In Time With You
Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun,
Jung Jinwoon, Kim Hyoyeon, Suho,
Kim
Hyunna, Lee Jonghyun, Kang Minhyuk, Lee Jungshin, Monday Couple
Cho Kyuhyun
Genre : Romance
Rating : +15
Author : Jingga8
Chapter 7
Sun Set (Yonghwa POV)
Dan akhirnya, Joohyun menggenapi
petualanganku. Gadis itu duduk manis di depan dinning table dapurnya sementara
aku.... Hhhh.... Sejak awal harusnya aku sudah mengira akan seperti ini.
Gurita-gurita malang itu berakhir disebuah panci soup setelah Joohyun
menggorengnya setengah matang. Lebih tepatnya, aku mengangkatnya sebelum gurita
itu matang karena terus terang saja, aku tidak tahu Joohyun akan menjadikannya
jenis masakan apa.
Intinya, aku menyelesaikan semua
sisa kekacauan yang sudah dia sebabkan.
Dua piring nasi goreng sea food
dan soup gurita pedas, aku hidangkan diatas dinning table dihadapannya.
Seketika aku melihat kilauan sebening embun dikedua bola matanya. Senyumnya
merekah sempurna, dengan kedua tangan yang dilipat didadanya.
She looked so pleased. And i was
so pleased to see her that way...
"Whoaaa... Oppa...!! Oppa
jinjja... daebaaak!!! Whoaa..... makanan ini...." Gadis itu menatapku
dengan kedua matanya yang bersinar. Aku menyukainya. Aku menyukai caranya
menatapku seperti itu. Ya, matanya. Bukankah alasanku sampai ditempat ini
memang hanya untuk menemukan binar mata itu?
"Jeoha?" Aku sengaja menahan senyumku hanya agar tidak
terkesan 'gampangan'. Aku takut, senyumku akan mengatakan segala yang ada dalam
hati dan fikiranku tentangnya.
"Oh... neomu.. neomu jeoha!!
Gomawo, Oppa..." Gadis itu bahkan menyeringai hingga tampak semua tekstur
giginya. "Jalmogae seupnida.." Joohyun memulai suapan pertamanya.
Dan...
"Uuukkhh!!!" Gadis itu
mengernyitkan keningnya dengan kedua mata yang rapat tertutup. What happened?
"Wae? What's wrong with the
foods?" Dia membuatku panik. Gadis itu tidak menjawabnya dan hanya terus
mengunyah makanan dimulutnya dengan ekspresi wajah yang sama. Aishh.. perempuan
ini... jinjaaa!! Aku mengambil suapan pertamaku dan....
That was okay. That really was
okay and for God sake, that was the most amazing brunch foods i ever made.
So... Ada apa dengan ekspresi wajahnya itu???
Aku menatapnya dengan tatapan
tajamku dan gadis itu... dalam hitungan detik, dia mulai terbahak didepanku.
Demi Tuhan, Seo Joohyun terbahak dengan sendok di tangan kanannya yang juga dia
gunakan untuk menutup mulutnya secara bersamaan.
She teased me, huh?!!
"Yaakk!!! Kau fikir ini
lucu, Seo Joohyun?!!!!" Kata-kata itu meluncur dengan sengit dari mulutku
tapi gadis itu malah tertawa semakin gila setelah mendengarnya.
Okay!! Enough, Seo Joohyun Ssi!!!
Aku mencoba mengambil piring
makannya juga dengan mangkuk sup di hadapannya. Tentu saja aku hanya bercanda,
dengan memintanya untuk berhenti memakan masakan terbaikku. Dan Joohyun dengan
sigap menahan piringnya. Gadis itu juga berhenti tertawa. Kini, dia menatapku
dengan wajah memelasnya.
"Aaah... Oppaaaa..... aku
lapaaar...." Ini pertama kalinya aku mendengar suara manja itu dari
mulutnya. Matanya bahkan mengedip dua kali dan bibirnya....
What the hell she tried to do to
me?! Kenapa jantungku berdegup kencang? Kenapa piring dan mangkuk sup
ditanganku mendadak terasa berat hingga membuat tanganku gemetar?
Seo Joohyun... who are you?
Aku melepaskan tanganku dari
piring dan mangkuknya kemudian secepat mungkin kuhindari tatapan itu. Aku sudah
gila! Aku benar-benar sudah gila!!
"Mianhae, Oppa. Beginilah
caraku menutupi rasa maluku. Dibanding dengan makan malam rasa garam yang aku
buatkan malam itu, masakan mu benar-benar luar biasa." Joohyun tersenyum
kali ini. Dia kembali meneruskan sarapannya dengan lahap. She loved it. And i
loved her more for that.
What?? Who love her??!
"Ini adalah sarapan terlezat
yang pernah aku makan sejak Eommaku sakit, hingga akhirnya dia pergi."
Lanjutnya, dengan makanan penuh dimulutnya, dan senyum pahit disudut bibirnya.
Matanya tertunduk menatap makanan buatanku. Aku tersentuh dengan pujian itu.
Tapi kalimat terakhirnya, sedikit mengiris hatiku.
"Jinjja?"
"Hhm..."
"Syukurlah. Setidaknya
kedatanganku tidak sia-sia." Jawabku, sambil terus melahap dan mengunyah
makananku.
"Oppa... tentang
kedatanganmu.... kau belum menjawabnya. Apa yang membuatmu datang menemuiku dan
bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?" Suasana pembicaraan kami mulai
sedikit santai. Dan aku tahu, Joohyun mengharapkan alasan serius dari mulutku.
Sesaat, aku menyelesaikan dulu suapan terakhirku sebelum aku menjawab
pertanyaan itu.
"Kau yakin, kau ingin
mendengarnya, Hyun?" Kedua tanganku kugunakan untuk menyeka bibirku.
"Ya. Aku ingin mendengarnya,
Oppa." Tatapannya semakin lekat.
"Geurae! Aku akan
menceritakan padamu mulai dari 3 jam yang aku habiskan di KCC dengan 2 gelas
Americano dan segelas orange juice pemberian Hyoyeon setelah dia tahu bahwa
berjam-jam aku duduk disana ternyata hanya untuk menunggumu datang. Tapi lalu
dia bilang kau sakit dan tidak datang bekerja. Kemudian aku melajukan mobilku
kerumahmu. Hingga hari mulai gelap, aku terus berdiri sambil melihat kearah
kamarmu. Tapi tidak ada yang bergerak disana. Aku meneleponmu dan hanya voice
mail yang menjawabku. Akhirnya, aku kembali pada Hyoyeon dan dia memberiku
alamat ini." Aku menundukkan mataku saat tatapan Joohyun terasa kian lekat
dan dalam. Aku takut untuk membalas tatapnya. Aku takut, akal sehatku tidak
cukup mampu untuk menghentikan diriku dari perbuatan bodoh yang akan aku sesali
setelahnya.
"Jeongmal?" Tanya nya.
"Hhm! Mungkin bila aku harus
sedikit mendramatisir, aku juga bisa menceritakan padamu tentang bagaimana
nikmatnya tidur selama 6 jam dalam kereta, ditambah lagi gerimis menyambutku
begitu aku turun dari keretaku hingga aku harus berteduh di sebuah café hingga
hujan reda. Tidak sampai situ, aku pertama kali sampai di galeri ibumu dulu. Dan
Nona cantik itu memberiku alamat Samchoonmu. Syukurlah, Gumo-mu memberiku teh
hangat dan juga goguma panggang karena kalau tidak, aku akan menangis menahan
lapar saat aku masih belum juga menemukanmu. Gomawo, chingu ah!!! Neo
tthaemunae! Aku bisa menikmati petualangan ini."
Joohyun tersenyum tipis, lalu
menundukkan matanya.
"Lalu... pertanyaanku yang
pertama, Oppa? Ada apa, hingga kau harus menempuh semua petualangan itu?"
Aku tertegun. Matanya kembali
menatapku dan kali ini, aku tidak mampu menghindarinya. Beberapa detik mulutku
membisu saat fikiranku berusaha merangkai kata yang tepat untuk kuucapkan
padanya. Damn!! I though it would be easier if i found her and talk to her
about anything. But....
"Karena kau tidak membalas
pesanku, Hyun. Kau.... mengabaikanku."
Joohyun menatapku tak percaya.
Sure, i didn't believe myself either when i realized that the only reason for
me to be there was just because she ignored me.
"Oppa.... Mianhae...."
Lirih, suaranya mengalun ditelingaku.
"Gwaenchanna, Hyun. Hyoyeon
memberitahuku bahwa kau demam dan sempat dirawat di rumah sakit. Dan mungkin
alasan inilah yang membuatku semakin mencemaskanmu. Terlebih saat aku tidak
menemukanmu dirumahmu. Temanmu juga menceritakan tentang apa yang terjadi pada
Ny. Kim. Terus terang, aku juga kaget saat mendengarnya. Hhh.... andai saat itu
aku ada disampingmu, Hyun..." Aku menatap matanya. Gadis itupun membalas
tatapanku dengan senyum tipis disudut bibirnya.
"Gomawo, Oppa!" Sekali
lagi, suaranya terdengar lirih.
"Gomawo opso, Hyun... aku
hanya melakukan hal yang ingin aku lakukan. Aku hanya merasa, bahwa aku harus
menemukanmu." Bening matanya tampak lebih berkilau dengan genangan air
yang tiba-tiba sudah mengendap dikelopak matanya.
"Ajik gomawoseo, Oppa! Kalau
bukan karenamu, aku mungkin tidak akan pernah tahu akan seperti ini rasanya.
Terima kasih, untuk mencari dan menemukanku. Oppa adalah orang pertama yang
melakukan itu padaku." Dan genangan air itu akhirnya jatuh dikedua pipi
pucatnya. Seiring dengannya, hatiku terasa seperti teriris sebuah pisau tajam
melihat gadis ini meneteskan air matanya dihadapanku.
Lembut... jemariku mengusap
pipinya dan mengenyahkan air mata itu.
"Aku akan selalu
menemukanmu, Hyun! Tak peduli sejauh apapun kau pergi dan bersembunyi dariku.
I'll find you!"
*****
Sarapan kami pun usai. Tapi sisa
kekacauan ini, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sementara Joohyun mencuci
piring dan peralatan kotor, aku membantunya membersihkan meja, kompor, bahkan
mengepel lantai. Seriously, Seo Joohyun worth to get a gold medal for let me
doing these! Bahkan Eomma-ku tidak pernah membiarkanku melakukan ini.
Beruntung, Jonghyun, Minhyuk dan Jungshin tidak melihat semua ini. Bila sampai
mereka tahu....
Sudahlah!! Aku terlalu sibuk
untuk memikirkan mereka.
"Oppa.... aku akan membuat
sarang burung untukmu." Joohyun mengeringkan kedua tangannya dengan lap
bersih disampingku. Aku tertegun mendengarnya. Wait!! Ide apa lagi yang ada
dikepalanya setelah dia berhasil menyiksa kaki dan pinggangku seperti ini?
"Sarang burung? Untuk
apa?" Aku mulai panik. Gadis itu membuka lemari es, dan mengambil beberapa
bahan dari sana.
"Gidaryo Juseo, Mr. Blue...
aku jamin, kau pasti sangat menyukainya." Sekali lagi gadis itu tersenyum.
Sirup rasa melon, agar-agar
rumput laut, dan irisan buah-buahan, dia mencampurnya jadi satu kedalam 2 buah
mangkuk besar. Diatasnya dia beri toping serutan es batu dan susu kental manis.
Dan satu lagi yang membuatku tertarik. Gadis itu membentuk dua ekor burung dari
irisan melon dan strawberi lalu meletakkannya diatas serutan es tadi.
Aah... jadi ini yang dia maksud
dengan sarang burung?! Bukan sarang burung.....
Lupakan!
"Tadaaaaa...... inilah es
sarang burung ala chef Joohyun!!!!" Lagi! Dengan binar mata itu lagi,
Joohyun men-display dessert buatannya tepat dihadapanku. It was just... wow....
and it looked delicious, i swear!
"Wow..... i wonder with the
taste, Chef..." I teased her and she gave me that threaten gazed. Aku
tertawa kecil karenanya.
Benar saja. Kali ini Joohyun
layak menyebut dirinya chef. Sarang Burung buatannya benar-benar lezat dan
menyegarkan. Ini pertama kalinya aku menikmati minuman dengan sensasi rasa
seperti ini.
Joohyun masih berdiri dihadapanku
sambil menatapku dengan tatapan penasaran.
"Otthae?" Dia menatapku
semakin lekat. Aku ingin sekali membalaskan dendamku atas apa yang sudah
dilakukannya tadi padaku. Tapi aku tak mampu memungkirinya. Ini benar-benar
enak.
"Hhmmm... not bad. I love
it, Chef! Thank you.." Aku tersenyum menatapnya. Dan gadis itu membalas
senyumku dengan senyum yang lebih lebar.
Dan aku tersadar....
Jantungku berdetak lebih kencang
setiap kali aku melihat senyum itu.
"Gomawo Oppa...! Setidaknya,
aku bisa membayar penderitaanmu karena kebodohanku tadi."
Dan kami kembali tertawa sambil
menikmati minuman ini.
*****
Aku duduk diatas kursi kayu di
halaman rumah itu. Angin pantai terasa lembut mengusap wajahku. Dan aroma
lautnya.... mengingatkanku pada Busan. Kota tempat aku dibesarkan.
"Oppa... ikut aku...!!"
Tiba-tiba Joohyun datang dari dalam rumahnya. Kali ini ada yang berbeda. Untuk
pertama kalinya, aku melihat Joohyun dengan dress ditubuhnya. A simply white
mini dress, dengan rambut yang dia biarkan jatuh tergerai. She looked.... different!
"Oppa..." Dia
mengaburkan lamunanku.
"Oh? Eodie ga?" I did
my best to hide my stupid thought.
"Aku akan menunjukan tempat
persembunyianku waktu aku kecil."
*****
Aku dan Joohyun berjalan
bersampingan. Sengaja kubiarkan kakiku berjalan tanpa sepatuku. Aku rindu
sentuhan ombak membasahi kakiku. Dan kamipun tiba di sebuah dataran tinggi
diujung pantai ini. Sekilas, dari bawah tempat itu tampak mengerikan karena
tebing yang curam dan cukup tinggi. Tapi semua terasa berbeda ketika aku berada
diatasnya. Aku tidak melihat apapun lagi selain hamparan laut membentang
dihadapanku.
Joohyun berdiri disampingku.
"Disana. Di ujung
sana!" Dia menunjukkan tangannya ke satu titik di ujung lautan.
"Aku biasa menemukan
matahari terbit disana."
Aku menolehkan kepalaku dan
menatap wajahnya disampingku. Gadis itu masih menatap lurus kearah horizon
dihadapakan kami.
"Jeongdongjin adalah tempat
terbaik untukmu bisa melihat Sun Rise dengan sempurna." Joohyun tersenyum
lagi. Tapi kali ini dia tidak sedang menatapku.
"Jinjja?" I already
knew, actually.
Pertanyaanku mengalun ditengah
delusiku yang semakin gila. Wajahnya, begitu dekat disampingku. I just realized
that she had that flawless bright skin. Dengan bentuk hidung yang sempurna,
juga warna bibir yang sudah pink alami meski tanpa lipstick sekali pun. Rambut
kecoklatan yang panjang tergerai dan tertiup angin, hingga aroma shampoo nya
sampai kehidungku.
Aku menyerah. Ku akui, she was so dazzlingly beautiful.
"Hhm! Karena itu, Eomma
membangun sebuah galeri dengan nama Sunset. Karena Eomma tahu di kota ini
orang-orang tidak akan pernah melihatnya." Joohyun masih menebakkan
senyumnya.
"Apa karena itu juga,
Eomma-mu memberi nama Joohyun untukmu?" Sejenak, Joohyun menatapku sambil
mengerutkan keningnya.
"Dari mana Oppa tahu arti
namaku?" Tatapnya penuh rasa penasaran.
"Aku membacanya di galeri
ibumu. Ada sebuah lukisan langit senja berjudul namamu. Aku membaca pesan
Eomma-mu di sudut bawah lukisannya. 'Teruntuk
uri Joohyun. My Sunset.'"
Joohyun menatapku dengan tatapan
teduhnya sekali lagi. Matanya kembali berkaca-kaca and i swore, if she ever
cried once more, don't blame me if i couldn't control myself. Untunglah, dia
segera mengalihkan pandangannya. Gadis itu menghela nafas panjang, lalu
berjalan ke arah belakang dari tempat kami berdiri.
"Sini, Oppa...! Duduk
disini!" Joohyun duduk diatas sebuah batu besar yang sepertinya secara
alami sudah ada di sana sejak dulu. Tangannya menunjukkan sebuah tempat
untukku. Tepat disisinya. Tak lama, akupun mengikutinya.
"Waktu kecil, aku sering
datang ketempat ini. Aku berlari dari rumah sambil menahan tangisku dan
secepatnya naik kesini. Tangisku baru akan kuledakkan disini. Saat tidak ada
seorang pun yang akan melihatku." Joohyun tersenyum pahit sambil terus
menatap laut dihadapan kami.
"Wae?" Aku menatapnya
disampingku, berharap menemukan matanya yang akan membalas tatapanku. Tapi
gadis itu malah tertunduk dengan tawa kecil yang masih terasa pahit dimataku.
"Karena aku sebenarnya
adalah gadis yang cengeng, Oppa. Aku akan menangis setiap kali aku marah, aku
lelah, terlebih saat sesuatu terjadi tidak sesuai keinginanku." Joohyun
kembali mengangkat wajahnya dan menatap laut sekali lagi.
"Tapi... setidaknya aku tidak ingin terlihat rapuh.
Aku tidak ingin Eomma melihat air mataku. Karenanya, aku berlari ketempat ini
hanya untuk menangis sepuas hatiku." Seo Joohyun menghela nafasnya lebih
dalam. Mataku masih terpaku menatapnya. Gadis ini, sebenarnya ada berapa banyak
luka yang dia sembunyikan dibalik senyumnya?
"Ibumu... meninggal saat kau
SMA kan? Keberatan, bila kau menceritakan padaku, kenapa ibumu meninggal diusia
semuda itu?" Aku berusaha untuk lebih hati-hati dalam memilih kata untuk
pertanyaan ini. Aku tidak ingin membuka luka lamanya. Hanya saja, terlepas dari
rasa ingin tahuku, mungkin Joohyun lebih baik menceritakan rasa sakitnya pada
seseorang. Aku harap dengan begitu, beban dalam dirinya sedikit berkurang.
"Leukimia. Eomma pertama
kali menemukan penyakitnya saat aku berusia 15 tahun. Aku dan Appa tidak tahu
akan hal itu, pada awalnya. Hingga satu malam, Eomma pingsan di dalam galeri
nya dan dilarikan ke rumah sakit. Rasanya seperti mimpi buruk, saat dokter
memberi tahu kami bahwa Leukimia di tubuhnya sudah menginjak stadium lanjut.
Mustahil untuk bisa melakukan operasi dan treatment lainnya untuk kesembuhan
Eomma. Satu-satunya yang bisa dokter lakukan hanyalah kemotherapy untuk
menghambat pertumbuhan sel kankernya. Hingga harapan hidup Eomma bisa lebih
panjang beberapa tahun lagi."
Wajah putihnya mulai memerah. Dan
kristal bening sudah menggenang lagi di kelopak matanya. Tapi Joohyun kembali
tersenyum sebelum menatapku.
"Dan dokter benar, Oppa.
Eomma bisa bertahan 2 tahun sejak saat itu. Sebelum akhirnya Eomma menyerah dan
meminta kami untuk menghentikan segala jenis pengobatan." Gadis itu
kembali menundukkan kepalanya.
"Wae? Apa yang membuatnya
menyerah?"
"Entahlah." Joohyun
kembali mengangkat kepalanya dan menghela nafas panjang.
"Mungkin semua itu terlalu
melelahkan untuknya. Eomma juga sering mengusirku dari rumah sakit hanya untuk
menyuruhku fokus dengan pelajaranku. Samchoon dan Gumo, mereka yang merawat
Eomma saat aku sekolah. Tapi lama-lama, Eomma juga sering kali tidak ingin
ditunggui oleh mereka. Mungkin karena Eomma khawatir akan menyusahkan mereka.
Dan karena itu, mungkin itulah
alasan Eomma menyerah."
"Lalu Appa-mu? Bukankah
Eomma-mu masih memilikinya?" Kali ini, aku melihat senyum diwajahnya
seketika sirna. Binar matanya berubah sendu, marah, benci, dan semua rasa yang
tak mampu aku uraikan. Gadis itu lalu menatapku kembali.
"Dia pergi, Oppa. Dia pergi
saat dokter mengatakan sisa usia Eomma mungkin hanya tinggal beberapa bulan
saja. Bahkan saat Eomma pergi, juga beberapa waktu setelah itu, aku masih
menunggunya dan berharap dia akan menemuiku. Setidaknya, aku ini putrinya. Aku
fikir, dia akan sedikitnya peduli bagaimana aku akan meneruskan hidupku setelah
kematian Eomma.
Tapi lelaki itu tidak pernah
datang. Dia tidak pernah mencariku dan mencoba menemukanku seperti yang kau
lakukan hari ini, Oppa."
Aku tertegun. Jadi inilah luka
yang sebenarnya.
"Gwaenchanna, Oppa. Kau
tidak perlu menatapku dengan tatapan iba. Aku baik-baik saja sekarang."
Joohyun meregangkan kedua tangannya sambil menghela nafas panjang. Dia pun
kembali merekahkan senyum manisnya seolah semua itu mampu menyembunyikan kepingan
luka yang kutahu masih lekat dalam hatinya.
“Hyun,... “
“Ehm...”
“Berapa lama kau akan
menghabiskan liburanmu di kota ini?” Senyum diwajahnya perlahan memudar. Gadis
itu kembali menundukkan kepalanya dan aku benci melihatnya melakukan hal itu.
“Sebenarnya, aku tidak sedang
berlibur, Oppa. Aku datang kesini karena aku tidak bisa tinggal di Seoul lebih
lama lagi.”
Aku berusaha mencerna maksud
ucapannya dan berkali-kali memastikan bahwa apa yang aku dengar adalah benar.
“Mwo?!” Tapi aku ingin
memastikannya sekali lagi.
“Sejak kematian Ny. Kim, aku
tidak bisa lagi tinggal disana. Secara hukum rumah itu sudah diwariskan pada
suaminya dan suaminya berniat untuk menjual rumah itu. Terus terang, Oppa...
kamar yang Ny. Kim sewakan padaku, bukan hanya nyaman untuk aku tinggali. Tapi
Ny. Kim memberiku harga yang murah yang tidak akan mungkin aku peroleh ditempat
lainnya. Dengan begitu, aku bisa menggunakan sebagian besar uangku untuk biaya
kuliahku, dan sisanya untuk kebutuhan lainnya. Dan sekarang....." Joohyun
menghela nafas panjang sambil menatap laut dihadapan kami.
"Sekarang aku tidak yakin
lagi untuk bisa mengalahkan Seoul dengan kedua tanganku sendiri. Kematian Ny.
Kim yang tiba-tiba, lalu aku harus kehilangan tempat tinggal, dan novelku yang
sudah ditolak oleh 3 penerbit, terus terang.... semua itu membunuh mimpiku.
Tiba-tiba aku merasa, Seoul terlalu besar dan tangguh untuk kutaklukan."
Gadis itu kembali tersenyum
pahit. Tuhan tahu, betapa aku membenci apa yang baru saja aku dengar. Aku benci
melihatnya rapuh. Aku benci mendengarnya menyerah dengan mimpi-mimpi yang
pernah dia banggakan dihadapanku saat itu.
Saat pertama kali Seo Joohyun
masuk kedalam fikiranku.
"Berapa novel yang sudah kau
tulis sejauh Ini?"
"Nde?" Joohyun tertegun
menatapku.
"Berapa novel yang sudah kau
selesaikan dan ditolak oleh penerbit?"
"Untuk novel, aku baru
selesai mengerjakan dua judul. Tapi yang sudah aku coba untuk mem-publish nya
hanya satu. Dan.... 3 perusahaan itu menolaknya." Joohyun tertawa kecil
sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya.
"Apa alasan mereka menolak
tulisanmu?"
"Hmm... kebanyakan yang
mereka cari dari sebuah novel adalah romance yang bisa dengan mudah dicerna
oleh akal fikiran manusia. Meski dengan sedikit fiksi, mereka tetap menuntut
sesuatu yang lebih entertaining. Terlepas dari usahaku untuk mencoba memberi
perspektif yang jujur tentang cinta, yang mereka inginkan hanya sesuatu yang
dicari dan diminati banyak orang tanpa peduli bahwa yang aku tulis hanya sebuah
ilusi yang aku sendiri tidak pernah meyakini kebenarannya. Dari situ aku
sadar.... bahkan untuk menjadi penulispun mimpi itu terlalu tinggi
untukku."
"Lalu... novel yang satu
lagi? Kenapa kau tidak mencoba mem-publish nya juga?" Entah apa yang
sedang aku lakukan saat itu, tapi aku yakin, bahwa aku harus melakukan sesuatu
untuk merubah fikirannya.
"Hhhm.... novel pertamaku
mungkin akan mendapat respon yang sama. Bahkan jauh lebih parah." Kali ini
Joohyun tertawa lebih lebar dan membuatku semakin penasaran.
"Jinjja? Wae? Apa yang kau
tulis?"
"Aku menulis tentang betapa
cinta tidak cukup menjadi alasanmu untuk bahagia, dengan sad ending sebagai
penutupnya." Joohyun menatapku dengan senyumnya. Aku mengerutkan keningku
dan menatapnya.
"Huh? Really?" Tanyaku.
"Hhmm..." Jawabnya,
sambil mengangguk. Lalu senyumku kembali merekah.
"Seo Joohyuh....
jinjja...." Aku menggeleng-gelengkan kepalaku ditengah senyumku.
"Wae?? Naega wae?"
"Ani... geunyang...."
Untuk sesaat, aku hanya menatapnya. Menyelam kedalam bening matanya berharap
bisa menemukan sesuatu yang akan menghidupkan lagi mimpi-mimpi itu.
"Joohyun ah..."
"Ooh..."
"Dalam apartemenku, aku
punya 3 kamar tidur. Yang satu adalah kamarku, yang satu lagi biasa digunakan
sebagai kamar tamu. Hanya sesekali digunakan bila Eommaku datang. Dan yang
terakhir, berada di samping balcon living room. Kamar itu sebelumnya di pakai
Jungshin anggota band-ku. Tapi sekarang dia memilih untuk tinggal dengan
Hyung-nya, so... kamar itu tidak ada pemiliknya." Joohyun menatapku penuh
tanya. Aku tahu, gadis ini akan mentah-mentah menolak tawaranku bila aku
memintanya untuk tingga begitu saja. Jadi...
"Berapa kau membayar sewa
pada Ny. Kim? Kau hanya perlu membayar sewa padaku senilai itu. Lagipula, aku
fikir akan lebih baik bila ada seseorang yang akan tetap menjaga apartrmenku
saat aku dan band-ku harus tour selama berbulan-bulan. Anggap saja semua ini
sebagai simbiosis mutualisme. Kau mendapat tempat yang nyaman dan murah, dan
aku mendapat seseorang yang bisa menjaganya saat aku tak ada disana. Otthae?"
Kudapati keningnya mengerut dan
matanya masih menatapku penuh tanya.
"Oppa... mana bisa seorang
perempuan tinggal serumah dengan laki-laki? Apa yang akan orang-orang fikirkan
tentangku? Tentangmu? Terlebih bila Eommamu datang, apa yang akan mereka
fikirkan?"
"Geok cheongma! Tidak akan
ada yang mempedulikan keberadaanmu disana. Aku membeli apartemen dengan private
access. Satu Elevator yang hanya
digunakan untuk 4 unit rumah. Dan orang-orang yang tinggal di lantai yang sama
denganku adalah orang-orang yang sibuk dengan kehidupan mereka sendiri. Aku
bahkan hanya akan bertemu mereka sekali dalam satu bulan. Dan tentang Eomma ku,
kau tak perlu khawatir. Saat di Amerika dulu, aku tinggal bersama 3 orang pria
seusiaku dan 2 orang mahasiswi yang juga menyewa kamar disana. But that was
all."
Joohyun tertegun untuk beberapa
waktu. Matanya tak lagi menatapku. Sepertinya gadis itu sedang berusaha
mempertimbangkan tawaranku. Aku harap.
"Tapi.... Entahlah, Oppa.
Aku tidak punya lagi alasan untuk tinggal di Seoul. Aku sendiri tidak yakin,
untuk apa aku meneruskan kuliahku." Joohyun kembali menundukkan kepalanya.
Dan untuk kesekian kalinya, aku benci melihatnya melakukan itu.
"Baru satu judul kan... yang
mereka tolak? Kau masih bisa menulis yang lainnya dan kembali mencobanya."
"Tidak semudah itu, Oppa.
Menulis novel itu bukan hal yang sederhana yang bisa aku lakukan kapanpun.
Terlebih saat motivasiku hilang."
"Maka temukanlah lagi apa
yang kau sebut sebagai motivasi itu!"
"Tidak mudah, Oppa!"
"Setidaknya cobalah, Joohyun
ah!!"
Beberapa saat, mata kami
bertatapan. Gadis itu kembali menatapku dengan tatapan penuh tanya.
"Kau tahu, Hyun.... berapa
banyak lagu yang sudah aku buat hingga saat ini? Dan kau tahu.... dari puluhan
lagu itu, tak satupun yang berhasil menembus industri musik di negara ini.
Sampai detik ini! Kau fikir, CNBLUE menjadi band indie karena pilihan kami sendiri?
Bukan, Hyun!! Kami terpaksa membuka jalan dengan tangan kami sendiri karena
tangan label-label musik di negara ini tidak satupun yang mau membukanya untuk
kami.
Alasannya hampir sama! Mereka
menuntut sesuatu yang diinginkan banyak orang, tak peduli karya itu flagiat,
mainstream, instant, kamuflase, atau lipsync sekalipun. Yang terpenting bagi
mereka adalah, karya kami harus layak jual! Who cares with those fvcking money,
anyway? Musikku, bukan untuk menyuapi mereka."
Kali ini, tatapannya berubah.
Perlahan, binar mata itu mulai kembali disana. Lembut. Hangat. Dia terus
menatapku dan menciptakan rasa yang asing dalam hatiku.
"Aku iri padamu, Oppa."
"Iri? Wae?"
"Karena mimpimu bukan
sesuatu yang kau harapkan untuk bisa memberimu masa depan yang lebih baik.
Maksudku.... karena aku bisa menilai bahwa kau terlahir dari keluarga yang akan
selalu ada mendukungmu dalam segala hal hingga kau tidak perlu memusingkan
masalah uang. Tapi untukku... mimpiku adalah satu-satunya hal yang aku harap
bisa merubah hidupku suatu saat nanti."
"You're right, Princess!!!
Kau benar bahwa kau punya harapan untuk bisa merubah hidupmu dengan mimpi itu.
Karenanya kau tidak punya alasan untuk berhenti saat ini. Kau hanya ditolak 3
kali. Bahkan mungkin akan lebih banyak lagi sebelum akhirnya seseorang bisa
menghargai pemikiranmu dan menerima bukumu. Tapi semua itu akan mustahil bila
kau tidak pernah mencobanya."
Entah sejak kapan... tapi
kusadari tanganku sudah berada dikedua sisi pundaknya. Dan kini, tangan kananku
bahkan menyentuh pipi kanannya dengan lembut.
"Seo Joohyun.... kembalilah
ke Seoul bersamaku!"
"I'm
Your Angel"
Celline
Dion feat. R. Kelly
And
then you will see, the morning will come
And
everyday will be bright as the sun
All
of your fears cast them on me
I
just want you to see...
I'll
be your cloud up in the sky
I'll
be your shoulder when you cry
I'll
hear your voices when you call me
I
am your angel
And
when all hope is gone, I'm here
No
matter how far you are, I'm near
It
makes no difference who you are
I
am your angel
I'm
your angel

Fighting jingga😁😁
BalasHapusmaaf sllu membaca blogmu tpi tsk memeberi komentar...
Tpi tulisanmu luar biasa😁😁
Makasih, Unnie.. maaf yah, saya update nya molor terus... maklum, sambil nyari duit juga soalnya. hehehe...
BalasHapusNg tau mo ngomong apaa???
BalasHapusTapi eon berkaca2 seolah eon ada dsanaa..
gumawo... n fighthing...
Daebakk!!♡ Yongseo.ceritax keren unnie..terus berkarya,Fighting!
BalasHapus