Senin, 26 Januari 2015

Bed Time Conversation..





Author           : Jingga8
Base Story     : Dubu Jung
Main Cast      : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Genre             : Romance
Rating            : T to M


One Shoot...





BED TIME CONVERSATION.... (Bukan Yadong!)

Malam mulai larut. Seusai membereskan sisa makan malam,  Seohyun langsung menuju kamar tidurnya. Setelah lelah dengan aktifitas drama musikalnya hari ini, Seohyun benar-benar membutuhkan waktu untuk me-refresh pikirannya. Dia lalu bersandar di sandaran tempat tidurnya dan mulai membaca beberapa buku. Ritual sebelum tidur. Tak lama kemudian Yonghwa datang dan berbaring di pangkuan buinya.

"Hyuun..." Lembut, Yonghwa memanggilnya.

"Hmmm.." Seohyun menjawabnya  tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedang di bacanya.

"Hyuu~n...." Sekali lagi  Yonghwa memanggilnya dengan manja.

"Wae geurae, Oppa?" Jawab Seohyun yang masih asyik dengan bukunya.

 "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu... " Sedikit ragu Yonghwa memulainya.

"Wae?" Masih tak menghiraukan Yonghwa

“Jebbal.. dengarkan aku, Hyun… ini tentang albumku.” Medengar kata album disebut, Seohyun lalu  meletakkan bukunya dan mulai menatap yonghwa

 "Album? Ada masalah dengan albummu, Oppa?"

"Aniya...., Geunyang….” Sekali lagi Yonghwa merasa ragu untuk memulainya.

“Wae? Apa yang sebenarnya ingin Oppa katakan? Geunyang marhaebwa!” Seohyun mulai merasa risih dengan keragu-raguan Nampyeonnya.

“Igeon… hhmmm… tapi kau harus berjanji, Hyun… jangan marah..” Yonghwa menampakkan senyum termanis dan sedikit mengeluarkan aegyo andalannya. Dan itu membuat Seohyun semakin sebal.

“Jebbal… Oppa.. geumanhae!! Berhenti bersikap sok imut, dan katakan ada apa!” Seketika senyum diwajahnya lenyap saat Seohyun-nya mulai melemparkan tatapan tajamnya.

“Tuh… kan… belum apa-apa sudah galak…” Kali ini Yonghwa mengerutkan bibirnya dan itu mebuatnya terlihat lucu. Seohyun tak bisa menahannya dan diapun tertawa.

“Aigooo.. uri Yong~… jinjja…! Okay, aku janji… aku tidak akan marah. Sekarang katakan, ada apa dengan albummu?” Seohyun menyisir rambut nampyeonnya dengan jemarinya. Dalam batinnya dia merasa, betapapun waktu berlalu seiring usia mereka yang juga kian bertambah setiap tahunnya, tapi Yong-nya tetap saja seperti choding yang dia kenal 5 tahun lalu.

“Kiss me first…” Yonghwa mengisyaratkan dengan mengerutkan bibirnya dan meminta buinnya untuk segera mengikuti permintaannya.

“Aigooo…. Choding!!!” Seohyun menghela nafas panjang. Namun akhirnya, dia menyerah juga. Sebuah kecupan mendarat dengan manis di bibir Yonghwa.

“Thank you, Angel…” Puas dengan kecupan itu, Yonghwa pun kembali tersenyum hingga menampakkan gingsul khasnya.

“You’re welcome, Rocker! And now… tell me.. what’s the matter? Palli… sebelum aku berubah fikiran!” Mendengarnya, Yonghwa lalu bangkit dari posisi tidurnya. Dia lalu duduk tepat dihadapan Hyun-nya. Diraihnya tangan Seohyun dan dia genggam di tangannya.

“Tentang MV-ku…. Hhmm… aku sudah menemukan ide untuk story line nya.” Seohyun mulai antusias mendengarnya.

“Jinjja? Whoa… chukkhae, Oppa. Tentang apa?” Dengan mata berbinar, Seohyun bertanya.

"WGM...." Yonghwa menjawabnya diiringi dengan senyum penuh misteri. Tangannya kini mengelus lembut kepala Buinnya dan merapikan poninya.

"WGM..???!!!" Kini Seohyun semakin antusias. Sedikit  terkejut sejujurnya, hingga dia mulai menghentikan tangannya yang sebelumnya bermain-main dengan rambut Nampyeonya.

"Iya....WGM. Untuk One Fine Day MV, aku rasa aku ingin menggambarkan lagi kenangan-kenangan kita  lewat MV-ku ini. Kamu tahu kan, lagu itu aku tulis 3 bulan setelah kita berpisah malam itu. Lagu itu menceritakan tentang betapa berat dan menyakitkannya masa-masa itu untukku. Saat aku merindukanmu, tapi aku tak mampu menggapaimu. Ahh… neomu himdeuro…” Sesaat fikirannya melayang pada saat-saat menyakitkan itu. Yonghwa masih mengingatnya dan itulah alasan kenapa dia mengabadikan semua itu lewat lagunya. Seohyun yang saat itu mulai melihat raut kesedihan diwajah Yonghwa, segera memeluk lelaki dihadapannya.

“Gwaenchanna, Oppa. Jigeum naega yeogie. Sekarang aku ada dihadapanmu, memelukmu, mencintaimu, menjadi istrimu…” Seohyun mengusap punggung Suaminya dengan lembut. Yonghwa mulai melingkarkan tangannya ditubuh istrinya dan mengusap lembut kepalanya.

“Gomawo.. Hyuuun… ! Gomawo, untuk menerimaku, dan bersedia menjadi istriku. Meski saat ini keadaan belum memungkinkan untukku membawamu dihadapan publik, tapi aku janji… Aku janji, sayang… segera setelah semua project ku dengan FNC selesai dan aku diperbolehkan memperbaharui kontrak kerjaku, aku akan mendaftarkan pernikahan kita secara resmi. Mianhae, membuatmu menunggu begitu lama.” Yonghwa melepaskan pelukannya, dan kini dia mengecup kening istrinya.

“Arasso, Oppa. Lagipula bukan hanya Oppa yang harus menyelesaikan kontrak. Aku juga begitu. Meski begitu, aku tetap bersyukur, kok. Betapa menariknya hidup kita ini, bukan? Bagiku ini lebih baik daripada masa-masa itu. Untuk bisa melihatmu saja aku perlu alasan yang jelas. Setidaknya saat ini aku bisa menghabiskan ribuan malam denganmu. Meski disiang harinya aku kembali harus menjadi orang asing untukmu.” Seohyun meletakkan kedua tangannya di pipi Yonghwa. Dia tersenyum dan menatap Yonghwa dengan binar matanya. Ough… bagaimana mungkin Yonghwa tidak jatuh mencintanya sedalam ini?

“So… apa idemu tentang WGM di MV-mu?” Seohyun kembali menegakkan badannya dan bersiap untuk mendengarkan kelanjutan ide suaminya.

“Kau tau.. Seojin? Anak trainee FNC yang saat itu pernah aku kenalkan padamu?” Seohyun sejenak mengerutkan keningnya.

“Seojin? Ah.. ara.. aku menyukainya. Dia benar-benar cantik.” Seohyun tersenyum tulus.

“Rencananya, dia yang akan aku jadikan sebagai model MV-ku. “

“Geurae? Aku rasa itu ide yang bagus. Hajiman.. wae Seojin Ssi?” Seohyun mulai merasa penasaran.

“Karena, beberapa orang di FNC mengatakan padaku bahwa Seojin itu sedikit mirip denganmu. Mungkin karena dia juga memiliki rambut yang panjang. Meski menurutku, didunia ini tidak ada yang bisa menandingi kecantikan Buin-ku.” Yonghwa mencubit pipi Seohyun.

“Dan dalam MV itu, aku ingin membuat beberapa scene yang sangat relatif dengan hari-hari kita di WGM dulu. Sehingga bait demi bait lirik laguku akan semakin terasa nyata lewat MV itu.” Seohyun masih terdiam. Fikirannya berusaha mencerna kembali kata-kata suaminya barusan.

“Tapi, Oppa… bukankah itu terlalu beresiko? Kita tahu kan… Goguma tidak pernah gagal dalam menemukan hal sekecil apapun tentang kita. Bahkan kita saja terkadang tidak menyadarinya, tapi mereka tahu itu. Dan MV tentang WGM… kau yakin itu tidak justru malah membahayakan solo album-mu?” Seohyun benar-benar terlihat khawatir saat itu. Tapi yonghwa malah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

"Aniya, Joohyun ah… aku justru sengaja membuatnya seperti ini karena aku ingin memberikan hadiah untuk mereka.” Seohyun kembali terpaku. Hadiah?

“Seonmul? Hadiah untuk apa?”

“Our 5th anniversary, Honey. Selama 5 tahun ini, mereka tidak henti-hentinya memberi kita dukungan, cinta dan kau lihat barang-barang itu. Mereka memberikan semua itu karena mereka benar-benar mencintai kita. Mereka percaya bahwa cinta kita ini nyata. Dan mereka benar. Aku merasa bersalah Hyun, karena kita membiarkan mereka tetap menunggu dan terus berharap tentang kita. Karenanya, lewat lagu-laguku, lewat karyaku, lewat MV ini, aku ingin mengatakan pada mereka bahwa kita benar-benar real. Yongseo is real since the first time. Dan aku yakin, uri Goguma bisa menangkap pesanku dengan baik. Mereka itu cerdas sepertimu, sayang!” Kali ini Yonghwa mencubit hidung Seohyun. Seohyun lalu tersenyum setelah mendengar pennjelasan Yonghwa.

“Maja, Oppa… bila bukan karena mereka, mungkin aku tidak akan seyakin ini dalam mengambil langkah untuk bersamamu. Dukungan mereka memberiku kekuatan untuk tetap berdiri disisimu. Ditengah kejamnya cacian haters, aku selalu berfikir bahwa ada jutaan Goguma yang mencintaiku dengan tulus, hingga rasanya semua makian menyakitkan itu tidak berarti apa-apa dalam hidupku. Geurae, Oppa… aku setuju dengan idemu.”

“Jeongmal?”

“Hmm… jinjja…”

“Good…”

“Scene mana saja yang akan Oppa masukan salam MV-mu?” Yonghwa berfikir sejenak kemudian dia kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Seohyun.

"Hmmm… beberapa scene yang cukup mencolok, mungkin. White house, kau dan buku-bukumu, hmm… stasiun, berjalan berdua sambil bergandengan tangan, restouran, dan beberapa detail kecil yang aku yakin Goguma pasti akan mengenalinya. Meski awal dan endingnya akan aku dramatisir sedemikian rupa sehingga tidak terlalu beresiko skandal. “ Seohyun tampak mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda dia mengerti maksud perkataan Yonghwa.

“Ohh iya, besok kau ada jadwal drama musikal lagi kan?” Tiba-tiba Yonghwa teralihkan perhatiannya.

“Hmm… wae?” Dengan polos Seohyun menjawabnya.

“Siapa co star mu besok?” Kini giliran Yonghwa yang mulai antusias.

“Jinmo Oppa. Wae?” Mendengar nama Jinmo disebut, Yonghwa seketika bangkit dari posisinya dan dengan sigap dia menghadapkan badannya kembali dihadapan Seohyun.

“Mwo?!!! Ju JinMo Sunbae?!! Yaa… Seo Joohyun… kau bilang kau tidak ada jadwal yang akan berpasangan dengannya? Wae kamjagie?” Entah kenapa Yonghwa kini merasa terganggu saat tahu istrinya akan berpasangan dengan Ju Jinmo dalam dramanya. Yang pasti, tidak mudah baginya untuk merelakan tubuh istrinya di peluk lelaki lain. Dan bibirnya… Hhhh… Tuhan tahu betapa hampir gilanya Jung Yonghwa saat Seohyun pertama kali meminta ijinnya untuk berperan dalam drama musikalnya kali ini dan mengetahui akan ada beberapa scene yang mengharuskan istrinya mencium pria lain.

“Awalnya memang begitu, Oppa… tapi ternyata ada beberapa waktu yang Bada Eonnie tidak bisa menjalani pementasan ini secara berturut-turut. Belum lagi akupun harus menukar jadwalku untuk event GDA Beijing minggu depan. Aku tidak punya pilihan lain selain bersikap profesional.” Dengan tenang, Seohyun menjelaskannya. Tapi tidak dengan Yonghwa. Bagaimana mungkin dia merasa tenang? Dia masih ingat bagaimana tersipunya wajah Ju Jinmo saat memuji Joohyun-nya di acara press con GWTW. Sebagai lelaki dia tahu, Ju Jinmo pasti tertarik pada Seohyun.

“Mwo? Profesional? Seo Joohyun… bagaimana bisa kau mendeskripsikan semua ini dengan begitu sederhana? Profesional? Kau akan menciumnya hanya karena alasan profesional?” Kali ini Yonghwa mulai panik.

“Lalu alasan apa yang Oppa mau? Haruskah aku menciumnya karena aku menyukainya?” Seohyun malah semakin menggoda suaminya yang jelas-jelas pencemburu itu.

“Mwo? YAAAAK…. JUNG JOOHYUN!!! Kau gila yah?” Yonghwa membelalakan matanya seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dan nama Jung Joohyun sengaja dia tekankan untuk mengingatkan Seohyun bahwa dia kini adalah istrinya.

“Wae? Aku memakai alasan profesional… Oppa tetap marah. Lalu harus alasan apa lagi?” Yonghwa mulai terdiam. Dia fikir, Seohyun ada benarnya. Tapi…

“Iya… tapi… aahhh… Joohyun ah… jebbal… bagaimana mungkin aku rela melihatmu dicium pria lain? Terlebih dia adalah aktor tampan Ju Jinmo. Auggh… molla…!!” Seperti anak kecil, choding itu kini membenamkan wajahnya diatas bantal.

“Ya sudah, Oppa tak usah melihatnya. Gampang kan?” Lagi-lagi dengan wajah inosen nya Seohyun menguji kesabaran suaminya.

“Mwo? Jung Joohyun…. Kau mengujiku kesabaranku yah?” Yonghwa kembali bangkit dan duduk menghadap Seohyun yang kini sedang menahan tawanya.

“Mwo ya.. Oppa? Begini salah, begitu salah! Jadi kau ingin aku bagaimana?”

“Pura-pura sakit! Yah… bilang saja kau sakit, Joohyun ah. Memohon saja pada Bada Noona, untuk menggantikanmu kali ini. Hhm? Sini,,, biar aku yang menelepon Bada Noona biar dia percaya.” Seperti orang bodoh, Yonghwa berniat mengambil handphone-nya. Namun tangan Seohyun menahannya.

“Geumanhae, Oppa! Apa kau fikir aku ini orang yang seperti itu? Apa dimatamu aku ini artis yang akan lari dari tanggung jawabku? Apa selama ini kau pernah melihatku sebagai idol yang manja yang akan menyerah hanya karena aku sakit?” Kali ini Seohyun menatap Yonghwa dengan serius. Dan itu membuat Yonghwa tidak mampu menatapnya kembali. Yonghwa menundukkan kepalanya, karena kini dia tahu Seohyun sedang tidak main-main.

“Oppa… dengarkan aku! Saranghae, Oppa. Aku sangat mencintaimu dan karena itulah aku rela menghabiskan separuh masa mudaku untuk menjadi istrimu. Ya… aku ini istrimu dan Tuhan yang menjadi saksi atas janji yang kuucapkan padamu dihari pernikahan kita. Tapi Oppa… bukankah Oppa pun tahu, bahwa musik dan akting juga merupakan dunia yang tidak bisa dipisahkan dari hidupku? Bahkan sebelum aku mengenalmu, aku sudah terlebih dahulu mengenal dunia ini. Geurokhae, jebbal… Oppa… Apapun yang aku lakukan dalam pekerjaanku, apapun peran yang aku mainkan, siapapun lawan main yang menjadi partnerku, semua itu tidak akan merubah kenyataan bahwa aku ini milikmu. Jadi aku mohon… percayalah padaku, Oppa. Aku mencintaimu lebih dari apapun dan kau tahu itu.” Dengan lembut, Seohyun mengusap pipi suaminya yang kini menampakan wajah super kusut.

“Aku percaya padamu, Hyun… tapi aku tidak percaya pada Jinmo Hyung. Cara dia melihatmu, memujimu…”

“Dia tahu aku ini istrimu, Oppa! Semua orang dalam project ini tahu itu. Keugae, Geok cheongma… ini semua hanya pekerjaan untukku.” Dengan susah payah, akhirnya Yonghwa menganggukkan kepalanya. Namun ekspresi wajahnya masih belum berubah.

“Ahrasso!” Akhirnya dia menjawabnya. Seohyun pun tersenyum dan bergegas memeluk Yonghwa dihadapannya.

“Gomawo… Yooong..!! You know I love you that much, right?” Sekali lagi, masih dengan raut wajah kusutnya, Yonghwa menganggukkan kepalanya.

“Ah…. Tentang MV-ku….” Yonghwa kembali ragu. Dia menatap mata istrinya dan memastikan reaksi seperti apa yang akan Seohyun berikan saat dia mengatakannya nanti.

“Kenapa lagi dengan MV-mu?” Seohyun menjawab dengan tenang.

“Like I said before, MV-ku ini bercerita tentang perjalanan kita, kan? So…”

“So…..” Seohyun sedikit tidak sabar mendengar kelanjutan kalimat Yonghwa.

“So… including Kissing scene…” Yonghwa sengaja memelankan kata kiss dalam kalimatnya. Matanya sedikit meringis mengantisipasi barangkali sebentar lagi akan ada sebuah bantal yang melayang kekepalanya.

“Mwo?” Seohyun masih belum mengerti.

“Kiss.. Hyun… kissing scene….” Dan kali ini…

“KISS???!!!!! Dalam MV-mu kau akan mencium modelmu?!!! YAAKKK… JUNG YONGHWA? KAU GILA YAH?!!!” Bukan main terkejutnya Seohyun saat mendengar ide gila suaminya.

“Wae? Just popo, baby… hanya sebuah kecupan saja.” Yonghwa mencoba meredam emosi Seohyun yang kini mulai tampak dimatanya.

“Popo? Tapi untuk apa, Oppa? Kau bilang MV-mu akan seperti WGM? Mana pernah kita berciuman disana?” Seohyun mulai mengacak rambutnya dan itu artinya, dia benar-benar kesal.

“Eiii… apa kau lupa? Saat aku mengantarmu pulang usai wedding foto kita?” Seohyun terdiam sejenak. Fikirannya mencoba mengingat semua itu. Dan…

“Ahh… itu kan diluar kamera, Oppa! Tidak ada satu Goguma pun yang akan tahu semua itu. Jadi untuk apa kau masukkan itu dalam MV-mu? Jangan macam-macam, Oppa… atau…”

“Profesional, Hyun….! Profesional…” Dengan nada dan gaya bicara yang sama, Yonghwa menirukan kata-kata Seohyun tadi. Dan Seohyun dibuat terbelalak oleh semua itu. Tidak ada kata-kata yang tepat untuk dia katakan pada Yonghwa saat itu mengingat baru saja dia menjelaskan arti kata profesional tadi pada suami pencemburunya.

“Tapi Oppa… dalam hal ini semua itu berbeda. Kau tidak harus melakukan itu. Itu hanya MV dan..”

“Mwo… jadi menurutmu pekerjaanku ini tidak lebih penting dari pekerjaanmu? Apa bedanya? Seperti halnya drama itu penting untukmu, MV ini pun penting untukku. Ini album solo pertamaku dan langkah awal karier soloku, Hyun.” Tidak mau kalah, Yonghwa memberanikan diri memperkuat argumennya. Dan sepertinya kali ini Yonghwa berhasil.

“Jeoha!! Lakukanlah!!” Dengan ekspresi tidak peduli, Seohyun kembali mengambil bukunya, dan pura-pura untuk fokus pada apa yang dibacanya.

“Mwo? Maksudmu… kau setuju?” Yonghwa tidak percaya.

“Kalau aku bilang tidak, kau akan tetap melakukannya juga kan?” Sejenak, Seohyun melirik suaminya dengan tatapan dinginnya sebelum kemudian kembali pada bukunya.

“Ya… kenapa jadi kau yang marah? Kita impas dong! You get one and I get one too…” Yonghwa tersenyum penuh semangat kemenangan. Tapi di balas dengan sikap sok acuh Buinnya yang langsung asyik dengan bukunya. Yonghwa tak peduli, yang penting kali ini dia pemenangnya. Joohyun-nya marah, artinya dia cemburu.

“Arasso! Just do it, Oppa! You’ll get one, but…. Honey… I’ll get more than 20 times kisses. So… nikmatilah MV-mu sebaik-baiknya, Oppa! Jangan sia-siakan satu-satu kissing scenemu!” Seohyun dengan tenang mengatakannya. Matanya masih pura-pura membaca bukunya. Dalam hatinya, dia sedang mengibarkan semangat perangnya. Mildang time…

“MWO?!!! More than 20 times? Jung…”

“Seo Joohyun the actreess, Oppa! Dipanggung nanti, aku adalah Scarlett yang penuh pesona dan juga gairah…”

Dan kalimatnya terhenti karena sesuatu tiba-tiba terasa menyumbat mulutnya. Seohyun mendapati tiba-tiba wajah suaminya berada begitu dekat tepat didepan wajanya. Dan bibirnya… pantas saja, Seohyun tidak lagi bisa bicara. Mulut suaminya menguncinya dan kini, Yonghwa menguncinya lebih erat sehingga tidak ada pilihan lain bagi Seohyun selain menerimanya.

Yeah… she enjoy it, anyway…! Bagaimana tidak? Kissing with the most adorable man whom every women eager to have it, mungkin ini adalah keberuntungannya, karena dia satu-satunya perempuan yang bisa merasakan ciuman ini kapanpun dan sebanyak apapun dia mau.

Yonghwa akhirnya melepaskan ciumannya. Sejenak, dia tatap lekat wajah perempuan dihadapannya. Dengan lembut dia usap wajah Seohyun dan diam-diam memuja betapa cantiknya Seo Joohyun.

“Ingat itu baik-baik, Hyun! Ingatlah apa yang kau rasakan saat aku menciummu. Tidak akan ada yang bisa dan boleh menciummu seperti itu. Kau mengerti?” Seohyun yang masih terkejut dengan serangan tiba-tiba itu, hanya bisa mengangguk tanpa berkata-kata.

“Jarieseo, Mrs. Jung! Besok pagi, biar aku yang mengantarmu. Sorenya, aku juga yang akan menjemputmu. “

“Tapi Oppa… itu terlalu berbahaya untukmu. Banyak fans yang akan ada di sana. Bagaimana bila mereka melihatmu dan menyebarkan rumor?”

“I… Don’t…Care! Kalo mereka melihatnya, kita buka saja semuanya sekalian!!”

“Hhhh… kau mulai lagi, Mr. Jung!”

“Wae? Bahkan diantar suamimu pun tak mau?”

“Ahh… Molla!!!” Seohyun menarik selimutnya lalu tidur membelakangi Yonghwa. Yonghwa lagi-lagi merasa dirinya dikalahkan.

“Yakk… Mrs. Jung!!! Jangan dulu tiduuuurr…!!!” Yonghwa berusaha menarik selimut itu dari tubuh Seohyun, tapi Seohyun malah menariknya lebih rapat.

“Aku malas berdebat dengan choding sepertimu!!” Yonghwa bisa dengan jelas mendengar suara Buinnya dari balik selimut.

“Heoll!!! Memangnya aku tidak malas? Aku juga malas, berdebat dengan perempuan keras kepala sepertimu!” Tidak mau kalah, Yonghwa menarik lagi selimut itu dan kini dia berbagi selimut itu dengan buinnya. Mereka kini saling membelakangi.

“Mwo? Keras kepala katamu?” Kali ini Seohyun membuka selimutnya dan berbalik kearah Yonghwa. Namun yang dia temui hanyalah punggungnya.

“Wae? Apa kata-kataku salah?” Yonghwa tetap tidak membalikan badannya dan Seohyun semakin kesal di buatnya. Lalu…

Buuggg!!! Yonghwa merasa seperti sebuah bantal mendarat dengan manis dikepalanya. Memang benar, bantal itu bukan benda keras, tapi rasanya lumayan juga… saat bantal itu bercampur dengan tenaga dalam Seo Joohyun.

“Awwww!!!! Sakit, Yeobo!!!” Yonghwa berbalik ke arah istrinya sambil mengusap-usap kepalanya. Didapatinya Seohyun sedang menatapnya dengan tatapan yang mengerikan.

“Geurae!!! Lihat saja, besok! Aku akan mencium Jinmo Oppa dengan sepenuh hatiku! Buat apa aku memikirkanmu! Dasar Choding!”

“Mwo???!!!” Yonghwa tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

“Wae???!!!!” Seohyun tidak kalah sengit.

“Arasso…!!! Aku pun akan membuat NG yang banyak!” Jawab Yonghwa dengan tatapan menantang.

“Geurae!! Tetap saja kissing scene ku lebih banyak, Oppa!! Dengan 3 orang yang berbeda, bila kau tidak tahu!” Seohyun tak kalah menantang.

“Haah??? Maldo andwe!” Yonghwa bergumam tak percaya.

“So… lakukan NG sebanyak yang kau mau, Oppa! Maka….”

“ANDWEEEE!!!! Jangan bilang kau akan membuka mulutmu saat Jinmo Oppa menciummu!! Jebbal… Hyun… aahh… jebbal…” Kali ini Yonghwa mulai merengek. Merengek layaknya anak kecil sambil menarik-narik baju istrinya.

“Wae? Kau lakukan saja part mu itu dengan baik. Biar aku juga…”

“ANDWEEEE!!! Andwe… Hyun.. jebbal!! Aah… aku ingin menangis rasanya. Mianhae… Buin ah..! Mianhae, yeobo!” Yonghwa benar-benar nyaris menangis menerima serangan istrinya. Dia mengaku kalah. Dia benar-benar tidak rela, bila istrinya melakukan ciuman seperti itu.

“Okay, sayang… aku tidak keberatan dengan peranmu. Lakukan saja sesuai skenario dengan profesional. Tapi jangan lebih dari itu yah? Please honey… aku mengaku kalah!” Setelah mendengarnya, Seohyun tidak tahan lagi. Meledaklah tawanya yang membuat Yonghwa terpaku.

“Yaa… kenapa kau tertawa?” Yonghwa masih bingung.

“You’re so funny, Mr. Jung! But damn… I love you so much!! Kau tahu, Oppa… kau paling menyebalkan saat kau cemburu. Tapi demi Tuhan, kau membuatku semakin mencintaimu!” Seohyun meletakan kedua tangannya di pipi Yonghwa. Perlahan, dia mengecup bibir suaminya. Beberapa lama, mereka berbagi cinta lewat ciuman itu. Yah… tanpa harus Yonghwa ingatkan, Seohyun akan selalu ingat bagaimana ciuman ini terasa. Tidak akan terganti. Tidak akan tersaingi.

“Now tell me… who’s the hottest  one, Mrs. Jung?” Dengan nakal Yonghwa bertanya.

“Of course, you are.. Mr. Jung!” Jawab Seohyun tak kalah nakalnya.

“Just make it once for me!” Yonghwa menarik tubuh Seo Joohyun kedalam dekapnya.

“Just once? I was about to give you, twice! Even thrice!”

“Jinjaaa???? You’re mine.... Jung Joohyuuuuun!!!!!”




*End*





Rabu, 21 Januari 2015

Mid Summer Story Chapter 19


Mid Summer Story...


Author           : Jingga8
Main Cast      : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Genre             : Romance
Rating            : T

Chaptered



Chapter 19

Love is...

Angin pantai membelai lembut kedua tubuh merindu itu. Joohyun terbuai dalam pelukan laki-laki yang kini telah resmi menjadi suaminya. Suami dalam kehidupan nyatanya. Suami yang sebenarnya. Suami yang seutuhnya dapat memiliki tubuh dan hatinya. Suami yang dengan segenap hati mencinta dan menjaganya.

Sunset terlihat begitu cantik. Dunia terasa benar-benar sempurna kini. Joohyun yang kini telah sehat, karier keduanya yang kian memuncak, dukuangan keluarga, sahabat, managemen dan fans, ditambah kehadiran pangeran kecil yang bernama Jung Yongjoo. Aah... rasanya seperti mimpi.

Yonghwa mendekap Joohyun semakin erat. Dan sekali lagi..

"Gomawo.. jjagia! Menikahimu adalah keajaiban terbesar dalam hidupku. Aku merasa terhormat bisa menjadi sahabat yang akan selalu mendukung dan mendengarkanmu seumur hidupku. Neomu saranghanda, Yongjoo Eomma!" Kata-kata itu ia bisikan ditelinga istrinya.

"Na do gomawo, Oppa! Gomawo, Telah mengajarkanku tentang apa itu cinta. Tertawa dan menangis bersamamu, melewati segala kesulitan dan rintangan bebersamamu, aku benar-benar terberkati, karena Tuhan menitipkanku pada laki-laki yang hebat sepertimu. Terima kasih, Oppa.. karena telah hadir dalam hidupku. Terima kasih, karena hingga akhir kau tetap memperjuangkanku. Na do saranghae, Yongjoo Appa...!"

Di bawah awan perak, disaksikan indahnya sunset di musim semi, Yonghwa mengecup lembut bibir istrinya. Bidadarinya...

"Love is..." Tiba-tiba Yonghwa mengajukan pertanyaan itu seperti saat terakhir mereka melakukan shooting untuk WGM 8 tahun yang lalu.

Joohyun tersenyum dan menjawabnya..

"Love is you, Jung Yonghwa!"

***

3 tahun kemudian…

“Eomma……. Appa mengambil semua apelnya!!!! Eotthokhaeyo… Yongjoo masih belum kenyang… Eommaaaa…..” Dari ruang tengah, Joohyun bisa mendengar pangeran kecilnya merengek dan memanggil dirinya yang saat itu masih sibuk menyiapkan sarapan untuk dua orang lelaki manja itu didapur.

“Ya Tuhaaan… Oppa… jinjaa!!” Joohyun menggerutu sendiri. Dia bergegas menyelesaikan pekerjaannya.  

“Jamkanman… Yongjoo ah… Eomma masih memasak disini. Yaaak… Yongjoo Appa… kenapa kau selalu membuat anakmu menangis? Kau kan tahu, aku sibuk mengurus makanan kalian.” Seo Joohyun yang dulu terlihat lembut, karena statusnya kini dia berubah menjadi super nagging mom. Yeah.. typical ibu rumah tangga pada umumnya.

“Aniya… aku hanya memintanya satu potong saja. Aku pikir Yongjoo tidak menginginkannya. Mianhae.. Yongjoo ah.. Appa mianhae… Appa akan mengupasnya lagi untukmu, ahratji? Uljima… superman! Superman don’t cry. Hmmm? Uljima.. sebelum Eomma mu menghukumku.” Joohyun bisa mendengarnya dari dapur. Dia terkekeh sendiri mengingat betapa Yongjoo itu seperti blue print Appanya. Manja, pencemburu, tidak bisa jauh dari dirinya, tapi disisi lain dia juga anak yang mandiri dan cerdas. Apapun bisa dengan mudah dia pelajari dan dia tiru.

“Ahhhh… Appa… Appa makan apel Yongjoo lagii…. Aaaahhhh….!” Sekali lagi Joohyun mendengar teriakan anaknya. Kali ini dia segera datang menghampiri keduanya.

“Kalian ini kenapa sih? Eomma kan sibuk, Yongjoo ah... Jangan cengeng, dong. Dan kau Oppa… kau tahu anakmu seperti ini, tapi tak henti-hentinya kau buat dia merengek. Ahh… camm… ini sih bukan liburan namanya. Jauh-jauh kita datang ke Bali dan aku hanya menghabiskan waktuku di dapur dan mengurus kalian. Semua ini bisa aku lakukan di Seoul kan?”

Yongjoo dan Appa nya tiba-tiba terdiam. Mereka terpaku mendengar betapa cerewetnya Seo Joohyun.

“Aigooo… uri goguma… you’re always cute when you mad. No… You’re soooo sexy when you mad!” Yonghwa mencubit pipi Joohyun dengan nakal. Dia tidak menyadari bahwa sepasang mata tengah menatap mereka dengan penuh perhatian.

“Nde… Eomma neomu sexy…” Tiba-tiba Yongjoo mengacungkan jempolnya dan dia tunjukkan pada Eommanya. Spontan Yonghwa dan Joohyun membelalakan mata mereka. Bagaimana mungkin Yongjoo mengerti kata-kata Yonghwa barusan? Bukankah Appanya barusan bebicara dalam bahasa Inggris?

“Ya.. Oppa… kau ini…” Joohyun melempar tatapan tajamnya.

“Mwo? Aku kan tadi pakai bahasa Inggris…” Yonghwa yang panik sedikit berbisik.

“Ya tapi jangan lupa… anakmu itu anak yang cerdas, Oppa…” Kali ini Joohyun pun ikut berbisik.

“Eomma… Yongjoo lapar….” Tiba-tiba suara Yongjoo mengalihkan perhatian Joohyun dan Yonghwa.

“Oh.. geuraeyo? Uri Yongjoo lapar yah… gidariseo… Chicken soup kesukaan Yongjoo sebentar lagi matang. Sabar yaa…”

“Shiroyo… Yongjoo tidak mau makan chicken soup, Eomma… tolong buatkan Yongjoo seperti yang eomma buatkan untuk Appa tadi malam.” Joohyun termenung sejenak. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang dia berikan pada Yonghwa semalam.

“Apa yang kau maksudmu, sayang? Mianhae, Eomma tidak mengingatnya…”

“Banana Milk Sexyyyyy……” 

Celoteh Yongjoo dibarengi dengan acungan kedua jempol anak itu. Persis seperti yang Appanya lakukan pada eommanya tadi malam. Sontak Yonghwa dan Joohyun terperanjak dan membelalakan mata mereka.

“Mwoooooo…?????!!!!” Teriak Yonghwa dan Joohyun serempak.


~ End ~

Thank you for reading, Gomuma-deul. Bersama kalian adalah saat-saat yang bikin saya ngerasa punya dunia baru. Thank you, karena sudi berbagi tawa dan keceriaan yang mungkin akan kita kenang dimasa tua nanti. And Thanks To YongSeo… because of them… we’re here as a happy family. Yongseo couple yonghwonaraaaaa….!!!!! #DeepBow Saranghaeeee….. ^_^



 

Mid Summer Story Chapter 18


Mid Summer Story...


Author           : Jingga8
Main Cast      : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Genre             : Romance
Rating            : T

Chaptered



Chapter 18

Would You Marry Me, Angel….

Senja itu, angin bertiup lembut. Taman kecil berhiaskan white lily dan mawar putih ini akan menjadi saksi ketika perjalan panjang mereka berakhir dengan sebuah janji suci untuk menjalani babak baru perjalanan mereka yang lain. Akhirnya, setelah badai pergi, langit pun membiru menampakan pelangi. Ya… hari ini… Yonghwa akan menggenggam tangan Joohyun-nya dan tak akan pernah melepasnya lagi untuk selamanya. Tiba saatnya cinta itu berlabuh dan menetap dihati pemiliknya. Hanya untuk Joohyun-nya. Selamanya…

Pernikahan mereka di gelar sederhana dengan dihadiri orang-orang terdekat saja. Hanya SNSD, CNBLUE, keluarga inti keduanya, sahabat dekat dan  beberapa rekan satu agency, manager keduanya dan owner dari agency tempat mereka bekerja tentunya. Dengan berbagai syarat, Yonghwa akhirnya di ijinkan untuk menikahi Joohyun 'sekali lagi' yang kali ini dengan pernikahan sebenarnya. Banyak hal positif yang terjadi pasca kecelakaan yang minimpa Seo Joohyun. Dukukangan publik pun meningkat drastis ketika Yongwa dengan sabar dan setia menemani Joohyun selama dia dalam masa perawatan. Terlebih dengan kondisi Joohyun seperti saat ini.

Ya… setelah sadarkan diri, Joohyun mengalami kelumpuhan yang membuatnya tak dapat begerak apalagi berjalan. Dokter mengatakan bahwa kondisi ini merupakan efek dari pendarahan pada otaknya saat kecelakaan itu. Tapi dengan terapi dan rehabilitasi, Joohyun di beri harapan bahwa dirinya bisa sembuh dan beraktifitas normal kembali seperti sebelumnya. Meski kemungkinannya kecil. Situasi yang cukup membuat Joohyun terpukul dan kehilangan semangat hidup. Cobaan demi cobaan sepertinya belum berhenti menempa hidup mereka.

Saat itu tidak terpikir lagi tentang eksistensinya bersama SNSD. Menyadari dirinya bahkan tak mampu bangkit dan duduk sendiri pun sudah menjadi pukulan besar dalam hidupnya. Dan kini, gadis mandiri itu harus bergantung pada bantuan orang lain. Joohyun merasa dunianya sudah berganti. Sinar dirinya telah padam. Dirinya tak lebih dari seorang parasit yang akan bergantung dan menyusahkan banyak orang. Dan di satu senja....

Satu bulan sebelumnya…..

"Hey... baby, are you wake up?" Yonghwa tiba-tiba muncul di balik pintu dan mendapati Hyun-nya sedang terbangun menatap jendela dari tempat tidurnya.

"Hhmm! Wae, Oppa?" Joohyun menoleh kearah Yonghwa tanpa bisa melakukan apa2. Saat ini, hanya gerakan kecil yang mampu dia lakukan. Seperti menoleh, menggerakan jemari dan membolak balikan telapan tangannya. Sisanya, dia membutuhkan bantuan dari orang lain.

"Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu. Lets go... ikut denganku!" Yonghwa berjalan mendekati tempat tidur Joohyun dan bermaksud membantunya bangun dan duduk di kursi rodanya.

"Mwo? Eodie ga?" Joohyun tampak bingung dengan ajakan tiba-tiba ini. Terlebih karena hari telah senja dan sebentar lagi langit akan berganti malam.

"Bimil!! Geuman darawaaa...!!" Yonghwa mengibarkan senyum termanisnya seraya membopong tubuh Joohyun lalu menempatkannya di kursi roda. Tak lupa dia menutup kaki gadisnya dengan selimut.

"Geurae... Kajjaa, My Angel….!!" Dengan penuh semangat, Yonghwa mendorong kursi roda Joohyun keluar dari ruangan itu.

Tidak membutuhkan waktu lama untuknya sampai ditempat yang dia tuju. Tempat itu tepat berada di belakang rumah sakit. Sebuah taman terbuka yang menghadap pantai. Rona jingga mulai tampak dilangit berbalut dengan awan keemasan. Andai saja gadis dihadapannya tidak sedang duduk diatas kursi roda ini, senja ini akan menjadi moment paling sempurna untuknya. Tapi biarlah... betapapun Yonghwa tetap mensyukurinya.

"Here we are....! Eotthae, Joohyun ah? Neomu yippo, geurotji?" Yonghwa dengan bangga menunjukkan tempat itu pada gadisnya.

"Whooaa... jinjja yippojanaa...!" Seketika Joohyun tersihir dengan pesona sunset di hadapannya.

"Apa kau masih ingat, 7 lalu... tepat di hadapan sunset yang sama, kita memulai lagi kisah kita?"

Keduanya kini terduduk mengahadap pantai. Angin laut menyapu wajah mereka dengan lembut dan mengibaskan aroma kerinduan yang sama. Joohyun tersenyum pahit, saat satu persatu kenangan itu hadir dalam benaknya.

"Tentu saja aku mengingatnya, Oppa. Senja itu... tampak sama dengan senja hari ini. Hanya saja, kita berada di tempat yang berbeda. Dan aku kini harus duduk di atas kursi menyedihkan ini." Joohyun menundukkan wajah sendunya. Mendengarnya, Yonghwa lantas bangkit dari duduknya dan kini dia berlutut di hadapan Joohyun.

"Ssshh... sayang... jangan bilang begitu. Mungkin kau benar, kita kini berada di tempat yang berbeda. Dan memang benar bahwa kini kau harus duduk di atas kursi roda ini. But honey.... for me you're still the same. Dimataku kau tetap malaikat dengan pesona tak tergantikan. Kau tetap bintang dengan cahaya paling terang. Seo Joohyun... dimataku tetaplah gadis yang sama. Seseorang tempatku menitipkan mimpi dan kebahagiaanku. Kau... tetap menjadi satu-satunya alasan yang membuatku ingin menjadi lelaki yang baik. Lelaki yang pantas untuk menjadi suamimu, dan ayah untuk anak-anakmu."

Sejenak, hening menjelma. Yonghwa menyentuh wajah malaikatnya dengan lembut. Joohyun hanya menatap Yonghwa-nya dengan tatapan haru penuh tanya. Dan Yonghwa membalas tatapan itu dengan penuh cinta. Kata-kata Yonghwa barusan seperti lulaby yang merdu di telinganya. Hingga dia kehabisan kata untuk diucapkan dan hanya terpaku dan membisu.

"Seo Joohyun, aku tahu... aku bukan lelaki yang sempurna. Selama kita bersama, tidak banyak yang pernah aku lalukan untuk membuat bahagia. Bahkan terakhir kali, aku pergi dengan memberimu bekas luka. Maafkan aku, Joohyun ah. Meski aku menyadari betapa tidak pantasnya aku... Meski aku tahu bahwa kesalahan yang kulakukan padamu itu tak akan termaafkan... Meski aku tahu, seberapa besarnya pun yang aku lakukan untukmu, takan pernah bisa menebus setiap rasa sakit yang kau alami kini... tapi demi Tuhan, Joohyun ah! Aku tetap tidak mampu hidup tanpamu.

Aku tahu, betapa tidak tahu dirinya aku mengatakan ini. Hyun.... seandainya aku mampu mengambil semua penderitaanmu saat ini dan menempatkanku ditempat yang kau duduki kini... Aku rela, Sayang. Aku ingin memberikan kakiku, tanganku, tubuhku dan semua milikku untuk bisa melihatmu kembali tersenyum. "

Kali ini, Yonghwa menatap Joohyun lebih dalam. Seiring air mata yang jatuh dari kedua matanya, Yonghwa ingin Joohyun percaya bahwa saat ini yang dia katakan adalah tulus adanya.

"Geurogae, Seo Joohyun... tolong ijinkan aku menjadi kakimu. Ijinkan aku menjadi tanganmu. Ijinkan aku menjadi tubuhmu. Ijinkan aku berbagi hidupku untuk menjadi bagian dalam hidupmu.

Nae Sarang Bit, Narang gyeoronae julhae?"

Seo Joohyun terdiam dalam keterkejutannya. Tubuhnya memang tak mampu memberi reaksi apapun. Tapi matanya berbicara. Dimata sebening embun itu kini tergenang buliran air yang siap mengalir hanya dalam satu kedipan saja.

"Seo Joohyun... maukah kau berbagi waktu dan sisa hidupmu denganku? Menjadi ibu yang melahirkan anak-anakku? Menjadi sahabat sejatiku yang akan berjalan disisiku mengarungi waktu?"

"Op..paa...!"

"Jebbal... Hyun! Beri aku kesempatan..." Suaranya kian lirih terdengar.

"Oppa... aku... aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Aku...

Oppa, Tuhan tahu betapa bahagianya aku mendengar kata-katamu. Bagaimana tidak? Setiap kata-kata yang kau ucapkan bagaikan mimpi yang jadi kenyataan. Aku memimpikan hari seperti ini akan tiba dan Oppa adalah pangerannya.

Geunyang, Oppa... lihatlah aku sekarang. Aku bukan lagi Joohyun yang dulu kau kenal. Jangankan untuk menemanimu berjalan, menggerakan kakiku pun aku tak bisa. Jangankan melahirkan anak-anak mu, mengangkat tanganku pun aku tak mampu.

Oppa, perjalananmu masih panjang. Jangan sia-siakan sinarmu hanya demi untuk bersamaku. Aku percaya cinta dan ketulusanmu. Tapi... bukan aku, Oppa! Bukan aku yang seharusnya bersamamu." Rasanya seperti teriris, saat Joohyun terpaksa mengatakan kata-kata itu pada lelaki dihadapannya. Ingin sekali dia menjerit sekerasnya meluapkan betapa tidak adilnya hidup ini untuknya.

"Aniya.. Hyun...! Ani!!! Jika bukan kamu lalu siapa? Bila memang ada perempuan lain yang lebih bisa membuatku bahagia, harusnya sudah sejak dulu aku bersamanya. Bila memang ada perempuan yang bisa membuatku berpaling, maka selama 6 bulan ini aku tak harus menderita karena rasa rinduku padamu.

Seo Joohyun, dengarkan aku....

Denganmu, atau tidak dengan siapapun. Menjadi milikmu, atau menjalani sisa waktuku seorang diri. Hanya itu pilihan hidupku.

Geurokhae, jebbal... menikahlah denganku...." Sekali lagi Joohyun menetap lekat wajah Yonghwa. Inin sekali tangannya meraih wajah itu dan mengusap air matanya. Tapi lihatlah… bahkan hal kecil seperti itupun tak mampu dilakukannya.

“Kau akan sangat lelah, Oppa. Apa yang akan kau lakukan dengan gadis menyedihkan sepertiku? Hidup seperti apa yang akan kau jalani dengan menikahi perempuan seperti aku? Aku tidak pernah ingin membagi semua ini dengamu dan merenggut sinarmu dari hidupmu. Seperti halnya dulu kau yang tak ingin menjadi sisi gelap dalam hidupmu, kini aku pun sama. Aku mencintaimu, Oppa… dan menginginkanmu lebih dari apapun. Tuhan tahu itu. Tapi aku tidak akan tega mengikatmu dan menjadi beban bagimu.”

“Seo Joohyun, bahkan hingga kini pun kau masih saja keras kepala. Tsk… terserah apapun yang kau katakan. Aku akan tetap menyeretmu ke pelaminan. Kau tidak bisa melawanku, bukan? Apalagi berlari dariku. And here….” Yonghwa mengeluarkan sebuah kotak kecil berpita biru. Lalu memasangkan cincin yang berada di dalamnya di jari manis Joohyun. Joohyun terperanjak saat cincin itu terpasang dengan cantik di jarinya.

“Oppa…. Igae…”

“Wae? Shiro? Kau tidak ingin memakainya lagi?” Sebetulnya, itu adalah cincin yang sama yang mereka pakai di WGM. Yonghwa menyimpannya mengingat saat itu tidak memungkinkan bagi mereka untuk memakainya. Bisa menjadi scandal besar bila fans melihat cincin itu melingkar di jari mereka.

“Tapi…. Cincin ini kaaan…. Aku yang membelinya, Oppa. Masa kau melamarku dengan cincin yang kubeli sendiri?” Joohyun mengerutkan bibirnya dan wajah inosen itu kembali hadir di sana. Mendengar semua itu, Yonghwa sontak terkekeh. Joohyun-nya… benar-benar…

“Mwo? Yaah… Seo Joohyun.. noel jinjja…!” Dengan senyum bahagianya, Yonghwa kembali menatap lekat mata bidadarinya. Perlahan… dia mulai mendekatkan wajahnya pada gadis dihadapannya. Sebuah kecupan kembali berlabuh dibibirnya. Lembut, hangat, manis, rindu, pilu, haru, bahagia, semua rasa yang sudah selayaknya ada kala itu. Rasanya tak ingin melepasnya. Selamanya Yonghwa ingin menikmati manisnya strawberry lewat bibir ini. Tak akan pernah membiarkannya dimiliki siapapun. Hanya untuknya. Hanya miliknya.

Mentari mulai terbenam, dan Yonghwa masih enggan melepaskan kecupannya dari bibir Joohyun. Kerinduan ini sepertinya tidak akan pernah terbayar meski dia menciumnya sepanjang hidupnya.

“Gomawo, Joohyun… ah! Neomu gomawoseo… ” Dengan lembut, Yonghwa mengusap bibir Joohyun sebelum akhirnya dia mengecupnya lagi.

“Terima kasih untuk apa?” Joohyun menampakkan raut wajah khas nya. Spontan membuat Yonghwa mengerutkan keningnya.

“Untuk…. Menerimaku…” Dengan gugup Yonghwa menjawabnya.

“Seingatku, aku tidak mengatakan iya, Oppa…” Lagi-lagi dengan wajah polosnya Joohyun membuat Yonghwa semakin frustasi.

“Eii?? Seo Joohyun… apa maksudmu?”

“Aku bilang, aku tidak mengatakan iya padamu, Oppa. Jadi untuk apa kau berterima kasih?”

“Y-yaa.. Yakkk… Soe Joohyun!!!! Lalu kenapa kau menciumku barusan?”

“Mwo? Siapa yang menciummu? Bibirmu yang mengahampiri bibirku? Bagaimana bisa itu kau bilang aku yang menciummu?”

“Ya.. ta.. tapi kau membalasnya kan? Kau membalas ciumanku. Dan itu artinya kau setuju…” Yonghwa menjadi gusar dibuatnya. Joohyun menahan tawa sekuatnya.

“Mwo? Ya… Oppa… kau lupa, bahwa kau bukan satu-satunya lelaki yang pernah menciumku. Terakhir kali dalam film ku aku mencium TOP Oppa. Apakah itu berarti aku menyukinya dan menerima cintanya?”

“Eiii? Yaakk… kenapa kau membahas ciumanmu di film dalam situasi ini? Ya Tuhan, Seo Joohyun… kau sedang pamer yah?” Sudah, Joohyun sudah tak tahan lagi. Dia pun akhirnya melepaksan tawanya. Melihat betapa tampak bodohnya Jung Yonghwa dengan kata-katanya.

“Phabo, Jung!!!” Celotehnya.

“Yaa… kau memermainkanku, Seo Joohyun!!! Geurae!! Suka atau tidak suka, kau adalah milikku. Dan aku akan menjadi satu-satu pria yang boleh menciummu. Ahratji?” Joohyun tersenyum dalam sisa tawanya, lalu menganggukkan kepalanya. Yonghwa pun akhirnya ikut tertawa bersamanya.

“Tapi Oppa…. Hhhmm… benarkah hanya cincin ini?” Sekali lagi Joohyun membuat lelaki ini terbelalak.

“Ya Tuhan… aku sudah tahu bahwa kau akan seperti ini. Hhhh…! Ahrasso… ahrasso… here…” Yonghwa mengeluarkan satu kotak lagi dalam saku jaketnya. Kali ini lebih besar dari kotak sebelumnya. Dan kini giliran Joohyun yang membelalakan matanya begitu kotak itu terbuka. Sebuah cincin dengan mata saphire berbentuk hati. Disisi-sisinya melingkar berlian-berlian kecil yang mebuat cincin itu tampak begitu indah. Selain itu juga ada kalung dengan mata dan bentuk yang sama. Joohyun benar-benar tersihir karenanya.

“Eotthae? Jeohwa?” Yonghwa meledeknya.

“Neomu Yippoda… Oppa…” Joohyun tersenyum takjub.

“Tentu saja cantik. Untuk malaikat sepertimu, aku harus memilihkan yang tercantik. Meski aku tahu, didunia ini tidak akan pernah bisa aku temui yang lebih cantik darimu. Kau pantas mendapatkan segalanya, Joohyun ah. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia.” Kali ini, suasana syahdu itu kembali. Yonghwa memakaikan cincin itu di jari manis tangan kanan Joohyun. Lalu menyusul setelahnya dia pasangkan kalung itu di lehernya. Benar-benar terlihat sempurna dimatanya. Joohyun-nya benar-benar cantik memakainya.

“Aku bersedia, Oppa….” Akhirnya… dengan senyum terindahnya, Joohyun mengatakan itu.

“Aishh… Seo Joohyun…!!” Sekali lagi Yonghwa mengecup bibir gadisnya. Tidak sampai disitu, kali ini dia mengangkat tubuh Joohyun dan membawanya ketepi pantai. Dibawah senja temaram, mereka tertawa. Yonghwa membawa tubuh Joohyun dipangkuannya berputar berkali membuat Joohyun berteriak.

Tapi mereka benar-benar bahagia. Mereka sangat bahagia.

I'm telling the world
Here and now
That I'm gonna love you and love you
I take this vow yeeaah
You captured my heart
So long ago
Still there are some critical things
That you should know

Do I give all I am
To be now and forever you man
Do I take you to be
Without question the woman for me
Do I promise you
I Do
Do I promise you
I do, I do

This love has been worth waiting for
Cause love doesn't matter to me If it's not yours
As we become one
Through and through
I dedicate all my life To loving you…

To have and to hold
While passions unfold
I promise a life you won't regret
For better or worse
No one can reverse the way that I've felt since we met
You ain't seen nothing yet

( I do – Boys II Men )

Suasana pernikahan terasa syahdu dan penuh haru. Sang pengantin wanita berbalut gaun putih dengan bandana kristal sederhana itu duduk diatas kursi roda. Keadaan itu tak mampu melenyapkan aura kecantikan Joohyun. Terlebih di mata Yonghwa yang kala itu berdiri menatap Joohyun dengan penuh haru. Akhirnya, dia berdiri disana. Melihat malaikatnya begitu bersinar dengan balutan gaun pengantin.

Bidadari itu kini sedang di antar sang ayah kearahnya. Tidak seperti pengantin wanita lainnya, yang menggandeng tangan ayahnya menuju tempat pengantin pria berdiri. Seo Joohyun harus di dorong sang ayah dengan kursi rodanya. Sebelum menyerahkan putri kesayangannya ketangan laki-laki yang akan menjadi suaminya, Joohyun Appa menjabat tangan menantunya sambil menatapnya dengan tatapan haru kemudian berkata....

"Kuserahkan hartaku yang paling berharga padamu, Nak! Dia satu-satunya kekayaan yang aku miliki. Meski dia bukan gadis yang sempurna, terlebih dengan keadaanya kini, tapi kumohon jagalah dia dengan segenap cintamu. Aku tak sedikitpun meragukan cintamu pada putriku, Adeul! Berbahagialah kalian berdua."

Lalu laki-laki setengah baya itu menyerahkan tangan Joohyun pada Yonghwa. Yonghwa mengulurkan tangannya lalu Joohyun menyambutnya. "Dengan seluruh jiwa raga saya akan melakukan segalanya untuk membahagiakan Joohyun, Abbonim! Saya berjanji tak akan pernah lagi melukainya."

Ayah Joohyun lalu tersenyum sambil menyeka air mata harunya. Begitulah janji suci itu mereka ucapkan. Sangat berbeda dengan suasana foto wedding mereka saat dulu menjalani program WGM yang dipenuhi senyum dan gelak tawa. Kali ini, suasana terasa pilu. Meski demikian, warna bahagia tampak jelas dalam binar mata mereka. Pada akhirnya perjuangan mereka berbuah manis. Meski satu cobaan lagi harus mereka jalani, tak apa.. karena kini tangan mereka saling berpegangan. Mereka akan menghadapinya bersama. Yonghwa tak keberatan bila seumur hidupnya dia harus menjaga Joohyun dalam keadaan seperti ini. Itu ribuan kali lebih baik daripada harus terjaga tanpanya.