Finding The Destiny
Author : Jingga8
Poster Belong To : IsmiNuraulia
Cast : Lee Jonghyun, Im Yoona, Lee Seunggi, Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNSD
Rating : T
Genre : Angst, Romance
Chaptered
Author Note :
Cerita ini saya tulis setahun lalu pas berita datingnya Yoona dan Seunggi mulai santer terdengar. So... selama rentan waktu satu tahun ini pasti banyak yang terjadi dalam tubuh SNSD ataupun CNBLUE. jadi, kalo ada miss relevansi antara kejadian nyata mereka dan cerita ini, saya minta maaf... ^_^
Nikmati aja cerita ini sebagai fanfic meski plot nya saya ambil dari kehidupan nyata mereka. Jangan terlalu pake hati ah... ntar cepet tua.. kekekek...
Happy Reading, Chingu-deul....
Chapter 1
Why
Jonghyun
POV (Present)
Semua ini seperti
mimpi. Bila memang benar, maka aku harus secepatnya mencari cara untuk bangun.
Ini mimpi buruk. Bukan, lebih tepatnya ini mimpi yang sangat menyakitkan. Rasanya
seperti ada yang mencekik leherku dan menekan dadaku dengan keras. Aku ingin
bangun. Aku ingin membuka mataku dan saat itu, wajahmu lah yang pertama ingin kulihat.
Yah.. wajahmu! Ahh.. Rindu ini benar-benar membuatku seakan sekarat. Im Yoon Ah..
jongmal bogoshipda…
Tell me his name i want to know...
The way he looks and where you go..
I need to see his face
I need to understand
Why you and i came to an end..
I let you go.. i let you fly..
Why do i keep on asking why..
I let you go..
Now that i found
A way to keep somehow
More than a broken vow..
Josh Groban – Broken vow
Aku
menghempaskan tubuhku ketempat tidur yang berada tepat disamping meja kerjaku.
Saat ini tepat pukul 2 dini hari. Aku memang punya kebiasaan tidur hanya 3
sampai 4 jam setiap malam. Insomnia ini sudah menjadi sahabat setia sejak di awal
debutku bersama CNBLUE. Biasanya aku hanya mengisi waktu insomniaku ini dengan
mengkompos lagu atau menulis lirik. Dan aku tidak pernah sekalipun merasa terganggu
dengan masalah insomniaku ini. Tapi malam ini, sekuatnya aku paksa kedua mata
lelahku untuk terpejam. Semakin keras aku mencoba, tapi justru rasa kantuk itu
semakin tak kunjung datang.
Hari
ini adalah hari yang berat untukku. Setelah 3 bulan ini kutahan, akhirnya rasa
itu meledak hari ini. Yah, aku menangis tersedu dihadapan Yonghwa Hyung, Minhyuk
dan Jungshin. Akhirnya mereka mengetahui segalanya. Tentangku, tentang Yoona,
tentang kita berdua. Aku yakin, mereka telah merasakannya sejak awal, namun tak
satupun dari mereka yang berani menanyakannya padaku. Termasuk Hyung.
Dalam
benakku kini kembali berputar pemberitaan di laptop Minhyuk siang tadi. Gadis
itu.. gadis-ku itu, dikabarkan tengah resmi menjalin hubungan dengan seorang aktor
muda, tampan, multi talenta, dan sudah bukan rahasia lagi bila laki-laki itu
telah memendam rasa sukanya pada Yoona sejak lama. Dan akhirnya kini mereka
benar-benar bersama. Yang paling menyesakkan dada adalah.. animo dan reaksi
publik yang serta merta merestui hubungan mereka, bahkan menobatkan mereka
sebagai pasangan yang paling dicintai oleh dinegara ini.
Mwo?
Tiba-tiba saja aku merasa bahwa dunia ini bersikap tak adil padaku. Ciss..
pasangan yang paling dicintai publik?! Jjinja?
Mungkin
inilah yang seharusnya aku lakukan dulu. Harusnya aku menjadi laki-laki
pemberani seperti Lee Seunggi yang dengan bangga menggenggam tangan Yoona-ku
lalu mengatakan pada dunia kalau dia kini adalah gadisnya. Itulah yang
diinginkan Yoona yang tak pernah bisa aku lakukan. Tak ada lain semata karena
aku takut pada reaksi publik saat kami mempublikasian tentang hubungan kami ini
dan malah justru akan membuatku kehilangan Yoona.
Demi
Tuhan aku hanya ingin menjaganya lebih lama dalam pelukanku. Begitupun dengan
karierku bersama Band-ku dan juga kariernya bersama grupnya. Untuk apa publik
tahu? Toh mereka tidak memberi kontribusi apapun pada kebahagiaan kami.
Satu-satunya yang bisa mereka lakukan hanya berkomentar dan seenaknya
menyatakan apakah mereka setuju atau tidak setuju. Atau apakah mereka suka atau
tidak suka. Lalu siapa yang memberikan mereka otoritas besar itu, sehingga
mereka dirasa berhak menyatakan persetujuan mereka ataupun rasa tidak suka
mereka? Adakah yang bisa merubah rasa cintaku pada Yoona, seandainya aku
mengatakkan pada dunia ‘Im Yoona adalah
gadisku. Dia milikku!’ ?
Tapi
tak kusangka, ternyata sepenggal kalimat itu teramat penting bagi Yoona. Gadis
yang ingin aku bahagiakan dan kujaga dengan segenap kemampuanku. Gadis yang
telah menjadi semangat terbesar dan entah sejak kapan menjadi tujuan akhir masa
depanku. Aku bekerja keras bersama band-ku hanya karena aku ingin menjadi pria
yang layak untuk menikahinya suatu saat nanti. Hah.. pada akhirnya malam ini
aku hanya terpaku sendiri disudut kamarku. Menahan sakit dan rasa rindu yang nyaris tak mampu kukendalikan. Dan
kali ini ditambah dengan ‘keharusan-ku’ untuk merelakan gadisku dimiliki orang
lain.
(Past)
3
bulan yang lalu..
Mobil
sport hitamku kuparkirkan tepat di depan sungai Han. Tempat yang biasa Yoona
mengajakku untuk bertemu, sambil makan pabtingso atau menikmati vanilla latte
di dalam mobil. Sebelumnya aku ingin mengajak Yoona untuk makan di restoran
milik sahabat ibuku. Di sana selain makanannya enak, tempatnya pun privat dan relatif
aman dari pantauan fans ataupun paparazzi. Tapi entah kenapa, my angel
bersikeras mengajakku ke sungai Han. Whatever.. anything for her..
Sesaat
hening mengisi ruang antara aku dan Yoona. Kami tiba ditempat itu beberapa saat
yang lalu. Namun tak sepatah katapun aku dengar dari mulutnya. Wajahnya murung.
Tatapan matanya sendu. Rasanya ingin sekali aku bertanya apakan dia baik-baik
saja? Tapi entahlah… sebuah keraguan tak beralasan seperti mencegahku untuk
melakukannya.
“Ini
adalah tahun ke-2 sejak kita bersama, Oppa! Benarkan?” Akhirnya, setelah
menunggu cukup lama, aku mendengar suara bidadariku juga. Hatiku sedikit lega. Meski
aku merasa pertanyaan itu seperti bukan sesuatu yang harus aku jawab ataupun
membutuhkan jawabanku.
“Hhhm…
Maja! Tak terasa, 2 tahun sudah Im Yoona menjadi matahari yang selalu ada dalam
setiap hari yang dilalui Lee Jonghyun. Gomawo, jagia..!” Lembut, aku mengusap
pipinya. Namun wajah itu masih belum berubah. Tidak sedikitpun kutemukan senyum
disana. What happened to my princess?
Daengida,
Oppa. Aku senang. Karena kini kau bukan lagi newbie idol seperti 2 tahun lalu.
Oppa kini punya fans yang banyak, dan karya-karya CNBLUE sudah benar-benar
diterima tidak hanya di Negara kita, tapi juga di seluruh dunia. Kau kini
memiliki tangan dan kaki yang cukup kuat untuk melindungiku. Benarkan? Jadi…. Aku
merasa tak ada alasan lagi untuk kita bertemu diam-diam seperti ini.
Oppa..
apa kau tidak merasa lelah, harus berpenampilan seperti ini saat mengajakku
berkencan? Jeans, t-shirt, jaket tebal, topi baseball, kaca mata dan masker
ini.. huuh… aku merasa seperti orang yang akan merampok bank saat tiap kali harus
bertemu denganmu.”
Akhirnya
aku melihatnya tersenyum. Tapi entah mengapa, senyum itu terasa menyakitkan
untukku. Seperti sedang memperolokku. Entah malam itu Yoona-ku sedang dalam
keadaan lelah dan stress karena pekerjaannya, atau sedang mengalami masa
PMS-nya setiap bulan. Yang pasti sejak dia masuk kedalam mobilku, hingga
mobilku kuparkirkan di depan sungai Han, aku tidak menemukan Im Yoona yang aku
rindukan.
Yah..
jadwal pekerjaan kami memang tidak sama. Jadi sangat sulit memiliki waktu luang
untuk saling bertemu. Malam itu, aku benar-benar merindukannya. Urgently!! Aku butuh
amunisi untuk mengisi kekuatanku lagi setelah tour panjang CNBLUE ke beberapa
Negara selama satu bulan terakhir ini. Aku butuh dipeluknya seperti setiap kali
rasa lelah dan penatku membuatku depresi. Aku berusaha menanggapi kata-kata
Yoona-ku tadi dengan senyumku. Sekerasnya aku mencoba untuk tetap positif.
“Aish..
what happened with my angel?” Sambil ku sentuh hidung merahnya. Namun gadisku
masih tak mau mengeluarkan senyumnya.
“Wae?
Uri Yoona pasti lelah dengan jadwal shooting mu belakangan ini yah? Come to
me!”
Kurentangkan
tanganku, mengisyaratkan gadisku untuk bergegas datang kedalam pelukku. And here
we are.. Yoona akhirnya datag mendekat kemudian membenamkan tubuhnya dalam
dekapanku. Aku bisa mencium aroma lime dan pear dari rambutnya. Ohh.. my baby
deer.. how I miss you badly!
“Oppa..”
Suara nya terdengar sendu dibalik pelukku.
“Hmm..”
Masih enggan kulepaskan tubuhnya dari dekapanku. Bibirku bahkan masih asyik
mengecup kepalanya.
“Seberapa
besar berartinya aku untukmu?”
“……………..”
Tiba-tiba
pertanyaan kecil itu menyelusup masuk kedalam pikiranku, lalu berlabuh di dalam
hatiku dan menciptakan sebuah perasaan aneh yang tak bisa aku deskripsikan.
Tiba-tiba intuisiku merasa bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Yoona
sehingga dia mulai ragu dengan komitmenku padanya. Kuhela nafasku, perlahan
kelepaskan Yoona dari pelukanku. Sambil kutatap lekat kedua mata sendunya..
“Igae
Mwo ya? Wae kamjagi? Kenapa tiba-tiba kau bertanya hal yang tidak masuk akal
begini? Kau meragukanku?“ Tatapan matanya menusuk rasa terdalam dihatiku. Kenapa
binarnya terasa begitu pilu? Tapi lagi-lagi aku berusaha untuk tetap tenang dan
tidak menganggapinya sebagai hal besar.
“Ania..
Oppa! Nan geunyang…. Aku hanya penasaran saja. Tiba-tiba aku ingin tahu tentang
seberapa penting arti keberadaanku dalam hidupmu.” Yoona menundukkan
pandangannya. Sambil memainkan jemarinya yang kini menjadi objek tatapan mata
sendu itu.
Sejenak
aku tertegun mencerna kemana arah pertanyaan itu sebenarnya? Apakah benar hanya
karena saat itu Yoona sedang dalam keadaan over sensitif saja? Atau memang
lebih dari itu? Aku tidak ingin mengambil resiko dengan terlalu menanggapi
serius pertanyaan itu. Sekuatnya aku berusaha untuk tetap tenang. Kusentuh dagunya
dan perlahan membuatnya kembali menatapku. Dengan lembut, aku kembali mengusap
wajahnya.
“Hei..
baby.. kau bahkan tahu dengan pasti jawaban dari pertanyaanmu itu tanpa harus
bertanya padaku. Kau tahu seberapa besar aku mencintaimu. Dan diatas semua itu,
aku tidak bisa membayangkan perempuan manapun yang ingin aku ajak berpetualang sepanjang sisa hidupku
selain kamu, Yoona. Aku tidak pernah membayangkan ingin menetap didalam sebuah
rumah selain bersamamu. Segala yang aku lakukan selama ini, karierku,
pekerjaanku, semua itu semata karena aku ingin menjadi laki-laki yang mampu
membahagiakanmu. Apa lagi yang ingin kau tahu?”
Nyaris
berbisik, aku katakan isi hatiku sambil tetap lekat kutatap matanya. Rasanya
seperti ada yang menekan tenggorokanku yang nyaris membuat suaraku tak
terdengar jelas. Entahlah.. semua itu hanya sebuah penjelasan sederhana atas
pertanyaan Yoona padaku. Tapi terasa nyeri dalam hatiku saat kusadari saat ini
Yoona sedang meragukan kesungguhanku. Lagi-lagi instingku mengatakan bahwa ada
sesuatu yang tidak beres. Dan sekali lagi aku paksa diriku untuk tetap tenang
agar hal yang aku takutkan tidak pernah terjadi.
“Jongmal?”
Ucapnya lirih.
“Wae?
Kau ragu?” Akhirnya, kuberanikan diriku untuk menyuarakan pertanyaan itu lagi.
“Honey,
sebenarnya apa yang terjadi? Kau tidak seperti Yoona-ku yang biasanya. Apa ada
yang membebani pikiranmu? Just tell me, baby. I’ll always be here!” Kusentuh
wajahnya yang terlihat sedang berusaha menahan tangis. Demi Tuhan, saat itu aku
merasa ketakutan yang tidak beralasan. Aku benar-benar takut. Dan tak lama, air
matanya mencair mengaliri pipinya dalam sentuhan tanganku. Panik. Aku
benar-benar panik.
“Omo..
Yoona ah.. wae geurae? Kenapa kau menangis?” Refleks, segera kuusap air matanya
dengan jariku.
“Oppa,
bisakah kita membiarkan semua orang mengetahui hubungan kita? Kita hadapi
bersama segala kemungkinan yang akan terjadi. Aku tak akan melepaskan tanganmu
selama kau tidak melepaskan tanganku. Ayo Oppa.. kita biarkan mereka mengetahui
kebenaran ini. Cinta kita ini bukan sebuah tindakan kriminal yang harus terus
kita sembunyikan. Bisakan.. Oppa?” Matanya yang sendu mencoba merajuk. Nyaris
mengoyak pertahananku untuk begitu saja menyetujui ide konyolnya hanya demi
melihatnya tidak menangis dan bersedih seperti itu.
“Ah..
Yoona ah.. Wae kamjjagi? Apa yang membuatmu berfikir kita harus melakukannya?
Bukankah selama 2 tahun terakhir ini kita bahagia dengan hubungan yang tidak
terinterfensi oleh siapapun seperti ini? Tidak semua orang akan merasa senang
dengan kebahagiaan kita. Atau pun akan merasa benar-benar sedih dengan
kesedihan kita. Bukankah kau yang selalu mengingatkanku, bahwa saesang fans itu
lebih menakutkan dari pembunuh bayaran? Baby, bukankah yang paling penting saat
ini adalah perasaan dan komitmen kita berdua? Dengan atau tanpa sepengetahuan
publik, apakah ada yang akan berubah dengan keseriusanku padamu?”
Yoona-ku
kala itu menangis semakin deras. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak
tangannya. Menyisakan perih dalam dadaku saat mataku terpaksa melihat
pemandangan itu.
“Yoona
ah.. sebenarnya ada apa? Kau tidak seperti dirimu. Kau sedang menyembunyikan
sesuatu dariku, aku tahu itu. Please, baby.. just tell me! Let me heal your
pain!” Tanpa lelah kucoba terus menenangkan diriku, yang kurasa lebih sulit
dari menenangkan Yoona saat itu.
Tangis
nya mulai mereda. Perlahan Yoona mengatur ritme nafasnya. Tangannya yang gemetar
masih sibuk menyeka air mata di pipinya. Tak kusangkal, saat itu tanganku pun
gemetar. Aku benar-benar takut. Saat mulai tenang, Yoona mencoba berbicara.
“Oppa,
mianhae.. kau pasti bingung dengan semua ini. Aku sendiri tidak tahu apa yang
sebenarnya sedang terjadi dengan hidupku. Tapi Oppa..” Suaranya tercekat.
Sekali lagi air matanya mengalir tapi sekuat tenaga Yoona berusaha menahan dan
mengendalikannya. Dia lalu meneruskan kalimatnya..
“Oppa,
seandainya tiba-tiba kau dihadapkan pada pilihan antara aku dan kariermu, mana
yang akan kau relakan untuk kehilangan?”
Bug!!!
Seperti sebuah batu besar tiba-tiba jatuh tepat mengenai kepalaku. Bebepa detik
aku kehilangan diriku sebelum akhirnya kesadaranku menariknya kembali. Ada apa
dengan Yoona-ku sebenarnya?
“Mworago?
Yoona.. aku benar-benar tak mengerti. Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu
itu? Aku bahkan tidak akan pernah menempatkan diriku dalam dilema itu. Aku
berjanji padamu untuk menjagamu dengan segenap kemampuanku. Begitu juga dengan
karierku. Aku akan terus bekerja keras untuk menjadi musisi yang sukses dan
bersama Band-ku aku ingin memiliki perjalanan karier yang panjang. Kau dan juga
karierku adalah 2 hal yang harus ada dalam hidupku. Tanpa karierku, bagaimana
mungkin aku mampu membahagiakanmu? Begitupun sebaliknya, tanpamu.. karierku
tidak akan berarti apa-apa dalam hidupku. Jadi berhentilah menganalisa
pemikiran-pemikiran tak masuk akal seperti itu. Yoona, kumohon.. tunggu lah
sebentar lagi..! hhm..??” Demi Tuhan, aku bisa merasakan tangan dan seluruh
tubuhku tiba-tiba gemetar.
“Bagaimana
bila waktuku tak banyak lagi, Oppa? Sampai kapan aku harus menunggu? Apa kau yakin,
saat kau benar-benar siap, semua nya tak akan terlambat? Aku…” Yoona kembali
terisak. Dia kembali menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Dan aku.. Tentu
saja kata-katanya tadi membuatku luar biasa takut.
“Mwo?
Yoona.. apa maksudmu? Apa maksudmu bahwa waktumu tak banyak lagi? Yoona.. kau
sakit? Apa yang sakit? Hah? Katakan padaku, dan berhenti membuatku gila!!” Akhirnya aku tak mampu menahan lagi
diriku untuk bersikap tenang. Tentu saja!! Laki-laki mana yang akan
tenang-tenang saja mendengar gadisnya berkata seperti itu?
“Ania
Oppa, nan gwaenchana! Aku tidak sedang sakit apapun dan aku tidak akan mati
secepat itu!” Yoona menjawab ditengah isaknya. Dan membuatku sedikit lega. Demi
Tuhan, rasanya seperti jantungku akan berhenti berdetak bila saja kenyataan
pahit itu terjadi pada Yoona-ku.
“Oppa,
yang ingin kukatakan padamu saat ini adalah.. aku benar-benar membutuhkan pengakuanmu!
Aku butuh pengakuan dari publik bahwa saat ini aku milikmu! Katakan pada dunia
bahwa aku milikmu! Dan katakan pada mereka bahwa selamanya kau akan
melindungiku! Bisakah kau melakukan itu, Oppa?”
Ya
Tuhan.. ada apa dengan Yoona sebenarnya? Apa yang membuatnya tiba-tiba menjadi
perempuan yang keras kepala seperti itu? Semua itu membuatku kehilangan semua
kata yang harus aku ucapkan. Aku benar-benar tak tahu harus berkata dan berbuat
apa.
“Yoona,
aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Kau membuatku bingung. Apa yang
mendesakmu untuk melakukan itu? Tiba-tiba kau jadi keras kepala dan sulit
dimengerti seperti ini? Aku benar-benar..”
“Arraso,
Oppa! Aku mengerti.” Yoona menghela nafas panjang sebelum meneruskan
perkataannya. Dan aku masih memantung dalam kebingunganku.
“Oppa,
kau tidak harus memaksakan dirimu lagi. Selama ini kau sudah melakukan yang
terbaik untuk hubungan kita. Kau benar-benar telah menjagaku dengan sangat baik
selama ini dan aku berterima kasih untuk semua itu. Tapi, Oppa.. ada hal yang
kadang tidak bisa diselsaikan dengan hanya menunggu. Dan dalam posisiku, aku
rasa aku tak akan bisa menunggu lagi. Mianhae, Oppa!! Untuk laki-laki sebaik
dirimu, aku hanyalah seorang wanita yang keras kepala dan egois.”
Yoona
kembali terisak. Dan aku masih terkunci dalam kebingungan dan keterkejutanku.
Aku mematung dan kehilangan kata-kata untuk kuucapkan. Hingga tiba-tiba...
“Oppa…
kita akhiri saja semua ini..”
Bugg!!!
Sekali lagi sebuah batu besar terasa seperti menghantam kepalaku. Lebih keras! Mebuatku
kehilangan diriku lebih lama dari sebelumnya. Ania!! Ini pasti mimpi!
Berkali-kali pikiran itu berputar dalam benakku. Andwe!! Jinjja andwe! Yoona-ku
tak mungkin melakukan semua ini padaku. Tapi tiba-tiba suaranya menarik kembali
pikiranku.
“Mianhae,
Oppa! Jaga dirimu baik-baik!! Jjalgara..!” Yoona beranjak, tangan kanannya
hendak meraih pembuka pintu mobil disamping tempat duduknya tapi bergegas
kugenggam.
“Kajima!!
Jebbal!!” Lirih, suaraku nyaris tak terdengar tapi kupaksa mulutku untuk
mengatakannya dengan jelas, berharap Yoona mendengarnya. Tiba-tiba butiran
hangat mengalir tak terkendali dari mataku. Aku benar-benar tak sanggup lagi
menahannya lebih lama. Menerima kenyataan bahwa perempuan yang paling kucintai
setelah ibuku baru saja memintaku untuk melepaskannya. Andwe! Aku benar-benar
tak bisa!
Yoona
mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobilku. Dia kembali menatapku yang kala
itu hanyut terisak dengan perihku. Aku tak mampu menatap matanya, meski kutahu
bahwa dia sedang menatapku. Tangan nya yang gemetar mencoba meraih wajahku. Dia
mengusapnya lembut dan berusaha menyeka air mataku dengan jarinya. Kugenggam
tanggannya di wajahku dan membuatku semakin terisak. Belum pernah seumur
hidupku aku merasa takut seperti malam itu. Aku tak peduli lagi berapa banyak
air mata yang harus Yoona lihat diwajahku. Aku tak peduli lagi dengan egoku dan
segala prinsip-prinsip kelaki-lakianku. Yang aku tahu saat itu hanyalah bahwa
aku harus membuat Yoona tahu betapa sakitnya bila aku harus kehilangannya.
“Oppa..
kumohon, mengertilah! Aku hanya tak ingin membuatmu lebih lelah lagi! Begitupun
denganku. Saat ini, inilah satu-satunya yang terbaik yang bisa aku lakukan.”
Yoona pun sama terisaknya denganku.
“Apa
salahku, Im Yoona?” disela isakku, kupaksakan bertanya.
“Opseo!
Kau sama sekali tidak bersalah, Oppa! Anggap saja kali ini aku yang goyah. Aku
yang tak lagi mampu mengerti dirimu. Anggap saja kali ini cintaku yang
berubah.”
“GEUNDAE
WAE?!!” Aku tak bisa mengontrol intonasi suaraku kala itu. Tanpa kusadari aku
baru saja membentaknya.
“Katakan
padaku alasannya!! Hanya karena aku tak bisa membawa hubungan kita secara terbuka,
benarkah kau lebih memilih untuk meninggalkanku? Im Yoona ah.. non mitjoseo?!”
Kuakui saat itu aku tak mampu lagi mengendalikan emosiku. Aku tak bisa
membedakan antara rasa marah atau sedihku malam itu.
“Geurae!!
Anggaplah aku gila, Oppa!! Karena itu kau tak bisa bersamaku lagi. Maja, kau
benar! Hanya karena kau terlalu pengecut, maka aku lebih memilih untuk pergi
darimu. Aku lelah, Oppa!! Aku benar-benar lelah! Jadi kumohon, kita akhiri
saja!!” Kata-kata nya terngiang-ngiang dikepalaku seiring langkahnya
meninggalkanku sendiri dalam mobilku. Im Yoona… a half of my life has really
gone..
I’ll go for miles ‘till i find you
You say you want to leave me
But you can’t choose
I’ve gone thru pain
Every day and night
I feel my mind is going insane
Something i can’t fight
Don’t leave me..
Don’t leave me..
Green day – Don’t Leave Me
(Present)
Tak
terasa jam di ponselku kini menunjukkan pukul 3.45 dini hari. Dan aku masih
terjaga dengan sisa kenangan pahit itu. Kutatap lekat wajahnya yang sedang
tersenyum dilayar ponselku.
“Yoona
ah.. apa kini kau bahagia? Kau kini bersama pria yang mampu memberimu
segalanya. Kau bebas berkencan dimanapun kau mau. Kau bahkan bisa berjalan
sambil menggenggam tangan nya. Dengan
memakai gaun dan make up yang cantik tanpa jaket, topi, masker dan kacamata
hitam. Hmm.. meski dimataku kau selalu terlihat cantik meski dengan
penampilanmu seperti setiap kali kita berkencan. Jarieseo.. Nae Sarang! Meski
kau adalah perempuan paling kejam yang pernah aku kenal, tapi kau layak
mendapatkan kebahagiaan yang tak pernah mampu aku berikan.”
Aku
bergumam sambil menatap fotonya di layar ponselku. Aku rasa, aku sedang menatapnya
sambil tersenyum. Tapi aku tak mengerti, mengapa air mata mengalir ditengah
senyumku. Aaah… kapan kepedihan ini akan enyah dalam hatiku? Kututupi wajahku
dengan bantal. Tidur? Bukan! Saat itu aku menyadari, senyumku akan segera
berubah menjadi tangisan dan aku benci air mataku mengalir tanpa penghalang,
meski aku tahu saat itu aku sedang sendiri dalam kamarku dan tak ada siapapun
yang akan melihatnya.
Can’t sleep, i just can’t breath..
When your shadow is all over me, baby..
Don’t wanna be a fool in your eyes
‘cause what we had was built on lies..
And when our love seems to fade away..
Listen to me, hear what i say..
I don’t wanna feel the way that i do
I just wanna be right here with you
I don’t want to see.. see us apart
I just wanna say it straight from my
heart
I miss you..
Westlife – Miss You

Tidak ada komentar:
Posting Komentar