Sabtu, 31 Oktober 2015

In Time With You Chapter 15



In Time With You
Cast                                     : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho, 
                                              Kim Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
                                              Cho Kyuhyun
Genre                                   : Romance
Rating                                   : +15
Author                                  : Jingga8
  



Chapter 15

The Pain, The Lost

Flash Back

6 Tahun lalu.....

"Yonghwa ah, fikirkan lagi!! Jangan karena ambisimu lalu kau berbuat gila seperti ini! Black Dragon itu gang motor yang sangat berbahaya. Bukan hanya di Busan, bahkan di Seoul pun mereka menjadi buruan polisi. Dan kau akan menjadi bagian dalam track ilegal mereka?!! Jebbal, Yonghwa ah!! Jangan gila!!!"

Wajah Jonghyun tampak memerah. Matanya berkaca-kaca menahan emosinya. Tentu saja, mendengar sahabatnya yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri akan masuk kedalam lingkaran setan, mana mungkin dia hanya duduk diam? Balap liar?! Andwe! Dia tidak akan pernah membiarkannya.

Yonghwa masih tampak tenang, meski dia tahu bahwa Jonghyun tidak sedang main-main saat itu. Lelaki itu benar-benar marah dan akan terus mencoba menghalanginya dengan cara apapun.

"Geok cheongma, Jonghyun ah. Meski mereka itu gerombolan sampah, tapi mereka punya aturan yang cukup fair. Aku hanya mengikuti balapan yang mereka adakan dan mencoba mendapatkan hadiahnya. Bukan berarti aku akan bergabung dengan gang berandalan itu. Lagipula, uang tunai senilai 10 juta Won itu pantas untuk aku perjuangkan. Untuk bisa masuk kedalam club nasional, kau tahu kan tidak sedikit uang yang harus aku keluarkan? Dan Appaku sama sekali tidak akan memfasilitasi itu!"

Yonghwa bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati Jonghyun. Dia meletakkan kedua tangannya di pundak Jonghyun dan dengan tatapannya, Yonghwa mencoba meyakinkan Jonghyun bahwa semua akan baik-baik saja.

"Aku berjanji padamu, Jong! Ini akan menjadi yang pertama dan terakhir kalinya aku melakukan ini. Aku hanya butuh uang itu. Aku harus ke Seoul dan masuk club resmi untuk mendapat pelatihan. Naega neol yakseokhae, aku akan baik-baik saja dan tidak akan membuat masalah." Yonghwa menatap Jonghyun lebih dalam. Tapi sahabatnya itu masih tidak bisa menerima jalan fikiran Yonghwa. Tatapnya masih penuh marah.

"Neol mitjoseo? Huh? Kau fikir akan sesederhana itu masalahnya?! Jebbal, Yonghwa ah! Jangan naif! Mereka itu gangster, bukan event organizer!!! Kau fikir kau bisa mendapatkan uang itu dengan mudah saat kau menang nanti? Sekali kau terlibat dengan mereka, mereka tidak akan dengan mudah melepaskanmu! Terlebih bila mereka membutuhkan bakatmu dalam menguasai track!" Mata merahnya kian menyorot tajam. Apapun yang terjadi, Jonghyun harus sekuatnya menahan Yonghwa dari rencana bodohnya.

"Ara! Tapi aku sudah membicarakan ini dengan Han Songgi Samchoon. Dia akan membantuku bila sesuatu terjadi padaku." Yonghwa masih berusaha menenangkan Jonghyun.

"Han Ahjussi? Pamanmu? Tsk.... geumanhae, Jashik ah! Kau benar-benar sudah tidak waras! Kau fikir hanya karena dia seorang gubernur  lalu dia cukup kuat untuk melindungimu, Huh? Irona, Yonghwa ah!! Dan lihatlah..!! Bila memang kekuatan gubernur seperti yang kau katakan, maka kenapa gang itu masih berkeliaran dan mengganggu masyarakat dimalam hari? Bahkan polisi ibu kota pun masih berusaha keras membubarkan komunitas itu!"

"Lalu aku harus bagaimana, Jonghyun ah?! Huh? Kau ingin melihatku duduk diam setelah aku lari dari rumah dan bertengkar hebat dengan ayahku?! Kau ingin melihat ayahku diam-diam menertawakan pilihanku dan mimpi gilaku?!" Kali ini, Yonghwa pun nyaris kehilangan kesabarannya. Lelaki ini mulai membalas tatapan tajam Jonghyun dengan tatapan serupa.

"Karena itu kau jangan bodoh, Saekie ah! Bila kau terlibat dengan gang itu, kau bukan hanya akan ditertawakan oleh ayahmu saja! Tapi juga oleh seisi kota ini! Namamu akan ada di head line harian kota ini dengan caption 'Putera kedua Jung Taewon pemilik Venus Hotel terlibat balapan ilegal dengan sebuah gang pembuat onar!' Dan esoknya, ayahmu akan jadi bahan olok-olokan rekan-rekannya. Begitu juga ibumu. Dan Yongdo Hyung pun tak akan luput dari petaka itu!"

Sesaat, Yonghwa terdiam usai mendengar perkataan Jonghyun. Ya, Jonghyun mungkin benar dalam hal itu. Dia pun sadar, yang akan terjadi tidak akan semudah yang dia katakan. Dia tahu segala resikonya. Tapi....

"Mereka sudah memegang namaku, Jong!" Mendengar itu, Jonghyun kembali membelalakan kedua matanya.

"Mwo rago?!"

"Oh!  Di After Party café tiga hari lalu." Jonghyun menatap Yonghwa tidak percaya.

"Yak.. saekie ah!! Ottokhae? Huh? Bagaimana bisa kau melakukan itu?!" Kali ini, kedua tangan Jonghyun yang mencengkram pundak Yonghwa disertai dengan guncangan-guncangan yang membuat Yonghwa nyaris hilang keseimbangannya.

"Teddy, bartender disana memberi tahuku, lalu dia mengenalkanku pada Song Kangin, ketua Black Dragon yang malam itu sedang berada disana dengan beberapa orang temannya." Kedua bola mata Jonghyun seakan nyaris melompat dari dalam kelopaknya begitu nama Kangin disebut. Kakinya terasa lemas seketika.

"Geun jashik ah, Jinjja!!!! Kau tidak tahu siapa dia, Huh?! Kau lupa, apa yang dia lakukan tahun lalu? Dia itu bukan hanya gangster  Yonghwa ah! Tapi juga seorang pengedar dan pelaku pencurian sepeda motor! Ya Tuhan.... dimana sebenarnya akal sehatmu, Jung Yonghwa?!"

"Dia orang yang cukup bersahabat, Jonghyun ah. Dari cara dia bicara padaku, juga dari bagaimana dia menjelaskan tentang mekanisme balapan yang akan aku ikuti. Aku tidak peduli tentang siapa dia dan apa yang dia lakukan. Aku tidak akan terlibat karena aku hanya akan peduli dengan uang itu saja!"

"Sampai sebegitu kah kau membutuhkan uang itu, Yonghwa ah? Eolmana? Geunyang malhae! Berapa yang kau butuhkan? 10 juta? 20 juta? Aku akan memberikannya padamu tapi LUPAKAN IDE GILA ITU!!!"

Jonghyun benar-benar sudah kehilangan kesabarannya. Yonghwa hanya akan semakin gila karena rasa putus asanya dan Jonghyun tidak tahan lagi mendengar itu.

"Mwo? Apa kau bilang? Lee Jonghyun, apa kau sedang memamerkan uangmu? Yak.. saekie ah.. apa dimatamu aku adalah lelaki yang menyedihkan yang perlu kau kasihani dengan kekayaan yang dimiliki keluargamu?! Kau sedang mengejekku, huh?! Geumanhae, Saekie ah! Kali ini kau sudah melewati batas!" Yonghwa menatap Jonghyun dengan tatapan tajam, sekaligus sinis. Beberapa saat kemudian, dia berpaling dan berjalan meninggalkan Jonghyun. Tapi dalam beberapa langkah, Yonghwa kembali dan mendekati Jonghyun yang masih terpaku.

"Aku kira kau adalah temanku, Jonghyun ah! Aku kira setidaknya persahabatan kita ini tak akan pernah dibandrol dengan nilai berapapun. Dan hari ini kau membuktikan padaku bahwa aku salah! Tidak ada yang gratis di bumi ini termasuk persahabatan kita!" Sekali lagi, Yonghwa menyorotkan tatapan tajamnya, lalu benar-benar berlalu dari hadapan Jonghyun.

Jonghyun terpaku ditempatnya berdiri sambil melihat punggung temannya yang perlahan menghilang dari pandangannya. Lelaki itu menundukan kepalanya. Kata-kata Yonghwa barusan masih terngiang ditelinganya. Akhirnya, dialah yang melakukan kesalahan itu. Dia membuat Yonghwa terhina dengan nilai Won yang dia sebutkan tadi. Tuhan tahu, betapa menyesalnya dia.

Jonghyun bukan tipe orang yang akan memamerkan kekayaan ayahnya, meski Tuan Lee adalah pemilik perusahaan manufaktur terbesar di Busan. Dia bukan orang yang akan menjadikan uang dan status sosialnya sebagai salah satu alasan didalam persahabatnya dengan Yonghwa dan Yoona. Meski ketiganya terlahir dari keluarga Chaebol, tapi persahabatan mereka dimulai bukan karena status sosial keluarga mereka, melainkan karena mereka tahu, ditengah kemewahan yang mereka terima, mereka tetap saja bukan orang-orang yang bahagia. Dan bersama Yonghwa dan Yoona, Jonghyun mendapatkan banyak petualangan seru yang membuat hidupnya lebih berwarna.

Dan kini dia menyakiti salah satu orang yang paling berharga dalam hidupnya! Yonghwa pergi setelah kekecewaan yang dia sebabkan.

To : Im Yoona
'Jigeum ottokhae, Yoona ah? Aku menyakitinya. Idiot itu benar-benar marah padaku!'

From : Im Yoona
'Moseumniri ah jigeum? Apalagi yang dia lakukan?'

To : Im Yoona
'Yonghwa bukan lagi seorang idiot, tapi kali ini dia benar-benar gila! Geun saekie ah, dia melibatkan diri dalam balap liar  dengan Black Dragon.'

From : Im Yoona
'MWO?!! Dimana si bodoh itu sekarang? Biar kupatahkan kakinya!!!!'

*****

Usai memeriksa ulang kondisi Mr. Black, giliran Yonghwa menyiapkan dirinya. Streching kecil dia lakukan sebelum dia membawa Mr. Black ke lokasi track yang sudah disepakati. Dia tidak bisa mundur dari langkah yang sudah diambilnya. Meski bagaimana pun Jonghyun dan Yoona mencegahnya. Gwaenchanna! Dia akan melakukan yang terbaik demi mimpinya.

Pukul 00.00 dini hari, Yonghwa membawa motornya kesebuah gudang kosong di Selatan Busan. Kangin meminta semua peserta untuk berkumpul disana pada tengah malam. Dan Yonghwa mengikutinya.

Dia menemukan lokasi itu, lalu beberapa orang dengan badan tinggi besar sudah berjaga-jaga di depan gerbang besar gudang itu. Yonghwa menyebutkan nama dan tujuan kedatangnya, lalu kedua pria itu mengijinkannya masuk. Gerbang itupun terbuka.

Didalam, Yonghwa melihat beberapa motor sudah berjajar rapi. Lalu pria-pria bertato dengan penampilan ala gangster sudah berkumpul juga disana.

"Oh... Jung Yonghwa waseo?" Kangin menyapanya dengan tawa lepas. Dia bahkan berdiri dan menghampiri Yonghwa yang baru saja melepas helmet nya usai memarkirkan Mr. Black.

"Oh. Seperti nya aku terlambat." Jawab Yonghwa.

"Ani.. ani! Kau datang tepat waktu, Dollar Man! Kkaja, sapa yang lainnya!" Kangin mengalungkan tangan kirinya dipundak Yonghwa lalu menggiringnya menemui semua yang hadir disana. Dan tiba-tiba....

BRUKKK!!!!

Tubuhnya ambruk dilantai sesaat setelah sebuah hantaman menghempas kepalanya. Yonghwa kehilangan kesadarannya.

Kangin tertawa sinis melihat tubuh lemahnya tergeletak di lantai. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, lalu mengambil foto Yonghwa yang tersungkur tak sadarkan diri. Dan beberapa saat kemudian, jemarinya dengan cekatan segera mengirim foto itu pada seseorang yang menjadi target utama dalam rencana nya malam ini.

To : Jung Yongdo
'Anyeong, Chingu ah! Aku menemukan Mr. Gold tergeletak disini. Ottokhae? Haruskah aku menyelamatkannya? Atau... membiarkannya tergeletak disini dan sedikit bermain-main dengannya? Mungkin kau hanya memiliki waktu 30 menit untuk menyelamatkan adikmu tercinta, Mr. Blue! Jika sedikit saja kau terlambat, maka ucapkan selamat tinggal pada Mr. Gold yang kau sayangi dan kau banggakan ini!'

To : Jung Yongdo
'Dan ingat, Chingu ah... jangan membuat kesalahan yang sama dengan melibatkan polisi dalam hal ini. Kau hanya perlu datang kesini seorang diri. Bagaimanapun, aku sangat merindukanmu dan ingin merayakan persahabatan kita malam ini. Aku menunggumu, Chingu ah! Saranghae!'

*****

Kakinya seketika terasa seperti kehilangan semua tulang penyangganya saat Yongdo menerima pesan itu. Yonghwa-nya... adik satu-satunya yang dia miliki, bagaimana bisa dia berada di tangan Kangin?

Dengan sisa-sisa kekuatannya, Yongdo berusaha menghubungi Kangin.

'Yeoboseo, Nae Chingu ah! Oraemanida! Aigoo... kau tahu, aku benar-benar merindukanmu, sobat!'

Suara Kangin menggema dibalik speaker phone nya. Darahnya seketika mendidih mendengar suara itu lagi. Orang yang paling ingin dia hindari kini kembali mengganggunya dan melukai Yonghwa.

"Dimana adikku sekarang, Saekie ah?! Kau... tidak ada urusan dengannya, JADI LEPASKAN DIA DAN HADAPI AKU, BAJINGAN!!!" Tangannya gemetar hebat. Emosinya sudah pada titik yang nyaris meledak. Bila dia harus mempertaruhkan nyawanya untuk Yonghwa malam itu, maka dia akan melakukannya.

"O.. o... o... tenanglah, kawan!! Kau tidak perlu emosi begitu. Geok cheongma, aku hanya melukainya sedikit saja. Dia tidak akan mati dengan mudah, kecuali bila kau terus menunda-nunda waktumu dengan memaki-maki aku lewat ponsel seperti ini.

Ingat.... nasib Mr. Gold bukan berada di tanganku, Yongdo ah! Tapi ditanganmu! Bila kau ingin menolongnya, maka jangan buang waktumu! Aku ditempat biasa. Tempat kita pernah sama-sama menikmati hidup kita!"

"ARRRHHHGGGHH!!!!!"

Jangtungnya terasa seakan meledak. Emosinya serasa menggumpal di ubun-ubun nya hingga Yongdo tak mampu berfikir jernih. Dia segera meraih jaket dan kunci mobilnya, lalu secepatnya berlari menuju basement. Namun langkahnya terhenti, saat dia mendapati Jonghyun dan Yoona sudah berdiri didepan pintu apartemennya.

"Hyung, kau akan pergi?" Tanya Jonghyun dengan tatapan heran, saat dia melihat Yongdo begitu panik dan tergesa.

"Najunghae!! Najunghae, Jonghyun ah!! Aku harus pergi sekarang." Tanpa menghiraukan keberadaan mereka, Yongdo segera berlari menuju mobilnya. Andai saja ada Mr. Red, mungkin dia akan memakainya untuk bisa tiba di gudang itu lebih cepat. Sayangnya, dia meninggalkan motor nya di rumah orang tuanya dan akan memakan waktu lebih lama bila dia harus ke sana dulu mengambilnya. Belum lagi rentetan pertanyaan yang akan diajukan orang tuanya.

Jonghyun tidak hanya diam. Dia pun bergegas mengikuti Yongdo. Firasat hatinya mengatakan, ada sesuatu yang tidak beres dengan Yonghwa. Ya, dia tahu malam ini balapan itu akan dilaksanankan dan dia datang menemui Yongdo untuk memberi tahunya. Dia ingin Yongdo menghentikan Yonghwa. Tapi sepertinya Yongdo sudah tahu semuanya.

Sekali lagi, Jonghyun menghampiri Yongdo di basement.

"Hyung, moseumniriseo? Apa yang terjadi?" Jonghyun dan Yoona pun kali ini mulai terlihat panik.

"Jonghyun ah, dengar... bila dalam waktu satu jam aku dan Yonghwa tidak kembali, segera hubungi polisi! Aku akan menjemput anak bodoh itu di gudang selatan." Dengan tergesa, Yongdo menaiki mobilnya, tapi lagi-lagi Jonghyun menghentikannya.

"Aku ikut, Hyung!"

"Andwe, Jong!! Kau tunggu disini dan lakukan seperti yang aku katakan! Kangin, bajingan itu hanya akan semakin liar bila dia tahu kau bersamaku." Kemudian, lelaki itupun berlalu dengan menginjak pedal gas Porsche nya sekencang mungkin.

"Yoona, Kkaja!! Kita tidak bisa tinggal diam. Setidaknya kita harus berada di tempat yang sedekat mungkin dengan gudang itu!" Jonghyun menarik pergelangan tangan Yoona dan mengajaknya setengah berlari menuju mobilnya.

"Ijae ottokhae, Jonghyun ah? Apa yang terjadi pada Yonghwa? Ya Tuhan...." Gadis itu mulai merengek dengan tangisnya begitu dia duduk di kursi mobil Jonghyun.

"Aku juga tidak tahu, Yoona ah! Jebbal... kalau sampai sesuatu terjadi pada Yonghwa, aku bersumpah akan menghancurkan Song Kangin!" Dengan sorot mata menyala, Jonghyun pun bergegas menginjak pedal gas nya, menyusul Yongdo.

*****

"Ooh.... Chingu ah!!! Waseo? Aigooo... oraemani ah! Aku sudah lama menunggumu." Dengan santai, Kangin berjalan mendekati Yongdo yang baru saja tiba di gudang itu. Kangin bahkan menyodorkan tangannya untuk berjabat tapi dengan sigap Yongdo menarik kerah baju Kangin dan mendekatkan wajahnya dihadapannya.

"Dimana adikku sekarang, brengsek?" Binar kemurkaan terpancar jelas dari kedua matanya. Tapi Kangin hanya tersenyum lebar sambil mengusap-usap pundak Yongdo.

"Tenanglah, Chingu!! Aku sudah menolongnya. Aku tahu, sahabat baikku pasti akan menangis sedih bila sesuatu terjadi pada Jung Yonghwa. Lihat.... kau harusnya berterima kasih padaku, meski aku sudah kau khianati dan kau injak-injak hingga ke dasar jurang, aku tetap sudi menolong adikmu, meski kau datang terlambat!"

"KATAKAN DIMANA ADIKKU, SAEKIE AH!!!!! ATAU KUBUNUH KAU SAAT INI JUGA!!!"

Yongdo akhirnya meledakkan apa yang sejak tadi tertahan dalam kepalanya. Tapi lagi-lagi Kangin tertawa. Kali ini lelaki itu terbahak kencang.

"Mwo?? Mwo rago? Membunuhku?! Cuih!!! Lebih baik kau cari bualan lain karena demi Tuhan, Yongdo ah.. kau membuatku tertawa!" Kangin terbahak semakin gila. Kemudian tawanya berhenti tiba-tiba. Kali ini, Kangin menatap Yongdo sinis dan tajam.

"Jangan berlaga seperti seorang ksatria, Jung Yongdo! Aku tahu, pengecut macam apa dirimu sebenarnya!

Mwo? Membunuhku? Tsk.... Jung Yongdo.... anak konglomerat yang sangat mencintai orang tua dan adiknya. Jung Yongdo yang sangat mencintai kehidupan dan reputasinya, hingga kau tega menjerumuskan sahabatmu sendiri kedalam penjara. Dan sekarang... mwo? Kau masih belum puas dan ingin membunuhku?

SEBELUM KAU MELAKUKAN ITU, AKU YANG AKAN MEMBUNUHMU DAN SEMUA YANG KAU CINTAI, SAEKIE AH!!!!"

"MAKA LAKUKANLAH DAN LEPASKAN YONGHWA!!!"

Kedua pria itu saling menatap tajam. Api kebencian berkobar dari mata keduanya.

"Mwo rago? Melepaskannya? Hhh... kau masih berfikir bahwa aku masih sebodoh tahun lalu? Ani.... ani... Yongdo ah!! Kali ini aku lebih pintar. Aku tahu, bahwa Yonghwa adalah titik terlemah dalam hidupmu. Dan aku......

Aku membutuhkannya untuk bisa menyakitimu!"

Kangin menunjukan telunjuknya ke dada Yongdo. Tidak bisa Yongdo ingkari, bahwa ancaman itu membuatnya gentar. Dia tidak pernah takut pada apapun dan rela kehilangan apapun. Tapi jangan Jung Yonghwa. Yonghwa adalah satu-satunya alasan Yongdo untuk hidup ditengah tekanan dan deraan yang dilakukan Appa nya. Yongdo harus bisa lebih kuat dari Appa nya agar dia bisa melindungi Yonghwa dari sikap otoriternya. Yongdo rela, mengambil porsi menjadi anak yang patuh, hanya agar Yonghwa bisa terbebas dari semua tanggung jawabnya sebagai pewaris keluarga Jung dan hidup bebas mengejar mimpinya.

Mimpi yang tak mampu diraihnya.

"Yonghwa tidak ada kaitannya dengan urusan kita, Kangin ah! Geurokhae jebbal, lepaskan dia. Aku berjanji untuk memenuhi semua keinginanmu, tapi lepaskan adikku. Aku mohon, Kangin ah!" Suaranya mulai bergetar seiring rasa takut yang nyaris menguasai pertahanannya.

"Jeongmal??? Apapun mauku???" Kangin menggoda nya dengan Aegyeo yang membuatnya muak.

"Andwe, Jung... Yong... Do!!! Kali ini, aku tak akan termakan omong kosongmu!"

"Jebbal, Kangin ah! Jangan lakukan ini! Harusnya kau lebih tahu, bahwa aku melakukan itu padamu karena aku peduli padamu, Saekie ah! Aku ingin kau berhenti karena apa yang kau lakukan sudah terlalu jauh!"

"TUTUP MULUTMU ATAU AKU AKAN BENAR-BENAR MEMBUNUHMU!!" Kangin mencengkram leher Yongdo dan menyeretnya hingga menempel di dinding pilar.

"Kau, tidak berhak berbicara tentang kesetiaan, kepedulian, moral atau apa yang benar yang harus aku lakukan. Semua itu terdengar seperti kotoran ditelingaku! Bagiku, kau adalah sampah yang sudah menghancurkan hidupku. Kesalahan terbesar yang aku lakukan adalah dengan mempercayaimu.

Ani! Kebodohanku, karena aku menganggapmu sebagai sahabat selama bertahun-tahun!" Tatapan marahnya berubah menjadi sebuah kesedihan yang tak tergambarkan. Betapa kecewa dan terlukanya Kangin karena perbuatan Yongdo.

"Kangin ah... kau tidak mengerti! Aku menghentikanmu karena aku...."

"Geumanhae!!! Aku tidak ingin mendengar apapun dari mulutmu! Yang harus kau lakukan saat ini adalah.....

Penuhi janjimu padaku setahun yang lalu!"

"Mwo? Kangin ah.. aku bahkan tidak membawa Mr. Red dan sudah lama aku tidak menaikinya."

"Kau fikir aku peduli, huh? Kau fikir aku melakukan hal gila ini hanya untuk mendengar alasan anak mami sepertimu? Hei, budy... fikirkan keselamatan Mr. Gold yang kau cintai!"

Kangin menunjukkan telunjuk nya ke sebuah kursi di ujung gudang. Yonghwa terikat disana dengan beberapa pria yang siap menyakitinya bila Yongdo melakukan kesalahan.

"Yonghwa ah...." Hatinya kembali bergetar. Yonghwa sedang menatap kearahnya dengan tangisan tanpa suara karena mulutnya tertutup lakban hitam.

"Arasso, Kangin ah! Kita lakukan malam ini. Aku akan memakai motor Yonghwa. Perjanjiannya masih seperti tahun lalu, bila aku menang... kau harus melakukan apa mauku, dan lepaskan adikku! Dan bila aku kalah, geurae, aku akan kembali dengan kalian."

"No... no... no!!! Kali ini aku yang buat peraturan, Jung Yongdo! Satu tahun dalam penjara membuatku berfikir keras, kira2 permainan apa yang harus kulakukan bersamamu saat aku keluar dari sana?

Dan aku punya ide!

Yongdo ah.... bila kau menang, aku akan melepaskan adikmu. Tapi bila kau kalah, kau bukan hanya harus kembali, tapi kali ini... kupastikan kau akan kehilangan apa yang kau miliki saat ini. Jung Yongdo, putera konglomerat Jung Taewon ternyata seorang ketua gangster pengedar marijuana dan pelaku pencurian sepeda motor. Tidak hanya sampai situ. Kau juga akan mencuci bersih nama baikku yang sudah kau hancurkan tahun lalu."

"Neol Mitjoseo!!!"

"Terserah padamu! Putuskan saja, selagi adikmu melihatnya!"

Yongdo sekali lagi menatap adiknya. Yonghwa tampak menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai isyarat agar Hyung nya tidak melakukan itu.

"Geurae! Lakukan maumu, Kangin ah! Dan lepaskan Yonghwa!"

*****

Yongdo sudah duduk diatas Mr. Black dan siap melakukan race itu. Begitupun Kangin. Dia mengumpulkan semua rasa percaya dirinya, bahwa dia akan mengalahkan Yongdo kali ini.

Dan race itupun dimulai. Keduanya melajukan motor yang mereka tunggangi secepat kilatan petir. Dalam kecepatan yang mereka kendalikan, disadari atau tidak, salah satu dari mereka sedang mengantarkan nyawanya. Dan salah satunya lagi, akan menangis seumur hidupnya karena penyesalan.

Motor mereka melaju menembus malam yang kian pekat. Jalan raya tampak lengang, karena manusia pada umumnya sedang terlelap tidur malam itu. Bukan dijalanan. Melakukan balap liar!

Yongdo masih tetap seperti dulu. Selalu memimpin meski dalam kondisi tidak fit sekalipun. Terlebih kali ini. Yongdo harus bisa mengalahkan  Kangin dan membebaskan Yonghwa.

Jung Yongdo, kembali menunjukkan skill nya.

Kangin masih berusaha menyusul Yongdo dengan segenap kemampuannya. Lelaki ini seakan tidak membutuhkan handle rem ditangan kanannya karena memang, dia tidak pernah menggunakannya. Hingga mereka harus berhenti di sebuah lampu merah. Yongdo dari jarak beberapa puluh meter sudah mulai mengurangi kecepatannya, dan berjaga bila ada kendaraan yang melintas dari arah berlawanan. Benar saja, sebuah truk besar sedang melaju dari sebelah kanan. Dia bersiap untuk berhenti, tapi dari kaca spionnya, Yongdo melihat Kangin masih melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Tanpa berfikir panjang, Yongdo memutar Mr. Black 90° dengan maksud ingin menghentikan Kangin dan mencegahnya dari tabrakan hebat dengan truk yang akan melintas. Tapi usaha yang dilakukannya tidak cukup untuk menahan kecepatan motor Kangin. Akhirnya, kedua motor mereka beradu dan keduanya terhempas jauh dari motor mereka masing-masing.

Jung Yongdo, tubuhnya melayang, menghantam truk yang semula dihindarinya. Kangin menyaksikan semua itu dan....

"Yongdo ah!!! Jung Yongdo... andwe!!!" Dengan darah bercucuran dikepalanya, dan sisi-sisa kekuatan yang dia miliki, Kangin menyeret langkahnya mendekati tubuh Yongdo yang tak bergerak diatas aspal.

"Yongdo ah, irona!! Saekie ah... jebbal... buka matamu!" Air mata mulai deras mengalir diwajahnya seiring rasa takut yang menguasai hatinya. Kangin mulai menangis, saat dia meraih tubuh Yongdo dan merebahkannya dalam pangkuannya. Sahabatnya, kini terdiam dengan kepala yang berlumuran darah.

"Saekie ah... irona!!! Kau tak mungkin semudah ini mati!!!" Kangin mengguncang-guncang tubuh Yongdo di pelukannya.

"Kangin ah.... mianhae!" Yongdo membuka matanya perlahan. Suaranya terdengar lemah.

"Aku tidak pernah mengkhianatimu, demi Tuhan! Aku hanya ingin kau berhenti merusak hidupmu seperti itu. Kau.... dan aku..... seburuk apapun hidup kita..... kita pantas berdiri sebagai manusia! Sepahit apapun hidupmu, setidaknya kau harus mati sebagai manusia." Suaranya kian melemah. Nafasnya samakin terengah dan darah segar mulai keluar dari mulutnya. Kangin semakin panik.

"Yongdo ah! Andwe!! Jebbal, bertahanlah! Saekie aah.... belum cukupkah kau hancurkan hidupku? Setidaknya kau harus hidup agar kau bisa minta maaf padaku dengan benar!!!

Ani...

Kau harus hidup agar aku bisa minta maaf padamu, Jung Yongdo! Mianhae, saekie ah!!! Jeongmal mianhae!" Kangin menangis semakin menjadi sambil memeluk tubuh Yongdo.

"Phabo!! Apa aku harus berlumur darah seperti ini, baru kau menyadarinya? Huh?" Yongdo terbatuk-batuk dan kembali mengeluarkan darah.

"Kangin ah, jangan mengganggu Yonghwa. Anak itu terlalu bersih. Tidak seperti kita yang penuh dosa."

"Geok cheongma, aku hanya ingin menggunakan dia untuk mengganggumu. Geurokhae jebbal, Yongdo ah, jebbal... bertahanlah..." Sedu sedan nya kian parah. Rasa takut terasa menghimpit dadanya. Bukan akhir seperti ini yang Kangin inginkan. Dia tidak pernah benar-benar berniat menyakiti sahabatnya. Tidak akan pernah.

Yongdo menatap tangisan pilu sahabatnya. Perlahan, tangannya yang lemah menggapai wajah Kangin.

"Song Kangin..... Nae Chingu..... gomawo....."

Lalu tangan itu terkulai dan jatuh keatas aspal. Tubuhnya tak lagi bergerak. Jung Yongdo... meninggalkannya disana.

*****

Flash Back End

"Duka itu sepekat kabut diakhir musim gugur. Aku kehilangan diriku selama berbulan-bulan hingga harus menerima treatment khusus di rumah sakit karena dugaan gangguan kejiwaan. Aku berhenti berbicara, berhenti tertawa bahkan aku tidak menangis sedikitpun sejak aku mendengar kabar bahwa Hyungku, teman terbaikku, pahlawanku.... tewas malam itu."

Seohyun bisa dengan jelas melihatnya. Luka menganga yang tergambar dari sendu wajahnya. Yonghwa menundukkan kepalanya, membenamkan pilu yang bertahun-tahun tak pernah sekalipun dia katakan pada siapapun.

Lembut, Seohyun meremas jemari Yonghwa dengan tangan kecilnya. Dia bahkan tidak tahu harus melakukan apa untuk membuatnya merasa lebih baik.

"Tapi akhirnya kau berhasil melewatinya, Oppa. Yongdo Oppa pasti bangga melihatmu kini." Kata-kata itu mungkin terdengar seperti basa basi. Tapi hanya itu yang setulus hati bisa Seohyun ucapkan.

"Aku harap begitu, Hyun. Karena untuk sampai ketitik ini, aku benar-benar berjuang keras melawan diriku sendiri. Kau tahu, memaafkan diri sendiri itu tidak mudah, Joohyun ah. Setiap kali teror-teror itu datang mengganggu tidur malamku dan menyiksaku dengan rasa bersalah yang tak pernah berujung, kadang dipagi harinya aku berfikir.... ya... setidaknya  hukuman ini pantas untukku. Hyungku akan  terlihat sangat menyedihkan bila setelah apa yang aku lakukan padanya, aku masih bisa hidup dengan tenang."

Ada senyum getir merekah diwajahnya. Lelaki itu tampak begitu lelah. Begitu terhukum oleh penghakiman yang dilakukan oleh dirinya sendiri. Seohyun mengerti, tidak akan mudah membebaskan diri dari hukuman itu.

"Kau salah, Oppa. Andai Oppa benar-benar memahami kasih sayang Hyung-mu padamu, kau tidak harus memenjara dirimu sendiri dalam perasaan bersalah seperti ini. Apa yang Hyung-mu lakukan untukmu, semata karena dia berharap kau akan menjalani hidupmu dengan baik. Baginya, hidupmu lebih berharga dari hidupnya hingga dia rela melakukan itu. Bayangkan, betapa hancurnya hati Yongdo Oppa bila dia melihatmu terluka seperti ini."

Untuk kesekian kalinya, ucapan Seohyun menyentuh hatinya paling dalam. Hingga air matanya kembali meluncur bebas, namun bergegas di usapnya. Benarkah? Benarkah yang Seohyun katakan? Akahkah Hyung-nya berfikir begitu?

"Aah... Seo Joohyun! Neol jinjja!" Yonghwa kembali merekahkan senyumnya usai mengusap air matanya. Lalu dia memutar tubuhnya dan menatap Seohyun disampingnya.

"Gomawo, Joohyun ah! Gomawo, telah datang dihidupku dan mendengarkan kisah usang ini. I wish i would have found you sooner so i could feel better. But it's okay. Thank you for being here anyway. Thank you for telling me that way. I was so afraid that he would be angry and doesn't want to see me again in our next life."

Kedua matanya kembali memerah dan berkaca-kaca ditengah senyumnya. Seohyun segera meraih wajahnya dengan salah satu tangannya.

"He won't, Oppa. He missing you too and i'm so sure that he's waiting to see you again in the next life. Tapi sebelum saat itu tiba, cobalah untuk hidup dengan baik. Menjadi Jung Yonghwa seperti yang diinginkan oleh Yongdo Oppa. Agar saat kau bertemu lagi dengannya nanti, kau bisa menegakkan bahumu sambil tersenyum padanya."

Kali ini, Yonghwa gagal menahannya. Sesak dalam dadanya yàng selama 6 tahun ini dia pendam sendiri, akhirnya kini bermuara. Satu persatu air matanya menetes dalam sentuhan tangan Seohyun dipipinya. Dan Seohyun tidak mampu memikirkan hal lainnya selain menarik tubuh itu perlahan dan membenamkannya ditubuhnya.

"Charieseo, Jung Yonghwa! Kau telah melakukannya dengan baik." Joohyun mengusap lembut punggung Yonghwa. Lalu beberapa saat kemudian, Yonghwa mulai melingkarkan kedua tangannya dan memeluk Seohyun lebih erat. Kedua matanya terpejam. Dia biarkan separuh wajahnya terbenam di pundak Seohyun dan sekali lagi menangis tanpa suara.

"Kau tidak takut padaku, Hyun?" Tanya nya lirih, masih dalam pelukannya.

"Ani. Kenapa aku harus takut padamu?" Jawabnya, masih terus mengusap punggungnya.

"Karena aku pasien rumah sakit jiwa." Suaranya semakin lirih. Seohyun terdiam beberapa waktu, kemudian perlahan dia melepas pelukannya. Dia menatap wajah rapuh dihadapannya sambil mengusap lembut pipinya.

"Untukku, kau hanyalah Jung Yonghwa.

Ya... kau hanya seorang Jung Yonghwa!"

"Locked Away"
R. City feat. Adam Levine

If I got locked away
And we lost it all today
Tell me honestly, would you still love me the same?

If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly, would you still love me the same?

Right about now
If I judge for life, man, would you stay by my side?
Or is you gonna say goodbye?
Can you tell me right now?

If I couldn't buy you the fancy things in life
Shawty, would it be alright?
Come on show me that you know

Now tell me would you really ride for me?
Baby tell me would you die for me?
Would you spend your whole life with me?
Would you be there to always hold me down?
Tell me would you really cry for me?
Baby don't lie to me
If I didn't have anything
I wanna know would you stick around?

*****

6 tahun lalu, tidak satu emosipun Yonghwa tunjukan, dan itu semakin menyiksa Appanya. Anak sulungnya tewas mengenaskan, istrinya masuk rumah sakit karena duka cita tak terperi yang harus dia terima atas kematian Yongdo. Dan maknae nya dalam depresi yang tak mampu dia sembuhkan.

Tuan Jung akhirnya membawa keluarganya ke Amerika dan menetap disana selama 2 tahun. Sampai Yonghwa bisa menerima kenyataan, dan kembali menjalani kehidupan normalnya. Begitupun istrinya. Ny. Jung berusaha menguatkan dirinya demi Yonghwa. Karena kini, hanya dia yang mereka miliki. Tuan Jung pun sangat terpukul dengan peristiwa ini. Dia tidak pernah mengira, bahwa keegoisannya bisa membuat kedua putera berharganya begitu menderita. Dia hanyalah seorang Appa yang menginginkan kehidupan yang baik untuk Yongdo dan Yonghwa.

Di Amerika, Yonghwa bertemu Minhyuk dan Jungshin. Mereka dipertemukan takdir karena kejadian tragis yang pernah terjadi dalam hidup mereka. Ketiga pria depresi ini seperti saling terikat satu sama lain setelah sering menghabiskan waktu bersama sepulang kuliah mereka. Disinilah CNBLUE berawal. Setelah itu, Jonghyun dan Yoona akhirnya mengikuti Yonghwa ke Amerika demi mendukung kesembuhannya. Yonghwa menemukan mimpi dan hidup barunya bersama mereka.

Music. In the name of CNBLUE.

Code Name Blue. Seperti sebutan untuk Hyung-nya.

Dan Song Kangin..... sekali lagi dia harus kembali merasakan dinginnya tembok penjara dan kali ini untuk waktu yang lebih lama. Ya, dia memang pantas menerima hukuman itu. Meski sebenarnya, tanpa dinding penjarapun, Kangin sudah cukup dihukum dengan kehilangan Yongdo dalam pelukannya sendiri. Satu-satunya sahabat yang tanpa syarat menemaninya disaat anak-anak yang lain menjauh karena kemiskinan yang keluarganya alami. Yongdo lah, yang menjadi satu-satunya orang yang tetap bersamanya sejak mereka SMP hingga dewasa kini.

Dan Kangin teramat menyesal hingga ketitik yang membuatnya ingin mengakhiri hidupnya sendiri, saat dia mengingat bahwa dia harus kehilangan orang terbaik dalam hidupnya hanya karena sebuah kesalah fahaman saja. Dia mengakui, semua kenakalan yang pernah mereka lakukan bersama hanyalah demi sebuah kesenangan semata. Tidak pernah sekalipun mereka melakukan tindak kriminal terlebih yang akan merugikan orang lain.

Terakhir kali, Kangin tergoda untuk melakukan transaksi ilegal dengan menjadi kurir marijuana. Alasannya hanya satu. Dia butuh uang untuk pengobatan neneknya dan itu tidak sedikit. Berkali-kali Yongdo menawarkan bantuannya, tapi Kangin tak mau menerimanya. Ya, dia memang miskin. Tapi dia punya harga diri yang tak akan pernah dia gadaikan demi uang. Juga persahabatan yang dia miliki bersama Yongdo. Lucu, memang. Bukankah kisah ini sama dengan yang Yonghwa dan Jonghyun alami? Ya, memang begitulah adanya.

Dan usaha terakhir Yongdo untuk menghentikannya adalah dengan melaporkannya pada polisi sebelum Kangin terlibat lebih jauh. Saat itulah, dua sahabat itu berubah menjadi dua orang asing yang berusaha untuk saling menyakiti.






 

4 komentar:

  1. Aigooooo,,
    Its the final??
    I hope it still continue..
    im So touched eonnie.. T-T

    Gamsahamnida For your wrote..
    Will Be wait for the next chapter.. ^^
    jingga Eonnie fighting.. \^^/

    BalasHapus
  2. Eonnie kok sedih banget sih ? 😭, ini blm akhirkan?? Masih ada lanjutannya kan?? Jebal eon, sgera buat lanjutan ff nya, penasaran bangett ini, trs hubungan hyuna sma yong oppa itu apa yaa??
    Aduh semakin penasaran nih, trs abis ini gmn kisah yongseo lgi?? Huaaa ,
    Nice ff eonnie, d tnggu lanjutannya yaa eon, fighting!!!

    BalasHapus