Mid Summer Story...
Author : Jingga8
Main Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Genre : Romance
Rating : T
Chaptered
Chapter 3
Finding My Destiny 1
You are lovely...
You are more blinding than the sunlight up in that sky
You shine the dark places inside my heart
My own love light...
I love you lovely...
Even if i close my eyes
I see you looking at you like this
You are still blinding even when i see you
You are my love light...
(Love Light - CNBLUE)
Sabtu sore, diruang tengah
rumahnya, Joohyun tengah asyik sendiri dengan bukunya. Ditemani secangkir teh
hangat dan alunan 'Love Light'-nya CNBLUE yang menjadikan hari liburnya terasa
menyegarkan. Hhmmm.. siapa lagi komposer dan penyanyi yang telah memberi nyawa
pada lagu itu kalau bukan Jung Yonghwa. Alasan yang lebih subjektif mengapa
Joohyun sangat menyukai lagu itu adalah karena dia tahu bahwa lagu ini
tentangnya. Dalam setiap kata, Joohyun merasa seperti dia ada di dalamnya.
Hingga detik ini, batinnya masih bertanya-tanya… apa yang sebenarnya Yonghwa
fikirkan tentang dirinya saat dia menulis lirik ini. Yang pasti Joohyun merasa
begitu berharga, saat dia tahu bahwa dialah inspirasinya.
Benarkah? Tentu saja. Yonghwa
mengatakannya dengan mulutnya sendiri. Setiap kali mendengar lagu ini, Joohyun
seperti memasuki lorong waktu yang membawanya kembali ke saat-saat paling membahagiakan
dalam hidupnya. Dia tersenyum lirih, saat dia menyadari bahwa dia pernah
sebahagia itu ketika berada disampingnya. Seorang pria asing yang belum pernah
dia temui sebelumnya, namun kini... entah sejak kapan lelaki ini menjadi bagian
terpenting dalam hidupnya.
Tiba-tiba Eomma datang mengaburkan
lamunannya.
"Joohyun ah.. bersiaplah!
Besok kita harus berangkat pagi-pagi sekali. Jadi bisa tiba disana sebelum
terlalu siang." Terpaku, Joohyun bingung dengan apa yang baru saja
didengarnya.
"Pergi? Pergi kemana,
Eomma?"
"Ah... maja! Eomma lupa mengabarimu
kalau pernikahan Hyejin berubah tanggalnya. Semula akan di adakan pertengahan
musim panas nanti. Tapi tiba-tiba keluarga pria mengajukan permohonan untuk
mempercepat tanggalnya. Dan samchoon-mu setuju untuk mengadakannya di musim
semi ini. Besok samchoon-mu meminta eomma untuk menemaninya mengunjungi makam
ibunya Hyejin sebelum resepsi pada senin malam nanti. Jadi sekarang kau
berkemaslah! Kita harus sampai di Busan sebelum sore."
What?! Mendengar itu, kepalanya
terkulai lesu. Huffh.. Busan. Kenapa harus Busan? Sekuat hati dia berlari dan
bersembunyi dari segala kenangannya dengan Yonghwa. Dan sekarang, dia harus
kembali ketempat dimana semua kenangan itu pernah dimulai.
Busan, kota tempat seorang pria
penuh talenta itu lahir dan tumbuh menjadi seorang yang penuh pesona. Sebuah
spekulasi tiba-tiba muncul di benaknya. 'Akankah.....?
Ah... mana mungkin, dia pasti sibuk...!' Buru-buru dia enyahkan imaji itu
sebelum sempat tergambar lebih jelas. It's time to move on... pikirnya...
Minggu sore, 3.20 waktu Busan,
mereka tiba di hotel. Lokasi hotel itu benar-benar mengagumkan. View dari
terasnya langsung menghadap ke Heundae Beach. Senja yang cantik, burung-burung
camar yang tenang bermain di pesisir pantai merayu hatinya untuk datang ke
sana. Ya.... Ke tepi pantai itu... Tempat yang dulu pernah dia tapaki bersama
laki-laki yang sangat mengagumkan. Perlahan, tanpa Joohyun sadari, kakinya kini
mulai melangkah ke sana. Menapaki lagi jejak-jejak senyuman yang mungkin masih
berserak di atas pasir-pasir itu. Hhm... aroma ini. Aroma laut ini yang pertama
dikenalnya dari Yonghwa dulu.
Tiba-tiba tubuhnya sudah berada
tepat dihadapan laut yang membentang. Menatap sunset nan genit. Joohyun
merentangkan tangannya seperti burung yang bersiap untuk terbang. Matanya
terpejam, menikmati semilir angin yang menyapu wajah dan rambutnya. Rintihnya
dalam hati... 'Oppa... andai kau disini.
Andai kau di sisiku saat ini. Angin laut benar-benar menyenangkan. Tapi
tanpamu, semua terasa kosong... hampa... tak bernyawa...'
Beberapa saat Joohyun larut dalam
fantasinya. Matanya terus terpejam tak menghiraukan apapun selain menikmati
sentuhan angin musim semi ini.
Tanpa dia sadari, di ujung pantai
seseorang tengah berjalan kearahnya. Perlahan, laki-laki itu menyeret
langkahnya satu demi satu untuk memastikan apa yang baru saja tertangkap oleh
matanya. Seperti sedang melihat malaikat, jiwanya tersihir... Seorang gadis
memakai dress baby pink tanpa lengan, rambut panjangnya terhempas angin, dan
wajahnya bercahaya mengalahkan pesona sunset senja itu.
'Benarkah...?' Bisik hatinya tak percaya. 'Benarkah dia Joohyun-ku?' Sekali lagi batinnya bertanya. Jantungnya
berdebar kencang. Hatinya berguncang. Satu demi satu langkahnya kian mendekati
gadis yang dia rasa sangat mengenalnya. Kian dekat, hingga tepat berada di
ujung rentangan tangan kanan Joohyun. Tak sepatah katapun mampu terucap.
Ditatapnya lekat, penuh takjub.. 'Tuhan...
benar-benar dia... ' Bisiknya dalam hati. Yonghwa tersenyum haru melihat
sosok yang dirinduinya sepanjang siang dan malam kini menjelma tepat di hadapannya.
Dan...
"Ommo... kapjjagia.. !"
Bukan main terkejutnya Joohyun
mendapati sesosok tubuh sedang berdiri di sampingnya. Dia menarik rentangan
tangannya yang kini ia gunakan untuk menutup bibir mungilnya. Tak kalah
takjubnya, kala matanya menangkap senyum menyejukan dari wajah laki-laki itu.
"O.. Oppa.... " Sapanya
yang masih tak percaya. Mimpikah ini? Batinnya. Tanpa berhenti menebar
senyumnya, Yonghwa mulai menyapa.
"Anyeong... Joohyun ah...
Oeraemani ah.."
Masih dengan tatapan takjub, Joohyun
menjawabnya.
"A.. Anyeonghaseo.. Oppa..
ommo.. aku benar-benar kaget... " Seketika suasana mulai mencair seiring
tawa keduanya.
"Mianhae.. Hyun.. aku tidak
bermaksud mengagetkanmu. Dari jauh tiba-tiba aku melihat seorang gadis yang
mirip denganmu. Jadi aku datang untuk memastikan. Dan.. Ommo.. ternyata
benar-benar kau. Waah... jinjja.. surprise.. "
Joohyun tersenyum hangat
mendengarnya. Dalam hatinya dia benar-benar berterima kasih karena Tuhan
mewujudkan imajinya. Imaji yang bahkan tak berani dia visualkan dalam benaknya.
Tapi kini laki-laki ini benar-benar menjelma di hadapannya.
Nyata... Dekat...
Keduanya lalu berjalan menyusuri
pantai itu. Beberapa waktu mereka hanya saling pandang, dan melempar senyum.
Hufffh.... sekali lagi suasana seperti ini harus terulang. Seperti saat awal
mereka bertemu, setiap kata tiba-tiba lenyap entah tersembunyi di mana.
Keduanya ragu untuk saling bertanya, kendati ribuan tanya berderet dalam
pikiran mereka.
Akhirnya sang namja memulainya..
"Kau datang sendiri, Hyun? Atau dengan eonnideul?" Sambil terus
berjalan, Joohyun menjawabnya.
"Aku datang dengan Eomma dan
Appa ku, Oppa.. Besok malam ada undangan pernikahan sepupuku. Saat ini orang
tua ku pergi dengan samchoon, dan aku memutuskan untuk tinggal di hotel saja.
Tapi melihat deburan ombak di pantai dan cuaca yang begitu cerah, rasanya
sayang bila hanya kulewatkan begitu saja."
"Aah... "
Yonghwa hanya mengangguk-anggukan
kepalanya sambil menyiapkan bahan percakapan lainnya. Kali ini entah apapun
yang terjadi, dia harus bisa memanfaatkan pertemuan mereka sebaik mungkin..
pikirnya. Tak boleh melewatkannya lagi. Tak boleh kehilangan lagi...
"Hhmm.. Hyuun~ "
Yonghwa memanggil dengan intonasi yang sama seperti saat mereka masih jadi
pasangan dulu.
"Nde.. Yoong.~" Tak mau
kalah Joohyun pun menjawab dengan intonasi serupa. Kemudian tawa mereka pun
terpecah bersamaan.
"Kau masih mengingatnya
ternyata.. " Cibir Yonghwa sambil menampakkan senyum nya yang khas.
"Tentu saja.. Oppa..
bagaimana mungkin aku melupakannya semudah itu?" Jawab Joohyun tak mau
kalah.
"Yee.. ahraseo... bagaimana
mungkin aku lupa bahwa uri Joohyun selain cantik, juga genius. Mana mungkin kau
tidak mengingatnya. Tapi... bukankah kau sedikit melupakanku, Hyuun?"
Mulai... Yonghwa mulai berani
menanyakan poin nya. Sedikit mengagetkan bagi Joohyun tentu saja.
"Oh..? Anieo.. Oppa...
Bagaimana mungkin aku melupakanmu? Aku hanya takut kau sibuk, dan telepon
dariku hanya akan mengganggumu."
Jawabnya sambil menundukan
kepala. 'Phabo Oppa.. bukankah kau yang
melupakanku? Bisa-bisanya kau tanyakan itu.' Rintihnya dalam batin.
"Mwo? Ah.. Joohyun ah..
kupikir kau yang sibuk. Dengan sederet jadwal SNSD-mu, aku takut kau yang
terganggu bila kuhubungi."
Balas yonghwa. 'Phabo.. Hyunie.. tak tahukah betapa hatiku
terasa sakit tiap kali rasa rinduku tak mampu kusiasati?' Gerutu Yonghwa
yang juga hanya bisa dalam hatinya.
Ahh... betapa lugunya mereka.
Sedikit bodoh malah. Mereka masing-masing dilukai oleh spekulasi mereka
sendiri. Menderita karena kebodohan mereka sendiri.
Senja perlahan beranjak pergi
meninggalkan hari. Juga meninggalkan mereka yang masih enggan beranjak dari
tepian pantai tempat mereka duduk memandang laut. Seolah tak peduli dengan
warna langit yang kian menghitam, keduanya hanya ingin menikmati hangatnya
rindu yang tak mampu diuntaikan dalam bahasa. Beberapa saat mereka hanya duduk
berdua memandang laut. Hingga akhirnya Yonghwa membuka suara.
"Hyuun..." Masih dengan
intonasi khasnya.
"Hmm.." Jawab gadis itu
singkat tanpa sedikitpun memalingkan wajahnya yang masih asyik menatap laut.
"Sejak malam itu, pernahkah
kau memikirkanku?"
Sontak, Joohyun mengalihkan
tatapannya ke arah laki-laki yang sedang duduk di sampingnya. Matanya menatap
tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Mwoeyo.. Oppa.. kenapa
tiba-tiba Oppa menanyakan itu?" Joohyun menurunkan pandangan nya. Kini dia
tertunduk sambil memainkan jemarinya untuk menutupi kegugupannya. Dia
benar-benar tak tahu harus menjawab apa.
"Ah.. aniea..
geunyang.." Mendengar jawaban Joohyun membuat Yonghwa enggan meneruskan
pertanyaannya. Tapi tiba-tiba Joohyun memberanikan diri untuk balik bertanya
pada Yonghwa.
"Bagaimana denganmu, Oppa?
Sejak terakhir kali kau mengantarku ke depan pintu dorm-ku, pernahkah sekali
saja oppa memikirkanku?"
Ahh... rupanya Joohyun ingin
memastikan terlebih dulu apa yang di rasakan Yonghwa. Dia tak ingin ambil
resiko dengan mengatakan perasaannya lebih dulu sebelum tahu kalau Yonghwa juga
punya rasa yang sama.
"Yak.. Seo Joohyun Ssi...
Kau curang! Kenapa balik bertanya padaku?" Keduanya tertawa sebelum
akhirnya Yonghwa meneruskan kalimatnya.
"Phabo Hyunie..! Sekali saja
katamu?" Yonghwa mengehla nafasnya, sebelum dia kembali meneruskan
kalimatnya.
"Hmm.. bukan hanya sekali,
Hyuun, tapi nyaris setiap malam aku kehilangan kualitas tidurku. Aku tak pernah
berhasil mengusirmu dari pikiranku. Banyak hal yang sebenarnya ingin aku
ceritakan padamu. Banyak hal yang belum sempat kuberitahu padamu. Banyak hal
yang masih ingin aku bagi denganmu.
Setiap kali aku selesai melakukan
rentetan jadwalku, rasanya aku merindukan saat-saat memandang punggungmu yang
sedang membuatkanku banana milk shake seperti yang biasa kau lakukan saat kita
bersama dulu. Ada kalanya aku menyadari, ternyata waktu berlalu begitu cepat.
Dan aku menyesal karena selama kita bersama, aku belum melakukan banyak hal
untukmu. Selama ini kau yang selalu berusaha agar pernikahan virtual kita
berhasil. Mianhanda, Hyun! Ah..... jongmal bogoshiposeo.. Seo Joohyun!"
Lirih akhirnya kata-kata itu terucap juga.
Joohyun tahu, bahwa sorot mata
itu tak pernah berdusta. Sorot mata yang sama seperti yang terakhir dilihatnya
saat malam perpisahan di depan pintu asramanya saat itu. Tatapan yang teduh,
tapi penuh dengan isyarat ketulusan dan kejujuran. Bahkan tanpa kata-kata pun,
sebenarnya Joohyun mengerti hanya lewat tatapan itu. Tatapan mata sendu yang
coba Yonghwa sembunyikan dibalik senyumnya, persis seperti malam itu.
Tiba-tiba saja bulir-bulir hangat
mengalir di kedua pipi Seo Joohyun. Semakin mencoba dia menahannya, semakin
deras alur nya. Air mata itu sudah tertahan begitu lama dan kini sudah tak
tersisa kekuatan lagi untuk terus membendungnya. Biar... biar saja kini
mengalir di hadapan lelaki bodoh ini. Toh dialah penyebabnya...
Panik, saat Yonghwa melihat
yeojanya tiba-tiba terisak berurai air mata. Entah dari mana datangnya
keberanian itu, kali ini jemari tanganya menyentuh pipi Joohyun yang terasa
hangat di basahi air matanya.
"Hyuun aah... wae... mianhae..
bila kata-kataku mengganggumu. Uljimaa... jebbal.." Tiba-tiba hatinya
terasa pedih sekali, melihat air mata Joohyun berderai tak terhenti.
"Hyuun..." Yonghwa
memanggilnya sekali lagi...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar