Mid Summer Story...
Author : Jingga8
Main Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Genre : Romance
Rating : T
Chaptered
Chapter 17
Please, Stay With Me..
Angel..
Wajah selembut malaikat itu tertidur pulas dengan masker oksigen
menutupi mulut dan hidungnya. Kabel didadanya terhubung dengan monitor
disamping tempat tidurnya yang mengeluarkan suara yang sangat menyakitkan hati
dan menyesakkan dada. Suara detak jantung yang sewaktu-waktu bisa melemah,
memacu, atau bahkan menghilang begitu saja. Wajah cantiknya tampak lemah dan
pucat. Tangannya yang terpasang selang infus dan transfusi menambah perih
irisan luka dalam hati Jung Yonghwa. Joohyun-nya, Hyunie-nya kini berada di
antara hidup dan mati. Seandainya dia bisa menukar keadaan. Dia berharap
dirinyalah yang seharusnya terbaring disana. Buakan Seo Joohyun. Malaikat
hatinya.
Ini adalah hari ke-8 sejak
Joohyun terbaring tak berdaya di RS Singapura. Orang tuanya hingga kini masih
tak dapat dihubungi. Selain Yonghwa, yang selama ini menjaga Joohyun di RS
adalah member SNSD secara bergantian. Member CNBLUE yang lain harus meng-handle
pekerjaan Yonghwa di Jepang. Pihak manajemen FNC pun memberi keleluasaan pada
Yonghwa untuk bisa menemani Joohyun di Singapura.
Ibu Yonghwa segera terbang ke
Singapura begitu mendapat kabar ‘menantunya’ kecelakaan. Dia merawat Joohyun selayaknya
menjaga anak nya sendiri. Bersyukur ada Yonghwa Eomma yang dengan tulus dan
penuh cinta merawat Joohyun dikala orang
tuanya tak ada. Ibu Yonghwa lah yang kini memandikan Joohyun, menggantikan
bajunya, dan yang lebih penting memberi kekuatan untuk anak laki-lakinya, Jung
Yonghwa.
Ibunya seolah tak peduli dengan
status hubungan anaknya dengan Joohyun yang selama hampir setengah tahun ini
menjauh. Sebagai seorang ibu, dia sangat faham dengan perasaan anaknya yang
sebenarnya. Tanpa Yonghwa tahu, selama ini ibunya tetap keep in touch dengan
Joohyun. Segala rasa yang Joohyun rasakan, sering kali Joohyun ceritakan
padanya. Hingga tak heran, bila ibu Yonghwa kini yang mengambil alih peran ibu
Joohyun selagi dia tak ada.
Tak sekejap pun Jung Yonghwa berani meninggalkan Seohyun. Sejak
hari kejadian, Yonghwa terus berada di sisi Seohyun di ruang perawatannya.
Sesekali bergantian dengan ibunya atau member SNSD yang lain bila kebetulan
Yonghwa harus makan, mandi, ataupun melakukan kebutuhuan lainnya. Namun Yonghwa
tetap berada disekitar rumah sakit dan tidak berani untuk meninggalkan area itu
terlalu jauh.
Tangan lemah itu kini dalam genggamannya. Tak henti-hentinya
Yonghwa menggenggam tangan itu sambil sesekali memperhatikan monitor detak
jantung disisi tempat tidur Seohyun. Entah berapa banyak air mata yang jatuh
selama 8 hari ini. Dokter Chen mengatakan bahwa
operasinya berhasil. Namun pendarahan hebat yang terjadi dikepalanya membuat
Seohyun nyaris kehilangan nyawanya. Kini semua hanya sedang menunggu keajaiban
agar Seohyun bisa segera bangun. Semua itu tergantung dari seberapa besar
tubuhnya mampu berjuang untuk bertahan. Ya, tubuh lemahnya harus terus berjuang
untuk bisa kembali bangun. Yonghwa benar-benar berdoa agar tubuh kecil nya
tidak menyerah.
“Irona, Baby...! Please, be strong! Aku mohon, kembalilah padaku
Joohyun ah! Selamatkan hidupku! Jebbal..” Suaranya tercekat. Rasanya air mata
itu nyaris habis terkuras. Lirih, perih, dengan segala kelemahan dan
ketidakberdayaannya, Yonghwa kembali tertunduk dalam ribuan doanya.
"Bogoshiposeo.. Hyuun...!
Palli irona! Saat kau bangun nanti, katakan apapun yang kau inginkan. I'm genny
for you.. girl! Aku berjanji akan melakukan segalanya untukmu. Aku tak akan
melepaskanmu lagi. Apapun yang akan terjadi di masa depan, kita hadapi saja
bersama. Aku akan memegang tanganmu seperti ini, Joohyun ah. Jadi cepatlah
bangun!" Yonghwa mengecup tangan Joohyun dalam genggamannya. Tiba-tiba
seseorang masuk dengan membawa sebuah tas.
"Good afternoon, Sir! Apa
anda keluarga Pasien Nona Joohyun Seo?" Yonghwa berdiri dan menyambut
uluran tangan pria ini kemudian mereka berjabat tangan.
"Bukan, saya...
tunangannya." Ragu, tapi dengan percaya diri Yonghwa mengucapkanya.
"Oh.. kebetulan. Saya datang
kesini untuk menyerahkan barang pribadi milik Nona Seo Joohyun yang selama
beberapa hari ini kami gunakan sebagai barang bukti. Harap diperiksa kembali
mengenai keutuhan isinya." Sepertinya pria tersebut dari kepolisian. Dia
menyerahkan sebuah tas Prada berwarna merah milik Joohyun. Yonghwa kemudian
menerimanya.
"Thank you, Sir."
Yonghwa sekali lagi menjabat tangan pria itu. Setelah menjelaskan bahwa
peristiwa yang menimpa Seo Joohyun adalah murni kecelakaan, pria tersebut
lantas pamit dan segera meninggalkan Yonghwa.
Yonghwa mengamati tas milik
Joohyun. Dia memberanikan diri untuk membukanya. Ada handphone, kamera, dompet,
buku dan sebuah diary. Hmm, gadis perfeksionis ini ternyata masih melakukan
kebiasaannya membawa-bawa buku ajaibnya ini kemanapun ia pergi.
“Adeul… sebaikanya kau makan
dulu. Sejak tadi malam perutmu belum terisi apapun. Biar Eomma dan Yoona Ssi yang
menjaga Joohyun disini.” Eommanya datang bersama Yoona. Ya, tanpa disadarinya,
Yonghwa melewatkan makan malamnya juga. Haahh… dalam kondisi ini, bagaimana
mungkin dirinya memiliki selera makan.
“Gwaenchanna, Eomma. Aku masih
belum lapar. Lagipula, aku baru saja memakan beberapa apel dan jeruk yang Eomma
beli. Jadi aku masih kenyang.”
“Aniya, Oppa! Kau kini tampak
seperti zombie. Wajahmu terlihat semakin tirus. Dan kantong matamu… Ya Tuhan…
apa yang akan Joohyun rasakan bila dia melihatmu saat dia bangun nanti? Pergilah
mencari udara segar dan juga makanan yang cukup gizi. Kau membutuhkan semua itu
untuk bias menjaga Seohyun, Oppa. Bila kau sakit, bagaimana kau bisa berada
disini dan menjaganya?”
Kata-kata Yoona memang benar. Yang
pertama kali harus Yonghwa lakukan saat ini adalah menjaga tubuhnya agar tetap
sehat. Saat Joohyun bangun nanti, gadisnya akan banyak bergantung padanya. Yonghwa
harus lebih kuat demi Joohyun-nya.
“Ahrasso… aku akan keluar
sebentar. Bila Joohyun tiba-tiba bangun, tolong segera hubungi aku, Yoona ah! Aku
mengandalkanmu. Gomawo…! Eomma do.. neomu gomawoseo, Eomma..” Yoona dan juga
Eomma nya hanya menganggukkan kepala mereka sambil mengembangkan senyum tulus
mereka. Yonghwa pun berlalu meninggalkan ruangan itu dengan sebuah buku
ditangannya.
Ya… Diary Seo Joohyun….
Yonghwa mampir ke sebuah kedai
roti disekitar rumah sakit. Setelah mengantongi beberapa potong roti dan
segelas expresso, diapun berjalan menuju taman rumah sakit. Yonghwa kemudian
duduk disalah satu bangku disana. Semula niatnya ingin menyantap makanan yang
dibelinya sambil duduk di bangku taman itu. Tapi perhatiannya tercurah habis
pada buku kecil bersampul biru ditangannya. Ada rasa ragu ketika tangannya akan
mulai membuka setiap lembarnya. Bagaimana pun dalam buku ini akan dia temukan
dunia kecil Joohyun yang tiada seorangpun yang mengetahuinya. Tapi bukan
bermaksud lancing, hanya saja… dia ingin menemukan kepingan puzzle yang hilang
dalam hidupnya selam enam bulan terakhir ini. Dan akhirnya, Yonghwa mulai
membukanya.
Saat halaman pertama terbuka,
Yonghwa memnukan foto Joohyun dan dirinya yang diambil 3 tahun lalu saat mereka
masih mengikuti program WGM. Foto yang cukup menggelikan. Saat itu mereka baru
saja menjalankan salah satu misi WGM bermain ski lalu bermalam disebuah resort
dekat area ski itu. Dengan menggunakan sweater couple berwarna kuning dan
Yonghwa bermake up ala seorang noona. Yonghwa ingat, ada beberapa scene yang
memang tidak ditayangkan dalam show itu. Salah satunya adalah seperti yang ada
dalam foto ini. Yonghwa mengambil selca itu saat semua kru sibuk membereskan
peralatan shooting mereka. Yonghwa menghampiri Joohyun yang saat itu berada di
kamar resort. Lalu dengan nakal dia meminta Joohyun berdiri didepan cermin
bersamanya. Mereka melakukan beberapa pose gila didepan cermin seolah cermin
itu bisa merekam pose-pose itu. Hingga akhirnya Yonghwa mengambil posel nya dan
mengambil foto mereka di depan cermin. Mereka berdua tertawa. Yah, they were so
happy back then….
"Igae mwo ya? Kenapa foto
seperti ini kau simpan dalam diarymu?"
Sebuah tulisan dibawah foto itu
cukup menjawab pertanyaan Yonghwa tadi.
"Kau terlihat cute.. Oppa! Ah.. aniea.. Kau terlihat bahagia!
Yeah.. kita memang bahagia saat itu. Aku ingin mengingatmu sebagai pria dengan
senyuman termanis seperti ini. Senyumanmu, adalah amunisi buatku. Setiap kali
aku merasa lelah dan ingin menyerah, maka aku akan melihat kembali foto ini
untuk mendapatkan kekuatanku kembali. Jeongmal Bogoshiposeo.. Jung Yonghwa
Ssi!" Sesaat Yonghwa terpaku sambil terus menatap lekat foto itu. Tangannya
tanpa dia sadari mulai menyentuh wajah cantik dalam foto itu.
"Kau juga sangat cantik
dengan senyuman itu, Joohyun ah! Meski tanpa make up, kau benar-benar cantik.
Seharusnya senyuman itu yang tetap kujaga dalam ingatanku. Bukan malah
punggungmu saat setiap kali kau melangkah meninggalkanku. Aniya.. bukan kau
yang meninggalkanku, tapi aku yang melepaskanmu. Karenanya kau harus segera
bangun, Hyuun. Pastikan untuk menghukumku!"
Yonghwa kembali membuka diary
itu. Halaman demi halaman menceritakan betapa Joohyun pun bekerja keras untuk
lari dari kesedihannya. Gadis ini menahan segalanya sendiri. Betapa dunia
kecilnya terlihat begitu keras hingga berkali-kali Joohyun menulis kata lelah
dan ingin menyerah. Yonghwa menundukkan kepalanya. Mengigat apa yang telah dia
lakukan pada Joohyunnya. Rasa sesal seolah menjadi hukuman paling berat baginya.
Seharusnya dia ada disisi Joohyun setiap kali Joohyun menangis.
Tiba di satu halaman yang membuat
air mata laki-laki ini kembali mengalir. Ada sebuah foto dirinya yang dia tak
ingat kapan foto itu di ambil. Tampak dirinya sedang duduk di airport dengan
wajah sendu. Sepertinya foto itu di ambil saat Yonghwa akan terbang ke Jepang
waktu itu. Tapi bagaimana bisa Joohyun memiliki foto ini? Lagi-lagi sebuah tulisan
di bawah foto itu menjawab segalanya.
"Jalga.. uri Yoong~! Bahagialah! Meski kau pun sangat lelah, tapi
tersenyumlah! Aku akan menunggumu, Oppa! Meski kau paksa aku untuk menyerah,
aku akan tetap pada pilihanku sendiri. Oppa, kali ini kau kulepaskan. Suatu
hari, bila kau tak kunjung kembali padaku, maka aku yang akan datang padamu.
Kau pasti bilang bahwa aku ini gila dan keras kepala. Anieo.. Oppa. Cinta ini membuatku merasa seperti seorang manusia.
Bukan boneka pajangan yang dituntut untuk selalu tersenyum meski jiwaku
menangis. Cinta ini yang telah mengajarkanku untuk bisa menjadi manusia yang
lebih baik. Yang memberiku kekuatan untuk rela berkorban, menerima, menunggu
dan juga memaafkan. Terima kasih, telah memberiku keberanian untuk berjuang,
Oppa! Untuk tidak menyerah dan terus mengejar kebahgiaanku. Dan itu adalah
kamu, Jung Yonghwa! Saranghae, Oppa! Aku tak mampu menggambarkan sebesar apa
cintaku ini. Tapi kuharap suatu saat aku bisa mengatakan ini padamu. Kumohon
tersenyumlah... agar aku lebih rela melepasmu, Yoong~.. "
Sekali lagi laki-laki ini terisak
dalam kepedihanya. Rasanya rindu itu seperti akan membunuhnya. Yonghwa tertunduk
dan memeluk buku harian kecil itu didanya.
"Tuhan.. tolong beri aku
kesempatan lagi. Kumohon kembalikan Joohyun padaku. Tolong aku.. Tuhan!"
Lirih.. untaian doa itu mengalun.
Akhirnya, Yonghwa membawa makanan yang sudah dibelinay keruangan
Joohyun. Setelah membaca buku hariannya, rasanya Yonghwa ingin segera kembali
kesisi gadinya dan tak ingin berlama-lama jauh darinya. Namun saat hendak
kembali ke ruangan Seohyun, tiba-tiba dia terperanjak ketika dia mendapati
sekelompok perawat dan beberapa orang dokter berlari memasuki ruangan itu.
Tanpa dia sadari dia menjatuhkan bungkusan yang berisi makanan dan minuman
ditangannya yang tadi dia beli, kemudian berlari dengan tergesa menuju ruangan
Seohyun.
Dengan nafas terengah, Yonghwa mendekati kerumunan dokter dan
perawat yang mengelilingi tempat tidur Seohyun. Detak jantung di dadanya melaju
kencang. Rasa takut itu kembali hadir...
“Dr. Chen, what’s going on?” Dalam kepanikan Yonghwa menghampiri
Dokter Chen yang saat itu sedang memeriksa keadaan Joohyun. Dokter itu
tersenyum, membuat Yonghwa bingung. Namun tidak berlangsung lama, saat dia
melihat kearah Joohyun, diapun menemukan senyum yang sama berkembang diwajah
malaikat itu. Masker yang menutupi mulut dan hidungnya sudah tak lagi terpasang
disana. Joohyun-nya, kini sedang tersenyum padanya.
“Joohyun ah?” Lirih, dia memanggil nama itu. Perlahan dia
mendekati tubuh itu. Memegang tangannya. Gerakan jemari dan cengkraman Joohyun
mulai terasa ditangannya. Yonghwa menatap Dokter Chen dengan tatapan ‘benarkah
semua ini?’. Dan Dokter Chen menganggukan kepalanya seolah dia mengerti arti
dari tatapan itu.
“Congratulation, Mr. Jung. Miss
Seo, benar-benar telah melewati masa kritisnya dan kini hanya tinggal menjalani
perawatan pasca operasi saja. Kau bisa tenang sekarang, nak!” Dokter yang
mungkin usianya hampir sama dengan kakeknya itu tersenyum sambil menepuk pundak
Yonghwa.
“Really? Hah.. tell me that this is real, Doctor! Thank you,
Doctor! Thank you very much!” Yonghwa tersenyum lebar dan memberi hormat pada
Dokter Chen dan tim nya yang sudah begitu gigih merawat Joohyun. Mereka pun
meninggalkan Yonghwa dan Seohyun yang masih hanya saling menatap tanpa satu
katapun terucap dari mulut keduanya.
Beberapa saat Yonghwa hanya duduk dikursi sebelah tempat tidur Joohyun
sambil membelai dan memainkan jemari Joohyun dalam genggamannya. Ada banyak
kata dalam benaknya yang ingin dia katakan pada Joohyun tersayangnya. Tapi
entahlah, setiap kata seperti lenyap. Rasa haru, bahagia, bersyukur, semua
mengaduk-aduk perasaannya.
“Oppa...” Akhirnya suara lembut itu memecah kebisuan mereka.
Yonghwa kembali menatap Joohyun. Air mata sudah menggenang dikelopak matanya
dan siap menetes hanya dengan satu kedipan saja.
“Hai.. baby..!” Senyum itu merekah diwajah Yonghwa, seiring dengan
itu, genangan air matanya pun mengalir jatuh.
"Uljima, Oppa..." Joohyun berbisik lirih.
"Ania.." Yonghwa memaksakan senyumnya sambil
menggelengkan kepalanya dan menyeka wajahnya. Namun tak lama kemudian laki-laki
itu segera tertunduk dan membenamkan mukanya diatas tempat tidur Joohyun.
Pudaknya berguncang. Dan isakan mulai bisa Joohyun dengar.
“Mianhae, Oppa. Mianhae, membuatmu menderita seperti ini. Aku
sudah kembali, Oppa. Joohyun-mu sudah kembali...” Joohyun berbisik dengan suara
yang masih lemah. Air matanya pun mengalir, melihat Yonghwa tersayangnya
menangis sendu seperti itu.
Yonghwa mengangkat kepalanya. Matanya merah dan sembab. Dan air
matanya bisa Joohyun lihat dengan jelas. Laki-laki itu pun tampak kehilangan
banyak berat badannya. Pipinya terlihat lebih tirus, dan lingkar hitam di
matanya terlihat nyata.
“Uljima, Yooong..! Jung Yonghwa-ku adalah pria paling tampan yang
pernah kutemui. Bukan laki-laki kurus dengan lingkar mata hitam seperti ini.”
Joohyun mengusap pipi Yonghwa dan Yonghwa kembali menggenggam tangan itu
dipipinya.
“Nappeun yeoja! Berani-beraninya kau melakukan ini padaku! Phabo
Hyun! Neol jinjja phabo! Bukankah sudah kubilang, jangan pernah berada diluar
zona amanmu, Seo Joohyun. Dan ketakutanku benar-benar terjadi. Kau membuatku
gila, Joohyun ah! Jinja..”
“Mianhae, Oppa! Aku tidak pernah bermaksud untuk membuatmu
menderita seperti ini. Mianhae…” Suaranya lirih terdengar.
“Aniya Joohyun, ah… naega mianhae. Maafkan aku, Hyun. Jika saja
malam itu aku tidak membiarkanmu sendiri… aniya… jika saja aku tidak pernah
meninggalkanmu dan menyerah pada cinta kita, mungkin kali ini kau akan
baik-baik saja. Kumohon, maafkan aku, Hyun…” Dalam tangisnya, Yonghwa menatap
wajah bidadari dihadapannya dengan sendu. Sejujurnya, dia merasa terlalu malu
untuk menatapnya setelah apa yang sudah dia lakukan pada Seo Joohyun.
“Gwaenchanna, Oppa. Aku akan segera baik-baik saja. Geok cheongma.
Lagipula… seharusnya aku bersyukur karena aku mengalami kecelakaan ini.”
Joohyun tersenyum.
“Mwo? Apa maksudmu? Bagaimana mungkin…”
“Kau benar-benar lambat, Jung Yonghwa Ssi! Haruskah aku alami
semua ini, untuk membuatmu memegang tanganku lagi? Bila memang demikian, maka
aku rela ribuan kali terluka demi untuk membuat tetap ada disisiku.” Sekali
lagi Joohyun tersenyum.
“Phabo! Kenapa aku bisa tergila-gila pada gadis bodoh sepertimu,
Hyun? Melihatmu tertidur begitu lama benar-benar membuatku menderita. Setiap detik
waktu berlalu terasa sangat lama dan menakutkan. Bila sesuatu terjadi padamu,
aku bersumpah.. aku tidak ingin hidupku lagi, Joohyun ah. I just can’t leave in
the world that you’re not exist.” Yonghwa mengusap air matanya dengan bajunya
sebelum melanjutkan kata-katanya.
“Ahra.. na do, Oppa. Bagaimana rasanya… saat orang yang kau cintai
tepat berada didepan matamu, tapi terasa begitu jauh karena sesuatu
memisahkannya darimu? Rasanya kehilangan sungguh menyakitkan , bukan?
Dadamu terasa sesak seolah oksigen tak lagi cukup untuk membuatmu bernafas. Seketika
dunia terasa begitu asing, hingga rasanya seperti kau ingin mengakhiri hidupmu,
bukan? Aku pun pernah merasakannya, Oppa! Dunia benar-benar menakutkan saat kau
melepaskan aku dan berkata bahwa semuanya telah berakhir.”
Air mata kembali mengalir dipipi
keduanya saat mereka menyadari betapa bodohnya mereka. Jalan yang mereka pilih
atas nama karier dan profesionalisme, jalan yang mereka fikir bisa membuat
mereka lebih bahagia, akhirnya hanya membawa mereka pada rasa sakit yang tak
bisa terobati.
“Maafkan aku, saying. Aku fikir
aku melakukan hal yang benar untuk melindungimu. Hyun, kau pun tak akan pernah
mengira betapa beratnya waktu-waktu yang kulalui tanpamu. Mianhae…
Baby, apapun yang terjadi dimasa
depan, aku berjanji tak akan pernah melepaskan tanganmu lagi. Berapapun mahalnya
harga yang harus aku bayar, aku akan tetap menempuhnya dan berjalan
disampingmu.
Gomawo, Angel… terima kasih telah
kembali kedalam hidupku. Terima kasih karena tidak menyerah. Terima kasih telah
menyelamatkan hidupku.
Aku mencintaimu, Seo Joohyun… aku
benar-benar mencintaimu…”
***
Kabar mengenai progres kesembuhan
Joohyun membuat bahagia semua orang. Bukan hanya member SNSD dan CNBLUE, tapi
seluruh fans mereka pun menyambut gembira kabar tersebut. Ibu Yonghwa tak
henti-hentinya memeluk dan menciumi Joohyun saking luar biasa bahagianya.
"Gomawo, Joohyunie.. karena
tidak membiarkan anakku menjadi gila. Bila sesuatu yang buruk terjadi padamu,
bagaimana anakku akan menjalani hidupnya? Eomma bogoshiposeo, uri dall!"
Sekali lagi Joohyun diciumnya.
"Terima kasih, Eomonim...
tanpa eomonim disini, saya tidak tahu siapa yang akan merawat saya sementara
orang tua saya tidak ada. Jeoseohamnida, sudah menyusahkanmu dan membuatmu
khawatir." Rasa bahagia bercampur haru menyelimuti hati Yonghwa. 2 orang
wanita yang paling dia cintai kini ada di hadapannya. Tak akan pernah lagi mengecewakan
mereka, janjinya dalam hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar