Seo Joohyun Ssi! Haishh!!!"
"Arasso, arasso! Mian, Oppa!
Okay, Just enjoy this moment, Mr. Blue!" Seohyun merekahkan senyum
termanisnya, tapi... Yonghwa hanya menatapnya dengan senyum tak terartikan.
"Aku bukan Mr. Blue, Hyun. I
told you that before.
Aku adalah Mr. Gold."
Seohyun mengerutkan keningnya.
Sejujurnya, saat itupun dirinya sama sekali tidak mengerti tentang maksud
ucapannya yang satu ini. Siapa itu Mr. Blue, Mr. Gold, dan Mr. Red.
Ani... sebenarnya apa hubungan
ketiga nya?
"Lalu.... siapa itu Mr.
Blue?"
Yonghwa kembali melayangkan
matanya kearah sungai Han usai mendengar pertanyaan itu. Sejenak, dia terdiam
dan berfikir. Dia kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya pada Seohyun.
"Geunyang ddarawa!!"
Seohyun menyambut uluran tangan
itu lalu berjalan mengikutinya.
"Writing's
On The Wall"
Sam
Smith
I've been here before
But always hit the floor
I've spent a lifetime running
And I always get away
But with you I'm feeling something
That makes me want to stay
I'm prepared for this
I never shoot to miss
But I feel like a storm is coming
If I'm gonna make it through the day
Then there's no more use in running
This is something I gotta face
If I risk it all
Could you break my fall?
How do I live? How do I breathe?
When you're not here I'm suffocating
I want to feel love, run through my blood
Tell me is this where I give it all up?
For you I have to risk it all
Cause the writing's on the wall
A million shards of glass
That haunt me from my past
As the stars begin to gather
And the light begins to fade
When all hope begins to shatter
Know that I won't be afraid
If i risk it all
Could you break my fall?
Author Note : Makasih yaaah... udah pada sabar... :P
Author Note : Makasih yaaah... udah pada sabar... :P

Akhirnya yg ditunggu. . . hehehe bagus banget ceritanya semangat yah ditunggu kelanjutan ceritanya
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAkhirnya yg ditunggu. . . hehehe bagus banget ceritanya semangat yah ditunggu kelanjutan ceritanya
BalasHapusAkhirnya yg ditunggu. . . hehehe bagus banget ceritanya semangat yah ditunggu kelanjutan ceritanya
BalasHapusLanjut,eonniee..
BalasHapusLanjuuuuttttt.. ;*
Oeeniii.... ayoooo lanjut..mr.blue..hyuna.. dan mimpi itu penasarannn
BalasHapus❤❤❤❤❤❤❤👍👍👍👍👍👍👍👍👍
BalasHapus❤❤❤❤❤❤❤👍👍👍👍👍👍👍👍👍
BalasHapus