Minggu, 01 Februari 2015

Finding The Destiny Chapter 2






Finding The Destiny

Author                 : Jingga8
Poster Belong To : IsmiNuraulia
Cast                     : Lee Jonghyun, Im Yoona, Lee Seunggi, Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNSD
Rating                  : T
Genre                   : Angst, Romance

Chaptered



Chapter 2

Reason

Yoona POV (Present)

Sudah 3 bulan berlalu. Tapi rasanya seperti baru kemarin aku memaksa kakiku untuk keluar dari mobilnya. Luka dalam hatiku masih terasa sama. Sama pedihnya seperti malam itu. Saat terakhir kutinggalkan laki-laki yang paling aku cintai dalam tangisnya. Aku melukainya. Pada akhirnya, cintaku menyakitinya. Yah.. luka dalam hatiku yang tak kunjung hilang memang pantas aku terima. Karena egoku, harga diriku, dan juga cintaku ini telah membuat laki-laki terbaik dalam hidupku menderita. Jonghyun Oppa sama sekali tidak bersalah. Aku tahu itu. Karena itu aku mengambil langkah ini. Aku memilih pergi dari hidupnya dan tak akan pernah menjadikannya bagian dari penderitaanku. Dan lebih baik dia tidak pernah mengetahui semua ini.

(Past)

Aku masuk kedalam mobil sport hitam itu sesaat setelah mobil itu menepi dan pemiliknya mempersilahkanku masuk. Yah, tiada lain dialah Lee Jonghyun. Pemilik hatiku sejak 2 setengah tahun ini. Berawal dari intensitas pertemuan maknae kami Seo Joohyun dengan leader nya Jung Yonghwa, yang membuat seluruh member kedua grup kami ini ikut-ikutan menjadi lebih akrab. Sejak itulah diam-diam kami menjalin hubungan dibelakang member kami selagi seluruh member kami hanya fokus pada percintaan Yongseo Couple. Meski tak lama setelah 6 bulan hubungan kami, seluruh member mengetahuinya dan.. you know.. bagaimana hebohnya memberku dan shock nya anak-anak CNBLUE saat mereka mengetahui semuanya.

Tidak ada yang menentang hubungan kami. Baik intern grup kami, manajemen, atau pun kedua pihak keluarga kami semua memberikan support. Dengan catatan ‘TIDAK GO PUBLIK!’ tentunya. Yah, itu adalah aturan baku semua manajemen yang dari awal kami sadari dan kami tidak keberatan menerima nya.

Malam itu, angin dipenghujung musim gugur yang dingin berhembus menusuk hingga ke setiap rongga tulangku. Langkahku gontai. Mengingat bahwa malam itu akan menjadi malam terakhir untukku bersamanya. Aku.. Im Yoona, akan menjadi perempuan paling kejam yang pernah Jonghyun Oppa kenal sepanjang hidupnya. Keputusanku sudah bulat. Perpisahan adalah keputusan terbaik yang aku lakukan atas nama cintaku untuknya.

Appa-ku memiliki bisnis yang cukup baik, bisa dibilang cukup besar dibidang properti. Usaha itu sudah dirintisnya sejak muda. Separuh usianya dia curahkan pada usahanya itu. Hingga kini memiliki beberapa cabang di Jepang dan juga Hongkong. Dan pada pertengahan musim panas lalu, Appa-ku bekerja sama dengan perusahaan konstruksi dari Amerika, lalu entah bagaimana awalnya, Appa terancam kehilangan semua asetnya dan terlilit utang dalam jumlah besar. Yah.. keluargaku berada diambang kebangkrutan.

Tekanan yang besar menjadikan Appa-ku depresi dan suatu waktu dia mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Bersyukur, Eomma-ku segera menemukannya sehingga niat gilanya tidak sempat terjadi. Batinku tersiksa melihat orang tuaku harus menanggung kesulitan ini. Isi tabungan dan asset pribadiku yang aku hasilkan dari pengahsilanku sebagai Idol dan artis, aku serahkan juga pada mereka. Aku rela. Tapi semua itu belum cukup juga. Rumah kami dan juga perusahaan Appa di Korea, semua harus ikut raib. Dan itupun masih belum cukup.

Ditengah perasaan tertekan kami, akhirnya aku membuat kesepakatan gila. Aku menawarkan diriku menjadi pelunas sisa utang Appa-ku pada laki-laki yang usianya nyaris dua kali usiaku dan aku tak pernah mengenalnya. Tentu saja Eomma membentakku dan mengatakan bahwa aku sudah gila. Eomma benar, aku memang sudah gila. Tapi jika kegilaan ini mampu membebaskan keluargaku dari polemik ini, maka aku harus rela berbuat gila.

Yah, aku akan menikah dengan Park Junsu, pria lajang berusia 47 tahun, pemilik salah satu department store terbesar di Korea Selatan. Dia bukan orang jahat yang memeras keluargaku. Tentu saja tawaran gila ini aku yang mengajukannya. Dia hanyalah seorang pengusaha yang juga menderita kerugian akibat kecurangan perusahaan konstruksi asal Amerika itu. Dan Appa-ku yang harus melunasi kerugian itu pada akhirnya.

Aku bertemu dengan Park Junsu Ssi 2 kali. Yang pertama, saat aku menemuinya untuk menawarkan diriku sebagai asset terakhir orang tuaku untuk melunasi utang mereka. Yang kedua kalinya, saat Park Junsu Ssi yang memintaku menemuinya lagi, dan saat itu dia bilang dia setuju dengan penawaranku. Disatu sisi aku merasa lega, karena satu masalah teratasi. Tapi di sisi lain aku merasa duniaku benar-benar hancur. Yah.. dunia Im Yoona sudah berakhir.

Tiba-tiba dunia terasa gelap. Aku tak mampu melihat apapun. Hidupku, karierku, masa depanku, semua tiba-tiba lenyap. Lalu Jonghyun Oppa-ku, cintaku, hahaha.. aku benar-benar akan gila karena kini aku harus kehilangannya juga. Aaarrgghh… aku ingin berteriak sekuatnya!!

Tanpa terasa kami sudah berada di depan sungai Han. Sebuah belaian lembut di pipiku menyadarkanku dari lamunan. Sebuah senyum malaikat dapat kulihat diwajahnya. Demi Tuhan, aku benar-benar merindukannya. Setelah hampir satu bulan tak kurasa dekap hangatnya, aku ingin sekali berlari kepelukannya sambil berkata ‘Bogoshiposeo, Oppa! Jebbal.. selamatkan aku!!’  Tapi kukunci rapat-rapat semua kata-kata bodoh itu. Aku tidak berencana untuk membagi penderitaanku padanya. Tak akan!! Aku tak akan pernah menghancurkan masa depannya hanya demi cinta bodohnya padaku.

“Ini adalah tahun ke-2 sejak kita bersama, Oppa! Benarkan?” Aku mulai membuka mulutku. Rasa takut kian kuat membelenggu hatiku. Sempat terlintas dalam fikiranku untuk mengurungkan niat gilaku ini karena aku tak akan pernah mampu menyakitinya. Tapi… dunia seperti apa yang akan dijalani Lee Jonghyun bila aku bersikap lemah saat itu?

“Hhhm… Maja! Tak terasa, 2 tahun sudah Im Yoona menjadi matahari yang selalu ada dalam setiap hari yang dilalui Lee Jonghyun. Gomawo, jagia..!” Lembut, kurasakan tanggannya membelai pipiku. Suaranya terdengar seperti lulaby yang mengahangatkan udara Seoul malam itu. Demi Tuhan, aku ingin selamanya mendengar suara itu.

Daengida, Oppa. Aku senang. Karena kini kau bukan lagi newbie idol seperti 2 tahun lalu. Oppa kini punya fans yang banyak, dan karya-karya CNBLUE sudah benar-benar diterima tidak hanya di Negara kita, tapi juga di seluruh dunia. Kau kini memiliki tangan dan kaki yang cukup kuat untuk melindungiku. Benarkan? Jadi…. Aku merasa tak ada alasan lagi untuk kita bertemu diam-diam seperti ini.


Oppa.. apa kau tidak merasa lelah, harus berpenampilan seperti ini saat mengajakku berkencan? Jeans, t-shirt, jaket tebal, topi baseball, kaca mata dan masker ini.. huuh… aku merasa seperti orang yang akan merampok bank saat tiap kali harus bertemu denganmu.”

Terlihat jelas dimatanya bahwa dia terkejut dengan kata-kataku itu. Tapi Oppa-ku tetap tersenyum dan berusaha membuatku tenang. Andai saja dia tahu, bahwa saat itu aku sedang menelan racun mematikan yang akan segera membunuhku. Jantungku berdegup kencang dan rasa sakit dihatiku sungguh sulit kutahan. Sejujurnya, aku hanya mencari bahan pertengkaran dengannya dan pada akhirnya keputusanku tetap sama. Aku akan mengakhirinya.

“Aish.. what happened with my angel? Wae? Uri Yoona pasti lelah dengan jadwal shooting mu belakangan ini yah? Come to me!”

Dia membuka peluknya. Memintaku untuk datang dan mendekapnya. Kumohon.. jangan lakukan itu! Semua itu akan lebih sulit bagiku. Tapi aku tak mampu menolaknya, karena sejak awal aku sudah sangat merindukannya. Dan akupun segera menenggelamkan diriku dalam pelukannya. Pelukan terakhirnya. Tempat terhangat dan ternyaman yang kumiliki saat aku merasa lelah dan sedih. Aku ingin waktu berhenti saat itu. Aku tak ingin membuka kedua mataku dan kembali kedalam hidup yang mengerikan lagi. Benarkah aku rela kehilangannya?

“Oppa..” Kupaksakan suaraku bergeming disela usaha kerasku menahan tangis.

“Hmm..” Oppa masih mendekapku dengan erat. Kali ini kurasan bibirnya mengecup kepalaku. Tangannya tak henti-hentinya mengusap punggungku. Tuhan.. benarkah aku rela kehilangannya?

“Seberapa besar berartinya aku untukmu?” Ppabo.. Im Yoona!! Akhirnya kau memulainya. Aku terus mengutuk diriku sendiri. Kudapati mata Oppa-ku menatapku penuh tanya. Tak mampu aku deskripsikan arti tatapan itu. Namun binar sendu mulai jelas terlihat.

“Hei.. baby.. kau bahkan tahu dengan pasti jawaban dari pertanyaanmu itu tanpa harus bertanya padaku. Kau tahu seberapa besar aku mencintaimu dan diatas semua itu, aku tidak bisa membayangkan perempuan manapun yang ingin aku ajak berpetualang dalam hidupku selain kamu, Yoona. Aku tidak pernah membayangkan ingin menetap didalam sebuah rumah selain bersamamu. Segala yang aku lakukan selama ini, karierku, pekerjaanku, semua itu semata karena aku ingin menjadi laki-laki yang mampu membahagiakanmu. Apa lagi yang ingin kau tahu?”

Suaranya terdengar lirih. Aku bisa merasakan Oppa mulai merasa ketakutan. Tangannya bergetar dalam genggamanku. Tatapannya semakin tajam menusuk hatiku. Aku percaya semua yang dia katakan, dan aku bisa merasakannya.

“Honey, sebenarnya apa yang terjadi? Kau tidak seperti Yoona-ku yang biasanya. Apa ada yang membebani pikiranmu? Just tell me. I’ll always be here!” Tangannya menyentuh wajahku. Dan pada saat yang sama, air mata yang sedari tadi kutahan untuk tidak tumpah, akhirnya berderai tak tertahan lagi. Oppa panik melihatku. Jemarinya mengusap lembut butir-butir hangat itu.

Dan aku mulai mengajukan permintaan bodoh yang aku tahu Oppa tak akan pernah menyetujuinya. Dengan hati-hati, dia berusaha menolak permintaan konyolku. Aku tahu. Aku mengerti alasannya lebih dari siapapun.

“Yoona ah.. sebenarnya ada apa? Kau tidak seperti dirimu. Kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku, aku tahu itu. Please, baby.. just tell me! Let me heal your pain!” Pertanyaan itu justru semakin membuat tangisku enggan mereda. Laki-laki terbaik dalam hidupku, akan kulepaskan malam itu.

“Oppa, seandainya tiba-tiba kau dihadapkan pada pilihan antara aku dan kariermu, mana yang akan kau relakan untuk kehilangan?” Mata malaikat itu berubah sendu. Tangannya semakin erat menggenggam tanganku.

“Morago? Yoona.. aku benar-benar tak mengerti. Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu itu? Aku bahkan tidak akan pernah menempatkan diriku dalam dilemma itu. Aku berjanji padamu untuk menjagamu dengan segenap kemampuanku. Begitu juga dengan karierku. Aku akan terus bekerja keras untuk menjadi musisi yang sukses dan bersama Band-ku aku ingin memiliki perjalanan karier yang panjang. Kau dan juga karierku adalah 2 hal yang harus ada dalam hidupku. Tanpa karierku, bagaimana mungkin aku mampu membahagiakanmu? Begitupun sebaliknya, tanpamu.. karierku tidak akan berarti apa-apa dalam hidupku. Jadi berhentilah menganalisa pemikiran-pemikiran tak masuk akal seperti itu. Yoona, kumohon.. tunggu lah sebentar lagi..! hhm..??”

“Bagaimana bila waktuku tak banyak lagi, Oppa? Sampai kapan aku harus menunggu? Apa kau yakin, saat kau benar-benar siap, semua nya tak akan terlambat? Aku…”

“Mwo? Yoona.. apa maksudmu? Apa maksudmu bahwa waktumu tak banyak lagi? Yoona.. kau sakit? Apa yang sakit? Hah? Katakan padaku, dan berhenti membuatku  gila!!” Tiba-tiba ketenangannya berubah menjadi kepanikan yang bisa kurasakan dari cara dia menyentuh wajahku, kepalaku, tanganku. Aku tahu Oppa benar-benar ketakutan saat itu.

“Oppa, yang ingin kukatakan padamu saat ini adalah.. aku benar-benar membutuhkan pengakuanmu! Aku butuh pengakuan dari publik bahwa saat ini aku milikmu! Katakan pada dunia bahwa aku milikmu! Dan katakan pada mereka bahwa selamanya kau akan melindungiku! Bisakah kau melakukan itu, Oppa?”

“Yoona, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Kau membuatku bingung. Apa yang mendesakmu untuk melakukan itu? Tiba-tiba kau jadi keras kepala dan sulit dimengerti seperti ini? Aku benar-benar..”

“Arraso, Oppa! Aku mengerti. Oppa, kau tidak harus memaksakan dirimu lagi. Selama ini kau sudah melakukan yang terbaik untuk hubungan kita. Kau benar-benar telah menjagaku dengan sangat baik selama ini dan aku berterima kasih untuk semua itu. Tapi, Oppa.. ada hal yang kadang tidak bisa diselsaikan dengan hanya menunggu. Dan dalam posisiku, aku rasa aku tak akan bisa menunggu lagi. Mianhae, Oppa!! Untuk laki-laki sebaik dirimu, aku hanyalah seorang wanita yang keras kepala dan egois.”

Aku terisak. Tuhan, aku tak sanggup lagi bila harus menyakiti laki-laki ini lebih banyak. Bila ada cara agar aku tak harus mengatakan kata-kata paling kejam yang pernah aku ucapkan seumur hidupku ini, maka akan kutempuh cara itu. Namun akhirnya…

“Oppa… kita akhiri saja semua ini..! Mianhae, Oppa! Jaga dirimu baik-baik!! Jjalgara..!”

Laki-laki yang paling kucintai dalam hidupku kini duduk mematung. Terpaku menatap mataku. Lalu untuk pertama kalinya kusaksikan Busan Namja itu menangis dan melupakan prestisenya sebagai laki-laki. Tuhan, aku membuat laki-laki tangguh itu menangis. Cukup! Aku tak sanggup lagi. Aku hanya ingin secepatnya keluar dari mobilnya, dan berlari menjauh darinya. Tapi tiba-tiba genggamannya menghentikanku.

“Kajima!! Jebbal!!” Lirih, suaranya nyaris tak terdengar. Dan dia mulai terisak menahan kepedihannya. Ia menundukan kepalanya, berusaha menyembunyikan air matanya dari tatapanku. Ini pertama kalinya aku melihat Jonghyun-ku menangis. Dan hampir saja air matanya menggoyahkan niatku untuk meninggalkannya. Tanganku yang bergetar berusaha meraih wajahnya. Kuusap air matanya dengan jemariku, namun Oppa semakin terisak. Dia menggenggam tanganku di wajahnya dengan erat. Aku tahu, Oppa.. aku pun tak ingin kehilanganmu, batinku.

Aku menguatkan lagi hatiku untuk pergi. Dan aku benar-benar meninggalkannya sendiri dalam mobilnya. Belum pernah kurasakan sakit sesakit ini sebelumnya.

Please, be happy..
I hope that you will always be someone who shines brightly..
Saying goodbye with a smile..
A little more..
Now it’s goodbye..

Farewell, we’re saying goodbye now..
My love, my precious love
As warm as the suns rays..
You who hugs me..

Kim Taeyeon - Bye

“Oppa mianhae! Kau tidak harus memaafkanku! Hajiman.. Oppa.. Jongmal mianhaeseo! Saranghae, Lee Jonghyun!!” Rintihku seiring langkahku menjauh dari mobilnya. Aku menangis sejadi-jadinya dalam taxi yang membuat sopir taxi itu kebingungan.

Aku berjalan disepanjang trotoar menuju dorm-ku. Sejujurnya aku tak memperhatikan kemana arah langkahku membawaku. Dalam fikiranku hanya terngiang-ngiang suaranya. ‘Kajima!! Jebbal!!’  Lalu tatapan sendu dan deraian air mata itu kini kian jelas terbayang dibenakku. Seumur hidup tatapan itu akan selalu menghantuiku.

Tiba-tiba aku merasa seperti kehilangan keseimbangan. Tubuhku berkali-kali seperti akan terjatuh. Kepalaku terasa berputar-putar. Lalu aku tak mampu lagi mengingat apapun.




 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar