Minggu, 01 Februari 2015

Finding The Destiny Chapter 6






Finding The Destiny

Author                 : Jingga8
Poster Belong To : IsmiNuraulia
Cast                     : Lee Jonghyun, Im Yoona, Lee Seunggi, Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNSD
Rating                  : T
Genre                   : Angst, Romance

Chaptered



Chapter 6

Hurt...

(Present)

Dari balik jendela, salju tampak berjatuhan. Cuaca dingin cukup menjadi alasan untuk tetap berada didalam ruangan dan tidak melakukan aktifitas apapun diluaran sana. Setidaknya berada ditempat tertutup, bersama orang-orang terdekat sambil minum sesuatu yang hangat adalah pilihan yang paling tepat untuk menyelamatkan diri flu dan berbagai penyakit yang muncul seiring datangnya musim dingin. Begitupun dengan CNBOYS yang saat itu baru saja selesai melakikan meeting untuk persiapan comeback mereka. Mereka memilih untuk menunggu distudio mereka, hingga salju mulai reda. Tidak aman bagi mereka untuk menemudikan mobil mereka dalam cuaca seperti ini.

Jonghyun duduk di depan jendela. Pandangannya tersihir oleh serpihan salju yang turun memutihkan jalanan kota Seoul. Dia memetik gitarnya secara acak dan tana dia sadari petikan senarnya menghasilkan melodi sendu. Salju di bulan Januari. Tiba-tiba pemandangan itu seperti membawanya menaikin mesin waktu. Seperti déjà vu.

Januari tahun lalu, ditempat ini… tepat dihadapan jendela ini…

“Oppa… satu hari nanti, bila kita berdua hampir memenuhi semua mimpi-mimpi kita, oneday… saat aku hanya menjadi Im Yoon Ah dan Oppa hanya menjadi Lee Jonghyun saja, aku ingin sekali menghabiskan liburan musim dingin seperti ini di Hokaido bersamamu. Just the two of us..”

“Hokaido? Wae? Kenapa tidak memilih Eropa seperti Seohyun? Hokaido kan tidak terlalu jauh dari Korea dan lagi pula kamu sudah terlalu sering kesana bersama membermu, kan? Ah… atau jangan-jangan kau hanya ingin memamerkan lokasi shootingmu bersama Geunsuk Hyung padaku, yah? Andwe!! Nan shiro! Aku tidak akan pergi ketempat yang akan mengingatkanmu pada laki-laki lain!”

“Aish… geun choding!! Siapa yang mau mengajakmu kesana? Lagipula untuk seorang yang manja sepertimu, medan untuk bisa sampai kesana itu terlalu berat. Aku bisa mati kedinginan sebelum aku tiba dipuncaknya bila aku datang denganmu.”

“Mwo? Choding? Naega choding aniya! Sebutan itu sudah dimiliki seseorang, honey! Makanya, jangan terlalu sering mendengarkan Seohyun. Lama-lama kau bisa sama cerewetnya dengan hyeongseonimku!”

“Aisshh… sebenarnya Oppa mau mendengarku atau tidak? Aku sedang bicara serius.. Oppa… dan kau benar-benar menyebalkan!!!!”

“Eiii… begitu saja marah…! Okay.. okay… I’m listening, Deer…”

“Kau ingat, Oppa… aku pernah menceritakan liburanku beberapa waktu lalu? Yeah… saat itu aku ke Hokaido bersama eomma dan appa ku. Pemandangannya sungguh menakjubkan. Matahari terbit pukul 5.30 benar-benar membuat mataku tersihir. Oranye dan biru terpantul pada kristal-kristal salju yang ada disekitar sana. Pemandangan itu memberiku perasaan yang hangat meski saat itu suhu udara benar-benar dingin.

Dan pada saat itu, aku berbisik dalam hatiku… ‘Ah.. semua ini akan terasa lebih sempurna bila aku bisa melihatnya bersamamu. Ah.. akan sangat menyenangkan bila aku bisa berbagi keindahan ini bersamamu. Akan sangat sempurna bila kita bisa menyimpan moment seperti ini sebagai harta karun yang berharga dalam memori kita…’

Hhm… jinjja… Oppa, suatu hari nanti.. pastikan kita untuk benar-benar kesana. Aku jamin, Oppa juga akan merasakan perasaan yang sama dengan yang aku rasakan saat itu. Berjanjilah… kita akan pergi kesana suatu hari nanti. Aratji?”

Suaranya masih terngiang dengan jelas ditelinganya. Dia masih ingat, betapa bahagia dan bersemangatnya Yoona saat dia menceritakan cetita itu. Dan Jonghyun pernah berjanji untuk datang ketempat itu bersamanya saat mimpi mereka satu persatu telah terwujud.

Tapi kini… dia bahkan tidak tahu lagi, mimpi seperti apa yang pernah dia miliki? Dia tidak tahu lagi, apa itu mimpi dan kenapa dia harus terluka karena mimpi itu? Satu-satu yang dia tahu saat ini adalah… bahwa Yoona tidak lagi berada disana. Disisinya seperti musim dingin tahun lalu. Tidak akan pernah ada ‘suatu hati’ itu, karena Yoona telah mematahkan janjinya bersamaan dengan mimpi-mimpi masa depannya.

"Hyung, coffee.. choco-milk... cappuccino... tea?" Jungshin the maknae tiba-tiba menjelma menjadi Jungshin the Ahjumma.

"Cappuccino will be good. Gomawo!"

"Okay.." Jungshin mengacungkan jempolnya dan melemparkan kedipan nakalnya pada Jonghyun. Tentu saja, Jonghyun nyaris terekeh melihatnya.

Yonghwa terlihat serius me-retouched lagi komposisi lagu-lagu mereka. Jungshin dengan tugas ahjumma nya, dan Minhyuk membenamkan dirinya dengan laptopnya. Studio terasa begitu hening. Mungkin karena hari Sabtu, kantor agency ini benar-benar sepi. Beberapa idol FNC sedang melakukan show mereka. Sebagian yang lain sedang menghabiskan libur tahun baru bersama keluarga mereka. Hanya beberapa staf security yang berjaga di front office. Selain petikan gitar Jonghyun, tidak ada lagi yang bisa mereka dengar. Melodi yang begitu sendu, satir, dan terasa begitu sepi. Masing dari mereka hanya fokus pada aktifitas masing-masig hingga akhirnya Minhyuk setengah berteriak memecah kesunyian.

"Mwo?!!! Maldo andwe!!!"

“Mwo?!!! Maldo andwe!!” Minhyuk menutup mulut menganganya dengan tangan kanannya sambil terbelalak menatap layar laptopnya. Sontak membuat ketiga rekannya terkejut dan segera berpaling kearahnya demi memastikan apa yang terjadi dengan bocah ini.

Begitu tiga orang rekannya melihat apa yang membuat Minhyuk histeris, ketiganya pun tak kalah terkejutnya. Yonghwa dan Jungshin bahkan melakukan hal yang sama dengan Minhyuk. Kecuali Jonghyun, dia melihatnya dengan tatapan datar dan nyaris sulit menebak reaksi apa yang ada dalam fikirannya.

Sebuah artikel memenuhi hampir semua media online Korea dan menulis tentang isi konferensi pers Im Yoona dan Lee Seunggi pagi tadi. Hampir semua Head Line menulis kata-kata yang sama “Lee Seunggi Resmi berkencan dengan Im Yoona” di sertai dengan foto-foto keduanya yang saling bertatapan dan bergandengan tangan. Semua mata lalu tertuju pada Lee Jonghyun yang kala itu hanya mematung sambil melihat kearah laptop Minhyuk.

Dia melihatnya! Dia melihat Yoona-na dalam genggaman laki-laki itu. Dia melihat bagaimana Seunggi menatapnya dengan tatapan penuh cinta. Ya.. dia melihat mimpi buruknya kini menjelma menjadi kenyataan pahit. Akhirnya, lelaki itu benar-benar mencuri Yoona-nya dari sisinya.

Jonghyun tersenyum pahit. Perlahan, dia kembali ketempat duduknya semula dan mulai memetik lagi gitarnya. Setiap pasang mata kini tertuju padanyadengan penuh rasa khawatir.

“Jonghyun ah.. gwaenchanna?”

Sebenarnya Yonghwa tahu bahwa dongsaengnya tidak mungin baik-baik saja. Semua ini benar-benar konyol. Baru tadi malam Yoona berjanji padanya untuk segera menyelesaikan masalahnya dengan Jonghyun. Tapi kini… Yonghwa benar-benar bingung. Kenapa Lee Seunggi tiba-tiba hadir diantara semua ini?

“Mwo ya? Naega wae?" Jonghyun menjawabnya dengan singkat diiringi senyuman palsu diwajahnya. Betapapun kerasnya Jonghyun mencoba terlihat kuat, tetap saja.. 5 tahun kebersamaan mereka sudah cukup membuat Yonghwa, Minhyuk dan Jungshin isa dengan mudah menelanjangi kebohongannya. Mereka tidak akan tertipu dengan senyuman palsu seperti itu.

Minhyuk segera mematikan laptopnya dan enggan untuk meneruskan apa yang sebelumnya dia baca. Yonghwa lalu duduk disamping Jonghyun dan berfikir keras demi menemukan kata-kata yang tepat untuk dia katakan pada Jonghyun. Dia memang telah mengetahui masalah ini dari Yoona tadi malam. Tapi tentang berkencan dengan Lee Seunggi, dia sama sekali tidak mengetahuinya. Dia sendiri terkejut kerena Yoona sama sekali tidak mengatakan apa-apa tentang itu tadi malam.

“Jonghyun ah.. kau benar-benar tidak akan mengatakan apa-apa pada kami?“

Kali ini Yonghwa memberanikan dirinya untuk bertanya langsung pada Jonghyun. Selama ini ketiganya menahan diri untuk bersikap biasa-biasa saja pada Jonghyun meski mereka mulai merasa ada sesuatu yang berbeda dengan rekannya ini. Bahkan tiap kali nama Im Yoona di mention, Jonghyun akan mengalihkan pembicaraan dan mood nya akan berubah sebelum akhirnya dia meninggalkan lawan biacaranya.

“Apa yang harus aku katakan, Hyung?“ Jawabnya singkat. Tapi kali ini wajahnya tak lagi menunjukan senyum pahitnya. Sinar matanya meredup, dan jemarinya berhenti memetik senar-senar gitarnya. Kini wajahnya tertunduk pilu.

“Aku tahu semuanya, Jonghyun ah. Seohyun menceritakan sebagian kecil yang terjadi antara kau dan Yoona. Selama ini aku menunggumu untuk menceritakan semuanya pada kami. Atau setidaknya hanya padaku. Aku hanya ingin memberimu waktu untuk menenangkan fikiranmu dan mengira bahwa suatu saat, bila kau merasa lebih tenang dan lebih siap, kau pasti akan menceritakannya padaku.“

Yonghwa menatap Jonghyun penuh simpati. Betapa menyakitkan hatinya, melihat Jonghyun seperti ini. Dalam hatinya dia berfikir bila saja hal ini terjadi padanya, dirinya tidak akan mungkin bisa sekuat Jonghyun. Bila saja ini terjadi padanya, mungkin saat berita itu muncul, dia akan segera berlari mencari kemanapun Seohyun berada dan tak akan pernah rela melepaskannya.

“Geunyang eottokhae, Hyung... karena kenyataannya aku tak pernah merasa tenang dan siap akan semua ini. Aku sendiri sibuk meyakinkan diriku sendiri bahwa yang terjadi pada hidupku ini adalah benar-benar kenyataan. Setiap pagi aku terbangun, yang pertama terlintas dalam benakku adalah gadis itu. Apa yang sedang dia lakukan, apa dia hidup dengan baik, apa dia makan dan tidur dengan teratur, apa pekerjaannya berjalan lancar, apa cuaca dingin ini mengganggu kesehatannya, dan segala hal tentang dia akan pertama muncul saat aku membuka mata. Tapi setelah aku benar-benar terjaga, kenyataan kembali menamparku dan mengingatkanku bahwa gadis itu telah memintaku melepaskannya 3 bulan yang lalu.”

Jonghyun menundukkan wajahnya. Dia tak mampu lagi menyembunyikan kepedihannya dan bersikap seolah dia baik-baik saja. Minhyuk dan Jungshin serempak menutup mulut mereka dan membelalakan matanya. Mereka tak percaya dengan apa yang telah dialami Hyungnya. 3 bulan? Dan Hyungnya hanya menyimpan lukanya sendirian?

Yonghwa menepuk punggung Jonghyun dan berusaha menenangkan hatinya. Meski dia tak tahu pasti apa yang harus dia katakan dan dia lakukan untuk menolong dongsaengnya. Seohyun bahkan tidak mengabarinya tentang apa yang tadi pagi terjadi dalam konferensi pers Yoona. Mungkin saat ini pun SNSD dan manajemen nya sedang sibuk merespon berbagai animo publik yang muncul pasca pengakuan Lee Seunggi tadi pagi.

“Hyung, kenapa kau tidak menceritakannya pada kami? Kau membuat kami merasa begitu buruk karena membuatmu harus menjalani semua ini seorang diri.” Minhyuk menatap hyung nya dengan tatapan pilu. Rasanya dia yang ingin sekali menangis saat itu. Namun di tahannya karena Jonghyun pun bahkan terlihat menguatkan dirinya.

“Mianhae, bukan karena aku tidak menganggap kalian sebagai keluargaku, tapi...“ Jonghyun menghela nafasnya dan membersihkan tenggorokannya yang sedari tadi terasa seperti ada yang tersangkut didalamnya yang membuat dia sulit berbicara bahkan bernafas.

“Aku hanya bingung, dari mana aku harus mulai membicarakannya pada kalian. Seperti yang tadi kukatakan, aku sendiri butuh waktu untuk bisa menerima semua ini. Dan lagi, aku tak ingin mengganggu atmosfer diantara kita mengingat saat ini kita sedang mempersiapkan album come back kita. Jinjja mianhae..”

“Jeoseonghaeo, Hyung.. tapi bukankah kalian selama ini baik-baik saja? Maksudku, sebelum akhir-akhir ini sikapmu berubah, hubunganmu dengan hyeongseonim baik-baik saja. Justru yang sering kami lihat adalah perseteruan yongseo couple. Dan terakhir sebelum SNSD konser di Jepang, kita bahkan masak dan makan bersama di dorm kita. Apa yang menyebabkan kalian tiba-tiba harus berpisah?” Rasa penasaran Jungshin seperti mengelupas lagi dinding luka dalam hati Jonghyun.

“Molla. Hingga detik ini pun aku masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Awalnya aku hanya merasa Yoona sedang dalam keadaan tertekan. Entah itu karena pekerjaannya atau hal lain yang aku tidak mengetahuinya. Keesokannya aku mencoba menghubunginya. Tapi hand phone nya selalu tidak aktif. Aku mendatangi dorm mereka, tapi eonni-eonni nya bilang bahwa Yoona tidak pulang ke dorm dan menginap dirumah orang tuanya. Saat aku datang ke rumah orang tuanya, pembantunya bilang mereka sedang pergi keluar kota. Sejak malam itu, Yoona seperti hilang ditelan bumi. Setiap hari aku melakukan hal yang sama untuk mendapat kabar tentangnya, tapi selalu tak berhasil. Hingga kemarin siang, saat foto-foto nya muncul dipemberitaan, aku hanya terpaku dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku merasa Yoona menyembunyikan sesuatu dariku dan mencari-cari alasan untuk berpisah denganku. Aku baru saja berniat untuk datang menemuinya, tapi...”

Jonghyun menghela nafasnya. Sejenak merenung sebelum akhirnya meneruskan kata-katanya.

“Tapi berita di laptop Minhyuk tadi sepertinya menyuruhku untuk menyerah. Yeah.. inilah yang Yoona inginkan. Hubungan yang diketahui dan diakui publik. Aku tak mampu melakukan itu untuknya. Dan sekarang, dia mendapatkan itu dari laki-laki lain. Kita semua mengenal Lee Seunggi hyung sebagai orang yang baik. Dan aku sudah tahu sejak lama bahwa dia menyukai Yoona. Bahkan jauh sebelum aku bersamanya. Ddaengida.. setidaknya Yoona berada di tangan laki-laki yang akan membuatnya lebih bahagia.”

Binar kesedihan tampak jelas dimatanya. Yonghwa menatap Jonghyun dengan rasa bersalahnya. Tuhan tahu betapa ingin Yonghwa memberi tahu Jonghyun apa yang diketahuinya dari Yoona kemarin malam. Tapi semua ini menjadi lebih dilematis mengingat ini bukan hanya masalah dongsaengnya, tapi juga Yoona yang memohon padanya untuk tetap menyimpan rahasia ini. Ditambah lagi sekarang ada Lee Seunggi yang seantero Korea bahkan dunia kini mengenalnya sebagai kekasih Yoona.

“Jonghyun ah, apa kau tidak ingin menemuinya dan menanyakan langsung padanya apa yang sebenarnya terjadi? Aku hanya merasa, Yoona tidak mungkin melakukan semua ini tanpa alasan yang mendesak. Aku mengenal kalian cukup lama, dan aku tahu pasti bahwa kalian tidak akan semudah ini berpisah. Cobalah untuk memperjuangkan hatimu sekali lagi. At least, bila kau memang merasa bahwa cintamu layak untuk kau perjuangkan. Temui dia, Jonghyun ah!”

“Molla, Hyung! Mungkin kemarin aku masih berfikir hal seperti itu. Tapi setelah kabar hari ini, aku benar-benar tak tahu harus bagaimana. Aku mulai berfikir bahwa cinta ini hanya berharga untukku sendiri. Tapi Yoona tidak menganggapnya begitu. Yoona tidak akan melakukan semua ini bila hatinya tidak mengijinkannya apapun alasannya. Jadi berita kebersamaan mereka, aku pikir tidak akan pernah terjadi bila Yoona tidak menginginkannya.

Aku mulai merasa lelah, hyung. Seperti aku sedang berlari dijalan yang tak berujung dan aku tak tahu kapan aku harus berhenti. Aku sendiri tak tahu kemana arah langkahku dan apa yang sedang aku kejar. Entahlah.. aku merasa Yoona sedang memberi dirinya kesempatan untuk hidup dengan laki-laki yang lebih bisa memberinya janji masa depan.”

Jonghyun menundukan kepalanya. Meski genangan air mata tampak jelas dimatanya, namun laki-laki ini dengan kuat menahannya untuk tidak pernah menetes didepan saudara-saudaranya.

Sekali lagi Jonghyun berusaha menampakan senyumnya demi membuat ketiga saudaranya berhenti mengkhawatirkannya. Meski dia merasa seperti sesuatu sedang meremas jantungnya. Rasa sakit itu tak mampu dia deskripsikan dengan kata. Betapa tidak? Melihat bidadarinya berada dalam genggaman laki-laki lain, bagaimana mungkin kenyataan ini tidak menghancurkan hatinya.

“Gwaenchanna, Jongie ah! Kau tahu, bahwa kau tidak pernah sendirian. Meski aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu merasa lebih baik, tapi... kau selalu punya kami. Berhentilah bersikap sok kuat. Sesekali membiarkan perasaanmu mengalir apa adanya, dan mengekpresikannya, mungkin akan lebih mudah untukmu. Kami tidak akan meng-komplain mood dan emosimu selagi kami tahu apa yang terjadi denganmu. Kami akan selalu berusaha mengerti. Aratji?”

Yonghwa sekali lagi mengusap pundak Jonghyun berharap gerakan itu mampu me-revive hatinya. Dalam hatinya dia berharap Yoona segera menepati janjinya untuk segera menjelaskan segalanya pada Jonghyun. Atau jangan salahkan dia, bila dia tidak mampu menepati janjinya untuk tidak mengatakan rahasia Yoona pada Jonghyun.

“Gomawo, Hyung! Ah.. benar-benar membuatku lapar. Hmm... apa sebaiknya kita pulang saja dan membuat sesuatu yang lezat untuk mengusir lapar ini?” Jonghyun kembali menguatkan dirinya meski baru semenit lalu hyungnya berkata untuk berhenti menjadi sok kuat. “Jungshin ahjuma.. keluarkan skill –mu! Buatkan aku sesuatu yang enak!”

Melihat sikap Jonghyun, ketiga rekannya tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti apa yang baru saja dia katakan. Jungshin segera bangkit dari duduknya dan mengembangkan senyum termanisnya.

“Arraso!! Serahkan semuanya pada Jungshin Ahjuma!! Aku jamin, setelah kau makan masakanku, semua kesedihan itu akan lenyap dalam sekejap!”

Semua orang tersenyum lepas melihat si magnae dan semangatnya. Meski semua tahu, bahwa senyum itu tidak mampu menghilangkan kenyataan betapa rapuhnya Jonghyun saat ini.

***

Pukul 6.30 sore, keempat orang itu tiba di dorm mereka setelah mampir ke supermarket terdekat untuk membeli beberapa bahan untuk dimasak. Jungshin segera menuju dapur dan melakukan persiapan. Minhyuk membantunya. Jonghyun mengambil handuk dari kamarnya lalu bergegas mandi. Yonghwa memasuki kamarnya begitu hand phone-nya bergetar dan nama ‘heaven light’ tertulis dilayarnya.

“Hyun.. apa yang terjadi?” Sedikit tidak sabar, Yonghwa langsung menanyai Seohyun hingga dia lupa menyapa gadisnya lebih dulu.

“Eissh.. Oppa.. wae? Kau bahkan tidak menyapaku dulu setelah seharian kau tidak mendengar suaraku? Don’t you missing me, Oppa?” Seo Joohyun segera menyadari tekanan yang kini dirasakan CNBLUE setelah apa yang terjadi pada eonninya. Dia mencoba meredam ketegangan pada intonasi suara Yonghwa dengan canda kecilnya.

“Ah.. mianhae, baby.. aku benar-benar menjalani hari yang panjang. Kau sedang apa sekarang?”

“Hhm.. kau pasti sudah bisa menebak apa yang sedang aku dan eonni-deul lakukan saat ini. Huuffh... eottokhae, Oppa? Kenapa tiba-tiba terjadi hal seperti ini?” Seohyun terdengar  putus asa dan semakin membuat Yonghwa ingin berlari kearahnya untuk memeluknya.

“Aku mengerti, Hyun, kalian pasti mengalami hari yang lebih berat dari kami. Nae sarang, noel gwaenchanna?” Dengan lembut, Yonghwa bertanya. Dia memastikan bahwa gadisnya baik-baik saja dengan apa yang terjadi pada grupnya.

“Nan gwaenchanna, Oppa. Tapi untuk beberapa hari, mungkin kita akan sulit untuk bertemu. Aku tidak bisa leluasa meninggalkan dorm-ku mengingat pers tidak henti-hentinya berdatangan kesini dan kami khawatir akan mengatakan atau melakukan sesuatu yang salah yang justru akan memperkeruh suasana. Terlebih, akan sangat berbahaya untuk kita bila dalam situasi ini pers justru melihat kita bersama. Mianhae, Oppa. Aah... jongmal bogoshipo, Yooong...”

“It’s oke, Honey! Selama kau baik-baik saja. Jangan lupa tetap mengabariku. Makan dan tidur dengan baik. Joohyun-ku yang aku ingat adalah gadis yang yang cantik dengan mata yang indah. Bukan gadis bermata panda dengan wajah yang pucat seperti vampire. Jadi, meski beberapa waktu kita tidak bertemu, aku ingin Joohyun-ku kembali kepelukanku dalam keadaan utuh tanpa kekuarangan apapun. Arratji?”

“Hhm.. So Cheesy, Nae Yonghwa! Geurae! Aku janji, Oppa! Oppa do… jangan lupa minum vitaminmu. Comeback kalian sudah didepan mata, kan? Dan awas saja, Jung Yonghwa Ssi, bila kau berani meneguk kopi dibelakangku! Oh iya.. bagaimana keadaan Jonghyun Oppa saat ini?”

“Jonghyun...? Aah... kau bisa bayangkan bagaimana laki-laki Busan itu terus menunjukkan tentang betapa kuatnya dia. Bila saja berita itu tidak kami lihat bersama, entah sampai kapan anak keras kepala itu akan mengunci mulutnya dan menelan kepedihannya sendiri. Meski dia berkata bahwa dia baik-baik saja, tapi aku sudah menjadi Hyung-nya untuk lebih dari 5 tahun ini. Lewat matanya saja sudah cukup membuatku tahu betapa hancur perasaannya.”

“Benarkah? Owwh... eottokhaji, Oppa? Uri eonni do... aku pun bisa melihat kepedihan yang sama dari mata Yoona eonni. Tapi hingga kini Yoona eonni tidak terdengar kabarnya, Oppa. Hand phone nya dimatikan. Orang tuanya bahkan tidak tahu dimana dia berada saat ini. Seunggi Oppa pun hingga saat ini masih mencarinya. Kami masih tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi. Terus terang, aku dan eonni-deul masih bingung. Hanya manajer Oppa dan Seunggi Oppa yang mengatakannya pada kami. Tapi kami ingin mendengarnya langsung dari Yoona eonni. Tapi huuh... dia dimana sekarang? Aku benar-benar takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.” Suara Joohyun terdengar parau dan dipastikan dia sedang menahan tangisnya.

“Sshh.. keep thinking positively, Honey.. Yoona pasti baik-baik saja. Mungkin dia berada disuatu tempat untuk menenangkan dirinya. Tapi.. tentang kabar Yoona berkencan dengan Lee Seunggi, aku benar-benar terkejut, Hyun. Yoona sama sekali tidak mengatakan apa-apa padaku tadi malam. Apa mungkin, kalian juga tidak mengetahuinya?”

“Maja, Oppa! Kau tidak tahu betapa terkejutnya kami saat Seunggi Oppa muncul dan mengatakan kalau mereka berkencan. Awalnya eonni akan melakukan konferensi pers itu sendirian. Tapi entah apa yang membuat Seunggi Oppa tiba-tiba hadir. Sebelumnya aku berfikir mungkin ini strategi manajemen, tapi Seunggi Oppa dan juga manajer Oppa mengatakan bahwa kenyataannya memang benar mereka berkencan. Aku dan eonni-deul benar-benar bingung, Oppa.”

“Geurae, Hyunie.. pokoknya begitu ada kabar, jangan lupa untuk langsung menghubungiku yah.”

“Hmm..”

“Satu lagi, Hyuun...!”

“Wae?”

“Jangan pernah melakukan apa yang Yoona lakukan pada Jonghyun itu padaku. Jangan pernah meninggalkanku seperti itu, Hyun! Aku tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya hidupku tanpamu didalamnya. Sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa, Hyun.” Yonghwa menghela nafas panjang.

“Naega yaksokhae, Oppa! Kau bisa memegang janjiku. Aku hanya akan meninggalkanmu karena dua permintaan. Yang pertama saat kau yang memintaku karena kau tidak menginginkanku untuk berada disisimu lagi, dan yang kedua saat Tuhan yang memintaku karena Dia lebih menginginkanku untuk berada disisi-Nya.”

“MWO YAH? GEUMANHAE, SEO JOOHYUN!!! Jangan pernah berkata macam-macam, Hyun ah! Aku benci mendengar kata-kata seperti itu!”

Tanpa disadari, Yonghwa menaikan nada suaranya dan sedikit membentak dengan kata-katanya barusan. Bukan karena dia marah pada Seohyun, tapi karena kata-kata itu membuatnya ketakutan, bahkan membuat hati nya terasa sakit meskipun itu hanya sebuah perumpamaan.

“A.. Arasso, Oppa! Mianhae.. Eiii… aku tidak bermaksud membuatmu marah, Oppa! Jangan terlalu serius, Jjagie ah.. kau tidak seperti Yong Oppa ku saat judes seperti itu.”  Mendengar permintaan maaf gadisnya, Yonghwa menyesal dan kembali melembutkan suaranya.

“Aku tidak marah, Hyun! Kau membuatku takut dengan kata-kata itu. Dengarkan aku! Hyun, kau akan selalu sehat dan kau akan hidup lebih lama dariku. Seperti katamu dulu, karena aku 2 tahun lebih tua darimu, maka aku yang akan mati lebih dulu. Tapi sebelum itu, kita akan memiliki ribuan malam untuk kita lewati bersama. Jadi jangan pernah mengatakan hal-hal yang aku tak ingin mendengarnya. Aratji?”

“Nde, Oppa! Saranghae..”

“Na do saranghae, Hyun…!”
***

“Hyung... makanannya sudah siaaapp!!!”

Terdengar si maknae sudah memanggil dari dapur. Yonghwa segera keluar dari kamarnya beberapa saat setelah menutup hand phone nya dan mengganti bajunya. Tak lama, Jonghyun pun menyusul.

“Ohh..? Kenapa kita makan di ruang tengah?” Jonghyun mendapati semua makanan sudah ditata rapi di atas meja depan TV.

“Igae.. geunyang.. aku hanya ingin makan sambil nonton film bersama. Sudah berapa lama kita tidak memiliki moment untuk makan, nonton dan ngobrol bersama seperti ini.” Jungshin kemudian menarik tangan Jonghyun dan mengajaknya duduk di sampingnya.

Beberapa saat mereka menikmati makan malam buatan Jungshin ‘Ahjuma’ sambil melakukan obrolan-obrolan kecil seputar album baru mereka, atau hal-hal kecil yang terjadi disekitar mereka. Setelah semua makanan di santap habis, dan perut mereka terasa kenyang, Jungshin dan Minhyuk membereskan meja ruang tengah lalu mengambil buah-buahan dari kulkas untuk dinikmati dengan teh hangat.

“Hyung, sekarang waktunya Running Man. Sudah lama kita tidak melihat acara itu karena kesibukan kita akhir-akhir ini. Sepertinya seru bila kita lihat bersama saat ini.” Jungshin mengambil remote dan memindahkan chanel TV untuk melihat variety show yang sudah terkenal ke seluruh asia ini.

Variety show itu memang selalu menyuguhkan konsep dan ide-ide segar dengan variasi game yang tidak membosankan ditambah lagi dengan pengisi acara yang sudah tangguh dan profesional. Tidak pernah mungkin bisa melewatkan acara ini tanpa tertawa tepingkal-pingkal  hingga memegang perut saking lucu nya Yoo Jaesuk dkk menjalani tantangan-tantangan dalam acara itu.

Begitupun dengan CNBoys, kali ini Yonghwa dan kawan-kawan nya sontak dibuat tertawa hingga terguling-guling dilantai melihat ulah Yoo Jaesuk dan koloni nya. Hingga mereka lupa dengan apa yang mereka alami sebelumnya.

Mereka tertawa. Lagi dan lagi. Hingga Yonghwa menyadari sesuatu yang membuat tawanya lenyap seketika. Dia menyikut Minhyuk yang duduk disampingnya untuk melihat apa yang dilihatnya barusan. Dan seketika tawa di wajah Minhyuk pun menghilang. Jungshin menyadari apa yang Hyung nya dan Minhyuk lihat, lalu tawanya pun ikut sirna. Tinggal Jonghyun yang masih terbahak dengan wajah yang memerah, dan air mata yang deras mengalir diwajahnya.

Selucu itu kah? Hingga mebuatnya tertawa hingga berair mata? Ania... sesakit itukah? Hingga dalam tawapun dia tak mampu membendung lagi air matanya?

My heart stops all this cold love, my heart breaks into pieces..
My breath stops at this sick love, my breath slowly dies..
Day by day, i weather like a wild flower
A sonata of farewells, words i know without even hearing them..
Oh wanna change. To when we used to love...
CNBLUE – Cold Love

Yonghwa menyadari bahwa saat ini pertahanan Jonghyun sudah pada batasnya. Dia bergegas merangkul dongsaengnya sambil mengusap pundaknya.

“Gwaenchanna, Jongie ah! Gwaenchanna! Semua pasti akan bisa kau lewati! Gwaenchanna!”

Kali ini Jonghyun tak lagi mampu menyembunyikan kerapuhan dan kehancuran hatinya lagi didepan ‘keluarga’ kecilnya ini. Dalam sekejap saja tawanya berubah menjadi isak tangis yang memilukan. Dalam pelukan Hyungnya, rasanya tak ingin lagi dia bersembunyi dibalik egonya. Dia tidak memiliki tenaga lagi untuk bertarung dengan prestisenya hanya demi terlihat kuat. Kehilangan Yoona dalam hidupnya seperti kehilangan udara yang setiap kali dia merindukannya, dadanya akan terasa sesak. Melepaskan Yoona dalam hidupnya seperti melepaskan segala mimpi-mimpinya hingga dia tak tahu lagi masa depan akan seperti apa. Yah.. kali ini Jonghyun menyerah. Dia mengaku kalah pada rasa sakit yang dia rasakan karena kehilangan ini.

“Eottokhae, Hyung... Nae gaseumi.. mani appeuni! Aku benar-benar merindukannya! Eotthokhae?” Jonghyun bergumam di dalam isakannya.

“Ahra..! Aku tahu betapa beratnya semua ini untukmu. Mianhae, Jonghyun ah.. saat ini aku hanya bisa memelukmu seperti ini dan membiarkanmu menangis sepuasanya.”

I close my eyes..
And dream of you and i
And than i realize..
There’s more to love than only bittersness and lies
I close my eyes...

I’d give away my soul to hold you once again..
And never let this promise end..

Josh Groban – Broken Vow

Untuk pertama kalinya selama perjalanan karier mereka dan selama mereka tinggal bersama sebagai sebuah keluarga, mereka mengalami moment sentimental seperti ini. Meski tidak ada ikatan darah, tapi 5 tahun bersama dan melewati kesulitan dan kemudahan bersama, membuat mereka bahkan lebih dekat daripada saudara kandung. Seperti saat tangan merasa sakit, maka mata akan menangis merasakan sakitnya. Atau saat mata menangis, maka tangan akan membatu menyeka air matanya. Seperti itulah ikatan diantara mereka.

Minhyuk sibuk menyeka air matanya sendiri. Begitupun Jungshin Ahjuma. Yonghwa sebagai yang tertua harus menjelma menjadi yang terkuat. Meski batinnya bisa merasakan rasa sakit yang Jonghyun alami saat ini.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar