Minggu, 01 Februari 2015

Finding The Destiny Chapter 1






Finding The Destiny

Author                 : Jingga8
Poster Belong To : IsmiNuraulia
Cast                     : Lee Jonghyun, Im Yoona, Lee Seunggi, Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNSD
Rating                  : T
Genre                   : Angst, Romance

Chaptered


Author Note : 
Cerita ini saya tulis setahun lalu pas berita datingnya Yoona dan Seunggi mulai santer terdengar. So... selama rentan waktu satu tahun ini pasti banyak yang terjadi dalam tubuh SNSD ataupun CNBLUE. jadi, kalo ada miss relevansi antara kejadian nyata mereka dan cerita ini, saya minta maaf... ^_^
Nikmati aja cerita ini sebagai fanfic meski plot nya saya ambil dari kehidupan nyata mereka. Jangan terlalu pake hati ah... ntar cepet tua.. kekekek...
Happy Reading, Chingu-deul....




Chapter 1

Why

Jonghyun POV (Present)

Semua ini seperti mimpi. Bila memang benar, maka aku harus secepatnya mencari cara untuk bangun. Ini mimpi buruk. Bukan, lebih tepatnya ini mimpi yang sangat menyakitkan. Rasanya seperti ada yang mencekik leherku dan menekan dadaku dengan keras. Aku ingin bangun. Aku ingin membuka mataku dan saat itu, wajahmu lah yang pertama ingin kulihat. Yah.. wajahmu! Ahh.. Rindu ini benar-benar membuatku seakan sekarat. Im Yoon Ah.. jongmal bogoshipda…


Tell me his name i want to know...
The way he looks and where you go..
I need to see his face
I need to understand
Why you and i came to an end..


I let you go.. i let you fly..
Why do i keep on asking why..
I let you go..
Now that i found
A way to keep somehow
More than a broken vow..


Josh Groban – Broken vow


Aku menghempaskan tubuhku ketempat tidur yang berada tepat disamping meja kerjaku. Saat ini tepat pukul 2 dini hari. Aku memang punya kebiasaan tidur hanya 3 sampai 4 jam setiap malam. Insomnia ini sudah menjadi sahabat setia sejak di awal debutku bersama CNBLUE. Biasanya aku hanya mengisi waktu insomniaku ini dengan mengkompos lagu atau menulis lirik. Dan aku tidak pernah sekalipun merasa terganggu dengan masalah insomniaku ini. Tapi malam ini, sekuatnya aku paksa kedua mata lelahku untuk terpejam. Semakin keras aku mencoba, tapi justru rasa kantuk itu semakin tak kunjung datang.


Hari ini adalah hari yang berat untukku. Setelah 3 bulan ini kutahan, akhirnya rasa itu meledak hari ini. Yah, aku menangis tersedu dihadapan Yonghwa Hyung, Minhyuk dan Jungshin. Akhirnya mereka mengetahui segalanya. Tentangku, tentang Yoona, tentang kita berdua. Aku yakin, mereka telah merasakannya sejak awal, namun tak satupun dari mereka yang berani menanyakannya padaku. Termasuk Hyung.


Dalam benakku kini kembali berputar pemberitaan di laptop Minhyuk siang tadi. Gadis itu.. gadis-ku itu, dikabarkan tengah resmi menjalin hubungan dengan seorang aktor muda, tampan, multi talenta, dan sudah bukan rahasia lagi bila laki-laki itu telah memendam rasa sukanya pada Yoona sejak lama. Dan akhirnya kini mereka benar-benar bersama. Yang paling menyesakkan dada adalah.. animo dan reaksi publik yang serta merta merestui hubungan mereka, bahkan menobatkan mereka sebagai pasangan yang paling dicintai oleh dinegara ini.


Mwo? Tiba-tiba saja aku merasa bahwa dunia ini bersikap tak adil padaku. Ciss.. pasangan yang paling dicintai publik?! Jjinja?


Mungkin inilah yang seharusnya aku lakukan dulu. Harusnya aku menjadi laki-laki pemberani seperti Lee Seunggi yang dengan bangga menggenggam tangan Yoona-ku lalu mengatakan pada dunia kalau dia kini adalah gadisnya. Itulah yang diinginkan Yoona yang tak pernah bisa aku lakukan. Tak ada lain semata karena aku takut pada reaksi publik saat kami mempublikasian tentang hubungan kami ini dan malah justru akan membuatku kehilangan Yoona.


Demi Tuhan aku hanya ingin menjaganya lebih lama dalam pelukanku. Begitupun dengan karierku bersama Band-ku dan juga kariernya bersama grupnya. Untuk apa publik tahu? Toh mereka tidak memberi kontribusi apapun pada kebahagiaan kami. Satu-satunya yang bisa mereka lakukan hanya berkomentar dan seenaknya menyatakan apakah mereka setuju atau tidak setuju. Atau apakah mereka suka atau tidak suka. Lalu siapa yang memberikan mereka otoritas besar itu, sehingga mereka dirasa berhak menyatakan persetujuan mereka ataupun rasa tidak suka mereka? Adakah yang bisa merubah rasa cintaku pada Yoona, seandainya aku mengatakkan pada dunia ‘Im Yoona adalah gadisku. Dia milikku!’ ?


Tapi tak kusangka, ternyata sepenggal kalimat itu teramat penting bagi Yoona. Gadis yang ingin aku bahagiakan dan kujaga dengan segenap kemampuanku. Gadis yang telah menjadi semangat terbesar dan entah sejak kapan menjadi tujuan akhir masa depanku. Aku bekerja keras bersama band-ku hanya karena aku ingin menjadi pria yang layak untuk menikahinya suatu saat nanti. Hah.. pada akhirnya malam ini aku hanya terpaku sendiri disudut kamarku. Menahan sakit dan rasa  rindu yang nyaris tak mampu kukendalikan. Dan kali ini ditambah dengan ‘keharusan-ku’ untuk merelakan gadisku dimiliki orang lain.


(Past)


3 bulan yang lalu..


Mobil sport hitamku kuparkirkan tepat di depan sungai Han. Tempat yang biasa Yoona mengajakku untuk bertemu, sambil makan pabtingso atau menikmati vanilla latte di dalam mobil. Sebelumnya aku ingin mengajak Yoona untuk makan di restoran milik sahabat ibuku. Di sana selain makanannya enak, tempatnya pun privat dan relatif aman dari pantauan fans ataupun paparazzi. Tapi entah kenapa, my angel bersikeras mengajakku ke sungai Han. Whatever.. anything for her..


Sesaat hening mengisi ruang antara aku dan Yoona. Kami tiba ditempat itu beberapa saat yang lalu. Namun tak sepatah katapun aku dengar dari mulutnya. Wajahnya murung. Tatapan matanya sendu. Rasanya ingin sekali aku bertanya apakan dia baik-baik saja? Tapi entahlah… sebuah keraguan tak beralasan seperti mencegahku untuk melakukannya.


“Ini adalah tahun ke-2 sejak kita bersama, Oppa! Benarkan?” Akhirnya, setelah menunggu cukup lama, aku mendengar suara bidadariku juga. Hatiku sedikit lega. Meski aku merasa pertanyaan itu seperti bukan sesuatu yang harus aku jawab ataupun membutuhkan jawabanku.


“Hhhm… Maja! Tak terasa, 2 tahun sudah Im Yoona menjadi matahari yang selalu ada dalam setiap hari yang dilalui Lee Jonghyun. Gomawo, jagia..!” Lembut, aku mengusap pipinya. Namun wajah itu masih belum berubah. Tidak sedikitpun kutemukan senyum disana. What happened to my princess?


Daengida, Oppa. Aku senang. Karena kini kau bukan lagi newbie idol seperti 2 tahun lalu. Oppa kini punya fans yang banyak, dan karya-karya CNBLUE sudah benar-benar diterima tidak hanya di Negara kita, tapi juga di seluruh dunia. Kau kini memiliki tangan dan kaki yang cukup kuat untuk melindungiku. Benarkan? Jadi…. Aku merasa tak ada alasan lagi untuk kita bertemu diam-diam seperti ini.


Oppa.. apa kau tidak merasa lelah, harus berpenampilan seperti ini saat mengajakku berkencan? Jeans, t-shirt, jaket tebal, topi baseball, kaca mata dan masker ini.. huuh… aku merasa seperti orang yang akan merampok bank saat tiap kali harus bertemu denganmu.”


Akhirnya aku melihatnya tersenyum. Tapi entah mengapa, senyum itu terasa menyakitkan untukku. Seperti sedang memperolokku. Entah malam itu Yoona-ku sedang dalam keadaan lelah dan stress karena pekerjaannya, atau sedang mengalami masa PMS-nya setiap bulan. Yang pasti sejak dia masuk kedalam mobilku, hingga mobilku kuparkirkan di depan sungai Han, aku tidak menemukan Im Yoona yang aku rindukan.


Yah.. jadwal pekerjaan kami memang tidak sama. Jadi sangat sulit memiliki waktu luang untuk saling bertemu. Malam itu, aku benar-benar merindukannya. Urgently!! Aku butuh amunisi untuk mengisi kekuatanku lagi setelah tour panjang CNBLUE ke beberapa Negara selama satu bulan terakhir ini. Aku butuh dipeluknya seperti setiap kali rasa lelah dan penatku membuatku depresi. Aku berusaha menanggapi kata-kata Yoona-ku tadi dengan senyumku. Sekerasnya aku mencoba untuk tetap positif.


“Aish.. what happened with my angel?” Sambil ku sentuh hidung merahnya. Namun gadisku masih tak mau mengeluarkan senyumnya.


“Wae? Uri Yoona pasti lelah dengan jadwal shooting mu belakangan ini yah? Come to me!”


Kurentangkan tanganku, mengisyaratkan gadisku untuk bergegas datang kedalam pelukku. And here we are.. Yoona akhirnya datag mendekat kemudian membenamkan tubuhnya dalam dekapanku. Aku bisa mencium aroma lime dan pear dari rambutnya. Ohh.. my baby deer.. how I miss you badly!


“Oppa..” Suara nya terdengar sendu dibalik pelukku.


“Hmm..” Masih enggan kulepaskan tubuhnya dari dekapanku. Bibirku bahkan masih asyik mengecup kepalanya.


“Seberapa besar berartinya aku untukmu?”


“……………..”


Tiba-tiba pertanyaan kecil itu menyelusup masuk kedalam pikiranku, lalu berlabuh di dalam hatiku dan menciptakan sebuah perasaan aneh yang tak bisa aku deskripsikan. Tiba-tiba intuisiku merasa bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Yoona sehingga dia mulai ragu dengan komitmenku padanya. Kuhela nafasku, perlahan kelepaskan Yoona dari pelukanku. Sambil kutatap lekat kedua mata sendunya..


“Igae Mwo ya? Wae kamjagi? Kenapa tiba-tiba kau bertanya hal yang tidak masuk akal begini? Kau meragukanku?“ Tatapan matanya menusuk rasa terdalam dihatiku. Kenapa binarnya terasa begitu pilu? Tapi lagi-lagi aku berusaha untuk tetap tenang dan tidak menganggapinya sebagai hal besar.


“Ania.. Oppa! Nan geunyang…. Aku hanya penasaran saja. Tiba-tiba aku ingin tahu tentang seberapa penting arti keberadaanku dalam hidupmu.” Yoona menundukkan pandangannya. Sambil memainkan jemarinya yang kini menjadi objek tatapan mata sendu itu.


Sejenak aku tertegun mencerna kemana arah pertanyaan itu sebenarnya? Apakah benar hanya karena saat itu Yoona sedang dalam keadaan over sensitif saja? Atau memang lebih dari itu? Aku tidak ingin mengambil resiko dengan terlalu menanggapi serius pertanyaan itu. Sekuatnya aku berusaha untuk tetap tenang. Kusentuh dagunya dan perlahan membuatnya kembali menatapku. Dengan lembut, aku kembali mengusap wajahnya.


“Hei.. baby.. kau bahkan tahu dengan pasti jawaban dari pertanyaanmu itu tanpa harus bertanya padaku. Kau tahu seberapa besar aku mencintaimu. Dan diatas semua itu, aku tidak bisa membayangkan perempuan manapun yang ingin  aku ajak berpetualang sepanjang sisa hidupku selain kamu, Yoona. Aku tidak pernah membayangkan ingin menetap didalam sebuah rumah selain bersamamu. Segala yang aku lakukan selama ini, karierku, pekerjaanku, semua itu semata karena aku ingin menjadi laki-laki yang mampu membahagiakanmu. Apa lagi yang ingin kau tahu?”


Nyaris berbisik, aku katakan isi hatiku sambil tetap lekat kutatap matanya. Rasanya seperti ada yang menekan tenggorokanku yang nyaris membuat suaraku tak terdengar jelas. Entahlah.. semua itu hanya sebuah penjelasan sederhana atas pertanyaan Yoona padaku. Tapi terasa nyeri dalam hatiku saat kusadari saat ini Yoona sedang meragukan kesungguhanku. Lagi-lagi instingku mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dan sekali lagi aku paksa diriku untuk tetap tenang agar hal yang aku takutkan tidak pernah terjadi.


“Jongmal?” Ucapnya lirih.


“Wae? Kau ragu?” Akhirnya, kuberanikan diriku untuk menyuarakan pertanyaan itu lagi.


“Honey, sebenarnya apa yang terjadi? Kau tidak seperti Yoona-ku yang biasanya. Apa ada yang membebani pikiranmu? Just tell me, baby. I’ll always be here!” Kusentuh wajahnya yang terlihat sedang berusaha menahan tangis. Demi Tuhan, saat itu aku merasa ketakutan yang tidak beralasan. Aku benar-benar takut. Dan tak lama, air matanya mencair mengaliri pipinya dalam sentuhan tanganku. Panik. Aku benar-benar panik.


“Omo.. Yoona ah.. wae geurae? Kenapa kau menangis?” Refleks, segera kuusap air matanya dengan jariku.


“Oppa, bisakah kita membiarkan semua orang mengetahui hubungan kita? Kita hadapi bersama segala kemungkinan yang akan terjadi. Aku tak akan melepaskan tanganmu selama kau tidak melepaskan tanganku. Ayo Oppa.. kita biarkan mereka mengetahui kebenaran ini. Cinta kita ini bukan sebuah tindakan kriminal yang harus terus kita sembunyikan. Bisakan.. Oppa?” Matanya yang sendu mencoba merajuk. Nyaris mengoyak pertahananku untuk begitu saja menyetujui ide konyolnya hanya demi melihatnya tidak menangis dan bersedih seperti itu.


“Ah.. Yoona ah.. Wae kamjjagi? Apa yang membuatmu berfikir kita harus melakukannya? Bukankah selama 2 tahun terakhir ini kita bahagia dengan hubungan yang tidak terinterfensi oleh siapapun seperti ini? Tidak semua orang akan merasa senang dengan kebahagiaan kita. Atau pun akan merasa benar-benar sedih dengan kesedihan kita. Bukankah kau yang selalu mengingatkanku, bahwa saesang fans itu lebih menakutkan dari pembunuh bayaran? Baby, bukankah yang paling penting saat ini adalah perasaan dan komitmen kita berdua? Dengan atau tanpa sepengetahuan publik, apakah ada yang akan berubah dengan keseriusanku padamu?”


Yoona-ku kala itu menangis semakin deras. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menyisakan perih dalam dadaku saat mataku terpaksa melihat pemandangan itu.


“Yoona ah.. sebenarnya ada apa? Kau tidak seperti dirimu. Kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku, aku tahu itu. Please, baby.. just tell me! Let me heal your pain!” Tanpa lelah kucoba terus menenangkan diriku, yang kurasa lebih sulit dari menenangkan Yoona saat itu.


Tangis nya mulai mereda. Perlahan Yoona mengatur ritme nafasnya. Tangannya yang gemetar masih sibuk menyeka air mata di pipinya. Tak kusangkal, saat itu tanganku pun gemetar. Aku benar-benar takut. Saat mulai tenang, Yoona mencoba berbicara.


“Oppa, mianhae.. kau pasti bingung dengan semua ini. Aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan hidupku. Tapi Oppa..” Suaranya tercekat. Sekali lagi air matanya mengalir tapi sekuat tenaga Yoona berusaha menahan dan mengendalikannya. Dia lalu meneruskan kalimatnya..


“Oppa, seandainya tiba-tiba kau dihadapkan pada pilihan antara aku dan kariermu, mana yang akan kau relakan untuk kehilangan?”


Bug!!! Seperti sebuah batu besar tiba-tiba jatuh tepat mengenai kepalaku. Bebepa detik aku kehilangan diriku sebelum akhirnya kesadaranku menariknya kembali. Ada apa dengan Yoona-ku sebenarnya?


“Mworago? Yoona.. aku benar-benar tak mengerti. Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu itu? Aku bahkan tidak akan pernah menempatkan diriku dalam dilema itu. Aku berjanji padamu untuk menjagamu dengan segenap kemampuanku. Begitu juga dengan karierku. Aku akan terus bekerja keras untuk menjadi musisi yang sukses dan bersama Band-ku aku ingin memiliki perjalanan karier yang panjang. Kau dan juga karierku adalah 2 hal yang harus ada dalam hidupku. Tanpa karierku, bagaimana mungkin aku mampu membahagiakanmu? Begitupun sebaliknya, tanpamu.. karierku tidak akan berarti apa-apa dalam hidupku. Jadi berhentilah menganalisa pemikiran-pemikiran tak masuk akal seperti itu. Yoona, kumohon.. tunggu lah sebentar lagi..! hhm..??” Demi Tuhan, aku bisa merasakan tangan dan seluruh tubuhku tiba-tiba gemetar.


“Bagaimana bila waktuku tak banyak lagi, Oppa? Sampai kapan aku harus menunggu? Apa kau yakin, saat kau benar-benar siap, semua nya tak akan terlambat? Aku…” Yoona kembali terisak. Dia kembali menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Dan aku.. Tentu saja kata-katanya tadi membuatku luar biasa takut.


“Mwo? Yoona.. apa maksudmu? Apa maksudmu bahwa waktumu tak banyak lagi? Yoona.. kau sakit? Apa yang sakit? Hah? Katakan padaku, dan berhenti membuatku  gila!!” Akhirnya aku tak mampu menahan lagi diriku untuk bersikap tenang. Tentu saja!! Laki-laki mana yang akan tenang-tenang saja mendengar gadisnya berkata seperti itu?


“Ania Oppa, nan gwaenchana! Aku tidak sedang sakit apapun dan aku tidak akan mati secepat itu!” Yoona menjawab ditengah isaknya. Dan membuatku sedikit lega. Demi Tuhan, rasanya seperti jantungku akan berhenti berdetak bila saja kenyataan pahit itu terjadi pada Yoona-ku.


“Oppa, yang ingin kukatakan padamu saat ini adalah.. aku benar-benar membutuhkan pengakuanmu! Aku butuh pengakuan dari publik bahwa saat ini aku milikmu! Katakan pada dunia bahwa aku milikmu! Dan katakan pada mereka bahwa selamanya kau akan melindungiku! Bisakah kau melakukan itu, Oppa?”


Ya Tuhan.. ada apa dengan Yoona sebenarnya? Apa yang membuatnya tiba-tiba menjadi perempuan yang keras kepala seperti itu? Semua itu membuatku kehilangan semua kata yang harus aku ucapkan. Aku benar-benar tak tahu harus berkata dan berbuat apa.


“Yoona, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Kau membuatku bingung. Apa yang mendesakmu untuk melakukan itu? Tiba-tiba kau jadi keras kepala dan sulit dimengerti seperti ini? Aku benar-benar..”


“Arraso, Oppa! Aku mengerti.” Yoona menghela nafas panjang sebelum meneruskan perkataannya. Dan aku masih memantung dalam kebingunganku.


“Oppa, kau tidak harus memaksakan dirimu lagi. Selama ini kau sudah melakukan yang terbaik untuk hubungan kita. Kau benar-benar telah menjagaku dengan sangat baik selama ini dan aku berterima kasih untuk semua itu. Tapi, Oppa.. ada hal yang kadang tidak bisa diselsaikan dengan hanya menunggu. Dan dalam posisiku, aku rasa aku tak akan bisa menunggu lagi. Mianhae, Oppa!! Untuk laki-laki sebaik dirimu, aku hanyalah seorang wanita yang keras kepala dan egois.”


Yoona kembali terisak. Dan aku masih terkunci dalam kebingungan dan keterkejutanku. Aku mematung dan kehilangan kata-kata untuk kuucapkan. Hingga tiba-tiba...


“Oppa… kita akhiri saja semua ini..”


Bugg!!! Sekali lagi sebuah batu besar terasa seperti menghantam kepalaku. Lebih keras! Mebuatku kehilangan diriku lebih lama dari sebelumnya. Ania!! Ini pasti mimpi! Berkali-kali pikiran itu berputar dalam benakku. Andwe!! Jinjja andwe! Yoona-ku tak mungkin melakukan semua ini padaku. Tapi tiba-tiba suaranya menarik kembali pikiranku.


“Mianhae, Oppa! Jaga dirimu baik-baik!! Jjalgara..!” Yoona beranjak, tangan kanannya hendak meraih pembuka pintu mobil disamping tempat duduknya tapi bergegas kugenggam.


“Kajima!! Jebbal!!” Lirih, suaraku nyaris tak terdengar tapi kupaksa mulutku untuk mengatakannya dengan jelas, berharap Yoona mendengarnya. Tiba-tiba butiran hangat mengalir tak terkendali dari mataku. Aku benar-benar tak sanggup lagi menahannya lebih lama. Menerima kenyataan bahwa perempuan yang paling kucintai setelah ibuku baru saja memintaku untuk melepaskannya. Andwe! Aku benar-benar tak bisa!


Yoona mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobilku. Dia kembali menatapku yang kala itu hanyut terisak dengan perihku. Aku tak mampu menatap matanya, meski kutahu bahwa dia sedang menatapku. Tangan nya yang gemetar mencoba meraih wajahku. Dia mengusapnya lembut dan berusaha menyeka air mataku dengan jarinya. Kugenggam tanggannya di wajahku dan membuatku semakin terisak. Belum pernah seumur hidupku aku merasa takut seperti malam itu. Aku tak peduli lagi berapa banyak air mata yang harus Yoona lihat diwajahku. Aku tak peduli lagi dengan egoku dan segala prinsip-prinsip kelaki-lakianku. Yang aku tahu saat itu hanyalah bahwa aku harus membuat Yoona tahu betapa sakitnya bila aku harus kehilangannya.  


“Oppa.. kumohon, mengertilah! Aku hanya tak ingin membuatmu lebih lelah lagi! Begitupun denganku. Saat ini, inilah satu-satunya yang terbaik yang bisa aku lakukan.” Yoona pun sama terisaknya denganku.


“Apa salahku, Im Yoona?” disela isakku, kupaksakan bertanya.


“Opseo! Kau sama sekali tidak bersalah, Oppa! Anggap saja kali ini aku yang goyah. Aku yang tak lagi mampu mengerti dirimu. Anggap saja kali ini cintaku yang berubah.”


“GEUNDAE WAE?!!” Aku tak bisa mengontrol intonasi suaraku kala itu. Tanpa kusadari aku baru saja membentaknya.


“Katakan padaku alasannya!! Hanya karena aku tak bisa membawa hubungan kita secara terbuka, benarkah kau lebih memilih untuk meninggalkanku? Im Yoona ah.. non mitjoseo?!” Kuakui saat itu aku tak mampu lagi mengendalikan emosiku. Aku tak bisa membedakan antara rasa marah atau sedihku malam itu.


“Geurae!! Anggaplah aku gila, Oppa!! Karena itu kau tak bisa bersamaku lagi. Maja, kau benar! Hanya karena kau terlalu pengecut, maka aku lebih memilih untuk pergi darimu. Aku lelah, Oppa!! Aku benar-benar lelah! Jadi kumohon, kita akhiri saja!!” Kata-kata nya terngiang-ngiang dikepalaku seiring langkahnya meninggalkanku sendiri dalam mobilku. Im Yoona… a half of my life has really gone..


I’ll go for miles ‘till i find you
You say you want to leave me
But you can’t choose
I’ve gone thru pain
Every day and night
I feel my mind is going insane
Something i can’t fight


Don’t leave me..
Don’t leave me..


Green day – Don’t Leave Me


(Present)


Tak terasa jam di ponselku kini menunjukkan pukul 3.45 dini hari. Dan aku masih terjaga dengan sisa kenangan pahit itu. Kutatap lekat wajahnya yang sedang tersenyum dilayar ponselku.


“Yoona ah.. apa kini kau bahagia? Kau kini bersama pria yang mampu memberimu segalanya. Kau bebas berkencan dimanapun kau mau. Kau bahkan bisa berjalan sambil menggenggam tangan nya.  Dengan memakai gaun dan make up yang cantik tanpa jaket, topi, masker dan kacamata hitam. Hmm.. meski dimataku kau selalu terlihat cantik meski dengan penampilanmu seperti setiap kali kita berkencan. Jarieseo.. Nae Sarang! Meski kau adalah perempuan paling kejam yang pernah aku kenal, tapi kau layak mendapatkan kebahagiaan yang tak pernah mampu aku berikan.”


Aku bergumam sambil menatap fotonya di layar ponselku. Aku rasa, aku sedang menatapnya sambil tersenyum. Tapi aku tak mengerti, mengapa air mata mengalir ditengah senyumku. Aaah… kapan kepedihan ini akan enyah dalam hatiku? Kututupi wajahku dengan bantal. Tidur? Bukan! Saat itu aku menyadari, senyumku akan segera berubah menjadi tangisan dan aku benci air mataku mengalir tanpa penghalang, meski aku tahu saat itu aku sedang sendiri dalam kamarku dan tak ada siapapun yang akan melihatnya.


Can’t sleep, i just can’t breath..
When your shadow is all over me, baby..
Don’t wanna be a fool in your eyes
‘cause what we had was built on lies..
And when our love seems to fade away..
Listen to me, hear what i say..


I don’t wanna feel the way that i do
I just wanna be right here with you
I don’t want to see.. see us apart
I just wanna say it straight from my heart
I miss you..


Westlife – Miss You




Tidak ada komentar:

Posting Komentar