Jumat, 16 Januari 2015

Mid Summer Story Chapter 3







Mid Summer Story...


Author           : Jingga8
Main Cast      : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Genre             : Romance
Rating            : T

Chaptered



Chapter 3

Finding My Destiny 1

You are lovely...
You are more blinding than the sunlight up in that sky
You shine the dark places inside my heart
My own love light...
I love you lovely...
Even if i close my eyes
I see you looking at you like this
You are still blinding even when i see you
You are my love light...

(Love Light - CNBLUE)

Sabtu sore, diruang tengah rumahnya, Joohyun tengah asyik sendiri dengan bukunya. Ditemani secangkir teh hangat dan alunan 'Love Light'-nya CNBLUE yang menjadikan hari liburnya terasa menyegarkan. Hhmmm.. siapa lagi komposer dan penyanyi yang telah memberi nyawa pada lagu itu kalau bukan Jung Yonghwa. Alasan yang lebih subjektif mengapa Joohyun sangat menyukai lagu itu adalah karena dia tahu bahwa lagu ini tentangnya. Dalam setiap kata, Joohyun merasa seperti dia ada di dalamnya. Hingga detik ini, batinnya masih bertanya-tanya… apa yang sebenarnya Yonghwa fikirkan tentang dirinya saat dia menulis lirik ini. Yang pasti Joohyun merasa begitu berharga, saat dia tahu bahwa dialah inspirasinya.

Benarkah? Tentu saja. Yonghwa mengatakannya dengan mulutnya sendiri. Setiap kali mendengar lagu ini, Joohyun seperti memasuki lorong waktu yang membawanya kembali ke saat-saat paling membahagiakan dalam hidupnya. Dia tersenyum lirih, saat dia menyadari bahwa dia pernah sebahagia itu ketika berada disampingnya. Seorang pria asing yang belum pernah dia temui sebelumnya, namun kini... entah sejak kapan lelaki ini menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.

Tiba-tiba Eomma datang mengaburkan lamunannya.

"Joohyun ah.. bersiaplah! Besok kita harus berangkat pagi-pagi sekali. Jadi bisa tiba disana sebelum terlalu siang." Terpaku, Joohyun bingung dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Pergi? Pergi kemana, Eomma?"

"Ah... maja! Eomma lupa mengabarimu kalau pernikahan Hyejin berubah tanggalnya. Semula akan di adakan pertengahan musim panas nanti. Tapi tiba-tiba keluarga pria mengajukan permohonan untuk mempercepat tanggalnya. Dan samchoon-mu setuju untuk mengadakannya di musim semi ini. Besok samchoon-mu meminta eomma untuk menemaninya mengunjungi makam ibunya Hyejin sebelum resepsi pada senin malam nanti. Jadi sekarang kau berkemaslah! Kita harus sampai di Busan sebelum sore."

What?! Mendengar itu, kepalanya terkulai lesu. Huffh.. Busan. Kenapa harus Busan? Sekuat hati dia berlari dan bersembunyi dari segala kenangannya dengan Yonghwa. Dan sekarang, dia harus kembali ketempat dimana semua kenangan itu pernah dimulai.

Busan, kota tempat seorang pria penuh talenta itu lahir dan tumbuh menjadi seorang yang penuh pesona. Sebuah spekulasi tiba-tiba muncul di benaknya. 'Akankah.....? Ah... mana mungkin, dia pasti sibuk...!' Buru-buru dia enyahkan imaji itu sebelum sempat tergambar lebih jelas. It's time to move on... pikirnya...

Minggu sore, 3.20 waktu Busan, mereka tiba di hotel. Lokasi hotel itu benar-benar mengagumkan. View dari terasnya langsung menghadap ke Heundae Beach. Senja yang cantik, burung-burung camar yang tenang bermain di pesisir pantai merayu hatinya untuk datang ke sana. Ya.... Ke tepi pantai itu... Tempat yang dulu pernah dia tapaki bersama laki-laki yang sangat mengagumkan. Perlahan, tanpa Joohyun sadari, kakinya kini mulai melangkah ke sana. Menapaki lagi jejak-jejak senyuman yang mungkin masih berserak di atas pasir-pasir itu. Hhm... aroma ini. Aroma laut ini yang pertama dikenalnya dari Yonghwa dulu.

Tiba-tiba tubuhnya sudah berada tepat dihadapan laut yang membentang. Menatap sunset nan genit. Joohyun merentangkan tangannya seperti burung yang bersiap untuk terbang. Matanya terpejam, menikmati semilir angin yang menyapu wajah dan rambutnya. Rintihnya dalam hati... 'Oppa... andai kau disini. Andai kau di sisiku saat ini. Angin laut benar-benar menyenangkan. Tapi tanpamu, semua terasa kosong... hampa... tak bernyawa...'

Beberapa saat Joohyun larut dalam fantasinya. Matanya terus terpejam tak menghiraukan apapun selain menikmati sentuhan angin musim semi ini.

Tanpa dia sadari, di ujung pantai seseorang tengah berjalan kearahnya. Perlahan, laki-laki itu menyeret langkahnya satu demi satu untuk memastikan apa yang baru saja tertangkap oleh matanya. Seperti sedang melihat malaikat, jiwanya tersihir... Seorang gadis memakai dress baby pink tanpa lengan, rambut panjangnya terhempas angin, dan wajahnya bercahaya mengalahkan pesona sunset senja itu.

'Benarkah...?' Bisik hatinya tak percaya. 'Benarkah dia Joohyun-ku?' Sekali lagi batinnya bertanya. Jantungnya berdebar kencang. Hatinya berguncang. Satu demi satu langkahnya kian mendekati gadis yang dia rasa sangat mengenalnya. Kian dekat, hingga tepat berada di ujung rentangan tangan kanan Joohyun. Tak sepatah katapun mampu terucap. Ditatapnya lekat, penuh takjub.. 'Tuhan... benar-benar dia... ' Bisiknya dalam hati. Yonghwa tersenyum haru melihat sosok yang dirinduinya sepanjang siang dan malam kini menjelma tepat di hadapannya. Dan...

"Ommo... kapjjagia.. !"

Bukan main terkejutnya Joohyun mendapati sesosok tubuh sedang berdiri di sampingnya. Dia menarik rentangan tangannya yang kini ia gunakan untuk menutup bibir mungilnya. Tak kalah takjubnya, kala matanya menangkap senyum menyejukan dari wajah laki-laki itu.

"O.. Oppa.... " Sapanya yang masih tak percaya. Mimpikah ini? Batinnya. Tanpa berhenti menebar senyumnya, Yonghwa mulai menyapa.

"Anyeong... Joohyun ah... Oeraemani ah.."

Masih dengan tatapan takjub, Joohyun menjawabnya.

"A.. Anyeonghaseo.. Oppa.. ommo.. aku benar-benar kaget... " Seketika suasana mulai mencair seiring tawa keduanya.

"Mianhae.. Hyun.. aku tidak bermaksud mengagetkanmu. Dari jauh tiba-tiba aku melihat seorang gadis yang mirip denganmu. Jadi aku datang untuk memastikan. Dan.. Ommo.. ternyata benar-benar kau. Waah... jinjja.. surprise.. "

Joohyun tersenyum hangat mendengarnya. Dalam hatinya dia benar-benar berterima kasih karena Tuhan mewujudkan imajinya. Imaji yang bahkan tak berani dia visualkan dalam benaknya. Tapi kini laki-laki ini benar-benar menjelma di hadapannya.

Nyata... Dekat...

Keduanya lalu berjalan menyusuri pantai itu. Beberapa waktu mereka hanya saling pandang, dan melempar senyum. Hufffh.... sekali lagi suasana seperti ini harus terulang. Seperti saat awal mereka bertemu, setiap kata tiba-tiba lenyap entah tersembunyi di mana. Keduanya ragu untuk saling bertanya, kendati ribuan tanya berderet dalam pikiran mereka.

Akhirnya sang namja memulainya.. "Kau datang sendiri, Hyun? Atau dengan eonnideul?" Sambil terus berjalan, Joohyun menjawabnya.

"Aku datang dengan Eomma dan Appa ku, Oppa.. Besok malam ada undangan pernikahan sepupuku. Saat ini orang tua ku pergi dengan samchoon, dan aku memutuskan untuk tinggal di hotel saja. Tapi melihat deburan ombak di pantai dan cuaca yang begitu cerah, rasanya sayang bila hanya kulewatkan begitu saja."

"Aah... "

Yonghwa hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil menyiapkan bahan percakapan lainnya. Kali ini entah apapun yang terjadi, dia harus bisa memanfaatkan pertemuan mereka sebaik mungkin.. pikirnya. Tak boleh melewatkannya lagi. Tak boleh kehilangan lagi...

"Hhmm.. Hyuun~ " Yonghwa memanggil dengan intonasi yang sama seperti saat mereka masih jadi pasangan dulu.

"Nde.. Yoong.~" Tak mau kalah Joohyun pun menjawab dengan intonasi serupa. Kemudian tawa mereka pun terpecah bersamaan.

"Kau masih mengingatnya ternyata.. " Cibir Yonghwa sambil menampakkan senyum nya yang khas.

"Tentu saja.. Oppa.. bagaimana mungkin aku melupakannya semudah itu?" Jawab Joohyun tak mau kalah.

"Yee.. ahraseo... bagaimana mungkin aku lupa bahwa uri Joohyun selain cantik, juga genius. Mana mungkin kau tidak mengingatnya. Tapi... bukankah kau sedikit melupakanku, Hyuun?"

Mulai... Yonghwa mulai berani menanyakan poin nya. Sedikit mengagetkan bagi Joohyun tentu saja.

"Oh..? Anieo.. Oppa... Bagaimana mungkin aku melupakanmu? Aku hanya takut kau sibuk, dan telepon dariku hanya akan mengganggumu."

Jawabnya sambil menundukan kepala. 'Phabo Oppa.. bukankah kau yang melupakanku? Bisa-bisanya kau tanyakan itu.' Rintihnya dalam batin.

"Mwo? Ah.. Joohyun ah.. kupikir kau yang sibuk. Dengan sederet jadwal SNSD-mu, aku takut kau yang terganggu bila kuhubungi."

Balas yonghwa. 'Phabo.. Hyunie.. tak tahukah betapa hatiku terasa sakit tiap kali rasa rinduku tak mampu kusiasati?' Gerutu Yonghwa yang juga hanya bisa dalam hatinya.

Ahh... betapa lugunya mereka. Sedikit bodoh malah. Mereka masing-masing dilukai oleh spekulasi mereka sendiri. Menderita karena kebodohan mereka sendiri.

Senja perlahan beranjak pergi meninggalkan hari. Juga meninggalkan mereka yang masih enggan beranjak dari tepian pantai tempat mereka duduk memandang laut. Seolah tak peduli dengan warna langit yang kian menghitam, keduanya hanya ingin menikmati hangatnya rindu yang tak mampu diuntaikan dalam bahasa. Beberapa saat mereka hanya duduk berdua memandang laut. Hingga akhirnya Yonghwa membuka suara.

"Hyuun..." Masih dengan intonasi khasnya.

"Hmm.." Jawab gadis itu singkat tanpa sedikitpun memalingkan wajahnya yang masih asyik menatap laut.

"Sejak malam itu, pernahkah kau memikirkanku?"

Sontak, Joohyun mengalihkan tatapannya ke arah laki-laki yang sedang duduk di sampingnya. Matanya menatap tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.

"Mwoeyo.. Oppa.. kenapa tiba-tiba Oppa menanyakan itu?" Joohyun menurunkan pandangan nya. Kini dia tertunduk sambil memainkan jemarinya untuk menutupi kegugupannya. Dia benar-benar tak tahu harus menjawab apa.

"Ah.. aniea.. geunyang.." Mendengar jawaban Joohyun membuat Yonghwa enggan meneruskan pertanyaannya. Tapi tiba-tiba Joohyun memberanikan diri untuk balik bertanya pada Yonghwa.

"Bagaimana denganmu, Oppa? Sejak terakhir kali kau mengantarku ke depan pintu dorm-ku, pernahkah sekali saja oppa memikirkanku?"

Ahh... rupanya Joohyun ingin memastikan terlebih dulu apa yang di rasakan Yonghwa. Dia tak ingin ambil resiko dengan mengatakan perasaannya lebih dulu sebelum tahu kalau Yonghwa juga punya rasa yang sama.

"Yak.. Seo Joohyun Ssi... Kau curang! Kenapa balik bertanya padaku?" Keduanya tertawa sebelum akhirnya Yonghwa meneruskan kalimatnya.

"Phabo Hyunie..! Sekali saja katamu?" Yonghwa mengehla nafasnya, sebelum dia kembali meneruskan kalimatnya.

"Hmm.. bukan hanya sekali, Hyuun, tapi nyaris setiap malam aku kehilangan kualitas tidurku. Aku tak pernah berhasil mengusirmu dari pikiranku. Banyak hal yang sebenarnya ingin aku ceritakan padamu. Banyak hal yang belum sempat kuberitahu padamu. Banyak hal yang masih ingin aku bagi denganmu.

Setiap kali aku selesai melakukan rentetan jadwalku, rasanya aku merindukan saat-saat memandang punggungmu yang sedang membuatkanku banana milk shake seperti yang biasa kau lakukan saat kita bersama dulu. Ada kalanya aku menyadari, ternyata waktu berlalu begitu cepat. Dan aku menyesal karena selama kita bersama, aku belum melakukan banyak hal untukmu. Selama ini kau yang selalu berusaha agar pernikahan virtual kita berhasil. Mianhanda, Hyun! Ah..... jongmal bogoshiposeo.. Seo Joohyun!" Lirih akhirnya kata-kata itu terucap juga.

Joohyun tahu, bahwa sorot mata itu tak pernah berdusta. Sorot mata yang sama seperti yang terakhir dilihatnya saat malam perpisahan di depan pintu asramanya saat itu. Tatapan yang teduh, tapi penuh dengan isyarat ketulusan dan kejujuran. Bahkan tanpa kata-kata pun, sebenarnya Joohyun mengerti hanya lewat tatapan itu. Tatapan mata sendu yang coba Yonghwa sembunyikan dibalik senyumnya, persis seperti malam itu.

Tiba-tiba saja bulir-bulir hangat mengalir di kedua pipi Seo Joohyun. Semakin mencoba dia menahannya, semakin deras alur nya. Air mata itu sudah tertahan begitu lama dan kini sudah tak tersisa kekuatan lagi untuk terus membendungnya. Biar... biar saja kini mengalir di hadapan lelaki bodoh ini. Toh dialah penyebabnya...

Panik, saat Yonghwa melihat yeojanya tiba-tiba terisak berurai air mata. Entah dari mana datangnya keberanian itu, kali ini jemari tanganya menyentuh pipi Joohyun yang terasa hangat di basahi air matanya.

"Hyuun aah... wae... mianhae.. bila kata-kataku mengganggumu. Uljimaa... jebbal.." Tiba-tiba hatinya terasa pedih sekali, melihat air mata Joohyun berderai tak terhenti.

"Hyuun..." Yonghwa memanggilnya sekali lagi...
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar