Finding The Destiny
Author : Jingga8
Poster Belong To : IsmiNuraulia
Cast : Lee Jonghyun, Im Yoona, Lee Seunggi, Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNSD
Rating : T
Genre : Angst, Romance
Chaptered
Chapter 6
Hurt...
(Present)
Dari
balik jendela, salju tampak berjatuhan. Cuaca dingin cukup menjadi alasan untuk
tetap berada didalam ruangan dan tidak melakukan aktifitas apapun diluaran
sana. Setidaknya berada ditempat tertutup, bersama orang-orang terdekat sambil
minum sesuatu yang hangat adalah pilihan yang paling tepat untuk menyelamatkan
diri flu dan berbagai penyakit yang muncul seiring datangnya musim dingin.
Begitupun dengan CNBOYS yang saat itu baru saja selesai melakikan meeting untuk
persiapan comeback mereka. Mereka memilih untuk menunggu distudio mereka,
hingga salju mulai reda. Tidak aman bagi mereka untuk menemudikan mobil mereka
dalam cuaca seperti ini.
Jonghyun
duduk di depan jendela. Pandangannya tersihir oleh serpihan salju yang turun
memutihkan jalanan kota Seoul. Dia memetik gitarnya secara acak dan tana dia
sadari petikan senarnya menghasilkan melodi sendu. Salju di bulan Januari.
Tiba-tiba pemandangan itu seperti membawanya menaikin mesin waktu. Seperti déjà
vu.
Januari tahun lalu,
ditempat ini… tepat dihadapan jendela ini…
“Oppa… satu hari nanti,
bila kita berdua hampir memenuhi semua mimpi-mimpi kita, oneday… saat aku hanya
menjadi Im Yoon Ah dan Oppa hanya menjadi Lee Jonghyun saja, aku ingin sekali
menghabiskan liburan musim dingin seperti ini di Hokaido bersamamu. Just the
two of us..”
“Hokaido? Wae? Kenapa tidak
memilih Eropa seperti Seohyun? Hokaido kan tidak terlalu jauh dari Korea dan
lagi pula kamu sudah terlalu sering kesana bersama membermu, kan? Ah… atau
jangan-jangan kau hanya ingin memamerkan lokasi shootingmu bersama Geunsuk
Hyung padaku, yah? Andwe!! Nan shiro! Aku tidak akan pergi ketempat yang akan
mengingatkanmu pada laki-laki lain!”
“Aish… geun choding!! Siapa
yang mau mengajakmu kesana? Lagipula untuk seorang yang manja sepertimu, medan
untuk bisa sampai kesana itu terlalu berat. Aku bisa mati kedinginan sebelum
aku tiba dipuncaknya bila aku datang denganmu.”
“Mwo? Choding? Naega
choding aniya! Sebutan itu sudah dimiliki seseorang, honey! Makanya, jangan
terlalu sering mendengarkan Seohyun. Lama-lama kau bisa sama cerewetnya dengan
hyeongseonimku!”
“Aisshh… sebenarnya Oppa
mau mendengarku atau tidak? Aku sedang bicara serius.. Oppa… dan kau
benar-benar menyebalkan!!!!”
“Eiii… begitu saja marah…!
Okay.. okay… I’m listening, Deer…”
“Kau ingat, Oppa… aku
pernah menceritakan liburanku beberapa waktu lalu? Yeah… saat itu aku ke
Hokaido bersama eomma dan appa ku. Pemandangannya sungguh menakjubkan. Matahari
terbit pukul 5.30 benar-benar membuat mataku tersihir. Oranye dan biru
terpantul pada kristal-kristal salju yang ada disekitar sana. Pemandangan itu
memberiku perasaan yang hangat meski saat itu suhu udara benar-benar dingin.
Dan pada saat itu, aku
berbisik dalam hatiku… ‘Ah.. semua ini akan terasa lebih sempurna bila aku bisa
melihatnya bersamamu. Ah.. akan sangat menyenangkan bila aku bisa berbagi
keindahan ini bersamamu. Akan sangat sempurna bila kita bisa menyimpan moment
seperti ini sebagai harta karun yang berharga dalam memori kita…’
Hhm… jinjja… Oppa, suatu
hari nanti.. pastikan kita untuk benar-benar kesana. Aku jamin, Oppa juga akan
merasakan perasaan yang sama dengan yang aku rasakan saat itu. Berjanjilah…
kita akan pergi kesana suatu hari nanti. Aratji?”
Suaranya
masih terngiang dengan jelas ditelinganya. Dia masih ingat, betapa bahagia dan
bersemangatnya Yoona saat dia menceritakan cetita itu. Dan Jonghyun pernah
berjanji untuk datang ketempat itu bersamanya saat mimpi mereka satu persatu
telah terwujud.
Tapi
kini… dia bahkan tidak tahu lagi, mimpi seperti apa yang pernah dia miliki? Dia
tidak tahu lagi, apa itu mimpi dan kenapa dia harus terluka karena mimpi itu?
Satu-satu yang dia tahu saat ini adalah… bahwa Yoona tidak lagi berada disana.
Disisinya seperti musim dingin tahun lalu. Tidak akan pernah ada ‘suatu hati’
itu, karena Yoona telah mematahkan janjinya bersamaan dengan mimpi-mimpi masa
depannya.
"Hyung, coffee.. choco-milk...
cappuccino... tea?" Jungshin the maknae tiba-tiba menjelma menjadi
Jungshin the Ahjumma.
"Cappuccino will be
good. Gomawo!"
"Okay.."
Jungshin mengacungkan jempolnya dan melemparkan kedipan nakalnya pada Jonghyun.
Tentu saja, Jonghyun nyaris terekeh melihatnya.
Yonghwa terlihat serius
me-retouched lagi komposisi lagu-lagu mereka. Jungshin dengan tugas ahjumma
nya, dan Minhyuk membenamkan dirinya dengan laptopnya. Studio terasa begitu
hening. Mungkin karena hari Sabtu, kantor agency ini benar-benar sepi. Beberapa
idol FNC sedang melakukan show mereka. Sebagian yang lain sedang menghabiskan
libur tahun baru bersama keluarga mereka. Hanya beberapa staf security yang
berjaga di front office. Selain petikan gitar Jonghyun, tidak ada lagi yang
bisa mereka dengar. Melodi yang begitu sendu, satir, dan terasa begitu sepi.
Masing dari mereka hanya fokus pada aktifitas masing-masig hingga akhirnya
Minhyuk setengah berteriak memecah kesunyian.
"Mwo?!!! Maldo
andwe!!!"
“Mwo?!!!
Maldo andwe!!” Minhyuk menutup mulut menganganya dengan tangan kanannya sambil
terbelalak menatap layar laptopnya. Sontak membuat ketiga rekannya terkejut dan
segera berpaling kearahnya demi memastikan apa yang terjadi dengan bocah ini.
Begitu
tiga orang rekannya melihat apa yang membuat Minhyuk histeris, ketiganya pun
tak kalah terkejutnya. Yonghwa dan Jungshin bahkan melakukan hal yang sama
dengan Minhyuk. Kecuali Jonghyun, dia melihatnya dengan tatapan datar dan
nyaris sulit menebak reaksi apa yang ada dalam fikirannya.
Sebuah
artikel memenuhi hampir semua media online Korea dan menulis tentang isi
konferensi pers Im Yoona dan Lee Seunggi pagi tadi. Hampir semua Head Line
menulis kata-kata yang sama “Lee Seunggi Resmi berkencan dengan Im
Yoona” di sertai dengan foto-foto keduanya yang saling bertatapan dan
bergandengan tangan. Semua mata lalu tertuju pada Lee Jonghyun yang kala itu
hanya mematung sambil melihat kearah laptop Minhyuk.
Dia
melihatnya! Dia melihat Yoona-na dalam genggaman laki-laki itu. Dia melihat
bagaimana Seunggi menatapnya dengan tatapan penuh cinta. Ya.. dia melihat mimpi
buruknya kini menjelma menjadi kenyataan pahit. Akhirnya, lelaki itu
benar-benar mencuri Yoona-nya dari sisinya.
Jonghyun
tersenyum pahit. Perlahan, dia kembali ketempat duduknya semula dan mulai
memetik lagi gitarnya. Setiap pasang mata kini tertuju padanyadengan penuh rasa
khawatir.
“Jonghyun
ah.. gwaenchanna?”
Sebenarnya
Yonghwa tahu bahwa dongsaengnya tidak mungin baik-baik saja. Semua ini
benar-benar konyol. Baru tadi malam Yoona berjanji padanya untuk segera
menyelesaikan masalahnya dengan Jonghyun. Tapi kini… Yonghwa benar-benar
bingung. Kenapa Lee Seunggi tiba-tiba hadir diantara semua ini?
“Mwo ya? Naega
wae?" Jonghyun menjawabnya dengan singkat diiringi senyuman palsu
diwajahnya. Betapapun kerasnya Jonghyun mencoba terlihat kuat, tetap saja.. 5
tahun kebersamaan mereka sudah cukup membuat Yonghwa, Minhyuk dan Jungshin isa dengan
mudah menelanjangi kebohongannya. Mereka tidak akan tertipu dengan senyuman
palsu seperti itu.
Minhyuk
segera mematikan laptopnya dan enggan untuk meneruskan apa yang sebelumnya dia
baca. Yonghwa lalu duduk disamping Jonghyun dan berfikir keras demi menemukan
kata-kata yang tepat untuk dia katakan pada Jonghyun. Dia memang telah mengetahui
masalah ini dari Yoona tadi malam. Tapi tentang berkencan dengan Lee Seunggi,
dia sama sekali tidak mengetahuinya. Dia sendiri terkejut kerena Yoona sama
sekali tidak mengatakan apa-apa tentang itu tadi malam.
“Jonghyun
ah.. kau benar-benar tidak akan mengatakan apa-apa pada kami?“
Kali
ini Yonghwa memberanikan dirinya untuk bertanya langsung pada Jonghyun. Selama
ini ketiganya menahan diri untuk bersikap biasa-biasa saja pada Jonghyun meski
mereka mulai merasa ada sesuatu yang berbeda dengan rekannya ini. Bahkan tiap
kali nama Im Yoona di mention, Jonghyun akan mengalihkan pembicaraan dan mood
nya akan berubah sebelum akhirnya dia meninggalkan lawan biacaranya.
“Apa
yang harus aku katakan, Hyung?“ Jawabnya singkat. Tapi kali ini wajahnya tak
lagi menunjukan senyum pahitnya. Sinar matanya meredup, dan jemarinya berhenti
memetik senar-senar gitarnya. Kini wajahnya tertunduk pilu.
“Aku
tahu semuanya, Jonghyun ah. Seohyun menceritakan sebagian kecil yang terjadi
antara kau dan Yoona. Selama ini aku menunggumu untuk menceritakan semuanya
pada kami. Atau setidaknya hanya padaku. Aku hanya ingin memberimu waktu untuk
menenangkan fikiranmu dan mengira bahwa suatu saat, bila kau merasa lebih
tenang dan lebih siap, kau pasti akan menceritakannya padaku.“
Yonghwa
menatap Jonghyun penuh simpati. Betapa menyakitkan hatinya, melihat Jonghyun
seperti ini. Dalam hatinya dia berfikir bila saja hal ini terjadi padanya,
dirinya tidak akan mungkin bisa sekuat Jonghyun. Bila saja ini terjadi padanya,
mungkin saat berita itu muncul, dia akan segera berlari mencari kemanapun
Seohyun berada dan tak akan pernah rela melepaskannya.
“Geunyang
eottokhae, Hyung... karena kenyataannya aku tak pernah merasa tenang dan siap
akan semua ini. Aku sendiri sibuk meyakinkan diriku sendiri bahwa yang terjadi
pada hidupku ini adalah benar-benar kenyataan. Setiap pagi aku terbangun, yang
pertama terlintas dalam benakku adalah gadis itu. Apa yang sedang dia lakukan,
apa dia hidup dengan baik, apa dia makan dan tidur dengan teratur, apa
pekerjaannya berjalan lancar, apa cuaca dingin ini mengganggu kesehatannya, dan
segala hal tentang dia akan pertama muncul saat aku membuka mata. Tapi setelah
aku benar-benar terjaga, kenyataan kembali menamparku dan mengingatkanku bahwa
gadis itu telah memintaku melepaskannya 3 bulan yang lalu.”
Jonghyun
menundukkan wajahnya. Dia tak mampu lagi menyembunyikan kepedihannya dan
bersikap seolah dia baik-baik saja. Minhyuk dan Jungshin serempak menutup mulut
mereka dan membelalakan matanya. Mereka tak percaya dengan apa yang telah
dialami Hyungnya. 3 bulan? Dan Hyungnya hanya menyimpan lukanya sendirian?
Yonghwa
menepuk punggung Jonghyun dan berusaha menenangkan hatinya. Meski dia tak tahu
pasti apa yang harus dia katakan dan dia lakukan untuk menolong dongsaengnya.
Seohyun bahkan tidak mengabarinya tentang apa yang tadi pagi terjadi dalam
konferensi pers Yoona. Mungkin saat ini pun SNSD dan manajemen nya sedang sibuk
merespon berbagai animo publik yang muncul pasca pengakuan Lee Seunggi tadi
pagi.
“Hyung,
kenapa kau tidak menceritakannya pada kami? Kau membuat kami merasa begitu
buruk karena membuatmu harus menjalani semua ini seorang diri.” Minhyuk menatap
hyung nya dengan tatapan pilu. Rasanya dia yang ingin sekali menangis saat itu.
Namun di tahannya karena Jonghyun pun bahkan terlihat menguatkan dirinya.
“Mianhae,
bukan karena aku tidak menganggap kalian sebagai keluargaku, tapi...“ Jonghyun
menghela nafasnya dan membersihkan tenggorokannya yang sedari tadi terasa
seperti ada yang tersangkut didalamnya yang membuat dia sulit berbicara bahkan
bernafas.
“Aku
hanya bingung, dari mana aku harus mulai membicarakannya pada kalian. Seperti
yang tadi kukatakan, aku sendiri butuh waktu untuk bisa menerima semua ini. Dan
lagi, aku tak ingin mengganggu atmosfer diantara kita mengingat saat ini kita
sedang mempersiapkan album come back kita. Jinjja mianhae..”
“Jeoseonghaeo,
Hyung.. tapi bukankah kalian selama ini baik-baik saja? Maksudku, sebelum
akhir-akhir ini sikapmu berubah, hubunganmu dengan hyeongseonim baik-baik saja.
Justru yang sering kami lihat adalah perseteruan yongseo couple. Dan terakhir
sebelum SNSD konser di Jepang, kita bahkan masak dan makan bersama di dorm
kita. Apa yang menyebabkan kalian tiba-tiba harus berpisah?” Rasa penasaran
Jungshin seperti mengelupas lagi dinding luka dalam hati Jonghyun.
“Molla.
Hingga detik ini pun aku masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Awalnya
aku hanya merasa Yoona sedang dalam keadaan tertekan. Entah itu karena
pekerjaannya atau hal lain yang aku tidak mengetahuinya. Keesokannya aku
mencoba menghubunginya. Tapi hand phone nya selalu tidak aktif. Aku mendatangi
dorm mereka, tapi eonni-eonni nya bilang bahwa Yoona tidak pulang ke dorm dan
menginap dirumah orang tuanya. Saat aku datang ke rumah orang tuanya,
pembantunya bilang mereka sedang pergi keluar kota. Sejak malam itu, Yoona
seperti hilang ditelan bumi. Setiap hari aku melakukan hal yang sama untuk
mendapat kabar tentangnya, tapi selalu tak berhasil. Hingga kemarin siang, saat
foto-foto nya muncul dipemberitaan, aku hanya terpaku dan tidak tahu apa yang
harus aku lakukan. Aku merasa Yoona menyembunyikan sesuatu dariku dan
mencari-cari alasan untuk berpisah denganku. Aku baru saja berniat untuk datang
menemuinya, tapi...”
Jonghyun
menghela nafasnya. Sejenak merenung sebelum akhirnya meneruskan kata-katanya.
“Tapi
berita di laptop Minhyuk tadi sepertinya menyuruhku untuk menyerah. Yeah..
inilah yang Yoona inginkan. Hubungan yang diketahui dan diakui publik. Aku tak
mampu melakukan itu untuknya. Dan sekarang, dia mendapatkan itu dari laki-laki
lain. Kita semua mengenal Lee Seunggi hyung sebagai orang yang baik. Dan aku
sudah tahu sejak lama bahwa dia menyukai Yoona. Bahkan jauh sebelum aku
bersamanya. Ddaengida.. setidaknya Yoona berada di tangan laki-laki yang akan
membuatnya lebih bahagia.”
Binar
kesedihan tampak jelas dimatanya. Yonghwa menatap Jonghyun dengan rasa bersalahnya.
Tuhan tahu betapa ingin Yonghwa memberi tahu Jonghyun apa yang diketahuinya
dari Yoona kemarin malam. Tapi semua ini menjadi lebih dilematis mengingat ini
bukan hanya masalah dongsaengnya, tapi juga Yoona yang memohon padanya untuk
tetap menyimpan rahasia ini. Ditambah lagi sekarang ada Lee Seunggi yang
seantero Korea bahkan dunia kini mengenalnya sebagai kekasih Yoona.
“Jonghyun
ah, apa kau tidak ingin menemuinya dan menanyakan langsung padanya apa yang
sebenarnya terjadi? Aku hanya merasa, Yoona tidak mungkin melakukan semua ini
tanpa alasan yang mendesak. Aku mengenal kalian cukup lama, dan aku tahu pasti
bahwa kalian tidak akan semudah ini berpisah. Cobalah untuk memperjuangkan
hatimu sekali lagi. At least, bila kau memang merasa bahwa cintamu layak untuk
kau perjuangkan. Temui dia, Jonghyun ah!”
“Molla,
Hyung! Mungkin kemarin aku masih berfikir hal seperti itu. Tapi setelah kabar
hari ini, aku benar-benar tak tahu harus bagaimana. Aku mulai berfikir bahwa
cinta ini hanya berharga untukku sendiri. Tapi Yoona tidak menganggapnya
begitu. Yoona tidak akan melakukan semua ini bila hatinya tidak mengijinkannya
apapun alasannya. Jadi berita kebersamaan mereka, aku pikir tidak akan pernah terjadi
bila Yoona tidak menginginkannya.
Aku
mulai merasa lelah, hyung. Seperti aku sedang berlari dijalan yang tak berujung
dan aku tak tahu kapan aku harus berhenti. Aku sendiri tak tahu kemana arah
langkahku dan apa yang sedang aku kejar. Entahlah.. aku merasa Yoona sedang
memberi dirinya kesempatan untuk hidup dengan laki-laki yang lebih bisa
memberinya janji masa depan.”
Jonghyun
menundukan kepalanya. Meski genangan air mata tampak jelas dimatanya, namun
laki-laki ini dengan kuat menahannya untuk tidak pernah menetes didepan
saudara-saudaranya.
Sekali
lagi Jonghyun berusaha menampakan senyumnya demi membuat ketiga saudaranya
berhenti mengkhawatirkannya. Meski dia merasa seperti sesuatu sedang meremas
jantungnya. Rasa sakit itu tak mampu dia deskripsikan dengan kata. Betapa
tidak? Melihat bidadarinya berada dalam genggaman laki-laki lain, bagaimana
mungkin kenyataan ini tidak menghancurkan hatinya.
“Gwaenchanna,
Jongie ah! Kau tahu, bahwa kau tidak pernah sendirian. Meski aku tidak tahu apa
yang bisa aku lakukan untuk membuatmu merasa lebih baik, tapi... kau selalu
punya kami. Berhentilah bersikap sok kuat. Sesekali membiarkan perasaanmu
mengalir apa adanya, dan mengekpresikannya, mungkin akan lebih mudah untukmu.
Kami tidak akan meng-komplain mood dan emosimu selagi kami tahu apa yang terjadi
denganmu. Kami akan selalu berusaha mengerti. Aratji?”
Yonghwa
sekali lagi mengusap pundak Jonghyun berharap gerakan itu mampu me-revive
hatinya. Dalam hatinya dia berharap Yoona segera menepati janjinya untuk segera
menjelaskan segalanya pada Jonghyun. Atau jangan salahkan dia, bila dia tidak
mampu menepati janjinya untuk tidak mengatakan rahasia Yoona pada Jonghyun.
“Gomawo,
Hyung! Ah.. benar-benar membuatku lapar. Hmm... apa sebaiknya kita pulang saja dan
membuat sesuatu yang lezat untuk mengusir lapar ini?” Jonghyun kembali
menguatkan dirinya meski baru semenit lalu hyungnya berkata untuk berhenti
menjadi sok kuat. “Jungshin ahjuma.. keluarkan skill –mu! Buatkan aku sesuatu
yang enak!”
Melihat
sikap Jonghyun, ketiga rekannya tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti apa
yang baru saja dia katakan. Jungshin segera bangkit dari duduknya dan
mengembangkan senyum termanisnya.
“Arraso!!
Serahkan semuanya pada Jungshin Ahjuma!! Aku jamin, setelah kau makan
masakanku, semua kesedihan itu akan lenyap dalam sekejap!”
Semua
orang tersenyum lepas melihat si magnae dan semangatnya. Meski semua tahu,
bahwa senyum itu tidak mampu menghilangkan kenyataan betapa rapuhnya Jonghyun
saat ini.
***
Pukul
6.30 sore, keempat orang itu tiba di dorm mereka setelah mampir ke supermarket
terdekat untuk membeli beberapa bahan untuk dimasak. Jungshin segera menuju
dapur dan melakukan persiapan. Minhyuk membantunya. Jonghyun mengambil handuk
dari kamarnya lalu bergegas mandi. Yonghwa memasuki kamarnya begitu hand phone-nya
bergetar dan nama ‘heaven light’ tertulis dilayarnya.
“Hyun..
apa yang terjadi?” Sedikit tidak sabar, Yonghwa langsung menanyai Seohyun
hingga dia lupa menyapa gadisnya lebih dulu.
“Eissh.. Oppa.. wae? Kau
bahkan tidak menyapaku dulu setelah seharian kau tidak mendengar suaraku? Don’t
you missing me, Oppa?”
Seo Joohyun segera menyadari tekanan yang kini dirasakan CNBLUE setelah apa
yang terjadi pada eonninya. Dia mencoba meredam ketegangan pada intonasi suara
Yonghwa dengan canda kecilnya.
“Ah..
mianhae, baby.. aku benar-benar menjalani hari yang panjang. Kau sedang apa
sekarang?”
“Hhm.. kau pasti sudah bisa
menebak apa yang sedang aku dan eonni-deul lakukan saat ini. Huuffh...
eottokhae, Oppa? Kenapa tiba-tiba terjadi hal seperti ini?” Seohyun terdengar putus asa dan semakin membuat Yonghwa ingin
berlari kearahnya untuk memeluknya.
“Aku
mengerti, Hyun, kalian pasti mengalami hari yang lebih berat dari kami. Nae
sarang, noel gwaenchanna?” Dengan lembut, Yonghwa bertanya. Dia memastikan bahwa
gadisnya baik-baik saja dengan apa yang terjadi pada grupnya.
“Nan gwaenchanna, Oppa.
Tapi untuk beberapa hari, mungkin kita akan sulit untuk bertemu. Aku tidak bisa
leluasa meninggalkan dorm-ku mengingat pers tidak henti-hentinya berdatangan
kesini dan kami khawatir akan mengatakan atau melakukan sesuatu yang salah yang
justru akan memperkeruh suasana. Terlebih, akan sangat berbahaya untuk kita
bila dalam situasi ini pers justru melihat kita bersama. Mianhae, Oppa. Aah...
jongmal bogoshipo, Yooong...”
“It’s
oke, Honey! Selama kau baik-baik saja. Jangan lupa tetap mengabariku. Makan dan
tidur dengan baik. Joohyun-ku yang aku ingat adalah gadis yang yang cantik
dengan mata yang indah. Bukan gadis bermata panda dengan wajah yang pucat
seperti vampire. Jadi, meski beberapa waktu kita tidak bertemu, aku ingin
Joohyun-ku kembali kepelukanku dalam keadaan utuh tanpa kekuarangan apapun.
Arratji?”
“Hhm.. So Cheesy, Nae Yonghwa!
Geurae! Aku janji, Oppa! Oppa do… jangan lupa minum vitaminmu. Comeback kalian
sudah didepan mata, kan? Dan awas saja, Jung Yonghwa Ssi, bila kau berani
meneguk kopi dibelakangku! Oh iya.. bagaimana keadaan Jonghyun Oppa saat ini?”
“Jonghyun...?
Aah... kau bisa bayangkan bagaimana laki-laki Busan itu terus menunjukkan
tentang betapa kuatnya dia. Bila saja berita itu tidak kami lihat bersama,
entah sampai kapan anak keras kepala itu akan mengunci mulutnya dan menelan
kepedihannya sendiri. Meski dia berkata bahwa dia baik-baik saja, tapi aku
sudah menjadi Hyung-nya untuk lebih dari 5 tahun ini. Lewat matanya saja sudah
cukup membuatku tahu betapa hancur perasaannya.”
“Benarkah? Owwh...
eottokhaji, Oppa? Uri eonni do... aku pun bisa melihat kepedihan yang sama dari
mata Yoona eonni. Tapi hingga kini Yoona eonni tidak terdengar kabarnya, Oppa.
Hand phone nya dimatikan. Orang tuanya bahkan tidak tahu dimana dia berada saat
ini. Seunggi Oppa pun hingga saat ini masih mencarinya. Kami masih tidak
mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi. Terus terang, aku dan eonni-deul
masih bingung. Hanya manajer Oppa dan Seunggi Oppa yang mengatakannya pada
kami. Tapi kami ingin mendengarnya langsung dari Yoona eonni. Tapi huuh... dia
dimana sekarang? Aku benar-benar takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.” Suara Joohyun terdengar parau dan
dipastikan dia sedang menahan tangisnya.
“Sshh..
keep thinking positively, Honey.. Yoona pasti baik-baik saja. Mungkin dia
berada disuatu tempat untuk menenangkan dirinya. Tapi.. tentang kabar Yoona
berkencan dengan Lee Seunggi, aku benar-benar terkejut, Hyun. Yoona sama sekali
tidak mengatakan apa-apa padaku tadi malam. Apa mungkin, kalian juga tidak
mengetahuinya?”
“Maja, Oppa! Kau tidak tahu
betapa terkejutnya kami saat Seunggi Oppa muncul dan mengatakan kalau mereka
berkencan. Awalnya eonni akan melakukan konferensi pers itu sendirian. Tapi
entah apa yang membuat Seunggi Oppa tiba-tiba hadir. Sebelumnya aku berfikir
mungkin ini strategi manajemen, tapi Seunggi Oppa dan juga manajer Oppa
mengatakan bahwa kenyataannya memang benar mereka berkencan. Aku dan eonni-deul
benar-benar bingung, Oppa.”
“Geurae,
Hyunie.. pokoknya begitu ada kabar, jangan lupa untuk langsung menghubungiku
yah.”
“Hmm..”
“Satu
lagi, Hyuun...!”
“Wae?”
“Jangan
pernah melakukan apa yang Yoona lakukan pada Jonghyun itu padaku. Jangan pernah
meninggalkanku seperti itu, Hyun! Aku tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya
hidupku tanpamu didalamnya. Sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa, Hyun.”
Yonghwa menghela nafas panjang.
“Naega yaksokhae, Oppa! Kau
bisa memegang janjiku. Aku hanya akan meninggalkanmu karena dua permintaan.
Yang pertama saat kau yang memintaku karena kau tidak menginginkanku untuk
berada disisimu lagi, dan yang kedua saat Tuhan yang memintaku karena Dia lebih
menginginkanku untuk berada disisi-Nya.”
“MWO
YAH? GEUMANHAE, SEO JOOHYUN!!! Jangan pernah berkata macam-macam, Hyun ah! Aku
benci mendengar kata-kata seperti itu!”
Tanpa
disadari, Yonghwa menaikan nada suaranya dan sedikit membentak dengan
kata-katanya barusan. Bukan karena dia marah pada Seohyun, tapi karena
kata-kata itu membuatnya ketakutan, bahkan membuat hati nya terasa sakit meskipun
itu hanya sebuah perumpamaan.
“A.. Arasso, Oppa!
Mianhae.. Eiii… aku tidak bermaksud membuatmu marah, Oppa! Jangan terlalu
serius, Jjagie ah.. kau tidak seperti Yong Oppa ku saat judes seperti itu.” Mendengar permintaan maaf gadisnya, Yonghwa
menyesal dan kembali melembutkan suaranya.
“Aku
tidak marah, Hyun! Kau membuatku takut dengan kata-kata itu. Dengarkan aku!
Hyun, kau akan selalu sehat dan kau akan hidup lebih lama dariku. Seperti
katamu dulu, karena aku 2 tahun lebih tua darimu, maka aku yang akan mati lebih
dulu. Tapi sebelum itu, kita akan memiliki ribuan malam untuk kita lewati
bersama. Jadi jangan pernah mengatakan hal-hal yang aku tak ingin mendengarnya.
Aratji?”
“Nde, Oppa! Saranghae..”
“Na
do saranghae, Hyun…!”
***
“Hyung...
makanannya sudah siaaapp!!!”
Terdengar
si maknae sudah memanggil dari dapur. Yonghwa segera keluar dari kamarnya
beberapa saat setelah menutup hand phone nya dan mengganti bajunya. Tak lama,
Jonghyun pun menyusul.
“Ohh..?
Kenapa kita makan di ruang tengah?” Jonghyun mendapati semua makanan sudah
ditata rapi di atas meja depan TV.
“Igae..
geunyang.. aku hanya ingin makan sambil nonton film bersama. Sudah berapa lama
kita tidak memiliki moment untuk makan, nonton dan ngobrol bersama seperti
ini.” Jungshin kemudian menarik tangan Jonghyun dan mengajaknya duduk di
sampingnya.
Beberapa
saat mereka menikmati makan malam buatan Jungshin ‘Ahjuma’ sambil melakukan obrolan-obrolan kecil seputar album baru
mereka, atau hal-hal kecil yang terjadi disekitar mereka. Setelah semua makanan
di santap habis, dan perut mereka terasa kenyang, Jungshin dan Minhyuk
membereskan meja ruang tengah lalu mengambil buah-buahan dari kulkas untuk
dinikmati dengan teh hangat.
“Hyung,
sekarang waktunya Running Man. Sudah lama kita tidak melihat acara itu karena
kesibukan kita akhir-akhir ini. Sepertinya seru bila kita lihat bersama saat
ini.” Jungshin mengambil remote dan memindahkan chanel TV untuk melihat variety
show yang sudah terkenal ke seluruh asia ini.
Variety
show itu memang selalu menyuguhkan konsep dan ide-ide segar dengan variasi game
yang tidak membosankan ditambah lagi dengan pengisi acara yang sudah tangguh
dan profesional. Tidak pernah mungkin bisa melewatkan acara ini tanpa tertawa
tepingkal-pingkal hingga memegang perut
saking lucu nya Yoo Jaesuk dkk menjalani tantangan-tantangan dalam acara itu.
Begitupun
dengan CNBoys, kali ini Yonghwa dan kawan-kawan nya sontak dibuat tertawa
hingga terguling-guling dilantai melihat ulah Yoo Jaesuk dan koloni nya. Hingga
mereka lupa dengan apa yang mereka alami sebelumnya.
Mereka
tertawa. Lagi dan lagi. Hingga Yonghwa menyadari sesuatu yang membuat tawanya
lenyap seketika. Dia menyikut Minhyuk yang duduk disampingnya untuk melihat apa
yang dilihatnya barusan. Dan seketika tawa di wajah Minhyuk pun menghilang.
Jungshin menyadari apa yang Hyung nya dan Minhyuk lihat, lalu tawanya pun ikut
sirna. Tinggal Jonghyun yang masih terbahak dengan wajah yang memerah, dan air
mata yang deras mengalir diwajahnya.
Selucu
itu kah? Hingga mebuatnya tertawa hingga berair mata? Ania... sesakit itukah?
Hingga dalam tawapun dia tak mampu membendung lagi air matanya?
My
heart stops all this cold love, my heart breaks into pieces..
My
breath stops at this sick love, my breath slowly dies..
Day
by day, i weather like a wild flower
A
sonata of farewells, words i know without even hearing them..
Oh
wanna change. To when we used to love...
CNBLUE – Cold Love
Yonghwa
menyadari bahwa saat ini pertahanan Jonghyun sudah pada batasnya. Dia bergegas
merangkul dongsaengnya sambil mengusap pundaknya.
“Gwaenchanna,
Jongie ah! Gwaenchanna! Semua pasti akan bisa kau lewati! Gwaenchanna!”
Kali
ini Jonghyun tak lagi mampu menyembunyikan kerapuhan dan kehancuran hatinya
lagi didepan ‘keluarga’ kecilnya ini. Dalam sekejap saja tawanya berubah
menjadi isak tangis yang memilukan. Dalam pelukan Hyungnya, rasanya tak ingin
lagi dia bersembunyi dibalik egonya. Dia tidak memiliki tenaga lagi untuk
bertarung dengan prestisenya hanya demi terlihat kuat. Kehilangan Yoona dalam
hidupnya seperti kehilangan udara yang setiap kali dia merindukannya, dadanya
akan terasa sesak. Melepaskan Yoona dalam hidupnya seperti melepaskan segala
mimpi-mimpinya hingga dia tak tahu lagi masa depan akan seperti apa. Yah.. kali
ini Jonghyun menyerah. Dia mengaku kalah pada rasa sakit yang dia rasakan
karena kehilangan ini.
“Eottokhae,
Hyung... Nae gaseumi.. mani appeuni! Aku benar-benar merindukannya! Eotthokhae?”
Jonghyun bergumam di dalam isakannya.
“Ahra..!
Aku tahu betapa beratnya semua ini untukmu. Mianhae, Jonghyun ah.. saat ini aku
hanya bisa memelukmu seperti ini dan membiarkanmu menangis sepuasanya.”
I close my eyes..
And dream of you and i
And than i realize..
There’s more to love
than only bittersness and lies
I close my eyes...
I’d give away my soul to
hold you once again..
And never let this
promise end..
Josh
Groban – Broken Vow
Untuk
pertama kalinya selama perjalanan karier mereka dan selama mereka tinggal
bersama sebagai sebuah keluarga, mereka mengalami moment sentimental seperti
ini. Meski tidak ada ikatan darah, tapi 5 tahun bersama dan melewati kesulitan
dan kemudahan bersama, membuat mereka bahkan lebih dekat daripada saudara
kandung. Seperti saat tangan merasa sakit, maka mata akan menangis merasakan
sakitnya. Atau saat mata menangis, maka tangan akan membatu menyeka air
matanya. Seperti itulah ikatan diantara mereka.
Minhyuk
sibuk menyeka air matanya sendiri. Begitupun Jungshin Ahjuma. Yonghwa sebagai
yang tertua harus menjelma menjadi yang terkuat. Meski batinnya bisa merasakan
rasa sakit yang Jonghyun alami saat ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar