Finding The Destiny
Author : Jingga8
Poster Belong To : IsmiNuraulia
Cast : Lee Jonghyun, Im Yoona, Lee Seunggi, Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNSD
Rating : T
Genre : Angst, Romance
Chaptered
Chapter 2
Reason
Yoona POV (Present)
Sudah 3 bulan berlalu.
Tapi rasanya seperti baru kemarin aku memaksa kakiku untuk keluar dari
mobilnya. Luka dalam hatiku masih terasa sama. Sama pedihnya seperti malam itu.
Saat terakhir kutinggalkan laki-laki yang paling aku cintai dalam tangisnya.
Aku melukainya. Pada akhirnya, cintaku menyakitinya. Yah.. luka dalam hatiku
yang tak kunjung hilang memang pantas aku terima. Karena egoku, harga diriku,
dan juga cintaku ini telah membuat laki-laki terbaik dalam hidupku menderita.
Jonghyun Oppa sama sekali tidak bersalah. Aku tahu itu. Karena itu aku
mengambil langkah ini. Aku memilih pergi dari hidupnya dan tak akan pernah
menjadikannya bagian dari penderitaanku. Dan lebih baik dia tidak pernah
mengetahui semua ini.
(Past)
Aku masuk kedalam
mobil sport hitam itu sesaat setelah mobil itu menepi dan pemiliknya
mempersilahkanku masuk. Yah, tiada lain dialah Lee Jonghyun. Pemilik hatiku
sejak 2 setengah tahun ini. Berawal dari intensitas pertemuan maknae kami Seo
Joohyun dengan leader nya Jung Yonghwa, yang membuat seluruh member kedua grup kami
ini ikut-ikutan menjadi lebih akrab. Sejak itulah diam-diam kami menjalin
hubungan dibelakang member kami selagi seluruh member kami hanya fokus pada
percintaan Yongseo Couple. Meski tak lama setelah 6 bulan hubungan kami,
seluruh member mengetahuinya dan.. you know.. bagaimana hebohnya memberku dan
shock nya anak-anak CNBLUE saat mereka mengetahui semuanya.
Tidak ada yang
menentang hubungan kami. Baik intern grup kami, manajemen, atau pun kedua pihak
keluarga kami semua memberikan support. Dengan catatan ‘TIDAK GO PUBLIK!’ tentunya. Yah, itu adalah aturan baku semua
manajemen yang dari awal kami sadari dan kami tidak keberatan menerima nya.
Malam itu, angin
dipenghujung musim gugur yang dingin berhembus menusuk hingga ke setiap rongga
tulangku. Langkahku gontai. Mengingat bahwa malam itu akan menjadi malam
terakhir untukku bersamanya. Aku.. Im Yoona, akan menjadi perempuan paling
kejam yang pernah Jonghyun Oppa kenal sepanjang hidupnya. Keputusanku sudah
bulat. Perpisahan adalah keputusan terbaik yang aku lakukan atas nama cintaku
untuknya.
Appa-ku memiliki
bisnis yang cukup baik, bisa dibilang cukup besar dibidang properti. Usaha itu
sudah dirintisnya sejak muda. Separuh usianya dia curahkan pada usahanya itu.
Hingga kini memiliki beberapa cabang di Jepang dan juga Hongkong. Dan pada
pertengahan musim panas lalu, Appa-ku bekerja sama dengan perusahaan konstruksi
dari Amerika, lalu entah bagaimana awalnya, Appa terancam kehilangan semua
asetnya dan terlilit utang dalam jumlah besar. Yah.. keluargaku berada diambang
kebangkrutan.
Tekanan yang besar
menjadikan Appa-ku depresi dan suatu waktu dia mencoba mengakhiri hidupnya
sendiri. Bersyukur, Eomma-ku segera menemukannya sehingga niat gilanya tidak
sempat terjadi. Batinku tersiksa melihat orang tuaku harus menanggung kesulitan
ini. Isi tabungan dan asset pribadiku yang aku hasilkan dari pengahsilanku
sebagai Idol dan artis, aku serahkan juga pada mereka. Aku rela. Tapi semua itu
belum cukup juga. Rumah kami dan juga perusahaan Appa di Korea, semua harus
ikut raib. Dan itupun masih belum cukup.
Ditengah perasaan
tertekan kami, akhirnya aku membuat kesepakatan gila. Aku menawarkan diriku
menjadi pelunas sisa utang Appa-ku pada laki-laki yang usianya nyaris dua kali
usiaku dan aku tak pernah mengenalnya. Tentu saja Eomma membentakku dan
mengatakan bahwa aku sudah gila. Eomma benar, aku memang sudah gila. Tapi jika
kegilaan ini mampu membebaskan keluargaku dari polemik ini, maka aku harus rela
berbuat gila.
Yah, aku akan menikah
dengan Park Junsu, pria lajang berusia 47 tahun, pemilik salah satu department
store terbesar di Korea Selatan. Dia bukan orang jahat yang memeras keluargaku.
Tentu saja tawaran gila ini aku yang mengajukannya. Dia hanyalah seorang
pengusaha yang juga menderita kerugian akibat kecurangan perusahaan konstruksi
asal Amerika itu. Dan Appa-ku yang harus melunasi kerugian itu pada akhirnya.
Aku bertemu dengan
Park Junsu Ssi 2 kali. Yang pertama, saat aku menemuinya untuk menawarkan
diriku sebagai asset terakhir orang tuaku untuk melunasi utang mereka. Yang
kedua kalinya, saat Park Junsu Ssi yang memintaku menemuinya lagi, dan saat itu
dia bilang dia setuju dengan penawaranku. Disatu sisi aku merasa lega, karena satu
masalah teratasi. Tapi di sisi lain aku merasa duniaku benar-benar hancur.
Yah.. dunia Im Yoona sudah berakhir.
Tiba-tiba dunia terasa
gelap. Aku tak mampu melihat apapun. Hidupku, karierku, masa depanku, semua
tiba-tiba lenyap. Lalu Jonghyun Oppa-ku, cintaku, hahaha.. aku benar-benar akan
gila karena kini aku harus kehilangannya juga. Aaarrgghh… aku ingin berteriak
sekuatnya!!
Tanpa terasa kami
sudah berada di depan sungai Han. Sebuah belaian lembut di pipiku menyadarkanku
dari lamunan. Sebuah senyum malaikat dapat kulihat diwajahnya. Demi Tuhan, aku
benar-benar merindukannya. Setelah hampir satu bulan tak kurasa dekap
hangatnya, aku ingin sekali berlari kepelukannya sambil berkata ‘Bogoshiposeo, Oppa! Jebbal.. selamatkan
aku!!’ Tapi kukunci rapat-rapat semua
kata-kata bodoh itu. Aku tidak berencana untuk membagi penderitaanku padanya.
Tak akan!! Aku tak akan pernah menghancurkan masa depannya hanya demi cinta
bodohnya padaku.
“Ini adalah tahun ke-2
sejak kita bersama, Oppa! Benarkan?” Aku mulai membuka mulutku. Rasa takut kian
kuat membelenggu hatiku. Sempat terlintas dalam fikiranku untuk mengurungkan
niat gilaku ini karena aku tak akan pernah mampu menyakitinya. Tapi… dunia
seperti apa yang akan dijalani Lee Jonghyun bila aku bersikap lemah saat itu?
“Hhhm… Maja! Tak
terasa, 2 tahun sudah Im Yoona menjadi matahari yang selalu ada dalam setiap
hari yang dilalui Lee Jonghyun. Gomawo, jagia..!” Lembut, kurasakan tanggannya
membelai pipiku. Suaranya terdengar seperti lulaby yang mengahangatkan udara
Seoul malam itu. Demi Tuhan, aku ingin selamanya mendengar suara itu.
Daengida,
Oppa. Aku senang. Karena kini kau bukan lagi newbie idol seperti 2 tahun lalu.
Oppa kini punya fans yang banyak, dan karya-karya CNBLUE sudah benar-benar
diterima tidak hanya di Negara kita, tapi juga di seluruh dunia. Kau kini
memiliki tangan dan kaki yang cukup kuat untuk melindungiku. Benarkan? Jadi….
Aku merasa tak ada alasan lagi untuk kita bertemu diam-diam seperti ini.
Oppa.. apa kau tidak
merasa lelah, harus berpenampilan seperti ini saat mengajakku berkencan? Jeans,
t-shirt, jaket tebal, topi baseball, kaca mata dan masker ini.. huuh… aku
merasa seperti orang yang akan merampok bank saat tiap kali harus bertemu
denganmu.”
Terlihat jelas
dimatanya bahwa dia terkejut dengan kata-kataku itu. Tapi Oppa-ku tetap
tersenyum dan berusaha membuatku tenang. Andai saja dia tahu, bahwa saat itu
aku sedang menelan racun mematikan yang akan segera membunuhku. Jantungku
berdegup kencang dan rasa sakit dihatiku sungguh sulit kutahan. Sejujurnya, aku
hanya mencari bahan pertengkaran dengannya dan pada akhirnya keputusanku tetap
sama. Aku akan mengakhirinya.
“Aish.. what happened
with my angel? Wae? Uri Yoona pasti lelah dengan jadwal shooting mu belakangan
ini yah? Come to me!”
Dia membuka peluknya.
Memintaku untuk datang dan mendekapnya. Kumohon.. jangan lakukan itu! Semua itu
akan lebih sulit bagiku. Tapi aku tak mampu menolaknya, karena sejak awal aku
sudah sangat merindukannya. Dan akupun segera menenggelamkan diriku dalam
pelukannya. Pelukan terakhirnya. Tempat terhangat dan ternyaman yang kumiliki
saat aku merasa lelah dan sedih. Aku ingin waktu berhenti saat itu. Aku tak
ingin membuka kedua mataku dan kembali kedalam hidup yang mengerikan lagi.
Benarkah aku rela kehilangannya?
“Oppa..” Kupaksakan
suaraku bergeming disela usaha kerasku menahan tangis.
“Hmm..” Oppa masih
mendekapku dengan erat. Kali ini kurasan bibirnya mengecup kepalaku. Tangannya
tak henti-hentinya mengusap punggungku. Tuhan.. benarkah aku rela
kehilangannya?
“Seberapa besar
berartinya aku untukmu?” Ppabo.. Im Yoona!! Akhirnya kau memulainya. Aku terus
mengutuk diriku sendiri. Kudapati mata Oppa-ku menatapku penuh tanya. Tak mampu
aku deskripsikan arti tatapan itu. Namun binar sendu mulai jelas terlihat.
“Hei.. baby.. kau
bahkan tahu dengan pasti jawaban dari pertanyaanmu itu tanpa harus bertanya
padaku. Kau tahu seberapa besar aku mencintaimu dan diatas semua itu, aku tidak
bisa membayangkan perempuan manapun yang ingin aku ajak berpetualang dalam
hidupku selain kamu, Yoona. Aku tidak pernah membayangkan ingin menetap didalam
sebuah rumah selain bersamamu. Segala yang aku lakukan selama ini, karierku,
pekerjaanku, semua itu semata karena aku ingin menjadi laki-laki yang mampu
membahagiakanmu. Apa lagi yang ingin kau tahu?”
Suaranya terdengar
lirih. Aku bisa merasakan Oppa mulai merasa ketakutan. Tangannya bergetar dalam
genggamanku. Tatapannya semakin tajam menusuk hatiku. Aku percaya semua yang dia
katakan, dan aku bisa merasakannya.
“Honey, sebenarnya apa
yang terjadi? Kau tidak seperti Yoona-ku yang biasanya. Apa ada yang membebani
pikiranmu? Just tell me. I’ll always be here!” Tangannya menyentuh wajahku. Dan
pada saat yang sama, air mata yang sedari tadi kutahan untuk tidak tumpah,
akhirnya berderai tak tertahan lagi. Oppa panik melihatku. Jemarinya mengusap
lembut butir-butir hangat itu.
Dan aku mulai
mengajukan permintaan bodoh yang aku tahu Oppa tak akan pernah menyetujuinya. Dengan
hati-hati, dia berusaha menolak permintaan konyolku. Aku tahu. Aku mengerti
alasannya lebih dari siapapun.
“Yoona ah.. sebenarnya
ada apa? Kau tidak seperti dirimu. Kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku,
aku tahu itu. Please, baby.. just tell me! Let me heal your pain!” Pertanyaan
itu justru semakin membuat tangisku enggan mereda. Laki-laki terbaik dalam
hidupku, akan kulepaskan malam itu.
“Oppa, seandainya
tiba-tiba kau dihadapkan pada pilihan antara aku dan kariermu, mana yang akan
kau relakan untuk kehilangan?” Mata malaikat itu berubah sendu. Tangannya
semakin erat menggenggam tanganku.
“Morago? Yoona.. aku
benar-benar tak mengerti. Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu itu? Aku
bahkan tidak akan pernah menempatkan diriku dalam dilemma itu. Aku berjanji
padamu untuk menjagamu dengan segenap kemampuanku. Begitu juga dengan karierku.
Aku akan terus bekerja keras untuk menjadi musisi yang sukses dan bersama
Band-ku aku ingin memiliki perjalanan karier yang panjang. Kau dan juga
karierku adalah 2 hal yang harus ada dalam hidupku. Tanpa karierku, bagaimana
mungkin aku mampu membahagiakanmu? Begitupun sebaliknya, tanpamu.. karierku
tidak akan berarti apa-apa dalam hidupku. Jadi berhentilah menganalisa
pemikiran-pemikiran tak masuk akal seperti itu. Yoona, kumohon.. tunggu lah
sebentar lagi..! hhm..??”
“Bagaimana bila
waktuku tak banyak lagi, Oppa? Sampai kapan aku harus menunggu? Apa kau yakin,
saat kau benar-benar siap, semua nya tak akan terlambat? Aku…”
“Mwo? Yoona.. apa
maksudmu? Apa maksudmu bahwa waktumu tak banyak lagi? Yoona.. kau sakit? Apa
yang sakit? Hah? Katakan padaku, dan berhenti membuatku gila!!” Tiba-tiba ketenangannya berubah
menjadi kepanikan yang bisa kurasakan dari cara dia menyentuh wajahku,
kepalaku, tanganku. Aku tahu Oppa benar-benar ketakutan saat itu.
“Oppa, yang ingin
kukatakan padamu saat ini adalah.. aku benar-benar membutuhkan pengakuanmu! Aku
butuh pengakuan dari publik bahwa saat ini aku milikmu! Katakan pada dunia
bahwa aku milikmu! Dan katakan pada mereka bahwa selamanya kau akan
melindungiku! Bisakah kau melakukan itu, Oppa?”
“Yoona, aku
benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Kau membuatku bingung. Apa yang
mendesakmu untuk melakukan itu? Tiba-tiba kau jadi keras kepala dan sulit
dimengerti seperti ini? Aku benar-benar..”
“Arraso, Oppa! Aku
mengerti. Oppa, kau tidak harus memaksakan dirimu lagi. Selama ini kau sudah
melakukan yang terbaik untuk hubungan kita. Kau benar-benar telah menjagaku
dengan sangat baik selama ini dan aku berterima kasih untuk semua itu. Tapi,
Oppa.. ada hal yang kadang tidak bisa diselsaikan dengan hanya menunggu. Dan
dalam posisiku, aku rasa aku tak akan bisa menunggu lagi. Mianhae, Oppa!! Untuk
laki-laki sebaik dirimu, aku hanyalah seorang wanita yang keras kepala dan
egois.”
Aku terisak. Tuhan,
aku tak sanggup lagi bila harus menyakiti laki-laki ini lebih banyak. Bila ada
cara agar aku tak harus mengatakan kata-kata paling kejam yang pernah aku
ucapkan seumur hidupku ini, maka akan kutempuh cara itu. Namun akhirnya…
“Oppa… kita akhiri
saja semua ini..! Mianhae, Oppa! Jaga dirimu baik-baik!! Jjalgara..!”
Laki-laki yang paling
kucintai dalam hidupku kini duduk mematung. Terpaku menatap mataku. Lalu untuk
pertama kalinya kusaksikan Busan Namja itu menangis dan melupakan prestisenya sebagai
laki-laki. Tuhan, aku membuat laki-laki tangguh itu menangis. Cukup! Aku tak
sanggup lagi. Aku hanya ingin secepatnya keluar dari mobilnya, dan berlari
menjauh darinya. Tapi tiba-tiba genggamannya menghentikanku.
“Kajima!! Jebbal!!”
Lirih, suaranya nyaris tak terdengar. Dan dia mulai terisak menahan
kepedihannya. Ia menundukan kepalanya, berusaha menyembunyikan air matanya dari
tatapanku. Ini pertama kalinya aku melihat Jonghyun-ku menangis. Dan hampir
saja air matanya menggoyahkan niatku untuk meninggalkannya. Tanganku yang
bergetar berusaha meraih wajahnya. Kuusap air matanya dengan jemariku, namun
Oppa semakin terisak. Dia menggenggam tanganku di wajahnya dengan erat. Aku
tahu, Oppa.. aku pun tak ingin kehilanganmu, batinku.
Aku menguatkan lagi hatiku
untuk pergi. Dan aku benar-benar meninggalkannya sendiri dalam mobilnya. Belum
pernah kurasakan sakit sesakit ini sebelumnya.
Please, be happy..
I hope that you will always be someone who shines brightly..
Saying goodbye with a smile..
A little more..
Now it’s goodbye..
Farewell, we’re saying goodbye now..
My love, my precious love
As warm as the suns rays..
You who hugs me..
Kim Taeyeon - Bye
“Oppa mianhae! Kau
tidak harus memaafkanku! Hajiman.. Oppa.. Jongmal mianhaeseo! Saranghae, Lee
Jonghyun!!” Rintihku seiring langkahku menjauh dari mobilnya. Aku menangis
sejadi-jadinya dalam taxi yang membuat sopir taxi itu kebingungan.
Aku berjalan
disepanjang trotoar menuju dorm-ku. Sejujurnya aku tak memperhatikan kemana
arah langkahku membawaku. Dalam fikiranku hanya terngiang-ngiang suaranya. ‘Kajima!! Jebbal!!’ Lalu tatapan sendu dan deraian air mata itu
kini kian jelas terbayang dibenakku. Seumur hidup tatapan itu akan selalu
menghantuiku.
Tiba-tiba aku merasa
seperti kehilangan keseimbangan. Tubuhku berkali-kali seperti akan terjatuh.
Kepalaku terasa berputar-putar. Lalu aku tak mampu lagi mengingat apapun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar