Rabu, 21 Oktober 2015

In Time With You Chapter 13



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8
  


Chapter 13

How, If I Do Really Fall In Love With You?

Mentari mulai bersinar terik dan cahayanya menyelusup melalui celah-celah tirai jendela kamarnya. Kedua tubuh lelah itu masih terbaring disana. Berbagi ruang seadanya hingga terlelap dalam pelukan masing-masing.

Tanpa mereka sadari.

Mereka bahkan mungkin tidak mengingatnya, kapan Yonghwa mulai berhenti menangis dalam dekapan Seohyun lalu tertidur begitu lelap. Begitupun gadis itu. Bagaimana bisa dia berakhir disana? Dalam pelukan Yonghwa yang sebelumnya berada dalam dekapnya.

Perlahan, Seohyun membuka kedua matanya. Wajah itu. Kedua mata sembab itu sedang menatapnya seribu makna. Seketika fikirannya sibuk mencari tahu bagaimana bisa semua ini terjadi? Mengapa dia terbangun disini? Didalam kamar yang baru pertama kalinya Seohyun berada di dalamnya. Diatas tempat tidurnya.

Dalam dekapannya.

Tapi perasaan aneh itu mengacaukan segalanya. Hingga Seohyun tidak punya waktu untuk melakukan apa yang seharusnya dia lakukan kala akal sehatnya berfungsi dengan baik. Dia hanya membalas tatapan laki-laki dihadapannya dan membiarkan waktu berhenti disana.

"Good morning..... Seo Joohyun." Suara seraknya terdengar semerdu simfoni menyapa  pagi.

"Good morning..... Jung Yonghwa." Begitupun suara Seohyun ditelinganya.

Semua terasa seperti mimpi. Mimpi yang bahkan tidak berani mereka minta. Perlahan, dengan lembut jemari Yonghwa mulai menelusuri setiap inci wajah gadis dihadapannya. Lewat setiap sentuhan itu dia ingin meyakinkan dirinya bahwa semua ini nyata. Bukan hanya delusinya.

"Bagaimana bisa kau ada disini, Hyun?" Bisiknya, masih terdengar serak.

"Mianhae, Oppa. Aku masuk kedalam kamarmu tanpa ijinmu dulu. Aku hanya..."

"Gomawo!

.................

Gomawo, Hyun.. untuk datang dan memelukku. Aku hampir gila dengan teror-teror itu. Dan semalam.... jika saja kau tak datang dan membangunkan aku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin aku harus berakhir didalam ruang sepi itu lagi. Seperti waktu itu." Suaranya lirih, dan puing-puing luka tergambar jelas dimatanya.

Ruang sepi itu. Bahkan terasa lebih kejam daripada penjara baginya.

"Melihatmu semalam, kau membuatku takut, Oppa." Seohyun berbisik tak kalah lirih. Jemari Yonghwa masih mengusap halus wajahnya.

"Mianhae. Aku tidak ingin membuatmu takut, Joohyun ah. Sejujurnya, aku juga tidak ingin kau mengetahui sisi ini dari diriku yang hanya akan membuatmu semakin jauh dariku."

"Wae? Kenapa kau harus takut aku menjauh darimu? Sementara jarak antara kita beberapa waktu ini, kau sendirilah yang membentangkannya, Oppa." Seohyun menatapnya lebih lekat dan Yonghwa... untuk sesaat  bibirnya membeku, tak mampu berucap.

"Kau benar, Joohyun ah! Semua ini salahku. Aku bahkan tidak berhak menginginkan apa-apa darimu." Yonghwa menghindari tatapan Seohyun kali ini. Terlalu banyak rasa takut yang ingin dia sembunyikan, yang mungkin bisa Seohyun lihat lewat kedua matanya.

"Wae? Kenapa kau tak bisa?" Rasa ingin tahu itu mendesak tiba-tiba. Seohyun merasa, kali ini mungkin waktu yang tepat untuknya mengetahui segala misteri itu.

"Karena...." Yonghwa kembali menatap mata gadis dihadapannya.

"Terlalu banyak luka dalam hidupku yang mungkin tak akan mudah untuk kau mengerti, Hyun. Semakin aku menikmati kebersamaan kita, waktu yang kita lewati dan bagi bersama, juga saat aku semakin merasa bahwa eksistensimu benar-benar membawa perubahan dalam hidupku,

....................

Semua itu membuatku takut." Suaranya masih terdengar serak dan nyaris berbisik. Tapi Seohyun bisa mendengarnya. Dia juga bisa merasakannya.

“Seo Joohyun... How, if i do really fall in love with you? Ottokhae?" Lirih, kalimat itu mengalun ditelinga Joohyun yang masih terkunci ditempatnya berbaring. Berwarna-warni rasa memenuhi ruang hatinya. Bagaimanapun, betapapun menakutkannya jalan yang akan dia temukan dimasa depan, dia tidak mampu menyangkal bahwa sudah lama dirinya menunggu kata-kata itu. Setidaknya, dia membutuhkan sebuah kepastian. Bukan sekedar pengakuan.

"Tak bisakah? Apa yang membuatmu tak bisa, Oppa? Setidaknya, setelah apa yang terjadi diantara kita... betapapun kau berusaha menghindariku dan begitupun aku yang sekuatnya mencoba untuk menempatkan dirimu diluar hatiku,

Tetap saja, diakui atau tidak, ada ikatan tak kasat mata yang membuat usaha kita sia-sia. Seperti tadi malam.

Dan pagi ini, apa yang akan kau jelaskan padaku tentang bagaimana kita bisa terbangun dalam pelukan masing-masing?" Kedua mata mereka saling bertaut.

"Oppa..... setidaknya katakan padaku, bahwa aku tidak sedang merendahkan diriku saat ini!" Mendengar kalimat terakhir itu, dengan serta merta Yonghwa segera menarik tubuh Seohyun dan menguncinya dalam pelukannya. Erat, Yonghwa memeluknya.

"No.. no, Baby! Jangan pernah berfikir seperti itu. Andwe!! I'm sorry, i never mean to make you feel that way.

Untukku, kau istimewa, Seo Jooyun. Kau tidak akan pernah mengerti betapa aku berterima kasih karena kau berada disisiku saat ini, bahkan saat aku membuka kedua mataku.

You are so special and more than that... i need you, Hyun...." Lembut, Yonghwa mengecup puncak kepala Seohyun hingga dia bisa menghirup aroma lavender dari rambutnya.

"Then just let it be, Oppa. Kita lihat... akan sejauh apa perjalan ini menyeret kaki kita saat kisah ini dimulai."

"Mungkin aku bisa melukaimu, Hyun!"

"Mungkin aku juga bisa melukaimu, Oppa!"

Perlahan, Yonghwa melepaskan pelukannya dan kembali menatap lekat wajah perempuan dihadapannya.

"Kau tahu, Hyun.. akan banyak cacad yang kau temukan dalam diriku seiring waktu. Semakin banyak kau menemukannya, mungkin caramu melihatku tak akan lagi sama."

"Begitupun aku,  Oppa. Ada banyak luka yang juga harus aku sembuhkan. Aku juga tidak punya cukup nyali untuk mempertaruhkan kebahagiaanku dalam sebuah hubungan yang complex seperti kebanyakan orang. Aku takut, Oppa...." Suaranya lirih, nyaris tak terdengar. Matanya menatap sendu. Yonghwa seperti melihat cermin yang menunjukkan rasa takut serupa dalam dirinya saat dia menatap mata Seohyun.

"Na do, Hyun..." Suaranya tak kalah lirih.

"Sometimes, i thought about it. My feeling, your feeling, and the unspoken things between us. At least, isn't it worth to have a try? We have to figure it out that we deserve for this, so we can find where exactly we have to stand. But i can't promise you anything, Hyun. For now, i can't." Yonghwa mengusap lembut wajah Seohyun sekali lagi.

"Dan aku tidak pernah memintanya, Oppa. Aku tidak pernah memaksamu untuk berjanji padaku. Arasso! Paling tidak aku tahu posisiku."

"No, Honey... please!" Yonghwa mengunci wajah Seohyun dengan kedua telapak tangannya dan menatapnya lebih dalam.

"Yang ingin aku katakan saat ini adalah....

Bisakah kau menungguku? Bisakah kau tetap berdiri ditempatmu kini, hingga aku bisa melengkapi keping-keping puzzle yang sempat terserak dalam hidupku dan aku bisa berdiri dihadapanmu sebagai diriku yang utuh. Sedikit lagi, Hyun. Hanya tinggal sedikit lagi. Would you?"

Yonghwa menatapnya penuh pengharapan. Sebut saja dia serakah, karena meski saat ini dia tak mampu melakukan apa-apa, tapi dia akan mulai mencoba memperbaiki segalanya satu persatu. Terutama tentang tanggung jawabnya pada Kim Hyunna.

Tidak. Dia tidak bisa bersama Seohyun, sebelum dia membuat segalanya jelas dengan Hyunna.

Seohyun hanya mengangguk perlahan, meski sejujurnya dia tidak yakin bahwa keputusannya adalah benar. Dalam hal ini, dia sadar akan menjadi orang yang paling terluka bila masa depan tidak seperti keinginannya. Tapi biar saja. Biar dia mencobanya.

Perlahan, Yonghwa kembali menariknya kedalam pelukannya. Beberapa waktu, dia hanya memeluknya sambil mengusap-usap punggung gadis itu.

"Aku cemburu, Hyun! Aku cemburu hingga hampir gila rasanya." Seohyun tertegun untuk sejenak. Apa yang dia maksud adalah kejadian semalam? Kali ini Seohyun yang melepaskan pelukannya, lalu menatap Yonghwa dimatanya.

"Sejak kapan kau melihatku di Café itu tadi malam?"

"Sejak sebelum kau datang dan dia menggenggam tanganmu." Raut wajahnya berubah saat bayangan tentang kejadian tadi malam terlintas lagi di benaknya.

"Jadi Oppa sudah ada disana sebelum aku datang?"

Yonghwa hanya mengangguk pelan.

"Lalu kenapa kau tidak datang menghampiriku lebih awal?"

"Karena aku takut, Hyun. Aku takut kau akan melihat segalanya. Tentang betapa bodohnya hal yang akan aku lakukan pada sahabatmu karena rasa cemburuku. Aku takut aku tidak bisa menahannya. Dan lagi... Oh God... i hate it!! Hatiku sakit melihatmu tersenyum dan tertawa bersamanya, Seo Joohyun!"

"Mwo? Aigoo... Oppa..." Berbanding terbalik dengan wajah murung Yonghwa, Seohyun justru tertawa kecil usai mendengar pengakuan menggelikan itu.

"What? You think it's funny, huh?"

"Ani ah, geunyang...

.................

Hei.. Jung Yonghwa Ssi, bagaimana bisa kau cemburu pada lelaki yang hanya menggandeng tanganku sementara kau sudah mencuri ciuman pertamaku?"

Seohyun menatap Yonghwa disela senyumnya. Lelaki itu tertegun mendengarnya.

"Was it.... really your first kiss?" Dengan bodohnya Yonghwa bertanya. Dan Seohyun hanya menganggukan kepalanya.

"I swear to God that if it wasn't you, then i would smack your nose right there! Tapi aku membiarkannya, Oppa! Aku membiarkanmu mengambilnya dariku meski tanpa persetujuanku lebih dulu."

Rasa bersalah itu kembali singgah. He really was a jerk! Yonghwa ingin sekali mengembalikan apa yang sudah di ambilnya bila saja dia bisa melakukannya.

"Mianhae, Hyun... i know that i was totally bastard! Kalau kau ingin menamparku untuk semua itu, maka lakukanlah! Aku tidak akan mengelak, malah semua itu bisa mengurangi rasa bersalahku padamu." Seohyun hanya tersenyum tipis mendengarnya.

"Bukankah sudah kukatakan, Oppa! Kau tidak perlu minta maaf untuk itu. Gwaenchanna!"

"Jinjja"

"Oh..."

"Lalu.... bila aku memintanya sekali lagi....

Akankah kau memberinya lagi?"

"MWO??!!!!"

Dan tawa keduanya pun pecah, menggema di seisi ruang kamarnya. Tawa, yang sudah lama tidak mereka bagi bersama.

"I missed you, Seo Joohyun!" Bisiknya, usai meredakan tawanya.

"I missed you too....  Jung Yonghwa!"

*****

Seohyun memutuskan untuk mengambil off nya di KCC hari itu. Begitupun Yonghwa. Tentu saja, lelaki ini tak bisa pergi kemanapun selama sembab dimatanya belum menghilang. Usai menangis hebat, kini Yonghwa harus bersabar dengan kantung mata dan lingkaran hitam disekitar matanya.

Meski keduanya enggan beranjak dari tempat tidur Yonghwa, lebih tepatnya, mereka enggan untuk melepaskan pelukan masing-masing, apa daya... mereka tidak bisa berkompromi dengan rasa lapar diperut mereka. Akhirnya, pukul 11 siang, mereka keluar dari kamar Yonghwa lalu menikmati brunch mereka di kursi balcon.

Langit Seoul siang itu begitu cerah. Dan riak air sungai Han tampak begitu tenang dari ketinggian apartment ini.

Seohyun menyiapkan 2 piring omrise dengan kimchi dan ikan goreng. Tak lupa juga 2 gelas susu coklat dingin yang baru dia keluarkan dari lemari es.

Yonghwa menikmatinya. Benar-benar menikmatinya. Hingga rasanya, dia ingin kembali meledakan tangisnya untuk kebahagiaan yang dia rasakan kala itu, andai saja dia bukan pria berumur 27 tahun dan sedang berhadapan dengan gadis yang dia cintai.

Cinta?

Kata itu tak lagi terdengar angker untuknya.

"It feels so nice...." Sekali lagi Yonghwa bergumam.

"Jinjja?"

"Hhm.. Aku tidak pernah membayangkan akan sebaik ini rasanya. Dulunya, balcon ini adalah tempat yang paling aku hindari, karena disini, aku hanya akan merasa semakin kesepian. Thank you for coming, Hyun. Taman kecil ini tampak sempurna dengan kehadiranmu."

Seohyun sontak meledakkan tawanya, usai mendengar roman picisan ala Yonghwa barusan. Dan Yonghwa dibuat tertegun karenanya.

"Wae?!! Wae ulgo ya?"

"Geunyang.... Oppa... jebbal! Kau benar, kau sebaiknya jangan pernah menjadi penulis, karena kata-kata mu... Ya Tuhan.... bagaimana bisa kata-kata manis bisa terdengar begitu mengerikan..." Seohyun kembali tertawa dan kali ini dia benar-benar merasa kram di perutnya.

"Yak!!! Aku hanya mencoba mengatakan hal yang manis tentangmu!! Haisshh!! Sudahlah! Andai aku tahu reaksimu akan seperti ini, lebih baik aku tidak perlu menyia-nyiakan bakatku!" Yonghwa melingkarkan kedua tangannya didadanya, lalu membuang pandangannya ke arah sungai Han.

"Aigoo... arasso, arasso! Gomawo, Oppa! Kau adalah orang pertama yang membuatku tersanjung dengan kata-katamu!" Mendengarnya, Yonghwa kembali menghadapkan wajahnya ke arah Seohyun dengan senyumnya.

"Jinjja??!" Matanya mulai berbinar lagi.

"Tentu saja aku bohong, Oppa! Ah.. chamm!! Mana mungkin diusiaku ini aku tidak pernah mendapat kata-kata manis dari seorang pria. Aku bahkan mendapatkan bouquet bunga, coklat, sebuah lagu yang dinyanyikan dengan gitar yang dia ciptakan untukku, beberapa pernak-pernik dan accesories... Ya... aku pernah menerima semua itu, Oppa."

Seketika, senyum di wajah Yonghwa kembali sirna.

"Aigoo... kau sedang pamer yah? Chukkhae, kau berhasil merusak suasana, Seo Joohyun Ssi! Haishh!!!"

"Arasso, arasso! Mian, Oppa! Okay, Just enjoy this moment, Mr. Blue!" Seohyun merekahkan senyum termanisnya, tapi... Yonghwa hanya menatapnya dengan senyum tak terartikan.

"Aku bukan Mr. Blue, Hyun. I told you that before.

Aku adalah Mr. Gold."

Seohyun mengerutkan keningnya. Sejujurnya, saat itupun dirinya sama sekali tidak mengerti tentang maksud ucapannya yang satu ini. Siapa itu Mr. Blue, Mr. Gold, dan Mr. Red.

Ani... sebenarnya apa hubungan ketiga nya?

"Lalu.... siapa itu Mr. Blue?"

Yonghwa kembali melayangkan matanya kearah sungai Han usai mendengar pertanyaan itu. Sejenak, dia terdiam dan berfikir. Dia kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya pada Seohyun.

"Geunyang ddarawa!!"

Seohyun menyambut uluran tangan itu lalu berjalan mengikutinya.

"Writing's On The Wall"
Sam Smith

I've been here before
But always hit the floor
I've spent a lifetime running
And I always get away
But with you I'm feeling something
That makes me want to stay

I'm prepared for this
I never shoot to miss
But I feel like a storm is coming
If I'm gonna make it through the day
Then there's no more use in running
This is something I gotta face

If I risk it all
Could you break my fall?

How do I live? How do I breathe?
When you're not here I'm suffocating
I want to feel love, run through my blood
Tell me is this where I give it all up?
For you I have to risk it all
Cause the writing's on the wall

A million shards of glass
That haunt me from my past
As the stars begin to gather
And the light begins to fade
When all hope begins to shatter
Know that I won't be afraid

If i risk it all
Could you break my fall?


Author Note : Makasih yaaah... udah pada sabar... :P









8 komentar:

  1. Akhirnya yg ditunggu. . . hehehe bagus banget ceritanya semangat yah ditunggu kelanjutan ceritanya

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Akhirnya yg ditunggu. . . hehehe bagus banget ceritanya semangat yah ditunggu kelanjutan ceritanya

    BalasHapus
  4. Akhirnya yg ditunggu. . . hehehe bagus banget ceritanya semangat yah ditunggu kelanjutan ceritanya

    BalasHapus
  5. Lanjut,eonniee..
    Lanjuuuuttttt.. ;*

    BalasHapus
  6. Oeeniii.... ayoooo lanjut..mr.blue..hyuna.. dan mimpi itu penasarannn

    BalasHapus
  7. ❤❤❤❤❤❤❤👍👍👍👍👍👍👍👍👍

    BalasHapus
  8. ❤❤❤❤❤❤❤👍👍👍👍👍👍👍👍👍

    BalasHapus